Mari kita membicarakan tentang sesat, tidak usah kita rujuk pada makna arti teks dan sejenisnya. Kita lihat, bagaimana kata " sesat" itu gunakan dan di fungsikan sebagaimana teori Hermeneutika yang mengasumsikan: " jangan kamu cari arti kata teks atau kata tersebut di fungsikan dan di gunakan.
Dalam perjalanan sejarah eropa, pada abad pertengahan. Defenisi sesat adalah orang yang berlawanan dengan otoritas gereja. Hanya Paus dan Turunannya yang berhak memberikan tafsiran. Bila berlawanan dengan tafsiran gereja maka mereka sesat dan menyesatkan. Galileo Galilei yang menganggap matahari sebagai pusat orbit Tata surya ini (Heliosentrum) pun berhadapan dengan otoritas gereja yang menganggap bumi sebagai pusat atau sumbu. Atas nama otoritas gereja, Galileo Galilei pun harus berhadapan dengan pilihan hidup atau mati.
Demikian juga dengan defenisi "Gila" pada abad pertengahan ini. Defenisi Gila adalah orang yang di kutuk Tuhan, tidak lebih tidak kurang. Hanya itu parameternya. Sementara itu, pengobatan yang menggunakan sesuatu yang bukan atas restu gereja di sebut sebagai praktek sihir. Sihir itu sesat, maka layak untuk di bunuh. Padahal pendekatan yang di gunakan berasal dari ikhtiar medis sebagai capaian-capaian ilmu pengetahuan, namun karena bertentangan dengan dogma gereja maka dianggap sebagai praktek sihir. Dan sihir itu sesat, layak untuk di bunuh.
Dalam Filem sejarah Kristen abad Pertengahan "Season of the witch" yang di bintangi oleh " Richard Gere" bisa di jadikan salah satu Rujukan, termasuk "The Phyisian" ; Avesenna" Yang menggambarkan bagaimana capaian Ilmu pengetahuan medis juga dianggap sebagia sebuah "kutukan" dan " Sihir" yang harus di lenyapkan karena dianggap bertentangan dengan agama (Baca; penafsir Agama).
Dalam perjalanan sejaran Islam, defenisi sesat adalah orang yang tidak masuk dalam "mainstream" atau kelompok Mayoritas. Padahal, yang berhak menentukan benar dan salah adalah sang Maha Benar. Tidak selamannya mayoritas itu benar dan Tidak selamnnya seragam itu indah. Ajaran Islam bahkan mengatakan bahwa "Berbeda itu Hikmah". Hikmah itu indah dan penuh kebaikan. Karena itu, jangan menganggap bahwa perbedaan itu merusak tatanan keindahan. Sebab terkadang perbedaan justru melahirkan harmoni.
Lalu, ketika ada yang mengatakan suatu kelompok itu sesat dan menyesatkan, pantaskah kita masuk menjadi bagian dalam kelompok itu?. Tergantung kita. Namun yang pasti, ketika menganggap orang lain sesat dan bahkan wajib di bunuh dengan mengatasnamakan perintah Rosulullah SAW. Ini jelas sebuah Kata atau pembenaran untuk memperkuat sebuah argumentasi, walaupun dalam konteks kaidah keilmuan, pembenaran itu sangat lemah dan pantas untuk di pertanyakan. Tapi, jika orang yang memiliki kadar kebencian yang sangat tinggi, hal tersebut bukanlah sesuatu yang sangat sulit. Ibarat mata dan penglihatan, ada mahkluk yang bisa melihat di siang hari, ada pula yang mampu melihat di malam hari. Tapi bagi orang yang memiliki kadar kebencian sangat tinggi, mereka tidak mampu melihat di siang hari dan malam hari. Apalagi sekedar mencari pembenaran.
Prasangka tiba terlalu dini, mendahului kejernihan rasionalitas akal sehat yang di tawarkan matahari pagi. Ia tiba ketika hari masih gelap dan dalam kegelapan itu, jalan iman di telusuri sebagai adu kebenaran yang di rayakan dengan fanatisme yang berlimpah, penuh ketergesa-gesaan.
Di titik itu, pelan-pelan tempurung pertahanan yang di bangun sekokoh dan setebal-tebalnya. Ia mencipta dunia dengan cara pandangnya sendiri, dunia yang tak memberi tempat pada mereka yang berbeda.
Di sana gelap melembaga. tak ada ruang bagi permenungan. Tak ada jendela atau ventilasi yang memungkinkah lahirnya percakapan dan ijitihad-ijitihad segar. Dalam kegelapan dan kepengapan tempurung itu, keyakinan di pegang erat dengan rasa yang murah. ujungnya muda sekali di tebak; rasa was-was plus keputusasaan memahami realitas. menjadi tombol yang mengaktivasi insting purba manusia, ialah permusuhan.
Di dalam tempurung itu, dalam kepungan ketakutan terhadap perbedaan yang makin kronis, tidak ada pilihan lain untuk survive. Orang-orang belajar menyesatkan. juga menipu dan mendzolimi. Tempurung itu bermahkota di kepalanya tepat.
Perihal Iman Ia Fluktuatif. Apakah Simbol-simbol keimanan menegasikan levelitas keimanan seseorang?. Harus di jawab, Tidak. Sebab, berapa banyak Ahli ibadah yang nista, Yang Dzolim, Yang Korup, Yang culas. Tidak semua memang, tapi tidak kurang.
Penyakit kita kebanyakan ialah menuduh kebanyakan bahkan tragisnya menyesatkan tanpa dasar Epistemik (tidak dengan pengkajian yang sistemik). Mestinya, ada pelacakan pada konteks, biar kebenarannya vulgar, jika, perlu ditelanjangkan kebenarannya. Biar yang tidak tahu menjadi tahu. Sebab, Tuhan Memberikan Porsi lebih pada Pengetahuan, pada Akal.
Memang Yang pelik adalah memberikan penjelasan pada orang yang tidak mau tahu. Istilahnya "Pokoknya Tidak mau tahu" Sampai jungkir balik kita menjelaskan, Jawabannya tetap tidak akan berubah. Karena domain Nalarnya telah lama Taqlid buta, ruang dialektika di akalnya sudah terkunci rapat.
Curiga itu berbeda dengan menuduh. rasa curiga itu melahirkan pertanyaan-pertanyaan dan pertanyaan-pertanyaan bukan di selesaikan dengan otot apalagi menggunakan perasaan menjawabnya, pasti ujungnya Baper (bawa perasaan). tapi, menggunakan kerja pikir untuk menjawab, bahwa Rasa curiga kita itu salah.
Di semua agama mengajarkan Belas kasih dan Cinta, sebab Tuhan Itu Sang Mahabbah, Maha Cinta. Jika ada kelompok atau golongan tertentu yang meniscayakan Pertumpahan darah, eksploitasi, Kedzoliman dan sejenisnya. maka, hampir dipastikan bahwa ada yang salah dari cara mereka beragama.
Fanatisme agamalah yang membuat semua menjadi demikian. Padahal, Otak kita tidak besar. Otak merupakan organ tubuh yang paling menakjubkan. Dalam bukunya yang luar biasa “Misteri Manusia”, ahli biologi sekaligus Filosof Humanis, pemenang 2 (Dua) kali hadiah Nobel , “Alexis Carrel” menjelaskan bagaimana otak manusia itu berkerja; Sekitar seratus Milyar Neuron saling bekerja sama. Terus menerus tanpa jeda. Tanpa istirahat, non stop 24 jam sehari semalam.
Otak kita telah bekerja saat kita berada dalam kandungan, dalam rahim sang bunda terkasih. Kerja otak akan berhenti saat kita mati Dan otak juga akan berhenti bekerja saat “kebencian” dan “Fanatisme” yang membuta tuli.
Di setiap agama, Fanatisme atas nama agama selalu ada. Sejarah menukilkan kisahnya: “Karena sebahagian kecil kelompok Budha Fanatik di Myanmar (etnik Rohingya) menjadi terlunta-lunta tanpa negara”. Karena sebahagian kecil kelompok Hindu Fanatik, sejarah India sampai hari ini sangat intoleran. Bahkan munculnya negara Pakistan, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran kelompok-kelompok Hindu fanatik tersebut. Kini, sedang Berlangsung Lagi, pembantaian terhadap kelompok Muslim. Lalu, Suriah dan Irak. Cukuplah memberikan Fakta, bagaimana sebahagian kecil kelompok Fanatik atas nama agama Islam, meninggalkan cerita yang mengerikan. Kelompok kecil Fanatik atas nama agama juga terdapat dalam agama Kristen, tentang Kisah Pilu Kaum Bosnia-Herzegovina terus akan di kenang dalam sejarah peradaban ummat manusia.
Agama Yahudi?, Silahkan, di baca sejarah kelahiran Israel Theo State yang kental dengan Diksriminasi dan kisah sedih masyarakat Muslim dan kristen.
“Fanatismelah yang membuat kehadiran agama begitu menakutkan bagi pemeluk yang satu ketika berhadapan dengan kelompok agama lain. Bukan karena agamannya, tetapi karena pemeluknya. Padahal, Tugas Azali Manusia adalah Pemakmur bumi (Khalifah). Pencipta peradaban untuk kemaslahatan ummat manusia diatas bumi ini. Dan begitulah yang saya pahami ketika membaca Riwayat hidup Nabi Muhammad, yang murah senyum dan berhati bening.
Saya teringat dengan seorang Fisikiawan “Carel Sagan” pernah menulis dalam Pale Blue : “Bumi adalah panggung yang teramat kecil ditengah luasanya Jagat Raya. Renungkanlah sungai darah yang ditumpahkan penguasa dan para Jendral sehingga dalam keagungan dan kemenangan mereka dapat menjadi penguasa yang fana disepotong kecil titik itu. Renungkanlah kekejaman tanpa akhir yang dilakukan orang-Orang disatu sudut titik ini terhadap orang-orang yang tak dikenal disatu sudut titik yang lain. Betapa sering mereka salah paham, betapa kejam mereka membunuh satu sama lain, betapa dalam Kebencian mereka. Sikap kita, keistimewaan yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting dialam semesta ini, tidak berarti apapun dihadapan cahaya redup ini. Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian dialam yang besar dan gelap. Dari sudut pandang kosmis semua orang itu berharga. Apabila seseorang tidak setuju terhadapmu, biarkan ia tetap hidup sebab di ratusan Milyar galaksi, anda tidak akan menemukan yang lain”.
Saya Juga Ingat, Syair Rumi yang Maulana Itu : “Harusnya, DiBumi ini, Ditanah ini, Yang kami tanam bukanlah benci”.
Akhirnya, saya mulai menyadari dengan apa yang disampaikkan “George Bernard Shaw” bahwa Satu-Satunya orang yang perilakunya waras adalah tukang Jahit, sebab ia melakukan pengukuran yang baru setiap kali bertemu orang lain. Sementara orang lain mengukur dengan pengukuran yang lama dan berharap pengukuran itu sesuai dengan yang sekarang.
Perang bukanlah jalan cinta. Jalan cinta adalah jalan keselamatan. Sudah berapa abad, kita mewarisi perbedaan dan perpecahan sampai pada titik kulminasi. Mungkinkah akhir dari sebuah sejarah adalah perang dan perpecahan. Jalan cinta itu, tidaklah jatih dari dari langit. Melainkan di rebut. Pertarungan dan pergulatan total adalah jalan, bukan akhir. Biarkan manusia menemukan sendiri.
Andai kealiman tanpa ketakwaan adalah kemuliaan, maka makhluk yang paling mulia, tentu adalah Iblis. Iblis pernah berada disurga, dan tak pernah bisa masuk lagi, karena kesombongannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar