Mengenai Saya

Kamis, 22 September 2022

UMAR BIN ABDUL AZIS, SANG KHALIFAH YANG ZUHUD

Saat Umar Bin Abdul Azis Menjadi Khalifah, Ia di belikan baju seharga 6 dirham. Setelah di belikan, Umar memegang baju tersebut dan menyatakan, "aku senang baju ini, hanya saja baju ini terlalu bagus, Kembalikan". 

Orang yang di suruh membelikan pakaiannya pun menangis. Umar bertanya, "mengapa engkau menangis?". Ya, Amirul Mukminin, Sebelum engkau menjadi Khalifah - Engkau adalah orang yang sangat Stylish, Glamor dan penuh kemewahan. Engkau, setiap hari mengganti pakaian lebih dari satu kali. Engkau juga memiliki emas dan perak, pembantu dan istana, makanan dan minuman serta segalanya. Engkau juga adalah anak dan keponakan Seorang khalifah. Saat engkau minta di belikan baju. Kami membelikanMu baju seharga 600 dirham. Engkau menolak dan mengembalikannya, karena terlalu kasar dan Kurang sempurna. Begitu engkau menjadi Amirul mukminin. Kami membelikanMu baju seharga 6 Dirham, engkau pun mengembalikannya, karena terlalu bagus dan mahal. Ihwal itulah yang membuatku menangis, Wahai Amirul Mukminin.

Apa yang di lakukan Umar Bin Abdul Azis, seumpama seseorang yang saat menjadi Gubernur,  Belanjanya di Mall. Begitu menjadi seorang presiden belanja di pasar Tradisional. 

Umar Bin Abdul azis di kenal sebagai orang yang sangat ambisius. Semua yang ia inginkan harus tercapai, sebagaimana saat dia menginginkan untuk Menikahi Istrinya, Fatimah Bin Abdul Malik. Sekarang, ambisinya untuk masuk surga, maka ia melakukan cara hidup zuduh yang ekstrem, yaitu meninggalkan semua fasilitas dunia. Makanya saat dia menjadi Khalifah, dalam waktu berasamaan, ia juga sudah menjadi seorang Sufi.

Suatu saat, Fatimah, Istrinya heran dan tidak percaya mendengar bahwa Suaminya Meninggalakn cara Hidup Glamor, Matrealistik, karena ia sangat mengenal siapa suaminya. Sosok yang sangat identik dengan kemewahan hidup. mengapa secara tetiba ia hendak berpaling dari kemewahan, padahal tampuk kekuasaan kaum muslimin baru saja di anugerahkan kepadanya?.

Keterkejutannya semakin bertambah tatkala melihat suaminya pulang dari kota Damaskus, tempat ia dilantik sebagai khalifah. Suaminya terlihat lebih tua tiga tahun dibandingkan tiga hari yang lalu  tatkala ia berangkat ke kota Damaskus. Wajahnya terlihat sangat letih, tubuhnya gemetar dan layu, seperti menanggung beban yang teramat berat.

lirih suara Umar bin Abdul Aziz berkata dengan lembut dan penuh kasih-sayang kepada sang isteri tercinta, "Fatimah, isteriku.! Bukankah engkau telah tahu apa yang menimpaku saat ini?. Beban yang teramat berat dipikulkan kepundakku, menjadi nakhoda bahtera yang dipenuhi dan ditumpangi oleh umat Muhammad SAW. Tugas ini benar-benar menyita waktuku, hingga hakku terhadapmu akan terabaikan. Aku khawatir kelak engkau akan meninggalkanku, apabila aku akan menjalani hidupku yang baru, padahal aku tidak ingin berpisah denganmu hingga ajal menjemputku." 

"Lalu, apa yang akan engkau lakukan sekarang?", tanya Fatimah.

"Fatimah.!, engkau tahu bukan, bahwa semua harta, fasilitas yang ada ditangan kita berasal dari ummat Islam, aku ingin mengembalikan harta tersebut ke baitul mal, tanpa tersisa sedikitpun, kecuali sebidang tanah yang kubeli dari hasil gajiku sebagai pegawai, di sebidang tanah itu kelak akan kita bangun tempat berteduh kita dan kita hidup dari sebidang tanah tersebut. jika engkau tidak sanggup dan tidak sabar terhadap rencana perjalanan hidupku yang penuh kekurangan dan penderitaan. Berterus teranglah, dan sebaiknya engkau kembali ke orang tuamu!", jawab Umar bin Abdul Aziz. 

Fatimah kembali bertanya, ”Ya suamiku, apa yang sebenarnya membuat engkau berubah sedemikian rupa?” 

Fatimah memang merupakan wanita yang terbiasa hidup mewah, dengan semua fasilitas yang disediakan dan pelayanan yang super maksimal, tidak kecewa mendengar keputusan suaminya. Ia tidak menunjukan kekesalan dan keputus asaan. Justru dengan suara yang tegar dan mantap, ia menegaskan, " Wahai Suamiku.! Lakukanlah yang menjadi keinginanmu dan aku akan setia disisimu baik dikala susah atau senang hinga maut memisahkan kita.”

Berkenaan dengan Pilihan Hidup Fatimah, saya teringat dengan Tun Abdul Najib - Mantan Perdana Menteri Malaysia. Kalau kita membaca dengan tenang. Sebab, kehancuran Tun Abdul Najib adalah Rosmah, Istrinya yang glamor. Berbeda dengan Anwar Ibrahim - Mantan Perdana Menteri Malaysia Lainnya, bisa sedemikian kuat, karena Istrinya - Wan Azizah Islami yang sabar, walau suaminya dua kali dituduh zodom, didua periode. Ihwal itulah, kita mesti Berhati-hati dengan emosi perempuan. Bahkan seorang Fir’aun saja, pada akhirnya kalah, karena tunduk pada kemauan istrinya. 

Kita kembali, Fatimah merupakan satu-satunya anak perempuan dari lima bersaudara khalifah daulah Abbasyiah yang bernama Abdul Malik bin Marwan. Layaknya putri raja, fatimah mendapatkan kehormatan dan segala fasilitas yang mewah, hidup dengan penuh kasih sayang dan sangat dimanja oleh kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya. 

Kebahagiannya menjadi sempurna saat dipersunting oleh seorang lelaki terbaik pada zamannya, dari keluarga terhormat yang bernama Umar bin Abdul Aziz, hidup penuh dengan keglamoran dan kemewahan. meskipun demikian ia merupakan sosok yang religius dan sangat amanah.  

Fatimah yang agung itu menjadi pendukung pertama gerakan perubahan yang akan dilakukan oleh suaminya, yakni gerakan kesederhanan para pemimpin dalam hidup, demi bakti dan keridhoan sang suami yang tercinta. Ia rela meninggalkan kemewahan hidup yang selama ini dinikmatinya, semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran, keikhlasan atas pondasi keimanan yang kuat. 

Di rumahnya yang baru, Fatimah hidup dengan penuh kesederhanaan. Pakaian yang dikenakan, makanan yang disantap tanpa ada kemewahan dan kelezatan, semuanya tidak jauh dengan rakyat biasa. padahal status yang mereka sandang adalah raja dan ratu seluruh umat Islam masa itu. 

Begitu sederhananya konsep kehidupan yang mereka terapkan, orang yang belum mengenal tidak menyangka bahwa mereka adalah pasangan penguasa ummat islam kala itu. 

Diceritakan, suatu hari datanglah wanita Mesir untuk menemui khalifah di rumahnya. Sesampai di rumah yang ditunjukkan, ia melihat seorang wanita yang cantik dengan pakaian yang sederhana sedang memperhatikan seseorang yang sedang memperbaiki pagar rumah yang dalam kondisi rusak. Setelah berkenalan si wanita Mesir baru sadar bahwa wanita tersebut adalah Fatimah, isteri sang Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Tamu itu pun menanyakan sesuatu hal, "Ya Sayyidati, mengapa engkau tidak menutup auratmu dari orang yang sedang memperbaiki pagar rumah engkau?", Seraya tersenyum Fatimah menjawab, "Dia adalah suamiku, amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz yang sedang engkau cari.

Kalau kita membaca sejarah Umar Bin Abdul Azis, kita akan mendapati Salah satu inovasi Umar Bin Abdul Azis àdalah menengahi Sengketa politik di dalam Tubuh Ummat Islam. Umar Bin Abdul Azis melakukan Inovasi dengan melarang melakukan Khutbah atau Mimbar Jum'at sebagai tempat caci maki sesama Ummat Islam. Oleh karena itu, Di akhir Khutbah jum'at selalu di baca Khotib, "Innallahu ya'muru bil adli wal ihsan wa ita idil qubra wa yanha anil fahsya iwal mungkar iwal bagyi". Jadi, orang yang Mencaci Ali harus berhenti dan sebaliknya orang mencaci Muawiyah harus berhenti. Artinya mimbar jum'at, bukanlah area untuk menyampaikkan agitasi politik. 

Berkenaan dengan itu, pilihan hidup zuhud dari Umar Bin Abdul Azis, sangat berdasar dengan praktek hidup Rosulullah. Suatu hari Nabi tidur di sebuah tikar jerami. Kemudian beliau bangun dengan bekas tikar yang menempel di tubuhnya. Ibnu Mas'ud berkata, "Ya Rasulullah! Maukah kami membentangkan permadani yang lembut untukmu?. Beliau menjawab, “Mengapa aku harus peduli dengan dunia?. Dunia bagiku seperti naungan pohon, tempat musafir beristirahat sementara di hari yang panas. Kemudian dia pergi dan melanjutkan perjalanannya.

Demikianlah analogi tentang kesementaraan hidup. Dunia dalam pandangan pejalan Sunyi ibarat ular. Ketika kita menyentuhnya kulitnya sangat lembut, tetapi di dalamnya terdapat racun yang mematikan. Ihwal itulah, orang bijak sangat menjaga jarak dari dunia, tetapi seorang yang naif akan berlari ke arahnya.


--BERSAMBUNG--

#Pustaka Hayat
#Rst
#Pejalan Sunyi
#Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:

Posting Komentar