"Kenapa Erdogan seperti marah sekali pada Israel. Di sisi lain, justru kerjasama ekonomi antar negara mereka mesra, termasuk dengan China dan Rusia. Harusnya, kalau marah, harus keras dong. Putuskan semuanya. Tidak ada kerjasama sama sekali ?".
Hal Itu menandakan bahwa Erdogan cerdas. Marahnya proposrsional. Ketaksukaannya pun, di bidang tertentu.
"Mengapa, begitu ?"
Mari kita diskusikan tentang hal-hal aneh namun menjadi sebuah keniscayaan dalam relasi politik.
Keheranan terhadap tingkah laku politik figur yang di idolakannya, figur yang selalu dibela-dipujinya setinggi langit. Hampir setiap hari, kita selalu bergairah bercerita dan memperlihatkan empati pada Palestina. Sesuatu yang lumrah. Isu Palestina menjadi magnitude fenomenal tersendiri, apalagi bila di afirmasi dengan isu agama (Islam). Beranda pesbuk dan medsos lainnya dipenuhi dengan foto-foto berkaitan dengan simbolisme perjuangan rakyat Palestina.
Membuatnya marah, teramat mudah. Pujilah Israel atau apresiasilah orang-orang Yahudi, maka reaksinya bisa diketahui, marah. Kita tidak mau mengambil pusing bahwa Mark Zuckenberg si penemu facebook (media sosmed yang amat kita gandrungi itu) adalah orang Yahudi 24 karat, bulat tak ada sumbingnya.
Bagi sebagian kita, Yahudi dan Israel adalah musuh utama. Sebahagian kita ini tidak tahu, bahwa Yahudi sebagai "abrahamic religion", Israel sebagai entitas negara dan Zionisme sebagai sebuah ideologi, pada dasarnya memiliki perbedaan.
Tapi sudahlah, benci dan cinta itu, walau memiliki kutub yang berseberangan. tapi selalu dilandasi oleh satu persamaan, "BUTA", Seumpama kata seorang filosof yang dikutip oleh bintang film India kawakan, Amitab Bachan, bahwa "ada makhluk yang tidak bisa melihat disiang hari, ada pula yang tak bisa melihat di malam hari. tapi, bagi mereka yang memiliki kadar kebencian tinggi, mereka ini tidak mampu melihat secara jelas baik di siang hari maupun di malam hari".
Bahkan Picture Profile pesbuknya tersebut cenderung tidak variatif, dari dulu hingga kini, hanya terlihat (selalu) gambar bendera Palestina. Sesekali berubah dengan gambar kafiyeh – simbol heroik intifadhah. Secara berseloroh saya pernah bertanya pada beberapa kawan, "mengapa antum jauh lebih menghormati bendera orang lain dibandingkan dengan bendera kita". Ia menatap saya sambil berkata, "persaudaraan sesama muslim diatas segala-galanya. Apalagi persaudaraan itu dilandasi oleh epos - etos - spritual". Jawabannya kualitas "pertamax".
Sebagaimana lazimnya, saya ini tidak ingin mendebatnya. Kalau saya berdebat, tidak akan pernah selesai. Dari sudut pandangnya, ia benar. Ya, dari sudut pandangnya. Walau menurutku, pendapatnya itu butuh elaborasi lebih lanjut, karena banyak variabel yang harus dipertimbangkan, khususnya yang berkaitan dengan variabel historis, kultural maupun geo-politik.
Lalu, Kawan saya ini bertanya pada saya, "Betulkah Erdogan pernah mengeluarkan pernyataan bahwa Israel dan Rusia adalah kawan Turki?". Erdogan – tepatnya : Recep Toyyib Erdogan – Presiden Turki dari Partai Refah itu merupakan salah satu figur idolanya. Ia begitu bangga dengan murid pendiri Partai Refah Turki – Necmettin Erbakan tersebut. Langgam politik Erdogan selalu diikutinya dari waktu ke waktu dengan penuh kebanggaan, kegairahan dan antusiasme penuh gelora. Kebanggaannya semakin bertambah ketika garis politik Erdogan menurutnya sangat jelas, anti Israel dan pro-Palestina.
Pernah saya pancing, bukankah garis politik yang paling jelas di kawasan Timur Tengah bila dikaitkan dengan eksistensi negara Palestina justru berasal dari Republik Islam Iran. Ada konsistensi yang militan dari negara Iran ini ketika dihubungkan dengan perjuangan rakyat Palestina.
Tetapi entah mengapa, kawan saya ini, tidak mengakui konsistensi dukungan negara Iran tersebut. "Dukungan mereka semu pada Palestina, mereka sedang ber-taqqiyah, karena mereka Syi’ah. Beda dengan Erdogan", katanya suatu ketika.
Ia tidak menyinggung sama sekali tentang dukungan Arab Saudi dan negara-negara kaya minyak teluk lainnya. Mungkin dalam hati ia bertanya, "mengapa Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan yang negara-negara teluk lainnya berkawan dengan Israel dan Amerika Serikat ?". Tapi mungkin sebatas tanya dan keheranan saja.
Saya tahu, ia merasa heran dan berusaha mencari pembenaran yang justru pembenarannya terkesan semu pula. Sehingga tidak jarang ia akan berusaha keras untuk mengalihkan diskusi, bila topik ini saya tawarkan. Lalu, ketika Erdogan yang di diskusikan, maka kegairahannya begitu tampak nyata.
Setiap berita tentang Erdogan diikutinya terus. Ia begitu bahagia ketika akhir tahun 2015 yang lalu, Erdogan menang dalam Pemilu Turki. "Bukti bahwa padanya harapan untuk melawan Israel mendapat restu dari Tuhan", demikian yang ditulisnya dalam status pesbuknya. Ia marah pada Bashar al-Assad, karena menganggap Presiden Suriah ini tidak ramah pada Erdogan. Baginya berseberangan dengan Erdogan, berarti tidak pro-Palestina.
Kadang-kadang saya merasa lucu juga. Kawan saya ini tampaknya kurang "piknik" atau "Kurang ngopi". Ia tidak tahu bahwa Suriah justru menjadi "second-home" (rumah kedua) bagi rakyat Palestina. Saya pernah menyuruhnya membaca ulang sejarah, tentang Suriah yang menjadi "rumah kedua" bagi Palestina, sejak masa ayah Bashar al-Assad, Yaitu Hafeez al-Assad. Sesuatu yang tidak pernah di lakukan oleh Turki.
Demikian pula ketika Vladimir Putin mengancam Turki akibat ditembaknya pesawat Rusia di perbatasan Turki - Suriah oleh tentara Turki. Putin dianggapnya setan, komunis tidak berTuhan dan seterusnya. Lalu ketika Erdogan bertaut kelingking dengan Putin, kawan saya ini "membisu".
Harapan ideologisnya begitu besar pada Erdogan. Lalu, ketika beberapa media internasional maupun nasional mulai memberitakan kemesraan Turki dengan Amerika Serikat kemudian dengan NATO dan terakhir dengan Israel serta Rusia, kawan saya ini mulai resah dan kebingungan 😂.
"Berita hoax, konspiratif dan pembentukan opini terstruktur - sistematik - massif", katanya selalu pada saya. Seperti sturuktur kalimat waktu Pilpres kita yang lalu - lalu. Hehehe..
Saya hanya katakan untuk terus mengikuti perkembangan berita-berita politik dunia dari berbagai sumber secara komparatif. Bila terdapat sebuah konsistensi berita, maka dipastikan berita tersebut mendekati kebenaran.
Puncaknya, beberapa waktu lalu, ia mengirimkan link ke inbox pesbuk saya tentang berita di CNN. News serta di detik.com/international yang memberitakan ucapan resmi Erdogan tentang "Turki harus berkawan dengan Israel dan membuka hubungan diplomatik yang dekat dengan Rusia".
Walaupun masih menyisakan sedikit harapan buat Erdogan, tetapi kawan saya ini tetap Bertanya, "mengapa Erdogan seperti itu. Bagaimana pendapat antum ?".
Yah biasa lah. Erdogan itu kan POLITISI. Kompromi pasti dilakukan. "Who get what how and when", pasti menjadi bahan pertimbangannya. Kita saja yang tidak menganggap Erdogan itu politisi.
[ diskusi tidak berbalas ]
Saya tidak mau berpanjang-panjang berdiskusi dengan kawan ini. Saya hanya berharap, ia harus menerima realitas umum dalam relasi politik bahwa yang bisa menyatukan dan memisahkan seseorang ataupun ideologi atau kelompok adalah kepentingan.
Coba kita lihat, bagaimana sebuah Partai ANU di Republik ini, sebagai contoh sederhana saja, selalu berseberangan dengan Partai ANI. Baginya Partai ANU tidak memiliki platform - visi dan misi yang sama dengan Partainya, sehingga apapun yang dikerjakan oleh Partai ANU pasti ditanggapi berbeda oleh Partai ANI. Bila Partai ANU melancarkan program yang menurut banyak pihak cukup bagus, pentolan partai ANI akan justru sebaliknya. Pokoknya, publik akan melihat bahwa Partai ANU tidak akan bisa disandingkan dengan Partai ANI. Tapi lihatlah, justru di daerah-daerah, Partai ANU banyak berpasangan dengan pentolan Partai ANI. Kelingking mereka bertaut. Mereka mengklaim visi misi mereka bak kembar identik. Padahal visi mereka itu ibarat berbeda.
Heran, kan ?.
Kelingking mereka bertaut karena ada "penautnya", kepentingan yang sama. Kebahagiaan yang sama. Harapan yang sama, bahkan mimpi yang sama. Kepentingan, kebahagiaan dan harapan serta mimpi tersebut namanya KEKUASAAN. Jangan heran, bila ada Partai yang platformnya secara kasat mata memiliki kemiripan atau kesamaan identik, katakanlah partainya bernama Partai NOAH, Partai HOAH, Partai HAON, Partai ONAH dan ANOH – justru tersusun dari 4 huruf, tapi atas nama kepentingan, mereka justru berada di dua bahkan tiga kutub yang berbeda, tergantung kepentigan mana yang membuat mereka bisa saling bertaut kelingking.
Demikianlah sunnatullahnya, Jangan heran. Teruslah belajar.
Kembali ke Erdogan. Kawan saya ini harusnya tidak heran dan kehilangan harapan. Tidak heran, karena Erdogan itu adalah politisi. Sebab, politik itu semacam seni mengatur ritme agar kepentingan tetap terjaga. Kemampuan memanfaatkan isu yang kemudian dikapitalisasi menjadi keuntungan. Ketika Erdogan pada bulan Muharram tahun yang lalu berbaur dengan warga Syi’ah Turki mengikuti Peringatan Asyura, mungkin banyak yang heran, terutama mereka yang selama ini menganggap Erdogan sebagai representasi Sunni.
Bagi saya, sebagai politisi dan pemimpin, Erdogan tidak salah. Beliau sedang melakukan kapitalisasi politik, menaikkan tingkat elektabilitasnya di kalangan minoritas (baca : kelompok Syi’ah di Turki), karena moment tersebut berdekatan dengan Pemilu di Turki. Sebagai seorang pemimpin, Erdogan ingin memberikan pesan bahwa ia ingin dicitrakan sebagai pemimpin yang mengayomi semua kalangan, pemimpin tipikal inklusif. Ia santai-santai saja, lihat di youtube, bagaimana ia berpidato dan mengikuti ritme gerak peringatan Asyura. Para pemujanya saja yang terheran-heran. Lalu mencari pembenaran yang justru semakin dicari semakin membingungkan. Membingungkan mereka, bukan membingungkan para pembaca. Termasuk kawan saya tersebut.
Karena itu, janganlah kita terlalu fanatik terhadap seorang figur (politisi). Biarpun mereka dicitrakan sebagai "malaikat" ataupun "juru selamat" (imam Mahdi).
Sekali mereka "bermain" dalam ranah politik, maka seluruh potensi yang mereka miliki, termasuk isu agama, akan dikapitalisasi untuk tujuan "luhur" politik mereka. Sejarah membuktikan hal ini. Sebutlah, siapapun saja yang pernah kita baca biografinya. Mulai dari kalangan agamawan, sosialis tulen, sosialis "malu-malu", liberalis atau entah apapunlah ideologi mereka, pada akhirnya akan kita lihat, langgam politik mereka berada dalam koridor yang sama, (saya ulangi lagi), "who get what how and when", kata Harold Laswell.
Keuntungan dan eksistensilah yang sentiasa membuat politisi melakukan berbagai "manuver" yang terkadang membuat kita heran, marah, kecewa, ketawa hingga marah bergejolak. Apa yang dilakukan Erdogan, semata-mata bukan atas nama ideologi. Erdogan sedang terjepit. Isu ISIS dan kegagalan kudeta serta Gullenisme yang dianggapnya masih ada, tidak menguntungkan masa depan politiknya. Persahabatannya dengan Arab Saudi tidak membuatnya merasa nyaman. Akhirnya, Erdogan harus melakukan sesuatu yang selama ini dianggap musykil, "memproklamirkan" dirinya bersahabat dengan Israel dan Rusia. Erdogan sedang melakukan proses - "keseimbangan". Dalam bahasa kaum struktural fungsional - "equilibrium" bagi rezimnya.
Jangan kita salah sangka Seakan-akan saya tidak suka pada Erdogan. Sebelum engkau mengatakan kekagumanmu pada Erdogan tersebut, saya justru sudah kagum, sejak dulu. Saat membaca Artikel kemenangan Necmettin Erbakan di pemilu 1999 di Turki, nama Erbakan, Gulllen dan Abdullah Gull sudah mulai saya baca "sedikit-sedikit". Saya kagum pada mereka.
Tetapi tidak berlebihan. Biasa saja. Maklum framming yang saya gunakan ; mereka adalah Politisi. Mengapa?. Karena saya anak Sospol, belajar Psikologi Politik dan Psikologi Komunikasi.
Maafkan saya kawanku, percakapan kita saya tulis 😉
*Pustaka Hayat
*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar pinggiran

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar