Mengenai Saya

Jumat, 25 Agustus 2023

PETUNJUK AL QUR'AN DALAM MENGELOLA NEGARA MENUJU DEMOKRATISASI

Kata para ahli nahwu, "al ma'rifatu la tu arruf - yang sudah di kenal jangan di perkenalkan kembali". saya tidak akan mengulangi, apa yang sudah sering kita dengarkan dan sudah kita baca. Tetapi, saya ingin mengajak kita untuk mencoba memperbaiki cara kita mentadabburi Al Qur'an dan cara kita bermuamalah dengan Al Qur'an.

Sesungguhnya kekuatan dari interaksi dengan Al Qur'an terletak dari kemampuan kita mengambil ilham dari Al Qur'an untuk kita turunkan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai individu, sebagai keluarga, sebagai masyarakat dan juga sebagai negara. Mengapa?. Karena Al Qur'an senantiasa relevan sepanjang waktu dan tempat. Maka, konteks yang terus berubah-ubah yang di hadapi oleh manusia, sebenarnya memerlukan pencerahan dari Al Qur'an, agar hidup kita dari waktu ke waktu menjadi lebih baik. Di situlah makna hakiki dari interaksi kita terhadap Al Qur'an.

Saya selalu tertarik mempelajari Sejarah dari Perspektif Al Qur'an dan mengambil ilham dari kisah-kisah yang terdapat di dalamnya. Karena cara Al Qur'an memperkenalkan sejarah kepada kita, tidak bertumpu pada detail-detail peristiwanya. Kita harus berani mengkonversi narasi sejarah tersebut dalam pemaknaan yang lebih kontekstual. Makanya ketika kita mendapatkan satu kisah di dalam Al Qur'an, kita tidak akan mendapatkan terlalu banyak detail-detail peristiwanya. Justru, kita diajak untuk mendapatkan Ilham dari Cara Al Qur'an memaknai seluruh peristiwa di dalam sejarah.

Kita ambil cerita pertama dari kisah Nabi Sulaiman As. 

Kisah Nabi Sulaiman ini banyak tertebar di dalam Al Qur'an. Tetapi, yang agak sedikit utuh, terdapat di surat An Naml. Kisah yang hendak saya nukil di mulai dengan ayat, "walaqod ataina dauda wa Sulaimana ilma waqolal hamdulillahiladzi fadholana ala Katsirin min ibadhil mu'minin - Dan kami telah memberikan kepada Daud dan sulaiman Ilmu, Segala puji bagi Allah yang telah memberikan keutamaan kepada kami atas hamba-hambanya yang beriman".

Kalau kita baca cerita tentang Nabi Sulaiman yang di kabarkan Al Qur'an ini, bagaimana Nubuwah - Kenabian dan kerajaan itu menyatu. Nabi Daud dan Nabi Sulaiman adalah ayah dan Anak. Dua-duanya adalah Nabi dan Dua-duanya juga adalah Raja - An nabiyul malik.

Saat Al Qur'an mengungkap sejarah mereka, Al Qur'an memulainya dengan kalimat, "Walaqod ataina Dauda wa Sulaimana Ilma  - kami telah memberikan kepada Daud dan Sulaiman Ilmu". Apa yang bisa kita pahami dari situ?. Dari cerita Nabi Sulaiman dan Nabi Daud, kita mengambil Ilham bahwa ada Hubungan antara Ilmu pengetahuan dan Kekuasaan. Ihwal Itulah juga, sehingga Umar Bin Khottab berwasiat kepada kita, "Ta' allamu qoblal anta sulu - belajarlah kalian sebelum kalian memimpin". Karena pada dasarnya mengelola pemerintahan itu adalah pekerjaan yang saintifik - ada ilmunya.

Ketika kita melihat orang yang memiliki persoalan dengan Pengetahuan, sekalipun dia berkuasa, dia akan tertatih - tatih dalam memimpin. Sebab, soal pengetahuan ini sangat krusial, Jika tidak ada pengetahuan, seseorang akan mengalami blunder-blunder dalam mengelola pemerintahan. Karena basis pengetahuannya tidak cukup untuk mengelola pemerintahan. Apalagi di era sekarang - Demokrasi, ketika semua orang punya peluang untuk menjadi penguasa. 

Persoalannya kita hari ini, bukan saja bagaimana cara kita sampai pada kekuasaan. Tetapi, apa yang akan kita lakukan ketika kita sampai pada kekuasaan tersebut, bagaimana cara kita mengelola pemerintahan?. Di titik itulah, kita membutuhkan ilmu pengetahuan.

Apa yang terjadi pada orang ketika dia mengalami kekurangan dalam ilmu pengetahuan saat dia berkuasa?. Maka, dia akan cenderung menggunakan kekuasaannya lebih banyak, ketimbang ilmu pengetahuannya.

Coba kita perhatikan pengetahuan pada kisah Nabi Sulaiman, "wa warisa sulaimaanu daawuuda wa qoola yaaa ayyuhan-naasu 'ullimnaa mangthiqoth-thoiri wa uutiinaa ming kulli syaii, inna haazaa lahuwal-fadhlul-mubiin - Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia (Sulaiman) berkata, "Wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh, (semua) ini benar-benar karunia yang nyata".

"wa husyiro lisulaimaana junuuduhuu minal-jinni wal-ingsi wath-thoiri fa hum yuuza'uun - Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib".

"hattaaa izaaa atau 'alaa waadin-namli qoolat namlatuy yaaa ayyuhan-namludkhuluu masaakinakum, laa yahthimannakum sulaimaanu wa junuuduhuu wa hum laa yasy'uruun - Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, "Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari".

Perhatikan Power yang di miliki Oleh Nabi Sulaiman, Komposisi pasukannya ; ada manusia, ada jin, Ada Hewan. Saya pikir, kita semua bisa cari tahu sendiri bagaimana dialog antara Nabi Sulaiman dengan semut.

Kita persingkat ceritanya, saat Nabi Sulaiman mengumpulkan seluruh pasukannya, tetapi burung Hud-hud tidak ada, hal itu tertuang di dalam QS. An-Naml : 20 - 26, "wa tafaqqodath-thoiro fa qoola maa liya laaa arol-hudhuda am kaana minal-ghooo-ibiin - Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, "Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, apakah ia termasuk yang tidak hadir?".

"la-u'azzibannahuu 'azaabang syadiidan au la-azbahannahuuu au laya-tiyannii bisulthoonim mubiin - Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas (informasi tambahan kekuasaan baru)".

Ternyata Burung Hud-hud ada di sekitar istana dan ia membawa berita tentang kerajaan Balqis, "fa makasa ghoiro ba'iiding fa qoola ahathtu bimaa lam tuhith bihii wa ji-tuka ming saba-im binaba-iy yaqiin - Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, "Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba' membawa suatu berita yang meyakinkan".

"innii wajattumro-atang tamlikuhum wa uutiyat ming kulli syai-iu wa lahaa 'arsyun 'azhiim - Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar".

"wajattuhaa wa qoumahaa yasjuduuna lisy-syamsi ming duunillaahi wa zayyana lahumusy-syaithoonu a'maalahum fa shoddahum 'anis-sabiili fa hum laa yahtaduun - Aku (burung Hud-hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah; dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk".

"allaa yasjuduu lillaahillazii yukhrijul-khob-a fis-samaawaati wal-ardhi wa ya'lamu maa tukhfuuna wa maa tu'linuun - mereka (juga) tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan".

"allohu laaa ilaaha illaa huwa robbul-'arsyil-'azhiim - Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai 'Arsy yang agung".

Setelah Hud-hud bercerita kepada Nabi Sulaiman, Maka Nabi Sulaiman mengatakan, "qoola sanangzhuru a shodaqta am kungta minal-kaazibiin - Dia (Sulaiman) berkata, "Akan kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta". (QS. An-Naml 27: 27).

"iz-hab bikitaabii haazaa fa alqih ilaihim summa tawalla 'an-hum fangzhur maazaa yarji'uun - Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan". (QS. An-Naml 27: 28).

Di bawalah surat tersebut kepada Ratu Balqis. Begitu surat tersebut sampai kepada Ratu Balqis. Ia pun segera mengumpulkan para Elit dan tentara-tentaranya. Balqis Lalu berkata, " qoolat yaaa ayyuhal-mala-u inniii ulqiya ilayya kitaabung kariim - Dia (Balqis) berkata, "Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia". (QS. An-Naml 27: 29)

"innahuu ming sulaimaana wa innahuu bismillaahir-rohmaanir-rohiim - Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang". (QS. An-Naml 27: 30)

"allaa ta'luu 'alayya wa-tuunii muslimiin - janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri". (QS. An-Naml 27: 31)

Seperti itulah Informasi atau Pesan yang di sampaikkan oleh seorang Nabi sekaligus Raja. Tetapi, yang bisa membuat kata-kata seperti itu, mesti ada sesuatu di belakangnya. Bukan asal gertak. 

Sementara dari sisi Balqis, "qoolat yaaa ayyuhal-mala-u aftuunii fiii amrii, maa kungtu qoothi'atan amron hattaa tasy-haduun - Dia (Balqis) berkata, "Wahai para elitku - pembesarku!. Coba Berikan  aku Fatwa - pendapat - pertimbangan tentang perkaraku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelis(ku) - Bersaksi - menyampaikkan pendapat". (QS. An-Naml 27: 32).

Apa jawaban dari para Elit Kerajaan Saba, "qooluu nahnu uluu quwwatiw wa uluu ba-sing syadiidiw wal-amru ilaiki fangzhurii maazaa ta-muriin - "Kita ini negara yang Powerfull, memiliki kekuatan, keberanian dan gagah perkasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu; maka silahkan ambil keputusan apa saja". (QS. An-Naml 27: 33).

Ratu Balqis ini pintar. Dia bisa merasakan sesuatu di balik surat tersebut, bahwa orang yang mengirim surat ini, tidak akan mengirim surat dengan bahasa seperti ini, kecuali kalau dia punya sesuatu. Balqis pun memberitahu kepada para elitnya, "qoolat innal-muluuka izaa dakholuu qoryatan afsaduuhaa wa ja'aluuu a'izzata ahlihaaa azillah, wa kazaalika yaf'aluun - Dia (Balqis) berkata, "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki - menaklukkan suatu negeri, mereka tentu memporak-porandakan - membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina dina, dan demikian yang akan mereka perbuat - Tradisi". (QS. An-Naml 27: 34).

"wa innii mursilatun ilaihim bihadiyyating fa naazhirotum bima yarji'ul-mursaluun - Dan sungguh, aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu". (QS. An-Naml 27: 35)

Artinya Ratu Balqis tidak menggunakan Hard Power yang di milikinya. Karena Ia bisa membaca sesuatu di balik surat tersebut yang tidak bisa di baca oleh para elit militernya. Ratu Balqis tahu, jika ia salah bersikap dan memilih jalan perang, kita hancur dan yang terhormat hari ini. Besok akan menjadi Hina dina. Ihwal itulah, sehingga ratu Balqis menggunakan pendekatan persuasif.

Akhirnya, Ratu balqis mengirimkan Hadiah (Gratifikasi) kepada Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman menganggap, kalau saya menerima hadiah ini, hal itu sama saja dengan meruntuhkan Nubuwah saya, "fa lammaa jaaa-a sulaimaana qoola a tumidduunani bimaaling fa maaa aataaniyallohu khoirum mimmaaa aataakum, bal angtum bihadiyyatikum tafrohuun - Maka ketika para (utusan itu) sampai kepada Sulaiman, dia (Sulaiman) berkata, "Apakah kamu akan memberi harta kepadaku? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu". (QS. An-Naml 27: 36)

Di ayat ke 36 dari Q.S An Naml ini kita bisa melihat perbedaan antara Nabi Dan Raja. Lalu di ayat ke 37 nya berbunyi, "irji' ilaihim falana-tiyannahum bijunuudil laa qibala lahum bihaa wa lanukhrijannahum min-haaa azillataw wa hum shooghiruun - Kembalilah kepada mereka! Sungguh, Kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya, dan akan kami keluarkan - usir mereka dari negeri itu (Saba') secara terhina dan mereka akan menjadi (tawanan) yang hina dina". (QS. An-Naml 27: 37).

Nabi Sulaiman bukan hanya sekedar Menggertak. Setelah itu dia mulai actions, melakukan performa, "qoola yaaa ayyuhal-mala-u ayyukum ya-tiinii bi'arsyihaa qobla ay ya-tuunii muslimiin - Dia (Sulaiman) berkata, "Wahai para pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgasana balqis kepadaku sebelum mereka datang kepadaku menyerahkan diri?". (QS. An-Naml 27: 38).

Hal inilah Barangkali yang di maksud dengan Tender. Peserta Tender pertama adalah Ifrit, " qoola 'ifriitum minal-jinni ana aatiika bihii qobla ang taquuma mim maqoomik, wa innii 'alaihi laqowiyyun amiin - Ifrit dari golongan jin berkata, "Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya". (QS. An-Naml 27: 39).

"qoolallazii 'ingdahuu 'ilmum minal-kitaabi ana aatiika bihii qobla ay yartadda ilaika thorfuk, fa lammaa ro-aahu mustaqirron 'ingdahuu qoola haazaa ming fadhli robbii, liyabluwaniii a asykuru am akfur, wa mang syakaro fa innamaa yasykuru linafsih, wa mang kafaro fa inna robbii ghoniyyung kariim - Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, Maha Mulia". (QS. An-Naml 27:40)

"qoola nakkiruu lahaa 'arsyahaa nangzhur a tahtadiii am takuunu minallaziina laa yahtaduun - Dia (Sulaiman) berkata, "Ubahlah untuknya singgasananya; kita akan melihat apakah dia (Balqis) mengenal; atau tidak mengenalnya lagi".(QS. An-Naml 27: 41).

Walaupun Nabi Sulaimana berjanji akan mengirimkan pasukan. Kenyataannya Nabi Sulaimana tidak mengirimkan pasukan. Justru Nabi Sulaiman membuat suatu show - Dia mengambil dulu singasananya Balqis, lalu Balqisnya di undang. Artinya Nabi Sulaiman juga menggunakan Cara Persuasif dan tidak menggunakan Hard powernya. Balqis mengirim Hadiah, Nabi Sulaiman Membuat show. Sisi penolakan Hadiah dari Balqis adalah Sulaiman sebagai Nabi dan sisi Shownya adalah sisi Sulaiman sebagai Raja.

"fa lammaa jaaa-at qiila a haakazaa 'arsyuk, qoolat ka-annahuu huw, wa uutiinal-'ilma ming qoblihaa wa kunnaa muslimiin - Maka ketika dia (Balqis) datang, ditanyakanlah (kepadanya), "Serupa inikah singgasanamu?" Dia (Balqis) menjawab, "Seakan-akan itulah dia." (Dan dia Balqis berkata), "Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. An-Naml 27:42)

"qiila lahadkhulish-shor-h, fa lammaa ro-at-hu hasibat-hu lujjataw wa kasyafat 'ang saaqoihaa, qoola innahuu shor-hum mumarrodum ming qowaariir, qoolat robbi innii zholamtu nafsii wa aslamtu ma'a sulaimaana lillaahi robbil-'aalamiin - Dikatakan kepadanya (Balqis), "Masuklah ke dalam istana." Maka ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya (penutup) kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, "Sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca." Dia (Balqis) berkata, "Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam". (QS. An-Naml 27:44)

Demikianlah Cara pengetahuan bekerja. Penaklukkan kerajaan yang di lakukan tanpa peperangan. Tidak hanya kerjaan saba' yang takluk, Nabi Sulaiman Juga Menaklukkan Hati ratu balqis, membawa Dia ke dalam agama dan cinta sekaligus. Berkenaan dengan itu saya teringat dengan pernyataan ahli strategi perang China bernama Shun zu yang mengatakan, " kemenangan yang paling besar dalam sebuah pertempuran, bukanlah membuat musuh kita hancur se hancur - hancurnya. Tetapi, kita bisa menang tanpa berbenturan".

Jadi, Pengetahuan dan kekuasaan bertemu. Hal itu bermakna, Pada kondisi dan sitausi apa, Kita melakukan apa. Tetapi, kalau kita tidak memiliki pengetahuan, kita akan melakukan apa saja pada kondisi dan situasi yang seharusnya tidak kita lakukan. Padahal, itulah sumber kesalahan.

Selain itu, salah satu Nabi yang diceritakan di dalam Al Qur'an yang berhubungan dengan pengelolaan negara adalah Nabi Yusuf. Cerita tentang Nabi Yusuf, hampir Utuh pada QS.yusuf. tetapi, saya ingin menggaris bawahi beberapa hal yang penting saja.

Nabi Yusuf menjadi Fenomenal dalam sejarah Nabi-Nabi yang lainnya, karena Ia tidak lahir seperti Nabi Sulaiman. Nabi Yusuf Bukanlah keluarga Kerajaan. Tetapi, jalan hidupnya menuju Istana, bukanlah jalan hidup yang bisa di rencanakan. Justru, jalan hidupnya di mulai dari Buangan, dan lalu masuk ke dalam Istana. Keluar dari istana dan masuk penjara. Lalu, masuk ke istana yang kedua kalinya. Tetapi, yang ingin saya garis bawahi ialah masuknya Nabi Yusuf ke istana yang kedua kalinya.

Masuknya Nabi Yusuf ke istana yang kedua kalinya karena adanya krisis ekonomi yang akan menimpa negaranya dan Nabi Yusuf menjadi Solusi. Darimana Krisis ekonomi tersebut di ketahui?. Ternyata sang Raja di buat bermimpi oleh Allah dan yang bisa menafsir mimpi sang raja adalah Nabi Yusuf. Tidak hanya menafsir Mimpi sang raja, Kemampuan Nabi Yusuf juga mampu mewujudkan apa yang di tafsirkan dari Mimpi sang raja.

Pelajaran yang paling penting yang bisa kita ambil dari Nabi Yusuf ini, jika kita kokoh di dalam kekuasaan, maka terus meneruslah memberi solusi atas semua masalah. kita harus menjadi solusi, atas masalah bersama yang di hadapi orang ; Harus ada kemampuan dalam diri kita untuk membuat pemetaan lapangan tentang masalah-masalah bersama yang di hadapi oleh masyarakat di sekitar kita dan tentunya kemampuan memberikan solusi atas masalah-masalah bersama yang di hadapi masyarakat. Makanya, Al Qur'an menginformasikan kepada kita dua kali peristiwa Nabi Yusuf Masuk Istana, "Wa kadzalika makanna Yusuf - dan demikianlah kami kokohkan posisi nabi yusuf". Tetapi, pengokohan ini berhubungan dengan Kemampuan dia memberikan solusi.

Jika kita mengelola pemerintahan, pertanyaan pertamanya, apakah kita adalah problem atau solusi?. Begitu Rakyat mendefenisikan kita sebagai solusi, maka kita akan memiliki kedudukan yang kokoh di hati mereka. Tetapi begitu orang mendefenisikan kita sebagai masalah, maka orang akan mencari jalan untuk membuat kita pergi.

Kadang-kadang orang mendatangkan solusi. Tetapi, solusinya juga mendatangkan masalah. Mix Feeling - Perasaan yang tercampur aduk.  sama seperti yang sering di katakan, dia sudah baik kepada kita. Tetapi, kadang-kadang dia jahat juga. Artinya, jika kita mendatangkan solusi, maka pastikan bahwa solusi ini tidak di sertai masalah.

Begitu Nabi Yusuf di mintai komentar tentang negeri tersebut. Bahkan orang-orang di  penjara, justru merekomendasikan Nabi Yusuf?. Karena semua orang di dalam penjara, bersaksi bahwa Nabi Yusuf adalah orang baik. Tidak hanya itu, diatas kebaikannya, dia punya kemampuan yang lain. Artinya menjadi baik saja tidak cukup, tetapi kita harus menjadi solusi dan sebaliknya Menjadi solusi saja, tanpa menjadi orang baik, juga masalah.

Acap kali ada solusi, yang sepenuhnya bersandar pada kekuatan karakter. Bukan pada solusi teknis. Salah satu contoh, ketika Rosulullah SAW melihat para sahabat - sahabat memprotes seorang arab badui yang datang ke masjid dan kencing di dalam masjid. Sebenarnya sahabat yang marah kepada si badui, punya alasan untuk marah. Karena Masjid adalah tempat yang suci, si badui datang kencing di tempat yang suci tersebut. Tetapi, si Badui juga punya alasan, mengapa dia melakukan hal itu. Karena dia tidak tahu bahwa tempat untuk kencing adalah WC atau Toilet. Orang badui dulu kalau mau kencing, dia hanya pergi ke tempat yang jauh dari orang-orang untuk kencing.

Artinya, dari cerita diatas bisa kita petakan bahwa hal ini masalah pengetahuan. Si badui melakukan hal itu, bukan karena dia mau melakukannya. Akhirnya terjadi perdebatan diantara sahabat. Rosulullah datang dengan solusi yang sederhana, perdebatan kalian tidak menyelesaikan masalah. Siram kencing tersebut, masalah selesai. Saking gembiranya si badui yang di selamatkan oleh Rosulullah SAW, akhirnya dia berdoa, "Allahumag firli wa muhammada wa la tagfir ghoiron ahada - Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad dan janganlah ampuni orang lain selain kami saja".

Coba kita lihat lagi, dalam salah satu pertempuran, Ummat Muslimin menghadapi persoalan pembahagian harta rampasan. Rosulullah SAW memberikan Harta rampasan tersebut kepada kaum quraisy. Lalu, tersinggunglah orang-orang Anshor, "Wadduh, kita dulu menolong dia waktu susah, kita berkorban semuanya, sekarang begitu dia kembali kepada kaumnya, harta rampasan dia berikan kepada kaumnya. Ohh, begitu caranya".

Rosulullah SAW sudah mengambil keputusan, tapi bagaimana cara menyelesaikan Rumor kecemburuam orang Anshar?. Di sinilah hikmah bagaimana seorang pemimpin mendistribusikan harta rampasan ini, cuman kecemburuan kaum anshor juga sangat beralasan dan tidak bisa di abaikan begitu saja. Tapi, bagaiamankah cara Nabi untuk menyelesaikan masalah tersebut?. Beliau mempertaruhkan dirinya sendirinya, seraya berkata, "Wahai saudara-saudaraku, saya sudah mendengarkan cerita kalian semuanya tentang harta rampasan ini. Apakah kalian tidak ridho kalau bahagian kalian bukan harta rampasan ini, melainkan Muhammad yang pulang bersama kalian dan hidup bersama diantara kalian, serta tidak pulang lagi ke negerinya".

Apa maknanya? Rosulullah melakukan personal Garansi - Jaminan dirinya sebagai sebuah solusi. Kalian ambil saya dan harta rampasan berikan saja kepada Kaum Quraisy. Mendengar hal itu semua orang menangis. Artinya, ada waktu di mana solusi teknis itu tidak ada gunanya, tidak efektif. Tetapi solusi yang menunjukkan karakter kita sendiri.

Menggabungkan antara kedua unsur diatas adalah pekerjaan yang paling rumit. Bila suatu waktu, ketika menjadi seorang pemimpin, paling tidak kita memberikan personal garansi. Sebab, di situlah kita melihat makna kedudukan kita dalam hati orang. Bukan karena kita menguasai mereka, tetapi karena mereka tergantung pada pikiran dan perasaan kita. Itulah yang membuat kita kokoh di hati mereka.

Pelajaran yang ketiga yang bisa kita ambil adalah, apa yang sekarang ini kita perlukan dalam sistem demokrasi, yaitu "jangan pernah menggunakan kekuasaan terlalu banyak". Karena menggunakan kekuasaan terlalu banyak, akan membuat kita tidak efektif.

Kita hidup dalam satu sistem demokrasi. Lebih dari sekedar persoalan demokrasi, kita juga punya masalah baru, yang di ciptakan oleh banyak Hal. Tetapi, faktor utama yang paling berpengaruh adalah bukan hanya nilai-nilai kebebasan, tetapi tambahan teknologi informasi pada kebebasam tersebut. Terutama sejak munculnya Medsos. Apa filosofi dari sosial media?. Filosofi utamanya, bahwa Individu mendapatkan kekuasaan lebih besar daripada sebelumnya. Dulu, ketika kita ingin menyampaikan pikiran kita ke publik, kita membutuhkan media (Koran, Tv, Radio). Sekarang, ketika kita ingin menyampaikkan pikiran kita ke publik, sudah tidak ada tembok-tembol seperti dulu lagi dan sangat real Time (kita adalah Narasumber, Editor, redaktur). Bahkan satu orang di sosial media, bisa membuat satu negara atau satu dunia menjadi bergolak.

Pilkada DKI memberikan pelajaran ini kepada kita, ketika pemimpinnya menggunakan terlalu banyak power. Akibatnya dia kehilangan kendali.

Mengapa saya perlu menggaris bawahi persoalan ini. Karena, dalam sejarah yang di tampilkan Oleh Tuhan, permusuhan antara Islam dan negara, akarnya bisa kita temukan dalam konflik raja-raja dan Nabi-Nabi. Salah satu persoalan yang mengemuka, mengapa orang menolak agama?. Berdasarkan Informasi Al Qur'an ialah Al Qibriya'i - Keangkuhan. Keangkuhan itu terjadi pada manusia, ketika seluruh apa yang di sebut dengan kekuatan (Power) ; Harta, kekuasan dan Ilmu menyatu. Ihwal itulah, muncul apa yang di sebut dengan Atugyan - Kecenderungan untuk melampaui batas. "Kalla innal insana la yatgho arroa'u hustagna  - dia mulai merasa tidak butuh pada Tuhan". Dia merasa tidak membutuhkan lagi agama. Karena dia merasa, dia bisa mengatur hidupnya sendiri dan secara perlahan-lahan dia mulai memusuhi orang-orang yang membawa agama.

Di titik inilah akar persoalan yang terjadi di kelompok elit. Makanya ketika kita membaca Al Qur'an, sejarah konflik antara Nabi dan Raja, di mulai oleh keangkuhan para raja.

Kalau kita lihat dalam sejarah Fir'aun, bagaimana Allah SWT mempermainkan keangkuhan dengan isu ini sangat luar biasa. keangkuhan Fir'aun pertama kali di runtuhkan dengan (mimpi), bahwa akan ada bayi yang lahir, yang meruntuhkan Kekuasannya. Mimpi buruk ini membuat Fir'aun tidak pernah merasa tenang sepanjang hidupnya. Sejarah kerajaannya berubah, sejak mimpi itu terjadi, berdasarkan salah satu Riwayat menyebutkan, Fir'aun telah membunuh kurang lebih 600 ribu bayi. Kalau riwayat yang Mahsyur menyebutkan 180 Ribu bayi. Saya juga tidak bisa memastikan apakah jumlah bayi tersebut benar atau tidak. Tetapi, mungkin saja benar.

Mimpi buruk yang di alami fir'aun adalah satu Instrumen kecil yang di gunakan Allah untuk mempermainkan Keangkuhan Fir'aun.

Dalam keadaan Cemas, akan kenyataan Mimpi seorang bayi yang kelak menumbangkan kekuasannya. Justru, bayi yang di cari Fir'aun, datang ke istana. "wa auhainaaa ilaaa ummi muusaaa an ardhi'iih, fa izaa khifti 'alaihi fa alqiihi fil-yammi wa laa takhoofii wa laa tahzanii, innaa rooodduuhu ilaiki wa jaa'iluuhu minal-mursaliin - Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, "Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang Rasul". (QS. Al-Qasas 28:7)

Pertanyannya, berapa lama rentan waktu yang berlansung, sejak Isu kelahiran Nabi Musa sampai dia kembali kepada ibunya?. Selain itu, mengapa Fir'aun yang telah membunuh ratusan ribu Bayi, tetapi memperkecualikan Nabi Musa?. Instrumen apa yang digunakan Allah untuk memperkecualikan Nabi Musa?.  

"faltaqothohuuu aalu fir'auna liyakuuna lahum 'aduwwaw wa hazanaa, inna fir'auna wa haamaana wa junuudahumaa kaanuu khoothi-iin - Maka dia dipungut oleh keluarga Fir'aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir'aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah". (QS. Al-Qasas 28: 8)

"wa qoolatimro-atu fir'auna qurrotu 'ainil lii wa lak, laa taqtuluuhu 'asaaa ay yangfa'anaaa au nattakhizahuu waladaw wa hum laa yasy'uruun - Dan istri Fir'aun berkata, "(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak," sedang mereka tidak menyadari". (QS. Al-Qasas 28: 9).

Pertama Allah hanya mempermainkan Instrumen kecil di pikiran (membrief) Fir'aun dengan Mimpi tentang seorang yang lahir dan akan menumbangkan kekuasannya. Akibat, informasi tersebut Fir'aun menjadi paranoid sepanjang hidupnya, menjadi tidak tenang. Kedua, Musa (bayi) masuk ke istana setelah di hanyutkan Ibunya. Fir'aun hendak membunuh Musa Juga, tetapi takluk dengan satu Instrumen yang sangat halus yang bernama Emosi perempuan (Istrinya). Maka, berhati-hatilah dengan Emosi perempuan. Sebab, ia bisa mengubah jalannya sejarah. Dan ketiga, instrumen Biologis - begitu bayi (musa) mau di susui  tidak ada satu pun susu yang cocok di seluruh Istana, "wa harromnaa 'alaihil-maroodhi'a ming qoblu fa qoolat hal adullukum 'alaaa ahli baitiy yakfuluunahuu lakum wa hum lahuu naashihuun - dan Kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah dia (saudaranya Musa), "Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?. (QS. Al-Qasas 28: 12)

Bayangkan, Cara Allah mendidik kita dari Cerita Fir'aun di dalam Al Qur'an ini. Musa Di lahirkan, lalu di buang ke sungai, masuk ke istana, terjadi perdebatan di dalam Istana dan Ternyata kembali juga ke ibunya. Lalu, Nabi Musa menjadi Bahagian dari  Istana dalam waktu yabg sangat lama, yaitu 40 tahun.

Dari Kisah - Kisah diatas, mengajarkan kepada kita, bahwa jangan menggunakan Power terlalu banyak, apalagi dalam sistem Demokrasi. Selain itu juga, kita belajar satu hal, dari sejak pertarungan Nabi-Nabi dan raja-raja, mengapa agama di identifikasi menjadi Musuh negara?. Karena, Raja-Raja yang memusuhi Nabi-Nabi hendak mengambil alih otoritas agama, "wa qoola fir'aunu yaaa ayyuhal-mala-u maa 'alimtu lakum min ilaahin ghoirii, fa auqid lii yaa haamaanu 'alath-thiini faj'al lii shorhal la'alliii aththoli'u ilaaa ilaahi muusaa wa innii la-azhunnuhuu minal-kaazibiin - Dan Fir'aun berkata, "Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarkanlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa dia termasuk pendusta". (QS. Al-Qasas 28: 38).

"wastakbaro huwa wa junuuduhuu fil-ardhi bighoiril-haqqi wa zhonnuuu annahum ilainaa laa yurja'uun - Dan dia (Fir'aun) dan bala tentaranya berlaku sombong di bumi tanpa alasan yang benar, dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami". (QS. Al-Qasas 28: 39)

Artinya, ketika Raja memusuhi Nabi, ia kemudian mengindentifikasi, bahwa otoritas agama pun ingin di ambil oleh raja. Karena itu, ia memusuhi agama. Kita semua yang mewarisi hal itu, harus tahu betul, bahwa Konflik agama dan Negara berakar pada cerita yang saya Nukil diatas. Mengapa?. Karena akan muncul sebab kedua. kenapa orang menjadi tidak beragama?. Kalau para elit atau Raja tidak beragama, akibat keangkuhan yang dia miliki ; Harta, Kekuasaan dan Ilmu. Maka, kepada orang awam - rakyat Jelata. Sebab, mereka tidak beragama, karena ketakutan. Ketakutan yang ciptakan oleh para elit atau Raja.

Di titik itulah kita butuh demokrasi. Demokrasi bukan membuat kita mengislamkan atau memaksa orang untuk menjadi muslim. Tetapi, kita ingin menghilangkan kendala orang beragama, yang bernama ketakutan. Makanya, dalam syariat Jihad, begitu salah satu negara di bebaskan, orang tidak di paksa masuk Islam. Justru, di biarkan. Orang akan marah dan memusuhi, karena mereka menjadi kendala bagi orang untuk beragama.

Coba lihat di negara kita, sejak kapan Fenomena Jilbab ini merata?. Dulu, tidak ada perempuan indonesia yang memakai Jilbab. Sekarang, hampir rata orang-orang mengenakan Jilbab. Karena dulu pernah ada negara yang mempersepsi agama sebagai Musuhnya dan orang menjadi takut. Akibat takut, fitrahnya menjadi tertekan.

Jika negara memiliki ideologi, tetapi tidak mampu mentolerir orang dengan ideologinya, biasanya dia cenderung menggunakan powernya lebih banyak. Begitu dia menggunakan powernya lebih banyak, artinya dia kehilangan kendali.

Kita membutuhkan satu cara baru, terutama dalam sistem demokrasi. Karena fakta terpenting dalam demokrasi adalah Perbedaan dan semakin kita tidak kuat menghadapi perbedaan, maka kita cenderung menggunakan kekuasaan. Begitu kita mulai lebih banyak menggunakan Kekuasaan. Maka, kita mulai kehilanga kendali ; Kita sudah mulai tidak rasional, tidak tahu cara mengontrol situasi.

Mengelola negara itu pada akhirnya adalah Manajemen Life dan hal itu menandakan bahwa yang Kita kelola adalah Manusia - Manajemen people. Jika kita menyadari sedang mengelola Manusia, yang pertama harus di kelola adalah Manajemen Ide - Pikiran. Baru yang kedua, manajemen interest - mengelola kepentingan.

Kalau tiga pelajaran ini bisa kita ambil ; Pertama, Pengetahuan dan Kekuatan. Kedua, membawa solusi, agar kita Kokoh. Ketiga, Jangan Pernah menggnaakan Kekuatan terlalu banyak. Maka, kita akan menjadi Bangsa yang benar-benar majemuk dan berkeadaban. 


*Rst

*Pejalan sunyi

*Pustaka hayat

*Nalar pinggiran











Rabu, 02 Agustus 2023

KEKUASAAN YANG DEFISIT AKAL SEHAT

Beberapa waktu lalu, merebak Isu People power. hal itu, dianggap makar. People power itu mimbarnya adalah jalanan. sedangkan, Kudeta arenanya adalah Kerahasiaan, kebusukan dan kelicikan. Lihat saja liciknya " Azisi" mengkudeta "Moorsi" yang dipilih secara demokratis oleh rakyat Mesir. 

Jika kita tenang dalam membaca sejarah, justru kejadian people power banyak mengagalkan kudeta. seperti, yang terjadi di Turki tahun 2016.

People power itu tidak melulu rakyat berhadapan-hadapan dengan pemerintah. bisa lebih luas dari itu. Itulah sebabnya, revolusi prancis tahun 1789 M dianggap sebagai People Power.

People power itu adalah agenda Rakyat yang sangat Konsitusional. Mereka berkumpul, lalu melakukan perlawanan dan memiliki keinginan yang seragam, yaitu perubahan sesuai konsitusi. Sedangkan, Kudeta justru melanggar hukum, bahkan kudeta militer tidak segan-segan menumpahkan darah dan memakan korban.

Alas pijak people power adalah Rakyat. sedangkan, Kudeta adalah pada para segelintir Figur dengan Posisi steategis di dalam kekuasaan. Jadi, jika rezim ini mengatakan people power adalah gerakan makar. maka, sangatlah jelas bahwa rezim ini sangat krisis pengetahuan sejarah dan Hukum.

Saya justu melihat ada Fasisme yang merayap, secara perlahan mendekati pemerintahan bangsa ini. Sebab, Paranoid terhadap rakyat adalah perilaku Hitler dengan Fasisnya. Sebagaimana yang saya sampaikkan diatas.

Belum selesai dengan itu, merebak juga soal pembatasan ruang-ruang Informasi kepada Rakyat. Padahal, Hak atas informasi diatur dalam Pasal 19 Declarations of Human rights dan Internasional Of convenant on civil and political rights. Dalam UU No 14 Tahun 2014 tentang keterbukaan Informasi publik, juga mewajibkan publik berhak mengakses informasi apapun.

Dengan membatasi publik mengakses informasi dari badan informasi apapun, termasuk dari Citizen Jurnalisme. maka, sesuai dengan declarations of human rights, yang dilakukan oleh Mengkopulhukam Wiranto, beberapa waktu lalu, merupakan pelanggaran HAM.

Di sebuah negara demokrasi terbesar ketiga didunia, pemerintah menutup frekuensi informasi dan memaksa publik menerima mentah-mentah informasi yang dibikin negara (pemerintah). 

Mestinya, pada saat Pandemi. Negara, tidak boleh membatasi akses informasi publik. Agar rakyat tidak panik. berikanlah informasi yang sebenarnya, disertai langkah-langkah yang antisipatif. Bukan sebaliknya, sebab Negara bertanggung jawab untuk memberikan informasi yang memang menjadi hak publik untuk tahu.

Bagaimana rakyat mau antisipatif, jika, penyelenggara tidak jujur. Rakyat sudah terlanjur mencium bau kentut dimana-mana. Tetapi tidak diberitahu siapa yang kentut, dimana?, berapa orang?. Inilah yang justru menimbulkan kepanikan yang berlipat-lipat. Sebaiknya jujur saja, ajak rakyat gotong royong melawan wabah. Karena pada informasi yang benarlah, rakyat dapat belajar. Hak atas informasi adalah hak warga negara. Ia tak boleh dirampas oleh siapapun, juga oleh figur publik.

Memberikan informasi justru mengabarkan hal-hal yang benar sesuai fakta, bukan justru mengaburkan fakta-fakta lapangan. Apalagi dengan alasan yang tidak masuk akal.

Dimasa-masa sulit ini, pemimpin tidak boleh berbelit-belit alias Planga plongo. Apalagi mempersulit warga negara. berikanlah informasi yang sebenarnya, tunjukan kehadiran di tengah rasa resah publik, agar solidaritas publik bangkit serentak. Kita bisa keluar dari zona ini, asal rakyat jangan di biarkan kerja sendiri. kita harus kerja sama-sama.

Setali tiga uang dengan Pelabelan Gerakan Makar. Yang paling santer di lekatkan pada kita yang menyampaikkan argumentasi berbeda, belakangan ini adalah Radikalisme. Seolah negara telah kehilangan kosa kata, sehingga semua yang berbeda dengan narasi yang dibangun negara adalah radikal. Apalagi yang menyatakan argumen berbeda tersebut adalah ummat islam.

Radikalisme itu suatu infiltrasi semiotik politik konspirasi. Yang Di gunakan untuk memberangus revivalisme Islam.

Jika dipaksa-gunakan tanpa filter dan di sasarkan pada kelompok tertentu saja. Justru, akan membentuk kekerasaan baru. Kekerasan semiotik, namanya. Bahkan, bila terlalu sering diucapkan atau dihegemoni oleh negara. Maka, negara telah melakukan kekerasan simbolik yang dimaksud. Sebagaimana, watak negara yang represif.

Saya melihat, banyak instrumen negara itu cuman latah. Mereka memanfaatkan negara menghegemoni simbol dan semiotik Dan itu lebih jahat dari Fasis dan Radikalisme.

Misalnya, Radikalisme dalam klaim pemahaman Pancasila. justru, menjadi patologi baru dalam kehidupan berbangsa.

kacaunya lagi, penafsiran terhadap Pancasila. semakin mengkanalisasi masyarakat dalam lokus-lokus sosial yang amat sektarian Dan negara seakan melakukan pembiaran terhadap Kehancuran nilai demikian. justru, dianggap normalisasi ideologi Pancasila. (Berkaitan dengan ini, Insya Allah saya Tulis dibagian tersendiri).

Misalnya, penolakan tentang RUU Omnibus Law, yang juga beberapa waktu lalu menjadi head line. "Revrisond Baswir" mendefenisikan Neoliberalisasi adalah penjongosan negara oleh para pemodal. Neolib ingin mengubah negara menjadi budak kepetingan pemodal.

Secara Konsepsi, Neolib itu sebenarnya Positif, lahir di jerman, oleh aliran Freiberg, sebagai kritik atas Konsep Liberalisme klasik. Neolib menolak pasar bebas dan menekankan konsep humanistik. "Wilhelm Ropke" bahkan menyebut liberalisme itu adalah kejahatan sosial peradaban.

Jika ada kesalapaham soal Neolib. maka, ada pula kesalapahaman soal Neo-Marxis. Pelopornya adalah "Asghar Ali Eingineering"(Penulis buku Islam dan pembebasan). Katanya, janganlah terlalu mengikuti Marxisme ortodoks yang mengesampingkan agama. Perlu mengembangkan metodelogi Religi-kultural dan ekonomi yang menyeluruh, berakar pada etos masyarakat setempat. Nah, kita ini apa akarnya?. Pancasila?.

Menariknya adalah pendapat sejarawan "On Hok Ham", ia bertutur Pancasila itu bukanlah falsafah atau ideologi. Pancasila adalah dokumen politik dalam proses pembentukan negara baru. Jika kita sepakat dengan pendapat ini. maka, akan semakin kacau, bukan?.

Sekarang, arah omnibus law ini kemana?. Mengafirmasi atau menegasikan pancasila?. Ini mesti didialektikan dan diskusikan di kampus-kampus atau lebih bagus di kantong-kantong aktivis.

Kaum borjuis itu, sejarahnya lahir dari reruntuhan masyarakat Feodal. tumbuh dewasa memberontak terhadap feodalisme. bangkit menjadi kelas penguasa yang baru. Tetapi, pada saat yang sama, kelas borjuis ini justru menciptakan kelas yang menjadi penggali kuburnya sendiri, yakni kelas buruh. Negara harus berhati-hati. Sebab, ketidakadilan soal pengupahan akan berdampak serius pada stabilitas negara. 

Salah satunya ialah Soal Aturan upah Perjam yang masuk RUU Cilaka, bahwa Upah buruh dibayar perjam, ini jelas kebodohan Negara, alias defesit Akal sehat. "Mark Cuban", milyader AS bertutur, "Jika seseorang dibayar berdasarkan kerja yang mereka lakukan setiap hari. maka, mereka akan selalu tertinggal dan kesenjangan pendapatan akan terus melebar". sedangkan, Kita malah mau menghisap. padahal, ada Keadilan sosial, di Sila ke 5 pancasila.

Sampailah kita, pada sebuah Konklusi, bahwa sejarah panjang manusia tetaplah sejarah perjuangan Kelas. Jika dalam sistem perbudakan: ada kelas pemilik budak dan budak. Dalam Sistem Feodalisme : ada Tuan pemilik tanah dan ada Petani. Dalam Sistem Kapitalisme : ada borjuis atau Pemilik alat produksi dan ada buruh.

jika dilihat sprit presiden Jokowi, terhadap Omnibus Law ini. Ia menampung ketigannya.

Dulu, rezim Fasis Italia juga melakukan propaganda secara besar-besaran. agar, Rakyat umum bersatu dan patuh terhadap apa yang keluar dari mulut Mussolini.

Untuk meloloskam agendanya, 1935 dibentuk kementerian khusus propaganda dengan tujuan khusus, untuk menyampaikan kebenaran Fasisme dan menolak semua informasi yang datang dari musuh.

Hampir persis apa yang dilakukan Presiden Jokowi terhadap RUU Omnibus Law. dia perintahkan BIN, Polisi dan kementerian terkait berperan mendekati dan meredam protes masyarakat atas Soal ini. Publik, mestinya Curiga apa agenda besar dibalik RUU ini?. Sampai-sampai ketua DPR pun, tidak tahu menahu siapa penyusun Naskah akademiknya. Jangan sampai Harun Masiku, penyusunnya?.

Pemerintah dalam poin-poin propaganda yang disampaikkan pada publik, dapat disimpulkan bahwa RUU Omnibus law adalah RUU "Cilaka" yang ingin menyederhakan aturan agar investasi lebih mudah. Padahal jika kita membacanya dengan Cermat, RUU Omnibus Law sedang memindahkan kewenangan Legislasi dari DPR ketangan Presiden. Ini perampokan demokrasi.

Nah, inilah yang saya maksud bahwa kekuasaan ini telah benar-benar Defisit akal sehat. Tidak bisa dibiarkan berjalan tanpa Fungsi kontrol. Tetapi, kita dianggap makar dan Radikal.

Jika ada kebodohan. lalu, ia nampak serupa kebaikan, karena banyak mendapat tepuk tangan pembelaan. Tidak serta merta mengubah kebaikan. ia, tetaplah sebuah kebodohan. Tidak usah tersinggung. sebab, saya tidak menunjuk jari.

Implikasi dari kekuasaan yang baik ialah kebaikkan itu tampak kasat mata. tidak perlu bertepuk tangan dibelakang pantat kebodohan. Sebaliknya, apabila kekuasaan itu merusak. ia, pun akan nampak kasat mata sebagai kebaikkan karena kekuasaan memiliki Instrumen untuk membela dirinya. Disitulah pentingnya oposisi (Kelompok Pendobrak).

Jika kita sudah beranggapan kritik atau oposisi adalah upaya makar dan radikalisasi. itu Fatal, dan memantik bencana. Dan pertanda baik, bagi kekuasaan yang timpang.

Dalam sistem presidensial, menggaji seorang anggota DPR dan DPD sama dengan membayar pengkritik (oposisi), untuk mengontrol pemerintahan. Ituah sebabnya, dibeberapa negara yang menerapkan sistem Parlementer. partai non pemerintahnya, dibiayai lebih dari partai pemerintah (Rulling party), namanya


Karena, jika semakin kuat kritikan oposisi. maka, semakin baik kerja partai pemerintahan. Orang yang mengkritik pemerintahan pahalanya jauh lebih besar. Sebab, ia mencintai tanpa menerima serta merta Dan ia tergantung pada yang dicintainya: peka atau bebal.

Dulu, dizaman Yunani. ada seorang raja, yang dianggap bijaksana. karena, setiap malam Si Raja Mengundang Rakyatnya untuk tidur diranjang Emasnya.

Malamnya, si Raja mengintip dan melihat. Jika tubuh rakyatnya lebih panjang dari Ranjangnya. maka, Kaki Rakyatnya akan dipotong. Jika kaki Rakyatnya, lebih pendek dari ranjangnya. maka, kaki rakyatnya akan ditarik, Agar Pas dengan panjang Ranjang raja. Jadi, Raja itu melayani Publik. Tetapi, dengan ukurannya sendiri. Kebenaran semacan itu adalah gejala awal otoritarianisme.

Apakah kita ingin bangsa ini bertumbuh ke arah itu?.

Jika tidak, maka Gairah pemasungan Nalar Kritis. jangan, diumpan dengan kemewahan demokrasi dengan pengendalian negara. Maka, Menyumbanglah pada demokrasi. dengan cara, menghormati perbedaan. Itu sudah lebih dari cukup.

(3)

*Pustaka Hayat
*Pejalan Sunyi
*Rst
*Nalar Pinggiran


JANGAN NYALAKAN API ORDE BARU

 

Dalam negara demokrasi, rakyat boleh meragukan pemerintah bahkan menghina kalau marah. Oleh karena itu, jangan bawa orang ke penjara. Jawab saja keraguan dan kritikan Publik. Bukankah itu tugas rutinitas negara?. Jika tidak tahan dengan kompleksitas problem bangsa ini, keluar saja dari gelanggang ini.

justru, kita harus khawatir. jika tidak ada suara, senyap dan saban hari memuji julang eksekutif (kekuasaan). Sebab, Diam adalah tanda persekongkolan, dan kita (Rakyat) yang di rugikan.

Mestinya kita memberikan credit poin dan 2 jempol kepada para Demonstran. berkat mereka bersuara. alaram demokrasi menyala kembali. Sekalipun, dengan cara zamannya. Dan juga memang jalanan adalah satu dari sekian mimbar Kritisisme didengungkan, sudah dari dulu itu berlansung. bahkan dalam teori perubahan sosial Moderen, demonstrasi punya kekuatan dalam mempengaruhi berbagai kebijakan.

Namun, disaat yang sama, ada gelombang ketakutan yang merayap secara perlahan-lahan. Setelah kita menyaksikan Banyaknya darah yang membumi, aparat keamanan yang kehilangan jati diri sebagai pengayom.  air mata kegetiran yang pecah bak tanggul yang jebol. medsos diintip dan intai. ruang Jurnalis dipasung, orang-orang yang bicara mulai hilang satu demi satu. Apa itu tidak cukup bahwa kita sebenarnya hendak menarik mundur langkah kaki kita, setelah 20 tahun lebih, kita berjalan kedepan. 

Harusnya Kita telah meremaja dalam bernegara dan perlu meremajakannya secara simultan. 

Negara memang punya kekuatan memaksa pada rakyatnya dengan menggunakan instrumen-instrumen keamanan negara. cuman, ini alam Demokrasi, jangan nyalakan lagi alaram Otoritarianisme itu kembali. Harus berapa banyak lagi yang jatuh tersungkur ditanah aku. Meranggas, membiru disekujur tubuh. 

Olehnya, Jangalah paranoid terhadap Rakyat sendiri.  Paranoid itu sikap Hitler dan Fasisnya. Ini Bumi Indonesia. persatuan itu adalah alat keamanan negara sedangkan perbedaan (apapun itu) adalah dasar hidup warga negara.

Saking berbahayanya otoritasrianisme. Saya pernah membaca sebuah kisah. Kisah imajiner dalam sebuah artikel, yang terbit sekitar tahun 1999, kalau tidak salah. Artikel disebuah koran Nasional. saya dapat dari tumpukan kliping-kliping bapak saya. sebab, dulu Bapak saya bekerja diHarian Pedoman Rakyat, kantor media cetak, (koran) yang terbilang Tua diIndonesia Timur. So, berdirinya dua tahun setelah bangsa ini merdeka. Penulis artikel itu ialah Jalaluddin Rahkmat. Pakar Ilmu Komunikasi ternama.

Kisah Imajiner itu diawal masa Orde baru, kira-kira begini Kisahnya ; Disebuah tempat dipedalaman Aceh, ketika DOM ( Daerah Operasi Miter) masih diberlakukan. Ada sebuah gubuk kecil yang dihuni satu keluarga. Mereka adalah sebuah keluarga yang mengungsi ke tengah Hutan karena tidak sanggup menghadapi konflik bersenjata GAM Vs TNI. Kedamaiaan seakan-akan menjadi barang langka. Sesuatu diimpikan. Ketakutan selalu menghantui. 

Makan malam itu mereka berkumpul. Mereka, makan bersama. sambil berbincang dan bercanda ria. Suasana terasa hangat dan lepas penuh kekeluargaan. Gelak tawa membahana. Tetiba, terdengar suara ketukan. Suasana berubah menjadi muram. dari raut mukanya. sang ayah, sangat takut. Putih pasi rona rupa mukanya.

Disuruhlah salah satu diantara anaknya untuk melihat dan membukakan pintu. Si anak kemudian pergi ke arah pintu, sebagaimana yang diminta oleh ayahnya. Sementara, sang ayah dan anggota keluarga yang lainnya menanti dan berharap-harap cemas. Beberapa saat kemudian, sang anak yang disuruh membukakan pintu tadi mendatangi ayahnya, masih dengan raut muka takut. 

Sang ayah bertanya, "siapa yang mengetuk pintu tadi?". Si anak menjawab, malaikat maut, yah. Ia ingin bertemu ayah.!

Spontan sang ayah, menjawab ; "Alhamdulillah, ayah pikir yang datang itu tentara".

Dulu, sebuah rezim mengkoordinasikan tentara dan semua yang berhubungan dengan militerisme, begitu ditakuti. Dua dekade terakhir militer dan militerisme sudah bisa "meramahkan" diri dengan publik. Dengan Rakyat. Rakyat pun girang hati memandang Militer. tidak angker dan tidak menakutkan lagi.

Setiap era selalu ada sesuatu yang terkesan "diangkerkan". Orang takut menyentuhnya. Takut menyinggung kelompok tersebut, apalagi berurusan dengan kelompok tersebut.  

" siapakah kelompok masyarakat itu sekarang?". Entahlah, Terserah pembaca yang budiman saja. 


(2)

*Pustaka Hayat
*Pejalan sunyi
*Rst
*Nalar Pinggiran