Mengenai Saya

Minggu, 11 Oktober 2020

MASIH JAUH DARI KOTA DUNIA - BANJIR ; CITIZEN JOURNALISME



Curah Hujan tinggi, tak ada Kuasa Manusia. Sedang Dampak curah Hujan, Tanggung jawab manusia. (Paradoks).

Akal harus mampu mengurai, Mengapa Curah Hujan bisa tinggi, sampai pada proses terjadinya Hujan?. Sehingga proposisinya tidak menggunakan Kalimat bahwa semua itu "tak ada Kuasa Manusia". Sebab menururtku, hal itu bentuk pelarian terhadap Keadaan, Alam bahkan Tuhan. Lalu, "dampak Curah Hujan yang tinggi, yakni banjir". Hanya segelintir orang saja yang merasa paling bertanggung jawab atas itu. padahal hal ini merupakan Mata Rantai dari kealpaan semua Manusia.

Proses terjadinya Hujan karena Penguapan energi panas yang dimiliki matahari : membuat air laut, sungai, danau dan semua sumber air dipermukaan bumi lainnya mengalami penguapan.

penguapan merupakan proses terjadinya air yang berwujud cair menjadi Gas, sehingga air berubah menjadi uap-uap air dan memungkinkannya untuk naik ke atmosfer Bumi.

Semakin tinggi panas Matahari. maka, jumlah air yang menjadi uap-uap air yang naik ke permukaan atmosfer bumi semakin besar.

Uap-uap air yang naik pada ketinggian tertentu akan mengalami proses pengembunan. karena, uap-uap air berubah menjadi partikel-partikel es berukuran sangat kecil. Perubahan wujud uap air menjadi es tersebut. Disebabkan oleh pengaruh suhu udara rendah dititik ketinggian. Partikel-partikel es yang terbentuk akan saling mendekati dan bersatu sama lain sehingga membentuk awan.

Semakin banyak partikel yang bergabung, awan yang terbentuk akan semakin tebal dan hitam. 

Sedangkan Hujan terjadi karena Proses mencairnya awan akibat suhu udara yang tinggi. Awan yang terbentuk kemudian mengalami perpindahan dari satu titik ke titik yang lainnya, dalam satu garis Horizontal akibat arus angin dan perbedaan tekanan udara. Semakin besar ukurannya, karena menyatu dengan awan lainnya.

Butiran-butiran Es yang ada pada Awan akan tertarik oleh gaya Gravitasi bumi hingga jatuh ke permukaan bumi. Ketika jatuh butiran-butiran Es ini akan melalui lapisan udara yang hangat didalamnya sehingga berubah butiran es menjadi butiran air.

Hangatnya lapisan udara sehingga membuat butiran air tersebut sebahagian menguap keatas dan sebahagian lainnya terus turun ke permukaan bumi, itulah yang disebut Hujan.

Dalam Pendekatan Teks (Qalamullah). "Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, lalu menyerapkannya kedalam permukuan air (tanah) kedalam sumber mata Air dibumi kemudian ditumbuhkannya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan kemudian dijadikannya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Q.s az-Zumar :21).

Berdasarkan Teks Tuhan, tidak melulu soal gerutu lisan kita bahwa mengapa air yang turun Dan sikap mengabaikan, bahwa dengan Hujan akan banyak sesuatu tumbuh dan bersemi. 

pesan tersebut diulang dalam Q.S Ar-Rum : " dan diantara Tanda-tanda kekuasannya, dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan Akalnya. (Q.S Ar-Rum: 24).

Di ayat yang lain, Allah menjelaskan Siklusnya sampai turunnya Hujan yang sangat Saintifik; "Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan diantara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah oleh hujan diantara celah-celahnya dan Allah juga menurunkan butiran-butiran Es dari Langit, kami mengirimkan awan-awan sebanyak gunung-gunung. Maka ditimpakanNya (butiran-butiran) Es itu kepada siapa yang dikehendakinnya dan dipalingkanNya dari siapa yang dikehendakinnya. Kilauan kilat itu hampir menghilangkan penglihatannya. (Q.s. An-Nur :43).

"Dan kami mengirimkan angin yang menyuburkan atau mengisi (lawaqih) dan kami turunkam hujan dari langit, lalu kami memberikan kamu air dengan ukuran tertentu, dan sekali-kali bukanlah kamu yg menyimpannya (Q.s. Al-Hijr:22).

Al-Qur'an menggambarkan siklus penuh dari air. Bagaimana Air menguap?. Membentuk awan bergerak ke daratan, caranya turun menjadi hujan dan cara kembalinya ke lautan dalam beberapa Tahap Dan masih banyak ayat lainnya. Secara garis besar dari sekian pola Siklus hujan yang kemudian dirumuskan menjadi sebuah kajian Ilmu pegetahuan ilmiah.

Penyebab Curah Hujan yang tinggi, karena Semakin Panasnya Matahari Dan hal itu tidak bisa dilepaskan begitu saja, dari Drama Kuasa Manusia yang melampaui batas-batas Keseimbangan Cosmik. Manusialah penyebab tunggal Banjir, Bukan Alam apalagi Tuhan. Manusia adalah pelaku tunggal banjir. Jika hendak diurai lebih radikal lagi, maka pertanyaannya ialah Apa yang menyebabkan semakin Panasnya Matahari sehingga lapisan udara menjadi Tidak Seimbang (Equilibrium) ?.

Secara garis besar, hal itu di sebabkan karena Jumlah penduduk bertambah (Bonus Demografi), maka lahan Hunian semakin banyak dibutuhkan. Konsekuensinya, daerah serapan air semakin berkurang. Hal itu belum di tambah dengan massifnya pembangunan infrastruktur statis (efek rumah kaca). Pohon-pohon dan hutan Kota ditebang dan Di Hilangkan. produksi massal kendaraan yang tidak tertahankan atas nama Kebutuhan, yang dalam waktu bersamaan buat lapisan Ozon berkurang, temperatur udara tidak seimbang, kemarau semakin panjang (pemanasan Global).

Dalam diskursus tentang biosphere and environmental ethics. alas pijak kebijakan Neo develomentalis ialah justice the merginals. dalam tafsirannya yang di perluas ialah kelompok yang terpinggirkan dan terbuang. teralienasi dalam bahasa Marx atau Mustad’fin dalam Terma Murtadha Muthahari.

Kelompok pinggiran, Tidak hanya soal Manusia. tetapi juga, tatanan ekologi dan lingkungan. Secara filosofis, argumentasi kita mesti dimulai dari situ. bukan melompat menjadi perdebatan like or dislike. person to person.

Saya Menolak Menjadi Modern, jika moderinitas, justru menghambat laju perjalanan Hujan menuju muara (laut). Mereka telah lama buta mata hatinya, mereka belum juga sadar bahwa yang di samarkan dari potret pembangunan ialah relasi eksploitasi yang massif, sebentuk Pelacuran antara penentu kebijakan dan pelaku bisnis. Akibatnya, kita yang di pinggiran kota, yang paling terdampak jika curah hujan tinggi. Silahkan cek saja sendiri, mustahil kawasan elit terdampak banjir. 

Muara hujan, yang sejatinya di laut. Justru terjadi di darat. Apakah semua itu bukan Kuasa Manusia?. Apakah semua itu Tuhan dan alam yang melakukannya?. Semua itu demi mengejar predikat kota Metropolitan bahkan desa hendak dikotakan dengan Program desa membangun. Semua demi pemodal. Demi pelaku bisnis. Demi Korporasi. Demi kapital. Demi otak serakah dan ambisi manusia. 

Padahal, Prasyarat utama moderenitas, tidak terletak pada pembangunan Infrastruktur  yang sangat Massif dan lalu mengeksploitasi ekosistem alam semesta. Jika demikian standar dan ukuran moderinitas. Saya akan menolak menjadi modern.

Dalam pendekatan Qur'an ; Allah menciptakan alam dengan Haq (benar), bukan dengan Bathil (Palsu), terdapat dalam Q.S.An-Nahl ; 3 dan Q.S. Shad ; 27. Allah Mengaturnya dengan peraturan Ilahi (Sunnatullah), terdapat dalam Q.S. Al-Ambiya ; 7 dan Q.S. Al-Mulk ; 3. Manusia di perintahkan mengamati dan menelaah hukum-hukum yang ada dalam ciptaannya. Terdapat dalam Q.S. Yunus :101.

Allah menciptakan seluruh alam raya untuk kepentingan manusia, kesejahteraan hidup dan kebahagiannya, sebagai rahmat darinya. Akan tetapi, hanya golongan Manusia yang berpikir, yang mengerti dan kemudiaan memanfaatkan karunia itu. Terdapat dalam Q.S. Al-Jatsiyah ; 13. karena adanya perintah untuk mempergunakan akal-pikiran dan Allah melarang segala sesuatu yang menghambat perkembangan pemikiran yaitu terutama berupa pewarisan membabi buta tradisi-tradisi lama yang merupakan cara berpikir dan tata kerja generasi sebelumnya, terdapat Dalam Q.S. Al-Baqorah ; 170 dan Q.S. Az-Zukhruf : 22-25. 

Di titik itulah, Terma Moderinitas berarti berpikir dan bekerja menurut Fitrah atau Sunnatullah (Hukum Ilahi) yang Haq, sebab alam adalah haq atau benar. 

LSM lingkungan, aktivis Lingkungan, pemuda Mahasiswa, pekik teriakannya berujung kompromi diatas meja kopi. Diskursus Enviorimental Ethics, terpasung diruang kampus. kelompok-kelompok agamawan, sibuk urus Muktamar dan Kongres. Agama sekedar Teks yang berakhir dimenara Gading.

Sedangkan Banjir adalah Tontonan akhir tahun hingga awal Tahun yang menggahar Nurani, bukan setahun dua tahun, sudah bertahun-tahun. Bahkan kabarnya telah menjadi Habitus. 

Apakah kita benar-benar manusia dengan bekal Akal yang tidak Maksimal (cacat) berfungsi (berpikir).  Sebelum kita benar-benar tenggelam, Masih ada Harapan membenahi Nalar yang Catat, memperbaiki kelonggaran kebijakan dan Menjadi Manusia. Sebab Manusia adalah Pusat Orbit Ekosistem Alam Semesta. Monumen Kebaruan (pergantian Tahun), mestinya menjadi proses perpindahan Kesadaran (Trans Human) Atau dalam Istilah Murtadha Muthahari menapaki Tangga-tangga Ego menuju Ego Kesemestaan.  


***

Saban hari banjir datang, mengalirlah tulisan panjang tentang apa dan siapa penyebabnya?, di lanjutkan dengan desakan koordinasi antar wilayah untuk Kota makassar, yang di daulat sebagai kota dunia. Entah sudah berapa kali alur kisah yang serupa dari tahun ke tahun.

Apabila di renungkan, bencana rutin ini sejatinya adalah paradoks. Sebab, bagaimana mungkin bencana Dibiarkan rutin menyapa kita?. Bukankah itu seperti membiarkan keledai terperosok ke lubang yang sama berulang-ulang. Karena itu, penanganan banjir, niscaya memerlukan pendekatan baru, lepas dari belenggu kelaziman. Perlu terobosan dan cara pandang yang inovatif. Karena, Satu dari sekian predikat sebagai Kota dunia adalah kemampuan mengatasi Banjir.

Banjir yang berulang, jelas menyangkut ulah manusia, pembalakan hutan, konversi lahan terbuka hijau dan pengembangan pemukiman (perumahan) yang tidak mempertimbangkan ekosistem lingkungan, pembuangan sampah secara sewenang-wenang, serta Perilaku pemerintah yang mirip dengan Pemadan kebakaran.

Tanpa menafikan diskursus biosphere and environmental ethics dan peran perubahan Iklim. Misalnya, Penelitian Mahasiswa Univeristas Leeds (2012) menemukan bahwa resiko banjir di kawasan mega-Delta Asia sangat di tentukan oleh beberapa faktor, seperti Pertumbuhan populasi, pengambilan air tanah, peningkatan timbunan sendimen, pembuangan sampah di kawasan hulu, bahkan prinsip-prinsip pembangunan yang peka banjir tidak di laksanakan di kawasan delta Asia.

Justru, penanggulangan Bencana banjir di kawasan Mega Delta-Asia umumnya lebih mengandalkan proyek ad-hock sifatnya dan bukan bagian dari strategi penataan kawasan yang memberi ruang bagi air, seperti restorasi danau, sawah dan sistem drainase Kota yang berkelanjutan.

Jika menggunakan terma UU no 32 Tahun 2009 Banjir merupakan kerusakan lingkungan, di tetapkan bahwa setiap orang yang merusak lingkungan, wajib menanggulangi, mengendalikan dan memulihkan kerusakan lingkungan.

Jika yang merusak adalah Proses Kawin mawin antara pelaku bisnis dan penentu kebijakan, apakah UU tersebut berlaku, sebagaimana yang saya sampaikka  diatas?.

Makassar adalah kiblat kota-kota di kawasan indonesia timur, yang setiap tahun mengalami peningkatan jumlah penduduk. Maka, kebutuhan akan tempat tinggal pun meningkat. Logika sederhannya adalah Pertumbuhan penduduk, mengakibatkan peningkatan permukiman. Sehingga, kawasan yang berfungsi sebagai daerah resapan air, di konversi menjadi lahan permukiman warga. Selain itu, Pertumbuhan penduduk tidak berbanding lurus dengan kemampuan pemerintah dalam mengawasi pertumbuhan permukiman. Akibatnya, pemerintah bertindak setelah banjir, hal inilah yang saya maksud, Mirip pemadam kebakaran.

Makassar sebagai kota pesisir sejak abad ke-16 menjadi pusat perdagangan yang cukup dominan di kawasan Indonesia Timur. Salah satu kota terbesar di Asia Tenggara dengan background masyarakat multikultur. Tentunya hal ini menjadi tantangan pemerintah Kota Makassar dalam mengelola kota dengan konsep yang mereka canangkan, "Smart City".

Infrastruktur statis, transportasi, dan penghijauan niscaya menjadi priortitas penting. Sejak awal 2016, proyek reklamasi di kawasan Pantai Losari berkembang ke megaproyek Center Point of Indonesia (CPI). proyek CPI diperuntukkan sebagai kawasan bisnis global terpadu. Hal Ini merupakan bagian dari megaproyek 5.000 hektare reklamasi di pesisir Makassar. Fantastis, karena luput dalam diskursus aktivis lingkungan hidup. 

Dalam catatan tentang diskursus Lingkungan, kabarnya reklamasi di Makassar, telah mempertimbangkan ekosistem lingkungan dan Ruang Terbuka Hijau yang ditetapkan sebesar 50 persen, dengan akumulasi 30 persen publik ditambah 20 persen privat. Bahkan Peta zonasi reklamasi mengedepankan aspek mitigasi, bukan megapolis. Di antara pulau-pulau yang di reklamasi akan dibuat area budi daya ikan di laut dan Lokasi itu akan menjadi artificial Fishing Ground sejauh 6 kilometer untuk nelayan.

BENARKAH ITU PADUKA?.

Tidak hanya itu, Konsep Smart City yang diusung pemerintah Kota Makassar kian dikembangkan, menjadi pembangunan jalan tol dalam kota sepanjang 70 kilometer. Tetapi, naas problem Banjir di dalam kota adalah tradisi Rutin setiap musim penghujan menyapa beranda orang pinggiran. Dari 16 kecamatan, setengahnya (8 Kecamatan) adalah kecamatan yang paling kerap berlangganan dengan Banjir.

Begitukah Kota dunia, Padaku?.

Jika menelisik pada keberhasilan kota-kota yang meraih predikat kota dunia, salah satunya keberhasilan mereka mengentaskan banjir. Seperti Di Brazil, kota Curitiba, berhasil mengatasi banjir dengan membuat danau Buatan untuk menampung banjir dan kawasan rawan banjirnya di jadikan sebagai taman Kota, Sedangkan penduduknya di relokasi. Strategi mengatasi banjir di Kota Curitiba, Brazil di sebut sebagai Design with nature (yaitu merangcang kota berdasarkan kondisi alam, bukan melawan alam).

Di Kota Rotterdam, Belanda. Ancaman banjirnya, justru bukan dari air Hujan, melainkan air laut. Sebab, permukaan air laut lebih tinggi dari daratan. Mereka mengatasi ancaman banjir yang kapan saja bisa menenggelamkan kota Rotterdam, dengan membangun tanggul penghalang.

Lalu, pada tahun 1990-an pemerintah Kota Rotterdam membangun Maeslantkering, yaitu dua gerbang besar, yang bisa di buka tutup secara otomatis, jika permukaan air laut naik diatas batas normal. panjangnya gerbang tersebut 600 Meter.

Salah satu kota dunia lainnya adalah Tokyo, jepang. Kota tokyo juga menghadapi persoalan banjir Tahunan, jika intensitas hujan tinggi dan angin Topan.

Dalam menghadapi problem tahunan tersebut, pemerintahnya pada tahun 1992 membangun Drainase Raksasa dan selesai awal tahun 2006. Drainase Raksasa disebut G-Cans. Cara kerja Drainase Raksasa tersebut adalah air dari berbagai sudut kota di alirkan ke dalam 5 Kolam Raksasa, dengan ketinggian 65 Meter dan Lebar 32 Meter. Sistem Drainase Rakasas itu juga terhubung dengan terowongan bawah tanah, selebar 10 meter.

Berbagai sumber menyebutkan, sejak selesai di bangun drainase raksasa ini telah di gunakan sebanyak 70 kali. Selain Metodologi G-Cans, pemerintah kota Tokyo juga membangun kanalisasi, seperti lorong air yang mengikuti aliran sungai, berada 15 meter di bawah sungai.

Selain kota Tokyo, sebagai Kota Dunia. Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia juga telah berhasil mengatasi persoalan banjir, dengan membangun terowongan, yang di beri nama Smart Tunnel.

Menariknya metodelogi Pencegahan banjir smart Tunnel, karena berfungsi ganda. Selain bergungsi mencegah banjir, juga di gunakan sebagai lalu lintas (terlarang bagi sepeda motor dan Kendaraan berat). Dalam keadaan normal, maka terowongan tersebut di gunakan sebagai lalu lintas. Tetapi, pada saat banjir maka Terowongan di tutup untuk lalu lintas kendaraan dan berubah menjadi lalu lintas air.

Terowongam Smart Tunnel ini dua lantai, saat hujan normal, maka yang di aliri air adalah lantai pertama sedangkan lantai kedua tetap di jadikan lalu lintas kendaraan. Smart tunnel menggunakan teknologi sangat Canggih, yang di bangun sejak tahun 2003, selesai tahun 2007.

Sejak selesai di bangun, Smart Tunnel telah puluhan kali menyelamatkan Kuala Lumpur dari Banjir Besar.

Menjadi Kota dunia, Memang membutuhkan waktu, biaya, tenaga, komitmen dan yang lebih penting dari semua itu adalah Visi Seorang Leader atau dalam Istilah Rocky Gerung, memimpin dengan Akal sehat. 

Makassar, 09/12/2021


* Green Peace 
* Equilibrium
* Pejalan Sunyi
* Coretan Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:

Posting Komentar