Wujud dari cinta abadi, yang selalu tertanam dalam sanubari baginda Nabi kepada sayyidah Khodijah, terlihat ketika Rosul merindukannya.
Beliau menyembelih kambing yang kemudian di bagi-bagikan kepada teman-teman Khodijah. "Aku tak pernah lebih cemburu selain kepada khodijah, terutama ketika Nabi mengenang dan menyebut-nyebut Namanya". Ujar Aisyah.
Rosulullah pun menegaskan kedudukan Khadijah di hati beliau; " sungguh Allah telah menganugrahkan rasa cinta kepada Khodijah". (H.R. muslim No 2435).
Khodijah merupakan tanda kehadiran Tuhan dalam pergumulan spiritual Nabi Muhammad. Ia bisa di sejajarkan dengan Ismail dan Hajar dalam pergulatan Keimanan Ibrahim.
Khodijah Al-Kubra (RA), Adalah simbol kesetiaan seorang istri yang senantiasa menemani Rosulullah SAW dalam suka dan duka, serta mengorbankan jiwa- raga dan hartanya dalam upaya penyebaran risalah.
Ketika Bulan ramadhan hal itu mengingatkan kita Akan wafatnya seorang wanita agung dunia islam dan istri penuh kasih sayang, sekaligus sosok wanita yang pertama kali beriman kepada Rosulullah SAW. Keimanan dan pengorbanan yang di tunjukkan beliau, mengantarkannya pada sebuah maqom, sehingga Allah mengucapkan salam padannya.
Sayyidah Khodijah adalah puteri Khuwailid. Dari sisi keperempuanan, kecantikan, kepribadian dan ketokohannya merupakan wanita terdepan di masanya. Beliau di kenal dari keturunan yang memiliki kemuliaan dan pekerja keras. Sayyidah Khodijah RA, memiliki kepribadian yang tinggi, pemikiran yang kuat dan pandangan yang benar.
Kedermawanannya yang luar biasa dan sikapnya yang konsisten, bukan saja membuatnya menjadi pemimpin wanita kaum quraisy. Tapi, juga wanita seluruh alam.
Tiap pagi khodijah, selalu membuat dan menyiapkan Teh Pada Rosulullah, suaminya. Teh itu di teguk pada Cawam yang sama, dengan posisi yang sama Pada bibir cawam.
Suatu pagi Rosulullah, menghabiskan Teh yang di buatkan Istrinya. khodijah lalu berguman ; Wahai Suamiku, mengapa Engkau tidak menyisahkan Teh itu padaku, sebagaimana pada hari-hari biasanya". Kata Rosulullah ; Aku sangat kehausan, hingga tak menyisahkan untukMu".
Ternyata, Khodijah malarutkan Garam pada Teh. Karena tak ingin, membuat Khodijah (Istrinya) kecewa. Rosulullah menghabiskan sendiri Teh tersebut.
Begitulah adanya cinta Rosulullah Pada Istrinya.
Lantas, Boleh kah, kita (perempuan), Mempersonifikasikan diri serupa Khodijah, sang belahan Jiwa Rosulullah itu. Tanya, seorang kawan.
"Boleh, bahkan Kita Rindu perempuan yang mewakafkan Rahimnya untuk keberlansungan peradaban ummat".
Tetapi ingatlah, satu hal, dan merupakan sesuatu yang cukup mendasar pada Khodijah. saat Rosulullah SAW, kembali ke goa hira menunggu Wahyu kedua turun, setelah hari sebelumnya ia mendapat wahyu pertama di Goa Hira. Seharian penuh Rosulullah menunggu Wahyu kedua tersebut di sampaikkan. tetapi, Wahyu tidak turun-turun atau di sampaikan juga. Sehingga Rosulullah memutuskan untuk pulang ke rumah.
Di perjalanan menuju rumah. Tetiba, ada suara yang entah oleh Rosulullah pun tidak tau, dari mana asal suara tersebut. Akan tetapi, suara itu memanggil-manggil namanya. Muhammad..!, beliau menoleh ke kiri, kanan dan belakang. Tidak ada orang-orang. Namun, panggilan itu semakin bergema ; " Muhammad".!, beliau kembali menolah ke kiri, kanan dan belakang. Tidak ada orang-orang. Beliau jadi, takut. Begitu, Ia mendongakkan kepala ke atas, ia melihat malaikat Jibril duduk diantara langit dan bumi, bahkan Sayapnya menutupi Bumi.
Rosulullah SAW, mengalami ketakutan yang teramat luar biasa dan pulang kerumah dengan berlari. Mengetuk pintu rumah, begitu melihat bening mata, teduh tatapan dan senyum merekah, menawan dari belahan jiwanya: Khodijah. Seketika itu pula, setengah dari kegundahan dan ketakutannya Rosulullah Hilang dan sirna.
Dengan setengah ketakutan yang masih menguasai dirinya, Rosulullah berguman pada Khodijah : "Dzam mi luni (Selimuti aku)".
Pada cuplikan cerita diatas, merupakan Asbabul nuzul Wahyu kedua yang turun atau di sampaikkan kepada Rosulullah, yakni Q.S. Al-Mudassir. Dan sangat Implisit Termanya, jika di pendekatan pemahaman Tasawwuf. (Insya Allah, Jika saya Punya Kekuatan Saya uraikkan sependek pengetahuanku. Hanya saja, pesan Guruku. Sebaiknya setelah menikah).
Nah, jika ada yang hendak mempersonifikasikan Dirinya seumpama Khodijah. Hal yang paling mendasar ialah Bisakah, mereka menyerupai atau paling tidak, menghampiri salah satu identitas yang menurutku paling ringan dari Ummul Mukminin Khodijah, yakni ketika Rosulullah ketakutan, hanya dengan melihat Paras teduh istrinya, separuh dari ketakutan Rosulullah sirna. Bagaimana, bisa?.
Satu hal juga, yang menurutku, kita terdogma dan enggan mencari tau kebenaran, soal Khodijah adalah seorang Janda yang di nikahi Rosulullah dan berusia lebih tua dari Rosulullah. Khodijah Binti Khuwailid. Menurut Azd Dzahabi, salah seorang Ahli Hadist Ahlu Sunnah menyatakan, Usia Khodijah ketika menikah dengan Rosulullah Adalah 28 Tahun. DiNukilkan juga dalam riwayat yang lain. Yakni, Ibnu Abbas menyatakan bahwa Usia beliau dibawah 30 tahun. Sebahagian lagi mengatakan bahwa Khodijah Saat di nikahi Rosulullah ialah Usianya 25 tahun.
Dari pandangan para ahli sejarah dapat dan sebahagian Riwayat menukilkan, bahwa kisaran usia Khodijah Al-Kubro, ketika di nikahi oleh Rosulullah, antara 25 sampai 28 tahun. adapun Statusnya, sebagai seorang gadis, bangsawan, cerdas, cantik, terpelajar, pergaulan global dan bukan Kafir.
Memilih tinggal di Ma'la, bukan di Downtown Mekkah yang di penuhi oleh orang-orang Musyrik, waktu itu. kecuali keluarga Bani Hasyim yang beriman.
Tidak ada sebuah tradisi wanita tua menikah dengan Pria muda di tengah masyarakat Mekkah saat itu. Tidak ada juga Tradisi orang beriman menikah dengan orang kafir, apalagi sampai 2 kali dengan Klan Rendahan. Seperti itulah potret masyarakat mekkah saat itu.
Maka, sangat mengherankan jika beredar sejarah Fiktif secara luas dan diyakini oleh orang-orang yang bersikukuh itu sebagai sebuah kebenaran, padahal itu adalah kebenaran absurd, tanpa dasar dan Hanya asumsi.
Orang Arab memanggil Khodijah, sebagai Puteri Mekkah. karena, kekayaannya, dengan sebutan Ath-Thahirah, disebabkan reputasinya yang suci serta budinya yang luhur dan pribadi yang mulia.
Julukan ath-thahirah atau wanita yang suci, sudah dapat menjelaskan bahwa beliau masih suci atau Gadis. Dan seorang wanita suci untuk seorang lelaki suci yaitu Rosulullah Muhammad Saw.
Khodijah mengimani Wahyu Allah, jauh sebelum bertemu Nabi. Ketika bertemu dengan orang Tua Yahudi yang mengatakan akan hadir seorang utusan Tuhan, yang akan menjadi pemimpin Nabi-Nabi sebelumnya. Kemudiam orang Tua Yahudi tersebut dilempari batu dan diejek. Disaat itu Khodijah Justru terlihat tenang, bijak dan mempertimbangkan setiap kata yang terlontar dari orang Tua Yahudi tersebut, yang identitasnya tidak dijelaskan secara detail.
Berkenaan dengan lamanya penantian Khodijah sebelum mengenal Nabi Saw. Ibnu Hisyam menulis : " Khodijah al kubra senantiasa menantikan munculnya seorang Nabi yang dijanjikan oleh para orang-orang yang dekat dengan Allah sebelumnya dengan cara berdialog dengan Tokoh-tokoh agama Ilahi, seperti : Waraqah, Natsur dan Buhairah.
Hal ini menunjukkan bahwa sebelum Islam, Khodijah adalah seorang Muwahhid dan beriman, serta bukan janda yang berusia 40-an tahun saat di nikahi Rosulullah SAW.
jika Tidak ada khodijah, maka tidak ada pasangan yang sepadan Nabi Muhammad SAW.
Pada suatu malam, kala bintang-bintang terbenam dan suasana gelap gulita, Khadijah duduk di dalam rumah setelah thawaf mengelilingi Ka’bah.
Saat itu, Khadijah beranjak ke tempat tidur. Begitu berbaring, ia langsung terlelap. Layaknya dialami orang tidur, Khadijah memimpikan matahari turun dari langit Mekah dan berada di dalam rumahnya, dengan cahaya dan keindahan. Yang memancar di setiap penjuru, memenuhi seluruh sisi rumah.
Paginya Khadijah menemui Waraqah sepupu nya, " Wahai sepupu ku. beritakan apa makna tiga hari mimpiku yang sama?". Khadijah pun menceritakan mimpinya. wajah Waraqah berbinar, senyuman senang terlukis di kedua bibirnya.
Selanjutnya dengan tenang ia berkata kepada Khadijah, “Bergembiralah wahai saudara sepupuku!. Jika Tuhan membenarkan mimpimu, cahaya nubuwah akan masuk ke dalam rumahmu, dan dari sana cahaya penutup para nabi akan memancar.”
Menurut Ibn Ishaq, Waraqah meyakinkan Khadijah, bahwa suaminya kemungkinan besar seorang nabi.
Sejak saat itu Setiap kali ada seorang pemimpin Quraisy datang meminang, Khadijah selalu menolak. Khadijah menanti Purnama dambaannya. Menjadi sumber kebaikan untuk seluruh umat manusia, dan sumber cahaya semesta.
Salam atasmu wahai Ummul Mukminin, yang, kesyahidannya di tetapkan oleh Rosulullah sebagai "Tahun kesedihan". Sayyidah Khodijah Al Kubro RA. Wafat 10 Ramadhan/ 10 tahun kenabiaan/ 3 tahun sebelum hijriyah.
Sayyidah Khodijah, Perempuan Desiran Nafas Rosulullah. Getar kerinduan Rosulullah.
* coretan Pena NAPI


Tidak ada komentar:
Posting Komentar