Aku ingin bercerita kepada Juni, yang hujannya tabah merahasiakan rintik rindunya dalam sajak Sapardi. Kepada Juni yang itu, aku akan bercerita tentang Mei yang berlalu.
Mei seperti banteng taurus, gigih dan keras kepala. Tak ada yang elan juangnya seperti Mei.
Mei layaknya Florentino Ariza dalam "Love in time of cholera-nya Gabriel Garcia Marques".
Maka, cinta yang mekar di bulan Mei adalah cinta yang tak mudah putus asa, tak gampang patah arang.
Seperti Florentino, Mei adalah pembuktian, sekali hati tertambat pada yang sejati, sepanjang usia merentang adalah kisah perihal menunggu.
Sia-sia?.
Tentu tidak. Karena, cinta juga punya bagian lain yang menghadirkan cerita tentang maaf dan kesempatan kedua.
Mei adalah cinta yang gigih dan keras kepala, Dan Sapardi memang jenius, selepas Mei, ia menulis sepotong sajak;
"Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni, dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu.
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni, dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu".
Juni adalah hati yang tabah.
Mei yang keras kepala berpasangan dengan Juni yang tabah. Tuhan memang Baik.
***
Bolehkan saya skeptis pada Eyang Sapardi Djoko damano (Alm). seorang sastrawan yang ku kagumi itu mendaku, bahwa "kenangan adalah fosil, tidak bisa menjadi Abu. Malah memiliki kekuatan dalam mendikte jarum-jarum jam, agar berputar ke arah kiri".
Tidak eyang, waktu adalah hasil agregat sebab - akibat. sedang Rindu melintang di titik potong keduannya.
Waktu akan berputar ke arah kanan, begitu terus sampai berakhir malakut. Ia (waktu) tidak akan berhenti menoleh (berputar) ke arah kiri, hanya karena air mata, gembira, suka, duka atau senyum kita yang menawan.
Ia (waktu) akan tetap memenuhi Takdirnya untuk berputar ke arah kanan dan tak akan berhenti, hingga ia mempertanggung jawabkan siapa-siapa yang lalai dalam dentingan detiknya yang berputar.
Di titik waktu, Kita hanyalah kumpulan hari-hari. setiap hilang satu detik, hilang separuh waktu bermesraan dengan dunia.
Olehnya, jangan jatuh hati pada kefanaan. Ada yang abadi, kejarlah.
Di tiap-tiap etape waktu, ada pertanggung jawaban : Ada tanya atas berat beban yang di tunaikkan. kita adalah hamba.
Untuk kaki, tangan, mulut, telinga, mata, bahkan gerak hati akan ada tanya Esok. jejak hati selalu lebih berat bebannya dari pada raga yg lainnya. Sebab, cinta dan benci adalah peninggalannya yang abadi.
Ada banyak manusia yang menuju tempat pesta pemulung senja. Tapi, selalu terlambat sadar ; bahwa senja akan hilang di telan malam. sebagaimana manusia.
Melangkahlah, Walau Sepi kadangkala mengolok-olokmu.
***
Hujan turun di bulan Juni ini. Mengingatkan saya pada puisi Sapardi “Hujan Bulan Juni”. Juga kumpulan cerita yang saya rasa tak sanggup “menetas”, karya Soetardji “Hujan Menulis Ayam”. Orang mengabadikan hujan itu dengan puisi atau cerita. Kamera dan rekaman suara. Tapi dunia sudah "maju", kata seorang tua, segala peristiwa dihentikan dalam kamera. Kamera memotret tanpa suara. Tiba-tiba kejadian sudah tersimpan dalam kartu memori. Hujan lebih menarik diabadikan dalam ingatan. Ingatan yang tak tergantikan.
Seseorang barangkali butuh memandang dirinya sendiri. Mengintip jauh ke dalam dirinya, seperti Bima menemui Dewa Ruci di kedalaman samudera. Melihat diri menemukan diri. Tapi tak banyak orang mau membaca, lantaran layar menggantinya dengan pemandangan yang lebih sempurna, seolah-olah nyata. Orang tak punya imajinasi. Hidup dipenuhi dugaan yang tak masuk akal. Seperti wabah.
Pada tempat lain, di tengah kecemasan yang absurd, penguasa mencatat segala bidang kegiatan warga untuk mendapatkan izin. Izin dari pihak berkuasa. Ada sanksi berat bagi yang melanggar. Supaya kekuasaan ditakuti. Ia tak pernah karib dengan rakyat. Izin pun berpagut dengan relasi kekuasaan, ia membangun rantai hegemoni bernama kuasa. Seringkali penguasa mengabaikan izin terhadap yang dikuasai, sedang yang dikuasai wajib meminta izin terhadap yang menguasai. Atau "membeli" izin. Seperti eksploitasi tambang emas, mall, atau berdirinya hotel berbintang.
***
Melihat diri dalam terminologi Kultural, kurasa bermakna menyadari nilai kemanusiaan, menyadari keberadaan di tengah keberadaan yang liyan. Menumbuhkan sikap "menyempurnakan dan "mengerti, melindungi, mengayomi" terhadap liyan itu. Di dalam melihat diri, ada kearifan menggerakkan diri, mengubah dan mengolah kehidupan dengan jati diri. Sikap kemanusiaan yang tak permisif.
Penafsiran yang berbeda-beda terhadap dunia, bagi Karl Marx, tak sepenting mengubahnya. Realitas dan struktur sosial, mutlak harus diubah. Sejatinya Marx melancarkan kritik ideologi guna menegaskan dalil Hegel tentang keterasingan. Keduanya memang menarik. Namun keduanya, saya rasa tak berhasil memahami pergulatan subyektif yang eksistensial dalam diri manusia.
Merubah realitas, dalam terminologi "Kultural", mestilah diawali dengan merubah diri, sudut pandang, dan bagaimana seseorang melihat diri dan kehidupannya. Di sini, pengenalan terhadap jati diri menjadi utama sebelum menyentuh realitas di luar. Sebab barangkali justru diri sendirilah yang menjadi bagian dari persoalan mendasar pada realitas sosial yang berlangsung.
Dan hujan pun kembali ke sini. Waktu petang hari.
Makassar - Rumah Kecil, 01/06/2020
*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:
Posting Komentar