Mengenai Saya

Rabu, 28 Februari 2024

- TIMBAL BALIK ; SALAHKAH POLITISI - POLITIS ITU -

Manusia hidup dalam Ruang sejarah, Dimensi waktu. Setiap masa memiliki Nilai zamannya. Setiap era punya kisahnya sendiri. Punya tema besar. Jika tidak salah setiap gerak gerik Manusia di hubungkan dengan tema besar tersebut. Bahkan perilaku binatang pun di hubung-hubungkan.

Di Tahun politik, Seluruh tingkah laku kita kerap di hubung-hubungkan dengan apapun. Ucapan atau diksi yang kita pilih, kedipan mata kita, nyanyian yang kita nyanyikan, gerak gerik jemari kita, jumlah kodok di rumah kita kemudian dikalikan dengan jumlah ayam lalu dibagi dengan angka tertentu dan akhirnya dapat angka tertentu. Selanjutnya di kaitakan dengan Kandidat tertentu. Bahkan berapakali kita kentut di suatu malam akan di hubung-hubungkan dengan kontestasi itu.

Melabelkan Fakta sosial (Politik) dengan warna, mungkin hanyalah kategorisasi. Agar apa?, Biar orang mudah dalam menentukan identitas warna tersebut dalam melakukan analisis. Namun perlu juga di ingat. Persoalan warna tidak melulu soal politik. Dalam hidup ini, persoalan estetik selalu jadi pertimbangan seseorang dalam memilih warna. Acap kali saya menegenakan Baju Hitam, celana Hitam, topi Hitam, Sepatu Hitam dan kulit hitam Manis, Itu juga di hubung-hubungkan dengan Warna Parpol dan kandidat tertentu. Bung Karno pernah berujar, "apa yang telah di sepakati dalam politik, jangan lagi di perdebatkan secara estetik".

Pesan dalam politik tak pernah nampak secara terang di halaman depan. Selalu di wakilkan oleh simbol-simbol samar, atau di bungkus dengan kalimat-kalimat bersayap. Selebihnya, maksud dan kepentingan kerap di bicarakan secara tertutup, di bincangkan diam-diam, atau di sampaikan lewat bisik-bisik. Dimana?, seperti rumah, politik juga punya ruang-ruang gelap, dimana tempat segalanya diletakan diatas meja, lalu dibahas secara utuh dan tuntas.

Misalnya, Nasi Goreng Di Apong atau Ulu Juku di Racing Center. Yang gamblang terlihat hanyalah pertemuan dan menu makan siangnya, tapi isi obrolan, topik yang dibicarakan, lenyap tak berbekas. Yang tersisa hanyalah remahan kode-kode tersirat yang terbang tinggi entah ke mana alamatnya dituju, bersama kalimat-kalimat bersayap di hadapan awak media. Lalu, apa yang tertinggal setelahnya?. publik yang riuh menebak-nebak dan pengamat warung kopi yang sibuk menyusun tafsiran.

Mengarungi politik memang selayaknya menyusuri rimba belantara dengan panduan peta buta. Keliru membaca, bisa-bisa celaka menanti dimuka. Karenanya, pandai-pandailah menebak kode. Itulah sebabnya dulu kerap kali saya menyampaikkam bahwa "Politik itu- Naskahnya dapat ditulis, namun segala sesuatu dapat berubah dilapangan. Detik-detik terkhirlah yang paling menentukan. Karena Politik bukanlah Dunianya Albert Einstein, dimana E = Mc2. Bukan pula Dunia Mekanika Kuantumnya Stephen William Hawking, yang bagaimana pun rumitnya, tetap berjalan dalam rel sebuah rumus.

Jika kita menelisik, Dalam konsepsi sosiologi politik, ada sebuah teori yang diperkenalkan oleh Earving Goffman, Teori Dramaturgi. Asumsi dasarnya, sederhana, dalam sebuah interaksi sosial (politik), selalu ada panggung depan dan panggung belakang.

Penonton yang riuh lebih sering terfokus pada panggung depannya. Menonton dan menyeksamai mereka yang sedang melaksanakan tugas mereka sebagai politisi. Padahal Politik ialah dunia yang sangat dinamis, bergerak dalam ritme yang tidak terdeteksi. Ada panggung depan, ada panggung belakang, bermusuhan kemudian berangukulan, saling Kandatto (Jitak) lalu saling elus. Maka sudah seharusnya dihadapi dengan humor tinggi.

Pertanyaanya, "Salahkah mereka?". Jawabannya, "Tidak". Sebab, hal itu keniscayaan dalam politik praktis. Hitung-hitungannya pasti ada. Ujungnya adalah pragmatisme. Tidak ada yang mau merugi seutuhnya. Karena mereka sedang melaksanakan tugas, apalagi tugas yang dilindungi undang-undang. Tugas yang bertujuan untuk kemaslahatan ummat. Sehingga tidak salah dalam melaksanakan tugas itu, kata-kata yang sering kita dengar adalah Untuk rakyat, demi Rakyat, atas nama Rakyat.

Sedangkan kita?, Kita terlena, terbawah amarah, kadang Gigi gemeretak. juga air mata bercucuran. Jantung berdetak berdegub kencang dan Menangis. bahkan kadang membuka lembaran-lembaran suci untuk merepresentasikan rasa hati. Mengutip khazanah-khazanah lama, terkadang menghubung-hubungkannya dengan tanda-tanda alam empirik, pun tidak jarang mentamsilkannya dengan mimpi semalam.

Kontestasi politik itu, rutinitas. Ia bukan persoalan kalah dan menang. Dalam bahasa "Paulo Coelho" : hidup bukan tersebabkan oleh kalah dan menang, tapi karena perubahan. Dalam bahasa teologis (Al-Qur'an) : janganlah membenci berlebihan, suatu masa kamu akan menyukainnya. Pun jangan terlampau mencintainnya, mana tau pada suatu masa kamu akan kecewa. Manusia itu selalu berubah. Tempatkan mereka pada posisi sepantasnya dan semestinya.

Politik praktis itu ibarat minum kopi susu. Walau antara kopi dan susu itu berbeda warna. Tapi, mereka bisa berbaur dan menyatu. Hasil yang kita reguk pun, terasa asyiek dan nikmat. Sehingga, janganlah terlampau tegang sekali. Secara Praksis Politik itu realitas yang paling rasional, kalkulasinya juga jelas. Bukan realitas emosional.

Dalam pendekatan fungsional, Teori sosiologi : sebuah entitas akan senantiasa mencari "keseimbangan". Equilibrium, istilah lainnya. Biasannya, setelah kontestasi berlansung, mereka akan mencari keseimbangan. Untuk mencari peluang melaksanakan tugas mereka dimasa mendatang. Begitu terus pola yang terjadi dalam interaksi politik hingga upin ipin lulus kuliah.

Perdebatan akan usai, semua berjalan dengan damai. Dulu kamu bilang mereka bersitegang urat leher, tangan mereka dikepal. Sekarang justru bertolak belakang. Jangan bingung, biasa saja. Politik itu kompromi. Kompromi itu terkadang (Hampir) tidak butuh pertimbangan-pertimbangan historis-ideologis. Kalaupun itu ada, sudah jadi barang langka. Kompromi dalam dunia politik, lebih mengedepankan pertimbangan pragmatis. Tidak tahukah kita, bagaimana diksi paling umum dalam dunia politik; " siapa yang mendapatkan apa, bagaimana dan kapan".

Ihwal itulah, jangan terlalu fanatik dan juga terlalu benci. Hidup ini tidak stagnan. Demikian juga dengan harapan. Ketika kita berharap terlalu tinggi kemudian dibungkus dengan rasa Fanatik yang berlebihan, Suatu saat mereka yang kita harapkan mengecewakan kita. Demikian juga sebaliknya. Orang yang kita tidak sukai, jangan dibungkus dengan, aroma kebencian, karena mana tahu, suatu ketika mereka justru yang membuat kita jatuh hati. Mengutip Igauan Imam Ali, "Jangan menghakimi orang lain hanya karena dosanya berbeda dengan dosamu".

Bersemayam dibathin dan raga kita, akan sembuh. Bila dokter, yang umumnya tidak banyak bicara, menyarankan beberapa buah obat untuk satu penyakit. Justru penjual obat yang biasa kita nikmati kampanyenya tersebut, menyarankan satu buah obat untuk seluruh penyakit. Semua orang terhipnotis. Bahkan orang yang terkagum-kagum mengelilinginya. Dengan sukarela, dompetpun dibuka dan obat dibelinya, uang berpindah. Resep tidak ada, petunjuk pun sederhana. Yakinlah, tidak akan ada yang bertanya, memangnya si penjual obat dulu sekolohnya dimana?. Demikian pula; Pilihlah dirinya, coblos gambarnya. Seluruh masalah bangsa teratasi semuannya. Kita jarang bertanya, ia bagaimana?.

Secara teoritis, dalam kajian etika politik; kekuasaan yang didapatkan seharusnya diarahkan untuk kemaslahatan ummat, walau bertentangan dengan motto atau slogan yang selama ini diusung dan ditawarkan. Dalam konteks ini, teringat kita dengan Deng xiao ping : "jangan perdebatkan warna kucing, bila ia pandai menangkap tikus. Pelihara dan gunakanlah".

Sementara itu, dalam interaksi politik praktis ketika ingin merengkuh kekuasaan. Seluruh potensi isu yang ada dimanfaatkan secara maksimal sekalipun tidak mendidik, seperti ; anti asing, anti aseng, anting asong, relasi dan sejenisnya. Padahal dalam praktek dan rekam jejak historisnya, mereka menjadi bagian itu semua.

Akhirnya, mari kita merenungkan pernyataan orang terkenal dan besar asal Prancis, pasca perang dunia ke Dua, Charles de Gaule, " politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut jika Rakyat mempercainnya".

Bulan - bulan ke depan dan bulan-bulan sebelumnnya adalah bulan-bulan dimana kita sebagai "penonton" dan sekaligus "pemilik mandat", tinggal kita saja, yang mau belajar atau tidak dari seluruh peristiwa politik yang terjadi.

**

Coba kita lihat pertarungan parpol-parpol di luar sana. Di ujung dari public discourse, yang mereka lahirkan adalah aspek kognitifnya. Jadi, di ujung dari perdebatan politik, ada semacam struktur nilai yang masuk ke ruang-ruang publik untuk tujuan mencerdaskan. Menggahar pengetahuan dan pendalaman tentang pokok substansi. Mereka meributkan program. 

Di China sudah selesai dengan komunisnya, di Amerika sudah selesai dengan neolibnya. Antara demokrat dan republikan, mereka sudah selesai dengan dikotomi isme-nya. Yang mereka ributkan adalah program konkret dengan corak masing-masing. 

Di negeri sudut pandang kamera, justru mempertajam benturan ideologi sentris. Pancasila dianggap belum selesai. Sebuah kontrak sosial politik yang gagal. Lalu, ada upaya amandemen terhadap ideologi bangsa. Malah yang terjadi adalah penyimpangan. Malpraktek ideologi.

Dalam politik yang gladiatoris, kemanusiaan seharga di bawah telapak kaki. kebenciaan dan balas dendam, di kibarkan. Adu kuat dan sorak sorai atas kelemahan dan kekalahan lawan menjadi bagian inti yang di terima. Saling membantai dengan cara yang kejam menjadi sesuatu yang permisif. Bahkan di anjurkan sebagai akhir dari tontonan dalam koloseum.

Akhir-akhir ini purbasangka publik tengah menyala-nyala. Ulama di bantai, ustad dianiyaya, pendeta di jegal. Cuman sayang; nalar investigasi Negara hanya sampai pada spekulasi orang gila. Sadis, jika kita ingat teori koloni ke 5 bahwa lemahnya kekuatan intelejen Negara menjadi ciri utama hancurnya Negara tersebut.

Politik bukan seperti koloseum gladiatoris. Tontonan kekejaman Marcus Aurelius Comodus Antonius Agustus, Penguasa Roma paling kejam, yang berkuasa sejak 180 M hingga 192 M. setiap hari dan kepada semua, Comudus menumpahkan kebencian. semua cara di halalkan demi ambisi dan kemarahan. Berbeda dengan oposannya Jendral Maximus. sosok yang selalu meletakkan kata maaf dan kemanusiaan di ujung pedangnya dengan harga kemanusiaan yang begitu mulia.

Berbeda itu biasa saja. pertentangan juga biasa saja. menganggap pertentangan sebagai tujuan, pada hal saya menganggapnya sebagai dialektika. semua adalah proses menuju pengetahuan, pencerahan, partisipasi dan pemihakan.

Silahkan cari pada kolong langit ini bahwa Insights selalu lahir dari pertentangan yang dialektis. Jika anda-anda masih menganggap pertentangan itu seperti baku hantam. maka, kita perlu kursus, kuliah ulang supaya bisa belajar politik. Sebab, kami sudah loncat "beyond the mainstream" menuju "the deepening of politcs. dimana nilai merupakan alat mencapai tujuan "walfare society". Itulah mengapa beda Tukang politik dan politis.

Berkenaan dengan itu, saya ingin menggaris bawahi sebuah hal yang penting, menurutku, bahwa Sekularisasi sebagaimana pemikiran Cak Nur. berbeda dengan konsepsi gerakan sekularisme yang ingin melepaskan politik dari dominasi dan ortodoksi agama di eropa pada abad 18-19 M.

Sekularisasi dalam perspektif kontemporer Cak Nur adalah suatu pemikiran tentang kosmopolitanisme islam. menghela cara pandang teologi islam yang vertikalistik menjadi lebih kosmopolit. Dengan demikian, kesadaran keberislaman mampu mengaktualisasikan segala dimensinya nilainnya ke segala tatanan dunia baru.

oleh karena itu, saya ingat Frasa bijaksana ini adalah petuah Nene’ Mallomo, cendekiawan Sidenreng abad 16 M, yang saya jadikan sebagai filosofi hidup. Sekaligus platform politik. Petuah ini selalu mengejawantah dalam pratek politik saya, sebagai sebuah relasi. Bukan sebatas momentum. 

" Takkan mati kejujuran itu, takkan runtuh yang datar, takkan putus yang kendur, takkan patah yang lentur.”

Politik bagi saya, dipahami sebagai relasi timbal balik dalam ekosistem yang luas. Karenanya, politik selalu hadir bersenyawa dalam interaksi yang panjang dan menyejarah. Yang kemudian mengkristal dalam momentum-momentum. Di titik itu, momentum hanyalah akibat kausal dari sebuah proses yang panjang. Bukan sesuatu yang disulap sekejap seperti mengerjakan Candi Prambanan. Apakah kau paham hal itu, kawan?. 


Makassar, 12/02/2020

*PUSTAKA HAYAT
*PEJALAN SUNYI
*ISLAM PROGRESIF
*RST
*NALAR PINGGIRAN



WASPADAHALAH PANCAROBA KONSITUEN ; SO, INDONESIA MENGANUT VOLTUNARY VOTING (JANGAN GOLPUT)

 

Tadi seseorang Kawan tetiba berbicara Soal Hak, yang membikin Hati orang yang berpikir waras, menjadi Remuk redam. 

Kawanku ini, agaknya tak pernah Membaca Peringatan "Minke" Dalam "Bumi Manusia" Pramoedya, bahwa Segala Hak yang berlebihan adalah PENINDASAN. 

"Wiji Thukul" Penyair yang Tak akan Pernah Kembali itu, hanya Punya satu Kata Untuk Segala Jenis PENINDASAN, YAITU LAWAN 🔥. 

Sebagai Kawanmu, saya ingatkan kamu, bahwa "Orang Yang Kamu Pilih saat Kontestasi Demokrasi adalah Dia Yang dengan Sirene polisi menyuruhmu Minggir di jalan Raya. 

Kawanku, Yang tak tertangkap statistik adalah getar denyut di nadi warga yang telah lama bergerak dalam diam. Hal itu mustahil terpotret dalam keriuhan buzzer dan influencer : Ia dengung bersambut yang hanya bisa dirasakan melalui desir angin, Yaitu ANGIN PERUBAHAN.

Makanam saja untuk matang, perlu dimasak. Bahwa untuk berhasil, manusia perlu berusaha. Bahwa untuk sukses, seseorang harus menginvestasikan tenaga dan waktunya. Ini adalah sunnatullah yang berlaku untuk semua makhluk Allah, muslim maupun tidak.

Ada sunnatullah di alam semesta. Namun kita cenderung terpesona dengan kisah-kisah yang membuat kita terlalu bertumpu pada keajaiban. Pada mukjizat. Padahal, seluruh hidup Rasulullah SAW itu dihias dengan ikhtiar manusiawi yang begitu besar. Tetapi kita lalai melihat dimensi tersebut. 

Untuk memenangkan pertempuran Badar, Rasul tak sekadar menunggu kabar dari langit. Beliau bermusyawarah untuk menentukan tempat strategis. Beliau atur langkah pasukan untuk mencounter serangan. Bahkan Rasul memilih posisi yang secara apik membuat sinar matahari tidak menyilaukan buat sahabat.

Namun setelah semua ikhtiar itu diusahakan, Allah menyempurnakan dengan turunnya hujan rintik yang menegakkan langkah. Allah sempurnakan dengan hadirnya rasa kantuk yang melegakan di malam sebelum tempur.

Jika dilihat, Polanya sederhana; ikhtiar manusiawi sebagai mukaddimahnya. Kemudian pertolongan Allah akan hadir dengan kemenangan.

Ihwal itulah yang membuat dalam berbagai sejarah umat islam, jumlah yang sedikit tapi serius dalam imannya dan serius dalam manajemennya bisa menang. 

Tahukah Kamu?. Sebelum "Musa" menjadi pembela keadilan yang kokoh dan membawa obor perubahan. Ia dididik lansung di bawah jemari Fir'aun, di suapi lansung oleh raja diktator itu, dan hidup di bawah bayang-bayang istana mesir yang megah.

Tahukah kamu?. Sebelum namanya menjadi Madinah Al Munawwarah - kota itu bernama Yastrib, sebuah daerah kelam penuh dengan peperangan dan tanah dimana Yahudi mengepakkan sayap keangkuhannya. Kini, Madinah menjadi Primadona yang di rindukan Milyaran Muslim untuk menziarihinya.

Allah itu digdaya, dia dengan mudahnya memenangkan semua pertempuran dan menolong hamba-hambanya melawan musuh mereka. Namun, Allah sang Kreator Skenario terbaik menginginkan lebih dari hanya sekedar menang. Allah sengaja, memberi kita panggung sejarah ; bahwa Musuh yang berusaha meluluhlantakkan kita, malah merencanakan kekalahannya sendiri dengan perbuatannya.

Semua itu agar menjadi pengingat bagi siapapun yang mentadabburi kisah-kisah kaum muslimin ; bahwa para pendengki dan pembenci bisa saja merencanakan makar terkuat, tapi ketika mereka merasa diatas angin, sebenarnya Allah sudah meliputi mereka dengan genggamannya, "Padahal Allah mengepung dari belakang mereka." (Al buruj ; 20).

Dalam Al qur'an, skenario Maha agung itu terbentang dalam kisah "Yusuf". Semua makar di lakukan oleh saudara - saudaranya ; berbohong, berkhianat, berkonspirasi atas kejahatan mereka pada Yusuf.

Namun di akhir kisah, Justru Allah befirman dengan gagahnya, " Kadzalika Kidna li Yusuf - demikianlah kami mengatur rencana untuk Yusuf," (Yusuf ; 76).

Olehnya, Tidak ada kemenangan yang layak dikenang sejarah, yang tidak dimulai dengan kerja keras dan perjuangan yang berat. 

Kita telah bertumbuh dari keterbatasan, lalu berkembang dari setiap jengkal kerumitan. seperti itulah jalan hidup yang kita lewati dengan segala keindahannya. 

Kita yang telah berkali-kali diterjang badai, apakah gentar dengan sekadar cipratan gerimis? Tidak, Sayang. Sama sekali tidak!. 

Perjuangan memang butuh kesabaran. Karena itu, Simpan semua kemarahanmu, simpan segala luka dan dukamu, lalu bawa serta semuanya nanti di Tanggal 14 februari di bilik suara, pastikan dengan jelas, bahwa ; Kita berpihak kepada tegaknya demokrasi, kepada Cita - Cita reformasi!. 

Setiap anak muda harus mengambil peran. Percayalah, generasi akan berganti. Hal Itu adalah sunnatullah. Tetapi setiap generasi punya determinasi akan menjadi apa mereka dalam lingkaran siklus sejarah ; Menjadi generasi yang pro pada status quo atau berani memecahnya dan menciptakan kisah baru. 

Kepada siapapun yang berada di persimpangan. Gelombang selanjutnya akan datang. Tetapi, kita belum tahu, apakah ia gelombang yang mengantarkan kita pada Palung atau mengantar kita pada puncak gulungannya. Apapun itu jangan pernah Kehilangan HARAPAN. 

Mari menelusuri rantai panjang perjalanan Peradaban Bangsa ini, ia saling bertautan dan berkelindan. Apa-apa yang terjadi di masa depan amat erat kaitannya dengan masa lalu.  

Milineal dan Gen Z harus diajak berpikir agar lebih banyak belajar dari peristiwa masa lampau, di lekuk naik masa jayanya dan sebab kemunduran bangsa kita. 

Sejarah banyak mengajarkan kita tentang nilai-nilai penting. Jika Ia ditakdirkan memiliki lisan, mungkin Ia akan berkata lirih pada kita semua, “Di masa lalu, telah hancur beberapa sendi nilai Kehidupan karena ini dan itu, kalian jangan mengulanginya, agar ke depan kalian tak mewariskan bangsa ini dalam keadaan hancur berkeping-keping"

Mempelajari setiap lekuk sejarah bangsa ini, bukan sekedar mempelajari tanggal dan tahun, kapan lahir, siapa tokoh-tokohnya. Lebih dari itu, ia adalah cara kita menyelidiki masa lalu, mengambil pelajaran dari kejayaannya, agar kita bisa mengulangi kegemilangan, prestasi sekaligus menghindari sebab-sebab kemunduran. 

Langit yang menaungi kejayaan bangsa ini dahulu, adalah langit yang sama yang menaungi dunia kita sekarang. Pun mentari yang cerah benderang menerangi kita kini, adalah mentari yang sama yang menemani awal perjuangan para pendiri bangsa Ini. 

Dalam genggaman semua orang yang berikhtiar adalah kewajiban manusiawi memenuhi semua persyaratan kemenangan. Setelah itu yakin bahwa pena Tuhan sedang menulis taqdir untuk menjadi seseorang yang akan mengubah alur sejarah. 

Yakinlah bahwa Di jalur yang benar, mungkin engkau akan terjatuh berulang - ulang. Tetapi, selama engkau masih mau berjalan, engkau pasti akan sampai ke tujuan. 

Para nabi dan Rosul Tuhan, mewariskan Nilai - nilai profetis sebagai mental model kepemimpinan. Basis Nilai kepemimpinan, seperti Kecerdasan, amanah, Jujur dan Humality di gerakkan oleh sumber paling tinggi dan infinity, yakni ILAHI. 

Nilai - Nilai kepemimpinan di maksud adalah nature atau Fitrahnya Manusia.  

Semakin dekat seseorang Pada TuhanNya, ia makin lekat pada Naturenya. Makin mengayomi, inklusif dan merdeka dari semua batasan primordial yang Kaku. 


**


Memilih adalah hak tiap warga Negara. sehingga tidak ada konsekuensi lansung berupa sanksi, jika mengabaikkan hal itu (tidak memilih).

Namun Apatisme ; mengabaikkan hak konsitusi sebagai konsituen, merupakan mimpi buruk bagi Negara yang masih berumuran remaja dalam system demokrasi.

Setiap entitas yang hidup di alam demokrasi, hendakanya menjalankan peran sinergi untuk saling mencerdaskan. Kata Nabi “pemimpin adalah cerminan atas orang-orang di pimpin”. Pesan Nabi beberapa abad silam mestinya menubuh, menyejarah dan merasuk ke jantung kesadaran kita.

Gairah berdemokrasi, membangun sistem terbaik sebagai corong aspirasi sekaligus ujung tombak kebijakan pada akhirnaya mengalami stagnasi. Dinamika ini akhirnya di persepsikan sebahagian orang, sebagai panggung sandiwara kekuasaan yang lebih banyak di akhiri dengan dramaturgi.

Di pesta demokrasi, kita menyaksikan beberapa orang unjuk kebodohan. Soal demokrasi elekoral, ini soal-soal kepastian. orang-orang mengkapitalisasi kemenangan berdasarkan prediksi-prediksi metedologis. bukan klaim, bukan dukun, ramal sini, ramal sana. Bayangkan dengan klaim mereka berpuas diri. mengkompenisasi kegundahan terhadap keunggulan lawan politik dengan mengklaim. padahal politik sekarang secara praksis di lapangan mengalami saintifikasi. Jadi, tukang politik mengira kita rakyat merupakan objek mati yang tergelatak begitu saja, bahkan kosong melompong tidak punya pikiran terhadap suatu fakta atau opini publik.

Mereka lupa bahwa kita rakyat punya local genius atau naturally genius yang membuat kesadaran politik kita tumbuh secara alamiah.

Rakyat itu bukan pemilih. Tetapi, konsituen. Ada hak-hak konsitusi kita yang perlu di advokasi melalui politik anggaran dan pembangunan. Politik itu alat memperjuangkan keadilan, kebenaran dan keberpihakan pada rakyat. Jadi, bukan ajang main-main atau cari pamor apalagi sampai olah mengolah. Itulah kenapa beda tukang politik dengan politisi.

Dimana-mana, peramal atau semacam dukun pilkada itu pake metode kebetulan. Jadi, persis seperti 10 batu, yang di pakai melempar tiang listrik. Jika salah satu batu menyasar tiang listrik, itu dianggap kepastiannya. padahal kebetulan. Kalau kepastian itu, tidak bermain-main dengan banyak kemungkinan. tingkat toleransi terhadap kesalahan terlalu besar.

Berbeda dengan suatu survey public (QC) ; semakin besar presentase margin of error. maka, semakin jauh sampel tersebut mewakili populasinya. Begitu juga sebaliknya, semakin kecil presentase margin off error. maka, semakin besar sampel mewakili populasinnya.

Jadi, jika selisih elektabilitas paslon A dan B beda tipis dan masih dalam presentase margin of error. maka, jangan bilang bahwa paslon A berpontensi menang. Apalagi respon rate dalam survey terbilang kecil presentasenya. Itu artinya kredibilitas data di persoalkan, belum mendekati fakta lapangan dan itu berpengaruh pada besaran margin of error.

Diam bukan berarti tidak bersikap. Bisa jadi mereka yang diam, tidak mau masuk wilayah perdebatan A sampai Z. Bisa jadi mereka yang diam itu menggerutu dan berkata ; semakin kalian tawar maka, semakin kita membeli, berapapun harganya. "Hati-hati dengan mereka yang tidak menentukan sikap". Merekalah yang di namakan swing voters.

Belajar pada kasus pemilihan presiden amerika Serikat, seluruh lembaga survey Amerika serikat. Dari CNN. cc. DetikNews. Hampir semua bersepakat bahwa Hillary Clinton akan menang. Padahal lembaga-lembaga Survey di Amerika tersebut canggih-canggih. Metedologi mereka teruji. Tapi, dalam perilaku politik (political Behaviuor) dan perilaku memilih (electoral Behaviour), selalu ada yang membuyarkan prediksi.

Siapa mereka?. Mereka yang meyatakan "Diam". Nyatanya " Donald Trump" yang setiap hari di Bully luar biasa itu, menang. Padahal jauh-jauh hari opini telah terbentuk bahwa Trump itu "memuakkan". Post Factum (setelah Fakta berlansung), seluruh lembaga survey bersepakat mengatakan, bahwa Trump di menangkan oleh mereka yang selama ini berada dalam posisi yang tidak masuk dalam hingar bingar, caci maki dan perdebatan yang tidak berkesudahan, yang menghiasi suasana politik Amerika serikat menjelang pilpres. Mereka itu adalah Swing Voters. Iya, pemegang hak pilih yang diam itu.

Hati-hati dengan mereka.!.

Dalam psikologi politik ; semakin harapan mereka di sudutkan, semakin mengkristal militansi mereka. Dan mereka akan "membalasnya" di bilik suara, hanya dalam hitungan detik.

Saya hanya ingat apa yang dikatakan Sayidina Ali Bin Abi Thalib, pendapatnya dapat di gunakan oleh pihak yang Anti A dan Pro A (tergantung bagaimana memaknainya saja) ; bahwa "kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan di kalahkan dengan kebathilan yang terorganisir".


Makassar, 12/02/2024


*Islam Progresif

*Pejalan Sunyi

*Muslim Intelektual Profesional

*Nalar Pinggiran

*RST




Minggu, 11 Februari 2024

IMPLEMENTASI MAQOSYID SYARI'AH DALAM KOALISI POLITIK

Transisi demokrasi di indonesia tahun 1998, sebenarnya tidak murni di inisiasi atau di dorong oleh masyarakat indonesia. Tetapi, efek global yang di lakukan oleh AS dan negara-negara Eropa, persis setelah Uni Soviet runtuh di tahun 1990 an awal. Gerakan ini di mulai di semua negara-negara bekas Uni Soviet, mulai dari Eropa Timur, Asia Tengah, Masuk Asia selatan dan akhirnya gerakan tersebut sampai pada kita di indonesia.

Sayangnya ada satu kawasan yang tidak terlalu tersentuh oleh proses demokratisasi yang terjadi pada waktu itu, yaitu Timur tengah. 12 tahun setelah proses demokratisasi yang terjadi,  barulah masuk ke kawasan timur tengah dengan peristiwa Arab Spring.

Makanya model demokrasi yang kita terapkan di indonesia adalah model demokrasi yang di cangkok dari pemahaman barat. Kira-kira kita bisa katakan sebagai American Style.

Peristiwa 1998 di indonesia adalah salah satu rangkaian dari gerakan Global. Sementara pemerintahan yang ingin di akhiri pada dasarnya suatu rezim yang punya prestasi yang cukup bagus dalam pembangunan di bidang ekonomi selama 30 tahun. Orde baru di indonesia, relatif seangkatan dengan proses pembangunan di Malaysia di bawah Mahatir Muhammad, Marcos di Fhiliphina, Li kwan yu di Singapura.

Ketika rezim orde baru harus dijatuhkan dengan gelombang demokratisasi dan Ledakan partisipasi politik yang sangat luar biasa. Tetapi, kita hanya tahu ada 3 partai yang di defenisikan secara sederhana, yaitu ; partai kanan (semua Yang Islam-islam) di wakili satu partai, namanya PPP. Yang kiri (termasuk Yang Non Muslim sebahagian), di wakili satu partai yang bernama PDI dan Yang tengah di wakili oleh Golkar. Di masa Orde baru, ada Proses penyederhanaan politik.

Dari 3 partai ini, tetiba di tahun 1998, menjadi 160 partai yang mendaftarkan diri, Yang berhak mengikuti Pemilihan Umum hanya 48 parpol, dan Yang mendapatkan suara di parlemen, sekitar 24 parpol.

Hampir semua Fiqih Syiayash syar'ia yang kita warisi sebagai warisan intelektual Islam di tulis, setelah ke-khilafaan berdiri dan Estabilish. Sebahagiannya juga di tulis, untuk menjawab berbagai pertanyaan pemerintah dalam berbagai masalah. Oleh sebab itu, hampir semua buku-buku Fiqih Syiayash di mulai dengan satu Bab Yang pertama yaitu Kitabul Imama - kepemimpinan.

Jarang sekali kita menemukan dalam buku-buku tersebut, ada bab tentang Impictman. Kecuali setelah abad ke 4 dan 5, ketika fenomena itu sudah mulai ada. Banyak khalifah yang harus di jatuhkan, karena tidak mampu menghadapi situasi dan karena itulah, sudah mulai ada perbedaan buku-buku yang di tulis oleh Imam Al Juwaini - Gurunya Imam Al Ghozali.

Buku-buku tersebut di tulis untuk suatu masa yang estabilish. Sementara kita bekerja, memulai dari Nol, membangun apa yang sudah selesai pada waktu itu.

Kalau kita menggabungkan bacaan-bacaan tersebut dengan pengalaman kita di lapangan. Maka, politik itu ada dua dimensinya ; pertama, berhubungan dengan tujuan. Kedua, berhubungan dengan proses. Oleh karena itu, defenisi yang paling sederhana dari Syiasyah Syar'ia adalah "taqribun nasi ilal haq wataj dibu minal batil -  mendekatkan (menciptakan situasi yang sedemikian rupa) agar orang dekat pada kebenaran dan menciptakan situasi sedemikian rupa, agar orang jauh dari kebatilan". Artinya tujuan politik itu mulia.

Tetapi, ada satu hal yang tidak kita sadari, bahkan hampir semua ideologi di dunia mempersepsikan bahwa negara adalah Sumber daya  dan hal itulah yang di persepsikan barat beberapa abad lamanya. Jadi setiap ideologi yang ingin menyebarkan dirinya secara Massif, instrumen yang paling efektif untuk itu adalah negara. 

Dulu, komunis juga beprikir seperti itu. Apalagi kapitalisme dan dalam kenyataannya Islam juga demikian.

Kalau kita lihat dalam perjalanan hidup Rosulullah SAW, jumlah orang yang masuk islam pada periode mekkah selam 13 tahun, kira - kira berjumlah ; yang Hijrah ke Habasyah, sekitar 85 orang. Yang Ke madinah, sekitar 200 orang. Yang masuk islam dari Kaum Ansor, sekitar 70 orang. Jadi, kurang lebih 355 an orang dan inilah modal Daulah islamiyah di madinah.

355 orang adalah hasil kerja selama 13 tahun pada periode mekkah. Lalu, lihat 10 tahun terakhir di madinah, bagaimana angka-angka tersebut bertambah. Tahun kedua di madinah, terjadi perang badar, yang ikut kurang lebih 300 orang, riwayat yang paling mahsyur adalah 319 orang. Tahun ke 3 terjadi perang Uhud, yang ikut sekitar 1000 orang. Tahun ke 5 terjadi perang Khandaq, yang ikut 3000 ribu orang. Saat Fathuh makkah, yang ikut sekitar 10.000 orang dan tahun ke 10 saat Haji wada', ada dua riwayat ; yang ikut ada 100.000 ribu dan 125.000 ribu.

Sekarang coba kita bandingkan, jumlah pencapaian orang yang masuk islam ketika periode mekkah (belum ada negara) dan Periode madinah (sudah ada negara).

Artinya, kalau barat itu takut jika ada istilah negara Islam, memang ada alasannya. Karena dalam perspektif mereka, negara adalah sumber daya dan semua ideologi berpikir hal yang sama. Hal itu sama seperti ketika kita sementara di jalanan dan menghindari kemacetan, sehingga kita mencari jalan lain. Tapi, ternyata semua orang yang berada di jalanan juga sedang mencari jalanan yang tidak macet. Akhirnya macet juga.

Proses politik itu sebenarnya penuh dengan keMacetan. Oleh karena itu, politik pada tujuannya berorientasi perubahan. Tapi, politik pada prosesnya sepenuhnya berisi konflik. Makanya kita harus menguasai dua hal ; Change manajemen dan Konflik manajemen.

Demikianlah tabiat amal syiasyiah dan karena itulah masalah kaum islam, mereka berpikir bahwa politik itu hanya punya satu dimensi, yaitu dimensi yang berhubungan dengan tujuannya dan tidak memasukkan di dalam kepalanya bahwa politik juga berhubungan dengan prosesnya. Sehingga ketika dia masuk di dalam politik, dia mengalami benturan.

Waktu kita masuk kedalam amal Syiasyiah, kira-kira semua parpol berada dalam tiga tahapan pertumbuhan. Pertama, menjadi bahagian sistem politik nasional. Kedua, bagaimana kekuatan arus utama dalam politik. Ketiga, bagaimana menjadi leader.

Persoalan kita di tahap pertama dalam hal mengintegrasikan diri dari bahagian sistem politik adalah menghilangkan permusahan yang lama antara islam dan negara. Karena permusahan ini benar-benar tidak hilang sampai sekarang dan hal itu adalah tragedi terbesar yang terjadi setelah arab spring. Begitu kita ingin menjadi bahagian dari mainstream, maka kita harus membuktikan bahwa kita punya kekuatan ril. Lalu, ketika kita ingin memimpin, yang kita lakukan adalah meyakinkan semua orang bahwa kita punya sesuatu yang membuat kita relevan untuk memimpin semua orang.

Koalisi itu pada dasarnya adalah penerapan implementasi politik dari prinsip kerja sama. Tapi, dalam kerja sama ada dua bentuknya. Pertama, kerja sama untuk mewujudkan kebaikan. Kedua, kerja sama untuk mencegah kerusakan. Karena ada kerja sama untuk melawan kerusakan atau semua daya destruktif dalam suatu masyarakat. Maka secara otomatis dalam politik, kita punya dua orang lain ; pertama adalah kawan dan kedua adalah musuh.

Jangan pernah membayangkan, bahwa kita masuk politik dan kita tidak punya musuh. Sebab, hal itu juga merupakan kaidah, "wa kadzalika jaalna li kulli nabiyyin aduwuan minal mujrimin". Jadi, yang kita lakukan adalah, mencari kawan sebanyak banyaknya dan meminimalisir musuh. Baik kawan atau musuh, sama-sama punya tiga level ; Pertama, ada kawan Ideologi dan ada Musuh ideologi. Kedua, ada kawan strategis dan ada musuh strategis. Ketiga, ada kawan Taktis dan ada musuh Taktis.

Kekeliruan kaum muslim adalah mereka hanya mendefenisikan kawan dan lupa mendefenisikan musuh.

Kalau kita memahami konteks koalisi, maka sebenarnya kerja utama kita dalam politik adalah menciptakan perimbangan kekuatan. Agar, jangan sampai hanya ada satu kekuatan yang bisa punya peluang mencengkram kehidupan kita bersama dan membuat kita susah. Tetapi, hal ini juga menjadi sumber masalah dalam sistem demokrasi, karena stabilitas politik meniscayakan adanya pemerintahan yang kuat. Sementara pemerintahan yang terlalu kuat, cenderung diktator.

Al mawardi, menyebutkan bahwa seluruh urusan dunia kita ini hanya akan menjadi teratur, kalau ada enam syarat. Syarat yang kedua yang di sebutkan oleh al mawardi adalah Sultonun qohir - penguasa yang kuat.

Dulu Nabi Musa, punya doa yang berbeda dengan Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman. Doa nabi Musa adalah "Robbisyarhli sodri wa yassirli amri wahlul uqdatan min lisani yafqohu qouli". Ini adalah doa kaum oposoan atau oposisi, karena yang di hadapi adalah Fir'aun.

Nabi Yusuf, doanya merupakan doa syukur, karena sudah di kumpulkan dengan saudaranya setelah dia menjadi raja.

Justru, Yang menarik adalah doa Nabi Sulaiman, "Robbi Habli mulkan lanyambaghili ahadin mim ba'dhi - Ya Allah berikanlah aku kerajaan yang tidak akan engkau berikan lagi kepada siapapun yang datang sesudahku".

Nah, Kira-kira kita bekerja dalam tiga tahapan doa yang saya nukil diatas. Silahkan, pilih dan defenisikan diri kita, sedang berada dimana?.


Wallahu a'lam..


*Pustaka Hayat
*Pejalan Sunyi
*Rst
*Nalar Pinggiran