Mengenai Saya

Senin, 01 September 2025

SIAPA YANG VANDALIS?

Vandalisme pertama kali muncul di eropa pada abad ke 18. Di gunakan untuk menyebut kaum vandal - suku yang meruntuhkan kota roma. Sejak itu, diksi tersebut di lekatkan pada tindakan perusakan yang dianggap bar - bar, merusak tatanan, atau menghancurkan karya bersama. 

Dalam epistemologi politik, vandalisme di gunakan negara untuk memberi label kepada rakyat yang marah di sebut perusak, aksi protes di sebut ancaman. bukan suara. 

Namun, epistemologi juga mengajarkan kita untuk membongkar asal muasal kata, dan membalik kaca. Jika vandalisme adalah merusak milik bersama. Lalu, siapa yang layak di sebut Vandalis : rakyat yang merusak Fasilitas Umum dalam sejam, atau Negara yang merusak Hutan, menghancurkan Hukum dan demokrasi selama puluhan tahun?.

Siapa lebih Vandalis?.

Jika vandalisme adalah menghancurkan rumah bersama. Maka, kita harus berani melihat ke atas, kepada mereka yang mengelola rumah indonesia Ini, tapi menghancurkannya dari dalam. 

Negara sibuk menghimbau, jangan merusak, jangan membakar. semua fasilitas perkotaan di perlakukan sebagai pusaka. Tetapi, negara memberi izin tambang timah yang menghancurkan 240 Juta Hektar mangrove, atau food estate yang melahap hutan papua. 

Seluruh Fasilitas Umum bisa di perbaiki dalam sehari. Tapi, hutan yang hilang tidak akan kembali dalam sebad. 

Affan Kurniawan, seorang pengemudi Ojol tewas di bawah mobil Rantis Brimob, ketika aparat mengamankan demo. Narasi resmi menyebutkan, aksi tersebut anarkis. Tapi, siapa yang anarkis?. Mereka yang membawa poster dan suara atau kendaraan perang yang menindas tubuh rakyat?.  

Vandalisme terbesar bukan coretan di aspal atau dinding - dinding kota. Melainkan menghapus nyawa manusia dari kehidupan. 

Kanjuruhan 2022 : 135 orang manusia meninggal secara serentak. Negara menyebutnya sebagai musibah. Lalu, menggelar rapat evaluasi. Tidak ada kursi yang kosong di kabinet. Tidak ada pejabat yang mundur. 

Vandalisme bukan pagar stadion yang roboh. Tetapi, gas air mata yang di tembakkan di ruang tertutup yang melawan semua SOP. 

Rakyat di tegur jika mencoret - coret fasilitas umum. Namun, DPR, menerima tunjangan Rp 50 juta per bulan, di saat sekolah-sekolah di pelosok kekurangan kursi belajar. 

Vandalisme anggaran lebih jahat dan pahit. Ia Merampas hak rakyat sejak dari akar. Ia tak meninggalkan noda cat. Tetapi, meninggalkan generasi tanpa ruang belajar yang layak. 

Rakyat di sebut perusak demokrasi bila demonstrasi ricuh. Namun aturan di ubah, agar Gibran bisa maju sebagai wapres, dan dinasti politik di poles menjadi sah. 

Vandalisme ini tidak berwujud grafiti di tembok, melainkan merobek konstitusi. Demokrasi di robek oleh pena. Bukan oleh rakyat di jalanan. 

Negara menjaga agar taman kota tak terinjak saat demo. Namun, PLTU dan Smelter memuntahkan asap, membuat jutaan paru - paru di paksa menanggung racun. 

Vandalisme apa yang lebih nyata daripada meracuni udara setiap hari?. Rakyat di paksa menjaga bunga - bunga di trotoar. Sementara, anak - anak tumbuh dengan udara yang beracun. 

Setiap tragedi di tutup dengan kalimat, "Usut Tuntas" atau meredam dengan kata "Maaf". Walter Benjamin mengatakan, "politik bisa menjadi estetik - penderitaan di tata, agar tampak indah.

Vandalisme ini justru menipu : luka di bungkus dengan rapi, agar marah tak sempat tumbuh. Semua di atur seperti panggung, bukan di hadapi sebagai tanggung jawab. 

Demonstrasi besar menggema di banyak kota. Namun, kemana anggota DPR, mereka tak terlihat batang hidungnya.  

Vandalisme yang paling sunyi adalah ketidakhadiran : ketika mereka yang di pilih untuk bicara, tetapi bungkam. 

Rakyat menjadi tahu, bahwa negara hanya panggung kosong, dan kepercayaan telah runtuh.

Sekarang kemana mereka?. Mungkin di situlah vandalisme paling getir : Ketìdakhadiran. Sebab, ketidakhadiran bukan sekedar absen. Tetapi penghianatan terhadap mandat dan amanah. 

Negara melarang rakyat membakar fasilitas umum. Namun, generasi di korbankan oleh korupsi bansos, pendidikan yang tertinggal, dan udara yang kotor. 

Vandalisme terhadap generasi lebih menyakitkan ketimbang seluruh fasilitas umum yang rusak. Sebab, ia merampas masa depan dan meninggalkan warisan luka, yang tidak bisa di perbaiki dengan cat baru di dinding sekolah. 

Semua ini bukan ajakan untuk merusak fasilitas umum. Kita tahu, Halte, kursi, gedung, ataupun pot bunga adalah milik bersama, yang seharusnya di jaga dan di rawat. Tetapi, yang ingin kita soroti, mengapa negara begitu cepat menuduh dan menuding rakyat sebagai Vandalis. namun, begitu lambat dan lamban melihat dirinya sebagai pelaku kerusakan yang jauh lebih besar dan dahsyat. 

Kerusakan di jalanan, hanyalah konsekuensi dari Luka yang lebih dalam - dari hutan yang di babat, dari pohon yang di tebang, dari hukum yang di lemahkan, dari anggaran yang bocor, dari demokrasi yang di pelintir.

Rakyat merespon dengan marah, karena sudah terlalu lama di paksa menanggung biaya dari kebijakan yang merusak. 

Kerusakan fasilitas umum hanyalah gejala kecil. Sebab, kerusakan yang jauh lebih parah, justru lahir dari keputusan - keputusan politik, yang di buat dengan sadar oleh mereka : PEJABAT.  


#Pustak Hayat

#Rst

#Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:

Posting Komentar