Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Rabu, 13 Juli 2022

POLITIK ITU SUNYI II ; CATATAN POLITIK IDENTITAS 

Sebelum kita Uraikkan, tentang sirkulasi politik di Indonesia. Mari kita bukan lembaran-lembaran perjalanan sejarah politik kita, tidak perlu jauh-jauh. Cukup 20 tahun terakhir. lalu, fokus pada beberapa orang tokoh.

Ada nama-nama : Amien Rais, Gusdur, Megawati, SBY, Prabowo, Yuzril Ihza Mahendra, Surya Paloh, Jokowi, Abu Rizal Bakri, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Habib Riziek Shihab, Ahok, Anies Baswedan dan seterusnya.

Lalu, lihat partai politik seperti Golkar dan Parpol-parpol yang di lahirkan oleh orang Golkar, seperti ; Hanura, Gerindra dan Nasdem. Lihat Pola PPP, PDI-P, PBB, DEMOKRAT, GERINDRA, dst.

Kemudian, lihatlah dalam berbagai Masa, kurun waktu 20 tahun terakhir. Mereka saling Bertukar posisi. saling "berkawan" lalu "lawan". Saling bersebrangan jalan. lalu, bertaut kelingking seperjuangan. membentuk koalisi, lalu bubar. Menyebrang ke koalisi lain yang awalnya tidak mau bergabung. Dulu pendukung fanatik, lalu lawan militer, kemudian berkawan lagi atas nama satu visi misi. Di tingkat Nasional berkawan sambil lantang berucap "ideologi kami sama", sedangkan di tingkat daerah, berlawanan sambil meneriakkan "ideologi kami tidak sama", membingungkan. blaa..blaa..blaa, dst.

"Tidak ada yang mustahil dalam politik. Segala sesuatu adalah permainan". Dalam politik itu biasa.

Di beberapa Tulisan saya yang menyoal soal-soal seperti ini, saya pernah mengulasnya dalam spektrum yang lebih luas. selepas berdiskusi dengan kawan-kawan dan setelah membaca Karya Khomeini dan Moh. Natsir. Perbincangan politik global yang melibatkan Tokok-Tokoh politik Islam.

Politik itu hanya diikat oleh satu kata yaitu kepentingan. Agama dan ideologi, hanya penguat dan perekatnya saja. Bila kepentingan dirasa sama. maka, semua ideologi terasa jadi karib. Beberapa kawan berkata ; " mana bisa komunisme satu biduk dengan agama atau utara dengan selatan satu biduk, bro"?.

Cukuplah eksperimen politik Soekarno menjawabnya, Nasakom, bro. Nasionalisme agama dan Komunisme disatu padukan menjadi satu paket dengan aura revolusi.

Hal itu juga bisa kita lihat, bagaimana mungkin Iran menyatu dengan Arab saudi dan AS?. Kalau sekarang, iya tidak menyatu. Tetapi Dulu, sebelum tahun 1979, Jimmy Carter, presiden AS pernah mengatakan bahwa ; "sahabat terbaik saya diTimur tengah adala Syah Reza Pahlevi (Kaisar Syahansyah Iran), Menachen Begin (PM Israel), Anwar sadat dan Arab Saudi". Bahkan kedatangan Raja Iran ke Saudi maupun AS, selalu disambut dengan "Karpet Merah".

Kepentingan yang menghadirkan semua itu. Lebih spesifiknya, bisnis. minyak, bro. Ketika keutungan tidak lagi saling menguntungkan, Iran bagi AS dan negara-negara sekutunya adalah menjadi salah satu negara "poros setan", istilah yang dikeluarkan oleh George W. Bush Jr.

Saddam Husein selama Hampir 10 tahun menjadi Harapan besar bagi AS dan sekutunya (Eropa dan Timur Tengah) untuk menghancurkan rezim Demokratis-teokratis Iran. Seluruh biaya dan sumber daya diberikan kepada Saddam Hussein. Pembunuhan Suku Kurdi dan warga syi'ah di irak dilakukan oleh Saddam Hussein, kala itu dianggap sebagai sesuatu yang wajar. karena Saddam putra Tikrit ini sedang menjalankan sebuah misi besar yaitu mengembalikan kejayaan kekaisaran persia yang direbut oleh Ayahtullah Ruhullah Khomeini. Tapi, Saddam gagal. Akhirnya Saddam di musuhi, dibunuh dan dianggap pemimpin jahat. Pembenarannya, disusun belakangan, pokoknya Saddam Harus tumbang. Apalagi ditambah Saddam mulai menaikkan "daya tawarnya" ketika mencaplok kuwait dengan alasan Historis.

Dari pangkalan militer AS di Arab Saudi, Saddam di gempur oleh Bush Senior. Jendral Norman Schwarzkofp memimpin operasi yang di namakan badai gurun itu. Kuwait bebas, Saddam terkucil dari politik dunia, khususnya pergaulan antar negara di timur tengah, Saddam di tinggalkan.

Setelah Bush tidak lagi menjadi Presiden, Clinton menjadi Presiden 2 periode. Saddam Masih eksis dengan keterkucilannya. Tapi, Saddam tidak memberikan konsesi eksplorasi ladang-ladang minyak kepada negara-negara barat. Tersebabkan ini pula, Bush Junior, anak dari Bush senior, yang kedua-duanya adalah Presiden AS, negara yang merupakan sahabat Karib Saddam Hussein tahun 80-an, bernafsu menguasai irak. Maka, pembenaran di cari dan dibentuk. " Saddam Diktator bin mengalomaniak dan pembunuh Rakyat". Demikian kata Bush Junior, anak dari Bush Senior.

Tentu saja ada akal sehat dan rasa keadilan yang bekerja disana, tapi juga kepentingan.

Pakem paling universal dalam politik itu terformulasi dalam kalimat " tidak ada lawan dan kawan yang abadi dalam politik, justru yang abadi adalah kepentingan". Politik kepentingan pada dasarnya mengalahkan ideologi, golongan bahkan partai itu sendiri (betapa banyak politisi yang pindah-pindah partai). Itulah sebabnya, jangan pernah membenci kawanmu karena berbeda pilihan politik. 

Bila berbeda sikap dengan kewajaran. Karena yang kita perdebatkan justru bisa berbeda-beda tempat, nantinya kita akan terkejut. Ternganga, marah, kecewa dan sedih. Sementara ada pihak lain yang lebih kecewa yaitu kawanmu yang kau hujat dan kau hina karena berbeda pilihan politik.

Kita marah-marahan, tidak berteman. Bahkan Mendikotomikan kawan-kawan ; ini waras, ini gila. Ini akal sehat, yang itu agak putus tali sarafnya dua setengah lembar. Kita bersitegang urat, berdebat kusir, carut marut keluar. isi dapur rumah orang tua, dikasih keluar semua. Orang-orang yang menjadi episentrum perdebatan kita itu, bisa gonta ganti posisi. Gonta ganti kawan sambil ketawa ketiwi.

Sementara kita?. Terlanjur memutuskan persahabatan.

Sirkulasi politik itu rutin. Kadang beberapa belas purnama, tidak pernah lebih dari 5 tahun. Mereka kembali beradaptasi. Sementara "luka" yang tertoreh pada diri kita dan kawan-kawan kita, justru akan bertahta dalam waktu yang demikian lama. Mereka dapat kekuasan, kita kehilangan kawan. Persahabatn yang kita bina demikian panjang, putus dan sobek oleh mereka yang naik "di tengah jalan di hatimu" serta " Say hello" dan hanya menyapa sambil berlalu.

Mengharapkan batu permata, batu kali ditangan kau lepaskan. Kan Dompala namanya itu.

**

-ISU-


Terkadang kita terkejut melihat realitas politik hari ini. Sebuah isu yang dulunya tidak muncul pada rezim sebelumnya, sekarang dimunculkan. Isu yang sekarang tidak ada, justru di rezim sebelumnya dijadikan perbincangan publik. Kadang-kadang yang menaikkan isu itu, justru kelompok yang sama.

Sebagai contoh : sekarang isu militerisme tidak begitu "seksi : sensual dan eksis", justru mendapat tempatnya pada rezim sebelumnya. HAM tidak lagi menjadi pembahasan serius, sebagaimana masa lalu. Contoh yang lain, cukup banyak untuk diketengahkan.

Kadang kita terbawa perasaan - baper istilah kami, anak muda. Terlampau fanatik terhadap sebuah isu politik, sehingga menghakimi pihak lain yang menganggap isu politik tersebut hanya sebagai dagangan politik semata dari sebuah praktek politik praktis. Sebuah praktek politik yang tak selamanya luhur. Sebuah praktek yang didalamnya ada transaksi. Sebuah praktek politik yang juga dibungkus dengan sandiwara politik. Fiksi.

Dalam kajian mengenai Indonesia, pernah ada analisis menarik dan cemerlang dari "Bennedict R.O.G. Anderson" tentang hal ini. Politik sebagai sebuah fiksi. Demikian pula dengan antropolog "Clifford Geertz" yang membicarakan negara sebagai sebuah teater dengan acuan empirik Bali pada abad ke-19. Bahkan "Earving Goffman" memperkenalkan istilah "panggung depan" dan "panggung belakang" (Dramaturgi) dalam melihat motivasi interaksi dalam dunia politik.

Pada hakikatnya, sudah cukup lama ranah politik tersebut dikiaskan sebagai sebuah panggung teater ataupun sandiwara. Bahkan bukan hanya ranah politik saja, seluruh entitas kehidupan masyarakat juga berlaku hal yang demikian.

Dalam dunia politik dan dunia teater atau sandiwara terdapat tokoh-tokoh dengan hasrat yang tidak terlalu dan tidak selalu sama. Ada pertentangan. Ada konflik. Disana juga ada dialog, peristiwa dan perilaku. Tentunya dan pasti ada alur cerita. Tawa dan tangis, suka dan duka cita silih berganti. Ada kepalsuan, kepahlawanan, pengkhiatan dan kejujuran. Bahkan ada penaklukan dan penguasaan. Ada kepatuhan dan perlawanan, dalam beragam derajat tentunya.

Tapi, sekali lagi, benarkah politik itu teater, panggung sandiwara, fiksi atau sinetron?.

Politik adalah medan adu kepentingan dan kekuasaan yang sangat praktis, who get what how and when, kata "Harold Laswell". Dan selalu ada panggung depan, ada panggung belakang. Arti kata, di depan "berdarah-darah", di panggung belakang ; eh "bertaut kelingking", sedangkan kita, Ya KITA. sudah terbawa perasaan. Menyapa pun tak mau.

"lalu anda ?".

Ya, santai aja.  Apa yang bisa menjelaskan Anies Baswedan 2017 dibandingkan Anies Baswedan 2014-2016 yang lalu Atau Risma di tahun 2017 di bandingkan Risma di tahun 2021. Kliping-kliping beraurakan "tenun kebangsaannya", hingga hari ini masih saya baca. Atau Ruhut Sitompul ketika Bapak SBY jadi Presiden dan Ruhut Sitompul dikala Bapak Jokowi memimpin negeri ini.

Bagi saya, sebuah isu yang dibungkus dengan nuansa politik, maka tak kecil kemungkinan, isu tersebut berada dipanggung depan, yang terus-terusan di Framming. Padahal, ada kompromi-kompromi di panggung belakang. Setidaknya demikian kata teks :). Perjalanan waktu, memberikan contoh-contoh. 
Benar tidaknya, terpulang pada kita semua. Karena itu bagi saya sederhana. Silaturrahmi di atas segala-galanya. Walapun kita berbeda pendapat. 

**

- ISU IJO DAN ISU PKI-

Mari kita, lacak untuk konteks Indonesia. Sependek pengetahuanku, Isu PKI tidak efektif mendiskreditkan PDI-P dari aspek politik. Khususnya, elektabilitas. kita lihat Dari 5 kali Pemilu, pasca Orde Baru, PDI-P adalah partai politik yang sering menjadi pemenang. Pemilu 1999, 2014 dan 2019. Selebihnya nomor 2. Buka saja arsip berita sejak 1999 diberbagai media massa, berkenaan dengan isu, hampir selalu sama.

Politik adalah ajang kontestasi. Tujuannya jelas, kekuasaan. Pasca Orde Baru, politik di Indonesia, kental dengan politik akomodatif. Ideologi yang menjadi basis masing-masing partai politik, biasanya akan menjadi "cocok" ketika kontestasi elektoral selesai, pembagian kekuasaan kemudian di bicarakan. Di negosiasi. Akhirul kalam, awalnya berbeda, ujungnya di paksa "sesuai", "seperjuangan". sevisi dan sejenisnya.

Kembali ke PDI-P. Partai yang dianggap dekat secara politik dengan nama besar Soekarno ini, tetap saja jadi nomor 1 atau 2, bila hanya isu ke isu itu saja yang di alamatkan padanya. Secara historis-sosiologis, isu ini akan mentah karena figur Soekarno yang di milikinya. Suka atau tidak suka demikian fakta historis genelogisnya. Ini yang tidak dimiliki partai lain. Partai ini memiliki pendukung fanatik. Secara demografis jumlahnya sangat banyak. Soliditasnya tinggi.

Nama besar Soekarno, itu kekuatannya. Perekatnya. Partai lain, tidak memiliki "nama besar". Perekat banyak di figuri pendiri. Redup pendiri, redup pulalah ia.

Oke, ada yang bilang PKI. Disisi lain, akan ada counter nama besar Soekarno yang memiliki jasa besar bagi republik ini. Apalagi, dalam konteks geopolitik maupun politik global, isu komunisme bukanlah isu seksi secara politik.

"Kedepan, para politisi-politisi kita niscaya menukar isu yang langsung menyentuh ekspektasi publik. Atau, bersatulah wahai partai politik berbasis Islam. Kalau bersatu, kans mengalahkan PDI-P, serta Golkar bisa besar.

"Tapi mungkinkah ?".

Entahlah. Sejak Pemilu 1955, keinginan seperti itu, ibarat mimpi. Entitas sosiologis historis ummat Islam Indonesia, beda dengan muslim Malaysia yang cenderung homogen. Kita sangat bervariasi - heterogen. Segmentasi sosilogid historisnya terasa kental.

"Lalu ?".

Cara lain, daripada biduk partai dan ormas "hijau" tidak pernah satu perahu. ya, ambil alih itu perahu-perahu besar. PDI-P maupun Golkar. Bila perlu "hijaukan !". Bukankah ketika di akhir kekuasaan Soeharto, melalui Habibie, Golkar dan senayan bisa "di ijo royo-royo kan?".

Selain filosofis, Platform itu penting. Dalam bisnis Barangkali, kalau dalam Politik: politik kita memakai "aji Mumpung". politiknya tergantung arah angin.

Manusia politik adalah manusia kepentingan sesaat. cara berpikirnya, Cara berpikir Lonte. Kebutuhan sesaat, kalau mau ngewek saja.

Hal ini pernyataan telanjang saya, jika politisi kita tidak menjadi bersih dan seorang yang negarawan. Kita buktikan bahwa banyak politikus saat ini yang belum menjadi negawarawan?.

kita lihat, nama pensiunan Tentara Seperti Prabawo, SBY, Wiranto dan HendroPriono, semua Jendral tetapi mengapa partainya Juga 4 : Gerindra, Demokrat, Hanura dan PKPI. Yang penguasannya adalah mantan petinggi tentara.

Lalu partai berbasis agama :PKS, PAN, PKB, PBB dan PPP. Sama agamannya. tetapi, kenapa partainya banyak. Karena, Tidak punya Platfrom yang samakah, Bukankah agamannya sama?. Juga partai para Pensiunan Tentara, yang buat partai, Sama-sama tentara, sama-sama Tamatan Tidar, sama-sama bersama -sama?. Kenapa mesti membuat partai yang berbeda. Berbeda Platfrom kah atau berbeda Egonya?.

Kemudian Partai Nasionalis seperti : PDIP, Nasdem, Golkar. Apa bedannya?. Golkar berkuasa, yah begitu juga arah kebijakannya. Ganti PDIP, begitu juga. Ganti Demokrat, Sama saja. Apa yang berbeda?. Kebijakannya sama. Jadi, memang partai-partai kita Tidak punya platform. Ikut-ikutan semua, sesuai kebutuhan dan kepentingan pada saat itu, bukan sesuatu untuk kebutuhan bangsa dan negara dalam jangka panjang.

Kita contoh Single partai Country. China punya Platform solid dan platformnya sekarang bergeser. Platformnya jelas, PKC (Partai komunis China), kalau kita mengatakan bahwa china itu komunis, kita salah. Kita termakan Hoax dan kebencian kampanye masa lalu. Kasihan itu otak. Pemahaman yang digeneralisir dan diulang-ulang terus menerus itu adalah propaganda. Dan propaganda pasti memiliki niat.

China itu adalah negara Sosialis kapitalis, ideologinya adalah One bealt One Road. Komunisme hanya salah satu "Tool", hanya salah satu sumber kendali mereka untuk masyarakat. Sementara Rakyatnya, mau bergama, mau agnostik, mau kapitalis, Mau proletarian, China tidak perduli itu.

Amerika Lain lagi, kalau partai Barack Obama, Demokrat berkuasa, kebijakan perangnya pakai "Proxy". Perangnya pinjam tangan orang, dalam Jurus Perang sun Tzu Dikenal dengan terma ; "meminjam belati lawan untuk membunuh Musuh". Kebijakannya Heavy on government, pajak tinggi. Kalau Republik berkuasa, partainya seperti Trump. Perangnya "Konfrontatif". Kebijakannya Direct War, Heavy on private, ukm pesta pora, pajak kecil. Dan UKM bisa menjadi konglomerat dengan cara Partai Republik.

Platform berpolitiknya jelas, mengelola negaranya jelas.

Kalau dindonesia, ganti presiden. tergantung pilihan orang sekitarnya. tergantung kepentingan dan kebutuhan saat itu dan tergantung maunya Oligarki, segelintir orang yang menang Pilpres. Akan sama antara partai apapun yang berkuasa. Karena, Partai dindonesia Platform partainnya tidak jangka panjang.

Platform partainya sederhana sekali yaitu bagaimana menguasai wilayah dengan menang pilkada, menguasai Legislatif. lalu, menaruh orangnya di senanyan dan DPRD. Bagaimana cara Menjadikan Presiden yang Ujungnya adalah menguasai anggaran.

Apa namanya kalau Bukan Otak Lonte?.



-- SANTRI DAN POLITIK IDENTITAS --


Ada seorang ilmuan. Antropolog terkenal. Teori yang di Kembangkan dalam tradisi ilmu sosial Indonesia, sangat berpengaruh hingga kini dalam menganalisis fakta sosial dan budaya politik di Indonesia. 

"Siapa dia?", adalah CLIFFORD GEERTZ (1926-2006)

Geertz memperkenalkan konsep teoritik trikotomi ; (1) Priyayi, (2) Santri dan (3) Abangan

Dalam setiap analisis fenomena sosial budaya dan politik di Indonesia, bila ingin menggunakan teori yang di bangun Geertz tersebut, maka ketiga-tiganya harus dibawa. Harus menjadi unit analisis. Tak boleh tertinggal. Tiga dalam satu. Satu dalam tiga. 

Sejak lama saya berseberangan pendapat dengan pandangan yang meletakkan politik-identitas hampir melulu di bawah sudut pandang minor. Pandangan minor terhadap wacana tentang politik-identitas ini, menurut saya, hampir serupa dengan pandangan minor para pengikut teori developmentalisme ketika mereka disodori wacana mengenai ethno-politics sebagai kritik terhadap pembangunan tiga atau empat dekade silam. Mengenai hal ini, saya kebetulan sedang membaca, serta menemukan sesuatu yang menarik di dalamnya. 

Kembali ke soal politik-identitas, menurut saya isu mengenai politik-identitas tidak bisa dibicarakan tanpa ‘background’ sama sekali, seolah isu itu bisa hadir per se begitu saja membawa dirinya sendiri. Ada dua alasannya. 

Pertama, semua hal yang terkait dengan politik sebenarnya selalu berkaitan dengan “identitas” - ras, kelas, agama, ideologi, dan lain-lain. Sehingga tentunya menjadi persoalan, kenapa satu isu tiba-tiba bisa disebut sebagai "politik identitas", sementara isu lainnya tidak dianggap sebagai berkaitan dengan "politik identitas"? 

Sebagai contoh, kenapa munculnya tokoh Santri dalam politik Indonesia selalu dianggap membawa politik identitas, sementara kemunculan tokoh Abangan tidak dianggap sebagai politik identitas?. Padahal, baik "Santri" maupun "Abangan", in term of politics, sebenarnya sama-sama diakui merupakan bagian dari aliran. 

Kedua, apa yang kini disebut sebagai "politik-identitas" biasanya menguat bukan karena persoalan politik atau identitas itu sendiri, melainkan karena persoalan ekonomi. Jika latar belakang ini dihapus, pemahaman kita mengenai gejala ini bisa pincang. 

Kalau kita baca buku Amy Chua, "Political Tribes", ada satu poin menarik di sana. Pasar bebas dan demokrasi, menurut Chua, selama ini hanya dikuasai oleh sekelompok kecil masyarakat dengan identitas tertentu. Chua menyebutnya sebagai minoritas - pendominasi - ekonomi (market-dominant-minority). 

Di Amerika, misalnya, market - dominant - minority-nya adalah “coastal elite - Elit pesisir”, yaitu elit kulit putih yang umumnya tinggal di wilayah pantai barat dan timur, berpendidikan universitas, berpandangan kosmopolitan, dan mayoritas berafiliasi ke Partai Demokrat. 

Namun identitas para aktor ini selama ini telah ditutupi oleh narasi-narasi ideologis seperti "kapitalisme", "komunisme", “otoritarianisme”, “liberal”, “konservatif”, dan sejenisnya. Label-label itu telah menutupi identitas para aktor yang terlibat di dalamnya. 

Sesudah Perang Dingin, ketika narasi mengenai konflik ideologi dianggap telah berakhir, kita kemudian jadi langsung berhadapan dengan identitas-identitas para aktor tadi secara lebih jelas. 

Dulu orang mempercayai Perang Vietnam sebagai pertarungan antara kapitalisme dengan komunisme. Padahal, menurut Chua, yang terjadi sebenarnya adalah pertarungan antara minoritas “kapitalis” keturunan Cina yang sangat dibenci, versus mayoritas rakyat Vietnam yang membencinya. Rakyat Vietnam secara umum sebenarnya tidak ingin melawan kapitalisme, ataupun menegakkan komunisme sebagaimana yang dituduhkan Barat, melainkan ingin membebaskan dirinya dari kelompok market-dominant-minority tadi. Model konflik serupa juga berlangsung di Afghanistan, Suriah, Irak, atau tempat-tempat lain. 

Di Afghanistan, kelompok minoritas Tajik yang kaya raya telah ditumbangkan oleh Taliban, organisasi militernya kaum Pashtun, yang merupakan kelompok mayoritas. Di Suriah, minoritas Sunni yang menguasai perekonomian telah dilawan oleh mayoritas Syiah yang miskin. 

Kesimpulan kecilnya adalah “tribalisme” memang bisa muncul karena perbedaan suku, atau agama, namun yang tidak bisa diabaikan, karena ini berlangsung di seluruh dunia, tribalisme terutama menguat karena perbedaan kekayaan. 

Ketimpangan ekonomi, tidak terdistribusinya kekayaan negeri, serta penguasaan kekayaan oleh sekelompok minoritas-dominan, telah melahirkan sentimen perlawanan kelompok mayoritas. Ini adalah background yang tidak boleh dihapus ketika mendiskusikan isu tentang “politik-identitas”.

Intinya, saya cuman mau bilang, bahwa Santri itu, apapun ragam defenisinya, tak bisa dilepaskan dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Bicara apapun tentang sejarah Indonesia, variabel santri menjadi variabel penting untuk dibahas. Begitu berartinya santri itu. 



***

SANTRI DAN ABANGAN DI PENTAS PEMILU 

Meskipun trikotomi Geertz mengenai Santri, Priyayi dan Abangan pernah dikritik karena kriterianya yang tidak konsisten, namun konsep "Santri" dengan "Abangan", menurut saya, sebenarnya relevan digunakan untuk memahami bagaimana perilaku politik di Indonesia. 

Dulu Wertheim pernah menyebut bahwa umat muslim Indonesia adalah mayoritas yang bermental minoritas. Berbeda dengan Wertheim yang melontarkan penilaian itu dengan nada negatif, saya justru menilai "mental minoritas" itu sepenuhnya bersifat obyektif. Artinya, jika umat muslim Indonesia merasa dirinya minoritas, hal itu memang didukung oleh kenyataan obyektif sebenarnya. 

Seandainya konsep "Santri" dan "Abangan"-nya Geertz itu kita pinjam lalu diproyeksikan pada data hasil Pemilu, misalnya, dengan "Abangan" sebagai kriteria atas aliran non-Santri dan non-muslim, nampak terlihat bahwa sejak Pemilu 1955 hingga Pemilu 2019 partai beraliran Santri memang tidak pernah menjadi pemenang dan mayoritas. Mereka selalu kalah dan menjadi minoritas di parlemen. 

Siapa yang mayoritas? Abangan! 

Mungkin akan segera ada yang menyanggah, bukankah kalangan Abangan itu sebagian besar adalah Santri (baca: muslim) juga?! 

Di atas kertas memang begitu. Namun, secara politik tidak pernah demikian. Jangankan jauh-jauh antara Santri dengan Abangan, di antara sesama Santri saja langgam politiknya bisa sangat jauh berseberangan. Bagaimana berjaraknya politik Partai Masyumi dengan Partai NU sebelum dan sesudah Pemilu 1955 bisa jadikan cerminnya. 

Jika argumen semacam ini dikemukakan oleh tokoh politik Santri, sulit dihindari kesan yang bersifat apologetik. Namun, menariknya, argumen ini dulu justru pertama kali dikemukakan oleh Nono Anwar Makarim, yang hingga kini sering dianggap tokoh sekuler. Dalam tulisannya, "Mayoritas dan Minoritas: Dari Soal Abangan Pendukung PKI-PNI sampai Santri Pendukung NU-Masyumi", Nono dengan tegas menulis bahwa "Islam tidak merupakan mayoritas di bidang politik!" 

Menurut Nono, kebanyakan orang Islam sebenarnya hanya mengaku beragama Islam sebanyak empat kali saja selama hidupnya, yaitu saat (1) lahir, ketika (2) dikhitan, saat (3) menikah, dan saat (4) meninggal. Artinya, meski secara statistik jumlahnya besar, di dalam politik tidak dengan sendirinya Islam menjadi mayoritas. Nono kemudian mencontohkan Ali Sastroamidjojo dan Surachman. Keduanya, tulis Nono, sama-sama muslim. Namun, dalam politik, kedua pemimpin PNI itu lebih memilih berporos dengan PKI.   

Ada satu lagi kutipan menarik dari Nono. Ia menulis : "Saudara Subhan Z.E. setelah Sidang Umum MPRS berbicara tentang 'minoritas' Islam yang dipojokkan oleh semua golongan. Kasarnya Islam dikeroyok. Secara sambil lalu memang demikian kelihatannya. Kalau diteliti lebih mendalam maka suatu hal yang komis akan terlihat. Sebab yang 'memojokkan' dan 'mengeroyok' sehingga Islam menjadi minoritas adalah serentetan minoritas-minoritas lain. Kalau toh mau berbicara tentang mayoritas politik, maka terpaksa harus dikatakan bahwa ABRI dan Partai Katolik-lah yang merupakan mayoritas".

Tulisan lama Nono itu dimuat dalam buku yang disunting Rum Aly, "Simptom Politik 1965" (2007). Tulisan itu sebenarnya adalah tulisan lama. Sidang Umum MPRS yang dimaksud, sepertinya adalah SU MPRS pada masa akhir Demokrasi Terpimpin hingga awal Orde Baru. Jelasnya, sebelum Pemilu 1971. Sayang, tulisan itu dimuat kembali tanpa menyebutkan sumber asli dan tanggal publikasi pertamanya. 

Posisi sebagai minoritas-politik inilah yang telah membuat golongan Santri tidak pernah bisa menjadi pemimpin nasional jika tidak menggandeng kalangan Abangan. Ini sudah dibuktikan oleh kontestasi Pilpres secara demokratis yang telah berlangsung sejak tahun 1999, baik melalui mekanisme demokrasi perwakilan di MPR, maupun melalui pemilihan langsung sejak tahun 2004. Naiknya duet Gus Dur-Megawati, misalnya, menunjukkan hal itu. 

Di sisi lain, meskipun sesudah Reformasi komposisi pemimpin nasional selalu berasal dari duet Santri-Abangan (atau Abangan-Santri), seperti tercermin dari duet Megawati-Hamzah Haz, SBY-Jusuf Kalla, Jokowi-Jusuf Kalla, lalu Jokowi-Ma'ruf Amin, namun pernah ada satu periode ketika pemimpin nasional kita sama-sama dijabat oleh Abangan, yaitu pasangan SBY-Boediono. Ini menurut saya kasus menarik. 

Naiknya SBY-Boediono ini telah mengukuhkan satu kesimpulan baru yang juga penting dicatat, bahwa tanpa harus berduet dengan Santri sekalipun, kalangan Abangan terbukti bisa memenangi kontestasi Pilpres. Ini yang tidak (atau belum?) bisa dilakukan oleh golongan Santri sejauh ini. 

Pada Pilpres 2009, kita tahu, SBY-Boediono bisa mengalahkan Megawati-Prabowo di Jawa Tengah, yang dikenal sebagai kandang banteng. Hingga sejauh ini, belum pernah ada yang bisa mengalahkan partai banteng di kandangnya sendiri, kecuali SBY. 

Racikan komposisional Abangan-Santri, atau Santri-Abangan ini, menurut saya, akan mempengaruhi pasangan-pasangan yang akan berlaga pada Pilpres 2024.


Makassar, 18/06/2022



***

AGAMA DAN POLITIK

Dalam kajian antropologi politik, peranan agama dan simbol-simbol supranatural di dalam politik memainkan arti penting. Agama pun bisa dijadikan landasan bagi struktur, landasan kepercayaan, atau sumber tradisi yang bisa dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan. Namun, pilihan paling lazim adalah menjadikan agama sebagai alat legitimasi oleh para elite yang berkuasa atau kekuatan yang mengejar kekuasaan (ini yang dikritisi para kalangan Marxian). Sejarah (berbagai agama) dan sejarah politik dari berbagai masa, menunjukkan fakta sosial ini.

”Pemakaian” ayat, dalil, atau ungkapan yang dinisbatkan pada agama tertentu sebenarnya identik dengan kemunculan kiai atau tokoh lain yang merepresentasikan agama. Kemunculan simbol-simbol tadi telah mengandung pesan, lebih dari makna yang terkandung dalam substansi yang sebenarnya. Tidak heran bila kosakata silaturahmi lebih sering digunakan ketimbang pertemuan politik.

Membebaskan panggung politik dari anasir-anasir agama tidak semudah yang dibayangkan kelompok yang menganut paham pemisahan agama dan politik. Bahkan, bagi sebagian kalangan, memisahkan agama dan wilayah politik bukan saja sulit, tapi dipandang tidak perlu. 

Fakta mengungkapkan, bagi sebagian pemilih di tanah air dikotomi tua – muda tidak begitu penting. Demikian juga dikotomi sipil - militer sudah melonggar. Namun dikotomi Islam - non-Islam masih dipandang sensitif dan penting dipertimbangkan sebagai variabel penting keputusan untuk memilih. Bagi sebagian kelompok, bila menerapkan sistem politik menurut kaidah agama dipandang belum mungkin, maka mengambil anasir-anasir agama untuk diformulasikan ke dalam kaidah hukum dan politik sudah dianggap cukup. Adaptasi ajaran politik pun terjadi di sepanjang garis keyakinan agama.

Pada akhirnya, keputusan untuk memilih melibatkan variabel yang kompleks. Diperlukan sentuhan personal untuk merebut dukungan. Lebih-lebih dalam situasi ekonomi yang mencekik, kandidat yang bisa memberi harapan bagi perbaikan yang dirasakanakan lebih diapresiasi.

Dunia politik makin lama makin rasional - untuk tidak menyebut - pragmatis :).

Sebagaimana seorang bapak atau ibu yang merupakan tokoh politik, mempersiapkan anak-anak mereka untuk mengikuti jejek mereka?. Bahkan mempersiapkan sedaya upaya untuk kekuasaan politik?.

Tidak salah, siapapun boleh melakukannya. Larangannya pun tak ada, demokrasi meniscayakan hal tersebut. tapi, berkenaan dengan itu saya ingat dengan "Ayahtullah Ruhullah Khomeini".

Ketika Ayahtullah Ruhullah Khomeini menjelang hari-hari terakhirnya, Ia di minta oleh elit politik Iran untuk membuat wasiat dan Testamen politik, agar sang Anak, Hojjatul Islam Ahmad Khomeini agar di plot menjadi presiden atau masuk dalam wilayah "vilayat ulul Faqih". 

Khomeini berkata yang membuat semua tercengang ; " Saya berjuang bukan untuk anak saya, Ahmad Khomeini tidak saya perkenankan masuk dalam lingkarang politik, setelah saya meninggal nantinya.

Padahal dalam konteks ilmu politik, Ahmad Khomeini memiliki sumber-sumber kekuasaan yang lengkap ; sumber genetik (Anak Khomeni), serta ulama dengan pengetahuan yang luas dan menjadi manusia yang terbuang bersama ayahandannya karena melawan rezim Syah Reza Pahlevi.

"IRAN BUKAN UNTUK ANAK SAYA", demikian kira-kira pesan yang di sampaikkan Khomeini

Berkelindannya kepentingan politik yang terjadi di beberapa daerah konflik seperti di Suriah, Irak, dan Yaman, mengingatkan saya akan sejarah masa lampau. Kehadiran kelompok-kelompok yang menganggap dirinya "mujahiddin" di daerah ini, poros negara kaya Teluk dan Iran serta kehadiran Amerika Serikat serta Rusia, (juga) mengingatkan saya kepada sejarah masa lalu. 

Dulu, ketika Syah Reza Pahlevi (yang istrinya luar biasa cantik itu ... Farah Diba :) ) masih memegang tampuk kekuasaan di Iran yang Syi'ah, ia dianggap sebagai kawan terbaik negara-negara Teluk. Pengaruhnya besar. Ia sahabat paling akrab Amerika di kawasan ini. Tak salah bila kemudian, Iran dipandang sebagai "perawan-cantik" di Timur Tengah. Lalu ketika Syah Reza Pahlevi dikudeta, ia dibuang, dilucuti pengaruh dan daya tawar politiknya, kekuasaan Amerika Serikat diusir hingga ke jejak-jejaknya dan digantikan oleh sistem teo-demokrasi. lihatlah, Iran (kemudian) berubah menjadi "nenek sihir yang ditakuti" oleh kawan-kawannya yang selama ini menganggapnya "perawan-cantik" Timur Tengah. Bahkan Bush (Jr) memberi gelar sebagai "poros setan" pada negara yang disayangi oleh seniornya dahulu - Jimmy Carter.  

(Lalu) ..... !

Bukankah (dulu) Khalifah Abbasiyah di masa Al-Makmum merupakan sekutu paling dekat Charlemagne - Raja Frank. Kedekatan Al-Makmum yang menganggap dirinya sebagai pemimpin politik ummat Islam seluruh dunia ini dengan Charlemagne adalah untuk mengisolasikan Kekhalifahan (Islam) Andalusia yang sedang "naik daun". Pada sisi lain, Raja Bizantium yang menganggap dirinya sebagai pemegang tafsiran Kristen paling orisinil merupakan sekutu imperium/kekhalifahan Andalusia. tujuannya untuk mengisolasi Charlemagne yang juga menganggap dirinya sebagai pemimpin politik Kristiani seluruh dunia. Saling berkelindan.


*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran




CORET ESAI ; BUKAN TULISAN


"Niat baik!" bagi Imanuel Kant, dalam ide deontologisnya menolak etika konsekuensualis yang menegas, segala perbuatan mesti mendapatkan imbalan dan guna Atau segala hal yang dituntut bermakna. Tuntutan pada kebermaknaan selalu saja merusak aliran kehidupan, dan di situ orang menjadi sangat material. Melakukan kebaikan lantaran ingin dapat kebaikan, atau demi akibat baik dari kebaikan yang dilakukannya. Etika konsekuensialis mengandaikan, orang membantu orang lain demi belaka balas budi, atau lantaran akan (telah) mendapatkan manfaat dari orang bersangkutan. Bagi Kant, itu merusak kemurnian jiwa. 

Perbuatan baik sejati ialah perbuatan baik yang "tanpa syarat". Perbuatan baik demi kebaikan itu sendiri, dan karena memang baik. Bukan demi keuntungan praktis, bahkan tidak demi semata-mata kebenaran. 

Dalam kitab "Mukaddimah"nya yang masyhur, Ibnu Khaldun mendalilkan teori siklus peradaban sejarah (ashabiyyah). Tatkala kekuasaan dan semua orang "merasa selesai" dalam hidup, segalanya dikerjakan cuma "demi aku". Kepuasan dalam ketidakperdulian. "Kepentingan aku" berkuasa atas akal sehat, memandang "yang lain" objek "si aku", Itu gejala kerusakan peradaban yang kelak mengalami ketertimbunan atau tenggalam dalam siklus sejarah. 

Ada sejumlah kaum beragama gelisah, agama akan hancur atau dihancurkan musuh. Dikemukakan fakta-fakta. Tapi fakta jadi tak orisinil dan tak objektif, lantaran fakta-fakta itu disusun atas kecurigaan, kegelisahan dan kekhawatiran subyektif akan kehancuran suatu agama Dan itu terdengar begitu mirip omong kosong!. Jika fakta-fakta dilihat objektif, ia malah terbukti terbalik dari apa yang ditakutkan tersebut. 

Realitas yang dianggap etis itu, disinggung "main-main" oleh Rene Magritte dengan lukisannya. Ia melukis sebuah pipa. Ia memberi judul lukisannya "Ini Bukan Pipa". Objek lazim pada kondisi tak lazim. Pipa yang bukan pipa!.

Melalui karya-karyanya yang provokatif, Magritte, setidaknya, menyindir anggapan, pengandaian, kepastian modern. Sejatinya, realitas (mungkin juga perbuatan-perbuatan) yang diandaikan dalam kehendak dan keinginan praktis semata adalah realitas yang bukan realitas : ketakpastian. 

Kegelisahan terhadap fakta tak berbanding lurus dengan fakta itu sendiri. Kegelisahan subjektif itu menipu, ketika diandaikan pada fakta yang objektif. 

*** 

Di balik yang tampak tak selalu sebagaimana yang tampak tersebut. Tipuan mata dan tipuan kekuasaan. Rene Francois Ghislain Magritte (1898-1967), seorang pelukis surealis Belgia, menggambar pipa rokok. Ia memberi judul lukisannya "Ini Bukan Pipa". Objek lazim pada kondisi tak lazim. Pipa, tapi yang bukan pipa!. Melalui karyanya yang provokatif, Magritte menyindir klaim, anggapan, pengandaian, dan kepastian modern. Sejatinya realitas - barangkali juga perbuatan-perbuatan, yang diandaikan kehendak dan keinginan praktis belaka pada sebidang alat atau media adalah realitas yang bukan realitas : ketakpastian. 

Kegelisahan terhadap fakta tak berbanding lurus dengan fakta itu sendiri. Kegelisahan subjektif dapat menipu ketika diandaikan pada fakta yang objektif. Andai kata pipa rokok yang dilukis Magritte pada sebidang media itu secara ajaib dapat berkomunikasi, tak pasti pipa rokok tersebut mau disebut pipa rokok. Siapakah si pemberi sebutan terhadapnya? Manusia! Bagi Magritte, itulah kemapanan yang harus dilawan dengan daya dan gerak yang berbanding terbalik. Perlawanan ditekankan pada bahasa dan wacana. Kira-kira pandangan ini cukup menarik melawan jejalan informasi yang menguasai dan memengaruhi khalayak sampai ke tingkatan bawah sadar dan ruang-ruang privatnya. Tiap saat orang dicekoki perihal betapa gawatnya wabah penyakit, hingga melakukan kewaspadaan yang tak masuk akal. Agaknya pandangan Magritte itu perlu dipertimbangkan, bukan? 

Siapa yang gila? 

Pada era digital ini, gila bukan sakit jiwa. Melainkan praktik kuasa pada wacana. Bagi Michel Foucault, sebutan “gila” tidak belaka persoalan pengalaman atau perkara medis. Melainkan gila pun terkait norma beserta bentuk diskursus atau olah-wacana tertentu. Maka gila (kegilaan) adalah diciptakan. Sebab pada setiap periode waktu dan perbedaan ruang, pengertian gila tidak sama. 

***

Bagi Jorge Luis Borges, dunia hanya ada karena ia dipersepsikan ada. Sastrawan agung Argentina itu mengagumi postulat George Berkeley, bahwa objek ada sebab dipersepsi pikiran. Dunia materi sejatinya ide-ide manusia, ia tak benar-benar nyata. Idelah yang nyata. Dunia materi tak akan pernah ada di luar kesadaran, ia mewujud tatkala ditangkap oleh persepsi-persepsi - "Esse est percipi," ujar Borges, yang dalam postulat George Berkeley disebut “being is being perceived” - Dunia material sebenarnya sama saja dengan ide-ide kita sendiri. 

Dalam cerita Borges, seorang presiden bola Abasto Junior mengatakan pada seorang komentator bola, Ron Ferrabas, bahwa Abasto akan dikalahkan dengan skor 2-1. "Jangan gunakan lagi umpan Musante ke Renovales. Ingat! Imajinasi! Sekali lagi, imajinasi!" ujarnya. Perhelatan sepakbola yang menghebohkan seluruh negeri ternyata cuma tipuan. Tak ada kesebelasan, tak ada skor, tak ada pertandingan. Stadion sudah dimusnahkan. Pertandingan bola hanya dibuat oleh tivi dan radio seperti membuat drama. Semua hanyalah kehebohan palsu dan omong kosong para komentator. Di Buenos Aires sejak 24 Juni 1937, sepakbola hanya drama, dimainkan satu orang di balik bilik, aktor berkostum yang seolah-olah pemain bola yang direkam tivi. Begitu penjelasan presiden Abasto Junior dalam Borges. 

Mengikuti cerita pendek Borges tersebut, saya bayangkan betapa kehebohan penggemar bola ternyata cuma diciptakan dengan kebohongan komentator bola radio atau drama omong kosong layar visual. Khalayak tak sadar, dalam kenyataan tak pernah terjadi apa-apa! Tentu ini hanya fiksi Borges yang unik karena komposisi "bersejarah"nya yang mashur itu. Namun hari ini, kita tak sadar sebenarnya beriman pada berita, informasi, ujaran, iklan, atau apa pun yang ditampilkan layar audio-visual. Tapi omong kosong! Sesuatu yang diada-adakan, diolah sedemikian rupa oleh seseorang atau sejumlah orang dengan kepentingan-kepentingan yang bermuara pada pembentukan persepsi publik atas suatu peristiwa atau kondisi tertentu ; penggiringan opini, atau kebohongan yang nyaris serupa kenyataan. Di dalam dunia nirkabel, konfirmasi dan penelusuran kebenaran suara dan layar tentu saja vital. Namun tak banyak yang mau mendeteksinya macam detektif. 

Kekuasaan dan pragmatisme menjaya lantaran memproduksi kebohongan yang berhasil menipu persepsi orang terhadap realitas objektif, menyusun realitas yang diandaikan, lalu dikemukakan sebagai bahan bagi pikiran. Celakanya, hukum sering terpengaruh persepsi pada realitas yang dusta. Sesungguhnya tepat di sini, saya pun sudah tertipu. 

Makassar, 21/06/2022 

Keteranga gambar :  "Bukan Pipa"
Karya : Rene Magritte






Sabtu, 09 Juli 2022

-QURBAN DAN KURBAN ; APA YANG DI QURBANKAN?. TOH, TAK ADA YANG KITA "MILIKI" -


Islam mengenal dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Keduanya bekerja sama dalam menerjemahkan konsep Tauhid sebagai satu-satunya kemungkinan tempat kembali bagi setiap manusia dan makhluk hidup lainnya. 

Terma hari raya sebenarnya penerjemahan Kultural, sehingga belum tepat betul secara epistemologis. Arti "Raya" menjadi Tegas, ketika di ucapkan sebagai "perayaan". Ia merujuk ke suatu keadaan dan perilaku riang gembira, karena suatu kemenangan yang di wujudkan dalam bentuk pesta atau bahkan hura-hura tertentu. 

Makanya, Kerap kali kita dapati Idul Fitri yang di laksanakan Masyarakat kita penuh dengan aksesoris kulturalnya. Padahal Substansi Idul fitri dan Idul adha bukanlah itu semua. Kedua-duanya adalah hari kembali. 

Sama dengan Diksi "Qurban" itu sendiri tidak sama dengan Diksi "Korban", sebagaimana yang kita kenal dalam Bahasa indonesia. Korban berkonotasi negatif, karena Ia mengandalkan "pelepasan" sesuatu dari seseorang kepada orang lain melalui peristiwa yang sebenarnya tidak di kehendaki. Seperti, Korban perang, korban pemerkosaan, korban bencana dan seterusnya yang tidak di dukung oleh Hak Nilai. 

Qurban adalah Menyampaikkan, bukan Memberikan sesuatu yang merupakan Hak "Milik", (dengan Tanda petik) kita kepada sesuatu, kepada orang, atau Kepada Tuhan, yang memang berhaq atas sesuatu itu. 

Qurban, yang selama ini ‘diterjemahkan’ menjadi korban, sebenarnya bukan hanya menjadi berbeda. Tetapi, bertentangan Dan anehnya, kita menghayal saja terhadapnya. 

Korban itu a victim. Kata dan konsep yang mirip dengan Korban itu ialah tumbal. Misalnya, Fulan dijadikan tumbal. Artinya, Fulan dikorbankan. Konotasinya negatif, fungsinya tersia-siakan, posisinya buruk. Sedangkan Qurban itu konotasinya positif, fungsinya bermanfaat, dan posisinya baik. 

Nabi Ismail di-Qurban-kan, itu berbeda bahkan bertentangan dengan Nabi Ismail di korbankan. Ismail bukan tumbal, bukan di sia-siakan, melainkan di uji cinta kasihnya kepada Allah, di uji kepatuhannya dan tanggung jawab kemakhlukannya, serta di beri peluang untuk sungguh karib kepada sumbernya. 

Tidak seorang pun mau di korbankan. Tapi setiap Muslim mendambakan qurban dan di-qurban-kan. Sebab dengan iman yang bulat, terbukti yang tersembelih adalah leher kambing. 

Jika, Pemahaman ini, Kita Naikkan level Bahasannya atau Kita Uraikkan lebih dalam ; Ketika Nabi Ibrahim menyembelih anaknya dan Ismail merelakan Nyawanya untuk di sembelih, tidaklah berarti bahwa Nabi Ibrahim meng-qurbankan anaknya dan Ismail di qurbankan Hidupnya. Yang mereka lakukan adalah keikhlasan mereka "mengembalikan kembali milik Allah kepada Allah". 

Penyerahan itu kelak di terjemahkan dalam berbagai metode peleburan, penyatuan atau bertauhid kepada, dengan, bersama dan bahkan "menjadi" Allah. Saya memberikan tanda petik pada kata Menjadi, karena pemahaman kebanyakan kita terbentuk pada biasnya belaka. 

Untuk menyederhakan Uraian "Penyerahan Miliki Allah kepada Allah", kita Melipir sejenak. Manusia tidak pernah tahu menahu mengenai kelahiran dan hakikat "adanya". Ia tak punya niat merancang, bahkan juga tak pernah berniat bahwa ia akan terlahir menjadi seorang anak manusia atau menjadi putra ibu dan bapaknya, yang kemudian oleh kebudayaan di beri nama RST ; Rais Syukur Timung, Misalnya. 

Kita, manusia tidak pernah - dalam arti sesungguhnya memiliki diri kita sendiri, serta apapun dalam kehidupan kita sendiri. Kita ada, karena ada sesuatu yang memungkinkan atau mengizinkan Kita untuk ada. Kita "memiliki" sesuatu dalam keberadaan kita, bukan karena Haq kita adalah memiliki sesuatu, melainkan karena ada sesuatu yang meminjamkan kepada kita. 

Kita bisa menggerakkan Tubuh kita, bukan sejak semula Kita merencanakan dan menentukan bahwa kita bisa berjalan dan menggerakkan badan kita, melainkan karena ada sesuatu yang memungkinkan dan mengizinkan kita bisa berjalan dan menggerakkan badan kita. 

Sesuatu dengan " S" besar itulah, satu-satunya yang ada dan pasti ada. Yang sejati dan pasti sejati. Memiliki hak seratus persen untuk menagih atau meminta kembali segala miliknya. Kapanpun dan dimanapun, serta dengan cara yang bagaimanapun. Sebab, Hak Tuhan itu Gugur, jika ada manusia atau seseorang mampu menciptakan dirinya sendiri. 

Dalam pemahaman seperti itu, maka Yang di Lakukan Nabi Ibrahim dan Ismail, "hanyalah" mengembalikan Hak Allah kepada Allah. Sebab, tak ada apapun yang hilang dari penyembelihan itu, karena memang aslinya mereka tak pernah ada dan tidak memiliki apapun, Termasuk "dirinya" sendiri. 

Nah, Pangkal persoalan dalam sejarah ummat manusia adalah ketika sesudah melahirkan dan ada, setiap manusia memahami, "Barang Pinjaman" itu sebagai " barang Milik-nya". Nabi Ibrahim bisa sangat posesif terhadap Ismail, karena ia anaknya dan sangat di cintainya. Ismail juga di hinggapi "Rasa memiliki" atas dirinya sendiri, atas nyawanya, atas seluruh kehidupannya, bahkan atas sesuatu yang bisa di nikmatinya. 

Maka ketika mereka mengikhlaskan "Milik" itu diminta kembali oleh Yang Maha Empunya, ibrahim dan Ismail mencapai Taraf "Fitri" dan sukses menghayati Makna Qurban, sambil sama sekali tidak merasa "mengorbankan diri". 

Di titik pemahaman diatas, kita bisa menghimpun beberapa pertanyaan kritis. berdasarkan hak Historis apa kumpulan manusia menganggap diri dan bumi ini milik kita, sehingga lantas kita (Manusia) melahirkan sistem-sistem yang "mengatur Hak milik". Padahal, Idiom "pemilikan" itu adalah "bahasa negara" atau " bahasa hukum Formal", sementara Pinjaman adalah "bahasa agama". 

Di sinilah, bahaya besarnya, apabila agama terlalu di lekatkan hanya dalam pemahaman sosiologis seperti itu. Ketika pertengkaran tentang "pemilikan" itu berkepanjangan, maka kita menemukan kerusakan dunia dan ledakan perang demi perang, sehingga umat manusia kehilangan cakrawala untuk mengadukan penderitaannya. 

Kehidupan umat manusia dewasa ini terletak di tempat yang sudah berjarak teramat jauh dari kesejatian yang kita bisa pahami dari agama tentang kehidupan. 

Misalnya, semangat Idul Fitri dan Idul adha bertolak belakang dengan "Egosentrisme" kerakusan atau monopoli ekonomi, bahkan segala bentuk primordialisme, ekslusivitas, dan kesepihakan yang lain dalam berbagai dimensi kehidupan. 

Makanya, Ibrahim di perintahkan oleh Allah - Secara Administratif - Bukan menyembelih Ismail, melainkan untuk "menaklukkan" dan "memusnahkan kesepihakan egosentrisme rasa memiliki diri sendiri" dan rasa milik pada anaknya. Diri Ibrahim dan diri Ismail (anaknya) adalah milik Allah dan Niscaya Di kembalikan kepada Allah. 


***

Manusia selalu di rundung problem bahasa. Bahkan pun para penyair, yang biasanya berada di dalam “istana” eksklusif yang jauh dari politik dan masyarakat umum. Dewasa ini problematika budaya-bahasa dan politik-bahasa berkembang dan membengkak sedemikian rupa, sehingga sangat menyempitkan kemungkinan kekayaan komunikasi. 

Dulu penyair kontemplatif Goenawan Muhamad memberi dalil: "Musuh utama penyair adalah salah cetak". Kalau "binatang jalang" salah cetak menjadi "binatang jalan", atau "represi" menjadi "ekspresi", maka habislah semuanya. Tidak hanya penyair, semua penulispun mengalami tantangan yang sama. 

Saya bukan benar-benar seorang penyair atau penulis. tapi sering di suruh bikin kalimat-kalimat yang nanti orang menganggapnya itu adalah puisi. Dan akhir-akhir ini rasa takut saya membengkak setiap kali hendak memutuskan menggunakan suatu kosa kata atau susunan kalimat. Ketakutan saya itu karena pada dasarnya saya sangat menghormati ajaran para leluhur bahwa dalam hidup ini kita harus lebih banyak mendengarkan orang dibanding membicarakan orang. 

Allah saja sendiri sangat lebih menekankan fungsi sami’ (mendengar) di banding bashir (melihat). Jadi orang yang bicara apa saja selalu saya anggap penting, karena mereka sudah besar, sudah dewasa, sudah sangat mampu berpikir dan memutuskan segala sesuatu yang hendak di ungkapkan. Kalau saya acuhkan dan abaikan, itu kekeliruan sosial. 

Suatu saat saya bikin kalimat: "Muhammadkan hamba ya Allah", Seseorang menuduh saya sok suci. Manusia biasa yang banyak dosa kok, kenapa mau jadi Nabi. Padahal yang dimaksud “muhammadkan hamba” adalah upaya dan doa permohon, agar Allah berkenan membantu kita memakai wacana kepribadian Muhammad untuk bisa kita terapkan dalam diri kita. 

Allah sendiri bahkan kabarnya menciptakan manusia dengan formula seperti "miniatur" Dia sendiri. Itu berarti merupakan anjuran agar kelengkapan dan komprehensi-dialektis asma Allah kita jadikan acuan. Jadi, kita membina perilaku ini berdasarkan cakrawala karakter Allah sendiri. Ia rahman rahim, penuh kasih sayang. Tapi Ia juga bikin neraka, Ia juga qabidl (penahan rejeki), Ia juga syadid (penyiksa), Ia juga mutakabbir (pentakabur). namun semua watak yang dalam pandangan kita seolah negatif itu selalu berfungsi positif, karena diterapkan pada tempat dan konteksnya yang tepat. 

Mentang-mentang kita menganut ajaran kasih sayang rahman rahim, maka lantas kita menolak bikin rumah penjara, mengampuni koruptor, membatalkan pasal-pasal hukum mengenai perampokan, penindasan atau kekejaman. Lembaga Pemasyarakatan itu bukan institusi kekejaman. Nerakanya Allah adalah wujud dialektis dari kasih sayangNya juga. Cara menyayangi anak yang bersalah adalah dengan menghukumnya. 

Tapi hal-hal semacam itu tidak selalu gampang dijelaskan kepada manusia. Sehingga tatkala untuk Idul Adha saya mau bikin kalimat "Ismailkan hamba ya Rabb". saya begitu khawatir orang akan salah paham. Padahal maksud saya adalah kalau saya disembelih dalam pengalaman sejarah, saya mohon kepada Allah agar kambing yang tersembelih. 

Gelar Nabi Ismail As adalah dzabihullah. Sembelihan Allah. Saya ingin sekali menggunakannya untuk judul suatu tulisan, namun dengan perasaan was-was. Apakah Allah tukang sembelih?. Apakah Allah itu Maha Jagal?, sebagaimana dalam konteks lain saya juga takut mengumumkan idiom wallohu khoirul makirin, Allah itu Maha Pemakar?. 

Mungkin sudah ratusan kali kita mengkomunikasikan bahwa untuk urusan tertentu peradaban kita ini pra-Ibrahim. Kalau Ibrahim As. hidup sekarang dan pada suatu pagi menyembelih anaknya, para tetangga segera akan melaporkannya ke Polsek, atau mungkin langsung memukulinya sampai meninggal. Di zaman ini kita tidak memiliki perangkat ilmu pengetahuan dan tingkat legalitas hukum yang sanggup mengakomodasikan fenomena (vertikal) Ibrahim dan Ismail. 

Jangankan fenomena penyembelihan. Sedangkan kita suatu hari nongkrong di dekat kandang kambing saja orang lantas menyimpulkan kita adalah kambing. Saya berpapasan dengan angin pada suatu siang dan bicara-bicara sejenak, orang di sekitar saya langsung menyangka saya masuk angin. Orang sekarang gila label. 

Demikianlah saya senantiasa bersetia mendengarkan orang lain Dan itulah sumber pengetahuan hidup saya. Tapi susahnya, orang sering tak bisa diduga apa maunya. Pernyataan orang juga tidak selalu mencerminkan sikap dan kemauannya. Kalau seseorang bilang "Ais, kamu sekarang bukan temanku lagi", lantas saya percaya, saya terapkan hal itu, sehingga ketika bertemu di jalan saya tidak berani menegur dan tatkala dia membutuhkan pertolongan saya tidak menolong - ternyata reaksinya begini: "Kamu memang sombong! Kamu tidak berperikemanusiaan, tidak peka terhadap kebutuhan orang lain". 

Bahkan ketika saya butuh pertolongan namun tidak merasa berhak minta tolong kepadanya, ia berkomentar: "Dia memang sok kuat. Egosentris. Tidak merasa bahwa orang hidup itu saling membutuhkan. Disangkanya saya sedemikian lemahnya sehingga tidak bisa menolong dia!" 

Saya melihat itu semua adalah peristiwa cinta. Kalau kita tidak menimba, orang yang kita cintai dan mencintai kita marah: "kok tidak mau menimba ?". Kalau kemudian kita menimba, ia tuding: "Terpaksa ya menimbanya!". Lantas kita hentikan menimba, ia berkomentar lagi "Memang aslinya tidak mau menimba!". 😄🤣

Cinta itu terkadang over-sensitif. Kalau yang terlibat dalam percintaan adalah orang besar, lebih susah lagi. Kalau bersikap biasa-biasa saja, ia naik pitam: "Tidak tahu siapa saya ya! Belajar menghormati sedikit lah!", Kalau kemudian kita membungkuk menghormatinya, ia tuduh: "Menyindir ya! Saya tidak mau kau menghina dengan pura-pura menghormatiku!". Kemudian kita kembali bersikap biasa, dan ia menyerbu kita: "Dasar tak tahu diri!" 

Lama-lama saya "curiga", kayaknya doa saya dikabulkan oleh Allah. Mudah-mudahan saya adalah the tiny Ismail yang sedang disembelih.


*Pustaka Hayat
*Rst
*pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran

Sabtu, 18 Juni 2022

HUJAN BULAN JUNI


Aku ingin bercerita kepada Juni, yang hujannya tabah merahasiakan rintik rindunya dalam sajak Sapardi. Kepada Juni yang itu, aku akan bercerita tentang Mei yang berlalu.

Mei seperti banteng taurus, gigih dan keras kepala. Tak ada yang elan juangnya seperti Mei. 

Mei layaknya Florentino Ariza dalam "Love in time of cholera-nya Gabriel Garcia Marques".

Maka, cinta yang mekar di bulan Mei adalah cinta yang tak mudah putus asa, tak gampang patah arang.

Seperti Florentino, Mei adalah pembuktian, sekali hati tertambat pada yang sejati, sepanjang usia merentang adalah kisah perihal menunggu.

Sia-sia?. 

Tentu tidak. Karena, cinta juga punya bagian lain yang menghadirkan cerita tentang maaf dan kesempatan kedua.

Mei adalah cinta yang gigih dan keras kepala, Dan Sapardi memang jenius, selepas Mei, ia menulis sepotong sajak; 

"Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni, dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu. 

Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni, dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu".

Juni adalah hati yang tabah.

Mei yang keras kepala berpasangan dengan Juni yang tabah. Tuhan memang Baik.


***

Bolehkan saya skeptis pada Eyang Sapardi Djoko damano (Alm). seorang sastrawan yang ku kagumi itu mendaku, bahwa "kenangan adalah fosil, tidak bisa menjadi Abu. Malah memiliki kekuatan dalam mendikte jarum-jarum jam, agar berputar ke arah kiri". 

Tidak eyang, waktu adalah hasil agregat sebab - akibat. sedang Rindu melintang di titik potong keduannya. 

Waktu akan berputar ke arah kanan, begitu terus sampai berakhir malakut. Ia (waktu) tidak akan berhenti menoleh (berputar) ke arah kiri, hanya karena air mata, gembira, suka, duka atau senyum kita yang menawan. 

Ia (waktu) akan tetap memenuhi Takdirnya untuk berputar ke arah kanan dan tak akan berhenti, hingga ia mempertanggung jawabkan siapa-siapa yang lalai dalam dentingan detiknya yang berputar. 

Di titik waktu, Kita hanyalah kumpulan hari-hari. setiap hilang satu detik, hilang separuh waktu bermesraan dengan dunia.
Olehnya, jangan jatuh hati pada kefanaan. Ada yang abadi, kejarlah. 

Di tiap-tiap etape waktu, ada pertanggung jawaban : Ada tanya atas berat beban yang di tunaikkan. kita adalah hamba. 

Untuk kaki, tangan, mulut, telinga, mata, bahkan gerak hati akan ada tanya Esok. jejak hati selalu lebih berat bebannya dari pada raga yg lainnya. Sebab, cinta dan benci adalah peninggalannya yang abadi. 

Ada banyak manusia yang menuju tempat pesta pemulung senja. Tapi, selalu terlambat sadar ; bahwa senja akan hilang di telan malam. sebagaimana manusia. 

Melangkahlah, Walau Sepi kadangkala mengolok-olokmu. 

***

Hujan turun di bulan Juni ini. Mengingatkan saya pada puisi Sapardi “Hujan Bulan Juni”. Juga kumpulan cerita yang saya rasa tak sanggup “menetas”, karya Soetardji “Hujan Menulis Ayam”. Orang mengabadikan hujan itu dengan puisi atau cerita. Kamera dan rekaman suara. Tapi dunia sudah "maju", kata seorang tua, segala peristiwa dihentikan dalam kamera. Kamera memotret tanpa suara. Tiba-tiba kejadian sudah tersimpan dalam kartu memori. Hujan lebih menarik diabadikan dalam ingatan. Ingatan yang tak tergantikan. 

Seseorang barangkali butuh memandang dirinya sendiri. Mengintip jauh ke dalam dirinya, seperti Bima menemui Dewa Ruci di kedalaman samudera. Melihat diri menemukan diri. Tapi tak banyak orang mau membaca, lantaran layar menggantinya dengan pemandangan yang lebih sempurna, seolah-olah nyata. Orang tak punya imajinasi. Hidup dipenuhi dugaan yang tak masuk akal. Seperti wabah. 

Pada tempat lain, di tengah kecemasan yang absurd, penguasa mencatat segala bidang kegiatan warga untuk mendapatkan izin. Izin dari pihak berkuasa. Ada sanksi berat bagi yang melanggar. Supaya kekuasaan ditakuti. Ia tak pernah karib dengan rakyat. Izin pun berpagut dengan relasi kekuasaan, ia membangun rantai hegemoni bernama kuasa. Seringkali penguasa mengabaikan izin terhadap yang dikuasai, sedang yang dikuasai wajib meminta izin terhadap yang menguasai. Atau "membeli" izin. Seperti eksploitasi tambang emas, mall, atau berdirinya hotel berbintang. 

*** 

Melihat diri dalam terminologi Kultural, kurasa bermakna menyadari nilai kemanusiaan, menyadari keberadaan di tengah keberadaan yang liyan. Menumbuhkan sikap "menyempurnakan dan "mengerti, melindungi, mengayomi" terhadap liyan itu. Di dalam melihat diri, ada kearifan menggerakkan diri, mengubah dan mengolah kehidupan dengan jati diri. Sikap kemanusiaan yang tak permisif. 

Penafsiran yang berbeda-beda terhadap dunia, bagi Karl Marx, tak sepenting mengubahnya. Realitas dan struktur sosial, mutlak harus diubah. Sejatinya Marx melancarkan kritik ideologi guna menegaskan dalil Hegel tentang keterasingan. Keduanya memang menarik. Namun keduanya, saya rasa tak berhasil memahami pergulatan subyektif yang eksistensial dalam diri manusia. 

Merubah realitas, dalam terminologi "Kultural", mestilah diawali dengan merubah diri, sudut pandang, dan bagaimana seseorang melihat diri dan kehidupannya. Di sini, pengenalan terhadap jati diri menjadi utama sebelum menyentuh realitas di luar. Sebab barangkali justru diri sendirilah yang menjadi bagian dari persoalan mendasar pada realitas sosial yang berlangsung. 

Dan hujan pun kembali ke sini. Waktu petang hari. 

Makassar - Rumah Kecil, 01/06/2020

*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran

Kamis, 02 Juni 2022

CERAMAH DAN CORETAN HALAL BIL HALAL

Qolallahu ta'ala fi qur'anil karim, audzubulilla hi misyaitoni rrojim, bismillahirohmanirrohim 

Allah SWT berfirman:

وَسَارِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ  وَالْاَرْضُ ۙ  اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ 

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa," (QS. Ali 'Imran: 133).

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ  ؕ  وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ 

"(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran: 134)

Wa Qola aidon, "Fa akhi waj haka hanifan liddin fitra tallahi hillati fatarannasa alaiha laa tabdila li kholqi dinul qoyyima waa la kinnal aksaronnasi la ya' lamun".

Wa qola Rosulullahu Sollallahu alaihi wassalam, "mang kana akhiru lailatan ramadhana baktissamawati wal ardh wal malaikati lii ummati muhammad li musibatin. Qila ay musibati ya Rosulullah, dzahaba ramadan lii anna mustajaba wa sahodaqotin makbula". 

Wa Qola aidhon, "Tarakktu fil hawa wa ajla satin fi hawa".

Halal bil Halal ini menarik untuk di kaji. Sebab, tema ini, seakan menjadi tema rutin yang di uraikkan dengan pambahasan-pembahasan turunan tersendiri, Setiap setahun sekali. khususnya selepas kita merayakan dan menikmati idul fitiri. 

Pertanyaan mendasarnya, apa yang di maksud Halal Bil Halal : halal itu apa?. "Bi" itu apa?. Diksi "Bi" menurut Ibnu Hisyam Al anshori dalam kitabnya Bugdhil Labib, ada 14 Maknanya. 

Kita mengkaji makna Halal terlebih dahulu, sebab kata Halal adalah kata yang kita serap dari bahasa arab, yang kita harus ketahui makna aslinya secara semantik lughawi. Setelah itu kita akan mengkaji penjabaran kata Halal sebagai petunjuk kita berkehidupan dan bagaimana implementasi di dalam kehidupan. 

Diksi Halal di dalam bahasa arab, sumber awalnya berakar dari kata "Al hillu". Kata kerjanya adalah "Al hallah al hillu" : halalan wa halalan dan akar kata utamanya bersumber dari kata al hillu. Al hillu ini bermula dari sesuatu yang sudah terurai dan tidak memiliki persoalan. Itulah sebabnya, Jika orang arab mengatakan ada benang atau tali yang kusut, lalu di urai dan menjadi lurus kembali, disebut sebagai "Hillul Musykila". Persoalannya telah tuntas, talinya telah lurus kembali. Keadaan yang sudah lurus dan tidak ada persoalan lagi, di kembalikan ke bentuk masdarnya atau derivasinya berubah menjadi kata HALAL. 

Dari situlah kemudian, mengapa dalam terma agama kita mengenal Istilah Halal. Hal itu memberikan kesan kepada kita, bahwa Hal-hal yang ingin kita interaksikan, tidak di pandang bermasalah oleh agama. 

Bagiamana Al-Qur'an menampilkan ayat-ayat yang berkaitan dengan Kata Halal dan sejatinya hal itu adalah petunjuk dalam kehidupan kita, yang mau tidak mau pasti kita akan mengalaminya, Ketika hal itu di tampilkan. maka, makna dasar ini akan terbawa dalam implementasi kata Halal yang di maksudkan, boleh jadi dalam kehidupan kita, ada persoalan-persoalan yang seperti benang kusut, yang memang harus di uraikan. 

Mari kita turunkan beberapa bagian yang menarik di dalam Al-Qur'an dan nanti kita akan evaluasi, apakah pendidikan ramadhan yang mengurai hal itu, telah benar-benar mengantarkan kita pada suasana Fitrah, sehingga di katakan Idul fitri atau Jangan-jangan ada yang belum terurai dan apa yang kita harus lalukan pasca idul fitri. 

Kita lihat kata Halal pertama yang di cantumkan Al-Qur'an, terdapat dalam Q.S. 2 : 168, " Yaayyuhannasu Kulu Mimma Fil Ardhi Halalan Toyyibah (Hai sekalian Manusia silahkan kalian bertebaran di muka Bumi - Carilah makan dari makanan yang Halal dan Baik)". Silahkan kita bertebaran di muka bumi - beraktivitasi, berkerasi. Minimal untuk memenuhi hajat pokok hidup kita. Tetapi, harus di lakukan dengan cara yang halal dan Hasil yang di dapatkan dari proses yang Halal tersebut harus baik. 

"Yaayyahunnas", Jika kita merujuk pada konteks diatas - Halal. Tidak mungkin terjadi konteks Halal, apalagi jika Di susun menjadi Halal bi Halal. Jika unsur-unsur Yaayyuhannas tidak terpenuhi. 

Kita lihat Unsur-unsur Yaayyuhannas ; Hai semua Manusia. Di dalam Al-Qur'an penunjukkan Manusia, setidaknya disebut dengan lima nama, yaitu Al Basyar disebutkan 35 kali di dalam Al-Qur'an. Al ins di sebutkan 18 kali dalam Qur'an. Al insan, disebutkan 65 kali. Bani adam disebutkan 7 kali. Annas disebutkan 241 kali dalam Al-Qur'an.  

Sebagaimana yang kita ketahui, setiap diksi atau huruf dalam Al-qur'an itu punya penekanan makna tersendiri. Seperti berbeda ketika disebutkan al ins dan al insan, Annas dan Bani Adam, dst. Menariknya terjemahan mushaf kita, ada yang menerjemahkan serupa. 

Ketika di sebutkan An nass, tidak pernah bahkan di sebutkan dalam bahasa arab kecuali untuk menunjukkan kepada konteks MANUSIA dalam hal sifat sosialnya, bahwa manusia sepanjang berkehidupan, ia tidak bisa hidup sendiri dan butuh orang lain yang meniscayakan dia untuk berinteraksi. Karena itulah ketika Allah memanggil dengan sebutan, "Yaayyuhannas" yang di tuju dari informasi ini adalah Pertama, semua Manusia (Tanpa batas, melampaui sekat-sekat Aqidah). Kedua, menunjuk konteks hubungan sosial. Artinya dalam konteks hubungan keduniaan - hubungan sosial. maka Al qur'an mengajak kita untuk bersinergi dan tidak menjadikan aqidah sebagai sekat. 

Manariknya Al qur'an, Ketika Allah memanggil dengan kata Yaayyuhannas, Allah menggunakan kata " Ya" yang di sebutkan 361 kali dalam Al qur'an dan fungsinya di sebut sebagai huruf memanggil dengan jarak objek (dekat, menengah atau Jauh). Padahal ada 14 huruf panggilan dalam bahasa arab. Tetapi Al qur'an hanya menggunakan kata "Ya". Mengapa?, Karena diksi "Ya" yang paling fleksibel (bisa memanggil yang jauh, yang menengah, yang dekat atau untuk meminta bantuan). 

Luar biasanya, ketika di panggil dengan panggilan "Ya" yang di tujukan kepada semua manusia tanpa terkecuali. Lalu, di tegaskan dengan diksi, "Ayyuha" di sebutkan sebanyak 150 kali dalam Al qur'an. "Ayyuha" dalam gramatikal bahasa Arab berfungsi sebagai kalimat munadah ; Penguat( Tauqid) dan Tanbih (pengingat). Seolah-olah Allah hendak mengatakan, " Hai semua manusia tanpa terkecuali, baik engkau merasa dekat denganku, menengah denganku ataupun merasa jauh denganku. Aku tegaskan (penguat - tauqid). Silahkan bertebaran - berkreasi - berkativitas di setiap tempat yang engkau bisa pijak di bumi.

Lalu, di lanjutkan dengan diksi "Mimma", yang awalnya dari Kata "Min" tambah "Ma". Jika Hurufnya, hanya "Ma" saja. Maka, artinya semua di bumi. Tetapi, kalau ada "mim" (Tab'id ; menunjuk pada Sebahagian yang bisa di Capai). Menariknya diksi "Fi ardhi" di tafsir lagi dalam Q.S. 49 ; 13 dengan pembuka yang sama, "Yaayyuhannasu inna kholaqnakum min dzakari wa untsa wa ja alnakum zu'ubaw wa qoba'il - (Hai semua manusia kami ciptakan kalian itu ada yang lelaki dan perempuan dan kami tetapkan pola berkehidupan kalian secara sosial akan bersifat komunal-komunitas)". Qoba'il itu adalah bentuk jama' dari kata Qobilah - Suku. 

Sebelum masuk kepada Halal, Allah menampilkan pendahuluan yang mengacu kepada halal dengan menghadirkan bentuk kata kerja, yang dengan pekerjaan itu menuntut kita untuk menyebar di muka bumi - bekreasi, mencari ke setiap tempat di muka bumi. Jadi, seolah-olah dalam berbagai aktivitas pekerjaan kita itu ada hubungan-hubungan yang mungkin tidak harmoni. Makanya Diksi harmoni ini akan di tafsir dalam Q.s. 49 ; 13 yaitu Lifa'arufu. 

Risalah tertinggi dari Konteks ini adalah keragamaan kita dalam berinteraksi, dimana pun kita berada. Tujuan akhirnya kata Al qur'an adalah Lifata'arafu ; Harmoni. Yang dari harmoni itu tercipta suatu keadaan yang kondusif, kemakmuran, kesuksesan. Makanya mengapa kehidupan rumah tangga, langkah awalnya di sebut Ta'aruf (pola awal membangun harmoni dan juga sekaligus pembuka menuju Sakinah, mawahdah dan warohmah. Ketika kita menarik hal ini dalam konteks yang lebih luas ; pekerjaan, bersosial, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Boleh jadi dalam berinteraksi itu, yang seharusnya harmoni, justru ada hubungan-hubungan yang tidak harmoni. 

Setelah itu barulah kalimat Halalan, seakan-seakan memberikan ranah koreksi kepada kita. Sedangkan, toyyib itu atau kondisi ideal, baik untuk kesehatan, untuk keuangan, untuk kenyamanan di rumah tangga, dsb itu tidak mungkin bisa di hasilkan, jika tidak ada halalnya. Makanya, kalimat Halal itu Mahal dalam Rumusan Al-qur'an. Untuk sampai pada kalimat halal, terlebih dahulu kita mengurai persoalan. Mengurai persoalan untuk melahirkan sebuah ketenangan. Misalnya, kita mendapatkan Toyyib dalam kemapanan ekonomi (kaya). tapi tidak tuntas masalah Halalnya, akibatnya Kegelisahan yang kita dapatkan. Ketenangan itu mahal dan yang kita cari dari ibadah adalah ketenangan. Makanya kita latihan tuma'nina (tenang), " ala bidzikrillahi Tat ma innal Qulub". Bahkan panggilan terindah dari Allah atau Legacy terakhir adalah ketika di panggil dalam keadaan tenang, hal itulah yang di maksud dalam Q.S. 89 ; 27-30, " Yaayyattuhal nafsul muttmainnah". 

Halal Bi Halal, Kata Ibnu Hisyam Al ansori, diksi "Bi" dalam Kitabnya Maudhil Labib an Kutubil Ma'arif, punya 14 Makna. Ada seorang mahasiswa Indonesia, mengambil S3 di Timur tengah, cuman menganalisa Huruf  "BA"  pada Q.S. Al Maidah : 6, tentang persoalan Wudhu ; Saat perintah membasuh wajah, tangan tidak menggunakan Ba. Tetapi, saat perintah mengusap kepala, Allah menggunakan kata "Ba". Kita lihat, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَا غْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَ يْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَا فِقِ وَا مْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَ رْجُلَكُمْ اِلَى الْـكَعْبَيْنِ ۗ وَاِ نْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَا طَّهَّرُوْا ۗ وَاِ نْ كُنْتُمْ مَّرْضٰۤى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَآءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَآئِطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَآءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَا مْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَ يْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗ مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰـكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَ لِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur." 

Diantara fungsi Huruf Ba, ada yang di sebutkan sebagai Al Mushohabah (hubungan yang rekat - baik), bahkan di serap kedalam bahasa indonesia menjadi sahabat. karena saking lekatnya hubungan itu di sebut sebagai Fungsi kedua, Al ilshoq (kuat). 

Menariknya, Halal bi Halal. Halal pertama adalah pihak pertama dan halal kedua adalah pihak kedua yang di tengahi oleh Huruf "BA" atau di satukan oleh huruf BA. Jika kita terapkan makna Ba-nya menjadi Mushohabah (hubungan yang lekat atau persahabatan) kedalam terma Halal Bi Halal. Kita bisa memposisikan diri kita pada orang pertama (halal) dan carilah orang kedua (bisa istri, Bisa anak, bisa bermasyarakat, bernegara dan berbangsa). Silahkan kita cek sendiri, adakah hubungan yang belum terurai dengan baik, sehingga seharusnya hubungan itu terjalin harmoni, Ta'arafu dan baik. Tetapi, itu semua tidak tercapai karena barangkali dalam pekerjaan-pekerjaan (qulu) ada persoalan yang boleh jadi karena perbedaan-perbedaan pandangan tertentu, menjadikan peluang-peluang harmoni tereduksi sedikit demi sedikit. 

Perbedaan pandangan itu bukan untuk menyatukannya pandangan. Tetapi, bagaimana perbedaan tersebut di jadikan sebagai Misi untuk mencapai Harmoni.

Harapan kita pada kehidupan yang harmoni itu hanya akan di capai jika ada Ikhtiar. Misalnya dalam Filosofi Sa'i ; Shofa dan Marwah, Q.S. 2 ; 158. Kisah Sayidah Hajar yang Populer sampai pada kita, hanya di sebut bahwa ia mencari air untuk putranya. Tetapi, kalau kita mengambil makna terdalamnya, seperti mengapa di namakan Shofa, mengapa di namakan Marwah?. Marwah itu adalah suatu harapan tertinggi yang ingin capai, bisa juga Bermakna Suatu kehormatan tertinggi yang di raih. Maka untuk mendapatkan Marwah, kita harus melaluinya dengan Shofa. Shofa itu berasal dari kata Tasfiah (menyaring sesuatu yang kotor, sehingga yang tersisa adalah yang bersih). Keadannya di sebut dengan Shofa. Orangnya di sebut dengan Shofi. Sifatnya di sebut dengan Sufi. 

Mengapa di sebut sebagai bukit Shofa?. Karena syaidah Hajar melihat kenyataan, bahwa anaknya sangat kehausan dan sangat membutuhkan air. Hal pertama yang ia lakukan adalah berpikir positif ; tidak mungkin Allah menempatkan di sini, jika semua instrumen kehidupannya tidak ada. Karena pikiran positif itulah, sehingga Setengah dari Harapan syaidah Hajar telah tercapai. Makanya dalam sejarah ia rela bolak balik Bukit Shofa dan Marwah, yang kita kenal sekarang dengan Terma Sa'i. Sa'i itu bukan lari-lari kecil. Tetapi, usaha yang serius atau sungguh-sungguh.  

Sa'i dari Kata sa'a dan Yas' a. Misalnya, hari jum'at bagi lelaki, ada ibadah menunaikan Sholat Jum'at . Kesiapan kita untuk datang menunaikan jum'at, kalimat qur'annya menggunakan kalimat perintah yang se akar dengan Sa'a, Lihat Q.S. 62 ; 9, " Yaayyuhaladzina amanu Idza nudiya lisholati Mi yaumil Jum'ati Fas aw (hai orang-orang beriman, jika engkau tahu di hari jum'at ada panggilan untuk menunaikkan ibadah Jum'at. Maka bergegaslah)". "Fas aw" (bergegas) pada ayat tersebut dari kata Sa'i. Bergegas di ayat itu bermaksud menyiapkan diri kita dengan sempurna. Makanya mengapa di sunnahkan, kita untuk mandi, menggunakan pakaian Suci dan bersih. Memakai perfum dan mencari shaff yang terdepan. Hal itulah yang di maksud dengan Sa'a. 

Nah, hal itu jangan hanya di tempatkan di Jum'at. Tetapi kita mesti menempatkan ke semua segmen kehidupan kita. Kita punya harapan (marwah). Ternyata hal yang di tempatkan oleh qur'an terkait dengan Halal ini ada dua hal, pertama adalah dimensi hubungan sosial kita dengan Manusia dan dimensi hubungan kita dengan Allah. Boleh jadi dengan manusia tidak ada persoalan, tetapi dengan Allah ada persoalan. Coba kita cek, apa yang belum tuntas hubungan kita dengan Allah SWT. 

Dalam Hubungan Vertikal atau Transendental dimensinya di sebut sebagai Iman. Menyalahi Iman atau bergeser dari tempatnya di sebut dengan Fusuq, perbuatannya disebut ashoq, bentuknya di sebut dengan Maksiat. Jadi, maksiat itu artinya menyimpang dari kodrat yang di tetapkan. Kita di cipta dari Ujung rambut sampai Ujung Kaki. Mata di cipta untuk melihat. Tetapi, melihat dari apa yang di kehendaki Allah. Jangan sampai cara melihat kita bermasalah dengan Allah, bagi manusia mungkin tidak atau biasa saja. Tetapi, ketika Allah menciptakan mata kita, ada tujuannya. Maka turun Q.S. 24 : 30 untuk lelaki dan ayat 31 Untuk perempuan. Makanya mengapa kriteria baik dalam qur'an di susun dengan rapi, sedangkan yang tidak baik kita di perintahkan untuk memalingkan pandangan, karena haram hukumnya. 

Mengapa haram?. Haram itu asal katanya bukan tidak boleh. Haram itu seakar dengan Hurma (hormat). Mengapa hukum haram itu muncul, untuk menjaga kehormatan, jangan sampai di lakukan. Jika di lakukan, maka kehormatan kita akan runtuh. Sedangkan Allah memiliki sifat kasih yang luar biasa. Sehingga, jangan sampai kehormatan kita jatuh di hadapan Allah, bahkan di hadapan manusia. 

Makanya, mengapa mencuri, korupsi itu haram. Karena jangan sampai dengan anda mencuri, kehormatan anda akan runtuh. Kita yang melakukan, tapi anak dan keluarga kita yang di hujat. Makanya, banyak ayat dalam qur'an yang mengatakan kepada orang Tua, hei jika mau bertindak yang kotor, pikir-pikir dulu. Demikian juga ayat tentang Lisan Q.S. 49 ; 11-12, " Yaayyuhaladzina amanu la Yasra kaumin kaum (wahai orang-orang yang beriman, jangan saling mencela)". Itu baru dari mata sampai lisan dan ada sampai ujung kaki. 

Boleh jadi harmoni tidak tecapai dalam konteks hubungan sosial, karena pelanggaran terhadap hukum-hukum transendental yang telah Allah tetapkan sebelumnya. Lisan harusnya berkata baik, ada yang kotor di tujukan kepada lawan bicara kita. Melanggar ketentuan Allah dan pada saat yang sama memecah harmoni dalam hubungan sosial. 

Allah menanamkan potensi kebaikan dalam jiwa terdalam kita, yang bisa mengarahkan kita agar tetap berjalan dalam rel yang ideal. Baik hubungannya dengan Allah dan Manusia. Potensi tersebut di sebut dengan Taqwa. Q.S. 91 ; 7-10, " Wa naqsin wa ma sawwaha fa alhamaha fujuraha wa taqwaha". 

Taqwa ini di sebutkan sebanyak 115 kali dalam qur'an. Lawannya adalah Fujur atau Nafsu, di sebutkan 115 kali dalam Qur'an. Intinya taqwa adalah akumulasi semua sifat-sifat baik, yang mungkin kita hadirkan dalam kehidupan dan sifat-sifat baik ini butuh stimulus. Makanya kita di uji, Dengan ujian berkehidupan, agar sifat-sifat baik itu muncul. Kumpulan semua sifat baik itu di sebut dengan Taqwa, sifat baiknya di sebut dengan Khoir. Jenisnya adalah Jujur, sabar, tawadhu, dsb. Sementara lawannya atau lebih tepatnya adalah Katalis, di sebut dengan Fujur yang terdapat pada nafsu, Q.S. 12 ; 53, " wa ma u barri'u nafsi inna nafsa la ammaratu bi su'. 


****

Peradaban dan Tradisi kita, masih menganggap 1 Syawal itu adalah Hari Raya. Sehingga, kita akan senang sekali ; Idul fitri, Yess. Padahal Di Jejaring Maya, kita menyatakan ; Ramadhan Jangan tinggalkan kami. Paradoks. 
Hal itu Sama dengan kita menyatakan Idul Fitri sebagai Hari Raya. Padahal, Kita tisak tahu apa Yang kita Rayakan?. Hampir semua kitaMerayakan Idul Fitri sebagai Hari Raya, karena pagi-pagi kita sudah Boleh Ngopi atau Ngeteh. 

Fitri Secara Etimologis ada dua, pertama Fitri adalah Keaslian, Geniunitas, orisinalitas atau Kembali ke asal usul Kultural kita (mudik). kembalinya kita kepada diri kita yang sesungguhnya itu siapa?.  Kedua, Bahasa Arabnya Sarapan adalah Aftur - Futur. Sehingga, bisa di maknai bahwa Idul fitri juga berarti kembali Makan. Jika kita melacak peradaban dan Tradisi Puasa kita selama ini, idul fitri itu bermakna atau di rayakan yang pertama atau yang kedua. Ayo Jujur?. Faktanya yang kita rayakan adalah Makna yang kedua, yaitu kembali Makan. Mestinya ketika kita Khusyu, yang kita Rayakan itu adalah ramadhan. Jadi Hari raya itu adalah sepanjang Ramadhan, jika kita bicara Rohani. 

Misalnya, lebih tinggi mana kebaikan atau kegembiraan?. Atau lebih bermakna mana, lapar atau Kenyang?. Jika menggunakan logika diatas, maka seharuanya Ramadhan itulah Hari Raya. Tetapi, faktanya kan tidak demikian. 

Ucapan Idul Fitri yang orisinil dari Rosulullah SAW itu. Pertama, "Taqobbalalllahu minna wa mingkun Taqobbal ya Karim". Kita bertemu, bersalaman dengan hati terbuka dan saling memaafkan agar semua kehendak baik kita di kabulkan Oleh Allah pada anda, maupun pada saya. Kedua, "Nahnu Naudzu Minal Aidin Wal Fa Idzin" . 

Kalimat "Nahnu Naudzu Minal Aidin Wal Fa Idzin" aadalah Kalimat ketika bulan Ramadhan menjelang Hari Raya, saat Rosulullah SAW pulang dari perang badar, sekitar 200 meter sebelum mencapai Kota madinah. Sebagaimana kita ketahui Dahsyatnya Perang badar, kurang lebih 313 Pasukan Rosulullah SWT Menghadapi 1100 Pasukan Sekutu. 

Tahap kemenangan Pasukan Muslim di Perang badar di capai, menurut saya adalah contoh bahwa kita menempuh hal yang sama. Jika kita melihat jumlah pasukan, maintanance perangnya, ketangguhan sebagai prajurit. Maka, pasukan Islam pasti kalah. Tetapi, ketika kita melihat bahwa seorang Muslim tidak hidup sendiri (tidak hidup dengan dirinya sendiri). Karena, Ia hidup dengan Allah dan Para Malaikatnya. Maka, ada Kans Untuk tidak kalah. Sebagaimana Beberapa cuplikan Pernyataan Rosulullah SAW di tengah Medan Badar, yang Ia Lontarkan kepada Prajuritnya dan Ia Sampaikkan Kepada Allah. 

Kepada Prajuritnya, yang melakukan perjalanan sekitar 250 KM dari Madinah ke medan Badar, tanpa alas kaki dan prajurit-prajurit Kaum Muslim pun tidak tangguh, serta Sudah loyo karena perjalanan Panjang. Rasulullah SAW tetap menyampaikkan Pekikan kalimat optimisme kepada Pasukannya," Inna ma Tunsoruna Wa Turhamuna wa Truzakhuna bi dhuafa"ikum (kita akan di tolong, di menangkan dan di berikan Rezeki Oleh Allah. Asal motif atau syaratnya di dalam hati kita membelah orang-orang lemah, Orang tertindas)". 

Berdasarkan Cuplikan riwayat diatas, Ternyata Ada rumus kemenangan di hadapan Allah, yaitu jika Niat kita berperang untuk membela orang-orang yang teraniyaya, tertindas, lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Maka Allah akan menyulap Rasionalitas Perang menjadi Keajaiban kemenangan. Sekalipun menurutku, Rosulullah SAW Nekat menyampaikkan kalimat optimisme tersebut kepada Prajuritnya, sebagai upaya mempeta Konflikkan Allah, kira-kira yang hendak Rosulullah SAW sampaikkan  ; jika Allah Sayang sama Aku, Tidak mungkin Allah membuat saya Kalah. 

Kemudian, Rosulullah SAW bermunajat Juga Kepada Allah. Beliau Mengaku di hadapan Allah, " Illam Taqun Alayya ghodbun fa la Ubali  ; Asalkan engkau Tak Marah, kalah sekalipun saya akan Ridho".  Sebab, Secara Matematis tentang Perang ini, Rosul Pasti kalah. Yang Rosul bisa andalankan sebagai variabel kemenangan hanya memilih medan pertempuran, yaitu lembah Badar. Selebihnya Rosulullah SAW Kalah di semua lini. 

Ucapan yang Rosul sampaikkan kepada Allah. Tetapi, Tidak di dengarkan oleh Prajuritnya. 

Maksud saya, Hidup ini tidak hanya Soal-soal regulatif-Rasionalitas. faktanya Hidup ini ternyata ada Kolusi-kolusi dengan Allah. Sebab, aslinya di setiap peperangan dengan diri kita saja, kita kalah terus. Karena ada Allah, ada alasan untuk tidak kalah dan alasan tersebut, tidak melulu soal pertimbangan Rasionalistik - Militeristik.  Alasannya berkelindan pada kasih sayang, asal kita pasrah (Tawaqqal Pada Allah). Ikhlas di beri Takdir apapun, justru Allah tidak mentakdirkan hal itu. 

Selain itu, ternyata ada Juga rumus untuk mendapatkan Ridho Allah, baik di dunia maupun di akhirat, yang jalannya tidak harus dengan pertimbangan Transaksi Rasionalitas - administratatif. Tetapi, transaksinya adalah Transaksi cinta, yaitu "illam Taqun Alayya ghodbhun fa la Ubali (asalkan engkau Tidak marah saja Ya Allah, saya Ikhlas dan Ridho)". 

Karena menang di medan Badar itulah, Rosulullah Mengucapkan, " Nahnu Naudzu minal aidin wal Fa Idzin (kami telah Kembali menjadi orang yang beruntung)". Nah, sekarang kita harus menemukan perang badar-perang badar kita. Sebab, yang di sebut perang badar oleh Rosulullah SAW adalah kita barusan pulang dari medan pertempuran yang sangat kecil dan kita akan memasuki perang yang Paling dahsyat  (Jidah Al akbar), yaitu perang melawan Hawa Nafsu. Perang melawan ketidakterbatasn kehendak kita. 

Perkara Halal Bil Halal, Kita harus mendudukkan perkara ini secara Seimbang, jika idul fitir itu adalah agama. Maka, Halal bil Halal itu adalah Budaya. Sama dengan Jika sholat adalah agama, maka Sajadah, sarung, songkok yang kita kenakan adalah budaya. Jadi, berbeda antara Api dan Panas. Gula dan Manis, ombak dan airnya. Nah, kita ini di indonesia bertengkar, karena tidak bisa mengurai antar Manis dan gula, api dan panas. 

Halal bil halal ini bukan ajaran agama. Tapi tidak apa-apa. Sebab, tidak semua harus merupakan ajaran agama. Asal tidak ada larangannya, boleh di lakukan, namanya ibadah Muamalah. Kalau yang di perintahkan Allah Lansung, namanya Ibadah Mahdoh. Lalu, Allah bikin Pagar (Aturan) dan kita tidak melewati pagar itu tidak apa-apa. Misalnya, Nabi Muhammad tidak pakai Hp dan Kita Pakai Hp, tidak apa-apa karena tidak ada larangannya. Jadi, Besok-besok jika kita bertemu Nabi Muhammad, Nabi Musa dan Nabi-Nabi lainnya, kita bisa menyatakan : Rosul-Rosul pasti tidak Tahu WA, Facebook Kan?. 

Saya itu sangat menikmati semua Konflik di indonesia ini, karena masalahnya ini adalah masalah kesembronoan ilmu dan mereka tidak jujur terhadap apa yang mereka persoalkan. Misalnya, Soal HTI dan Ormas lainnya, ini kan soal proyek saja. Soal kapling Lahan parkir saja. 

Dari Ihwal itulah, sehingga kami bersyukur ada Acara Halal Bil Halal. Sebab, Halal Bil halal ini tidak ada Di Malaysia sana, di India sana. Halal Bil Halal ini Ijitihadnya Ulama Indonesia, namanya Kiyai Wahab Hasbullah, saat di mintai Oleh Bung Karno. 

Di indonesia, ada yang mulai marah, karena menganggap budaya tidak boleh di campur-campur dengan agama. Nah, ini kan kekecauan berpikir yang sudah akut. Sebab, bagaimana bisa cara kita beragama, Jika tidak dengan budaya. Sebab, kita sholat saja harus berpakaian. Pakaian itu produk budaya. Masjid tempat kita sholat itu agama. Tetapi, kipas angin, Ac, tikar, dsb itu adalah budaya. Jadi, tidak bisa beragama Tanpa budaya. 

Makanya sebagai orang Indonesia, kita bersyukur ada Ijitihad Ulama yang melahirkan Halal Bil Halal, karena di amerika, saudi arabia tidak ada Halal bil halal. Mengapa?. Karena hanya Indonesia yang taraf berpikir dan peradabannya sudah sampai Pada Tahap Ketuhanan Yang Maha Esa. 

Jika kita mau melebar sedikit, Di Al-Qur'an itu ada dua informasi yang menjadi petunjuk kepada kita, pertama, Allah jika hendak menciptakan sesuatu, dia Tinggal bilang "Kun" (Jadi), " Inna ma amruhu idza arodha Syai'an ayya kulalahu kun Fayakun". Jadi dalam sekejapan mata, jadi ciptaan. Kedua, Allah menciptakan Alam semesta dalam 6 masa. Yang menurut para Mufassir, 1 hari dalam perhitungan Allah, sama dengan 500 ribu tahun perhitungan Manusia. 

Menurut saya, poin kedua ini tidak masuk akal, masa Allah menciptakan Alam semesta sampai harus 500 Tahun. Sebab, Allah Maha Kuasa, ia Menciptakan Lansung jadi. 

Saya Justru memahami bahwa 6 masa yang di maksud itu adalah manusia akan hidup dalam 6 tahap evolusi. Pertama, Allah menciptakan Cahaya (Nur Muhammad). Dari Penciptaan Nur Muhammad ini, Allah menciptakan benda (materi) dan barangkali waktunya 20 Milyar Tahun. Kedua, Allah menciptakan Benda Yang Tumbuh (Nabati-Tumbuhan). Ketiga, Allah menciptakan Benda yang tumbuh, bisa bergerak dan berpindah-pindah (Hewan). Karena dia butuh pergerakan, di buatkanlah darah, daging, urat, otot dan syaraf. Ke empat, ternyata tidak hanya sekedar bergerak, memiliki Otot, saraf, daging, darah dan berpindah-pindah, dia juga harus bisa berpikir. Maka, di ciptakanlah tahap evolusi ke empat, bernama Manusia. 

Sekarang ini, Evolusi Manusia hanya sampai pada Tahap ke empat dan hanpir semua kita belum mengenal tahap evolusi kelima dan ke enam. Yang ke empat inilah manusia menjadi yang utama dan dia pikir dia yang paling hebat, serta Tuan diatas permukaan Bumi. Makanya kita temukan terma HAK ASASI MANUSIA. Ini kan Lucu. padahal setahu saya, yang punya Hak adalah yang Punya saham. Manusia ini punya saham apa atas dirinya?. Memangnya Manusia bisa menjadwal Rambutnya tidak akan memutih kala dia tua?. Manusia itu tidak punya kemampuan apa-apa atas dirinya dan orang kedokteran Tahu betul, betapa lemahnya manusia itu?. 

Sama dengan sekarang Kita punya Terma Demokrasi, karena memang kita sedang berada di tahap ke eempat evolusi. Saya senang Demokrasi. Tetapi, demokrasi sekarang ini menempatkan manusia sebagai Tuan besar. Misalnya, apa pernah ada pilkada atau pemilu yang melibatkan binatang?. Apa pernah pilkada atau pemilu yang menyadari bahwa ternyata sungai punya Hak, tanah punya hak untuk tahu siapa yang menginjak dia?. Apa pernah pilkada mempertimbangkan lingkungan hidup?. Sekarang lingkungan hidup di urusi, tetapi, tetap di jadikan objek oleh manusia. Kita tidak pernah sadar bahwa Manusia itu adik dari bumi, adik dari hewan dan adik dari Tumbuhan. Junior tapi kelakuan seperti senior. Tetapi, sebagai bangsa kita bangga dengan indonesia. Sebab, indonesia sudah maju setengah langkah, karena kita Punya "Ketuhanan Yang Maha Esa". Berarti sudah ada Tuhan. Kalau di Amerika kan belum ada. Di sana manusia Tuhannya. Kalau di Indonesia, Tuhan Yang Maha Esa. Meskipun itu salah. 

Jika kita menggunakan Terma Esa untuk menunjukkan Tuhan. maka ada dalawa, Tatlu, apat, Lima. Sama dengan terma Eka dan Dwi. Begitupun dengan Satu, pasti ada dua. Mestinya, Ketuhanan Yang Maha Tunggal. Sebab, kalau Tunggal, tidak ada Dua, dsb. Tapi, tidak apa-apalah salah, sebab Tuhan Maklum dengan Indonesia ini. 

Kita melipur sejenak, agar tidak terlalu pusing memahaminya. Misalnya, 1. gambar garuda itu laki-laki atau perempuan. Jika garuda tidak memiliki kejelasan Gender, maka perkembangannya bisa kacau. Gambar awal Garuda itu dari Sultan Abdul Hamid Pontianak. 2. Allah itu sayang sama indonesia, karena dia sayang. Maka, Amerika membom Hirosima dan Nagasaki pada tanggal 14 Agustus 1945, 3 hari kemudian indonesia merdeka. Karena Ihwal itulah, Sayap Lambang Garuda itu, sayapnya 17, ekornya 8. Sebab, tidak bisa di bayangkan jika Amerika Membom Hirosima dan Nagasaki pada Tanggal 19 Desember. Maka, Indonesia Merdeka Pada Tanggal 1 Januari. Maka, Burung garudanya hanya punya satu sayap. 3. Garuda itu bukan burung, tapi Nama Burung. Kalau burungnya itu Elang, Rajawali, cendrawasih, emprit. Namanya Elang ini Garuda, yang memberikan nama adalah Ibunya. Ibunya ini dalam posisi di jajah oleh kakaknya sendiri, kakanya ini kerjasama sama  Naga, yang berjumlah 44. Sekarang sisa 9 Naga. Menjajah adeknya dengan manipulasi-manipulasi. Karena dulu, kakak dan adik ini menebak Seekor kuda yang melintasi cakrawala ; Ekor kuda itu warnanya apa?. Kakaknya mengatakan Hitam, adeknya mengatakan putih.  Begitu kudanya mendekat, ternyata Ekor kudanya adalah Putih. Kakaknya panik, sebab perjanjiannya, siapa yang kalah akan jadi budak. Jika kakaknya kalah, maka kakaknya akan menjadi budak adeknya. Akhirnya si Kakak,  memanipulasi, menyuruh 44 naga menyumburkan ekor kuda sehingga berubah menjadi hitam. Akibatnya adiknya menjadi Kalah, sehingga menjadi budak berpuluh-puluh tahun. Di tengah Jajahan itu, adiknya berdoa pada dewa, sehingga dewa dengan Kasih sayang memberinya anak, yang kemudian di namakan Garuda. Burung, namanya Garuda. Tugasnya Garuda adalah membebaskan Ibunya dari jajahan Kakaknya dan Naga. 

Jadi, Idup Fitri itu sesungguhnya kita Merefresh, mendetoksi. Detokfikasi Levelnya berbeda-beda, ada Kefitrian profesional ;  Kamu Dokter, ada Politisi, Ada seniman, ada Insiyur. Lalu, ada Kefitrian Budaya ; ada Orang Jawa, Sumatera, kalimantan, sulawesi, NTT. Ada juga Kefitrian Kemahlukan (Kuluqiyah) ; Ada Binatang, ada Tumbuhan dan Kita adalah Manusia, bukan binatang. Nah, sekarang ada KeFitrian yang lebih tinggi dan lebih dalam lagi, yaitu manusia itu Mahluk Jazad atau mahluk Rohani?. Manusia itu penduduk bumi yang ingin masuk surga atau penduduk surga yang jalan ke bumi sebentar? Ataukah jika kita hendak menggunakan Terma Ilmu Pengetahuan, apakah Manusia itu adalah Mahkluk jazad (Fisik) yang menempuh perjalanan Spiritual ataukah Manusia adalah Mahluk spiritual yang Outbound sebentar ke bumi?. 

Jika konsep ini tidak jelas, maka Kurikulum apapun yang kita terapkan Pasti salah. 

Nah, diatas telah saya Sampaikkan bahwa kita telah sampai pada Tahap Evolusi ke empat. Tahap evolusi Yang Kelima adalah kita tidak hidup begitu saja. Tetapi, kita di ciptakan oleh Allah. Maka, dalam perusahaan hidup kita ada Tuhan. Tuhan ini posisinya apa?. Kita menjadikannya Bos atau karyawan. Sehingga pertimbangan hidup kita bisa jelas. Jika sekarang ini, jelas Manusia ini bos, makanya Terma HAM itu tidak masuk akal. Cuman bersyukurnya karena Indonesia ini Punya Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, jika kita Mau mengabdi pada Tuhan. Maka, yang mengatur adalah Tuhan. Sebab, menjadi tidak mungkin karyawan mengatur-atur bos. 

Tahap evolusi yang ke enam itulah yang di dengungkan Teman-teman HTI. 

Pertama adalah Benda atau materi. Kedua, Nabati - tumbuhan. Ketiga, Hewani. Keempat, Insan (manusia). Kelima, Abdun (Abdullah- Hamba). Ke enam, (Khalifatullah-Khilafah). 

Apakah saya setuju dengan Khilafah?. Yah, tidak ada cara Lain selain Khilafah di dunia ini. Opsinya hanya Khilafah. Hanya saja, khilafah yang saya pahami berbeda dengan Yang di pahami HTI dan kelompok-kelompok lainnya. Khilafah itu bukan sistem. Tetapi, Kesadaran dan sikap, bahwa kita adalah Utusan dan wakil Tuhan, maka kita niscaya berlaku persis sama yang di maui Tuhan. Khalifah itu artinya Orang  yang berjalan di belakang. Jadi, kita membuntuti kemauan Tuhan dan Nabi Muhammad SAW dari belakang. 

Jadi, kita harus bedakan Mana Syariat Islam dan Mana Syariat Allah. Syariat Islam, itu baru ada ketika Rosulullah SAW di utus sebagai Nabi di Mekah, makanya kita tahu ada Rukun Islam. Yang di maksud Syariat Allah itu Hukum Alam, makanya ada Gravitasi, Air mengalir dari tinggi ke rendah. Api membakar, dsb. Gedung -Gedung pencakar langit itu saja, taat sama Hukum Allah, jika dia tidak taat Pada Hukum Gravitasi, maka dia akan ambruk. Artinya gedung ini Khilafah. 


***

Jalaluddin rumi dalam karyanya Fihi maha fihi ketika mengulas salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang berbunyi,  " man qotala faa laa ahadukum yaj tanibu wajha (jika anda berkelahi sesama muslim, maka anda harus menghindar memukul bagian wajah)".  Hadist ini menjelaskan kepada kita, bahwa mengapa Rosulullah melarang kita menampar bagian wajah. Karena wajah itu adalah simbol penampakan citra ilahi dalam diri manusia.

Dalam ayat yang kerap kali kita dengar dalam Q.S. At-Tin (95) : 4-5. Ayat ini sangat simultan dengan pernyataan hadist diatas, bahwa sesungguhnya manusia pada esensinya berada pada Level "ahsani taqwim", namun karena manusia terjebak oleh tipu daya keidupan keduniaannya, maka potensi ahsani taqwim itu akan melorot atau mengalami fluktuasi dan memasuki tahap "assfala safilin".

Karena itulah Seorang Filsuf asal Prancis-Dante Aligeri ketika menjelaskan konsepsi manusia, menyatakan, bahwa ada tiga tahapan yang menandai manusia senantiasa berdialektika dalam kehidupannya.

1. Manusia berada dialam paradiso : alam kesenangan, alam kenikmatan, alam-alam yang memberikan dampak kebahagian yang bersifat absurd. 

Hal inilah yang menyebabkan manusia mengalami, apa yang disebut dengan alam Inferno. Karena kesenangan dunia, kenikmatan absurd itulah manusia centang perenang melakukan tindak kejahatan. tindakan kejahatan itulah sehingga manusia menukar potensi fitrahnya dengan nilai-nilai yang jauh dari kebenaran dan kebaikan.

Untuk merestorasi kecenderungan manusia yang melakukan tindakan kejahatan yang sifatnya massif dan terstruktur, maka Ramadhan hadir untuk menyapa kita, Ramadhan hadir untuk mengedukasi kita, ramadhan hadir untuk mensugesti kita, agar berada dan masuk pada tahapan-tahapan kebaikan dan kebenaran. 

Mengapa dan apa sebabnya?. Karena, Ramadhan menurut Emha Ainun Najib dalam Karya "Ketika Tuhan pun Berpuasa", mengatakan bahwa Ramadhan adalah proses kristalisasi iman, proses esensialisasi diri untuk menuju kepada Pusat kebenaran. Proses kristalisasi diri inilah yang menandakan bahwa manusia memiliki kerinduan untuk bersua dan berjumpa dengan Allah SWT. 

Ada satu hal yang menarik dan harus kita perhatikan bahwa Fitrah itu senantiasa Fluktiatif, jika manusia centang perenang atau cenderung mengikuti kejahatan Hawa Nafsunya, maka Fitrah itu akan menggeliat. Itulah sebabnya Rumi pun menjelaskan bahwa ketika kita melakukan kejahatan, ketika kita melakukan tindakan keburukan. maka, Potensi ruh didalam diri kita akan mengalami proses pergeseran sosial yang menyebabkan bahwa manusia harus berada pada tahap kebenaran dan kebaikan. 

Dalam Karya Imam Al-Ghazali - Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa dalam diri manusia, ada satu cermin dan cermin itu akan memperlihatkan secara faktual, akan memperlihatkan secara utuh, bagaimana totalitas kepribadian manusia. Jika manusia mengikuti nafsu keburukan dan kejahatan, maka Ruh dan jiwa akan mengalami, pemberotakan sosial. Maka, puasa yang benar, menurut Al-Qur' an adalah mengendorkan elemen jasmani dan membuka ruang dan meberikan kesempatan pada elemen ruhani. Artinya bahwa puasa yang benar itu, ketika elemen-elemen ruhani harus menandai pusat-pusat kebenaran. Elemen ruhani senantiasa berevolusi menuju dan mencapai fitrah hanif.

Maka, Halal Bil Halal senantiasa memberikan pelajaran dan ibrah kepada kita bahwa mari membuka diri, karena sesungguhnya al imanu yazidu wa yankuz (iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang). Ketika iman bertambah, artinya itu pertanda manusia telah menaiki level yang tertinggi dan ketika iman itu berkurang, artinya manusia telah melacurkan dirinya lebih buruk dari binatang.  

Logika Idul Fitri senantiasa mendedah kepada kita bahwa kita harus bergerak dari titik impas menuju titik puncak, dan bukan bergerak dari titik puncak menurun ke titik impas. Ketika proses dialektika dan konfigurasi ini senantiasa terjadi, maka sesungguhnya manusia bisa berada pada level malaikat Dan dalam konteks tertentu, manusia juga bisa berada pada taraf iblis. Oleh karena itu, Abdul Munir Mulkan dalam Bukunya "Manusia Al-Qur'an" menjelaskan bahwa tingkatan iman manusia itu, sungguh sangat luar biasa, dia memiliki kualitas iman yang tidak bisa disamai oleh malaikat. Karena, malaikat senantiasa berada pada arsy kebaikan sedang potensi iman manusia tidak bisa juga disamai oleh iblis, karena iblis senantiasa berada melakukan Keburukan dan kejahatan. 

Disinilah yang dimaksud Allah dalam firmannya, 

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا الْاِنْسَانُ  ؕ  اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا  

"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh," (QS. Al-Ahzab: 72)

Ketika potensi tersebut tidak dimaksinalisasi maka menurut ujung ayat ini adalah manusia senantiasa berlaku bodoh dan bertindak dzolim. 

 Ali syari'ati dalam Bukunya "Tugas Cendekiawan Muslim" betutur, bahwa Manusia merdeka itu memiliki 3 potensi besar. Pertama, ia senantiasa berevolusi dan bertemu kepada Allah. kedua, manusia memiliki pilihan bebas. Di point kedua inilah manusia cenderung mengalami fluktuasi keimanan, fluktuasi ketaqwaannya mengalami penurunan karena pilihan bebas. sebab, Kata Allah "Faa man saa Mu'min waa man saa yakfir - Silahkan anda beriman dan silahkan anda Kafir". Ketika berada pada kondisi ini sedang manusia tidak berada pada tahap konsisten atau seimbang, maka manusia akan berada pada alam Inferno, sebagaimana yang dicetuskan oleh Dante Aligeri. 

Maka Ramadhan Kali ini mengajarkan kepada kita untuk membuka diri, mari menerima dan memberi maaf orang lain. Karena di Q.S. 3 : 133-134, sebagaimana saya sampaikkan di mukaddimah diatas bahwa ada 3 tipologi Taqwa yaitu : pertama, Ia pandai bersedakah (infaq) baik dalam keadaan lapang dan sempit. Kedua, ia pandai menahan amarahnya. Dan ketiga, ia pandai memaafkan kesalahan orang Lain.

Memang memberikan maaf kepada orang lain itu adalah dimensi psikologis yang luar biasa. Sebuah dentuman psikologis, apabila kita berada pada Posisi kebenaran maka ruang untuk memberikan maaf kepada orang lain, sungguh sangat ingin kita berikan. Namun ketika kita berada pada ruang kesalahan, maka kita harus ikhlas menerima maaf orang lain. Ingatlah doa yang kerap lali kita Sampaikkan, "Robbana Dzolamma anfusana waa inlam tagfirlana waa tarhamma lanakunanna minal Khosirin", doa ini adalah doa yang dipanjatkan Nabi Adam, ketika dia diusir dari Surga, sebagaimana Qur'an menginformasikan : Allah SWT berfirman:

وَقُلْنَا يٰٓـاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ  وَزَوْجُكَ الْجَـنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا ۖ  وَلَا تَقْرَبَا  هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

"Dan Kami berfirman, "Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!" (QS. Al-Baqarah: 35). 
 
Muh. Iqbal ketika mengomentari ayat ini bertutur bahwa manusia merdeka, manusia seutuhnya bukan dia bebas dari dosa dan tanpa salah. Manusia merdeka dan utuh adalah manusia yang pernah melakukan kesalahan dan melahirkan kesadaran yang intensif dan melakukan permenungan atas segala dosa yang pernah ia lakukan. Oleh karena itu, Menurut kaca mata Muh. Iqbal dalam Konteks Q.S. 2 : 35. Bukanlah kesalahan Adam semata an Sich, tetapi merupakan bagian dari skenario yang telah ditetapkan Oleh Allah SWT .

Ketika adam disurga, aktualisasi Kemanusiaan tidak mencapai maqom yang tertinggi. Karena surga itu menurut Muh. Iqbal adalah alam primitif. Ketika alam primitif itu memberontak, maka ia akan melakukan pelanggaran yaitu memakan buah Khuldi. Maka Rene descartes bertutur, "aku berpikir maka aku ada". Sebab itulah ujung dari pemberontakan itu adalah upaya menemukan  jati dirinya sebagai al insan dan al hanif. 

Maka, marilah dengan senang hati, dengan hati yang lapang memberikan maaf dan memberi maaf kepada orang lain. Sebab orang yang mampu memaafkan kesalahan orang lain, pertanda bahwa Ruang hatinya telah mengalami kristalisasi nilai-nilai Taqwa. Taqwa menurut Fajroel Rahman adalah hadirnya Kapasitas diri untuk melindungi diri agar tidak melakukan dosa-dosa kolektif dan dosa-dosa sosial. Oleh karena itu, taqwa itu menuntun kita untuk mengadvokasi diri, jangan sampai kita terjebak pada dosa-dosa sosial, maupun dosa kolektif. 

Disisi yang lain, taqwa juga melahirkan suatu dimensi yang sungguh sangat luar biasa. Dalam Al-Qur'an dijelaskan, " Dzuribat akayhimu muthillu alayna ma tsukifu illa bi hablim minallahu wa bihablim minannas ( akan kami timpakan sebuah kenistaan itu kepada Ummat Manusia, ketika ruang hatinya hampa dari dimensi kerinduan kepada Allah SWT dan berimplikasi pada enggannya manusia berempati sosialnya). 

Padahal Menurut Fahroel Rahman, secara sitematika bahwa al-Qur'an itu berisi 100 % ajaran : 65 % Qur'an berbicara tentang Ibadah Sosial atau ibadah Eksoteris, sedangkan ibadah mahda atau esoteris berada pada 35%. 

Maka marilah, dengan berHalal Bil Halal  ini kita kembali kepada Posisi semula. Idul fitri sendiri menurut Quraish shihab, ada 3 perspektif, Pertama, Fitri adalah jalan agama yang benar. Kedua kembali kepada pusat kesucian manusia. Dan ketiga, adalah kembali kepada Pusat kejadian manusia. Dari 3 perpektif ini, ketika kita didadar dengan puasa, kita mampu menjadi manusia merdeka dan meraih derajat La allakum tattakum.

Maka Minal aidin wal Fa idzin adalah bukti bahwa kita telah meraih kemenangan personal ditengah kemenangan-kemenangan yang lain. Kita tingkatkan keimanan, tingkatan ketaqwaan kita. Kita hadapi apapun situasi yang mencekam dan mendera. tidak boleh mundur selangkah. Karena mati dan hidup telah menjadi hukum sunnatullah, "Kul innal mautalkadzi tafirruna malin nu fa innahum mulatikum (katakanlah sesungguhnya mati itu pasti dan tidak ada satu manusia pun lari dari kematian)". 

Dengan demikian idul fitri mengajak kita untuk meng-Evolusi diri dan evaluasi diri, serta Muhasabah diri. Dengan begitulah kita mampu meraih derajat laa allakum tattakum. Imam al-Ghazali dalam bukunya "Timiyatu syahadah" (kebahagian kimiawi) menjelaskan bahwa kebahagian sejati dalam hidup ini adalah bukan kebahagian diniawi. Melainkan, kebahagian untuk bertemu dengan Allah SWT. "Faa man kana yarju li koo i robbi fa ya'mal amalan sholihah waa la yusrik bi ibadati ila robbi aha da. Waa man a' radho an dzikri hu fa innalahu fa idzatan dhonka waa nahsuru yaunal kiayama ya' ma -  Maka barangsiapa yang rindu berjumpa dengan Allah maka hendaklah ia melaksanakan amalan soleh dan tidak boleh main dengan amal soleh ini, serta jangan sekali-sekali menghadirkan syirik dalam hidup kita. Maka barangsiapa berpaling dari mengingat kepada Allah SWT maka sesungguhnya kamu akan berika kepadanya kehiduoan yang sempit dan di yaumil kiamat kita akan di bangkitkan bersama orang-orang yang rugi".

Jika pedang meyabet hati, masih ada obat untuk menyembuhkannya. Jika ada lidah melukai hati, kemana obat hendak ku cari.


Sekian..!


Makassar, 15 Mei 20211

#Rst
#Pejalan Sunyi
#NalarPinggiran