Saya pernah di debati seorang kawan. Ia marah karena saya menyelisih pendapatnya. Padahal, Ia menyadari bahwa keragamaan argumentasi adalah keniscayaan. Tetapi, ia tetap tidak menerima pendapat saya dan Menganggap saya salah. Berkenaan dengan itu, saya teringat dengan Syaikh Abdullah Bin Bayyah, yang mengatakan, "Ada sekelompok orang yang ketika engkau menyelisih pendapat mereka. Mereka akan anggap engkau menyelesih Allah dan Rosulnya Dan hal semacan ini, tentunya tidak benar". Tetapi, Karena saya Menyakini Igauan Imam Asy-Syafi'i, yang pernah berkata ; "sekali-kali tidaklah saya berdebat dengan seseorang karena ingin menang, tapi untuk mencerdaskan diri saya dan mencerahkan orang lain". Sekalipun, saya sadari betul, bahwa kawan saya itu sebagaimana Pendakuan "mother Theresa" ; Kalau engkau sibuk menghukumi orang-orang, engkau tidak akan punya waktu untuk mencintai mereka.
Pemenang dua kali Hadiah Nobel (Biologi dan kemanusiaan), Alexis Carrel menulis dalam salah satu bukunya, penggalan kalimat menarik, yang merangsang saya untuk mengutipnya ; "bahwa sesungguhnya kemuliaan manusia itu terletak, ketika ia melihat manusia lain. maka, ia akan berpijak pada pandangan seberapa banyak kebaikkan yang di miliki, bukan pada seberapa banyak keburukan yang di punyai".
Dulu saya pernah menulis untuk seorang perempuan, kira-kira begini bunyinya, "Mawar dan duri itu tumbuh bersamaan. Lantas, mengapa Mata dan Hatimu hanya melihat durinya saja". Sebab itulah, pilihannya hanya dua ; Fokus pada kebaikkan atau Fokus pada keburukan. Dr. Ali Sya'riati mendauh dengan kalimat yang teramat bernas, " jika kamu penuh kasih sayang, orang-orang pasti akan menuduhmu, ada niat-niat tersembunyi dari kebaikanmu itu. Tapi, tetaplah penuh kasih sayang. Jika kamu baik maka orang-orang akan menipu dan memanfaatkanmu. Tapi, tetaplah baik. ketika kebaikanmu di lupakan orang, tetap juga baik. Berikan kebaikan yang terbaik sejauh yang kamu mampu, meskipun itu tak cukup. Lalu, pada akhirnya yang kamu lihat adalah tentang kamu dan Tuhanmu, bukan antara kamu dan orang lain".
"Ulama itu adalah yang keras kepada pemerintah. Bagi saya, itulah sebenar-benarnya ulama? !", Kata Kawan saya. Indikatornya?., kata saya. "Yah, Yang membela dan menjilat pemerintah adalah mereka yang bukan ulama sebenarnya". Berada digerbong pemerintah, bukanlah ulama. Sedangkan di luar gerbong, itulah ulama yang sebenarnya". Wadduh, Begitu mudahnya memberikan garis demarkasi. Pukul rata. Janganlah, kawan. Jawabku tegas.
Kadang saya terfikir, apakah ulama-ulama yang berada disisi Sultan Hassanal Bolkiah di Brunei itu, bukan ulama yang sebenarnya. Apakah mereka yang berada disamping Erdogan, juga bukan ulama yang sebenarnya. Dan seterusnya.
"Tapi ini untuk kasus Indonesia saja, bro?".
Memangnya defenisi ulama itu, parsial?, Ada pertimbangan lokalitas?. Saya jadi ingat dengan dua catatan terdahulu, tidak pernah saya Publikasikan, Insya Allah saya akan sertakan.
"Ahh, Kamu katanya Kader Ummat, mengapa tidak mendukung ulama?".
Pertama, Maafkan saya tidak begitu berminat untuk berdebat tentang pertanyaan itu. Defenisi kita berbeda tentang ulama. Sejak saya mahasiswa, saya punya pemahaman sendiri siapa itu ulama dan siapa (sebenarnya) politisi.
Kedua, beberapa bulan yang lalu, saya pernah menulis tentang Buya Syafii Ma'arief. Saya publikasikan di tengah suasana yang panas. Ada kebahagiaan rasanya. Saya ingin melihat kehadiran Buya asal Sumatera Barat ini dari sisi saya. Tidak adil hanya menilai saat ini, ketika ia menentukan sikap yang dianggap "berbeda". Sejak dulu saya mengikuti pemikiran Buya. Buku dan artikelnya saya baca. Riwayat hidupnya sering saya dengar dari orang lain. Lalu, beberapa diantara dari kawan saya "menilai" Buya. Penilaian kini, Dengan melampirkan berita-berita tendensius. Buya dihantam. Disinisi. Dikatakan "buaya". Tak sedikitpun pantas menyandang gelar Buya. saya membaca umpatan-umpatan vulgar yang di alamatkan kepada mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini. Jujur, kadang mata saya sabak. Entah mengapa.
Lalu waktu itu, mengapa (hampir) tidak ada yang membela Buya?. Mungkin beliau yang kehidupannya teramat sederhana ini, bukan ulama. Ulama itu bagi mereka hanyalah si anu, si anu dan si anu. Bahkan dengan sinis seseorang pernah berkata, "Buya itu bukan ulama. Ia sejarawan. Tamatan Amerika. Walaupun SMP dan SMA-nya tamatan Muhammadiyah".
Ulama itu harus tamatan Timur Tengah, begitu?. Kalau tamatan Barat, bukan ulama?. Padahal guru-guru saya waktu kuliah dulu selalu bilang, "Barat dan Timur itu kepunyaan Allah. Ilmu yang berada disana juga milik Allah". Lalu, saya pernah Tulis tentang Quraish Shihab. Tamatan Timur Tengah. Pakar tafsir yang keilmuannya hampir dipastikan, Insya Allah, tidak bisa ditandingi oleh ulama si anu, si anu dan si anu. Tapi tetap di hantam. Disinisi. Dikuliti. "Dipisangi". Dikatakan Syi'ah. Dianggap bukan ayah yang baik, karena tidak mampu membuat anaknya Najwa Shihab seperti Marissa Haque, berjilbab. Atau seperti anak seorang ulama kondang yang bahagia memposting istrinya lagi hamil berat di instagram. Mengelus-elus perutnya kayak anak ABG. Tidak, Tidak menarik bagi saya. Bagi anda mungkin. Menonton Mata Najwa bagi saya lebih luar biasa.
Lalu, Gus Mus, Azyumardi Azra, Gus Dur, Cak Nur, Emha Ainun Najib, Jalaluddin Rahkmat, Agus Mustofa, Komaruddin Hidayat, Haidar Bagir, Haidar Nasir, Qasim Mattar dan seterusnya. "Bukankah mereka ini juga ulama?". "Mereka bukan ulama", kata anda.
Ya sudah. Ketemu kan?. Ulama bagi anda tidak sama dengan ulama bagi saya. Lantas, mengapa anda memaksa saya harus sama dalam mendefenisikan sesuatu. Memangnya saya tidak punya pengetahuan tentang yang anda bela itu ?. Kita persingkat saja !
Ketiga. Manusia punya ukuran sendiri-sendiri. Paradigmatik. Ukuran kita berbeda. Bagi anda benar, bisa saja bagi saya tidak. Ukuran berbeda karena berbedanya nilai yang dianut, bahan bacaan dan sejarah hidup. kamu menganggap tulisanmu yang paling cantik. Tulisan orang lain tidak. Suaramu yang paling merdu, suara mereka tidak merdu. Bagaimana menilainya?. Cari "wasitnya". Ia yang menilai. "Wasit berpihak. Tidak adil !". Itu katamu. Kata orang lain, tidak. Adil sebenarnya adil hanya ada di pengadilan akhirat. Mati kita dulu. Berbangkit. Baru jumpa keadilan hakiki. ".
Tidak ada yang objektif di dunia ini, subjektiflah yang dianggap objektif. Ketika kita berusaha mengatakan sesuatu itu objektif, pada saat itu juga kita sedang melihat sesuatu dengan parameter, ukuran dan paradigma yang kita anggap sesuai. Karena itu, objektifitas sangat bersifat paradigmatik. Bahkan objektifitas itu sendiri di ikat oleh ruang dan waktu. Kini, dianggap sebagai sebuah kebenaran, mungkin pada masa lalu tidak dan bisa saja pada masa yang akan datang bisa dianggap sebagai sebuah keniscayaan dan keharusan. Waktu dan ruang yang bisa menentukannya, bisa di katakan benar dan tidak.
Mungkin nilai- nilai Teologik saja yang bisa diakui kebenarannya secara mutlak. Itupun hanya pada bagian-bagian kecilnya saja, selebihnya terjadi reduksi dan pelebaran tafsiran dari waktu ke waktu. Demikian juga dengan yang lainnya.
(Baca Sambungan Pembahasan Soal ulama Di Blog dengan judil - Al Ilmu Yurizhul Ahwal ; Ciri ulama)
***
"Mengapa kamu begitu suka dengan "Jalaluddin Rahmat?. itu yang terlihat dari postinganmu beberapa hari belakangan tentang tokoh Syi'ah itu ?. Sejak mahasiswa juga terlihat kamu sering kali membeli buku-buku terbitan Mizan?. Kenapa kamu begitu simpati pada Syi'ah!. Ragu saya dengan kamu ?". [ chatt dengan seorang Ehem..eheem, yang sudah lama tak jumpa ].
Baik, sahabat yang saya hormati. Saya jawab. Mohon berlapang hati kita.
"Jangan mudah kamu mengasosiasikan saya bahkan ada pesan tersirat, menuduh saya Syi'ah?". Memangnya kamu pernah melihat saya beribadah ?. Atas dasar apa kamu mengatakan saya demikian ?". [ Mohon maaf].
Ia menjawab, "karena antum suka dengan Iran, suka dengan Kang Jalal, Cak Nun, Cak Nur, Gus Dur, suka Buya Syafii Ma'arief, sering mengutip Ali Shariati, Khomeni, Muratdha Muthahari, Mulla Sadra, suka dengan pemikiran Quraisy Shihab dan bla ..... bla seterusnya !".
Apakah menyukai negara yang dengan berani menukar sistem politiknya dari Dinasti Tiranik kepada sistem Teokratik, serta dengan penuh percaya diri "melawan hegemonik" negara-negara besar yang sombong dan membusungkan dada, (walaupun sebenarnya kadang-kadang ada juga negara lain sombong dengan rasnya). lalu, dibilang Syi'ah.
Mengikuti dan bersependapat dengan kajian-kajian dan membaca tafsir yang moderat dan lembut dari Prof. Quraish Shihab lantas dikatakan Syi'ah. Saya mendukung RESOLUSI AMMAN yang ditandatangani 200 ulama kaliber dunia, yang menyatakan bahwa SYI'AH TETAP BAGIAN DARI ISLAM. lalu, saya dikatakan Syi'ah. Saya bersepakat dengan Syaikh Yusuf Qardhawi dan K.H. Hasyim Muzadi dan lain-lain, yang juga setuju dengan resolusi tersebut, kamu katakan saya Syi'ah. Ketika saya sering mengutip pendapat dan kata-kata indah Ali bin Abi Thalib dalam Kitab Nahjul Balaghah, kamu mencurigai saya sebagai Syi'ah.
Mari kita belajar pada Imam Besar Islam, Imam Syafi'i Ra. Pada masa imam ini hidup, beliau juga merasakan iklim fitnah berbasis syahwat politik ini kepada sang Imam, dengan tuduhan Syi'ah Rafidhah. Beliau kemudian menjawabnya dengan menuliskan sebuah syairnya :
نْ كانَ رَفْضًا حُبُّ آلِ محمد فليَشْهَدِ الثقلاَنِ أَنَّيْ رافِضِيْ
"Jika mencintai keluarga Muhammad itu bagian dari rafidhah, maka hendaknya manusia dan jin menyaksikan bahwa aku adalah seorang rafidhi." (dikutip dari : Islam Aktual, 1989: cc. Jody A.).
Saya pernah membaca kitab fiqh Mazhab Ja'fari (terjemahan : lengkap) dan cukup banyak buku filsafat, politik yang ditulis ulama-ulama Syi'ah seumpama Mohammad Baqr Al-Sadr, Ayatullah Nateq Nauri, Alllamah Thatabtaba'i, Sayyid Husain Fadhlullah, Murtadha Mutahhari, Ayatullah Khomeini, Ali Syariati, Mulla Sadra dan lain-lain dan tidak semua saya setuju dan bersepakat dengan pemikiran mereka. Tapi, alangkah salahnya, bila saya langsung menghakimi atau memuja tanpa membaca "mereka".
Saya (juga) heran, mengapa kita begitu mudah mengatakan bahwa Syaikh Yusuf Qardhawi, K.H. Hasyim Muzadi yang dulu setuju dengan Resolusi Amman dan 200 ulama yang menandatanganinya sebagai orang yang tidak mengerti agama ?. lalu, dengan mudah kita menganggap seseorang yang membuat akun pesbuk yang isinya penuh dengan ayat-ayat al-Qur'an dan hadits, lalu kita panggil mereka ustadz/zah. Apa 200 ulama yang menandatangani atau mengeluarkan Resolusi Amman itu goblok semua ?. Atau dengan hanya bermodal satu akun pesbuk :), kita bisa menganggap seseorang sebagai ulama ?.
Lalu saya, silahkan diperkatakan apa saja. Saya hanya menyukai "Coto, Sop Saudara, Pallu Mara', Pallu Basa," serta "Ikan Kering", saya tak pernah menyukai siapapun. Pada bagian-bagian tertentu, saya respek dengan pemikiran seseorang, itu iya. Tapi, saya tak pernah fanatik pada seseorang ataupun pada partai tertentu. Alangkah tidak adilnya bila langsung menggeneralisir. Saya berdiri diatas semua, begitu ketika saya di Kaderkan Di HMI dan membaca almanak pemikiran Cak Nur, Yang ku kagumi itu.
Apakah bila kita berlawanan analisis dan piihan politik, anda lantas merasa pantas menghakimi saya. Apakah karena saya tidak suka minum Teh karena saya lebih "nyaman" minum kopi, lantas saudara katakan saya bukan laki-laki sejati, seperti yan dikatakan Iwan Fals :).
Jangan dong !!. Saya bukan Syi'ah dan bukan Sunni. saya ISLAM. Besar dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah, wabil khusus Nahdathul Ulama Dan Muhammadiyah. Saya kerap menyebut dirimu sebagai Nahdathul muhammaddiyin. Dalam KTP saya, juga tertulis dengan jelas kolom agama : ISLAM. Ketika saya masih kecil, ayah dan ibu saya mengatakan, "jadilah kamu sebagai orang Islam yang baik, dan tak sekalipun mereka menyuruh saya menjadi Syi'ah, Sunni, Khawarij, Mur'jiah, Mathurudiyah, Muhammadiyah, NU, Perti dan seterusnya".
"Lantas Mengapa kamu Suka Kang Jalal?".
Setelah membaca beberapa karya beliau, point pertama yang terbetik di kepala saya. Cerdas orang ini. saya pernah mendengarkan presentasi Kang Jalal, Di UINAM (Universitas Islam Negeri Makassar). Beliau di Panel dengan Salah seorang Perwakilan dari Wahdah (Lupa Namanya) dan Dosen Hadist, Dr. Muh Zein, Yang di Moderatori oleh Prof. Hamdan Juhanis (Kini Rektor Universitas Islam Negeri Makassar). saya selalu terpesona dengan kemampuan artikulasi lisan dan tulisan Kang Jalal. Ia bukan hanya pandai bertutur, tapi juga intelektual tangguh yang kaya referensi. Harus di akui, bahwa Di antara eksponen pembaharu pemikiran Islam di Indonesia seperti Cak Nur, Kuntowijoyo, Gus Dur, Amien Rais, Azumardi Azra, Buya Sayafi'i Ma'arif dan Djohan Effendi, Kang Jalal (panggilan akrab K.H. Dr. Jalaluddin Rakhmat) adalah salah satunya. Hal Itu tak belerbihan, karena Kang Jalal memiliki keistimewaan. Ia menguasai banyak ilmu pengetahuan, sehingga melalui karya dan presentasinya kita tahu bahwa argumen-argumen yang diajukan Kang Jalal bukanlah repetisi atau parafrase dari argumen Gus Dur, Buya Syafi'i Maarif, Cak Nur, Djohan, Dll.
Kang Jalal, kerap di Serang secara beruntun oleh banyak pihak, tapi itu tak lantas menyebabkan Kang Jalal kehilangan kendali. Emosinya tetap terjaga dan argumennya masih kokoh. Bahkan, di sela-sela presentasinya ia tak ragu melakukan serangan balik melalui kisah-kisah “fiksi” yang disuguhkannya. Pendeknya, ia tak hanya bertahan melainkan juga menyerang. Dan serangannya sering tak terduga. Mengapa demikian, karena Kang Jalal memiliki dua keunggulan ; penguasaannya pada Ilmu pengetahuan yang hampir semua, Ia mengerti Ulumul Hadits dan Siroh Nabawiyah dengan sangat baik, sekaligus ia juga meguasai filsafat, psikologi dan memang pakar komunikasi.
TerLepas dari itu, saya seorang pembelajar yang berusaha giat ini, tetap mengenang Kang Jalal sebagai intelektual Islam yang bebas dan berani. Ia sangat kritis bahkan terhadap semua hal. Namun, ia tahu batas. misalnya, tak pernah mengkritik apalagi menyalahkan Al Qur’an, Nabi muhammad SAW, dan Para Sahabat yang Ahlul al-Bait. Yang dilakukan Kang Jalal selama ini adalah mereview pemikiran para Ulama Syi'ah di depan publik Islam Indonesia yang mayoritas Sunni. Ia tak banyak menafsirkan Al Qur’an. Ia lebih banyak mengutip kitab-kitab tafsir karya para ulama klasik dan kontemporer. Ia juga tidak pernah betul-betul melakukan riset al-jarah dan al-ta’dil dalam studi Hadits. Ia hanya mengutip para ulama lain yang menyoal kredibilitas sejumlah para perawi dan penulis Hadits.
"Tapi?".
Memang aroma sunni atau syiah ini begitu kental dinegeri ini, tidak terlepas dari mereka-mereka yang berkiblat pada Iran dan saudi monarki Dan isu-Isu yang berkembang sesuai narasi yang telah hangat di perpolitikan keduanya. Yang mencoba berbicara netral akan di hakimi sesuai penilaiannya tanpa harus melihat fakta-fakta yang secara tegas telah disepakati sebagai hukum yang disepakati.
Dalam buku Putih, prof Quraisy mengatakan ; mempersoalkan Sunni dan syiah, itu ketinggalan zaman. Terlambat lahir kita.
Kebaikan dalam persepsi manusia seperti mereka hanya sebatas tarikan nafas. Sehingga setiap zaman akan selalu ada kelompok manusia yang merasa paling baik dibanding yang lain. Yah, Hanya kematian yang bisa menjawab persepsi kebenaran versi mereka.
"Lalu, mengapa anda membaca buku-buku yang sebenarnya bukan menjadi bagian dari pemahaman guru-guru anda ?". Protes seorang Kawan.
KARENA MEMANG TUGAS SAYA MEMBACA. Dengan begitu, saya bisa menjadi "sparing partner" bagi mahasiswa-Mahasiswa Milineal, jama'ah dan Insya Allah Siapapun saja. Sebab, saya yakin orang-orang saat ini semakin hari hari semakin Pintar, karena bahan bacaan mereka semakin banyak Dan hal itu kita tidak harus membaca yang selalu sesuai dengan kita.
Bagi saya, semakin membaca dari "dalam", semakin kita santun dalam memahami - (yang) bukan berarti mendukung atau menolak secara "membabi-buta". Dengan membaca dari sumber "dalam" dan "otoritatif", setidaknya membuat saya teringat dengan anjuran Raja Ali Haji : " Beberapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, dengan segores kalam jadi tersarung". Demikianlah ungkapan "Raja Ali Haji", dalam Mukaddimah Kitab Bustan al Katibin.
Saya hanya ingin mengatakan (bahwa) musuh kita hari ini adalah kebodohan, kemiskinan, kesenjangaan ekonomi - sosial dan kurangnya solidaritas serta soliditas (Ukhuwah-persatuan) sesama Muslim. Karena itu, kita mudah dipecah belah (Uraian Ini Panjang). Keterbelahan kita ini, bisa kita temukan dari kehidupan kita Yang paling dekat. Kita menggemari perpecahan, berbeda mazhab seolah beda Tuhan. Beda tempat mondok seolah berbeda agama. Padahal Imam Syafi'i dan Imam Malik(i) merupakan dua ulama BESAR yang sering berbeda pendapat, salah satunya tentang Qunut dalam sholat Subuh. Tapi, mereka tetap saling menghormati.
Kala Imam Malik sholat Subuh di masjid Imam Syafi'i, beliau (Imam Malik) ditunjuk sebagai Imam sholat, dan beliau sholat subuh memakai Qunut. Ketika murid Imam Malik bertanya, "Apakah guru telah berubah faham?". Imam Malik menjawab, "Tidak, sama sekali tidak. Aku memakai Qunut karena menghormati muridku (Imam Syafi'i) yang berpendapat demikian".
Dalam perjalanan sejarah Eropa (abad pertengahan), defenisi aliran sesat adalah orang yang dianggap berlawanan dengan otoritas gereja. Dalam perjalanan sejarah Islam, defenisi aliran sesat adalah orang yang tidak masuk ke dalam "mainstream" atau kelompok mayoritas. Padahal, yang berhak menentukan benar tak benar tersebut adalah Sang Maha Benar. Tidak selamanya, mayoritas itu benar dan tidak pula seragam itu indah. Ajaran Islam bahkan mengatakan bahwa "berbeda itu hikmah". Hikmah itu indah dan penuh kebaikan. Karena itu, jangan anggap perbedaan merusak tatanan keindahan, karena terkadang berbeda itu justru melahirkan pembelajaran.
Di titik itulah Gunanya negara mengelola perbedaan, dengan satu Narasi Tunggal, yaitu Soliditas dan Persatuan (ukhuwah). Tetapi, jika negara juga terjebak dalam perdebatan Panjang Firqoh, Mazhab dan soal-soal yang remeh temeh lainnya. Seolah-seolah kita terbelah menjadi dua blok yang Vis A Vis. Maka, Historia Not Repette. Sejarah keemasan tidak akan pernah terulang dan Hal itu Membuktika Kebenaran Sabda Rosulullah SAW, bahwa, " nyaris musuh membunuh dan membinasakan kalian seperti orang-orang yang menyerbu makanan diatas piring". Seseorang kemudian bertanya, apakah Jumlah kami saat itu sedikit?. Rosulullah SAW kemudian melanjutkan, " bahkan jumlah kalian banyak sekali. tapi, seperti Buih di atas lautan Dan Allah mencabut Rasa Takut Musuh terhadap kalian serta Menjagkitkan di hati kalian penyakit 'Wahn'.
Jika kita memeriksa Ulang Keotentikan Sabda Nabi Muhammad ini, telah terbukti berkali-kali. Runtuhnya dunia dan Peradaban Islam, seperti Dinasti Umayyah, Abbasyiah, Turki Ustmaniyah, dsb. Bukan karena Kuatnya MUSUH. Bukan. Kita Kalah dan Nyaris menjadi Puing, akibat Rapuhnya Soliditas dan Persatuan Ummat. Tetapi, hal itu kita anggap sebagai lampiran hidup yang tidak terlalu penting untuk di urus.
Berkenaan dengan itu juga, Saya teringat dengan beberapa catatan tentang perseteruan antara Sunni-Syiah, yang sebenarnya merupakan fenomena Timur Tengah. Disanalah, lebih kurang 14 abad silam terjadi sengketa berdarah yang memakan korban ribuan umat Islam, yang kemudian membekas sangat dalam dan jadi dendam kesumat hingga saat ini. Sedangkan, Sunni-Syiah di Indonesia tidak punya sejarah berdarah seperti itu. Ketika mula-mula masuk ke Indonesia, Syiah tidak menimbulkan gesekan yang berarti dengan pribumi yang masih beragama pagan atau Hindu-Budha.
Ketika Syiah kehilangan pamor dan digantikan oleh Sunni, gesekan yang berarti juga tidak terjadi. Transformasi berjalan dengan mulus. Namun, aura kebencian dan hasut menghasut yang terjadi, kemudian diekspor ke Indonesia melalui berbagai bacaan.
"Darimana kamu tahu ?".
Saya belajar Sejarah Peradaban Islam. Belajar Ilmu Politik. Belajar Sosiologi Antropologi. Setidaknya itu yang saya pelajari. Seperti itu yang saya pahami, hingga hari ini.
Haruskah kita mengimpor kebencian dan konflik?. Apakah tidak ada yang lain yang lebih baik untuk diimpor selain kebencian dan caci maki yang tidak berakar di negeri kita sendiri?. Sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda, "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al-Qur’an, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’an dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’an, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik".
Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai Nabi Allah, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya.” (HR. Bukhari dalam at-Tarîkh dalam Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr). Setelah membaca "ashbabul wurud" (konteks spasial-temporum) Hadits ini, maka pesan yang ingin disampaikan Rasulullah SAW adalah JANGAN MERASA PALING BENAR dan JANGAN MUDAH MENUDUH ORANG LAIN TIDAK BENAR. Sebab, tidak ada yang di untungkan dari memperdebatan soal-soal Firqoh, Mazhab, dsb. Justru yang di untungkan adalah Musuh-musuh Islam. Musuh Islam tidak selalu berasal dari non-Islam. Ideologi bisa dimaknai dalam konteks ini, sebagaimana hipotesa terkenal Huntington bahwa setelah KOMUNIS hancur, maka peradaban Islam yang berpotensi menjadi musuh (Kapitalisme). bacalah CLASH CIVILIZATION-nya Huntington.
Mereka tertawa, gembira Ria. Sementara kita tidak sadar, sedang di tendang, di tunggangi, bahkan kita diangkat lalu di hempaskan berulangkali.
Mau buktinya?. Baca dan Pelajari Sejarah Konflik di Timur Tengah. Baca dan Pelajarilah, Penyerangan IRAK, kelahiran ISIS, Irak sebagai regional-politic enemy, Libya, Suriah dan (terakhir) Yaman yang dibombardir. sementara kita diam membisu, karena yang membombardir itu adalah saudara sendiri, yang dibantu oleh pihak lain, yang selama ini direpresentasikan sebagai musuh. KARENA ITU, JANGAN BAWA-BAWA AGAMA. YAMAN DISERANG, KITA DIAM, APAKAH KARENA FAKTOR AGAMA ?.
NEHI, kata Amitabh Bachan. Jadi, sudahlah.
Saya bukan ustadz ataupun ulama. Jauuuuuuh, sampai ke arah sana. Orang-orang saja memanggil saya Ustadz. Saya hanya pembelajar dan pembaca yang berusaha giat. Karena itu, jika ada yang salah, tunjuk ajari saya, "In uriidu illal ishlãha mãs tatha'tu wamã taufiiqii illa biLlãhil 'Aliyyil 'Azhiim" - Aku hanya berniat baik semampuku; taufikku hanya dengan pertolongan Allah Yang Maha Luhur dan Agung.
Alhamdulilah, Saya sendiri Jagankan di tuding Syi'ah. dituduh kafir, murtad, iblis, pernah. Makanya kalau bercermin, saya kerap bingung, saya ini sebenarnya apa ? 😄
" kamu suka menonton ceramah Ustadz Abdul Somad ?", tanyanya kembali. Saya jawab, "SAYA SANGAT MENYUKAI CERAMAH BELIAU. Hampir setiap bulan, barang sekali dua kali, melalui youtube, saya menonton ceramah-ceramahnya. Saya merasa berutang budi ilmu pada beliau.
"Kalau Cak Nun?".
Suka sekali. Beberapa karyanya, saya punya. Saya Mengikuti Ulasan-ulasannya, di Youtube. Kalau menonton ceramah dan membaca karya Prof. Qureish Shihab ?". SAYA SANGAT MENYUKAI CERAMAH BELIAU. Hampir semua karya beliau saya koleksi, setiap bulan melalui youtube, saya menonton ceramah-ceramahnya. Saya merasa berutang budi ilmu pada beliau.
"Kalau Gus Baha ?".
SAYA SANGAT MENYUKAI CERAMAH BELIAU. Hampir setiap bulan melalui youtube, saya menonton ceramah-ceramahnya. Saya merasa berutang budi ilmu pada beliau.
"Jalaluddin Rahmat"?
Suka. Hampir semua karya beliau pernah ku baca dan ku koleksi, ceramhnya Melalui channel youtube Ijabi dan yang lainnya. Mencerahkan. Ulil Abshar Abdallah, Agus Mustofa, Komarudin Hidayat, Cak Nur, Gus Dur, Kuntowijoyo?". Persis, seperti Prof. Qureys Shihab, Abdul Somad dan Gus Baha serta Kang Jalal. "Lalu mengapa ada orang-orang yang tidak menyukai mereka ini?. Karena tidak mengambil YANG BAIK dari mereka.
*Pustka Hayat
*Pejalan Sunyi
*Rst
*Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:
Posting Komentar