Mengenai Saya

Rabu, 05 Oktober 2022

POLITIK ITU SUNYI 1 ; CATATAN KONTESTASI DEMOKRASI


POROS - POROS MENUJU 2024


Dua dari tiga ketua yang sudah mengumumkan poros baru sedang dibidik kasusnya, sementara satunya lagi konon akan digusur melalui kudeta internal. Sayangnya, jikapun status hukum kedua ketua itu meningkat jadi lebih serius dalam waktu dekat ini, itu semua jauh dari motif penegakkan hukum yang normal, melainkan lebih banyak dilakukan guna menekan perahu mereka agar mau memberikan tiket kepada pendekar berambut perak. 

Upaya menghidupkan kasus dua ketua itu sekali lagi membuktikan jika poros yang mereka bentuk memang bukan dilakukan atas titah istana, melainkan lebih merupakan upaya dari tiga ketua tadi untuk memproteksi dirinya dan perahu mereka dari ancaman genderuwo istana. Menarik untuk dilihat, dalam gesek-gesekan ini, mana yang ilmunya paling sakti. 

Golkar, PAN dan PPP sudah mengambil langkah maju dengan komitmen membangun poros politik dalam Pilpres 2024. Meski tidak memiliki tokoh internal yang kuat dan populer, namun gabungan tiga partai politik ini telah memenuhi syarat untuk mengajukan pasangan calon presiden dan wakil presiden sendiri. 

Seturut Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, pasangan calon diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25 persen dari suara sah secara nasional pada pemilu anggota DPR sebelumnya. Kita tahu, gabungan kursi Golkar, PAN dan PPP di parlemen mencapai 25,7 persen, alias lebih dari cukup. 

Berbeda dengan sejumlah pengamat yang menyatakan jika munculnya poros Golkar, PAN dan PPP ini sebagai lahir atas intervensi Istana, saya melihat di tengah isu adanya intervensi Istana untuk mendongkel Airlangga Hartarto dari kursi Ketua Umum Partai Golkar, munculnya poros ini justru merupakan langkah sebaliknya. Sesudah menjadi obyek perundungan politik selama berbulan-bulan gara-gara lontaran ketua umumnya mengenai perpanjangan masa jabatan presiden, Golkar dan PAN sangatlah berkepentingan untuk segera memperbaiki citranya sekaligus menyelamatkan peluang mereka pada kontestasi Pemilu 2024. 

Bagi PAN dan PPP, beban kedua partai ini bahkan lebih berat lagi dari yang dihadapi Golkar. Sebab, jika tak pandai bermanuver menyenangkan hati publik, kedua partai ini bisa terdegradasi dari kursi parlemen sebagaimana halnya Hanura pada Pemilu 2019 silam. Jadi, manuver yang dibuat oleh Golkar, PAN dan PPP ini, menurut saya merupakan “deklarasi selamat tinggal” kepada Presiden Joko Widodo. 

“Pak Presiden, mulai sekarang kita hanya akan menghabiskan waktu saja. Sebab, kami terutama akan bekerja untuk menyelamatkan partai di 2024,” kurang lebih mungkin begitu pernyataan tersiratnya. 

Di luar poros yang sudah dibentuk oleh Golkar, PAN dan PPP, dengan komposisi parlemen yang ada sekarang, di atas kertas Pilpres 2024 sebenarnya bisa saja diikuti hingga 4 pasangan calon. PDIP, misalnya, yang menguasai 22 persen kursi parlemen, bisa mengajukan pasangan calon presiden/wakil presiden mereka sendiri, tanpa perlu dukungan dari partai lain manapun. 

Nasdem, yang sejauh ini merupakan partai yang berasosiasi kuat dengan nama Anies Baswedan, hanya tinggal merangkul PKB (Nasdem + PKB, 20%), atau Demokrat dan PKS (Nasdem + Demokrat + PKS, 28%), sudah bisa mengajukan calon mereka sendiri. 

Sementara Gerindra, yang hampir dipastikan akan kembali mengusung ketua umumnya sebagai calon presiden, hanya cukup merangkul satu partai lagi, apakah PKS (Gerindra + PKS, 23%), Demokrat (Gerindra + Demokrat, 23%), atau PKB (Gerindra + PKB, 24%), mereka bisa melenggang ke bursa Pilpres 2024. 

Namun, ini catatan pentingnya, terbentuknya poros-poros politik untuk kontestasi Pilpres memang bukan semata-mata soal persentase kursi di parlemen. Seperti yang sudah disebutkan, meskipun Golkar, PAN dan PPP sudah membentuk poros yang memadai untuk mengusung pasangan calon, namun poros ini belum memiliki calon yang bisa diusung. Jadi, ini baru semacam deklarasi ‘wedding organizer’, namun calon pengantinnya belum ada sama sekali. 

Anies Baswedan sebenarnya bisa juga menjadi calon dari poros yang dibentuk oleh Golkar, PAN dan PPP ini. Apalagi, PAN dan PPP juga banyak mengasosiasikan dirinya dengan Anies. 

Relasi antara Anies dengan Nasdem, PAN, dan PPP, ini memang menarik, meskipun ada perbedaan yang mencolok. Terkait relasi Anies dengan Nasdem, ada yang menyebut bentuk relasinya adalah: Anies sangat ingin didukung oleh Nasdem. Sepertinya hal ini tidaklah berlebihan. Bagaimanapun Nasdem adalah partai yang performanya paling mencolok pada Pileg 2019 silam. Jumlah lonjakan kursinya jauh melampaui PDIP dan Gerindra. Di sisi lain, Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasdem, juga dikenal sebagai seorang ‘king maker’ bertangan dingin. Sangat pantas jika Anies ingin didukung oleh Nasdem. 

Sementara itu, terkait relasi Anies dengan PAN dan PPP, bentuk relasinya adalah berkebalikannya: PAN dan PPP-lah yang sangat ingin didukung oleh Anies. Untuk menyelamatkan diri agar tidak terdegradasi dari kursi parlemen, PAN dan PPP memang harus ekstra bekerja keras. Sebagai catatan, dua partai ini menempati posisi juru kunci pada Pemilu 2019. Itu sebabnya, untuk mempertahankan posisinya di parlemen, kedua partai ini memang sangat berharap terhadap “efek ekor jas” (coattail effect) dari figur-figur populer seperti Anies. 

PDIP, seperti sudah disebut, ... See more.

Sebagai Catatan awal atas reshuffle kabinet beberapa waktu lalu. Pertama, Pak Jokowi sudah bisa mengamankan tiket untuk "Ganjar". Kedua, dengan tersingkirnya orang Jusuf Kalla, berarti salah satu infrastruktur pendukung Anies Baswedan sudah ikut dilemahkan. Ketiga, sesudah ini, blok besarnya hanya tinggal Blok Jokowi versus Blok Mega. Kalau Surya Paloh bisa di jinakan untuk tidak mengajukan jagoan sendiri, maka bisa dipastikan skenario "all Abangan final" sudah berjalan.



**

-PDIP SEDANG MENG-TEST ON THE WATER DAN RISMA SEDANG MENIKMATI PLAYING VICTIMS-


PUAN (sedang) mengganjal GANJAR atau PUAN (sedang) mendongkrak GANJAR ?. Ahh, kata kawan saya : "Tidak mungkin Puan mendongkrak. Sebab, yang punya dongkrak itu Ganjar, Bro".

Dalam politik, ada Terma yang Niscaya kita endapkan. Terma ini teramat penting, selain karena di semua level kontestasi sering di gunakan untuk melihat riak, untuk mengukur intensitas. Ini Masuk dalam kategori Stratak, tidak pernah di bentangkan di panggung depan. Biasanya hanya di panggung belakang di perkatakan. Makanya, saya bilang informasi ini mahal. 

Dulu, Stratak ini sering juga saya gunakan untuk mengukur dan melihat intensitas perasaannya dan cemburunya Si ANU. Itulah sebabnya, Dulu saat kuliah, saya pantang "menyet" sama seseorang, bukan sombong atau sok Pede. bukan. karena kualitas perasaan dan intensitas cemburunya seseorang sudah terbaca saat Stratak ini di gunakan (baca : Psikologi Komunikasi). Mangkanyaa, saya tau persis siapa-siapa orang-orang itu 😂. 

Hal itu terjadi dulu, kalau sekarang. Selain karena Saya hanya mau bermanfaat untuk orang lain. Stratak tersebut sudah tidak kompatibel dengan zaman. Sekarang eranya, seberapa bermanfaat kita untuk orang lain. Jika pun ada yang singgah di pematang hati, lansung saja mengetuk pintu rumah orang tuanya.

Demi kepentingan Edukasi dan Mashlahat, sekalipun ini informasi mahal, harus di kuliahi baru bisa di ketahui. Saya beritahukan saja di sini, Stratak itu di dikenal dengan terma," Test on the water", mencoba ombak, apakah Kencang menderum atau tidak.

PDI-P, tepatnya, Megawati Soekarnoputri sedang melakukan "tes publik". Mencoba ombak. Respon yang dihadirkan, apakah massif atau biasa-baisa saja. Dalam ilmu politik, ini bukan untuk menutup peluang, bisa jadi, menaikkan elektabilitas. Karena itulah, ada teoritisi ilmu politik, mendefinisikan politik itu sebagai Seni. Seni untuk meraih dan mengkapitalisasi suara. Ujungnya, kekuasaan. Waktu tinggal 3 tahun, lebih kurang. Kelihaian memainkan suasana batin publik, merupakan sebuah keniscayaan dalam politik.

Realitas politik menunjukkan bahwa Puan ini banyak mendapat penolakan dari publik atau masyarakat. Dia bicara apa saja, selalu dinilai negatif. ibaratnya kartu mati. 

misalnya Prabowo dengan elektabilatas tinggi. terus, disandinkan dengan Puan. maka elektabilitas Prabowo bisa jatuh. Tapi, memang ia anak ketum, penguasa tunggal dalam keputusan partai. Justru, imbas dari penolakan banyak masyarakat, terutama Konsituen Jokowi berpihak ke Ganjar. 

Sebenarnya dua-duanya punya panggung politik. panggung Ganjar sebagai kepala daerah dan panggung Puan sebagau Ketua DPR. 

Ada panggung depan, terlihat dan terbaca oleh kita. Tapi kita tidak tahu, ada strategi di panggung belakang. Kadang seperti cubitan. Dicubit pagi, justru perihnya terasa pada malam hari. panggung depan masih abu-abu. Apalagi panggung belakang. 

coba kita melipir pada Risma (Mensos). Jika di bandingkan dengan Ganjar, Populisme dan Elektabilitas Risma kalah jauh dibawah Elektabilitas Ganjar. Selalipun keduanya adalah Kader PDIP. 

Risma, kita sudah Mahfum, seusai menjabat sebagai walikota Surabaya, ia di plot mengisi kekosongan Kabinet sebagai mensos, karena menteri sebelumnya tersandung kasus korupsi. Nama Risma, di sebut-sebut sebagai figur yang akan memeriahkan Perhelatan Akbar 2024, dan atau ia persiapkan Megawati untuk bertarung di pilkada Jakarta. 

Tidak akan mungkin mengawati membiarkan Risma hadap-hadapan dengan Anis Baswedan, yang kondisi elektabilitas dan populismenya sangat meroket. Megawati paham betul peta tersebut, bahkan jika hendak mengukur elektabilitas Ganjar dan Anis. Maka, anis masih unggul. Sekalipun keduanya memiliki pagggung sebagai kepala Daerah.

Sebagai Alumni Fisip, Saya menduga Video AJ (Bupati Alor), yang memaki Risma adalah rangkaian dari Test on the water, mereka sedang menguji ombak. Sejauh mana intensitas publik membicarakan Risma, sekalipun dengan menghadirkan suasana psikologi publik yang tergenjet. Ujungnya adalah kapitalisasi suara. Kekuasaan. Sebab, Ketua DPRD yang membagikan sembako Bansos dan AJ yang berkeberatan atas hal tersebut, juga sama-sama dari biduk yang sama. 

Dalam ulsan senior saya, "KK MS", beliau menghitung engagement ratio pak Amon di sosmed rasionya sudah 3,74%. Untuk suatu endorsement di sosmed, dengan ER 3,74% itu sudah lumayan untuk mendongkrak popularitas.
Di dunia linimasa, hanya ada tiga hal yang penting. Pertama, conversation, kedua, amplification dan applause. Video pak Amon berdurasi sekian-sekian menit itu sudah mengantongi ketiga-tiganya tanpa ongkos berarti. Namun posisi AJ dalam video itu kurang beruntung. Sementara Risma ditempatkan sebagai “playing victims.” Seakan-akan menteri Risma sebagai tokoh protagonis.

Terkait video pak Amon itu, ada satu komentar yang cukup bagus. Ibu Risma dibilang menikmati “playing victims.” Korban kekerasan verbal (verbal violence) AJ. Kalau polemik video AJ ini berlanjut, maka bu Risma dapat mengantongi benefit popularity yang lumayan secara cuma-cuma. Tidak perlu pakai buzzer sebagaimana mesti. 
 
Apalagi belakangan, pasca polemik bu Risma terkait tuna wisma di Jalan Sudirman-Jakarta, kini nama Risma tenggelam tiada kabar. Ditambah polemik Ganjar dan Puan yang juga sungguh-sungguh menenggelamkan nama Risma dalam pusaran perbincangan politik 2024.
Maka sikap tegas DPP PDIP dengan menarik dukungan terhadap pemerintahan AJ, makin mendongkrak isu ini ke publik. Makin panas, makin menyeret interaksi publik ke dalam pusaran polemik. Di Sosmed, Risma mendapat ketiga-tiganya; conversation, amplification dan applause.
 
Dari luar, saya melihat ini berujung sebagai popularity games yang menarik. Dalam transformasi digital marketing politics, yang dibutuhkan untuk meng-create popularity cuma satu hal, yakni momentum. Momentum harus dikapitalisasi sebaik-baiknya. Perkara popularity itu negatif bukan soal, yang penting nyampah saja dulu. 


**

PDI-P DAN GERINDRA 

Beberapa hari yang lalu, ada dua pernyataan dari dua Sekretaris Jenderal dua partai besar. Pertama, pernyataan Ahmad Muzani. Sekjen Partai Gerindra. Secara umum ia mengatakan dan menyampaikan "pesan politik" yang jelas bahwa Partai Gerindra bekerjasama dan "satu visi" dengan PDI-P, pada Pilpres 2024 yang akan datang. Lalu, Sekjen PDI-P, Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa PDI-P membuka peluang berkoalisi dengan seluruh partai, kecuali dua : PKS dan Partai Demokrat. Alasannya, tak seideologi. Intinya, tak sevisi. 

Pernyataan Sekjen Gerindra, itu biasa. Prabowo pasti ingin mengulang kontestasi 2009, 2014 dan 2019 yang lalu. Walau terus menerus kalah, Prabowo memang layak untuk terus memupuk asa. Popularitasnya tinggi. Elektabilitasnya, menjanjikan. Dan, Prabowo mendirikan Partai Gerindra, hijrah menjadi politisi (murni), tentu memiliki cita-cita tinggi lagi (mulia), menjadi pemimpin negeri ini. Tak salah. Siapapun yang masuk dan menjadi elit partai politik, tentu akan memiliki cita-cita demikian. Baik tingkat pusat maupun daerah.

Lalu, pasangan Prabowo, siapa ?. Saya yakin, sebagaimana yang dijelaskan Ahmad Muzani secara "tersirat", berserah diri pada sang Ketum PDI-P, Megawati Soekarnoputri. 

"Menurutmu ?", tanya seorang kawan. Bisa Jokowi - Prabowo. 

Pasti muncul bantahan, tidak mungkin 3 kali. Megawati juga mengungkapkan hal demikian. Tapi ingat, dalam politik, tak ada yang tak mungkin. Pernyataan Ahmad Muzani tersebut, bisa jadi bentuk komitmen Partai Gerindra untuk "bersama-sama" dengan PDI-P. Bisa jadi, nantinya, berujung pada amandemen.

"Demam kamu. Mengigau. Tidak mungkin mempertaruhkan kepercayaan atas apa yang telah diucapkan. Tidak mungkin. !"

Masuknya Prabowo ke dalam kabinet, cukup memperjelas, tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia politik. Tapi bisa jadi kemungkinan ke-2. Bila resistensi akan membesar. Pasangan Ganjar- Prabowo, adalah alternatif yang menjanjikan. Elektabilitas kedua tokoh ini, tinggi. 

"Tidak mungkin. Ganjar lagi, konflik dengan Puan!".

Kita tak tahu, apakah itu konflik atau tidak. Politik itu seni. Ada seni "memainkan ombak" terlihat dari apa yang terjadi. Melihat respon publik. Dan harap kamu ketahui, dengan kesan konflik yang ada itu, justru wilayah popularitas Ganjar tidak lagi di Jawa. Sudah merebak ke daerah lain. Menjadi lebih banyak yang kenal. Tentunya, menjadi lebih "dikasihani". Dalam politik itu, dikasihani, bisa jadi poin tersendiri untuk dikapitalisasi. Disamping rasionalitas, emosionalitas - rasa juga bekerja. Puan bisa jadi sedang diurus Megawati, untuk menjadi "jenderal lapangan". 

"Lalu ?". 

Storia me absolvera, kata Castro. Perjalanan waktu yang akan menentukan. Bisa trend nya bagus, lempanglah jalan Ganjar. Bila tidak dan terbawa arus emosional eksternal PDI-P. maka pudurlah dia. 

"Oke, bagaimana kalau Prabowo - Puan ?". 

Yakin kamu, Mega dan PDI-P mau jadi nomor dua?". Itu ibarat, PDI-P, memberikan karpet merah kepada partai lain untuk besar. Bisa jadi, "membesarkan anak harimau !". Yakin saya, Mega tidak akan mau. 

"Kalau Puan - Prabowo ?". 

Sudah lama Puan berkiprah dalam dunia politik. Elektabilitasnya tak pernah berkisar dari 1 - 3 %. Bahkan, nol koma sekian persen. Toh, memegang pucuk tertinggi lembaga legislatif, menurut saya, Puan jauh lebih (dianggap) mampu. 

"Lalu pernyataan Hasto Kristiyanto tersebut, bagaimana ?". 

PDI-P (mungkin termasuk Partai Gerindra) ingin memberikan pesan, menjelang Pilpres 204 yang akan datang, silahkan SBY berkoalisi dengan PKS dan mencari "teman" untuk memperkuat koalisi mereka.

Bagaimana Jika Puan itu adalah Risma..?.

"Aiiiss ..... siram bunga !", teriak si Mama (16.35 WIB). 

"Siyaaap !". Bayangkan, kuatnya pengaruh Megawati itu. Eh .... Si Mama, maksud saya. 


NB ; Coretan tahun Desember 2021



***
GONJANG GANJING POLITIK 1


Kelas politisi dan kelas jenderal Indonesia, "tidak ada negarawan". hanya kelas komprador pragmatis. malang nian bangsa kita jenderal.

Maafkan saya. Saya mau bilang "SBY EGOIS". Dia  Mengorbankan AHY demi tetap memiliki demokrat. Bukan SBY tidak punya jasa. (mungkin) SBY mengambil terlalu banyak, sampe men-daku PD sebagai miliknya. Atau (Mungkin) lebih buruk dari sekadar mendaku pak SBY "mengorbankan" AHY demi fantasi politiknya.

Akibatnya Buah yang masih mentah di petik.  Sayang sekali. Seandainya dibiarkan saja AHY berkarir di TNI, mungkin Sudah dapat bintang. Kadang- kadang ayah suka begitu, Dan parahnya anak menurut.

Lihat saja, AHY seperti kikuk di dunia politik. SBY turun gunung bisa dibaca AHY lemah Dan itu sudah di duga. Hal Ini lebih seru dari sekadar pendekatan dramaturgi, kalau melihatnya jadi semacam "godfather syndrom" dengan pelbagai penyesuaian.

Sejatinya politikus kita mewarisi jiwa-jiwa Ken Arok. cuman, masih "soft", tak bermula dari "paha putih" Ken Dedes...akakakak

Selama daya ingat rakyat sebatas paket indomie dan minta maaf lebih baik daripada minta izin. Dunia tidak akan berubah. Tapi, itu lumrah, sebagaimana Relasi kekausaannya "Michael Foucault", bahwa kekuasaan ada dimana-mana, menyebar dimana-mana.  Karena bagi Foucault,  Kekuasaan bukanlah milik subyek tertentu melainkan ada dalam diri setiap orang sebagai strategi.

Foucault menolak konsep dan praktek kekuasaan seperti yang dimaksud "Thomas Hobbes" tentang harus menjadi serigala bagi yang lain atau "Machiavelli" tentang kekerasan sebagai jalur kekuasaan untuk menaklukkan, ataukah maksud "Marx" tentang kekuasaan mendominasi dari kelas kaum borjuis terhadap kaum buruh.

dimana ada kuasa, selalu ada resistensi. Namun, resistensi ini tidak pernah ada dalam posisi eksterior dalam hubungan dengan kuasa. Disinilah pengaruhnya Nietzsche tampak pada Foucault. Menurut Nietzsche, kuasa seperti ini sangat lekat dengan dominasi atau represi dan karena itulah kuasa seperti ini selalu menuntut korban atau target.

Siapa Korbannya?.

Tentu AHY. Karena Dominasi figuritas Ayahnya. parahnya SBY tidak membaca bahwa Kekuasaan ada dalam diri setiap orang. Tidak di dominasi oleh subyek tertentu. Itulah indonesia, ketika orang membicarakan PDIP, maka orang bicara Megawati. Ketika bicara Gerindra, bicara Prabowo. Bicara demokrat, bicara SBY. Bicara PKB, maka itu NU. Bicara PAN, itu Muhammadiyah. Dst. Maka tak jarang kita saksikan terjadi resistensi kekuasaan.

Pasti AHY kikuk bukan kepalang, setelah Moeldoko Mereduksi figur historis Demokrat yaitu ayahnya (SBY). Ada yang berguman, wah ini keCulasan, dan sangat licik?.

Ihhh... Bukankah Adagium lama kerap membersamai kita, bahwa Apa yang di tanam, itu yang di tuai. Menanam angin, berarti menuai badai. "Belum jelas?". Mas Anas urbaningrum itu terpilih secara legal di kongres PD. Dan Di KLB-kan di Bali. Bahkan di peta konflikkan sampai menjadi tersngka, yang sampai saat ini masih mendekan dalam BUI. Vonis 8 tahun penjaranya tidak di dasarkan pada fakta hukum persidangan. Sudah lupakah anda pada itu, Inilah hukuk semesta ; Hukuk tabur tuai?.

Selain itu, memang Demokrat dan PKS tetap kekeuh di oposisi. pks pecah karena sempalan-sempalannya mendirikan partai gelora, kemudian demokrat juga begitu, tidak mau koalisi tetapi mereka berlindung pada orang istana. terus terang kita harus prihatin dengan iklim demokrasi bangsa kita saat ini..!

Politik adalah ajang kontestasi. Tujuannya jelas, kekuasaan. Pasca Orde Baru, politik diIndonesia, kental dengan politik akomodatif. Ideologi yang menjadi basis masing-masing partai politik, biasanya akan menjadi "cocok" ketika kontestasi elektoral selesai, pembagian kekuasaan kemudian dibicarakan. Di negosiasi. Akhirul kalam, awalnya berbeda, ujungnya dipaksa "sesuai", "seperjuangan". sevisi dan sejenisnya.

Tetapi, AHY tidak akan pernah dewasa jika tidak di gonjang ganjing Partai yang oleh ayahnya di dirikan sebagai buah reformasi.

Terakhir, politik hanya sampai di leher. Jangan sampai di dada. Nanti baper. Akibatnya buat lagu ; Terpesonaaa....akuu terpesonaaa...


**

-GONJANG GANJING POLITIK PARTAI DEMOKRAT 2-


"Manggadangkan Anak Harimau .. !". (Mungkin) itu ungkapan hati Megawati pada SBY, dulu SBY pada Moeldoko, kini.

Adu Kuat dalam Partai Demokrat". Dua kubu, dihadap-hadapkan. Saya menikmati adu argumentasi mereka. Dalam konteks teori dramaturgi, saya harus memilah pernyataan masing-masing pihak. Pernyataan "panggung depan" dan pernyataan "panggung belakang". Yang "sebenarnya", dan yang "basa basi politik verbal dan gestur".

Kristalisasi perdebatan di Partai Demokrat, pada figur AHY bin SBY. Anak dan Ayah. Johny Allen dan Max seperti "mereduksi" posisi historis SBY terhadap Demokrat. Sungguh kasihan. Jadi ingat pepatah lama, "keberhasilan membuat orang punya banyak ayah, kegagalan menjadikan seseorang yatim piatu". Dulu mereka puja SBY. Sekarang, mereka sudutkan. 

Demikianlah. Lalu, AHY .... ? Ia anak SBY. Itu salahnya. 

"Apakah jadi anak mantan Presiden tidak boleh ?" . Saya membuka kembali koleksi Tulisan yang berserakan di pesbuk, yang seingatku setelah membaca beberapa kliping majalah, Jurnal dan artikel tahun 80-an dan 90-an. Melihat catatan-catatan yang dikabarberitakan Tentang anak Presiden Republik ini. Tentang “si Pendiam” Megawati hingga “si Pendiam” Gibran Rakabumi. Tentang si ganteng Tommi hingga si gagah AHY. Tentang jilbab Mbak Tutut yang tersohor era 90-an. Tentang Yenni Wahid. Lelaki pintar yang bernama Ilham Habibie dan seterusnya. Hingga tentang Kaesang yang ingin “memisangkan” Indonesia.

Bagaimanapun juga, mereka orang yang beruntung. Dari perjalanan hidup mereka tersebut, kita bisa mengambil pelajaran tentang refleksi zaman.   Dalam ilmu politik, terutama berkaitan dengan yang namanya pengaruh, maka diskusi yang paling menarik, dirumuskan dalam pertanyaan “dari mana pengaruh itu berasal ?”.

Pengaruh dimaknai sebagai kondisi dimana seseorang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar sesuai dengan pendapat atau keinginannya. Orang atau sekelompok orang akan berpotensi dipengaruhi oleh seseorang apabila seseorang tersebut memiliki kelebihan. Maka, pengaruh berhubungan erat dengan kelebihan (nilai lebih). Pertanyaan sederhananya, “nilai lebih seseorang tersebut bersumber dari mana sehingga bisa mempengaruhi orang lain ?”. 

Secara sederhana, pengaruh yang akan membuat seseorang tersebut memiliki nilai lebih, berasal dari beberapa sumber. Diantaranya : bersumber dari kharisma yang dimiliki. Biasanya bersifat inheren, “hadir” dan bersemayam pada diri seseorang sejak ia lahir. Namun dalam perjalanan hidup seseorang, kharisma ini bisa bersifat fluktuatif. Dinamis. Status berpotensi besar memberikan nilai lebih pada kharisma seseorang. Lalu, ada yang bersumber dari ekonomi. Kemampuan finansial. Tak perlu dijelaskan panjang lebar tentang hal ini. “Hepeng” mampu mengkondisikan pengaruh seseorang terhadap orang atau sekelompok orang. 

Kontestasi dalam pemilihan umum memperlihat secara gamblang nilai lebih yang bersumber dari ekonomi tersebut. Selanjutnya, pengaruh juga bersumber dari legal-rasional. Artinya, jabatan atau posisi yang melekat secara legal membuat seseorang memiliki pengaruh. Jokowi “bukan apa-apa”, tanpa jabatan Presiden sekarang ini, jabatan gubernur atau jabatan Walikota pada masa lalu. Pengaruh Jokowi akan ‘hilang” bila jabatan tersebut lepas dari genggamannya. Jabatan rektor di Walikota, jabatan Gubernur, Camat Lurah dan RW atau sejenisnya, merupakan bentuk lain jenis sumber pengaruh ini. Hilang jabatan, hilang pengaruh. seseorang tergantung pada jabatannya. Dan seterusnya. Selanjutnya, ada sumber pengaruh seseorang berasal dari “trah-genetik”. Keturunan. “Anak siapa dia ?”. “Dari keluarga besar mana ia berasal ?”.

Dalam konteks sosiologi, cara orang memperoleh status sosial tersebut diklasifikasikan atas dua cara, “Achievement” dan “Ascribed”. Dari prestasi, kristalisasi keringat, ikhtiar. Ini yang dinamakan “achievement’. Lalu, ada status sosial yang sudah ada karena melekat secara otomatis pada diri seseorang “Ascribed”. Umumnya karena melekat pada orang terdekatnya. Bisa ayah, bisa ibu, bisa istri, bisa suami, bisa pula anak. Berkaitan dengan sumber pengaruh di atas, maka “trah-genetik” adalah contoh terbaik dari jenis ini. 

Ketika seseorang menjadi pemimpin negeri ini yang bisa jadi diperolehnya, karena prestasinya (achievement), maka orang-orang terdekatnya mendapatkan imbas (pengaruh). Dan yang selalu menraik untuk dibahas, selain pasangan hidup mereka, biasanya berkaitan dengan anak-anak pemimpin negeri ini. Perjalanan panjang sejarah negara Indonesia yang sudah berumur 75 tahun ini, selalu memperbincangkan anak-anak Presiden. 

Mari kita mulai dengan anak-anak Soekarno !

Soekarno memiliki beberapa orang anak. Saya tidak tahu persis berapa orang jumlahnya. Maklum, istri beliau banyak. Don Juan. Nama-nama anak Soekarno umumnya menggunakan diksi yang berhubungan dengan gejala alam. Ada Guntur, Taufan, Mega, dan Guruh. Ada pula Sukma, Rahma dan Kartika. Anak-anak Soekarno ini menjalankan “takdir” mereka sebagai orang-orang yang sejak lahir telah memiliki “nilai lebih”. Nama Soekarnoputra ataupun Soekarnoputri di belakang nama-nama mereka, membuat mereka sejak mereka lahir hingga kini, menjadi “buah bibir”. Pusat perhatian. Tindak tanduk, aktifitas dan interaksi mereka selalu dihubungkan dengan nama besar ayah mereka, Soekarno. 

Nama Soekarno menjadi “modal besar” bagi mereka untuk menjalani hidup mereka. Dan perjalanan sejarah mengabarkan kepada kita, bagaimana anak-anak Soekarno menjadi magnet tersendiri dalam pentas politik Indonesia. Sebuah pentas “uji nyali” tentang kualitas dan kuantitas dari yang namanya pengaruh. Diantara anak-anak Soekarno, mungkin Megawati-lah yang dianggap mampu memaksimalkan potensi trah-genetik tersebut. Setelah mengalami “masa-masa pahit” pasca jatuhnya rezim Soekarno, Megawati mulai menapak takdir politiknya di era 90-an awal. Sebuah era dimana Soeharto (sedang/masih) berada di puncak. 

Kerinduan pada sosok Soekarno, terejawantahkan pada figur istri Taufik Kiemas tersebut. Saya membaca bagaimana anak-anak muda di era 90-an awal hingga pertengahan 90-an tersebut, begitu berbinar memandang kehadiran Megawati. Ketidaksukaan terhadap Soeharto terejawanthakan pada figur seorang Megawati. dan seterusnya.

Saya jadi ingat dengan AHY, yang hari ini, "digugat" karena bin SBY. SBY jadi yatim piatu
AHY terbawa serta.


**

Sudah lebih satu Minggu. Para politisi Partai Demokrat, saling beradu "mulut". Suara mereka seperti orang emosional. Meninggi. Saling buka "aib". Dan sejenisnya. Puncaknya, dua hari belakangan. Bosan ... !.

Tapi, begitulah. Politik itu memang identik dengan konflik. Heboh. Dengan konflik dan kehebohan itu akan muncul sebuah keniscayaan dalam politik itu sendiri "kompromi". Saya yakin, kelak mereka akan "menghitung tawaran". Who get what how and when. Setelah, tentunya, membuat publik heran, tertawa, bingung, bosan. entahlah. 

Namun yang kita sesalkan adalah, setidaknya yang terlihat dari perdebatan (tepatnya : saling serang, saling buka aib), mengapa para elit politik ini begitu gamblang mempertontonkan sesuatu yang tak elok pada publik. Membiarkan orang-orang dekat mereka saling serang, saling klarifikasi. serang lagi. Begitu seterusnya.

Harusnya mereka yang (seperti) marah-marahan itu, harus mempertontonkan kepada masyarakat bahwa mereka adalah pemimpin yang mencintai persatuan. membenci permusuhan. Apalagi dendam-dendaman. Termasuk meredam hantam menghantam di antara orang terdekat mereka. 

Jangan harapkan masyarakat akan menjalankan pesan-pesan persatuan, sementara para elit politiknya mempertontoonkan saling dendam-dendaman itu. "Perilaku masyarakat adalah representasi dari perilaku elit politiknya !", kata Vaclac Havel, santrawan, mantan Presiden Ceko. 

Rakyat itu murid. Elit politik itu guru. Bila guru kencing berdiri, rakyat akan kencing berlari. Bila guru kencing berlari. yakinlah, rakyat akan kencing salto jungkir balik. Tiga kali, bahkan. Bayangkan, air kencing akan berserakan.

"Kuturunkan pangkat kau, dari Mayor ke Sersan Mayor". Bah, jauhnya !. 'Yang penting, ada Mayornya" -[ Nagabonar ]

Mayor (lagi) jadi buah bibir.



***

-ANIES BASWEDAN CALON PRESIDEN 2024-


“Anies Baswedan akan menjadi Calon Presiden 2024 !”, demikian yang sering kita dengar di berbagai diskusi publik, kita baca di berbagai media massa dan sosial media.

Pertanyaan kritis yang harus dimunculkan berkaitan dengan hal ini adalah : pertama, Apakah mungkin Anies Baswedan yang tidak memiliki atau tidak berasal dari partai politik jadi Calon Presiden 2024 ?. kedua, Partai apa yang memungkinkan mengusung Anies jadi Calon Presiden 2024 ?.

Untuk pertanyaan pertama, ada beberapa hal logis yang perlu diperhatikan.

Pertama, secara praktis-teoritis politik dipahami sebagai seni kemungkinan, diantara banyak pemahaman-pemahaman yang lain, maka tidak ada yang tidak mungkin dalam politik praktis.  Itulah sebabnya, deteksi dan perkiraan awal sering tak sesuai dengan apa yang berlaku di menit-menit terakhir. Kadang mengejutkan. Tak jarang membuat heboh, lucu dan seterusnya. Itulah sebabnya, politik praktis begitu dinamis.

Siapa yang bisa bayangkan Prabowo “gabung” dalam gerbong Jokowi. Jika Melihat panasnya kontestasi Pilpres 2019 yang lalu, seperti tak mungkin mereka mau “bersatu” dan “saling menerima”. Wacana Jokowi duet dengan Prabowo yang menguat di awal tahun 2018, dengan tegas ditolak oleh pendukung Prabowo. Pertimbangan menghidupkan nilai-nilai demokrasi lebih mengemuka dibandingkan pertimbangan menjaga persatuan nasional sebagai pertimbangan yang mendasari wacana duet Jokowi vs Prabowo tersebut. 

Kalau Jokowi berpasangan dengan Prabowo, maka untuk apa Pilpres dilakukan. semuanya sudah selesai !, adalah kalimat yang sering kita baca dan dengar dalam menyikapi wacana duet tersebut. Kompetisi kemudian berlangsung. Mengharu biru. Surga dan neraka di seret-seret. Malaikat dan setan ikut terbawa. Pandawa dan Kurawa disebut dan dibilang. Cebong dan Kampret mengkristal. Media TV berlomba-lomba menayangkan kompetisi tersebut. Berbagai istilah politik menjadi akrab dalam ranah publik. Politik praktis dengan seluruh hal yang melekat padanya,  kemudian bermetamorfosis menjadi industri. Tontonan. Hiburan. Dengan tingkat intensitas psikologis massa yang bergantung pada isu yang diangkat serta momentum yang digunakan. Tak salah bila seorang musisi rock tempo dulu, Frank Zappa,  pernah berkata “politics is the entertainment branch of industry” (politik adalah cabang hiburan industri).

panasnya kompetisi, terbayang ketika itu, seandainya kontestasi selesai, nampaknya sulit menyatukan Jokowi dan Prabowo. Namun yang terjadi adalah, setelah Jokowi  - Ma’ruf Amin menang dan kemudian dilantik, Prabowo menjadi Menteri Pertahanan. Naskah bisa ditulis sebagai pedoman awal, tapi di lapangan, seringkali improvisasi dan kompromi terjadi. Seorang kawan kemudian berkata, “ambyaaar hatiku. pecah berdentang berderai rasa ini. kenapa bisa begitu, bro ?”. 

“Kenapa bisa begitu ?”.

Mungkin Donald Trump bisa menjawabnya. Ayah Ivanka Trump ini, pernah berkata, “Saya telah berurusan dengan dunia politik dan para politisi sepanjang hidup saya. Berurusan dengan mereka, sangatlah mudah !”. Karena itu, tak ada yang tak mungkin. Meminjam istilah Trump diatas, berurusan dengan politik itu mudah. Bila kepentingan sama, secara alamiah, “chemistry” akan tercipta. Bila “musuh bersama” lahir, rasa senasib sepenanggungan hadir. maka, ia akan menyatu dengan mudah. Dalam konteks ini, Anies Baswedan memungkinkan untuk menjadi Capres 2024, bila ia mampu atau melalui sosok dirinya mampu menghadirkan suasana bathin adanya musuh bersama dan rasa senasib sepenanggungan diantara berbagai entitas maupun segmen masyarakat di Indonesia.

Pertanyaannya, “mampukah Anies menghadirkan itu ?”.

Berbagai kebijakan pro-pada beberapa entitas segmen masyarakat dalam beberapa tahun belakangan menunjukkan indikasi Anies sedang menghadirkan suasana bathin tersebut. Minimal terhadap yang ia anggap sebagai “pendukungnya”. Efektif tidak efektifnya, perjalanan waktu yang teramat singkat ke depan akan menjawabnya. Bila ia mampu menghadirkan itu, maka hal logis kedua yang harus kita pertimbangkan.

Kedua, Kontestasi Pilpres 2024 yang akan datang diperkirakan sebagai kontestasi diantara figur-figur muda yang secara politis, eksis hari ini. Pengertian eksis merujuk pada kiprah yang mereka lakukan di posisi-posisi jabatan politis. Jabatan-jabatan politis tersebut menjadi panggung serta ikhtiar untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas politik mereka. Investasi dan daya tawar jelang 2024.

Figur-figur tersebut, selain Anies Baswedan, diantaranya Tri Rismaharini, Ganjar Pranowo, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Puan Maharani, Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Erick Thohir, Muhaimin Iskandar. untuk menyebut beberapa nama diantaranya.  Figur-figur tersebut secara sederhana dikelompokkan menjadi dua, politisi partai politik dan non-partai politik.  Tri Rismaharini, Puan Maharani dan Ganjar Pranowo merupakan politisi PDI-P. Sandiaga Uno dari Partai Gerindra, Muhaimin Iskandar dari PKB  serta AHY yang dianggap sebagai “putra mahkota”  partai Demokrat. Sementara Ridwan Kamil, walau tidak dikategorikan sebagai politisi dari partai politik. tapi, untuk tahun-tahun terakhir ini, ia dianggap sebagai representasi partai Nasdem.

“Partai Golkar, bagaimana ?”.

Dalam beberapa periode terakhir, setidaknya setelah Orde Baru, partai Golkar memiliki kecenderungan sebagai “bamper”. Kemanapun mereka bisa masuk. Disamping dikenal sebagai partai politik yang dihuni para politisi “piawai”, partai Golkar tidak memiliki figur dengan daya jual tinggi. Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo bukanlah figur yang memiliki popularitas tinggi, apatah lagi elektabilitas mereka. Dengan kondisi ini, Golkar ke depan, dianggap memiliki peran signifikan dalam menentukan arah bandul politik negeri ini.

“PDI – P ?”.

Setelah Jokowi, Megawati memiliki beberapa figur terbaik. Bila dikerucutkan, maka telunjuk akan mengarah pada 2 figur, Tri Rismaharini dan Ganjar Pranowo. Kedua figur ini, sebagaimana halnya Jokowi, merupakan binaan sang “God Mother”, Megawati Soekarnoputri. Risma dan Ganjar memiliki “panggung” politik yang menjadi lahan gratis untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas mereka. Risma sebagai Walikota Surabaya 2 periode. Ganjar sebagai Gubernur Jawa Tengah 2 periode. Di posisi mereka masing-masing, Risma dan Ganjar dianggap berhasil. Khusus Ganjar, apabila beliau mampu menjaga momentumnya dengan baik sebagai Gubernur Jawa Tengah hingga berakhirnya periode ke-2 jabatannya tersebut (tahun 2023), maka diasumsikan Ganjar berpotensi besar dibandingkan Risma yang jabatanya berakhir tahun 2020 lalu. Kini, ia menjadi Mensos. Namun, bila Risma memiliki “panggung” lain, katakanlah menjadi Gubernur DKI Jakarta tahun 2022 nanti, misalnya, maka bisa jadi Walikota dengan segudang penghargaan ini, justru lebih menjanjikan dibandingkan Ganjar. Artinya, Megawati memiliki keleluasaan dalam memilih “amunisi” untuk menjaga keberlanjutan dominasi PDI-P. Diantara ketua partai politik di Indonesia saat ini, Megawati dianggap sebagai Ketua partai politik yang mampu melahirkan figur-figur berkualitas (popularitas dan elektabilitas) dari rahim partainya sendiri.

“Puan Maharani, bagaimana ?”.

Walau dianggap sebagai peraih suara tertinggi dalam Pemilihan Legislatif April 2019 yang lalu, untuk eksekutif, Puan jauh kalah dibandingkan nilai jual yang dimiliki oleh Ganjar dan Risma.

“Bukankah Megawati rugi dengan tidak mengorbitkan anaknya jadi Capres, kelak ?”.

Megawati ingin menjaga keberlanjutan dominasi PDI-P. Karena itu, tahun 2014 yang lalu, ia lebih memunculkan nama Jokowi (kala itu menjabat Gubernur DKI Jakarta) dibandingkan namanya sendiri. Padahal, pada tahun tersebut, Megawati memiliki kans besar untuk mencalonkan dirinya sendiri. Tapi tak dilakukannya. Tentunya, untuk tahun 2024, ia tak ingin memaksakan kehendak untuk mencalonkan anaknya. Kecuali terdapat trend positif popularitas dan elektabilitas Puan. Tapi rasanya, tak mungkin. Jabatan sebagai Menko pada periode Jokowi – JK kemaren, Puan dianggap biasa-biasa saja, untuk tidak mengatakan, tak memuaskan. Jabatannya sebagai Ketua DPR-RI kini, (mungkin) bagi Megawati merupakan posisi tertinggi dan yang diidam-idamkan selama ini. Keluarga Megawati telah memiliki rekam jejak jabatan-jabatan strategis di negeri ini. Ayah Puan, almarhum Taufik Kiemas, pernah menjadi Ketua MPR-RI periode Presiden SBY. Megawati jadi Presiden RI. Kini, anak mereka berdua, Puan, jadi Ketua DPR-RI.

Praktis Risma dan Ganjar yang memiliki potensi besar untuk jadi calon  Presiden 2024 yang akan datang, dengan catatan : menjaga momentum politik yang mereka miliki di jabatan politik mereka masing-masing dan yang paling utama, direstui oleh Megawati Soekarnoputri.

Atas nama strategi politik, PKB  akan tetap menaikkan calon dari internal mereka sendiri. Catatan historis manuver-manuver Muhaimin Iskandar selama ini, menjadi bukti otentik. Apa yang dilakukan PKB, sudah selayak dan sepantasnya. Strategi efek ekor jas menjadi pertimbangan utama. Calon internal juga diasumsikan menjadi perekat soliditas dalam tubuh PKB maupun partai-prati lainnya. Pada titik tertentu, terjadi koalisi, itu adalah hal lain. Sesuatu yang lumrah untuk dilakukan dalam politik praktis.

"Partai Demokrat ?".

Indikasi AHY adalah “harga mati”, sulit untuk dibantah.

“Sandiaga Uno, bagaimana ?”.

Tergantung Prabowo. Kalau Prabowo tak mencalonkan diri tahun 2024 yang akan datang, kans Sandiaga Uno bisa dianggap besar. Disamping telah memiliki modal elektabilitas dan popularitas, Sandi termasuk salah satu elit dalam tubuh partai Gerindra. Sandi  juga punya uang. “Politik itu mahal, bahkan untuk kalahpun, kita harus mengeluarkan banyak uang !”, kata aktor Amerika Serikat, Will Rogers.

Tapi saya yakin, tahun 2024 yang akan datang, Prabowo mencalonkan dirinya kembali. Bila kita buka catatan-catatan tahun 2000 - 2002 di beberapa media massa berkaitan dengan “kegetiran” yang dialami Prabowo, maka bisa kita simpulkan bahwa Gerindra didirikan oleh Prabowo untuk dirinya, bukan untuk orang lain. Bergabungnya Prabowo ke kabinet Jokowi, bisa diasumsikan Prabowo sedang menajaga momentum untuk dirinya. 

“Nasdem ?”.

Surya Paloh kemarin ngambek. Pada dasarnya, ia marah mengapa ada orang yang tak berkeringat bisa mendapat jatah kursi di kabinet. Lalu, ia main mata dengan pihak lain. Pihak tersebut merasa senang. Namun dalam perjalannya, Surya Paloh justru dianggap “bermain jelek”. Kini, Surya Paloh aman-aman saja setelah beramah mesra dengan Megawati yang dianggapnya sebagai  mbaknya. Artinya, pada masa yang akan datang, Surya Paloh bisa ngambek lagi bila kondisi seperti ia ngambek beberapa bulan lalu hadir kembali dan bisa mesra bila ketawa-ketawa dengan “mbak”nya  lagi.

“Erick Thohir ?”.

Bisa jadi, ke depan, ia akan menjadi rising star. Dengan catatan, kinerjanya bagus. Popularitasnya diasumsikan akan meningkat. Dan ia akan dilirik, walaupun bukan berasal dari partai politik. Disamping popularitasnya tinggi bila ia mampu menjaga momentum yang dimilikinya, ia memiliki kelebihan lain yaitu uang. Kontestasi butuh biaya banyak. Posisi “orang nomor 2” adalah kans terbesar Erick.

“Lalu, Anies, bagaimana ?”.

Ia harus memelihara panggungnya. Panggung tempat ia mengiklankan dirinya. Karena figur-figur muda seperti Ganjar, Risma, Ridwan Kamil, AHY, Cak Imin dan yang lainnya, berpotensi besar menjaga momentum mereka masing-masing hingga jelang 2024. Kecuali Risma, bila beliau tak jadi Gubernur DKI Jakarta (sebagaimana indikasi politik yang “terbaca” belakangan ini). Kalau tak jadi Gubernur, Risma mniliki kans besar menjadi Menteri di Kabinet Jokowi setelah masa jabatannya sebagai Walikota habis dan tidak mencalonkan atau kalah dalam kontestasi jabatan Gubernur. Dan hal itu terbukti, ia masuk dalam kabinet Jokowi (reshuffle ). Sebab, Megawati berkepentingan besar menjaga “kans” dan “panggung” Risma.

Ke depan, ia tidak menghadapi Jokowi. Karena itu, mereduksi dan menyudutkan Jokowi kini dan masa yang akan datang, tidak berpengaruh. Tidak menambah secara signifikan tingkat elektabilitasnya. Bisa jadi kontraproduktif.

Bila ia ditakdirkan jadi Capres atau Cawapres 2024, Anies justru  menghadapi figur-figur baru dan “seusia” dengannya, seperti yang disebut di atas. Karena itu, Anies punya kans menjaga elektabilitasnya hingga bisa memiliki daya tawar jadi Capres atau Cawapres tahun 2024 yang akan datang, bila ia mampu menjaga “panggung”nya. Bahasa lainnya, menjaga jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta periode ke-2 nanti. Bila ia tak mampu menjaga periode ke-2 jabatannya tersebut, diasumsikan, ia akan “meredup”. Apatah lagi, ia tak punya panggung yang bernama partai politik.  Pun, dianggap tak kaya seumpama Sandiaga Uno dan Erick Thohir. Apalagi tak menjabat di periode ke-2 nanti.

Lalu .... !

Katakanlah Anies Baswedan bisa melanjutkan jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta tahun 2022 yang akan datang, maka pertanyaan logis yang muncul adalah “partai apa yang memungkinkan mengusung Anies jadi Calon Presiden 2024 ?” .

Maka yang perlu dipertimbangkan adalah faktor regulasi politik. Menurut akademisi dari Universitas Andalas Padang, Feri Amsari (2019), ada varian politik yang harus diperhatikan.  Varian tersebut adalah Electoral Threshold, Parliamentary Threshold, dan Presidential Threshold. Secara sederhana, ambang batas atau threshold dipahami sebagai batas minimal dukungan atau suara yang mesti dimiliki untuk memperoleh hak tertentu dalam pemilu. Dari segi fungsi dan kegunaanya, penerapan threshold adalah untuk mengurangi jumlah peserta pemilu; jumlah parpol yang duduk di lembaga perwakilan; dan jumlah parpol/kelompok parpol dalam pencalonan presiden dan wakil presiden. Presidential Threshold sebagai ambang batas perolehan suara yang harus diperoleh oleh partai politik dalam suatu pemilu untuk dapat mengajukan calon presiden. Misalnya dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009, pasangan calon presiden dan wakil presiden diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang memiliki sekurang-kurangnya 25% kursi di DPR atau 20% suara sah nasional dalam Pemilu Legislatif.

Apabila diasumsikan aturan ini masih digunakan untuk Pilpres 2024 yang akan datang, maka partai mana yang mungkin “menyokong Anies ?”.

Hasil perolehan suara partai politik dalam  pemilu 2019 yang lalu, PDI-P memperoleh  sekitar 19,5 %, lalu Partai Gerindra sekitar 12,5 %, disusul kemudian Partai Golkar dengan perolehan suara 12  %. Sementara itu, partai politik lainnya seperti PKB  (9,5 %), Partai Nasdem (9 %), PKS (8 %), PPP (4,5 %), Partai Demokrat (7,7 %) dan PAN (6,8 %). Sementara itu, perolehan suara untuk partai-partai lainnya seperti Hanura, Garuda, Perindo, PKPI, PBB dan PSI tidak mencapai ambang batas electoral threshold. Artinya, untuk tingkat nasional, suaranya “amblasss”, berbilang tapi tak terbilang.

Anies bukan “pemilik” partai politik. Bukan pula anggota partai politik. Bukan pula pengusaha yang memiliki uang trilyunan. Politik butuh dana. Dalam sebuah kontestasi, partai politik membutuhkan dana untuk menggerakkan mesin politik. Sebuah keniscayaan. Lumrah.

“Mungkinkah ia dicalonkan oleh partai politik ?”.

Sebagaimana yang dijelaskan diatas, kecenderungan partai politik, baik secara teoritik maupun historis, pada awalnya partai politik selalu mencalonkan kader-kader mereka. Tak mungkin mencalonkan kader dari eksternal. Ini persoalan hakikat partai politik dan “harga diri”. Koalisi yang terjadi selalu di akhir yang umumnya dikomandani oleh partai-partai yang memperoleh suara signifikan.

“Mungkinkah Anies dicalonkan PDI-P ?”. (Halllo mbak Mega !)

“Mungkinkah Anies dicalonkan Gerindra ?”. (Berhadapan dulu dengan Prabowo).

“Mungkinkah Anies dicalonkan Golkar ?”. Akan muncul suara, banyak kader Golkar yang terbaik).

“Mungkinkah Anies dicalonkan Nasdem ?”. (Tanya Pak Paloh dan Mbak Mega).

“Mungkinkah Anies dicalonkan PKB dan PPP ?”. (Cak Imin PKB, bagaimana ?. Tanggapan warga Nahdliyin sebagai konstituen utama PKB dan PPP,  hayooooo !).

“Mungkinkah Anies dicalonkan Demokrat ?”. (AHY .... nya ?).

“Bagaimana dengan PKS dan PAN ?”. (Jumlah ambang batasnya .... bagaimana ?).

Kalaupun bisa menyatukan tiga partai, yakin ketiga partai tersebut sepakat tentang defenisi “paket” Capres-Cawapres ?. Pasti masing-masing partai akan mengajukan calon dari partai mereka masing-masing. Naiknya Sandiaga Uno sebagai Cawapres Prabowo, menjadi fakta yang tak terbantahkan bagaimana sulitnya mengajukan calon yang sama-sama disepakati oleh seluruh partai pendukung, kecuali partai utamanya memperoleh suara tertinggi seperti PDI-P.

Kalaupun bisa menyatukan tiga partai, yakin tak butuh dana besar. Sanggupkan Anies menghadirkan dana yang sangat besar tersebut ?. Pertanyaan runtut akan banyak bermunculan yang ditujukan pada posisi Anies sebagai calon Presiden pada 2024 yang akan datang.

“Lalu, menurutMu, bagaimana, bro ?”.

Paling mudah bagi Anies adalah Pertama, menjaga panggung politik yang dimilikinya. Jabatan Gubernur periode ke-2 harus dipegangnya. Mungkin ia akan menghadapi lawan yang berat di kontestasi periode ke-2 nanti. Tri Rismaharini menjadi calon yang dimunculkan banyak pihak belakangan ini. Dan, Anies harus menang. Kalau kalah, ia kehilangan momentum menjaga elektabilitasnya. Pertanyaannya, “untuk Calon Gubernur DKI Jakarta periode ke-2 nanti, yakin Gerindra, PKB, PPP dan partai lainnya mendukung Anies Baswedan kembali, padahal Anies butuh dukungan politik dari 2 atau tiga partai ?”.

Kemudian yang kedua, kalau Anies tetap jadi Gubernur di periode ke-2, saya justru terpikir ke  yang lain untuk 2024. Bagusnya Anies dicalonkan sebagai Cawapres oleh PDI-P....😂😂. Berpasangan dengan Ganjar atau Risma sebagai Capres-nya. PDI-P punya kans besar bisa mencalonkan sendiri. Paling tambahan satu partai (perolehan suara kecil). Seperti SBY (Demokrat) tahun 2009 yang bisa mencalonkan Boediono sebagai Cawapres partai lain, terpana, karena Demokrat punya peluang besar mencalonkan satu paket sendiri.

“Artinya apa ?”, tanya seorang kawan.

Kita -kita yang mendukung dan Mencintai Anies. jangan begitu benci sama PDI-P dan Megawati. Sebab, jangan spai seperti kasus Prabowo jadi, yang jadi “anak buah” Jokowi.  “amblasss  hatimu, jadinya !”. Olehnya, mari kita endapkan sejenak ungkapan Gibran Kahlil Gibran (1883-1931) : "Tahukah engkau siapakah orang yang akan mendatangkan bencana bagi bangsamu?. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menyebar benih, tidak pernah menyusun bata, serta tidak pernah menenun kain, tetapi menjadikan politik sebagai mata pencaharian”.

Kita bisa sabar menunggu daging jadi rendang, tapi ketika sudah masak, kadang kita tak mampu membedakan antara daging dengan lengkuas.


NB ; Coretan Desember tahun 2021



***

ORANG PINTAR TIDAK PERLU MINUM TOLAK ANGIN 

Dulu, sering saya utarakan, bahkan di platform media Pesbuk dan IG. Sering sekali, bahwa Dalam Politik, jangan terlalu membenci. sampai memaki-maki atas Keberpihakan Metro TV dan Surya Paloh-Nya Pada Kekuasaan. Sekarang, kalian malu-malu, saat Nasdem dan Surya Paloh Mendeklarasikan Anis Baswedan Sebagai Capres 😀.

Kalau mau Nonton Tipi. Yah, Nonton Tipi saja. Niatkan untuk menambah Informasi - Ilmu pengetahuan. Jangan Selipkan Orientasi Politik. Sebab, Orientasi politik akan berubah seiring waktu, Coi. Di dalam Politik, Benci dan cinta itu tergantung waktu - Dulu, benci. Sekarang Suka, nanti suka lagi. Contohnya, Metro TV dan Surya Paloh. 

SURYA PALOH itu politisi. Jam terbangnya tinggi. Beberapa waktu lalu, Partai NasDem mengusung nama Anis Baswedan sebagai Capres 2024. Bukan mengusung dari figur milik parpol koalisi. Surya Paloh cerdas membaca "keuntungan politik". Dia menyadari, partainya butuh tokoh dengan elektabilitas tinggi. 

Konsistensi elektabilitas belakangan ini, berada di tiga figur, yaitu Ganjar, Prabowo dan Anis. Ganjar yang juga menjadi salah satu nominasi calon dalam konvensi Partai Nasdem beberapa waktu yang lalu, selain Anis dan Jenderal Andika Perkasa, tentunya bukan figur yang "bebas". Sebab, mereka milik PDIP. 

Surya Paloh butuh momentum politik untuk menjaga eksistensi partainya ke depan. Anis Baswedan-lah yang "bebas", tentu menjadi peluang. Walau belum terverifikasi melalui survey, tapi bisa kita katakan Anis lebih sering diasosiasikan oleh publik sebagai orang yang lebih dekat dengan PKS. Walau beliau bukan anggota PKS. Surya Paloh, mengambil secara cepat "posisi" ini dan ingin mengatakan pada publik, bahwa Nasdem yang berani secara nyata mencalonkan Anis, bukan partai lain. Kalau ingin mendukung Anis ke depan, ayo bergabung. Mungkin demikian kira-kira, ujar Paloh Si Brewok. 

Selain itu, Ada satu penggal pidato Surya Paloh yang menarik bagi saya, "semoga nanti orang yang tak suka dengan Nasdem, menjadi suka dengan Anis. Kalau anggota Nasdem, sudah pasti suka". Sederhananya, Surya Paloh ingin mengatakan bahwa yang selama ini membenci pada Nasdem, mulailah mendekat. 

Begitulah Permainan yang teramat cantik. Puzzle masih sedang disusun. Bisa jadi, nanti, Nasdem berjalan sendirian. Kesepakatan tak tercapai. Kawannya yang kemarin pun pergi. Bisa juga banyak yang datang menghampiri. Semua Serba mungkin. Demikianlah politik, coi. 

"Karena itu, dari dulu ku katakan - Jangan mudah membenci pada Surya Paloh dan Metro TV. Politik itu cair. Mana tahu, nanti PKS berkoalisi dengan PDIP, dan lalu meninggalkan Nasdem !". 

"Tidak mungkin. Tidak mungkin. Surya Paloh tak seperti itu?", katamu.

"Kah kah kah 😅🤣😂, kamu sudah mulai memuji Surya Paloh yah?".

Politisi yang berjalan Menuju 2024 Sedang beradaptasi. Saling menyesuaikan. Puzzle-puzzle pun dihubungkan. Seperti berpelukan. Bisa jadi, beberapa bulan ke depan, mereka saling hantam, mecaci dan memaki. Padahal, Dulu mereka berkawan akrab. Berjalan bersisian. Saling memuji. Bersebrangan dan saling hantam. Kelak, bertaut kelingking. Begitu politik. 

Persis Ketika kita menonton sebuah acara debat di TV. Ingatan kita "terbang" beberapa tahun yang lalu. Dimana tokoh politik yang satu duduk bersisian dengan tokoh politik yang satunya lagi. Membela pendapat yang sama. Kini, mereka duduk berseberangan dan saling adu, bahkan tak jarang mau baku hajar 😂. 

" so, Bagaimana dengan calon-calon yang lain. Kenapa adem ayem saja ?". 

Kata Nagabonar, "NICA masih jauh. Mari kita main catur dahulu, !".


**

Selain politik itu cair. Dalam politik itu hanya diikat oleh satu kata saja, "KEPENTINGAN". Agama dan ideologi, hanyalah penguat dan perekatnya saja. Bila kepentingan dirasa sama, maka semua ideologi terasa jadi sohib. Dulu, kawan saya berkata, "bagaimana bisa komunisme satu biduk dengan agama atau utara-selatan?". Terbaca bahwa kawan saya itu, tidak membaca. padahal, Cukuplah eksperimen politik Soekarno yang menjawabnya, yaitu Nasakom - Nasionalis agama komunis yang disatu padukan menjadi satu paket dengan aura revolusi. 

Lalu lihatlah, bagaimana mungkin Iran bisa menyatu dengan Arab Saudi dan Amerika Serikat ?. Kalau sekarang, Iya Tidak. Ibarat air dan minyak. Tetapi, realitas sebelum tahun 1979, justru kita akan terkejut. Jimmy Carter, Presiden Amerika Serikat masa itu, pernah mengatakan, "sahabat terbaik yang saya miliki di Timur Tengah adalah Syah Reza Pahlevi - Kaisar Syahansyah Iran, Menachen Begin - PM Israel, Anwar Sadat - Mesir dan Arab Saudi". 

Bahkan, kedatangan Raja Iran ke Arab Saudi maupun ke Amerika Serikat selalu disambut dengan "karpet merah". Apa yang membuat mereka menyatu?. Tidak lain Adalah Kepentingan. Lebih spesifiknya, bisnis Minyak. Ketika kepentingan tidak lagi saling menguntungkan, Iran bagi Amerika Serikat dan negera-negara sekutunya adalah menjadi salah satu negara "poros setan", istilah yang dikeluarkan oleh George W. Bush jr. 

Hal ini saya ulangi lagi, Pernahkah kita menonton film BOURNE - tiga serial itu. Sering diputar berkali-kali di TV swasta nasional. Film yang dibintangi Matt Damon tersebut memang luar biasa. Kalau belum, nontonlah. 

Dari film itu kita akan tahu, makna politik yang dihubungkan dengan kepentingan. Bagaimana Bourne yang ditugasi untuk memuluskan suatu proyek rahasia. Bourne yang menjadi kesayangan dan sangat diandalkan pimpinannya itu, ternyata gagal untuk memuluskan rencana rahasia tersebut. 

Apa harga yang harus dibayar Bourne? . Bourne dikejar-diburu dengan satu target, "Lenyapkan". Seluruh data dan opini "disesuaikan" agar Bourne layak untuk dilenyapkan. 

So, Siapa yang berusaha melenyapkan Bourne?. bos-nya - pimpinannya yang Dahulu mengandalkan bourne untuk menjalankan sebuah misi rahasia. namun ketika misi tidak lagi efektif, maka pantas untuk dilenyapkan. Kepentingan yang merubah "sudut pandang". Data dan opini, hanya bumbu yang bisa dibentuk kemudian hari. Di titik inilah, saya teringat adagium Klise dalam terma politik, "Musuh dari kawanmu adalah kawanmu". 

Contoh lain misalnya, Ronald Reagan - Mantan presiden Amrik dengan Mujahiddin Afghanistan (termasuk Osama bin Laden), dulunya adalah kawan - sohib. Kemudian, ketika misi sukses dan kepentingan sudah tidak ada lagi, maka berubah menjadi lawan. Opini dan data, dimunculkan belakangan. 

Saddam Hussein, selama hampir 10 tahun menjadi harapan besar Amerika Serikat - American boy dan sekutunya - Eropa dan Timur Tengah, untuk mengahncurkan Rezim demokrasi - teokratis Iran. 

Seluruh biaya dan sumber daya diberikan kepada Saddam Hussein. Terjadilah Pembunuhan terhadap suku Kurdi dan warga Syi'ah di Irak oleh Saddam Husain. kala itu dianggap sesuatu yang wajar, karena Saddam putra Tikrit sedang menjalankan misi besar, yaitu mengembalikan kejayaan Kekaisaran Persia yang direbut oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini. 

Tapi Saddam gagal. Kemudian Saddam dimusuhi, dibunuh dan dianggap pemimpin Jahat. Pembenarannya, disusun belakangan, pokoknya Saddam harus tumbang. Apalagi ditambah ketika Saddam mulai meningkatkan “daya tawarnya” ketika mencaplok Kuwait dengan alasan historis. Dari pangkalan militer Amerika Serikat di Arab Saudi, Saddam di gempur oleh Bush senior. Jenderal Norman Schwarzkopf memimpin operasi yang dinamakan Badai Gurun. Kuwait bebas, Saddam terkucil dari politik dunia, khususnya pergaulan antar negara di Timur Tengah. Saddam ditinggalkan. 

Setelah Bush senior tidak lagi menjadi Presiden, Bill Clinton naik 2 periode. Saddam masih eksis dengan keterkucilannya. Tapi, Saddam tidak memberikan konsensi eksplorasi ladang-ladang minyak kepada negara-negara Barat. Ihwal itulah, Bush junior, anak dari Bush senior, yang kedua-duanya adalah Presiden Amerika Serikat – negara yang merupakan sahabat kental Saddam Hussein tahun 1980-an, bernafsu menguasai Irak. Maka, pembenaran dicari dan dibentuk atau di konsturksikan - “Saddam diktator, megalomaniak dan pembunuh rakyat”, demikian kata AMRIK.

Senjata pemusnah massal, pembunuhan suku Kurdi dan Syi’ah dijadikan alasan untuk menghabisi Saddam. Akhirnya, sejarah mencatat, Saddam berakhir di tiang gantung. Senjata pemusnah massal tidak terbukti. Justru, para pialang minyak berebut - menguasai limpahan ladang-ladang minyak di Irak. Duka lara rakyat Irak, hingga hari ini terus berlanjut. Dollar tetap mengalir dari minyak bagi negara-negara barat. 

Lalu, bisa kita lihat Khaddafi. Siapa yang tidak kenal moammar Khaddafi. Seorang pemimpin negara Islam yang dianggap “gila” oleh banyak pihak. Membincangkan Khaddafi, sungguh teramat menarik. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, Khaddafi pernah mengatakan, “tak perlu menghiba - mengharap pada AS dan Uni Sovyet (Rusia), karena pada dasarnya kedua-duanya sama, yang satu imperialis dan satunya lagi adalah atheis”. Khaddafi selalu melakukan hal “gila” untuk memperlihatkan solidaritas (sesama muslim)nya. Khaddafi dikenal memiliki solidaritas diantara kaum muslimin internasional yang sangat tinggi. 

Pada tahun 1972, Presiden Uganda yang fenomenal, "Idi Amin" gagal mendapatkan bantuan keuangan dari Israel yang telah lama membantu negara "benua hitam". Sewaktu ia mau pulang ke negaranya, Idi Amin menceritakan kegagalannya memperoleh bantuan keuangan dari Israel. Oleh Khaddafi kemudian, Idi Amin diberikan bantuan dua kali lipat dari permintaan Idi Amin pada Israel. Syaratnya tidak banyak - putuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Itu saja Dan uang dianggap lunas, tidak perlu dikembalikan. 

Ketika tentara Israel menghantam pesawat-pesawat terbang Uganda karena Uganda dianggap terlibat kasus penyanderaan orang Yahudi dalam penerbangan Air France dari Athena tahun 1975 (?), Khaddafi dengan amat cepat mengganti pesawat-pesawat Uganda ini dengan pesawat-pesawat tempur Mirage buatan Perancis. Perancis-pun marah, karena merasa dibohongi oleh Khaddafi yang mengatakan bahwa pesawat-pesawat Mirage yang dibelinya itu untuk kebutuhan dalam negeri. Khaddafi tidak ambil pusing. Bagi Khaddafi, Perancis hanya “ngambek”, nanti bila dikasih (tambahan) konsensi minyak, pasti tersenyum lagi. 

Di Afrika, Khaddafi tidak hanya membantu Uganda saja. Banyak negara-negara lain di "benua hitam" menerima uang pemberian Khaddafi. Bantuan "gratis" dengan syarat mudah - negara-negara penerima bantuan Khaddafi harus memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. 

Nasserianisme-nya teramat kental. Namun seiring dengan perjalanan waktu, Khaddafi "meluaskan" wilayah hasrat politik internasionalnya. Ia memberikan bantuan tidak lagi dengan syarat pemutusan hubungan diplomatik dengan negara Israel saja. Khaddafi justru membantu elemen-elemen masyarakat yang memberontak terhadap negara mereka masing-masing. "Seandainya Afrika Selatan dekat dengan negara kita secara teritorial, tentu saya akan memberikan bantuan keungan dan persenjataan pada mereka untuk melawan rezim Apartheid", kata Khaddafi. Perlawanan IRA (pembebasan Irlandia Utara) terhadap Inggris juga (konon) turut di back-up secara finansial oleh Khaddafi. 

Demikian juga dengan pergolakan penduduk Islam di Moro di Filiphina Selatan. Bahkan Presiden Filiphina pada masa itu, Ferdinand Marcos, sering dikutuk dan dicaci maki oleh Khaddafi. Sambil mengutuki Marcos, bantuan keuangan dan senjata terus mengalir ke Filiphina Selatan, lewat Tripoli. Bahkan disinyalir, Khaddafi juga terlibat dalam perjuangan masyarakat muslim Thailand Selatan (Yala, Narathiwat dan Pattani). 

Di kawasan bergolak yang tadinya merupakan milik Sultan-Sultan Melayu tersebut, pergolakan tidak seseru Filiphina Selatan, tapi campur tangan Khaddafi cukup diperhitungkan. Khaddafi – terlepas dari kontroversialnya – adalah sahabat TTM (teman tapi mesra) dari Pemimpin Perancis (Nicholas Sarkozy), termasuk sahabat baik Obama (AS), Silvio “playboy” Berlusconi dan Tony Blair (PM. Inggris). Bahkan Qaddafi menjadi donatur utama pembiayaan kampanye Sarkozy. 

Tapi lihatlah, ketika kepentingan tidak lagi menyatukan mereka. justru, Sarkozy, Tony Blair dan Obama yang menghabisi Khaddafi. Atas nama menciptakan dan menjaga demokrasi, Sarkozy turut andil dalam menghabisi sahabat yang juga menjadi donatur utama kegiatan politiknya. 

Artinya, Jangan terlalu heran kita dalam politik. Suatu saat, pada masa cucu kita, bisa jadi Amerika Serikat bersahabat erat dengan Korea Utara - negara yang “menuhankan” keturanan KIM (KIM il sung - KIM jong il - KIM jong un) kelak, mungkin ada pula KIM yang lain. Bisa juga, negara-negara barat tidak akan lagi mengacuhkan negara-negara kaya teluk di Timur Tengah, apabila cadangan minyak mulai menipis. 

Hal Itu menjadi biasa Soekarno pernah mengatakan, “revolusi saja biasa memakan anak kandungnya”, apatah lagi hanya sekedar untuk mengalihkan opini politik. Jadi jangan heran, bila hari ini ideologi A dipuji-puji, sementara B diburuk-burukkan, bisa jadi nanti mereka bergandengan tangan ataupun menjadi sebaliknya, A yang burukkan sedangkan B adalah yang paling baik. 

Sekian saja dulu. Teruslah membaca dan membaca, serta menelaah dengan penuh arif. Jangan MEMENGGAL sebuah peristiwa hanya pada bahagian yang terlihat atau yang terjadi sekarang. Sebuah peristiwa itu terbentuk dari perjalanan historis yang panjang. Peristiwa itu tidak hadir dengan sendirinya, sebagiamana tidak ada seorang tokoh yang datang dari “negeri antah barantah”. Maka pelajari itu, lalu silahkan berpendapat, walaupun pendapat kita berbeda, tidak masalah.

Berbeda itu biasa, seperti saya yang suka kopi yang engkau seduh serta kau brikan bersama senyummu, sementara kamu sendiri ingin muntah meminumnya. Justru dari perbedaan itu romantisme terbentuk 😊😉 Prikitiew. 

Mari berfikir pintar. Karena pintar itu, tak perlu minum TOLAK ANGIN.


***

Anies dan Prabowo itu pasar pemilihnya sama. persaingan antara keduanya cukup sengit. Sementara, Pak Ganjar hanya rebutan suara dengan Puan. Inilah yang membuat Ganjar selalu lebih bersinar ketimbang Puan dalam berbagai survei.

Anies dan Ganjar, jika jalannya mulus untuk maju ke pentas nasional, sebenarnya cukup mirip dengan jalan dua presiden terakhir.

Naiknya Anies itu mirip dengan SBY. Popularitasnya sangat tinggi, sehingga kemudian dicemburui oleh atasannya. Penyingkirannya dari kabinet tidak membuatnya redup.

Sementara, naiknya Ganjar itu mirip pak Jokowi. Popularitasnya lebih tinggi daripada pemimpin, sekaligus pemilik darah biru di partainya. Karena popularitasnya itulah, ia dicemburui oleh para petinggi partainya.

Bedanya, dulu SBY gesit membangun partai sendiri. Sebab, tanpa partai sendiri, ia mungkin hanya akan jadi kendaraannya Golkar untuk kembali berkuasa. Sekarang, meskipun popularitasnya sangat tinggi, masa depan Anies sangat tergantung kepada proses pencalonan yang berlangsung di tubuh partai, seperti Nasdem, PKS, atau PAN.

Pada akhirnya, meskipun populer, karena tak punya kendaraan politik sendiri. maka, ia harus membangun banyak sekali posisi tawar sejak sangat dini. Itu tidak menguntungkan karakter kepemimpinannya.

Membangun relawan sebagai basis kendaraan politik juga bukan pilihan menarik. Belajar dari pengalaman Pak Jokowi, sesudah berkuasa organisasi relawan ternyata bisa lebih "ganas" daripada partai.

Sementara Ganjar, sama seperti halnya Pak Jokowi, dia cukup hanya menjadi orang Jawa untuk mendapatkan tiket dari partainya. Dia tidak boleh dan tidak perlu berkonfrontasi dengan Teuku Umar. Jangan lupa, pada 2014 silam, yang berniat maju adalah Bu Mega sendiri. Toh ia kemudian merelakan tiket itu untuk pak Jokowi. Sebuah tiket calon presiden tentunya lebih baik dari sebuah tiket calon wakil presiden. Saya kira game ini juga akan berulang pada 2024.

Posisi Ganjar juga lebih kuat dari posisi pak Jokowi dulu. Kalau pak Jokowi hanyalah prajurit di partainya, Ganjar adalah panglima perang, yang punya pasukan di partainya.

Tantangan serius yang akan dihadapi Ganjar adalah sikap megalomaniak PDIP. Dua kali menang Pemilu, serta bisa menguasai parlemen dan eksekutif secara bersamaan, bisa membuat PDIP terjebak pada sikap megalomaniak sebagaimana halnya pada tahun 1999. Karena merasa besar dan menang, yang membuat elite mereka tidak low profile, PDIP akhirnya ditinggalkan oleh partai-partai lainnya dan terjungkal di hadapan Poros Tengah.


***


PRABOWO DAN PUTRA MAHKOTA

Belum lama saya berdiskusi dengan senior, Masih basah ingatan soal ini, kira-kira tahun 2019 yang lalu. tentang Raja Abdullah, Raja Jordania. Putera dari Raja Hussein.

Saya teringat kembali, saat kawan mengirimkan sebuah video Seorang penceramah kondang yang memberikan arahan kepada para jama'ahnya. Biasa, arahan untuk pilpres 2019, yang telah berlalu. Video dengan durasi yang tidak begitu panjang, penceramah tersebut berkata, kira-kira begini:

"Kedepan, kita butuh pemimpin yang mengubah arah poros hubungan diplomatik. Tidak bergantung pada China. Tidak juga pada barat. Tapi pada arab, dan yang mampu melakukan itu adalah Prabowo. Sebab prabowo adalah sahabat karib dari Raja Abdullah. Raja Jordania, keturunan Rasulullah SAW. Raja Abdullah adalah raja yang sangat berpenaguruh di Timur Tengah. Jordania adalah negara yang sangat makmur, Dst".

Bagaimana menurutmu tentang ini?. "Bukankah hal ini yang sangat luar biasa, sebab meruntuhkan mitos bahwa poros yang ada selama ini hanya poros barat dan poros china", tanyanya seusai mengirimkan video".

Bagi saya, setiap orang berhak berpendapat. Pendapat yang di butuhkan untuk membenarkan atau mendukung pilihannya. Kita biasa melakukan itu dalam tiap kesempatan. Tapi, janganlah memberikan pendapat yang hampir sulit (bukan berarti tidak mungkin) untuk dilakukan. Seperti tidak mau menggunakan Dollar sebagai alat tukar perdagangan dunia atau mencetak uang Rupiah sebanyak-banyaknya, agar orang indonesia kaya-kaya.

"Mengapa tidak mungkin?".

Pertama, Politik luar negeri kita, bebas dan aktif. Dengan negara manapun kita berhak bekerjasama. Bahkan membuat poros-porosan. Tetapi yang harus dipahami adalah apakah Raja Abdullah itu tokoh yang berpengaruh di Timur tengah?. Kalau sahabat prabowo, memang iya. Kalau kita baca di majalah tempo doloe tentang Forum keadilan (lupa judul majalahnya apa), kita akan menemukan tulisan-tulisan tentang persahabatan Prabowo dengan Raja Abdullah tersebut. 

Tetapi Raja Abdullah bukanlah Tokoh yang selama ini menjadi penentu arah Geo-politik Timur tengah. Beda dengan ayahnya, Raja Hussein yang di tahun 80-an menjadi Tokoh sentral di kawasan ini. Bersama khomeini, Anwar Sadat, Hafez al-assad dan Yasser Arafat serta pemimpin-pemimpin negara Israel. 

Minimal "daya tawarnya" cukup signifikan berkaitan dengan ritme sosial politik di kawasan itu. Tapi Raja Abdullah tidak, Jordania di bawah raja ini bukanlah negara yang memiliki daya tawar tinggi. Juga negaranya tidak kaya amat. Bisa dikatakan biasa-biasa saja, bila di bandingkan dengan negara-negara tetangganya. (Begitu kata senior saya, waktu itu).

Dari itulah saya berpikir, "pengaruh ekonomi-politik apa yang di berikan pada negara kita jika membangun hubungan dengan Jordania?. Kalau sekedar membuka romantisme pertemanan atas nama masa lalu, yah boleh-boleh saja. Tapi jaganlah lansung dianggap itu solusi hebat yang akan merubah arah sejarah bangsa kita. Hal Itu seperti menganggap seseorang yang punya potensi sebagai pedagang, namun di paksa menjadi ulama".

Kedua, hal Ini yang lucu, Negara-negara di Timur tengah sana saja belum bisa membangun persatuan yang kuat antar negara. Mereka acap berkonflik antar sesama mereka sendiri. Perang-perangan, bom-boman, ranjau-ranjauan. Sejarah menukilkan kalam bahwa Dulu ada ikhtiar untuk menyatukannya, tapi selalu gagal. 

Eksperimen Pan-Arabisme yang dilakukan oleh Gamal Abdel Nasser, dulunya, gagal. Nasser bahkan sempat gundah gulana, "mengapa kita tidak satu rumpun dan tidak bisa bersatu?". Di coba lagi oleh Qaddafi, tapi hilang dalam slogan. Justru Qaddafi mati di tangan Rakyatnya. Negara-negara di kawasan itu lebih suka menjadi bahagian dari poros-poros kuat yang telah ada.

Dulu, zaman old, perang dingin terjadi. Negara-negara di kawasan itu terbagi-terbagi menjadi entitas politik poros Nato (AS, cs). Berlanjut hingga hari ini, walau USSR berganti nama menjadi Rusia setelah di landa "Tsunami politik" Glassnost perezstronikanya Michael Gorbachev. Akibatnya, AS semakin kuat. Anggota-anggotanya semakin bertambah, sedangkan Rusia tertatih-tertatih menjaga pengaruhnya. Rusia di bawah komando Kamared Alexander Putin, kembali menata dominasi kekuasaannya di kawasan Timur tengah, berhadapan dengan (plus Hegemoni) AS.

Pertanyaannya mengapa kita bercita-cita membangun poros dengan negara-negara yang justru nyaman menjadi bagian dari negara tertentu (AS atau Rusia), sementara kita menolak poros negara tersebut. Apa tidak lucu itu?.

Ketiga, Belakangan China menanamkan pengaruhnya di kawasan ini. Bahkan di hampir seluruh penjuru bumi yang bulat ini. Dalam konteks ekonomi politik, poros yang terbangun saat ini hanya dua: AS vis a vis China. Rusia sudah tidak di rekeng lagi. Prkatis ekonomi global di utak atik oleh dua negara ini. 

Mereka beperang seperti perumpamaan presiden Jokowi dengan "Game of thorenes" dalam pidato pembukaan annual meeting plenary IMF dan World bank di Nusa dua bali, waktu itu. Terlepas dari impac perang dagang dua negara tersebut, negara china sedang melejit. Bahkan negara-negara Timur tengah melakukan kerjasama antar negara. Investor china menanamkan investasi besar di kawasan itu, dan sebaliknya. Tidak percaya, silahkan baca info-info ekonomi di media-media mainstream dalam negeri maupun luar.

Berkaitan dengan itu, Presiden Edrogan yang di citra dirikan sebagai "figur mandiri", pada awalnya justru begitu Fleksibel menempatkan," siapa kawan terbaiknya?". Awalnya AS, lalu berpindah ke arah Rusia. Kini bergantung pada kondisi ekonomi politik china. Salahkah?, tidak. Sama sekali tidak salah. Seperti kata Deng Xiao ping, "jangan perdebatkan warna kucing. jika ia pandai mengkap tikus, Pakai dan pelihara".

China sedang melejit, tentunya sangat logis bila bekerjasama dengan negara tersebut.

Umpamannya, Presiden Prabowo menang kemarin. Yakinkah kita, bila beliau bekerjasama dengan china?. Kalau saya, sangat yakin. Sebab Hakikat politisi itu adalah pedagang, peniaga. Dimana ada gula disitu pasti ada semut. Kecuali dalam tubuh orang yang menderita diabetes. Paling kencingnya saja yang di kerumuni semut. 

Bahkan bisa jadi lebih intens kerjasama mereka. Dan sebagaimana lazimnya orang kerjasama, jelas tidak ada orang mau rugi. Minimal sama-sama menguntungkan. Kalau anti asing dan aseng acap di ucapkan, itu sebatas jargon. Seorang politisi itu pandai menyesuaikan, adaptasi. Bahkan mencari pembenaran, dan terkadang banyak cocologinya.

Termasuk ketika Sandiaga Uno (si ganteng buruan emak-emak itu) di pilih jadi Cawapresnya?. Kemudian muncul beberapa argumen adaptif untuk melakukan pembenaran. Padahal awalnya yang di gadang-gadangkan menjadi cawapresnya adalah kalangan agamawan.

Kita masuk di topik berikutnya, Kembali pada Hakikat Prabowo sebagai seorang politis, saya kutip ungkapan : "who get what, how and when", kata Teoritis Politik (Harold Lasswell), pernah ku tulis soal ini. "Saya dukung anda, saya mendapatkan apa, kapan di dapatkan dan bagaimana caranya".

Politik adalah dunia kalkulasi. Hitung-hitungannya jelas. Ketika Sandiaga Uno, belakangan muncul sebagai Cawapres, saya menduga Prabowo sedang mempersiapkan Opsi ke 2. Opsi 1, bila menang jadi presiden, persoalan jadi aman. Bila kalah, maka opsi ke 2 menyangkut keberlanjutan Partai Gerindra. Karena jika ia mengambil orang di luar Gerindra, Prabowo menganggap dirinya akan membesarkan kelompok lain. Dalam politik itu, kita sudah mafhum bahwasanya pertemanan itu hanya di ikat oleh kepentingan. Beliau menyadari, bagaimana KMP di tahun 2015, lalu redup di tahun-tahun berikutnya.

Dengan menjadikan Sandiaga Uno sebagai Cawapresnya, Prabowo tengah mempersiapkan "Putera Mahkota" yang akan memimpin biduk gerindra kedepan. Prabowo tidak lagi muda. Tentunya ia tidak ingin melihat Gerindra layu di masa-masa mendatang. Karena ia kalah dalam pilpres 2019, itulah ia mengiklankan Sandiaga Salahuddin Uno.

"Kader Gerindra Banyak, kenapa harus khawatir?".

Benar sekali, tapi yang sebanding atau minimal di bawah prabowo, tidak ada. Itulah celakannya bila sebuah biduk di besarkan oleh satu orang. Hingga sulit membedakan "siapa di besarkan, siapa yang membesarkan". Akhirnya, bergantung pada figur. Bila figur itu redup maka partai yang di dirikannya berpotensi untuk redup. Karena itu, momentum akan membuat kader di kondisikan. Momentum pilpreslah yang di baca oleh Prabowo.

Dalam teori ilmu politik, secara sederhana parpol itu tidak bergantung pada figur. Karena parpol dapat di klasifikasikan menjadi tiga : partai Historis, partai Ideologis dan Partai massa. Biasanya partai yang masuk dalam tiga kelas ini tidak akan terpengaruh secara signifikan apabila Figur pendirinya tidak aktif lagi di dunia politik. Katakanlah sudah meninggal. PPP, Golkar dan PDIP, bisa di kategorikan sebagai partai Historis. "Nilai-nilai kepartaiannya telah terinternalisasi sejak dulu". Orang memilih partai itu tidak bgtu tergantung degan siapa ketua partainya.

PDIP, PKS, PAN dan PKB bisa di kategorikan sebagai partai Ideologis, tentunya ideologi atau nilai yang jadi ukuran, lebih di tonjolkan ketimbang siapa ketua umumnya. Lalu PDIP, PAN, PKS dan PKB bisa di kategorikan sebagai partai yang memiliki entitas Massa pemilih yang jelas dan loyal.

Terus Gerindra?. Yah, seperti Nasdem dan Demokrat. Ketika SBY sedang naik daun, elektabilitas partai yang berlambang bintang Mercy ini juga naik. Lalu, kedekatan Surya Paloh dengan pemerintah sekarang, membuat elektabilitasnya naik pula. Begitupula dengan Gerindra yang dalam dua pemilu yang lalu dan pada pemilu kemarin masuk menjadi 3 partai besar. Demokrat karena Figur SBY, Nasdem karena Surya Paloh dan Gerindra karena Prabowonya.

Partai demokrat sudah tidak di minati, jika di bandingkan dengan pemilu 2009 dan 2014 yang lalu. Setidaknya demikian yang di sampaikkan hasil survey. SBY di rasa perlu mempersiapkan Putera Mahkotanya, sebab dalam politik berlaku juga "Trah-Genetik" sebagai salah satu daya tawar politik, maka SBY memperlihatkan kesan yang kuat, beliau mempersiapkan anaknya - AHY sebagai penerus ketua umum partai Demokrat. Keberlanjutan partai demokrat menjadi pertimbangan paling utama bagi SBY. Demikian pula dengan Nasdem, tidak mungkin diatas terus. Siapa yang tahu suatu saat partai ini berada di luar pemerintahan. Umur surya Paloh juga sudah tidak muda. Terlihat secara jelas, di berbagai kesempatan, Nasdem memanfaatkan momentum untuk menaikkan anak lelaki Surya Paloh - Prananda Surya Paloh. Surya paloh merasa berkepentingan menjaga keberlanjutan dan eksistensi Nasdem kedepan. Karena demokrat dan Nasdem bukan partai Historis dan ideologis. Entitas riil massa pendukungnya pun tidak terkategorisasi secara demografis. Tidak ada jalan lain, figur baru harus di persiapkan.

Nah, Gerindra tidak mungkin mempersiapkan pelanjut serupa SBY dan Surya Paloh. Anak Prabowo hanya satu, nampaknya tidak minat dalam dunia politik. Maka mau tidak mau, Sandiaga Uno mulai di persiapkan, mungkin begitu. Artinnya bila di lihat dinamika Capres dan Cawapres tahun lalu, dari sisi Prabowo, di samping beliau mencalonkan sebagai Presiden, juga memikirkan masa depan partai yang didirikannya. Persoalan koalisi-koalisi dengan pihak lain, semuannya bisa di adaptasi. Hasil ketetapan bisa di ubah. Rapat 1 menghasilkan bakwang, tapi yang di pilih adalah pisang Goreng. Maka lahirlah rapat ke 2 yang menghasilkan keputusan untuk mendukung pisang goreng. Sekalipun pada dasarnya mereka sama, sama-sama di goreng. Walaupun terkadang politik praktis itu ribet, tapi pada dasarnya serderhana.

Bukankah Prabowo punya anak lelaki, mengapa bukan itu yang di Sokong seperti SBY dan surya Paloh?.

Namanya Didit, Cucu Pak Harto. Sependek pengetahuanku, ia tidak minat dalam dunia politik. Orang tidak minat, jangan di paksa. Talenta akan terasa bila ada minat. Justru Didit lebih bertalenta di dunia disainer, di negara sana Yves Sant Laurent.

Disainer?. 

Memangnya kenapa, kalau disainer. Setiap orang berhak memiliki prestasi di bidang mereka masing-masing. Jadi politisi, mereka jadi politisi. Jadi seniman, mereka jadi seniman. Jadi pedagang, mereka jadi pedagang. Dst.

Anak Prabawo menjadi disainer. Semoga beliau berprestasi di bidang itu. Menjadi disainer hebat, kita doakan saja. Jadi bangga indonesia kelak.

NB ; Coretan lama, Di tulis 2 bulan setelah Pilpres 2019 dan Di Publikasikan pada tanggal 16 Agustus 2020, Di Akun Kompasiana RST


***

REFLEKSI RIUH KONTESTASI 2019 


Begitu Sederhannya Politik Itu, Kata Harold Lasswel, "Who Get What, How and When".

Kita bisa bacakan Dalil tentang menyerang. Kita bisa bacakan dalil tentang bertahan. Kita bisa bacakan dalil tentang berseru. Kita bisa bacakan dalil tentang diam. Begitu Tutur "Ammar Abdillah". Lalu, dalil apa yang kita gunakan untuk membaca zaman?.

Dulu, Ketika Calon presiden : Prabowo acap bertutur, anti Asing?. Terlihat Gagah, Garang, mencecar dan melontari bahwa Anti Aseng. Seolah esok Untaian Zamrud Khatulistiwa ini terbelah, terpecah menjadi Puing.

Lalu, saat Jokowi menjadikannya sebagai Menteri Pertahanan (Menhan), ia seperti kaleng-Kaleng bahkan bertutur "China adalah Sahabat Kita". Padahal Natuna tidak sekedar diklaim China, tetapi kapal-Kapal mereka beroperasi bebas- berkeliaran di daerah Teritorial NKRI.

Berarti kita dulu tertipu?. 

Saya teringat dengan Igauan, "Jendral Cebol Napoleon Bonaparte" yang berkata, bahwa : "seorang pemimpin yang potensial adalah penjual dan pembeli harapan".

Dari dulu, kenapa mau ditipu. Itu namanya, lebih prabowo daripada Prabowo. Harusnya kita Mafhum bahwa mereka sedang menjalankan tugas sebagai politisi. Sedang melaksanakan kapitalisasi suara dan isu. Bisa berubah ketika kompromi terjadi.

Apakah Benar Prabawo telah menjadi Kaleng-kaleng?.

Prabowo itu politisi. Namanya juga kontestasi. Jika Jokowi jualan Tempe, masa Prabowo juga jualan Tempe, mesti bedalah. Sebagaimana yang saya sampaikkan diatas, Kontestasi Politik itu Rutinitas. Selain itu, Dalam Politik, Naskah dapat ditulis, nanum segala sesuatu dapat berubah di lapangan.

Artinya, Kita lebih sering menyalahkan variabel permukaan (Aksiden) ketimbang Variabel Substansialnya. Kata Al Pacino, dalam Filem The god Father, "Tak ada hal yang bisa di putuskan sepihak, kompromi senantiasa terjadi. Aku memberikan X kepadamu, kamu memberikan Y kepadaku". Tentu saja ada akal sehat dan rasa keadilan yang bekerja disana, tapi juga kepentingan.

Akhirnya kita terlena, terbawa amarah, kadang gigi gemeretak. Juga air mata bercucuran, jantung berdetak-berdegub kencang dan menangis. Bahkan kadang membuka lembaran-lembaran suci untuk merepresentasikan rasa hati. Mengutip khazanah lama, acap juga menghubung-hubungkan dengan tanda-tanda alam empirik, pun tidak jarang mentamzilkan dengan mimpi semalam.

Manusia selalu berubah, maka tempatkan mereka pada posisi sepantasnya-Semestinya. Seumpama "penjual obat". beli obatnya seluruh penyakit yang bersemayam di batin dan Raga kita akan sembuh. Jika dokter, yang umumnya tidak banyak bicara : menyarankan beberapa obat untuk satu penyakit. Justru penjual obat Politik yang sering kita nikmati kampanyenya : menyarankan satu obat untuk seluruh penyakit. Semua orang terhipnotis. Bahkan orang yang terkagum-Kagum mengelilinginya. Dengan sukarela dompetpun dibuka dan obatpun dibelinya, uang berpindah. Resep tidak ada, petunjuk pun sederhana. Yakinlah, tidak ada yang bertanya : memangnya Si penjual Obat dulu sekolahnya dimana?.

Lalu, soal Tutur Prabowo bahwa China adalah sahabat kita, itu kontra dengan Isi Kampanyenya yang berapi-api itu.?.

Negara-negara kaya di Timur tengah sana sedang berusaha mendekati China atau Tiongkok. Berusaha menjadi sahabat terbaik dan belajar pada Negeri tirai Bambu. Tapi, China menghadirkan ketegangan diplomatik?. Ketegangan diplomatik, diselesaikan dengan Diplomasi. Sebab apa yang kita dapat dari otot dan senjata?. Memangnya kita mampu menang melawan tiongkok dalam perang?.

Nasionalisme, Kamu Kurang?. 

Siapa yang meragukan Nasionalisme Soekarno, Hatta, H. Agus Salim, Sjafruddin Prawiranegara dan Tokoh-Tokoh besar Republik ini, mereka tidak pernah berperang. Apakah Nasionalisme itu identik dengan Mesiu, senjata dan perang?.

Untuk itu saya Teringat Tutur Seorang Penyair "Mohammad Darwis : sementara Kau sibuk berperang, pikirkanlah orang-orang selainmu. Jangan lupakan mereka yang menginginkan kedamaian.  

Mari kita sejenak Bertamasya Historis, pada Poetra Fajar (Soekarno) yang menjadi Magnet bagi kawan dan lawannya di dunia internasional. Memang banyak referensi yang menyebutkan bahwa Soekarno adalah Presiden Ultra Flamboyan, Fashionable, Bentuk lain dari pencitraan. 

Tetapi Harga diri dan kemandirian adalah kata kunci dari perjuangannya. Ia merasakan derita dan mengeluarkan peluh keringat untuk sebuah bangsa yang bernama indonesia. Ia dan bangsanya tidak ingin jadi sampah "sejarah", ia ingin jadi "ingatan" orang banyak, menjadi magnet bagi pemimpin dunia lainnya Dan indonesia berawal dari harga diri yang tercabik dan terhina oleh Kolonialisme, anak Haram dari Kapitalisme yang bertumpu pada Imprealisme. Maka itulah "muka tengadah", arah kedepan sambil tertunduk melihat " masa lalu" menjadi ikon pemikiran Si Bung yang menggelorakan optimisme.


NB ; Tulisan setelag prabowo masuk kabinet Jokowi




*Coretan Alumni Fisip

*Rst

*Pejalan Sunyi

*Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar