Mengenai Saya

Selasa, 11 Februari 2025

-SUDAHI GELISAHMU, BANYAK YANG LEBIH SUSAH. TETAPI, TIDAK SEBERISIK KAMU-

Buat Apa Mengkhawatirkan Masa Depan?. Bukankah, Hari ini pun adalah Hari Yang Kita Khawatirkan kemarin. 

Gelisah itu tidak merubah Hasil. Marah-marah, tidak menyelesaikan persoalan, menvonis diri pun tidak menghentikan Takdir yang sedang berlansung. 

Tenang dan damaikan dulu hati kita, kata Allah. "Asyaa antakrauhu syai'an wahuwa khoirul lakum - Boleh jadi di balik sesuatu yang engkau tidak sukai tersebut, ada sesuatu yang baik bagimu yang belum kita ketahui". "Wa asya an tuhibbu Syai'a wahuwa Syahrul lakum - dan boleh jadi di balik sesuatu yang kita idam - idamkan / inginkan, terdapat sesuatu yang kurang cocok dengan kita, yang belum juga kita ketahui. 

Logikanya apa?.  "Wallahu ya'lamu wa antum la ta'lamun - karena Allah lebih tahu masa depan, lebih komperhensif pengetahuanNya, sedangkan kita terbatas pengetahuan kita".

Saat kita Di minta untuk sholat, Kalimat pertamanyaa bukan di sebut Ibadahnya. Kata Allah, Kamu punya masalah apa, sedang butuh apa?. Terdapat pada Al Q.S. 2 : 45 - 46, " wassta'inu bis sobri wa sholat - Hai Hambaku, jika kalian punya persoalan di dalam kehidupan. Maka, minta solusinya kepadaku. Bukan Up date Status 😄.

Caranya bagaimana?. Pertama, Bis sobri - Sabar. Terima dulu persoalan itu , jangan mengeluh. Setelah itu, kaidah lain muncul, mustahil Allah menitipkan masalah, kalau kita tidak mampu mengatasinya. Terdapat, Q.S. 2 : 286, "La Yukallifu nafsan illa Wus aha - Allah tidak mungkin menguji seorang Hamba di luar batas kemampuannya". 

Artinya, jika kita sedang menghadapi problem atau beban apapun itu. Dalam kaidah Qur'an, memang hanya kita yang sanggup menghadapi itu dan orang lain tidak. 

Barulah setelah itu datang perintah untuk tunaikan sholat. Betapa Indahnya kalimat Allah. Ia menempatkan sholatnya di bagian kedua. Setelah Tahu masalah hambanya. 

Makanya kerap kali kita dengar orang berdoa seperti ini, "Ya Allah Ringankan Beban hidupku ini". 

Doa ini benar, tidak salah. Hanya saja, kalau kita mengukurnya secara ekonomis. Kalau orang tersebut mengatakan ringankan bebanku, ibaratnya orang tersebut sedang memikul 50 kg dan meminta untuk di kurangi menjadi 25 kg. Tentu, perolehannya pun akan berkurang. 

Doa yang lebih tepatnya adalah "Ya Allah, Tambahkan kekuatan pada hidupku, sehingga aku sanggup menyanggah amanah- amanah yang membebani pundakKu". Kalau perlu doa yang menantang, "Cuman begini Ya Allah, cuman Kesengsaraan seperti ini. Ayo Ya Allah, Tambahkan Penderitaan : Duka dan Lara.  Supaya saya bisa lebih kuat lagi, Ayo Ya Allah 😉😄. Pasti Kita Tidak berani?. 

Ihwal sebabnya, Ada amalan Yang lebih Dahsyat dari Jihad, lebih hebat dari Haji Mabrur, Puasa Sunnah dan Membangun Masjid, yaitu Ridho Pada Takdir Allah. 

Apapun keadaan kita, bagaimanapun tragisnya. Yakinlah, rahmat Allah akan sampai kepada kita. Sebab, yang membuat kita bisa bertahan dalam menghadapi berbagai badai hidup ini, bukanlah usaha kita semata. Tetapi, pertolongan dan cinta Allah kepada kita. sebab, ancaman bagi mereka tidak ridho pada Qodha dan Qodhar Allah, Tidak main-main, "Silahkan carilah Tuhan Lain selain Aku dan Jangan Hidup di bumiKu". 

Lakekomae - Mau kemana kita?. 

Jika air seteguk dapat Menghilangkan kita dari rasa Haus. Mengapa kita terus meminta air yang banyak, yang barangkali dapat membuat kita tenggelam. 

Belajarlah untuk mengenal Rasa cukup dan Rasa syukur. Sebab, Bukan takdir Allah yang sulit. Tetapi keinginan kita yang telalu rumit. Yah, memang rasa cukup dan syukur adalah aktivitas yang jarang di lakoni oleh mereka yang gemar mengeluh, Serakah dan Eksploitatif. 

Padahal, terlalu banyak keinginan justru menyiksa diri.  Semua peristiwa yang kita jalani ini. Jika tidak menjadi Nikmat, mestinya menjadi pelajaran. Setiap orang yang kita temui pun, jika tidak menjadi nikmat. Mestinya menjadi pelajaran. Tidak ada takdir Allah yang Iseng. Susah dan senang, Duka dan bahagia : Ada waktunya, ada maksudnya dan ada tujuannya. Tuhan yang kita hujani dengan prasangka buruk atas berbagai badai hidup yang kita alami adalah Tuhan yang sama yang menjaga jantung kita tetap Berdetak.

Sebagai Manusia, saya kerap susah. Tetapi, saya memaksa untuk menghilangkan Rasa susah, dan melatih diri untuk senang, ceria dan bahagia.

Mengapa orang kerap Mengeluh dan menggugat Tuhan?. Karena Ia sering melihat kehidupan lahiriah orang lain secara berlebihan, yang punya nikmat lebih tinggi darinya. Sementara di saat yang bersamaan, ia tidak bisa mengelola hatinya. Selain, berpotensi tak ridho Pada Qodho dan Qodhar Allah. juga dapat menimbulkan penyakit Hasad, Tamak dan dengki. 

Kita harus berani membatasi mata kita untuk melihat hal - hal yg berpotensi membuat kita tidak bersyukur. Karena, sangat bodoh kita ini, jika untuk bersyukur saja, harus banyak syarat dan butuh berbagai defenisi.

Di situlah Pentingnya Ilmu, agar menuntun paradigma kita ke arah yg benar. sehingga kita santai dan Rileks saja menyikapi persoalan hidup. Sebab, semua kenikmatan dan kesusahan datangnya dari Allah. 

Selain itu, salah Satu ibadah yang membuat SETAN itu Jengkel, yaitu Bahagia dan Ceria. Sebab, Orang Mukmin yang bahagia, ia tidak akan menggugat Tuhan. 

Konon, Para penghuni Surga itu penuh suka cita dan wajahnya ceria. Makanya latihan di dunia ini harus ceria. Boleh susah, mengeluh dan berharap, tapi sekedarnya saja. Sebab, urusan dunia itu Longgar ; Kalau tidak berhasil sekarang, mungkin besok. Kalau tidak berhasil besok, mungkin besoknya besok. Begitu seterusnya selama masih ada hidup. Sedangkan urusan akhirat, bayangkan kalau besok kita Mati. 

Sejak Dulu Islam Menyarankan agar hidup sederhana. Sebab, Sebaik-baiknya seorang Muslim adalah meninggalkan sesuatu yang tidak penting". 

Imam Nawawi, di andaikkan para Muridnya sebagai Orang yang tingkat Zuhudnya sangat dekat dengan Allah. Karena, "la ya'qul muddata hayatihi illa udhu min wahid - Sepanjang hidupnya, ketika ia makan lauknya hanya satu". 

Misalnya, ada lauk ayam, tempe, tahu, telur, daging. Maka, Imam Nawawi hanya mengambil satu. Sementara kita, terbalik - kalau bisa semua. Kenapa tidak?. 

Ketika Ia tanya, mengapa demikian?. Jawabannya, "Ketika orang sudah bisa zuhud untuk tidak berlebihan pada sesuatu yg halal. Maka, insya Allah dia akan selamat dari sesuatu yg subhat dan ketika orang bisa selamat dari sesuatu yang subhat. maka dia akan selamat dari sesuatu yang haram. 

Mengapa?. orang kalau sudah terbiasa berlebihan pada sesuatu yang halal. biasanya akan berani pada sesuatu yang subhat dan kalau sudah berani pada sesuatu yang subhat, biasanya akan berani juga pada sesuatu yang Haram. 

Tuhan yang kita hujani dengan prasangka buruk atas berbagai badai hidup yang kita alami adalah Tuhan yang sama yang menjaga jantung kita tetap Berdetak.


#Rst

#NalarPinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar