Pendidikan itu membawa orang dari kegelapan Menuju cahaya terang - "Mina dzulumati ilan nur", hal itu disebut Tarbiyah.
Kirikulum pendidikan kita ini pada dasarnya membosankan. Tetapi, peserta didik tetap di paksakan untuk di Instalkan kedalam pikiran mereka. Padahal, peserta didiknya tidak suka.
Kita bisa menegok metedologi pendidikan di Amerika, Jika ada Mahasiswa yang medaftar di salah satu perguruan tinggi. mahasiswa tersebut di suruh untuk menuliskan kurikulumnya sendiri, dosen dan rektor hanya sebagai Fasilitator ssja. Sedangkan kita di indonesia, Kurikulumnya di patenkan, yang entah apa tujuannya?. Padahal kebebasan di dalam pendidikan adalah Interaksi antara fasilitator dan kebutuhan belajar peserta didik.
Di amerika, Misalnya. Peserta Didik hanya mau belajar 3 Mata Kuliah, yaitu Filsafat, Fisika dan Environmental Etics (Lingkungan). Maka, Rektor akan mengatakan ; "Silahkan Taruh Kurikulum anda di meja saya. Besok saya akan siapkan dosennya". Jadi, dosen di siapkan oleh rektor berdasarkan kebutuhan Mahasiswanya.
Sedangkan kita di indonesia, tidaklah demikian. Semester pertama, kita belajar mata kuliah yang pernah kita pelajari di SMP dan SMA, seperti Matematika, bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, serta agama. Apakah tidak cukup pelajaran-pelajaran itu kita pelajari saat SD, SMP, SMA ataukah Mahasiswa-Mahasiswa ini dianggap kurang Bertaqwa, sehingga mesti diajarkan agama lagi.
Ihwal itulah, sehingga Kita ini Ragu-ragu menentukan Paradigma Pendidikan kita seperti apa.
Beberapa waktu lalu, ada Fase PSBB, PPKM. Seluruh aktivitas belajar di rumahkan. Tidak sedikit peserta didik, telah bosan belajar. Nah, mestinya seluruh Stekholder pendidikan, mencari metodologi lain Untuk menerangkan Ilmu pengetahuan. Misalnya, hubungan antara Fisika, ekologi dan ilmu sosial. Guru atau Dosen tersebut, Datang ke suatu tempat, terangkan pada peserta didik melalui Video, bahwa pohon adalah sungai. Lalu, murid bingung dan Bertanya Bagaimana bisa pohon di sebut sebagai sungai. Dari situ, kita bisa terangkan, bahwa air itu mengalir dari kapiler pohon, lalu di uapkan ke ujung daun. Maka, sesungguhnya ada sungai kecil melewati pohon, yang Muaranya di ujung daun. Supaya dia menguap, setelah Fotosintesis.
Musuh pertama dari gagalnya pendidikan kita adalah Feodalisme. Feodalisme ini terhubung dengan sistem politik kita. Di dalam Feodalisme orang di larang menggeleng, kita hanya boleh manggut-manggut. Artinya kurikulum pendidikan kita, diarahkan untuk anti dialektika. Padahal, dengan Jalan Pendidikanlan kita bisa saling menegur pikiran. Itulah sebabnya, Guru atau Dosen tidak boleh menjadi Feodal, karena guru atau Dosen Adalah teman berpikir murid - Mahasiswa. Sehingga tidak ada jarak Feodalisme antara Dosen dan Mahasiswa atau Guru dan murid.
Sejatinya, Saya ingin menyampaikkan bahwa pendidikan adalah relasi kesetaraan antar manusia. Sedangkan dimensi pertama dari pendidikan adalah keakraban dengan manusia, lingkungan dan alam semesta.
**
Apa paradigma pendidikan kita?.
Di Prancis, Filosofi dan Cara Pandang Hidup mereka, bahkan di jadikan sebagai paradigma pendidikanya, menyangkut 3 prinsip dasar dari revolusi prancis, yaitu "Egalite (Kesetaraan)", "Freternite (Persaudaraan)" dan "Liberte (kebebasan)". Maka anak SD, SMP belajar Ilmu pengetahuan dan Filsafat itu Biasa, ihwal itulah, sehingga Ilmu-ilmu sosial sangat berkembang pesat di Prancis.
Di Amerika, Filosofinya atau Paradigmanya adalah Kebebasan manusia untuk mencapai kehendaknya sendiri, kebalikan dari Filosofi Prancis. Sebagaimana metode Pendidikan Amerika, diatas saya sampaikkan, bahwa sekolah atau kampus dan semua instrumennya, hanya Fasilitator.
Menpaga Paradigma pendidikan di Amerika lebih sekuler?. Karena, Amerika tidak pernah mengalami revolusi sosial seperti Prancis. Prancis punya Catatan sejarah dalam menumbangkan Feodalisme, makanya mereka Mahfum apa itu Demokrasi. Amerika, bangsa yang berdiri karena di datangi oleh Imigran, itulah yang menunjukkan bahwa Di Amerika tidak ada orang asli Amerika, tetapi di Prancis banyak orang Asli prancis. Amerika adalah bangsa Imigran, sehingga tidak mungkin ada semacam politik identitas di Amerika. Karena orang Spanyol, merasa sama haknya dengan Orang Meksiko. Orang meksiko sama haknya dengan Orang Jamaika, dan semua orang boleh menjadi Presiden, karena ada mimpi kebebasan yang menjadi Harapannya.
kita Indonesia, berupaya mencari Vocal Point tersebut, sebagaimana Amerika dan Prancis. Tetapi, kita gugup, Karena jejak Feodalisme kita tidak pernah selesai, bahkan Tetap menjadi memory Sampai sekarang. hal itu sering Kita jumpai di dalam kelas, Saat seorang Profesor Menjelaskan. Mahasiswanya Bungkam, karena takut Dia adalah seorang Profesor. Di Amerika tidak begitu, dia prancis apalagi, justru mereka berdebat dengan profesornya. Artinya, feodalisme masih mencengkram sistem pendidikan kita dan menjadi hambatan, mengapa Pendidikan kita belum naik.
Memang kita punya Filosofi pendidikan, "Tutu wuri handayani" atau "imadi mangon karso". Tapi, hal Itu tidak bisa di implementasikan. Karena, kita gagap memahami maksud Ki Hajar Dewantoro saat mengucapkan hal itu. Bisa saja, saat Beliau mengucapakan diktum pendidikan tersebut, ia Sedang membayangkan Plato bicara di akademi plato, di mana Plato berdiri di tengah kelas dan muridnya mondar mandir, tetapi dialektika dan diskusi tetap berlansung.
Hal itu bisa terjadi, jika sistem pendidikan kita, tidak dalam Cengkraman feodalisme. Nah, indonesia jika mau mengakumulasi IQ dan Nalar Kritis, Feodalisme inilah yang mesti di hilangkan terlebih dahulu.
Saya sepakat dan mendukung, Visi Merdeka belajar ala Menteri Nadiem. hanya saja Bang Nadiem, seumpama Pulau sendiri yang bicara Merdeka belajar. Sementara Di luar Bang Nadiem, tidak ada yang disebut dengan Kemerdekaan manusia. Selain itu, Presiden meminta Bang Nadiem untuk melakukan standarisasi Kurikulum. Gagasan ini bagus, jika Imputnya sama. Tetapi, basis imput sesungguhnya adalah kapasitas lokal. Kenapa?. Karena tidak mungkin anak di NTT itu di sama ratakan dengan algoritmanya dengan Anak di Makassar, karena jam terbang internetnya berbeda.
Benar, bahwa Jepang itu hancar dan luluh lantak oleh dua bom, hirosima dan nagasaki. Komandan perangnya melapor pada kaisar Hirohito. Kaisar, kita telah kalah. Kaisar berkata, hitung berapa jumlah guru yang tersisa dan saya akan bangun jepang dalam 20 tahun. Kaisar hirohito berpikir tentang potensi Guru.
Coba kita menengok kebelakangan sedikit, Melihat Singapura dan Korsel. saat mereka membangun bangsanya, mereka sangat miskin dan bisa di bilang, mereka masih terbelenggu oleh feodalisme. Sama seperti, Mental kolonial yang menghuni mental kita beratus ratus tahun. Okelah, Ada jepang yang menduduki kita, selama 3,5 tahun. Tetapi, itu hanya disrupsi kecil. Faktanya mereka bisa keluar dari Goa kegelapan, untuk mengubah mental mereka juga.
Hal itu menunjukkan bahwa Memang ada semacam gerak sejarah yang memaksa Korsel dan singapura, yang tadinya ada semacam belenggu "Culture Matters", dalam Terma "Samuel Hutington". Tetapi, Mereka melihat bahwa kompetisi di asia di mungkinkan, jika fasilitas Rasional di Instalkan kedalam Kurikulum pendidikan. Inilah yang kita tidak punya. Memang korsel, juga pernah punya Masa, dimana upaya itu harus di tangani dengan tangan besi (Otoriter), sebagaimana Li Kuan Yu (singapura) Juga demikian. Tetapi, mereka menginginkan Perubahan itu berlansung secara Insitusional.
Kita gagal waktu reformasi, untuk merubah semua itu. Karena dalil para tokoh yang berkontribusi besar, sesungguhnya menginginkan Revolusi. Tetapi, Revolusi dianggap terlalu Radikal, makanya di edit menjadi reformasi. Padahal, jika revolusi terjadi, maka tentu yang terjadi adalah perubahan secara kualitatif. Sedangkan Reformasi, hanya perubahan kuantitatif saja. Makanya waktu reformasi, Kultur Foedal Cary over (menopang) ke dalam sistem politik, kedalam sistem Pendidikan. Jadi, tidak ada gunting yang tajam untuk memutus kultur Feodal ini.
Kita sering menganggap bahwa Feodalisme adalah Local wisdom. Korsel dan jepang Juga masih menganggap feodalisme di dalam wilayah Kultur mereka. Tetapi, di dalam wilayah birokrarsi, mereka betul-betul liberian, bukan lagi Patrimonial. Sedangkan kita, Birokrasi kita tetap Patrimonial dan Kita tidak usah bohong. Sebab, di hampir semua rekrutmen apapun di bangsa Ini, tidak ada yang demokratis. Demokrasi di bangsa ini omong kosong. Saya adalah termasuk korban Praktek Patrimonial. Demokrasi, hanya Terjadi di Pemilu, pilkada, dsb. Itu pun hanya di soal Teknisnya saja. Selebihnya di sandera.
Di titik itu, kita bisa menarik benang kusut bahwa Bangsa kita ini, punya Sense of Urgency (pikiran yang mendesak) untuk merebut benteng terlalu tinggi, tetapi sense of urgency membenahi benteng rendah sekali atau bahkan tidak ada pikiran yang mendesak memberikan cahaya yang lebih untuk benteng yang baru saja di rebut.
Jika singapura, saat mulai membangun bangsanya, modal utamanya lebih rendah dari negara Termiskin di Afrika Tahun 1959. Sama juga dengan Korsel, bahkan ada streotipe tentang Orang Korsel adalah Bodoh dan Malas. Tapi, sekarang kita bicara begitu, kita dianggap orang bodoh. Karena, Sense Of Urgency mereka untuk merebut benteng dan Membersihkan benteng sama-sama tinggi. Sedangkan kita, keterdesakan untuk merebut benteng (kekuasaan) sangat tinggi. Tapi, keterdesakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sangat rendah. Tentu, hal ini mengandung daya dorong yang kuat, Tapi tidak pernah terjadi. Apakah kita tidak punya Keterdesakan membenahi pendidikan?.
Secara cepat dan kita harus jujur menjawab, bahwa kita tidak punya keterdesakan membenahi pendidikan. Kita bisa buka data penelitian Orang-orang yang menunjukkan Angka dan tingkat pendidikan di suatu daerah di Indonesia, itu sangat rendah. Padahal, Sumber daya alam kita melimpah. kita tidak kekurangan Garis pantai sebagai sumber protein untuk mengisi Otak. Kita punya banyak Gunung, sebagai sumber cadangan Carbon reading ketimbang Eropa. Kita punya resort beras. Artinya, kita punya Protein, kita punya Karbohidrat, kita punya oksigen. Kita punya bandara, kita punya Jalan tol. Tetapi, akses untuk menghubungkan pendidikan menjadi sangat rendah. Ajaib, coi.
Kenapa?. Karena sense of urgency (keterdesakan pikiran) tidak di ucapkan dengan Kosisten. Para kepala Daerah asal bicara saja, setelah itu di gerogoti lagi oleh Feodal.
Pendidikan itu sering kali di tarik oleh figur seorang leadernya. Kata Nabi, "Seperti apa kamu, seperti itulah juga Pemimpinmu".
Kita saksikan, Kemalasan berpikir terlihat dimana-mana. Akibat, leader kita di setiap simposium, menyuruh Para Guru dan Murid Menghafal nama-nama ikan. Tidak ada dialektika. Saya membayangkan, misalnya presiden bertanya," Nak, saya presiden Republik Indonesia, saya ingin bertanya tentang ikan?". Lalu, murid dan Guru-guru akan menjawab, Pasti soal nama-nama ikan, pak. presiden menjawab, "bukan. Saya mau bertanya mengapa Ikan tidak bisa manjat pohon?. Anak-anak akan terbuka pikirannya dan mencari Informasi tentang hal itu. Apa keterangan yang berhubungan, sehingga ikan tidak bisa manjat pohon.
Bahwa Ternyata ada gaya Kohesi, sehingga tidak mungkin bagi ikan memanjat pohon. Lantas, Mengapa Cicak bisa. Karena kohesi adalah pelajaran kimia dasar, diajarkan kepada Anak SD dalam bentuk yang mikro, agar anak terbuka cakrawala berpikirnya tentang Gravitasi dan Kohesi. Lebih besar kohesi sehingga Ikan tidak bisa manjat pohon. Rumus itu datang sendirinya karena ada dialektika.
Kalau presiden bisa mengajak anak murid untuk berpikir dialaktik, mungkin kita punya harapan tentang pendidikan. Jadi sekali lagi, visi seorang pemimpinlah yang menentukan masa depan sebuah bangsa. Kalau guru-guru kita setiap hari mendengarkan Pidato presiden tentang Politik of Hope, mungkin kita percaya tentang Indonesia maju.
Makanya, menjadi Wajar kemalasan berpikir itu terlihat dimana-mana. Dianggap, jika sudah bisa main Twitter, IG dan Pesbuk, sudah mapan secara pengetahuan atau Lihat saja Talk show kita sekarang, isinya hanya pendakalan Cara berpikir. Teknologinya maju pesat. Tetapi, Otaknya zero.
Hal ini, Sama dengan kalangan Selebritis kita, hanya sekali, dua kali tampil di Tv sudah merasa jadi selebritis. Selebritis itu harus paham seluruh pikiran dunia, karena itu ia disebut selebritis. Bukan, hanya paham sinetron yang dia lakoni, kemudian, media menyorotnya dan terlihat dia memakai "Hermest". Lalu, kita mengatakan mereka selebritis.
Padahal, jika Selebritis itu di tanya "hermest" itu siapa?. Palingan Mereka akan menjawab, Hermest adalah Tas mewah yang harganya sekian ratus juta. Inilah yang di maksud ; Mewah, tapi Dangkal. Tidak ada kaitan, antara apa yang di gunakan dengan pengetahuannya. Tetapi, anehnya Followersnya Jutaan.
Estetika sesuatu itu ketika Selaras antara apa yang digunakan dengan apa yang dia tahu. Nah, Tahu itu Fungsi pendidikan dalam Kurikulum. Jadi, pendidikan kita ini selain menjadikan kita seperti singa, kambing, anjing dan serigala (metafora 4 unggas dalam Struktur pembetukan Manusia). Ternyata, pendidikan kita hanya menjadikan kita sebagai Followers.
"Hermest" itu Nama dewi pengetahuan, yang di asosiasikan menjadi Jonto perdangangan. Dulu misalnya, Hermest di sebut sebagai Tasnya "Grace Kelly". Grace Kelly memakai Tas Hermest untuk menutupi kandungannya, dari paparazi. Selain itu Grace Kelly pernah memakai Tas Hermest untuk memukul petugas Sebuah Restoran di Los Angels, karena Grace Kelly mau masuk makan dengan seorang Sastrawan kulit hitam. Tetapi, si petugas restoran tidak memperbolehkan masuk. boleh masuk, asal temannya yang kulit hitam tidak boleh ikut masuk.
Artinya, Hermest dulu di pakai untuk melindungi Privasi Dan di dalam tas tersebut ada Jejak Hak asasi Manusia. Sekarang Hermest, selain di pakai untuk di pamerkan dan kebalikan dari prinsip Hak asasi manusia. Seperti, ada seorang ibu-ibu memakai hermest. Di sebelahnya ada baby sister yang menggendong Bayinya. Bayinya menangis, Baby sister mau memindahkan ke Ibunya. Ibunya menjawab, Kamu tidak lihat tangan saya. saya ini lagi pakai hermest, Tidak bisa menggendong. Jadi, kedangkalan inilah sesungguhnya Harapan pendidikan kita. Sebab, Percuma Mewah, tapi dangkal.
Menteri Pendidikan kita ini, sesungguhnya punya Misi yang mulia. Hanya saja, kendala di sekitarnya Cukup riskan dan sistemik.
Akhir-akhir ini, kita sedang di dorong tentang kemajuan artificial Intelegency (ada Tulisan saya Soal Ini di bagian Lain), dimana kita bisa merekayasa Intelegency seseorang, Dengan asumsi bahwa kapasitas selebral kita, hanya 10% mobilisasinya. Hal ini bisa di tingkatkan, apakah dengan Biologis atau dengan cara artifisial. Apakah kita harus memberdayakan hal-hal seperti ini untuk mengakselerasi kecerdasan kita?.
Sebenarnya kita sudah berada didalam Tahap itu, kita sudah hadir sebagai manusia separuh biotek. Milineal misalnya, ketika ketinggalan Hp, dia seperti ketinggalan separuh dari aktivitasnya. Karena kita mengumpulkan semua hal, bahkan emosi kita di dalam Hp tersebut ; Kita takut sekali, kalau ketinggalan Hp, lalu di buka oleh pacar kita dan dia mendapati Ada kode lain disitu. Artinya, kita sangat grogi, jika kita ketinggalan hp. sesungguhnya Hp ini adalah separuh eksisistensi psikologi kita dan hal itu menunjukkan bahwa Perkembangan teknologi dengan sendirinya akan mendefenisikan ulang tentang eksistensi manusia. Apakah saya masih manusia atau Mikro Robot?. Di situlah Tugas teman-teman yang belajar filsafat untuk mendefenisikan ulang eksistensi manusia.
Kita harus siap dengan kemajuan Teknologi dan informasi. Sehingga Dalam persiapan itu, kita memang akan berhadapan dengan problem Etics. Karena ada ingatan sejarah, tentang Frangkenstain. Bahkan Hitler juga dulu membuat rekayasa manusia seperti itu (biologic U genic atau Genetis baru). Tetapi, kalau kita terus menerus menganggap moral atau etika bisa menghalangi Teknologi. Maka, mestinya Kita juga berhenti untuk mengembangkan teknologi. Artinya, Etika dan Teknologi, mestinya di jembatani oleh Kurikulum pendidikan. Di jembatani oleh Nalar (Akal).
Nah, Bagaimana bisa kurikulum kita menjemput Percaturan dunia, jika kurikulum kita masih merayakan keagungan Wiro sableng. Memang, wiro sableng pada zamannya itu Jagoan. Tetapi, sekarang perangnya dengan algoritma. Memori kita ini memang senang mengembalikan kejayaan masa lampau. Tetapi, lemah untuk daya pukul kedepan.
Sekarang tanggung jawab moril kita adalah terus membantu Bang Nadiem untuk memberikan dasar baru, agar Abang Menteri mendorong terus laju pertumbuhan pendidikan. Sebab dia akan berhadapan dengan Birokrasi yang bermental korup, licik dan culas.
**
Saya Pernah di tanya, siapa Filosof yang Paling mempengaruhi pikiranmu?.
Secara Individual, kalau kita mau dekatkan karakter kita dengan seorang Filosof, tergantung apa yang menjadi problem Hidup kita. Sehingga tidak ada patokan umum. Saya suka dan mengikuti logika Eksistensialisme Neitzche, karena dia mampu untuk menerobos persembunyian Etics yang palsu pada zaman itu, Dengan mengucapkan bahwa "The Wil to power - segala sesuatu akan kembali secara eternal". Karena itu akan merangsang kita untuk berpikir, tentang bagaimana cara dia melihat keadaan. Sehingga ia menimbulkan Filsafat Eksistensialis. Nah, hal itu bagian filsafat yang inheren, dalam rangka menyiapkan fasilitas batin, dengan kerumitan dunia.
Jika kita membersamai hal itu, kita akan menemukan bahwa di tahun 60-an, semua orang Gandrung terhadap Filsafat Eksistensialisme Neitzche. Dia mempengaruhi, lagu-lagu The Beatles. Dia mempengaruhi juga Lirik-lirik Nina Simone, yang berupaya anti terhadap kekuasaan. Jadi, kita bisa baca bahwa Filsafat itu menggenagi wilayah-wilayah lain dalam hidup.
Tetapi, kalau soal politik, Nietzche tidak bicara itu. Kita mesti cari Filsuf lain, Thomas Hobbes, Ibnu Khaldun, atau Jhon Rolls di Amerika, Misalnya. Kalau lulusam Harvard pasti tahu, sebab dia professor di Harvard. Yang melihat problem Ketidakadilan (Justice) dan berupaya mendamaikan liberal klasik dan Solidaritas manusia.
Sekarang sudah banyak Filsuf-filsuf yang lebih nyeleneh, Seperti Slavok zizak. Semua itu hanya perkembangan dari pkiran-pikiran klasik eropa, yang di benamkan ke dalam insitusi, sehingga dia tidak hilang. Sekalipun pernah suatu masa, gereja membenamkan Ilmu Pengetahuan dan Sains yang di simpan di dalam Museum-museum gereja Katolik.
Dalam kaitan itu, kita bisa menyebutkan seorang filsuf, yang bernama 'Umberto Ueko'. Umberto Ueko itu menulis suatu buku (Novel) yang bernama The Name of rose, yang kemudian di jadikan sebuah Filem. Dia menggambarkan pengetahuan itu Di sembunyikan di suatu perpustakan yang hanya boleh di akses oleh elit, yang pada waktu itu adalah Gereja katolik. Sehingga mereka yang masuk ke dalam perpustakaan tersebut, jika tidak di izinkan elit pasti akan mati, karena dianggap sebagai kutukan Tuhan.
Padahal sebetulnya, pengusa waktu itu (Gereja) menaruh racun di setiap ujung Lembar halaman buku (Biasa kalau kita mau Membalik lembar Kertas buku, kita menggunakan tangan setelah mengambil air liur di lidah). Jadi, ketahuan jika ada yang mati, itu karena keracunan.
Suatu waktu ada yang mati, maka Gereja mengucapkan ini adalah melawan kehendak Tuhan. Padahal itu adalah Kelakuan kriminal mereka yang menghalangi Ilmu pengetahuan.
Dari peristiwa itu, kita bisa mengaktivasi nalar kritis kita, bahwa pernah ilmu pengetahuan di halangi oleh Arogansi Agama. Dari situ kita bisa menghubungkan dengan soal-soal yang menimpa kita, seperti Madilog - Tan malaka yang buku-bukunya di larang. Pdfnya masih tersebar, tetapi bahaya jika bukunya di baca. Sama seperti Syech Siti Jenar, memang kasus itu spektakuler. Mengapa syech Siti jenar, mengambil resiko Saat dia sedang naik ke level Tarekat untuk mencapai kesempurnaan Rohani.
Dari situ kita bisa menghubungkan, dalam Sosio-kultural indonesia ada persaingan pikiran menghasilkan kekerasan. Nah, di situlah spiritnya. Jika guru-gurunya bermutu dan dia bisa mengaitkan seluruh pengetahuan dunia.
Berkenaan dengan halaman buku yang di beri racun, hampir sama dengan Zaman Dinasti Abbasiyah, yang gemilang selama 500 Tahun. Sebagai Muslim, saya bangga pernah baca tentang Kejayaan Sains di Masa Abbasiyah. misal Al Khawarizmi, yang pertama kali meneguhkan Algoritma, sebagai dasar dari Matematika, aljabar, Mantiq, dsb. Sekalipun di ujungnya, berhenti. Setelah Hamid Al Ghazali, datang dengan ajaran yang lebih mengendepankan Wahyu atau agama ketimbang Sains. Sekalipun Dinasti Ottoman bisa berjaya selama 500-600 tahun, tetapi mereka tidak bisa mengembangkan Sains sebagaimana Periode Abbasiyah. Lalu, masuklah Periode Khulagu Khan, abad 13 saat menyerang Bahgdad.
Pikiran barat, karena di sembunyikan Gereja. Bahkan banyak yang di bakar. Tetapi, beberapa buku dasar Plato dan Aristo di selamatkan dan kemudian di bawah ke negeri arab, di terjemahkan kedalam bahasa arab, kemudian terjemahkan kembali ke Barat kembali. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Alexander adalah anak murid aristoteles, yang membawa separuh pikirannya ke persia. Jadi, peradaban sesungguhnya tidak terputus. Justru, karena ada intelektual Arab yang tertarik dengan pengetahuan, sekalipun terjadi debat, mana yang lebih penting Wahyu atau Sains, antara Al Ghazali dan Ibnu Rusyd.
Sebetulnya kita bisa terangkan sebagai sejarah Ilmu pengetahuan, kita tidak perlu terlibat ke dalam dilema tersebut. Nah, hal ini mestinya juga masuk kedalam kurikulum pendidikan kita, bagiaman Ilmu pengetahuan bertumbuh dan bagaimana Ilmu pengetahuan di halangi.
Tetapi, kembali lagi bahwa Guru atau Dosen harus punya Cakrawala berpikir yang makroskopis dan Tebal kritisismenya. Supaya dia tidak mempromosikan sesuatu.
Terakhir, saya ingin menyampaikkan bahwa Ahli fisika yang paling terkenal, Albert Einstein mengatakan, bahwa "eksistensi alam semesta bukan sesuatu yang Coinsidance". Bukankah hal itu sangat spiritualis, karena dia berhasil mengkontekstualisasikan eksistensi religius dan Sains.
Begitu kita maksimalkan Daya Rasio. Kita akan tiba pada semacam kekosongan. Kekosongan itu mesti di jawab, ternyata agama menjawab hal itu, sebagai pengalaman spiritual. Artinya, berilmu juga merupakan pengalaman spiritual. Nah, selama ini kan kita tidak diajarkan. seolah-olah anak Teknik tidak boleh belajar filsafat atau anak Fisip tidak boleh belajar Teknik. Padahal ilmu itu satu kandungan yaitu keinginan untuk menerangkan, sekaligus mengangumi atau menggetarkan (Tremendum).
Berkenaan dengan itu saya ingat ungkapan Imanuel Kant, "manusia itu berjalan dengan bintang diatasnya dan moral di hatinya". Artinya Manusia di tuntun dengan pengetahuan (Bintang) dan kata hati untuk memberi Tanggung jawab etis.
Itulah sebabnya, Descartes datang dengan Ungkapan terkenalnya, "Cogito Ergo sum - aku berpikir maka aku ada". Kalau kita sekarang "Coitus Ergo sum - aku koitus maka aku ada".
Descartes berupaya memberi titik balik dari teologi ke rasionalitas. Tetapi, di tahu bahwa jika dia melakukan revolusi dari Teologi ke Rasionalitas. Maka dia akan di ganggu oleh aristokrasi teologi. Sehingga dia masih memberi kesempatan untuk berpikir bagian Teokratis dan menunda ke belakang. Tetapi, dia tetapi memberikan garis bawah pengetahuan hanya bisa di mulai, jika ada keragu-raguan.
Kedepannya, bahkan di prediksi pada tahun 2045 dimana era Robotic, era Cybyon (penyatuan antara Artifisial Intelegensia dan sains biologi), era Cyber Net. Jika kita tidak memulainya saat ini dengan menyelundupkan ke dalam kurikulum. Maka, Milineal akan menagih kita pada tahun 2045, mengapa kalian tidak membekali kita dalam menghadapi era itu.
Kita ada dalam kegamangan hari ini, sebab selain kita butuh Infrastruktur Statis. Kita mestinya menginstalkan kedalam pikiran pemerintah kita. Yang kerap menyebut-nyebut Bahwa era 4.0 tapi Pikirannya 0.4. Karena, mereka hanya membayangkan. Sementara jejak ke arah itu tidak di lakukan.
**
Konteks pendidikan kita sekarang, di buat ketika zamannya langka informasi, buku-buku kurang. maksudnya sumber informasi sedikit. Efeknya, di jadikan dalam satu kelas. Yang saya mau tanya begini ; apakah di dalam kelas itu mensimulasikan dunia luar atau tidak?. Kalau tidak, justru menghancurkan anak didik. Sebab, orang tujuannya mendidik itu, agar kita efektif ketika masuk ke society (Masyarakat). Kalau pada konteks ini, justru tidak kompatibel dengan society, maka pasti rusak.
Misalnya, ketika kita di society. apakah baik saling tolong menolong atau membantu satu sama lain?. "Tentu Baik". Tetapi, ketika kita saling bantu satu sama lain di dalam kelas saat ujian, pasti kita di marahi guru kan.!.
Nah, dari situ Kita harus menyadari, bahwa limitasi itu hadir karena zamannya. Apakah masuk akal, meletakkan anak yang umur lahirnya sama ke dalam satu kelas. Memangnya Ini produk motor atau mobil, sehingga desain pendidikannya seperti ini. Kita duduknya sendiri-sendiri, Menghadapnya ke buku, bukan kepada teman. Bukan diskusi yang di dorong. Padahal, Di society (masyarakat) kita tidak akan menemukan hal itu.
Misalnya, ada masalah, lalu Guru menerangkan dengan hanya Satu cara untuk memecahkan masalah tersebut. Bukankah hal itu membunuh akar kreatifitas kita. Mengapa?. Karena, kreatifitas itu datang dari memecahkan masalah dengan cara yang berbeda. Jika kita tidak boleh memikirkan cara yang berbeda untuk memecahkan masalah. Maka, kita tidak terpakai di Society. Karena kita hanya bisa jadi Followers.
Artinya, secara Fundamental, pendidikan zaman dulu, tidak perlu di teruskan. Kita sudah melalui banyak limitasi Teknologi, informasi dan sebagainnya. Sehingga Metode pendidikan zaman dulu, stop lah!.
Justru saya sangat sepakat dengan konsep Ki Hajar Dewantoro, " Semua orang Guru, semua orang adalah Murid, setiap tempat adalah sekolah. Jadi, tidak perlu di buatkan suatu ruangan, kemudian di siapkan dalam satu society. Artinya, sejak awal kita tinggal saja di society, sehingga kita tidak berjarak dengan Lingkungan, alam semesta dan Manusia. Kita tingga natural progresi dari apa yang di pelajari.
sekolah itu hanya satu cara untuk memecahkan masalah. Ada banyak cara untuk memecahkan masalah yang sama. Jika sudah tidak kompatibel metodologinya, Rubah. Tidak usah terlalu fanatik dengan Cara. Yang jelas Tujuannya sama. Yang kita niscaya fanatik adalah Tujuannya, Bukan caranya. Caranya kita harus fleksibel dan adaptif.
Ada satu Eksperimen yang di lakukan oleh 'Russel akof', seorang penggiat pendidikan. Dia memberi eksperimen pada seorang Murid Kelas 2 SD. Dia menyebutkan, bahwa pelajaran ini bukan pelajaran pedagogy, tetapi pada kontekstual. Waktu dia memulai percobaannya, dia menyuruh anak Kelas dua SD tersebut untuk mengajari Komputer hitung-hitungan (tambah-tambahan, kali-kalian, dst). Si anak SD belum tahu ilmu itu. Tetapi, di suruh tetap mengajari komputer Matematika.
Jadi, yang di berikan oleh Russel Akof adalah Mission dan Problem. Lalu, bahan pendukungnya banyak di sedikan. seperti buku-buku dan Informasi lainnya. Kedekatan terhadap informasi, dia punya objek yang akan di pecahkan dan Dia serius mengerjakannya. Akhirnya Si anak SD itu berhasil menyelesaikan problem tersebut dalam waktu 6 bulan dan pelajaran yang di serap untuk memcehkan masalah itu, seperti pelajaran 4 semester Mahasiswa. Artinya, dua tahun di singkat menjadi 6 bulan. Ketika konteksnya benar. Sementara ketika kita belajar matematika, kita cuman belajar kalkulasi. Bukan belajar Logika.
Itulah sebabnya, Jika ada anak-anak yang mengatakan pelajaran matematika tidak berguna, saya kadang-kadang sepakat Juga. Mengapa?. Karena kita tidak di beri konteks terhadap itu. Kalau kita di beri mision untuk menyelesaikan sesuatu, salah satu caranya harus belajar matematika, menjadi tidak masalah.
Misalnya, Ada pertanyaan begini, "Ada dua orang di tanya sama bosnya tentang tinggi sebuah gedung?. Orang pertama menjawab 23 m 40 Cm. Sedangkan kawannya yang satu menjawab tidak tahu dan meminta izin untuk di beri waktu 2 jam. Dia keluar, dia lihat bayangannya, dia hitung, lalu dia jawab, jawabannya sekitar 24 m.
Jawab orang kedua, kalah akurat dengan kawannya yang pertama. Tetapi, kira-kira yang di pilih yang mana?. Yang hafal tingginya atau yang memecahkan masalah. Tentu, yang memcehkan masalah, sebab dia lebih berguna dan kita akan berhadapan dengan masalah yang kita tidak bisa bayangkan sebelumnya. Nah, masalah di sekolah adalah masalah yang telah di bayangkan sebelumnya. sementara dalam realitas society, dalam Kenyataam hidup, kita akan menghadapi masalah yang kita tidak pernah bayangkan sebelumnya. Itulah yang di sebut, problem solving.
Metodelogi pendidikan, watak pendidikan dan kurikulumnya, tidak melatih kita untuk menjadi problem solver. Kita di latih untuk menghafalkan ilmu. Sekalipun kita tidak tahu apa gunanya.
Vocal point Dari Gagasan Pendidikan kontekstual yang saya ingin sampaikkan bahwa kita itu niscaya berlajar semua hal, sebab manusia itu tidak fakultatif. Semua manusia itu universal.
Jika selama ini, kita menganggap Universitas, seperti sebuah Gedung yang banyak kamarnya, yang disebut Fakultas-fakultas. Seperti Fisip, Hukum, Ekonomi, keperawatan, itu adalah Kamar-kamar.
Nah, Saya mencita-citakan sebuah rumah dialektika yang banyak pintunya, bukan banyak kamarnya. Agar, ada yang masuk lewat pintu fisip, pintu Hukum, pintu ekonomi, dsb. Di dalam rumah kita campur dan membaur. Sebab, saat kita ke pasar atau ke masyarakat. Orang tidak tanya engkau dari fisip atau Hukum.
Itulah sebabnya, pintu (Fakultas) mesti mengajarkan kita untuk menjadi manusia Universitas. Karena sekarang belum ada Universitas, yang ada adalah kumpulan Fakultas-fakultas. Karena, tidak ada sarjana Universitas, yang ada adalah Sarjana Fakultatif. Jadi, memang sejak awal pendidikan ini salah berpikir. Karena kita tidak meneruskan apa yang diajarkan nenek moyang kita. Kita terlalu kagum dengan barat dan satunya lagi kagum sama arab.
Misalnya, Kalau saya megatakan saya buruk atau saya Baik, memangnya itu menunjukkan bahwa saya buruk atau baik, betulan. saya baik atau buruk, apakah di tentukan oleh anda atau saya?. Kita (saya atau anda) tidak berhak menilainya. Kita ini sama-sama Murid, kenapa saling mengisi lapor. Yang berhak mengisi lapor murid adalah Guru. Memangnya Saya atau anda adalah Tuhan.
Nah, ada hak Tuhan dan ada Hak manusia. Jadi, tidak masalah saya jika di bully. Sebab, jangankan di bully, di bunuh juga saya tidak apa-apa. Tetapi, kalau saya tidak terbunuh, jangan salahkan saya. Karena, aku tidak berkuasa atas nyawaku, maupun nyawamu. Jadi ada pembagian Tugas dalam kehidupan ini : Tuhan bikin padi, kita bikin beras dan kita menjadikannya sebagai Nasi, maka kita kenal ada nasi goreng, nasi kuning, dsb. Jangan Tuhan di suruh goreng Nasi. Itu kacau namanya.
saya Tidak punya daya tarik, sehingga tidak menjadi alasan untuk orang mendengarkan ketika bicara sampai berlarut-larut malam atau membersamai tulisan-tisan saya. Sebab, begitu saya mengaku bahwa saya berjasa atas orang lain, maka saya batal.
Misal, ada orang yang menyembuhkan orang sakit, Dengan meniupkan ke dalam media air. Memangnya, karena tiupan orang tersebut sehingga seseorang yang sakit itu menjadi sembuh. Tidak, coi. Kita ini di kerjasamakan, agar menyatu diantara kita dan Allah yang melaksanakannya, " Fa al lima yurid (Dia maha Bekerja atas apa yang dia kehendaki)".
Sudah berapakali saya bilang, bahwa saya bukan Ustadz, bukan Kiyai dan teman-teman diskusi bukan Ummatku. Kita adalah Ummat dan Pengikut Nabi Muhammad SAW. Nabi sudah tidak ada, tetapi Nubuwah terus menerus sampai Dunia ini binasa.
Misalnya, kita bangdingkan Komplikasi masalah di indonesia ini dengan zaman Nabi Muhammad, mana yang lebih parah?. Identifikasi masalah di Zaman Nabi Muhammad sangat Jelas ; Orang Muslim, jelas. Orang Musyrik, jelas. Munafik jelas. Orang Ikhlas, jelas. Zaman sekarang, orang Kafir saja, Ceramah kiri kanan. (Kafir dalam artian kualitatif. Tetapi, budaya dan identitasnya Muslim). Mengapa, saat itu, problemnya lebih sederhana, tetapi, ada Nabi. Sekarang kompleksitas masalahnya, jauh lebih parah. Tapi, Tidak ada Nabi.
Lantas, apakah ada wahyu setelah Nabi Muhammad?. Pertanyaan demikian menunjukkan betapa parahnya struktur pendidikan kita. awan saja di kasih wahyu Oleh Allah, lebah saja di berikan wahyu ; "Wa aw ha ilan nahli - dan aku mewahyukan kepada lebah-lebah". Berarti sangat mungkinkah, kerbau dan sapi mendapat wahyu juga. Sebab mereka mahkluk Allah. Apalagi Manusia, yang Puncak ciptaan Allah. Meskipun wahyunya tidak regulatif seperti para Nabi-nabi.
Nubuwah itu sampai hari ini berlansung, Allah terus Berfirman pada kita. Sampai hari Ini Allah terus menerus memberi ayat-ayat. Hanya saja, sistem kepekaan kita yang berbeda. Sebab, daya tangkap kita terhadap Ayat dan tanda, tergantung pada kualitas software kita.
Itulah sebabnya, Selain belajar membaca ayat Al-Qur'an, secara tekstual. Kita juga harus belajar membaca ayat-ayat yang tidak di firmankan secara Regulatif.
Misalnya, suatu kejadian saat Nabi Musa Membelah Laut (Wahai Musa Pukulkan Tongkatmu ke laut). Selama ini, kita berpikir dan membaca bahwa hanya Nabi Musa saja yang perintahkan (Wahyu) oleh Allah. Sehingga kita tidak berpikir, bahwa Air laut pun Pastinya di perintahlan oleh Allah untuk terbelah. Artinya, ada Ayat berikutnya, tetapi tidak tertulis secara Administratif (Wahai Air, membelahlah, begitu engkau di sentuh oleh Tongkat Musa). Ada ayatnya, cuman kita Tidak pernah berpikir sejauh itu.
Kenapa kita berpikir sejauh itu. Karena pendidikan kita, meniscayakan kita untuk sekedar menghafal bukan berpikir.
*Pustaka Hayat
*Coretan Nalar Pinggiran
*Pejalan sunyi
*Rst

Tidak ada komentar:
Posting Komentar