Dalam negara demokrasi, rakyat boleh meragukan pemerintah bahkan menghina kalau marah. Oleh karena itu, jangan bawa orang ke penjara. Jawab saja keraguan dan kritikan Publik. Bukankah itu tugas rutinitas negara?. Jika tidak tahan dengan kompleksitas problem bangsa ini, keluar saja dari gelanggang ini.
justru, kita harus khawatir. jika tidak ada suara, senyap dan saban hari memuji julang eksekutif (kekuasaan). Sebab, Diam adalah tanda persekongkolan, dan kita (Rakyat) yang di rugikan.
Mestinya kita memberikan credit poin dan 2 jempol kepada para Demonstran. berkat mereka bersuara. alaram demokrasi menyala kembali. Sekalipun, dengan cara zamannya. Dan juga memang jalanan adalah satu dari sekian mimbar Kritisisme didengungkan, sudah dari dulu itu berlansung. bahkan dalam teori perubahan sosial Moderen, demonstrasi punya kekuatan dalam mempengaruhi berbagai kebijakan.
Namun, disaat yang sama, ada gelombang ketakutan yang merayap secara perlahan-lahan. Setelah kita menyaksikan Banyaknya darah yang membumi, aparat keamanan yang kehilangan jati diri sebagai pengayom. air mata kegetiran yang pecah bak tanggul yang jebol. medsos diintip dan intai. ruang Jurnalis dipasung, orang-orang yang bicara mulai hilang satu demi satu. Apa itu tidak cukup bahwa kita sebenarnya hendak menarik mundur langkah kaki kita, setelah 20 tahun lebih, kita berjalan kedepan.
Harusnya Kita telah meremaja dalam bernegara dan perlu meremajakannya secara simultan.
Negara memang punya kekuatan memaksa pada rakyatnya dengan menggunakan instrumen-instrumen keamanan negara. cuman, ini alam Demokrasi, jangan nyalakan lagi alaram Otoritarianisme itu kembali. Harus berapa banyak lagi yang jatuh tersungkur ditanah aku. Meranggas, membiru disekujur tubuh.
Olehnya, Jangalah paranoid terhadap Rakyat sendiri. Paranoid itu sikap Hitler dan Fasisnya. Ini Bumi Indonesia. persatuan itu adalah alat keamanan negara sedangkan perbedaan (apapun itu) adalah dasar hidup warga negara.
Saking berbahayanya otoritasrianisme. Saya pernah membaca sebuah kisah. Kisah imajiner dalam sebuah artikel, yang terbit sekitar tahun 1999, kalau tidak salah. Artikel disebuah koran Nasional. saya dapat dari tumpukan kliping-kliping bapak saya. sebab, dulu Bapak saya bekerja diHarian Pedoman Rakyat, kantor media cetak, (koran) yang terbilang Tua diIndonesia Timur. So, berdirinya dua tahun setelah bangsa ini merdeka. Penulis artikel itu ialah Jalaluddin Rahkmat. Pakar Ilmu Komunikasi ternama.
Kisah Imajiner itu diawal masa Orde baru, kira-kira begini Kisahnya ; Disebuah tempat dipedalaman Aceh, ketika DOM ( Daerah Operasi Miter) masih diberlakukan. Ada sebuah gubuk kecil yang dihuni satu keluarga. Mereka adalah sebuah keluarga yang mengungsi ke tengah Hutan karena tidak sanggup menghadapi konflik bersenjata GAM Vs TNI. Kedamaiaan seakan-akan menjadi barang langka. Sesuatu diimpikan. Ketakutan selalu menghantui.
Makan malam itu mereka berkumpul. Mereka, makan bersama. sambil berbincang dan bercanda ria. Suasana terasa hangat dan lepas penuh kekeluargaan. Gelak tawa membahana. Tetiba, terdengar suara ketukan. Suasana berubah menjadi muram. dari raut mukanya. sang ayah, sangat takut. Putih pasi rona rupa mukanya.
Disuruhlah salah satu diantara anaknya untuk melihat dan membukakan pintu. Si anak kemudian pergi ke arah pintu, sebagaimana yang diminta oleh ayahnya. Sementara, sang ayah dan anggota keluarga yang lainnya menanti dan berharap-harap cemas. Beberapa saat kemudian, sang anak yang disuruh membukakan pintu tadi mendatangi ayahnya, masih dengan raut muka takut.
Sang ayah bertanya, "siapa yang mengetuk pintu tadi?". Si anak menjawab, malaikat maut, yah. Ia ingin bertemu ayah.!
Spontan sang ayah, menjawab ; "Alhamdulillah, ayah pikir yang datang itu tentara".
Dulu, sebuah rezim mengkoordinasikan tentara dan semua yang berhubungan dengan militerisme, begitu ditakuti. Dua dekade terakhir militer dan militerisme sudah bisa "meramahkan" diri dengan publik. Dengan Rakyat. Rakyat pun girang hati memandang Militer. tidak angker dan tidak menakutkan lagi.
Setiap era selalu ada sesuatu yang terkesan "diangkerkan". Orang takut menyentuhnya. Takut menyinggung kelompok tersebut, apalagi berurusan dengan kelompok tersebut.
" siapakah kelompok masyarakat itu sekarang?". Entahlah, Terserah pembaca yang budiman saja.
(2)
*Pustaka Hayat
*Pejalan sunyi
*Rst
*Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar