Mengenai Saya

Selasa, 15 Juni 2021

DENGARKANLAH KARENA IA MENCINTAIMU, BUKAN YANG LAINNYA



Belum lama ini, ada yang bertanya pada saya : " Saudara Kerjaku cuman Ibu rumah tangga, saya tidak punya profesi lain?".

Saya terkaget mendengar hal itu, sambil bertanya ; "Wadduh, Ibu rumah tangga itu lebih berat dari direktur perusahaan. Mengapa?, Karena Lebih berat itu menjadi Ibu. Makanya, menjadi wanita itu puncak karirnya adalah menjadi Ibu. Pertama, jadi perempuan. Kedua, jadi Istri. Dan Ketiga, jadi Ibu.

Ihwal ini sejalan dengan, apa yang disebutkan Nabi, jika ada yang paling pantas untuk dihormati ialah Ibu...Ibu...Ibu... baru Bapak.

misalkan, Kalau dikampus atau disekolah, atau disemua level komunitas dan organisasi, yang biasa kita dengarkan jika ia berbicara Matematika, pasti ahli Matematika atau sarjana Matematika. Kalau bicara teknik Bangunan, yang kita dengarkan adalah orang Teknik sipil. Yang kita dengarkan adalah orang-orang tertentu, yang Ekspertasi pengetahuan spesifik.

Lalu, menjadi ibu apa Keahliannya?.

Ku beritahukan padamu, kawan. Ibu itu didengarkan. Karena dia yang paling "mencintai kita". Jadi, orang yang lebih pantas untuk didengarkan adalah orang yang paling mencintai kita. Bukan orang yang lebih pandai, bukan orang yang pintar, bukan penguasa, serta bukan orang hebat diantara kita. Jelassss!.

Sebab, yang paling kita harus patuhi dan dengarakan adalah orang yang paling mencintai kita, begitu ukuran Allah. Kalau ukuran universitas dan kurikulum pendidikan modern, yang kita dipaksa untuk mendengarkannya adalah yang paling ahli dibidangnya. Sementara ukurannya Allah adalah Ibu kita..!.

Satu satu diantara banyak Sebabnya, sehingga ibu adalah orang paling berhak untuk didengarkan. "Karena Ibu adalah perempuan yang tersenyum dihadapan maut saat melahirkan kita ke alam syahadah ini". Sehingga, yang paling punya Hak untuk didengarkan adalah Ibu dan Paling punya Hak untuk diabdi.

Seperti saya ini, tidak punya profesi. Seharusnya saya menolak untuk bisa diajak berdiskusi dan berdialektika apapun. Sebab, saya bukan ustadz, bukan Kiai, bukan intelektual dan bukan siapa- siapa. Mengapa saya betah diajak diskusi dan berdialektika?. Alasannya cuman satu : 'I Love You'.

Bukan sombong, saya minta maaf. Saya bisa bertahan berdiskusi dan berdialektika hingga bedug subuh ditabuh dimasjid, kenapa hal itu bisa terjadi, karena partikel cinta berkelindan diantara gelombang diskusi. Kalau hanya peristiwa seumpama didalam kelas, hampir bisa dipastikan tidak ada yang bisa bertahan sampai jam-jam demikian. Karena, Yang bisa mempertahankan kita berdiskusi sampai jam-jam demikian, karena kita saling mencintai karena Allah, sehingga Allah mencintai kita semua.

Itulah sebabnya, saya berkeinginan mengurusi generasi milineal yang disebutkan Allah Dalam Q.S. Al-maidah ; 54, " akan aku datangkan kaum yang baru, yang aku cintai kata Allah dan mereka mencintaiku".

Kitalah kaum yang baru itu, kitalah yang akan membangun Indonesia lebih baik dari sekarang ini. Kitalah yang akan mendirikan mercusuar masa depan republik Indonesia, dan kitalah yang akan membuat seluruh dunia segan serta segan dengan kita sebagai bangsa yang luar biasa.

Jika kita membaca, Juara-juara olimpiade didunia, 90% orang Indonesia. Mau fisika, mau matematika, mau biologi dan mau apa saja, yang juara adalah orang Indonesia. Hanya saja, pemerintah Indonesia buta hatinya dan buta matanya.

Makanya, saya jatuh cinta pada Dialektika untuk membangun masa depan generasi milineal dan kita semua Dan saya tidak perduli sama pemerintah yang sekarang, organisasi apapun itu.

Silahkan cari didunia ini, Di Amerika kah, di Inggrish kah, di Jepang kah, di Arab kah dan dimanapun. Tidak ada yang belajar sampai tengah malam hingga bedug subuh ditabuh, kecuali di Indonesia.

Apakah itu belum cukup bukti, bahwa Allah sangat menyanyangi bangsa Indonesia. apakah itu belum cukup bukti bahwa Allah sangat menunggu-nunggu masa Depan kita, untuk memimpin seluruh dunia. Karena seluruh dunia sekarang, tidak hanya pemerintah Indonesia, salah motif hidupnya, salah tujuan, salah pengelolaan dan salah asal usulnya.

Yang benar adalah kita, rakyat kecil yang setia hingga tengah malam mencari ilmu bersama-sama.

Saya tidak perduli, saya jadi apa. Terkenal atau tidak, masuk tipi dan koran atau tidak. Jokowi kenal saya atau tidak, Joe Biden dan Yahudi Kenal saya atau tidak. Saya tidak perduli semua itu dan hal itu tidak penting.

Bahkan saya tidak ikut mempunyai diriku sendiri, saya tidak perduli. Cukuplah saya dengan Allah. Jika ada urusan apa-apa, kita berhadapan dengan Allah, tidak berhadapan dengan saya.

Sekarang saya tanya, apa perbedaan pelajaran umum dan pelajaran agama?.

Untuk menjawabnya, kita coba endapkan pertanyaan lain ; apa sifat Allah dan apa sifat ciptaan Allah?. Kita ini terlalu banyak mengingat, bahwa kita ini manusia. Kita tidak pernah mengingat, bahwa ada jenis spesies lain selain manusia, yaitu hewan, tumbuhan, air, tanah, jin, dsb. Seolah-olah Allah hanya sayang manusia, tidak pada yang lainnya. Tidak apa-apa juga, jika demikian perspektifnya, tetapi tidak lengkap.

Apa sebabnya, kita belajar Fisika?. Dalam fisika itu kita tahu bahwa ketika kita memukul air, maka airnya akan muncrat. Jika kita kencing, kemana arahnya air kencing kita : airnya kesana atau kesini?. Maka, air kencing kita akan kesana, karena ada Gravitasi. Artinya orang belajar fisika itu adalah belajar sifat ciptaan Allah. Jadi, itu pelajaran agama.

Lalu, orang-orang datang mengatakan bahwa sains itu bukan pelajaran agama. Lantas sains itu apa?.

Saya tanya, kita kencing. Yang buat kencing itu siapa? (Terserah apa namanya). yang membuat kencing adalah Allah dengan melewati proses-proses biologis. Jadi, kencing juga berurusan dengan Allah atau tidak?. Atau kita boker, yang membuat ta'i kita menjadi kalori itu siapa?. Jadi, berak itu urusan agama atau bukan. Di atur atau tidak dalam urusan agama hal itu?. Jika kencing harus duduk, begitu agama mengaturnya.

Sekarang saya tanya lagi, sebutkan pada saya, satu benda atau 1 peristiwa dan satu keadaan yang tidak terkait pada Allah?. "Tidak ada". Atau sebutkan kepada saya, satu pelajaran yang tidak terkait pada agama?. "Tidak ada".

Tidak ada, sebab tidak ada pelajaran umum. Yang ada adalah pelajaran agama. Karena umum dan agama, tidak tergantung pada materi pelajarannya. Tetapi, tergantung pada persepsi kita, jika kita lupa dengan Allah, maka ia akan Jadi pelajaran umum. Jika kita tidak lupa pada Allah, maka ia akan jadi pelajaran agama".

Saya kasih contoh lagi, Misalnya sepak bola. Sebutkan ke saya yang bukan urusan Allah dalam sepak bola?. Yang dipakai untuk menendang bola, apa namanya?. "Kaki". Kaki kita ini buatan siapa?. "Allah". Jika patah, bisa dibeli atau tidak?. "Tidak bisa". Rumputnya milik siapa?. "Allah". Tanahnya milik siapa?. "Allah". Gawangnya (besi atau kayunya) milik siapa?. "Allah".

Sebutkan satu unsur dilapangan, yang Messi dan Ronaldo lari-lari, yang bukan milik Allah?. "Tidak ada". semua milik Allah". Maka, adakah urusan yang bukan urusan Allah dan agama?. " Tidak ada".

Nah, sekarang kita ini, membedakan pelajaran umum dan pelajaran agama, karena kita ratusan tahun dijajah Belanda, sehingga kita menjadi sekuler. Sekuler itulah yang membedakan agama dan negara. Itulah nikmatnya menjadi orang Islam, karena semua hal diatur dan diurusi agama. Kita hanya diikat oleh Allah dan Rosulullah SAW. Makanya, saya tidak mau menjadi pemimpin kalian. Karena pemimpin kita bersama adalah Rosulullah SAW. 

Saya tanya lagi, ini agak dalam pertanyannya ; " Rosulullah SAW masih ada atau tidak?. Siapa yang menyebutkan bahwa Rosulullah Mati?. Saya beritahukan kalian nanti yah, jika kita berani mengatakan bahwa Rosulullah SAW telah mati.

Rosulullah ada didalam hati kita yang paling dalam atau tidak?. "Iyya, Ia berada di hati kita". Berarti Dia masih ada atau tidak?. Jadi, mati itu ada atau tidak?. ' tidak ada'.

mati itu tidak ada, sebab Yang ada adalah perubahan, yang ada adalah transformasi'. Dari ulat, menjadi kepompong. Dari kempompong menjadi kupu-kupu.

Nah, kita ini, saat ini, di sini. Sedang belajar menjadi kepompong. Insya Allah, besok lusa akan menjadi Kupu-kupu yang indah berterbangan di surga Jannatun naim.


#Nalar pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar