Di awal pemerintahannya, tahun 2008 (periode pertama) dan 2012 (periode kedua), Obama menyampaikan pidato inagurasi kemenanganya. Disiarkan oleh banyak TV, Obama berdiri dengan gagah di atas podium. Dan di depan podium itu, tertera 5 (lima) huruf kapital besar – AIPAC.
Ketika mengawali pemerintahannya, Donald Trump juga (merasa wajib) menyampaikan pidato kemenangannya di depan podium yang tertera 5 (lima) huruf kapital besar – AIPAC.
Saya tetap ingat dengan buku karangan Paul Findley yang telah diterjemahkan oleh Penerbit Mizan "Mereka Berani Bicara". Dalam buku ini, Findley mengupas-tuntas pertanyaan : "Mengapa lobi Yahudi-Israel begitu kuat dalam ranah politik Amerika Serikat pasca Perang Dunia ke-2?".
Findley mengatakan bahwa politik negeri Paman Sam ini tidak bisa berkata "tidak" pada Yahudi-Israel karena sebuah organisasi-publik kemitraan bernama AIPAC (American Israel Public Agency Council). Dalam AIPAC ini berkumpul para ekonom-pialang, politisi dan intelektual Amerika Serikat keturunan Yahudi. Mereka inilah yang dominan mempengaruhi politik Amerika Serikat, mulai dari pengkondisian calon-calon Presiden hingga kebijakan politik luar negeri.
AIPAC kata Findley, adalah bentuk lain dari "Gedung Putih".
AIPAC berperan besar atas bantuan yang spektakuler ini mensikapi pengaruh Iran yang semakin besar di Timur Tengah. Pidato Obama dan Trump di forum AIPAC menunjukkan kepada kita, Obama dan Trump tak bisa melepaskan diri dari Yahudi-Israel. Penggalan pidato Obama (2008 dan 2012) yang mengatakan bahwa Hamas merupakan organisasi teroris dan kebijakan negara Israel harus didukung, memperjelas posisi politik Obama.
Lalu, pantaskah kita mempersalahkan Obama dan Trump? Pantaskah kita berharap banyak pada Trump ke depan?.
Findley sebenarnya telah menjawab, bahwa siapapun yang akan menjadi Presiden Amerika Serikat, pengaruh AIPAC sulit untuk dihindari. Penunjukkan Hillary Clinton sebagai Menteri Luar Negeri kabinet Obama memperjelas pengaruh lobi Yahudi yang luar biasa. Kecil kemungkinan persoalan Palestina bisa terselesaikan dengan baik pada era Trump ke depan. Sangat tidak mungkin Trump melawan arus "pakem" kebijakan politik standar Amerika Serikat. Persoalan Palestina-Israel, lebih memungkinkan hanya bisa diselesaikan oleh komunitas Timur Tengah, khususnya negara-negara Islam Teluk. Kita tak bisa berharap banyak pada PBB, demikian juga dengan Amerika Serikat, siapapun presidennya.
Dalam ilmu politik, antara Israel dan Palestina telah terjadi "cyrcle bargaining", siklus tawar-menawar. Siapa yang menunggangi dan ditunggangi, tidak jelas secara konkrit. Apakah Israel yang menunggangi Amerika Serikat atau sebaliknya. Namun yang jelas, hubungan Amerika Serikat dan Israel adalah hubungan simbiosis mutualis, saling menguntungkan.
Oleh karena itu, kemauan politik negara-negara Timur Tengah-lah yang lebih rasional dan memungkinkan. Apakah bisa hal ini terjadi? Seandainya mereka kompak, Palestina dari dulu terselesaikan dengan baik, kata Gamal Abdel Nasser Dan yang bisa menyembuhkan Palestina hanyalah kemauan politik negara-negara Islam Timur Tengah. Sementara, Trump akan terus berjalan dengan garis politik yang tidak bisa dihindarinya.
Tahun 2008 dan 2012, Obama berkata : "When I am the President, the United States will stand shoulder to shoulder with Israel". Trump, ayah Ivanka itu, pun juga senada. Seirama dengan Obama dan Donald Trump, Joe Biden juga berkata demikian.
*PUSTAKA HAYAT
*PEJALAN SUNYI
*RST
*NALAR PINGGIRAN

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar