Mengenai Saya

Senin, 30 Januari 2023

KEKUASAAN ITU SEPI - ILUSI ; DIALEKTIKA

Di tengah krisis global yang melanda bumi, Ideologi-ideologi yang ada sekarang telah mengalami kontradiksi-kontradiksi sedemikian rupa, yang tidak bisa di selesaikan dan hal itu menuntut satu ideologi baru. 

Sekarang Misalnya, pertumbuhan dalam doktrin ekonomi Kapitalisme telah melahirkan dua hal, pertama Kerusakan lingkungan dan kedua Ketimpangan sosial dan ekonomi. Memang ada Kesejahteraan, tapi tidak merata dan dalam waktu yang bersamaan, ongkos kesejahteraan adalah kerusakan lingkungan. 

Sebenarnya secara global, orang sedang mencari ideologi baru. Apakah kita bisa mencapai satu tingkat keseimbangan baru, antara 3 hal ; pertama, keselamatan bumi. Sebagai rumah bersama kita. Kedua, masyarakat memiliki tingkat kebebasan sebagai Hak Asasinya yang Fundamental dan ketiga, Pada Waktu yang sama memiliki tingkat kesejahtetaan yang relatif sama.

Di seluruh dunia, ada satu upaya untuk menghasilkan ulang keadilan sosial dan hal itu yang menyebabkan kita berupaya merumuskan kembali indonesia, dan memproyeksikannya di dalam latar belakang pertentangan dan pencaharian ideologi baru dunia. 

Kita tahu bahwa satu dekade kemarin, seluruh dunia begitu terpukau dengan Pikiran Francis Fukuyama, yang menulis tentang The end Of History and The Last Man - tesis Fukuyama, mengejutkan bahwa dunia sudah selesai, sejarah sudah berakhir dengan kemenangan kapitalisme. Kira-kira hal itu riuh di bicarakan pada tahun 90-an sampai awal 2010 - an. Sekarang orang yang sama - Francis Fukuyama Menulis buku yang Justru membatalkan kesimpulannya tentang akhir sejarah dunia adalah kemenangan Kapitalisme, dengan Judul bukunya adalah Great Disruptions - Kekacauan besar - Reconsitusion the nature of the sosial order. 

Orang yang tadinya sangat Liberal atau sangat Libertarian di Amerika, mengerti bahwa tidak mungkin ideologi Kapitalisme di jadikan fondasi peradaban. Karena di Amerika saja saat ini mengalami kehancuran komunitas akibat indivialisme yang mengila-gila. Yang dalam analisis tokoh-tokoh dunia membuktikan, bahwa CEO-CEO di Amerika, justru menjadi penghalang Kapitalisme, bukan penghalang Sosialisme. Karena dia mengambil lebih banyak daripada yang di bagikan kepada karyawan. soal-soal seperti inilah yang hendak kita hindari .

Dalam satu dekade ini, dunia juga sedang bergumul dalam satu pikiran baru yang bernama Enviromental Ethics. Masalah lingkungan adalah masalah Kosa Kata Baru di dunia. Sehingga mereka atau Milineal yang tidak paham terhadap lingkungan adalah orang yang buta huruf terhadap peradaban. Artinya, kita sedang mencari jalan pikiran baru, antara ide keadilan sosial dan ide keadilan lingkungan. 

Dalam proses penemuam ideologi baru, jalan sejarah indonesia sejalan dengan Jalan sejarah dunia. Maksudnya, satu kebutuhan kepada Ideologi baru adalah satu kebutuhan kolektif kita sebagai satu masyarakat dunia. Sekarang ini kalau kita lihat, Neo Liberalisme di barat secara Umum pada dasarnya adalah antitesa atau respon terhadap menguatnya Sosialisme, khususnya di eropa setelah perang dunia kedua. Tapi, hal itu di bungkus dengan Baju Kapitalisme yang bernama Walfare State. 

Di awal tahun 60 - 70 memang ada perlawanan. Cuman, kemenangan Neolib Secara Politik baru di era Mager Teacher dan Ronald Reagen di tahun 80-an dan ujung dari kemenangan ini, sekaligus Kemenangan Amerika dalam perang dinging. Jadi, saat Fukuyama Mengatakan The End Of history and The Last Man, sesunggunya adalah Euforia besar, dan sekarang Euforia ini menjadi Boomerang, apalagi setelah Krisis finansial yang terjadi Di Amerika Tahun 2008. 

Menurut saya mundurnya Amrik dari Afganistan adalah suatu perbaikan atas kesalahan masa lalu, bahwa perang melawan teror adalah kesalahan Strategi besar, karena tidak mampu menjadikan Islam sebagai musuh bersama dan yang lebih penting, ada persoalan dalam negeri yang sedang di hadapi oleh Masyarakat amrik yaitu ketimpangan sosial. 

Sekarang, kita coba bawa persoalan ini ke indonesia. Kalau kita bisa menyatukan, antara agama, demokrasi dan Hak asasi manusia serta kesejahteraan kolektif rakyat - Kemakmuran. Ihwal diatas merupakan Tiga Komponen utama yang akan menjadikan ideologi masa depan yang kita perlukan. Sebab, Amerika cepat atau lambat akan menjadi negara sosialis dan lebih sosialis dari china, sedangkan china akan menjadi negara Kapitalis. Sekalipun, Berny Sanders tidak menjadi kandidat Partai Demokrat di pilpres Amerika, tapi ide Sosialisme tumbuh menjadi Ide besar. Ide sosialisme dalam bahasa Kulit putih di amrik adalah Trumbisme, relatif sama maknanya. Maksudnya, hal ini merupakan perlawanan orang miskin atau perlawanan orang-orang yang terlempar dari Grup kelas menengah. 

Sekarang di indonesia, ancaman tentang ketimpangan sosial adalah ancaman besar. Sebab, angka Kemiskinan naik Dua Digit selama pandemi dan dalam waktu bersamaan jumlah orang kaya bertambah. Jadi, suatu keajaiban, orang kaya bertambah, tapi orang miskin juga bertambah. Nah, kalau kita tidak punya ide baru untuk menyelesaikan masalah ini, maka kita akan mengalami stagnasi dan boleh jadi kita akan terlempar dari Grup negara-negara Kelas menengah. Karena kalau kita tidak punya ide baru, maka kita tidak akan memiliki Proposal dan Srategi untuk dunia. 

Rusia misalnya, di bawah putin secara Militer mereka sangat kuat. Ukuran ekonominya pun tidak terlalu besar. Tetapi, persoalan yang paling fundamental, mereka tidak punya satu proposal dan Strategi bagi dunia. Sama dengan China, tidak punya Tawaran Ide yang Komperhensif bagi dunia, karena itulah China tidak akan bisa menjadi model bagi dunia. Karena ada komponennya yang rusak, yaitu ongkos dari kesejahteraannya adalah kebebasan manusia. Sedangkan di amerika, kebebasan yang berlebihan dan tidak terkendali mengakibatkan ketimpangan ekonomi dan sosial. 

Nah, sekarang dunia sedang mencari ide titik temu yang baru, diantara 3 unsur tadi. Memang hal ini rumit, apalagi Menggunakan Instrumen politik. Sebab, orang-orang hari ini tidak begitu gandrung terhadap Politik Ideologi. Sebab, ideologi adalah Mata uang tidak laku di pasar politik. 

Apa yang saya uraikkan diatas adalah upaya kita untuk menemukan satu paradigma sosial yang bisa merumuskan masa depan. 

Sekarang kita sibuk bicara tentang perpanjangan kekuasaan dan pergantian kekuasaan, tanpa ada Isi Pradigma sosialnya. Kita mau isi dengan kesehatan lingkungan, berakhirnya pandemi atau Kemajemukan yang bertumbuh. Hal itu tidak pernah mejadi bahan permenungan dan bahan Diskursus. Sebab, politisi kita sibuk membicarakan hal teknis tentang kekuasaan. Di situlah fungsi Parpol - membaca dunia dengan Metodologi akademis dan hal itu tidak kita temukan di parpol yang menyuguhkan pikiran dengan referensi intelektual. 

Kita ingin merawat bangsa ini, dengan akal pikiran dan akhlak. Dua fasilitas ini juga sedang di edarkan di seluruh dunia. Misalnya kalau kita membaca riset tentang demokrasi dan Lingkungan hidup, selalu basisnya adalah moral. Orang telah beyound, dari kajian-kajian bagaimana sistem kimia kita bisa menghasilkan ulang tumbuhan yang pernah punah. orang di dunia menganggap prinsip hanya satu bumi berlaku di dalam upaya mngembalikan peradaban. Karena, awalnya kita hanya satu bumi. Lalu, kemudian di pecah-pecah, ada bumi kapitalis, ada bumi Sosialis, dsb. Akhirnya, proses politik berhenti, hanya karena persaingan-persaingan yang sebetulnya jangka pendek, tanpa ada paradigma yang besar. 

Indonesia punya Local Wisdom yang bisa di tawarkan sebagai ide Besar untuk dunia. Di Suku badui, misalnya. Ada filosofi yang berbunyi begini, " yang panjang jangan di potong, yang pendek jangan di sambung". Nah, Bagi orang-orang yang tumbuh dan hidup besar di kota, begitu melihat model-model rumah orang badui, pasti akan heran, karena melihat bambu rumah orang badui, berantakan - panjang dan pendek. Karena, bagi orang badui memang tidak boleh memotong yang panjang dan menyambung yang sudah pendek. Demikianlah konsep kemajemukan sesungguhnya, Biarkan orang bertumbuh dengan Eksistensinya.

Dalam literatur Islam, ada kebiasaan pemimpin menulis semacam diary atau renungan-renungannya tentang kekuasaan, salah satu diantara mereka menulis, " waktu kita berkuasa, kita tidak punya lawan. Waktu kita tidak berkuasa, kita tidak punya kawan". Artinya, Musuh sesungguhnya seorang pemimpin, bukankah lawan politik, buka oposisi. Tetapi, musuh pemimpin adalah kesepian. 

Menurut saya, yang membuat seseorang sepi dalam politik, kalau tidak ada sesuatu yang di perjuangkan, yang lebih besar dari kemampuan kita, yang lebih panjang dari waktu kita. Nah, Kalau kita melihat berdasarkan uraian diatas, kita hendak menemukan peta Paradigma baru tentang Keadilan lingkungan dan keadilan sosial. Artinya, ada dua tema besar dalam perjuangan politik kita, yaitu Bumi dan Manusia. Apa makna yang mengikat antara Bumi dan manusia ini?. Pada dasarnya, makna pertumbuhan bersama. Kalau kita melihat sifat dasar alam, ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri atau dalam Kajian lingkungan, salah satu mazhabnya menyebutkan, berikan waktu kepada alam untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Begitupun dengan manusia, jika kita tidak menjadikan Tujuan utama perjuangan politik, maka ummat manusia bisa menjadi Komunitas hewan yang saling memangsa. 

Soal lingkungan misalnya, kalau terjadi eksploitasi lingkungan hidup. Artinya ada orang yang mengeksploitasi orang lain. Prinsipnya adalah eksploitasi orang terhadap alam adalah akibat dari eksploitasi orang terhadap orang. Makanya, kita harus mencegah orang mengeksploitasi orang, sehingga orang tidak mengekspolitasi lingkungan. Jadi, problem kita sederhana, bahwa kita ingin kehidupan di kembalikan pada asas-asas keadilan. 

Konsep dari keadilan sosial dan Keadilan Lingkungan, adalah konsep dasar dari Konsep apapun yang akan di sepakati tentang pertumbuhan. Sebab, kesejahteraan atau tingkat kehidupan yang lebih baik harus menjadi Output dari pertemuan yang seimbang dari kedua Konsep diatas. 

Nah, Ketiga Konsepsi diatas, bisa di ikat oleh agama - etika. Sebab, ada hal fundamental yang di jawab oleh agama. Misalnya, "apa yang mendorong orang untuk melakukan kebaikan, jika Reward tidak segera kembali kepada dirinya atau apa yang membuat orang melakukan kebaikan, kalau keuntungannya Justru di nikmati oleh orang sesudah dirinya". Hal itu merupakan soal yang sangat fundamental dalam motif manusia dan hal itu tidak bisa jawab oleh sains. Sebab, itu adalah wilayah agama untuk menjawabnya. Hanya waktu kita percaya, bahwa ada kehidupan setelah kehidupan ini, yang membuat kita mau melakukan sesuatu - kebaikan, yang bisa di nikmati oleh orang sesudah kita atau oleh orang lain. Sekalipun kita tidak mendapatkan reward yang sama besarnya.

Oleh karena itu, di saat kita bicara soal etika. Pada dasarnya, hal itu merupakan jembatan kecil yang akan mengantarkan manusia untuk menyadari agama sebagai salah satu sumber utama yang akan membentuk paradigma manusia di masa yang akan datang. 

Di titik itulah, saya mengetangahkan bahwa sudah seharusnya milineal atau kita semua mulai membicarakan paradigma-paradigma baru, seperti etika lingkungan, Hubungan antara Agama dan teknologi, bagaimana demokrasi di asuh oleh agama atau hubungan antara manusia dan keyakinan antara kehidupan setelah mati. Semua ini adalah pembicaraan anak muda di dunia. Jadi, kita kekurangan dalam membayangkan masa depan. Padahal masa depan hanya bisa di tuntun dengan pikiran. Karena itu berpikir adalah berdoa untuk masa depan dengan metodologi. 

Warisan pengelompokan di indonesia - Kiri, tengah dan Kanan. sehingga beberapa diksi kerap di identifikasi pada kelompok tertentu. Diksi Rakyat, misalnya. Kerap kali di alamatkan atau di identikkan pada Kelompok kiri atau jarang ada Parpol Islam yang menyebutkan istilah Rakyat. Karena rakyat lebih kepada Kelompok Kiri. Kelompok tengah - Moderat menggunakan Istilah Bangsa. Sedangkan, kelompok kanan Menggunakan Istilah Ummat. Padahal, secara pengertian ketiga diksi tersebut - Rakyat, Bangsa dan Ummat sama saja. Hanya karena Keterbelahan kelompok atau pembelahan, sehingga identifikasi kelompok berdasarkan pilihan diksi kita. 

Kalau kita mau menguraikkan lebih Jauh, Rakyat sendiri pun berasal dari Bahasa Arab - Ro'iyat, sebagaimana Hadist Nabi, " Kulluqum ro'in wa kullukum Mas ulun an Ro'iyatihi - setiap kalian adalah Pengembala / yang merawat sesuatu dan setiap kalian bertanggung jawab terhadap gembalaan atau atas apa yang dia rawat". Jadi, Diksi Ro'iyat mengandung Makna, pemeliharaan - Perawatan - pertanggung jawaban - juga mengandung subjek dan objek sekaligus. 

Lantas, mengapa tetiba Diksi Rakyat yang awalnya berasal dari Bahasa Arab, di identikkan pada Kelompok Kiri dan tidak di gunakan di kelompok kanan. Diksi Ummat di dalam Al -Qur' an bermakna Individu, " Inna Ibrahima kana Umma - sesungguhnya Nabi Ibrahim adalah Ummat". Tetapi, Ummat juga bisa berarti Kelompok, " Wal takum Mingkum umma' - hendaklah ada sekelompok dari Kalian". Jadi, bagaimana Ada Satu Individu dan Kelompok, bisa menggunakan satu kata?. Karena, ada Individu yang bisa punya Kapasitas sama dengan total kapasitas kelompok kalau di kumpulkan. Misalnya, ada 1000 orang dalam satu Kelompok, seluruh kapasitas orang tersebut sama dengan 1 Orang. Hal itulah yang disebut, "Inna ibrahima kana Umma". 

Namun, ada yang menyatukan Antara individu dan kelompok yaitu Misi - Risalah. Makanya, diksi Ummat bisa juga berarti Risalah, " kuntum khoiri ummatin uhrijat Linnas - kalian adalah sebaik-sbaik Ummat yang di keluarkan untuk manusia". Artinya, berdasarkan uraian diatas, Ummat memilik makna Individu - Kelompok dan Misi. Tidak hanya itu, Ummat juga bisa berarti Sejarah, "Tilka Ummatan Qoda kholad laha ma kasabat walakum wala kasabtum - Ummat yang telah berlalu". 

Kalau Rakyat lebih kepada Subtansinya sedangkan Ummat lebih kepada Entitas. Hanya karena warisan pengelompokan sehingga membuat kita susah menyebutkan diksi tersebut. 

***

Di jurnal-jurnal Internasional atau media Internasional, ada satu fokus yang agak merata yang saya baca. Tentang kemunduran Demokrasi di Indonesia, ada reduksi pada kebebasan publik yang lebih besar, dan ada ketakutan yang merata pada masyarakat untuk melawan, walaupun mereka mengalami kehidupan yang sangat sulit.

Semacam Trade Off, antara Harapan kemakmuran dan Kegairahan berpolitik. Artinya, jika tidak ada harapan kemakmuran, untuk apa orang berpolitik. Apalagi kita masuk pada era Metaverse, dimana semua orang bisa mengakses kebijakan tanpa melalui partai politik. 

Tetapi, kita harus ketahui bahwa politik secara Makro hanya bisa di sebut berpolitik, kalau menghasilkan keadilan. Jika kita baca kamus, Sinonim dari Politik adalah Justice. kalau keadilan tidak di hasilkan dalam politik, artinya negara menelanatarkan semua potensi manusia untuk hidup dengan harapannya sendiri.  

Rumusan konstitusi kita dalam merancang kemakmuran, melalui tiga institusi. Pertama, Koperasi. Kedua, Badan Usaha Milik negara (BUMN) dan ketiga, Korporasi. Tidak ada orang yang anti bisnis. Akumulasi itu adalah hak dari pebisnis. Tugas korporasi memang melakukan akumulasi. Masalahnya adalah negara tidak mendistribusi hasil akumulasi. Jadi, yang terjadi adalah ketimpangan. Silahkan lakukan Akumulasi. Tetapi, Tugas negara adalah melakukan distribusi. Yang berbahaya lagi, jika negara bersama-sama dengan Korporasi mengakumulasi kapital, tanpa mempersoalkan distribusinya. Di titik itulah, Tugas Partai Politik adalah menghalangi atau menangih negara untuk melakukan distribusi. Sebab, jangan sampai Akumulasi tersebut, hanya di nikmati oleh 1 persen orang.

Dari sejak zaman aristoteles, politik hanya di sebut politik, kalau menghasilkan keadilan. Artinya, demi menghasilkan keadilan orang berpolitik. Kita tidak bisa mengatakan secara Utilitarian, adil bila sebahagian besar orang menikmati pembangunan. Tidak bisa begitu. Adil itu ketika tidak ada lagi tatapan mata yang menahan rasa lapar. 

Kalau itu bisa kita lakukan, maka semua orang akan merasa bahwa berpolitik artinya kemampuan untuk mempunyai akses yang sama terhadap akumulasi. Hak itulah yang harus kita pastikan, ada di dalam setiap kampanye Partai politik. 

Saya sampai berpikir, apa sebenarnya yang membuat orang sehingga berebut kekuasaan - Baik itu Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif?. Karena ada satu kehidupan yang berlaku, mau sistem politiknya apa saja, yaitu Neraca kebaikan dan Keburukan. Jika kita mengalami Neraca dan defisit, kita akan hilang. Maksudnya, kalau kita datang pada kekuasaan dan menyedot  - mengambil lebih banyak, ketimbang memberi. Kekuasaan itu akan berubah menjadi sumber kesepian. 

Makanya yang enak saat orang berkuasa, cuman waktu pelantikan saja. Tetapi, setelah itu kita akan bekerja di ruang yang sepi. Tidak akan ada tepuk tangan setiap saat, kita di batasi juga masa jabatan, kita akan jadi sejarah, setelah itu Orang-orang akan menulis tentang kita dan hal itu adalah sesuatu yang kita tidak bisa bela. Karena, akhirnya yang di tulis oleh orang adalah Manfaat yang kita berikan. Kalau manfaat kita lebih besar saat berkuasa atau kita mendapatkan manfaat lebih besar dalam kekuasaan dan tidak memberi yang banyak, kita akan menjadi orang yang kesepian. 

Ada satu orang pemimpin, menulis tentang kesan spiritualnya saat ia berkuasa, "waktu kita berkuasa kita tidak punya lawan dan saat kita tidak berkuasa kita tidak punya Kawan". Mengapa demikian?. Karena, saat itu kita tidak punya kuasa untuk membela diri. Manfaat yang kita berikanlah yang membela kita. 

Saya tidak pernah memandang politik itu lebih dari satu cara membangun masyarakat. Saya percaya bahwa masyarakat lebih kuat dari negara. Sebab, negara itu hanyalah organisasi yang sederhana, mudah di rombak, yang susah adalah membangun masyarakatnya. Misalnya, apa perbedaan masyarakat Rusia dan Amerika. Di rusia, banyak pemimpin kuat. Tetapi, yang susah adalah masyarakatnya tidak terlalu subur melahirkan pemimpin. Karena akhirnya, orang di doktrin bahwa orang rusia hanya cocok dengan pemimpin yang kuat. Jadi, mereka mulai mendeligitimasi masyarakat dan mengagungkan pemimpin yang kuat - Super Man. 

Kehidupan bersama itu di organisasi secara bersama dan negara adalah Organisasi sosial. Negara harus di kembalikan kepada Fungsi dasar sebagai organisasi sosial. Jadi, masyarakat yang baik dan sehat adalah masyarakat yang kelahiran pemimpin di dalamnya terjadi secara Natural dan reguler. Sehingga organisasi pemimpin tersebut tidak tergantung pada satu orang. 

Mengapa ada orang yang perlu mempertahankan kekuasannya sampai 3 periode, 4 periode bahkan 5 periode?. Karena, dia tidak percaya bahwa orang lain bisa. Kita percaya, bahwa hanya kita yang bisa. Makanya, saya ini termasuk orang yang tidak terlalu percaya dengan pemimpin kuat. Orang itu menjadi kuat, karena sistem. Walaupun pemimpin bisa menciptakan sistem yang bagus, kalau dia punya niat yang lurus. Jadi, setiap saya bertemu orang-orang penting, saya tidak punya baririer yang bernama wibawa - mau dia adalah koalisi atau oposisi. Menurut saya, sama saja.

Pemimpin itu tidak boleh di biarkan kesepian dan sendirian. Begitu seorang pemimpin tidak punya seorang kritikus, sesungguhnya pemimpin tersebut kesepian. Dulu, di dalam Tradisi Arab, ada Istilah Nadimun Khalifah, seperti penghibur seorang Khalifah. Siang hari Khalifah ini berkerja mengurus rakyat, sehingga malam harinya Raja Tersebut perlu Hiburan. Nah, Selalu ada Orang di sekeliling Raja yang kerjanya bercerita tentang anekdot yang membuat raja Tertawa. Nama orang tersebut adalah Bahlul.

Coba kita masuk di dalam Suatu perenungan yang Maha Dahsyat, karena saya berupaya melihat dimensi Irasional - dimensi yang tidak bisa di terangkan secara Rasional yaitu kemampuan untuk mengukur diri kita Sendiri.

Sialnya dalam politik, rasa sunyi itu hanya terjadi 20 menit sebelum dia tidur. Selebihnya kan tidak. Jadi, kesunyian menjadi bagi dia. Saya membayangkan hal itu juga pada Pak Harto, kesunyiannya tiba 20 menit setelah dia bercakap-cakap dengan Pak Habibie. Lalu memutuskan, bahwa saya berhenti. Hal itu di kenal dengan Kesunyian yang eksistensial, yang akan orang kenang, jauh setelah peristiwa itu berakhir. Kalau kita kaitkan dengan Pak Jokowi, dia juga berpikir, siapa yang akan memahami saya, 1 hari setelah 2024. Apakah dia akan di olok-olok. 

Apa perbedaan indonesia dan Kuwait?. Di indonesia, sejelek-jelek jeleknya orang, se miskin-miskinnya orang, begitu dia lahir dan melek, dia punya kesempatan untuk menjadi presiden. Tetapi, di kuwait - se- ganteng-gantengnya orang, se kaya - kayanya, se-pintar-pintar orang. Tetapi, begitu anda lahir dan bukan dari keluarga raja, anda tidak punya kesempatan menjadi raja. Jadi, satu peluang dari Hidup anda, terpotong oleh sistem itu sendiri. Jangan sampai Orang Kuwait pun akan berpikir sama pada Keadaan Indonesia saat ini dengan PT - Presidensial Thershold 20 %.

Hak pemimpin yang Paling Fundamental adalah Haknya mendapatkan Nasehat dari Rakyat. Mengapa Kita Kritik presiden, Karena ada Basis yang dia ucapkan yaitu dia akan kembali kepada rakyat. Tetapi, hal itu tidak terjadi. Jadi sebetulnya kita kritik, karena dia mengingkari hal yang potensial untuk dia lakukan. Karena, Presiden jokowi adalah orang pertama yang datang dari Rakyat, mestinya dia mengucapkan kembali konsep rakyat tersebut. Lain ceritanya jika yang memimpin adalah Prabowo. Sebab, ia tumbuh dalam Tradisi Militer. 

Artinya, Pak Jokowi Gagal memanfaatkan momentum sejarah untuk Mengembalikan Fungsi Rakyat secara sentral. Walaupun kita tahu, bahwa Konsep Rakyat di indonesia berbeda dengan Konsep rakyat di prancis. Kalau kita menyebut rakyat di prancis, Rakyat itu adalah Hasil dari satu revolusi besar, sehingga pulih ingatan tentang rakyat. People adalah Seseorang yang pernah memberontak pada Raja. 

Rakyat di indonesia tidak demikian, bahkan Rakyat dianggap sebagai wong cilik. Jadi mental itu masih melekat pada kita. Makanya parpol-parpol harus mengevaluasi diri, paling tidak mengembalikan pengertian Rakyat, agar demokrasi berbasis pada kepentingan rakyat. Sepanjang Rakyat masih di terjemahkan sebagai wong Cilik, selama itu pula rakyat menjadi Mainan Oligarki. 


*Pustaka Hayat

*Pejalan sunyi

*Rst

*Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:

Posting Komentar