Sabtu, 11 Desember 2021
ANALISIS RIUH PERBINCANGAN KONTESTASI - HANYA SEKEDAR SIRKUS KEKUASAAN ; CITIZEN JOURNALISME
Sabtu, 27 November 2021
-ASSIKALABINENG -
Sebelum kita mengulas tentang Kitab Kama sutra Bugis atau Assikalabineng. Kita menjawab terlebih dahulu tentang persepsi bahwa Pembicaraan sex adalah sesuatu yang tidak tabu di masyarakat kita.
Membicarakan sex, boleh dalam suasana santai, bisa juga serius, akan tetapi dalam banyak hal, sex itu membahagiakan. Sehingga, Jika ada yang menyatakan Sex itu jorok?. Tentu kita akan bertanya, joroknya dimana. Sebab, kita akan mendalami sex sebagai sebuah kearifan atau sebuah kebutuhan atas kebahagian.
Jika dulu orang membicarakan sex dianggap tabu, sehingga membuat orang jauh dari pengetahuan sex itu sendiri. Itulah kenapa banyak rumah tangga bermasalah karena sexsualitas. Tetapi, di sisi lain jika ada yang memahaminya dengan baik, justru menjadi cermin rumah tangga yang baik.
Makanya sex secara personal adalah sebuah kebahagian, sehingga kebudayaan kita mengaturanya sebagai sebuah kearifan.
Bagaimana Sexsualitas dalam tinjauan kultur Nusantara?
Sebenarnya sexsualitas itu memiliki kearifannya sendiri. Misalnya, di Kultur Bugis punya kearifan tersendiri, sama seperti ketika kita membaca kama sutra di India. Ternyata di Bugis juga memiliki kitab Kama sutranya, yaitu Assikalabineng, Sama juga seperti di Jawa Di sebut dengan Terma Asmoro Gomo. kama sutra bugis, bisa sadur dari manuskrip leluhur-leluhur kita dulu.
Sebenarnya kita tidak perlu berguru terlalu jauh ke India, ke Arab atau kemanapun untuk mengetahui bagaimana sebenarnya skema kama sutra itu dalam konteks mencari kenikmatan dan kebahagian.
Dulu, Jika bicara sex, ulama kita menyebutkan, "ada proses menindih dan menghimpit". Ada superioritas dan Inferioritas. Padahal sex itu tidak sesederhana itu. Sex itu juga harus di lihat sebagai sebuah keseimbangan. Misalnya, saya laki-laki mendatangi pasangannya saya yang perempuan dengan nafsu yang 80%, maka perempuannya cukup menerima dengan 20% saja. Agar tercipta keseimbangan. Nah, jika sama-sama 100%, maka hal itu bisa berlebihan.
Tetapi dalam tuntunan masyarakat, sebenarnya. sex itu penyatuan 4 unsur, " tubuh dengan tubuh", jika kita bicara senggama, di sebut skin to skin (saya menyentuh dirinya dan dia menerima sentuhan saya dengan manja). "Nyawa dengan nyawa", "nafas dengan Nafas" dan "Rahasia dengan Rahasia". 4 unsur inilah yang disebutkan oleh Masyarakat Bugis dengan terma "sulappa appa".
Jika kita mengikuti Pembahasan ini, sebenarnya sudah ada Penelitian tentang hal ini, yang di lakukan oleh seorang Peneliti asal Unhas yang menuliskan tentang manuskrip Assikalabineng.
"Sebenarnya apa makna assikalabeneng sebagai kearifan Bugis Makassar?".
Sexsualitas itu adalah keseimbangan. Ketika kita menganggap sex itu sebagai sebuah kesenangan, maka hal itu adalah tingkatan terendah dari sex itu sendiri. Misalnya hanya untuk melampiaskan hawa nafsu dalam konteks lahiria saja, maka hal itu bagian paling rendah dari sexsualitas. Sebab, sexsualitas itu tidak di bangun dari ketertarikan bodynya saja, dsb. Melainkan, ada hal yang di bangun sebelumnya.
Misalnya, dalam kitab Asmoro Gomo (kama sutra Jawa), ada 6 tingkatan ;
pertama, asmara Lana. Lelaki dan perempuan saling memahami dalam konteks kepedulian. Seperti, ketika ada seorang lelaki memiliki ketertarikan khusus pada perempuan, dan lelaki tersebut memberikan kepedulian tertentu atau yang kerap disebut sebagai "Kasmaran".
Kedua, asmara Tura ini berisi pujian-pujian yang baik. Pujian itu butuhkan untuk memasuki tahap selanjutnya. Pujiannya lebih kepada rayuan pada fisik, belum kepada nilai-niali yang puitis. Nanti pada tahap berikutnya.
Ketiga, asmara Turida, disinilah ketika seorang lelaki tertarik pada perempuan, dari cara dia ketawa, dari kerlingan matanya, bahkan dalam tahap yang lebih tinggi, ada desahan yang manja sampai di hati kita. Hal itu yang disebut dengan penyatuan nyawa dengan nyawa.
Keempat, asmara dana. Ketika tawanya perempuan sudah menyentuh hati kita. Maka, kita bisa membalasnya dengan syair-syair puisi yang indah. Pujian yang di maksud, sudah bukan lagi pujian erotic (fisik). Jika hal ini sudah dilakukan dan perempuan, merasa sampai juga di hatinya. Maka peluang untuk memasuki tahap berikutnya besar, seperti menyentuh tangan, dia akan merasa terangsang sedikit dan dari situ dia bisa memberikan kita ruang untuk menyentuh bagian tubuhnya yang lain.
Nah, dalam konteks sexsualitas, dari tahap inilah potensi ciuman bermula. Karena setelah kita bisa menyentuh tubuhnya dan menyesuiakan diri, hal itu disebut foreplay (pemanasan). Jadi tahapnya demikian, jika hendak mencapai kenikmatan yang sesungguhnya. makanya, sex bukan hanya sekedar kebahagian jasmani. Tetapi, kebahagian rohani.
Dalam terminologi manuskrip, sex itu di ibaratkan sebagai Mantra yang di sampaikan. Orang tua kita dulu, punya potensi mengirimkan ransangan melalui doa atau mengirimkan pengaruh melalui mimpi ( na'pa nimpiwi makkun rainna ; perempuan itu akan bermimpi sedang melakukan persetubuhan dengan kita), tetapi dalam kontes pasangan yang sah.
Dalam perkembangannya, kita harus melihat secara kontekstual bahwa perilaku sexsual tidak hanya cara kita mencapai kenikmatan. Sebab, tahap tertinggi dari sexsualitas, selain keseimbangan, bahwa di dalam sexsualitas terdapat kasih sayang Tuahn. Selalu ada ingatan yang sangat tegas, dalam kajian manuskrip terhadap sexsualitas, kita selalu diarahkan untuk mengingat ; " arri ngerrako takkakupammu (di saat kita lupa, hal ini biasanya jika dalam konteks hawa nafsu yang mengebu-gebu, kita bisa lupa seluruhnya. Di situ kita di ingatkan, Perlu kita me-rem hawa nafsu itu sedemikian rupa). Sebab, jika kita datang dengan energi yang terlalu besar. Bisanya, tidak berpretensi untuk membuat pasangan kita bahagia (egois). Jadi, kalau kita datang dengan nafsu yang membuncah, tanpa memperhatikan situasi pasangan kita. Maka kadang kala kita over lap. Disitulah sex dalam konteks kesenangan hanya akan berhenti di situ. Padahal sesungguhnya, setelah kesenangan, ada kenikmatan. Setelah kenikmatan, ada kebahagian dan di setiap kebahagian selalu ada kasih sayang Tuhan (Rahma).
Itulah sebabnya, di setiap permulaan nelakukan senggama, selalu di sebutkan untuk memberi salam kepada pemilik pintu Rahma (Assalamualaikum Ya Babur Rahma).
Jadi susungguhnya sex dalam konteks kearifan Bugis Makassar, bukanlah sesuatu yang jorok. Melainkan sesuatu yang sangat religius. Karena selain mengendalikan diri, di situ juga terdapat doa ; " Yahruju min baini Sulbi wa ttara'ib". Dari konteks inilah, sehingga ada tafsir yang berkembangan dalam masyarakat Bugis, bahwa sexsualitas tidak hanya sekedar alal lahmun Ilal lahmun (memasukkan daging kedalam daging). Tetapi, lebih kepada bagaimana kita memperlakukan pasangan kita dengan bijaksana.
makanya, kenapa sering sekali diulang-ulangi dala manuskrip, bahwa jika kamu mendatangi pasanganmu, pastikan bahwa dia juga ikut berbahagia. Bukan hanya 1, 2, 3 Hore. Tetapi, dalam banyak hal kita perlu memasukkan unsur-unsur keseimbangan disitu.
"Apakah teks Assikalabineang membahas sampai soal-soal teknis?".
Justru kitab tersebut sangat teknis. Jika diatas saya menyebutkan, tentang foreplay, dalam kitab tersebut kita dituntun, apa yang di sentuh pada malam pertama terbitnya bulan. Misalnya, 1 Syawal atau 1 sya'ban, dsb itu dianggap sebagai malam pertama terbitnya bulan. Nah, saat malam pertama terbitnya bulan, titik rangsangan perempuan itu berada pada telapak kaki kanannya. Hal itu yang terus di eksplore dan hanya sampai 15 hari dalam sebulan, karena perputaran bulan, hanya sampai di purnama.
Jika saya baca dari variasi titik ransang, semuanya berada di sebelah kanan (dari bawah ke atas) : hari pertama, di telapak kaki sebelah kanannya. Hari kedua, di betis sebelah kanannya. Hari ketiga, paha kanannya. Hari ke empat, dada kanannya. Dan seterusnya, dengan perlakukan yang berbeda.
Tetapi, yang penting adalah ada sentuhan-sentuhan tertentu yang harus kita lakukan, yang kalau kita sentuh tidak membuat bulu kuduk perempuan itu tidak layu. (Hal ini biasanya harus berguru dulu)
"Apakah Assikalabineng dalam kultur bugis, masih eksis?".
Sebenarnya, posisi pewarisanya dalam kultur masyarakat Bugis, ada pada saat (seharusnya), sebelum menikah, sering kita di pingit. Pingitan tersebut "ancaman" untuk calon pengantin tidak boleh kemana-mana (sinrapo-raponna : jika keluar sebelum pesta, biasanya kita di beritahu bahwa kamu akan celaka). Padahal sebenarnya, dalam histori pingitan, di saat-saat itulah, ilmu kama sutra di turunkan.
Jika kita tau terma " indo botting", anehnya sekarang indo botting lebih banyak mengurusi soal make up, dekorasi, pelaminan, atau hal yang terlalu artifisal, dsb. Padahal indo botting itu, dialah yang seharusnya menurunkan ilmu assikalabineng kepada calon pengantin dan memastikan kepada calon pengantin tersebut, siap mengarungi bahtera rumah tangga (dalam terma Bugis makassar, kita disuruh kelilingi dapur 7 kali). Karena saat orang di pingit, orang sesungguhnya diajari ilmu assikalabineng.
Hakikat sesungguhnya Indo botting itu tidak terlalu mengurusi hal teknis pernikahan. Tetapi mengurusi hal prinsipil pernikahan, yaitu Indo botting harus memastikan, bahwa calon pengantin dapat mencapai kebahagian melalui proses-proses kesenangan, kenikmatan, sentuhan, dst. Hal itu di wariskan sebegitu rupa. Bahkan, hanya antara calon pengantin lelaki dan indo bottingnya. Perempuan seharusnya juga memiliki indo bottingnya sendiri, Karena titik rangsang lelaki juga ada.
Di manuskrip assikalabineng pun di bahas. misal, bagaimana caranya menghidupkan kayu yang sudah luyu. Jadi, bahasanya sangat sastrawi. Padahal hal itu di asosiasikan pada alat kelamin lelaki dan perempuan. Sebab, disitu posisinya adalah hasrat, bukan dengan obat-obatan, seperti yang di maksud Dr. Boyke, Di situlah di ambil alih sakralitas dan religiusitas ilmu tersebut, di serahkan kepada seksolog. Sementara kita melihatnya, tidak hitam putih. Sebab, di situ ada perlakuan atau sistem penerimaan.
Bahkan dalam ilmu ini disebutkan, bahwa ilmu ini adalah Mala'bi ; karena peristiwa ini sesuatu yang luar biasa, maka sudah seharusnya di perlakukan dengan sesuatu yang lebih luar biasa pula.
Hal itu berkelindan dengan prosesnya, sedangkan banyak diantara kita mengartikan assikalabineng itu hanya peristiwa diatas ranjang. Padahal sesungguhnya sex itu bisa di mulai dimana saja. Ada sebuah buku, yang berjudul " Sex di mulai dari dapur" : di situ dijelaskan posisi lelaki dan perempuan sangat seimbang (bukan Bersenggama didapur). Tetapi, seorang lelaki, juga bisa mengambil peran domestik seorang perempuan, tanpa merusak maskulinitasnya. Jika seorang lelaki bisa melakukan hal ini, sesungguhnya dia seksi Dimata istrinya.
Jadi, jika hal ini terus lakukan, saya pikir anjuran-anjuran untuk saling memuliakan bisa di gaungkan. Karena ada tujuan dari assikalabineng ini. Orang-orang yang mengetahui, memahami dan mempraktekkan dengan benar, di sebut " ata man rapi" (orang-orang yang memiliki pengetahuan tinggi) atau orang yang sudah selesai dengan dirinya atau orang yang sudah bisa memanusiakan pasangannya.
Ada literatur Arab atau kama sutra Arab, menjelaskan bahwa Fatimah pernah protes kepada Ali, karena dia dianggap tidak di kirimi apa yang Allah titipkan kepada Nabi Muhammad, yang Ali tidak bisa menerapkannya diatas ranjang . Tetapi, cara Fatimah menegur Ali, itu dengan elegan, tidak vulgar ; "Baginda, Anda belum menyampaikan apa yang dititipkan Tuhan kepada suaminya untuk istrinya". Artinya, boleh jadi Fatimah pada konteks itu, tidak mendapatkan kepuasan seksual. Karena pada akhirnya, Fatimah mengajak Ali, untuk berguru kepada Nabi Muhammad. Karena porsi itulah yang ingin di sampaikan. Sehingga Ali kemudian berguru kepada Nabi dalam konteks keberpasangan atau seksulitas.
Terakhir, di hubungan seksualitas, biasanya ada doa-doa yang dihaturkan. Biasanya di manuskrip, pasangan yang memiliki idealitas atau di jadikan Patron, bisa kita pelajari dari kehidupan rumah tangga Fatimah dan Ali.
Manusia itu bukan hanya mahkluk sosial. Tetapi, dia juga mahkluk seksual.
Relasi antara lelaki dan perempuan, pada ulasan pertama. Sebenarnya tidak sedang mendudukkan lelaki dan perempuan dalam bias gender. Sex di mulai dari dapur, hanya sebuah terma yang menghendaki antara laki-laki dan perempuan yang memiliki kecenderungan peran yang seimbang. Jadi, apapun namanya. Baik itu dalam hubungan ranjang (seksesual), maupun di domestik (di dapur). Kita tidak mengatakan bahwa peran terbaik di dapur adalah perempuan. Sebab, lelaki juga bisa melakukan hal tersebut. Bukan soal maskulinitas dan feminitas semata. Tetapi, dia adalah cara terbaik untuk memulai aktivitas sex, dalam konteks menindih dan menghimpit.
Kalau sudah ada Keserasian di dapur. Bisa mengerjakan semuanya bersama-sama dan tidak terdapat relasi kuasa. Artinya, ketika di bawah ke ranjang, maka relasi kuasa pun tidak berlaku. Jadi, posisinya sama-sama subjek. Objeknya adalah kenikmatan yang hendak di raih bersama (dalam koridor kasih sayang Tuhan).
Diatas ranjang, tidak ada objek dan subjek. Maka, relasinya adalah setara. Keseteraaan yang di maksud, sebagaimana yang di ulas pada bagian sebelumnya ; " ketika lelaki atau perempuan mendatanginya dengan energi atau hasrat yang membuncah, 80 atau 60 %. maka pasangan kita juga harus memiliki keinginan atau antusias yang menyesuaikannya.
Tetapi, hal ini bukanlah sebuah beban. Sebab, aktivitas seksual tidak melulu soal konektivitas kelamin lelaki dan perempuan. Sebab di situ ada pikiran yang bermain. Ketika ada aktivitas seksual ; alal lahmu Ilal lahmun (masuknya daging kedalam daging). Sementara pikiran kita tidak terfokus atau tidak berada dalam romatisme tersebut. Maka, sama saja kita melakukan kedzoliman terhadap pasangan kita. Sebenarnya hal ini, bahagian dari etika, karena itu potensi kita untuk berfantasi terhadap sesuatu dalam aktivitas seksual itu ada.
Misalnya, kita punya pengalaman Dengan video-video viral yang beberapa detik itu. Lalu, dalam aktivitas seksual tetiba dalam sekejap terngiang-ngiang, maka potensi kita untuk berfantasi ada. Nah, kenapa kontrol pikiran di butuhkan, karena kita harus fokus satu sama lain. Itulah yang disebutkan, bahwa kita sama- sama subjek. Jadi, jika kita sudah mengkondisikan diri, bahwa ada pujian di sampaikan kepada pasangan kita, ada cara dia menerima dengan baik, ada doa yang kita panjatkan sama-sama, ada keinginan untuk saling memberi dan menerima. Di situlah esensi pikiran dan perbuatan dan gerakan tangan harus saling bersinergi.
Di kitab Assikalabineng, mengatur yang sifatnya aturan teknis sampai pada doa-doa sebelum memulai. semua itu adalah bahagia dari kontrol pikiran. selain itu, di Kitab Assikalabineng selalu memberi batasan, bahwa sesuatu yang di buka dengan baik, di lakukan dengan baik maka ditutup dengan baik pula. Jadi aktivitas tersebut, harus satu garis lurus.
Saya kerap berdiskusi dengan kawan-kawan soal ini, bahwa potensi seksual kadang berhenti, pada saat ejakulasi, pada saat pasangan kita sudah orgasme. Padahal seksual tidak berhenti di titik kunci orgasme. Karena tidak semua perempuan bisa organsme. Tetapi, ada hal yang dapat dilakukan, untuk bisa membuat dia merasakan kenikmatan dan kebahagian atau dalam konteks Assikalabineng di sebut " minyyak na bunganna si bollo e ", di situlah sesungguhnya puncak kenikmatan sebagai manifestasi dari proses seksual.
" Minyyak na si Bollo e" adalah orgasme. Jika orang orgasme itu, lelaki biasanya keluar sperma dan perempuan itu ada gestur menggeliat yang begitu nikmat rasanya. Kerap kali, jika kita lihat lebih jauh, disitulah ada rintihan atau erangan yang sangat dahsyat keluar. Tetapi, tidak hanya sampai disitu sebenarnya, ketika lelaki sudah ejakulasi dan perempuan sudah orgasme ataupun kita sudah saling merasakan puncak kenikmatan, lalu kita saling memunggungi.
Misalnya, bagaimana nikmat merokok, setelah makan. Disebutkan dalam kitab Assikalabineng, bahwa setelah kamu melakukannya, kamu jangan buru-buru berhenti saling menyanyangi (na rekko pura ko aja mu Tappa si Boko i : jika sudah melakukannya, jangan saling memunggungi)". Biasanya kan demikian, sebab banyak energi yang keluar, bahkan dalam tingkat insentitas tertentu kita sama-sama berkeringat. Akhirnya kita sudah selesai, sudah.
Padahal sebenarnya, kenikmatan sesungguhnya adalah kenikmatan after sex, ada istilah sigared after sex, ini semacam analogi bagaimana kita tetap berada dalam suasan saling menyanyangi meskipun sudah ejakulasi dan orgasme.
Banyak diantara kita, karena mungkin sudah terlalu capek, sehingga potensi untuk melakukan aktivitas lain tidak pernah di lakukan. Padahal puncak kenikmatannya pasca orgasme, jika dapat diolah dengan baik, disitulah kasih sayang satu sama lain bisa di eksplore dengan baik. Bisa mengembalikan energi yang kembali lagi. Seperti seorang yang sudah makan, lalu merokok. Bahkan ada kenikmatan yang jauh dari nikmat makan itu sendiri.
Kalau kita bisa merangkul dan saling menyanyangi, bahkan meminjamkan bahu kita dan bercerita tentang banyak hal atau saling mengeksplore kekuatan dan kelebihannya. Bisa juga sesekali di tanya, " Yang kamu suka itu pada posisi mana". Di situlah adalah bagian kita menginternalisasi pasangan kita lewat sex. Supaya nanti, the second round, ketika itu di lakukan. Biasanya, banyak orang hanya selesai di ronde pertama, lalu tiduran atau bersih-bersih atau sama-sama sibuk dengan urusannya sendiri.
Padahal jika kita melakukan aktivitas di awal, ketika foreplay dan segala macam. Pasca sex, kita boleh saling bertukar pikiran, saling refleksi satu sama lain. Refleksi tidak harus soal gaya dan posisi sex. Tetapi, refleksi soal kehidupan rumah tangga dan itulah suasana paling romatis menurut saya. Karena, jika kita mampu mengontrol kondisi kita, yang sudah sedemikian capek dan lelah, energi di tingkatan pusaran saraf kita sudah banyak di keluarkan. Tetapi, kita masih tetap bisa mengambil kepala pasangan kita dan menyandarkan di bahu. Lalu, di elus-elus rambutnya dan bercerita tentang banyak hal. Saya membayangkan romantisme yang sangat hebat, seperti ketika kita sedang bermesraan di bawah langit yang banyak sekali bintangnya atau melihat bulan yang sedang purnama.
" Kata kunci seksual menurut Assikalabineng adalah Keseimbangan. Mulai dari pra sampai Pasca. Nah, di tengahnya adalah prosesnya. Bagaimanakah Assikalabineng mewujudkan keseimbangan tersebut?"
Keseimbangan dalam wujud praktis Atau teknis di lapangan. Di dalam naskah, sebenarnya di sebutkan secara runut.
" Na rekko mua jelloken ni kallanmu , bau ni riolo ingetna makkun Rai na, mu pa siduppa i ingetna na ingetmu, timunna na timummu". Artinya ; "ketika kamu sudah menghunus pedangmu, pertama-tama kamu harus mencium hidungnya Perempuanmu, mulutmu dengan mulutnya".
jangan lansung membayangkan hal itu adalah peristiwa ciuman yang sangat dahsyat. Sebab, pada konteks tersebut yang di maksud adalah penyatuan, sebagaimana yang telah di sampaikan di bagian awal, bahwa ada proses penyatuan nafas dengan nafas, tubuh dengan tubuh, jiwa dengan jiwa dan rahasia dan rahasia. Sehingga posisi itulah yang di lakukan.
Bolehkah kita bermain-main antara hidung kita dan hidung pasangan kita?. Boleh, saling mengeleng-gelengkan hidung, karena hal itu bahagian dari kemanjaan. Tetapi, tetap di lakukan dengan pelan-pelan dan bijaksana. Sebab, terkadang kita kalau sudah membuncah hasrat, kerap kita lupa diri. Kenapa kita selalu di ingatkan jangan lupa diri, sebagaimana pada bahasan sebelumnya. Karena di situ ada upaya untuk pengendalian diri ; " Mu tajenggi essu na nyawana mu Iso i nyawana (tunggu sampai keluar nafasnya, engkau satukan dengan nafasmu)".
Titik ini harus di perhatikan dengan sangat teknis, menurut beberapa orang tua kita di Bone, Prof Syarifuddin, beliau menghendaki penyatuan nafas dalam hal, ada irama yang sama dalam tarikan nafas yang satu dan pasangan kita. Itu yang bisa membuat kita tahan lama. Sebab, jika nafas tidak beraturan (ngos-ngosan), artinya tidak seritme. Maka, posisinya tidak seimbang atau sejalan.
Lalu, masuk ke tahap ; " Mu pangganga i timunna na timmum mu , mu pasi lepe i ujung liLa mu na ujung lilamu - bukalah mulutnya dan mulutmu bersamaan perlahan-lahan, ujung lidahmu dan ujung lidahnya saling menerjang satu sama lain".
Vulgar tapi perlu di identifikasi posisi ini dimana. Ketika hidung tadi sudah bersentuhan, nafas sudah saling menyatu, mulut kita dan mulut sudah seirama, dalam konteks ciuman. Tidak harus selalu di lakukan dengan energi yang besar atau tergesa-gesa. Pelan-pelan, kadang lebih di sukai, disitulah pentingnya komunikasi.
Lalu, " majeppu mappe neddi ni ritu na Saba pammasena puang Alla ta'ala (diperoleh kenikmatan itu atas izin dari Tuhan melalui Rahmatnya)". Di sinilah posisi yang di maksud kasih sayang Tuhan. Rahmat Tuhan selalu di gulirkan, bahkan dalam wilayah seksual sekalipun.
Berkenaan dengan ini, saya teringat dengan Tafsir seksual atas Q.S.Al Kautsar. Kerap kali di arahkan pada ayat tentang kurban. Tetapi, pada prinsipnya, ada tafsir lokal yang di munculkan masyarakat Bugis, yang selalu di identikkan dengan proses penyatuan appa sulapa, dalam konteks seksualitas, " Inna a'thoinna kal Kautsar (sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak)". Nikmat dalam tafsir lokal tersebut, di maksud sebagai kenikmatan seksual. Ada banyak kenikmatan, yang salah satunya adalah seksual, yang merupakan pemberian Tuhan.
" Fa sholli Li robbika wan har Inna saya Nia akahu wal abthar (maka dirikanlah sholat karena Tuhan dan berkurbanlah)". Kurban dalam tafsir biasanya adalah berkurban sebagaimana biasanya. Tetapi, berkurban dalam konteks seksualitas adalah mengendalikan diri dan sesungguhnya orang yang membenci kamu adalah dia yang terputus dari Rahmat Tuhan)".
Coba kita telaah beberapa pembahasan sebelumnya, tentang " ari ngerrako ni wattu takkalupammu (senantiasa kita mengendalikan pikiran pada saat kamu sedang lupa)". Sebab, kenikmatan adalah sumber kelupaan dan kadang membuat kita terlena. Tapi, di situlah kita selalu di arahkan untuk berkurban.
Mengapa kehidupan rumah tangga, ada yang gagal karena persoalan ranjang?. Karena ada nikmat yang terputus yang tidak di sampaikan kepada pasangannya. Kita tidak memberikan kepuasan tersebut dengan bijaksana. Kita hanya memikirkan diri kita sendiri, seperti kalau kita sudah ejakulasi. Maka, tidak ada urusan dengan pasangan kita. Padahal sebenarnya kita harus menjalin komunikasi dan kesimbangan, di situlah yang di maksud, " Inna sya' ni ni aqakahu wal abthar.
Sebab, dalam konteks yang lain, sumur kal Kautsar yang terdapat di surga adalah sesuatu yang harus kita antarkan kepada pasangan kita dalam aktivitas seksual. Di dalam naskah di sebutkan bahwa " na rekko Mappi ne dinni ma kunrai mu engka ni Messu wae na bungge kal kautsar fasholli lili robbika wan har Inna sya' ni akahu wal Abh ta, apa majeppu ia na matti RI akhirat riaseng minyyak na bunganna na si Bollo e (apabila perempuan sudah terangsang dan berada dalam kenikmatan tertentu, akan keluar air sumur Al-Kautsar)".
Ada istilah squit atau lubrikasi, semacam cairan. Menjadi pertanda, bahwa perempuan sedang dalam kondisi nikmat-nikmatnya dan siap. Artinya ada kepasrahan, siap memberi kasih sayang dan siap menerima kasih sayang. Itulah yang di maksud dengan "minyyak si bollo e", di dalam naskah di sebutkan sebagai, " padacengi wi rampena ini nawamu tajengi riolo pammasena puang Alla ta'ala apa engka ni Matu RI Lala cule Messu i rasa rahing asenna (Dalam permainanmu atau penetrasi yang kita lakukan, itulah yang disebut kasih sayang Tuhan. Ketika kita berhasil menyatukan pikiranmu dengan pikirannya, kelaminmu dengan kelaminnya. satu garis lurus keseimbangan dan satu nafas)".
-Coretan Pena Nalar Pinggiran, Rst-
-IBADAH HAJI SEBAGAI MEDIUM MENUJU MANUSIA SEJATI-
MEKKAH DAN MADINAH PADAMU
Jumat, 01 Oktober 2021
HISTORIA MAGISTRA VITAE
Menurut 'Jhon Rossa', Ada dua hal mengapa pengangkapan massal, penahanan massal dan pembunuhan terhadap gerakan itu tejadi. Kalau penagkapan, penahanan dan pembunuhan tujuan utamanya menghancurkan kekuatan petani, yang sedang mendukung proses land reform, dan kekuatan buruh, yang sedang mengambil alih banyak perusahaan milik modal asing. sebenarnya bisa dilakukan tanpa pembunuhan. Sebab, Waktu itu PKI tidak melawan.
Menagapa kelompok Soeharto di dalam Angkatan Darat (AD) memilih membunuh orang yang sudah ditahan?. Ada beberapa kemungkinan, tapi satu poin yang cukup penting: kelompok Soeharto mau membuktikan kesetiaannya kepada kampanye anti komunis kepada Amerika Serikat (AS).
Memang sebelum G 30 S PKI, terjadi ketegangan antara PKI dan organisasi anti-komunis. misalnya, antara PKI dan PNI di Bali, atau PKI dan NU di Jawa Timur. Namun, hal itu tidak bisa menjelaskan pembunuhan massal. Orang sipil yang ikut milisi, seperti Tameng di Bali dan Ansor di Jawa Timur, tidak mampu membunuh sebegitu banyak orang sendirian. Paling-paling mereka bisa mengorganisir tawuran-tawuran. Dalam tawuran-tawuran seperti itu, orang PKI berani melawan dan tidak akan banyak orang yang gugur.
Pembunuhan massal terjadi sesudah banyak orang PKI rela masuk kamp-kamp penahanan. Kemudian tugas milisi menjadi algojo saja. Kalau tidak ada backing dari tentara, orang sipil di milisi-milisi itu tidak bisa berbuat banyak. Sekejam apapun orang PKI sebelum G 30 S (dan kekejaman itu juga terlalu sering dibesar-besarkan), tetap tidak bisa membenarkan tindakan Extra Judicial Killing yang dilakukan milisi maupun tentara.
***
Diatas merupakan satu pesepsi yang menjelaskan bahwa pembunuhan Pasca Getapu adalah Pelanggaran HAM terberat didunia, setelah Holocaust yang dilakukan oleh rezim Nazi di Jerman.
Saya coba berikan pengandaian, untuk meraba Asumsi, mengapa terjadi arus balik serangan setelah peristiwa Gestapu. Sekalipun Secara pribadi, saya memang tidak merasakan langsung, peristiwa-peristiwa tersebut. Sepintas lalu, hanya mendengarkan penuturan ayah saya dan membaca berbagai sudut pandang literatur tentang hal itu. Sehingga, saya punya bahan untuk menjelaskan hal itu.
Misalnya ada kampung A dan Kampung B, bersebelahan. Ada orang kampung A di serang oleh orang kampung B dan yang meninggal Akibat serangan tersebut, satu orang. Nah, orang kampung B berpikir, jika kami tidak menyerang, maka boleh jadi kita lagi yang akan diserang. oleh karena itu, Orang Kampung A bersama-sama Menyerang kampung A dan yang Meninggal akibat serangan balik tersebut, sebanyak 30 orang.
Secara hukum, yang salah Siapa?. Secara Hukum, Semua salah, baik Kampung A, maupun Kampung B. Tetapi, secara Moral siapa yang salah?. Dibawah saya akan uraikkan, sependek pengetahuanku siapa yang meyerang terlebih dahulu. Karena dalam kondisi satu orang dibunuh, maka semua orang akan berpikir kalau saya tidak membunuh maka saya yang terbunuh.
"Mengapa Komunisme ini menjadi begitu menakutkan, apakah karena Peristiwa G 30 S PKI ataukah karena Indoktrinasi selama orba?".
Sebenarnya tidak juga, memang dalam perjalanan sejarah bangsa kita. PKI ini pernah terlibat berbagai Hal. Salah satu problem kita adalah banyak dari kita yang tidak paham sejarah atau Malas menganalisis sejarah, sehingga kerap salah kaprah memahami sejarah. Misalnya, sebelum kita Masuk pada Peristiwa G 30 S PKI. Kita kembali kebelakang Pada Tahun 1926, pemberontakan yang dilakukan PKI di Silungkang, Jakarta dan Banten.
Pemberontakan PKI tersebut, kalah dan berhasil ditumpas oleh Belanda dan Tokoh-tokohnya dibuang ke Boven Digoel (Papua). Bung Karno melihat, kegagalan pemberontakan tersebut. Akibat, tidak adanya persatuan warga negara melawan imprealisme (pejajahan). karena, hanya PKI saja yang melakukan pemberontakan terhadap penjajahan Belanda. Ihwal itulah yang membuat Bung Karno mendengungkan Gagasan 'Nasionalisme Islamisme dan Marxisme'. (baca buku 'Dibawah bendera Revolusi').
Saat itu, selain Keterterimaan Rakyat Indonesia pada Gagasan NASAKOM adalah Persatuan Warga Negara Indonesia dalam melawan Imprealisme dan juga Komunisme Belum menjadi ancaman yang berbahaya bagi Bangsa Indonesia. Itulah sebabnya, adalah salah jika sebahagian kita menganggap, bahwa Gagasan NASAKOM didengungkan Bung Karno setelah Indonesia Merdeka.
Pada tahun 1948, 3 tahun setelah di proklamirkan kemerdekaan Indonesia. PKI Menusuk Ummat Islam dari belakang, melakukan pemberontakan ketika Ummat sedang bersiap-siap menghadapi agresi militer Belanda yang kedua. Tentu dimulai dengan kerusahan-kerusahan di Solo, Jogya, bahkan mereka mendeklarasikan Soviet Madiun. Setelah sebelumnya di awali oleh pidato Muso.
Nah, Korban paling banyak atas kerusahan tersebut adalah Ummat Islam. Seperti, di Ponorogo, di Gontor, Sabilil Muttaqin, terkhusus Para Kiyai, Tokoh birokrasi dan Perwira-perwira TNI, dan beberapa tokoh-tokoh Ummat Muslim lainnya. Sejak saat itu, cara pandang Ummat Islam dan sebahagian Rakyat Indonesia melihat PKI sebagai ancaman.
Karena Usaha pengkudetaan PKI ditahun 1948 gagal, serta usaha penumpasan Terhadap PKI tidak sepenuhnya dilakukan. Maka, PKI berusaha merehabilitas eksistensinya, setelah peristiwa Madiun, yaitu pada tahun 1952. Padahal Pasca peristiwa Madiun, Komunis itu menjadi organisasi dan komunitas yang terlarang. Tetapi, Bung Karno pada Tahun 1952 menerima, tokoh-tokoh yang merepresentasikan PKI, seperti Aidit, Lukman dan Tang Din Ji.
Dalam perjalanan kemudian, PKI mendapatkan ruang gerak lebih luas, karena Bung Karno terus mendengungkan eksperimen ideologisnya, yang bernama Nasakom. Maka, Pada Tahun 1954, kongres PKI melahirkan tiga bentuk metode kombinasi perjuangan, yaitu untuk perang gerilya didesa, melawan 3 setan Kota dan Infiltrasi kepada kalangan Bersenjata (TNI). Akibatnya, PKI berhasil tampil lagi di pemilu tahun 1955. Bahkan menjadi salah satu parpol yang mendapatkan suara terbanyak ke 4, sekitar 6 %.
Menjelang GESTAPU atau G 30 S PKI, Bung Karno tetap mempertahankan eksperimen ideologisnya, yaitu NASAKOM (Nasionalis Agamais Komunis). Maka, pecahlah Peristiwa Gestapu atau G 30 S PKI, dimana sejumlah Jenderal-jendral dibunuh dan dimasukkan kedalam lubang Buaya.
Andaikan Bung Karno mengkontekstualisasikan Gagasan 'Nasakom'Nya sejak 1926 dan masa Demokrasi terpimpinnya. maka, hampir bisa dipastikan sejarah kelam pembunuhan yang pernah terjadi dibangsa ini, bisa diminimalisir dan bung Karno Bisa Turun sebagai Presiden dengan Elegan. Tetapi, Bung Karno tetap memilih mempertahnkan Gagasan Nasakomnya, yang berakibat Pertumpahan Darah anak Bangsa.
Mengapa pentingnya Bung Karno, mengkontekstualisasikan Gagasan NASAKOM-nya. Selain, ditahun 1926, Gagasan Nasakom masih menjadi Gagasan Murni untuk mempersatukan Anak Bangsa dan masih bisa diterima dan sebahagian pemikir bangsa ini menganggap, bahwa Gagasan Nasakomnya Bung Karno adalah hal yang tidak mungkin. Sebab bagaimana mungkin, Islam dan Marxisme bisa bersatu (yang satu bertuhan dan yang satu tidak BerTuhan), Ini punya Uraian Tersendiri.
pertama, Ketika Bung Karno berapi-api menyampaikan gagasan Nasakomnya antara tahun 1959 sampai 1965, peta Dunia telah berubah. Banyak Faktor eksternal yang dapat Menggerogoti keutuhan bangsa dan tidak ada satupun negara yang tidak terpengaruh dengan peta Dunia pasca Perang dunia ke II berlansung.
Kedua, Pada tahun 1920-1930 an, Komunisme Internasional belum ada. Perang dingin (pasca Perang dunia II) belum terjadi, percaturan antara Amerika serikat dan Uni Soviet belum terjadi. Dunia belum terbelah menjadi dua kutub: ada timur dan barat. Ada NATO. Ada pakta Warsawa. Karena itu, kita harus melihat G 30 S PKI didalam peristiwa Global, bukan hanya sekedar persaingan Militer dan Komunis atau Percaturan antara Kelompok Islam dan PKI.
Sebagaimana yang kita ketahui, akibat yang ditimbulkan pasca Gestapu adalah hampir satu juta manusia di Indonesia dibunuh, karena dianggap sebagai simpatisan PKI. Padahal hampir semua Orang yang dianggap PKI, tidak tahu menahu tentang PKI itu adalah Partai Komunisme Indonesia. Misalnya, pengakuan Prof Salim Said saat mewawancarai seorang Bapak yang menggunakan Songkok Haji, ditengah-tengah lapangan saat Acara PKI berlansung. Didatangi oleh Prof Salim Said ; "Bapak haji Yah?". Jawab, bapak itu, Iya. "Loh, bapak kok PKI. Katanya bapak itu, PKI itu partai KJ Indonesia, kan. Jadi, memang hampir sebagian besar korban pembantaian manusia Indonesia pasca Gestapu adalah orang-orang yang tidak tahu menahu tentang PKI, hanya karena mereka teragitasi dengan Propaganda PKI.
Itulah sebabnya, Bagi sebagian kalangan, jelas PKI mau melakukan Kudeta di tahun 1948 dan tahun 1965 Dan PKI tidak bisa menghindari diri dari keterlibatannya secara penuh pada Gestapu, sebab didalam Koran Harian Rakyat, tanggal 2 oktober. Sebagaimana kita ketahui, bahwa koran Harian rakyat adalah koran PKI, dibawah pimpinan Nyoto (Sekjen PKI), yang Editorialnya menuliskan Gerakan 30 September dan jelas tertuang didalam koran tersebut : " Rakyat yang sadar akan politik dan tugas-tugas revolusioner Menyakini akan benarnya tindakan gerakan yang dilakukan pada gerakan 30 September, untuk menyelamatkan Rakyat dan Revolusi".
"Lalu, mengapa sangat susah menyelesaikan konflik dan labelisasi PKI di bangsa ini?".
Jika kita mau tahu situasi G 30 S PKI, maka jangan hanya melihat pada Tahun 1965. Kita harus kembali menengok ke beberapa peristiwa-peristiwa sebelumnya tahun 1962, 1963 dan 1964. Sebab, dalam periode tersebut banyak sekali kejadian, yang melahirkan berbagai sikap terhadap PKI. Misalnya, pemuda Rakyat menyerang Tempat Kaderisasi PII (pemuda Islam Indonesia), menyerbu Masjid, dan berbagai penyerangan terhadap santri dan kiyai. serta berbagai serangan lainnya. (baca Buku 'Banjir darah' saya lupa pengarangannya). Contoh kasus lainnya, misalnya, seperti Aidit pernah melakukan penelitian ke desa-desa dan ia menemukan, apa yang menjadi Idiom dalam PKI yaitu hancurkan 7 setan Desa dan 3 Setan Kota. Nah, para Kiai itu termasuk dalam 7 setan desa.
Sebenarnya Soekarno sadar betul tentang kewajiban pejabat lama akan berakhir dan ia juga sudah mengetahui bahwa dia akan turun dari presiden. Maka, dia menguraikan apa-apa saja yang telah dia lakukan dan belum dia lakukan. Misalnya, tentang Irian Barat, tentang KMB, dsb. Sekalipun waktu itu, Soeharto tidak menyatakan dirinya akan jadi presiden dan Soekarno tidak menyatakan dirinya akan mundur sebagai presiden.
"Makanya, Suatu ketika Soeharto bertanya pada Soekarno, Bung Bagaimana dengan PKI, apakah kita bubarkan atau tidak?". Jawaban Soekarno, "Saya ini membicarakan tentang NASAKOM tidak hanya berskala nasional. Tetapi, sudah mendunia. Sehingga saya menjadi sulit berhadapan dengan Masyarakat dunia". Artinya secara tidak langsung Bung Karno menolak untuk membubarkan PKI. Mengingat jawaban Bung Karno demikian, Soeharto kemudian kembali menyatakan : " tidak perlu takut, Bung. Biar saya saja yang menjadi Bumper atas hal itu". Maka, keluarlah surat Perintahkan 11 Maret (Supersemar) tahun 1966. Sejak saat itu, Nama Soeharto mulai Harum dibangsa ini, karena berani membubarkan PKI.
Selain itu pula, Dulu bung Karno setelah Penculikan Rengasdengklok, kembali Ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan Kemerdekaan RI, tidak langsung tinggal di Istana Negara. Tetapi, tinggal digedung Proklamasi sampai Tahun 1952. Meskipun, Pasca Kemerdekaan Gedung Proklamasi sejatinya Bukan lagi Rumah Jabatan Presiden.
Gedung Reformasi adalah salah satu bahagian dari artefak penting perjalanan bangsa, sekalipun Bung Karno sendiri yang mengalih fungsikan gedung tersebut dengan Menjadikan gedung tersebut sebagai Gedung Dewan Perancang Nasional (DPN). Banyak kalangan yang Khawatir, terkhusus Kelompok Islam, bahwa Bung Karno sengaja mengalih fungsikan gendung tersebut sebagai Gedung DPN, untuk menghapus peran PAN Islamisme bagi perjalanan bangsa kita. Sebab, Arah politik Bung Karno yang berbeda haluan.
"Bukankah Soeharto itu Diktator?".
Hal itu tidak sepenuhnya benar. Sebab, Dalam beberapa literatur, Soeharto disebutkan tidaklah Apriori. Misalnya, pada Tokoh Masyumi, Muh. Natsir didatangi oleh Ali Murtopo yang membawa Pesan Soeharto, bahwa Indonesia membutuhkan dana Timur tengah dan meminta kepada Muh Natsir untuk meloby. Karena, ini urusan negara, Sebagai seorang Tokoh Masyumi yang oposisi. Maka, Muh Natsir melakukan hal itu.
***
Jika kita salah dalam membaca sejarah, maka kita akan salah dalam melangkah. salah satu pembacaan sejarah yang baik, dengan gagasan Kontekstual ialah Misalanya, di tahun 1920 - 1940 an, melalui Prof Snouck Hurgronje yang mengkampanyekan agar Orang-orang Islam dibikin sekuler, dengan diberikan fasilitas dan disekolahkan ke Belanda. Karena orang Islam Indonesia, waktu tidak memiliki apa-apa. Sehingga menerima hal itu. Maka, Berkembanglah gagasan Uzlah. Uzlah itu artinya Jauhi sekolah-sekolah kafir (Belanda).
Setelah kita merdeka, kesalahan itu dikoreksi atau diluruskan. Karena hal itu disadari akan berbahaya bagi ummat Islam, hal itu dilakukan oleh K.H. Wahid Hasyim, putra Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari atau Ayah dari Gus Dur, yang merupakan salah satu dari Kabinet RIS tahun 1949 .
"Apakah ada kemungkinan PKI akan hadir kembali?".
Pengalaman sebelum Getapu, PKI berlindung dibawah ketiak Bung Karno untuk menindas dan memenjarakan Ummat Islam, seperti yang kita ketahui Sejumlah Tokoh-Tokoh Masyumi dan Ulama Yang sangat Ku kagumi Buya Hamka juga ikut dipenjarakan. Juga seperti Muchtar Lubis, Moh Roem, Sutan Sjharir, Syafruddin Prawiranegara, dsb di penjara Dan Mereka Baru dibebaskan setelah peristiwa Gestapu berlansung.
Ketakutan itu semakin memuncak ketika RUU HIP bergulir, Jangan sampai PKI menelusup kedalam Pemerintahan dan Menpersekusi Ummat Islam. Sebab, jangan salah Ada Seorang Anak PKI yang bernama Ribka Ciptaning, Yang Dengan bangganya menulis buku " Bangga menjadi anak PKI" dan Ia adalah salah satu anggota DPR RI dari Fraksi PDIP. Bahkan ia menyebutkan di dalam partai PDIP tersbut, ada sekitar 20 Anak PKI.
Sebab, Tidak ada ideologi yang benar-benar mati. organisasinya boleh saja bubar. Tetapi, siapa yang berani menggaransikan bahwa orang tidak lagi berpikir demikian. Lalu, Apakah dia akan mendirikan PKI. Tidak mungkin. Tetapi, menjadi mungkin jika ia meminjam tangan Pemerintah untuk mempersekusi Ummat Islam.
"Terakhir, Mengapa peristiwa G 30 S PKI selalu di peringati dan seolah-olah kita membangkitkan hantu?".
Sejarah Indonesia akhirnya mentok di G 30 S PKI, karena hal itu sekaligus menggambarkan sejarah dunia. Pada setiap hari menjelang 1 Oktober, tanggal 30 September. Bangsa indonesia ini dipojokkan lagi, didalam soal yang seharusnya sudah diselesaikan oleh pemimpin-pemimpin negara. Sebab, perintah reformasi adalah menyelesaikan persoalan masa lalu, seperti Hak Asasi manusia, salah Satunya ada G 30 S PKI dan berbagai soal lainnya.
Saya menganggap fasilitas untuk menyelesaikan itu sudah tersedia. Seperti, kemampuan kita membaca sejarah secara lengkap, justru setelah peristiwa itu berjarak waktu. Bahkan, 60-70 % dokumen-dokumen CIA sudah bisa di akses dan secara nyata ada keterlibatan CIA dalam peristiwa G 30 S PKI.
Tetapi, dalam konteks hari ini orang kembali mengangkat elemen dendamnya akan peristiwa tersebut dan tentu berkaitan dengan keadaan hari ini. Dimana ada semacam ketakutan yang ril, Karena pemerintah tidak mampu menjamin adanya kesetaraan perlakuan terhadap warga negara, terutama ummat Islam.
Jadi, saya menganggap peristiwa ini adalah cermin dari ketidakmampuan pemerintah dalam menghasilkan demokrasi dan kesetaraan warga negara. Misalnya, kita telaah analisis dari seorang peneliti yang berasal dari Australia, yang menulis dengan tajam bahwa "pemerintah Indonesia, memang mempersekusi ummat Islam diIndonesia".
Iya, Jika kita menyeksamai memang Islam selalu bereaksi setelah peristiwa itu terjadi. Maka, reaksi baliknya adalah soal komunisme. Karena komunismelah yang dianggap memusuhi agama.
Nah, ketakutan-ketakutan akan persekusi terhadap warga negara, khususnya ummat Islam itu bukanlah sesuatu yang di ada-adakan. Karena dulu, jargon Komunis dibangsa ini adalah hancurkan 7 setan desa dan 3 setan kota. Salah satu yang dimaksud dari 7 setan desa adalah Para Kiyai. Sehingga memori orang tentang Awal-awal komunisme itu terulang kembali. Akhirnya memori itu tersambung dengan sejarah masa lalu dengan berbagai kejadian-kejadian hari ini. Misalnya, soal persekusi ulama, Persekusi ustadz, Radikalisme, dsb.
Ketidakmampuan pemerintah menjelaskan keadaan ini, sehingga orang pergi kepada kecurigaan-kecurigaan masa lalu. Misalnya, orang boleh menulis tentang komunisme tetapi ummat Islam bicara khilafah, tidak boleh. Sementara, dulu jika Islam politik di jauhkan dari panggung politik bangsa ini, merupakan kerja-kerja PKI.
Padahal, baik komunisme dan Khilafah adalah soal diskursus ilmiah. Hukum baru bisa bertindak, jika ada tindakan. Bahkan hukum, tidak boleh menguji pikiran. Apalagi menghukumi pikiran.
Saya secara pribadi tidak melarang orang menonton film G 30 S PKI atau bahkan setuju menontonnya. Bukan itu pointnya, yang kami tunggu, sejak reformasi bergulir adalah imparsialitas negara dalam merawat kesetaraan warga negara dan tidak diskriminatif terhadap politik Islam.
Sebab, Hal yang Di putuskan saat reformasi, salah satunya adalah menyelesaikan problem G 30 S PKI. Makanya, sudah pernah di buatkan rekonsiliasi antara Korban dan Pelaku. Tetapi, gagal terus. Karena pemerintah tidak mampu membangkitkan imajinasi demokrasi, sehingga orang lega untuk membicarakan peristiwa masa lalu.
Didalam model-model rekonsiliasi, memang susah jika dua pihak harus saling mengakui, seperti siapa yang paling banyak membunuh, siapa yang paling banyak dibunuh atau siapa yang banyak bersalah dan siapa yang banyak benarnya.
Soal rekonsiliasi sebenarnya, mestinya diatasi dengan menghadirkan pihak ketiga. Sama seperti peristiwa apartheid, yang juga diselesaikan, Karena ada pihak ketiga yang dengan besar hati menjadi penengah, yaitu Nelson Mandela. Di Nikaragua misalnya, ada Carter Foundation yang menjadi pihak ketiga untuk menyelesaikan problem hak asasi manusia, yang melibatkan Rezim kiri, antara Sandiniza vs Militer.
Akhirnya saya ingin sampaikkan bahwa Memperingati itu bukan mengungkapkan dendam. Bahwa peristiwa itu melibatkan dua kekuatan yang memang bersaing secara politik, karena disponsori oleh perang dingin saat itu. Sehingga militer dengan sendirinya akan khawatir jika pemerintahan jatuh ke tangan komunisme. Komunisme juga menganggap hal yang sama. Jadi, hal itu sebenarnya pertandingan politik dengan korban yang banyak.
Bagi saya, sebenarnya yang ingin di perbaiki adalah apa yang terjadi saat itu. Oke, ada konflik politik. Tetapi, ada bagian-bagian yang diseret kedalam konflik itu, tanpa dia tahu. Seperti yang saya utarakan diatas, ada petani yang dikasih pacul, lalu dianggap PKI, begitu. Padahal dia cuman dapat pacul. Nah, kesalahan PKI juga adalah mengklaim 30 juta pengikut dan ada 3 juta yang aktif. Lalu, kalau sampai 30 juta pengikutnya, kenapa kalah?.
Kemampuan kita untuk bertahan sebagai bangsa, ditentukan oleh kelegaan kita untuk menghasilkan kesetaraan pikiran.
Jangan ada persekusi. Jangan ada Manipulasi. Jangan ada diskriminasi. Karena tanpa disadari, ada Trauma yang membekas pada kelompok Islam dan TNI, yang paling banyak dibunuh oleh PKI. Makanya, jika kita membaca dengan tenang, kelompok yang paling menentang dan menolak terhadap RUU HIP adalah Kelompok Islam dan Pensiunan TNI. Sebab, ada kemungkinan Nasakom akan kembali digaungkan.
#RST
#Coretan Berserak
#Nalar Pinggiran


