Mengenai Saya

Kamis, 12 Oktober 2023

PUING PERANG ; SIAPA YANG MEMBUTUHKANNYA ?


Ide mendirikan negara mandiri bagi Yahudi adalah ide organisasi zionis, yang di dirikan oleh "Theodor Herzl". Ide tersebut merupakan respon terhadap ancaman eksistensial terhadap kaum yahudi, akibat gelombang nasionalisme radikal dan gagahnya asimilasi sosial kaum yahudi, yang berkembang di eropa pada paruh kedua abad ke 18, yang berpuncak pada peristiwa Holocaust atau pembantaian kaum yahudi.

Awalnya kaum yahudi punya 4 alternatif negara untuk menampung kaum yahudi, yaitu Argentina, Mozambik, palestina dan Uganda. Tetapi, mereka memilih palestina, karena justifikasi keagamaan akan memudahkan mobilisasi global kaum yahudi untuk bermigrasi ke palestina.

Di tengah kecamuk perang dunia pertama, 2 november 1917, Arthur Balfour mendeklaraiskan dukungan penuh inggris terhadap misi zionis untuk membentuk megara israel di palestina, melalui surat kepada Rothchild.

Setahun sebelumnya pada 1916, pasukan sekutu yang di dalamya terdapat inggris dan Prancis yakin dapat mengalahkan imperium ottoman. Maka, inggris dan prancis membuat kesepakatan untuk membagi wilayah kekuasaan ottoman, termasuk palestina di dalamnya. Perjanjian tersebut di kenal dengan Perjanjian sykes picot.

Dalam peta Sykes Picot, yerusalem di sebut sebagai brown area atau di kelola oleh administrasi internasional. Namun, akhirnya di ambil alih oleh Inggris pada tahun 1920. Dalam ruang pergeseran geopolitik inilah, pengambil alihan palestina berlansung.

Rencana zionis membentuk negara israel, dukungan inggris melalui deklarasi balfour, peta Sykes picot dan kemenangan Inggris - Prancis pada perang dunia pertama, mempercepat ekspansi teritorial dan demografis kaum yahudi atas palestina.

Dalam kurun waktu, hampir 70 tahun, 521 ribu kaum yahudi telah bermigrasi ke palestina, bersamaan dengan era Hitler. Akibatnya komposisi demografis wilayah palestina berubah. Kaum yahudi yang awalnya, hanya 3 % dari total 460 ribu penduduk pada tahun 1882 menjadi 31,2% dari total Dua Juta enam puluh lima ribu penduduk pada tahun 1948 di tanah pelastina.

Demikianlah cerita Kaum yahudi di mulai di palestina. Mereka sudah memenuhi hampir seluruh wilayah palestina sebelum negara israel di bentuk pada tahun 1948. Yang awalnya, hanya migrasi terencana secara massif. Berakibat pada konflik penguasaan lahan, yang tanpa di sadari oleh bangsa palestina, berujung penjajahan.

Sayangnya, saat itu lembaga internasional tidak berpihak pada palestina. PBB mengeluarkan resolousi No 181 di tahun 1947, membagi wilayah palestina menjadi tiga zona, yaitu untuk pemerintahan israel, pemerintahan palestina dan zona bersama, yang di namakan Al Quds atau Yerusalem.

Setelah pereng 1948, Israel menguasai wilayah barat Al Quds, sementara wilayah timur di kuasai oleh Yordania. Namun, wilayah timur tersebut di caplok juga oleh Israel pada tahun 1967.

Artinya, bila hutang budi kemanusiaan karena tragedi Holocaust yang menimpa kaum yahudi di eropa yang menjadi dasar negara - negara benua biru mendukung berdirinya negara israel. Mengapa Palestina yang harus membayarnya?. Logika macam apa yang membenarkan kaum Yahudi yang menjadi korban pembantaian di eropa, sekonyong-konyong datang ke palestina dan berbalik membantai Ummat islam Palestina?. 

Kini, 100 tahun kemudian. Pengakuan mantan Presiden AMRIK - Donald Trump atas yerusalem sebagai ibu kota Israel menyempurnakan Skenario satu abad zionis, sebagaimana mimpi bapak Israel Theodor Herzl - "Tidaklah sempurna tanpa Al Quds". 


**

Penyerang secara tetiba yang di lakukan Hamas dan kelompok - Kelompok perlawanan di Palestina di beberapa wilayah yang masuk ke dalam teritori Israel di sebut dengan Thofanul Aqsa - Badai al aqsa.

Sebelum kita menjelaskan tentang situasi dan kondisi yang terjadi di palestina, baik kiranya saya menegaskan terlebih dahulu, bahwa alasan saya, Kamu, kalian dan kita mendukung perjuangan kemerdekaan palestina adalah amanat konstitusi. Karena, palestina adalah satu-satunya bangsa di dunia yang belum merdeka - masih terjajah sampai saat ini. Perintah konstitusi indonesia, sangat jelas dan tegas untuk "Menghapus penjajahan diatas permukaan bumi".

Alasan berikutnya adalah alasan kemanusiaan. Sebab, kita menyaksikan kemunafikan yang luar biasa dari negara - negara benua Biru, ketika mereka terus menerus membicarakan dan mengkampanyekan Demokrasi dan Hak Asasi manusia. Tetapi, dalam waktu yang bersamaan mereka membiarkan ada satu kelompok manusia - warga Palestina yang terus menerus berada dalam kondisi tertindas berpuluh - puluh tahun.

Dua alasan inilah sehingga Indonesia mestinya konsisten memperjuangkan kemerdekaan palestina dan bersikap tegas terhadap bangsa-bangsa Hipokrit di benua biru dan Amerika itu. Selain kedua alasan tersebut, tentunya ada alasanya yang fundamental yaitu alasan KEAGAMAAN. Karena Al Aqsa adalah wilayah wakaf untuk ummat islam dan Kedua agama Samawi, sehingga sebagai muslim kita semua harus bertanggung jawab untuk membebaskannya.

Serangan Hamas dan kelompok-kelompok perlawanan di Palestina di sabtu kelabu, tidak hanya mengejutkan Israel. Tetapi, mengagetkan hampir seluruh penduduk bumi.

Saya kira, kita tidak hanya melihat peristiwa perang yang terjadi di palestina dan Israel secara Micro. Kita mesti melihat peristiwa tersebut lebih luas, dalam konteks geopolitik.

Kita bisa membaca peristiwa ini dalam urutan - urutan pertanyaan yang mendasar ; SIAPA SEBENARNYA MEMBUTUHKAN PERANG INI?. Sebab, lazimnya jika perang terjadi, selalu ada yang menginginkan hal tersebut dan tentunya ada yang mengambil keutungan dari perang tersebut.

Sebenarnya yang paling membutuhkan perang Palestina Vs Israel yang menyala di Sabtu kelabu kemarin adalah Benyamin Netanyahu - Perdana Menteri Israel. Mengapa Netanyahu membutuhkan perang tersebut?. Karena israel, sedang berada dalam situasi konflik internal dan ancaman disentegrasi - Perang saudara yang sangat besar di dalam negerinya.

Bayangkan sejak tahun 2019 sampai tahun 2022, Israel telah melakukan 5 kali pemilu. Karena tidak ada parpol yang menang telak sehingga bisa membentuk pemerintahan. Artinya Netanyahu sedang berada dalam posisi yang sangat lemah secara politik. Selain dari itu, netanyahu dan Istrinya juga tersandung kasus, yaitu kasus korupsi dan seharusnya Netanyahu tidak lagi menjadi perdana menteri.

Tetapi, Sebahagian orang mengakui bahwa Netanyahu adalah seorang politisi yang Handal, sehingga ia lolos dari Lubang jarum dan mencoba melakukan perlawanan legal dengan mereformasi beberapa dasar Hukum di Israel, yang membuatnya lolos dari tuduhan korupsi.

Salah satu langkah yang di lakukan netanyahu untuk menyelamatkan dirinya adalah terpaksa harus berkoalisi dengan kelompok-kelompok sayap kanan - parpol garis keras di israel.

Jika tidak ada perang di luar, maka Netanyahu akan terus menerus di rongrong dari dalam untuk di jatuhkan pemerintahannya dan di jebloskan ke dalam penjara. Kalau kita melihat berita beberapa waktu yang lalu, bagaimana kekacauan demonstrasi di Tel Aviv dan beberapa kota di Israel, bahkan sampai menduduki bandara yang di lakukan oleh Musuh - musuh netanyahu, yaitu Parpol - parpol liberal.

Ihwal itulah, meniscayakan Netanyahu mengambil langkah untuk melakukan koalisi dengan Kelompok sayap kanan garis keras di Israel, dengan agitasi memperluas wilayah pemukiman kaum yahudi dan terus melakukan pembangunan, serta memprovokasi orang - orang garis keras Yahudi untuk melakukan ibadah di Al Aqsa. Tentu, sudah bisa di bayangkan, Provokasi semacam ini adalah sesuatu yang di sengaja, untuk mendorong orang, agar melakukan langkah yang lebih keras. 

artinya, sementara Ia melakukan Provokasi kepada kelompok garis keras Yahudi, ia juga memaksa secara tidak lansung semua kelompok di palestina untuk melakukan Perlawanan secara keras.

Provokasi ini di sengaja untuk menciptakan perang. Netanyahu membutuhkan perang, agar ia bisa mengkonsolidasi kekuatan di dalam pemerintahannya dan membuat perlawanan parpol - parpol liberal kepada dirinya, oleh parpol - parpol liberal, menjadi tidak relevan lagi. Apalagi secara personal hubungan Netanyahu tidak sedang baik-baik saja dengan Joe Biden - Presiden Mamarika. Bahkan Netanyahu secara Personal lebih dekat dengan Vladimir Putin.

Perang yang menyala di sabtu kelabu atau Provokasi kepada warga palestina adalah Manajemen konflik untuk mengalihkan isu penggulingan dirinya di Israel. Makanya, pasca serangan Hamas, Netanyahu membentuk pemerintahan Darurat. Jika pemerintahan darurat di bentuk, maka seluruh kelompok oposisi di dalam negaranya di tarik untuk bersatu semuanya. Kurang ajar memang. 

Mengapa Hamas dan kelompok - Kelompok perlawanan di Palestina harus melakukan reaksi yang begitu besar?. Sudah bisa di bayangkan, bahwa semua kelompok perlawanan di palestina harus melakukan hal yang sama di tengah provokasi yang begitu telanjang. Kenapa?. Karena di palestina muncul generasi baru - anak muda, yang secara ideologis tidak terlibat kepada hamas, tidak terlibat kepada Jihad islami dan tidak terlibat kepada semua kelompok perlawanan di Palestina. Tetapi, terkonsolidasi melalui sosmed sebagai angkatan baru generasi palestina, yang memiliki militansi jauh lebih keras ketimbang organisasi-organisasi perlawanan yang ada di palestina. Makanya banyak perlawanan sporadis di sekitar masjid Al Aqsa di lakukan oleh anak muda palestina.

Eksistensi kelompok-kelompok perlawanan di palestina mendapatkan satu tantangan baru dsri generasi muda palestina, bahwa mereka bisa jadi dianggap tidak Relevan lagi Di mata anak-anak muda palestina, jika mereka tidak melakukan perlawanan yang berskala Full dan lebih besar. Dengan Peluang Internal Israel yang pacah.

Artinya ada dua situasi di internal masing-masing negara yang meniscayakan perang ini terjadi. Di pihak israel perang di butuhkan karena ancaman penggulingan Netanyahu dan Di pihak Palestina, Kelompok-kelompok perlawanan bisa dianggap tidak relevan lagi oleh angkatan muda atau generasi muda palestina jika tidak melakukan tindak yang lebih besar dan sporadis kepada Israel.

Satu halyabg saya yakini, bahwa Palestina selamanya akan menjadi isu yang mempersatukan dunia Islam. Waktunya saja yang tentatif. Tunggu saja, Ledakannya. 

Ketika netanyahu memprovokasi kepada warga palestina, agar ia menyelamatkan dirinya dari pemerintahannya, akibat konflik elit pemerintahannya terlalu tajam dan israel berada dalam ancaman perang saudara. Pada waktu yang bersamaan, Dengan menggunakan tangan AS, ia menekan negara-negara Arab untuk menornalisasi hubungan, terutama dengan Saudi Arabia, Bahrain, maroko dan juga mereka berharap hubungannya normal dengan Indonesia.

Tetapi, Perang yang meledak di sabtu kelabu kemarin, telah menghancurkan semua Proses perdamaiaan yang sementara di Normalisasi oleh Amrik.

Kalau kita melihat dalam konteks yang lebih luas, dalam perspektif geopolitik. Banyak pengamat yang menjelaskan, bahwa dunia ini sedang mengalami krisis dan sedang menuju kekacauan yang tidak terkendali - perang besar. Dalam kontek itu, ada dua jenis perang yang akan terjadi. Pertama, perang regional - perang kawasan. Kedua, perang saudara.

Kita sudah menyaksikan perang kawasan terjadi, misalnya perang Rusia Vs Ukraina yang sudah berlansung lebih dari satu tahun. Perang kawasan ini sedang masuk ke afrika, negara Sudan misalnya, Menjadi negara yang tidak jelas punya siapa dan beberapa Kudeta pemerintahan di Negara Afrika, serta Pengusiran pasukan Prancis dari Wilayah Afrika.

Artinya, setelah zona Eropa Menyala, Bergeser ke zona Afrika dan sabtu kelabu zona Timur Tengah yaitu Palestina Vs Israel kembali menyala. Hal ini juga akan menjadi masalah waktu, bahwa zona api yang sama akan bergeser ke kawasan Asia atau Indo pasifik. Hal itu bisa kita lihat, ketegangan yang terjadi antara Fhilipinan dan China di laut China Selatan. Ketegangan antara Taiwan dan pemerintah Chinanya sendiri.

Ada hal yang membedakan dari perang sebelumnya yang pernah terjadi antara palestina vs Israel, yaitu kemampuan perang pasukan Hamas dan kelompok-kelompok perlawanan di palestina adalah Kemampuan Intelejennya dan persenjataannya. Apalagi Iran sudah menyatakan dukungan penuh kepada Palestina dan secara Khusus kepada Hamas, Hizbullah di lebanon juga sudah terlibat. Rusia adalah sekutu Iran.

Kalau kita melihat serangan balik dari Israel, setelah mereka membuat pengumuman perang, baru di mulai dari serangan udara. Setelah ini, akan ada serangan darat dan jika israel masuk menyerang ke Gaza, hal ini akan menjadi serangan yang sangat brutal. Hamas dan seluruh kelompok perlawanan di palestina sudah membayangkan atau menghitung kemungkinan serangan darat yang sangat brutal. Jika terjadi, maka perang ini akan lebih panjang dari perang sebelumnya yang pernah terjadi.

Tetapi, jika israel tidak menghitung dengan cermat. Apalagi dengan kemampuan Hamas dan kelompok - kelompok perlawanan di Palestina yang menyerang secara tiba-tiba dan tidak terduga, menunjukkan bahwa ada persoalan Fundamental yang keliru dari pihak intelejen Israel. Korban yang berjatuhan di Pihak Palestina lebih banyak anak - anak dan perempuan, artinya sasaran serangan balasannya Tidak tepat Sasaran alias Keliru. Sementara, Korban di Pihak Israel, lebih banyak militernya. Di tambah, AS mendekatkan kapal induknya, bahakn ikut membombardir Gaza, menunjukkan bahwa Israel menyadari Kelemahannya.

Di setiap Kecamuk suatu negara, Semua pemain Global Ikut bermain ; Amerika, Eropa, China dan Rusia. 


Makassar, 11 Oktober 2023


*Pustaka hayat

*Pejalan sunyi

*Rst

*Nalar Pinggiran












Tidak ada komentar:

Posting Komentar