Mengenai Saya

Kamis, 30 September 2021

MUHASABAH



Jika ada yang menghinamu, tak perlu meratap. Setiap hinaan orang adalah klaim sepihak. Marah pada hinaan, justru menyiratkan persetujuan. Sebagaimana, kata Sayidina Ali, "ucapan itu seperti obat, jika dosisnya kecil, bisa menyembuhkan. Tetapi, jika berlebihan bisa membunuh".

Hinaan itu hadir akibat merasa paling mulia. Ia tumbuh dalam pikiran yang kerdil, dioperasi oleh manusia picik. Dia mengendap dalam benak mereka yang serakah.

Hinaan bisa berimplikasi Rasialisme. Sedangkan, Rasialisme merupakan bahagian dari puing-puing perang dunia kedua atau jangan-jangan Terma Bhineka Gagal Ika, Cak Nun itu Benar.

Ada cerita yang menurut beta Lucu dan unik, yang tertuang di dalam Kitab Ihya Ulumuddin, Karya Monumental Imam Al Ghazali, kitab yang di anggap sakral di Kelompok ahlu sunnah Wa jama'ah. Suatu Ketika Nabi Musa AS meminta Nasehat kepada Allah. Karena Nabi Musa sebagai Nabi Bani Israil ini sering di gugat olen Orang Bani Israil. Sementara salah satu ciri Orang Bani Israil itu kerap berdebat. Nabi Musa Minta Nasehat pada Allah, agar orang tidak bisa berkata Buruk kepadanya. Biar Semua orang memujinya saja?. Jawabannya Allah unik, "Ya Musa Hadza Syai'un lam asna' khuli nafsi fakaifa nafsahu bika - Ya Musa, saya Yang Allah saja sering di salah pahami manusia, apalagi kamu".

Makanya, kalau ada orang yang menghina atau Membuly, dalam Terma Sekarang dan berbeda paham dengan mu itu biasa saja. Sebab, Allah saja, tidak melakukan hal itu atas dirinya. Secara sederhana kita bisa memahami Cerita diatas, seolah-olah Allah berkata pada Nabi Musa, " Wahai, Musa, saya ini Tuhan, yang menganggap saya Bakhil, banyak. Yang menganggap saya enggan memberi Nikmat, tidak sedikit. Bahkan yang menuduh saya Marah dan Murka, banyak sekali. Kalau saya Mau, saya bungkam semuanya. Tapi, saya tidak melakukannya. Apalagi kamu, cuman Nabi".

Berkenaan dengan itulah, ketika Imamuna Syafi'i di tanya oleh muridnya "Wahai Imam, orang yang kerap mencium tangan dan Hormat kepadamu di depanmu, Biasanya di belakangMu, dia membuly dan menjelek-jelekanMu. Imam Syafi'i Menjawabnya sederhana saja, bahkan sambil tersenyum, "baguslah. Berarti saya berwibawa. Sebab, di depan saya dia tidak berani menjelek-jelekkan saya".

Lanjut, muridnya, "Tapi, banyak orang yang membenciMu, karena FiqihMu Duhai, Imam". Jawaban Imam Syafi'i masih santai, " baguslah, jika mereka tidak senang dengan saya. Artinya mereka tidak akan meminta bantuan dan pertolangan saya".

Secara Natural, pasti kita malu meminta tolong pada seseorang yang kita benci. Berbeda saat kita senang dengan seseorang, pasti kita mudah meminta pertolongannya. Artinya, untung mana, kita di benci orang atau di senangi orang secara Matematis?. 😉🤭

Makanya Imam Syafi'i menghadapi dunia ini sederhana sekali, sebagaimana Ungkapannya " wa man asa'a ilaika faqod ath laqoka - orang yang berbuat buruk sama kamu, berarti membebaskan kamu". Demikianlah Ciri khas ulama-ulama dahulu, "Aridho anillah - melihat apa saja itu sudah ridho". Dan ekspresi paling gampang dari ridho adalah ceria dan senang dalam Kondisi apapun.

Misalnya, saat kita berburuk sangka pada Allah, bayangkan saja, Jika Allah tersinggung dengan hal itu dan menyatakan pada kita, " fal ya'tub robban siwa'i wal yahruj min tahtil ardhi wa ssama'i - Silahkan cari Tuhan selain saya dan keluarlah dari langit dan bumi saya". Mau kemana kita kira-kira?.

Makanya, Mustahil kita bisa melihat cahaya lilin, jika kita menganggap diri sebagai Matahari. Ukurlah diri. Sebab, makan berlebihan bisa muntah dan memikul beban berlebihan akan patah.

Misalnya, sudah mahfum kita tentang Harta kekayaan AbdurRahman Bin Auf itu seperti apa. Dalam Ensiklokpedia ekonomi Islam, harta kekayaannya sangat Fantastis dan luar biasanya adalah yang beliau korbankan di jalan Allah, tidak bisa di kalkulator. suatu Ketika, Abdurrahman Bin Auf di tanya, apa kunci kesuksesan dalam berbisnis. Ia menjawab, "saya selalu ridho dengan keuntungan yang sedikit".

Ihwal itulah sebabnya, salah satu Ciri Khas Ulama, RausyanFikr dan Cendekiawan islam kenamaan dahulu adalah "Melihat dan memandang apa saja, Ia Ridho". Makanya, Nikmat mengucap syukur dan ridho pada segala hal itu Mustahil di lakukan bagi mereka gemar mengeluh dan Mendapatkan sesuatu dari Jalur Gelap.

Selain itu, Secara biologis, menurut pemenang 2 (dua) kali Hadiah Nobel (biologi dan kemanusiaan), 'Alexis Carrel' mengatakan bahwa Betapapun berbedannya manusia, 90 % DNAnya Tetap sama.

Perbedaan warna kulit, Rambut, bentuk mata, warna mata, hidung dst. Hanyalah perbedaan beberapa puluh Gen, diantara kurang lebih milyaran pasangan gen ditubuh manusia.

Artinya, tidak ada satu kelompok yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Apalagi kalau sekedar Fisik dan Tubuh adalah ukurannya.

Bahkan Dalam Teori Fisika Quantum menuturkan, partikel eksistensi kita disatukan dengan partikel yang bahkan berjarak jutaan tahun cahaya dan hal itu saling mempengaruhi. karena itulah, penaifan terhadap keragaman dan perbedaan tidak didukung oleh fisika maupun metafisika.

Selain itu juga, Mayoritas Fakta sejarah menukilkan bahwa ketika persaudaraan diutamakan. maka, hasilnya adalah kejayaan dan gilang gemilang peradaban.

Misalnya, Suatu ketika, Si Fulan berdiri disudut jalan, ia tertawa seperti orang kehilangan akal (gila).

Apa yang kau tertawakan?, Tanya seorang yang lewat.

Apakah kamu melihat batu ditengah jalan itu?. ia Aku lihat, jawab orang tersebut.

Sejak pagi tadi, aku disini. Sudah sepuluh orang tersandung batu itu dan memakinya. Tapi, tidak seorang pun dari mereka yang mengambil batu itu dan membuangnya sehingga orang lain tidak tersandung.

Lihatlah, saat mereka memaki. mereka tidak punya pikiran untuk menolong orang lain. makin sering mereka memaki, makin jauh mereka pada kepekaan akan sesama.

Yah, begitulah Mereka yang akalnya melemah. Kebanggaan dirinya menguat. Sebah, Akal itu Seperti Panci ; panci kosong, cepat panas, sedangkan Panci penuh lambat Panas.

--MUHASABAH I ; MERIDHOI APA SAJA--

(Makassar, 28 September 2021)

***



Dipuji juga demikian, tak perlu melangit. Sebab, berbuat baik adalah perintah moral yang abadi. Sebagaimana Tutur 'Umar Bin Abdul Azis', "Jika kebaikan bisa diraih dengan mengeraskan suara. Maka, sudah lama keledai dan anjing memperolehnya". 

Jika kita tak pernah tau apa yang menghinggapi hati orang lain. Maka, bersikap baiklah : Dan Itu cukup. Meskipun orang tak mengucapkan terima kasih atas perbuatan baik kita, tidaklah mengecilkan arti kebaikan yang kita buat. Biarkanlah kebaikan mengalir dari tangan kita dan biarkan benak kita terbebas dari perasaan berjasa.

Sekalipun secara alamiah, Sebagaimana Nasehat Ibnu Atha'illah Iskandaria bahwa "setiap karunia itu datangnya Dari Allah SWT, tetapi syari'at mengharuskan kita berterima kasih pada sesama". Artinya, Kita tidak harus terbebani dengan penilaian orang lain terhadap diri kita. Karena, kita lebih mengenal diri kita. Perkara orang lain memandang diri kita seperti apa, itu terserah mereka. 

Sebagaimana Gumam 'Syaikh Ath-Thantawi' (Syaikh Al-Azhar) ; "Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tak mengenal kita. Kita adalah orang yang menarik dimata orang yang mengenal kita. Kita adalah orang yang istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita. Kita adalah pribadi yang menjengkelkan, bagi orang yang penuh kedengkian. Kita adalah orang yang jahat, dalam tatapan orang iri".

Yah, Pada akhirnya. setiap orang memiliki pandangannya masing-masing terhadap kita. Maka, tidak usah berleha-leha, agar tampak baik dimata orang lain. 

'Syekh Mutawalli Asy-Sya'rawi', menututkan "jika Manusia melupakan kebaikan kita dimasa lalu, itu adalah balasan atas keburukan kita dimasa sekarang. Sedangkan, Allah menghapus keburukan masa lalu kita, sebagai ganjaran atas taubat kita. Maka, siapakah yang paling layak untuk dimintai ridho?".

Cukuplah dengan Ridho Allah, bagi kita. Sungguh mencari ridho manusia adalah tujuan yang tak akan mungkin tergapai. Sedangkan, Ridho Allah adalah destinasi yang pasti sampai. Maka, tinggalkan segala upaya mencari ridho manusia dan fokus saja pada ridho Allah, (Q.S. 2:207).

--MUHASABAH II--

(Makassar, 28 September 2021)


***



Pada akhirnya, tiada yang benar-benar menetap dalam hidup kita. Satu persatu, Semua akan pergi. Entah, melangkah perlahan atau berlari dengan kencang. Itulah sebabnya, Tak perlu terlalu setengah mati mengejar sesuatu yang hasilnya tidak bisa disantap di alam kubur dan barzah. 

Kelak, Kita tidak akan membawa tanda mata apa-apa. Kelak diperistirahatan yang sempit itu, hanya bisa diisi 3 Mahkluk : Jasad kita, mungkar nakir dengan Daftar pertanyaan dan palu digenggaman tangannya. Maka, persiapkan diri dan ciptakanlah sosok yang tak akan meninggalkan kita, hingga hari perhitungan tiba. Siapa itu?. Ialah amal Sholeh. 

Andaikan, Harta yang haram, hanya menjadi Makanan saja. lalu menjadi tai. mungkin tidak terlalu berbahaya. sekalipun dosanya berbahaya. 

Tetapi, harta yang haram akan menjadi darah, Danging, Tulang, otak, akal, jantung dan berpontensi membentuk Jiwa. lalu, saripatinya akan bertumbuh didalam Rahim dan sperma yang akan membentuk anak dan cucu kita. Tidaklah hal itu merupakan bentuk kedzoliman yang nyata. 

Itulah sebabnya, Dalam Terma fiqih, Kehalalan pendapatan (Harta), niscaya terverifikasi dari prosesnya. Jika prosesnya Mungkar. Maka, di buat apapun, sifat hartanya tetap haram. 

Silahkan identifikasi semua makanan yang masuk lewat tenggoran kita. Apapun Profesi kita, kita semua berPotensi mengunyah harta lewat jalur gelap. 

Bagi sebahagian orang, hal diatas hanyalah permainan dan menjadi komoditas bisnis yang serius. Bahkan, Dianggap lampiran hidup yang tidak Penting diurus, yang penting hasilnya banyak untuk di nikmati. Padahal, menguyah harta lewat jalur gelap adalah ciri peradaban terendah.

Kita berpikir hal itu akan selesai di sini saja. jangan salah. Sapi mati, unta mati, kambing mati dan mereka tidak akan pernah ditanya tentang apa yang ia lakukan selama hidup. Tetapi, manusia tidak. Segala Mark up, kebohongan, tipu daya, sogok. Segala keculasan, kecurangan, kelicikan dan kedzoliman. Berapa kali kita lakukan, akan di minta pertanggung jawaban di hadapan Allah. 

"Wamay yaglul ya'ti bima gollah yaumal kiamah (siapa yg curang, kelak kau akan datang membawa kecuranganmu di hari kiamat)"

Hiduplah sesuka hati kita, sekalipun dengan cara apa kita merengkuhnya, silahkan. tapi, ingatlah kita akan jadi mayat. "I'mal ma si'ta Faa innaka ala Mayyit" :  lakukan apa yang engkau suka. Tapi ingat, Kita akan jadi mayat. 

Silahkan, kita berpura-pura tidak tau pada kebenaran. Sebab, Sampai masanya, dimana Hari itu " Al yauma na'timu ala afwa hihim" ; hari itu mulut terkunci. "Wa tu kalli muna aidihim" ; tangan akan bicara, "waa tasyhadu ala arjulum hum": ; kaki akan bersaksi. Apa yang akan di bicarakan tangan dan kaki ; "limang kana yaksibun". Apa yg kita dipertanggung jawabkan, saat itu : "Faa maya'mal mitsqola dzarratin khoiron yaroh" (sekecil biji sawi kesalahan yang engkau lakukan, akan di perlihatkan kelak).

Hari ini, kita masih dibantu oleh bapak dan ibu, di tolong oleh anak, istri, sahabat, sejawat, keluarga dan tetangga. Tetapi pada masanya kelak, yauma yafirrul yaumqn abhi wa ummihi, wa shohibathi wa banihi ; saudara kandung, Ibu kandung, ayah kandung, sahabat, keluarga, buah hati belaian jantung dan Tetangga tidak bisa membantu.

Kita hanya bisa menyelamatkan diri masing-masing. Sebab, cinta hanya sampai dipelupuk mata, kasih dan sayang, hanya sampai ketika nyawa di tenggorokan dan rindu, hanya sampai ketika malakul maut tiba. 

Dalam realitas hidup ini, ada hal yang mendua. Ambigu istilah lainnya ; disuruh tapi di larang. Bersinarlah, tapi jangan terlampau terang. sebab, akan membuat mata orang silau, pandangan orang terganggu. karena itu pandai-pandailah menempatkan diri.

Silahkan Rawat angkara. Silahkan pongah, Jumawa bahkan membusungkan dada. Dulu, Fir'aun dan Namrud juga demikian. Namun, Ingat saja. disaat kejatuhanmu telah tiba. kamu akan terpinggirkan oleh perubahan waktu. Sebab, Semua yang dilakukan pasti meninggalkan jejak. Tidak lebih dari itu.

Orang tidak selamanya kaya. Lihatlah, Qorun yang hancur. bahkan, ditimbun oleh keserakahannya sendiri. Orang tidak selamanya bertahta. Lihatlah, Fir'aun ditenggelamkan, akibat ulah anak angkatnya sendiri. Semua punya masa, termasuk saya, kamu dan mereka.

Dahulu, setelah Soviet bubar. Gorbachev pensiun dari politik. Hilang kekuasaan dan digdaya personal. Ia dianggap pecundang oleh rakyatnya. Suatu waktu Gorbachev jalan-jalan disebuah kampung, kepalanya diludahi oleh seorang Ibu dari balik jendela. Gorbachev dianggap momok oleh warganya. Ingatlah, jangan sampai anda pensiun, kepalamu diludahi rakyat. 

Dahulu, dimasa jahiliyah Abu jahal dan konco-konconya dianggap paling berpengaruh ; kedudukan, kehormatan dan klan di kapitalisasi untuk mendapatkan kekayaan harta benda. dsb. Apa yang terjadi, saat Rosulullah Muhammad SAW datang, dan diutus menjadi Nabi. semuanya tercerabut dari kemapanannya. hancur tidak karu-karuan pasca Fathu makkah.

Tidak ada yang menyangka, 'Abdullah Bin Mas'ud' dahulu adalah Pengembala kambing, milik 'Abu Jahal'. Akhirnya, memenggal kepala majikannya (Abu Jahal), saat perang badar berkecamuk. 

Siapa yang akan mengira, Sayyidah Aisyiah tetap bertahan memilih jalan Tauhid, walau dibawa kekuasaan Thoghut terbesar sepanjang sejarah ummat manusia, yaitu Fir'aun. Ataukah pilihan Qan'an, Anak Nuh, menjadi kafir, walau ia adalah darah daging seorang Nabi. 

Keputusan ada ditangan kita, jangan menyalahkan keadaan. 

Semuanya akan berakhir, perlahan. serupa bias keindahan senjakala yang pergi meninggalkan enigma, sebelum malam memeluknya.

--Muhasabah III--

 Gowa, 13/10/2021


***


Seorang sahabat datang kepada Nabi Muhammad saw dan mengadu : " ya Rosulullah aku telah berbuat dosa dan maksiat?. Rosulullah Saw menjawab kepadanya, " minta ampunlah kepada Allah swt".

Sahabat itu kembali berkata, "aku telah meminta ampun kepada Allah tapi aku mengulangi kembali dosa itu  Ya Rosulullah".  Rosulullah saw berkata lagi, " minta ampunlah kembali kepada Allah ".

Sahabat itu seperti orang bingung dan berkata lagi, " aku telah meminta ampun lagi kepada Allah dan aku kembali melakukan dosa ya Rosulullah". Rosulullah saw berkata lagi ," teruslah kau meminta ampun kepada Allah swt, hingga iblis yang putus asa, bukan kau yang putus asa terhadap ampunan Allah ". Sumber sunan Ibnu majah, kitab azzuhud pada bab attaubah hadis ke 3427, kasful astar hadis ke 3249 - Konon dosa orang tersebut sudah sangat-sangat memalukan, plus menjijikkan. tapi Rasulullah saw terus memerintahkan orang tersebut untuk tidak berputus asa akan Rahmat Allah swt

'Syaikh Mutawalli Asy Sya'rawi', ditanya : "beritahukan aku tentang kedermawanan Allah". Jawabnya, "Dia melihatmu melanggar PerintahNya. Tetapi, Ia letakkan Rasa sesal di hatimu, kemudian Dia mendorongMu untuk beristighfar. Maka Dia mengampuni dosamu".

Kalau sekiranya kalian mempunyai dosa atau kesalahan sampai memenuhi langit kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian. (HR. Ibnu Majah).

Kata seorang Sufi Bernama Al-Hallaj ; "Aku tidak heran terhadap cintaku kepadamu. Sebab, aku hanyalah hamba yang hina dina. Yang membuat aku heran, cintamu kepadaku. Sebab, engkau Maha cinta yang berkuasa".

Berilah harapan pada orang. Bukan justru menakuti-nakutinya. Sebab, Allah maha pemberi melebihi apa yang kita minta dan mengampuni segala dosa. Harapan itu seperti Setiap malam kita tidur, tanpa memiliki jaminan apakah akan bangun pagi atau tidak akan bangun Sama sekali. Namun, kita masih saja mengatur alaram untuk bangun. 

Hidup kita ini adalah rangkaian doa demi doa. Bukan tentang dikabulkan sekarang. Tetapi, tentang indahnya Merayu Tuhan. Seumpama Siti Maryam, Ibunda Nabiyullah Isa A.s, yang bermuajat, bahwa  "Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu Tuhan". Olehnya, Jangan berburuk sangka pada Allah. Sebab, Allah punya otoritas untuk membalikkan keadaan dengan cara-cara yang paling sederhana.

Tidak ada yang menyangka, jika air yang mengantarkan Musa, ke istana Fir'aun, padahal Musa Mungil sedang dalam masa terlemahnya. adalah air yang sama, yang menghancurkan pasukan Fir'aun. Padahal Fir'aun sedang dalam masa terkuatnya. 

Kemana Kita pergi?. Pergilah kepada Allah, sampai tak ada lagi yang kita temukan Selain ketenangan. Sebab, Telah lama kita meninggalkan diri kita, yang ditinggali oleh bayang-bayang hidup orang lain.

Bagaimana kita hendak bersujud pasrah, sedang Wajah kita yang bersih sumringah. Kening kita yang mulia dan indah begitu pongah, Meminta sajadah agar tak menyentuh tanah.

Apakah kita melihatnya seperti iblis saat menolak menyembah Datuk kita, dengan congkak : Tanah hanya patut diinjak, tempat kencing dan berak, serta membuang ludah dan dahak atau paling jauh hanya lahan pemanjaan nafsu serakah dan tamak.

Apakah kita lupa bahwa tanah adalah bapak dari mana ibu kita dilahirkan. Tanah adalah ibu yang menyusui dan memberi kita makan. Tanah adalah kawan yang memeluk kita dalam kesendirian, dalam perjalanan panjang menuju keabadian.

Singkirkan saja sajadah mahal kita, Ratakan kening kita, Ratakan kening kita. Tanahkan wajah kita, Pasrahkan jiwa kita.  Biarlah rahmat agung Allah membelai kita dan terbanglah kekasih. 

Tuhan Kekasih ; Sungguh tidak ada kepantasan sedikitpun padaku, untuk engkau gabungkan bersama para ahli-ahli surgamu. Namun, Sungguh aku tidak akan kuat, untuk engkau campakkan kedalam dahsyatnya api nerakaMu.

Maka, tumbuhkanlah. Kesadaran untuk bertaubat. Kemudian, ampunilah dosa-dosaku. Karena, hanya engkau Maha Pengampun segala dosa yang besar. Dosaku bertumpuk, seperti hamparan pasir di pantai.

Anugerahilah aku, Taubat wahai yang Maha Perkasa. Sebab, Umurku berkurang setiap hari, setiap malam. Sedangkan dosaku bertumpuk-tumpuk. Semakin bertambah, sampai aku tak tahu lagi bagaimana membersihkannya.

Kekasih, hambamu yang penuh maksiat ini, datang mengetuk pintu rumahmu. Bersimpuh, bersujud mengakui segala dosa dengan hati yang memanggil-manggil ampunan-Mu.

Kekasih, apabila engkau mengampuniku. Maka, memang hanya engkau-lah Maha Pengampun. 

Tetapi kalau engkau usir aku. Tetapi kalau engkau tolak dan campakkan aku. Kiranya kepada siapa lagi. Kami, aku dan mereka. Akan bisa berharap.

" ilaahi lastu Lil firdausi ahlaan - wa laa aqwaa 'alaa Nasril jahiimi (Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka jahim)".

" Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdambil 'adzhiimii (maka berilah aku Taubat /ampunan dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar)"

" Dzunuubii mitslu a'daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljaali (dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku Taubat wahai Tuhanku yang memiliki keangungan)"

" Wa 'umrii naaqishun fi Kullu yaumi-wa dzanbii zaa-idun kaifah timaali (umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya)".

" Ilaahi 'abdukal 'aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qod da'aaka (wahai, Tuhanku! Hambamu yang berbuat dosa telah datang kepadamu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepadaMu)".

" Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun fa in tathrud faman narjuu siwaaka (maka jika engkau mengampuni, maka engkaulah Yang berhak mengampuni)".

Ya Tuhan, Kekasih. selamatkan kami dari bodoh Maha Dahsyat dan rakus yang membawa mampus dan Berilah kami kemampuan, agar tidak puas dengan amal-amal kecil. Meski dosa adalah peristiwa manusiawi dijari waktu.

Ya Robb, Apapun hukuman yang engkau timpakan kepada aku. Maka aku akan terima. sebab aku tidak Mempunyai hak untuk Mengintervensi-MU. Namun, pintaku : jangan engkau hukum aku dengan memasang tabir pemisah antara engkau dan aku.

Ya Tuhan, kekasih. Kadang aku lupa menyapaMu. Kadang pula aku abaikan panggilanmu. Bukan karena aku Jumawa, apalagi membusungkan dada di hadapMu. Tetapi, tabiatku yang memang resah dan gelisah, dengan Fatamorgana yang menipu Ini. 

Padahal, sahabat kekasihmu Umar Bin Khottab berpesan "saya tidak pernah memohon kepada Allah agar meringankan beban. Tetapi saya Memohon kepada Allah agar diberikan punggung yang kuat untuk memikul beban".

--Muhasabah IV--

Makassar, 18 November 2021


***

Bila semua terselesaikan oleh tangan yang di tengadahkan, kita tidak akan pernah merasa bahwa Tuhan mengambil lebih banyak dari pada memberi. 

Demikinlah doa adalah rumah dari segala ingin ; Jalan pintas menuju pelukannya.

Ikhtiar hanyalah jalan, sedangkan rezeky adalah kehendak Allah, dia memberi Se-KehendakNya. Antara Shafa dan Marwah, Siti Hajar mencari air. Di ulangnya, bolak balik 7x. Tetapi, zam-zam justru muncul dari Kaki Ismail. Itulah sebabnya, sempurnakan saja Ikhtiar kita. Rezeky kita, biarlah menjadi kejutanNya. 

Namun, rezeky tidak hanya soal materi. Berapa banyak orang sakit, yang ingin hidup seperti kita. Tidak sedikit narapidana, yang merindukan suasana di luar, pergi kemana saja yang dia mau. Di kolong jembatan, ada orang-orang yang bermimpi tentang ukuran tempat tidur kita Dan di kuburan, ada orang yang menginginkan kesempatan kedua untuk hidup lagi seperti kita.

Kita yang sedang tidak mengayuh sepeda. Kita yang tidak sedang menebar jala. Kita yang tidak sedang mendorong gerobak. Kita yang tidak sedang bergelut dengan cuaca Ekstrem. Kita yang tidak sedang memanjat tebing-tebing tinggi dan bergelantungan dari satu dahan ke dahan yang lain, demi sesuap nasi. Bersyukurlah.

Hidup ini, tidak seburuk yang kita bayangkan. Jika di bandingkan dengan kondisi dan keinginan orang lain. Sekali lagi, Bersyukurlah untuk semua itu. Ibnu Hibban berkata, "seandainya engkau berlari dari Rezekymu, sebagaimana engkau berlari dari Kematian, niscaya rezeky itu akan sampai kepadamu, sebagaimana kematian akan sampai kepadamu. Sesungguhnya rezeky akan mengejar seorang hamba, seperti ajal mengejarnya". 

Bila rezeki kita berlimpah. maka, panjangkanlah meja makan kita. bukan, justru meninggikan pagar rumah. Harta kita adalah baju yang kita pakai, nanti akan Rusak. Yang kita Makan, berakhir di WC, " Wa hal laka min maalika illa ma akalta faafnaita wa labista faablaita Wa tashaddaqta faabqoita - Yang Kamu sedekahkan itulah yang abadi sampai di akhirat. Kamu jangan bilang yang kamu sedekahkan itu yang habis". 

Sebenarnya saya mau mengajari pengusaha dan konglomerat soal Hadits Ini. Karena Nabi mengajari kita soal shodaqoh itu adalah pengabadian Uang. Sedangkan kita Menganggap bahwa Shodaqoh itu menguras Uang. Padahal itu, pikirannya setan. Bukan pikirannya orang Islam yang beriman .

Tetapi, Jika Ikhlas tak pernah mengiringi Qolbu, berapa pun kebajikan itu. Akan luruh berjatuhan amal Ibadah kita. Sebagaimana, Seorang yang mengalami kebutaan keluar dari rumahnya menuju Masjid untuk menunaikkan Sholat subuh. Ditangannya ada lampu yang menerangi langkahnya.

"Anda membawa pelita. Nyalanya tidak memberikan Manfaat sama sekali", ejek Kawannya. Jawab Orang Buta, " saya Membawa lampu, agar orang-orang melihat saya dan tidak menabrak saya". 

Niatkan kebaikan untuk kebaikan. Biarlah kebaikan menjadi rahasia kita, sebagaimana engkau merahasiakan dosa-dosa kita. 

Salah satu protype dari Rosulullah adalah filantropisme. Filantropis adalah kebaikan yang di lakukan, tidak dengan memamerkannya di ruang publik, karena itu menyangkut kejujuran untuk membantu manusia. 

misalnya, jika membantu si Miskin. Datangi secara diam-diam. Jika perlu, jangan sampai Si miskin tahu, siapa yang memberikannya sedekah. Itu yang disebut kegiatan filantrophis. 

Filo artinya sayang. Atrophia artinya manusia, secara harfiah disebut mencintai manusia. Lain ceritanya dengan caritas. Caritas itu saat melakukan sesuatu, ada motifnya, mengumpulkan orang. Membentangkan sensasi, mata kamera di gelar di setiap sudut. Ada wawancara disitu. Sebagaimana yang Populer dilakukan itu.

Demi apa kebaikan seperti itu pamerkan?. Makanya Berbuat baik dalam Persepsi agama dan Politik itu berbeda. Dalam politik kebaikan butuh Mata lensa, sedangkan dalam agama Bila perlu orang yang kita bantu, jangan sampai tau bahwa kitalah yang membantunya. Sebagaimana Apa yang di sampaikkan Umar Bin Abdul Azis, " Jika kebaikan bisa diraih dengan pengeras suara. Maka sudah lama anjing dan Keledai, memperolehnya". 

Jika seluruh kebaikan adalah Investasi untuk surga.  Lalu, kemana perginya Ketulusan?.  Memang, Ibnu mas’ud Mendaku, bahwa Ibnu Al-jazari. pernah di Tanya oleh muridnya; guru kenapa engkau tidak banyak berpuasa?. Ibnu Mas’ud menjawab; jika aku banyak berpuasa, maka badanku akan lemah dan aku tidak kuat membaca al-Qur’an. sementara membaca Al qur’an lebih aku sukai ketimbang memperbanyak puasa.

Kebaikan dan berbuat baik itu banyak jenisnya. Tapi, skala prioritas yang tiap orang bisa jadi tidak semua sama. Maka, sejatinya Kebaikan itu disemai diam-diam dalam gelap, lalu tumbuh senyap tak berisik. agar, Yang terang terasa hanyalah manfaatnya.

Demikianlah, semestinya tugas utama kita sekarang, yakni membuktikan bahwa kondisi apapun, tidak akan meretakkan solidaritas sosial kita. Sebab, empati dan kebaikan itu menular jauh lebih cepat daripada virus.

Jika kita terhalang dalam menyemai kebaikan, Kata Ibnul Al-Qoyyim Al-Jausyiah ; jika punggungMu terlalu berat menahan Dosa-Dosa, maka akan terhalang dari perjalanan menuju Allah dan Anggota tubuh terhalang beramal dalam ketataan kepadannya. 

- MUHASABAH V ; BERSYUKUR DAN IKHLAS  -

Makassar, 15/07/2021  - Pukul : 05.05


***


Ketika Nabi Musa As dan Bani Israil berkumpul untuk melaksanakan shalat istisqo' (sholat yang dilaksanakan untuk meminta hujan ketika paceklik). Ketika mereka mereka shalat, Keanehan pun terjadi. Tidak ada setetespun hujan yang turun. Lalu, Nabi Musa menanyakan hal itu kepada Allah.

Allah berfirman, "Wahai Musa aku tidak akan mengabulkan do'amu dan do'a orang-prang yang bersamamu. Karena di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat padaku selama 40 tahun dan akupun mencegah turunnya hujan pada kalian".

Nabi Musa pun bertanya, "Lalu Ya Robb apa yang harus kami lakukan?". Allah pun berfirman: "Keluarkan (usir) orang tersebut dari kalian!"

Mendengar hal itu, Nabi Musa pun berpidato pada Bani Israil, "Wahai Bani Israil! di antara kita ada seseorang yang bermaksiat pada Allah selama 40 tahun, hujan Tak akan pernah turun sampai orang tersebut keluar dan pergi!". Maka sadarlah hamba itu akan dirinya dan dia pun berkata dalam hatinya : "Yaa Robb hari ini aku berada di kalangan orang banyak, jika aku keluar maka aku akan merasa malu, dan tiada pilihan untukku hari ini kecuali bertaubat pada-Mu, ampunilah aku dan tutuplah aib aibku"

Tidak berselang lama hujan pun turun, lalu Nabi Musa berkata, "Ya Robb, hujan telah turun dan tak ada satupun orang yang di maksud, yang keluar di antara kita?"

Allah pun berfirman : "Wahai Musa, hujan aku turunkan sebab rasa senangku terhadap seorang hamba yang telah bertaubat setelah bermaksiat padaku selama 40 tahun.

Nabi Musa pun berkata : "Siapa dia Yaa Robb? Tunjukkanlah padaku agar aku bisa bergembira untuknya.

Allah pun menjawab: "Wahai Musa, dia bermaksiat pada-KU selama 40 tahun aku tutupi, dan hari ini dia bertaubat padaku lalu aku akan mempermalukan dia?. 

- MUSAHABAH VI -


*Pustaka Hayat
*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran


Jumat, 17 September 2021

MATI ITU PASTI, MAKA PERSIAPKANLAH




Sudah menjadi keyakinan dalam kehidupan kita, bahwa segala yang ada permulaannya, pasti ada penghabisannya. Setiap yang punya awal pasti memiliki akhir. Sebab, tidak ada kebadian dalam kehidupan ini. Semuanya datang silih berganti. Berubah oleh pergeseran masa dan pertukaran waktu. Demikianlah, jika kita hendak merenungi kehidupan alam disekitar kita.

Sejak dari kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang sampai pada kehidupan kita mahkluk yang bernama manusia.

Lihatlah, kita manusia misalnya ; di mulai sejak kita telahir di kehidupan ini, dari bayi yang merah tidak berdaya, kemudian berangsur tumbuh menjadi anak-anak. Dari kehidupan anak-anak berubah lagi menjadi remaja, dengan segala kelincahan dan keceriannya. Lalu, dari masa remaja, kita memasuki masa dewasa, untuk kemudian memasuki fase tua. Setelah kita memasuki masa tua. Sehari, seminggu, sebulan dan setahun. Sampailah kita pada batas waktu yang telah di tentukan oleh Allah, yang di namakan ajal Dan bertemulah kita dengan maut. Hal Ini merupakan kepastian dalam kehidupan.

Jika saja kita mau merenung, akan perubahan-perubahan yang terjadi pada diri kita secara Biologi, seharusnya membuat kita insyaf dan sadar. Di kala remaja, kita begitu lincah, punya rambut yang ikal berderai, punya lesung di pipi, punya senyum yang indah menawan bagi setiap orang yang melihat, punya kulit yang kencang dan bersih. Manakala kita memasuki masa tua, perubahan frontal pun terjadi ; kulit mulai keriput, rambut yang tadinya ikal berderai mulai memutih, nikmat mulai berkurang. Gigi yang tadinya utuh, bisa mengunyah apa saja, satu demi satu mulai permisi meninggalkan kita. Sangat boleh jadi, saat kita remaja senyum kita begitu menawan yang membuat orang lain bisa terpikat. Tetapi, ketika kita sudah tua dengan kulit yang keriput dan gigi yang tidak ada lagi, manakala kita tersenyum, mungkin orang akan lari dari sekitar kita.

Kemana keindahan yang begitu menawan. Kemana senyum lesung pipit yang begitu menarik orang. Semuanya, Pergi meninggalkan kita, berubah oleh pergesaran masa dan pertukaran waktu.

Bila maut datang menjemput kita. Apakah selesailah kehidupan sampai di situ?. Ternyata belum.

Jika lahir adalah perpindahan kehidupan dari alam rahim ke alam syahdah (dunia). Maka, mati pada hakikatnya adalah perpindahan kehidupan dari kehidupan dunia menuju kehidupan baru, yaitu alam barzakh.

Andai, hidup hanya sekali. Secara moral kita akan berkata, alangkah tidak adilnya Tuhan. Kenapa?. Sebab, Dalam kehidupan ini, segala ragam hal terjadi ; ada orang dzolim, ada orang yang di dzolimi. Ada orang membunuh, ada orang yang terbunuh. Ada orang yang kaya, ada orang yang miskin. Ada orang yang jujur, ada orang yang menghalalkan segala cara. Sehingga banyak keadilan yang terlepas dari pengadilan dunia.

Lalu, orang bilang di dunia ini, banyak pengadilan tetapi banyak ketidakadilan. Di dunia ini mudah mencari pengadilan, tetapi sulit mencari keadilan. Andaikata hidup hanya sekali, bagaimanakah nasib mereka yang lepas dari pengadilan dunia ini?. Alangkah tidak adilnya Allah, jika tidak ada kehidupan, sesudah hidup yang sekarang.

Tentulah akan terjadi, dimana orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, seperti bahasa - yang penting kan saya kaya, yang penting kan saya punya jabatan dan kedudukan tinggi. Kalau perlu jilat atas, jilat atas. Kalau perlu sikut kiri kanan, sikut kiri kanan. Kalau perlu injak bawah, injak yang dibawah. Inilah prinsip orang-orang Sekuler. Mengapa demikian?. karena, mereka tidak percaya yang adanya hari kiamat.

Sebagai muslim yang percaya, akan adanya hari akhirat, kiamat pasti ada dan hidup tidak hanya sekali. Maka, jika kita berlaku aniaya, kita dzolim, kita korupsi, kita culas, dsb. Maka, boleh jadi kita lepas dari pengadilan dunia. Tetapi, kita tidak akan pernah lepas dari pengadilan Allah, pengadilan Qodi Robbul Jalil. Dimana kita akan di adili, se adil-adilnya dan tidak ada satu perkara pun yang besifat salah yang akan lolos dari pengadilan tersebut.

Pantas saja, jika suatu Hari Malaikat Jibril datang menasehati Rosulullah SAW, yang tentunya menasehati kita semua. Apa kata malaikat jibril, kepada baginda Nabi ; "Ya Muhammad Is ma si'ta fa innaka ala mayyitun - Hai Muhammad, hiduplah semau kamu, tapi jangan lupa kamu pasti mati".

Kalau memang di larang tidak terlarang, dicegat tidak tercegat. Kita mau hidup menurut mau kita sendiri. Persilahkan. Hiduplah menurut mau dan gaya kita. Tapi, jangan lupa bahwa suatu saat kita pasti mati, "Fa innaka ala mayyitun".

" Waa mal ma Si'ta fa innaka ma' dziyun bih - kerjakan apa saja yang kita mau". Jika engkau mau menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, Silahkan. tapi jangan lupa bahwa kita akan mendapatkan balasan dari seluruh amal perbuatan kita".

" Waa ahbib ma si'ta faa innaka la muffariku hu - dan cintailah, apa saja yang engkau mau cintai". Kita cintai anak suami atau istri kita silahkan. Kita cintai pangkat dan jabatan kita, tafadhol. Kita cintai harta dan kekuasan kita, silahkan. Kita cintai tanah air kita, silahkan. Tapi, jangan lupa kita pasti akan berpisah dan meninggalkan segala yang kita cintai".

Artinya, seesudah maut datang menjemput kita, ada kehidupan sesudah hidup yang sekarang ini. Hal Inilah yang mendorong kita dalam kehidupan ini, tidak menggunakan prinsip seenaknya saja. Semaunya saja, asal harta dapat, asal pangkat tinggi, asal punya jabatan. Masa bodoh dengan menipu orang lain, masa bodoh dengan menganiaya orang lain.

Seorang muslim tidaklah diajarkan demikian, ingatlah setelah kita mati. Setelah kita akan di bangkitkan dan akan diminta pertanggung jawaban tentang apa yang kita lakukan di kehidupan yang sekarang ini. Oleh sebab itu, jika kita bicara tentang Akhirat dan Kiamat, memang hal itu masalah yang ghaib. Yang sepenuhnya tidak bisa di cerna dan di pahami oleh penalaran dan intelektualitas kita. Dasar di dalam membicarakan hal ini, tidak lain adalah iman kita kepada Allah. Bukan saja dari zaman kita, sejak zamannya Nabi, jika orang membicarakan tentang kiamat dan akhirat, ada yang ragu-ragu dan ada yang menolak sama sekali.

Pernah suatu saat Nabi Berdakwah, menceritakan bahwa suatu saat akan terjadi kiamat, dimana Allah akan membangkitkan seluruh manusia dan meminta pertanggung jawaban. Apa reaksi orang?. Reaksi orang yang beriman, sangat menyakini hal itu. tetapi, yang tidak beriman, mereka bertepuk tangan, mencaci dan mengejek. Bahkan, yang luar biasa adalah dua Kafir, yang bernama 'Ubaid Bin Ka'ab' dan 'Ash bin Wail', setelah mendengar pidato Nabi, mereka cepat-cepat pulang kerumah. Untuk mengambil cangkul dan mencari kuburan tua. mereka berdua menggali dan mengambil tulang-tulangnya dan membawanya kehadapan Nabi Muhammad SAW, seraya berkata, Ya Muhammad, tulang-tulang yang hancur sedemikian rupa, siapa yang bisa menghidupkannya kembali. Ahh, yang macam-macam saja engkau Muhammad. Tidak rasional, tidak masuk akal.

Allah menjawab ; " Watdho robalana mastlaw waa khosiyah kholqoh. Qola ma ' yuhyil idzo ma waa hiya romim. Qul yu' yi halladzi ansaaha ahaa awwala marr'ro wahuwa bil kulli kholqin alim - mereka memberikan perumpamaan kepada kami. Mereka melupakan asal kejadiannya. Mereka bertanya siapa yang sanggup menghidupkan tulang belulang yang telah hancur. Katakan, pada mereka Muhammad, yang akan menghidupakan mereka adalah dia yang menciptakannya pertama kali dulu". Jika dia sanggup menciptakan, maka dia lebih sanggup lagi mengembalikan reproduksi ciptaannya sebagaimana dahulu.

Yang paling kasian adalah mereka yang ragu-ragu ; akhirat itu ada apa tidak, kiamat itu ada atau tidak. Lantaran ragu-ragu, terombang ambing antara harapan dan putus asa. Terombang ambing, diantara kenyataan dan idealisme.

Ada yang buta terhadap kehidupan sesudah mati. Perhatian mereka hanya tercurah pada kehidupan sebelum mati. Yang mereka perhatikan, hanya siang dan malam, yang tidak lebih dari sekedar urusan perut. pergi pagi, pulang sore. Peras keringat, banting tulang. Cuman soal makan, minum, pakian, kendaraan, istri, anak, rumah tangga. Yang mereka pikir, cuman soal-soal politik, ekonomi, pembangunan dan industri, misalnya. Untuk soal-soal seperti itu, habis seluruh waktu, giat tiada tara demi memikirkan peningkatan kebudayaan, ekonomi, politik, kadang-kadang kurang tidur, kurang istirahat, berkeliaraan kesana kemari ke tempat-tempat jauh. Sampai-sampai terkena stress, darah tinggi, ginjal, lever untuk memikirkan hal-hal yang semata-mata hanya dunia saja.

Lantas, boleh jadi mereka mendapatkan kekayaan yang melimpah ruah, kedudukan yang tinggi, nama yang semerbak, dikenal orang di barat dan timur. Di utara dan selatan. Tetapi, alangkah kecewanya mereka, jika ajal datang menjemput nyawa. Meinggalkan harta yang banyak, nama yang mahsyur, mereka disebut dengan jasa-jasanya. Radio menyiarkan, tv menyiarkan, koran memberitakan. Bahkan nama mereka di kenang 2 sampai 3 tahun setelah ia meninggal. Tetapi, pada saat itu, Jiwa mereka merintih, mengeluh, menderita karena di lemparkan oleh Allah ke tempat yang kotor. Penyesalan sudah tidak akan ada gunaya lagi.

Oleh karena itu, kehidupan akhirat bukanlah dongeng dan tahayyul. Bukan khurafat dan khayalan. Bahwa kehidupan akhirat dan kiamat adalah kepastian dan kebenaran. Dalam surat Al-Hajj, Allah SWT berfirman, " Waa anna sya'ata ati atun la royba fiha waa annallahu yab asu man fil kubur - dan bahwa sesungguhnya kiamat itu adalah sesuatu yang pasti dan tidak ada lagi keragu-raguan lagi di dalamnya. Dan bahwasanya Allah sungguh-sungguh akan membangkitan manusia dari kuburnya masing-masing".

Jika kita sudah yakin bahwa kiamat dan akhirat adalah sesuatu yang pasti adanya. Lalu, dari mana pembicaraan tentang kiamat dan akhirat kita mulia?. Tentu dari diri kita. Marilah kita memasuki proses perjalanan hidup ini, sampai memasuki kiamat.

Kawan, tidak ada mahluk secantik dan setampan manusia. Jika tidak percaya. Silahkan pergi ke Kebun binatang. Kawan masuk ke dalam kebun binatang, maka kawan akan temukan segala macam mahkluk, terdapat ratusan jenis binatang didalamnya, lalu bandingkan dengan kawan ; mana yang lebih ganteng?. Dari seluruh mahkluk yang diciptakan Allah, Manusia adalah Fii ahsani taqwim - manusia adalah sebaik-baik ciptaan". Sejak susunan biologis sampai kemampuan berpikir.

Biologis kita sangat sempurna : di berikan dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk bekerja. Di berikan dua mata, yang kedua-duanya di depan. Bayangkan, kalau satu mata kita di depan dan satunya di belakang. ahh, rasanya tidak laku kaca mata itu. Di berikan dua hidung, dengan lubangnya menghadap kebawah. Tahu betul Allah. Coba kita bayangkan, jika lubangnya menghadap ke atas, bagaimana jika musim hujan, kan repot kita. Sebab itulah, manusia adalah "Laqod kholaqnal insana fi ah sani taqwim - sungguh telah kami ciptakan manusia dengan bentuk kejadian yang paling sempurna".

Kesempurnaan manusia ini, karena terdiri tiga unsur pokok ; Unsur jasmani dan unsur rohani, unsur Jiwa. Jazad yang berasal dari sari makanan, yang di makan oleh bapak dan ibu kita. Lalu, dengan hasil kerja sama yang baik, antara ibu dan bapak, terwujudlah kita. Kalimat lansungnya jazad kita terbentuk dari tanah. Yang berubah menjadi bayi, anak-anak, remaja, dewasa, sampai tua.

Yang mengalami proses perubahan adalah unsur Jasmaniah Kita. Kenapa?. Karena jasmani adalah materi - benda. Daya tahannya terbatas oleh pergeseran masa dan pergantian waktu. Apa ada orang makin tua, makin cakep.

Yang menyebabkan jasmani bisa bergerak, karena ada unsur roh menurunkan Nilai hidup kepada Jiwa yang terdapat di dalam jazad. Inilah yang menjadi sumber kehidupan dan Pusat kesadaran dalam kehidupan manusia.

Jika tidak ada nilai hidup roh yang di turunkan ke dalam Jiwa yang terdapat di dalam jasmani kita. Secara sederhan, kita bisa analogikan seperti ini, kalau kita Pernah melihat orang mati, perhatikan jazadnya : telinganya masih ada, tetapi sudah tidak sanggup mendengar. Matanya masih lengkap, tapi tidak bisa lagi melihat. Mulutnya masih ada, tetapi tidak sanggup lagi berbicara. Telinganya dan kakinya serta tanganya masih lengkap, tetapi tidak bisa lagi mendengar, berjalan dan bekerja. Ternyata jasmani kita, jika sudah ditinggalkan roh, sudah tidak berdaya apa-apa.

Jasmani dan rohani kita, ternyata dua-duanya punya kebutuhan. Kebutuhan Jasmani adalah  makanan, minuman, istirahat, pakaiaan. Apabila ajal menjemput, berpisahnya Roh dari jazad, itulah yang di namakan maut. Jadi apa mati itu?. mati adalah berpisahnya roh dan jazad. Oleh sebab itu, islam sangat mengajurkan kita, agar banyak-banyak mengingat mati. 

Bagaimana caranya mengingat Mati?.

mati itu pasti. Kira-kira diantara kita, ada yang tidak akan mati atau tidak?. "Tidak, pasti akan mati". Berani?. "Berani". Sekarang mau?. "Tidak, hehehe".

Sebenarnya, orang tidak perlu takut mati. Tetapi, jangan juga terlalu berani menghadapi mati. Karena, bagaimanapun takutnya kita pada mati. Toh, dia pasti datang dan Bagaimanapun beraninya kita pada mati. Kalau belum ajal, yah tidak mati juga. Jadi, seorang muslim itu harus berani menghadapi hidup dan tidak takut menghadapi mati. Karena mati adalah sesuatu yang pasti. 

Pertama, Berziarah atau menjenguk teman yang sakit. Sebab, pahala menjenguk orang yang sedang sakit itu kata Nabi, Lebih afdhol dari melaksanalan sholat sunnah 1000 rakaat. Apa pernah sodara melaksanakan sholat sunnah 1000 rakaat?. "Belum pernah". Nah, Jenguk orang sakit, pahalanya lebih afdhol dari sholat sunnah 1000 rakaat. Kenapa, menjenguk orang sakit mengingatkan kita akan kematian?. Iyaa yah, ini teman saya. Kemarin bercanda ria dengan saya. Sekarang, terbaring tidak berdaya di rumah sakit. Hilang kemampuanya, hilang keceriannya. Sakit. Ia, kalau sembuh, kalau ajal. Ia, sekarang dia. Kalau jatuh ke saya. 

Lalu, menghibur teman. Adabnya kita menggunakan kata-kata yang enak, agar mendatangkan sugesti supaya dia cepat sembuh. Jangan, menjenguk orang sakit, kita terlalu jujur. Misal ; sakit apa bro?. Perut, wadduh, kemarin teman saya sakit begini, mati. Itu orang bisa syok, lantaran etika kita tidak sampai kesana.

Kedua, ziarah kubur. Jika tidak bisa setiap hari, sekurang-kurangnya seminggu sekali, jum'at pagi. Kalau masuk kubur, ada etikanya ; 'Assalamu alaikum Ya ahlal kubur waa inna insya Allah bikum lahibun' - Hai penduduk Kubur, Keselamatan bagi kamu. Dan kami Insya Allah, pasti akan menyusul kamu". Ia, yah. Kemarin masih ada, kini terbaring tanpa daya, ini unggukan kuburannya. Ia, yah. Yang kemarin masih ada, sekarang sudah tidak ada. Kemana dia, kami suatu pasti akan begini. 

Ketiga, mengawal jenazah. Bahkan sangat di anjurkan dalam agama. Jika boleh, sejak di mandikan, di kafankan, menyolatkannya sampai di antarkan ke kuburan. Ia, yah. Hari ini saya yang mengantarnya ke kubur. Besok boleh jadi, saya yang diantar oleh orang. Hari, ini saya sholatkan dia, besok boleh jadi saya yang di sholatkan orang. Hari ini, saya masukkan ke liang lahat. Besok boleh jadi, saya yang di masukkan orang ke liang lahat.

Ingat mati, tumbuh kesadaran. Lalu, daya positifnya terhadap kehidupan apa?. Orang yang mengingat mati, bukan lantas menjadi lemah dalam kehidupan, menjadi putus asa, sedikit semangat terbentur persoalan timbul frustasi. Bukan itu yang di maksud mengingat mati. Jelasnya, islam menganjurkan kita mengingat mati, guna maksud-maksud yang positif. Supaya orang sadar bahwa hidup ini cuman sebentar. mumpung hidup, maka gunakan hidup dengan sebaik-baiknya. Melakukan kebajikan yang sebanyak-banyaknya. Menjauhkan rasa malas, menunggu keajaiban yang datang dari langit. Berleha-leha, bermain-main, sementara maut jika datang tidak pernah main-main. 

Pantas saja, jika seorang penyair bernama Sauqi memesankan kepada Kita,  "Tasawwad bit taqwa faa innaka la tadri idza hanna laylu halta isyu ilal fajri kammin shohin matan ilal ghoiri illatin waa kammin alilin ghoiri asya hilan minat tahri - persiapkan dirimu dengan taqwa, sebab kamu tidak tau jika malam datang, apakah kita masih hidup besok pagi. Berapa banyak orang sehat mati, tidak pakai sakit". Apakah ada yang bisa menjamin besok kita akan hidup. Tidak ada. Sebabnya ringan saja, ada yang terpleset saja, mati. Ada yang cuman tertimpa pensil, mati ; "Ta adda bi asbabi mautu wahid - Sebab mati bisa banyak tapi mati itu satu saja". 

Mati itu seperti kelapa, yang terlalu tua jatuh ke bawah, terlalu mudah juga jatuh kebawah, yang masih kembang, juga jatuh kebawah. Dia datang mengambil yang bayi, menjemput yang anak-anak, datang juga pada yang remaja, dewasa, bahkan yang tua. Jangan yang muda, lalu bertutur, saya masih jauh. 

Mati itu pasti dan ia tidak pernah memberitahu kapan. Misal, ais kamu mati 90 tahun. Saya berpikir, ohh masih lama, foya-foya dulu ah. Tapi, mati tidak pernah memberitahu kapan ia datang. Lantaran itulah, kita harus mempersiapkannya dengan mengingat-ngingat mati untuk selalu bersikap positif. 

Satu contoh, peringatan tentang mati yang mendatangkan nilai positif, pada Saat peristiwa perintah hijrah. Ketika di mekkah sudah dalam keadaan terpepet, datang perintah hijrah. Lalu semua sahabat, jangan di kira semuanya bulat hati untuk berhijrah ; ada yang berpikir, wah saya kalau ikut hijrah. Lalu ditengah perjalanan dicegat kafir quraisy, lalu dibunuh, kan mati saya. Takut mati, Allah peringatkan, "kullu nafsin dzaikatul maut - semua yang hidup pasti mati". Kamu disuruh hijrah saja takut mati. Kamu diam di mekkah juga mati, berangkat ke madinah juga mati.

Mendengar ayat ini, sayyidina Umar seperti di bakar semangatnya. Sebahagian sahabat mau hijrah sembunyi-sembunyi. Beliau malah hijrah dengan mengumpulkan bajingan-bajingan quraisy didekat ka'bah, lalu Umar berpidato ; Ya Ma'sirol quraisy - wahai bajingan-bajingan quraisy, besok pagi yang namanya Umar mau hijrah ke madinah. Siapapun dari kalian yang mau kepalanya terpisah dari badannya, silahkan cegat Umar di jalanan". Besoknya umar dengan tenang berangkat ke madinah. Kaum quraisy, barangkali berpikir, siapa juga yang mau mencegat penyakit. 

Begitu ingat mati, timbul semangat juang. Timbul optimisme. Bukan malah pesimis dan takut. Inilah ingat mati yang melahirkan sikap positif. Bukan, yah saya tidak usah kerja rajin-rajin. Toh, saya bakal mati. Ini ingat mati yang salah pasang. Mengingat, seharusnya mendorong manusia untuk berbuat lebih tekun.

Allah memberikan peringatan, "Qul Innal mautal ladzi taffirrunal minhu faa innahu mulakikum - katakan, maut yang engkau lari darinya, yang engkau takut darinya. Dia pasti akan menjemput kamu". Datangnya memang kita tidak harapkan. Tetapi, sekali dia datang tak ada pintu tempat kita lari. Dia memang tak pernah kita undang. tetapi sekali dia datang mengetok pintu, kekuatan apa yang bisa menolak. Dia sebuah tanda seru dalam kehidupan. Apa yang menyebabkan orang takut mati?. 

Pertama, kita tidak tahu bagaimana kehidupan sesudah mati. Alam kubur gelap, alam barzakh gelap sehingga dia bingung, lantas takut. kedua, boleh jadi kita di bayangan-bayangi oleh dosa yang kita kerjakan di dunia ini. Kerjanya cuman menumpuk dosa. Kita bergembira, tertawa diatas tumpukan dosa. Merasa segan berpisah dengan kehidupan ini, sehingga boleh jadi maut adalah sesuatu yang ditakutkannya. Tapi, bagaimanapun takutnya, tidak ada tempat lari dari dia. Dalam ayat lain Allah Jelaskan ; "Ayanama takunu yudrikumul mautu waa laa kuntum fi burjiu musyayadah - dimana saja kamu berada, dalam benteng paling tangguh sekalipun. Maut pasti akan menjemputmu".

Nah, bagaimana cara malaikat datang menjemput nyawa kita. Sang malaikat pencabut nyawa malaikat izroil. Dalam suasana macam demikian, diakhir kehidupan dunia dalam berhadapan dengan sakaratul maut. Terbagilah manusia dalam dua bagian besar. Pertama yang menghadapi sakaratul maut dengan husnul khotimah, baik d iakhirnya. Sehingga pada saat rohnya berpisah dengan jazadnya. Kelihatan dia seperti senyum, mukanya cerah, bahkan sebelum itu boleh jadi dia meninggalkan pesan-pesan yang baik; ada yang sempat adzan, ada yang sempat baca qur'an. Pernahkah menemui orang yang macam demikian?. Sebab apa, malaikal maut datang menjemput mereka juga dengan baik-baik. Di cabut nyawanya perlahan-lahan. Sungguhpun perlahan, pedihnya, sakitnya tiada tara.

Rosulullah SAW, di kala berhadapan dengan malakul maut, diceritakan, beliau mencelupkan tangannya kedalam Gelas yang berisi air dan di usapkannya ke muka beliau seraya berdoa ; Ya Allah, mudahkanlah saya dalam menghadapi sakaratul maut ini. Beliau juga yang menyebutkan, bahwa sakitnya nyawa dilepas dari jazad sama dengan 300 kali sabetan pedang di tempat yang sama. Sehingga kita diajarkan doa, untuk meringankan sakaratul ialah "Allahumma hawwin alaina fi sakaratil maut - Ya Allah, mudahkanlah saya dalam menghadapi sakaratul maut". Ketika nyawa dicabut dari jazad, mata masih melihat roh itu. Sehingga kadang-kadang, ada yang matanya terbelalak, tidak sempat di tutup, terbuka terus. Mengikuti roh keluar dari jazadnya.

Adapun golongan kedua, manusia yang ketika berhadapan dengan sakaratul maut, mendapatkan suulkhotimah. Jelek di penghabisannya. Sekaratnya sudah setengah mati. Ada yang lagi pegang kartu, mati. Ada yang lagi ditempat adu ayam, mati. Ada yang lagi di tempat pelacuran, mati. Ada yang lagi pegang botol minuman keras, mati. Barangkali, malakul maut gemas sekali mencabut nyawanya, ini bajingan. Setelah roh berpisah dari badan, maka tinggallah sang badan. Di tangisi oleh semua yang kita tinggalkan. 

Suatu ketika, kepada puterinya Fatimah, Rosulullah berkata ; Jika ada tamu yang datang, katakan bahwa ayahku sedang Istirahat. Tidak boleh diganggu untuk saat ini. Tetiba, ada yang mengetuk pintu rumah Rosulullah , dengan segera Fatimah membuka pintu, seraya berkata ; Ayahku sedang Istirahat. Tidak bisa diganggu dulu. 

Tamu tersebut, mengatakan : Katakan, bahwa Saya yang datang. Begitu tamu tersebut, mengatakan saya yang datang. Gemetar seluruh tubuh Fatimah dan menghampiri ayahnya. 

Kata Rosulullah, kamu tahu siapa yang datang. Jawab fatimah ; Saya tidak tahu, wahai ayah. Yang datang itu adalah "Hadzimul ladzat, waqoti'u syahawat (itulah dia yang menghancurkan seluruh kesenangan dunia. Yang memisahkan kita dengan seluruh yang kita cintai), dialah malakul maut, wahai anakku. Suruh dia masuk. 

Manakala roh telah meninggalkan jazad, itulah yang di kerumuni orang. Anak menangis, istri menangis, orang tua bersedih, teman-teman merasa kehilangan. Menangisi jazad. Di mandikan sebagaimana mestinya. Di kafankan dengan kain putih 3 lembar, itu yang hendak kita bawa kembali ke tempat asal kita. Pakain sutera, jaz yang mereknya swiszerland wold, kain yang samarinda, sepatu yang bally atau bal tony, jam tangan yang rolax, kendaraan yang serba mewah. Tidak ada yang menyertai kita.

Setelah itu dikuburkan, kita menghadap kiblat, di sholatkan dengan 4 takbir lalu doa. Berangkat kita, dilepas dengan upacara pelepasan. Meningalkan suami, istri, anak-anak, karib kerbat, kampung halaman, tanah air, bahkan alam dunia ini. Selamat tinggal alam dunia ini, tinggal lah yang tinggal, saya akan kembali dimana tempat asal. Untuk kembali mempertanggung jawabkan seluruh yang kita lakukan dalam kehidupan ini. 

Lalu, di masukkanlah kita kedalam keranda mayat untuk dikuburkan. Ke tempat peristirahatan terakhir ; Bismillah millati rosulillah. Padahal, dulu jika kita mau istirahat, ke bali lah kita, ke hongkong lah kita, ke tempat-tempat tamasya kita. Ternyata sampai juga kita ke tempat peristirahatan terakhir, yang luasnya tidak lebih dari 2 x 1 M, diusung orang, diantar. Manakalah sudah sampai ke atas liang lahat, di buka usungan keranda, di baringkan ; gumpalan tanah akan jadi bantal, muka dihadapkan ke arah kiblat. Setelah itu di tutup liang lahat dengan kayu masih belum kurang, di tutup dengan tanah.  Yang menutup, adalah orang yang tadinya mencintai kita, menyanyangi kita. tapi, jazad sudah di tinggalkan roh, habis rupanya cintanya. Coba, jazad kalau sudah ditinggalkan Roh, 3 hari saja dirumah, pasti seram. Ya mayyit, siapa yang betah temani mayat.  

Setelah selesai upacara pemakaman, maka para pengantar akan pulang ke rumahnya masing-masing. Maka, masuk kita ke alam kehidupan yang disebut dengan alam barzakh. Apa selesai hidup sampai di situ, tidak. 

Hanya beberapa langkah, setelah yang mengantar kita pulang. Di riwayatkan dalam H.R. Bukhari dan Muslim ; jika kita telah di letakkan di kubur, lalu si pengantar telah pulang. Maka, roh si mayyit akan mendengar bunyi terompah yang pulang tersebut. Lalu, datanglah dua malaikat yang bertanya, jika di jawab dengan benar. Maka malaikat berkata ; "Num naumatul arus - tidurlah kau disini, seperti tidurnya pengantin". Maka, alam kubur bisa sebagai " raudhatun min riyadhil jannah - taman diantara taman-taman surga". Pun juga bisa sebagai ; "Khufratun min khufarin niron - menjadi liang dari pada liang neraka".

Ada juga riwayat dari Imam Muslim, dari said bin tsabit ; Suatu hari kami sedang bersama Rosulullah, berada dalam kebun kepunyaan bani najar. Rosulullah sedang duduk diatas keledai, tetiba entah bagaimana keledai itu terkejut. Kaget, berontak, hampir Rosulullah jatuh. Rosulullah kemudian bertanya ; sodara-sodara, ada yang tahu tidak, ini kuburan siapa. rupanya di kebun tersebut, ada kuburan tua. Tidak ada, ya Rosulullah, jawab para sahabat. Lalu sahabat bertanya, kenapa wahai Rosulullah?. Penghuni kubur ini, sedang disiksa oleh Allah. Andaikkan boleh saya berdoa, agar kalian mendengar seperti yang saya dengar, maka pasti kalian tidak akan kuat mendengarkannya. Mereka sedang disiksa di kuburnya.

Dalam Musnad Imam ahmad dan Sahih Abi Hatim, ada riwayat yang mejelaskan bahwa orang yang banyak melakukan kebajikan di dunia, amalannya akan datang menemaninya ; Sholatnya dekat kepalanya, zakat sebelah kirinya, puasa sebelah kanannya. Datang Menghibur dia, bahkan di katakan datang serupa orang yang cantik di alam kuburnya, bahkan dia tanya ; "man anta lam ardho fi dunnia ajma inka - siapa kamu, didunia ini saya belum lihat orang secantik kamu". Dia jawab ; "Ana amaluka sholeh - Saya adalah amalmu".

Beberapa hal yang perlu kita ketengahkan, sependek pengetahuanku bahwa Almarhum itu tidak ada hubungannya dengan kematian. Almarhum itu artinya orang yang di rahmati oleh Allah. Kita semua mudah-mudahan sudah almarhum. Hanya saja dalam kebudayaan, Diksi Almarhum kerap kali di asosiasikan kepada kematian.

Menurut Allah, Tidak ada orang mati. Makanya dalam hidup, kita harus selalu punya hubungan batin terhadap sesama. Karena, dia abadi. jika hanya hubungan fisik, hubungan badan, hubungan politik itu hanya sementara. Dalam Qur'an Allah berfirman, "Jangan sangka bahwa hamba-hambaku yang berjuang di jalanku, itu mereka mati. Melainkan mereka hidup dan mendapatkam rezeki".

Artinya, orang yang kita sebut sebagai almarhum ini sedang memasuki rezeki tingkat kedua, melebihi rezeki yang kita dapatkan di dunia. Rezekinya berbeda-beda dan almarhum sedang menikmati itu. Kalau kita, rezeki kita itu cuman makan, minum, motor, rumah, dsb. Yang ketika di sapu angin akan hilang menurut kesementaraan waktu. 

Manusia itu tidak hidup sementara. Manusia itu hidup abadi ; "Kholidina Fii ha abada". Kita terus menerus hidup, hanya saja polanya berbeda. Seumpama Ulat, kepompong lalu menjadi kupu-kupu. Nah, kita hidup ini, bagaimana caranya menjadi ulat, kepompong dan menjadi kupu-kupu.

Rosulullah bersabda, "Al mautu khaoirul mau idho - kematian adalah sebaik-baik nasehat". Jadi, ada al maqomu Awwal ; Lahir. Maqom kedua, Sunnat. Ketiga, nikah. Dan maqom ke empat yaitu Maut. Nasehat tertinggi dan puncak Ilmu adalah jika kita ingat kematian. Bukan sarjana, bukan profesor, bukan kehebatan-kehebatan apapun. 

Jika kita sakit atau apapun, itu merupakan cara Allah melampiaskan kerinduannya kepada kita. Agar kita mendekatkan diri kepadanya. Dengan cara sakit, kita di pindahkan dari tahap awal, menjadi tahap-tahap yang lebih tinggi. 

Maka, sekarang kalau kita menyebutkan "Inna Lillahi waa inna ilaihi rojiun", kita mengasosiasikan kepada kematian. Saya tidak, Almarhum sedang meneruskan kehidupan yang jauh lebih tinggi ketimbang kita yang berada disini. Kematian yang kerap kali kita sebutkan Inna lillahi waa inna ilaihi rojiun (segala sesuatu dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan), jadi Almarhum sekarang lebih dekat kepada Allah. 

Kedua, Sebenarnya semua kalimat Toyyibah, tepat untuk kita ucapkan. Kita ucapkan subhanallahu untuk kematian, itu tepat. Kita ucapkan Alhamdulillah, juga tepat. Karena Almarhum bangga punya anak-cucu seperti almarhum. Lailaha illahu, juga cocok. Jadi, semua kalimat Toyyibah, menggumpal bersama kebaikan beliau ke pemakaman. Almarhum tidak dimakamkan. yang dimakamkan adalah wadah pertama almarhum dikehidupan dunia ini. Jadi, kita jangan takut mati. Jangan takut kehidupan. Sebab, kita harus menjalaninya dengan kewajaran berdasarkan tuntunan Allah SWT. 

Berani hidup, tidak takut mati. Takut mati, jangan hidup. Takut hidup, mati saja. 

Selama ini kematian adalah sesuatu yang menakutkan kita, karena kita menyangka kematian bukan seperti yang seharusnya. 

Almarhum itu artinya orang yang lebih di sayangi Allah, bukan orang mati. Karena mati, itu tidak ada. Saya mohon izin, karena kata-kata saya tidak lazim. Kita hidup bersama Allah, maka kita terus bersama Allah. 

Ketiga, kematian itu tidak perlu di takuti. Karena kematian itu sesuatu yang pasti. Bukankah kita diciptakan untuk sesuatu yang sementara. Jika sesuatu yang pasti, kenapa justru kita takut. Sesuatu yang pasti, tidak mesti di takuti. Justru kita mestinya mempersiapkan untuk menjemputnya. 

Hakikat kematian dalam Islam, disebut kembali. "Irji i ila robbi kirodatan mardhia" (kembalilah kepada TuhanMu. Dalam keadaan senang). Puncak keindahan Hidup adalah ketika kita pulang dalan keadaan senang dan yang menjemput kita juga pun senang. 

Nah, ada satu hal yang ketika kita Ziarah kubur. Ada salam atau kalimat yang ditawarkan Rosulullah ; "Assalamu alaikum ya Ahlil qubur antum sabikuna waa nahnu Insya Allah  layakun" (selamatlah wahai ahlu kubur, kalian telah mendahului kami. Dan kami juga akan menyusul). Kamu dulua yah, dan kami akan menyusul. Jadi ada kesiapan kita untuk menyusulnya. 

Artinya, ketika ada seseorang yang takut mati. Menandakan ada sesuatu yang disorder dalam dirinya. Misalkan, ketika kita punya sodara jadi TKI di Korea, 5 tahun. Terdengar kabar dia akan pulang. Apakah kita senang atau sedih?. Lantas, mengapa ketika ada seseorang yang pulang ke tempat yang lebih hakiki, kita malah sedih?. Atau jangan-jangan kita justru tidak merindukan pulang.

Kenapa tidak rindu pulang?. Saya pikir bukan karena betah di dunia. Coba kita periksa ; semua hal serba sulit. Misalnya kita makan Nasi saja, melibatkan jutaan orang. Yang tanamnya berapa, yang pupuknya berapa, yang tumbuknya berapa, yang bikin piringnya berapa orang, yang masaknya berapa orang, dsb. Artinya berjuta-juta orang memproses makanan dihadapan kita. Begitu melelahkan, lalu masih betah juga. 

Bayangkan orang dalam ketakutan, dimana enaknya. Orang yang hatinya dicekam oleh rasa takut, semuanya tersiksa. Berpelukan dengan istri juga dalam keadaan kalut, makan juga tersiksa, karena meremang-remang ketakutan. Dan ketakutan itu merupakan cobaan Allah yang paling besar. Makanya ketika Allah, mengatakan, akan kami uji kamu dengan sedikit ketakutan (Waa laa nablu wannakum bi syaing minal khaufi). Jadi ketakutan adalah cobaan pertama, baru cobaan-cobaan yang lain, seperti kekurangan harta benda, jiwa, dsb. 

Orang lain tidak akan merasakan penderitaan bagiamana orang dicekam oleh rasa takut, kecuali oleh orang yang pernah mengalaminya. tidak ada enaknya takut itu. Kalau takut ada perangsanya yang kita tangkap dengan indera kita itu tidak akan lama, begitu hilang perangsangnya akan hilang juga. tetapi, ketakutan mati, kapan hilangnya. 

Sekalipun kita bersembunyi dibalik benteng belapis baja yang tebalnya tidak tertandingi, mati akan tetap menembus "aynama takunu yudrikumul mautu waa laa kuntum burji musyay yadah". 

Kenapa harus takut mati, padahal mati itu pasti. Bukankah ini sesuatu yang tidak logis. Oleh karena itu hanya mereka yang Percaya bahwa Tuhan itu ada dan Percaya bahwa ada Hari Yaumul Hizab, yang tidak akan pernah taku dengan mati. 

Hanya orang yang tidak BerTuhan lah yang menganggap kematian adalah akhir dari segala-galanya dan menatap masa depan dengan ketidaktahuan. Apapun yang didasari ketidaktahuan, pasti menimbulkan ketakutan. Rasa takut ini bervariasi. 

Keempat, Sesungguhnya yang kita takuti bukan kematian. Yang kita takuti, andaikan kita berhipotesa dalam Imajinasi bahwa kita tidak mati-mati. Itu berat. Karena mati adalah sesuatu yang wajar. Jadi, kalau tidak mati-mati, berarti seribu tahun kita dicebok sama anak cucu kita, mau.

Mati itu sesungguhnya dalam bahasa arabnya disebut " ayay natas naini waa amat tanast naini (engkau berikan kami hidup dua kali dan engkau matikan kami dua kali), artinya dua kali mati dua kali hidup. " Kuntum am wata faa ahyakum tsumma yumitukum tsumma yuhyikum" (dulu asalnya kamu mayyit, lalu dihidupkan. Kemudian dimatikan dan dihidupkan kembali). 

"Innakum daa mayyitun waa innahum daa mayyitun" (engkau itu mayyit, mereka juga mayyit). Artinya didalam diri kita sendiri, milyaran kematian sel setiap hari. Dan tubuh kita hari ini, bukan tubuh kita yang kemarin, karena ia telah mati. Setiap hari 18 milyar sel yang rusak, diganti setiap malam dalam tidur yang lelap. Bangun tidur menjadi segar. Jika sel yang rusak diganti dengan sel yang sama, maka ketampanan dan kecantikan kita tetap awet. Itulah sebabnya, mengapa seseorang cepat Tua karena banyak sel yang tidak tergantikan.



*Rst
*Pena Nalar Pinggiran

Sabtu, 11 September 2021

SECUIL PERJALANAN TASAWUF DI INDONESIA DAN TAFSIR SYECH ABDUL QODIR JAELANI



Coretan ini mencoba mengantar kita mengenal seorang sosok yang dikenal oleh dunia islam sebagai 'Sulthonum auliyah' (Rajanya para Wali).

Sebagimana dalam Hirarki kewaliaan, ada tingkatan-tingkan kewalian ; ada yang disebut Wali Ghouf, ada wali kutub, ada wali afdhal, dst.

Syech Abdul Qodir Jaelani adalah seorang wali yang dianggap sebagai Wali tertinggi (ghouf). Hal itu merupakan padangan dunia Kosmologi.

Menurut doktrin Tasawuf, dunia ini bisa seimbang dan tidak kacau. Jika dunia punya titik keseimbangan. Sebagaimana Gunung dianggap sebagai patok bumi (titik keseimbangan), sehingga daratan tidak berguncang (goyang).

Dunia batin atau spiritual juga punya titik keseimbangan (Gunung), yang dalam hirarki kewalian dikenal dengan "wali awtat" (wali yang dianggap sebagai Paku pasaknya atau titik keseimbangan dunia batin), sehingga dunia spiritual tidak mengalami guncangan.

Didalam Dunia Spiritual, jika ada salah satu wali yang kategorinya adalah Wali awtat meninggal. maka, harus ada gantinya. Jika tidak, maka dunia akan mengalami kekacauaan.

Itulah sebabnya didalam salah satu kisah hidup (Manaqib) Syech Abdul Qodir Jaelani. Sekalipun manaqib Syech Abdul Kadir jaelani Ini banyak yang menulisnya. Tetapi, yang paling populer menuliskan Kisah Hidup Syech Abdul Qodir Jaelani adalah Ja'far Al-Barzanji.

Ia menulis sebuah Sejarah hidup yang penuh dengan pujian. karyanya tersebut, tidak hanya dianggap sebagai karya populer. tetapi, karya yang sangat sakral, bahkan dibeberapa tradisi hajatan dinusantara, karya ini dibacakan. Membaca manaqib ini dianggap sama dengan membaca kalimat suci.

Didalam manaqib tersebut. diceritakan, bahwa suatu hari Syech Abdul Kadir Jaelani meninggalkan rumahnya secara diam-diam. Tetapi, salah satu muridnya mengendus dan mengikutinya. Syech Abdul Qodir Jaelani rupanya berjalan ke sebuah rumah, yang penghuninya baru saja meninggal. Begitu di cek, Ternyata, seorang yang baru saja meninggal itu adalah seorang Wali, yang kategorinya adalah Wali Awtat.

Dirumah Seorang wali awtat yang baru saja meninggal itu, terdapat juga seorang yahudi yang datang melayat. maka, saat itu juga Syech Abdul Qodir Jaelani mengangkat Seorang Yahudi, untuk mengganti Wali Awtat yang baru saja meninggal.

Tentu saja pegandaiannya ialah ketika Syech Abdul Qodir Jaelani mengangkat Yahudi tersebut sebagai seorang wali pengganti, maka saat itu juga dia telah menjadi seorang muslim.

Tetapi, Pointnya adalah bahwa didalam kosmologi ummat islam yang hidup dengan doktrin kewalian. ada sebuah pandangan, bahwa dunia spiritual harus dijaga oleh tokoh-tokoh atau orang-orang Yang dianggap sebagai sebuah pilar atau dikenal dengan Terma soko guru, yang apabila hilang atau wafat dan tidak memiliki penganti. maka, dunia Spiritual akan mengalami guncangan.

Hal ini bisa saja tidak dipercayai. tetapi, inilah khazanah dalam cara pandangan ummat muslim tentang doktrin walayah (kewalian), Dan doktrin ini sangat penting pengaruhnya didalam dunia Islam

Sebelum kita masuk ke dalam Tafsir sufisme, kita coba antar lebih dekat pada Sosok Syech Abdul Qodir Jaelani.

Syech Abdul Qodir Jaelani adalah seorang yang berasal dari Persia, yang dilahirkan dikota Ghilan. Wafat pada tahun 1166, ia meninggal sekitar 50 tahun lebih sedikit setelah Imam Al-Ghazali. Sebenarnya beliau se-Generasi dengan Al-Ghazali, hanya saja ia lebih muda dan tidak ada nukilan teks yang menyebutkan bahwa mereka berdua pernah bersua.

Jika Imam Al-Ghazali meninggal diusia 53 tahun. Syech Abdul Qadir Jaelani meninggal diusia 93 tahun.

Syech Abdul Qodir Jaelani merupakan sosok yang pengaruhnya sangat luar biasa didunia Tasawuf, khususnya di indonesia. Ajaran Tarekatnya yang dikenal di indoensia adalah tarekat Qodariyah Naqsabandiyah.

Tarekat ini merupakan tarekat yang menggabungkan dua ajaran, yakni ajaran Tarekat Syech Abdul Qodir Jaelani dan Syech Bahahuddin Naqsabandi, yang juga berasal dari daerah yang tidak terlalu jauh dari Iran, yaitu Bukhara - sekarang Tajikisistan.

Tarekat Qodariyah Naqsabandiyah ini luar biasa pengaruhnya di indonesia. pertama kali diperkenalkan oleh Kiyai Ahmad Khotib Sambas dari Kalimantan.

Selain Tarekat Qodariyah Naqsabandiyah, ada juga Tarekat Satariyah yang dipopulerkan oleh Kiai Abdul Rouf Singkil, yang kemudian dibawah oleh Syech Yusuf Al-Makassary ke banten. Lalu, ke cirebon. Makanya, kenapa Tarekat satariyah lebih populer di jawa tengah, terutama di keraton cirebon. Karena Syech Yusuf Al-Makassary, cukup lama tinggal di Kesultanan banten dan mengembangkan Tarekat Satariyah dan Khalawatiyah. Sekalipun Syech Yusuf Al-Makassary di Baiat juga dengan Tarekat Qodariyah Naqsabandiyah.

Hal itu wajar saja, bagi seorang mursyid Tarekat yang mengikuti beberapa aliran Tarekat dan mengkomparasikan tarekat-tarekat yang mereka ikuti.

Tarekat yang pertama kali muncul di Nusantara?. 

Dulu, Islam ketika datang pertama kali di indonesia, ia berhadap dengan agama Hindu. Nah, agama Hindu itu Tidak mudah untuk di Taklukkan, karena yang boleh bicara agama, tidak sembarang orang. Hanya kasta tertentu saja yang boleh membicarakan agama, yaitu Kasta Brahmana. Saudagar sekaya apapun tidak di perbolehkan bicara agama. Sebab, saudagar termasuk ke dalam Kasta Sudra. Makanya, Jika ada catatan sejarah Penyebaran Islam di indonesia, di sebarkan oleh saudagar, secara Metedologi pengetahuan, agak bermasalah. Makanya, di indonesia para penyebar agama Islam di kenal dengan Isitlah Wali - Auliya. Karena, yang punya konsep setara dengan konsep brahmana adalah Wali.

Tarekat, yang berhadapan dengan para Brahmana di awal-awal Islam di sebar, bernama Tarekat Maulamatiyah - Malmatiyah, Nisbatnya kepada Syech Ahmad bin Hamdun Bin Amaroh di timur tengah. Salah satu ajarannya adalah menghilangkan wujud kebaikan di hadapan manusia. Misalnya, Sholat. Mereka tidak akan sholat, jika sedang banyak orang. Mereka sholatnya sendiri - Sembunyi. Kalau orang sudah tidak ada. Sebab, kalau ketahuan sedang melakukan kebaikan, mereka takut, jangan sampai akan mengotori batinnya. Karena ada perasaan ingin puji. Kalau mereka ketahuan sedang melakukan kebaikan. Besoknya, mereka akan bawa botol minuman sambil mabuk. Luar biasanya ajaran ini, karena Mereka menyakini hanya Allah yang ada, selain Allah tidak ada. Sehingga mereka begitu dekat Dengan Allah.

Tarekat ini sampai melahirkan satu disiplin keilmuan, yang bernama Mahlul Hayat - Air kehidupan. Contohnya banyak sekali, satu orang tetapi bisa di banyak tempat atau Sudah wafat di suatu tempat, tetapi ternyata Hidup lagi di tempat yang lain. Hanya saja, Tarekat ini susah sekali sehingga tidak ada Mursyidnya. Makanya Tarekat ini telah punah. Barangkali karena secara Laku, Tarekat ini susah sekali. Ihwal itulah, Imam Al Ghazali di dalam Ihya melarang Tarekat Malmatiyah.

Ada Juga Terekat Akmaliyah, yang di Nisbatkan kepada Ibnu Arobi. Tarekat ini lebih kepada Cash and Carry saja. Misalnya, saat mereka membaca syahadat, mereka sampai merasakan Syahadat itu hadir di dalam dirinya. Sehingga cara mereka membuktikan Tuhan kadang kala ekstrem, seperti lompat dari atas Pohon dengan kepala di bawah. Tidak mati. Ada juga contoh lain, seperti Hutan Kebakaran dan Allah menurunkan Ayat, La haula wa la Quwata illah billah - Idza arodha Syai'an ayya kulalahu kun fayakun. Lebih kuat mana Api yang membakar atau ayat Allah. Misalnya, ada perempuan cantik, di sampaikkan I love U tidak mau. Di bacakan Ayat, "Innahu Min sulaimana wa nuha Bismillahirrohmanirrohim". Di uji ayat ini, apakah ayat ini lebih kuat dari pada kecantikan perempuan tersebut. 


**

Jika kita pernah dengar penuturan atau membaca disertasi "Sartono kartodirjo" tentang pemberontakan di banten (Cilegon) tahun 1888, dimana Aktor pemberontakan tersebut digerakkan oleh Guru-guru Tarekat. Bahkan, Menurut penelitian 'Martin Van Bruneisen', bahwa pemberontakan yang terjadi di cilegon tersebut digerakkan oleh guru-guru tarekat Qodariyah Naqsabandiyah. Termasuk juga pemberontakan PKI tahun 1926 di banten dan sumatera barat, yang sebahagian besar aktornya digerakkan oleh Tokoh-tokoh Tarekat Qodariyah naqsabandiyah.

Fakta empirik tersebut membantah persepsi tentang Tarekat yang menimbulkan sikap pasifisme dan membuat orang menjauhi dunia, itu salah besar.

Selain itu juga, jika kita bisa baca Tarekat sanusiyah di libya - Afrika utara, pengaruhnya juga besar dalam menggerakkan perubahan. Di khurazan misalnya, gerakan sufi telah menimbulkan pemberontakan, yang menumbangkan dinasti Umayyah. Gerakan Imam Mahdi di Sudan, yang memporak-porandakan pasukan Gordon. Di Uni Soviet, Islam bangkit Lewat gerakan sufi, yang sukar dibendung dan dideteksi oleh KGB

Sebab itulah, Syaikh Al Azhar Abdul Halim Mahmud, memberikan bukti bahwa Beberapa orang dalam Tarekat Kesufian adalah mereka yang aktif dalam dunia-ukhrawi. Sebab, secara politik, sejarah mencatat bahwa Gerakan sufistik juga menjadi pelakon perubahan sosial-politik.

Sebenarnya, yang menarik untuk diikut, ketika kita membaca penelitian "Martin Van Bruneisen", bahwa indonesia sebelum memasuki abad ke 20. Hampir semua gerakan Protes terhadap belanda, dipelopori oleh organisasi-organisasi Tarekat. Karena waktu itu belum tersedia organisasi modern lainnya.

Ihwal itulah, Sehingga aktor protes terhadap kolonial pra abad ke 20, sebahagian besar Digerakkan oleh guru-guru tarekat. Kenapa?. Karena, Komunitas Tarekat menyediakan sebuah Network (Jaringan) yang memungkinkan orang untuk di organisir dan di mobilisasi.

ketika indonesia memasuki abad ke 20, anak-anak muda indonesia, lulusan pendidikan Belanda-lah yang memperkenalkan organisasi sosial modern, seperti Boedi oetomo, SI, Dsb. Sehingga, Guru-Guru tarekat mulai kehilangan perannya.

Aktor Perlawanan pada belanda di abad ke 20, adalah anak-anak muda. Tetapi, pra abad 20, hampir sebahagian besar aktornya adalah guru-guru tarekat Dan tarekat yang paling berperan adalah Tarekat Qodariyah Naqsabandiyah, yang berasal dari ajaran Syech Abdul Qadir Jaelani dan Syech Bahahuddin Naqsabandiyah.

Pasca kemerdekaan, terjadi arus balik pada ajaran-ajaran Tarekat. Orang mulai kembali menengok pada tarekat. salah satunya pada masa orde baru, sekitar tahun 1970-an. Ada satu peristiwa yang mengungkit, sehingga tetiba ada 3 tokoh tarekat penting, yang karirnya hampir se-zaman yaitu "Kiyai Muslih Ranggeng" di Jawa tengah, "Kiyai musta'im Romli" (jombang) jawa timur dan "Abah Anom" di jawa barat.

Masing-masing ketiga Tokoh tersebut punya basis. Kiyai Muslih Ranggeng basisnya murni pesantren dan juga kader PPP, Sedangkan Kiyai Musta'im Romli sekalipun dia adalah Guru tarekat. Namun, ia memiliki Insting politik yang tinggi. Sementara Abah Anom, ini menarik. karena kedekatannya dengan Jendral-Jendral dimasa Orde Baru. sebagaimana yang kita ketahui, bahwa Pesantren Surya layah adalah pesantren yang digunakan sebagai lokasi rehabilitasi pengidap Narkoba, yang sebahagian besar pengidapnya adalah anak-anak jendral. Karena, mereka beranggapan bahwa metode penyembuhan Abah Anom Lumayan sukses.

Salah satu Jendral penting diera Orde baru yang mengirimkan anaknya ke Pesantren Surya layah adalah 'Yoga Sugabu'. Bahkan Anak Jendral tersebut menjadi anak manantu Abah Anom.

Pengaruh kedekatan Abah Anom terhadap petinggi atau Birokrat orde baru, membuat Tarekat, terutama Tarekat Qodariyah Naqsabandiyah menjadi populer dikalangan kelas menengah saat itu. Sebelum adanya ICMI dan lain sebagainya. kelompok tarekat sudah mulai masuk dikalangan birokrat Orde baru. Mengapa?. Karena, Komunitas tarekat dianggap tidak terlalu mengancam. Sebab, persepsi umum yang berkembang saat itu tentang Doktrin tarekat, tidak beraroma politik.

Dalam Tradisi Tasawuf Nusantara, hampir sebagian besar, sangat mempopulerkan Syech Abdul Qodir Jaelani, bahkan setiap membaca Al Fatihah, kerap dikirimkan pada sosok ini.

Tetapi, ada satu dimensi pada sosok Syeh Abdul Qodir Jaelani yang jarang diketahui oleh banyak orang, yaitu pemikirannya dibidang tasawuf. Karena orang tahu dan mengenal tentang Syech Abdul Qodir Jaelani, hanya melalui manaqibnya yang kerap dibaca dalam beberapa ritual di Nusantara 

Padahal ajaran beliau, tentang tafsir juga tak kalah penting. Sekalipun dalam retan waktu yang cukup lama, pemikirannya dalam bidang Tafsir baru bisa di kaji dan diterbitkan, kira-kira sekitar tahun 2005 manuskrip Tafsir Syech Abdul Qodir Jaelani baru diterbitkan. Sehingga bisa dimaklumi, jika banyak yang tidak tahu tentang tafsir tersebut.

Saya menjadi tertarik pada Tafsir ini, karena di bulan Puasa 2 tahun lalu, ada tiga Kiyai Muda di Indonesia, yang membaca secara serentak Tafsir Syech Abdul Qodir Jaelani : pertama, Kiyai Kuswaidi Syafi'i Di Jogya, Ustad Agung Irawan dan Kiyai Ali Abdullah, di Jakarta.

Saya sangat senang, karena ada tiga Kiyai yang membacakan Tafsir ini, sebab dengan begitu Publik bisa mengenal Syech Abdul Qadir Jaelani tidak hanya sekedar Manaqibnya. Karena, jika kita baca manaqibnya, hanya berisi tentang keramat-keramat dan Keajaiban Syech Abdul Qodir Jaelani saja. Sedangkan Idenya sendiri sangat luar biasa, luput dibahas.


***

Syech Abdul Qodir Jaelani ini Menarik, karena Mazhab Fiqihnya beliau adalah Hambali. Sementara, yang kita ketahui, bahwa Orang yang berMazhab Hambali, terkesan Tekstual, Literar dan agak Kaku. Tetapi, Syech Abdul Qodir Jaeilani, Tidak menampakkan hal itu.

Barangkali ini salah satu pengaruh Gurunya Yang Juga Bermahzab Hambali. sekalipun beliau berguru pada banyak Guru, salah satunya yaitu Ibnu Aqil (Bukan Ibnu Aqil Yang mengarang Syarah Kepada Alfiah. Tetapi, Ibnu Aqil Yang Menulis, salah satu Ushul Fiqih penting dalam Mahzab Hambali, yang Berjudul Al Wadi'). Ibnu Aqil ini dianggap sebagai Touring Figur, orang yang sangat Rasional. tetapi, Mazhabnya Hambali. Itulah salah satu Guru dari Syech Abdul Qodir Jaelani.

Didalam Tafsir Syech Abdul Qodir Jaelani, Justru Kita temukan Tafsirnya masuk dalam kategori Tafsir Sufi, karena banyak tafsiranya yang mengandung tafsiran alegoris. Kalau tidak salah, Tafsir Syech Abdul Qodir Jaelani, ada 4 Jilid. Tetapi, pada kesempatan ini, kita ambil 2 Ayat saja sebagai Contoh untuk menunjukkan Metode Tafsir Syech Abdul Qodir Jaelani, itu pun tidak secara keseluruhan. Karena keterbatasn pengetahuan saya juga terhadap Khasanah keilmuan Syech Abdul Qodir Jaelani yang begitu luar biasa.

Pertama, Q. S. al-Baqorah : 30, Tentang Manusia Yang dijadikan kholifah : "Waa Idz Qola Robbuka Lil mala ikati inni Jailun Fil ardhi Kholifah qolu a taj alu fi ha man yufsiduhu fi ha waa yas fiquddima awa nahnu nusabbihu bihamdika waa nu qoddisulak qola inni a'lamu ma laa ta' lamun".

kedua, Q. S. An-Nur, tentang Allah adalah Cahaya langit dan Bumi. Ini ayat yang menjadi uji sampel. karena, banyak Ulama yang menggunakan metode Mistikal dalam Menafsirkan Qur'an. Banyak Ulama yang berlomba-lomba menuliskan kitab berkaitan dengan ayat Ini. Salah satunya adalah Ibnu Sina, Al-Ghazali (Mistqatul Anwar), Al-Farabi, Ar-Razi. Pokoknya Ulama-Ulama Dulu, berlomba menuliskan kitab berkaitan dengan Ayat dalam Q. S. An-nur, karena ayat ini dianggap sangat mistik.

Syech Abdul Qodir Jaelani Menafsirkan ayat yang berbunyi : "Ketika Tuhanmu berkata Pada 'Malaikat'. Bahwa saya akan menciptakan Khalifah diatas Bumi".

Malaikat yang diMaksudkan disitu adalah " Alladzinahum Madzohiruhum lutfihi waa ma ja li jamalihi" (malaikat-malaikat tersebut adalah Sosok atau wujud yang menjadi manifestasi sifat Kasih Sayang Allah). Kerap disebut dengan Teofani atau Cermin Kongkrit dari sifat keindahan Tuhan.

Lanjutannya, " Laa yadz haru alaihim adzarun min adzaril jalali wal qohar" (di dalam wujud malaikat tersebut, tidak nampak sifat Tuhan yang bersifat perkasa atau Kuasa atau kedahsyatan, dan menudukkan).

Jadi, konteks Malaikat pada Ayat tersebut, yang ditugaskan sebagai Lawan Dialog denga Tuhan atau Didalam Percakapan Perenial merupakan kategori Malaikat Rahkmat.

Sedangkan "Ardhi (Bumi)" pada Konteks ayat tersebut ditafsirkan Oleh Syech Abdul Qodir Jaelani adalah "Al alamu as suflihi" (Dunia bawah). Menariknya, karena Syech Abdul Qodir Jaelani menggunakan Terminologi 'Suflihi', sebagaimana yang kita ketahui, bahwa 'Suflihi merupakan Terminologi Filsafat.

Dalam Terma Filsafat, alam Di bagi menjadi dua : ada alam malakut (Alam Para malaikat) dan Alam Fisik (Alam materil). Yang menarik bagi saya dari tafsiran Syech Abdul Qodir Jaelani adalah terminologinya, karena terma ini banyak diKemukan oleh para Filsof yang dipengaruhi oleh pikiran neo platonisme.

Sementara yang disebut 'Khalifah' oleh Syech Abdul Qodir Jaelani adalah "Mir atan Maj lu wa atan an Shodail in kani waa roy ni ta alluqi" ( Cermin yang Bersih atau Cermin yang dibersihkan dari karat-karat Kontingensi atau Kemungkinan tercemar dari Kotoran relasi).

Mengapa disebut Kontingensi atau kemungkinan?. Hal Ini juga merupakan Terminologi dalam Teologi. Karena Wujud selain Tuhan, disebut Kontingensi atau 'Al mumkim al wujud'. Kenapa disebut 'Mumkim', karena dia Mungkin ada dan mungkin tidak ada.

Jika sesuatu dari tidak ada Menjadi ada. Berarti sesuatu tersebut butuh agen yang mengubah status atau Kondisi dari ketiadaan menjadi ada. 'Khalifah' pada konteks ayat tersebut adalah cermin yang dibersihkan dari karat kemungkinan, maksudnya dari Kondisi tidak ada menjadi ada Dan dibersihkan dari kotoran Relasi.

Hal Ini agak rumit, dijelaskan. tapi, coba kita sederhankan.

Didalam teori kalam Asy-Ariyah, ada yang disebut 'Ta alluq Suluqi' dan 'Ta alluq tandzidzi' : keterangannya begini, Sebelum ciptaan ada, maka pencipta yang mengadakan Ciptaan sudah merencanakan untuk membuat Ciptaan.

Sebelum manusia (adam) ada, sudah ada relasi antara Agen Atau Tuhan dan Ciptaannya. Ketika ciptaan belum ada, tetapi sudah ada relasi, Hal itu disebut dengan 'Ta alluq suluki' (relasinya yang sifatnya mungkin ada, karena objeknya belum ada). Tetapi, begitu, Ciptaannya sudah ada, ciptaannya sudah ril, sudah aktual. maka Relasi tersebut bernama 'ta alluq Tandzidzi'.

Maksudnya apa, bahwa saat dia telah menjadi Khalifah, dia telah di bersihkan dari kemungkinan 'Ta alluq Suluqi, karena dia telah menjadi rill dan aktual.

Saya membayangkan, tafsir Syech Abdul Qodir jaelani ini mengkomparasikan terma-terma Filsafat, Teologi, kalam dan juga Mistik. Kenapa mistik, karena Khalifah digambarkan seperti Cermin (Mir atun Maj lua). Jadi, manusia digambarkan sebagai cermin yang berasal dari dunia atas. 

Jika kita baca filsafatnya Plotinus, yang digambarkan sebagai Neo Platonisme, didalam karyanya yang terkenal, ia menyebutkan bahwa Dunia ini Ibarat Cermin. Jadi, relasi antara akal aktif dan jiwa manusia didunia ini, seperti hubungan antara cermin dan sumber sinar (cahaya). Jadi, ketika Sumber cahaya, sumber pengetahuan dari 'al aqlul fa'al - akal' aktif (malaikat Jibril) malaikat Jibril disini sebagai sumber pengetahuan, seperti sinar, yang di proyeksikan ke cermin (jiwa manusia di bumi). Jika jiwa kita bersih, maka kita bisa menangkap sinyal itu dengan mudah. 

Lalu, "waa allama adamal asma (Tuhan mengajarkan adam mengenali nama-nama). 

Selama ini, jika kita membaca tafsir yang terbentang dihadapan kita, bahkan saya seringkali menyampaikkan bahwa saat Tuhan mengajarkan nama-nama, itu adam diajarkan nama-nama benda didunia ini. begitu tafsiran yang selama ini kita baca dan dengar.

Syech Abdul Qodir Jaelani menafsirkannya, "asma" adalah "Al asma alladzi au da'a aha fi dzati wa au fi jada bi ha fi alam (nama yang tersimpan di dalam dzatnya Allah, yang tersimpan di alam) ". 

Nama pada konteks ayat tersebut, ternyata bukan nama di dunia ini. Tetapi, nama pada diri Tuhan. Maksudnya adalah Asmaul Husna, yang menjadi sumber semua wujud fisik di dunia. Jadi, yang diajarkan kepada Adam, bukan nama benda-benda. Tetapi, nama-nama Tuhan, yang merupakan sebab dari wujudnya semua Objek-objek atau wujud fisik, yang ada dialam raya ini. Dan dengan nama-nama itu, Allah menciptakan alam. 

Allahu Akbar...!.

Sekarang Coba kita masuk pada ayat kedua, yaitu Q.S. An-nur : " Allahu Nurus samawati wal ard mastaluh nurihi ka misykatin fi ha Misbah, Al misbahu fi ha dzuja ja".

Jika kita membaca tafsir pada Umumnya, makasud ayat ini "Allahu Nurus samawati wal ard", bahwa Allah adalah cahaya langit dan bumi. Al-Ghazali menafsirkan, dalam kitab Mistqotul Anwar, tentang maksud ayat tersebut adalah Allah Mencahayai Langi dan bumi.

Nah, Abdul Qodir Jaelani menafsirkan ayat diatas, bahwa Diksi 'Allah' pada Konteks ayat yang di maksudkan adalah "Mudz hiru Huma" (Allah adalah cahaya yang membuat langit dan bumi, menjadi nampak dari sesuatu yang tiada menjadi wujud yang bisa di lihat oleh mata). Sedangkan maksud 'Nur' adalah bukan Allah itu adalah cahaya. Tetapi, Allah adalah dzat yang mewujudkan langit dan bumi.

Mengapa disebut dengan 'Mudz hiru huma'. Untuk menjawabnya, kita coba kembali kepada filsafat neo platonisme. Di dalam Terma Filsafat Neo platonisme, ada sebuah penjelasan, yang menjelaskan mengapa benda tersebut bisa terlihat?. Apakah benda tersebut terlihat karena mata kita melihat benda itu ataukah karena cahaya yang membuat benda yang awalnya tidak nampak, menjadi nampak?. 

Dalam teori Neo platonisme, cahayalah yang memungkinkan sesuatu atau benda itu semula tidak terlihat (Gelap) menjadi terlihat (cahaya).  Diksi 'Allah' dalam konteks ayat tersebut, seperti cahaya, yang membuat Langit dan bumi yang dulunya tidak terlihat menjadi terlihat ataukah didalam terminologi Filsafat disebut sebagai wujud yang potensial menjadi wujud yang aktual.

Lanjut, Abdul Qodir Jaelani menafsirkan "Mastalu Nuri hi", adalah sebuah kiasan atau metafora ataukah perumpamaan cahaya Tuhan. 

Beliau menafsirkannya "Mastalu Nuri hi' sebagai  "dzuhuru Anwari hi wujutihi min hayaqi Lil hu wiYati wa syubaqi u Fusi wat taayyunaqi" ; perumpaannya disini, bahwa Tuhan itu punya Ke-Dia-an. Ke-Dia-an Allah itu seperti sebuah bangunan yang misterius. Maksudnya, Ke-Dia-an Allah itu Misteri. Jadi, Ke-Dia-an Tuhan yang semula Misterius, menjadi tampak, melalui terciptanya dunia ini. 

Lalu "Ka Misykatin fi ha Misbah, Al misbahu fi ha dzuja ja, adz zuja ja ka Anna ha kau Kabun dzurriyuh", ; perumpamaan cahaya Tuhan itu seperti ceruk, yang di dalam ceruk tersebut terdapat Misbah (lampu). 

Lampu (Misbah) Didalam Tafsiran Abdul Qodir Jaelani adalah "Mistalu Nurul Al wujud ilahi" : Wujud cahaya Tuhan. Yang membuat semua wujud didunia ini ada. Sebab, dialah sumber wujud.

Lampu (Misbah) itu ada dalam satu kaca yang bening, yang bersih dari segala wujud-wujud yang sifatnya non ilahi. 

Pada Intinya, yang membuat saya menarik tentang Syech Abdul Qodir Jaelani, dalam Tafsirnya ini adalah barangkali beliau tidak menganut doktrin tentang 'wahdatul wujud'. Tetapi, dia menganut sebuah doktrin yang terkenal juga dalam dunia sufi, bahwa alam raya ini sebenarnya relasi dengan Tuhan itu seperti cahaya, dengan objek yang di cahayainya. Sehingga, Tuhan adalah Cahaya yang menjadikan alam raya ini menjadi tampak. 

Jika kita menelisik kembali kedalam salah satu teori dalam Ilmu Tarekat, bahwa Cahaya Tuhan itu di wujudkan atau di visualisasikan, dengan apa yang disebut dengan 'Nur Muhammad'. 

Nur Muhammad itu di pandang sebagai sumber cahaya, melaluinya-lah kemudian Tuhan mengalirkan cahayanya kedunia ini Atau Wujud pertama setelah Tuhan adalah Nur Muhammad. Hal ini persis sama dengan Terma Akal pertama dalam teori emanasi Al-Farabi.

Satu hal yang bisa di Tarek sebagai benang merah adalah Allah itu memiliki sifat yang Jalal (Perkasa) dan Jamal (lembut). Nah, Tasawuf itu merupakan dimensi asma Tuhan Yang mengurai keLembutan Tuhan. 

Dalam Islam ada keseimbangan, Diksi Allah dari segi Bahasa dari kata 'Hua' yaitu Dia (Maskulin). Tetapi, sifatnya yang paling banyak disebut adalah Rahman dan Rahim (feminim). 

Dimana Posisi Tasawuf dan Filsafat?. Ketika pengalaman batin, di ungkapkan, maka sesungguhnya dia telah masuk ke ranah filsafat. Sebab, jika tidak dijelaskan maka pengalaman tersebut tidak akan bisa dibagi kepada orang. Tetapi, ketika pengalaman dibagi atau dijelaskan oleh kata-kata. Tentu, kata-kata akan mereduksi pengalaman spiritual. Disitulah letak problem dunia Tasawuf, sehingga orang sufi, kadang disalah pahami. Karena selalu ada jarak antara pengalaman otentik dengan penjelasan (Narasi).


***

Ada diktum terkenal, saya lupa apakah itu adalah hadist atau i'tibasul Ulama yang menyebutkan bahwa " man ta'allama bi Ghoiri sya'in fa syaihu hu syaiton - barang siapa yang belajar (Belajar di maksud adalah belajar Spiritual - Tasawuf), tanpa Guru. Maka, gurunya adalah setan". 

Jangankan kita, Nabi Ibrahim saja saat belajar demikian. Setannya datang dan Mengaku Tuhan di hadapannya, seraya berkata, " akhlaltu laka muharromat - pada hari ini semua yang haram menjadi Halal untukmu". 

Akhirnya, Nabi Ibrahim sadar. Ia lalu mencari Batu dan melemparinya. Makanya, saat ibadah Haji, salah satu rukunnya adalah melempar setan (Lempar Jumroh), hal itu merupakan Bahagian dari Napak tilas kisah Ibrahim. Sekalipun saat kita melempar, saya yakin setannya tidak kena. 

Di titik itulah, betapa proses pencaharian terhadap kebenaran, kadang di tengah perjalanannya kita tersesat. Di situlah pentingnya seorang Mursyid (Guru) bagi pejalan. 

Tetapi, harus kita sadari juga, bahwa Pada Hakikatnya Guru itu tidak usah di cari. Sebab, kadang kita mencari Guru, justru yang kita dapat adalah Batu cincin merah delima, Badik, parang, Tombak, Jimat, ujungnya adalah menggandakan Uang (Sanro). 

Syech Abdul Qodir Jailani, Misalnya adalah seorang Mursid Tasawuf, Waliyullah. Justru dialah yang mencari murid, bukan sebaliknya. Makanya dalam sejarah, beliau menjadikan seorang beragama Yahudi, menjadi Muridnya. ia bina sampai menjadi seorang wali afdhal. 

Kalau pun kita tetap mencari Guru Spiritual, tidak apa-apa juga, Justru bagus. Tetapi, standar yang paling pertama dan utama, terletak pada Syariatnya ; Sholatnya Bagaimana, sedekahnya, Puasanya seperti apa, Baca Qur'annya bagaimana, wawasan keilmuannya seperti apa?. Jangan sampai, seseorang yang kita daulat sebagai Guru. Tetapi, baca Al-fatihah saja jatuh bangun. 

Artinya, belantara Spiritual meniscayakan kita melewati pintu gerbang yang bernama Syariat. Memang dalam Spiritual, ada yang Kadang-kadang, sebagaimana para Wali-wali afdhal - seperti "Tun Al Marsi", hari ini jadi pelacur, besok jadi wali. Ada juga yang hari ini Jadi pemabok, besok jadi wali. Tetapi, semua itu jarang terjadi. 

Syariat itu seperti orang Naik Kapal. Tarekat itu seperti orang naik kapal dan mendayungnya ke tengah laut. Hakikat itu seperti kita loncat dari kapal dan menyelam kedalam lautan mencari mutiara. Ketika kita menemukan mutiaranya dan kembali keatas kapal, maka kita akan bertemu ma'rifat.

Ketika kita menemukan Mutiara, itulah makna. Ketika kita sudah menemukan makna, tidak ada kata lain. Kecuali kerinduan yang menyesakkan dada. 

Karena tidak ada yang bisa kita lakukan, terhadap perasaan kita. Apalagi kapan bisa merasa dekat dan jauh. Tapi itu semua tidak masalah. Karena yang bisa kita lakukan adalah, berdiam, memejamkan mata dan bergumam berdzikir. Maka kita akan bertemu di ruang kerinduan dengan Yang Maha Kerinduan.


***

Beberapa waktu lalu, riuh perbincangan tentang Pelantikan para Wali-Wali. Mungkin diantara kita banyak yang belum Tahu bagaimana proses pelantikan wali awtad, abdal dan quthub. Prosesnya dari sang Wali Ghouts yang disetor ke Nabi Khidhir, lalu disetor ke Rasulullah Saw di lantai tiga kemudian Rasulullah mengamanatkan ke syaikh Abdul Qadir Jailani untuk melantik dan mengesahkannya.

Kedengarannya Agak lucu dan ajaib Juga. entah saya Mau memulai dari Mana Mengulasnya, saat pertama kali mendengar Informasi tersebut.

Ustadz yang belakangan Digandrungi, karena ceramahnya sangat santun, adem dan Moderat serta Tema-tema Ceramahnya Banyak mengulas seputar cinta, Tasawuf, Ismu (Nama) Ruh dan Ma'rifat. Terkesan menjadi Bahagian dari Seorang Yang Kabarnya adalah Seorang Wali yang memiliki otoritas melantik para wali-wali.

Akibat keberpihakan BAH pada orang Yang Di anggap Gurunya inilah. Sehingga guru-guru BAH yang lain memutuskan sanadnya keilmuannya terhadap BAH, karena selain dianggap telah keluar dari kesepakatan Ulama Mu'tabar, ia juga dianggap durhaka dengan Mengatakan orang- orang yang beraliran thoriqoh syadziliyah, naqsabandy, Khodiriyah itu masih terhijab. Mursyid- mursyid yang lain sudah tidak dianggap dan BAH Hanya mengikuti Gurunya Yang mengaku Wali tersebut.

Sebenarnya Tentang penamaan Ruh, misalnya. itu bukan ilmu baru bagi saya, di literatur- literatur Tasawuf banyak di ulas soal itu, bahkan Guru saya pernah menyinggungnya. Hanya saja, materi tasawuf falsafi, menurut saya, agak susah jika di suguhkan kepada Masyarakat secara Umum. Sebab, Seluruh ajaran thoriqoh, Ada pengetahuan yang hanya boleh di konsumsi oleh penganutnya saja Dan ada pengetahuan yang boleh di konsumsi oleh publik atau yang belum menjadi penganut thoqiroh tersebut. Sebab, seaneh apapun Materi Tahoriqoh, jika di suguhkan di Kalangan Khusus, tentu tidak Kontraversi.  Misalnya ada orang berpendapat bahwa shalat lima waktu untuk dirinya tidak wajib. tapi pendapat itu tidak ia share ke publik dan betul-betul Hanya untuk diri sendiri, bahkan anak dan istrinya pun tidak wajib, jika dia punya pendapat seperti itu.

Saya Melihat di situlah problem BAH, sebab ada materi yang memang hanya bisa di suguhkan untuk kalangan khusus. Tetapi, konyolnya hal itu dipublish. Akhirnya BAH jadi Bulan-bulanan.

Syaikh Ibn Athaillah juga terkenal sebagai ghauts dimasanya. Namun Ibn Taimiyah pun juga belum mampu taslim padanya. Namun perjumpaan beliau dengan Ibn Atha' mampu mengantarkannya untuk bertarekat (Qodiriyah). Murid "shadiq" Ibn Taimiyah lah (Ibnul Qayim) yang akhirnya menjelaskan karakteristik gurunya di bidang tasawuf.

Termasuk etika murid tarekat adalah meyakini bahwa guru mursyidnya adalah Pewaris Sejati Nabi, Wali Qutub bahkan Wali Ghauts Dan Para Mursyid Hakiki tentu mengalami maqom ahadiyah yang kemudian di yakini sebagai kedudukan wali ghauts. tetapi, ini tidak lazim dan jika di tinjau sepintas pasti "MASUK KATEGORI MENYIMPANG". Oleh karena itu membutuhkan media khusus untuk hal ini. Jika ada orang yang coba-coba dengan kedudukan agung tersebut pastilah mudah terbongkar.

Semua ada instrumennya. Maka "SARAN beberapa Kiai dan Ulama" sangat tepat. Mereka memahami betapa peliknya hal tersebut tentu merasa terpanggil untuk turut mendinginkan cuaca yang sengaja di hembuskan oleh sumbu pendek. semacam serangan Ibn Atha' yang didahului ayahnya kepada calon gurunya "Ibn Abbas Al-Mursyi".

Berkenaan dengan itu, saya teringat dengan Apa Yang di sampaikkan oleh Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandariyah, " tidak pantas seorang salik (penempuh jalan) mengungkapkan karunia warid yang telah ia dapatkan. Sebab, yang demikian itu akan mempengaruhi warid dalam hatinya dan menghalanginya dari ketulusan kepada Rabbnya.


***

Ada kisah tentang, Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani, sebagaimana yang saya kemukakan diatas, bahwa beliau di kenal sebagai "Sulthonum auliyah' (Rajanya para Wali).

Syech Abdul Qodir Jaelani, tak kunjung menikah padahal usinya sudah memasuki kepala empat. Ia didatangi Rosulullah dan beliau menyuruh al-Jaelani, "menikahlah"!. 

Al-Jaelani berkata ;  "Saya tidak menikah sampai Rasulullah, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya damai, berkata kepada saya, Menikahlah" 

Dulu, Junaid Al Baghdadi, meminta Izin pada Gurunya untuk Berkutbah Jum'at. Kata Gurunya, Jangan sesekali engkau Berkhutbah, jika belum dapat Izin dari Rosulullah.  

Lalu, Junaid Pulang dan Menunggu sampai waktu yang diizinkan tiba. Malam Jum'at, Ia bermimpi berjumpa Rasulullah dan di beri Izin untuk berkhutbah. Dengan segera ia bergegas menuju rumah Gurunya, untuk menyampaikan bahwa Rosulullah telah memberi izin untuk berkhutbah, sehingga tak ada alasan lagi buat gurunya menahannya.  

Begitu, ia sampai di rumah Gurunya. Ternyata, Gurunya telah menunggunya di beranda, seraya berkata, "Apakah semalam Rosulullah telah memberimu Izin, duhai Junaid.  Sesungguhnya, sebelum Rosulullah mendatangimu, Beliau mendatangiku dan menyampaikkan untuk mengizinkanmu berkhutbah. Maka tak ada alasan bagiku untuk menahanmu, duhai Junaid".  

Bagi para sufi, perjumpaan dengan Nabi Muhammad SAW di alam nyata merupakan pencapaian spiritual yang tinggi. 'Abdul Wahhab al-Sya'rani' mengutip gurunya, Syaikh Ali al-Khawwash, yang berkata: "Seorang hamba tidak menyelesaikan stasiun pengetahuanNya sampai dia bertemu dengan Utusan Tuhan, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, untuk waspada dan waspada". 

Dalam Hadist, satu-satunya Mahluk yang tidak akan bisa di serupakan oleh Iblis adalah Rosulullah SAW. Sehingga, siapapun yang bermimpi berjumpa dengan Rosulullah SAW, Pasti benar. Sedangkan Bermimpi Bertemu Allah, Pasti Salah. 

Apa yang dianggap lemah, seringkali sebenarnya kuat, asalkan kita melihatnya dari berbagai sisi yang berbeda. Di dalam praktik tasawuf, baik yang populer maupun yang eksklusif, dimensi cinta kepada Nabi selalu dikedepankan, menjadi langkah pertama pendekatan diri kepada Tuhan. 

Para Sufi amat lekat dengan tangisan dan kesendirian, yang digunakan untuk menggali sedalam mungkin isi otentik dari hati manusiawinya. Dalam penggalian itu, Sufi ingin melihat apakah ia telah jujur dan sepenuh hati mencintai Sang Nabi, atau hanya pura-pura saja. Sedalam-dalam aspek dari kesadaran yang ingin dimiliki oleh Sufi, adalah kesadaran bahwa betapa rindu dan cintanya kami kepada Sang Nabi. 

Tangis dan cinta seringkali menjadi lambang kelemahan, namun tidak bagi Sufi. Semakin jujur tangisan karena rindu pada Sang Nabi, semakin besar deraian ketenangan (ithmi'nân) yang mengairi hati. Tangis, rindu, dan cinta adalah sumber kekuatan Sufi. 


*Pustaka Hayat
*RST
*pejalan Sunyi
*coret-Coret
*Nalar Pinggiran