-Menyimak kata hati-
Sebenarnya yang bisa berkata-kata itu akal. Kalau hati tidak mengatakan apa-apa. Hati hanya merasakan. Perasaan sedih itu sudah eksis sebelum ada kata sedih, misalnya. Itu kenapa jangan menunggu hati berkata. Kita sebaiknya belajar merasakan terlebih dahulu.
Bagaimana mendengarkan kata hati?.
Lihatlah sesuatu sebagai apa adanya. Kelihatannya ini sederhana. Tapi itu tingkat yang menurut saya sangat susah. Karena saat kita melihat sesuatu, itu pasti muncul sebuah konsep di dalam pikiran kita.
Kalau Islam mengajarkan ikhlas, mengajarkan berserah kepada Tuhan. sesungguhnya itu membuat kita berada dalam posisi melihat sesuatu sebagai apa adanya.
Memang membuat jarak dengan diri sendiri itu tidaklah mudah. Namun, setahu saya, mendengarkan kata hati itu harus berani “menghentikan pikiran” di kepala. Bukan berani, tepatnya, tapi bisa menghentikan “cerewetnya otak”.
***
- Hitam dan Gelap Bukan Kelam -
Biarkan kami melihat gelap dengan terang yang kecil ini, Biarkan kami susun cahaya yang terbatas agar kami bisa menangkap gelap.
Tak perlu takut dengan gelap, Tapi cemaslah pada kelam. Sebab gelap adalah bahagian dari hidup.
Kelam adalah putus asa yang memandang hidup sebagai gelap yang mutlak.
Kelam adalah jera, kelam adalah getir, kelam adalah menyerah.
Hitam tak pasti kelam. Hitam tak berarti dendam. Hitam tak selalu muram. Hitam tak tentu karam.
Tak jarang, justru akan tampak keindahan di tengah gelapnya malam.
Alor, 8 September 2019
***
- Sunyi ingin bunyi -
Sunyi pun ingin bunyi. Sunyi selalu iri pada bunyi yang selalu bersuara, Bebas sekali sedang ia tak bersuara sama sekali. padanya hanya ada kekosongan, keluhnya pada diri sendiri.
Ingin sekali bersuara seperti burung-burung, Seperti bayi yang menangis, atau seperti tikus yang mecercit saat bertemu makanan.
Selama ini Sunyi hanya berkarib pada kekosongan. Tak seorang pun paham, Sunyi lebih sering menangis diam-diam.
Di kamar bercahaya suram, Saat perasaan yang tersimpan sama sekali tak bisa terucapkan.
Akhirnya, pada pemilik kesunyian, Sunyi mendendangkan setiap mimpi dalam pilihan harapan agar Di genapi.
- Ramma (2015) -
***
-Sepi berbaris duduk di kursi-Kursi-
Moderinitas memberhalakan keramaiaan dan kecepatan. Diam dan kesunyian dianggap penghambat kemajuan, penghambat perkembangan.
maka diam, maka sunyi di lekati berbagai cap negatif. diam dan sunyi pun menjelma jadi hantu.
Manusia modern berlari dan berlari, terus berlari menjauhi diam dan sunyi.
pelarian ini adalah pelarian dari diri sendiri, pelarian ini juga berarti pelarian dari lingkungan-lingkungan tempat manusia modern bernafas.
Sebab tanpa diam, tanpa sunyi, mana mungkin manusia mendatangi dirinya, mengenali dan mengakrabi setiap jejaknya, menyingkap lapis demi lapis hingga menemukan makna-makna, begitupun dengan lingkungan-lingkunganya.
Semua hanya mungkin mendedahkan makna-makna, jika di kenali, Di akrabi, di singkap lapis demi lapisnya.
Karenanya diam dan sunyi bukanlah kutukan seperti di pelupuk teguh oleh banyak manusia modern. diam dan sunyi justru berkah.
- 18 Agustus 2017 -
***
-Hening ; Nyanyian kodok -
Hening, dingin melengking malam. Sahutan kodok memecah sunyi di pinggiran kota.
Telah lama mereka menanti semi, setelah kemarau panjang nyaris berkarat.
Dendang kodok, acap tak tau diri, pun tak kenal waktu istirahat manusia. Mereka tetap bersenandung dengan riang.
Kodok, rupanya kau mahkluk jalang. Senandung kerinduanmu, kau umbar ke semua mahkluk di sekitarmu.
Nyanyian Keintimanmu, Menyerbu lobang- lobang telingaku, yang nyaris Tuli.
Namun, cepat-cepat saya membatin. Bukankah, kita adalah Mahkluk yang berjalan pada rute takdir masing-masing.
Silahkan bersahutan, jika itu tentang kerinduan purbamu. Saya akan menikmatinya.
- Pinggiran Sawah - Makasar (08/11/2018) -
***
- Di ujung Lorong kolong Langit -
Lalui saja, pun ia masih sunyi, Biarkan saja. Bukankah sunyi adalah bunyi yang sembunyi.
Sangatlah Manusiawi, jika Lorong Taqdir-Nya dikolong langit ini, Acap Bekelindan dalam Misteri, Hingga Tidak mampu dipahami dengan keterbatasan otak kita yang kerdil.
Lalui saja, Pun ia masih sunyi, biarkan saja. Diujung lorong kolong langit. Temukanlah bunyi, Rasa dan kesadaran sejati.
Sebab kita hidup ditengah gelimang kepalsuan yang luar biasa menenggelamkan kita.
- Lembanna, 07/12/2019 -
***
-Waktu-
Setiap melihat jam, saya selalu membatin. pada siapa waktu sebenarnya berdetak?.
Di detik itu mungkin ada detak yang ingin kita rasakan, Serupa ingatan di masa lalu, sebelum waktu menaklukkan.
Di lubang hitam waktu berhenti, dan kita hakiki ketiadaan yang abadi.
Demi waktu.
Demikiankah waktu.
Sebatas akhir, Awal meniti kebahagiaan.
Sebatas akhir menuju yang selalu di rindui.
***
- Nelayan dalam sahara -
Kau lempar tali pancing, namun ikan tak kunjung datang.
Kau lempar jala. naas, yang kau dapat sepatu bekas.
Kau lempar kembali jala, menantikan ikan menghampiri layaknya gembala.
kau tarik jala, hampa.
Sial, hardikmu. baru engkau ingat, laut ini hanya fatamorgana dalam sahara.
***
- Melebihi Saudara -
Bersama menikmati angin tiap senggang waktu dan mendekap kehangatan dilorong-lorong sepi yang kerap diramaikan gelak tawa.
Bersama menyusuri setiap jejak embun, sebelum lenyap di lamun matahari.
Perkawanan itu tidak mengenal nama, rupa dan tahta.
Pada setiap aliran darah yang mengaliri mata. Ada kasih yang hanya bisa disamai Oleh cara-cara bumi mencintai gunung, sungai, laut dan ngarai. Tanpa sedikitpun melukainya dengan badai.
Hidup Pasti memberi imbalan yang pantas ; Bagi siapa saja yang mau menghargai Perkawanan.
- Makassar, 06/2020 -
***
- Simpan Dulu Dendam kita Pada hidup -
Kita harus terbiasa tersenyum melihat realitas dunia, yang isinya paradoks-paradoks.
Ada kemalangan, ada kemeriahan.
Ada nestapa, ada kebahagiaan.
Ada air mata, ada suka cita.
Ada suka, ada duka.
Ada luka, ada kegembiraan.
Demikianlah Realitas hidup ini berjalan. Jika tak kita rawat senyuman ini, maka telah lama kita terlempar dari gelanggangan kehidupan.
Senyuman itu elan kekuatan bagi diri, juga rumah yang ramah bagi mata.
Sambil mengumpulkan ransum terbaik. Sembunyikan dulu, dendam-dendam kita pada hidup ini, dibalik senyuman.
Kelak, kita akan ledakkan bersama-sama ditengah kerumunan pesta pora mereka.
Ingatlah, jangan pernah sekali-kali menggadaikan senyuman pada siapapun. Sebab, tak ada nominal yang bisa membelinya.
- Makassar, Dipinggiran sawah, 18/09/2021 -
***
Sebaiknya sudahi menerka manis pada kualitas kecapan. Sebab, saya tidak mahir dalam memainkan lidah dan mengecap manis pada bentangan jarak. Selain itu, manis yang sejati, terletak pada kualitas perjumpaan.
Semakin berkualitas perjumpaan, semakin manislah.
Sejatinya perjumpaan ialah pertemuaan Fisik -Psikis - Pikir dan Dzikir (Kontemplasi/Permenungan). Seperti perjumpaan Adam dan Hawa dijabal Rahma, setelah keluar dari Taman eden.
Datok moyang Manusia memperjumpakan semua entitas kemanusiaan. Sebab, Sekedar perjumpaan Fisik adalah Warisan Otak Darwin, Locke, Hume. Sekedar perjumpaan Psikis adalah Warisan Otak Frued. Sekedar perjumpaan Pikir adalah Warisan otak Descartes. Sekedar perjumpaan Dzikir adalah warisan Filsafat Timur.
Demikinlah, Tujuan menanam akan di kendalikan oleh proses menanam. Menanamlah, walau kelak Tuhan yang akan memanenkannya untuk kita.
Sejatinya, kita adalah kafilah yang selalu menanam, agar bisa memanen. Hidup bukan sekedar mencecap Kenikmatan. Tapi, juga menumbuhkannya.
Kontribusi itu penampakan luar dari keikhlasan kita dalam memberi, memperjuangkan dan melayani Ummat. Itu amanah pasca, kita di bai'at menjadi kader.
Kita (kalian dan saya) bukan ada untuk menjadi puing atau kayu yang termakan arang. kita adalah pemenang.
Perjuangkanlah.!. Sebab, meneriakkan kemenangan di ujung, harus di awali dengan perjuangan hari ini. Nanti ada kisah yang bisa kita ceritakan kelak
Ada banyak kemungkinan menyitir isi kepala, banyak juga kejadian yang menavigasi keputusan. Ada peluang merotasi kesimpulan. Jangan meratap lagi, sudah saatnya kita tabrakkan pada ketakutan.
Menanti sebuah asa, di tengah kemusykilan yang menderah di lorong waktu.
Akankah asa itu kembali tergenggam di saat selaksa tantangan hadir menghimpit, di setiap jejak ikhtiar yang telah aktual.
Tapi, "Mungkin Segalanya Mungkin", sebagai cemeti tuk melautkan angan.
semoga asa itu kembali hadir dalam resonansi yang mengguratkan keyakinan yang pasti, bahwa badai itu secara evolutif akan berlalu.
Kelak, pada masanya kita akan ledakkan kegembiraan di kerumunan kesengsaraan. Sebab, Jalan hidup kita biasanya tak linear. Tidak juga seterusnya Pendakian atau penurunan.
Demikianlan Kader adalah Mahluk organik yang sudah siap hidup dalam kondisi apapun. Dia akan tumbuh kembali, di tempat mana saja yang dianggap relevan dengan misi hidupnya.
Orang yang dianggap remeh hari ini. suatu saat menjadi orang yang sangat penting esoknya. Siklus hidup memang berisi misteri-misteri.
Yaa, saya sedang Mengukur mata dan volume air mata. Mengubur ingin dan merubah arah mata angin.
Tunggu Saja. Sebab, Ini Dendam Pada Hidup.
-Makassar, 26 Februari 2021-
***
- Berdiri Menerka takdir -

Di ambang petang. Di lekuk teluk. Pejalan sunyi berdiri menerka-nerka takdir, Yang di rahasiakan oleh Kail.
Kepada Pantai, Ombak tak pernah bisa berikan kecupan. Sebab, adakalanya surut menjauh.
Namun, degupan rindu, mendorong gelombang pasang berpulang.
Ombak tau, lautan tak pernah ada tanpa daratan. Ombak terasa ada, saat membelai pantai.
Segala sesuatu hidup berpasangan.
Betapapun sesekali kita mundur ke relung kedirian, kita tak pernah menjadi diri sendir tanpa terhubung dengan orang lain.
Sejak itu, aku adalah kau, Dan engkau adalah aku. Kita hidup, karena saling mencintai.
Ketuklah...!. Biarkan dulu, Aku berdiri sendiri di garis takdir yang indah. Yang Kelak menua bersamaMu, dengan genggaman yang menghangatkan ruhku.
Selalu ada catatan tentang perjalanan kehidupan.
Direntang Usia, mungkin juga dipenghujung waktu.
Menabur asa di cakrawala, penuh degup kekhawatiran tentang hari esok yang selalu menjadi misteri.
Di kolong malam, pernah terukir maksiat duniawi yang dengan sumringah dijalani.
Goresanya, hingga kini berbekas dihati.
Barisan mega diatas kepala, menyembunyikan luka.
Sejenak, Biarlah cerita ini abadi, walau hanya dalam kesendirian.
-Makassar, 30 Januari 2021
***
-LELAKI PANGGILAN-

Napoleon Bonaparte, Benneditto Mussolini dan Adolf Hitler.
Napoleon Bonaparte jago perang, namun berakhir di pulau Elba. Mussolini dan Hitler, orator yang ultranasionalis. Satu dari negeri Alessandro del Piero, yang satu dari negeri Fransz Beckenbauer (tapi "bisik-bisik" sejarah, Hitler orang Polandia). Mereka bertiga punya kesamaan : sama-sama PENDEK.
Dari beberapa literatur (kategori "gosip"), mereka secara medis-psikologis disinyalir mengindap "Sindrom Orang Pendek".
Teori sindrom orang pendek yang kontroversial ini menurut ilmu psikologi terjadi di beberapa orang yang memiliki tubuh pendek. Selain disebut sebagai sindrom orang pendek, sindrom ini juga dikenal sebagai sindrom Napoleon atau sindrom orang kecil.
Sindrom orang pendek adalah teori yang berhubungan dengan orang-orang bertubuh mungil alias pendek. Teori ini menunjukkan bahwa beberapa orang pendek memiliki rasa rendah diri karena bertubuh pendek dan cenderung mengimbanginya dengan aspek lain di kehidupannya.
Orang-orang yang berpostur pendek ditemukan sangat agresif. Ini hanya diduga sebagai kondisi psikologis, dan terjadi pada beberapa orang pendek yang berkelamin laki-laki.
Menurut teori ini, Kaisar Napoleon Bonaparte selalu mengimbagi perawakannya yang pendek dengan menjadi sangat agresif. Teori ini juga terkait dengan penguasa agresif lainnya, seperti Hitler, Mussolini, dan lainnya.
"Tinggi saya, kurang lebih 160 cm. Masuk kategori pendek, menurut teori ini !", Kata Kawan saya.
"Jangan lihat ukurannya. Tetapi, Daya jelajahnya yang harus Engkau perhatikan. Agresif sekali melakukan perjalanan !".
Bisa di test, kalau tak Percaya. " Satu cubitan lekat di pinggang. Alamakk, Perih".
- Barru, 24 Juni 2021 -
***
-Masih Pagi, Jangan Bersedih-

Kau berteriak sekencang inginmu, Membuat pagi jadi retak.
Katamu, Terlalu banyak pagi yang ingkar, Menghadirkan "mentari", Tanpa menghadirkan "senyuman" itu lagi.
Tapi, engkau lupa, bahwa pagi adalah sebaik-baik suasana, Yang sanggup memaafkan siapa saja.
Jika pagi datang dan engkau merasa bersedih. Itu hanya, karena kegembiraan sedang menggodamu.
Ingatlah, Pada setiap remah cahaya matahari, yang di jatuhkan langit di pagi yang bersahaja. Terdapat pesan tentang kelembutan.
Embun tak akan pernah punah. Tetapi, dia selalu di takdirkan oleh sengat matahari, Terhadap angin, Untuk Tunduk bersimpuh melayani kemauan mereka.
Seperti budak yang niscaya menunduk patuh di bawah telapak kaki tuannya.
Pagi sudah terlanjur mendatangkan sengat,
Nikmati saja.
-- Alor, 12/02/2019--
***
- Pagi 1 -
Pagi..!
Jadilah, yang paling lapang dadanya. Saat dunia, semakin sempit dan sesak.
Pagii..!
Jadilah, yang paling hangat. Saat dunia semakin dingin, kaku dan membeku.
Pagi..!
Jadikanlah Kebahagian sebagai harta milik, yang kita jaga sepenuh hati, agar pagi kita tetap tersenyum.
Jika pagi datang dan Engkau merasa bersedih. Itu hanya, karena kegembiraan sedang menggodamu.
-Alor, 29 Desember 2019
***
-Pagi 2-

"Pagi harus di maknai sebagai buku yang terbuka dan bebas di interpretasi oleh siapapun. Nikmati saja, jangan biarkan pagimu melintas dengan murung".
Nabi Sulaiman As bertanya kepada semut, "berapa banyak kamu makan dalam setahun?". Tiga (3) butir gandum jawabnya. Lalu, beliau mengambil semut itu, dan meletakkannya di dalam sebuah botol, berikut 3 butir gandum.
Setahun pun berlalu. Nabi Sulaiman pun memeriksa botol tersebut dan menemukan semut itu hanya memakam 1,5 butir gandum. Nabi Sulaiman bertanya, "mengapa engkau tidak memakan semuanya?".
"Ketika aku berada di luar botol, aku bertawaqqal dan berserah kepada Allah. Dengan bertawaqqal kepadaNya, aku yakin bahwa DIA tidak akan pernah meninggalkanku. Tetapi, ketika aku pasrah kepadamu. aku tidak yakin, engkau akan mengingatku, Pada tahun berikutnya. Apakah engkau akan memberiku gandum atau tidak. Karena itu, harus ku sisakan gandum tersebut".
Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezeky. Boleh jadi rezeky kita adalah sehat wal afiat, di tutupi setiap aib, di selamatkan dari keburukan, orang yang suka pada kita, keluarga yang menghangatkan.
Olehnya, jangan membatasi rezeky pada materi saja. Apalagi terlalu setengah mati mengejar sesuatu yang hasilnya tidak bisa di santap di alam kubur dan barzah. Kita tidak akan membawa tanda mata apa-apa.
Kelak di peristirahatan yang sempit itu, hanya bisa di isi 3 Mahkluk : Jasad kita, mungkar nakir dengan Daftar pertanyaan dan palu di genggaman tangannya.
Itulah sebabnya, Suatu ketika Hasan Al-Basri RA pernah di tanya; Apa Rahasia Agamamu?.
Jawab Hasan, Saya Tau 4 Hal ; (Pertama), saya tahu bahwa Rezeki saya tidak dapat di ambil oleh siapapun. Jadi hari saya puas. (Kedua), saya tahu bahw tidak ada yang dapat melakukan tidakan (Ibadah), jadi saya harus melakukannya sendiri. (Tiga), saya tahu bahwa Allah sedang mengawasi saya, jadi saya malu melakukan kesalahan. (Empat), saya tahu bahwa kematian sedang menunggu saya, jadi saya harus mempersiapkan pertemua dengan Allah.
-Makassar, 28 Februari 2021-
Lama Tidur, tidak memperpanjang Umur. Lama Terjaga, tidak memperpendek Umur. (Omar Khayyan : 1048-1131w).
Berkenaan dengan itu, saya teringat dengan Penuturan Ibnu Qoyyim, bahwa " Boleh jadi saat engkau sedang tidur terlelap, pintu-pintu langit sedang diketuk oleh puluhan doa-doa kebaikan untukMu ;
Dari seorang Fakir yang engkau tolong, Dari orang kelaparan yang telah engkau beri makan, Dari kesedihan seseorang yang telah engkau bahagiakan,
Dari seseorang yang engkau beri senyum saat berpapasan, atau Dari orang yang dihimpit kesulitan yang engkau lapangkan.
Maka, jangan sesekali engkau remehkan sebuah kebaikan".
Tobat katamu, kawan.?. Terangkan kepadaku, bagaimana bertobat dari CINTA.
Malam, Telanlah segala terangmu. Sempurnakan pekat legam hitammu, dan hantarkan aku pada kewaspasaan keheningan. Itu saja.
Sebab, Di kota Anonim ini. ada pejalan Sunyi, yang diam-diam merapal namamu dalam munajat dan sujudnya yang tak pernah usai.
- Makassar, 31 Maret 2021
***
-LEKUK ALOR SETELAH DI TERJANG SEROJA-
Kehidupan ini serupa alam : tiada awan di langit yang menetap selamanya, tiada mendung hujan yang abadi, tiada mungkin akan terus menerus terang cuacanya.
Tiada yang kekal. Segalanya berganti. Sehabis siang yang menyengat. Lahirlah senja yang membawa pesan Syahdu.
Emas memang mahal. Tetapi, saat seseorang tenggelam, sebongkah kayu lebih berharga baginya, di banding segunung emas.
Berharganya sesuatu itu, di ukur dari kebutuhan, bukan dari harganya.
Fir'aun yang semasa hidupnya, mendeklarasikan dirinya adalah Tuhan. Di akhir Hidupnya, untuk sekedar berenang saja tidak sanggup. Tenggelam.
Jangan Sombong, apalagi Jumawa sampai membusungkan dada.
Hidup adalah perjalanan. Selalu ada alasan dari setiap peristiwa. Meski, kadang kita tak pernah mengerti alasannya. Tetapi, setiap perjalanan hidup selalu memberi pelajaran.
Berkenaan dengan itu, saya teringat dengan Ungkapan Ibnu Atha'ilah dalam Al Hikam 65, yang menuturkan bahwa, "siapa yang tidak mendekat kepadaNya, padahal Sudah di hadiahi berbagai kenikmatan, akan di seret (agar mendekat) kepadaNya dengan Rantai Ujian".
Itulah sebabnya, Syaikh Mutawalli asy Sya'rawai mengatakan, "Beritahukan aku tentang kedermawanan Allah?. Dia melihatmu melanggar perintahNya, diletakkan olehNya rasa sesal dalam hatimu, kemudian Dia mendorongmu untuk beristighfar, maka dia mengampuni dosamu".
-Alor, 10 April 2021
***
-NEBENG SYAHWAT-
Di tengah Geliat yang 'Meng-Akukan' diri. Padahal jelas tak memiliki jenis Kelamin. Jenis kelaminnya telah lama di kebiri dan mandul. Akibatnya, mereka kehilangan Syahwat.
Dalam tradisi kekuasaan Jepang. Orang yang kehilangan syahwat adalah mereka yang menjaga kaisar (kekuasaan). Istilah bekennya Bang Akbar adalah Nebeng Syahwat.
"Aku" di pinggiran, tetap konsisten meracik, Mengembalikan dan mempertegas Jenis Kelamin Di dapur.
Sebab, belakangan kita lebih tertarik pada manusia yang tidak memiliki jenis kelamin.
Entahlah, Siapa yang punya syahwat dan tidak?. Lalu, dengan jenis kelamin apa kita memperkosa ibu Pertiwi.
Secara cepat saya menegaskan, bahwa kebanyakan kita tidak punya syahwat. Kita hanya merekonsiliasi syahwat dan jenis kelamin.
Betapa kurang ajarnya kita itu, sesungguhnya. Kita Perkasa dengan jenis kelaminn dan syahwat orang lain.
Ingat, Aku hanya merindukan ibu Pertiwi, bukan ibu Kartini.
- Toko Ada Buku, Gowa, 17 Juni 2021 -
***
Hari ini, di langit Oktober, Mata cinta kami menangis.
Kala bulan meminjam wajahmu, Untuk dijadikan hiasan di dinding batu.
Ada rindu yang mengabu, Bibir mungilmu tak lagi gerimis menyapa kami.
Hanya diammu kini, Mengubur rasa Mama paling surga
Dik..
Dengan apa kami Memetik Embun di ranting matamu, Sedang nafasmu telah jauh tinggalkan sunyi.
Tinggal Kami selarik senja tanpa jingga, Tiada engkau sandaran hati paling bunga
Dik.. Berbahagialah di taman surga.
Selamanya...
- Makassar, 14/10/2021 -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar