Mengenai Saya

Senin, 05 Oktober 2020

SAKRALITAS 5 FEBRUARI ; ANTARA HMI DAN AYAHANDA LAFRAN PANE

Saat melihat orang-Orang begitu Bersemangat memperebutkan sebuah kedudukan Tinggi.

Pikiran saya tertuju pada sosok yang dipaksa mempunyai kedudukan mentereng. Jangankan ikut berlomba, ia bahkan ditawarkan hampir semua jabatan. Tetapi, tetap dia menolak. Bahkan berbagai materi yang diantarkan kedepan pintu rumahnya, Ia tetap tak mau dan tetap bangga menggenjot sepeda tuanya.

Suatu waktu ditahun 80-an, ia memanggil Anaknya, khusus untuk urung rembuk, membantunya Berpikir, tentang sebuah Surat dari Istana, " Ia (Lafran) ditawari sebuah kedudukan Tinggi, menjadi Penasehat Presiden.

Anaknya dengan Naif bertanya, "Orang-orang berlomba menjadi pejabat tinggi, mengapa ayah Justru tidak berminat?". Apa jawaban Ayahnya, "bagiku, kedudukan itu untuk diamanahkan kepada orang yang mampu, bukan diperebutkan Seperti Piala. Agar ada kemajuan, agar ada Progres, ada harkat dan martabat bangsa yang menukik naik, agar kolusi dan korupsi hilang. Kekuasaan bukan alat untuk memperkaya diri sendiri, tetapi untuk memperkaya bangsa. Inilah yang menurutku kebiasaan yang benar. Bukan membenarkan yang biasa".

Anaknya bertanya lagi sambil bercanda,  "memangnya ayah, pernah memegang kekuasaan. Ayah kan cuman Guru dan Dosen biasa. Kita tidak punya Harta berlebih, bahkan kita tidak punya rumah sampai sekarang?". Jawab ayahnya, "kau saja yang tidak tahu, nak. Sebenarnya banyak peluangku untuk berkuasa, bertahta dan Kaya melintir. Aku pernah ditawari menjadi menteri, pejabat tinggi, petinggi Partai sampai Menjadi Rektor. semua ayah Tolak. Itu belum dengan banyaknya Materi-Materi yang diantarkan kedepan pintu rumah kita. tetapi, ayah menolak dan mengembalikannya. Bukan karena ayah Tidak bersyukur pada Nikmati, tetapi masih banyak yang lebih memButuhkan. Gaji ayah sebagai dosen cukup untuuk memenuhi kebutuhan hidup kita"

Duhaaaiii...!.

Demikianlah Sosok Lafran Pane, Pengagas Utama Organisasi Mahasiswa Tertua DiIndonesia, Kadernya Ribuan bahkan Jutaan. Tetapi, sampai detik ini, hanya segelintir saja bahkan jauh panggang dari api yang berhasil Meresapi, mendedah Setiap lekuk pikiran Sang Founding. Bahkan yang Kontra dan Paradoks dengan Sikap dan Lakunya lebih banyak, tetapi bangga dan congkak.

Ayahanda Lafran Pane, pendiri dan peletak alas pikir HmI, ketika memberi sambutan pada Milad HMI ke-22 Di HmI Cabang Yogyakarta, Tanggal 5 Februari 1969, Berujar bahwa " yang membedakan HmI dengan organisasi lainnya adalah perkaderannya ; dimana kader yang di hasilkan HmI adalah kader yang berwawasan Keislaman, Keindonesiaan dan kemahasiswaan, dengan 5 kualitas Insan cita dan Bersifat Independen". (Baca: HmI Chandradimuka Mahasiswa)

Ada dua hal yang ingin saya beri Underline dari pernyataan Ayahanda Lafran Pane : pertama, HmI adalah organisasi Kader yang Independen sejak berdiri hingga sekarang, Artinya ialah kader HmI yang tidak terkooptasi oleh tendensi kepentingan di luar kebenaran dan keadilan. Kedua, mindset atau Cara Pandang kekaderan yang di bangun ialah Cara pandang keislaman, keindonesiaan dan kemahasiswaan. hal inilah yang menampilkan kepribadian kader yang kritis dan tidak latah serta komperhensif.

Mestinya kita telah Mahfum pada Ayahanda Lafran Pane, Peletak alas Pikir HMI, manusia yang berpikir melampaui Zamannya (Visioner) : Hidupnya Tidak bergelimang Harta dan kekayaan. Kekayaan terbesarnya adalah almanak pikiran dan gagasanNya, yang diTangkap seratnya oleh Cak Nur dalam NDP HMI. 

Konon, Lafran Pane Mengajar dengan berjalan kaki berkilo. Di Jogya Gubuknya reot, tidak memiliki Kursi. Sampai Ia wafat, Ia tidak memiliki Rumah diJakarta.

Spirit kesederhanannya menubuh dalam aliran darahnya. Seperti Kecintaannya pada Manusia Agung Nabiullah Muhammad SAW, yang tetap tidur beralaskan pelepah kurma disemenanjung Arabia sana, Padahal menaklukkan dua imperium besar : Bizantium dan Persia. Sederhana dan Miskin itu dua hal yang berbeda. Sederhana adalah ketika seseorang mampu menggunakan kebesaran Nama dan popularitasnya untuk memperkaya diri. tapi, tidak ia lakukan.

Di Momentum KelahiranMu, Tidak ada geliat pikiran telanjang PelanjutMu yang mampu menangkap Spirit kesederhanaanMu pada Rumah yang Engaku Cita-citakan sebagai Harapan Masyarakat Indonesia.

Al-Fatihah "PelanjutMu" yang di Kirimkan Untukmu hanya Omong kosong. Sebab, Mereka tidak benar-benar menginsyafi serat pikiran dan Gagasan Besarmu. Justru, Mereka hanya menjadikan Rumah yang engkau cita-citakan sebagai KAWAH CHANDRADIMUKA, sekedar Kendaraan untuk memperkaya diri, membangun populisme bahkan mereka adalah pelaku kesewenang-wenangan dinegeri ini.

Mereka Justru kini membawa masuk penyakit busuk dan buruk di dalam Rumah yang engkau Cita-citakan menjadi Pelipur lara bagi Masyarakat Indonesia.

***

Panyabungan Pane, yang akhirnya bergelar Sutan Panguraban adalah seorang penulis, Wartawan, guru dan aktivis. Sutan punya banyak stok nama, karena dia dianggap seorang Guru yang pandai. Acap kali ia diminta untuk memberikan nama buat anak dan cucu penduduk kampungnya.

Tapi, entah kenapa saat anak bungsunya lahir. Ia tak lansung menemukan nama yang tepat. Ia putar memori otaknya untuk mengingat segudang Referensinya. Dari sekian banyak Nama Tokoh, entah Mengapa Sutan Pangarubuan, menamai anak Bungsunya, dari seorang pemenang Hadiah Nobel tahun 1907. " Laveran", atau Lengkapnya adalah "Charles Louis Alphonse Laveran", seorang Dokter Prancis yang bertugas di AlJazair dan pertama kali menemukan parasit didarah penderita Malaria. Karena temuannya itu, pil Kina dan Vaksin Malaria lainnya ditemukan.

"Laveran" tidak terdengar Ganjil, bila diucapkan dengan lidah Prancis. Sutan Mencoba-Coba mengucap Laveran beberapa kali diujung Lidahnya. Berdecak-decak lidahnya. Setelah berulang kali, lidahnya Keseleo, Insyaflah dia, Ini sebuah kata yang terlalu asing bagi Lidah Orang Sipirok. Tapi mau apa, Sutan Terkesan Betul dengan Tokoh Ini.

Akhirnya, setelah beberapa penyesuaian, ia berketetapan Hati, yang Paling Pas Dimulut dan lidahnya Adalah "LAFRAN" saja, tak usah Laveran. Dalam Bayangannya, ini tetap nama Prancis, tapi Rasa Sipirok.

Sutan lalu membumbungkan Doa, "Semoga Anak ini bisa Juga membawa manfaat buat kemanusiaan dan membawa kesehatan pula Bagi Istrinya". Itulah Ayahanda Lafran Pane, anak Bungsu dari 7 bersaudara.

***

5 Februari adalah Tanggal Lahir HMI atau tanggal Lahir Ayahanda Lafran Pane?. Jika 5 Februari adalah tanggal lahir HMI. So, Mengapa AYAHANDA LAFRAN PANE memalsukan Tanggal Lahirnya, dari 5 Februari 1922 menjadi 12 April 1923?.

Buku berjudul "LAFRAN PANE : Jejak Hayat dan Pemikirannya", karya Bang Hariqo WS. Sekaipun awalnya buku tersebut Merupakan hasil penelitian skripsi beliau, yang dibimbing langsung oleh ekspert sejarah HMI, "Prof. Agus Salim Sitompul yang akrab dipanggil Bang Agus. Sangat berhasil Merekam Riwayat Ayahanda Lafran pane. 

Dari Biografi Ayahanda Lafran Pane. Kita menemukan bahwa Tanggal kelahirannya menuai banyak kontra. Bahkan Babe Ridwan Saidi, selaku sejarawan marah besar. Pasalnya ayahanda Lafran Pane dianggap telah memalsukan sejarah.

Dalam lampiran buku Hariqo WS, beliau mewawancarai Iqbal Pane mengenai tanggal lahir ayahnya. Pada saat itu Iqbal dan adeknya (Tetty), ditanya oleh Akbar Tanjung ; "Sebenarnya Ayahmu  (Lafran Pane) lahir tanggal berapa?. Sebab,  Selama Lafran Pane hidup hampir tidak ada yang tahu tanggal lahir beliau yang asli dan Selama itu orang-orang hanya tahu bahwa beliau lahir tanggal 12 April 1923.

Iqbal Pane menjawab, "Sebetulnya Ayahku (Lafran Pane) dilahirkan pada tanggal 5 Februari 1922 di padangsidempuan. BELIAU SENGAJA MENGGANTI TANGGAL LAHIRNYA DENGAN MAKSUD UNTUK MENGHINDARI FIGURITAS DIRINYA DAN HMI, SERTA MENGHINDARI KULTUS TERHADAP DIRINYA

Oleh sebab itu, maka hematku bahwa 5 februari bukanlah Tanggal lahir HMI yang baku, jika kita luput dari pikiran, gagasan dan sikap Seorang Lafran pane.

Merayakan Milad HMI, maka konsekuensinya adalah membongkar isi kepala (Gagasan dan Pikiran) Lafran pane. Sebab, Jika Lafran Pane adalah Bapak Ideologis Kader HMI, sepatutnya ada hal yang di wariskan kepada Anak-anaknya. Bukan sekedar, menggunakan simbol-simbol HMI dan Membersamai Geaget untuk berselancar, yang justru merupakan selera Kekuasaan. 

Di Monumen Kelahiran HMI, yang bertepatan dengan Tanggal Lahir Penggagas utamanya, sejatinya Student need, student interest senantiasa di kembangkan dalam setiap aktivitas kader HMI di semua level, apalagi level paling bawah dalam struktur kekuasaan HMI. Tetapi, mirisnya propaganda rutinitas pengembangan diri, kelompok muda mahasiswa, hanya di lakukan oleh segelintir cabang dan komisariat di indonesia sebagai instrumen pembinaan

HMI dan Lafran Pane menitikberatkan kadernya untuk menjadi "Muslim, intelektual, profesional", dengan penekanan "Iman, ilmu, amal", yang secara integral Diterangkan dalam Nilai-Nilai Dasar Perjuangan, sebagai sumber nilai dan buku saku yang menjadi pedoman bagi kader HMI.

HMI ini dibangun Ayahanda Lafran Pane dengan penuh rasa ikhlas. Hanya mengharapkan Rahmat dan ridho Allah. Keikhlasan itulah menjadi Sebab masih ada HMI sampai saat ini.

Bersama kawan-kawannya yang visioner, Lafran muda mendeklarasikan organisasi mahasiswa Islam. Mereka Memproyeksikan, kelak kader-kadernya akan terus bermanfaat bagi ummat dan bangsa.

Lafran pasti paham. Perkumpulan yang dibangun atas rasa kecewa dan kemarahan, hanya akan memuaskan nafsu segelintir elit, juga pasti tidak bertahan lama. Dengan berbagai penolakan dari beragam elemen kala itu. Lafran tetap sabar memberikan pemahaman, bahwa HMI harus hadir untuk menjawab problem ummat dan bangsa ;  "Rekan-rekan boleh menyatakan setuju dan boleh tidak setuju, hari ini adalah rapat pembentukan organisasi mahasiswa Islam, karena semua persiapan yang diperlukan sudah beres". demikian Lafran mengawali pembicaraan.

Lafran muda secara cerdas membangun negosiasi dengan semua kalangan, hingga akhirnya mereka menerima eksistensi  HMI. Terlibat dalam mempertahankan keutuhan negara kesatuan RI saat agresi militer Belanda, melawan pemberontakan PKI Di Madiun. Hingga Jenderal Besar Soedirman berucap, " HMI adalah Harapan Masyarakat Indonesia".

Lafran bukan pemburu popularitas atas  organisasi yang baru diproklamirkannya. Padahal, Ia bisa melakukannya. Toh, Ia perintis utamanya. Tetapi, faktanya demi menangalkan figuritas dirinya, Ia Rela Melasukan Tanggal Lahirnya, yang bertepatan dengan Hari Lahir HMI. Hal ini menunjukkan kepada Kita Bahwa HMI Niscaya Lebih besar dari Dirinya (Lafran Pane). Dari ribuan kader. HMI, Ia letakkan diatas Kepalanya. Bukan sebaliknya seperti yang Kebanyakan kita yang mengaku Kader Lakukan. 

Selain itu, Lafran tidak sedang mencari kuasa. Seperti, Saat banyak kalangan beranggapan anggota HMI hanya Mahasiswa Yang berasal dari STI. Justru, Lafran dengan legowo dan Rendah Hati memberikan mandat ketua umum pada "HMS Mintareja". Lafran rela menjadi bawahannya. Sebab, Apapun posisi strukturalnya, semua kader adalah pemikul beban keummatan dan kebangsaan, begitu anggapan Lafran muda kala itu.

Dari biografinya, kita dapati ada pesan luar bisa yang terinklud dalam setiap etape hidupnya. Ia memberikan nasihat yang terus "hidup", agar semua kader harus meluruskan motif berprosesnya. Apa Motif Kita Berhimpun?. Perjelas. 

HMI bukan lahir akibat kemarahan dengan elemen lain, tapi semangatnya ingin turut serta melahirkan generasi Islam yang mempunyai semangat pertanggung jawaban ; Mempertanggung jawabkan semua pengabdiannya di hadapan Allah, kepada sejarah umat manusia dan Kepada sejarah perjalanan bangsa ini.



* Pustaka Hayat
* Yakin Usaha Sampai
* Muslim Intelektual profesional
* Makassar, 24 Juni 2018
* Rst - Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar