Mengenai Saya

Jumat, 05 September 2025

MEMBONGKAR ISI PIDATO PRESIDEN PRABOWO, SETELAH HURU HARA-

Prabowo, "Saya Di Dampingi Presiden RI ke 5, Ketua DPR, Ketua DPD dan Para Ketua Umum Partai".

Secara semiotik, kalimat ini adalah pameran barisan elit. Hermeneutisnya, kehadiran mereka di gunakan untuk menampilkan kekuatan simbolik, seakan seluruh insitusi negara berdiri di belakang presiden. 

Tetapi, Publik yang menyaksikan, justru menangkap ironi : rakyat berhadapan dengan gas air mata, tembakan dan pentungan, sementara para pemimpin tampil dalam formasi aman, jauh dari resiko. 

Yang di sebut kebersamaan di sini adalah kebersamaan antara para elit, bukan kebersamaan dengan rakyat. Persatuan di tampilkan di panggung, tetapi jarak dengan jalanan tetap menganga. 

Prabowo, "Negara menghormati dan terbuka terhadap kebebasan berpendapat dan aspirasi yang Murni dari Masyarakat".

Secara semiotik, kata "murni" bekerja sebagai filter. Aspirasi di dikotomi menjadi yang "Murni" dan "tidak murni". Hermeneutikanya, kekuasaan berhak menentukan mana suara sah dan mana suara yang harus di bungkam.

"Jurgen Habermas", menyatakan, "ruang publik sejati, tidak boleh di saring oleh negara, karena setiap suara lahir dari pengalaman hidup yang otentik". 

Prabowo, "Terhadap petugas kemarin yang melakukan kesalahan ataupun pelanggaran, saat ini kepolisian telah melakukan pemeriksaan".

"Diksi" petugas melemahkan struktur menjadi Individu. Secara semiotika, diksi petugas ialah memindahkan rantai komando menjadi oknum. Hermeneutikanya, negara mendefenisikan kekerasan sebagai deviasi, bukan konsekuensi kebijakan. 

"Michael Foucalt" membaca ini sebagai "cara kekuasaan menghapus jejak dirinya dari tindakan aparatnya"

Prabowo, "Akan di lakukan beberapa pencabutan beberapa kebijakan DPR RI, termasuk besaran tunjangan anggota DPR, dan juga Moratoriun kunjungan kerja ke Luar negeri".  

Kalimat ini tampak seperti langkah serius. Tetapi, sebenarnya bekerja sebagai pengalihan. Secara semiotik, yang di tonjolkan adalah angka dan fasilitas. Bukan nyawa dan keadilan. Hermeneutikanya, Rakyat sedang diajak melihat bahwa DPR sedang berkorban. Padahal, apa yang di korbankan adalah kemewahan mereka sendiri, bukan akar masalah yang menyalakan Protes. 

Hal ini adalah strategi Klasik, "memotong ranting kecil, sembari membiarkan batang busuk tetap berdiri". 

Prabowo, "Anggota DPR yang menyampaikkan pernyataan keliru akan di cabut ke-anggotaannya".

Pernyataan ini menyingkap standar ganda. Anggota DPR bisa di copot, karena ucapan. Tetapi, aparat yang memukul, menembak gas air mata, menembak dengan peluru karet, bahkan melindas, hanya di sebut "Di Periksa". Secara semiotik, negara lebih keras pada kata rakyat dan lebih lunak pada kekerasan aparat. Hermeneutikanya, bahasa ini menegaskan siapa yang benar - benar di lindungi : Insitusi, bukan nyawa. 

Prabowo, "Para anggota DPR harus selalu Peka dan harus selalu berpihak kepada kepentingan Rakyat".

Secara semiotik, diksi peka sesungguhnya adalah Kosmetik moral. Hermeneutikanya, Rakyat tahu bahwa DPR Justru menjadi sumber amarah, karena Previlese dan tunjungan. Pernyataan tersebut, justru mempertebal jarak. Sebab, jika benar peka, mengapa gelombang protes baru di dengar setelah korban banyak berjatuhan.

Seperti kata Gramsci, "krisis terjadi ketika elit tidak mampu lagi memimpin, tetapi, rakyat belum mampu mengganti. Di titik inilah Legitimasi tergerus. 

Prabowo, "Kami menghormati kebebasan berpendapat, seperti di atur dalam ICCPR dan UU 9/1998". 

Penyebutan Instrumen Internasional dan UU nasional adalah Klaim legitimasi Formal. Hermeneutisnya, negara meminjam wibawa hukum global untuk mempertebal citra Demokratisnya. Tetapi faktanya, Protes Rakyat di bubarkan dengan kekerasan.  

ironis memang, kutipan hukum di gunakan sebagai ornamen, sementara pelaksanaannya justru berlawanan. "Hannah Arendt" menyebut, "bahasa hukum, tanpa praktek keadilan hanyalah retorika kosong yang melukai".

Prabowo, "Namun, ketika terdapat kegiatan anarkis, destabilisasi negara, merusak atau membakar Fasilitas Umum, merupakan pelanggaran Hukum". 

Diksi Anarkis adalah label, bukan deskripsi. Secara semiotik, ia merubah rakyat menjadi ancaman. Hermeneutisnya, negara menafasirkan perlawanan bukan sebagai dialog politik, melainkan kekacauan yang harus di padamkan. 

"Hannah arendt" mengingatkan, "kekerasan rakyat acap kali terjadi, ketika ruang partisipasinya di tutup rapat". 

Prabowo, "Aparat yang bertugas, harus melindungi masyarakat, dan menjaga fasilitas Umum".

Secara semiotik, ini penyebutan ganda, masyarakat dan fasilitas umum, tampak seimbang. Namun, hermeneutisnya, bisa menjadi pisau bermata dua : aparat di beri ruang tafsir yang longgar. 

Melindungi masyarakat, kita bisa terjemahkan, sebagai membubarkan massa, dengan dalil massa menganggu atau mengancam fasilitas Umum. Diksi melindungi di sini sangat cair, bisa berubah menjadi Justifikasi terhadap represi.

Prabowo, "Mulai kelihatan, adanya tindakan- tindakan di luar hukum, bahkan melawan hukum. Bahkan ada yang mengarah kepada makar dan terorisme".

Diksi makar dan terorisme adalah tanda yang paling berat dalam Hukum. Secara semiotik, ia memperluas musuh imajiner, membuat protes rakyat setara dengan ancaman negara. Hermeneutikanya, kekuasaan sedang membungkus oposisi dengan bahasa kriminalisasi. 

"George Orweel" sudah menulis pola ini, "ciptakan musuh bayangan, agar rakyat takut dan tunduk". 

Prabowo, "Kepada Polri dan TNI, saya perintahkan untuk mengambil tindakan yang setegas - tegasnya".

Informasi ini adalah performatif. Kata bukan bunyi. Tetapi, perintah yang di terjemahkan menjadi Gas air mata dan peluru karet, bahkan mayat di jalanan. Semiotika "Setegas - tegasnya" adalah Eufiminisme dari Kekerasan. Hermeneutikanya, negara menfasirkan dirinya sebagai pelindung , tetapi bertindak sebagai penghukum. 

"Benjamin" menyebut, kekerasan Mitis. Hukum di tegakkan lewat kekerasan, bukan melalui keadilan.

Prabowo, "Silahkan sampaikan aspirasi yang murni. Kami pastikan akan di dengar, di catat dan di tindak lanjuti".

Janji ini terdengar administratif. Semiotikanya, rakyat di posisikan sebagai pelapor, bukan pemilik kedaulatan. Hermeneutikanya, Suara rakyat di turunkan menjadi berkas, yang di catat dan di arsipkan. Seolah - olah protes bisa selesai dengan notulensi. 

"Derrida" - seorang Pemikir Posmo, menyebut arsip sebagai Kuasa. Suara di hidupkan di jalanan, tetapi di matikan di meja catatan. 

Prabowo, "Saya akan meminta pimpinan DPR untuk mengundang Tokoh Mahasiswa, Tokoh Masyarakat, supaya bisa berdialog".

Secara semiotik, dialog adalah tanda kerukunan. Hermeneutiknya, hal ini lebih mirip demage Control - dialog yang lahir setelah kerusuhan, bukan sebelum. Publik tahu, suara mahasiswa dan rakyat sudah lama di abaikan sebelum situasi membara. 

"Jurgen Habermas" menyebutkan, "ruang publik sejati, hanya hidup bila ada kesetaraan kuasa".

Dalam kondisi ini, dialog hanyalah formalitas, rakyat hadir. Tetapi, tak sejajar. 

Prabowo, "Saya minta sungguh - sungguh seluruh warga negara untuk percaya kepada pemerintah untuk tenang".

Diksi tenang adalah instruksi. Bukan ajakan. Secara semiotik rakyat di posisikan sebagai massa resah, yang harus di disiplinkan. Hermeneutikanya,  kepercayaan di minta, bukan di bangun. 

"Jean Jasques Rosseau" mengingatkan, Kontrak sosial runtuh, ketika negara meminta percaya, tetapi gagal melindungi. 

Prabowo, "Pemerintah bertekad memperjuangkan kepentingan rakyat, termasuk yang paling kecil". 

Diksi yang paling kecil adalah paternalistik. Semiotikanya, rakyat di posisikan sebagai anak kecil, yang harus di rawat. Hermeneutikanya, Kekuasaan menempatkan dirinya sebagai orang tua dan tahu mana yang baik. Sementara fakta di lapangan, rakyat yang menjaga diri mereka sendiri - Warga jaga Warga. 

Bahasa kepedualian di gunakan untuk menutupi kenyataan represi. 

Prabowo, "Indonesia diambang kebangkitan, jangan mau di adu domba".

Kebangkitan di gunakan sebagai perekat. Tetapi, semiotikanya, retak ketika rakyat melihat fakta bahwa siapa sebenarnya yang mengadu domba?. Provokasi aparat yang memecah massa atau retorika Penguasa yang memecah aspirasi murni dan anarki?.

Hermeneutikanya, negara menfasirkan luka sebagai proyek besar yang harus di korbankan. "Simone weil" mengingatkan, "setiap kali penderitaan di pakai sebagai bahan retorika, ia berubah dari Tragedi menjadi manipulasi. 

Prabowo, "Kalau merusak fasilitas umum, artinya merusak dan menghamburkan uang rakyat".

Di sini, semiotikanya, menukar prioritas, seolah kerusakan halte dan gedung lebih penting dari nyawa yang hilang. Hermeneutikanya, negara menafsirkan kerusakan benda sebagai kerugian kolektif, sementara kerugian jiwa rakyat, hanya di sebut insiden. 

Dalam psikologi Politik, ini adalah bentuk cognitive reframing - mengalihkan amarah dari kehilangan nyawa ke kerugian materil.

Prabowo, "Marilah kita bergotong royong menjaga lingkungan kita, menjaga keselamatan keluarga kita".

Gotong rotong adalah simbol kerukunan yang terus di panggil. Tetapi, hermeneutisnya, diksi tersebut di gunakan untuk memindahkan tanggung jawab negara ke pundak rakyat. Rakyat di minta menjaga diri, menjaga keluarga, bahkan menjaga ketertiban - padahal tugas tersebut adalah tugas aparat dan pejabat yang punya kuasa. 

"Ivan Illich" mengingatkan, "ketika insitusi gagal, jargon moral sering di lemparkan ke rakyat untuk menutupi kegagalan". 

Prabowo, "Saudara- saudara sekalian, demikian pernyataan saya, setelah saya berunding dengan semua pimpinan partai, baik di dalam koalisi, dan semua pimpinan lembaga negara".

Secara semiotik, penyebutan saudara - saudara adalah tanda kedekatan. Bahasa akrab yang di maksudkan untuk melebur jarak antara presiden dan rakyat. Tetapi, hermeneutisnya, saudara adalah rakyat yang tubuhnya di pukuli di jalanan, yang suaranya pecah oleh gas air mata. 

Kata itu menjadi panggilan kosong - akrab di lidah, tapi jauh di perbuatan. 

"Franz Neuman" dalam Bahemoth menulis, rezim yang rapuh justru sering menampilkan citra persatuan yang total. Ia seolah berkata, lihatlah seluruh insitusi ada bersama saya. Padahal, kenyataan di luar adalah jurang : Kepercayaan rakyat merosot, protes membesar dan kekerasan aparat di pertontonkan.

Persatuan yang di tampilkan di Panggung ini bukanlah persatuan bangsa, melainkan konsolidasi elit diatas luka rakyat". 


*Rst

*Backpacker Marjinal

*Pustaka Hayat

*Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar