Mengenai Saya

Jumat, 06 Desember 2024

SAYAP - SAYAP KEBAHAGIAAN

Semua orang mendamba kebahagian, seperti burung bisa terbang tinggi. Namun, gerak mimpi kebahagian selalu tak melesat sesuai harapan. Karena patahan salah satu sayapnya.

Kita menjalani kehidupan yang sangat paradoks. Pada puncak capaian materil, banyak orang Justru mengalami ketidakpuasaan Emosional ; Kecemasan, depresi, Terasing, obsesif belanja, Eksesif Alkohol, obesitas dan Hampa Makna.

Berdasarkan studi lintas negara, signifikansi materi bagi kebahagiaan itu seperti pentingnya makanan bagi orang lapar. Awalnya sangat di dambakan. Namun, ketika sudah kenyang berapa banyak dan enak bagaimanapun makanan yang tersaji, bagi orang kenyang tak terpengaruh lagi.

Bagi Masyarakat Pinggiran dan Miskin, pertumbuhan ekonomi sangat penting bagi kebahagian. Tetapi, bagi negara berpenghasilan menengah, signifikansinya mulai berkurang. Hingga di titik tertentu, pertumbuhan ekonomi, nyaris tak punya pengaruh bagi kebahagiaan. Yakni, ketika suatu negara sudah mencapai Income per-capita $25.000.

Setelah mencapai batas tersebut, kebahagian tergantung pada kesejahteraan Sosial - Emosional - Rohaniah.

Celakanya, manusia seperti kehilangan daya refleksi diri. Pusat kekuatirannya pada kegagalan ekonomi, bukan pada kegagalan emosional. Tak kenal jatah cukup mengakumulasi, sehingga melebarkan kesenjangan sosial.

Padahal kesenjangan lebar, tidak hanya buruk bagi si Miskin. Tetapi, berbahaya bagi si Kaya. Kesenjangan yang lebar, bisa memicu polarisasi sosial,  kecemburuan, prasangka dan memudarkan rasa saling percaya. Ujungnya, membawa resiko kemunduran kesehatan fisik dan mental, bahkan bisa merambat pada peluluhan capaian pembangunan secara keseluruhan.

Alhasil, jika Ingin terus terbang bahagia. Maka sayap materi dan sayap rohani, niscaya terbang serentak. Setiap Pribadi, harus keluar dari Isolasi pemujaan diri, terkoneksi dengan yang lain, membuka diri Penuh cinta bagi sesama : rasa tersambung Rezeki terbagi.

Hidup kita di dunia ini, tak ubahnya bagaikan Uap ; sekelebat terlihat, lantas lenyap.

Jangankan lama hidup seperti manusia, lama kehidupan spesies Homo sapiens saja (sekitar 300 Tahun yang lalu), hanyalah sekelebat singkat dari rantai Panjang kontinuitas dan diskontinuitas selama 4,6 Milyar tahun sejarah bumi.

Kalau kita membentangkan sejarah Panjang eksistensi bumi menjadi kalender tahunan. Maka, kehidupan homo sapiens baru muncul sekitar tgl  25 juli dan hidup kita baru hadir sepersekian detik jelang tengah malam tanggal 1 agustus.

Lantas, bagaimana cara kita memaknai kehidupan kita ini?.

Di satu sisi, kita harus tetap tabah. Karena kekacauan dan kepunahan adalah bahagian dari kehidupan. Dunia telah mengalami 5 kali kiamat kecil yang memusanahkan segala hayat secara massal (mas extention) : akhir era Permian, cretacous, ordovician, triassic dan Devonian.

Saat ini, kita sedang menunggu di ruang tunggu kepunahan yang Ke Enam.

Di sisi lain, kita juga hatus tetap semangat, karena setelah kekacauan dan kepunahan, bisa tumbuh kehidupan baru. Selain ada benih hayat (cyanobacteria) yang dapat bangkit kembali merintis dunia baru.

Hal yang bisa di lakukan manusia sebagai mahkluk yang sadar diri dan tempatnya di semesta raya ini adalah turut merawat bumi, agar tak cepat mengalami kerusakan.

Selain itu, hidup singkat di bumi ini. Jangan sampai menjadi ruang tunggu kesia-siaan dan penderitaan. Kita harus menjalaninya dengan penuh kebahagiaan. Semua manusia sama - sama sedang berada di kapal Petualangan yang singkat menuji kepunahan.

Oleh karena itu, semua harus mengembangkan. Rasa senasib sepenaggungan : saling mencinta, saling berbagi dan saling bekerjasama mewujudkan nirwana kebahagiaan di dunia. Seraya berharap, semoga masih ada Nirwana di akhirat kelak. 


*Rst

*Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar