Setiap kali kita melaksanakan puasa, saya selalu berpikir begini : mengapa ada milyaran manusia yang berpuasa, padahal tidak ada undang-undang yang memaksa mereka untuk berpuasa. Tidak ada negara yang mewajibkan mereka berpuasa. Tidak ada juga polisi yang secara khusus di tugaskan untuk mengontrol orang yang tidak berpuasa, bahkan dulu ada menteri agama yang menegaskan agar kita yang berpuasa menghormati orang yang tidak berpuasa.
Apa yang membuat suatu aturan tersebut di taati oleh manusia dan apa yang membuat aturan negara tidak di taati oleh manusia. Di situlah bedanya agama dan negara.
Agama ini memiliki wibawa spiritual yang terdapat dalam diri setiap manusia, yang tidak di miliki oleh negara. Makanya, mau ada negara atau tidak ada negara, ajaran-ajaran agama akan terus di laksanakan oleh manusia. Nabi mengatakan, "la yabluganna hadzal dinu ma balagal laylu wa nahar - agama ini akan sampai kepada seluruh manusia tanpa terkecuali sepanjang siang dan malam menjangkau mereka".
Di situlah juga kita bisa melihat perbedaan agama dan negara - rezim, imperium, kerajaan. Bahwa jumlah pemeluk agama ini akan terus bertambah dan tidak akan pernah berkurang. Sementara negara, ia datang dan pergi. Dulu ada imperium romawi, sekarang tidak ada. Dulu ada Yunani yang sangat luar biasa, hari ini biar bayar utang saja susah. Tetapi, agama ini terus bertumbuh dan akan terus bertumbuh. Persis seperti janji Rosulullah SAW.
Beberapa waktu lalu saya membaca Tulisan Bang Anis Matta di salah satu bukunya, tentang Agama dan demografi, beliau menukil satu penelitian di Amerika Serikat bahwa pada tahun 2050, agama islam akan menjadi agama terbesar di dunia atau paling tidak akan sama dengan agama Kristen.
Dulu, ketika Rosulullah SAW di angkat menjadi seorang Nabi, Beliau hanya seorang diri. 13 tahun kemudian untuk fase Mekkah menghasilkan 200 orang yang Hijrah ke madinah, 85 orang yang hijrah ke Habasyah dan 70 orang Ansor yang masuk islam yang berada di madinah. 10 tahun kemudian pada fase Madinah, ketika beliau melaksanakan Haji Wada', dalam salah satu riwayat di sebutkan, ada 100 ribu orang yang ikut dan riwayat yang lain sebanyak 125 ribu orang, yang ikut Haji Wada'.
Jika jumlah ini kita bandingkan dengan jumlah manusia waktu itu berdasarkan catatan sejarah yaitu sekitar 100 juta orang. Artinya perbandingan Jumlah orang Muslim dan Non Muslim, kurang lebih 1 / 1000. 1500 tahun kemudian atau sekarang ini, jumlah Ummat muslim saat ini kurang lebih 2,5 milyar. Jika di bandingkan dengan junlah penduduk dunia, Sekitar 7,5 Milyar manusia. Di prediksi pada tahun 2050 Rasio ummat Muslim akan bertambah menjadi 1/3 dengan non muslim. Kalau hal ini kita bandingkan dengan masa Rosulullah SAW dari 1/1000 menjadi 1/3 dalam kurun waktu 1500 tahun.
Artinya janji Rosulullah SAW terbukti dan terus terpenuhi dari waktu ke waktu. Tetapi hal ini juga menjelaskan kepada kita, mengapa agama itu lebih abadi ketimbang negara, dan Nabi-Nabi juga jauh lebih abadi ketimbang raja-raja. Jumlah Nabi - Nabi yang di utus sepanjang sejarah menurut riwayat, ada dua : Pertama berjumlah 125 Ribu dan riwayat lainnya sekitar 300 ribu Nabi. Sedangkan yang di kisahkan dalam Al Qur'an cuman 25 Nabi dan Rosul.
Perbedaan yang fundamental dan membuat agama terus melesat dan tidak pernah selesai bertumbuh. Karena, agama memposisikan manusia sebagai Individu - Person dan negara memposisikan manusia sebagai kelompok. Lucunya, negara akan memposisikan manusia sebagai individu, ketika seseorang masuk ke dalam daftar Pembayar pajak yang besar. Tapi, pada umumnya negara memandang manusia sebagai kelompok.
Di titik itulah, ketika agama masuk kepada manusia. Maka yang pertama kali di lihat oleh Agama adalah apa yang membuat manusia enggan beragama. Kira - kira ada 4 hal yang membuat orang enggan atau takut beragama ; pertama, takut - seseorang takut beragama karena jangan sampai Nyawanya terancam. Kedua, kemiskinan - makanya Rosulullah SAW mengatakan, "kadal faqru ayyakuna kufron - Kemiskinan dan kekufuran hampir bersaudara". Orang miskin paling gampang menggugat Tuhan, paling gampang menganggap Tuhan itu tidak ada tak adil, dst.
Dua faktor yang menghalangi orang dari agama, umumnya berada pada masyarakat kelas menengah ke bawah. Makanya Allah SWT mengatakan, "Fal ya'budu Robba hadzal bait alladzi athoamahum min juif wa amanahum min khauf - hendaklah engkau menyembah Tuhan pemilik rumah ini (Ka'bah), yang sudah terlebih dahulu memberi mereka makan dari lapar dan memberi rasa aman kepada mereka".
Hal ini menujukkan bahwa syarat pertama yang di butuhkan orang Beragama adalah kebebasan. Sebab, agama ini pilihan dan tidak ada pilihan bagi orang yang tidak bebas. Ihwal itulah, islam memerangi dua hal ; Pertama, perbudakan yang terjadi di masa lampau. Kedua, kediktatoran - orang dalam kondisi tertekan akan sulit membuat pilihan atau mencabut kebebasan manusia. Padahal Allah mengatakan, " la ikhroha Fid din fa man sya hal mu'min wa man sya Yukfir - tidak ada paksaan dalam beragama. Siapa yang mau dia beriman dan siapa yang mau dia kafir". Islam ini agama pilihan, seseorang tidak bisa di paksa masuk islam, orang harus masuk ke dalam islam, karena hal itu adalah pilihannya.
Kita menjadi orang indonesia itu adalah Takdir. Tetapi, kita menjadi seorang muslim itu Pilihan. Oleh karena itu, kebebasan adalah syarat untuk membuat orang Mau beragama.
Faktor ketiga yang menghalangi orang dari agama adalah Al Maslaha - kepentingan dan ke empat adalah kesombongan. Kedua Faktor ini biasanya berada pada kelompok menengah ke atas dan elit. Orang-orang ini menganggap bahwa ketaatan pada agama membuat kepentingan duniawi mereka terancam.
Kalau kita melihat Dalam sejarah islam, Rosulullah mengembangkan agama ini dengan empat hal : pertama, menjamin kebebasan bagi orang untuk memilih. Orang tidak di paksa memilih, tetapi di beri kebebasan. Misalnya seperti Bilal yang tidak memiliki pilihan, karena ia adalah seorang budak. Maka yang pertama di lakukan Rosulullah SAW adalah membebasakannya. sekarang tidak ada sistem Perbudakan. Tetapi, ada sistem yang membuat orang takut beragama, yaitu KEDIKTATORAN.
Makanya, di dalam Islam TIRANI atau KEZALIMAN di tempatkan sebagai dosa yang paling besar. Mengapa?. Karena tiranilah yang menghambat orang untuk beragama.
Fakto kedua yang di lakukan Rosulullah adalah Akal sehat : "al aqlu syaqtut taqlif - agama ini beban dan beban itu di berikan kepada orang yang ada akal sehatnya". Orang gila dan anak yang belum akil balig bebas dari beban agama. Oleh karena itu, islam meniscayakan akal sehat, rasionalitas terus di kembangkan. Sebab, akal sehat dan rasionalitas tidak akan menjauhkan orang kepada agama, justru mendekatkan orang kepada agama.
Dalam sejarah, hanya terdapat dalam sejarah eropa, dimana kaum syastis menjadi musuh utama agama dan menjadikan agama sebagai musuh. Mengapa?. Karena mereka punya latar belakang historis. Dalam sejarah Islam, tidak Pernah terjadi. Artinya kebebasan berpikir, adalah syarat kedua untuk mendekatkan orang kepada agama. Makanya kita mengenal kaidah, " la dina liman la aqla lau - tidak ada agama bagi mereka yang tidak punya akal".
Faktor ketiga yang di lakukan Rosulullah SAW adalah Kesejahteraan. Orang kalau lapar mustahil memikirkan sesuatu yang bersifat Spiritual - agama. Dia tidak Punya waktu memikirkan hal itu. Hanya saja, Cara mendelivery Kebutuhan dasar manusia terbagi dua ; Pertama, melalui kewajiban individu dalam bentuk bantuan personal dan kedua, kewajiban negara. Makanya dalam Konsep Islam, Tugas negara untuk mensejahterakan manusia merupakan instrumen yang membuat orang dekat dengan agama. Itulah sebabnya, Tujuan zakat kepada delapan kelompok, dalam Al Qur'an. Satu diantaranya yang di sebut al muallafati qulubuhum. Artinya uang itu memiliki fungsi melembutkan hati. Orang kalau di kasih uang, sifat kritisnya Hilang. Politisi-politisi kita itu tahu kaidah ini. Dalam islam juga seperti itu, Orang bisa keluar islam dan masuk islam bisa terjadi karena uang.
Tetapi, lebih dari itu, kita juga harus melihat ketika terjadi pertentangan antara kebutuhan materil - Fisik dan Kebutuhan spiritual - agama, kata Rosulullah, " Idza ja li sya u wa huddi mal asya faqoddimul asya - kalau waktu Isya sudah datang dan makan malam sudah tersedia. Maka, makan dulu baru sholat Isya".
Faktor ke empat yang di lakukan Rosulullah SAW adalah Menciptakan nuansa Spiritual. Karena kesejahteraan tidak serta merta membuat orang dekat dengan agama atau beragama. Cuman membuat mereka melampui kebutuhan dasarnya dan karena itu di butuhkan nuansa spiritual, yang dari waktu ke waktu membuat orang tahu bahwa diatas kebutuhan dasarnya, ada kebutuhan yang jauh lebih mulia, jauh lebih agung yaitu Kebutuhan spiritual.
Itulah sebabnya, mengapa Puasa di wajibkan oleh Allah SWT. Agar, yang kaya, yang miskin sama - sama merasakan lapar dan sama - sama melakukan pendakian spiritual atau dengan kata lain sama - sama melampaui kebutuhan fisik.
Di setiap Khilafah zaman Umawiyah, cerita orang berbeda - beda. Entah itu di masjid, di pasar atau di rumah. Tetapi, saat Umar Bin Abdul azis menjadi Khalifah, semua orang menjadi kaya, semua orang menjadi sejahtera dan cerita orang-orang ketika bertemu, "Kamu sudah hafal qur'an, kamu semalam sempat tahajjud atau tidak, kamu sudah dapat ilmu baru atau tidak, dsb".
Salah satu problem negara barat hari ini, karena kesejahteraan menjadi boomerang - di gugat, apalagi ketika orang tidak bisa lagi mendelivey kesejahteraannya. Sementara kita di dunia islam, yang di gugat adalah kemiskinan. Jika kita tidak bisa mendelivery kesejahteraan, maka akan menjauhkan orang dari agama, sekalipun dengan sendirinya akan mendekatkan orang pada agama.
Jadi, kalau kita kembali kepada pertanyaan awal, apa rahasia yang membuat agama lebih abadi dan terus bertumbuh dan Nabi - Nabi lebih abadi ketimbang raja - raja ?. Salah satu Penjelasannya, karena agama ini masuk ke dalam kehidupan Individu manusia dan mengeintegrasikan tujuan hidup individu dengan tujuan hidup kelompoknya. Sementara negara, hanya memposisikan manusia sebagai kelompok dan tidak Pernah meyentuh manusia sebagai individu dan tidak mampu menjelaskan tujuan hidup manusia.
***
Nabi Muhammad SAW lahir, di sambut oleh krisis. Krisis pertama adalah krisis agama dan Keimanan, mengapa?. karena jarak antara Nabi Ibrahim dan Jazirah sudah terlalu Jauh - Fatrah nubuwah sudah sangat jauh, sehingga orang mengalami kebingungan. Makanya, muncul gerakan pencaharian kebenaran, yang di pelopori oleh Waroqah bin Naufal dan juga sahabatnya bernama Zaid Bin amr.
Kedua, Krisis sosial politik. Karena tatanan di jazirah hanya bisa di jelaskan dengan satu kata, yaitu Kedzoliman. Baik strata sosial, maupun strata politik.
Ketiga, krisis geopolitik dalam hubungan internasional yang bersifat bipolar antara persia dan romawi, yang tidak pernah berhenti berperang. Orang-orang berpikir saat itu bahwa sistem global tersebut, hanya mengorbankan manusia yang tiada ujungnya. Karena itulah masing-masing kekuatan tersebut, saling menyedot sumber dayanya untuk di buang secara sia-sia dalam pertempuran gengsi atau supremasi.
Di tengah krisis itulah Rosulullah SAW hadir dan kelahirannya di sambut dengan serangan gajah - abraha dari yaman. Pada waktu itu, Tidak ada yang tahu, apa hubungan antara kelahiran Nabi dan Serangan pasukan gajah ke Mekkah. 40 tahun kemudian, setelah Rosulullah SAW diangkat menjadi Nabi, baru orang sadar bahwa hal itu merupakan pertanda alam dan sejarah.
Artinya, nubuwah yang terakhir, Lahir di tengah krisis. Makanya, jika terjadi krisis, tidak selamanya adalah pertanda buruk. Bisa jadi adalah pertanda penghujung malam dan kelahiran Nabi Muhammad adalah Fajar dari sebuah hari yang baru.
Perhatikan problemnya, ada krisis agama - kepercayaan atau keimanan. Ada krisis sosial, ekonomi, politik dan Krisis geopolitik. semua masalah ini hadir dalam satu waktu. Bayangkanlah, bahwa agama terakhir dan Nabi Terakhir ini di utus untuk menyelesaikkan krisis yang di hadapi ummat manusia tersebut.
Di titik itulah, Dalam membongkar pribadi Nabi Muhammad SAW, tentu kita harus mencari ilham dari sejarah hidupnya, tentang bagaimana Ia berhasil menyelesaikan krisis tersebut : bagaimana agama dan kepemimpinan Nubuwah tersebut hadir sebagai solusi atas masalah ummat manusia. Mengapa ilham dari mempelajari sejarah hidup Rosulullah SAW, teramat penting untuk di insyafi, karena kita hari ini pun sedang menghadapi problem yang hampir sama, bahkan jauh lebih sistemik. Makanya manusia di planet ini membutuhkan suatu pegangan baru.
Problem hari yang kita hadapi hari ini. Memang tidak memiliki hirarki seperti dulu. Tetapi, pola hubungannya tetap ditata dengan satu makna yang sama, yaitu Kedzoliman. Begitu juga, kalau kita hendak melihat dalam skala yang luas, ada masalah geopolitik, perang supremasi antara Amerika dan china.
Kalau kita hendak mencari ilham dari keselurahan sejarah hidup Nabi Muhammad saw. Saya ingin menyimpulkannya dalam tiga kata ; Pertama, manusia. Kedua, negara. Ketiga adalah peradaban.
Sepanjang 23 tahun dalam menunaikkam tugas kenabiannya, tiga pekerjaan besar yang beliau lakukan ; pertama, yaitu manusia. Kira-kira dalam 13 tahun periode mekkah habis untuk tujuan Manusia. Kedua, Negara. Hal itu yang beliau lakukan selama berada di madinah dan kira-kira tugas ini secara relatif, tuntas pasca Fathu Mekkah (pembebasan mekkah). Dari situlah, jazirah dan kawasan tersebut menjadi satu kesatuan Geopolitik baru. Dan ketiga, Ia bergerak dalam lingkar peradaban, yang bisa kita lihat dalam Khutbah Hajjatul wada'.
Perubahan yang di lakukan oleh Rosulullah SAW terus meluas. Titik pertamanya adalah manusia, titik keduanya adalah negara dan negara merupakan instrumen. titik ketiganya adalah peradaban, di titik peradaban inilah di tutup dengan satu janji Rosulullah, "la yablughanna hadza din ma balaghal laylu wan nahar - agama ini akan sampai ke seluruh pelosok dunia sepanjang siang dan malam menjangkaunya".
Perubahan yang di canangkan Rosulullah SAW Adalah Manusia. Membangun ulang manusianya atau melakukan reformasi Mentalitas dan paradigma manusia secara besar-besaran. Sebab, segmen negara dan peradaban adalah output dari Manusianya. Mengapa harus di mulai dari manusianya?. Karena segmen manusia ini, di mulai dengan satu perintah, yaitu "Iqro Bissmirobbikalladzi Kholaq - MEMBACA".
Perintah membaca ini di berikan kepasa Nabi dan Ummat yang buta Huruf?. Membaca apa?. Membaca ulang kehidupan ini secara keseluruhan. Manusia itu sangat tergantung secara fundamental pada sisi kognitifnya, seperti apa dia mempersepsi fenomena yang ada di sekelilingnya, seperti itulah dia bereaksi terhadap fenomen tersebut.
Sekarang, kalau kita mencoba mencari jawaban, mengapa manusia buta huruf dan pengembala kambing dalam tempo yang sangat singkat bisa menjadi kekuatan baru yang besar dan memimpin ummat manusia, lebih dari 1000 tahun?. Karena mereka menghadapi rovolusi pemikiran dengan perintah membaca. Semua perubahan yang terjadi pada alam pikiran kita, akan mempengaruhi perubahan di alam realitas.
Dalam peta jazirah arab, dulu tidak ada apa-apanya. Begitu perintah membaca ini turun dan dalam waktu yang bersamaan mereformasi pikiran masyarakatnya. Hanya butuh beberapa tahun saja untuk menaklukkan persia, sekaligus menghilangkan persia dari peta dunia. Pertempuran besarnya hanya terjadi dalam kurun waktu 4 tahun, sisanya 16 tahun untuk fase pembersihan saja.
Tidak pernah orang jazirah bisa membanyangkan bisa mengalahkan sebuah kekuatan yang sudah mapan seperti persia. Sebelum Rosulullah dengan Nubuwah membaca itu hadir. Mengapa?. Karena apa yang kita anggap besar dan kecil, pada mulanya di konstruksi oleh paradigma kita. Makanya, ketika Nabi kita mengajarkan satu pilar dasar yang benama sholat, yang substansinya adalah Allahu Akbar. Kalimat Allahu Akbar ini adalah pembeda dengan realitas. Sebab, tetiba saja kita memandang selain Allah itu rata, kecil dan biasa saja, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri kita.
Kerajaan terbesar yang pernah di warisi dalam sejarah, salah satunya adalah kerajaan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Apa kata Allah ketika hendak melukiskan cerita Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, "Waqod ataina daud wa sulaiman na Ilma - kami telah memberikan kepada daud dan Sulaiman ilmu". Lalu, relevansikan dengan perintah pertama yang turun untuk Nabi Muhammad SAW Yaitu Iqro Bissmirobbikal ladzi kholaq".
Begitu manusia mengalami perubahan yang revolusioner di alam pikirannya. Maka dia akan mengalami perubahan secara otomatis di semua segmen kehidupannya yang lain, termasuk pada aspek sosial, politik, ekonomi. Sebab, kendala terbesar yang di hadapi ummat manusia adalah TIRANI ; Ekonomi, sosial dan Politik. Tetapi, Tirani ini akan hilang, ketika kita keluar terlebih dahulu dari pembebasan spiritual.
Apa maknanya orang-orang di jazirah itu menyembah patung?. Bukankah hal itu suatu plkebodohan. Makanya Waraqah bin Naufal menyatakan, kita ini sedang tidak punya agama, lantas bagaimana mungkin kita menyembah sesuatu yang tidak bisa memberikan kita manfaat dan tidak memberi kita kerugian. Maksudnya, begitu kita menganggap alam, dsb besar, maka kita secara otomatis mengkerdilkan diri kita sendiri. Tetapi, begitu kita MengAgungkan Allah, maka secara otomatis kita masuk kedalam pusaran kebesarannya dan menganggap semuanya rata dan sama. Paradigma tersebut akan membuat kita menata ulang hubungan manusia, mengapa ada manusia bisa berlaku tiran kepada yang lainnya.
Pembebasan Spiritual yang di canangkan Rosulullah SAW, kelak akan memicu pembebasan ekonomi, pembebasan politik, sosial, kebudayaan, lingkungan, dsb.
Jika tidak percaya, perhatikan saja ayat-ayat yang Turun sesuadah itu, misalnya Al Ma'un ; "aro aytal ladzi Yukadzibu biddin, fa dzalikal ladzi yadu'ul yatim, wa la yahuddul ala thoa mil miskin". Ayat itu menggambarkan bagaimana tirani ekonomi dan tirani sosial. Agama di hubungankan dengan proses tirani tersebut, bahwa salah satu fungsi agama yang paling fundamental adalah membebaskan seluruh tirani sosial dan ekonomi. Artinya kalau kita membaca secara seksama, Fungsi Kepemimpinan Rosulullah SAW ini adalah Tokoh pembebasan, yang bukan hanya membebaskan kita secara spiritual. Tetapi, Juga membebaskan kita dari tirani politik, ekonomi dan sosial.
Rosulullah SAW meletakkan Fungsi pembebasannya dengan Menjangkarkan Perubahan secara pikiran mereka terlebih dahulu.
Saya ingin menjelaskan salah satu kendala kita dalam meneladani Nabi, dari buku-buku sejarah yang kita pelajari. Buku - buku sejarah ini menjelaskan satu fakta tentang Rosulullah, yang sifatnya deskriptif, umumnya bertujuan untuk menimbulkan kekaguman kepada Nabi kita. Pada waktu yang bersamaan, karena kita menempatkan Nabi terlalu Jauh, sehingga kita menjadi sulit meneladaninya.
Saya kerap memberikan gambaran, tentang bagaimana cara kita membaca kehidupan Nabi kita. 10 tahun terakhir beliau di madinah, total pertempuran yang terjadi sekitar 68 kali dalam skala besar dan kecil. 28 diantaranya di pimpin lansung oleh Rosulullah SAW. Kalau kita mengambil 28 saja yang di bagi ke dalam 10 tahun, barangkali hanya 2 - 3 kali dalam setahun peperangan terjadi. Artinya setiap 4 -5 bulan terjadi peperangan.
Kalau setiap 4 - 5 bulan beliau bertempur, sekarang kita zoom lebih jauh ralitasnya. Saat itu orang pergi berperang Jalan kaki, coba bayangkan saat beliau melakukan pertempuran tersebut, umur beliau berapa?. 53 - 63 tahun, Tidak terlalu muda.
Rosulullah dari usia 53 - 63 Tahun. Coba bayangkan, semua orang pergi berperang dengan berjalan kaki, waktu latihannya kapan, waktu menyiapkan logistiknya kapan, dst. Coba anda bayangkan suatu hidup yang penuh tekanan dalam waktunya yang lama seperti itu, ini baru sisi mentalitasnya. Bagaimana caranya kita bekerja ; mempertahankan ketenangan, Fokus dengna Kemantapan hati.
Di titik itulah, kita bisa mengambil satu pelajaran paling berharga dari mentalitas Nabi Kita adalah Endurance - Daya tahan. Bisakah kita memikul beban berat dalam waktu yang lama. Tetapi, tetap stabil secara emosional, secara pikiran, tidak terguncang, tidak labil, tidak mundur, tidak juga tergesa-gesa.
Jika kita menghadirkan pelajaran siroh nabawiyah ini dalam perspektif seperti ini, maka kita akan belajar lebih banyak, bagaimana menghadirkan ilham dari kehidupan Rosulullah untuk kehidupan sehari-hari kita. Misalnya, ketika beliau sedang berada dalam tekanan yang sangat kuat, beliau mengatakan, " Ya Bilal Arihna bi sholat - wahai bilal, Tenangkan jiwa kita ini dengam sholat". Artinya, ada masanya orang itu merasa lemah dan orang perlu semacan tempat perlindungan spiritual, kita menyebutnya sholat. Makanya, diantara semua rukun Islam, Kecuali Syahadat yah. Sholat adalah satu-satunya ibadah yang tidak ada pengecualiannya. Puasa, masih bisa beralasan untuk tidak melaksanakannya, seperti musafir. Tetapi, sholat tidak. Mau musafir, Mau sakit, bahkan perang pun ada tuntunan sholatnya. Artinya tidak ada alasan untuk tidak sholat.
Di titik itulah, ketika kita mencari tahu, dari mana sumber ketenangan dan kestabilan jiwa Rosulullah di bawah tekanan yang sangat luar biasa itu, yaitu SHOLAT. Sholat adalah cara kita menggantungkan hidup kepada Dzat yang Maha besar. Begitu kita merasakan ketergantungan tersebut, kita akan mendapatkan energi, karena yang paling berbahaya dalam kehidupan kita sebagai muslim dan juga kehidupan para pemimpin kita adalah Allah menyerahkan segala urusan kita dan Allah tidak membantunya. Makanya, saat kita berdoa Kita selalu mengucapkan, Ya Allah jangan engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri, walaupun hanya sekejap mata. Ihwal itulah, ulama-ulama kita mensyaratkan dalam berdoa kepada Allah itu harus ada Ilha - sifat Merengek.
Makanya, saat perang badar dengan kapasitas dan jumlah pasukan yang tidak seimbang. Doanya Rosulullah, tidak tanpak seperti doa. Tetapi, seperti Tuntutan dan rengekan, " Allahumma in tahliq hadzhil isoma fa lan tu'bat fil ardhi abada - kalau sampai pasukan ini kalah, maka engkau tidak akan di sembah lagi selamanya". Memangnya kalau Kalah, ALLAH tidak mampu menciptakan generasi baru yang akan menyebahnya?. Sangat bisa bagi Allah. Tetapi, tuntutan seperti itu menunjukkan ketergantungan dan ketergantungan itulah yang sangat di sukai Allah swt. Demikianlah cara kita mendapatkan sumber energi.
Rosulullah ini adalah Nabi terakhir, Sekaligus Pemimpin negara, Panglima Militer dan aspek-aspek kepribadiannya terlalu sempurna. Kalau kita hanya mengulas ceritanya, Maka kita hanya menganguminya dan susah untuk kita teladani. Karena itu kita perlu membaca ulang sejarah Nabi sekaligus mengkonstuksi dalam kerangka yang lebih realistis bagi kita. Kalau kita merujuk pada semua Penulisan sejarah Nabi, ada kendala besar yang kita hadapi di situ, karena mereka menulis tetang Nabi berdasarkan aspek pengetahuan yang dia miliki. Makanya, tidak ada penulis sejarah yang secara Komperhensif menuliskan sejarah hidup Nabi, mereka hanya mengambil satu aspek atau beberapa aspek saja.
Sebenarnya tidak ada yang salah dari semua Itu. Tetapi, bagi kita sebaiknya membuat hubungan kita secara personal dengan Nabi.
Misalnya, Kalau usia Nabi dari 53 - 63 bisa memimpin 28 kali pertempuran, bagaimana daya tahan Fisiknya beliau?. Hal itu bisa kita lihat dari pola tidurnya, cara makannya ; Beliau makan yang di butuhkan Tubuh. Bukan yang di inginkan Tubuh. Makanya ciri-ciri perutnya Nabi itu Rata. Kalau kita ini kan, mau meratakan perut saja, seperti perjuangan mau mengalahkan Kota Jakarta. Hal ini baru satu aspek saja.
bagaimana Penataan emosi rosulullah sebagai seorang pemimpin negara dengan berbagai macam problemnya?. Bagaimana penataan Konflik yang terjadi diantara sahabatnya, pasca perang. Bagaimana Rosulullah menata dendam, pasca Fatkhu Makkah. Sebagaimana dulu orang-orang Quraisy mengusirnya. Perhatikan kalimat Rosulullah, " Ya Ma'syiral qurais, ma Tazonnuna fa ilun bikum - wahai orang-orang Quraisy, Apa yang kalian duga akan saya lakukan kepada kalian?". Mestinya orang berpikir Pasca penaklukkan kota mekkah adalah hari pembalasan. Orang quraisy yang telah takluk itu punya satu kata yang merayu, " akhun karim wabna akhin karim - engkau adalah saudara yang mulai putra dari saudara yang mulia". Tetapi, Rosulullah adalah pembawa Risalah, bukan pembalas dendam. Pembawa api pembebasan, bukan seorang pendendam. Beliau mengatakan, "idz habu fa antum tulaqo - sekarang kalian pergi, kalian semuanya bebas".
Di paksa masuk islam?. Tidak. Agama adalah pilihan dan tidak ada pilihan bagi orang yang tidak bebas.
Hari ini kita ini menghilangkan dendam adalah suatu penaklukkan yang sangat luar biasa, apalagi dalam hubungan politik, yang di sertai dengan peristiwa menang dan kalah.
Di era medsos, segala sesuatu serba instan dan dangkal. Akal seseorang di ujung lidah, tak ada sensor. Setiap orang mengatakan, apa yang muncul di ujung lidahnya.
Era kedalaman (permenungan) dan ketinggian menjadi hilang. Karena semua yang kita katakan dan lakukan dalam rangka mencari perhatian orang, makanya ketika perhatian orang tidak ada, kita menjadi sengsara dan menderita. Ketika orang tidak memberi like atau mem - Follow kita, seperti kita ini bersalah.
Lalu, dimana makna Allahu Akbar?.
Artinya kita rapuh secara spiritual, rapuh kepribadian, rapuh secara emosional. Gampang di dislike dan gampang kehilangan makna. Bagaimana kita mau menciptakan arus baru, ketika sumber kepercayaan kita tergantung dari like orang.
Selain itu, untuk apa juga kita menyatakan semua yang kita pikirkan dan semua yang kita lakukan kepada orang lain?. Untuk apa?. Lalu, apa yang bisa di lakukan orang itu kalau dia like kepada kita?.
Saya tidak sedang menafikan semua teori dalam ilmu komunikasi. Tetapi, saya hendak mendudukan satu makna spiritual, yang menjadi jangkar kepribadian kita.
Makanya ketika nabi mendapatkan penolakan di awal-awal dakwahnya, apakah dia mundur?. Tidak. Sama seperti kita, apakah saya akan mundur ketika beberapa Video dan tulisan saya di take down?. Tidak bos. Di titik itulah pentingnya kedalam dan ketinggian.
Makassar, 03 - 04 - 2024
*Rst
*Pustaka hayat
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar