Jika kita terbiasa dengan Khasanah Pemikiran Islam Indonesia, maka Nama alm. Sir Azra pasti karib di Ingatan kita. Sebab, Jauh Sebelum Prof. Dr. K.H. Aqil Sirodj membicarakan Islam Nusantara pada Muktamar NU Ke 15 di Jombang. SIR Prof. Dr. Azumardi Azra Sudah menulis buku yang berjudul "Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara". Bukunya bahkan di bedah di UCLA - Universitas California Los Angels.
Secara Sederhana, Gambaran Masa depan Ummat islam di dunia adalah wajah Islam Indonesia. Mengapa?. Karena, Wajah Islam indonesia adalah Wajah Islam Washotiyah (Baca ; Wasyothiah), sebagaimana Ayat Al Qur'an yang menyebutkan, "wa kadzalika jaalnakum ummatan Wasyahton". Ummatan wasyhaton, hanya ada di indonesia.
Gren Syeh Al Azhar menyatakan Saat konfrensi Ummatan wasyhaton di Bogor, "sebenarnya kami di Kairo juga ingin mengembangkan Islam yang Wasyatiyah. Tetapi, belum berhasil sampai sekarang". Mengapa tidak berhasil?. Karena Budaya dan Islamnya tidak kompatibel atau tidak terjadi akomodasi timbal balik seperti di indonesia ini.
Sekarang Islam Wasyatiyah mulai di kembangkan di Timur tengah, termasuk putra Raja Saudi, Mohammad bin salman - Ia bahkan mengatakan, "Kita (Arab Saudi) sudah ikut serta menciptakan kekacauan di dunia, karena Gerakan Wahabisme". Tidak hanya itu, Di Qatar Dua tower Universitas Kenamaannya tertulis kaligrafi ayat yang saya Nukil diatas. Artinya, Qatar juga ingin mengembangkan Ummatan Wasyotan - Islam Wasyotiyah. Tetapi, kalau kita perhatikan kenyataan yang aktual. Islam Wasyotiyah itu hanya ada di indonesia. Belum ada di dunia manapun.
Kita beruntung, karena Islam Wasyotiyah adalah bahagian dari wajah Islam Indonesia. Islam Wasyotiyah itu tidak monolitik, yang terintegrasi secara Kultural, bisa kita Lihat secara Praksis kegamaan pada Sayap Wajah Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdatul Ulama (NU) atau sayap terkecil dari wajah Islam Indonesia, yaitu Islam berkemajuan - Muhammadiyah.
Dua sayap Islam Indonesia - NU dan Muhammadiyah, sebenarnya saling melengkapi satu sama lain. Kalau kita baca, dua sayap wajah Islam Indonesia ini saling mendekat dalam 20 tahun terakhir, karena terjadi proses konvergensi keagamaan.
Memang kalau kita lihat masa depan Islam adalah Islam wasyothiyah, yang praksis kulturalnya cenderung di perlihatkan oleh Nahdiyin. Bahkan survey menunjukkan, 70-80 % Ummat muslim indonesia secara kultural adalah Nahdiyin.
Tantangan terbesar buat Islam indonesia, tidak sederhana. Karena, sebahagian besar masyarakat indonesia kehilangan Kosmopolitanisme keislamannya. Misalnya, Naskah-naskah yang tulis di abad 17 oleh Syeh Abdul Rauf Singkil yang kemudian menjadi dasar dari tradisi pembentukan mazhab syafi'i di nusantara ini, yang waktunya tidak terlalu lama, naskahnya di temukan di buton atau di Mindanau - Fliphina selatan.
Islam Indonesia itu adalah Islam yang cair. Sehingga Tokoh-tokoh Eropa dan Amerika ketika meneropong wajah Islam indonesia kerap mengatakan Islam Indonesia adalah mukjizat - Miracle. Mengapa Wajah Islam Indonesia adalah Mukjizat?. Lihat saja, apa yang menyatukan suku-suku yang tradisinya berbeda-beda di indonesia - tradisi Suku Bugis - makassar dan Aceh itu pasti berbeda, bahasanya juga berbeda. Faktor yang mempersatukan kedua Kultur yang berbeda adalah Islam. Islamlah yang membuat kita bersaudara, karena islam itu sangat Cair. Syech Yusuf Al makassary bisa berlayar dari Makassar pada abad ke 17 sampai ke banten, di terima dengan baik di banten, lalu dia angkat menjadi menantu oleh Sultan Agung Tirtayasa dan mampir di aceh. apa yang mempersatukannya kalau bukan faktor Islam. Makanya, salah satu warisan wajah Islam indonesia adalah terciptanya Ukhuwah Islamiyah.
Bayangkan saja, Orang Minang bisa menyebarkan Islam, ketika orang masih Kosmopolitan sampai ke NTB - Mataram (Dato Ri bandang, Dato Ri Tiro dan Dato Pattimang). Dan dalam waktu yang tidak begitu lama sesudah itu, kita baca sejarah resmi perkembangan Islam di sulawesi selatan, 3 dato yang sama juga masuk menyebarkan Islam. Sekalipun, saya punya Naskah bahwa Jauh sebelun 3 dato dari tanah minang masuk menyebarkan Islam, di Tanah sulawesi selatan pernah di datangi Cucu Rosulullah untuk menyebarkan Islam, yaitu Syech Jamaluddin Al Akbar Al Husaini. Di Tanah jawa di kenal sebagai Syech Jumadil Kubro.
Artinya salah satu dari Wajah Keislamanan kita adalah Tradisi paripatetik - guru-guru pengembara. Makanya, Dalam sejarah Keislaman Nusantara ini, tidak pernah ada terminologi Jawa sentris, bugis sentris, Makassar Sentris, Timor Sentris. Karena wajah Islam Indonesia adalah wajah yang cair dan Islam yang Menjadi Faktor pemersatu keragaman.
Bayangkan, indonesia dari Sabang sampai merauke memerlukan waktu terbang 7-8 jam, negara yang melingkupi diantara jarak dan waktu tersebut, cuman ada 6 - Timor Leste, philipina, Brunai Darussalam, Singapura, Malaysia dan Papua Nugini. Tapi, bandingkan dengan Negara di pinggiran atlantik - Oman sampai Maroko. Bahasanya sama, bahasa arab. Rasnya adalah ras arab. Kulturlnya adalah kultur arab. Agamanya dominan 90% adalah islam. Tetapi, terpecah menjadi 22 negara. Mungkin sedikit lebih baik, jika di bandingkan dengan Eropa. Eropa, dalam bentangan Jarak seperti Makassar sampai Aceh saja, negaranya, ada 62. Artinya, mereka dulu lebih sering bertengkar. "Ernest Renan" Menyebutkan sejarah Kelam Eropa Sebelum menemukan Gagasan Nations State adalah sejarah peperangan antar benua. Konsep - Nation state kemudian di adopsi Bung karno sebagai Negara Bangsa untuk mempersatukan Indonesia.
Indonesia, Sukunya saja, sebanyak 712 suku. Tapi, tidak ada yang baku hantam sampai terjadi Disentegrasi seperti Balkan dan Negara-negara Di semanajung Arabia sana. Tidak ada dalam sejarah indonesia perang saudara secara Komunal yang panjang dan luas. Memang di Ambon, poso dan Kalimantan pernah terjadi gesekan Komunal. tapi, skalanya kecil dan waktunya relatif singkat. Mengapa?. Karena wajah Islam Indonesia adalah Wajah yang cair dan menjadi Faktor utama yang mempersatukan perbedaan-perbedaan Entitas Nusantara serta wajah yang damai.
Wajah islam indonesia adalah Islam yang Rileks, islam yang lebih banyak senyumnya, ketimbang islam yang garang. Tidak Seperti di timur tengah, di asia selatan, dsb.
Penampilan wajah Islam yang garang ini, tidak hanya Membuat Orang Di luar Islam menjadi paranoid. Tetapi, orang Islam sendiri Paranoid terhadap islam. Akibat yang paling mendasar yang terjadi adalah meningkatnya I-religiusitas di timur tengah. Ireligiusitas adalah tidak mau berubah lagi karena frustasi.
Wajah Islam di indonesia akan bertransformasi ke arah itu, jika Penyiar, pengkhutbah, penceramah, kerjanya hanya marah-marah, menggambarkan Allah seolah-olah Maha Pemarah dan Penyiksa.
Hal itu bisa kita lihat atau belajar dari Konflik yang terjadi di Somalia itu terjadi karena resistensi dua kekuatan politik terbesar, yang sama-sama bermazhab Wahabi - Salafi. Satu berafiliasi ke Arab saudi, yang satunya ke Qatar. Tidak hanya itu, yang melakukan pebantaian di negara-negara Tanduk Afrika dan menguasai setengah wilayah somalia juga berpaham Wahabi - Salafi. Bahkan kekuatan - kekuatan di dalam tentara dan Polisi di somalia, di pimpin oleh sebuah lembaga kajian Islam bernama Al Ittihad Al Islamiyah berpaham Wahabi - salafi juga.
Bayangkan saja, orang yang ingin memerangi Terorisme dan Terorisnya berpaham sama.
Semua itu bermula, karena Mereka tidak mau berdampingan dengan orang yang berbeda dengan mereka. Mereka menganut paham Ibnu Taimiyah yang memang tidak menghendaki perbedaan. Mereka menganut paham-paham dari Sayyid Qutub "Fi Dhilalil qur'an", "ma'allim fil Thoriq" dan Paham-paham yang di anut oleh Muhammad Qutub dan mereka juga terlalu luas untuk memberikan porsi pemahaman Abu Bakar Naji dalam Idharoh At-tawahhuz, sehingga mereka berperang bukan karena hendak menghentikan brutalitas. Tetapi, merebut porsi-porsi brutalitas.
Hari ini pemerintahan somalia, juga mempraktekkan praktek-prekatek brutalitas. Bukan atas nama agama, bukan atas nama Tafsir agama. Tapi, atas nama Hasrat politik. Inilah gestur yang merusak wajah dan sejarah islam selama 1400 tahun. Di Praktekkan secara terang-terangan Di Somalia, di paraktekkan oleh Boboharam di Negeria, di paraktekkan oleh Jabat An Nusra di suriah, di praktekkan oleh Laskar At taybah di Pakistan, Afganistan dan di sebahagian negara india - Kasmir.
Bisa kita baca juga yang pernah terjadi Di Benua biru, Perang sesama Nasrani, antara Katolik dan Protestan pernah terjadi di eropa, 35% penduduk eropa menyusut, yang di kenal dengan Terma "Belum Sakrum". Lalu, orang-orang katolik Spanyol berusaha menjajah Orang Amerika selatan, membunuh orang-orang Yukatan, maya, asteka, Inka. Hanya karena politisasi agama.
**
Islam indonesia memang distingtif. secara Kultural, islam indonesia lebih memungkinkan tumbuhnya Demokrasi dan Memungkinkan lebih tingginya kedudukan perempuan. Berbeda dengan Islam di Arabiah, di Banglades, india, pakistan atau di Asia selatan, mereka tidak memberikan tempat yang memadai bagi perempuan. Berbeda dengan Islam indonesia yang memberikan tempat lebih kepada perempuan, sekalipun belakangan terjadi, apa yang di sebut dengan Neo konservatisme di sebahagian besar orang Indonesia. Tetapi, belum terlalu kuat untuk merubah paradigma Islam Indonesia yang distingtif.
Semua itu bisa terjadi karena Komparatif Histori.
Kalau kita baca, mengapa perempuan mengalami domestifikasi di semenanjung Arabia, karena lebih banyak di pengaruhi oleh budaya yang patriarki atau Masyarakat yang di kuasai oleh Laki-laki. Di indonesia, ada juga memang suku-suku yang peran laki-lakinya sangat dominan. Tetapi, kita lihat peran laki-laki dan perempuan saling membantu dan saling mengakomodir. Di jawa, Laki-laki itu biasa mengasuh anak, bahkan mencuci pakaian dalam Istrinya. Tetapi, hal itu tidak biasa di sumatera Barat - Minangkabau, karena dianggap sesuatu hal yang memalukan, kalau Suaminya ikut menggendong-gendong anaknya.
Dalam sejarah Muslimah Indonesia, aktivitas mereka jarang di rumah, hampir rata-rata di luar Rumah. Ke pasar, misalnya. Sebahagian besar yang terlibat perdagangan di pasar adalah perempuan. Kalau dulu di tahun 60-70 an perempuan-perempuan di pasar tidak ada yang mengenakan Jilbab, barulah di tahun 85-an ke atas terjadilah fenomena yang relatif homogen. Sebab itulah, sehingga para pengamat khawatir dan menyatakan ini adalah pertanda - terjadinya domestifikasi perempuan atau perempuan akan di jinakkan dan menjadi pertanda kebangkitan fundamentalisme islam. Padahal sebenarnya tidak ada hubungannya, sebab Jilbab di indonesia itu di kenakan hanya untuk kenyamanan saja, kalau untuk sekedar beraktivitas di pasar. Lain soal dengan, Jilbab yang Ideologik dan Jilbab Fashionable. Jilbab fashionable, biasa di kenakan oleh kalangan selebritas yang mengalami fenomenan Hijrah.
**
Sebenarnya Konservatisme agama itu sudah 1 abad lebih terjadi. Artinya, Konservatisme itu bukanlah gejala baru.
Konservatisme agama itu di tandai dengan munculnya Fundamentalisme Kristen protestan di amerika, sekitar tahun 1915-1918. Yang Hakikatnya menolak Teologi dan Filsafat sebagai penafsiran Kitab Suci secara Modern. Maksudnya, Tidak boleh Al kitab atau Bible di tafsirkan secara Teologis dan Filsafat. Harus di tafsirkan secara Harfiah dan penganut Kristiani harus kembali kepada Fundamental of Religion - kembali kepada pokok-pokok ajarannya. Termasuk juga penolakan terhadap teori Darwinisme biologis dan Sosial.
Konsevartisme agama di amerika, mungkin tidak ada bandingannya dengan Indonesia sekarang. Dulu, bahkan sampai sekarang mereka melakukan razia ke perpustakan-perpustakaan, buku-buku yang mengandung Teori Darwin. Karena, manusia di ciptakan oleh Tuhan sebagai " Creasi ex nihilo - dari tidak ada menjadi ada". Kalau dalam terma Islam di sebut, "Ku fayakun". Jadi, tidak perlu melalui suatu proses biologis tertentu sebagaimana Maksud Darwin.
Artinya, Konservatisme agama, bukanlah sebuah fenomomena baru yang Unik di dalam Islam saja. Sebab, konservatisme merupakan perlawanan terhadap teologi modern yang sangat antroposentrik - Tidak lagi teosentrik, yang dalam perkembangannya akan berbaur dengan soal-soal Sosiologis - Terkait dengan perkembangan ekonomi, politik, dsb.
Saya juga mendukung bahwa Umat Islam memang menghadapi krisis, sekalipun hal itu tidak bisa di generalisasi secara keseluruhan. Krisis yang di hadapi umat islam, mungkin banyak terdapat di timur tengah. Krisis politik di Afganistan sejak tahun 70 sampai dengan sekarang. krisis pemikiran - otoritas yang terpencar, jihad dengan memenggal kepala orang. Bahkan krisis keagamaan. Konflik-konflik yang tidak pernah selesai di timur tengah mengakibatkan meningkatnya, angka I-religiusitas - orang islam tidak mau lagi beragama. Mereka tidak keluar dari Islam, tapi mereka tidak mau lagi beribadah. Karena merasa frustasi dengan kondisi yang ada - perang. Bisa di cek sendiri angka-angkanya. Cuman kebanyakan kita Umat islam, termasuk Muslim indonesia, kerap bersifat defensif dan apologetik. Tidak mau mengakui bahwa Ada Umat Islam yang Radikal - ingin melakukan perubahan sosial dan politik secara cepat dan menyeluruh.
Mengenai Indonesia, memang dalam 20 tahun terakhir ada gejala Konservatisme. Pertama, konservatisme muncul karena meningkatnya kecintaan pada Islam. Hal itu di tandai dengan Gejala-gejala Fisik - berpakaian yang dianggap lebih Islami. Biasanya terjadi pada Kelas Menengah Muslim, mereka menemukan Islam yang baru, bahakan merasa terlahir sebagai Muslim yang baru. Kecintaan ini berganda dengan pemahaman trans Nasional. Terutama dalam hal ini paham "Salafisme dan Wahabisme" dari Saudi, yang menekankan inilah Islam yang murni. Makanya, kita menemukan Fenomena Hijrah dalam beberapa tahun ini, baik di kalangan selebritis dan masyarakat biasa.
Beberapa waktu lalu, Pusat penelitian pengkajian Islam di Masyarakat oleh UIN Ciputat menunjukkan meningkatnya Konservatisme melalui media sosial. Bentuk kongkrit konservatisme, telah saya sampaikkan salah satu contohnya diatas. Selain itu dalam Penelitian PPIM juga menunjukkan bahwa Neo Konsevartisme mengembalikan perempuan pada posisinya yang benar yaitu di dapur, di kasur dan di sumur. Saya melihat Konsevertasime agama ini sebenarnya adalah satu tahap atau fase dalam pencaharian keRohaniaan - Spiritualitas keagamaan, di tengah kehidupan yang sangat Destruktif, secara ekonomi, sosial, budaya.
Saya juga percaya, dengan mekanisme sosio-kultural yang memiliki kemampuan Untuk menjinakkan gejala-gejala seperti itu. Jika dua sayap dan benteng Wajah Islam Indonesia - NU dan Muhammadiyah masih konsisten pada Khittah untuk menjadi Garda terdepan mendengungkan Islam Yang ramah, rileks dan Wasyatiyah.
**
Ekslusivisme keagamaan, memang salah satunya di pengaruhi oleh cara kita memahami teks-teks kitab suci. Tetapi, cara orang memahami kitab suci, sebenarnya bisa berbeda-beda. Sebab, kitab suci tidak pernah bicara sendiri. Teks-teks kitab suci, hanya bisa bicara dengan di suarakan oleh pikiran kita sendiri. Artinya, teks Kitab suci bicara mencerminkan kualitas pikiran kita.
Ihwal itulah, sehingga di dalam Filsafat ada terma yang bernunyi seperti ini, "semakin tinggi mutu subjektifitas sesuatu subjek, maka semakin kaya mutu objektivitas sesuatu objek". Artinya, kekayaan Teks Kitab suci, sangat bergantung pada kekayaan atau khazanah pikiran manusianya. Semakin kaya Pikiran manusia, maka objektifitas teks kitab suci semakin jelas.
Sama dengan batu akik, semahal apapun batu akik. Jika di bawa kepada orang yang tidak tahu soal batu - maka nilai batu tersebut terdevaluasi. Tetapi, begitu batu tersebut di bawa ke ahli batu, di cek. Ternyata akik sulaiman. Maka, nilainya kemudiam naik berkali-kali lipat. Begitu, batu tersebut di bawa ke Orang-orang arkeologi, ternyata baru tersebut adalah pelapukan dari erupsi sekian ribuan tahun, maka nilainya Bisa lebih berlipat-lipat lagi.
Artinya, nilai atau makna teks, tergantung oleh siapa yang membaca teks. Sebab, teks tidak pernah bicara sendiri. Artinya, mutu seorang penafsir atau pentadabbur, menentukkan kualitas teks itu sendiri. Bagaimana mereka yang tidak memiliki kekayaan wawasan, khazanah intelektualnya tidak makroskopis, tentu saat menafsirkan teks, hanya sebatas yang dia pikirkan.
Di samping itu, daya pikir naratif kita semakin kerdil, maka tentunya daya tafsir kita juga semakin kerdil. Kita ini memang aneh, Masalah semakin berkembang, tetapi, daya baca kita semakin pendek Dan saat kita datang kepada teks, teks tersebut hanya sekedar di kutip. Seolah-olah teks tersebut berbicara sendiri.
Selain wawasan dan pandangan seorang penafsir. Cara kita memahami agama juga sangat tergantung pada software kebudayaan kita. Artinya, konteks sosio antropologis yang berbeda atau kondisi kehidupan yang berbeda, punya caranya sendiri dalam menafsir dan mengamalkan agama itu sendiri. Contoh, mengapa sistem Kasta Hindu di india yang sangat segregatif. Dimana orang dari kelas Weisa tidak bisa menjadi satria dan brahmana. Apalagi kalau dia berasal dari under kelas, sampai kapanpun dia tidak akan bisa mengalami emansipasi. Tetapi, begitu Hindu datang ke bali, kasta tidak se-segregatit di india. Kalau di bali, pembelahan kasta hanya sekedar diferensiasi fungsional saja.
Di india, Kalau kita suka berdagang, maka jadilah weisa. Kalau kita suka menjadi politisi, maka jadilah Satria. Kalau suka menjadi pemikir, maka jadilah Brahmana. Tetapi, di bali orang dari kelas weisa bisa menjadi pemikir. Orang dari keturunan Sudra, bisa menjadi brahmana. Makanya beberapa pembaharu di indonesia, jika hendak memandang pesona Hinduisme, maka pandangalah bali. Jangan india. Karena di bali Hinduismenya lebih emansipatif.
Mengapa demikian?. Karena sistem kasta di india, bukan semata-mata produk dari Kitab Weda (Teka suci Hindu). Hal itu murni produk dari konteks sosio kultural india. Ada atau tidak ada Hindu, sistem kasta akan tetap demikian. Jadi, konteks sosio kultural sangat memberi dampak pada cara kita memahami agama.
Contoh lain misalnya, mengapa orang Islam hari ini, cara beragamanya sangat menekankan aspek-aspek after light (kehidupan setelah mati) - Keagamaannya di ukur berdasarkan dosa dan pahala.
Dulu, sebenarnya dalam konteks arab, mereka sangat Make sense. Memang mereka memuja patung-patung ; Latta Uzza, dsb. Tetapi, dalam Kosmologi Arab, memuja Patung itu bukan untuk Kehidupan setelah mati. Mereka memuja patung, untuk kekayaan di dunia ini. Sebab, orang arab jahiliyaah tidak percaya pada kehidupan pasca kematian. Artinya, mereka menyembah latta Uzza, memang hanya untuk kemakmuran di dunia. Makanya, kenapa ayat-ayat yang turun pada periode mekkah, sangat menekankan pada kehidupan Setelah mati. Karena orang-orang Arab tidak punya perspektif tentang kehidupan setelah mati.
Di titik itulah, islam memang belum mengalami reformasi sebagaimana Kristen. Mestinya dalam konteks hari ini, kita harus berpikir sebaliknya, kita harus mewujudkan surga di dunia.
Hal Yang sama di bandingkan dengan Budhisme, karena kabarnya Budhisme tidak terlalu punya konsepsi ketuhanan yang jelas. Justru, Konteks sosialnya berbeda. Saat Sidharta Gautama Hadir, banyak orang-orang awam yang menyembah patung-patung, dewa - dewa dan kehidupan-kehidupan yang abstrak di alam sana, sehingga melupakan di dunia ini. Makanya Bagi, Sidharta kita tidak di perbolehkan untuk memikirkan Tuhan, " berbuatlah di dunia, jadilah sukses di dunia. Dengan begitu, kita akan menemukan Tuhanmu".
Tuhan tidak sangat di tekankan dalam Budhisme, karena konteks sosialnya waktu itu banyak menyembah dewa dewi, sehingga melupakan kehidupan dunia. Sepenuhnya berbeda dengan konteks arab jahiliyah. Ihwal itulah, sehingga di dalam budhisme, orang tidak terlalu terobesesi dengan personifikasi Tuhan dan di budhisme juga mereka lebih elit atau Elit keagamaannya saja yang bisa mencapai puncak spiritualitas tertinggi. Apalagi Hinayana - kereta kecil, hanya elit keagamannya saja yang bisa mencapai nirwana, yang awam tidak bisa mencapainya. Hal inilah yang di koreksi dalam Mahayana - Kereta besar. Tapi, intinya Dalam Budhisme mereka juga tidak percaya pada kehidupan setelah mati - After light, karena mereka lebih percaya pada Reingkarnasi. Jadi konteks-konteks sosial sangat mempengaruhi, cara kita menfasir agama.
Gejala ekslusivisme yang terdapat pada kita ini bisa di jelaskan dalam pemahaman seperti apa?. Dulu, cak nur sering mengatakan, kita ini harus bisa menduniwiakan hal yang duniawi dan mengsakralkan hal-hal yang sangat sakral. Hal itulah yang di sebut dengan De-sakralisasi. Artinya hal-hal yang sangat profan, tidak usah kita sucikan. Partai politik itu sama sekali tidak suci, jadi jangan di sakralisasi. Seperti, kalau kita tidak memilih partai politik tertentu, maka kita akan masuk neraka.
Saya menduga, Cak Nur membaca Karya-karya sosiologi dari Emile Durheim. Kata Durheim, manusia sebagai Homo Sapiens itu bersifat Homo duplex - manusia sebagai Homo sapiens bersifat Dualitas (hidup dalam dunia profan dan hidup dalam dunia sakral).
Dalam kehidupan Profan, manusia bisa berinteraksi sehari-hari, tanpa kehilangan otonomi individunya. kita bisa bersanda gurau, bertukar pikiran, ngopi bersama. tapi, kita tidak kehilangan otonomi apa-apa, kita bisa tegak lurus diatas pilihan-pilihan kita sendiri. Namun ada momen-momen tertentu, manusia sebagai mahkluk individu, yang otonom. Kadang-kadang menjadi bahagian dari kelompok. Sehingga Kedirian lenyap dan hilang dalam logika kelompok. Momen ketika individu larut ke dalam kehendak koklektif - logika kelompok itulah yang disebut dengan Sakral.
Darimana ekslusivisme bermula?. Menurut saya, mestinya orang itu, dari dunia profan masuk ke dunia sakral. Tetapi, bisa segera kembali lagi ke dunia profan - bolak balik. Penyakit kita ini, sehingga membuat kita ekslulisive, dari dunia profan masuk ke dunia sakral, tetapi tidak kembali ke dunia profan lagi atau terlalu panjang menghayati dunia sakral. Seperti, masuk ke sekolah semua diatur atas partisi-partisi sakral. Semua Berpakaian kolektif, dengan identitas yang sama.
Bahkan sekarang gejalanya semakin parah, yang terlihat dari kelas menengah perkotaan dengan Imajinasi kesholehan, kata suami kepada Istrinya," kamu tidak usah kerja, urus saja anak.", karena sebagai masyarakat Middle class, kehidupannya telah cukup. Setelah Istrinya mengantar anaknya ke sekolah, maka mereka kemudian mencari aktualisasi diri dengan mengikuti pengajian-pengajian. Sehingga, kompleks-kompleks perumahan, ratusan pengajian. Jadi, orang cuman sebentar nongkrong dan ngopi, setelah itu mereka masuk dalam logika sakral. Maka dari itu lahirlah, Keseragamaan cara berpakaian, Cara bicara, bahkan cara menentukan perumahan pun, harus perumahan syari'ah. Hotel, hotel syari'ah. Bank, Harus bank syariah. Semua ruang, sudah menjadi ruang Syari'ah.
Demikianlah dampak dari Terlalu panjang berada dalam kehendak Kolektif atau Terlalu lama di dalam Wilayah sakral, sehingga mengakitabkan mereka Menjadi Ekslusive. Tetiba mereka sudah tidak lagi menjadi manusia yang otonom, dimana mereka melihat manusia lainnya tanpa menggunakan kehendak kolektif - logika kelompok. Misalnya, Kira-kira si fulan memilih siapa?. Kalau pilihannya Bukan A, maka si fulan bukan bahagian dari kelompokku. Semuanya di tafsir dengan menggunakan logika kelompok. Nyaris tidak ada otonomi individu, bahwa saya dan orang lain memiliki otonomi dan kedirian tanpa Preferensi-preferensi kolektif. Hal inilah yang menurut Cak Nur, kita harus banyak melakukan de- Sakralisasi.
**
Islam Wasyotiyah atau Moderasi Islam. Jika di lihat dari konteks ayat tersebut, secara keseluruhan ummatan Wasyathon - Ummat yang Wasyotiyah itu lebih sering kita temukan di Indonesia.
Secara sederhana Ummatan Wasyathon adalah Ummat Jalan tengah - Middle Class Islam. Ada 12 karakter dan ciri Islam Wasyathiyah, yang di rumuskan dalam pertemuan konsultasi tingkat tinggi di Bogor tahun 2020, yang Juga di hadiri oleh Gren Syech Al Azhar. Tetapi, yang paling fundamental, hanya 4 (empat).
PERTAMA, Yang paling sering di tekankan dari Islam Wasyathiyah adalah Tawassut Islam yang bersifat di tengah, tidak ektrim ke kiri dan ekstrem Kanan. KEDUA, tawwassul - Selalu berimbang atau Mizan. KETIGA adalah Tasamu - Toleran. KEEMPAT adalah adil.
Cinta tahah air atau Tidak mendikotomikan antara Keislaman dan Keindonesiaan, juga kerap di sebutkan sebagai karakter Islam wasyathiyah.
Dari sudut pandang doktrin, kita bisa lihat realisasi atau aktualisasi pemahaman Islam wasyathiyah di tanah air, dari 3 aspek Ortodoksi Islam Indonesia. Ortodoksi Islam indonesia itu adalah pemahaman dan praktek keislaman yang telah di setujui oleh ulama yang otoritatif - Punya karya besar, pengetahuannya dalam, Bukan Ulama abal-abal. Kalau Ulama Otoritatif - Di akui Kepakarannya. bisa kita lihat di Ormas Islam seperti Bahstul Masail, Majelis Tarjih dan MUI.
PERTAMA, Berdasarkan Ortodoksi Islam Indonesia, dari Sudut pandang Kalam, Ummat Islam Indonesia adalah pengikut kalam Asy'ariyah Maturidiyah. Sekalipun dalam hal tertentu kita juga berpikir rasional, sekalipuna menganut Paham Mu'tazilah.
Kalam Asy'ariyah Maturidiyah adalah Kalam yang di tengah - Wasyath, diantara kalam Yang Paling Ekstrem atau keras - Khawarij, "wa Ma lam yahkum bima andzalallahu fa ulaikahumul kafirum", dengan 3 doktrinnya yaitu takfiri, Jihad dan Hijrah. Khawarij ini termasuk teologi yang Literal, Dan pada Sisi yang lain adalah kalam yang rasional - Liberal, yaitu Mu'tazilah. Contoh sederhana dari Kelompok kalam Mu'tazilah adalah posisi akal lebih otoritatif menentukan baik dan buruk ketimbang Al Qur'an, artinya tanpa Al Qur'an, akal bisa menentukan baik dan buruk. Sedangkan Kecenderungan Ummat Islam Indonesia Berkalam Asy'ariyah Maturidiyah, Dalam konteks tertentu mempercayai takdir dan dalam konteks tertentu menggunakan akal, makanya di sebut sebagai Kalam yang di tengah - Wasyath.
KEDUA, Dari sudut Fiqihnya. Sebahagian besar Ummat Islam indonesia menganut Fiqih Syafi'i. Mazhab syafi'i adalah Mazhab yang di tengah juga, diantara dua kecenderung mazhab yang Literal atau Ketat - Tekstual, yaitu Mazhab Hambali, yang ada di Saudi Dan pada Spektrum yang lain adalah Fiqih Hanafi, yang I-Rasional. Sedangkan Fiqih Syafi'i adalah Fiqih yang di tengah-tengah.
KETIGA, berdasarkan ortodoksi Keislaman indonesia. Pemahaman Tasawuf kita adalah Tasawuf Al Ghazali, Syech Abdul Qodir Jaelani dan Junaid Al Baghdadi. Hal itu juga Tasawuf yang di tengah, diantara Tasawuf yang anti Nomia, tasawuf yang asyiek atau Eksesif dengan dirinya sendiri dan berlebih-lebihan. Contohnya seperti Dzunnun Al Mishri dan Rabi'ah al Adawiyah, yang tidak mengikuti Sunnah Nabi. Kerjanya cuman Dzikir dari pagi sampai ketemu pagi. Pada sisi yang lain, Tasawuf yang Filosofis atau Tasawuf yang teoritik dan spekulatif. Tasawuf jenis ini kerap membuat orang bingung, bukan hanya orang awan. Kadang orang-orang yang besar di lingkungan akademis saja bingung. Seperti, teori kemungkinan bersatunya Hamba dan Tuhan, atau Wahdatul wujud. Bagi kita jenis tasawuf ini tidak terlalu relevan, mungkin bagi orang yang bergelut dengan itu sangat mudah memahaminya. Tapi, bagi kita yang paling relevan adalah Sufisme Tasawuf Etik atau Ahklak Tasawuf - Bagaimana akhlak kita terhadap gelombang Hedonistik. Ihwal itulah, sehingga saya kerap memberikan saran bagi kawan-kawan yang kerap bertanya seputar perkara Tasawuf, untuk membaca Karya Al Ghazali versi Terjemahan atau Membaca Buku Tasawuf Modern Amali Karya Buya Hamka, dsb.
Tiga aspek Ortodoksi Keislaman Indonesia itulah yang membuat Islam Indonesia kita ini menjadi Islam Yang Wasyothiyah.
Ada perasaan bingung, ketika melihat fakta yang terjadi belakangan di bangsa kita, begitu banyak kelompok Takfiri. Padahal, Ketika Saya membaca Datangnya Islam ke Nusantara ini, saya tidak menemukan Teologi Khawarij masuk ke indonesia. Justru, Islam Wasyathiyah lah yang Masuk ke Indonesia dan bertemu dengan Kultur Indonesia yang tenggang Rasa, Rileks dan santun. Jadi Faktor budaya, sangat mempengaruhi ekspresi dan pemahaman keagamaan kita.
Dulu, Islam ketika datang pertama kali di indonesia, ia berhadap dengan agama Hindu. Sangat susah menaklukkan Agama Hindu, karena yang boleh bicara agama, tidak sembarang orang. Hanya kasta tertentu saja yang boleh membicarakan agama, yaitu Kasta Brahmana. Saudagar sekaya apapun tidak di perbolehkan bicara agama. Sebab, saudagar termasuk ke dalam Kasta Sudra. Makanya, Jika ada catatan sejarah Penyebaran Islam di indonesia, di sebarkan oleh saudagar, secara Metedologi pengetahuan, agak bermasalah.
Ihwal itulah, sehingga di indonesia para penyebar agama Islam di kenal dengan Istilah Wali - Auliya. Karena, yang punya konsep setara dengan konsep brahmana adalah Wali.
**
Kebangkitan ummat Islam Dalam Sorotan Yusuf Efendi, pada dasarnya adalah sejarah politik. Kita kerap kali salah kaprah menyebutkan bahwa Dinasti atau Kerajaan Ummayah, Abbasyiah, dsb adalah fase Kekhilafaan sebagai Masa Khulafaurasyidin. Padahal, Khulafaurasyidin, suksesinya di dasarkan pada Keunggulan dan keutamaan. Sekalipun pada Masa Khilafaan Utsman Terjadi Kekacauan dan berlanjut pada Masa Sayidina Ali.
Di abad Pertengahan, ada 3 super power di dunia Islam. Pertama Dinasti Utsmani. Kalau kita baca dengan tenang, Andaikan Dinasti Utsmani tidak ada, maka sejarah Islam Eropa akan berbeda dengan yang kita temukan sekarang. Sekalipun hasil yang di capai oleh Dinasti Utsamani itu tidak maksimal. Karena, Ekspansi Dinasti Turki Utsmani, terhenti di gerbang Wina - Austria.
Super power yang kedua dalam Sejarah Peradaban Islam di abad pertengahan adalah Dinasti Safawi yang berpusat di iran, yang merumuskan tradisi intelektual. Dinasti Safawi semula di dirikan oleh Tarekat Sufi Sunni yang kemudian berubah menjadi Syiah dan menjadi sebuah Dinasti Syiah. Dinasti Safawi bersamaan waktunya dengan Dinasti Turki Utsamani. Dinasti safawi itulah yang menjadi cikal bakal konsolidasi negara-negara Syi'ah sampai sekarang. Bukan Cikal bakal dari Dinasti Fatimiyah yang lebih dulu.
Super power yang ketiga adalah Dinasti Mughal, yang warisannya dalam bentuk Taj Mahal dan menjadi Minoritas Muslimin di india.
Ketiga dinasti ini jarang di uraikkan dalam sejarah peradaban Islam. Orang kalau bicara Sejarah peradaban islam, Arah mereka lansung memandang pada Dinasti Umayyah, Abbasyiah, dsb. Tetapi melompat di abad pertengahan. Padahal, ketiga Kesultanan atau dinasti diatas merupakan Kontiniutas dan sekaligus penyambung dari Tradisi islam Klasik, sebelum sampai modern atau Kebangkitan Islam kedua.
Satu hal lagi, kita kerap kali membaca sejarah islam yang sangat berdarah-darah dan Ekspansi Wilayah dengan perang. Dulu, Prof. H.M Rasidi (mantan Menteri agama RI yang pertama) yang menulis sebuah buku untuk mengkritisi Gagasan (Buku) dari Prof. Harun Nasution tentang "Islam yang di tinjau dari berbagai Aspek". Prof. Rasidi mengkritisi Buku Prof. Harun, karena Prof Harun menggambarkan Sejarah Islam dengan berdarah-darah. Tidak menggambarkan sejarah Islam yang sebenarnya. Mengapa Prof. Rasidi mengatakan Sejarah yang berdarah-darah?. Karena, yang di tampilkan Prof. Harun adalah sejarah politik kekuasaan dalam Islam, memang faktanya berdarah-darah dan saling bunuh, karena konflik kekuasaan. Kalau kita uraikkan, bisa bergedik bulu roma kita. Mengapa kita tidak menguraikkan sejarah sosial atau kehidupan sehari-hari peradaban Islam atau Sejarah Ekonomi Peradaban Islam. Mengapa justru kita gemar membicarakan sejarah politik islam yang berdarah-darah.
Dalam konteks yang lebih luas, ada enam prasyarat penting bagi kebangkitan Islam kedua.
PERTAMA, prasyarat dalam bIdang politik. Kamajuan islam tergantung pada Stabilitas politiknya. semakin tidak stabil politik sebuah negara mayoritas muslim, maka semakin kecil kemungkinan ia bisa menjadi lokomotif kebangkitan ummat islam. Semakin stabil politik sebuah negara, maka semakin mungkin atau peluangnya menjadi lokomotif kebangkitan kedua peradaban islam.
Kalau kita menengok pada Dinasti Ummayah yang berpusat di Bahgdad bisa mencapai kemajuan, karena politiknya stabil. Kurun waktunya, Sejak masa Harun Ar Rasyid sampai masa kedua puteranya. Ihwal itulah, apa yang di simpulkan Ulama Dalam Fiqih Siyasyah, "Haram Hukumnya anarkis dan menciptakan kekacauan". Para Ulama Fiqih Siyasyah, sejak dari masa Al mawardi, Al Ghazali dst, menekankan untuk tidak melakukan anarkisme, bahkan sampai mengharamkan kekacauan. Karena Kekacauan sehari, membuat Orang tidak bisa beribadah. Beribadah dalam arti yang Luas, tidak hanya Ibadah Ma'dah saja. Sementara saya memahami, semua aktivitas untuk kemaslahatan diri, keluarga dan Bangsa pada hakikatnya Adalah Ibadah. Kalau tidak ada Stabilitas politik, maka Kebangkitan kedua Islam Adalah Ilusi.
KEDUA, stabilitas Ekonomi. Dari sudut pandang ekonomi, negara semakin tergantung pada sumber daya alam mentah, seperti Minyak dan Gas (Fosil oil). Maka, semakin kecil kemungkinan kebangkitan kedua Islam. Karena sepanjang sejarah, Minyak dan gas kecenderungannya menjadi Kutukan. Nigeria penghasil minyak yang besar, tapi kutukan. Indonesia dulu juga adalah penghasil minyak yang besar, mungkin kena Rahmat yang terselubung. Sehingga indonesia menjadi Net Importer minyak. Cek saja sendiri, bahwa Pertamina sejak dulu menjadi sarang Koruptor- palukka. Petral di bubarkan karena menjadi sarang koruptor. Tidak banyak manfaat bagi kemajuan dan kepentingan ummat Islam.
Saya sendiri belum menemukan, dana hasil minyak di belanjakan untuk ummat Islam yang miskin?. Kalau ada, bisa kasih lihat buktinya. Bahkan Negeri-negeri kaya akan minyak enggan menginvestasikan kekayaannya di negara-negara Muslim termiskin. Indonesia saja sebagai negara muslim terbesar, Investornya tidak pernah ada dari negara-negara kaya minyak di Semananjung arab sana. Makanya, berhenti agung-agung Saudi Arabia, UEA, Dubai dan Qatar.
KETIGA, Pemahaman keagamaan keislamaan. Di titik ini, ada dua kekuatan besar, yaitu Moderasi dan sektarianisme. Semakin sektarian masyarakat muslim, Hanya karena mazhab berbeda, Paham berbeda, bahkan yang lebih ekstrem mereka saling bunuh, padahal sesama muslim. Maka semakin tidak bisa menjadi sumber peradaban. Tetapi, semakin Ingklusif atau Wasythiyah pandangan keagamaan masyarakat muslim, maka semakin besar kemungkinannya untuk menjadi lokomotif peradaban Islam. Karena Ia memberikan ruang yang besar untuk kompromi dan akomodasi.
Dulu, suku - suku di arab, agar kabilahnya tidak hilang akibat interaksi dengan kabilah-kabilah yang lain. Mereka menekankan agar anggota kabilah menikahi anggota kabilah lainnya Dan siapa saja yang menikahi orang di luar kabilahnya, maka akan di Persona non gratakan, dalam rangka menciptakan kekompakan. Hal yang demikian saat itu boleh, karena kabilah-kabilah di arab itu mereka nomaden. Mereka tidak punya tempat tinggal, karena ingin menjaga identitasnya, mereka mejaga status kekabilaannya dengan cara menikahi anggota kabilah sendiri. Tetapi, ketika manusia sudah menyebar kemana-mana, interaksi manusia tidak lagi butuh identitas seperti itu, apalagi Agama Islam sangat menekankan Egalitarianisme. Maka, sektarianisme tidak memiliki tempat di dalam agama ini. Hampir, semua nilai dari agama ini, menentang Sektarianisme dan Tribalisme atau Islam sangat menenantang Identitas lokalistik yang melahirkan kebencian pada lokalistik lainnya.
Salah satu ayat yang kerap kita ulang-ualang, tetapi kalau kita bedah secara Harfiah. Ayat tersebut, sesungguhnya Mewarning kita, ketika Allah mengatakan, "Wa ma arsal naka Illa Rahmatal lil alamin - dan tidaklah Kami mengutus Muhammad kecuali menjadi Rahmat bagi sekalian alam". Ayat ini secara Harfiah senafas dengan Makna kalimat Tauhid, yang di dalamnya terdapat Penafian, lalu memperkecualikan. Artinya Hanya Dia Yang Boleh - Dan tidaklah kami Utus Muhammad (Penafian - Peniadaan). Illa Rahmatal lil alamin (Kecuali Menjadi Rahmat bagi alam). Artinya, yang tidak mengandung rahmat, pastilah tidaklah datang dari Muhammad. Rahmat dalam Bahasa Arab di kemukakan Oleh Ibnu Arabi dalam Bukunya, berakar dari Rahim. Jadi, Silaturahim dari rahmat - mengikat atau menempelkan sesuatu yang jauh.
KEEMPAT, pemikiran praksis Islam yang lebih Luas. Seperti pemikiran islam yang adaptif terhadap moderinitas - kemajuan atau dalam Istilah Lainnya, Mendahulukan Kekayaan Intelektual ketimbang kekayaan Material. semakin masyarakat Muslim berorientasi ke belakang - Zaman Salafi, misalnya. Maka semakin kecil peluangnya. Apalagi pemahaman salafinya adalah salafi yang Harfiah - Tekstual. Dulu, ketika gencar-gencarnya Pembangunan oleh Orde baru. Terjadi perdebatan tentang Moderinitas. Apakah Moderenitas adalah kita mengadopsi secara harfiah simbol-simbol dari Barat, dalam Terma Cak Nur, westernisasi. Seperti kalau makan, Harus Mc Donald. Minumnya, harus Coca cola, dsb.
Pemikiran Islam yang adaptif terhadap moderinitas yang di tekankan adalah Ingklusifitas terhadap semua Ilmu. Karena semakin eksklusif cara kita berpikir terhadap ilmu, maka semakin kecil peluang untuk maju. Seperti pertanyaan, Belajar ke barat itu bagaimana?. Nah, pikiran orang yang bertanya seperti ini harus di luruskan terlebih dahulu. Sebab, di dalam Islam itu, " La Syarkiyah wa la Gharbiyah - tidak ada timur dan tidak barat. Semuanya Milik Allah". Artinya Yang Baik di ambil, yang jelek jangan di ambil. Demikian Juga saat Kemajuan islam di Baghdad, dahulu, yaitu Membuka diri untuk menerima berbagai sudut pandang Ilmu. Seperti, Ilmu Kedokteran atau Kitab Ibnu Sina tentang Qonun Fikti - Ensilokpedia di adopsi dari Persia pra Islam. Sama dengan angka NOL, di adopsi oleh Pemikir Islam dari India, yang basisnya hanya lokal. Jadi, salah satu Keistimewaan Ilmu-ilmu dalam peradaban Islam yang basisnya adalah Lokal di angkat menjadi Ilmu yang Universal. Sebagaimana argumentasi sayyid Hosein Nasser, " Sains and Civilization in islamic".
Tetapi, kalau belum apa-apa, sudah berargumen, jangan belajar di barat, nanti menjadi sekuler. Padahal, dia sendiri tidak tahu arti sekuler itu apa?. Sekuler itu adalah orang yang menolak di integrasikannya Agama ke dalam politik. Karena orang sekuler itu, bisa saja rajin sholat, tapi menolak di integrasikannya agama ke dalam politik. Orang yang takut dengan barat adalah orang yang mentalitasnya merasa terkepung atau yang lebih Keras lagi adalah Psikologi pencundang - belum apa-apa sudah merasa kalah. Sebagaimana yang di lakukan oleh Ilmuan muslim dahulu, mereka belajar pada Barat, lalu membangunnya menjadi sebuah ilmu yang distingtif - Khas dan pada titik itu bisa memberikan kontribusi.
Kalau kita lihat peta negara-negara Islam, bahwa sebahagian besar kekayaan dunia ini terdapat di negara Islam. Bahkan Seorang Ikhawanul Muslimin - Anwar Al Jundi di mesir mendata tentang negara-negara Islam, termasuk indonesia mengandung kekayaan alam yang melimpah. Tetapi, karena miskin kekayaan Intelektual atau Sains, sehingga kekayaan alam cenderung terhambur-terhambur begitu saja dan tidak memiliki nilai tambah.
KELIMA, Sistem sosial budaya. Semakin Budaya itu Mel dominated society - di dominasi oleh laki-laki. Maka semakin kecil peluangnya untuk menciptakan kebangkitan islam kedua. Karena kebangkitan kedua peradaban Islam, tidak bisa hanya lelaki, harus perempuan juga atau semakin perempuan itu di domestifikasikan - di rumahkan. Maka semakin kecil masyarakatnya menjadi Egaliter. Contoh, saya menganggap keanehan seorang walikota perempuan di banda aceh, mengeluarkan aturan bahwa jam 10 malam perempuan tidak boleh lagi keluar rumah. Karena pandangan dunianya tentang perempuan yang keluar jam 10 malam menjadi sumber kemaksiatan. Padahal sumber maksiat tidak hanya pada perempuan, tetapi laki-laki juga. Bahkan mungkin saja, laki-laki lebih banyak menjadi sumber maksiat. Memang pemahaman Islam Maskulinistik, ada kemungkinannya datang dari perasaan takut Kalah. Berkenaan dengan itu saya teringat dengan Syair Rumi yang berkata, " apa yang bisa engkau dapat dengan kekerasaan, jauh lebih cepat engkau dapatkan dengan Kelembutan". Artinya, bukan spirit maskulinisme yang menjadi dominan. Tetapi, spirit Rekonsialiasi dan Ingklusifisme.
KEENAM, ketergantungan masyarakat Muslim pada Kekuatan-kekuatan luar (asing) - tidak independen atau mandiri. Padahal dalam masa Global, Interdependensi adalah hal yang tak terelakan antar negara. Tetapi, dalam interdepensi itu kita bisa juga terlalu dependen pada kekuatan luar. Ketergantungan antar negara bisa dalam bentuk Perjanjian Bilateral antar kedua negara.
Bagaimana potensi atau peluang indonesia?. Sebenarnya sudah banyak Kajian dan Penelitian para ahli yang menyebutkan, jika ada kebangkitan kedua Islam di dunia. Maka, Islam akan bangkit dari Indonesia. Mengapa?.
Pertama, indonesia stabil secara politik. Kita pernah mengalami kekacauan pada Fase Transisi 97-98. Tetapi, perjalanan demokrasi sebagai Satu Parasyarat kebangkitan Islam, Yang di gambarkan Yusuf Efendi relatif mulus. Pemilu ke pemilu, residu kekacauannya tidak terlalu besar dan meluas. Sekalipun belakangan kita mengalami kegaduhan politik secara terus menerus. Di titik itulah pentingnya kita mengedukasi atau membina kultur politik kita.
Kedua, stabiltas ekonomi kita terus bertumbuh. Sekalipun belakangan Terjadi Drop, Sehingga mengakibatkan daya beli menjadi rendah. Di sinilah kita memerlukan pengelolaan stabilitas ekonomi yang lebih bagus.
Ketiga, islam indonesia adalah Islam yang Wasyathiyah. Islam jalan tengah. Islam jalan tengah itu mengaktualisasikan diri menjadi kekuatan yang luar biasa dahsyat dan kita tidak pernah temukan di tempat lain. Seperti, NU, Muhammadiyah, Al wasliyah, al Irsyad, Matlaul anwar, PUI, Nahdatul wathan, al khairat, darud dakwah wal Irsyad dan yang tersebar di seluruh indonesia yang Mainstream, tidak kita temukan, selain di indonesia. Makanya, ketika terjadi Konflik politik seperti di mesir. Tidak ada ruang mediasi seperti yang di punyai indonesia. Justru yang terjadi adalah zero same Game antara Tentara dan Ikhwan. Mereka tidak memiliki kekuatan penengah atau Middle.
Selain itu ummat Islam di indonesia itu independen. Tidak bisa di kooptasi oleh negara. Sebab, hampir 100% masjid di Indonesia di bangun oleh umnat Islam sendiri. Masjid yang di bangun oleh negara bisa kita hitung. Honor khotibnya tidak di bayar oleh negara, tetapi di bayar oleh Ummat Islam sendiri. Beda dengan di malaysia, Honor Khotibnya di bayar oleh negara, akibatnya Islamnya di kooptasi oleh negara dan Tidak bisa berperan sebagai kekuatan penyeimbang, dan menjadi Status Qou dari Kekuasaan.
Kita memang masih punya Optimisme, tetapi masih banyak pekerjaan Rumah. Terutama Akhlak, apalagi Akhlak Sosial atau saya kerap menyebutnya sebagai Kesholehan Sosial, yang juga merupakan salah satu Ijma Ulama. Akhlak Sosial atau Kesholehan sosial merupakan salah satu dari Esensi ajaran Islam, yang bertujuan untuk Menjaga keMaslahatan ummat. Contohnya, seperti Kepentingan ummat atau Publik harus menjadi prioritas utama ketimbang Kepentingan diri kita.
Pernah suatu kali, Saat Terjadi peperangan. Rosulullah dan Pasukannya mengambil jalur keluar madinah dengan melewati ladang seorang sahabat. Sebelum pasukan Rosul melawati ladang tersebut, sahabat tersebut protes kepada Nabi, agar tidak melewati ladang miliknya, " Ya Rosulullah, kalau pasukan engkau masuk dan melewati ladang saya. Maka ladang saya akan hancur". Tetapi, Rosulullah tetap mengisyaratkan kepada Pasukan untuk terus berjalan melawati ladang tersebut dan tidak menghiraukan protes seorang sahabat. Benar, apa yang di khawatirkan sahabat tersebut, terbukti. Setelah pasukan melawati ladangnya, ladang dan isinya hancur. Setelah perang berkecamuk, Rosul memanggil sehabat pemilik ladang tersebut, "Kalau saat itu saya mengikuti Kemauan kamu dan melarang pasukan melewati ladang milikmu, maka yang terjadi adalah seluruh madinah akan hancur di serang oleh musuh, bukan hanya ladang milikmu saja yang rusak dan hancur.
Dari situ kita bisa menarik Kongklusi, bahwa Islam adalah agama yang sangat mendahulukan kepentingan Orang banyak atau Maslahat ummat ketimbang kepentingan pribadi. Ihwal itulah juga menjadi satu dari sekian Syarat bagi kebangkitan Islam kedua. Saya sangat sepakat dengan salah seorang Filusuf dari Persia, Bernama Jalaluddin Asyfiyani yang mengatakan, " Islami sebagai sebuah penghayatan spiritual, ia adalah wilayah yang privat. Tetapi, dalam pengamalan dan pelaksanaannya, ia bersifat Publik". Karena manusia tidak bisa dielakan untuk tidak berinteraksi dengan Manusia lainnya dalam Konteks sosialnya. Bahkan, beliau kemudian menganalisis secara Filosofis, tentang sesuatu yang di butuhkan Manusia, ia Niscaya menggunakan tangan manusia lainnya. Mulai dari apa yang di makan sampai ia Mati.
Kalau kita uraikkan pada Konteks yang lebih Luas, sebenarnya defenisi sesungguhnya Negara adalah negara yang melindungi, melayani kepentingan Rakyat atau ummatnya. Selain itu juga, perlu ada upaya serius untuk merekonsialisasi Pemahaman keagamaan dengan Rasionalisme. Karena kerap kali pemahaman keagamaan ini di bawah ke ranah emosional. Bisa kita cek sendiri di tipi-tipi, bagaimana mereka menampilkan Islam yang begitu Emosional.
Point pentingnya, jika rasionalitas di jauhkan dari Masyarakat. Maka kecenderungan pemahaman keagamaan masyarakat tidak stabil. Karena emosi adalah sesuatu yang Fluktuatif. Sementara Rasionalistik, cenderung lebih stabil ; 1 + 1 = 2. Entah kita dalam keadaan tidak punya uang atau punya uang. Tetap konsisten.
Kebangkitan Islam kedua selalu punya harapan. Sebab, Pemahaman saya tentang apa yang terjadi di masyarakat barat hari ini, mereka juga sedang Haus spiritualitas, sehingga terjadi peningkatan pencaharian Spiritualisme. Bahkan yang menarik adalah kaum fisikiawan yang paling tidak senang dengan dunia Mistik, justru Dalam Paparan Quantum Fisika, sangat Mistikal sekali - Misterius, bahwa ada energi yang tidak terlihat, yang tersembunyi.
Khazanah islam menyimpan kekayaan seperti ini. Sehingga dalam membangkitkan Kemajuan Islam kedua, harus di mulai dengan memaparkan Islam sebagai kekayaan Spiritual. Selain itu Kita menekankan Akhlak dan Ilmu pengetahuan.
***
Wasothiyah itu kerap di sebut sebagai Moderasi, atau tengah-tengah. Misalnya, Wasothiyah itu terletak diantara Penakut dan ceroboh Atau terletak diantara kikir dan boros. Namun, sebahagian Filsuf-filsuf Islam menyebutkan, tidak semua hal yang di tengah itu baik. Misalnya : SD, SMP dan SMA. Yang di tengah adalah SMP, apakah SMP baik?. Belum tentu. Atau S1, S2, dan S3, apakah S2 itu baik?. Belum tentu. Jadi, kita jangan memahami wasothiyah secara matematis bahwa yang di tengah itu baik, walaupun hal itu ada benarnya.
Berarti jika kita mengukur, ukuran wasothiyah dengan ukuran apa?. Tentu dengan ukuran agama. salah satu Padanan kata Wasothiyah adalah Al-Qost, dari situ lahirlah kata Al-Ihtisod (ekonomis). Apakah yang bersifat ekonomis itu yang terbaik?. Belum tentu juga, sebab ketika kita naik pesawat di derajat Ekonomi dan Bisnis, itu berbeda, apalagi di verst class, pasti berbeda.
Allah Berfirman, bahwa Allah telah memilih kepada orang-orang untuk di serahi, di amanatkan dan di wariskan kitab suci, mereka itu ada tiga tingkat, “min hum dzolimun li nafsih (ada yang menganiyaya dirinya)”, “min hum muqtasih (ada yang pertengahan)”, “ wa minhum sabiqun lil khoirot (ada yang berlomba untuk mencapai kebajikan)”.
Dari Firman tersebut, manakah yang paling terbaik, bukan yang di tengah. Sekalipun semuanya baik. Tetapi, ada yang terbaik. Nah, tidak semudah itu kita mengatakan bahwa yang di tengah yang terbaik. Karena kita harus melihat kondisinya, barulah kita bisa menentukan bahwa yang di tengahlah yang terbaik. Misalnya, Jika ada lima orang yang duduk, yang di tengah adalah yang ketiga. Tetapi, kalau 7 orang, berarti sudah bukan yang ketiga lagi yang di tengah. Artinya, untuk menerapkan moderasi, di butuhkan pengetahuan. Kita harus tahu kondisi masyarakat kita. kita harus tahu kebutuhan masyarakat kita. Karena itu di butuhkan pengetahuan tentang ajaran agama dan kondisi masyarakat yang sedang berlansung. Tanpa pengetahuan, tidak akan bisa kita menerapkan moderasi beragam.
Defenisi dan makna Wasothiyah Bisa berbeda-beda, dari daerah satu dengan daerah yang lainnya?. Itulah sebabnya, hukum-hukum yang di tetapkan Ulama-ulama pun bisa berbeda. Misalnya, masyarakat Madinah, dimana Imam Abu Hanifah hidup, berbeda dalam banyak hal dengan pendapat Imam Syafi'i. Imam Syafi'i berkata, bahwa zakat fitrah harus di keluarkan dari Bahan pokok makanan sehari-hari, sedangkan Imam Abu Hanifah berkata zakat fitrah di keluarkan dengan uang juga boleh.
Prinsip-prinsip dasar wasothiyah itu sama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, keyakinan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi. Al-Qur'an adalah benar dan Ada hari kemudian. Itulah prinsip dasar, yang kita tidak boleh berbeda. Tetapi, kalau hanya berbeda soal qunut dan tidak qunut. Jumlah rakaat sholat tarwih, model bersedakap, baca basmalah di awal al-fatihah. Hal Itu bukan perbedaan prinsip dasar dalam islam. Hal itu bisa di tampung dalam Wasothiyah.
Kunci yang pertama dalam Wasothiyah adalah Ilmu pengetahuan.
PERTAMA, Jangan emosi. Gantilah emosi keagamaan dengan cinta keagamaan.
ada orang yang emosi keagamaannya sedemikian tinggi, sehingga melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak di benarkan agama. Karena mabuk agama. Misalnya, buka puasa ketika matahari terbenam, dalam pandangan Imam Syafi'i. Tetapi, menambah lagi setengah jam baru dia buka puasa. Karena emosi beragamannya keterlaluan. Jangan terdorong dengan emosi. Ada orang melaksanakan ajaran agama dengan mencapai puncaknya itu yang terbaik. Ada orang yang melaksanakan ajaran agama, hanya sampai di tengah. Ada juga orang hanya sampai di level minimal. Jika kita emosional dalam beragama, maka bisa jadi orang menjalankan agama yang sudah sampai di level puncak akan menuduh orang yang menjalankan ajaran agama, hanya bisa sampai di level tengah dan level minimal, sebagai orang yang tidak benar dalam menjalankan agama.
Misalnya, Ada orang, mungkin kerap kali kita dapati dalam masyarakat kita, sering mengatakan, begini ; ohh, itu dia cingkrang. Wahh, tidak benar itu keberagamaannya. Ohhh, itu dia pakai jenggot dan cadar. Wah, tidak benar itu keberagamaannya. Jangan berkata demikian, karena dorongan emosi keagamaan kita. Sebaliknya pun demikian. Jadi, peliharalah emosi keagamaan. Karena emosi keagamaan bisa menjadikan seseorang melanggar agama yang di yakininya sekalipun.
agama, ada batas-batasnya. Ada batas minimal dan ada batas maksimal. Kurang dari batas minimal dianggap mempergampang. Lebih dari batas maksimal, dianggap gholu (melampaui batas) dalam istilah agama. Bukan Thothorru (ekstrem). Karena berbeda antara ekstem dan dan melampaui batas. Ekstrem itu artinya sampai di ujung. Misalnya, ada sarung, dengan harga normalnya, katakanlah 100 ribu. kalau kita membeli sarung, diatas harga normal dengan harga 105, itu di namai mahal atau tidak?. "Kalau naiknya cuman 5000 ribu, itu tidak mahal". Tetapi dalam batas agama itu sudah mahal. Karena melebihi batas. Contoh lain, kalah kita berwudhu, batas minimalnya adalah 1 kali dan batas maksimalnya 3 kali. Karena air banyak sehingga kita tambah jadi, 4-5 kali, boleh atau tidak?. Tidak boleh, karena melebihi standar yang di tentukan agama. Sekalipun belum sampai buang-buang air. Artinya, Yang mau melaksanakan agama dalam batas minimal, silahkan. Yang mau melaksanakan agama dalam batas maksimal, silahkan. Jangan melebihkan dan jangan mengurangi
Pertanyaan, "Tetapi, terkadang yang susah adalah kita tidak tahu sudah sampai batas dimana ajaran yang kita laksanakan?". Itulah sebabnya, ada syarat yang pertama ialah ilmu. Sekarang ini santer orang membicarakan bahwa ini Wasothiyah dan ini bukan wasothiyah, sementara dia sendiri tidak tahu persoalan. Sementara ulama berkata, jika saya berbicara tentang kemudahan beragama, orang menuduh saya tidak beragama. Misalnya, jika kita kepepet di jalan dan kita memperkirakan bahwa kita tidak akan sampai di rumah pas magrib. Bolehkah kita menggabung sholat dhuhur dan azhar?. "Boleh". Siapa bilang boleh, bukankah dhuhur dan azhar, ada waktunya. Saya berkata boleh, karena itu kemudahan yang di berikan agama, selama hal itu tidak di jadikan kebiasaan. Misalnya, Jika kita berjalan, dan celana kita terkena najis sedikit?. Boleh atau tidak. Boleh. Karena agama memberikan kemudahan. Terlalu banyak kemudahan dalam agama, yang di berikan agama ini, yang kerap kita tolak, karena emosi keberagamaan. Itulah sebabnya, perlu ilmu. Kesulitan kita ialah kita tidak tahu, tetapi hebat sekali bicara.
"Bagaimana penerapan sikap moderasi pada latar belakang keluarga yang berbeda agama?".
Dimana batas tolerensi dalam keberagamaan?disiinilah prinsip dasarnya, siapapun kita. Baik itu saudara seiman atau saudara se kemanusiaan. Maka berlaku baiklah. Sebab, kita bisa tersinggung jika di maki, mereka pun demikian. Kita tersinggung, jika di beri gelar yang tidak elok. Mereka pun demikian.
Mari kita lihat, betapa toleransi yang di ajarkan oleh Al-Qur'an. Dalam Q.S. Saba', "Qul Inna Aw iyyakun la ala hudan aw fii tholalin mubin - Sampaikkan wahai Nabi Muhammad SAW. Boleh jadi kami yang benar, boleh jadi kami juga yang salah dan boleh jadi kamu yang salah, boleh jadi kamu yang benar". Kita tidak mengklaim di Hadapannya bahwa kami yang benar dan kamu salah. " Qul Yaj ma'u baina na robbuna bil haqqi - katakan Wahai Muhammad SAW. Nanti Allah yang akan menghimpun kita di hari kemudian. Lalu dia yang akan memutuskan, siapa yang benar dan siapa yang salah".
Kita sebagai seorang Muslim, harus yakin ke dalam bahwa Islam adalah ajaran yang benar 100%. Tetapi, tidak perlu di keluarkan dan menyampaikkan kepada orang lain. Sebab, orang lain pun beranggapan bahwa ajarannyalah yang benar. Adapun jika di keluarkan lewat mulut, yang kita cari adalah titik temu. Sebab, Orang-orang yang mengajak kita untuk memeluk agamanya. Sebenarnya, tersirat cintanya pada kita. Bahkan Ayat dalam Qur'an saba' tersebut menyebutkan bahwa "kita tidak di minta untuk mempertanggung jawabkan dosa-dosa kami. Dan kami tidak di minta mempertanggung jawabkan apa yang kamu lakukan".
Jika hal itu antar Ummat beragama, apalagi jika antar sesama Ummat Islam. Sepanjang Tuhan adalah Tuhan Yang Esa, Mengakui Nabi Muhammad adalah Nabi Terakhir. Jangan di sesat-sesatkan. Itulah sebabnya, Wasothiyah juga di maknai sebagai Sirothal Mustaqim (Jalan lurus yang lebar). Jika jalanan lebar, maka banyak orang bisa jalan diatasnya. Nah, sebahagian kita justru mempersempit jalannya.
kalau bisa diajak diskusi, maka kita diskusi. Tetapi, biasanya, orang-orang yang ekstrem enggan untuk berdiskusi. Dia hanya mau, agar kita mendengar mereka dan kita tidak boleh membantahnya. orang yang toleran, terbuka cakrawala berpikirnya dan akan menerima pendapat orang lain. Sedangkan orang yang tidak toleran, tidak akan pernah mengoreksi pendapatnya. Suka atau tidak suka. Olehnya, jangan berdiskusi dengan seseorang yang kita dapat kalahkan argumentasinya. Tetapi, kita tidak dapat kalahkan kepala batunya.
kunci ketiga dari Wasothiyah ialah Hati-hati. Sebab, Nafsu kerap mendorong kita untuk menjadi rugi dan tidak untung. Misalnya, ada seseorang datang kepada kita meminta sumbangan, kita masuk mengambil uang. Terbesit di hati kita untuk memberinya 50 ribu. Lalu setan membisikkan, wahh terlalu sedikit itu, tambah dong, nanti kamu di bilang apa?. Jika di lebihkan maka ini sudah tidak tulus Dan hal ini bisa juga di kurangi.
-- Bersambung --
*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar