Imam Ali pernah berkata "ikatlah Ilmu dengan menulis". Bahkan ulama termasyuhur, Imam Al'Ghazali pernah bertuah "kalau kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar. maka, jadilah penulis". Tetapi, kalau misalkan engkau adalah politisi, apa jadi?.
Jadilah penulis seperti M.Natsir, Hamka, Soekarno, Sjahrir atau Tan malaka. dan rata-ra para politisi kawakan sebelum berpolitik mereka menulis habis-habisan. coba cek satu-satu, siapa politisi handal di masa lalu yang tidak menulis. Cek saja sendiri.
Mereka menjangkarkan politiknya, pada gagasan, ideologi, pada suatu kedalaman nilai. apalagi, kita ini yang baru pintar sedikit bicara politik, cinta dan ini itu. Tulislah.
Bahkan saya ingin meng-quote pernyataan Promoedya Ananta Toer yang agak keras. begini katanya "orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis. maka ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah".
Apa yang diyakini Pram terkonfirmasi dari perjalanan penulisannya sendiri. Setelah karirnya tamat akibat prahara 1965, Pram, di usia mendekati 50 tahun, sebagai tahanan di Pulau Buru, ia memulai lagi memahat pikirannya dengan mesin ketik lawas merk Royal 440 di atas kertas doorslag.
Ia terus menulis selama bertahun-tahun tanpa harapan kapan bisa diterbitkan. Harapan yang kelewat mewah bagi seorang buangan, tahanan politik tanpa pengadilan. Naskah-naskah itu hanya berguna sebagai penghibur lara, dibacakan kepada sesama Tapol di Pulau Buru.
Nyatanya setelah keluar dari Pulau Buru, sekitar 1980, Pram berhasil menulis ulang karya-karya yang kemudian berjuluk Tetralogi Buru. Bumi Manusia, novel pertama dari tetralogi menghentak publik. Cetak ulang hingga 10 kali dan mendapat apresiasi tinggi. Bahkan Harian Angkatan Bersenjata sempat memujinya sebagai “Sumbangan baru untuk khazanah sastra Indonesia”. Konon ibu negara saat itu juga sempat sangat menyukai Novel Bumi Manusia.
Justru karena sangat laris, rezim Orde Baru kemudian melarang penerbitan dan peredaran karya tersebut dengan alasan mempropagandakan Marxisme-leninisme dan komunisme. Meskipun tidak ada satu pun dari ketiga kata itu bisa ditemukan dalam Novel Bumi Manusia. Orde Baru, satu rezim anti buku yang pengikutnya masih ada sampai hari ini. Warisan paling memalukan dari sebuah rezim.
Ketika Pram memperoleh anugerah Ramon Magsasay Award tahun 1995, sejumlah kalangan penulis, sastrawan dan budayawan eks Manifesto Kebudayaan menentangnya. Mereka adalah “musuh-musuh” Pram pada era Pra-1965 yang menuding Pram sebagai algojo Lembaga Kebudayaan Rakyat yang paling ganas menghantam mereka. Banyak tokoh Manifesto kebudayaan yang harus mendekam di penjara akibat ulah Pram dan kawan-kawan Lekra-nya.
Pram sendiri melihat kiprahnya Pra-1965 hanya sebatas “polemik biasa". Ia menyangkal melakukan aksi lebih dari itu dan menantang konfrontir. Faktanya, banyak penulis masuk bui akibat “polemik biasa” yang disebut Pram.
Namun lepas dari itu, bukankah Pram sudah menebus "dosanya"?. 1965-1969 mendekam di Nusa kambangan, 1969-1979 dibuang ke Pulau Buru, 1979-1992 menjalani tahanan rumah di Jakarta, 1992-1999 menjadi tahanan kota yang wajib lapor seminggu sekali di Kodim Jakarta Timur. Jika kumpulan jumlah tahun pengekangan tersebut masih belum cukup bagi Manifesto kebudayaan, yang tersisa hanyalah hukuman seumur hidup atau tembak mati. Untuk dosa intelektual?.
Kredibilitas karya sastra jarang dihubungkan dengan integritas moral penulisnya. Itulah hukum yang berlaku secara internasional. Walau sikapnya dicemooh, karya-karya Pram telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing, diterbitkan lebih dari 200 kali di luar negeri. Tidak ada penulis Indonesia yang melampauinya. Ia bagaikan tonggak beton di dunia penulisan Indonesia.
Hari ini, ketika novel-novel lamanya masih dipajang berderet-deret di Gramedia, bersaing dengan novel-novel karya generasi milenial, Pram telah membuktikan bahwa menulis sungguh bekerja untuk keabadian.
Juga tahun 2019 ini, Hanung Bramantyo, sineas paling maju dari generasinya, mengadaptasi novel Bumi Manusia kedalam film berjudul sama sepanjang 181 menit, tanpa nyali untuk melampaui imajinasi Pram. Ia turut mengabadikan Pram (baca: mandeg). Setelah puluhan tahun dikekang Orde Baru, apakah Pram pun ingin mengekang pembacanya?.
Seorang senior, yang juga aku kagumi bertekad hanya akan sekali menulis buku, yang ia harap menjadi karya sepanjang masa. Setara Das Kapital. Ia menolak menyicil menulis. Saya menunggu Tulisan-tulisannya yang renyah.
Maka, daripada itu, menulislah selagi bisa. Menulislah bagai seorang pemanah meluncurkan ratusan anak panah. Ikhtiarkan memahat keabadianmu sendiri. Sayangi karya-karyamu.
menulis adalah bekerja untuk keabadian. jadi, jika hendak menjadi politisi yang namanya di kenang seperti para founder. maka, menulislah.
Memang merangkai imajinasi dalam suatu narasi yang apik itu sulit. Sebab itu, menulislah seperti kamu bicara. J.K.Rowling (Novelis) pernah memberi nasehat begini, "menulislah tentang hal-hal yang kau ketahui. tulis tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri".
Itulah Sebabnya, mengapa saya kerap menulis, apa saja. Apapun itu. Entah, yang saya pikir, saya rasa, saya imajinasikan atau mewakili perasaan yang di rasa orang lain setelah mereka berbicara panjang. Satu hal, saya juga tidak berharap di baca, mendapat Like atau mengejar Followers. Sebab, ini pekerjaan kebadiaan. Kelak, jika punya daya dan kekuatan. Saya akan menerbitkannya.
Ada satu pekikan Pram yang sangat ku sukai ; "Tahu kau, mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun?. Karena, kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. Pram, Anak Semua Bangsa.
itu juga alasannya, menurutku, Perintah membaca dalam Al-Qur'an Surat Al-Alaq, sama kuatnya dengan keharusan menulis. Apa yang dibaca?. Yang dibaca adalah teks, entah yang skriptual ataupun tanda (sign). Menurut Hjelmslev : penanda merupakan sesuatu yang bersifat matrealistik (terindrai), sementara petanda adalah konsep pikiran. Keduannya adalah teks-tulisan secara universe.
Jika membaca adalah nilai paling fundamental pada proses pewahyuan Al-Qur'an pertama kali. maka, bobot yang sama pada keharusan menulis.
Saat Jari jemari tertahan di tuts geaget, imajinasi mandek jinak, mata sayup, tubuh tak bergairah. Mungkin, kurang asupan nutrisi (membaca). Sebagaimana sentilan gagasan kerucut Edgar Dale. Atau menurut para penantang empirisme, tentang alat indera epistemologi yang lemah tak berdaya.
Membaca dan menulis, ibarat pembuktian Hipotesis Hubungan kuat antara makan dan buang hajat. Bagaimana mungkin, kita buang hajat secara sempurna, jika tidak ada nutrisi (Gizi), yang masuk kedalam mulut.
Terakhir, sebagai pengingat diri, saya teringat dengan tutur Rumi yang maulana itu ; "Bila tak kunyatakan keindahan di dalam kata, maka biarlah ku simpan dalam dada"
“verba vallent scripta mannent”. demikianalah sabda orang dahulu, suatu ketika dan akan tetap bergema indah hingga hari ini. tulisan akan tetap abadi, tapi pembicaraan akan mudah hilang, demikian kira-kira maksud kalimat tersebut.
Itulah yang acap kali kujawab, ketika kawan-kawanku bertanya untuk apa sebenarnya kamu menulis dipesbuk, whatsapp dan media sosial lainnya, seumpama kamu bisa mengubah dunia saja?.
Tak ada yang sia-sia dari semua yang dihidangkan dalam beranda. semuanya tergantung matamu memandang, bak kata penyair; ” orang lain merampas bunga, biaralah aku memetik kuntum”. selalu ada sisi baik.
Tetap asah penamu. tulis dan bagikan pada dunia lalu biarkan semesta dan demi perjalanan waktu yang akan merekam dan membukannya.
Tanam saja. Lalu, biarkan Tuhan yang memanenkannya..!
* Coretan Pena Pinggiran
* Rst- Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar