Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Jumat, 01 Oktober 2021

HISTORIA MAGISTRA VITAE



Kisah beberapa waktu yang lalu. Cerita sederhana. Sesuai dengan musim, teringat untuk menuliskannya kembali, agar tak terlupakan.

Suatu malam, sambil menyeruput kopi dipinggir jalan, saya bersua dengan kawan sewaktu Sekolah dahulu. Kawan saya dan beberapa kawannya juga menghampiri, menanyakan kabar dan sebagainya. Entah mengapa terjadi dialog tentang komunisme. Antara saya dengan beberapa kawan yang setelah Lulus SMP (Tsanawiyah) dan melaniutkan SMK, lalu masuk perguruan tinggi, baru berjumpa kembali. 

Si doi, yang Awalnya Mengajak keluar untuk menghilangkan sejenak Stresnya, akibat Tugas-Tugas Kampus yang menumpuk, sepertinya mulai Jengkel. Dalam pikirannya barangkali terbayang ; "Adduhh, Na Pancing lagi Ais Diskusi. Orang mau santai-santai. Kalau ku tau begini, tadi saya keluar sama Teman-temanku saja".

"Bro, katanya ideologi komunis sedang bangkit di Indonesia. Kita harus waspada", kata Kawan saya sambil "menyesap kopi" yang sedang hangat-hangatnya. Saya hanya tertawa kecil. Kawanku terus bicara tentang dominasi etnik tertentu dalam bidang ekonomi, hingga keberhasilan Bashar Al-Assad di Suriah dari gempuran banyak pihak dengan bantuan Putin, yang katanya komunis 24 karat. Akhirnya diskusi, mengalir.

Dari diskusi kami itu, point-pointnya mengingatkan saya dengan Ragam bacan dan diskusi saya dan beberapa kawan lainnya beberapa Waktu sebelumnya dengan fokus pertanyaan : "Benarkah komunisme sedang bangkit ?".

Saya tidak tahu, komunisme itu sedang bangkit atau tidak. Karena, isu ini sudah berulang-ulang dihembuskan. Kalau terpuruk, itu sudah pasti. Di tempat lahirnya pun, ideologi ini tidak diminati lagi. Memang masih menjadi haluan negara mereka, tetapi hanya bungkusan saja. Bahkan lawan dari ideologi ini, kapitalisme-liberalisme justru sedang dipraktekkan secara telanjang. Silahkan, lihatlah bagaimana praktek ekonomi Cina dan Rusia.

Artinya, ideologi ini sudah masuk dalam keranjang sampah sejarah. Kalau ada orang yang masih merindukan ideologi ini, berarti seleranya rendah.

Sejak saya mahasiswa semester 6 atau 7, cukup banyak (bukan berarti banyak sekali) saya membaca buku-buku Marxisme dengan segala "cabangnya" seperti Lenininsme, Trotskysme, Maoisme dan seterusnya. Bahkan buku-buku Tan Malaka, Nyoto, Aidit dan biografi-biografi para Stalinis di Amerika Latin, cukup banyak saya koleksi-baca. Termasuk improvisasi Marxisme a-la Timur Tengah (Baathisme). Semakin saya baca, justru semakin terlihat ketidakmungkinan (bahasa kerennya : utopis / utopia) ideologi ini akan eksis ditengah-tengah ummat manusia. Sejarah telah membuktikan itu.

Kalau kita baca sejarah lahirnya ideologi ini, kita akan tahu kondisi-kondisi apa saja yang membuat ideologi ini dirindukan. Kalau kita pahami konteks hadirnya ideologi, pada suatu era tertentu oleh suatu komunitas tertentu, kita akan semakin tahu mengapa ideologi ini diminati.

Ideologi ini hadir kembali atau dirindukan kembali ketika ketidakadilan, diskriminasi, kebodohan, ketimpangan ekonomi, rakyat kecil banyak kelaparan, kebencian ditumbuhkan disana sini, pejabat banyak yang korupsi, janji-janji elit yang tidak dipenuhi, kebohongan elit dipertontonkan. Kondisi-kondisi ini yang menginspirasi Karl Marx menyusun "kitab suci" kaum Marxian, yang dikenal dengan 'Das Kapital' dan 'Manifesto Komunisme'.

"Bukankah beberapa elit politik kita memberikan sinyalemen agar kita harus mengkhawatirkan hadirnya ideologi tersebut, sebagaimana kita ketahui bahwa pembunuhan simpatisan PKI secara Massal Pasca 1965 itu terbilang hampir menyamai peristiwa Holocaust yang dilakukan oleh Hitler dengan Nazinya. Bisa jadi karena dendam sejarah ini, agaknya ada Arah kebangkitan Komunisme dibangsa ini, sekalipun Peristiwa G 30 S PKI merupakan rantai dari peristiwa-peristiwa politik sebelumnya. Hanya saja korban dari pergulatan politik ini, terlalu banyak?".

Pertama, Dalam konteks ilmu komunikasi politik dan psikologi politik, sebuah pesan atau sinyal politik, tidak pernah "kosong". Ada muatan politik untuk mempengaruhi psikologi publik. Pertanyaan sederhananya satu saja, "dengan dihembuskannya isu tersebut, pihak mana secara politik diuntungkan dan pihak mana secara politik dirugikan?". Hubungkan puzzle-puzzlenya dan kemudian silahkan kita analisis.

Kedua, Masih banyak yang tidak mau berusaha menelaah Komunis dan Marxisisme sebagai sebuah Ideologi dan analisis Ilmiah. Sebab, yang mendesak adalah menghakimi. Padahal dalam Konteks kekinian, Mempelajari Marxisme itu, tidak Sama dengan menjadi Komunisme, apalagi menjadi PKI?.

Di awal saya telah sampaikan, saya sedikit banyak pernah baca tentang Marx, Lenin, Mao, dsb. Apakah saya adalah Komunis?. Tega sekali kalian..hehehe. Begini saja, silahkan teman-teman sebutkan, Negara mana saja yang benar-benar menjalankan Gagasan Marxisme secara Total ataukah negara mana yang pernah benar-benar menjalankan Syariat Islam secara Total. 

Sependek pengetahuanku, Tidak ada. Misalnya, dua negara yang menjadi Haluan Komunisme di dunia, sekalipun awalnya Uni Soviet-lah Kiblat Komunisme yaitu Rusia dan China. Ideologinya Komunis, tetapi prakteknya Kapitalistik. Cek saja sendiri. Hal itu hampir Sama dengan beberapa negara Arab, yang mengidentikkan negerinya sebagai Daulah Islamiyah. Padahal praktek negerinya, Jahiliyah. Lihat saja Saudi dan UEA.

Sebelum, Saya Masuk pada Fokus Pertanyaan teman-teman tentang Komunisme dan Segala Kejadian dan Peristiwa Yang Melibatkan PKI dibangsa ini. Saya sampaikan dulu Kerangka Epistemik Komunisme itu apa dan Bagaimana. Agar Kita tidak celaka memahami Marxisme.

Komunisme itu Utopis, sedangkan Marxisme itu adalah Filsafat Kritis, yang tertuang dalam suatu sistem ekonomi, politik dan Sosial. sekaligus menjadi antitesa dari liberalisme dan sosialisme. Secara sederhana, konsepsi Komunisme menginginkan Masyarakat Tanpa kelas, Pandangan Ini relatif sama dengan pandangan Anarkisme.

Marx menuturkan, Liberalisme atau kapitalisme dan Sosialisme. tidak memberikan perubahan sosial diMasyarakat. Sebab, Yang kaya tetap kaya dan yang Miskin tetap miskin. Dari Ihwal itu, kita mengenal terma Kelas proletart (Pekerja) dan kelas Borjuasi (Pemilik Modal).

Nah, Untuk bisa menguasai aset dari kelas pemilik modal, Harus dilakukan revolusi. Maka, Negara harus membentuk suatu partai, dimana partai itulah yang menampung para buruh-buruh untuk merebut kekuasaan. Maka, Muncullah Gagasan yang disebut Komunisme. Sebagian pemikir menyebutkan, bahwa komunisme itu merupakan alat perjuangan dari marxisme. Makanya, kenapa saya secara pribadi menolak, jika mempelajari Marx, di paksa samakan dengan Menjadi Komunis, apalagi PKI.

Dulu, komunisme bisa berkembang secara pesat di Prancis dan Inggris, karena saat itu eropa sedang mengalami revolusi industri pertama diPabrik-pabrik tekstil. Marx dibantu oleh sahabatnya, tidak lain adalah seorang anak pemilik Perusahaan terbesar di Inggris untuk mengembangkan manifesto komunisme. Hebatnya Marx adalah buku-bukunya tersebar di eropa, sehingga gagasannya menjadi pemantik untuk beberapa perubahan struktur berpikir di eropa dan terjadi Revolusi.

Nah, Gagasan Marx di adopsi oleh Lenin. Lalu, Ia merangkaikannya dengan Militer, bahwa negara harus mengatur semua hal, dengan satu partai dan militer. Makanya dikenal-lah Gagasan leninisme. Begitu seterusnya, sampai Stalin membantah Lenin dan Nikita Kruchev membantah Stalin. Artinya di Rusia sendiri, sebagai pusat atau kiblat Komunisme, tidak ada Blok tunggal Komunisme. Mereka saling berbantahan Gagasan dan Praktek sosial, ekonomi dan Politik.

Tidak hanya di Rusia Marxisme berkembang. Marxisme berkembang sampai ke cina, di adopsi oleh Mao Ze Dong. Mao melihat, revolusi bisa terjadi atau dilakukan oleh kelompok pekerja atau buruh. Hanya saja Di China tidak ada pabrik saat itu. Makanya, Mao Ze Dong merubah platform penggerak revolusi itu bukan pada buruh. tetapi, pada petani. Makanya, kita kenal juga Gagasan Maoisme.

Satu hal lagi, sebelum saya Masuk pada Fokus pertanyaan tadi. Keunggulan marxisme adalah kemampuannya yang terus berkembang sebagai pembanding kapitalisme. Hanya saja, Tesis Francis Fukuyama menuturkan ; The end of history and the last men. Akhir sejarah adalah kemenangan kapitalisme. Setelah runtuhnya Uni Soviet, maka Tak ada lagi lawan tanding Kapitalisme. Tetapi, Sebagai muslim, kita patut bangga. sebab, didalam Tesis Fukuyama tersebut, Ia menggambarkan bahwa Masa Depan Dunia kelak dan yang bisa menandingi kemenangan Kapitalisme adalah ISLAM.

"Iya, soal-soal diatas pernah sempat baca sepintas lalu. lantas, Bagaimana Dengan Gerakan PKI diIndonesia, bro?".

Bangsa kita ini mewarisi banyak dendam sejarah. Menurutku, Seringkali kita memilih sikap tidak mengungkap cerita sejarah yang dibungkam, demi untuk menjaga keutuhan bangsa. Padahal cara itu tidak selamanya benar. Jangankan kita sebenarnya, negara yang sudah dianggap "maju" seperti Jerman saja, masih belum mampu menerima perjalanan pahit sejarah mereka. Misalnya, Di Jerman dan Austria, masih banyak generasi yang lahir tahun 1940-an ke-atas, yang tidak mau percaya, adanya "tragedi" kamar gas. Bahkan, masih banyak yang percaya, Hitler sebenarnya adalah penyelamat.

Padahal, Bagaimanapun pahitnya, fakta-fakta sejarah adalah pelajaran sangat penting untuk generasi berikutnya. seperti kata Goenawan Muhammad, "hanya mereka yang mengenal trauma, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima keterbatasan yang bernama manusia !". Historia vitae Magistra, masa lalu itu memberi kita kearifan. Kearifan tidak selamanya bermula dari sisi baik. Kelam pekatpun, kita bisa belajar darinya.

Terhadap peristiwa 30 September. Pertama, banyak dari kita, termasuk sejarawan, masih terperangkap pada siapa salah dan siapa benar, bukan pada peristiwa itu sebagai "seperti adanya". celakanya lagi ada sekelompok tertentu yang memainkannya untuk kepentingan sesaat. Jadi, disaat orang sudah pergi ke pasar sentral untuk memilih baju dengan beragam corak dan harga yang terjangkau, kita masih sibuk mengurai benang kusut masa itu untuk ditenun jadi kain.

Nah, Kongklusi Sementara Perihal diskusi ini. Mengingatkan saya pada beberapa Untaian Kalimat; pertama, Saya ingat Catatan Pinggirnya Goenawan Muhammad, yang menuturkan bahwa " kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim terakhir. diujung sana, Tuhan Maha Tahu". Kedua, Saya Ingat Tutur 'Syahrunizam Abu Thalib', dalam 'Membaca Dirimu': "Catat Masa lalu, bukan untuk diwarisi. Tetapi untuk dipelajari".

"Bagaimana menurut'T soal Filem G 30 S PKI, yang sejak dulu kita disuguhkan setiap mau memasuki Tanggal 30 September, apakah filem tersebut menggambarkan kondisi Ril peristiwa itu atau Sebagaimana lazimnya Filem, yang nuansa dramatisasinya pasti ada?".

Tentang filem G 30 S PKI, Arifin C Noer, sang Sutradara Filem tersebut juga mengakui bahwa banyak dramatisasi didalam filem tersebut. Ihwal itulah menurut beberapa sejarawan menuturkan, filem G 30 S PKI cacat sejarah. Tersebab, banyak kebohongan didalamnya.

Pada masa Presiden RI ketiga- BJ Habibie, film G 30 S PKI tidak lagi diputar. Menteri Penerangan masa itu, menyatakan, film yang bernuansa pengkultusan tokoh seperti G 30 S PKI, Janur Kuning, dan Serangan Fajar tidak lagi sesuai dengan dinamika reformasi. Tahun 2000, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengusulkan pencabutan Tap MPRS XXV/1966 tentang pelarangan penyebaran ajaran Marxisme dan Leninisme. Tidak hanya itu, Gus Dur juga membuka ruang bila ada pihak yang ingin mengusut adanya dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di dalamnya. Sebab, Pasca-peristiwa 1965, banyak terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang diduga terkait atau memiliki afiliasi dengan PKI.

Tetiba Si doi menyambar Pembicaraan, "Kakk, Ayo mi pulang atau antar ma dulu pulang baru datangki lanjut diskusi'T", ia mulai cemberut (lagi). Oh ya, lupa saya padanya. "Saya pamit, bro. Terima kasih diskusinya. Nanti kita Lanjutkan", kata saya.

"saya yang terima kasih, karena sudah dikasih nutrisi segar. Biar saya yang bayar kopi'Ta".

"Haaa, Seriuskii ?", kata saya. "Iya, Bro. Biar saya yang bayar !".

"Alhamdulillah, rezeki anak sholeh", guman saya dalam hati sambil memandang Si doi yang menyunggingkan senyuman Terpaksa. Tetapi matanya penuh Bara api".



***







Jika Sapardi Djoko Damono Mengasosiasikan Kerinduannya dengan Hujan Bulan Juni, sebagai puncak Kerinduannya. Maka, sebahagian Kalangan menganggap September adalah bulan paling bersejarah dalam cerita Indonesia modern, akibat Peristiwa G 30 S PKI, yang juga sekaligus sebagai penanda Lahirnya Rezim kawat tulang besi (Orde baru).

Setelah sebelumnya dibagian pertama, saya menuliskan Hasil diskusi dengan kawan saya tentang Komunisme. Tentu, pada bagian kedua ini, saya akan uraikkan beberapa hasil bacaan dan diskusi dalam memahami peristiwa G 30 S 1965.

G 30 S PKI merupakan tragedi kemanusiaan terbesar kedua setelah Holocaus dalam rentang skala, waktu, dan jumlah korban yang ditimbulkannya. Tapi mengherankan, sebab Tidak banyak studi yang dilakukan dalam masa-masa paling gelap itu. jika dibandingkan dengan studi tentang Holocaus Nazisme - Hitler terhadap bangsa Yahudi di Jerman pada masa Perang Dunia II.

Misalnya, Salah satu dari sedikit sarjana yang mendedikasikan dirinya dalam upaya mengungkap Peristiwa G30S tersebut adalah sejarahwan 'John Roosa', yang saat ini menjadi profesor di University of British Columbia (UBC), Kanada. Bukunya, yang diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia, yang Berjudul "Dalih Pembunuhan Massal : Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto" (Jakarta: ISSI dan Hasta Mitra, 2007), menggambarkan, bahwa ; " G 30 S itu operasi rahasia. Badan-badan partai, seperti Central Committee (CC) dan CDB (Comite Daerah Besar) di tingkat propinsi, tidak pernah membicarakan G 30 S, apalagi mengambil keputusan". Maksudnya ialah banyak dari orang yang dianggap sebagai Simpatisan atau pendukung PKI, tidak tahu menahu soal G 30 S PKI. Sedangkan Rezim Soeharto menangkap lebih dari satu juta orang atas nama ’penumpasan G 30 S. Jelas penangkapan semasif itu sebenarnya tidak perlu sebagai reaksi terhadap aksi kecil.

Menurut 'Jhon Rossa', Ada dua hal mengapa pengangkapan massal, penahanan massal dan pembunuhan terhadap gerakan itu tejadi. Kalau penagkapan, penahanan dan pembunuhan tujuan utamanya menghancurkan kekuatan petani, yang sedang mendukung proses land reform, dan kekuatan buruh, yang sedang mengambil alih banyak perusahaan milik modal asing. sebenarnya bisa dilakukan tanpa pembunuhan. Sebab, Waktu itu PKI tidak melawan.

Menagapa kelompok Soeharto di dalam Angkatan Darat (AD) memilih membunuh orang yang sudah ditahan?. Ada beberapa kemungkinan, tapi satu poin yang cukup penting: kelompok Soeharto mau membuktikan kesetiaannya kepada kampanye anti komunis kepada Amerika Serikat (AS).

Memang sebelum G 30 S PKI, terjadi ketegangan antara PKI dan organisasi anti-komunis. misalnya, antara PKI dan PNI di Bali, atau PKI dan NU di Jawa Timur. Namun, hal itu tidak bisa menjelaskan pembunuhan massal. Orang sipil yang ikut milisi, seperti Tameng di Bali dan Ansor di Jawa Timur, tidak mampu membunuh sebegitu banyak orang sendirian. Paling-paling mereka bisa mengorganisir tawuran-tawuran. Dalam tawuran-tawuran seperti itu, orang PKI berani melawan dan tidak akan banyak orang yang gugur.

Pembunuhan massal terjadi sesudah banyak orang PKI rela masuk kamp-kamp penahanan. Kemudian tugas milisi menjadi algojo saja. Kalau tidak ada backing dari tentara, orang sipil di milisi-milisi itu tidak bisa berbuat banyak. Sekejam apapun orang PKI sebelum G 30 S (dan kekejaman itu juga terlalu sering dibesar-besarkan), tetap tidak bisa membenarkan tindakan Extra Judicial Killing yang dilakukan milisi maupun tentara.


***


Diatas merupakan satu pesepsi yang menjelaskan bahwa pembunuhan Pasca Getapu adalah Pelanggaran HAM terberat didunia, setelah Holocaust yang dilakukan oleh rezim Nazi di Jerman.

Saya coba berikan pengandaian, untuk meraba Asumsi, mengapa terjadi arus balik serangan setelah peristiwa Gestapu. Sekalipun Secara pribadi, saya memang tidak merasakan langsung, peristiwa-peristiwa tersebut. Sepintas lalu, hanya mendengarkan penuturan ayah saya dan membaca berbagai sudut pandang literatur tentang hal itu. Sehingga, saya punya bahan untuk menjelaskan hal itu.

Misalnya ada kampung A dan Kampung B, bersebelahan. Ada orang kampung A di serang oleh orang kampung B dan yang meninggal Akibat serangan tersebut, satu orang. Nah, orang kampung B berpikir, jika kami tidak menyerang, maka boleh jadi kita lagi yang akan diserang. oleh karena itu, Orang Kampung A bersama-sama Menyerang kampung A dan yang Meninggal akibat serangan balik tersebut, sebanyak 30 orang.

Secara hukum, yang salah Siapa?. Secara Hukum, Semua salah, baik Kampung A, maupun Kampung B. Tetapi, secara Moral siapa yang salah?. Dibawah saya akan uraikkan, sependek pengetahuanku siapa yang meyerang terlebih dahulu. Karena dalam kondisi satu orang dibunuh, maka semua orang akan berpikir kalau saya tidak membunuh maka saya yang terbunuh.

"Mengapa Komunisme ini menjadi begitu menakutkan, apakah karena Peristiwa G 30 S PKI ataukah karena Indoktrinasi selama orba?".

Sebenarnya tidak juga, memang dalam perjalanan sejarah bangsa kita. PKI ini pernah terlibat berbagai Hal. Salah satu problem kita adalah banyak dari kita yang tidak paham sejarah atau Malas menganalisis sejarah, sehingga kerap salah kaprah memahami sejarah. Misalnya, sebelum kita Masuk pada Peristiwa G 30 S PKI. Kita kembali kebelakang Pada Tahun 1926, pemberontakan yang dilakukan PKI di Silungkang, Jakarta dan Banten.

Pemberontakan PKI tersebut, kalah dan berhasil ditumpas oleh Belanda dan Tokoh-tokohnya dibuang ke Boven Digoel (Papua). Bung Karno melihat, kegagalan pemberontakan tersebut. Akibat, tidak adanya persatuan warga negara melawan imprealisme (pejajahan). karena, hanya PKI saja yang melakukan pemberontakan terhadap penjajahan Belanda. Ihwal itulah yang membuat Bung Karno mendengungkan Gagasan 'Nasionalisme Islamisme dan Marxisme'. (baca buku 'Dibawah bendera Revolusi').

Saat itu, selain Keterterimaan Rakyat Indonesia pada Gagasan NASAKOM adalah Persatuan Warga Negara Indonesia dalam melawan Imprealisme dan juga Komunisme Belum menjadi ancaman yang berbahaya bagi Bangsa Indonesia. Itulah sebabnya, adalah salah jika sebahagian kita menganggap, bahwa Gagasan NASAKOM didengungkan Bung Karno setelah Indonesia Merdeka.

Pada tahun 1948, 3 tahun setelah di proklamirkan kemerdekaan Indonesia. PKI Menusuk Ummat Islam dari belakang, melakukan pemberontakan ketika Ummat sedang bersiap-siap menghadapi agresi militer Belanda yang kedua. Tentu dimulai dengan kerusahan-kerusahan di Solo, Jogya, bahkan mereka mendeklarasikan Soviet Madiun. Setelah sebelumnya di awali oleh pidato Muso.

Nah, Korban paling banyak atas kerusahan tersebut adalah Ummat Islam. Seperti, di Ponorogo, di Gontor, Sabilil Muttaqin, terkhusus Para Kiyai, Tokoh birokrasi dan Perwira-perwira TNI, dan beberapa tokoh-tokoh Ummat Muslim lainnya. Sejak saat itu, cara pandang Ummat Islam dan sebahagian Rakyat Indonesia melihat PKI sebagai ancaman.

Karena Usaha pengkudetaan PKI ditahun 1948 gagal, serta usaha penumpasan Terhadap PKI tidak sepenuhnya dilakukan. Maka, PKI berusaha merehabilitas eksistensinya, setelah peristiwa Madiun, yaitu pada tahun 1952. Padahal Pasca peristiwa Madiun, Komunis itu menjadi organisasi dan komunitas yang terlarang. Tetapi, Bung Karno pada Tahun 1952 menerima, tokoh-tokoh yang merepresentasikan PKI, seperti Aidit, Lukman dan Tang Din Ji.

Dalam perjalanan kemudian, PKI mendapatkan ruang gerak lebih luas, karena Bung Karno terus mendengungkan eksperimen ideologisnya, yang bernama Nasakom. Maka, Pada Tahun 1954, kongres PKI melahirkan tiga bentuk metode kombinasi perjuangan, yaitu untuk perang gerilya didesa, melawan 3 setan Kota dan Infiltrasi kepada kalangan Bersenjata (TNI). Akibatnya, PKI berhasil tampil lagi di pemilu tahun 1955. Bahkan menjadi salah satu parpol yang mendapatkan suara terbanyak ke 4, sekitar 6 %.

Menjelang GESTAPU atau G 30 S PKI, Bung Karno tetap mempertahankan eksperimen ideologisnya, yaitu NASAKOM (Nasionalis Agamais Komunis). Maka, pecahlah Peristiwa Gestapu atau G 30 S PKI, dimana sejumlah Jenderal-jendral dibunuh dan dimasukkan kedalam lubang Buaya.

Andaikan Bung Karno mengkontekstualisasikan Gagasan 'Nasakom'Nya sejak 1926 dan masa Demokrasi terpimpinnya. maka, hampir bisa dipastikan sejarah kelam pembunuhan yang pernah terjadi dibangsa ini, bisa diminimalisir dan bung Karno Bisa Turun sebagai Presiden dengan Elegan. Tetapi, Bung Karno tetap memilih mempertahnkan Gagasan Nasakomnya, yang berakibat Pertumpahan Darah anak Bangsa.

Mengapa pentingnya Bung Karno, mengkontekstualisasikan Gagasan NASAKOM-nya. Selain, ditahun 1926, Gagasan Nasakom masih menjadi Gagasan Murni untuk mempersatukan Anak Bangsa dan masih bisa diterima dan sebahagian pemikir bangsa ini menganggap, bahwa Gagasan Nasakomnya Bung Karno adalah hal yang tidak mungkin. Sebab bagaimana mungkin, Islam dan Marxisme bisa bersatu (yang satu bertuhan dan yang satu tidak BerTuhan), Ini punya Uraian Tersendiri.

pertama, Ketika Bung Karno berapi-api menyampaikan gagasan Nasakomnya antara tahun 1959 sampai 1965, peta Dunia telah berubah. Banyak Faktor eksternal yang dapat Menggerogoti keutuhan bangsa dan tidak ada satupun negara yang tidak terpengaruh dengan peta Dunia pasca Perang dunia ke II berlansung.

Kedua, Pada tahun 1920-1930 an, Komunisme Internasional belum ada. Perang dingin (pasca Perang dunia II) belum terjadi, percaturan antara Amerika serikat dan Uni Soviet belum terjadi. Dunia belum terbelah menjadi dua kutub: ada timur dan barat. Ada NATO. Ada pakta Warsawa. Karena itu, kita harus melihat G 30 S PKI didalam peristiwa Global, bukan hanya sekedar persaingan Militer dan Komunis atau Percaturan antara Kelompok Islam dan PKI.

Sebagaimana yang kita ketahui, akibat yang ditimbulkan pasca Gestapu adalah hampir satu juta manusia di Indonesia dibunuh, karena dianggap sebagai simpatisan PKI. Padahal hampir semua Orang yang dianggap PKI, tidak tahu menahu tentang PKI itu adalah Partai Komunisme Indonesia. Misalnya, pengakuan Prof Salim Said saat mewawancarai seorang Bapak yang menggunakan Songkok Haji, ditengah-tengah lapangan saat Acara PKI berlansung. Didatangi oleh Prof Salim Said ; "Bapak haji Yah?". Jawab, bapak itu, Iya. "Loh, bapak kok PKI. Katanya bapak itu, PKI itu partai KJ Indonesia, kan. Jadi, memang hampir sebagian besar korban pembantaian manusia Indonesia pasca Gestapu adalah orang-orang yang tidak tahu menahu tentang PKI, hanya karena mereka teragitasi dengan Propaganda PKI.

Itulah sebabnya, Bagi sebagian kalangan, jelas PKI mau melakukan Kudeta di tahun 1948 dan tahun 1965 Dan PKI tidak bisa menghindari diri dari keterlibatannya secara penuh pada Gestapu, sebab didalam Koran Harian Rakyat, tanggal 2 oktober. Sebagaimana kita ketahui, bahwa koran Harian rakyat adalah koran PKI, dibawah pimpinan Nyoto (Sekjen PKI), yang Editorialnya menuliskan Gerakan 30 September dan jelas tertuang didalam koran tersebut : " Rakyat yang sadar akan politik dan tugas-tugas revolusioner Menyakini akan benarnya tindakan gerakan yang dilakukan pada gerakan 30 September, untuk menyelamatkan Rakyat dan Revolusi".

"Lalu, mengapa sangat susah menyelesaikan konflik dan labelisasi PKI di bangsa ini?".

Jika kita mau tahu situasi G 30 S PKI, maka jangan hanya melihat pada Tahun 1965. Kita harus kembali menengok ke beberapa peristiwa-peristiwa sebelumnya tahun 1962, 1963 dan 1964. Sebab, dalam periode tersebut banyak sekali kejadian, yang melahirkan berbagai sikap terhadap PKI. Misalnya, pemuda Rakyat menyerang Tempat Kaderisasi PII (pemuda Islam Indonesia), menyerbu Masjid, dan berbagai penyerangan terhadap santri dan kiyai. serta berbagai serangan lainnya. (baca Buku 'Banjir darah' saya lupa pengarangannya). Contoh kasus lainnya, misalnya, seperti Aidit pernah melakukan penelitian ke desa-desa dan ia menemukan, apa yang menjadi Idiom dalam PKI yaitu hancurkan 7 setan Desa dan 3 Setan Kota. Nah, para Kiai itu termasuk dalam 7 setan desa.

Sebenarnya Soekarno sadar betul tentang kewajiban pejabat lama akan berakhir dan ia juga sudah mengetahui bahwa dia akan turun dari presiden. Maka, dia menguraikan apa-apa saja yang telah dia lakukan dan belum dia lakukan. Misalnya, tentang Irian Barat, tentang KMB, dsb.  Sekalipun waktu itu, Soeharto tidak menyatakan dirinya akan jadi presiden dan Soekarno tidak menyatakan dirinya akan mundur sebagai presiden. 

"Makanya, Suatu ketika Soeharto bertanya pada Soekarno, Bung Bagaimana dengan PKI, apakah kita bubarkan atau tidak?". Jawaban Soekarno, "Saya ini membicarakan tentang NASAKOM tidak hanya berskala nasional. Tetapi, sudah mendunia. Sehingga saya menjadi sulit berhadapan dengan Masyarakat dunia". Artinya secara tidak langsung Bung Karno menolak untuk membubarkan PKI. Mengingat jawaban Bung Karno demikian, Soeharto kemudian kembali menyatakan : " tidak perlu takut, Bung. Biar saya saja yang menjadi Bumper atas hal itu". Maka, keluarlah surat Perintahkan 11 Maret (Supersemar) tahun 1966. Sejak saat itu, Nama Soeharto mulai Harum dibangsa ini, karena berani membubarkan PKI. 

Selain itu pula, Dulu bung Karno setelah Penculikan Rengasdengklok, kembali Ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan Kemerdekaan RI, tidak langsung tinggal di Istana Negara. Tetapi, tinggal digedung Proklamasi sampai Tahun 1952. Meskipun, Pasca Kemerdekaan Gedung Proklamasi sejatinya Bukan lagi Rumah Jabatan Presiden. 

Gedung Reformasi adalah salah satu bahagian dari artefak penting perjalanan bangsa, sekalipun Bung Karno sendiri yang mengalih fungsikan gedung tersebut dengan Menjadikan gedung tersebut sebagai Gedung Dewan Perancang Nasional (DPN). Banyak kalangan yang Khawatir, terkhusus Kelompok Islam, bahwa Bung Karno sengaja mengalih fungsikan gendung tersebut sebagai Gedung DPN, untuk menghapus peran PAN Islamisme bagi perjalanan bangsa kita. Sebab, Arah politik Bung Karno yang berbeda haluan. 

"Bukankah Soeharto itu Diktator?".

Hal itu tidak sepenuhnya benar. Sebab, Dalam beberapa literatur, Soeharto disebutkan tidaklah Apriori. Misalnya, pada Tokoh Masyumi, Muh. Natsir didatangi oleh Ali Murtopo yang membawa Pesan Soeharto, bahwa Indonesia membutuhkan dana Timur tengah dan meminta kepada Muh Natsir untuk meloby. Karena, ini urusan negara, Sebagai seorang Tokoh Masyumi yang oposisi. Maka, Muh Natsir melakukan hal itu. 


***


Jika kita salah dalam membaca sejarah, maka kita akan salah dalam melangkah. salah satu pembacaan sejarah yang baik, dengan gagasan Kontekstual ialah Misalanya, di tahun 1920 - 1940 an, melalui Prof Snouck Hurgronje yang mengkampanyekan agar Orang-orang Islam dibikin sekuler, dengan diberikan fasilitas dan disekolahkan ke Belanda. Karena orang Islam Indonesia, waktu tidak memiliki apa-apa. Sehingga menerima hal itu. Maka, Berkembanglah gagasan Uzlah. Uzlah itu artinya Jauhi sekolah-sekolah kafir (Belanda).

Setelah kita merdeka, kesalahan itu dikoreksi atau diluruskan. Karena hal itu disadari akan berbahaya bagi ummat Islam, hal itu dilakukan oleh K.H. Wahid Hasyim, putra Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari atau Ayah dari Gus Dur, yang merupakan salah satu dari Kabinet RIS tahun 1949 .

Jika disebutkan bahwa, bukankah Di Indonesia juga terdapat ekstrimis kanan, seperti PRRI?.

Memang benar, bawah terdapat ekstrimis kanan. Tetapi, berbeda. sebab, PRRI tidak pernah melakukan kudeta sebagaimana PKI. Apalagi peristiwa DII/TII. Kedua Kelompok tersebut sejarahnya dan Gelombangnya berbeda, karena hal itu terjadi di tahun 1949. Hal itu bukan kudeta namanya, sebab Indonesia belum masuk dalam pengakuan kedaulatan. Begitu juga dengan PRRI. Sebab, kelompok-kelompok tersebut, merupakan koreksi terhadap pemerintahan Pusat yang terlalu dekat dengan Komunisme dan juga mengabaikan daerah-daerah di Indonesia. Bahkan isunya saat itu adalah Jawa dan Luar Jawa. Dan yang terpenting sebenarnya, tidak ada UUD atau TAP MPRS tentang PRRI dan DII/TII, justru mereka mendapatkan Amnesty.

Walaupun dibelakang hari, bukan. karena PRRI. Banyak tokoh-tokohnya yang ditangkap, tanpa melalui proses peradilan, sebagaimana yang saya sampaikan diatas, seperti Muh Natsir, Syafrudin Prawiranegara, Muh Roem, Buya Hamka, Kasman singodimedjo, Sutan Sjahrir, dsb. Bahkan seorang Jurnalis hebat seperti Muchtar Lubis dipenjara selama 10 Tahun.

Jadi, memang komunisme itu kejam. Sebab, tercatat dalam The Black Book Of Comunism, diseluruh dunia dibawah rezim Komunisme, tercatat ; ada 95 Juta orang yang meninggal. Seperti yang kita tau, bahwa Rusia menduduki peringkat pertama dizaman Stalin, disamping China dalam revolusi Kebudayaannya.

Mengutip seorang Bolsevik yang Pertama ditahun 1876 'Pioter Karchov', didalam Bukunya "Revolusi dan Negara", yang menyebutkan ; " revolusi harus terjadi sebelum transformasi masyarakat. Karena itu, kaum revolusioner harus merebut kekuasaan sebelum mereka melaksanakan program. Revolusi merupakan Konspirasi, yang dilakukan oleh kelompok kecil atas nama massa. Begitu kekuasaan sudah ada ditangan, batu pemerintah melaksanakan revolusi dari atas, dengan menggunakan kekuatan terorganisir dari negara". Makanya, belakangan kita mengenal terma Komunisme disebut sebagai diktator Proletariat.

Ihwal ini merupakan mata pelajaran pengantar Ilmu politik, jika ada teman-teman dekat dengan literatur ilmu politik, maka teman-teman akan tahu ini. Disinilah juga pentingnya sejarah, agar argumentasi kita tidak terbolak balik. Misalnya, kita lihat argumentasi yang terbolak balik akibat Epistemologi yang terbolak balik, teman-teman kiri dulu kerap menganggap bahwa Produk UU PMA (penanam modal Asing) adalah Orde Baru. Ini salah, sebab yang menanda tangani UU No 1 tentang Penanaman Modal Asing adalah Bung Karno, tahun 1967. Ini merupakan informasi Elementer, silahkan cek sendiri. 



***

"Apakah ada kemungkinan PKI akan hadir kembali?".

Pengalaman sebelum Getapu, PKI berlindung dibawah ketiak Bung Karno untuk menindas dan memenjarakan Ummat Islam, seperti yang kita ketahui Sejumlah Tokoh-Tokoh Masyumi dan Ulama Yang sangat Ku kagumi Buya Hamka juga ikut dipenjarakan. Juga seperti Muchtar Lubis, Moh Roem, Sutan Sjharir, Syafruddin Prawiranegara, dsb di penjara Dan Mereka Baru dibebaskan setelah peristiwa Gestapu berlansung. 

Ketakutan itu semakin memuncak ketika RUU HIP bergulir, Jangan sampai PKI menelusup kedalam Pemerintahan dan Menpersekusi Ummat Islam. Sebab, jangan salah Ada Seorang Anak PKI yang bernama Ribka Ciptaning, Yang Dengan bangganya menulis buku " Bangga menjadi anak PKI" dan Ia adalah salah satu anggota DPR RI dari Fraksi PDIP. Bahkan ia menyebutkan di dalam partai PDIP tersbut, ada sekitar 20 Anak PKI.

Sebab, Tidak ada ideologi yang benar-benar mati. organisasinya boleh saja bubar. Tetapi, siapa yang berani menggaransikan bahwa orang tidak lagi berpikir demikian. Lalu, Apakah dia akan mendirikan PKI. Tidak mungkin. Tetapi, menjadi mungkin jika ia meminjam tangan Pemerintah untuk mempersekusi Ummat Islam. 

"Terakhir, Mengapa peristiwa G 30 S PKI selalu di peringati dan seolah-olah kita membangkitkan hantu?".

Sejarah Indonesia akhirnya mentok di G 30 S PKI, karena hal itu sekaligus menggambarkan sejarah dunia. Pada setiap hari menjelang 1 Oktober, tanggal 30 September. Bangsa indonesia ini dipojokkan lagi, didalam soal yang seharusnya sudah diselesaikan oleh pemimpin-pemimpin negara. Sebab, perintah reformasi adalah menyelesaikan persoalan masa lalu, seperti Hak Asasi manusia, salah Satunya ada G 30 S PKI dan berbagai soal lainnya. 

Saya menganggap fasilitas untuk menyelesaikan itu sudah tersedia. Seperti, kemampuan kita membaca sejarah secara lengkap, justru setelah peristiwa itu berjarak waktu. Bahkan, 60-70 % dokumen-dokumen CIA sudah bisa di akses dan secara nyata ada keterlibatan CIA dalam peristiwa G 30 S PKI. 

Tetapi, dalam konteks hari ini orang kembali mengangkat elemen dendamnya akan peristiwa tersebut dan tentu berkaitan dengan keadaan hari ini. Dimana ada semacam ketakutan yang ril, Karena pemerintah tidak mampu menjamin adanya kesetaraan perlakuan terhadap warga negara, terutama ummat Islam. 

Jadi, saya menganggap peristiwa ini adalah cermin dari ketidakmampuan pemerintah dalam menghasilkan demokrasi dan kesetaraan warga negara. Misalnya, kita telaah analisis dari seorang peneliti yang berasal dari Australia, yang menulis dengan tajam bahwa "pemerintah Indonesia, memang mempersekusi ummat Islam diIndonesia".

Iya, Jika kita menyeksamai memang Islam selalu bereaksi setelah peristiwa itu terjadi. Maka, reaksi baliknya adalah soal komunisme. Karena komunismelah yang dianggap memusuhi agama. 

Nah, ketakutan-ketakutan akan persekusi terhadap warga negara, khususnya ummat Islam itu bukanlah sesuatu yang di ada-adakan. Karena dulu, jargon Komunis dibangsa ini adalah hancurkan 7 setan desa dan 3 setan kota. Salah satu yang dimaksud  dari 7 setan desa adalah Para Kiyai. Sehingga memori orang tentang Awal-awal komunisme itu terulang kembali. Akhirnya memori itu tersambung dengan sejarah masa lalu dengan berbagai kejadian-kejadian hari ini. Misalnya, soal persekusi ulama, Persekusi ustadz, Radikalisme, dsb. 

Ketidakmampuan pemerintah menjelaskan keadaan ini, sehingga orang pergi kepada kecurigaan-kecurigaan masa lalu. Misalnya, orang boleh menulis tentang komunisme tetapi ummat Islam bicara khilafah, tidak boleh. Sementara, dulu jika Islam politik di jauhkan dari panggung politik bangsa ini, merupakan kerja-kerja PKI. 

Padahal, baik komunisme dan Khilafah adalah soal diskursus ilmiah. Hukum baru bisa bertindak, jika ada tindakan. Bahkan hukum, tidak boleh menguji pikiran. Apalagi menghukumi pikiran. 

Saya secara pribadi tidak melarang orang menonton film G 30 S PKI atau bahkan setuju menontonnya. Bukan itu pointnya, yang kami tunggu, sejak reformasi bergulir adalah imparsialitas negara dalam merawat kesetaraan warga negara dan tidak diskriminatif terhadap politik Islam. 

Sebab, Hal yang Di putuskan saat reformasi, salah satunya adalah menyelesaikan problem G 30 S PKI. Makanya, sudah pernah di buatkan rekonsiliasi antara Korban dan Pelaku. Tetapi, gagal terus. Karena pemerintah tidak mampu membangkitkan imajinasi demokrasi, sehingga orang lega untuk membicarakan peristiwa masa lalu. 

Didalam model-model rekonsiliasi, memang susah jika dua pihak harus saling mengakui, seperti siapa yang paling banyak membunuh, siapa yang paling banyak dibunuh atau siapa yang banyak bersalah dan siapa yang banyak benarnya. 

Soal rekonsiliasi sebenarnya, mestinya diatasi dengan menghadirkan pihak ketiga. Sama seperti peristiwa apartheid, yang juga diselesaikan, Karena ada pihak ketiga yang dengan besar hati menjadi penengah, yaitu Nelson Mandela. Di Nikaragua misalnya, ada Carter Foundation yang menjadi pihak ketiga untuk menyelesaikan problem hak asasi manusia, yang melibatkan Rezim kiri, antara Sandiniza  vs Militer. 

Akhirnya saya ingin sampaikkan bahwa Memperingati itu bukan mengungkapkan dendam. Bahwa peristiwa itu melibatkan dua kekuatan yang memang bersaing secara politik, karena disponsori oleh perang dingin saat itu. Sehingga militer dengan sendirinya akan khawatir jika pemerintahan jatuh ke tangan komunisme. Komunisme juga menganggap hal yang sama. Jadi, hal itu sebenarnya pertandingan politik dengan korban yang banyak. 

Bagi saya, sebenarnya yang ingin di perbaiki adalah apa yang terjadi saat itu. Oke, ada konflik politik. Tetapi, ada bagian-bagian yang diseret kedalam konflik itu, tanpa dia tahu. Seperti yang saya utarakan diatas, ada petani yang dikasih pacul, lalu dianggap PKI, begitu. Padahal dia cuman dapat pacul. Nah, kesalahan PKI juga adalah mengklaim 30 juta pengikut dan ada 3 juta yang aktif. Lalu, kalau sampai 30 juta pengikutnya, kenapa kalah?. 

Kemampuan kita untuk bertahan sebagai bangsa, ditentukan oleh kelegaan kita untuk menghasilkan kesetaraan pikiran. 

Jangan ada persekusi. Jangan ada Manipulasi. Jangan ada diskriminasi. Karena tanpa disadari, ada Trauma yang membekas pada kelompok Islam dan TNI, yang paling banyak dibunuh oleh PKI. Makanya, jika kita membaca dengan tenang, kelompok yang paling menentang dan menolak terhadap RUU HIP adalah Kelompok Islam dan Pensiunan TNI. Sebab, ada kemungkinan Nasakom akan kembali digaungkan. 


#RST

#Coretan Berserak

#Nalar Pinggiran


Kamis, 30 September 2021

MUHASABAH



Jika ada yang menghinamu, tak perlu meratap. Setiap hinaan orang adalah klaim sepihak. Marah pada hinaan, justru menyiratkan persetujuan. Sebagaimana, kata Sayidina Ali, "ucapan itu seperti obat, jika dosisnya kecil, bisa menyembuhkan. Tetapi, jika berlebihan bisa membunuh".

Hinaan itu hadir akibat merasa paling mulia. Ia tumbuh dalam pikiran yang kerdil, dioperasi oleh manusia picik. Dia mengendap dalam benak mereka yang serakah.

Hinaan bisa berimplikasi Rasialisme. Sedangkan, Rasialisme merupakan bahagian dari puing-puing perang dunia kedua atau jangan-jangan Terma Bhineka Gagal Ika, Cak Nun itu Benar.

Ada cerita yang menurut beta Lucu dan unik, yang tertuang di dalam Kitab Ihya Ulumuddin, Karya Monumental Imam Al Ghazali, kitab yang di anggap sakral di Kelompok ahlu sunnah Wa jama'ah. Suatu Ketika Nabi Musa AS meminta Nasehat kepada Allah. Karena Nabi Musa sebagai Nabi Bani Israil ini sering di gugat olen Orang Bani Israil. Sementara salah satu ciri Orang Bani Israil itu kerap berdebat. Nabi Musa Minta Nasehat pada Allah, agar orang tidak bisa berkata Buruk kepadanya. Biar Semua orang memujinya saja?. Jawabannya Allah unik, "Ya Musa Hadza Syai'un lam asna' khuli nafsi fakaifa nafsahu bika - Ya Musa, saya Yang Allah saja sering di salah pahami manusia, apalagi kamu".

Makanya, kalau ada orang yang menghina atau Membuly, dalam Terma Sekarang dan berbeda paham dengan mu itu biasa saja. Sebab, Allah saja, tidak melakukan hal itu atas dirinya. Secara sederhana kita bisa memahami Cerita diatas, seolah-olah Allah berkata pada Nabi Musa, " Wahai, Musa, saya ini Tuhan, yang menganggap saya Bakhil, banyak. Yang menganggap saya enggan memberi Nikmat, tidak sedikit. Bahkan yang menuduh saya Marah dan Murka, banyak sekali. Kalau saya Mau, saya bungkam semuanya. Tapi, saya tidak melakukannya. Apalagi kamu, cuman Nabi".

Berkenaan dengan itulah, ketika Imamuna Syafi'i di tanya oleh muridnya "Wahai Imam, orang yang kerap mencium tangan dan Hormat kepadamu di depanmu, Biasanya di belakangMu, dia membuly dan menjelek-jelekanMu. Imam Syafi'i Menjawabnya sederhana saja, bahkan sambil tersenyum, "baguslah. Berarti saya berwibawa. Sebab, di depan saya dia tidak berani menjelek-jelekkan saya".

Lanjut, muridnya, "Tapi, banyak orang yang membenciMu, karena FiqihMu Duhai, Imam". Jawaban Imam Syafi'i masih santai, " baguslah, jika mereka tidak senang dengan saya. Artinya mereka tidak akan meminta bantuan dan pertolangan saya".

Secara Natural, pasti kita malu meminta tolong pada seseorang yang kita benci. Berbeda saat kita senang dengan seseorang, pasti kita mudah meminta pertolongannya. Artinya, untung mana, kita di benci orang atau di senangi orang secara Matematis?. 😉🤭

Makanya Imam Syafi'i menghadapi dunia ini sederhana sekali, sebagaimana Ungkapannya " wa man asa'a ilaika faqod ath laqoka - orang yang berbuat buruk sama kamu, berarti membebaskan kamu". Demikianlah Ciri khas ulama-ulama dahulu, "Aridho anillah - melihat apa saja itu sudah ridho". Dan ekspresi paling gampang dari ridho adalah ceria dan senang dalam Kondisi apapun.

Misalnya, saat kita berburuk sangka pada Allah, bayangkan saja, Jika Allah tersinggung dengan hal itu dan menyatakan pada kita, " fal ya'tub robban siwa'i wal yahruj min tahtil ardhi wa ssama'i - Silahkan cari Tuhan selain saya dan keluarlah dari langit dan bumi saya". Mau kemana kita kira-kira?.

Makanya, Mustahil kita bisa melihat cahaya lilin, jika kita menganggap diri sebagai Matahari. Ukurlah diri. Sebab, makan berlebihan bisa muntah dan memikul beban berlebihan akan patah.

Misalnya, sudah mahfum kita tentang Harta kekayaan AbdurRahman Bin Auf itu seperti apa. Dalam Ensiklokpedia ekonomi Islam, harta kekayaannya sangat Fantastis dan luar biasanya adalah yang beliau korbankan di jalan Allah, tidak bisa di kalkulator. suatu Ketika, Abdurrahman Bin Auf di tanya, apa kunci kesuksesan dalam berbisnis. Ia menjawab, "saya selalu ridho dengan keuntungan yang sedikit".

Ihwal itulah sebabnya, salah satu Ciri Khas Ulama, RausyanFikr dan Cendekiawan islam kenamaan dahulu adalah "Melihat dan memandang apa saja, Ia Ridho". Makanya, Nikmat mengucap syukur dan ridho pada segala hal itu Mustahil di lakukan bagi mereka gemar mengeluh dan Mendapatkan sesuatu dari Jalur Gelap.

Selain itu, Secara biologis, menurut pemenang 2 (dua) kali Hadiah Nobel (biologi dan kemanusiaan), 'Alexis Carrel' mengatakan bahwa Betapapun berbedannya manusia, 90 % DNAnya Tetap sama.

Perbedaan warna kulit, Rambut, bentuk mata, warna mata, hidung dst. Hanyalah perbedaan beberapa puluh Gen, diantara kurang lebih milyaran pasangan gen ditubuh manusia.

Artinya, tidak ada satu kelompok yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Apalagi kalau sekedar Fisik dan Tubuh adalah ukurannya.

Bahkan Dalam Teori Fisika Quantum menuturkan, partikel eksistensi kita disatukan dengan partikel yang bahkan berjarak jutaan tahun cahaya dan hal itu saling mempengaruhi. karena itulah, penaifan terhadap keragaman dan perbedaan tidak didukung oleh fisika maupun metafisika.

Selain itu juga, Mayoritas Fakta sejarah menukilkan bahwa ketika persaudaraan diutamakan. maka, hasilnya adalah kejayaan dan gilang gemilang peradaban.

Misalnya, Suatu ketika, Si Fulan berdiri disudut jalan, ia tertawa seperti orang kehilangan akal (gila).

Apa yang kau tertawakan?, Tanya seorang yang lewat.

Apakah kamu melihat batu ditengah jalan itu?. ia Aku lihat, jawab orang tersebut.

Sejak pagi tadi, aku disini. Sudah sepuluh orang tersandung batu itu dan memakinya. Tapi, tidak seorang pun dari mereka yang mengambil batu itu dan membuangnya sehingga orang lain tidak tersandung.

Lihatlah, saat mereka memaki. mereka tidak punya pikiran untuk menolong orang lain. makin sering mereka memaki, makin jauh mereka pada kepekaan akan sesama.

Yah, begitulah Mereka yang akalnya melemah. Kebanggaan dirinya menguat. Sebah, Akal itu Seperti Panci ; panci kosong, cepat panas, sedangkan Panci penuh lambat Panas.

--MUHASABAH I ; MERIDHOI APA SAJA--

(Makassar, 28 September 2021)

***



Dipuji juga demikian, tak perlu melangit. Sebab, berbuat baik adalah perintah moral yang abadi. Sebagaimana Tutur 'Umar Bin Abdul Azis', "Jika kebaikan bisa diraih dengan mengeraskan suara. Maka, sudah lama keledai dan anjing memperolehnya". 

Jika kita tak pernah tau apa yang menghinggapi hati orang lain. Maka, bersikap baiklah : Dan Itu cukup. Meskipun orang tak mengucapkan terima kasih atas perbuatan baik kita, tidaklah mengecilkan arti kebaikan yang kita buat. Biarkanlah kebaikan mengalir dari tangan kita dan biarkan benak kita terbebas dari perasaan berjasa.

Sekalipun secara alamiah, Sebagaimana Nasehat Ibnu Atha'illah Iskandaria bahwa "setiap karunia itu datangnya Dari Allah SWT, tetapi syari'at mengharuskan kita berterima kasih pada sesama". Artinya, Kita tidak harus terbebani dengan penilaian orang lain terhadap diri kita. Karena, kita lebih mengenal diri kita. Perkara orang lain memandang diri kita seperti apa, itu terserah mereka. 

Sebagaimana Gumam 'Syaikh Ath-Thantawi' (Syaikh Al-Azhar) ; "Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tak mengenal kita. Kita adalah orang yang menarik dimata orang yang mengenal kita. Kita adalah orang yang istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita. Kita adalah pribadi yang menjengkelkan, bagi orang yang penuh kedengkian. Kita adalah orang yang jahat, dalam tatapan orang iri".

Yah, Pada akhirnya. setiap orang memiliki pandangannya masing-masing terhadap kita. Maka, tidak usah berleha-leha, agar tampak baik dimata orang lain. 

'Syekh Mutawalli Asy-Sya'rawi', menututkan "jika Manusia melupakan kebaikan kita dimasa lalu, itu adalah balasan atas keburukan kita dimasa sekarang. Sedangkan, Allah menghapus keburukan masa lalu kita, sebagai ganjaran atas taubat kita. Maka, siapakah yang paling layak untuk dimintai ridho?".

Cukuplah dengan Ridho Allah, bagi kita. Sungguh mencari ridho manusia adalah tujuan yang tak akan mungkin tergapai. Sedangkan, Ridho Allah adalah destinasi yang pasti sampai. Maka, tinggalkan segala upaya mencari ridho manusia dan fokus saja pada ridho Allah, (Q.S. 2:207).

--MUHASABAH II--

(Makassar, 28 September 2021)


***



Pada akhirnya, tiada yang benar-benar menetap dalam hidup kita. Satu persatu, Semua akan pergi. Entah, melangkah perlahan atau berlari dengan kencang. Itulah sebabnya, Tak perlu terlalu setengah mati mengejar sesuatu yang hasilnya tidak bisa disantap di alam kubur dan barzah. 

Kelak, Kita tidak akan membawa tanda mata apa-apa. Kelak diperistirahatan yang sempit itu, hanya bisa diisi 3 Mahkluk : Jasad kita, mungkar nakir dengan Daftar pertanyaan dan palu digenggaman tangannya. Maka, persiapkan diri dan ciptakanlah sosok yang tak akan meninggalkan kita, hingga hari perhitungan tiba. Siapa itu?. Ialah amal Sholeh. 

Andaikan, Harta yang haram, hanya menjadi Makanan saja. lalu menjadi tai. mungkin tidak terlalu berbahaya. sekalipun dosanya berbahaya. 

Tetapi, harta yang haram akan menjadi darah, Danging, Tulang, otak, akal, jantung dan berpontensi membentuk Jiwa. lalu, saripatinya akan bertumbuh didalam Rahim dan sperma yang akan membentuk anak dan cucu kita. Tidaklah hal itu merupakan bentuk kedzoliman yang nyata. 

Itulah sebabnya, Dalam Terma fiqih, Kehalalan pendapatan (Harta), niscaya terverifikasi dari prosesnya. Jika prosesnya Mungkar. Maka, di buat apapun, sifat hartanya tetap haram. 

Silahkan identifikasi semua makanan yang masuk lewat tenggoran kita. Apapun Profesi kita, kita semua berPotensi mengunyah harta lewat jalur gelap. 

Bagi sebahagian orang, hal diatas hanyalah permainan dan menjadi komoditas bisnis yang serius. Bahkan, Dianggap lampiran hidup yang tidak Penting diurus, yang penting hasilnya banyak untuk di nikmati. Padahal, menguyah harta lewat jalur gelap adalah ciri peradaban terendah.

Kita berpikir hal itu akan selesai di sini saja. jangan salah. Sapi mati, unta mati, kambing mati dan mereka tidak akan pernah ditanya tentang apa yang ia lakukan selama hidup. Tetapi, manusia tidak. Segala Mark up, kebohongan, tipu daya, sogok. Segala keculasan, kecurangan, kelicikan dan kedzoliman. Berapa kali kita lakukan, akan di minta pertanggung jawaban di hadapan Allah. 

"Wamay yaglul ya'ti bima gollah yaumal kiamah (siapa yg curang, kelak kau akan datang membawa kecuranganmu di hari kiamat)"

Hiduplah sesuka hati kita, sekalipun dengan cara apa kita merengkuhnya, silahkan. tapi, ingatlah kita akan jadi mayat. "I'mal ma si'ta Faa innaka ala Mayyit" :  lakukan apa yang engkau suka. Tapi ingat, Kita akan jadi mayat. 

Silahkan, kita berpura-pura tidak tau pada kebenaran. Sebab, Sampai masanya, dimana Hari itu " Al yauma na'timu ala afwa hihim" ; hari itu mulut terkunci. "Wa tu kalli muna aidihim" ; tangan akan bicara, "waa tasyhadu ala arjulum hum": ; kaki akan bersaksi. Apa yang akan di bicarakan tangan dan kaki ; "limang kana yaksibun". Apa yg kita dipertanggung jawabkan, saat itu : "Faa maya'mal mitsqola dzarratin khoiron yaroh" (sekecil biji sawi kesalahan yang engkau lakukan, akan di perlihatkan kelak).

Hari ini, kita masih dibantu oleh bapak dan ibu, di tolong oleh anak, istri, sahabat, sejawat, keluarga dan tetangga. Tetapi pada masanya kelak, yauma yafirrul yaumqn abhi wa ummihi, wa shohibathi wa banihi ; saudara kandung, Ibu kandung, ayah kandung, sahabat, keluarga, buah hati belaian jantung dan Tetangga tidak bisa membantu.

Kita hanya bisa menyelamatkan diri masing-masing. Sebab, cinta hanya sampai dipelupuk mata, kasih dan sayang, hanya sampai ketika nyawa di tenggorokan dan rindu, hanya sampai ketika malakul maut tiba. 

Dalam realitas hidup ini, ada hal yang mendua. Ambigu istilah lainnya ; disuruh tapi di larang. Bersinarlah, tapi jangan terlampau terang. sebab, akan membuat mata orang silau, pandangan orang terganggu. karena itu pandai-pandailah menempatkan diri.

Silahkan Rawat angkara. Silahkan pongah, Jumawa bahkan membusungkan dada. Dulu, Fir'aun dan Namrud juga demikian. Namun, Ingat saja. disaat kejatuhanmu telah tiba. kamu akan terpinggirkan oleh perubahan waktu. Sebab, Semua yang dilakukan pasti meninggalkan jejak. Tidak lebih dari itu.

Orang tidak selamanya kaya. Lihatlah, Qorun yang hancur. bahkan, ditimbun oleh keserakahannya sendiri. Orang tidak selamanya bertahta. Lihatlah, Fir'aun ditenggelamkan, akibat ulah anak angkatnya sendiri. Semua punya masa, termasuk saya, kamu dan mereka.

Dahulu, setelah Soviet bubar. Gorbachev pensiun dari politik. Hilang kekuasaan dan digdaya personal. Ia dianggap pecundang oleh rakyatnya. Suatu waktu Gorbachev jalan-jalan disebuah kampung, kepalanya diludahi oleh seorang Ibu dari balik jendela. Gorbachev dianggap momok oleh warganya. Ingatlah, jangan sampai anda pensiun, kepalamu diludahi rakyat. 

Dahulu, dimasa jahiliyah Abu jahal dan konco-konconya dianggap paling berpengaruh ; kedudukan, kehormatan dan klan di kapitalisasi untuk mendapatkan kekayaan harta benda. dsb. Apa yang terjadi, saat Rosulullah Muhammad SAW datang, dan diutus menjadi Nabi. semuanya tercerabut dari kemapanannya. hancur tidak karu-karuan pasca Fathu makkah.

Tidak ada yang menyangka, 'Abdullah Bin Mas'ud' dahulu adalah Pengembala kambing, milik 'Abu Jahal'. Akhirnya, memenggal kepala majikannya (Abu Jahal), saat perang badar berkecamuk. 

Siapa yang akan mengira, Sayyidah Aisyiah tetap bertahan memilih jalan Tauhid, walau dibawa kekuasaan Thoghut terbesar sepanjang sejarah ummat manusia, yaitu Fir'aun. Ataukah pilihan Qan'an, Anak Nuh, menjadi kafir, walau ia adalah darah daging seorang Nabi. 

Keputusan ada ditangan kita, jangan menyalahkan keadaan. 

Semuanya akan berakhir, perlahan. serupa bias keindahan senjakala yang pergi meninggalkan enigma, sebelum malam memeluknya.

--Muhasabah III--

 Gowa, 13/10/2021


***


Seorang sahabat datang kepada Nabi Muhammad saw dan mengadu : " ya Rosulullah aku telah berbuat dosa dan maksiat?. Rosulullah Saw menjawab kepadanya, " minta ampunlah kepada Allah swt".

Sahabat itu kembali berkata, "aku telah meminta ampun kepada Allah tapi aku mengulangi kembali dosa itu  Ya Rosulullah".  Rosulullah saw berkata lagi, " minta ampunlah kembali kepada Allah ".

Sahabat itu seperti orang bingung dan berkata lagi, " aku telah meminta ampun lagi kepada Allah dan aku kembali melakukan dosa ya Rosulullah". Rosulullah saw berkata lagi ," teruslah kau meminta ampun kepada Allah swt, hingga iblis yang putus asa, bukan kau yang putus asa terhadap ampunan Allah ". Sumber sunan Ibnu majah, kitab azzuhud pada bab attaubah hadis ke 3427, kasful astar hadis ke 3249 - Konon dosa orang tersebut sudah sangat-sangat memalukan, plus menjijikkan. tapi Rasulullah saw terus memerintahkan orang tersebut untuk tidak berputus asa akan Rahmat Allah swt

'Syaikh Mutawalli Asy Sya'rawi', ditanya : "beritahukan aku tentang kedermawanan Allah". Jawabnya, "Dia melihatmu melanggar PerintahNya. Tetapi, Ia letakkan Rasa sesal di hatimu, kemudian Dia mendorongMu untuk beristighfar. Maka Dia mengampuni dosamu".

Kalau sekiranya kalian mempunyai dosa atau kesalahan sampai memenuhi langit kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian. (HR. Ibnu Majah).

Kata seorang Sufi Bernama Al-Hallaj ; "Aku tidak heran terhadap cintaku kepadamu. Sebab, aku hanyalah hamba yang hina dina. Yang membuat aku heran, cintamu kepadaku. Sebab, engkau Maha cinta yang berkuasa".

Berilah harapan pada orang. Bukan justru menakuti-nakutinya. Sebab, Allah maha pemberi melebihi apa yang kita minta dan mengampuni segala dosa. Harapan itu seperti Setiap malam kita tidur, tanpa memiliki jaminan apakah akan bangun pagi atau tidak akan bangun Sama sekali. Namun, kita masih saja mengatur alaram untuk bangun. 

Hidup kita ini adalah rangkaian doa demi doa. Bukan tentang dikabulkan sekarang. Tetapi, tentang indahnya Merayu Tuhan. Seumpama Siti Maryam, Ibunda Nabiyullah Isa A.s, yang bermuajat, bahwa  "Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu Tuhan". Olehnya, Jangan berburuk sangka pada Allah. Sebab, Allah punya otoritas untuk membalikkan keadaan dengan cara-cara yang paling sederhana.

Tidak ada yang menyangka, jika air yang mengantarkan Musa, ke istana Fir'aun, padahal Musa Mungil sedang dalam masa terlemahnya. adalah air yang sama, yang menghancurkan pasukan Fir'aun. Padahal Fir'aun sedang dalam masa terkuatnya. 

Kemana Kita pergi?. Pergilah kepada Allah, sampai tak ada lagi yang kita temukan Selain ketenangan. Sebab, Telah lama kita meninggalkan diri kita, yang ditinggali oleh bayang-bayang hidup orang lain.

Bagaimana kita hendak bersujud pasrah, sedang Wajah kita yang bersih sumringah. Kening kita yang mulia dan indah begitu pongah, Meminta sajadah agar tak menyentuh tanah.

Apakah kita melihatnya seperti iblis saat menolak menyembah Datuk kita, dengan congkak : Tanah hanya patut diinjak, tempat kencing dan berak, serta membuang ludah dan dahak atau paling jauh hanya lahan pemanjaan nafsu serakah dan tamak.

Apakah kita lupa bahwa tanah adalah bapak dari mana ibu kita dilahirkan. Tanah adalah ibu yang menyusui dan memberi kita makan. Tanah adalah kawan yang memeluk kita dalam kesendirian, dalam perjalanan panjang menuju keabadian.

Singkirkan saja sajadah mahal kita, Ratakan kening kita, Ratakan kening kita. Tanahkan wajah kita, Pasrahkan jiwa kita.  Biarlah rahmat agung Allah membelai kita dan terbanglah kekasih. 

Tuhan Kekasih ; Sungguh tidak ada kepantasan sedikitpun padaku, untuk engkau gabungkan bersama para ahli-ahli surgamu. Namun, Sungguh aku tidak akan kuat, untuk engkau campakkan kedalam dahsyatnya api nerakaMu.

Maka, tumbuhkanlah. Kesadaran untuk bertaubat. Kemudian, ampunilah dosa-dosaku. Karena, hanya engkau Maha Pengampun segala dosa yang besar. Dosaku bertumpuk, seperti hamparan pasir di pantai.

Anugerahilah aku, Taubat wahai yang Maha Perkasa. Sebab, Umurku berkurang setiap hari, setiap malam. Sedangkan dosaku bertumpuk-tumpuk. Semakin bertambah, sampai aku tak tahu lagi bagaimana membersihkannya.

Kekasih, hambamu yang penuh maksiat ini, datang mengetuk pintu rumahmu. Bersimpuh, bersujud mengakui segala dosa dengan hati yang memanggil-manggil ampunan-Mu.

Kekasih, apabila engkau mengampuniku. Maka, memang hanya engkau-lah Maha Pengampun. 

Tetapi kalau engkau usir aku. Tetapi kalau engkau tolak dan campakkan aku. Kiranya kepada siapa lagi. Kami, aku dan mereka. Akan bisa berharap.

" ilaahi lastu Lil firdausi ahlaan - wa laa aqwaa 'alaa Nasril jahiimi (Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka jahim)".

" Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdambil 'adzhiimii (maka berilah aku Taubat /ampunan dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar)"

" Dzunuubii mitslu a'daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljaali (dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku Taubat wahai Tuhanku yang memiliki keangungan)"

" Wa 'umrii naaqishun fi Kullu yaumi-wa dzanbii zaa-idun kaifah timaali (umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya)".

" Ilaahi 'abdukal 'aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qod da'aaka (wahai, Tuhanku! Hambamu yang berbuat dosa telah datang kepadamu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepadaMu)".

" Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun fa in tathrud faman narjuu siwaaka (maka jika engkau mengampuni, maka engkaulah Yang berhak mengampuni)".

Ya Tuhan, Kekasih. selamatkan kami dari bodoh Maha Dahsyat dan rakus yang membawa mampus dan Berilah kami kemampuan, agar tidak puas dengan amal-amal kecil. Meski dosa adalah peristiwa manusiawi dijari waktu.

Ya Robb, Apapun hukuman yang engkau timpakan kepada aku. Maka aku akan terima. sebab aku tidak Mempunyai hak untuk Mengintervensi-MU. Namun, pintaku : jangan engkau hukum aku dengan memasang tabir pemisah antara engkau dan aku.

Ya Tuhan, kekasih. Kadang aku lupa menyapaMu. Kadang pula aku abaikan panggilanmu. Bukan karena aku Jumawa, apalagi membusungkan dada di hadapMu. Tetapi, tabiatku yang memang resah dan gelisah, dengan Fatamorgana yang menipu Ini. 

Padahal, sahabat kekasihmu Umar Bin Khottab berpesan "saya tidak pernah memohon kepada Allah agar meringankan beban. Tetapi saya Memohon kepada Allah agar diberikan punggung yang kuat untuk memikul beban".

--Muhasabah IV--

Makassar, 18 November 2021


***

Bila semua terselesaikan oleh tangan yang di tengadahkan, kita tidak akan pernah merasa bahwa Tuhan mengambil lebih banyak dari pada memberi. 

Demikinlah doa adalah rumah dari segala ingin ; Jalan pintas menuju pelukannya.

Ikhtiar hanyalah jalan, sedangkan rezeky adalah kehendak Allah, dia memberi Se-KehendakNya. Antara Shafa dan Marwah, Siti Hajar mencari air. Di ulangnya, bolak balik 7x. Tetapi, zam-zam justru muncul dari Kaki Ismail. Itulah sebabnya, sempurnakan saja Ikhtiar kita. Rezeky kita, biarlah menjadi kejutanNya. 

Namun, rezeky tidak hanya soal materi. Berapa banyak orang sakit, yang ingin hidup seperti kita. Tidak sedikit narapidana, yang merindukan suasana di luar, pergi kemana saja yang dia mau. Di kolong jembatan, ada orang-orang yang bermimpi tentang ukuran tempat tidur kita Dan di kuburan, ada orang yang menginginkan kesempatan kedua untuk hidup lagi seperti kita.

Kita yang sedang tidak mengayuh sepeda. Kita yang tidak sedang menebar jala. Kita yang tidak sedang mendorong gerobak. Kita yang tidak sedang bergelut dengan cuaca Ekstrem. Kita yang tidak sedang memanjat tebing-tebing tinggi dan bergelantungan dari satu dahan ke dahan yang lain, demi sesuap nasi. Bersyukurlah.

Hidup ini, tidak seburuk yang kita bayangkan. Jika di bandingkan dengan kondisi dan keinginan orang lain. Sekali lagi, Bersyukurlah untuk semua itu. Ibnu Hibban berkata, "seandainya engkau berlari dari Rezekymu, sebagaimana engkau berlari dari Kematian, niscaya rezeky itu akan sampai kepadamu, sebagaimana kematian akan sampai kepadamu. Sesungguhnya rezeky akan mengejar seorang hamba, seperti ajal mengejarnya". 

Bila rezeki kita berlimpah. maka, panjangkanlah meja makan kita. bukan, justru meninggikan pagar rumah. Harta kita adalah baju yang kita pakai, nanti akan Rusak. Yang kita Makan, berakhir di WC, " Wa hal laka min maalika illa ma akalta faafnaita wa labista faablaita Wa tashaddaqta faabqoita - Yang Kamu sedekahkan itulah yang abadi sampai di akhirat. Kamu jangan bilang yang kamu sedekahkan itu yang habis". 

Sebenarnya saya mau mengajari pengusaha dan konglomerat soal Hadits Ini. Karena Nabi mengajari kita soal shodaqoh itu adalah pengabadian Uang. Sedangkan kita Menganggap bahwa Shodaqoh itu menguras Uang. Padahal itu, pikirannya setan. Bukan pikirannya orang Islam yang beriman .

Tetapi, Jika Ikhlas tak pernah mengiringi Qolbu, berapa pun kebajikan itu. Akan luruh berjatuhan amal Ibadah kita. Sebagaimana, Seorang yang mengalami kebutaan keluar dari rumahnya menuju Masjid untuk menunaikkan Sholat subuh. Ditangannya ada lampu yang menerangi langkahnya.

"Anda membawa pelita. Nyalanya tidak memberikan Manfaat sama sekali", ejek Kawannya. Jawab Orang Buta, " saya Membawa lampu, agar orang-orang melihat saya dan tidak menabrak saya". 

Niatkan kebaikan untuk kebaikan. Biarlah kebaikan menjadi rahasia kita, sebagaimana engkau merahasiakan dosa-dosa kita. 

Salah satu protype dari Rosulullah adalah filantropisme. Filantropis adalah kebaikan yang di lakukan, tidak dengan memamerkannya di ruang publik, karena itu menyangkut kejujuran untuk membantu manusia. 

misalnya, jika membantu si Miskin. Datangi secara diam-diam. Jika perlu, jangan sampai Si miskin tahu, siapa yang memberikannya sedekah. Itu yang disebut kegiatan filantrophis. 

Filo artinya sayang. Atrophia artinya manusia, secara harfiah disebut mencintai manusia. Lain ceritanya dengan caritas. Caritas itu saat melakukan sesuatu, ada motifnya, mengumpulkan orang. Membentangkan sensasi, mata kamera di gelar di setiap sudut. Ada wawancara disitu. Sebagaimana yang Populer dilakukan itu.

Demi apa kebaikan seperti itu pamerkan?. Makanya Berbuat baik dalam Persepsi agama dan Politik itu berbeda. Dalam politik kebaikan butuh Mata lensa, sedangkan dalam agama Bila perlu orang yang kita bantu, jangan sampai tau bahwa kitalah yang membantunya. Sebagaimana Apa yang di sampaikkan Umar Bin Abdul Azis, " Jika kebaikan bisa diraih dengan pengeras suara. Maka sudah lama anjing dan Keledai, memperolehnya". 

Jika seluruh kebaikan adalah Investasi untuk surga.  Lalu, kemana perginya Ketulusan?.  Memang, Ibnu mas’ud Mendaku, bahwa Ibnu Al-jazari. pernah di Tanya oleh muridnya; guru kenapa engkau tidak banyak berpuasa?. Ibnu Mas’ud menjawab; jika aku banyak berpuasa, maka badanku akan lemah dan aku tidak kuat membaca al-Qur’an. sementara membaca Al qur’an lebih aku sukai ketimbang memperbanyak puasa.

Kebaikan dan berbuat baik itu banyak jenisnya. Tapi, skala prioritas yang tiap orang bisa jadi tidak semua sama. Maka, sejatinya Kebaikan itu disemai diam-diam dalam gelap, lalu tumbuh senyap tak berisik. agar, Yang terang terasa hanyalah manfaatnya.

Demikianlah, semestinya tugas utama kita sekarang, yakni membuktikan bahwa kondisi apapun, tidak akan meretakkan solidaritas sosial kita. Sebab, empati dan kebaikan itu menular jauh lebih cepat daripada virus.

Jika kita terhalang dalam menyemai kebaikan, Kata Ibnul Al-Qoyyim Al-Jausyiah ; jika punggungMu terlalu berat menahan Dosa-Dosa, maka akan terhalang dari perjalanan menuju Allah dan Anggota tubuh terhalang beramal dalam ketataan kepadannya. 

- MUHASABAH V ; BERSYUKUR DAN IKHLAS  -

Makassar, 15/07/2021  - Pukul : 05.05


***


Ketika Nabi Musa As dan Bani Israil berkumpul untuk melaksanakan shalat istisqo' (sholat yang dilaksanakan untuk meminta hujan ketika paceklik). Ketika mereka mereka shalat, Keanehan pun terjadi. Tidak ada setetespun hujan yang turun. Lalu, Nabi Musa menanyakan hal itu kepada Allah.

Allah berfirman, "Wahai Musa aku tidak akan mengabulkan do'amu dan do'a orang-prang yang bersamamu. Karena di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat padaku selama 40 tahun dan akupun mencegah turunnya hujan pada kalian".

Nabi Musa pun bertanya, "Lalu Ya Robb apa yang harus kami lakukan?". Allah pun berfirman: "Keluarkan (usir) orang tersebut dari kalian!"

Mendengar hal itu, Nabi Musa pun berpidato pada Bani Israil, "Wahai Bani Israil! di antara kita ada seseorang yang bermaksiat pada Allah selama 40 tahun, hujan Tak akan pernah turun sampai orang tersebut keluar dan pergi!". Maka sadarlah hamba itu akan dirinya dan dia pun berkata dalam hatinya : "Yaa Robb hari ini aku berada di kalangan orang banyak, jika aku keluar maka aku akan merasa malu, dan tiada pilihan untukku hari ini kecuali bertaubat pada-Mu, ampunilah aku dan tutuplah aib aibku"

Tidak berselang lama hujan pun turun, lalu Nabi Musa berkata, "Ya Robb, hujan telah turun dan tak ada satupun orang yang di maksud, yang keluar di antara kita?"

Allah pun berfirman : "Wahai Musa, hujan aku turunkan sebab rasa senangku terhadap seorang hamba yang telah bertaubat setelah bermaksiat padaku selama 40 tahun.

Nabi Musa pun berkata : "Siapa dia Yaa Robb? Tunjukkanlah padaku agar aku bisa bergembira untuknya.

Allah pun menjawab: "Wahai Musa, dia bermaksiat pada-KU selama 40 tahun aku tutupi, dan hari ini dia bertaubat padaku lalu aku akan mempermalukan dia?. 

- MUSAHABAH VI -


*Pustaka Hayat
*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran


Jumat, 17 September 2021

MATI ITU PASTI, MAKA PERSIAPKANLAH




Sudah menjadi keyakinan dalam kehidupan kita, bahwa segala yang ada permulaannya, pasti ada penghabisannya. Setiap yang punya awal pasti memiliki akhir. Sebab, tidak ada kebadian dalam kehidupan ini. Semuanya datang silih berganti. Berubah oleh pergeseran masa dan pertukaran waktu. Demikianlah, jika kita hendak merenungi kehidupan alam disekitar kita.

Sejak dari kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang sampai pada kehidupan kita mahkluk yang bernama manusia.

Lihatlah, kita manusia misalnya ; di mulai sejak kita telahir di kehidupan ini, dari bayi yang merah tidak berdaya, kemudian berangsur tumbuh menjadi anak-anak. Dari kehidupan anak-anak berubah lagi menjadi remaja, dengan segala kelincahan dan keceriannya. Lalu, dari masa remaja, kita memasuki masa dewasa, untuk kemudian memasuki fase tua. Setelah kita memasuki masa tua. Sehari, seminggu, sebulan dan setahun. Sampailah kita pada batas waktu yang telah di tentukan oleh Allah, yang di namakan ajal Dan bertemulah kita dengan maut. Hal Ini merupakan kepastian dalam kehidupan.

Jika saja kita mau merenung, akan perubahan-perubahan yang terjadi pada diri kita secara Biologi, seharusnya membuat kita insyaf dan sadar. Di kala remaja, kita begitu lincah, punya rambut yang ikal berderai, punya lesung di pipi, punya senyum yang indah menawan bagi setiap orang yang melihat, punya kulit yang kencang dan bersih. Manakala kita memasuki masa tua, perubahan frontal pun terjadi ; kulit mulai keriput, rambut yang tadinya ikal berderai mulai memutih, nikmat mulai berkurang. Gigi yang tadinya utuh, bisa mengunyah apa saja, satu demi satu mulai permisi meninggalkan kita. Sangat boleh jadi, saat kita remaja senyum kita begitu menawan yang membuat orang lain bisa terpikat. Tetapi, ketika kita sudah tua dengan kulit yang keriput dan gigi yang tidak ada lagi, manakala kita tersenyum, mungkin orang akan lari dari sekitar kita.

Kemana keindahan yang begitu menawan. Kemana senyum lesung pipit yang begitu menarik orang. Semuanya, Pergi meninggalkan kita, berubah oleh pergesaran masa dan pertukaran waktu.

Bila maut datang menjemput kita. Apakah selesailah kehidupan sampai di situ?. Ternyata belum.

Jika lahir adalah perpindahan kehidupan dari alam rahim ke alam syahdah (dunia). Maka, mati pada hakikatnya adalah perpindahan kehidupan dari kehidupan dunia menuju kehidupan baru, yaitu alam barzakh.

Andai, hidup hanya sekali. Secara moral kita akan berkata, alangkah tidak adilnya Tuhan. Kenapa?. Sebab, Dalam kehidupan ini, segala ragam hal terjadi ; ada orang dzolim, ada orang yang di dzolimi. Ada orang membunuh, ada orang yang terbunuh. Ada orang yang kaya, ada orang yang miskin. Ada orang yang jujur, ada orang yang menghalalkan segala cara. Sehingga banyak keadilan yang terlepas dari pengadilan dunia.

Lalu, orang bilang di dunia ini, banyak pengadilan tetapi banyak ketidakadilan. Di dunia ini mudah mencari pengadilan, tetapi sulit mencari keadilan. Andaikata hidup hanya sekali, bagaimanakah nasib mereka yang lepas dari pengadilan dunia ini?. Alangkah tidak adilnya Allah, jika tidak ada kehidupan, sesudah hidup yang sekarang.

Tentulah akan terjadi, dimana orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, seperti bahasa - yang penting kan saya kaya, yang penting kan saya punya jabatan dan kedudukan tinggi. Kalau perlu jilat atas, jilat atas. Kalau perlu sikut kiri kanan, sikut kiri kanan. Kalau perlu injak bawah, injak yang dibawah. Inilah prinsip orang-orang Sekuler. Mengapa demikian?. karena, mereka tidak percaya yang adanya hari kiamat.

Sebagai muslim yang percaya, akan adanya hari akhirat, kiamat pasti ada dan hidup tidak hanya sekali. Maka, jika kita berlaku aniaya, kita dzolim, kita korupsi, kita culas, dsb. Maka, boleh jadi kita lepas dari pengadilan dunia. Tetapi, kita tidak akan pernah lepas dari pengadilan Allah, pengadilan Qodi Robbul Jalil. Dimana kita akan di adili, se adil-adilnya dan tidak ada satu perkara pun yang besifat salah yang akan lolos dari pengadilan tersebut.

Pantas saja, jika suatu Hari Malaikat Jibril datang menasehati Rosulullah SAW, yang tentunya menasehati kita semua. Apa kata malaikat jibril, kepada baginda Nabi ; "Ya Muhammad Is ma si'ta fa innaka ala mayyitun - Hai Muhammad, hiduplah semau kamu, tapi jangan lupa kamu pasti mati".

Kalau memang di larang tidak terlarang, dicegat tidak tercegat. Kita mau hidup menurut mau kita sendiri. Persilahkan. Hiduplah menurut mau dan gaya kita. Tapi, jangan lupa bahwa suatu saat kita pasti mati, "Fa innaka ala mayyitun".

" Waa mal ma Si'ta fa innaka ma' dziyun bih - kerjakan apa saja yang kita mau". Jika engkau mau menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, Silahkan. tapi jangan lupa bahwa kita akan mendapatkan balasan dari seluruh amal perbuatan kita".

" Waa ahbib ma si'ta faa innaka la muffariku hu - dan cintailah, apa saja yang engkau mau cintai". Kita cintai anak suami atau istri kita silahkan. Kita cintai pangkat dan jabatan kita, tafadhol. Kita cintai harta dan kekuasan kita, silahkan. Kita cintai tanah air kita, silahkan. Tapi, jangan lupa kita pasti akan berpisah dan meninggalkan segala yang kita cintai".

Artinya, seesudah maut datang menjemput kita, ada kehidupan sesudah hidup yang sekarang ini. Hal Inilah yang mendorong kita dalam kehidupan ini, tidak menggunakan prinsip seenaknya saja. Semaunya saja, asal harta dapat, asal pangkat tinggi, asal punya jabatan. Masa bodoh dengan menipu orang lain, masa bodoh dengan menganiaya orang lain.

Seorang muslim tidaklah diajarkan demikian, ingatlah setelah kita mati. Setelah kita akan di bangkitkan dan akan diminta pertanggung jawaban tentang apa yang kita lakukan di kehidupan yang sekarang ini. Oleh sebab itu, jika kita bicara tentang Akhirat dan Kiamat, memang hal itu masalah yang ghaib. Yang sepenuhnya tidak bisa di cerna dan di pahami oleh penalaran dan intelektualitas kita. Dasar di dalam membicarakan hal ini, tidak lain adalah iman kita kepada Allah. Bukan saja dari zaman kita, sejak zamannya Nabi, jika orang membicarakan tentang kiamat dan akhirat, ada yang ragu-ragu dan ada yang menolak sama sekali.

Pernah suatu saat Nabi Berdakwah, menceritakan bahwa suatu saat akan terjadi kiamat, dimana Allah akan membangkitkan seluruh manusia dan meminta pertanggung jawaban. Apa reaksi orang?. Reaksi orang yang beriman, sangat menyakini hal itu. tetapi, yang tidak beriman, mereka bertepuk tangan, mencaci dan mengejek. Bahkan, yang luar biasa adalah dua Kafir, yang bernama 'Ubaid Bin Ka'ab' dan 'Ash bin Wail', setelah mendengar pidato Nabi, mereka cepat-cepat pulang kerumah. Untuk mengambil cangkul dan mencari kuburan tua. mereka berdua menggali dan mengambil tulang-tulangnya dan membawanya kehadapan Nabi Muhammad SAW, seraya berkata, Ya Muhammad, tulang-tulang yang hancur sedemikian rupa, siapa yang bisa menghidupkannya kembali. Ahh, yang macam-macam saja engkau Muhammad. Tidak rasional, tidak masuk akal.

Allah menjawab ; " Watdho robalana mastlaw waa khosiyah kholqoh. Qola ma ' yuhyil idzo ma waa hiya romim. Qul yu' yi halladzi ansaaha ahaa awwala marr'ro wahuwa bil kulli kholqin alim - mereka memberikan perumpamaan kepada kami. Mereka melupakan asal kejadiannya. Mereka bertanya siapa yang sanggup menghidupkan tulang belulang yang telah hancur. Katakan, pada mereka Muhammad, yang akan menghidupakan mereka adalah dia yang menciptakannya pertama kali dulu". Jika dia sanggup menciptakan, maka dia lebih sanggup lagi mengembalikan reproduksi ciptaannya sebagaimana dahulu.

Yang paling kasian adalah mereka yang ragu-ragu ; akhirat itu ada apa tidak, kiamat itu ada atau tidak. Lantaran ragu-ragu, terombang ambing antara harapan dan putus asa. Terombang ambing, diantara kenyataan dan idealisme.

Ada yang buta terhadap kehidupan sesudah mati. Perhatian mereka hanya tercurah pada kehidupan sebelum mati. Yang mereka perhatikan, hanya siang dan malam, yang tidak lebih dari sekedar urusan perut. pergi pagi, pulang sore. Peras keringat, banting tulang. Cuman soal makan, minum, pakian, kendaraan, istri, anak, rumah tangga. Yang mereka pikir, cuman soal-soal politik, ekonomi, pembangunan dan industri, misalnya. Untuk soal-soal seperti itu, habis seluruh waktu, giat tiada tara demi memikirkan peningkatan kebudayaan, ekonomi, politik, kadang-kadang kurang tidur, kurang istirahat, berkeliaraan kesana kemari ke tempat-tempat jauh. Sampai-sampai terkena stress, darah tinggi, ginjal, lever untuk memikirkan hal-hal yang semata-mata hanya dunia saja.

Lantas, boleh jadi mereka mendapatkan kekayaan yang melimpah ruah, kedudukan yang tinggi, nama yang semerbak, dikenal orang di barat dan timur. Di utara dan selatan. Tetapi, alangkah kecewanya mereka, jika ajal datang menjemput nyawa. Meinggalkan harta yang banyak, nama yang mahsyur, mereka disebut dengan jasa-jasanya. Radio menyiarkan, tv menyiarkan, koran memberitakan. Bahkan nama mereka di kenang 2 sampai 3 tahun setelah ia meninggal. Tetapi, pada saat itu, Jiwa mereka merintih, mengeluh, menderita karena di lemparkan oleh Allah ke tempat yang kotor. Penyesalan sudah tidak akan ada gunaya lagi.

Oleh karena itu, kehidupan akhirat bukanlah dongeng dan tahayyul. Bukan khurafat dan khayalan. Bahwa kehidupan akhirat dan kiamat adalah kepastian dan kebenaran. Dalam surat Al-Hajj, Allah SWT berfirman, " Waa anna sya'ata ati atun la royba fiha waa annallahu yab asu man fil kubur - dan bahwa sesungguhnya kiamat itu adalah sesuatu yang pasti dan tidak ada lagi keragu-raguan lagi di dalamnya. Dan bahwasanya Allah sungguh-sungguh akan membangkitan manusia dari kuburnya masing-masing".

Jika kita sudah yakin bahwa kiamat dan akhirat adalah sesuatu yang pasti adanya. Lalu, dari mana pembicaraan tentang kiamat dan akhirat kita mulia?. Tentu dari diri kita. Marilah kita memasuki proses perjalanan hidup ini, sampai memasuki kiamat.

Kawan, tidak ada mahluk secantik dan setampan manusia. Jika tidak percaya. Silahkan pergi ke Kebun binatang. Kawan masuk ke dalam kebun binatang, maka kawan akan temukan segala macam mahkluk, terdapat ratusan jenis binatang didalamnya, lalu bandingkan dengan kawan ; mana yang lebih ganteng?. Dari seluruh mahkluk yang diciptakan Allah, Manusia adalah Fii ahsani taqwim - manusia adalah sebaik-baik ciptaan". Sejak susunan biologis sampai kemampuan berpikir.

Biologis kita sangat sempurna : di berikan dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk bekerja. Di berikan dua mata, yang kedua-duanya di depan. Bayangkan, kalau satu mata kita di depan dan satunya di belakang. ahh, rasanya tidak laku kaca mata itu. Di berikan dua hidung, dengan lubangnya menghadap kebawah. Tahu betul Allah. Coba kita bayangkan, jika lubangnya menghadap ke atas, bagaimana jika musim hujan, kan repot kita. Sebab itulah, manusia adalah "Laqod kholaqnal insana fi ah sani taqwim - sungguh telah kami ciptakan manusia dengan bentuk kejadian yang paling sempurna".

Kesempurnaan manusia ini, karena terdiri tiga unsur pokok ; Unsur jasmani dan unsur rohani, unsur Jiwa. Jazad yang berasal dari sari makanan, yang di makan oleh bapak dan ibu kita. Lalu, dengan hasil kerja sama yang baik, antara ibu dan bapak, terwujudlah kita. Kalimat lansungnya jazad kita terbentuk dari tanah. Yang berubah menjadi bayi, anak-anak, remaja, dewasa, sampai tua.

Yang mengalami proses perubahan adalah unsur Jasmaniah Kita. Kenapa?. Karena jasmani adalah materi - benda. Daya tahannya terbatas oleh pergeseran masa dan pergantian waktu. Apa ada orang makin tua, makin cakep.

Yang menyebabkan jasmani bisa bergerak, karena ada unsur roh menurunkan Nilai hidup kepada Jiwa yang terdapat di dalam jazad. Inilah yang menjadi sumber kehidupan dan Pusat kesadaran dalam kehidupan manusia.

Jika tidak ada nilai hidup roh yang di turunkan ke dalam Jiwa yang terdapat di dalam jasmani kita. Secara sederhan, kita bisa analogikan seperti ini, kalau kita Pernah melihat orang mati, perhatikan jazadnya : telinganya masih ada, tetapi sudah tidak sanggup mendengar. Matanya masih lengkap, tapi tidak bisa lagi melihat. Mulutnya masih ada, tetapi tidak sanggup lagi berbicara. Telinganya dan kakinya serta tanganya masih lengkap, tetapi tidak bisa lagi mendengar, berjalan dan bekerja. Ternyata jasmani kita, jika sudah ditinggalkan roh, sudah tidak berdaya apa-apa.

Jasmani dan rohani kita, ternyata dua-duanya punya kebutuhan. Kebutuhan Jasmani adalah  makanan, minuman, istirahat, pakaiaan. Apabila ajal menjemput, berpisahnya Roh dari jazad, itulah yang di namakan maut. Jadi apa mati itu?. mati adalah berpisahnya roh dan jazad. Oleh sebab itu, islam sangat mengajurkan kita, agar banyak-banyak mengingat mati. 

Bagaimana caranya mengingat Mati?.

mati itu pasti. Kira-kira diantara kita, ada yang tidak akan mati atau tidak?. "Tidak, pasti akan mati". Berani?. "Berani". Sekarang mau?. "Tidak, hehehe".

Sebenarnya, orang tidak perlu takut mati. Tetapi, jangan juga terlalu berani menghadapi mati. Karena, bagaimanapun takutnya kita pada mati. Toh, dia pasti datang dan Bagaimanapun beraninya kita pada mati. Kalau belum ajal, yah tidak mati juga. Jadi, seorang muslim itu harus berani menghadapi hidup dan tidak takut menghadapi mati. Karena mati adalah sesuatu yang pasti. 

Pertama, Berziarah atau menjenguk teman yang sakit. Sebab, pahala menjenguk orang yang sedang sakit itu kata Nabi, Lebih afdhol dari melaksanalan sholat sunnah 1000 rakaat. Apa pernah sodara melaksanakan sholat sunnah 1000 rakaat?. "Belum pernah". Nah, Jenguk orang sakit, pahalanya lebih afdhol dari sholat sunnah 1000 rakaat. Kenapa, menjenguk orang sakit mengingatkan kita akan kematian?. Iyaa yah, ini teman saya. Kemarin bercanda ria dengan saya. Sekarang, terbaring tidak berdaya di rumah sakit. Hilang kemampuanya, hilang keceriannya. Sakit. Ia, kalau sembuh, kalau ajal. Ia, sekarang dia. Kalau jatuh ke saya. 

Lalu, menghibur teman. Adabnya kita menggunakan kata-kata yang enak, agar mendatangkan sugesti supaya dia cepat sembuh. Jangan, menjenguk orang sakit, kita terlalu jujur. Misal ; sakit apa bro?. Perut, wadduh, kemarin teman saya sakit begini, mati. Itu orang bisa syok, lantaran etika kita tidak sampai kesana.

Kedua, ziarah kubur. Jika tidak bisa setiap hari, sekurang-kurangnya seminggu sekali, jum'at pagi. Kalau masuk kubur, ada etikanya ; 'Assalamu alaikum Ya ahlal kubur waa inna insya Allah bikum lahibun' - Hai penduduk Kubur, Keselamatan bagi kamu. Dan kami Insya Allah, pasti akan menyusul kamu". Ia, yah. Kemarin masih ada, kini terbaring tanpa daya, ini unggukan kuburannya. Ia, yah. Yang kemarin masih ada, sekarang sudah tidak ada. Kemana dia, kami suatu pasti akan begini. 

Ketiga, mengawal jenazah. Bahkan sangat di anjurkan dalam agama. Jika boleh, sejak di mandikan, di kafankan, menyolatkannya sampai di antarkan ke kuburan. Ia, yah. Hari ini saya yang mengantarnya ke kubur. Besok boleh jadi, saya yang diantar oleh orang. Hari, ini saya sholatkan dia, besok boleh jadi saya yang di sholatkan orang. Hari ini, saya masukkan ke liang lahat. Besok boleh jadi, saya yang di masukkan orang ke liang lahat.

Ingat mati, tumbuh kesadaran. Lalu, daya positifnya terhadap kehidupan apa?. Orang yang mengingat mati, bukan lantas menjadi lemah dalam kehidupan, menjadi putus asa, sedikit semangat terbentur persoalan timbul frustasi. Bukan itu yang di maksud mengingat mati. Jelasnya, islam menganjurkan kita mengingat mati, guna maksud-maksud yang positif. Supaya orang sadar bahwa hidup ini cuman sebentar. mumpung hidup, maka gunakan hidup dengan sebaik-baiknya. Melakukan kebajikan yang sebanyak-banyaknya. Menjauhkan rasa malas, menunggu keajaiban yang datang dari langit. Berleha-leha, bermain-main, sementara maut jika datang tidak pernah main-main. 

Pantas saja, jika seorang penyair bernama Sauqi memesankan kepada Kita,  "Tasawwad bit taqwa faa innaka la tadri idza hanna laylu halta isyu ilal fajri kammin shohin matan ilal ghoiri illatin waa kammin alilin ghoiri asya hilan minat tahri - persiapkan dirimu dengan taqwa, sebab kamu tidak tau jika malam datang, apakah kita masih hidup besok pagi. Berapa banyak orang sehat mati, tidak pakai sakit". Apakah ada yang bisa menjamin besok kita akan hidup. Tidak ada. Sebabnya ringan saja, ada yang terpleset saja, mati. Ada yang cuman tertimpa pensil, mati ; "Ta adda bi asbabi mautu wahid - Sebab mati bisa banyak tapi mati itu satu saja". 

Mati itu seperti kelapa, yang terlalu tua jatuh ke bawah, terlalu mudah juga jatuh kebawah, yang masih kembang, juga jatuh kebawah. Dia datang mengambil yang bayi, menjemput yang anak-anak, datang juga pada yang remaja, dewasa, bahkan yang tua. Jangan yang muda, lalu bertutur, saya masih jauh. 

Mati itu pasti dan ia tidak pernah memberitahu kapan. Misal, ais kamu mati 90 tahun. Saya berpikir, ohh masih lama, foya-foya dulu ah. Tapi, mati tidak pernah memberitahu kapan ia datang. Lantaran itulah, kita harus mempersiapkannya dengan mengingat-ngingat mati untuk selalu bersikap positif. 

Satu contoh, peringatan tentang mati yang mendatangkan nilai positif, pada Saat peristiwa perintah hijrah. Ketika di mekkah sudah dalam keadaan terpepet, datang perintah hijrah. Lalu semua sahabat, jangan di kira semuanya bulat hati untuk berhijrah ; ada yang berpikir, wah saya kalau ikut hijrah. Lalu ditengah perjalanan dicegat kafir quraisy, lalu dibunuh, kan mati saya. Takut mati, Allah peringatkan, "kullu nafsin dzaikatul maut - semua yang hidup pasti mati". Kamu disuruh hijrah saja takut mati. Kamu diam di mekkah juga mati, berangkat ke madinah juga mati.

Mendengar ayat ini, sayyidina Umar seperti di bakar semangatnya. Sebahagian sahabat mau hijrah sembunyi-sembunyi. Beliau malah hijrah dengan mengumpulkan bajingan-bajingan quraisy didekat ka'bah, lalu Umar berpidato ; Ya Ma'sirol quraisy - wahai bajingan-bajingan quraisy, besok pagi yang namanya Umar mau hijrah ke madinah. Siapapun dari kalian yang mau kepalanya terpisah dari badannya, silahkan cegat Umar di jalanan". Besoknya umar dengan tenang berangkat ke madinah. Kaum quraisy, barangkali berpikir, siapa juga yang mau mencegat penyakit. 

Begitu ingat mati, timbul semangat juang. Timbul optimisme. Bukan malah pesimis dan takut. Inilah ingat mati yang melahirkan sikap positif. Bukan, yah saya tidak usah kerja rajin-rajin. Toh, saya bakal mati. Ini ingat mati yang salah pasang. Mengingat, seharusnya mendorong manusia untuk berbuat lebih tekun.

Allah memberikan peringatan, "Qul Innal mautal ladzi taffirrunal minhu faa innahu mulakikum - katakan, maut yang engkau lari darinya, yang engkau takut darinya. Dia pasti akan menjemput kamu". Datangnya memang kita tidak harapkan. Tetapi, sekali dia datang tak ada pintu tempat kita lari. Dia memang tak pernah kita undang. tetapi sekali dia datang mengetok pintu, kekuatan apa yang bisa menolak. Dia sebuah tanda seru dalam kehidupan. Apa yang menyebabkan orang takut mati?. 

Pertama, kita tidak tahu bagaimana kehidupan sesudah mati. Alam kubur gelap, alam barzakh gelap sehingga dia bingung, lantas takut. kedua, boleh jadi kita di bayangan-bayangi oleh dosa yang kita kerjakan di dunia ini. Kerjanya cuman menumpuk dosa. Kita bergembira, tertawa diatas tumpukan dosa. Merasa segan berpisah dengan kehidupan ini, sehingga boleh jadi maut adalah sesuatu yang ditakutkannya. Tapi, bagaimanapun takutnya, tidak ada tempat lari dari dia. Dalam ayat lain Allah Jelaskan ; "Ayanama takunu yudrikumul mautu waa laa kuntum fi burjiu musyayadah - dimana saja kamu berada, dalam benteng paling tangguh sekalipun. Maut pasti akan menjemputmu".

Nah, bagaimana cara malaikat datang menjemput nyawa kita. Sang malaikat pencabut nyawa malaikat izroil. Dalam suasana macam demikian, diakhir kehidupan dunia dalam berhadapan dengan sakaratul maut. Terbagilah manusia dalam dua bagian besar. Pertama yang menghadapi sakaratul maut dengan husnul khotimah, baik d iakhirnya. Sehingga pada saat rohnya berpisah dengan jazadnya. Kelihatan dia seperti senyum, mukanya cerah, bahkan sebelum itu boleh jadi dia meninggalkan pesan-pesan yang baik; ada yang sempat adzan, ada yang sempat baca qur'an. Pernahkah menemui orang yang macam demikian?. Sebab apa, malaikal maut datang menjemput mereka juga dengan baik-baik. Di cabut nyawanya perlahan-lahan. Sungguhpun perlahan, pedihnya, sakitnya tiada tara.

Rosulullah SAW, di kala berhadapan dengan malakul maut, diceritakan, beliau mencelupkan tangannya kedalam Gelas yang berisi air dan di usapkannya ke muka beliau seraya berdoa ; Ya Allah, mudahkanlah saya dalam menghadapi sakaratul maut ini. Beliau juga yang menyebutkan, bahwa sakitnya nyawa dilepas dari jazad sama dengan 300 kali sabetan pedang di tempat yang sama. Sehingga kita diajarkan doa, untuk meringankan sakaratul ialah "Allahumma hawwin alaina fi sakaratil maut - Ya Allah, mudahkanlah saya dalam menghadapi sakaratul maut". Ketika nyawa dicabut dari jazad, mata masih melihat roh itu. Sehingga kadang-kadang, ada yang matanya terbelalak, tidak sempat di tutup, terbuka terus. Mengikuti roh keluar dari jazadnya.

Adapun golongan kedua, manusia yang ketika berhadapan dengan sakaratul maut, mendapatkan suulkhotimah. Jelek di penghabisannya. Sekaratnya sudah setengah mati. Ada yang lagi pegang kartu, mati. Ada yang lagi ditempat adu ayam, mati. Ada yang lagi di tempat pelacuran, mati. Ada yang lagi pegang botol minuman keras, mati. Barangkali, malakul maut gemas sekali mencabut nyawanya, ini bajingan. Setelah roh berpisah dari badan, maka tinggallah sang badan. Di tangisi oleh semua yang kita tinggalkan. 

Suatu ketika, kepada puterinya Fatimah, Rosulullah berkata ; Jika ada tamu yang datang, katakan bahwa ayahku sedang Istirahat. Tidak boleh diganggu untuk saat ini. Tetiba, ada yang mengetuk pintu rumah Rosulullah , dengan segera Fatimah membuka pintu, seraya berkata ; Ayahku sedang Istirahat. Tidak bisa diganggu dulu. 

Tamu tersebut, mengatakan : Katakan, bahwa Saya yang datang. Begitu tamu tersebut, mengatakan saya yang datang. Gemetar seluruh tubuh Fatimah dan menghampiri ayahnya. 

Kata Rosulullah, kamu tahu siapa yang datang. Jawab fatimah ; Saya tidak tahu, wahai ayah. Yang datang itu adalah "Hadzimul ladzat, waqoti'u syahawat (itulah dia yang menghancurkan seluruh kesenangan dunia. Yang memisahkan kita dengan seluruh yang kita cintai), dialah malakul maut, wahai anakku. Suruh dia masuk. 

Manakala roh telah meninggalkan jazad, itulah yang di kerumuni orang. Anak menangis, istri menangis, orang tua bersedih, teman-teman merasa kehilangan. Menangisi jazad. Di mandikan sebagaimana mestinya. Di kafankan dengan kain putih 3 lembar, itu yang hendak kita bawa kembali ke tempat asal kita. Pakain sutera, jaz yang mereknya swiszerland wold, kain yang samarinda, sepatu yang bally atau bal tony, jam tangan yang rolax, kendaraan yang serba mewah. Tidak ada yang menyertai kita.

Setelah itu dikuburkan, kita menghadap kiblat, di sholatkan dengan 4 takbir lalu doa. Berangkat kita, dilepas dengan upacara pelepasan. Meningalkan suami, istri, anak-anak, karib kerbat, kampung halaman, tanah air, bahkan alam dunia ini. Selamat tinggal alam dunia ini, tinggal lah yang tinggal, saya akan kembali dimana tempat asal. Untuk kembali mempertanggung jawabkan seluruh yang kita lakukan dalam kehidupan ini. 

Lalu, di masukkanlah kita kedalam keranda mayat untuk dikuburkan. Ke tempat peristirahatan terakhir ; Bismillah millati rosulillah. Padahal, dulu jika kita mau istirahat, ke bali lah kita, ke hongkong lah kita, ke tempat-tempat tamasya kita. Ternyata sampai juga kita ke tempat peristirahatan terakhir, yang luasnya tidak lebih dari 2 x 1 M, diusung orang, diantar. Manakalah sudah sampai ke atas liang lahat, di buka usungan keranda, di baringkan ; gumpalan tanah akan jadi bantal, muka dihadapkan ke arah kiblat. Setelah itu di tutup liang lahat dengan kayu masih belum kurang, di tutup dengan tanah.  Yang menutup, adalah orang yang tadinya mencintai kita, menyanyangi kita. tapi, jazad sudah di tinggalkan roh, habis rupanya cintanya. Coba, jazad kalau sudah ditinggalkan Roh, 3 hari saja dirumah, pasti seram. Ya mayyit, siapa yang betah temani mayat.  

Setelah selesai upacara pemakaman, maka para pengantar akan pulang ke rumahnya masing-masing. Maka, masuk kita ke alam kehidupan yang disebut dengan alam barzakh. Apa selesai hidup sampai di situ, tidak. 

Hanya beberapa langkah, setelah yang mengantar kita pulang. Di riwayatkan dalam H.R. Bukhari dan Muslim ; jika kita telah di letakkan di kubur, lalu si pengantar telah pulang. Maka, roh si mayyit akan mendengar bunyi terompah yang pulang tersebut. Lalu, datanglah dua malaikat yang bertanya, jika di jawab dengan benar. Maka malaikat berkata ; "Num naumatul arus - tidurlah kau disini, seperti tidurnya pengantin". Maka, alam kubur bisa sebagai " raudhatun min riyadhil jannah - taman diantara taman-taman surga". Pun juga bisa sebagai ; "Khufratun min khufarin niron - menjadi liang dari pada liang neraka".

Ada juga riwayat dari Imam Muslim, dari said bin tsabit ; Suatu hari kami sedang bersama Rosulullah, berada dalam kebun kepunyaan bani najar. Rosulullah sedang duduk diatas keledai, tetiba entah bagaimana keledai itu terkejut. Kaget, berontak, hampir Rosulullah jatuh. Rosulullah kemudian bertanya ; sodara-sodara, ada yang tahu tidak, ini kuburan siapa. rupanya di kebun tersebut, ada kuburan tua. Tidak ada, ya Rosulullah, jawab para sahabat. Lalu sahabat bertanya, kenapa wahai Rosulullah?. Penghuni kubur ini, sedang disiksa oleh Allah. Andaikkan boleh saya berdoa, agar kalian mendengar seperti yang saya dengar, maka pasti kalian tidak akan kuat mendengarkannya. Mereka sedang disiksa di kuburnya.

Dalam Musnad Imam ahmad dan Sahih Abi Hatim, ada riwayat yang mejelaskan bahwa orang yang banyak melakukan kebajikan di dunia, amalannya akan datang menemaninya ; Sholatnya dekat kepalanya, zakat sebelah kirinya, puasa sebelah kanannya. Datang Menghibur dia, bahkan di katakan datang serupa orang yang cantik di alam kuburnya, bahkan dia tanya ; "man anta lam ardho fi dunnia ajma inka - siapa kamu, didunia ini saya belum lihat orang secantik kamu". Dia jawab ; "Ana amaluka sholeh - Saya adalah amalmu".

Beberapa hal yang perlu kita ketengahkan, sependek pengetahuanku bahwa Almarhum itu tidak ada hubungannya dengan kematian. Almarhum itu artinya orang yang di rahmati oleh Allah. Kita semua mudah-mudahan sudah almarhum. Hanya saja dalam kebudayaan, Diksi Almarhum kerap kali di asosiasikan kepada kematian.

Menurut Allah, Tidak ada orang mati. Makanya dalam hidup, kita harus selalu punya hubungan batin terhadap sesama. Karena, dia abadi. jika hanya hubungan fisik, hubungan badan, hubungan politik itu hanya sementara. Dalam Qur'an Allah berfirman, "Jangan sangka bahwa hamba-hambaku yang berjuang di jalanku, itu mereka mati. Melainkan mereka hidup dan mendapatkam rezeki".

Artinya, orang yang kita sebut sebagai almarhum ini sedang memasuki rezeki tingkat kedua, melebihi rezeki yang kita dapatkan di dunia. Rezekinya berbeda-beda dan almarhum sedang menikmati itu. Kalau kita, rezeki kita itu cuman makan, minum, motor, rumah, dsb. Yang ketika di sapu angin akan hilang menurut kesementaraan waktu. 

Manusia itu tidak hidup sementara. Manusia itu hidup abadi ; "Kholidina Fii ha abada". Kita terus menerus hidup, hanya saja polanya berbeda. Seumpama Ulat, kepompong lalu menjadi kupu-kupu. Nah, kita hidup ini, bagaimana caranya menjadi ulat, kepompong dan menjadi kupu-kupu.

Rosulullah bersabda, "Al mautu khaoirul mau idho - kematian adalah sebaik-baik nasehat". Jadi, ada al maqomu Awwal ; Lahir. Maqom kedua, Sunnat. Ketiga, nikah. Dan maqom ke empat yaitu Maut. Nasehat tertinggi dan puncak Ilmu adalah jika kita ingat kematian. Bukan sarjana, bukan profesor, bukan kehebatan-kehebatan apapun. 

Jika kita sakit atau apapun, itu merupakan cara Allah melampiaskan kerinduannya kepada kita. Agar kita mendekatkan diri kepadanya. Dengan cara sakit, kita di pindahkan dari tahap awal, menjadi tahap-tahap yang lebih tinggi. 

Maka, sekarang kalau kita menyebutkan "Inna Lillahi waa inna ilaihi rojiun", kita mengasosiasikan kepada kematian. Saya tidak, Almarhum sedang meneruskan kehidupan yang jauh lebih tinggi ketimbang kita yang berada disini. Kematian yang kerap kali kita sebutkan Inna lillahi waa inna ilaihi rojiun (segala sesuatu dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan), jadi Almarhum sekarang lebih dekat kepada Allah. 

Kedua, Sebenarnya semua kalimat Toyyibah, tepat untuk kita ucapkan. Kita ucapkan subhanallahu untuk kematian, itu tepat. Kita ucapkan Alhamdulillah, juga tepat. Karena Almarhum bangga punya anak-cucu seperti almarhum. Lailaha illahu, juga cocok. Jadi, semua kalimat Toyyibah, menggumpal bersama kebaikan beliau ke pemakaman. Almarhum tidak dimakamkan. yang dimakamkan adalah wadah pertama almarhum dikehidupan dunia ini. Jadi, kita jangan takut mati. Jangan takut kehidupan. Sebab, kita harus menjalaninya dengan kewajaran berdasarkan tuntunan Allah SWT. 

Berani hidup, tidak takut mati. Takut mati, jangan hidup. Takut hidup, mati saja. 

Selama ini kematian adalah sesuatu yang menakutkan kita, karena kita menyangka kematian bukan seperti yang seharusnya. 

Almarhum itu artinya orang yang lebih di sayangi Allah, bukan orang mati. Karena mati, itu tidak ada. Saya mohon izin, karena kata-kata saya tidak lazim. Kita hidup bersama Allah, maka kita terus bersama Allah. 

Ketiga, kematian itu tidak perlu di takuti. Karena kematian itu sesuatu yang pasti. Bukankah kita diciptakan untuk sesuatu yang sementara. Jika sesuatu yang pasti, kenapa justru kita takut. Sesuatu yang pasti, tidak mesti di takuti. Justru kita mestinya mempersiapkan untuk menjemputnya. 

Hakikat kematian dalam Islam, disebut kembali. "Irji i ila robbi kirodatan mardhia" (kembalilah kepada TuhanMu. Dalam keadaan senang). Puncak keindahan Hidup adalah ketika kita pulang dalan keadaan senang dan yang menjemput kita juga pun senang. 

Nah, ada satu hal yang ketika kita Ziarah kubur. Ada salam atau kalimat yang ditawarkan Rosulullah ; "Assalamu alaikum ya Ahlil qubur antum sabikuna waa nahnu Insya Allah  layakun" (selamatlah wahai ahlu kubur, kalian telah mendahului kami. Dan kami juga akan menyusul). Kamu dulua yah, dan kami akan menyusul. Jadi ada kesiapan kita untuk menyusulnya. 

Artinya, ketika ada seseorang yang takut mati. Menandakan ada sesuatu yang disorder dalam dirinya. Misalkan, ketika kita punya sodara jadi TKI di Korea, 5 tahun. Terdengar kabar dia akan pulang. Apakah kita senang atau sedih?. Lantas, mengapa ketika ada seseorang yang pulang ke tempat yang lebih hakiki, kita malah sedih?. Atau jangan-jangan kita justru tidak merindukan pulang.

Kenapa tidak rindu pulang?. Saya pikir bukan karena betah di dunia. Coba kita periksa ; semua hal serba sulit. Misalnya kita makan Nasi saja, melibatkan jutaan orang. Yang tanamnya berapa, yang pupuknya berapa, yang tumbuknya berapa, yang bikin piringnya berapa orang, yang masaknya berapa orang, dsb. Artinya berjuta-juta orang memproses makanan dihadapan kita. Begitu melelahkan, lalu masih betah juga. 

Bayangkan orang dalam ketakutan, dimana enaknya. Orang yang hatinya dicekam oleh rasa takut, semuanya tersiksa. Berpelukan dengan istri juga dalam keadaan kalut, makan juga tersiksa, karena meremang-remang ketakutan. Dan ketakutan itu merupakan cobaan Allah yang paling besar. Makanya ketika Allah, mengatakan, akan kami uji kamu dengan sedikit ketakutan (Waa laa nablu wannakum bi syaing minal khaufi). Jadi ketakutan adalah cobaan pertama, baru cobaan-cobaan yang lain, seperti kekurangan harta benda, jiwa, dsb. 

Orang lain tidak akan merasakan penderitaan bagiamana orang dicekam oleh rasa takut, kecuali oleh orang yang pernah mengalaminya. tidak ada enaknya takut itu. Kalau takut ada perangsanya yang kita tangkap dengan indera kita itu tidak akan lama, begitu hilang perangsangnya akan hilang juga. tetapi, ketakutan mati, kapan hilangnya. 

Sekalipun kita bersembunyi dibalik benteng belapis baja yang tebalnya tidak tertandingi, mati akan tetap menembus "aynama takunu yudrikumul mautu waa laa kuntum burji musyay yadah". 

Kenapa harus takut mati, padahal mati itu pasti. Bukankah ini sesuatu yang tidak logis. Oleh karena itu hanya mereka yang Percaya bahwa Tuhan itu ada dan Percaya bahwa ada Hari Yaumul Hizab, yang tidak akan pernah taku dengan mati. 

Hanya orang yang tidak BerTuhan lah yang menganggap kematian adalah akhir dari segala-galanya dan menatap masa depan dengan ketidaktahuan. Apapun yang didasari ketidaktahuan, pasti menimbulkan ketakutan. Rasa takut ini bervariasi. 

Keempat, Sesungguhnya yang kita takuti bukan kematian. Yang kita takuti, andaikan kita berhipotesa dalam Imajinasi bahwa kita tidak mati-mati. Itu berat. Karena mati adalah sesuatu yang wajar. Jadi, kalau tidak mati-mati, berarti seribu tahun kita dicebok sama anak cucu kita, mau.

Mati itu sesungguhnya dalam bahasa arabnya disebut " ayay natas naini waa amat tanast naini (engkau berikan kami hidup dua kali dan engkau matikan kami dua kali), artinya dua kali mati dua kali hidup. " Kuntum am wata faa ahyakum tsumma yumitukum tsumma yuhyikum" (dulu asalnya kamu mayyit, lalu dihidupkan. Kemudian dimatikan dan dihidupkan kembali). 

"Innakum daa mayyitun waa innahum daa mayyitun" (engkau itu mayyit, mereka juga mayyit). Artinya didalam diri kita sendiri, milyaran kematian sel setiap hari. Dan tubuh kita hari ini, bukan tubuh kita yang kemarin, karena ia telah mati. Setiap hari 18 milyar sel yang rusak, diganti setiap malam dalam tidur yang lelap. Bangun tidur menjadi segar. Jika sel yang rusak diganti dengan sel yang sama, maka ketampanan dan kecantikan kita tetap awet. Itulah sebabnya, mengapa seseorang cepat Tua karena banyak sel yang tidak tergantikan.



*Rst
*Pena Nalar Pinggiran