KEPEMIMPINAN NABI
Ruang belajar hanya untuk belajar sedikit demi sedikit, tentang makna dan kata-kata. Kefahaman mutlak hanya milik sang penguasa alam semesta.
Suatu ketika, saya sedang duduk di warung Kopi sambil menghisap kretek dan menulis beberapa hal digejet. Tetiba, Di samping. tidak terlalu jauh dari tempat saya duduk. seorang kawan sedang meyetel musik dengan Handphonenya. volumenya keras sekali.
saya cukup tersentak dan bingung pada cara berpikir kawan saya tersebut. Ini diwarkop, saya lihat kanan, kiri, muka dan belakang. banyak orang memakai Headphone. Sedangkan, dia dengan senang Dan tanpa dosa, dengar musik dengan volume keras. Musik dangdut lagi.
Sejenak, saya terdiam : "Jangan-jangan Kawan saya ini mau tes-tes saja handphone barunya". Ternyata duganku salah. Seketika itu juga, saya Mengambil Headphone di dalam tas dan memberikan pada kawan tersebut. Agar, ia saja yang mendengarkan musiknya dan tidak menganggu orang lain disekitar. Kawan saya mendaku, "Tidak ji bro, Terima kasih". Seketika, ia dengan sigap mematikan audio musiknya. Saya kembali berpikir, ini apa sebenarnya?.
Yah, barangkali ini salah satu dari sekian berkah belajar Filsafat, dulu. Sehingga apa-apa dipikir. Sampai, saya lupa mau menulis apa. Jadi, sepanjang saya diwarkop, saya gagal menulis, gegera berpikir kejadian tersebut, apa sebenarnya dan salah kawan saya dimana?.
saya sedikit punya pandangan tentang ihwal tersebut, tentang bagaimana kita tidak memiliki sensitivitas tentang ruang?. Maksudnya, Kita susah membedakan, mana ruang personal dan mana ruang publik?.
Misalnya, tentang puasa. Puasa itu salah satu jenis ibadah yang paling sederhana?. Puasa itu, tidak butuh syarat apa-apa. Sebagaimana halnya Sholat. Yang butuh air untuk wudhu atau Debu untuk Tayammum. Sedangkan puasa, hanya butuh tidak makan, tidak minum, dsb. Tidak butuh apa-apa. Hanya butuh dirinya sendiri. Ibadah puasa merupakan ruang yang sangat privat. Ruang yang sangat personal. Namun, di indonesia, ramadhan kerap dibikin se-ruang publik, (buka puasa bersama, padahal puasanya sendiri).
Bagaimana sebenarnya pemetaannya, Kita seolah tidak memiliki sensitivitas, antara pemetaan ruang personal dan ruang publik?.
Misalnya, kita melihat keributan-keributan yang terjadi di indonesia. Yang juga kerangka dasarnya. karena, kita abai membedakan mana ruang personal dan mana ruang publik.
Kita percaya pada Khilafah sebagai Daulah. Lalu, saya coba membaca beberapa literatur tentang Ihwal tersebut dan menanyakan pada beberapa senior dan kawan yang konsentrasi Epistemiknya pada soal-soal demikian. Mereka menjelaskan panjang kali lebar. Tetapi, saya menemukan bahwa Hal itu, sebentuk Hipotesis saja (baca hipotesis ; anggapan dasar atau jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga. karena, masih harus dibuktikan kebenarannya).
Sebab, Ini masalah kepercayaan personal yang dipaksakan kepada publik. Sama seperti demokrasi. Juga dengan Komunisme. Tidak ada bedanya, sama. Konsep-konsep tersebut merupakan kepercayaan personal yang mesti dibuktikan secara komunal terlebih dahulu. Begitu hipotesisnya. Artinya, orang setuju atau mengikuti konsep yang kita tawarkan, tidak dengan inisiatif personal, apalagi paksaan. Tetapi, dengan membuktikan konsep-konsep tersebut secara komunal.
Kalau kita cerita konsep demokrasi, misalnya. Socrates saja tidak setuju dengan gagasan tersebut (demokrasi). Socrates yang di daulat sebagai bapak Filosof di Yunani, tidak setuju terhadap demokrasi. Bahkan argumentasinya sangat luar biasa. Ia memberikan analogi tentang Demokrasi, "Kalau kamu setuju dengan demokrasi. bayangkan, jika kita naik kapal dan nahkodanya Tetiba mati. Karena, kita berdemokrasi. maka, kita bebas memilih siapa saja menjadi Nahkoda. Setuju kah kita, tukang sapu di kapal, menjadi Nahkoda?". Bisa Mati konyol kita. Sebab, Tukang sapu tidak punya kemampuan menjadi Nahkoda. Hanya karena kita berdemokrasi, siapa saja boleh menjadi Nahkoda". Begitu logikanya.
Ada Benarnya juga, dari sudut pandang Socrates itu. Tetapi, Saya juga tidak mengatakan komunisme itu benar, Demokrasi itu benar. Terserah yang mana, yang benar. Sebab, ihwal tersebut adalah hipotesis manusia yang ingin menata dirinya dan terserah dia bagaimana cara membuktikannya.
Sependek pengetahuanku, Baginda Nabi Muhammad SAW, begitu di Madinah. Untuk membuktikan Society dan ekosistem yang sudah berjalan, dengan satu Movement. Maksudnya, setelah Madinah menjadi peradaban. Ia menyerang Roma. Sebenarnya, ini menyeramkan. seumpama tikus menyerang Gajah. Karena, yang dicari bukan kemenangan. Tetapi, Steatment, bahwa berani menyerang Gajah (Roma). Akhirnya, yang terjadi bukanlah kekalahan, bukan juga kemenangan. Tetapi, ada sebuah society baru yang lahir, bahwa berani menyerang Society yang sudah Estabilished. Rosul membuktikan Hipotesisnya. Dia membuktikan dirinya. Setelah itu banyak tribe-tribe disekitarnya yang ikut ke madinah. Ikut islam. Walaupun tidak semua, karena urusan islam, ada yang karena urusan ekonomi, keamanan, dsb. Namun, mereka datang karena bukti, bukan karena paksaan atau Inisiatif personal.
jika ada yang percaya Demokrasi. Percaya Khilafah, percaya Sosialisme. Silahkan!. Hanya saja buktikanlah terlebih dahulu diruang privat kita. Apakah kita menjadi manusia diruang kepercayaan kita?. Kita berguna untuk tetangga kita?. Apakah perkumpulan dan komunitas kita bermanfaat untuk sesuatu yang lebih besar?. Jika hipotesis itu terbukti, tidak perlu menyuruh orang masuk. Dengan sendirinya orang akan setuju.
Saya sangat senang dengan beberapa perkawanan saya belakangan ini. Kita tidak pernah menunjuk, siapa-siapa yang salah. Yang ada adalah kita melihat diri kita masing-masing dan mencoba membuktikan hipotesis-hipotesis kita masing-masing. Kita mencari ilmu, mencoba membuat ekosistem, mencoba membuat masyarakat yang membuktikan dirinya, "apakah ini patut diteruskan". alhamdulillah, tambah banyak yang ikut dan sepertinya banyak yang setuju.
Saya tidak bermaksud mengusulkan Nalar Pinggiran mengganti Negara kesatuan republik indonesia atau Sulawesi selatan. Karena, ini bukan urusan negara. Nalar pinggiran itu urusan mengolah Manusia. Sebab, tidak ada negara tanpa manusianya. Kalau manusia benar, insya Allah negaranya juga benar.
Sekarang kita kembali, pada urusan Nyanyi. Kalau yang nyanyi itu sendirian, itu Ruang personal. Mau Fals, mau kaleng-kaleng bekas bunyinya, atau bagaimana pun. seperti yang sering terjadi dikamar mandi, terserah kamu. Karena, tidak ada yang perduli. jika ditambah dengan satu instrumen. Misalnya, dengan gitar. Itu sudah tidak ruang personal lagi. Sudah menjadi ruang publik. karena, dua orang harus kerja sama ; Jangan Fals, chordnya harus sesuai. Jika tambah Instrumen lagi, Bass, misalnya. Terus terjadi pembagian dan konfigurasi. Ini ruang publik lagi. Bass kamu frekuensi rendah, gitarnya frekuensi tinggi, vokalnya nyanyi-menyanyikan lirik.
Ketika masuk ke ruang publik, terjadi pemakluman dan pembagian. Jika masih personal dalam bermusik. maka, tidak akan terjadi, harmoni. Gitarnya main kunci C, bassnya main kunci D, vokalnya nyanyi sendiri. Jadinya tidak enak, tidak harmoni. Makanya kita mestinya tidak hanya sekedar bernyanyi. Tetapi, kita ingin membuktikan proses ruang publik didalam Nalar Pinggiran.
***
NABI TAK MENGAKUMULASI KEKAYAAN
Pada tahun 622-632 Masehi, kepemimpinan prophetic Rasulullah Muhammad SAW di Madinah, memberikan ruang sosial, ekonomi dan politik pada kaum Yahudi, Nasrani dan Islam. Dan 3 kelompok agama ini hidup dalam porsi eko-sosial yang sama; tanpa dikotomi keimanan.
Piagam Madinah, adalah bentuk inklusi sosial dalam kepemimpinan prophetic Rasulullah SAW. Sebagai kesadaran kolektif berbasis keimanan (tauhid) dalam struktur masyarakat Madinah yang plural. Meratakan sekat-sekat theology dalam perlakuan sosial yang equally.
Baitul mal sebagai APBN-nya Madinah kala itu di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW dan khalifah, terdistribusi merata. Sama rasa; tanpa melihat dikotomi identitas keimanan sebagaimana dalam buku The Great of Two Umars yang ditulis Fuad Abdurrahman.
Karakteristik kepemimpinan prophetic Rasulullah SAW tsb, menjadi legacy pada kepemimpinan para khalifah, dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dst. Mereka memberi kebebasan bagi 3 kelompok agama tersebut hidup dalam porsi hak dan kewajiban yang sama selama masa kekhalifahan. Misalnya, pada masa penaklukan Yerusalem oleh Umar Bin Khattab pada tahun 638 Masehi, kaum Yahudi dan Nasrani dibiarkan bebas memperoleh hak sipillnya bagaimana umat Islam. Hidup dalam kerukunan.
Pada tahun 1187, ketika Salahuddin Al Ayyubi merebut Yerusalem, 3 kelompok agama ini kembali diberikan ruang yang sama secara citizenship. Termasuk kebebasan menjalankan agamanya.
Kepemimpinan prophetic Rasulullah SAW adalah legacy. Sebagai suatu bentuk kepemimpinan modern yang mengusung semangat egalitarian dalam corak pemikiran masyarakat Arab yang masih tradisional dan primordial. Bahkan dalam hematnya, kepemimpinan prophetic Rasulullah SAW di Madinah itu, melampaui keprimitifan sosial masyarakat Arab kala itu. Jauh lebih modern dan egaliter. Belum accepted dengan fragmen-fragmen sosial Arab yang amat keras kala itu.
Nah, hari ini, kita letakkan Yerusalem dalam corak kepemimpinan modern dalam teori demokrasi dan HAM yang sophisticated. Apa yang kita saksikan?
Israel sebagai pintu masuk demokrasi Barat di Timur Tengah, memperlihatkan wajah demokrasi yang "anarchism." Memperlihatkan wajah demokrasi yang genocide. Mempertontonkan praktek criminal state.
Di Bulan suci Ramadhan kemarin, militer Israel menyerang umat Islam Palestina yang tengah beribadah. Melepaskan tembakan dan gas air mata. Menghantam umat Islam yang tengah shalat. Memantik kemarahan umat Islam dan milisi Hamas.
Meskipun negara yang dibangun zionis Israel kental dengan corak dan impresi theology, namun pada prakteknya, tangan Tuhan menjadi berdarah dan anarchist sebagaimana terorisme yang acap kali dialamatkan secara serampangan pada Islam dan Timur Tengah.
Dengan menguasai infrastruktur militer, global funding network dengan sumber dana tak terbatas (jaringan Yahudi global), arogansi dan kebengisan diperlihatkan secara telanjang.
Alhasil, zionis Israel tengah membangun suatu negara dengan corak teologis--Yudaisme. Menggeser Al Quds dengan menelusuri jejak artefak raja Solomon. Sosok nabi yang begitu dikagumi umat Islam. Bahkan diceritakan begitu heroik dalam Al quran.
Namun Jejak Haikal Solomon (bait Sulaiman) itu, dicapai dengan darah bocah-bocah tak berdosa di Palestina. Merampok pemukiman penduduk muslim. Merusak lahan pertanian, menenggelamkan perahu nelayan di tepi Gaza. Apa yang sedang kita saksikan?.
Apa aset Rasulullah SAW setelah wafat?. Hanya pedangnya, baju perang, bekas terompah kaki, dan baju sehari-hari yang penuh tambalan. Pun satu bilik kamar di sudut sempit masjid Nabawi.
Rasulullah tidak memiliki aset tanah berhektar-hektar, ratusan ekor unta atau emas berbongkah-bongkah. Clearly, yang ia wariskan pada umatnya adalah Al quran dan sunah.
Tentu Rasulullah SAW bisa saja mengakumulasi kekayaannya. Dia Pimpinan tertinggi di Madinah, dan panglima perang.
Hal yang memungkinkan melakukan "selling influence" atau mengkapitalisasikan menjadi akumulasi aset pribadi (materi). Tapi clearly tidak dilakukannya.
Malah Rasulullah SAW meletakkan dasar-dasar social entrepreneurship, bahwa fungsi harta atau aset adalah pada social philanthropism. Bukan alat untuk menghela prestise atau entertaining.
Baitul Mal adalah prototype social philanthropism dimasa Rasulullah SAW. Sebagai wadah untuk meratakan segregasi sosial. Sebagai wadah agama dan pemerintahan dalam melakukan share of prosperity. Mendistribusikan kemakmuran.
Baitul Mal tidak seperti institusi keuangan sekuler, dimana kelebihan likuidutas diputar secara riba, lalu marginnya dimanfaatkan atau dikorupsi. Atau diputar lagi dengan interest margin yang lebih besar--dalam rangka melipat gandakan keuntungan.
Baitul Mal hanyalah lembaga yang meredestribusi zakat, infak, sedekah dan wakaf pada yang berhak. Tidak ada orientasi margin; keuntungan. Baitul Mal clearly adalah APBN dimasa Rasulullah SAW yang berfungsi sebagai share of prosperity. Titik !
Tentu Rasulullah SAW membutuhkan sosok seperti Ustman Bin Affan dan Abu Bakar Ashidiq. Dua sahabat ini adalah cukongnya (funder) Rasulullah dalam berdakwah. Hartanya adalah sebagai alat pembebas para budak dan kaum marginal kala itu.
Ustman Bin Affan misalnya, setiap berperang, ia menyumbang pada perang Tabuk, ia memberikan 950 ekor unta dan 50 ekor kuda serta 1000 Dinar. Setara dengan Rp.75,6 miliar (Albidayah - Ibnu Katsir. Terj)
Hingga kini hasil dari pengelolaan aset Ustman dalam bentuk cash di akun bank atas namanya adalah sebesar Rp.2,5 triliun. Ini diluar dari total valuasi aset tangible. Hasil dari semua pengelolaan aset, clearly, diperuntukkan bagi fakir miskin di tanah Saudi.
Hartanya bukan sebagai fasilitas untuk menghela prestise dan status quo. Sebaliknya, dengan kekayaan tersebut, menghela mereka secara sosial, untuk ikut berperan dalam memberikan kemakmuran bagi kaum mustad'afin kala itu bahkan hingga kini.
Beberapa waktu lalu, Sri Paus bertemu elit Spiritual Irak, Ayatollah Ali Al Sistani. Alangkah kaget Sri Paus, tokoh spiritual kaliber Syi'ah itu, tinggal di lorong gang sempit di sebuah kampung, kota Najaf.
Ali Al Sistani sebagaimana ditulis Dahlan Iskan, tinggal di rumah kontrakan berkukuran 70 m² dengan biaya perbulan 600.000/dinar (Iran). Setara Rp.200.000/perbulan. Bertemu Al Sistani, Sri Paus datang dan menunggunya di lorong sempit di sebuah perkampungan di kota Najaf Selatan, Irak.
Tentu, ayatollah Al Sistani bisa saja kaya raya seperti kiai SAS yang kini menjadi Komisaris Utama PT KAI (Persero). Tapi ketinggian agamanya tak membuatnya demikian. Namun membuatnya lebih bersahaja.
Dasar-dasar akidah meniscayakan seorang muslim hidup dalam kesahajaan seperti Ayatollah Ali Al Sistani. Atau menjadi socialist philanthropism seperti Ustman Bin Affan, bahkan puncaknya seperti keteladanan profetik Rasulullah Muhammad SAW yang tidur di atas sehelai tikar dari anyaman daun kurma.
* Pustaka Hayat
* Pejalan Sunyi
* Rst
* Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar