Manusia hidup dalam Ruang sejarah, Dimensi waktu. Setiap masa memiliki Nilai zamannya. Setiap era punya kisahnya sendiri. Punya tema besar. Jika tidak salah setiap gerak gerik Manusia di hubungkan dengan tema besar tersebut. Bahkan perilaku binatang pun di hubung-hubungkan.
Di Tahun politik, Seluruh tingkah laku kita kerap di hubung-hubungkan dengan apapun. Ucapan atau diksi yang kita pilih, kedipan mata kita, nyanyian yang kita nyanyikan, gerak gerik jemari kita, jumlah kodok di rumah kita kemudian dikalikan dengan jumlah ayam lalu dibagi dengan angka tertentu dan akhirnya dapat angka tertentu. Selanjutnya di kaitakan dengan Kandidat tertentu. Bahkan berapakali kita kentut di suatu malam akan di hubung-hubungkan dengan kontestasi itu.
Melabelkan Fakta sosial (Politik) dengan warna, mungkin hanyalah kategorisasi. Agar apa?, Biar orang mudah dalam menentukan identitas warna tersebut dalam melakukan analisis. Namun perlu juga di ingat. Persoalan warna tidak melulu soal politik. Dalam hidup ini, persoalan estetik selalu jadi pertimbangan seseorang dalam memilih warna. Acap kali saya menegenakan Baju Hitam, celana Hitam, topi Hitam, Sepatu Hitam dan kulit hitam Manis, Itu juga di hubung-hubungkan dengan Warna Parpol dan kandidat tertentu. Bung Karno pernah berujar, "apa yang telah di sepakati dalam politik, jangan lagi di perdebatkan secara estetik".
Pesan dalam politik tak pernah nampak secara terang di halaman depan. Selalu di wakilkan oleh simbol-simbol samar, atau di bungkus dengan kalimat-kalimat bersayap. Selebihnya, maksud dan kepentingan kerap di bicarakan secara tertutup, di bincangkan diam-diam, atau di sampaikan lewat bisik-bisik. Dimana?, seperti rumah, politik juga punya ruang-ruang gelap, dimana tempat segalanya diletakan diatas meja, lalu dibahas secara utuh dan tuntas.
Misalnya, Nasi Goreng Di Apong atau Ulu Juku di Racing Center. Yang gamblang terlihat hanyalah pertemuan dan menu makan siangnya, tapi isi obrolan, topik yang dibicarakan, lenyap tak berbekas. Yang tersisa hanyalah remahan kode-kode tersirat yang terbang tinggi entah ke mana alamatnya dituju, bersama kalimat-kalimat bersayap di hadapan awak media. Lalu, apa yang tertinggal setelahnya?. publik yang riuh menebak-nebak dan pengamat warung kopi yang sibuk menyusun tafsiran.
Mengarungi politik memang selayaknya menyusuri rimba belantara dengan panduan peta buta. Keliru membaca, bisa-bisa celaka menanti dimuka. Karenanya, pandai-pandailah menebak kode. Itulah sebabnya dulu kerap kali saya menyampaikkam bahwa "Politik itu- Naskahnya dapat ditulis, namun segala sesuatu dapat berubah dilapangan. Detik-detik terkhirlah yang paling menentukan. Karena Politik bukanlah Dunianya Albert Einstein, dimana E = Mc2. Bukan pula Dunia Mekanika Kuantumnya Stephen William Hawking, yang bagaimana pun rumitnya, tetap berjalan dalam rel sebuah rumus.
Jika kita menelisik, Dalam konsepsi sosiologi politik, ada sebuah teori yang diperkenalkan oleh Earving Goffman, Teori Dramaturgi. Asumsi dasarnya, sederhana, dalam sebuah interaksi sosial (politik), selalu ada panggung depan dan panggung belakang.
Penonton yang riuh lebih sering terfokus pada panggung depannya. Menonton dan menyeksamai mereka yang sedang melaksanakan tugas mereka sebagai politisi. Padahal Politik ialah dunia yang sangat dinamis, bergerak dalam ritme yang tidak terdeteksi. Ada panggung depan, ada panggung belakang, bermusuhan kemudian berangukulan, saling Kandatto (Jitak) lalu saling elus. Maka sudah seharusnya dihadapi dengan humor tinggi.
Pertanyaanya, "Salahkah mereka?". Jawabannya, "Tidak". Sebab, hal itu keniscayaan dalam politik praktis. Hitung-hitungannya pasti ada. Ujungnya adalah pragmatisme. Tidak ada yang mau merugi seutuhnya. Karena mereka sedang melaksanakan tugas, apalagi tugas yang dilindungi undang-undang. Tugas yang bertujuan untuk kemaslahatan ummat. Sehingga tidak salah dalam melaksanakan tugas itu, kata-kata yang sering kita dengar adalah Untuk rakyat, demi Rakyat, atas nama Rakyat.
Sedangkan kita?, Kita terlena, terbawah amarah, kadang Gigi gemeretak. juga air mata bercucuran. Jantung berdetak berdegub kencang dan Menangis. bahkan kadang membuka lembaran-lembaran suci untuk merepresentasikan rasa hati. Mengutip khazanah-khazanah lama, terkadang menghubung-hubungkannya dengan tanda-tanda alam empirik, pun tidak jarang mentamsilkannya dengan mimpi semalam.
Kontestasi politik itu, rutinitas. Ia bukan persoalan kalah dan menang. Dalam bahasa "Paulo Coelho" : hidup bukan tersebabkan oleh kalah dan menang, tapi karena perubahan. Dalam bahasa teologis (Al-Qur'an) : janganlah membenci berlebihan, suatu masa kamu akan menyukainnya. Pun jangan terlampau mencintainnya, mana tau pada suatu masa kamu akan kecewa. Manusia itu selalu berubah. Tempatkan mereka pada posisi sepantasnya dan semestinya.
Politik praktis itu ibarat minum kopi susu. Walau antara kopi dan susu itu berbeda warna. Tapi, mereka bisa berbaur dan menyatu. Hasil yang kita reguk pun, terasa asyiek dan nikmat. Sehingga, janganlah terlampau tegang sekali. Secara Praksis Politik itu realitas yang paling rasional, kalkulasinya juga jelas. Bukan realitas emosional.
Dalam pendekatan fungsional, Teori sosiologi : sebuah entitas akan senantiasa mencari "keseimbangan". Equilibrium, istilah lainnya. Biasannya, setelah kontestasi berlansung, mereka akan mencari keseimbangan. Untuk mencari peluang melaksanakan tugas mereka dimasa mendatang. Begitu terus pola yang terjadi dalam interaksi politik hingga upin ipin lulus kuliah.
Perdebatan akan usai, semua berjalan dengan damai. Dulu kamu bilang mereka bersitegang urat leher, tangan mereka dikepal. Sekarang justru bertolak belakang. Jangan bingung, biasa saja. Politik itu kompromi. Kompromi itu terkadang (Hampir) tidak butuh pertimbangan-pertimbangan historis-ideologis. Kalaupun itu ada, sudah jadi barang langka. Kompromi dalam dunia politik, lebih mengedepankan pertimbangan pragmatis. Tidak tahukah kita, bagaimana diksi paling umum dalam dunia politik; " siapa yang mendapatkan apa, bagaimana dan kapan".
Ihwal itulah, jangan terlalu fanatik dan juga terlalu benci. Hidup ini tidak stagnan. Demikian juga dengan harapan. Ketika kita berharap terlalu tinggi kemudian dibungkus dengan rasa Fanatik yang berlebihan, Suatu saat mereka yang kita harapkan mengecewakan kita. Demikian juga sebaliknya. Orang yang kita tidak sukai, jangan dibungkus dengan, aroma kebencian, karena mana tahu, suatu ketika mereka justru yang membuat kita jatuh hati. Mengutip Igauan Imam Ali, "Jangan menghakimi orang lain hanya karena dosanya berbeda dengan dosamu".
Bersemayam dibathin dan raga kita, akan sembuh. Bila dokter, yang umumnya tidak banyak bicara, menyarankan beberapa buah obat untuk satu penyakit. Justru penjual obat yang biasa kita nikmati kampanyenya tersebut, menyarankan satu buah obat untuk seluruh penyakit. Semua orang terhipnotis. Bahkan orang yang terkagum-kagum mengelilinginya. Dengan sukarela, dompetpun dibuka dan obat dibelinya, uang berpindah. Resep tidak ada, petunjuk pun sederhana. Yakinlah, tidak akan ada yang bertanya, memangnya si penjual obat dulu sekolohnya dimana?. Demikian pula; Pilihlah dirinya, coblos gambarnya. Seluruh masalah bangsa teratasi semuannya. Kita jarang bertanya, ia bagaimana?.
Secara teoritis, dalam kajian etika politik; kekuasaan yang didapatkan seharusnya diarahkan untuk kemaslahatan ummat, walau bertentangan dengan motto atau slogan yang selama ini diusung dan ditawarkan. Dalam konteks ini, teringat kita dengan Deng xiao ping : "jangan perdebatkan warna kucing, bila ia pandai menangkap tikus. Pelihara dan gunakanlah".
Sementara itu, dalam interaksi politik praktis ketika ingin merengkuh kekuasaan. Seluruh potensi isu yang ada dimanfaatkan secara maksimal sekalipun tidak mendidik, seperti ; anti asing, anti aseng, anting asong, relasi dan sejenisnya. Padahal dalam praktek dan rekam jejak historisnya, mereka menjadi bagian itu semua.
Akhirnya, mari kita merenungkan pernyataan orang terkenal dan besar asal Prancis, pasca perang dunia ke Dua, Charles de Gaule, " politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut jika Rakyat mempercainnya".
Bulan - bulan ke depan dan bulan-bulan sebelumnnya adalah bulan-bulan dimana kita sebagai "penonton" dan sekaligus "pemilik mandat", tinggal kita saja, yang mau belajar atau tidak dari seluruh peristiwa politik yang terjadi.
**
Coba kita lihat pertarungan parpol-parpol di luar sana. Di ujung dari public discourse, yang mereka lahirkan adalah aspek kognitifnya. Jadi, di ujung dari perdebatan politik, ada semacam struktur nilai yang masuk ke ruang-ruang publik untuk tujuan mencerdaskan. Menggahar pengetahuan dan pendalaman tentang pokok substansi. Mereka meributkan program.
Di China sudah selesai dengan komunisnya, di Amerika sudah selesai dengan neolibnya. Antara demokrat dan republikan, mereka sudah selesai dengan dikotomi isme-nya. Yang mereka ributkan adalah program konkret dengan corak masing-masing.
Di negeri sudut pandang kamera, justru mempertajam benturan ideologi sentris. Pancasila dianggap belum selesai. Sebuah kontrak sosial politik yang gagal. Lalu, ada upaya amandemen terhadap ideologi bangsa. Malah yang terjadi adalah penyimpangan. Malpraktek ideologi.
Dalam politik yang gladiatoris, kemanusiaan seharga di bawah telapak kaki. kebenciaan dan balas dendam, di kibarkan. Adu kuat dan sorak sorai atas kelemahan dan kekalahan lawan menjadi bagian inti yang di terima. Saling membantai dengan cara yang kejam menjadi sesuatu yang permisif. Bahkan di anjurkan sebagai akhir dari tontonan dalam koloseum.
Akhir-akhir ini purbasangka publik tengah menyala-nyala. Ulama di bantai, ustad dianiyaya, pendeta di jegal. Cuman sayang; nalar investigasi Negara hanya sampai pada spekulasi orang gila. Sadis, jika kita ingat teori koloni ke 5 bahwa lemahnya kekuatan intelejen Negara menjadi ciri utama hancurnya Negara tersebut.
Politik bukan seperti koloseum gladiatoris. Tontonan kekejaman Marcus Aurelius Comodus Antonius Agustus, Penguasa Roma paling kejam, yang berkuasa sejak 180 M hingga 192 M. setiap hari dan kepada semua, Comudus menumpahkan kebencian. semua cara di halalkan demi ambisi dan kemarahan. Berbeda dengan oposannya Jendral Maximus. sosok yang selalu meletakkan kata maaf dan kemanusiaan di ujung pedangnya dengan harga kemanusiaan yang begitu mulia.
Berbeda itu biasa saja. pertentangan juga biasa saja. menganggap pertentangan sebagai tujuan, pada hal saya menganggapnya sebagai dialektika. semua adalah proses menuju pengetahuan, pencerahan, partisipasi dan pemihakan.
Silahkan cari pada kolong langit ini bahwa Insights selalu lahir dari pertentangan yang dialektis. Jika anda-anda masih menganggap pertentangan itu seperti baku hantam. maka, kita perlu kursus, kuliah ulang supaya bisa belajar politik. Sebab, kami sudah loncat "beyond the mainstream" menuju "the deepening of politcs. dimana nilai merupakan alat mencapai tujuan "walfare society". Itulah mengapa beda Tukang politik dan politis.
Berkenaan dengan itu, saya ingin menggaris bawahi sebuah hal yang penting, menurutku, bahwa Sekularisasi sebagaimana pemikiran Cak Nur. berbeda dengan konsepsi gerakan sekularisme yang ingin melepaskan politik dari dominasi dan ortodoksi agama di eropa pada abad 18-19 M.
Sekularisasi dalam perspektif kontemporer Cak Nur adalah suatu pemikiran tentang kosmopolitanisme islam. menghela cara pandang teologi islam yang vertikalistik menjadi lebih kosmopolit. Dengan demikian, kesadaran keberislaman mampu mengaktualisasikan segala dimensinya nilainnya ke segala tatanan dunia baru.
oleh karena itu, saya ingat Frasa bijaksana ini adalah petuah Nene’ Mallomo, cendekiawan Sidenreng abad 16 M, yang saya jadikan sebagai filosofi hidup. Sekaligus platform politik. Petuah ini selalu mengejawantah dalam pratek politik saya, sebagai sebuah relasi. Bukan sebatas momentum.
" Takkan mati kejujuran itu, takkan runtuh yang datar, takkan putus yang kendur, takkan patah yang lentur.”
Politik bagi saya, dipahami sebagai relasi timbal balik dalam ekosistem yang luas. Karenanya, politik selalu hadir bersenyawa dalam interaksi yang panjang dan menyejarah. Yang kemudian mengkristal dalam momentum-momentum. Di titik itu, momentum hanyalah akibat kausal dari sebuah proses yang panjang. Bukan sesuatu yang disulap sekejap seperti mengerjakan Candi Prambanan. Apakah kau paham hal itu, kawan?.
Makassar, 12/02/2020
*PUSTAKA HAYAT
*PEJALAN SUNYI
*ISLAM PROGRESIF
*RST
*NALAR PINGGIRAN


Tidak ada komentar:
Posting Komentar