Mengenai Saya

Kamis, 12 Oktober 2023

PUING PERANG ; SIAPA YANG MEMBUTUHKANNYA ?


Ide mendirikan negara mandiri bagi Yahudi adalah ide organisasi zionis, yang di dirikan oleh "Theodor Herzl". Ide tersebut merupakan respon terhadap ancaman eksistensial terhadap kaum yahudi, akibat gelombang nasionalisme radikal dan gagahnya asimilasi sosial kaum yahudi, yang berkembang di eropa pada paruh kedua abad ke 18, yang berpuncak pada peristiwa Holocaust atau pembantaian kaum yahudi.

Awalnya kaum yahudi punya 4 alternatif negara untuk menampung kaum yahudi, yaitu Argentina, Mozambik, palestina dan Uganda. Tetapi, mereka memilih palestina, karena justifikasi keagamaan akan memudahkan mobilisasi global kaum yahudi untuk bermigrasi ke palestina.

Di tengah kecamuk perang dunia pertama, 2 november 1917, Arthur Balfour mendeklaraiskan dukungan penuh inggris terhadap misi zionis untuk membentuk megara israel di palestina, melalui surat kepada Rothchild.

Setahun sebelumnya pada 1916, pasukan sekutu yang di dalamya terdapat inggris dan Prancis yakin dapat mengalahkan imperium ottoman. Maka, inggris dan prancis membuat kesepakatan untuk membagi wilayah kekuasaan ottoman, termasuk palestina di dalamnya. Perjanjian tersebut di kenal dengan Perjanjian sykes picot.

Dalam peta Sykes Picot, yerusalem di sebut sebagai brown area atau di kelola oleh administrasi internasional. Namun, akhirnya di ambil alih oleh Inggris pada tahun 1920. Dalam ruang pergeseran geopolitik inilah, pengambil alihan palestina berlansung.

Rencana zionis membentuk negara israel, dukungan inggris melalui deklarasi balfour, peta Sykes picot dan kemenangan Inggris - Prancis pada perang dunia pertama, mempercepat ekspansi teritorial dan demografis kaum yahudi atas palestina.

Dalam kurun waktu, hampir 70 tahun, 521 ribu kaum yahudi telah bermigrasi ke palestina, bersamaan dengan era Hitler. Akibatnya komposisi demografis wilayah palestina berubah. Kaum yahudi yang awalnya, hanya 3 % dari total 460 ribu penduduk pada tahun 1882 menjadi 31,2% dari total Dua Juta enam puluh lima ribu penduduk pada tahun 1948 di tanah pelastina.

Demikianlah cerita Kaum yahudi di mulai di palestina. Mereka sudah memenuhi hampir seluruh wilayah palestina sebelum negara israel di bentuk pada tahun 1948. Yang awalnya, hanya migrasi terencana secara massif. Berakibat pada konflik penguasaan lahan, yang tanpa di sadari oleh bangsa palestina, berujung penjajahan.

Sayangnya, saat itu lembaga internasional tidak berpihak pada palestina. PBB mengeluarkan resolousi No 181 di tahun 1947, membagi wilayah palestina menjadi tiga zona, yaitu untuk pemerintahan israel, pemerintahan palestina dan zona bersama, yang di namakan Al Quds atau Yerusalem.

Setelah pereng 1948, Israel menguasai wilayah barat Al Quds, sementara wilayah timur di kuasai oleh Yordania. Namun, wilayah timur tersebut di caplok juga oleh Israel pada tahun 1967.

Artinya, bila hutang budi kemanusiaan karena tragedi Holocaust yang menimpa kaum yahudi di eropa yang menjadi dasar negara - negara benua biru mendukung berdirinya negara israel. Mengapa Palestina yang harus membayarnya?. Logika macam apa yang membenarkan kaum Yahudi yang menjadi korban pembantaian di eropa, sekonyong-konyong datang ke palestina dan berbalik membantai Ummat islam Palestina?. 

Kini, 100 tahun kemudian. Pengakuan mantan Presiden AMRIK - Donald Trump atas yerusalem sebagai ibu kota Israel menyempurnakan Skenario satu abad zionis, sebagaimana mimpi bapak Israel Theodor Herzl - "Tidaklah sempurna tanpa Al Quds". 


**

Penyerang secara tetiba yang di lakukan Hamas dan kelompok - Kelompok perlawanan di Palestina di beberapa wilayah yang masuk ke dalam teritori Israel di sebut dengan Thofanul Aqsa - Badai al aqsa.

Sebelum kita menjelaskan tentang situasi dan kondisi yang terjadi di palestina, baik kiranya saya menegaskan terlebih dahulu, bahwa alasan saya, Kamu, kalian dan kita mendukung perjuangan kemerdekaan palestina adalah amanat konstitusi. Karena, palestina adalah satu-satunya bangsa di dunia yang belum merdeka - masih terjajah sampai saat ini. Perintah konstitusi indonesia, sangat jelas dan tegas untuk "Menghapus penjajahan diatas permukaan bumi".

Alasan berikutnya adalah alasan kemanusiaan. Sebab, kita menyaksikan kemunafikan yang luar biasa dari negara - negara benua Biru, ketika mereka terus menerus membicarakan dan mengkampanyekan Demokrasi dan Hak Asasi manusia. Tetapi, dalam waktu yang bersamaan mereka membiarkan ada satu kelompok manusia - warga Palestina yang terus menerus berada dalam kondisi tertindas berpuluh - puluh tahun.

Dua alasan inilah sehingga Indonesia mestinya konsisten memperjuangkan kemerdekaan palestina dan bersikap tegas terhadap bangsa-bangsa Hipokrit di benua biru dan Amerika itu. Selain kedua alasan tersebut, tentunya ada alasanya yang fundamental yaitu alasan KEAGAMAAN. Karena Al Aqsa adalah wilayah wakaf untuk ummat islam dan Kedua agama Samawi, sehingga sebagai muslim kita semua harus bertanggung jawab untuk membebaskannya.

Serangan Hamas dan kelompok-kelompok perlawanan di Palestina di sabtu kelabu, tidak hanya mengejutkan Israel. Tetapi, mengagetkan hampir seluruh penduduk bumi.

Saya kira, kita tidak hanya melihat peristiwa perang yang terjadi di palestina dan Israel secara Micro. Kita mesti melihat peristiwa tersebut lebih luas, dalam konteks geopolitik.

Kita bisa membaca peristiwa ini dalam urutan - urutan pertanyaan yang mendasar ; SIAPA SEBENARNYA MEMBUTUHKAN PERANG INI?. Sebab, lazimnya jika perang terjadi, selalu ada yang menginginkan hal tersebut dan tentunya ada yang mengambil keutungan dari perang tersebut.

Sebenarnya yang paling membutuhkan perang Palestina Vs Israel yang menyala di Sabtu kelabu kemarin adalah Benyamin Netanyahu - Perdana Menteri Israel. Mengapa Netanyahu membutuhkan perang tersebut?. Karena israel, sedang berada dalam situasi konflik internal dan ancaman disentegrasi - Perang saudara yang sangat besar di dalam negerinya.

Bayangkan sejak tahun 2019 sampai tahun 2022, Israel telah melakukan 5 kali pemilu. Karena tidak ada parpol yang menang telak sehingga bisa membentuk pemerintahan. Artinya Netanyahu sedang berada dalam posisi yang sangat lemah secara politik. Selain dari itu, netanyahu dan Istrinya juga tersandung kasus, yaitu kasus korupsi dan seharusnya Netanyahu tidak lagi menjadi perdana menteri.

Tetapi, Sebahagian orang mengakui bahwa Netanyahu adalah seorang politisi yang Handal, sehingga ia lolos dari Lubang jarum dan mencoba melakukan perlawanan legal dengan mereformasi beberapa dasar Hukum di Israel, yang membuatnya lolos dari tuduhan korupsi.

Salah satu langkah yang di lakukan netanyahu untuk menyelamatkan dirinya adalah terpaksa harus berkoalisi dengan kelompok-kelompok sayap kanan - parpol garis keras di israel.

Jika tidak ada perang di luar, maka Netanyahu akan terus menerus di rongrong dari dalam untuk di jatuhkan pemerintahannya dan di jebloskan ke dalam penjara. Kalau kita melihat berita beberapa waktu yang lalu, bagaimana kekacauan demonstrasi di Tel Aviv dan beberapa kota di Israel, bahkan sampai menduduki bandara yang di lakukan oleh Musuh - musuh netanyahu, yaitu Parpol - parpol liberal.

Ihwal itulah, meniscayakan Netanyahu mengambil langkah untuk melakukan koalisi dengan Kelompok sayap kanan garis keras di Israel, dengan agitasi memperluas wilayah pemukiman kaum yahudi dan terus melakukan pembangunan, serta memprovokasi orang - orang garis keras Yahudi untuk melakukan ibadah di Al Aqsa. Tentu, sudah bisa di bayangkan, Provokasi semacam ini adalah sesuatu yang di sengaja, untuk mendorong orang, agar melakukan langkah yang lebih keras. 

artinya, sementara Ia melakukan Provokasi kepada kelompok garis keras Yahudi, ia juga memaksa secara tidak lansung semua kelompok di palestina untuk melakukan Perlawanan secara keras.

Provokasi ini di sengaja untuk menciptakan perang. Netanyahu membutuhkan perang, agar ia bisa mengkonsolidasi kekuatan di dalam pemerintahannya dan membuat perlawanan parpol - parpol liberal kepada dirinya, oleh parpol - parpol liberal, menjadi tidak relevan lagi. Apalagi secara personal hubungan Netanyahu tidak sedang baik-baik saja dengan Joe Biden - Presiden Mamarika. Bahkan Netanyahu secara Personal lebih dekat dengan Vladimir Putin.

Perang yang menyala di sabtu kelabu atau Provokasi kepada warga palestina adalah Manajemen konflik untuk mengalihkan isu penggulingan dirinya di Israel. Makanya, pasca serangan Hamas, Netanyahu membentuk pemerintahan Darurat. Jika pemerintahan darurat di bentuk, maka seluruh kelompok oposisi di dalam negaranya di tarik untuk bersatu semuanya. Kurang ajar memang. 

Mengapa Hamas dan kelompok - Kelompok perlawanan di Palestina harus melakukan reaksi yang begitu besar?. Sudah bisa di bayangkan, bahwa semua kelompok perlawanan di palestina harus melakukan hal yang sama di tengah provokasi yang begitu telanjang. Kenapa?. Karena di palestina muncul generasi baru - anak muda, yang secara ideologis tidak terlibat kepada hamas, tidak terlibat kepada Jihad islami dan tidak terlibat kepada semua kelompok perlawanan di Palestina. Tetapi, terkonsolidasi melalui sosmed sebagai angkatan baru generasi palestina, yang memiliki militansi jauh lebih keras ketimbang organisasi-organisasi perlawanan yang ada di palestina. Makanya banyak perlawanan sporadis di sekitar masjid Al Aqsa di lakukan oleh anak muda palestina.

Eksistensi kelompok-kelompok perlawanan di palestina mendapatkan satu tantangan baru dsri generasi muda palestina, bahwa mereka bisa jadi dianggap tidak Relevan lagi Di mata anak-anak muda palestina, jika mereka tidak melakukan perlawanan yang berskala Full dan lebih besar. Dengan Peluang Internal Israel yang pacah.

Artinya ada dua situasi di internal masing-masing negara yang meniscayakan perang ini terjadi. Di pihak israel perang di butuhkan karena ancaman penggulingan Netanyahu dan Di pihak Palestina, Kelompok-kelompok perlawanan bisa dianggap tidak relevan lagi oleh angkatan muda atau generasi muda palestina jika tidak melakukan tindak yang lebih besar dan sporadis kepada Israel.

Satu halyabg saya yakini, bahwa Palestina selamanya akan menjadi isu yang mempersatukan dunia Islam. Waktunya saja yang tentatif. Tunggu saja, Ledakannya. 

Ketika netanyahu memprovokasi kepada warga palestina, agar ia menyelamatkan dirinya dari pemerintahannya, akibat konflik elit pemerintahannya terlalu tajam dan israel berada dalam ancaman perang saudara. Pada waktu yang bersamaan, Dengan menggunakan tangan AS, ia menekan negara-negara Arab untuk menornalisasi hubungan, terutama dengan Saudi Arabia, Bahrain, maroko dan juga mereka berharap hubungannya normal dengan Indonesia.

Tetapi, Perang yang meledak di sabtu kelabu kemarin, telah menghancurkan semua Proses perdamaiaan yang sementara di Normalisasi oleh Amrik.

Kalau kita melihat dalam konteks yang lebih luas, dalam perspektif geopolitik. Banyak pengamat yang menjelaskan, bahwa dunia ini sedang mengalami krisis dan sedang menuju kekacauan yang tidak terkendali - perang besar. Dalam kontek itu, ada dua jenis perang yang akan terjadi. Pertama, perang regional - perang kawasan. Kedua, perang saudara.

Kita sudah menyaksikan perang kawasan terjadi, misalnya perang Rusia Vs Ukraina yang sudah berlansung lebih dari satu tahun. Perang kawasan ini sedang masuk ke afrika, negara Sudan misalnya, Menjadi negara yang tidak jelas punya siapa dan beberapa Kudeta pemerintahan di Negara Afrika, serta Pengusiran pasukan Prancis dari Wilayah Afrika.

Artinya, setelah zona Eropa Menyala, Bergeser ke zona Afrika dan sabtu kelabu zona Timur Tengah yaitu Palestina Vs Israel kembali menyala. Hal ini juga akan menjadi masalah waktu, bahwa zona api yang sama akan bergeser ke kawasan Asia atau Indo pasifik. Hal itu bisa kita lihat, ketegangan yang terjadi antara Fhilipinan dan China di laut China Selatan. Ketegangan antara Taiwan dan pemerintah Chinanya sendiri.

Ada hal yang membedakan dari perang sebelumnya yang pernah terjadi antara palestina vs Israel, yaitu kemampuan perang pasukan Hamas dan kelompok-kelompok perlawanan di palestina adalah Kemampuan Intelejennya dan persenjataannya. Apalagi Iran sudah menyatakan dukungan penuh kepada Palestina dan secara Khusus kepada Hamas, Hizbullah di lebanon juga sudah terlibat. Rusia adalah sekutu Iran.

Kalau kita melihat serangan balik dari Israel, setelah mereka membuat pengumuman perang, baru di mulai dari serangan udara. Setelah ini, akan ada serangan darat dan jika israel masuk menyerang ke Gaza, hal ini akan menjadi serangan yang sangat brutal. Hamas dan seluruh kelompok perlawanan di palestina sudah membayangkan atau menghitung kemungkinan serangan darat yang sangat brutal. Jika terjadi, maka perang ini akan lebih panjang dari perang sebelumnya yang pernah terjadi.

Tetapi, jika israel tidak menghitung dengan cermat. Apalagi dengan kemampuan Hamas dan kelompok - kelompok perlawanan di Palestina yang menyerang secara tiba-tiba dan tidak terduga, menunjukkan bahwa ada persoalan Fundamental yang keliru dari pihak intelejen Israel. Korban yang berjatuhan di Pihak Palestina lebih banyak anak - anak dan perempuan, artinya sasaran serangan balasannya Tidak tepat Sasaran alias Keliru. Sementara, Korban di Pihak Israel, lebih banyak militernya. Di tambah, AS mendekatkan kapal induknya, bahakn ikut membombardir Gaza, menunjukkan bahwa Israel menyadari Kelemahannya.

Di setiap Kecamuk suatu negara, Semua pemain Global Ikut bermain ; Amerika, Eropa, China dan Rusia. 


Makassar, 11 Oktober 2023


*Pustaka hayat

*Pejalan sunyi

*Rst

*Nalar Pinggiran












Selasa, 10 Oktober 2023

A.I.P.A.C

 

Di awal pemerintahannya, tahun 2008 (periode pertama) dan 2012 (periode kedua), Obama menyampaikan pidato inagurasi kemenanganya. Disiarkan oleh banyak TV, Obama berdiri dengan gagah di atas podium. Dan di depan podium itu, tertera 5 (lima) huruf kapital besar – AIPAC. 

Ketika mengawali pemerintahannya, Donald Trump juga (merasa wajib) menyampaikan pidato kemenangannya di depan podium yang tertera 5 (lima) huruf kapital besar – AIPAC. 

Saya tetap ingat dengan buku karangan Paul Findley yang telah diterjemahkan oleh Penerbit Mizan "Mereka Berani Bicara". Dalam buku ini, Findley mengupas-tuntas pertanyaan : "Mengapa lobi Yahudi-Israel begitu kuat dalam ranah politik Amerika Serikat pasca Perang Dunia ke-2?".

Findley mengatakan bahwa politik negeri Paman Sam ini tidak bisa berkata "tidak" pada Yahudi-Israel karena sebuah organisasi-publik kemitraan bernama AIPAC (American Israel Public Agency Council). Dalam AIPAC ini berkumpul para ekonom-pialang, politisi dan intelektual Amerika Serikat keturunan Yahudi. Mereka inilah yang dominan mempengaruhi politik Amerika Serikat, mulai dari pengkondisian calon-calon Presiden hingga kebijakan politik luar negeri. 

AIPAC kata Findley, adalah bentuk lain dari "Gedung Putih". 

AIPAC berperan besar atas bantuan yang spektakuler ini mensikapi pengaruh Iran yang semakin besar di Timur Tengah. Pidato Obama dan Trump di forum AIPAC menunjukkan kepada kita, Obama dan Trump tak bisa melepaskan diri dari Yahudi-Israel. Penggalan pidato Obama (2008 dan 2012) yang mengatakan bahwa Hamas merupakan organisasi teroris dan kebijakan negara Israel harus didukung, memperjelas posisi politik Obama. 

Lalu, pantaskah kita mempersalahkan Obama dan Trump? Pantaskah kita berharap banyak pada Trump ke depan?.

Findley sebenarnya telah menjawab, bahwa siapapun yang akan menjadi Presiden Amerika Serikat, pengaruh AIPAC sulit untuk dihindari. Penunjukkan Hillary Clinton sebagai Menteri Luar Negeri kabinet Obama memperjelas pengaruh lobi Yahudi yang luar biasa. Kecil kemungkinan persoalan Palestina bisa terselesaikan dengan baik pada era Trump ke depan. Sangat tidak mungkin Trump melawan arus "pakem" kebijakan politik standar Amerika Serikat. Persoalan Palestina-Israel, lebih memungkinkan hanya bisa diselesaikan oleh komunitas Timur Tengah, khususnya negara-negara Islam Teluk. Kita tak bisa berharap banyak pada PBB, demikian juga dengan Amerika Serikat, siapapun presidennya. 

Dalam ilmu politik, antara Israel dan Palestina telah terjadi "cyrcle bargaining", siklus tawar-menawar. Siapa yang menunggangi dan ditunggangi, tidak jelas secara konkrit. Apakah Israel yang menunggangi Amerika Serikat atau sebaliknya. Namun yang jelas, hubungan Amerika Serikat dan Israel adalah hubungan simbiosis mutualis, saling menguntungkan. 

Oleh karena itu, kemauan politik negara-negara Timur Tengah-lah yang lebih rasional dan memungkinkan. Apakah bisa hal ini terjadi? Seandainya mereka kompak, Palestina dari dulu terselesaikan dengan baik, kata Gamal Abdel Nasser Dan yang bisa menyembuhkan Palestina hanyalah kemauan politik negara-negara Islam Timur Tengah. Sementara, Trump akan terus berjalan dengan garis politik yang tidak bisa dihindarinya. 

Tahun 2008 dan 2012, Obama berkata : "When I am the President, the United States will stand shoulder to shoulder with Israel". Trump, ayah Ivanka itu, pun juga senada. Seirama dengan Obama dan Donald Trump, Joe Biden juga berkata demikian.



*PUSTAKA HAYAT

*PEJALAN SUNYI

*RST

*NALAR PINGGIRAN


PUING : FANATISME PEMELUK AGAMA

 


"Sejarah dipenuhi cerita membangun dan menghancurkan. tetapi, siapakah yang membersihkannya". Demikian kata Pujangga India - Rabindranath Tagore.

Membangun mungkin mudah. Menghancurkan, apalagi. Menjaga dan membersihkannya, sungguh teramat sulit. Membersihkan hati membersihkan trauma. 

Aleppo, kota yang dianggap para arkeolog sebagai salah satu kota tertua di dunia, selain damaskus dan Bayblos lebanon, mulai berbenah. Termasuk membenahi (kembali) Great mosque Of Aleppo ataukah masjid agung aleppo. Ikon ibu kota aleppo. Salah satu Masjid tertua didunia.

Perang telah meluluh lantahkan masjid yang diakui oleh UNESCO sebagai salah satu kekayaan unggulan peradaban dunia. Kota aleppo juga koyak. Kota yang cantik dan eksostis. Kota yang dalam bahasa arab disebut ; "Halab - yang Putih", karena dulunya dibangun dengan menggunakan kapur putih.

Perang memang, dimulai oleh segelintir orang, tetapi akibatnya dirasakan oleh ratusan juta orang. Imbas psikologianya akan bertahta dalam memori sekian generasi. Lama. Pelajaran berharga bagi setiap ummat manusia.

Setali tiga uang dengan aleppo. Palestina merupakan Kota Tiga Agama Ibrahimik : Yahudi, Nasrani dan Islam.

Lalu, Apa hak salah satu sekte Politik di Israel yang bernama- Zionisme, menghapus Palestina dari peta Dunia?. Biadab. Mestinya, Dulu Hitler membumi Hanguskan saja mereka. Israel tidak punya negara apatahlagi ibu kota. mereka hanya gerembolan pengungsi yang merampok.


Dima Al- Wawi, anak negeri dari Tanah yang di janjikan, di kolong langit Palestina. Usianya 13 Tahun. Sorot matanya kosong melompong, tak ada respon, tak bergeming sedikitpun. Ada isyarat luka nestapa pada matanya.

Tubuh remaja ini memang telah bebas namun jiwanya terpasung bahkan nyaris Mati. Apa yang terjadi padaMu duhai Mujahidah, apa yang di lakukan manusia-manusia biadab di penjara Israel.


**

Dalam sejarah agama, silahkan baca buku monumental Karen Amstrong, "sejarah Tuhan", kita akan dapati bagaimana fenomena kekerasan atas nama agama, memiliki embrio yang sudah teramat jauh kebelakang. Mungkin sudah takdir sejarah, kekerasaan identik dengan Agama-agama "langit". 

Dalam sejarah agama, dikenal dengan "Abrahamic Religion" (Yahudi, Nasrani dan Islam). Agak berbeda dengan perjalanan sejarah agama-agama bumi yang cenderung Soft dan tidak memiliki dorongan Ekspansif. 

Bacalah sejarah Panjang kota Tiga Tuhan Yerusalem, Kristen Abad Pertengahan (Silahkan Tonton Filem : "Season Of the Witch" yang dibintangi Richars Gere atau Filem "The Physyian" dan "Kingdom Of Heaven" yang terkenal itu) dan perjalanan dinasti-dinasti Islam periode awal dan pertengahan. 

Banyak capaian-capaian atas nama : "Ruh agama", tetapi banyak juga darah tergenang atas nama agama. Sehingga kita mengenal berbagai kontradiksi antara Kezaliman dan Kezuhudan. Dalam Islam Tak ada Tokoh yang bisa merepresentasikan kondisi Kontradiktif Ini, selain Al-Hajjaj Bin Yusuf atau Tsaqafi dan Timur Lenk.

Berbagai Literatur sejarah menggambarkan bagaimana Hajjaj, seorang Gubernur Di Baghdad, dibawah Pemerintahan Bani Umayyah, dalam hal ini Khalifah Abdul Malik Bin Marwan, merupakan tokoh yang "menggetarkan" sekaligus "menakutkan". 

Nama Hajjaj identik dengan darah pembunuhan, pembantaian dan seterusnya. Tapi pada sisi lainnya, adalah seorang yang konon menghabiskan malamnya diatas sajadah. Wallahu a'lam.

Hajjaj memiliki sumbangan besar dan sangat signifikan dalam meletakkan baris bacaan Al-Qur'an dan memashsyurkan dinasti Umayyah.

Lalu, tentang Timur Lenk. Namanya adalah Timur Lenk atau Tamerlenk dan ada juga yang menyebutnya Amir Timur. Pendiri Dinasti Timurid. Secara Harfiah, Nama Timur Lenk adalah panggilan sinis para lawannya, karena bermakna Si Timur Pinccang. Ia anak Taragai, kepala suku Barlas, diwilayah Uzbekistan kini. Ayahnya adakah Keturunan Genghis Khan, berbeda dengan Genghis Khan, Timur Lenk secara Resmi memeluk Islam. 

Dalam sejarah tercatat, ia adalah orang yang paling garang menghancurkan pusat-pusat peradaban Islam, Kecuali Samarakand. Ditempat Ini, ia malah membangun kota dengan mendatangkan Batu dari Delhi - India, yang diangkut dengan Gajah. 

Di Aleppo, Syiria, Timur Lenk membangun Piramida dari sekitar 20 ribu kepala manusia. Di Baghdad sebanyak itu pula penduduk yang di bantainnya. Di Armenia, 4000 tentara musuh di kubur hidup-hidup. Masjid Umayyah, di Damskus di hancurkan sehingga tinggal dindingnya saja. Serangan Timur Lenk, benar-benar menghancurkan peradaban Islam. Praktis hanya Mesir yang selamat. Baghadad yang belum pulih akibat serangan Hulaghu Khan, Kini Remuk kembali. Sepak terjangnya menghancurkan masyarakat Islam habis-habisan. Ia bukan mengibarkan Panji Islam, tetapi mengibarkan Panji Timurid, dinasti yang sedang di bangunnya. 

Timur Lenk adalah muslim yang Zuhud pula, kata beberapa sumber sejarah. Kabarnya, ia dekat dengan Tarekat Naqsabandiyah. Dalam kehidupan sehari-hari, ia sangat menghormati para Ulama dan selalu meminta pendapat para ulama dalam melakukan ekspansi. 

Jadi, Jangan Heran, bila ada. Sekali lagi, "bila ada" sesama Muslim saling menghancurkan. Sebagaimana Sesama Kristen pada Abad pertengahan juga saling Menghabisi. Semuanya bukan karena Agama, tetapi karena Ambisi KEKUASAAN.


NB : Sebahagian Referensi : Harold Lamb (1998).

Senin, 09 Oktober 2023

SEKEDAR MEMAHAMI PETA PERLAWAN DAN POLITIK DI PALESTINA


Merebak dimana-mana, bahwa HAMAS adalah bentukan zionis Israel , tujuannya untuk melawan FATAH, agar terjadi perang sesama Islam. Hamas dianggap Sama seperti ISIS yang merupakan bentukan AS - PAMAN SAM. Tapi lama-lama Melawan kepada tuannya.

Hal Ini steatmen Paling bodoh yang pernah saya baca, serius. Maksud saya, kalau engkau Gila. Engkau gila sendiri saja, jangan ajak orang lain untuk ikut menjadi Gila.

Saya beritahukan yah, Yang mendirikan HAMAS adalah Syaikh Ahmad Yassin, yang sejak awal kerap menjadi incaran zionis Israel untuk dibunuh. dalam serangkain percobaan pembunuhan. Tetapi, zionis Israel gagal terus. sekalipun akhirnya terbunuh juga oleh roket Israel.

Jika memang HAMAS adalah bentukan zionis Israel. Mestinya di jelaskan, keterkaitan antara alm. Syaikh Ahmad Yassin dengan Zionis Israel?. Bukan malah menjustikasi tanpa dasar. Apalagi sampai berapi-api.

HAMAS itu muncul di Palestina, Ketika FATAH menerima dialog dengan zionis Israel dan akhirnya memberi pengakuan pada Israel. Jika demikian logikanya, untuk apa zionis Israel membuat faksi yang justru akan melakukan perlawanan kepada dirinya sendiri, disaat FATAH sudah berhasil dijinakkan?. (Di bagian bawah saya ulas).

Saya justru berpikir, bahwa Yang memfitnah HAMAS. Sebenarnya mereka adalah kaki tangan Zionisme. Untuk membendung banyaknya orang yang berpihak kepada HAMAS. Karena, Zionis kini semakin terdesak, dan HAMAS semakin maju dalam persenjataan. Akibatnya, Zionis dan kaki tangannya menebar fitnah, bahwa HAMAS adalah buatan Israel Bin Amerika Bin Inggris.

Bukalah mata selebar dunia, untuk melihat fakta bahwa HAMAS- lah, yang paling keras perjuangannya dan perlawanannya terhadap penjajahan Zionis Israel. Sekalipun, Selain HAMAS, ada juga kelompok perlawanan, yang berhaluan Komunisme, yang bernama PFLP. (Saya akan ulas secuil di bagian lain).

Disaat dan kondisi genting, bahkan Ratusan darah manusia tak berdosa telah jatuh membumi di Palestina. kehadiran pahlawan memang penting. Itulah sebabnya, saat melihat kiriman video dan foto hoax presiden Turki (Erdogan) mengirim pasukan militernya ke Palestina, langsung dipercaya mentah-mentah. Hehehe...bahkan mereka mengElu-elukan Erdogan bak pahlawan dunia Islam. Tapi ternyata, Erdogan tidak sepenuhnya benar-benar ingin membantu Palestina.

Beberapa ulama-ulama yang dulu, dengan mulut berbusa-busa mengeluarkan fatwa dan menggerakkan milisi-milisi jihadis ke Suriah, akan melakukan hal serupa untuk berjihad ke Palestina, ternyata masih bungkam sampai sekarang.

Tersisa HAMAS yang menjadi garda perlawanan Masyarakat sipil di Palestina. ehhh, tetiba ada Masyaikh dan ustad yang bilang, HAMAS itu bentukan Amerika dan Zionis, yang di danai Iran dan beraqidah rafidah untuk menimbulkan fitnah di Palestina.

Maaf, saya Harus katakan bahwa Masyaikh dan Ustad tersebut adalah Gila, Urat Sarafnya Sudah putus dan lebih tepatnya di Rawat di Rumah sakit Jiwa.


**

Bang Ulil Abshar Abdhallah (Ketua JIL) mendaku Dalam Islam borjuis dan Islam Proletart, "ada kekacauan yang menggejala dalam nalar kelompok islam tertentu. mereka memperlakukan teori-teori barat seperti ketika mereka taklid pada fiqih-fiqih klasik".

Bayangkan Saat ummat Islam seantero dunia dongkol dan berbelasungkawa atas upaya Israel menganeksasi wilayah al-Quds dan mempersekusi warga palestina yang merupakan warga asli. Bahkan negara memutuskan hubungan diplomatik. ada ulama (kiyai) salah satu ormas terbesar Indnesia, justru ke Israel.

Kiayi begini ini sombongnya di luar batas. negara saja kewalahan sampai memutus hubungan diplomatik. kiayai ini malah sesumbar dan merasa lebih kuat dari negara.

Apa lacur. so, Kiayai ini tetap nekat ke israel. Seolah mengamini praktek dehumanisasi dan kolonialisme yang di lakukan ziononis israel. mungkin nalar kemanusiaannya sudah putus dan empatinya pindah ke lutut.

Ingat hal itu, tidak saja melukai Razam al-Najjar, seorang perawat yang mengabdikan hidupnya untuk kemanusiaan sampai meregang nyawa. Tetapi, semua manusia yang menginginkan kemerdekaan palestina.

Kiayai ini mau beyond the mainstream. Tetapi, salah piccah. Entahlah kiayai ini terlalu pintar, atau apa?.

Memang, parameter keberhasilan Rosulullah saw di Yastrib ialah menyatukan suku-suku di Yastrib dengan ajaran Tauhid nenek moyangnya, yakni Ibrahim sebagai perekat, mahkota kepemimpinan ada di tangan Rosul. Ada 3 suku Yahudi di Yastrib, jauh sebelum kedatangan Rosul, yaitu; Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan yang lebih kecil lagi yaitu Bani Qainuqa. 

Orang-orang yahudi mempertahankan identitas agama mereka, tetapi selebihnya nyaris sama dengan tetangga mereka. Mereka menamai anak-anak mereka dengan nama Arab, bukan Ibrani, berpakaiam seperti orang arab, berkonvensi sistem kesukuaan dan kerap lebih kasar dan jahat. Kelompok lain yang datang belakangan ini ke Yasyrib dari Arabia selatan adalah Bani Qailah. Mereka memecah menjadi dua suku: Auz dan Khazraj. Meski awalnya mereka adalah kelompok lemah, mereka terus bertumbuh dan akhirnya mendominasi Yastrib.

Namun, Di bulan syawal tahun 627 M. Terjadi pertempuran khandaq. jika di urut peristiwa tersebut. Maka, hal ini merupakan akumulasi kekecewaan yahudi akibat di usir oleh Rosulullah SAW karena berkhianat.

Jumlah pasukan, gabungan kafir 10000 banding 3000 pasukan kaum muslim, atas usulan Salman Al Farizi dari persi (Iran). di buatlah parit dari arah selatan Madinah, kurang lebih 1 bulan pengepungan dan mereka kalah.

Dalam pertempuran khandaq ini terjadi (lagi) penghianatan dari dalam Pasukan Rosulullah SAW, oleh salah satu suku yahudi (Bani Qurayzhah). padahal sudah ada kesepakatan dengan Rosulullah SAW sebelumnya, untuk mempertahankan kota madinah bersama-sama.

Artinya, jika ada kiyai yang sok pahlawan dan seolah-olah mengirimkan pesan perdamaiaan pada bangsa yahudi. Itu hanya omong kosong. sebab, berkhianat adalah identitas mereka. yahudi itu bangsa hipokrit dari dahulu saja.

Satu hal lagi, kemenangan pasukan muslim di perang khandaq itu atas usulan Salman Al-Farizi untuk membuat parit. Itulah sebabnya, sampai detik ini. Saya masih percaya, bahwa yang bisa mengalahkan bangsa yahudi di masa yang akan datang adalah Iran. semoga kita di beri umur yang panjang untuk menyaksikan keruntuhannya.

Jika ada Ulama atau pemuka agama yang memproduksi fatwa demi melanggengkan kuasa. Itu seumpama khawarij. Dulu, khawarij juga begitu, Tuhan di bawa-bawa untuk memperkuat sikap politiknya. Apalagi Muawiyah, Tuhan di jadikan Bamper Untuk memperkuat sikapnya yang dzolim pada Rakyatnya sendiri. Syukurnya Al-Kindi sadar, kalau itu adalah Tipu daya untuk melegalkan perbuatannya yang kotor. Jadi, tidak usah terlalu heran, kalau ada mental ulama dan pemuka agama yang hipokrit. Dari zaman dulu memang sudah begitu. Yang terpenting ialah Tidak perlu korbankan ukhuwah, marah-marahan, apalagi sampai baper-baperan. Seperti yang paling beriman melebihi Tuhan yang mengimani dirinya sendiri.

**

Ada dua faksi yang paling berpengaruh di Palestina. Yang pertama adalah FATAH (Gerakan Nasional Pembebasan Palestina) dan HAMAS (Gerakan Perlawanan Islam). Dua faksi ini memiliki ideologi yang berbeda. FATAH berideologi nasionalis sekuler, sedangkan HAMAS berideologi Islam. FATAH mendukung ide dua negara, HAMAS bersikeras Israel harus dibubarkan. (Di kesempatan yang Lain, kita akan ulaskan secuil soal kelompok perlawanan lain di Palestina yang berhaluan Marxisme-leninisme, yaitu PFLP).

Di era Yasser Arafat, berkat pengaruhnya, kedua faksi berbeda haluan ini bisa disatukan. Setidaknya, perseteruan keduanya bisa diminimalisir. Namun begitu Yasser Arafat wafat, kongsi kedua faksi ini pecah.

Pada pemilihan legislatif tahun 2006, secara mengejutkan, HAMAS memenangkan pemilu secara mutlak, sehingga "Ismail Haniyah" sebagai ketua biro politik HAMAS yang diangkat menjadi Perdana Menteri. Kemenangan HAMAS menunjukkan bahwa rakyat Palestina mendukung perjuangan HAMAS, termasuk menolak eksistensi Israel.

kemenangan HAMAS, Bagi Paman sam dan negara-negara Barat, merupakan kabar buruk bagi rencana perdamaian Palestina-Israel. HAMAS menolak mengakui Israel tanpa syarat. Karena itu, diprovokasilah FATAH untuk menolak hasil pemilu. Meski secara de facto "Ismail Haniyah" adalah PM Palestina, namun tidak pernah bisa menjalankan tugas politiknya dengan normal. Sebab, penolakan FATAH atas kemenangan HAMAS membuat kedua faksi ini bersiteru, bahkan saling adu senjata. Perang saudara dengan saling mengokang senjata dari kedua faksi ini tidak bisa dihindari. Puncaknya, tahun 2007, Mahmud Abbas selaku presiden Palestina memecat Ismail Haniyah termasuk sejumlah tokoh HAMAS dari kabinet. Rakyat Jalur Gaza yang mendukung HAMAS menolak pemecatan tersebut, dan tetap mengakui Ismail Haniyah sebagai perdana menteri.

Pemerintahan Palestina pun terbagi dua. Tepi Barat dikuasai FATAH, dan Jalur Gaza dikuasai HAMAS. karena HAMAS menolak berdamai dengan Israel dan tidak mengakui Israel sebagai negara, HAMAS pun disebut sebagai organisasi teroris dan blokade terhadap Jalur Gaza pun dimulai.

Jalur Gaza menjadi penjara terbesar di dunia, dengan dua juta lebih 'tahanan'. Akibat blokade oleh Israel, Jalur Gaza disebut oleh PBB sebagai wilayah tidak layak huni. Semua serba kekurangan, baik pangan maupun akses air bersih.

Ternyata, nasib Tepi Barat di bawah FATAH yang mengakui Israel, tidak lebih menyenangkan. Israel memanfaatkan kelemahan FATAH dengan terus melakukan pencaplokan (aneksasi) terhadap bagian-bagian Tepi Barat. Termasuk ambisi menguasai sepenuhnya Yerusalem untuk dijadikan ibukota. Sampai tahun 2017, 237 pemukiman telah didirikan Israel di Tepi Barat dengan menampung sekitar 580.000 pemukim.

Sadar saling tikam hanya membuat Palestina makin lemah, dan memberikan keuntungan pada Israel, Fatah mengajukan rekonsiliasi ke HAMAS. Keduanya sepakat bersatu, dan mengadakan pemilu pada 22 Mei 2021. Kesepakatan yang membuat AS dan Israel merinding. Keduanya khawatir HAMAS memenangkan pemilu, atau minimal, FATAH menghentikan upaya diplomasi dan memilih mengikuti arus perlawanan HAMAS.

FATAH sadar, menempuh jalur diplomasi dan memilih melunak hanya membuat Israel menjadi-jadi dan tidak memberi keuntungan apa-apa bagi rakyat Palestina. Solusinya, persatuan dan membangun pemerintahan bersama.

Situasi panas saat ini di Tepi Barat dan Jalur Gaza, terkait dengan upaya Israel menghambat dan menghalangi pelaksanaan pemilu yang tinggal beberapa lagi. Sayangnya, di Indonesia, menyikapi situasi terkini di Palestina, melebar kemana-mana. Tidak sedikit yang malah membela Israel dengan membangun narasi berbasis teologi, bahwa Palestina adalah wilayah yang dijanjikan Tuhan untuk orang-orang Yahudi.

Ada juga yang membuat isu, tindakan HAMAS melancarkan serangan roket bahkan sampai menyasar Tel Aviv adalah tindakan sepihak HAMAS yang tidak merepresentasikan sikap rakyat Palestina. Mereka malah membenarkan HAMAS adalah organisasi teroris yang sejak awal tidak pernah didukung rakyat Palestina. Kalau tidak didukung rakyat Palestina, mengapa HAMAS bisa menang mutlak di pemilu 2006, dan mengapa AS dan Israel menolak pemilu tahun ini diadakan, jika menyertakan HAMAS?. Kekhawatiran AS dan Israel, pada HAMAS bakal menang pemilu itu berbasis data. Bahwa dukungan rakyat Palestina pada HAMAS dan faksi-faksi perlawanan lainnya makin menguat.

Ada juga yang menyebut, serangan Israel ke Jalur Gaza, hanya bentuk pembelaan diri. Rakyat Palestinanya sendiri yang memprovokasi. Penyerangan ke Masjid Al-Aqsa pun dimaklumi dengan alasan, provokatornya yang lari ke dalam masjid.

Tolong perbanyaklah literasi. Kejadian hari ini di Palestina bukan serba tiba-tiba, semuanya adalah akumulasi hari-hari bahkan tahun-tahun sebelumnya sampai puluhan tahun lalu yang dimulai dari berdatangannya orang-orang yang tidak jelas identitasnya ke tanah Palestina dan membangun koloni-koloni dengan lebih dulu melakukan perampasan tanah, genosida dan penjajahan.

Membangun negara baru di atas perampasan, pembunuhan massal dan pengusiran adalah kejahatan kemanusiaan. Tidak ada dalil teologis satupun yang membenarkan. Apapun agamanya. Tidak harus jadi muslim untuk membela rakyat Palestina. Jangan bertindak bodoh, ketika di Palestina mau bersatu dan makin sadar pentingnya persatuan dalam menghadapi musuh, kita di Indonesia malah baku hantan narasi, yang akarnya adalah kebodohan.

orang yang menganggap HAMAS adalah teroris hanya melihat dari satu sisi saja. Tidak melihat secara utuh peta politik di dalamnya. Padahal, disadari atau tidak. Tidak ada kekuatan yang lebih dahsyat untuk membuat Palestina mencapai kemerdekaannya, kecuali persatuan. Di internal Palestina adalah persatuan FATAH dan HAMAS. Di eksternal Palestina, adalah persatuan ummat Islam, khususnya persatuan Sunni-Syiah. Mari dukung rekonsiliasi Fatah-HAMAS. dan pelaksanaan pemilu Palestina.

Sebagaimana yang saya sampaikan diatas, saya tekankan kembali bahwa FATAH dan HAMAS adalah dua faksi politik di Palestina yang paling berpengaruh. FATAH menguasai Tepi Barat, sedangkan HAMAS memiliki kontrol atas Jalur Gaza. Sudah lama keduanya berseteru, bahkan saling tangkap dan bunuh satu sama lain. Adu tikam yang tidak menguntungkan sama sekali bagi Palestina. Dibalik perpecahan dua faksi paling berpengaruh di Palestina ini, ada Israel yang diuntungkan. 

Upaya rekonsiliasi sudah sering dilakukan. Selalu gagal karena dihalang-halangi Israel. Namun, karena merasa ditikam bangsa-bangsa Arab, yang mulai membangun normalisasi dengan Israel. Keduanya sadar. Tidak ada yang bisa menyelamatkan Palestina kecuali mereka sendiri.

FATAH dan HAMAS memilih rekonsiliasi dan sepakat akan mengadakan pemilu pada 22 Mei 2021. Pemilu yang akan membuat Palestina lebih punya harapan. Sudah 15 tahun sejak 2006 tidak pernah ada pemilu di Palestina. 

Caranya?. apa yang terjadi saat ini di Palestina, baik di Tepi Barat maupun di Jalur Gaza adalah upaya Israel menggagalkan rencana pelaksanaan pemilu yang tinggal sepekan lagi. Kalau situasi kacau dan tidak kondusif. pemilu pasti tidak jadi.  Pimpinan FATAH sudah memastikan dibalik kegagalan Pemilu ada Israel dibaliknya. 

Di Indonesia, analisa yang ada malah kemana-mana. Disaat Fatah dan HAMAS ingin bersatu, di Indonesia malah gontok-gontokan, antara Palestina tetap perlu didukung atau tidak.


**

Mengapa Palestian susah merdeka?. 

Salah satu sebabnya adalah Kepentingan yang berbeda. Dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina, rakyat Palestina tergabung dalam organisasi yang disebut dengan PLO. Mereka kompak sekali. Tetapi ketika terjadi kesepakatan damai dengan Israel pada tahun 1994 di Oslo, dimana PLO mendapatkan wilayah otonomi khusus di Tepi Barat. terjadilah perpecahan di dalam tubuh PLO. Barisan terbelah dua. Satu Faksi Fatah dan Satu lagi Faksi HAMAS. Faksi Fatah mendukung kesepakatan Oslo dan Hamas menolak. 

" Kenapa HAMAS menolak ?". Karena HAMAS tidak mengakui israel sebagai negara. Kalau ada kesepakatan dengan Israel itu artinya mengakui Israel sebagai negara. 

Lantas. keadaan semakin menjadi kacau. Karena masing-masing mengaku sebagai wakil rakyat Palestina. Nah, untuk memastikan siapa yang betul-betul mewakili rakyat Palestina di Tepi Barat, maka diadakan Pemilu. Akibatnya terbelah lagi dua faksi itu menjadi 13 Partai termasuk didalamnya ada Partai Komunis Palestina. Dalam Pemilu di Tepi Barat, Faksi Fatah mendominasi. Faksi Hamas kalah.

HAMAS mendekati rakyat Palestina lewat program sosial, di Jalur Gaza yang dikuasai Israel. Tahun 2005 Israel keluar dari Jalur Gaza, dan dalam proses politik menentukan siapa yang akan memimpin maka tahun 2006 diadakan Pemilu lagi di Jalur Gaza. Hasilnya yang menang adalah Hamas. Tahun 2007 HAMAS merebut kekuasaan dari pasukan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Hal Ini disikapi oleh Israel dengan meblokade Jalur Gaza.

Artinya, di Palestina itu ada dua wilayah yang dikuasai oleh dua faksi. Yang keduanya punya agenda berbeda. Bagaimana mau merdeka kalau diantara dua faksi besar di palestina saja tidak bersatu.

Hal ini mirip, saat waktu kita mau merdeka. Kelompok Islam dan Komunis menolak berunding dengan Belanda. Kelompok Nasionalis dan sosialis memilih jalan perundingan dengan Belanda. Tetapi kita punya Soekarno yang bisa mempersatukan semua golongan.

Sebenarnya, solusinya telah ada, setelah perang Arab-israel tahun 1967 sudah ada solusi yaitu two-state solution. Artinya Israel dan Palestina bisa berdiri sebagai negara berdaulat dan saling berdampingan. Setiap orang yang ada di Israel dan Palestina bebas memilih salah satu negara itu. Dengan demikian, Palestina mengakui keberadaan Israel dan Israel mengakui Palestina sebaga negara berdaulat. 

Tetapi, masalah baru muncul, yaitu Israel menganggap Yerusalem sebagai ibukotanya. Sementara, Secara international hal itu tidak bisa dianggap wilayah Israel karena wilayah Yarusalem timur dicaplok Israel dalam perang 1967. Harusnya Israel keluar dari seluruh wilayah yang dia caplok dalam perang 1967. Tapi, PAMAN SAM justru memindahkan kedutaannya ke Yerusalem dan mengakui wilayah itu sebagai milik Israel. Padahal bagi Palestina, Yarusalem itu ibukota masa depan mereka. OKI juga mendukung Ibukota Palestina adalah Yarusalem.

" Kenapa saling ngotot inginkan Yarusalem?".

Yerusalem adalah simbol politik atas dasar keagamaan yang bisa mempersatukan etnis Yahudi atau Arab Palestina. Maksudnya Wilayah Yarusalem ada dibagian timur, di dalamnya ada Kota Lama Yerusalem dan sebagian tempat-tempat suci agama Yahudi, kristen, dan Islam. seperti Bukit Bait, Tembok Barat, Masjid Al-Aqsa, dan Gereja Makam Kudus. Artinya, siapa yang bisa menguasai Yarusalem maka dia akan bisa mempersatukan etnisnya. Nah, mayoritas penduduk di Yarusalem timur adalah orang Arab.

" Sikap Indonesia bagaimana?".

kita (Indonesia) mengikuti OKI yaitu two state solution. Mendorong terbentuknya negara Palestina berdaulat dan mengakui israel sebagai negara. Tapi selagi Israel tidak mau memberikan kemerdekan kepada Palestina, Indonesia tidak akan mengakui Israel sebagai Negara. Sederhana saja.

Artinya, Penolakan Hamas terhadap perjanjian damai tersebut, karena Israel perlahan mencaplok wilayah Tepi Barat, melanggar perjanjian hukum. Itulah sebabnya, Agak sulit menemukan titik temu, jika asumsi kita menggunakan Klaim secara historis dan teologis, untuk menyelesaikan konflik palestina-Israel. 5 hari saya baca beberapa sumber, saya saja pusing . Saking panjangnya Sejarah Tanah Yang Di Janjikan ini. 

Di situ juga saya berasumsi, selain perintah Allah, Rosulullah memang Manusia yang sangat Jenius, karena memiliki Daya analisis yang tinggi. Sebab, tidak bisa di bayangkan jika Kiblat Ummat Islam tidak di pindahkan, ke Mekkah. 

Saya pengikut dan pecinta Rosulullah SAW. Silakan yahudi atau zionis mengklaim kepemilikian atau pewaris tunggal atas Yerusalem. Tetapi, jangan basahi tangan dengan darah orang-orang palestina yang tidak berdosa.

Apakah Di era yang serba gegas, dengan kemajuan teknologi super Canggih seperti sekarang ini. untuk membuat negara khusus Yahudi, sampai harus ada 7 juta lebih orang yang kehilangan tempat tinggal dan menjadi pengungsi tanpa memiliki status kewarganegaraan yang Jelas?. harus terjadi genosida terlebih dahulu. 

Kami membela dan memperjuangankan nilai-nilai kemanusiaan yang diinjak-injak di palestina yang berkedok hak klaim atas alquds. 

Terakhir, Semasa berjuang bersama PLO, sang legenda Palestina, Yasser Arafat pernah berkata : "ada dua figur dari dua negara yang menopang penuh perjuangan kami. Pertama, Iran melalui Ayatullah Khomeini dan yang kedua, Hafeez Al-Assad yang menjadikan negaranya - Syiria sebagai negara kedua bagi rakyat kami !".

Sekarang Erdogan di Elu-elukan sebagai representasi kepemimpinan kerajaan Ottoman, yang gagah berani. Agar, tidak di persepsikan sedang bermain dramaturgi, Beranikah Erdogan memutuskan hubungan kerjasama di hampir semua sektor dengan Israel?. (Di Bahagian lain Saya Bahas).

Jika tidak berani, berhentilah memframe keheroikan mengutuk serangan Israel pada Al-Quds di media mainstream, yang menunjukkan seolah-olah hebat. 

Indonesia, dulu kita punya Pemimpin yang benar-benar serius membicarakan Palestina, yaitu Soekarno. Selebihnya, hanya mengulang siklus. Apalagi negara-negara Muslim yang Punya uang. Yang di pimpin para sultan-sultan itu. Tidak usah di harap, karena di otak mereka, hanya ada uang dan langgengnya kekuasaan. 

Arab Saudi Misalnya, Dulu ia punya pemimpin Zuhud, tetapi naas nyawanya habis di ujung pelor. Namanya adalah Raja Faisal. Setelah itu, pemimpinnya, hanya anak Inggris dan Amerika, bersaudara dengan Israel. 

Padahal dengan modal cuan, negara-negara kaya di teluk punya posisi tawar untuk mengkonsolidasikan negara-negara Islam, untuk bersatu. Sebagaimana dulu pernah di gaungkan Moammar Qaddafi. Tapi, gagal. Akibatnya Sang Jendral Flombayan itu di bunuh. 

Negara-negara kaya Di teluk adalah negeri penakut. mereka takut sama Tuan mereka Yang bernama Amerika, CS. 

Ayahtullah di Iran, telah memerintahkan Garda Pasukan Revolusinya untuk siap siaga. Hamas sudah mengancam akan melakukan serangan yang lebih besar, jika Tentara zionis enggan meninggalkan Al-Quds. Sayap jidahis Fatah yang selama ini diam sudah turun, menyambut seruan Jihad Hamas. 

Kita tunggu, Mesir dan Yordania membuka pintu perbatasan untuk bantuan logistik dan kesehatan. Kalau az-sisi berani?. Jangan sampai ia juga berpihak pada Israel. 

Salamku Sama king Saud, King UEA dan As - sisi di Mesir, Erdogan, serta negara-negara kaya di teluk. Jika mereka diam membatu, Suruh ganti saja pakaiannya dgn kain Kafan. 

Wallahu a'lam bish shawab.


NB : Referensi : (1). SEBAHAGIAN DI DAUR DARI PENELITIAN SOSIOLOGI POLITIK, DOSEN SOSIOLOGI POLITIK UIN PADANG. (2). DARI ARTIKEL KOMPASIANA, TEMPO DAN BERBAGAI SUMBER BACAAN LAINNYA.


*LONG LIVE PALESTINA🇵🇸
*PALESTINA MERDEKA
*HAMAS - FATAH REKONSILIASI
*PEJALAN SUNYI
*NALAR PINGGIRAN

ERDOGAN DAN SIKAP POLITIKNYA PADA ISRAEL


"Kenapa Erdogan seperti marah sekali pada Israel. Di sisi lain, justru kerjasama ekonomi antar negara mereka mesra, termasuk dengan China dan Rusia. Harusnya, kalau marah, harus keras dong. Putuskan semuanya. Tidak ada kerjasama sama sekali ?".

Hal Itu menandakan bahwa Erdogan cerdas. Marahnya proposrsional. Ketaksukaannya pun, di bidang tertentu.

"Mengapa, begitu ?"

Mari kita diskusikan tentang hal-hal aneh namun menjadi sebuah keniscayaan dalam relasi politik.

Keheranan terhadap tingkah laku politik figur yang di idolakannya, figur yang selalu dibela-dipujinya setinggi langit. Hampir setiap hari, kita selalu bergairah bercerita dan memperlihatkan empati pada Palestina. Sesuatu yang lumrah. Isu Palestina menjadi magnitude fenomenal tersendiri, apalagi bila di afirmasi dengan isu agama (Islam). Beranda pesbuk dan medsos lainnya dipenuhi dengan foto-foto berkaitan dengan simbolisme perjuangan rakyat Palestina.

Membuatnya marah, teramat mudah. Pujilah Israel atau apresiasilah orang-orang Yahudi, maka reaksinya bisa diketahui, marah. Kita tidak mau mengambil pusing bahwa Mark Zuckenberg si penemu facebook (media sosmed yang amat kita gandrungi itu) adalah orang Yahudi 24 karat, bulat tak ada sumbingnya.

Bagi sebagian kita, Yahudi dan Israel adalah musuh utama. Sebahagian kita ini tidak tahu, bahwa Yahudi sebagai "abrahamic religion", Israel sebagai entitas negara dan Zionisme sebagai sebuah ideologi, pada dasarnya memiliki perbedaan.

Tapi sudahlah, benci dan cinta itu, walau memiliki kutub yang berseberangan. tapi selalu dilandasi oleh satu persamaan, "BUTA", Seumpama kata seorang filosof yang dikutip oleh bintang film India kawakan, Amitab Bachan, bahwa "ada makhluk yang tidak bisa melihat disiang hari, ada pula yang tak bisa melihat di malam hari. tapi, bagi mereka yang memiliki kadar kebencian tinggi, mereka ini tidak mampu melihat secara jelas baik di siang hari maupun di malam hari".

Bahkan Picture Profile pesbuknya tersebut cenderung tidak variatif, dari dulu hingga kini, hanya terlihat (selalu) gambar bendera Palestina. Sesekali berubah dengan gambar kafiyeh – simbol heroik intifadhah. Secara berseloroh saya pernah bertanya pada beberapa kawan, "mengapa antum jauh lebih menghormati bendera orang lain dibandingkan dengan bendera kita". Ia menatap saya sambil berkata, "persaudaraan sesama muslim diatas segala-galanya. Apalagi persaudaraan itu dilandasi oleh epos - etos - spritual". Jawabannya kualitas "pertamax".

Sebagaimana lazimnya, saya ini tidak ingin mendebatnya. Kalau saya berdebat, tidak akan pernah selesai. Dari sudut pandangnya, ia benar. Ya, dari sudut pandangnya. Walau menurutku, pendapatnya itu butuh elaborasi lebih lanjut, karena banyak variabel yang harus dipertimbangkan, khususnya yang berkaitan dengan variabel historis, kultural maupun geo-politik.

Lalu, Kawan saya ini bertanya pada saya, "Betulkah Erdogan pernah mengeluarkan pernyataan bahwa Israel dan Rusia adalah kawan Turki?". Erdogan – tepatnya : Recep Toyyib Erdogan – Presiden Turki dari Partai Refah itu merupakan salah satu figur idolanya. Ia begitu bangga dengan murid pendiri Partai Refah Turki – Necmettin Erbakan tersebut. Langgam politik Erdogan selalu diikutinya dari waktu ke waktu dengan penuh kebanggaan, kegairahan dan antusiasme penuh gelora. Kebanggaannya semakin bertambah ketika garis politik Erdogan menurutnya sangat jelas, anti Israel dan pro-Palestina.

Pernah saya pancing, bukankah garis politik yang paling jelas di kawasan Timur Tengah bila dikaitkan dengan eksistensi negara Palestina justru berasal dari Republik Islam Iran. Ada konsistensi yang militan dari negara Iran ini ketika dihubungkan dengan perjuangan rakyat Palestina. 

Tetapi entah mengapa, kawan saya ini, tidak mengakui konsistensi dukungan negara Iran tersebut. "Dukungan mereka semu pada Palestina, mereka sedang ber-taqqiyah, karena mereka Syi’ah. Beda dengan Erdogan", katanya suatu ketika.

Ia tidak menyinggung sama sekali tentang dukungan Arab Saudi dan negara-negara kaya minyak teluk lainnya. Mungkin dalam hati ia bertanya, "mengapa Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan yang negara-negara teluk lainnya berkawan dengan Israel dan Amerika Serikat ?". Tapi mungkin sebatas tanya dan keheranan saja.

Saya tahu, ia merasa heran dan berusaha mencari pembenaran yang justru pembenarannya terkesan semu pula. Sehingga tidak jarang ia akan berusaha keras untuk mengalihkan diskusi, bila topik ini saya tawarkan. Lalu, ketika Erdogan yang di diskusikan, maka kegairahannya begitu tampak nyata.

Setiap berita tentang Erdogan diikutinya terus. Ia begitu bahagia ketika akhir tahun 2015 yang lalu, Erdogan menang dalam Pemilu Turki. "Bukti bahwa padanya harapan untuk melawan Israel mendapat restu dari Tuhan", demikian yang ditulisnya dalam status pesbuknya. Ia marah pada Bashar al-Assad, karena menganggap Presiden Suriah ini tidak ramah pada Erdogan. Baginya berseberangan dengan Erdogan, berarti tidak pro-Palestina. 

Kadang-kadang saya merasa lucu juga. Kawan saya ini tampaknya kurang "piknik" atau "Kurang ngopi". Ia tidak tahu bahwa Suriah justru menjadi "second-home" (rumah kedua) bagi rakyat Palestina. Saya pernah menyuruhnya membaca ulang sejarah, tentang Suriah yang menjadi "rumah kedua" bagi Palestina, sejak masa ayah Bashar al-Assad, Yaitu Hafeez al-Assad. Sesuatu yang tidak pernah di lakukan oleh Turki.

Demikian pula ketika Vladimir Putin mengancam Turki akibat ditembaknya pesawat Rusia di perbatasan Turki - Suriah oleh tentara Turki. Putin dianggapnya setan, komunis tidak berTuhan dan seterusnya. Lalu ketika Erdogan bertaut kelingking dengan Putin, kawan saya ini "membisu".

Harapan ideologisnya begitu besar pada Erdogan. Lalu, ketika beberapa media internasional maupun nasional mulai memberitakan kemesraan Turki dengan Amerika Serikat kemudian dengan NATO dan terakhir dengan Israel serta Rusia, kawan saya ini mulai resah dan kebingungan 😂.

"Berita hoax, konspiratif dan pembentukan opini terstruktur - sistematik - massif", katanya selalu pada saya. Seperti sturuktur kalimat waktu Pilpres kita yang lalu - lalu. Hehehe..

Saya hanya katakan untuk terus mengikuti perkembangan berita-berita politik dunia dari berbagai sumber secara komparatif. Bila terdapat sebuah konsistensi berita, maka dipastikan berita tersebut mendekati kebenaran. 

Puncaknya, beberapa waktu lalu, ia mengirimkan link ke inbox pesbuk saya tentang berita di CNN. News serta di detik.com/international yang memberitakan ucapan resmi Erdogan tentang "Turki harus berkawan dengan Israel dan membuka hubungan diplomatik yang dekat dengan Rusia".

Walaupun masih menyisakan sedikit harapan buat Erdogan, tetapi kawan saya ini tetap Bertanya, "mengapa Erdogan seperti itu. Bagaimana pendapat antum ?".

Yah biasa lah. Erdogan itu kan POLITISI. Kompromi pasti dilakukan. "Who get what how and when", pasti menjadi bahan pertimbangannya. Kita saja yang tidak menganggap Erdogan itu politisi.

[ diskusi tidak berbalas ]

Saya tidak mau berpanjang-panjang berdiskusi dengan kawan ini. Saya hanya berharap, ia harus menerima realitas umum dalam relasi politik bahwa yang bisa menyatukan dan memisahkan seseorang ataupun ideologi atau kelompok adalah kepentingan. 

Coba kita lihat, bagaimana sebuah Partai ANU di Republik ini, sebagai contoh sederhana saja, selalu berseberangan dengan Partai ANI. Baginya Partai ANU tidak memiliki platform - visi dan misi yang sama dengan Partainya, sehingga apapun yang dikerjakan oleh Partai ANU pasti ditanggapi berbeda oleh Partai ANI. Bila Partai ANU melancarkan program yang menurut banyak pihak cukup bagus, pentolan partai ANI akan justru sebaliknya. Pokoknya, publik akan melihat bahwa Partai ANU tidak akan bisa disandingkan dengan Partai ANI. Tapi lihatlah, justru di daerah-daerah, Partai ANU  banyak berpasangan dengan pentolan Partai ANI. Kelingking mereka bertaut. Mereka mengklaim visi misi mereka bak kembar identik. Padahal visi mereka itu ibarat berbeda.

Heran, kan ?.

Kelingking mereka bertaut karena ada "penautnya", kepentingan yang sama. Kebahagiaan yang sama. Harapan yang sama, bahkan mimpi yang sama. Kepentingan, kebahagiaan dan harapan serta mimpi tersebut namanya KEKUASAAN. Jangan heran, bila ada Partai yang platformnya secara kasat mata memiliki kemiripan atau kesamaan identik, katakanlah partainya bernama Partai NOAH, Partai HOAH, Partai HAON, Partai ONAH dan ANOH – justru tersusun dari 4 huruf, tapi atas nama kepentingan, mereka justru berada di dua bahkan tiga kutub yang berbeda, tergantung kepentigan mana yang membuat mereka bisa saling bertaut kelingking.

Demikianlah sunnatullahnya, Jangan heran. Teruslah belajar. 

Kembali ke Erdogan. Kawan saya ini harusnya tidak heran dan kehilangan harapan. Tidak heran, karena Erdogan itu adalah politisi. Sebab, politik itu semacam seni mengatur ritme agar kepentingan tetap  terjaga.  Kemampuan memanfaatkan isu yang kemudian dikapitalisasi menjadi keuntungan. Ketika Erdogan pada bulan Muharram tahun yang lalu berbaur dengan warga Syi’ah Turki mengikuti Peringatan Asyura, mungkin banyak yang heran, terutama mereka yang selama ini menganggap Erdogan sebagai representasi Sunni. 

Bagi saya, sebagai politisi dan pemimpin, Erdogan tidak salah. Beliau sedang melakukan kapitalisasi politik, menaikkan tingkat elektabilitasnya di kalangan minoritas (baca : kelompok Syi’ah di Turki), karena moment tersebut berdekatan dengan Pemilu di Turki. Sebagai seorang pemimpin, Erdogan ingin memberikan pesan bahwa ia ingin dicitrakan sebagai pemimpin yang mengayomi semua kalangan, pemimpin tipikal inklusif. Ia santai-santai saja, lihat di youtube, bagaimana ia berpidato dan mengikuti ritme gerak peringatan Asyura. Para pemujanya saja yang terheran-heran. Lalu mencari pembenaran yang justru semakin dicari semakin membingungkan. Membingungkan mereka, bukan membingungkan para pembaca. Termasuk kawan saya tersebut. 

Karena itu, janganlah kita terlalu fanatik terhadap seorang figur (politisi). Biarpun mereka dicitrakan sebagai "malaikat" ataupun "juru selamat" (imam Mahdi). 

Sekali mereka "bermain" dalam ranah politik, maka seluruh potensi yang mereka miliki, termasuk isu agama, akan dikapitalisasi untuk tujuan "luhur" politik mereka. Sejarah membuktikan hal ini. Sebutlah, siapapun saja yang pernah kita baca biografinya. Mulai dari kalangan agamawan, sosialis tulen, sosialis "malu-malu", liberalis atau entah apapunlah ideologi mereka, pada akhirnya akan kita lihat, langgam politik mereka berada dalam koridor yang sama, (saya ulangi lagi), "who get what how and when", kata Harold Laswell.  

Keuntungan dan eksistensilah yang sentiasa membuat politisi melakukan berbagai "manuver" yang terkadang membuat kita heran, marah, kecewa, ketawa hingga marah bergejolak. Apa yang dilakukan Erdogan, semata-mata bukan atas nama ideologi. Erdogan sedang terjepit. Isu ISIS dan kegagalan kudeta serta Gullenisme yang dianggapnya masih ada,  tidak menguntungkan masa depan politiknya. Persahabatannya dengan Arab Saudi tidak membuatnya merasa nyaman. Akhirnya, Erdogan harus melakukan sesuatu yang selama ini dianggap musykil, "memproklamirkan" dirinya bersahabat dengan Israel dan Rusia. Erdogan sedang melakukan proses - "keseimbangan". Dalam bahasa kaum struktural fungsional - "equilibrium" bagi rezimnya.  

Jangan kita salah sangka Seakan-akan saya tidak suka pada Erdogan. Sebelum engkau mengatakan kekagumanmu pada Erdogan tersebut, saya justru sudah kagum, sejak dulu. Saat membaca Artikel kemenangan Necmettin Erbakan di pemilu 1999 di Turki, nama Erbakan, Gulllen dan Abdullah Gull sudah mulai saya baca "sedikit-sedikit". Saya kagum pada mereka. 

Tetapi tidak berlebihan. Biasa saja. Maklum framming yang saya gunakan ; mereka adalah Politisi. Mengapa?. Karena saya anak Sospol, belajar Psikologi Politik dan Psikologi Komunikasi. 

Maafkan saya kawanku, percakapan kita saya tulis 😉


*Pustaka Hayat
*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar pinggiran