Mengenai Saya

Minggu, 25 Juli 2021

DI BALIK KRISIS, ADA HARAPAN ; KEJARLAH - IKHTIAR


Jika dalam menjalani hidup, ada momen yang sangat berat, sehingga kita tak kuasa membendung tangis. Maka, Istiratlah sejenak. Kadang beban itu perlu di lepaskan sebentar, tak harus di pikul terus. 

Cahaya tak akan pernah punya nama, jika lalai datang menerangi gelap. Matahari pun, hanyalah semacan lintasan meteor, jika pada akhirnya bukan menggantikan hitamnya malam. 

Menderasnya hujan tak bermakna menghilangkan kehausan, jika tak ada kemarau yang mengeringkan tenggorokan. 

Sebuah makna akhirnya memang harus bertemu dengan kebalikannya bermakna. 

Saling menguatkan, saling membutuhkan, tidak pernah berniat saling meruntuhkan. Apalagi untuk saling menghilangkan. 

Menelusur jejak, jarak dan waktu. Hanyalah bahagian dari proses alamiah yang telah di gariskan menjadi jalan-jalan kehidupan. Apa yang kita ingini belum tentu menjadi kehendak-Nya. Di dalamnya ada proses yang mencengangkan, kita menuju ke suatu tempat namun ia membuat kita berkeliling, memutar, hingga kita memahami alur taqdir-Nya. 

Jangan mengharapkan sesuatu yang Tidak di kehendaki-Nya. Sebab, Pola pikir kita tentu berbeda dengan pekerjaan-Nya yang Maha sempurna. Sungguh, manusiawi jika KesempurnaanNya, tidak mampu di pahami dengan Pemahaman Kita Yang cacat. 

Mengeluhlah pada-NYA, ini jalan paling Logis untuk mengakui kelemahan kita sebagai manusia. 

Bebaskan jiwa dari ikatan-ikatan yang di rajut sendiri, ikatan-ikatan itu akan menyakiti jiwa. Percayakan saja semuanya pada yang menghendaki kehidupan ini. 

Tersenyum, Lalu Berilah kesempatan pada lelah untuk beristirahat. Agar setiap harapan pulang kerumahnya yang hampir pugar di bangun. Sebab, pada akhirnya, Tuhan Jugalah yang memberi Batas bahwa waktu telah cukup untuk membuatmu menunggu.

jika punya ekspektasi ; perjuangkan. Kalau ada aral melintang ; terjang. Jadilah kompas, atas segala peta jalan sesat. 

Burung-burung kecil, hingga besar dalam kandang. Di memorinya tertanam, terbang adalah hal yang paling di larang. 

Saat mereka berkata ; Kita tak bisa mewujudkan mimpi. Sesungguhnya itu batasan mereka, yang tak relevan. Bukan batasan kita, yang tahu cara keluar kandang dan terbang. 

Pandangan demikian memang riskan. anehnya itu terjadi pada sekelompok anak muda yang bertarung dengan pesimisme sepanjang usia. Seolah mereka terlahir untuk memikul dunia ini sendirian. Kalah lebih cepat, terluka begitu sering, mendendam begitu lama dan terasing begitu mudah. 

Anak muda itu niscaya menolak layu dan tidak cepat berserah pada kalah. Sebab, Yang pernah jatuh adalah dia yang pernah berjalan atau bahkan berlari ; Yang berjalan membuka tabir dan yang berlari membuka jalan takdir. Yang berjalan adalah ia yang tahu bagaimana rute takdir berkerja dan yang berlari adalah ia di gerakkan oleh akar keyakinan yang kuat. 

Tersenyum dalam kelelahan, menangis dalam kegembiraan, optimis dalam keterbatasan dan tegar di tengah badai adalah Siklus hidup yang manusiawi. Semua kita niscaya melalui fase ini. 

Saat bantuan mahkluk sudah tidak mungkin. Percayalah ; Allah akan mengurus kita Tanpa Tidur. Sebab, Allah yang akan menolong kita. Dia akan mengatur takaran beban yang kita tanggung. Jangan menyerah, dia tak mungkin membebani sesuatu yang lebih berat dari rasa sanggup kita. Jangan mundur, saat beban terasa berat, dia sedang membuat kita naik tingkat.

Pun suatu saat hidup kita hancur berantakan. Lalu, kita mengalami Disorientasi dan merasa berjalan, entah kemana. Kembalilah, ke kaidah-kaidah sebab kehancuran itu ; Kelalaian - Hawa Nafsu - Kehancuran. Sebagaimana Bunyi Qolam Kesunyiannya, pada Q.S. Al Kahfi ; 28, " dan janganlah engkau mengikuti orang-orang yang kami lalaikan Hatinya dari mengingat kami. Lalu, ia mengikuti Hawa Nafsunya, maka seluruh hidupnya berantakan". 

**

Diperjalanan singkat, hidup kita. Ada begitu banyak orang baik yang sudah jadi jalan pertolongan Allah. Ada yang menyusahkan, sengaja atau tidak. Ada juga yang melupakan pertolongan kita. 

Pada waktu senggang, saya mengingat mereka satu persatu Dan sampailah saya pada satu kesimpulan ; "tidak ada hubungan yang lebih baik, selain menguntungkan dalam kebaikan". 

Saya hendak mengabarkan, tentang sebuah kisah nyata. Seorang Pendaki dan Pemandunya, yang pertama kali menjajakan jejaknya diPuncak tertinggi didunia, Yakni Mount Everst. 

Sesaat Setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay turun dari puncak Mount Everst, hampir semua reporter berebut untuk mewawancarai Hillary. Namun, hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay.

Reporter, "sebagai seorang pemandu, tentu anda berada didepan Hillary. bukankah, andalah yang menjadi orang pertama, yang menjajakan kaki di Mount everst?".

Tenzing Norgay,, "ya, benar. Namun, pada saat tinggal beberapa langkah mencapai puncak. saya persilahkan dia (Edmund Hillary) untuk menjajakan kakinya dan menjadi orang pertama didunia, yang berhasil menaklukkan puncak gunung tertinggi didunia".

Reporter, "mengapa anda lakukan itu?".

Tenzing Norgay : "karena, itu adalah impian Edmund Hillary, bukan impian saya. impian saya berhasil membantu dan mengantarkan dia (Edmund Hillary) meraih impiannya.

Sesekali kita harus menjadi Tenzing Norgay. ada banyak hal yang ia kubur, di rendam, ditenggelamkan dikedalaman realitas. lalu, kita memproyeksikan teman seperjalanan kita meraih impiannya.

Sukses itu soal sudut pandang, yang penting sebenarnya adalah cara meraihnya dan dengan siapa. itulah sebabnya kita harus benar-benar menentukan dengan siapa kita harus berkawan dalam perjalanan panjang ini.

Jika anda ingin berjalan cepat, berjalanlah sendirian. namun, jika ingin melakukan perjalanan panjang, lebih baik jalan bersama-sama.

Dengan siapa?. Disinilah, nalar sehat harus benar-benar diletakkan untuk memverifikasi siapa-siapa yang layak diajak berjalan panjang dan siapa yang ditinggal. sebab, lebih baik kamu meninggalkan dari pada akan terjadi kejadian terbalik (di tinggalkan).

Dulu, bahkan mungkin kini. jika orang membicarakan Leonardo Da Vinci. maka, orang akan menuturkan pula tentang lukisan Monalisa. Jika orang membicarakan Pose Chairil Anwar, orang tidak pernah membincangkan, siapa Baharuddin Mara Sutan. Dia adalah orang yang memotret Chairil Anwar. 

Lukisan Monalisa, tidak usah dijelaskan lagi, Ia Masterpiece Da Vinci. Hampir bisa dipastikan, seluruh penduduk dunia Tahu senyum Monalisa yang Mahal itu. Ketika orang menyebut Monalisa, Nama Da Vinci terbawa serta. Sebaliknya pun demikian, jika Da Vinci diperbincangkan, Monalisa akan disebut-sebut pula. 

Lalu, Chairil Anwar?. Orang tidak tahu siapa yang memotretnya. Sebahagian besar kita pernah melihat fotonya. Foto terpopuler Chairil. Foto yang mempesona Banyak Orang, termasuk saya pernah meniru gaya posennya tempo waktu. Foto ia dan rokok. Tapi, Baharudin Mara Sutan, Sahabat Chairil yang juga seniman Balai pustaka itu, tidak pernah menjadi buah bibir.

Kelak, jika berkawan, carilah yang mau mengambil resiko sepertimu. Ada banyak cara mengidentifikasinya, ukur saja resiko yang anda ambil untuknya dan resiko yang dia ambil untukmu. jika sama sekali ia tidak mempertimbangkan segala resiko yang anda ambil untuknya, itu pertanda selama ini dia memanfaatkanmu. Tinggalkan dia segera, itu lebih baik bagimu Dan untuk keputusanmu mengambil resiko untuknya, anggap saja sebagai kompas bagi perjalananmu yang masih panjang. Disuatu waktu, ada masa dimana anda akan menuai apa yang di tanam, diapun demikian.

Dulu, 4 sahabat Rosulullah SAW, sama-Sama kehausan dalam suatu pertempuran. Tetapi, air yang tersedia tidak cukup untuk mereka berempat. Maka, mereka mendahulukan saudaranya. Sampai gelas itu berkeliling, tidak ada satu pun yang meminumnya. Begitu sampai kepada Prajurit pertama, ia sudah syahid. Begitu juga yang kedua, ketiga dan keempat. Semua gugur menjadi syuhada.

Mereka syahid, karena mereka justru ingin memberi kesempatan pada kawannya untuk terus hidup.

Dalam Realitas yang lain, kadang kita menemukan kerumitan dalam berkawan. Itu masalah kecocokan visi. Sebab, harus ada dua tangan untuk bisa bertepuk. Dua jiwa hanya mungkin bertemu dan menyatu, kalau hajat mereka sama. Itu sebabnya Rosullulah bertutur : "Jiwa-Jiwa itu ibarat Prajurit yang dibaris-bariskan. Yang paling mengenal diantara mereka pasti akan menyatu dan saling melembut. Yang tidak saling mengenal diantara mereka pasti akan menjauh dan berpisah".

Ada manis yang kita cecap bersama. Sering ada pahit yang kita cicipi. Mendidihkan air mata saat kita lapar, Terlebih jika tidak ada rokok. Perkawanan itu Bukan sekedar kepompong, hadir lalu menjadi kupu-kupu. Ia gorong-gorong yang mengalirkan kehidupan. Membuat kita tidak pernah pandir.

Ada kebahagian juga kesedihan dalam persahabatan yang dimeriahkan bersama. Relasi ini saya yakin akan jauh lebih lama dari sekedar teman makan, minum dan buang air. Sebagaimana Gumam Jokpin, Bahwa sumber segala kisah adalah Kasih".

(Makassar,  15 / 06/ 2020) Nalar Pinggiran


**

Satu dari sekian esensi Peristiwa Qurban Ialah saat Ibrahim As meninggalkan Istrinya ; Hajar dan Ismail anaknya yang masih kecil dipadang pasir yang tak bertuan?. Seperti jamaknya, Hajar hanya bisa menduga, bahwa ini akibat kecemburuan Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberinya putra.

Hajar mengejar Ibrahim As - suaminya, seraya berteriak : "Mengapa engkau tega meninggalkan kami disini, bagaimana kami bisa bertahan hidup?". Ibrahim As tak bergeming, ia terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh. Remuk redam perasaannya, terjepit antara "pengabdian" dan "pembiaran".

Hajar masih terus mengejar sambil terus menggendong Ismail, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit : "Wahai suamiku, ayahanda Ismail, Apakah ini Perintah TuhanMu?". Kali ini Ibrahim As, Sang Kholiulloh, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim As. Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semuanya terkesiap. Ibrahim As membalik tegas, dan berkata : "Iya, ini perintah Tuhanku !"

Hajar berhenti mengejar, dan dia terdiam. Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang mengagetkan semua Malaikat, serta menggusarkan butir pasir dan angin : "Jikalau ini perintah TuhanMu, pergilah wahai suamiku. Tinggalkan kami disini. Jangan khawatir, Allah akan menjaga kami dan memberikan jalan keluar atas setiap ujian".

Ibrahim AS pun beranjak pergi. Dilema itu punah sudah.

Sebuah pesan Pengabdian, atas nama Perintah Allah, bukan pembiaran. Itulah yang di sebut IKHLAS.

IKHLAS adalah wujud sebuah Keyakinan Mutlak, pada Sang Maha Mutlak. Ikhlas adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah pada kalah. Ikhlas itu adalah ketika engkau sanggup untuk berlari, mampu untuk melawan dan kuat untuk mengejar, namun engkau memilih untuk patuh dan tunduk.

Ikhlas adalah sebuah kekuatan untuk menundukkan diri sendiri, dan semua yang engkau cintai. Ikhlas adalah memilih jalan-Nya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain. Ikhlas bukan lari dari kenyataan. Ikhlas bukan karena terpaksa. Ikhlas bukan merasionalisasi tindakan, bukan mengkalkulasi hasil akhir. Ikhlas tak pernah berhitung, tak pernah pula menepuk dada.

Ikhlas itu Tangga menuju-Nya, Mendengar Perintah-Nya, MentaatiNya. IKHLAS adalah IKHLAS itu sendiri. Murni tanpa embel-embel kepamrihan apapun. Suci bersih 100 persen, hanya karenaNya dan mengikuti KehendakNya, tidak yang lain!.

Setelah ditinggal suaminya-Ibrahim, Hajar mengendong putranya-Ismail Sambil lapar dan haus, Hajar Mondar mandir diantara Bukit safah dan Marwah adalah sebuah tindakan konyol dalam pandangan kita. Apalagi ditengah Gurun Tandus. Tapi, dalam situasi krisis itu, ada harapan yang membuatnya berlari-lari kecil diantara dua bukit. Harapan dan usaha yang dilakukan berulang-ulang, pasti membuahkan hasil : Air Zam-Zam.

Air zam-zam adalah pertemuan antara krisis : harapan dan usaha. Bahkan Air zam-zam itu tumbuh bersama perdaban besar dan menjadi artefak penting dalam sejarah mekkah, sebagai salah satu sentrum pergerakan Islam.

Pada Siti Hajar, ibunda Nabiullah Ismail. Tercermin sebuah Prototype dari Beyound the Crisis Zone. Keluar dari zona Krisis. Ingat, dalam masa-masa Sulit (Pandemi) ini, kita tak perlu digulung-gulung oleh nestapa. Tapi terus mendelik dalam satu kesempatan (oppurtunity). Orang-orang Sukses adalah Orang selalu membaca, apa yang terjadi balik krisis. Mereka mampu berpikir melampaui krisis dengan membuahkan kesuksesan besar.


***

Berkenaan dengan Zona krisis tersebut, saya teringat dengan Kisah Ibnu Hajar Al Asqalani. Ulama dengan ratusan kitab tentang Islam. Nama aslinya adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Kinani Al Asqalani.

Lumayan panjang nama ini. Menyebutnya, bisa makan sampai dua tiga suap nasi dan lauk pauknya. Tempat lahirnya Ibnu Hajar sendiri masih soal, entah di Mesir atau di Palestina. Yang jelas, konon dimasa kanak-kanak, ia dikisahkan sebagai anak yang telmi. Rajin tapi telat mikir.

Saking tak paham apa-apa yang diajarkan di madrasah, Ibnu Hajar putuskan pulang kampung karena merasa otaknya berat. Ia izin gurunya untuk pulang. Ditengah perjalanan pulang itulah, Ibnu Hajar mendapat pelajaran.

Di sebuah gua tempatnya istirahat saat jalan pulang, di dapatilah sebuah batu hitam yang keras, yang terus menerus ditimpa satu dua butir air dari atas gua hingga batu itu berlubang. Tak sangka, disitulah ia terpantik.

Ia terinspirasi, bila batu yang keras saja terus-menerus ditimpa air, akan lubang juga. Begitupun dirinya, bila tekun, kelak akan genius juga. Dus, setelah peristiwa itu, ia pun kembali ke sekolahnya.

Sejak itu, semangat belajarnya membumbung. Menjadi anak paling pintar. Hingga menjadi ulama besar sebagaimana yang dikisahkan dalam literatur-literatur.

Saya juga pernah nonton Forrest Gump. Film yang diperankan Tom Hanks. Mengisahkan tentang sosok Forrest Gump yang tumbuh dan menjadi sosok terkenal dengan IQ 75. Dimasa kecilnya dilewati dengan bullying teman sekelasnya.

Tak ada yang berkawan dengannya karena telmi. Lalu, cintanya yang ditolak mentah-mentah oleh Jenny gadis impiannya.

Forrest Gump akhirnya jadi tentara di Vietnam. Dengan kecepatan larinya, Forrest Gump menyelamatkan nyawa banyak serdadu. Bokongnya tertembak di Vietnam.

Setelah berhenti ikut perang Vietnam, berbagai lakon hidup dijalaninya. Namun Jenny tetaplah menjadi cinta sejati yang tak bersambut.

Dalam hidupnya ia sudah mencapai beberapa hal, namun pada Jenny ia dipaksa terus berlari. Mengejar impiannya.

Kurang lebih 3,5 tahun Forrest Gump berlari keliling Amerika, mengejar imajinasinya pada sosok Jenny yang impersonal. Suatu waktu nama Forrest Gump ada di headline koran lokal.

Jenny membacanya. Mereka bertemu dan sama-sama tenggelam dalam madunya cinta setelah Forrest Gump berlari 3,5 tahun. Berlarilah !

***

Sudah dua tiga hari ini, saya tidak bosan-bosan dengar ceramah Mark Zuckerberg, CEO Facebook. Mark Zuckerberg di DO dari Harvard University.

Saat ceramah di HU, dia katakan, kalau dia bisa tuntaskan ceramahnya, maka itu satu-satunya hal yang bisa diselesaikan di Harvard, selain kuliahnya yang gagal.

Apa yang ada di kepala orang-orang kala Zuckerberg DO dari Harvard?. Bukan karena ia telmi. Tidak, orang hanya menganggapnya tak berhasil di sebuah kampus terbaik kelas dunia.

Kini Zuckerberg menjadi CEO sebuah platform digital dengan user 2,7 miliar diseluruh dunia. Dia menjadi presiden semua warga Dumai yang hidup diplanet facebook.

Kekayaannya mencapai Rp.2.400 triliun. Lebih besar dari fulus yang dimiliki seluruh rakyat Indonesia.

Apa tujuan hidup Zuckerberg sekarang?. Dia bilang make your purpose. Itu yang dia lakukan meski DO dari Harvard.

Sekarang dia meloncat, membangun komunitas global, lalu mengajak semua orang untuk makes a purpose.

Dari Kisah Siti Hajar, Ibnu Hajar, Forrest Gump juga Mark Zuckerberg, mereka adalah orang-orang yang dulunya tak direken. Kini apa?. Ibnu Hajar menulis puluhan kitab dan diterjemahkan ke seluruh belahan bumi.

Forrest Gump menginspirasi musik, sejarah dan inspirasi bagi masyarakat Dunia, pun Mark Zuckerberg yang mampu menyatukan manusia dalam satu komunitas digital bernama facebook. Mereka hanya meletakkan tujuannya, lalu mengejarnya secara konsisten !.


***

Mengimpikan sesuatu diluar batas kemampuan kadang dinilai "gila". Padahal, pasrah pada realitas yang punya kemungkinan-kemungkinan bisa diubah sama dengan gila betul. sebab, hanya orang gilalah yang tidak punya mimpi dan cita-cita, bahkan surga yang menjadi idola semua manusia untuk masuk dan abadi didalamnya, tidak pernah di fikirkan.

Pasrah boleh. tetapi, setelah melewati ikhtiar itu baru dinamakan tawaqqal.

Jika saja takdir bukanlah hal yang misterius dari sebuah proses (ikhtiar) pencapaiaan. Maka, untuk apa tawaqqal?. Takdir harus misterius, agar proses pencapaian mencengangkan.

Ada sebuah cerita tentang pegawai kereta api yang secara tidak sengaja terkunci didalam gembong pendingin kereta api. karena, merasa tidak mampu ia pasrah pada nasib, ketika tubuhnya mulai dingin dan kematiannya mulai dekat. dia mulai menulis tentang proses kematiannya tersebut pada kalimat-kalimat yang ditorehkan di dinding-dinding gembong; ”saya mulai kedinginan”, tulisannya. sekarang bertambah dingin.

Tidak ada yang dilakukan selain menunggu, ini mungkin kata terakhir. dan memang itu kata-kata terakhir, yang dituliskannya. karena, setelah dibuka gembong kereta tersebut, ia ditemukan tewas.

Suhu dalam gembong kereta itu 58 F, sementara alat pendingin telah rusak, tidak ada penyebab fisik atas kematiannya. udara banyak, dia tidak kehabisan udara. bisa disimpulkan dia tewas, karena pasrah tanpa ikhtiar dan tertipu oleh ilusinya.

Hiduplah adalah proses menuju apa yang diimpikan, sebuah proses yang mau tidak mau harus dijalani oleh semua yang hidup didunia ini. Bunyi Firman Allah ; " Dan manusia akan mendapatkan apa yang diusahakannya (Q.S.An-Najm;39).

Akhir dari semua perjuangan sering dianggap anomali oleh kebanyakan orang. Hanya satu sebabnya, kita sering mengukur standar ikhtiar dengan ukuran kita. Mungkin juga karena ia terlampau abstrak.

Misalnya, Dalam Islam, ikhtiar itu sangat penting. Menghindari mudarat dan mengambil maslahat, juga merupakan kaidah agama. Dulu, Rosulullah SAW, 1.400 tahun Nan silam menerapkan Lock Down saat wabah melanda. Umar Bin Khottab yang keras kepala saja, yang Cuman Taat pada Rosulullah SAW dan Allah, juga pernah mengurungkan perjalananya, karena tempat tujuannya dilanda wabah.

Agama itu sangat Logis. Jika pun ada ghaibnya, itu karena kemampuan Rasional Kita tidak mampu menembus yang suprarasional. Butuh Supra Genialitas untuk menjangkaunnya. Larangan sholat berjama'ah dengan argumen-argumen medis itu juga agamais, berdasarkan kaidah. Beragama itu bukan berarti menjadi seorang Fatalis. Toh, takdir juga bukan sesuatu yang given.

Kematian selalu ada sebabnya, dalam Hadist yang Diriwayatkan Imam Tirmidzi, Rosulullah saja bersabda, "Setiap anak Cucu Adam memiliki 99 sebab kematian". Artinya, kematian pun punya faktor-faktor logis atau dalam Bahasa medis disebut Cause of Death (COD). Apa jadinya beberala tahun silam, jika Positiv Covid-19 mengalami peningkatan kurva normal atau meningkat secara Eksponsial. Maka, tentu Membludak pasien di RS dengan Faskes yang terbatas, pun tenaga medis?. Hal itu, bisa menyebabkan tingkat Mortality melambung tinggi.

Sosial Distancing hingga Lockdown berfungsi menekan penularan. Agar yang terpapar Covid-19 berada dibawah Kurva normal. Dalam kasus wabah Corona, tindakan medis adalah upaya menekan tingkat kematian dibawah kurva normal. Agar pasien yang terpapar mendapatkan pelayanan medis yang optimal bagi yang menderita. Hanya kematianlah, akhir dari setiap Ikhtiar manusia. Inilah contoh, bahwa ikhtiar itu penting.


**

Dulu ada senior saya menceritakan pada saya, tentang seniornya, yang bernama Bang Saleh Daulay. Bang saleh ini pernah cerita, membeli Es campur saat hujan lebat di ciputat tempat dia Indekos waktu masih Mahasiswa S1 bersama teman-temannya. sampai-sampai temannya heran dan mengajak Bang saleh berdebat.

kira-kira begini Isi Debatnya ; "Le, Ngapain kamu beli es campur saat hujan lebat gini, Dingin pula lagi". Kata bang Saleh ; "sudah, kamu beli saja sana, Sebentar saya ceritakan apa maksudnya". Aneh Kamu, Le, Ujar kawannya. 

Akhirnya, Kawan Bang Saleh membeli dua porsi Es Campur. Setelah abang tukan Es itu pergi, Bang Saleh Memberi Ceramah kemanusiaan pada kawannya. "Kau lihat bapak Tukang Es itu; sudah hujan lebat, angin sekencang ini. Dia dorong gerobaknya sepanjang jalan. kau lihatlah, dia berjuang demi anak dan istrinya. dengan membeli Es dua porsi itu, kita sudah merawat harapan Si bapak itu. Dia hampir saja putus harapan (pasrah), saat mendorong Gerobaknya .

Jika semua orang cara berpikirnya sama dengan engkau, bahwa Mana ada hujan lebat, dingin pula, orang mau membeli Es campur. Maka, sebenarnya, kita telah membunuh Haraoan orang. Engkau tengok sana, setelah kita beli dua porsi Es campurnya, si bapak tambah kencang mendorong gerobaknya; tambah semangat dia".

Cerita diatas datang dari pengalaman Hidup Mantan Ketum Pemuda Muhammadiyah, kini menjadi Anggota DPR RI. saat Masih S1. Cerita ini Sering sekali saya sampaikkan dalam forum-forum apapun, saat saya di undang sebagai Pembicara. Sebab, Tindakan bang saleh itu mematahkan logika Umum, yang ada dipikiran bapak Tukang Es campur itu ; bahwa tidak mungkin hujan lebat, angin kencang dan hawa dingin. ada orang mau minum es. Percaya atau tidak, si tukang Es ini nyaris putus asa dihari itu ; sebelum es campurnya dibeli. Tapi di saat, ada orang yang beli Es campurnya. Dua porsi pula, maka harapan yang nyaris patah tadi, kembali menukik.

Artinya, berharap itu boleh. Tentu tidak salah, bahkan dianjurkan. Bahkan, Al-Ghazali menempatkan Formula "Cemas" dan "Harap" dalam nukilan-nukilan Teosofinya berkaitan dengan Ibadah. Berharap semoga tetap terjadi, cemas kalau tidak berlaku. Demikian juga dengan penyair klasik cina "Lut szun" pernah berkata; "Harapan itu ibarat berjalan didalam rimba. Pada awalnya jalan itu tak ada. Tapi, karena sering dilaluinnya. Akhirnya jalan itu ada dengan sendirinya".



*Pustaka Hayat
*Pejalan Sunyi
*Rst
*pena Nalar Pinggiran


Kamis, 08 Juli 2021

IBU DARI IBUKU REBAH DI BULAN JULI




Nenek Hilang diangkat oleh Allah dari kerendahan ke ketinggian. Dipindahkan oleh Allah dari tempat yang dikuasai oleh kegelapan ke tempat yang dipenuhi cahaya-Nya. Dihijrahkan dari kegaduhan dan keriuh-rendahan menuju maqam yang amat sunyi sehingga bisa ia temukan secara sangat terang benderang setiap sapuan suara sejati selirih apapun.

Nenek Hilang dipanggil Allah untuk bergeser dari ‘Alam Syahadah yang telah sukses menipu berpuluh-puluh miliar manusia sepanjang zaman, memasuki ‘Alam Haqiqah yang memerdekakan Nenek, sesudah beberapa puluh tahun ia bersabar dan sangat tabah menemani dan mengayomi manusia di sekitarnya di sejauh jaringan silaturahminya yang terjebak oleh tipudaya kemewahan dunia.

kepergian Nenek Hilang seperti dijemput oleh kendaraan yang dulu mengangkut Nabi Muhammad Saw berisra` mi’raj. Super high speed. Di bawah sadar kita, terutama Ibu Saya sukar percaya bahwa Nenek Hilang sudah tidak bersama kita lagi di sini. Nenek Hilang terlalu dekat untuk jauh. Kita semua tidak siap untuk meyakinkan diri bahwa ia sudah nun jauh di sana, terlebih Ibu saya, anak kandung yang dua tahun terakhir Ia tanyakan. Ya Allahu.

Belum tiga empat minggu yang lalu, beliau VC dan Menanyakan ; " Kenapa Rais Belum datang menjemput Nenek, semua cucu nenek sudah semua Nenek lihat tumbuh, Rais belum pernah sekalipun?". Kira-kira begitu Tanya pada Mama.

Padahal, Satu Minggu kedepan, saya sudah persiapkan keberangkatan ke Batam, untuk menghadiri acara Nikahan Saudara saya, sekaligus mengunjungi Nenek dan Membawanya Ke makassar. 

Namun Kabar kegetiran siang ini terlalu dini, tiba. Sorot mata Kosong Mama saya, seperti kehilangan bintang-bintang di langit. Ia seperti penghuni bumi tanpa rembulan. Ia menghuni padang pasir tanpa pepohonan. Mama saya masih terus butuh dan ingin berenang, tetapi samudera mengering dan sunyi tanpa gelombang.

Mama dan keluarga, lebih dari terkejut oleh ketetapan Allah itu. Kita semua masih sangat membutuhkan Nenek.

Memang, tak ada kuasa dan otoritas kita, untuk menghindar, bersembunyi, apalagi berlari dari Maut.

Memang, Tidak ada yang bisa berlari dari maut. Sebab, ia selalu lebih cepat dari semua yang kita pikirkan, bahkan sangkakan.

Memang, Tidak ada tempat di bumi yang bisa menghindari Maut. Ia selalu tiba, di batas usia.

Tetapi, saya belum menepati janji untuk menjemputnya, agar bisa bersua dengan anaknya yang begitu lama yang rindukan.

Allah Maha Lebih Mengetahui apa saja yang kita hanya mengetahuinya sedikit-sedikit, seserpih-seserpih atau sangat sebagian kecil. Dipanggilnya Nenek Hilang oleh Maha Pencipta dan Pemiliknya adalah misteri bagi pengetahuan kita. Adalah “ghaib”. Dan Allah jauh-jauh hari sudah menyiapkan mental dan jiwa kita agar menerimanya dengan iman, tanpa mempertanyakannya secara ilmu dan pengetahuan. Alladzina yu`minuna bilghaibi. Dan kita memperbanyak sujud pasrah kepada-Nya. Kita teguhkan “yuqimunas shalat” dan memperluas kemurahan hati “wa mimma razaqnahum yunfiqun” dengan terus memperjuangan kelahiran baru demi kelahiran baru.

Semua Kita ada dalam kesementaraan, datang tetapi untuk pulang. Selamanya disini hanya berteman rindu, satu-satunya penuntun arah adalah untuk kembali menyatu dengan kekasih Sejati Zat, Yang Maha Hidup.

Yahh, memang Perginya Nenek itu (seumpama) kembang, tumbuh tanpa kata dan bulan bergerak tanpa berisik.

Almarhum itu tidak ada hubungannya dengan kematian. Almarhum itu artinya orang yang di rahmati oleh Allah. Kita semua mudah-mudahan sudah almarhum. Hanya saja dalam kebudayaan, Diksi Almarhum kerap kali di asosiasikan kepada kematian.

Menurut Allah, Tidak ada orang yang mati. Makanya dalam hidup, kita harus selalu punya hubungan batin terhadap sesama. Karena, dia abadi. jika hanya hubungan fisik, hubungan badan, hubungan politik itu hanya sementara.

DalamQur'an Allah berfirman : Jangan sangka bahwa hamba-hambaku yang berjuang di jalanku, itu mereka mati. Melainkan mereka hidup dan mendapatkam rezeki. Jadi, orang yang kita sebut sebagai almarhum ini sedang memasuki rezeki tingkat kedua, melebihi rezeki yang kita dapatkan di dunia. Rezekinya berbeda-beda, dan almarhum sedang menikmati itu. Kalau kita, rezeki kita itu cuman makan, minum, motor, rumah, dsb. Yang ketika di sapu angin akan hilang menurut kesementaraan waktu.

Manusia itu tidak hidup sementara. Manusia itu hidup abadi ; "Kholidina Fii ha abada". Kita terus menerus hidup, hanya saja polanya berbeda. Seumpama Ulat, kepompong, lalu menjadi kupu-kupu. Nah, kita hidup ini, bagaimana caranya menjadi ulat, kepompong dan menjadi kupu-kupu.

Innahu Waa Inna Ilaihu Roji'un..!!

#Rst

#nalarPinggiran











Rabu, 07 Juli 2021

NENEK MOYANG BANGSA NUSANTARA, GURU PELAYARAN BANGSA CHINA




Tahukah kita, bahwa Nusantara, sejak fajar peradaban terkait erat dengan satu bangsa di utara, namanya China atau Tiongkok.

Peta dunia lama terbagi atas dua sudut, timur dan barat. Timur adalah China, pusat populasi manusia dan material. Barat adalah India, pusat ide-ide budaya (agama).

Ada sekitar 20 juta manusia di China pada era dinasti Qin, abad 1 masehi. Jumlah yang menyedot minat pedagang dari segala penjuru untuk memasuki China. Judulnya "Jalur Sutra", bukan sekedar perdagangan, tetapi juga pertukaran budaya, politik, dan penyebaran agama. Hal itu Berlangsung sejak abad 2 SM hingga kolaps di abad 18 M. Sutra hanya penanda, tapi jalur Sutra tidak melulu menawarkan kain sutra, tetapi juga keramik, kaca, logam mulia, perkakas, getah damar, hingga rempah.

Membentang sejauh lebih dari 5.000 km, Jalur Sutra darat lebih dulu terkenal, kafilah-kafilah bergerak menyusuri daratan dengan titik kunci di Asia Tengah. Di sana ada bangsa yang kini sudah musnah, Bangsa Sogdiana, hidup di sekitar Kazakhstan dan Uzbekistan, mereka bangsa pedagang utama, perantara agung, yang mengajari bangsa China bagaimana cara berdagang, sekaligus memperkenalkan agama Budha pertama kali ke China. Nasib Sogdiana berakhir setelah ditaklukkan muslim.

Karena jalur Sutra darat demikian berat dan berbahaya, muncullah alternatif kedua, yaitu Jalur Sutra Laut (maritime silk road). Di sinilah nenek moyang Nusantara bersua. Membentang lebih dari 3.000 mil laut, antara China dan India, awalnya jalur ini terputus di tanah genting Kra (Thailand dan Myanmar), kemudian ditarik ke bawah, melalui Selat Malaka.

Jika di darat ada bangsa Sogdiana, maka operator utama Jalur Sutra Laut adalah nenek moyang kita, orang nusantara. Kapal-kapal awal yang bergerak ke India dari Selat Malaka. dan rute Timur, Selat Malaka hingga China, mayoritas adalah kapal nenek moyang kita. India dan China belajar berlayar dari nenek moyang kita yang tangguh.

Orang China menganggap tetangga di selatan mereka, bangsa Kunlun (ras Austronesia, nenek moyang kita) yang bertanggung jawab membuka seluruh jalur pelayaran yang memungkinkan barang dari China mencapai India melalui laut, dan mengangkut pendeta Budha China berziarah ke India. Simak pengakuan Pendeta Budha Faxian (abad 5 M) yang transit di Yehpoti (Kalimantan) pada saat berangkat dan pulang ziarah dari India.

"[Saya] menumpang di atas kapal dagang besar, yang memuat lebih dari dua ratus jiwa, dan di belakangnya ada kapal lebih kecil mengantisipasi jika terjadi kecelakaan di laut yang menghancurkan kapal besar itu."

Kapal dagang yang mampu memuat lebih 200 orang pada abad 5 M adalah pencapaian luar biasa para pelaut atau pedagang nenek moyang kita.

Ada kesilapan paham sementara ini yang menganggap bahwa orang dari India yang berinisiatif atau memprakarsai penyebaran agama Hindu dan Budha ke nusantara. Yang lebih tepat adalah nenek moyang kita sendiri yang menjemput bola ke India dengan kapal-kapal mereka, membawa pulang keyakinan baru yang lebih kompleks untuk diterapkan di nusantara, menjadi atribut kerelijiusan yang lebih megah dibanding agama asli, menjadi tanda keagungan kerajaan-kerajaan nusantara untuk menaklukkan rakyatnya dengan ajaran yang lebih rumit.

Awalnya nenek moyang kita hanya berperan sebagai operator kapal dagang, melayani pertukaran barang produksi China maupun India (juga bangsa-bangsa yang singgah di India seperti Arab dan Persia), namun belakangan nenek moyang kita menitipkan komoditas tambahan hasil asli nusantara: itulah rempah-rempah. Lada, getah hutan, Pala, Cengkeh, Kayu manis dll. Awalnya hanya barang dagangan tambahan, lalu perlahan berkembang menjadi komoditas utama, karena bangsa-bangsa asing (China, India, Arab, hingga Eropa) menggandrunginya.

Pada puncaknya, rempah nusantara di masa itu ibarat minyak bumi bagi Timur Tengah saat ini. Komoditas utama yang mengantar nusantara ke dua tujuan berbeda, kejayaan dan kemudian kehancuran.

Politik dan dinasti-dinasti di kerjaaan nusantara jatuh dan bangun oleh interaksi mereka dengan perdagangan rempah, beras, kerajinan, dan logam mulia. Diplomasi kerajaan-kerajaan nusantara dengan imperium China adalah politik yang utama. China berkepentingan menjaga atau memastikan kestabilan komoditas masuk ke negerinya melalui pengakuan-pengakuan terhadap otoritas kerajaan nusantara. Sebaliknya nusantara membutuhkan pengakuan dari imperium China untuk melegitimasi kekuatan mereka, utamanya terhadap kerajaan saingan di nusantara. Jatuhnya Kerajaan Sriwijaya, Singosari, hingga kemudia Majapahit tak lepas dari konsekuensi yang mereka peroleh akibat konflik yang menyertai hubungan perdagangan internasional yang melewati nusantaara.

Pulau Jawa pernah berkelimpahan, pada abad 11-14 M, dan terutama ketika di bawah otoritas Majapahit, Jawa menyediakan beras untuk semua pelaut pedagang yang singgah di pelabuhan Gresik dan Tuban ditukar dengan uang perunggu China, koin emas dari Barat, kain dari India, dan keramik. Beras juga diangkut ke kepulauan Maluku untuk ditukar dengan rempah-rempah. Pelabuhan Gresik menjadi pusat perdagangan beras dan rempah. Demikian melimpahnya hingga simbol kemewahan di zaman itu, keramik dan uang perunggu bertebaran di kalangan masyarakat biasa, jauh dari Istana. Temuan-temuan keramik dan celengan, dengan uang perunggu China di dalamnya, di pelosok Jawa Timur, adalah bukti dari kelimpahan tersebut. Pelancong dari Italia, Marco Polo mencatat:

“ Jawa... melebihi kekayaan, menghasilkan semua macam bumbu, sering dikunjungi oleh pengiriman dalam jumlah besar, dan oleh pedagang yang membeli dan menjual barang-barang mahal yang menghasilkan keuntungan besar. Sesungguhnya, harta karun pulau ini begitu besar sehingga tidak pernah diceritakan”.

Namun kelimpahan dan permintaan internasional akan rempah-rempah yang besar ini perlahan menjerumuskan nusantara. Ketika Bangsa Eropa berhasil menembus hambatan pedagang Persia, mereka berdatangan sendiri ke nusantara, menggunakan teknologi kapal dan persenjataan lebih maju, memonopoli perdagangan, dan membangun koloninya. Rusaklah tata niaga lama yang sudah berusia 1500 tahun. Empat ratus tahun kemudian, Eropa semakin dominan dan bangsa-bangsa Timur tenggelam di bawah kakinya.

Namun keadaan sudah berubah lagi, setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Jika hari ini kita di nusantara baru yang bernama Indonesia mengalami era tarik menarik kepentingan regional yang berpusat di China, maka pola itu sudah berumur 2.000 tahun. Bukan hal baru.

*pena Nalar Pinggiran