Banyak yang berpendapat, bahwa revolusi industri yang pertama terjadi saat pertengahan abad ke 19, saat mesin Uap di temukan. Tetapi, kalau kita tarik lebih awal lagi, Industri ber-revolusi dan ber-evolusi, semenjak api di temukan oleh manusia, sekitar 100 ribu tahun yang lalu. Kedua, semenjak tulisan dan roda di temukan oleh manusia, sekitar 5 sampai 6 ribu tahun lalu.
Barulah kita melangkah ke Revolusi Industri di pertengahan abad 19 yang telah benar-benar menggeser Nilai manusia dari M Ke M - "Man" ke "Mesin", saat mesin Uap dan Listrik di temukan. Revolusi industri berikutnya, "Era Electrik". Lalu, "Era Globalisasi atau Computerisasi dan sekarang yang keempat yaitu "Era Big Data - Internet - Medsos - Disrupsi".
Sebagaimana gambaran yang saya kemukakan diatas, bahwa Manusia di Indonesia, diperkirakan sekitar 150 jutaan lebih yang menggunakan Internet dan Rata-rata menghabiskan waktu 16 - 18 jam perhari.
Ihwal itulah, mengingatkan saya pada ungkapan Seorang Filsuf "Jean Bourdilar", "Sebenarnya yang kita anggap realitas, bukanlah realitas tetapi hyper realitas". Medsos dianggap benar-benar realitas, padahal sesungguhnya tidak. Lantas, Sebenarnya kita ini Manusia atau amfibi?. Sebab hanya amfibi yang Hidup didua alam.
Dulu, orang-orang mengimajinasikan pada awal abad 21, manusia ditaklukkan dan dimusnahkan oleh mesin buatannya sendiri, Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Semacam Cyborg pembunuh T-800 ala Arnold Schwazenegger dari The Terminator (1984), atau mesin pintar yang mampu mengurung pikiran manusia dalam realitas tiruan, sementara fisiknya dipanen untuk menghasilkan listrik ala The Matrix (1999). Mereka salah?, Tidak sepenuhnya.
Perkembangan Maha Dahsyat teknologi informasi (IT) dengan otak AI, terutama sejak dekade kedua abad 21, (2011 kesini) melalui perangkat komputer, internet, smartphone, dan beragam aplikasinya telah menaklukkan manusia, bukan dengan cara diburu Cyborg, dikurung Matrix, dan dimusnahkan. tapi, dengan membuat manusia sepenuhnya kecanduan dan bergantung kepadanya.
Tengok saja perilaku baru yang muncul 10 tahun terakhir, manusia tidak bisa jauh dari smartphone, sejak bangun tidur hingga tidur lagi. Lebih cemas smartphone tertinggal ketimbang dompet. Bahkan ketika memiliki kesempatan bersilaturahmi dengan kawan, sejawat dan sahabat di warung kopi atau dimana saja, setiap orang tetap asik dengan smartphone masing-masing ketimbang menyapa sebelahnya. Inilah new normal, jauh sebelum Pandemi Covid-19 itu ada.
Manusia merasa berada dalam jaringan (daring) ketika sedang mengakses google, facebook, twitter, instagram, tiktok, whatsapp, dibanding ketika sedang berhubungan dengan manusia nyata.
Semua aplikasi di atas dianggap sebagai jalan besar yang memberi manusia kesempatan luas dan Maha Cepat untuk mendapatkan informasi, objektivitas, dan bahkan kebenaran, juga teman sejati. Jika masih bingung, silakan bertanya pada Om google yang Maha Tahu.
Manusia melupakan fakta, atau memang tidak paham, bahwa otak AI yang menggerakkan semua aplikasi tersebut bekerja Maha Keras untuk mempelajari hasrat dan perilaku setiap orang yang mengaksesnya. lalu, memberikan respon spesifik untuk lebih “menyenangkan dan membahagiakan”, yang membuat individu makin kecanduan. Mereka tidak memberikan respon yang objektif.
Maka, jangan heran. jika rekomendasi berita yang diberikan google di smartphone kita didominasi oleh berita-berita yang kita sukai. Manusia menggali, Google mempelajari. Facebook juga sangat membantu orang-orang dengan hasrat, minat, dan perilaku sejenis. Ini teknologi persuasif yang mengeksploitasi psikologi manusia, membujuk, merayu, memanipulasi, dan menginginkan sesuatu dari kita. Bukan objektivitas yang menggerakkannya, apalagi kebenaran. Karena kebenaran itu membosankan.
Kemampuannya yang canggih, AI semakin cerdas, sementara otak manusia terbatas dalam tempurungnya. Mereka yang mempelajari manusia, bukan sebaliknya.
Manusia yang terjebak dalam hasratnya sendiri, kesenangan, merasa dirinya terfasilitasi dan merasa telah berkembang sedemikian rupa. Meraup sebanyak mungkin informasi “subjektif” dan mengiranya sebagai objektivitas. Kecanduan like, subscribe, comment, lalu viral. Setiap kali viral, mereka tidak sadar bahwa mesin yang dikiranya objektif itu telah menggelontorkan jutaan dolar, kepada siapa?, Kepada para pemilik aplikasi.
Ya, ini hanya bisnis. Bisnis dengan kecepatan dan percepatan kapital terbesar sepanjang sejarah umat manusia, Dan manusia ditinggalkan dalam pusaran kebodohannya sendiri. Jangan heran, bila di tengah kemajuan pesat IT, AI, segala aplikasi, dan media sosial, jumlah penggemar teori bumi datar justru melipatganda. Semakin banyak pengikut gerakan anti-vaksin. Orang Amerika bahkan percaya gerai Pizza telah digunakan penggede pedofil berkonspirasi mencari mangsa (pizzagate). lalu, menyerbunya dengan senjata di tangan.
ISIS, organisasi teror yang baru saja dikalahkan, tumbuh dan berkembang pesat disangga media sosial. Bila teroris generasi sebelumnya perlu pendadaran intensif selama tahunan hingga dinyatakan siap berjihad, pejuang ISIS yang datang dari penjuru Eropa cukup digerakkan oleh 140 karakter pesan twitter. Hasilnya, organisasi teror paling besar dan paling brutal. Kini 600 mantan pejuang ISIS asal Indonesia merana di Syria dan Turki, dilarang pulang kampung.
Pemilu AS 2016 yang dimenangi Donald Trump menjadi pemilu paling kontroversial. Ramai dibicarakan, sebab intervensi Rusia. Lewat apa?, Facebook dan Twitter. Ditemukan 470 akun palsu Fb dan 179 akun twitter yang dikoordinir Rusia telah membombardir publik AS dengan pesan-pesan pemecah belah bangsa; SARA, LGBT, kontrol senjata, imigran, dan juga Pizzagate. Dengan 3.000 iklan Fb, Rusia hanya perlu merogoh 100.000 USD atau 14,75 miliar rupiah untuk menggoyang mesin demokrasi raksasa, AS.
Di tengah bergulirnya isu iklan Rusia, laba Facebook malah terus meningkat. Laba per saham menjadi 1,59 dolar AS atau lebih tinggi dari perkiraan pada kuartal III-2017. Selain itu, laba bersih mencapai 4,7 miliar dolar AS atau naik 79% dibanding tahun sebelumnya (ini kata Tirto.id).
Studi MIT menyebutkan bahwa berita hoax melalui twitter mampu berkembang 6 kali lebih cepat dari berita yang sebenarnya. Depresi dan angka bunuh diri generasi milenial berkembang melonjak sejak 2010, dikaitkan dengan hubungan mereka dalam jaringan media sosial. Riset PEW menunjukkan, saat ini masyarakat lebih terpecah dibanding sebelumnya (semua ini dari dokumenter The Social Dillema, di Netflix).
Masyarakat yang terpecah. Rasanya kita perlu menengok ini agak mendalam, atas apa yang kita rasakan di masyarakat kita 10 tahun terakhir ini. Apa hubungannya dengan medsos?.
Tiba-tiba saja kita harus memilih menjadi Cebong atau Kampret. Seakan-akan isi Republik ini hanya sekumpulan binatang. Tiba-tiba saja kita harus percaya bahwa PKI masih ada, maka perlu nonton lagi film yang 20 tahun lalu dihentikan karena menjadi alat propaganda rezim Orba. Seakan-akan semua yang berbaju merah pasti tersangkut PKI. Tiba-tiba saja Amien Rais menyeru agar “rezim” Jokowi jangan berlaku seperti seburuk-buruk makhluk melata di muka bumi. Seakan-akan ia adalah Musa dan Jokowi adalah Fir’aunnya. Tak terbayang kalimat seburuk itu, sanggup ia munculkan, oleh tokoh sekaliber dan sesepuh beliau.
Ini masih Indonesia, bukan Kongo atau Rwanda. Pada saat kita masih bisa enak makan, asik ngopi, dan bebas beribadah, tiba-tiba saja bangsa ini merasa sesak oleh pengkhianatan. Musuh dan iblis diproduksi setiap hari, dimana? Percakapan WA group, konten youtube, kampanye pesbuk, dan pesan twitter. Setiap orang merasa dirinya malaikat dan orang lain menyerupai setan seburuk makhluk melata. Masyarakat dijebak dan dipaksa memilih pihak. Polarisasi, radikalisasi, kemarahan, keangkuhan yang difasilitasi dengan sangat baik oleh IT, AI, aplikasi, dan semua jenis medsos.
Orang bisa mengira; itu kan salah manusianya, teknologi dan aplikasi tidak pernah salah, ia netral. Tunggu dulu. Hari ini kita tidak lagi berhubungan dengan teknologi lama yang diam, menunggu dipakai. Teknologi ini hidup dan terus berpikir sendiri, mengembangkan kapasitasnya untuk mempelajari, mempengaruhi, dan menyenangkan setiap individu manusia (dalam komplotannya), memanipulasinya melalui algoritma subjektif, dan terus menggelontorkan miliaran dolar jauh kesana. Ia tidak diam dan netral seperti sepeda motor kreditmu.
Setelah dua minggu, Smartphone saya rusak. Saya berteriak Di pinggiran Kota yang sunyi, dengan bunyi-bunyi. Bahwa Komunikasi terbaik, tetaplah antara mata dan mata.
***
Kita perlu segera tersadar, sebab Semakin industri ber-evolusi dan Ber-revolusi, maka Semakin cepat peningkatan akselerasi perubahan. Dampak negatifnya, manusia semakin terekspose dengan margin of error yang lebih besar. Manifestasi dari Error - Error atau kesalahan tersebut, bisa di lihat dalam perang duani kedua, misalnya.
Error atau kesalahan ini, hanya bisa di mitigasi atau resiko error yang besar (kolosal), kalau manusia menyadari dan bisa menunjukkan kebijaksanaan. Di perang dunia kedua, misalnya. Dengan pemberdayaan teknologi yang sama. Tetapi, di karenakan perbedaan ideologi dan ide untuk kepentingan yang memakan korban yang sangat besar. Hal ini bukan berarti tidak bisa terjadi di abad 21 atau hanya akan terjadi di abad ke 22.
Akhir-akhir kita melihat, bahwa inovasi internet yang sangat pesat, kurang lebih 60% pertahun untuk periode tahun 1990 - 2020, kita sudah melewati fenomena Blockchain. Blockckhain sejak 15 tahun yang lalu, pertumbuhannya jauh lebih pesat ketimbang Internet, kurang lebih 10 - 120 % pertahun. Hal ini adalah manifestasi dari kecepatan dan akselerasi (perkembangan teknologi dan adopsi teknologi) sudah dan akan terus meningkat.
Kita juga harus menyadari, dalam waktu dekat kita akan di warnai atau oleh aplikasi Blockchain yang akan lebih menyeluruh. Sebab, kalau kita melihat Blockchain sudah sangat nyata aplikasinya dalam konteks desentralisasi transaksi keuangan atau apapun yang sifatnya menempel dengan Uang. Masyarakat luas di negara-negara maju dan negara berkembang seperti indonesia, sudah mulai mendekatkan diri dengan pemberdayaan Blockchain. Karena, sangat desentralistis. Sangat bisa di identifikasi, siapa yang bertransaksi (Transparan) Dan sangat akuntabel. Misalnya, kalau dulu kita bertransaksi keuangan lewat sistem yang sentralistik, biasanya kita harus menunggu 1, 2 atau 3 hari untuk sampai ke tujuan. Hari ini, masyarakat luas sudah tidak menginginkan model transaksi keuangan yang sangat Sentralistik. Intinya, kalau kita melihat, bahwa masyarakat luas sudah lebih mendekatkan diri, yang bukan hanya konsep.
Dari sisi korporat, kita melihat ada satu perusahaan, bernama Tesla. Tesla merupakan perusahaan ke enam yang mencapai Valuasi diatas 1 Triliyun $. Kalau kita lihat, nilai perusahaan ini per-Mobil terproduksi dan terjual, diatas 1,5 Juta Dollar. Padahal, mobil Tesla di jual di jalanan, hanya dengan harga 35 - 120 Ribu Dollar. Tetapi, harga saham atau harga Per-mobil yang terproduksi 1,5 juta Dollar. Di bandingkan dengan perusahaan-perusahaan otomotif lainnya yang bisa di bilang masih konvensional, seperti Volkswagen, Denlar, Toyota, dll. Yang mana harga perusahaan per-mobil terproduksi atau terjual, di kisaran 20 - 30 ribu dollar.
Divergensi atau Gap nilai perusahaan Tesla atau perusahaan-perusahaan lainnya mencerminkan beberapa hal - AI (Artificial Intelegencia - kecerdasana artifisial) yang sangat di amalkan dengan dua atribut lainnya, yaitu Robotic dan otonomi - mobil bisa menyupir sendiri tanpa di supiri oleh seorang supir. Tiga hal yang terjadi ini membuahkan evolusi teknologi yang luar biasa.
***
Yuval Noah Harari dalam buku Homo Deus : Brief History of Tomorrow memprediksi bahwa species Homo Sapiens akan musnah dari muka bumi. Homo Sapiens adalah kita - manusia. Kita manusia akan punah tidak lama lagi. Yuval memprediksi kepunahan manusia dalam waktu paling lama dua abad dari sekarang.
Punah yang dimaksud oleh Harari dalam Homo Deus tersebut bukan kepunahan fisik manusia dari muka bumi. Fisik dan mental manusia akan tetap ada. Tetapi, peran otoritatif manusia dalam pengambilan keputusan akan punah. Peran otoritatif manusia sebagai pengambil keputusan baik secara individu atau secara kolektif masyarakat, berbangsa, dan bernegara akan punah. Manusia tidak akan memiliki lagi otoritas dalam menentukan peran dan nasibnya di masa yang akan datang.
Manusia tidak akan lagi memiliki kehendak bebas atas dirinya. Manusia akan digerakkan dan diarahkan kehidupannya berdasarkan jejak data yang disebarkan olehnya. Data yang terinput baik secara sadar ataupun tidak sadar dalam interaksi sosial di media digital akan menentukan kehidupan selanjutnya. Manusia akan ditentukan jalan hidupnya oleh algoritma.
Sebelum sampai pada prediksi ini, Harari mengulas sejarah pihak otoritatif dalam diri manusia. Ada dua pihak otoritatif yang menjadi peran sentral dalam sejarah peradaban manusia. Otoritas pertama yang dijadikan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan manusia adalah sesuatu yang terdapat di luar dirinya. Dalam pengambilan keputusan, manusia pada zaman ini selalu mengacu kepada imaginasi, kitab suci, dan pemuka agama seperti, Pope, Pendeta, dan Ulama. Mereka semua adalah pemegang otoritatif yang harus dijunjung tinggi dalam pengambilan keputusan manusia. Pihak otoritatif ini selalu menjadi rujukan walaupun dalam banyak hal seringkali tidak sejalan dengan apa yang dirasakan oleh nurani manusia.
Dikarenakan keputusan yang didasarkan pada pihak otoritatif jenis pertama di atas seringkali tidak mengindahkan perasaan hati nurani manusia, maka timbulah pihak otoritatif jenis kedua. Kalau pihak otoritatif jenis pertama domainnya ada di luar diri manusia, maka otoritatif kedua ini bersumber pada diri manusia. Manusia pada zaman ini ketika akan mengambil keputusan yang terkait dengan diri personal ataupun secara kolektif tidak pernah mempertimbangkan sumber-sumber di luar dirinya. Tidak akan mengambil sumber etika, moral, dan estetika dalam menentukan jalan hidupnya dari kitab suci, para pemuka agama, ataupun imaginasi. Manusia akan selalu mempertimbangkan kebaikan dan keburukan untuk kehidupannya dari olah pikir, hati nurani dan rasional logisnya.
Otoritatif jenis kedua yang selalu mempertimbangkan berdasarkan kepada integritas kemanusiaan. maka, disebutlah otoritatif yang humanis. Manusia yang mempunyai masalah, maka manusia sendirilah yang harus memecahkannya. Manusia dengan semua kemampuan yang ada dalam akal dan nurani yang tahu jalan terbaik untuk mengatasinya.
Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi di akhir abad ke dua puluh, maka terjadi pula perubahan yang sangat mendasar dalam interaksi sosial manusia. Hampir seluruh interaksi antar sesama manusia di abad ini meninggalkan jejak digital. Jejak digital yang bisa merekonstruksi profil personal para penggunanya. Personal profiling yang mungkin tidak disadari oleh penggunanya, tapi secara akurat personal profiling ini bisa memberikan alternative terbaik ketika sedang mencari pilihan-,pilihan untuk memenuhi kebutuhannya. Misal, dia akan diberikan sejumlah pilihan film yang akan ditonton oleh YouTube berdasarkan jenis dan kriteria film yang telah ditonton oleh dia sebelumnya.
Jejak personal data dari milyaran orang akan menjadi big data. Big data yang terkumpul dalam raksasa media Google, Facebook, Microsoft, Apple, etc. akan menjadi algoritma untuk menentukan kehidupan manusia di kehidupan yang akan datang.
Harari memberikan satu contoh real bagaimana big data dapat menentukan kehidupan manusia. Dia menyebutnya big data telah menyelamatkan nyawa Angelina Jolie. Big data menyebutkan jika terjadi mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 maka 87 persen akan menyebabkan breast cancer. Walaupun pada saat test DNA kondisi badan Angelina Jolie sehat dan bugar dan perasaannya pada saat itu baik-baik saja, tapi karena big data menyebutkan potensi terjadinya breast cancer besar, maka nalar dan pikiran sehatnya ditundukkan oleh big data. Maka diapun menjalani mastectomy uuntk mencegah kanker payudaranya. Inilah contoh konkret bagaimana big data bisa mengalahkan nalar sehat manusia. Algoritma mengalahkan perasaan dan akal sehat.
Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi di akhir abad ke dua puluh, maka terjadi pula perubahan yang sangat mendasar dalam interaksi sosial manusia. Hampir seluruh interaksi antar sesama manusia di abad ini meninggalkan jejak digital. Jejak digital yang bisa merekonstruksi profil personal para penggunanya. Personal profiling yang mungkin tidak disadari oleh penggunanya, tapi secara akurat personal profiling ini bisa memberikan alternative terbaik ketika sedang mencari pilihan-,pilihan untuk memenuhi kebutuhannya. Misal, dia akan diberikan sejumlah pilihan film yang akan ditonton oleh YouTube berdasarkan jenis dan kriteria film yang telah ditonton oleh dia sebelumnya.
Jejak personal data dari milyaran orang akan menjadi big data. Big data yang terkumpul dalam raksasa media Google, Facebook, Microsoft, Apple, etc. akan menjadi algoritma untuk menentukan kehidupan manusia di kehidupan yang akan datang.
Harari memberikan satu contoh real bagaimana big data dapat menentukan kehidupan manusia. Dia menyebutnya big data telah menyelamatkan nyawa Angelina Jolie. Big data menyebutkan jika terjadi mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 maka 87 persen akan menyebabkan breast cancer. Walaupun pada saat test DNA kondisi badan Angelina Jolie sehat dan bugar dan perasaannya pada saat itu baik-baik saja, tapi karena big data menyebutkan potensi terjadinya breast cancer besar, maka nalar dan pikiran sehatnya ditundukkan oleh big data. Maka diapun menjalani mastectomy uuntk mencegah kanker payudaranya. Inilah contoh konkret bagaimana big data bisa mengalahkan nalar sehat manusia. Algoritma mengalahkan perasaan dan akal sehat.
Vacal point yang hendak di sampaikkan Yuval Noah Harari, dalam manusia masa depan - Sapiens, "Kelak akan ada dua kelompok manusia. Pertama, Manusia yang menguasai algoritma Sosial dan Algoritma Digital. Kedua, manusia yang hanya menjadi Konsumen atau orang yang hanya menjadi Followers.
Ujungnya adalah orang -orang yang menguasai algoritma digital akan mendikte orang-orang yang beradai di posisi bawah.
Untuk ilustrasi lebih lengkap bagaimana algoritma bisa menjadi entitas otoritatif di masa depan yang mengalahkan peran Tuhan dan manusia itu sendiri, silakan baca saja Buku Yuval Noah Harari.
***
Di tengah-tengah disrupsi informasi, kita mengenal yang namanya “digital demensia.” Menurunnya fungsi otak, akibat penggunaan teknologi yang berlebihan. Termasuk teknologi informasi.
Dengan kemajuan perangkat teknologi, sirkulasi informasi berlangsung dengan velocity yang sangat tinggi. Per detik menit, sirkulasi informasi terjadi di sekitar kita. Dengan gadget, informasi ditransmisikan ke kanal-kanal Sosmed; termasuk WAG.
Terjadi yang namanya abundance information atau berlimpahnya informasi, namun minim otentifikasi. Berita politik, gosip celebrities, video content, meme dan berbagai infografis di share ke kanal-kanal Sosmed tanpa otentikasi pikiran. Otak kurang bekerja/berkreasi, karena SEMUA HAL DIPEROLEH DENGAN INSTAN/COPY PASTE
Masyarakat selaku konsumen informasi, menjadi “pemamah konten.” Agitasi narasi dan provokasi meme, bersarang dalam emosionalitas demi viralitas untuk meng-influence publik. Sementara ruang kognitif dan otentifikasi, menjadi minim—tak bekerja.
Akibatnya, orang memahami suatu isu, hanya di permukaannya saja, berdasarkan agitasi headline. Judul yang panas dan provokatif, menjadi menu utama, tanpa proses kognisi yang mendalam. Headline yang di share, hanya memberi makan emosionalitas, bukan untuk kemajuan pikiran atau critical of thinking
Akibatnya, terjadi penurunan fungsi otak untuk berfikir otentik bin produktif, karena orang merasa, setiap saat dia bisa copy paste dan share content dalam abundance information. Dalam jangka panjang, ini berbahaya bagi perkembangan kognitif bangsa.
Celakanya, dalam abundance information tersebut, proses konsumsi konten, dalam ranah politik, mengalami dualitas sirkulasi. Antara kelompok A Vs kelompok B. Hilang diversifikasi kognitif, karena standar kebenaran dikangkangi oleh dualitas sirkulasi politik.
Sebab itulah, mungkin saya mulai mengurangi aktivitas di WAG, karena kekhawatiran akan terjadi penurunan fungsi otak, selain tak mau dikangkangi oleh blok sistem negatif yang mereduksi diversifikasi pengetahuan dan produktivitas. Kalaupun aktif, hanya untuk hal-hal penting saja
Dengan kemajuan perangkat teknologi, sirkulasi informasi berlangsung dengan velocity yang sangat tinggi. Per detik menit, sirkulasi informasi terjadi di sekitar kita. Dengan gadget, informasi ditransmisikan ke kanal-kanal Sosmed; termasuk WAG.
Terjadi yang namanya abundance information atau berlimpahnya informasi, namun minim otentifikasi. Berita politik, gosip celebrities, video content, meme dan berbagai infografis di share ke kanal-kanal Sosmed tanpa otentikasi pikiran. Otak kurang bekerja/berkreasi, karena SEMUA HAL DIPEROLEH DENGAN INSTAN/COPY PASTE
Masyarakat selaku konsumen informasi, menjadi “pemamah konten.” Agitasi narasi dan provokasi meme, bersarang dalam emosionalitas demi viralitas untuk meng-influence publik. Sementara ruang kognitif dan otentifikasi, menjadi minim—tak bekerja.
Akibatnya, orang memahami suatu isu, hanya di permukaannya saja, berdasarkan agitasi headline. Judul yang panas dan provokatif, menjadi menu utama, tanpa proses kognisi yang mendalam. Headline yang di share, hanya memberi makan emosionalitas, bukan untuk kemajuan pikiran atau critical of thinking
Akibatnya, terjadi penurunan fungsi otak untuk berfikir otentik bin produktif, karena orang merasa, setiap saat dia bisa copy paste dan share content dalam abundance information. Dalam jangka panjang, ini berbahaya bagi perkembangan kognitif bangsa.
Celakanya, dalam abundance information tersebut, proses konsumsi konten, dalam ranah politik, mengalami dualitas sirkulasi. Antara kelompok A Vs kelompok B. Hilang diversifikasi kognitif, karena standar kebenaran dikangkangi oleh dualitas sirkulasi politik.
Sebab itulah, mungkin saya mulai mengurangi aktivitas di WAG, karena kekhawatiran akan terjadi penurunan fungsi otak, selain tak mau dikangkangi oleh blok sistem negatif yang mereduksi diversifikasi pengetahuan dan produktivitas. Kalaupun aktif, hanya untuk hal-hal penting saja
*Pustaka Hayat
*Pejalan Sunyi
*Rst
*Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar