Maha Bijaksana Allah, yang melatih kanak-kanak manusia, untuk membiasakan diri menjadi pemerintah atas diri kita sendiri. Diktator kepada Nafsunya, Otoriter membatasi keinginannya. Memaksa jasadnya untuk lapar dan haus dari saat lembayung Fajar menyinsing sampai Jingga senja meluruh pada malam. Membangun martabat agar tak dieksploitasi oleh makanan dan minuman.
Allah sang Maha Guru, yang menata barisan kaum Milineal menjadi pasukan aqil balig yang mengenali syriatnya. Merambah keluasan alam semesta hingga batas cakrawala. Menguasai wilayah lingkup kekuasaan yang dibatasi oleh akalnya. Menangkap dan memasung musuh-musuh dalam dirinya.
Allah Panglima Maha Panglima, yang menantang orang dewasa, agar sepanjang usia membuktikan martabat kemanusiaannya. Siang malam meneguhkan kesetiaan terhadap kekhilafaannya. Merumuskan kurikulum puasa disetiap tapak dan lakunya. Tak perduli dibulan ramadhan atau diwaktu kapanpun saja.
Jika sampai dewasa Manusia mampu bertahan pada kekanak-kanakannya, Bila sampai tua manusia berhenti pada kekerdilan keremajaannya. Kalau sampai matinya, manusia tak pernah menjadi dewasa.
Ketika Izrail datang mereka masih menjadi budak Nafsunya. Maka, bercerminlah kembali, mengapa malaikat menginterpusi proses penciptaan (Manusia).
Makassar, 24 Ramadhan 1441 H
#NalarPinggiran

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar