- SEGERALAH HADIR -
Di ujung hitung tasbih, ku selip nama yang tak ku tau itu siapa?.
Dengan dada gemuruh, ku pinta ; Ya Robb, pertemukanlah kami, anak cucu adam..!
Lalu, gelegar hujan mengamini, membawa rinai mataku. Pelengkap insan musafir yang berjalan di kesunyian.
Engkaulah riuh dalam rinduku. segeralah hadir..!
Berharap pada manusia adalah kecewa yang di sengaja.
Letakkanlah Segala harap, pun pinta pada yang tak bergantung pada apa, siapa dan dimana. Dialah, yang tak beku dalam absulutisme. Berjalan tak kiri dan kanan. Tertuntun rapi pada Cosmik : " Qiyamu bi nafshi".
Bukankah?, keindahan adalah tersungkur di sekujur sujud.
Bukankah?. Hidup, hanya untuk tua, Tatih dan redup.
Pada malam yang tiba ku melipatgandakan mujahadah.
Pada dunia yang telah lelah, bahasaku menangis.
Pada Masjidku, rinduku membuncah.
- Makassar , 12/03/2020 -
***
-NIKMAT TAK TERTAKAR-
Matahari datang mematuhi perintah Tuhannya. Menelan malam dengan terang.
Malam akan usai. Waktunya bangun dari mimpi. Subuh semakin mendekat.
Hai, manusia. Hadapankahlah wajahMu kepada pencipta, Sehabis berselimut.
Malulah pada matahari pagi yang datang menyambut. Pada wajah lembab yang dibasuh dengan air suci yang mensucikan. Pada anak manusia yang tahu dirinya, MenghadapNya adalah kebutuhan.
Mereka akan merasakan subuh yang bernafas, merindukan sensasi keindahan yang lebih agung, dari sekedar berselimut.
Pagi sudah genap. Hari masih jauh waktu bumi.
Sebahagian orang berpacu dengan embun, Mengejar matahari.
Tetapi, dunia itu kail wortel di bibir keledai.
Tersenyumlah, bila Robb memilihmu tetap duduk diatas sajadah berurai air mata, bibir tak luput berdzikir.
Bukankah Nikmat Allah tak pernah mendusta.
Sebab itulah, Syeikh Mutawalli Sya'rawi mendaku, "untukmu yang sering merasa kurang beruntung dalam kehidupan, tidak cukupkah engkau merasa menjadi orang yang sangat beruntung dengan di lahirkan sebagai seorang Muslim".
- Makassar, pematang sawah (25/11/2020-04.00) -
***
- NIKMAT TAK TERDUSTAKAN -
Pagi sudah genap,
Hari masih jauh waktu bumi,
Sebahagian orang berpacu dengan embun,
Mengejar matahari.
Tetapi, dunia itu kail wortel di bibir keledai.
Tersenyumlah, bila Tuhan memilihmu tetap duduk diatas sajadah berurai air mata,
bibir tak luput berdzikir.
Nikmat tak terdustakan.
Sebab itulah, Syeikh Mutawalli Sya'rawi mendaku, "untukmu yang sering merasa kurang beruntung dalam kehidupan, tidak cukupkah engkau merasa menjadi orang yang sangat beruntung dengan di lahirkan sebagai seorang Muslim".
- Makassar, 26 April 2021
***
-Tao Teh Ching-
Dia adalah sesuatu yang tak berbentuk. tapi, utuh. Telah ada, sebelum langit dan bumi.
Tanpa suara, tanpa materi. Tidak bergantung pada apapun dan tak berubah.
Dia Meliputi segala hal dan Tak pernah berakhir.
Seseorang mungkin menyebutnya sebagai ibu. Dari segala hal dikolong langit, tak pernah ku ketahui nama sebenarnya.
“TAO” adalah panggilan yang kuciptakan. (Tao Teh Ching).
***
-Makrifat Pagi-
Dalam kegaduhan dan kedangkalan, apakah bisa dihayati ketuhanan? Inti ketuhanan adalah bercengkerama dengan kekudusan (numinous) : "La Harfin waa la shouf" .
Hanya dalam hening, kedirian mudah menyatu dalam kekudusan. ”sunyi itu kudus”. Dalam hening kesunyatan, bahasa jiwa merupakan vibrasi dari semesta. Ia adalah bunyi-bunyi tanpa suara. Logos Ilahi.
Seperti Gumam ’Ali bin Abi Thalib, ”Sepatutnya seorang hamba merasakan kehadiran Tuhan pada waktu sendirian (ketika tidak dilihat orang banyak), memelihara dirinya dari segala cela, dan bertambah kebaikannya ketika usianya bertambah tua.”
***
- SEPERTIGA MALAM 1 (CORET KERINDUAN) -
Di mata doa, Engkau yang tak ku tau itu sapa?, Adalah baris-baris harapan yang tak jemu-jemu ku lantunkan pada kesunyian yang senyap.
Ku rapal berkali-kali, laksana mantra. yang ku ikat di tiang ingatan, paling tersembunyi.
Robb, Aku berserah atas gelombang partikel-partikel kerinduan Yang mengoyak sukmaku.
Telah ku lantukan Doa kerinduan yang mendera, Agar dinding langit tersingkap.
Bagi pertemuan jiwa, yang tak memerlukan jarak.
Telah ku nyatakan kerinduan, Agar ia tetaplah purnama. Sebab, Di sanalah pandangan kita bertemu.
Tapi bukankah kerinduan Adalah giroh yang harus kita jaga.
Hadir dan Pantaslah. Maka, aku pasti.
- Makassar, 15 september 2019-
***
- Sepertiga malam 2 -
Ketika doa-doa keluar melalui jendela, memanjat angkasa dan bermukim diantara rasi-rasi, tempat Tuhan meletakkan Telunjuknya.
Bagi sepertiga malam, keramaian adalah pasar, yang di perjual belikan hati, beserta segenap sunyi.
Saling tawar menawar terhadap kepasrahan, kerinduan dan cinta yang di semayamkan.
Juga, terhadap qadha dan qodhar, yang datang dari zat, yang memiliki lebih dari satu nama.
Duhai langiit...
Membungkuklah sedikit agar engkau tak terlalu tinggi.
Ku ingin menyampaikkan pesan kerinduanku pada Bintang itu ,sebelum Fajar merekah di ufuk barat.
Ada resah yang berhembus ketika masih terdiam..
Telah ku langitkan doa atas rasaku. Engkau tak perlu tau berapa bilangan cinta yang menderaku.
Cintaku, ku titip pada lidah gelombang, agar mengantarnya tepat di hadapanmu.
Jika ia tiba. terimalah dengan segenap rela. Jangan membiarkan ia membuih.
03:00, Maha Ganjil Engkau dari seluruh perkara yang Ganjil. Alif, Lam Mim Panjang.
--Makassar, 01/01/2021--
***
- SUBUH ISTIQOMAHNYA KERINDUAN -
Di ujung hitungan tasbih, ku selip nama yang tak ku tau itu siapa?.
Dengan dada gemuruh, ku pinta ; Ya Robb, pertemukanlah kami anak cucu adam".
Lalu, gelegar Hujan mengamini, membawa serta rinai mataku. Pelengkap insan Musafir yang berjalan di kesunyian.
Engkaulah riuh dalam rinduku, segeralah hadir..!
-Makassar, 21 Januari 2021-
***
- SEMUA AKAN BERAKHIR -
Dulu, pesan Guru saya, bahwa Inti perjalanan sesungguhnya adalah mati. sebab, mati merupakan pintu untuk bertemu Tuhan (Al mautu babun). Maka, setiap kita Niscaya untuk " Mutu anta qobla mutu" (matilah sebelum di matikan).
Tak ada kuasa dan otoritas kita, untuk menghindar, bersembunyi, apalagi berlari dari Maut. Bahkan, Tidak ada tempat di bumi yang bisa menghindari Maut. Maut selalu tiba, di batas usia.
Sekalipun kita bersembunyi di balik benteng belapis baja yang tebalnya tidak tertandingi, mati akan tetap menembus "aynama takunu yudrikumul mautu waa laa kuntum burji musyay yadah".
Semua Kita ada dalam kesementaraan, datang tetapi untuk pulang. Selamanya disini hanya berteman rindu, satu-satunya penuntun arah adalah untuk kembali menyatu dengan kekasih Sejati, Zat Yang Maha Hidup.
Cukuplah, kematian sebagai tanda dan petanda, bahwa tak ada yang benar-benar penting dari hidup ini. Semua kita akan menuju kesana, menuju jalan pulang ; KepadaNya.
temponya, tentu tentatif. Kita tidak bisa menebak kapan dan bahkan mungkin kita tak bisa mendengar panggilanNya. jika waktunya Tiba ; entah siap atau tidak, tidak perduli sedang apa, sedang dimana, bersama siapa, hendak kemana atau sekeras apapun kita menolak. Tidak ada tawar menawar, kita tetap harus pulang.
Maka, Bersiaplah..!
Ya Allah...Engkau Maha Digdaya. Kekuasaanmu membentang langit dan bumi. Tetapi, kami abai membaca tandaMu. Ampuni Kami, Ya Robb.
***
- JELANG SUBUH -
Jelang Subuh, Gerimis meliuk diatas mata.
Bergetar tasbih diatas tangan yang legam dosa dunia ; bebal dan dungu.
Tiba waktu, kita akan bersauh.
Tetapi, kehabisan nafas kejar mengejar, yang fana dan sia-sia.
Entahlah..!
Ternyata hening itu bertalu, Riuh di rongga waktu,
Menyeret keindahan, Yang ku sebut, Engkau ; Robb
***
- Waktu, Kerinduan Dan Pertemuan -
Waktu bukan sekedar 'kronologi', urut-urutan detik, menit dan jam yang rampat, seragam, kosong dan mekanis.
Waktu, di mata seorang beriman memiliki makna spesial. Ada waktu-waktu tertentu yang dipandang sakral, seperti malam nishfu Sha'ban ini, malam di mana Tuhan menampakkan Diri melalui "al-tajalli al-a'dzam."
Senantiasa terlihat samar, mana diriku. Mana dirimu. Ku hampir sampai kepadamu, tetapi yang terlihat adalah diriku.
Kalau aku adalah engkau, mengapa ada pencaharian?. Kalau engkau adalah aku, mengapa ada perjalanan?.
Ada gemuruh dada kita malam ini, seperti dzikir pada Sufi. Mendekat diri pada ilahi, agar getarnya mengetuk dinding bumi.
Ketuklah, maka Dia akan membukakan pintu. Sujudlah, maka dia akan menjawab semua keluhmu. Jadilah, hamba, maka Dia akan memberikan segalanya.
Ya Robb, Pertemukan Kami Dengan RamadhanMu Yang Agung serta Pertemukanlah Dua Insan musafir, yang dalam senyap saling meminta, memperjuangkan dan Merindukan.
Ya Rob, aku Tak ingin seperti Qois Dan Layla. Yang tak ingin berjumpa, karena tak ingin melepaskan Kerinduan sesaatnya.
Kerinduan ini telah membuncah di Nifshu Sya'ban. Pertemukanlah Kami, Ya Robb.

















Tidak ada komentar:
Posting Komentar