- LELAKI DESEMBER -
Hujan Bulan desember adalah kata-kata yang punya aliran mazhab sendiri, mungkin ada tempat yang mau menampung kisah-kisah murung. Antara kita, sepanjang perjalanan ini. Setelah langit kehabisan mendung.
Hujan bulan desember adalah bulan berjumpa dan berkumpul.
Bukan di pisah oleh jarak nelayan ; mengistirahatkan sampannya untuk bercanda dengan kerabat di musim barat dan petani berpacu menanam lalu berteduh menghabiskan cadangan makanannya, hingga musim panen tiba.
Lelaki Desember tumbuh, bukan sebagai kembang melati. Lelaki Desember adalah belati.
Di asah oleh tumpulnya hidup. Ditajamkan oleh-oleh banyaknya berita-berita buruk.
Lelaki Desember adalah musim hujan. Menjatuhi segenap kericuhan, kemudian berdamai dengan bunga-bunga padi. Hingga ceruk nafasnya berhenti.
- Makassar, The King ; 04/12/2020 -
***
- Hujan Tak Pernah Paham -
Selalu saja dalam hidup, Ada seseorang yang kerap engkau sebut sebagai payung.
Meski, tak pernah merupakan rasa. Tetapi, Ia selalu menjaga matamu dari basah.
Pegang eratlah payungmu. Sebab, mungkin setelah kepergiannya. Akan ada hujan lebih lama di langitmu.
Dan engkau Tau, apa yang selalu di sisikan oleh hujan, Selain Jendela kaca yang basah dan genangan?.
Ialah, Semerbak Aroma Bau Tanah, yang Harumnya masih tetap sama dan Mungkin saja kenangan.
Barangkali, Sudah Takdirnya. saat Hujan. yang engkau Ingat, yang terkenang di kanvas Memorimu, bukan JemuranMu.
- Makassar, 18/01/2018 -
***
- Hujan Dan Tumbuh -
Hujan sedang mengguyur derasnya saat ini, di sini. Membuat benih-benih tumbuh berkecambah.
Barangkali, Hujan tengah mempersiapkan, rindang teduh, saat melewati musim kemarau nanti.
Itulah mengapa, saya merasakan hujan bukan sebagai basah. Tetapi, Hujan sebagai sebuah kehadiran
Biarlah Orang-Orang saja, yang merasakan Hujan sebagai Basah, Genangan dan Banjir.
Berkenaan dengan Itu, Saya Juga teringat dengan alaram dini Paulo Neruda ; "engkau Bisa membabat seluruh bunga-bunga. Tetapi engkau Tak bisa menahan datangnya Musim semi".
Tumbuhlah...
- Makassar, 21 Desember 2021 -
***
-Menunggu Genangan Surut-
Hujan Tak salah, Ia akan tetap memenuhi Taqdirnya untuk jatuh membumi.
Hujan Tak sombong dengan derasnya. sebab, Ia tau Cerah kapan saja bisa menghilangkannya.
Belajarlah pada Hujan, yang Tak pernah mengeluh. meski terpental berkali-kali oleh permukaan payung, oleh pongahnya atap-atap rumah yang menolak di masuki.
Hujan, akan tetap memenuhi taqdirnya untuk jatuh ke membumi.
Jika Hujan saja, tak pernah mengeluh. lantas, mengapa kita kerap kali mengeksploitasi nestapa?.
Segala Puja dan puji KepadaMu Robb, yang menjelma dalam tiap nama dan tiap wujud, sebanyak tetesan air hujan.
Kita harus cepat menyadari bahwa Hujan adalah catatan berseminya Musim Panas yang lebih menghangatkan.
Maka, Perlebar saja SenyumMu. sebab, yang kering kerontang, memang harus di basahi di bawah Rintiknya.
- Makassar, 22/12/2020 -
***
- Menolak Modern -
Saya Menolak Menjadi Manusia modern, jika moderinitas, selalu di tandai dengan Bangunan Infrastruktur statis, yang menghambat laju perjalanan Hujan menuju muara (laut).
Dalam diskursus tentang biosphere and environmental ethics. alas pijak kebijakan Neo develomentalis ialah justice the merginals.
Jika tafsirannya yang di perluas adala kami kelompok yang terpinggirkan dan terbuang. teralienasi dalam bahasa Marx atau Mustad’fin dalam Terma Murtadha Muthahari.
Kelompok pinggiran, Tidak hanya soal Manusia. tetapi juga, tatanan ekologi dan lingkungan.
Secara filosofis, argumentasi kita mesti dimulai dari situ. bukan melompat menjadi perdebatan like or dislike. person to person.
Sebab, Kadang yang di samarkan dari potret pembangunan ialah relasi eksploitasi yang massif, atau sebentuk PELACURAN antara penentu kebijakan dan pelaku bisnis.
Akibatnya, Muara hujan, yang sejatinya di laut. Justru tergenang di darat. Siapa yang paling di rugikan?. Kami yang di pinggiran.
Saya benar-benar, telah mendendami Hidup Ini?. Makanya, tidak usah ajarkan Kami soal Moralitas. Kami di pinggiran lebih Paham dan Mahfum soal itu.
NB ; PICT, Kondisi Samping Rumah
- Makassar, 22/12/2020-
***
-Tubuh di Basuh Hujan-
Seharian gerimis, Menepilah dulu dari jalanmu.
Tak perlu basah kuyup.
Cukup di pojok mukim yang melanggengkan, dengan mendaras beberapa buku, barangkali.
Atau Terlelaplah dalam lupa.
kelak kan ku bangunkan kau. Bairkan dulu cinta, sejatuh bangun itu.
***
***
- Coretan Hujan 6-
Tetiba saja langit bergemuruh.
Mengabu. lalu, ia menjelma badai.
Tidak sedikitpun langkah ini terhenti.
Aku sudah sering berjalan, Diantara badai hujan.
Langit Makassar semakin gemuruh menjadi-jadi.
Dingin menusuk, Tubuh serasa beku, Pucat mengharu deru.
Pesan mama ; Jangan lihat ke atap langit, Saat kilat datang bersamaan dengan hujan.
Nanti cemas datang menjarah sisi jenuhmu.
Berjalan, Berjalanlah perlahan.
Kuat lalu sampai di ujung tujuan.
Pacu lagi nafas, Agar langkah terarah.
- Makassar, 18 januari 2021-
***
- Di Tengah Hujan, Harapan Bermukim-
Sejak Sore jelang malam kemarin. ada gelap yang kumpul, lalu datangkan hujan-hujan culas, yang menggilas semua yang di bawah tanpa ampun.
Ada pekikan begitu keras diatas kepala. mungkin langit sedang menangis begitu pilunya. Suara-suara gaduh itu menyerbu lobang telinga, serta kilat mengagetkan sorotan mata kosong.
Adakalanya aku benci semua yang di bawah hujan ; lintasan kilat, gemuruh Guntur, basah kuyup, dan genangan air.
Namun, Sejak Sore tadi, baru ku tau, bahwa hujan, bukan saja proses alam dan kesejatiannya.
Hujan adalah catatan berseminya sebuah harapan akan datangnya musim panas yang lebih hangat.
Hujan, selalu jatuh ke bawah. jatuh ke tempat yang jauh, asing dan tempat yang ia tidak kenali. bahkan tempat yang paling kotor sekalipun.
Hujan tidak pernah mengeluh.
Hujan juga tak pernah mengeluh meski ia berkali-kali terpental oleh angkuhnya permukaan payung, sombongnya atap-atap rumah yang menolak untuk di masuki. hujan tetap memenuhi kodratnya jatuh membumi, membasahi segala sesuatu yang kering kerontang.
Bila Hujan saja tak pernah mengeluh. Lalu, mengapa kita kerap mengeksploitasi Nestapa?. Bukankah yang kering memang harus di basahkan di bawah rintik hujan..?
Perlebar senyummu, sambutlah hujan. sebab ia datang dengan pengharapan, musim panas yang lebih menghangatkan dan menenangkan.
Biarkan Hujan mengguyur derasnya. Barangkali itu cara membuat benih benar-benar tumbuh berkecambah.
Atau barangkali hujan sedang mempersiapkan, rindang teduh saat melewati musim kemarau nanti.
Itulah mengapa, saya merasakan hujan bukan sebagai basah. tetapi, hujan sebagai sebuah kehadiran. biarlah orang-orang saja merasakan hujan sebagai basah, banjir, mengungsi dan kemacetan.
- Coretan-Hujan ke 7-
- Makassar, 14 Maret 2021-









Tidak ada komentar:
Posting Komentar