Mengenai Saya

Sabtu, 16 Januari 2021

ANTARA DENTING PERINGATAN TUHAN ATAU KEALPAAN MANUSIA




Margareth Marcus atau "Mariam Jameelah" (Murid Kesayangan Abu A'la Al-Maududi); suatu ketika pernah mengatakan bahwa memisahkan faktor transendental dari fenomena alam merupakan bentuk sekularisme paling mengkhawatirkan. namun, menganggap fenomena alam adalah tanda dari Tuhan justru jauh lebih mengkhawatirkan.

Sederhanannya begini; terjadi kecelakan, kita beranggapan itu kesalahan manusia tanpa ada Takdir Tuhan di situ, maka itu bentuk sekularisme yang mengkhawatirkan. Namun justru lebih menghkawatirkan, jika kita menganggap bahwa kecelakaan itu adalah Takdir Tuhan. tanpa melihat kesalahan yang di lakukan oleh seseorang sehingga ia celaka. Asumsinya, bisa beragam. Tergantung dari jenis musibah apa yang dialami manusia

Lantas, apakah bencana yang menimpa kita, sealur dosa ataukah peristiwa alam yang niscaya di tangkap dengan kemampuan supra-Rasional?.

Misalnya, Karam atau tenggelamnya kapal tidak melulu soal bencana alam yang misterius. Sebab, Selain Tuhan tidak ada yang bisa, bahkan layak di pandang misterius, bencana alam sekalipun. ia merupakan otoritas manusia, bukan Tuhan. kecelakaan laut, kebakaran hutan, gempa bumi, meletusnya gunung, banjir dan tanah longsor. murni kelalaian, keabaian, kealpaan dan keteledoran manusia.

Seperti, musibah Kecelakaan di laut. Kita mesti mengurainya lebih jauh ; Yang buat kapal adalah Manusia, yang menahkodai kapal adalah manusia, sedangkan laut adalah hamparan samudera semesta yang di titipkan Tuhan untuk "di mengerti" dan "di manfaatkan" oleh manusia.

Banjir dan tanah longsor, misalnya ; bagaimana Siklus sampai terjadinnya Hujan, hingga mengakibatkan longsor. Jika intensitas Hujannya tinggi, yang perlu di jawab adalah mengapa hal itu bisa terjadi?. Adakah hal itu berkaitan dengan keabaian kita pada pembangunan Infrastruktur, yang tidak mempertimbangkan analisis dampak lingkungan. Apakah salah hujan ataukah daerah serapan air yang di konversi menjadi bangunan-bangunan pencoret langit, penyanggah tanah (Hutan) dan gunung telah di babat dan di bom. Muara dari perjalanan Hujan, di hadang dengan Proyek reklamasi.

Akal harus mampu menguraikannya. sebab, semua yang terjadi di semesta ini, Niscaya mengikuti hukum Sunnatullah. Qur'an sudah tegas menyebutkan, bahwa alam ini di tundukkan Tuhan agar menjadi rahmat, sumber kebahagian kepada ummat manusia. Begitu saintifiknya Ilustrasi Qur'an kepada kita. Jika alam bergeser dari titik keseimbangannya, maka itu salah manusia, jangan menyeret Tuhan untuk bertanggung jawab atas semua ini. karena, kita tidak bisa berharap semua ini akan selesai, jika semua di kembalikan kepada Tuhan, itu bukan solusi pada manusia yang di beri amanah untuk bertanggung jawab atas sesamanya di semesta ini.

Dalam diskursus tentang biosphere and environmental ethics. alas pijak kebijakan Neo develomentalis ialah justice the merginals.

Jika tafsirannya yang di perluas. Maka, kelompok yang terpinggirkan dan terbuang, teralienasi dalam bahasa Marx atau Mustad’fin dalam Terma Murtadha Muthahari. Kelompok pinggiran itu Tidak hanya Manusia. tetapi juga, tatanan ekologi dan lingkungan. Sudahkah kita memikirkan dan mempertimbangkan hal itu?.

Secara filosofis, argumentasi kita mesti dimulai dari situ. bukan melompat menjadi perdebatan like or dislike. person to person. Sebab, Kadang yang di samarkan dari potret pembangunan ialah relasi eksploitasi yang massif atau sebentuk PELACURAN antara penentu kebijakan dan pelaku bisnis.

Di dalam Q.S Al-Jatsiyah; 13, sebagaimana yang saya sampaikkan diatas, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَسَخَّرَ لَـكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
wa sakhkhoro lakum maa fis-samaawaati wa maa fil-ardhi jamii'am min-h, inna fii zaalika la-aayaatil liqoumiy yatafakkaruun

"Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir."

Allah menciptakan seluruh alam raya untuk kepentingan manusia, kesejahteraan hidup dan kebahagiannya, sebagai rahmat darinya. Akan tetapi, hanya golongan Manusia yang berpikir yang mengerti dan kemudian memanfaatkan karunia itu. Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mempergunakan akal - pikiran dan melarang segala sesuatu yang menghambat perkembangan pemikiran yaitu berupa pewarisan yang membabi buta atau Tradisi-tradisi lama (Mitos) yang merupakan cara berpikir dan tata kerja generasi sebelumnya, terdapat Dalam Q.S. Al-Baqorah ; 170, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَاِ ذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَا لُوْا بَلْ نَـتَّبِعُ مَاۤ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَآءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَا نَ اٰبَآ ؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْئًـا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ
wa izaa qiila lahumuttabi'uu maaa angzalallohu qooluu bal nattabi'u maaa alfainaa 'alaihi aabaaa-anaa, a walau kaana aabaaa-uhum laa ya'qiluuna syai-aw wa laa yahtaduun

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab, "(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya)." Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk."

 dan Q.S. Az-Zukhruf : 22 - 25. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

بَلْ قَا لُـوْۤا اِنَّا وَجَدْنَاۤ اٰبَآءَنَا عَلٰۤى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰۤى اٰثٰرِهِمْ مُّهْتَدُوْنَ
bal qooluuu innaa wajadnaaa aabaaa-anaa 'alaaa ummatiw wa innaa 'alaaa aasaarihim muhtaduun

"Bahkan mereka berkata, "Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.""

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَكَذٰلِكَ مَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍ اِلَّا قَا لَ مُتْرَفُوْهَاۤ اِنَّا وَجَدْنَاۤ اٰبَآءَنَا عَلٰۤى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰۤى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ
wa kazaalika maaa arsalnaa ming qoblika fii qoryatim min naziirin illaa qoola mutrofuuhaaa innaa wajadnaaa aabaaa-anaa 'alaaa ummatiw wa innaa 'alaaa aasaarihim muqtaduun

"Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, "Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka.""

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قٰلَ اَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِاَ هْدٰى مِمَّا وَجَدْتُّمْ عَلَيْهِ اٰبَآءَكُمْ ۗ قَا لُوْۤا اِنَّا بِمَاۤ اُرْسِلْـتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ
qoola a walau ji-tukum bi-ahdaa mimmaa wajattum 'alaihi aabaaa-akum, qooluuu innaa bimaaa ursiltum bihii kaafiruun

"(Rasul itu) berkata, "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih baik daripada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang dianut nenek moyangmu?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami mengingkari (agama) yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya.""

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قٰلَ اَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِاَ هْدٰى مِمَّا وَجَدْتُّمْ عَلَيْهِ اٰبَآءَكُمْ ۗ قَا لُوْۤا اِنَّا بِمَاۤ اُرْسِلْـتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ
qoola a walau ji-tukum bi-ahdaa mimmaa wajattum 'alaihi aabaaa-akum, qooluuu innaa bimaaa ursiltum bihii kaafiruun

"(Rasul itu) berkata, "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih baik daripada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang dianut nenek moyangmu?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami mengingkari (agama) yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya.""

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَ بِيْهِ وَقَوْمِهٖۤ اِنَّنِيْ بَرَآءٌ مِّمَّا تَعْبُدُوْنَ 
wa iz qoola ibroohiimu li-abiihi wa qoumihiii innanii barooo-um mimmaa ta'buduun

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah,"

artinya berpikir dan bekerja menurut Fitrah atau Sunnatullah (Hukum Ilahi) yang Haq adalah Moderenitas. moderinitas tidak selalu di tandai dengan Bangunan Infrastruktur statis yang megah. lalu dalam waktu bersamaan, kita mengeksploitasi alam. Sebab, alam adalah haq (benar). Sebagaimana yang di sampaikkan Allah, Dalam Qur'an, bahwa Allah menciptakan alam dengan Haq (benar), bukan dengan Bathil (Palsu), terdapat dalam Q.S.An-Nahl ; 3, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ بِا لْحَـقِّ ۗ تَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
kholaqos-samaawaati wal-ardho bil-haqq, ta'aalaa 'ammaa yusyrikuun

"Dia menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan."

Dan Q.S. Shad ; 27. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَآءَ وَا لْاَ رْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَا طِلًا ۗ ذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ۚ فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّا رِ 
wa maa kholaqnas-samaaa-a wal-ardho wa maa bainahumaa baathilaa, zaalika zhonnullaziina kafaruu fa wailul lillaziina kafaruu minan-naar

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka."

Bahkan Qur'an menegaskan, bahwa " Allah Mengatur alam semesta ini dengan peraturan Ilahi (Sunnatullah)", terdapat dalam Q.S. Al-Ambiya ; 7, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ اِلَّا رِجَا لًا نُّوْحِيْۤ اِلَيْهِمْ فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
wa maaa arsalnaa qoblaka illaa rijaalan nuuhiii ilaihim fas-aluuu ahlaz-zikri ing kungtum laa ta'lamuun

"Dan Kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui."

Dan Q.S. Al-Mulk ; 3. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَا قًا ۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍ ۗ فَا رْجِعِ الْبَصَرَ ۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ
allazii kholaqo sab'a samaawaating thibaaqoo, maa taroo fii kholqir-rohmaani ming tafaawut, farji'il-bashoro hal taroo ming futhuur

"yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?"

Namun sebagai Manusia yang temporal, syarat dengan kenisbian bahwa Ada kebenaran diatas laut. Di tengah hutan, diatas gunung, di dalam perut bumi, diatas laut, diantara banjir dan longsor, di tengah reruntuhan puing-puing gempa. Tapi, kita malas mecegatnya.

Setiap peristiwa adalah tanda dan pesan. Tapi, kita seakan tak ingin mencernanya. bencana sealur dosa, secepat itu Tuhan mengirim pesan. tapi, kita enggan memproyeksi hikmah di baliknya. Tenggelemanya kapal, terbakarnya hutan, meletusnya gunung, bergesernya lempeng bumi, banjir, longsor, dsb. bukan bencana alam biasa. peristiwa alam yang di maksud ialah suatu pesan dari langit yang perlu di baca dengan daya supra-Rasional yang kuat.

Sebab, Jauh sebelum hipotesa atom bumi purba, Al-Qur'an sudah menjelaskan dengan gamblang.  Sebagaimana yang tertuang di Q.S. al ambiya : 30. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ كَا نَـتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَا ۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ
a wa lam yarollaziina kafaruuu annas-samaawaati wal-ardho kaanataa rotqong fa fataqnaahumaa, wa ja'alnaa minal-maaa-i kulla syai-in hayy, a fa laa yu-minuun

"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?"

Pernahkah kita bertanya sebelum Hipotesa Atom bumi purba dan Big Bang, hukum-hukum apakah yang berlaku?.

seturut dengan pertanyaan demikian, kita berhenti dan menjawab pasrah. bahwa hukum-hukum metafisikalah yang berlaku. hukum yang bisa di tangkap dengan kecerdasan supra-rasional. Bahwa kejadian demi kejadian, harus di tangkap dengan kecerdasan supra Rasional. kejadian empirik hanyalah tanda kecil untuk memahami kehendak dan hukum yang lebih tinggi di baliknya.

Tuhan dengan segala keinginan dan hukumnya adalah realitas tertinggi yang apodiktif. maka, kejadian demi kejadian harus di baca sebagai tanda, agar manusia dapat menangkapnya sebagai isyarat akan kehendak Tuhan dengan segala kebaikan yang melingkupinya. bukankah selalu terjadi dua dinamika gerak dalam hidup ini. dari yang universal ke partikulir atau partikulir ke universal.

Bertali-tali, bersambung-sambung bencana berpulang pada rumah tabah. silih berganti, setelah luka akibat Jatuhnya Sriwijaya Air, yang menewaskan 50-an lebih, belumlah kering. Ia kembali menghempaskan Pilu di Bumi Antasari Kalimantan, Banjir di Aceh, Longsor di Sumedang dan Jabar. Gempa berkekuatan 6,2 SR menghempas Bumi Manakarra. Belum selesai dengan itu. Semeru mengeluarkan larva dan kawah. banjir dan longsor kembali terjadi di Bumi Sam Ratulangi.

Acap gerutu pada lisan dan keluh pada Qolbu. namun bencana tidak melulu soal kejadian alam biasa menuju keseimbangannya yang paripurna. mungkin saja ini tanda yang niscaya di baca dengan kemampuan surprasional Atau Mungkin juga adalah keabaian kita pada diri yang acap mengeksploitasi nestapa alam dan menanam duka pada sesama.

manusia adalah orbit keseimbangan. Maulana Jalaluddin Rumi pernah menyinggungnya dengan sangat gambalang; bahwa secara mikrocosmos, manusia adalah pusat orbit kehidupan. maka kelakuan manusia yang melanggar kodratnya; termasuk melanggar kodrat identitas seksual adalah satu bagian dari rusaknya tata kosmos dalam pengertian manusia sebagai pusat orbit kehidupan. itulah sebabnya, bahwa Manusia adalah pusat orbit kehidupan. Saat manusia chaos terhadap norma atau keseimbangan bersama alam. maka, alam pun mencari keseimbangan baru. akibatnya terjadilah pergeseran kerah bumi, yang menimbulkan gempa bumi, banjir, longsor, Tsunami, badai angin, dsb.

Bukankah Tuhan telah mengirimkan pesan yang begitu kuat pada negeri kaum sodom (Negeri Nabi Luth)?. Lalu, mengapa kita enggan menagkap ibrah dibalik itu dan menjadikan spirit keimanan yang mumpuni?.

Olehnya, Berhentilah sedetik saja, dari tidak memproduksi ketakutan pada orang-orang. Sebab, merawat kehidupan adalah kewajiban insan.

Gegabah kita yang tak pandai menahan jemari dan tutur, acap membuat kegetiran semakin perih. Janji Tuhan itu Niscaya mewujud, "Wama Kanallahu muadzibahum yastagfirun (Allah tidak akan menurunkan bencana di tengah-tengah mereka yang banyak beristigfar)".

Doa adalah senjata orang-orang yang percaya. karena, Ikhtiar manusia punya batas. Maka, sangat manusiawi jika pekerjaanNya yang Maha sempurna tak mampu di defenisikan dengan pemahaman kita yang cacat.

Pada munajat panjang; ada pengakuan kedhoifan dan ketidakberdayaan kita pada kesempurnaanNya. maka, memulangkan segala pinta pada palung harapan adalah bentuk kepasrahan Iman.

Harapan itu selalu ada dan senantiasa bermukim pada Rahim ketabahan, dengan Janji Tuhan dalam Hadis Qudsinya ; "inni laa ahammu biadzabi bi ibadi" (kadang-kadang aku ingin menurunkan bencana kepada manusia. tapi, ketika aku melihat 3 perkara, murkaku surut, bencana aku tarik kembali. Apa itu? ; "Suyukhon rudhto', "Sidyanan Rudhto", "Wa bahaiman rudhto".

Bagaimana bencana tidak bertambah, kita mengamalkan hadist ini terbalik. yang di minta adalah orang Tua tengah malam nangis, anak bayi menyusu. bukan anak bayi di buang ke tempat sampah karena orang tua tengah malam menyusu.

Ada Humor tapi agak tasawuf, orang yang paling tenang hidupnya adalah Tukang parkir, silahkan lihat tukang parkir. walaupun mobilnya banyak, mereknya bagus-bagus, tidak pernah dia sombong. Nanti mobil dan motor pergi satu persatu, dia tidak pernah bersedih. Tasawufnya ialah tukang parkir tidak merasa memiliki. tapi, merasa di titipi. Siapa saja yang merasa memiliki, maka bersiaplah merasa kehilangan dan kehilangan itu menyakitkan. Tapi, jika merasa di titipi jabatan, di titipi anak, istri bahkan di titipi harta dan kekayaan hiduplah seperti tukang parkir.

Pertama, titipan tidak boleh membuat kita sombong. di titipi tapi sombong : misal ; Ais, titip motor yah, setelah yang punya pergi, saya mondar mandir. Ada orang di titipi jabatan oleh Allah, sombongnya bukan main. Lihat Fir'aun sombongnya bukan main. jadi, jika ada pejabat yang sombong, itu anak buah Fir'aun. Di titipi harta oleh Allah, sombongnya bukan main. sama tetangga tidak mau kenal, semua orang kecil semua, jalan tidak injak Tanah. Jalangkung.

Kedua, titipan harus di jaga baik-baik, jika tidak yang menitip akan marah. Misal : Ais, titip motor yah. waktu orangnya mau ambil motornya. kaca spion pecah, knalpot hilang, bamper hancur. Yang menitip pasti marah, saya kan menitip, kenapa tidak di jaga baik-baik. Di titipi jabatan oleh Allah, isinya korupsi, despotik, dzolim dan berlaku sewenang-wenang. Yang menitip pasti marah?.

Allah menitip Indonesia : hai rakyat, ini indonesia, aku titip Kata Allah. ini negara besar dan kaya, bahkan di tebus dengan darah, air mata, keringat dan nyawa. malaysia memang merdeka, tapi di berikan Inggris. Memang singapura merdeka tapi di berikan inggrish. Indonesia merdeka di tebus dengan darah, air mata, keringat dan nyawa. Tanahnya subur, diatas perut buminya tumbuh beraneka ragam tanaman, di dalam perut buminya terdapat gas, batu bara, minyak, emas. Hutannya kaya, lautnya kaya. Kekayaan ini harus di gunakan bagi sebesar-besar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, begitu amanat Konsitusi. Di salah gunakan, di korupsi, di eksploitasi, di lacuri. Maka, yang menitip marah dan jika yang menitip marah. maka dia suruh mahkluknya yang lain untuk menegur ; Gunung-Gunung, Tanah, angin, air dan api.

Kita semua ini adalah Hamba Allah, itu kata Allah atau kata "kita"?. Kalau kata kita itu namanya "mengaku dan klaim". mengaku itu murah dan boleh. apa kita di akui, itu belum tentu?. Berapa banyak diantara kita yang mengaku hamba Allah. tetapi, perbuatannya justru hamba setan, budak jabatan, berbicara tidak sesuai dengan perbuatan.

Menjadi hamba Allah itu, tidak mudah. harus di tempa, di uji dan di didik. Sejauh yang ku tau, cuman satu manusia yang di akui sebagai Hamba dan itu Allah menukilkannya dalam Qur'an yaitu hanya Nabi Muhammad S.A.W.

Kapan?. saat perintah Isra Mi'raj ; "subhanalladzi asra bii abb di (Maha suci Allah yang telah memperjalankan HambaNya)". Nabi Muhammad, di akui sebagai hamba setelah melewati tempaan dan ujian. sahabatnya di bunuh, di caci, di hujat, di lempari kotoran unta bahkan di fitnah, sahabat-sahabatnya di bantai.

Orang yang paling bersih hatinya adalah Rasulullah. Orang yang paling baik ahklaknya adalah Rasulullah. Orang yang dosanya, oleh Allah sudah mendapat jaminan ampun adalah Rasulullah. Namun Rasulullah, bengkak Kakinya, karena rajin sujud. pada tingkat seperti itu, Rosulullah butuh Allah.

Yang 100 Tahun kita bangun, hancur oleh gempa 3 menit dan gempa kalau datang pada orang baik, itu namanya ujian. Jika menimpa orang setengah baik dan setengah tidak baik (seperti: sholat rajin, maksiat tekun. baca Qur'an mau, fitnah orang hobi. puasa iyah, mencuri jalan terus), ini yang acap membuat malaikat pusing dan hal ini adalah teguran. kenapa di tegur, karena lalai. kalau orang jahat kena teguran, itu namanya tanda jadi, kontan di akhirat.

Kalau di uji bukan hanya lulus tapi harus sabar. Jika di tegur, introspeksi diri, perbaiki yang kurang. kurangi yang memang berlebihan. 

Bertali-bertali, bersambung-sambung musibah datang. jika musibah datang. dia tidak memilih mana orang baik dan mana orang tidak baik.

Itulah sebabnya, Nasehat menasehati dalam kebenaran adalah inti ajaran Islam : "Ta' muruna bil ma'ruf" (ajak orang berbuat kebaikan), "waa laa tan hauna anil mungkar (larang mereka dalam berbuat kejahatan)". Sekalipun tuntunan etiknya para ulama berselisih pandangan tentang metode Nasehat menasehati. Tetapi, kita tidak usah masuk kedalam perselisihan padangan para Ulama. Sebab, kita bukan ulama. Qur'an memerintahkan kita untuk mentadabburinya, sehingga Saya lebih memilih mengeluarkan sendiri ayat Qur'an tentang metode menyampaikkan nasehat, sebagaimana yang tertuang dalam Q.S. An-Nahl :125. Di situ jelas dan tegas, bagaimana tuntunan etiknya.

Jika itu tidak kita lakukan, aku khawatir Kata Nabi, "La Yusikanna ayyaba afallahu alaikum i'toban" (akan datang Hukuman kepada kalian, buah dari perbuatan kalian yang tidak mau tau terhadap perbuatan dosa), "Tsumma tad una hu" (Kalian datang beramai-ramai ke tanah lapang, kalian angkat tangan dengan tetes air mata), "Faa laa Yustajabu lakum (Doa kalian tidak di kabulkan)".

Mengapa tidak dikabulkan, karena Tidak saling nasehat menasehati. Itulah sebabnya, Beriman kepada Allah tidak cukup hanya dengan Sholat, puasa Zakat, Haji. Lebih dari pada itu ialah " Waa tawa saubil Haq watawa saubisshobri" (saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan saling nasehat menasehati dalam kesabaran).

Maka, jika ada orang yang memberi nasehat, dengarkan saja. Boleh jadi dia memberi nasehat bukan karena dia lebih tau dari kita. Barangkali, dia menjalankan satu dari sekian ajaran dan sangat mencintai kita..

Terakhir ; kelak, alam akan hancur sehancur-hancurnya. Gunung-gunung meletes, gempa bumi dimana-mana, air tumpah ke darat, halilintar menyambar, planet-planet bertabrakan dan semua yang hidup akan mati bersamaan tanpa persiapan termasuk para malaikat. Saat itulah Allah berseru-seru "Limanil mulkul yaum (siapa penguasa hari Ini)"; mana itu Fir'aun yang mengaku Tuhan, Mana Abraha, mana Namrud, Mana Mussolini, mana Hitler, mana itu Husni mubarok. Tidak ada yang muncul sebab sudah mati semua.

Allah lalu berkata " Laailaha illa Ana (tiada Tuhan selain Aku). Waktu itu Allah Sombong, jika Allah sombong itu pantas. sebab, "Al qibriayu li ba shi (sombong itu jubahku)".

jangan Sombong..!


*Rst
*NalarPinggiran



Tidak ada komentar:

Posting Komentar