Mengenai Saya

Rabu, 04 Januari 2023

NOBEL DAN JEJAK - JEJAK MERCUSUAR PERADABAN ISLAM YANG HAMPIR FOSIL

Di abad Modern sampai Post Modern, Peradaban sebuah bangsa atau Peradaban yang terdepan sangat Bergantung pada penguasaannya terhadap Sains dan Teknologi. Salah satu Variabel keunggulan sains Dan teknologi suatu bangsa adalah kemenangan Nobel. 

Nobel adalah penghargaan internasional yang di berikan kepada mereka yang memberikan kontribusi bermanfaat terhadap peradaban atau Ummat Manusia. Diantara Jenis Nobel adalah Nobel Sains dan Non Sains. Nobel Sains, ssperti Terknologi, Filsafat, Fisika, Biologi, kimia, kedokteran, ekonomi. Sedangkan Non Sains, seperti Sastra, perdamaian, Literatur, dsb. 

Penghargaan Nobel sendiri di mulai oleh Alfred Nobel adalah seorang Ahli Kimia, Insinyur dan Industrialis. Ia berasal dari Swedia, yang terkenal karena penemuan dinamit pada Tahun 1901. 

Ihwal itulah, Namanya di abadikan sebagai bentuk penghargaan terhadap setiap orang atau Kelompok yang meraih kemenangan Nobel dan terus berlanjut sampai sekarang. Setiap pemenang menerima emas, diploma dan penghargaan uang. 

Tercatat Hingga tahun 2021, penghargaan Nobel telah di berikan kepada 975 pemenang, baik individu maupun organisasi. Untuk Kategori Sains sebanyak 631 Pemenang. Kategori Non sains sebanyak 344 pemenang. Sebahagian besar individu atau Organisasi pemenang Nobel berasal dari agama Nasrani, sebanyak 68% dari Total Keseluruhan pemenang Hadiah Nobel. Lalu, di susul dari agama Yahudi, kurang lebih 20,8% dari total jumlah pemenang. Sedangkan, Individu dan Organisasi yang Berasal dari Agama Islam, hanya 1,3 % dari total Jumlah pemenang Hadiah Nobel. Lalu, berasal dari agama Hindu 0,8% dan dari agama Budha, 0,4 %. 

Jika kita uraikkan berdasarkan Indikator sains, hanya ada tiga orang yang berasal dari agama Islam pernah memenangkan hadiah Nobel, yaitu "Abdu Salam (1979)", keturunan Pakistan. "Ahmet Zewali (1999)", keturunan Mesir yang menang di bidang Kimia dan "Azis Sancar (2015)", keturunan Turki, yang menang di bidang Kimia. 

Beradasarkan indikator sains itu juga, Orang atau Organisasi Dari agama Hindu, belum ada yang pernah memenangkan Hadiah Nobel. Sedangkan, Dari Agama Yahudi, sebanyak 147 pemenang dan Dari agama Nasrani, sebanyak 418 orang. 

Kategori Non Sains ; Dari agama Budha, ada 4 orang pemenang. Dari agama Hindu, ada 4 orang pemenang. Dari agama Islam, ada 10 orang pemenang. Dari agama Yahudi, ada 56 pemenang, Dan dari agama Nasrani, ada 248 orang. 

Jika kita telusuri lebih jauh dalam konteks Jumlah populasi atau penduduk dunia, sejumlah 7,8 Milyar. Penduduk bumi yang beragama Nasrani, Kurang lebih 2,5 Milyar atau 32,1% Populasi atau penduduk. mereka telah memenangkan sebanyak 66% dari total hadiah nobel dalam kategori Sains. Sementara Islam, dengan Jumlah Populasi 1,8 Milyar penduduk atau Kurang lebih 24,5 % dari Total Jumlah penduduk bumi, Hadiah Nobel yang di menangkan Hanya 0,5 %. Populasi manusia yang beragama Hindu sebanyak 1,6 Milyar atau kurang lebih 15 % dari Total populasi manusia di dunia. Mereka Hanya memenangkan 0,5 % dari total hadiah nobel. Populasi manusia yang nerasal dari agama Budha 506 Juta atau 5% dari populasi dunia, mereka belum memenangkan apapun. Populasi manusia dari agama Yahudi hanya 20 Juta atau Kurang lebih 0,18% dari jumlah Populasi di dunia, mereka sudah memenangkan Hadiah nobel 23,3% dari total hadiah nobel. 

Belakangan ini atau sejak abad 19, 20 dan 21 hampir semua ilmuan berasal dari Eropa. Nama-namanya kita bisa cari sendiri dengan membaca. Lucunya, nyaris kita tidak temukan atau jarang mengemuka Ilmuan yang datang dari dunia Islam. Memang peraih Nobel di Abad-Abad yang saya Maksudkan tidak dapat Di sangkal. Tetapi, beranikah kita merujuk ke abad-abad sebelumnya atau antara abad 7 sampai abad 15. Maka, kita akan tercengang melihat realitas Ilmu Pengetahuan, Hampir semua di Di Isi oleh Ilmuan Muslim

**

Manusia bisa menyebutkan angka atau bilangan, sebagaimana angka yang kita kenal hari ini, di gunakan oleh seluruh manusia di dunia adalah angka yang berasal dari angka arab, di temukan oleh seorang Ilmuan Muslim. Dari situ pengembangan angka-angka di topang juga oleh penemuan angka NOL oleh ilmuan Muslim yang berasal dari India. 

Soal lain Misalnya, Kalau kita melihat bintang di angkasa atau Galaksi Bima sakti, sebanyak 2/3 Bintang dari seluruh bintang, telah di berikan nama oleh ilmuan muslim yang berjaya di Masa Kejayaan Dinasti Abbasyiah.

Kejayaan Islam, termanifestasi ke dalam Tiga zaman yang tercatat dalam sejarah. Pertama, Dinasti Ummayyah, Berlansung pada tahun 661 - 750 atau 29 tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat di tahun 632. Kejayaan Dinasti Umayyah di tandai dengan tingkat toleransi dan keterbukaan yang tinggi, khususnya dalam bidang sosial, ekonomi dan budaya. Dinasti Ummayyah di pelopori oleh Muawiyah Bin Abi Sofyan, yang memposisikan dirinya sebagai Pimpinan atau Khalifah di Damaskus - Ibu kota Kerajaan Ummayyah. 

Teritori Kerajaan Ummayyah sangat Luas, Sekitar 11 Juta Km persegi, termasuk Asia Tengah, Pakistan, Afrika Utara, Peninsula, Spanyol, Portugal. Teritori Kekuasaan Dinasti Ummayyah jauh lebih besar ketimbang Wilayah kekuasaan Kerajaan Romawi sebelumnya. Mayoritas dari populasi yang ada di zaman Umayyah, selain Beragama Islam adalah Kaum Nasrani. 

Setelah zaman Ummayyah runtuh, Zaman berikutnya adalah zaman Dinasti Abbasyiah, berlansung cukup lama sejak tahun 750 - 1258. Kejayaan Dinasti abbasyiah, juga sangat di warnai dengan toleransi dan keterbukaan. Dinasti Abbasyiah di pelopori Oleh Paman Rosulullah SAW, yaitu Imam ibnu Abbas Bin Abdul muthalib yang hidup sejak tahun 556 - 653 dan sesungguhnya Dinasti Abbasyiah telah berlansung jauh sebelum Tahun 750. 

Teritori Dinasti Abbasyiah atau Luas kekuasannya sangat besar. Beribu Kota Di Kufah - Irak, sejak mengambil alih kekuasaan dari Dinasti Ummayyah. Namun, pada akhirnya Kerajaan Abbasyiah memindahkan ibu Kotanya ke kota Bahgdad di tahun 762 sejak di pimpin oleh Khalifah Al Mansyur. 

Bahgdad menjadi Pusat ilmu pengetahuan, atau Suluh Perabadan dalam Bidang Sains, Filsafat, dll. Dari Rahim peradaban Abbasyiah, Islam menjadi Pusat Ilmu pengetahuan dan Kiblat Sains Yang Sangat luar biasa. Tetapi, berakhir di tahun 1258, saat serangan Mongol - Hulaghu Khan Cucu Genghis Khan. Serangan Mongil ini juga masih menuai perdebatan. 

Manifestasi kejayaan Islam yang ketiga adalah Kerajaan Ottoman yang berlansung paling lama dari tahun 1299 - 1922. Sebagaimana masa keemasaan dinasti sebelumnya, kerajaan Ottoman juga di warnai dengan Sikap Toleransi dan keterbukaan. Hanya saja tidak sekental Kejayaan Abbasyiah dalam konteks Sains dan teknologi. 

Dinasti Ottoman Di prakarsai oleh Sultan Sulaiman Osman 1 dari Anatolia, seorang kepala suku Turkoman. Dinasti Ottoman juga mengakhiri penguasaan Byizantium dengan mengambil alih kota Konstantinopel pada Tahun 1453 oleh Keturunan Sultan Sulaiman Osman, bernama Sultan Mehmed II, yang saat itu Usianya sangat mudah sekali. Mahmed II atau Mahmed Al Fatih adalah seorang Ilmuan - Insinyur Besi. Makanya, dia bekerjasama dengan Ilmuan Hungaria untuk membuat Meriam Raksasa untuk menaklukkan Konstantinopel. 

Di masa Sultan Sulaiman Osman I Ottoman mengalami puncak kejayaan dengan pengembangan sistem pemerintahan ekonomi dan sosial, yang menjadikan Ottoman sebagain pusat interaksi antara Eropa, Timur tengah dan Asia. Ilmu alam di zaman Kerajaan Ottoman tidak secanggih di zaman Abbasyiah dan Ottoman berakhir setelah berakhirnya perang dunia pertama di tahun 1918.

Selain itu, Ottoman tidak pernah menguasai Daerah persia sampai asia tengah (Iran, Pakistan, Turkmenistan, dll). Karena, daerah itu telah di kuasai oleh kekaisaran Persia sendiri, yaitu Timurid, Ghazanavid, safavid. Ottoman hanya menguasai bahagian barat Iran, Armenia dan sedikit bahagian dari Georgia, serta Circassian, bukan wilayah Dagestan secara keseluruhan. 

Pada abad 15 atau tahun 1400 an adalah masa kejayaan ottoman, karena Ottoman mengusai jalur perdagangan Asia (baik darat maupun laut). Bahkan pada abad 16, Ottoman sudah mengusai Teluk Penisula Arab dan terusam Suez di mesir. Itulah sebabnya, Eropa mulai mencari jalur perdagangan sendiri untuk mengakses Asia. Terlebih lagi, Ottoman mengalami masa The Golden Age Of Astrology pada abad Ke 16 dengan ilmuawannya adalah Taqi Al Din. 

Memang benar, bahwa pada abad 16 Ottoman menolak printing Press - mesin cetak dalam peradabannya. Tetapi, bukan berarti itulah sebab terbesar kemunduran dunia islam. Bangsa eropa itu baru Makmur, ketika memasuki abad 18 (1700 an). Dimana saat itu Ottoman mengalami ketidakstabilan politik dan keterlambatan mengadopsi teknologi Printing Press - Mesin Cetak.

**

Kemajuan Sains dan teknologi sangat termanisfestasi di zaman Abbasyiah. Salah satu bukti kegemilangan Sains dan Teknologinya adalah House of wisdom atau Baitul Hikmah. Baitul Hikmah merupakan Tempat yang di buat oleh Raja Al Mansyur. Lalu, pada akhirnya kemudian menjadi perpustakaan yang sangat besar dan spektakuker di masa itu. 

Selain itu, Baitul hikmah menjadi Insitusi pendidikan yang mengumpulkan karya-karya yang sangat luar biasa. kemudian di sempurnakan lagi oleh Khalifah berikutnya yaitu Harun Ar Rasyid yang berkuasa dari tahun 786 - 879 dan tentunya pengembangan Baitul Hikmah di lanjutkan oleh Keturunan Harun Ar Rasyid, yaitu Khalifah Al Ma'mun, Yang mengumpulkan karya-karya bukan hanya koleksi-koleksi pribadi sejak zaman Al mansyur dan Harun Ar Rasyid. Tetapi, mereka mengumpulkan karya-karya dan tulisan-tulisan dari seluruh penjuru dunia. Hal inilah yang membedakan keterbukaan di zaman Abbasyiah dan di zaman kejayaan islam lainnya.

Di Baitul Hikmah atau House Of Wisdom, ada Empat Ilmuan yang bisa di Garis bawahi. Pertama, Ibnu Sina, hidup pad tahun 980 - 1037. Beliau adalah keturunan persia, lahir di Bukhara - kini Uzbekistan. Beliau adalah ahli Filsafat dan Kedokteran, karyanya sangat Terkenal dan menjadi acuan ilmu kedokteran di dunia Islam dan Eropa sampai dengan Abad 19, bahkan masih banyak yang menjadikan teorinya sebagai rujukan dalam Ilmu kedokteran di zaman Kontemporer. 

Kedua, Al Biruni - hidup pada tahun 773 - 1048. Beliau adalah keturunan persia. Tidak seterkenal Ibnu Sina. Tetapi, beliau juga ahli Filsafat, biologi, matematika, Fisika dan Polimate. Bahkan banyak sekali teori-teori Al Biruni di berdayakan dan dijadikan acuan ilmuan terkenal di Eropa dan dunia ratusan tahun berikutnya. Selain itu, Al Biruni juga di kenal sebagai ahli Geologi dan Antropologi pertama, Jauh sebelum Leonardo Da Vinci di Dunia. Al Biruni merupakan Pengikut ilmuan lainnya bernama Al Khawarizme, yang juga hidup di masa Abbasyiah. Al lhawarizme lahir di uzbekistan. Al khawarizme terkenal dengan teori Trigonometri - untuk mengukur panjang lingkaran planet bumi. 

Bayangkan saja, Al Biruni telah mengukur Panjang lingkaran bumi, ratusan tahun sebelum Cristopus Colombus menemukan Amerika. Maka, bisa di pastikan Bahwa ilmuan di zaman Abbasyiah telah mengetahui bahwa bumi adalah bulat. 

Ketiga, Ibnu Haitam, hidup di tahun 965 - 1050. Beliau adalah keturanan arab, yang lahir di Bashrah - Irak. Ibnu Haitam adalah bapak dari Ilmu Optik modern. Selain itu ia juga adalah astronom, ahli matematika, ahli Fisika, Filsafat dan kedokteran.

Keempat, Ibnu Musa Al Khawarizme. Hidup di tahun 780 - 850, Lahir Di Uzbekistan. Ia adalah seorang Polimate yang menjadi Pemimpin dari Baitul Hikmah. Al Khawarizme inilah tokoh yang menemukan Teori Al Jabar, dengan tulisan aslinya Al Jabar wal Muqbalah. Tentunya banyak yang tidak sadar, bahwa Nama Al Khawarizme ini menjadi Dasar dan asal usul penggunaan konsep AlGoritma. 

Tentunya, Masih banyak ilmuan lainnya yang hidup di zaman Abbasyiah. Seperti Abu Bakar Ar Razi - seorang ahli Filsafat, alkemi, Kedokteran, logika, Astronomi dan Menulis banyak sekali jenis penyakit, seperti Small poks, Chiken poks dan Phideatriks. Ada Juga, Abu Mas'har. Seorang ahli astreologi, yang menerjemahkan karya-karya Aristoteles. Ada Juga, Sahl Ibnu Harun, Al Hajjaj Ibnu Yusuf Bin Majar, Hunanyn Ibnu Ishaq Al Ibadi - Seorang Nasrani yang ahli Filsafat. Pernah di berikan tanggung jawab untuk mengepalai Baitul Hikmah. Ada Juga, Abu Bishr Matta Ibnu Yunus - Seorang Nasrani juga dan sangat di muliakan di zaman Abbasyiah. Ada Juga, Al Kindi - Seorang Ahli Filsafat, Ahli Matematika dan Musik. Lalu, ada Juga Bair Ibnu Hayyan - Ahli kimia dan Alkemi. Juga Omar Khayyan - ahli matematika, Sastra dan Astronomi. 

Jika kita lacak ke era yang lebih modern, Pada Tahun 1543. Ada seorang ilmuan bernama "Copernicus" dari Polandia, Yang menemukan bahwa Bukan Bumi yang menjadi Pusat Tata Surya, melainkan Matahari. Karya Copernicus Sebenarnya banyak sekali mengacu pada Ilmuan di zaman Abbasyiah, seperti "Nasir Al Din Al Tusi" dan "Al Batani".

Saking Gemilangnya Zaman Abbasyiah, dengan Monumen Baitul Hikmanyah, Bahasa-bahasa yang di baca dan di terjemahkan Bukan hanya bahasa Arab saja. Tetapi, juga bahasa Farsi, Aramaik, Yahudi, Syiria, Yunani, Latin, Dsb. Jadi bisa di bayangkan keterbukaan mereka untuk belajar dari seluruh penjuru dunia sangat luar biasa. 

Diatas saya menyinggung sepintas tentang Leonardo Da vinci, orang pintar dari eropa itu, mungkin manusia terakhir yang memahami rupa-rupa pengetahuan yang tidak terpikirkan orang-orang sezamannya dan tetap mengagungkan manusia-manusia sesudahnya sebagai rujukannya, yaitu Ilmuan Muslim.

Pada setiap keping kelabu di benak Leonardo, cabang-cabang ilmu seperti menempatkan akarnya. Ia menggambar dan menulis tentang pesawat terbang, mesin tenun, Senjata pelontar peluru, peralatan selam, cermin suryakanta, anatomi tubuh manusia dan lain-lain. Semuanya menjadi rujukan ilmu pengetahuan sesudah zamannya. lima abad setelah kepergian Leonardo, semua orang masih terpikat dengan senyum manis Monalisa di Louvre, Paris, masih terhanyutkan dengan suasana perjamuan terakhir di dinding gereja Milan, bahkan masih terbawa ketegangan dengan Cerita The davinci Code yang menjadikan lukisan the vitruvian; lukisan yang sebenarnya imaji Leonardo tentang proporsi tubuh manusia.

Leonardo yang hidup pada masa setengah milineum silam adalah manusia pintar yang hampir di setiap Ilmu pengetahuan. pengertiannya tentang masa depan manusia melayari berabad abad peradaban manusia. Sepandai itu, Ia masih menyebut dirinya sebagai "Omo Sanza lettere" (lelaki tanpa pengetahuan).

Artinya, kalau kita menandaskan Kegemilangan peradaban Islam di masa Abbasyiah dan Masa kegemilangan Islam lainnya, serta Kegemilangan bangsa lainnya. Hampir semua melalui fase Keterbukaannya Pada Ilmu Pengetahuan. tidak ada batas teritori dan melampaui sekat-sekat agama - tidak ada Sains Yahudi, Sains Eropa, Sains Islam, Sains Nasrani atau Sains Timur dan Sains Barat. Sains adalah Sains. Ilmu pengetahuan Melampaui Batas-batas Yang di ciptakan manusia. 

Secara garis besar, bahwa Kejayaan Peradaban Islam di Masa Lampau hanya bisa di capai dengan Keterbukaan - Ingklusifisme terjadap Ilmu pengetahuan. 

**

Ketika dunia Islam menjadi Suluh peradaban, bahkan menjadi mercusuar inovasi yang memicu pergolakan Renaissance dan gerakan pencerahan di Eropa. Lantas mengapa kegemilangan itu hanya tinggal sejarah?, dan parahnya lagi alasan kemunduran dunia Islam kerap di alamatkan kepada Seorang Ilmuan dan Ahli Spiritual - Teologi, bernama "Abu Hamid Al Ghazali" - seorang Tokoh Keturunan Persia. Menulis banyak sekali karya. 

Salah satunya Karyanya yang  di jadikan Argumentasi kemunduran Sains Di dunia Islam, yaitu The Incoherence of the Philoshopers - Tahafut Al Falasifah - Buku yang mengkritik ilmu pengetahuan Sains Aristoteles, Bahwa Spiritualitas lebih tinggi ketimbang Investigasi atau Rasionalitas. Ia juga mengkritik Pandangan Ibnu Sina dan Al Farabi mengenai Gagasan mereka tentang Aristoteles dan Metafisika.

"Ahmet T. Kuru", dalam buku " Islam, Otoritarianisme dan Ketertinggalan". Beliau Memang salah satu Penulis yang menandaskan pandangannya bahwa Al Ghazali adalah Sosok yang berperan dalam kemunduran dunia islam. Di sebutkan bahwa pada masa itu Al Ghazali bekerja di bawah otoritas pemerintahan dalam hal pendidikan. Sementara pemerintah telah melarang segala bentuk Kajian Filsafat dan Sains, serta lebih memprioritaskan pendidikan agama. Kendati demikian, akhirnya Al Ghazali keluar dan memutuskan menjadi ulama yang tidak lagi bekerja di bawah bayang-bayang pemerintah.

Selama bertahun-tahun komunitas akademik menuduh teolog Islam Abu Hamid al-Ghazali yang hidup antara 1055 hingga 1111, secara sepihak membawa budaya Islam ke arah fundamentalisme agama dan menjauh dari kultur independensi ilmu pengetahuan. Kritik Al-Ghazali terhadap Falsafa - Filsafat sebenarnya untuk membangun pemikiran kritis. Dia termasuk cendikiawan paling awal yang mendukung pemisahan antara ilmu sosial dan ilmu alam. Dia berdalih, kaum fundamentalis yang menganggap Falsafa bertentangan dengan agama, cenderung menolak semua pandangan yang diadopsi para filsuf Islam, termasuk fakta ilmiah seperti gerhana matahari dan bulan.

Padahal Dalam bab pendahuluan di buku Al Ghazali, menyebut kaum fundamentalis sebagai "kaum yang beriman lewat contekan, yang menerima kebohongan tanpa verifikasi."  Kritikannya dalam buku "Deliverence from error" merupakan kritik terhadap cara pandang buta ilmuan atau Filsuf yang menerima sesuatu yang orang katakan, khususnya dalam filosofi dan Sains, seperti doktrin atheis secara lansung. Ibarat menelan tanpa mengunyah. 

Selain itu, kita Telah lama di suguhkan sebuah narasi yang sangat kuat bahwa Kemerosotan Sains dalam dunia Islam, di picu oleh Imam Al Ghazali. Hal ini salah dan sangat miskonsepsi paling umum kepada orang yang baru membaca Al Ghazali, meurut saya. Sebab, Di dalam Buku The Incoherence Of Philosophers - Tahafut Al Falasafi, Al Ghazali mengambil 20 Teori para Filsuf dan hanya tiga, ia berpendapat teorinya tidak dapat di terima. 

Para orientalis sering menulis bahwa al-Ghazali "mengkhianati" sains. Tapi faktanya tidak ada cendikiawan muslim yang menggunakan pandangan Al-Ghazali untuk menyerang tradisi ilmu pengetahuan dalam Islam. Sebaliknya ia tetap setia pada dunia filsafat. Tidak heran ketika Al-Ghazali meninggal dunia, murid-muridnya menulis betapa "guru kami telah menghirup Filsafat dan tidak mampu lagi memuntahkannya."

Al Ghazali sangat tajam dalam krititikannya, sebab ia sangat terampil dan memiliki kepiawaiaan dalam ilmu matematika dan ilmu logika. Selain itu, Al Ghazalai sangat mengedepankan rasa penasaran dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Ibnu Bajah, ibnu Thufail, Ibnu Rusyd adalah diantara orang-orang yang mengkritik balik Al Ghazali. 

**

Dalam beberapa Catatan yang saya baca, Hampir semua bersepakat, bahwa Jika saja Cahaya Peradaban Islam Terus saja berlanjut, sejak masa Keemasan Abbasyiah. Mungkin sekali, kemenangan Hadiah Nobel akan lebih banyak di menangkan oleh Kaum Muslim. Kemunduran Peradaban islam di tandai dengan Beberapa dalil ; 

Pertama, serangan Mongol pada tahun 1258 yang menghacurkan baghdad - Dokumentasi dan Karya-karya ilmu pengetahuan yang terakumulasi sejak zaman Yunani ribuan tahun sebelumnya. Kedua, Kritik Al Ghazali Terhadap Ilmu pengetahuan sains Aristoteles yang menyebabkan berkuranganga Inteketual - RausyanFikr. Ketiga, berkurangnya Peran Timur Tengah sebagai Bahagian penting dari Rute Sutera - Silk Road, semenjak Eropa menemukan jalur maritim yang baru menuju Asia, sejak abad 15. Keempat, sejak di temukannya Mesin Cetak - Printing Press di eropa pada Abad ke 15, yang membuahkan Episode Eropa Lebih cepat melakukan pencatatan dan Produksi Massal terhadap karya-karya tulisan yang mereka bisa berdayakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. 

Menurut saya, Setelah masa Keemasan Abbasyiah (1258), anggapan ilmu pengetahuan - sains tidak lagi berkembang. Tidak sepenuhnya benar, sebab sains setelah Masa Abbasyiah masih berkembang. Jika tidak, maka tidak mungkin lahir ilmuan seperti, Nasruddin At Tusi (m. 1274), Ulugh Beg (m. 1449), Ibnu Khaldun (m.1407), Ibnu Taimiyah (m. 1328), Ibnu Battutah (m. 1369), Ali Qushji (m. 1474), Taqi Al Din (m. 1585), piri reise (1553), dll. 

Secara Garis besar, Kemunduran dalam Dunia Islam. Pertama, serangan Mongol. Kedua, perang Salib dan Ketiga, Runtuhnya Ottoman akibat Ketidakstabilan Politik, Lambat mengadopsi Teknologi Printing press - Mesin cetak. Selain itu, Nizam al-Mulk, seorang Wazir agung dinasti Seljuk, yang mendorong kemunduran budaya ilmu pengetahuan di Arab. Nizam al-Mulk menciptakan sistem pendidikan yang dikenal sebagai "Nizamiyah" yang fokus pada studi keagamaan dan mengorbankan kebebasan sains. Untuk pertamakalinya dalam sejarah Islam, pendidikan agama terinstitusionalisasi dan dianggap menawarkan peluang karir yang lebih menjanjikan ketimbang sains dan studi hukum Islam. Nizamiyah tidak hanya menyeret umat muslim agar fokus pada agama, tetapi juga mengadposi paham sempit tentang hukum Islam dan mengabaikan pendekatan rasional yang dielu-elukan pada era Bani Umayyah di Suriah dan Abbasiyah di Irak.

Sekalipun banyak juga pemikir dan Perspektif yang menyebutkan bahwa serangan mongol tidak bisa di jadikan sebagai alasan kemunduran dunia Islam, sebagaimana alasan Tunggal bahwa Atilla Then Hun yang membuat eropa Mengalami Fase Kegelapan.

Jika hendak di pahami secara sederhana. Semua peradaban mengalami siklus, ada masa Keemasan, Ada masa Kegelapan dan ada masa kemunduran. Tidak ada yang bisa di puncak terus. Eropa Jaya di Era Greco - Roman dan mundur setelah itu (Abad Kegelapan). Faktornya banyak, fanatisme agama, Otoritas keagamaan yang terlalu dominan, ketidakstabilan Politik, ekonomi dan serangan bangsa-bangsa Lain, Contoh Atillah Then Hun. 

Bersikap terbuka - Inklusif terhadap gagasan dan Ilmu pengetahuan adalah syarat Mutlak untuk mencapai kemajuan peradaban. Karena terjadi penyerapan atau Akumulasi ilmu Pengetahuan semakin menumpuk, Tidak perduli darima asalnya, asalkan bermanfaat. Misalnya Pemikiran Yunani di kaji dan di kembangkan, sehingga menjadikan Dunia Islam melalui Fase Keemasannya. Di saat dunia Islam sedang berada di puncak Keemasannya, Giliran Eropa yang terbelakang dan mulai menerjemahkan Karya-karya dan Pikiran-pikiran ilmuan - Filsof Dunia Islam ke dalam bahasa latin. Hal ini terjadi di Fase awal sebelum eropa berangsur-angsur membaik, Melalui renaissains (Revolusi Ilmu - abad Pencerahan) sekaligus Revolusi Industri. 

Untuk sampai ke tahap itu memang tidak mudah. Misalnya, Galileo Galilei atau Copernicus. Apa yang mereka Hadapi?. Resiko kematian, karena ilmu yang mereka sampaikkan bertentangan dengan Dogma Agama. 

Di abad pencerahan Eropa, mereka juga terbuka terhadap peradaban dan Ide-ide dari Timur (Filsafat Islam, India dan Tiongkok), yang di terjemahkan oleh Misionaris Jesuit. Akhirnya Akumulasi ilmu pengetahuan bertumpuk di eropa. 

sebenarnya, Printing press dan Paper, Sebelum era Guttenberg. Paper berasal dari Tiongkok. Ihwal itulah, sehingga Francis Bacon menyebutkan empat penemuan besar Tiongkok (Mesiu, Kompas, Printing dan Paper). Khusus, kertas dan printing ini sangat penting. Karena, dari situ ide dan gagasan bisa terakumulasi atau di abadikan dalam Tulisan, serta di wariskan ke generasi berikutnya. Saat Eropa Mengadopsi hal itu dari Tiongkok. Tiongkok mengalami kegelapan dan tertinggal dari eropa. Lebih tepatnya Pergantian abad 18 ke abad 19. Giliran Inggris mendominasi Dunia, sedangkan Tiongkok mengalami abad kegelapan (Abad Penghinaan - Bainian Gouchi). 

Tetapi, lihatlah Jepang. Dia menjadi contoh bagaimana bersikap terbuka dengan pondasi pengaruh Tiongkok ribuan tahun di Komparasikan dengan pengetahuan barat setelah Restorasi Meiji. Sikap terbuka Jepang, dari negara terbelakang di Asia Timur menjadi Negara asia yang paling di perhitungkan dalam waktu cepat. 

Amy Chua dalam Hyper Power menyoroti, bahwa negara-negara adikuasa di zamannya, masing-masing punya ciri untuk maju, jika bersikap terbuka, tidak menutup dan mengunci diri (Isolasi) dan juga bersikap Toleransi. Karena dengan toleransi. Maka, talenta terbaik dari kelompok manapun termasuk minoritas bisa berkontribusi, juga menghargai talenta-talenta asing yang mau mengabdi. Contohnya Amerika serikat saat abad 20, mereka saat itu masih regional power, bukan seperti sekarang Yang Super Power. 

Amerika serikat memang Intoleran terhadap suku Indian terhadap sejarah kelamnya. Tetapi, mereka menghargai Telenta asing. Saat itu Pusat ilmu pengetahuan masih di eropa barat. Peraih Nobel, masih di dominasi oleh Inggris, Prancis, jerman. Keadaan berubah ketika Nazi Jerman mulai bersikap Intoleran, menyebabkan begitu banyak Ilmuan-ilmuan jenius. Seperti Albert Einstein memilih mengungsi ke Amerika serikat. Kecerdasan Einstein sangat berperan terhadap kemenangan Amerika serikat di perang dunia Ke 2. salah satu wujud Teknologi Bom Atom yang menghajar Jepang. 

Satu Hal lagi, Sekalipun hal ini samar-samar di perkatakan. Hal ihwal inilah juga penyebab kemunduran dalam dunia Islam. Ada yang menyebutkan, bahwa Ibnu Sina dan Nasiruddin Tusi adalah Ilmuan Syi'ah. 

Ngaco dan Ngawur orang-orang seperti ini. Silahkan baca Dalam Buku Auto Biografi Avicienna, William E Gohlman (1986), buku bahasa Inggris dan Bahasa Arab, yang di terjemahkan ke dalam Bahas indonesia. Di situ Ibnu Sina sendiri menyatakan bahwa dirinya bukan Syi'ah. Memang benar bahwa dia lahir dari Keluarga syi'ah (Bapak dan saudaranya). Tetapi, Jurisprudence dia adalah ilmuan dan Ulama dari Mazhab Hanafi. 

Orang-orang yang terus menganggap Ilmu itu memiliki batas Horizon dan memiliki sekat ( ini ilmu barat dan Ini Ilmu Timur atau Ilmu Orang Syiah dan Ini Ilmu orang Sunni) adalah ciri manusia yang mengunci diri dari perkembangan peradaban ummat manusia dan menjadi salah satu dampak terbesar KEMUNDURAN DUNIA ISLAM. karena mereka melihat Ilmu dari siapa yang membawanya, bukan apa yang di bawanya. Selain itu jenis manusia seperti inilah yang di sindiri oleh Al Ghazali, hanya modal mendengar dari orang tanpa membaca literatur aslinya atau dari Buku itu sendiri. Mereka lupa, bahwa baca buku itu punya sumber yang lebih terpercaya ketimbang mencomot artikel di intrnet atau dengar Ceramah sepintas Di Yutub. 

Saya dan kita semua, hanya butuh berendah hati ; di keluasan semesta raya. sebab, belum setitik cahaya dari sang pencipta yang terlihat dan di pahami. zaman berganti-ganti, pengetahuan bertambah-tambah. tapi, ketidaktahuan masih bersamudera-samudera.

Jauhi keangkuhan, jangan merasa pandai sendiri. belum juga setitik ilmu dan kita sudah seolah-olah tahu segala rupa. Kita tidak akan terlihat pintar, dengan mengoblok-goblokan orang lain. Kalau kepintaran dan kedalaman ilmu yang jadi ukuran, mungkin yang harus kita kagumi itu manusia-manusia jenius seperti ; Ibnu khaldun, Ibnu Haitam, Al Ghazali, Al khawarizme, Isac Newton, T.A Edison, Einstein, Stephen Hawkings, Henri Poncaire, Hemingway, J.P Sartre, Stev Jobs, Bill Gates dan para pemenang hadiah nobel lainnya.

Jadi jangan terus mengatakan, " Ilmunya lebih dalam dari kamu. Tak pantas kamu kritiki. Mengkritikinya berarti mengkritik kami. Kami akan marah. Walaupun ia menghina, menghardik dan melecehkan, itu pantas karena Ilmunya dalam. Memangnya benar dalam kah?, lalu apa Buktinya?. Youtube? Hahahaha.

Kawan, Pergi sana ke perguruan tinggi, di sana kamu akan jumpai manusia - manusia pintar dengan gelar otoritatif. Menghasilkan karya tulis yang di akui dan bereputasi. Buku-buku mereka di telaah dan di diskusikan. Itupun, jika kamu ingin berdebat dengan kedalaman ilmu seseorang.

Tapi itu tidak penting. Saya teringant dengan ungkapan seorang filosof yang berujar bahwa " yang berilmu belum tentu yang paling manusiawi". Yang paling manusiawi itu adalah point pentingnya. Point sesungguhnya.

Kamu Tahu Nabi Muhammad SAW?. Dimana letak kekuatannya?. Pada AKHLAKNYA. Akhlak, silahkan di terjemahkan saja apa defenisinya. Defenisinya tidak pernah berubah sejak zaman ketumbar hingga zaman martabak kini.

Peradaban dimana pun selalu diawali dengan kemerdekaan berfikir. kemerdekaan berfikir hanya bisa terlahir dari orang-orang yang tercerahkan (insan kamil). siapakah orang yang tercerahkan itu?. Ia  adalah anak manusia yang tidak mengkapling kebenaran dan kesucian. selalu membaca dan berdialektika dengan semua ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi ummat manusia, lalu endingnya yang ia temukan adalah kebijaksanaan. kebijaksanaan adalah dimana kita damai dengan segala beda pendapat, soal furu’iyah dan ushul-ushul agama.

Olehnya, Berilah terus nutrisi dengan membaca pada akal secara terus menerus, hanya dengan begitu kita menunda kematian dini. Agama kita memberikan porsi lebih pada akal, memaksimalkan potensi merupakan bagian dari pengamalan terhadap ajarannya.

Sejarah peradaban islam adalah sejarah perdamaiaan mazhab (kelompok-kelompok berfikir), hancuranya peradaban islam karena budaya saling menyalahkan (bid’ah dan taqfiriyah). Jika tak percaya, Silahkan baca runtuhnya peradaban Umaayyah, Abasyiah, fatimiyah sampai pada Turki utsumaniyah. Salah satu fakta kehancuran peradaban tersebut, selain faktor eksternal. Hal yang paling fundamental adalah Faktor Internal, yaitu disebabkan oleh budaya menyalahkan dan menghakimi.

Saudaraku, agama itu punya banyak pengikut. tapi, belum tentu semua pengikut diikuti oleh agama sebagai pengikutnya. siapa yang bisa memberikan verifikasi atas itu, Hanya Tuhan yang Maha Esa.

Soal-soal seperti memang Membingungkan. Sebab, Ketika kita maju maka yang lain tertinggal. Ketika kita santai, maka kita di susul oleh orang lain yang sedang berlari. Di situlah relatifitas Kemajuan. 


--BERSAMBUNG--

*RST

*PUSTAKA HAYAT

*PEJALAN SUNYI

*MUSLIM INTELEKTUAL PROFESIONAL

*NALAR PINGGIRAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar