Mengenai Saya

Senin, 03 Juli 2023

GENERASI PEMIKUL BEBAN - PETARUNG

Alhamdulillahil ladzi allafa baina qulubina wa ja alana ikhwanan mutahaqqinan aminina jahidun jahidinan fi sabilih, Hayyitun ma'syiro ikhwani wa akhwati bi jami'an tahiyati islam, Assalamu alaikum Warohmatullahi wabarokatuh.

Sebagai generasi yang tumbuh dengan beban yang barangkali mungkin sedikit saja dari generasi yang se-era dengan saya sanggup memikulnya. Sembari menyudut di ruang yang sepi untuk melakukan permenungan, Ada 4 permenungan panjang yang hendak saya  sampaikkan pada kesempatan tulisan ini, agar kita bisa memetik ibrah bersama. 

POINT PERTAMA, ada dua diktum dari Umar Bin Abdul Azis, pada saat beliau pertama kali menjadi Khalifah, yaitu menjelang pelantikan dan beberapa saat sebelum beliau menghembuskan nafas yang terakhir. 

Jarak diantara dua diktum yang di ucapkan oleh Umar Bin Abdul Azis, hanyalah 2,5 Tahun.

Saat Umar Bin Abdul Azis di lantik sebagai seorang Khalifah, beliau berbisik pada salah seorang Ulama besar di samping beliau, yaitu Al Imam Az Zuhri - Salah satu Gurunya Imam Malik. Umar Bin Abdul Azis mengatakan, "Inni akhofun Naar - Saya Takut kepada Neraka".

"Inni akhofun Naar" adalah kalimat pertama yang di ucapkan oleh Umar Bin Abdul Azis saat menjelang Ia di lantik sebagai seorang Khalifah. 

Apa korelasi kalimat Umar bin Abdul Azis terhadap pencapaian orang dalam Kepemimpinan atau Ketika seseorang sedang memulai debutnya sebagai seorang pemimpin, dengan mengucapkan "Inni Akhofun nar - Saya takut kepada api Neraka".

Artinya Umar Bin Abdul Azis memulai pelantikannya dengan akhir, bahwa akhir dari semua yang kita lakoni diatas panggung kehidupan ini, pada akhirnya adalah kematian dan hidup setelah kematian hanya mempunyai dua pilihan - Surga atau neraka. 

Ihwal itulah, Ulama-ulama kita mengatakan, A'qolun - A'dzorun nas fil awaqib - orang yang berakal adalah orang yang paling jauh pandangannya tentang akhir dari semua yang dia lakukan".

Hal itu seperti kita bertanya tentang muara dari sungai dimana kita berenang atau kita bertanya pulau yang kita akan tujuh dari suatu pelayaran. 

Khalifah Umar Bin Abdul Azis memulai masa Kepemimpinannya tidak dengan bertanya atau memulainya dengan Surga. Beliau memulainya, justru dengan Rasa Takut kepada neraka.

Orang boleh tidak membuat pencapaian, tetapi, Paling tidak dia tidak melakukan kesalahan dan dengan memanajet ketakutan di dalam dirinya, akhirnya beliau memiliki sumber energi yang tidak habis dalam Bekerja.

Tidak ada yang menyangka, termasuk juga beliau sendiri, ketika ia mengucapkan kalimat tersebut, bahwa umurnya yang tersisa setelah itu, tinggal 2,5 tahun. Tidak ada. Karena Ia adalah orang yang sangat bugar dan sehat. 

Para ahli sejarah menyebutkan, jika orang melihat batang Leher Umar Bin Abdul Azis, sangat kelihatan bahwa beliau adalah orang yang sangat terawat. Sebab, ia adalah Trand Center dalam keluarga Umawiyah. Dari kejauhan saja orang sudah mengenalinya, kalau yang datang adalah Umar, karena Wangi Parfumnya. Bahkan cara dia berjalan, di ikuti oleh orang-orang Istana dan Juga orang-orang pada Umumnya, makanya cara berjalannya di sebut - Al Massyar Umariyah.

Ketika Umar hendak melakukan perubahan besar, ia mesti memulai dari dirinya sendiri. Bukan dari orang lain. Karena Umar adalah bahagian dari masa lalu Umawiyah yang hendak Ia rubah. Jika ia hendak melakukan perubahan besar. Maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah merubah dirinya sendiri terlebih dahulu, lalu keluarganya. Barulah perubahan ia lakukan di luar istana.

Sebab itulah, Setelah beliau melaksanakan pelantikan sebagai seorang khalifah. Yang pertama kali di lakukan adalah mengumpulkan seluruh keluarganya dan mengambil seluruh Harta keluarganya untuk di kembalikan ke Baitul Mal. Bahkan, beliau mengancam istrinya "kalau kamu tidak ingin menyerahkan Harta yang sudah saya berikan kepadamu, Maka pilihannya hanya ada dua, yaitu "Kamu mengambil harta tersebut dan kita bercerai atau tetap bersama saya dan mengembalikan Harta itu ke baitul Mal". 

Pergolakan memang sempat terjadi di dalam keluarganya. Tetapi beliau mampu melewatinya dengan Baik.

Kita sekarang hidup di era Kapitalisme. Kapitalisme ini berhasil, paling tidak dalam 100 tahun terakhir ini menyebar kesejahteraan ke banyak penduduk Bumi. Tapi, ada satu Fakta yang tidak bisa di Capai oleh Kapitalisme sekarang ini, yang dulu berhasil di capai oleh Umar Bin Abdul Azis, yaitu saat Para Amir Zakat berkeliling di seluruh Afrika untuk mencari orang Miskin yang Mau menerima Zakat. Tetapi, Tidak ada satupun yang mau menerima zakat. Itulah pencapaian Umar Bin Abdul Azis, yang di capai Hanya dalam kurun Waktu 2, 5 tahun. 

Singkat Cerita, saat Umar Bin Abdul Azis Wafat. Beliau termasuk mati muda, karena saat beliau wafat, usianya 39 Tahun. Sebelum beliau menghembuskan Nafas terakhirnya, beliau meminta istrinya yang menemaninya terus di dalam kamar, agar keluar dari kamar. Dari luar orang-orang mendengarkan, beliau mengucapkan satu ayat dalam al qur'an, yaitu "Tilka Darul akhira naja aluha liladzina la yuridhuna uluan fil ardhi wa la fasadah wal akibatu lil Muttaqin - Itulah hari akhirat, yang kami siapkan kepada orang-orang yang tidak menginginkan keangkuhan di muka bumi, tidak juga kerusakan dan ujung dari semuanya ini adalah kemenangan bagi orang-orang yang bertaqwa".

Ayat ini berada di dalam Q.S. Al Qosas, persis menyudahi Cerita Qorun setelah di telan oleh Bumi, Lansung di tutup dengan Ayat yang saya sebutkan.

Dari Potongan cerita Al Qur'an di surat Al Qosas tentang Qorun, Allah SWT memulainya dengan, "inna qooruuna kaana ming qoumi muusaa fa baghoo 'alaihim wa aatainaahu minal-kunuuzi maaa inna mafaatihahuu latanuuu-u bil-'ushbati ulil-quwwati iz qoola lahuu qoumuhuu laa tafroh innalloha laa yuhibbul-farihiin - Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, "Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri (Q.s. Al Qosas : 76).

"wabtaghi fiimaaa aataakallohud-daarol-aakhirota wa laa tangsa nashiibaka minad-dun-yaa wa ahsing kamaaa ahsanallohu ilaika wa laa tabghil-fasaada fil-ardh, innalloha laa yuhibbul-mufsidiin -  Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qasas 28: Ayat 77).

Setelah di beri teguran demikian, Qorun Justru mengatakan, "qoola innamaaa uutiituhuu 'alaa 'ilmin 'ingdii, a wa lam ya'lam annalloha qod ahlaka ming qoblihii minal-quruuni man huwa asyaddu min-hu quwwataw wa aksaru jam'aa, wa laa yus-alu 'ang zunuubihimul-mujrimuun - Dia (Qarun) berkata, Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku. Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat dari padanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka". (QS. Al-Qasas 28: Ayat 78)

"fa khoroja 'alaa qoumihii fii ziinatih, qoolallaziina yuriiduunal-hayaatad-dun-yaa yaa laita lanaa misla maaa uutiya qooruunu innahuu lazuu hazhzhin 'azhiim - Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". (QS. Al-Qasas 28: Ayat 79).

"wa qoolallaziina uutul-'ilma wailakum sawaabullohi khoirul liman aamana wa 'amila shoolihaa, wa laa yulaqqoohaaa illash-shoobiruun - Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar". (QS. Al-Qasas 28: Ayat 80).

"fa khosafnaa bihii wa bidaarihil-ardh, fa maa kaana lahuu ming fi-atiy yangshuruunahuu ming duunillaahi wa maa kaana minal-mungtashiriin - Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam Bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri". (QS. Al-Qasas 28: Ayat 81).

"wa ashbahallaziina tamannau makaanahuu bil-amsi yaquuluuna waika-annalloha yabsuthur-rizqo limay yasyaaa-u min 'ibaadihii wa yaqdir, lau laaa am mannallohu 'alainaa lakhosafa binaa, waika-annahuu laa yuflihul-kaafiruun - Dan orang-orang yang kemarin mengangan-angankan kedudukannya (Qarun) itu berkata, Aduhai, benarlah kiranya Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya). Sekiranya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya pada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah kiranya tidak akan beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)". (QS. Al-Qasas 28: Ayat 82).

Qorun menganggap bahwa semua kekayaan ini di berikan oleh Allah kepadanya, karena memang ia memiliki Ilmu. Ia Menganggap Penafsir keberhasilannya adalah hasil dari kekuatan Individunya. Ihwal itulah yang membuat Allah tidak rela dan ridho. Qorun ini abai, bahwa sebelum dia, ada banyak kaum yang lebih kaya dan kuat yang telah di binasakan oleh Allah SWT.

Setelah peristiwa Qorun di telan oleh Bumi, Allah menutup cerita tersebut dengan mengatakan, "tilkad-daarul-aakhirotu naj'aluhaa lillaziina laa yuriiduuna 'uluwwang fil-ardhi wa laa fasaadaa, wal-'aaqibatu lil-muttaqiin - Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-Qasas 28: Ayat 83).

Artinya, Semua masa jabatan yang di mulai dengan, "Inni Akhofun nar - Takut pada Neraka" di akhiri dengan ayat, "tilkad-daarul-aakhirotu naj'aluhaa lillaziina laa yuriiduuna 'uluwwang fil-ardhi wa laa fasaadaa, wal-'aaqibatu lil-muttaqiin".

Salah seorang sejarawan muslim moderen, Dr. Imanuddin Khadi menulis buku biografi tentang Umar Bin Abdul Azis yang berjudul, Revolusi Islam di zaman Umar Bin Abdul Azis. Hampir 90 halaman dari buku tersebut, di mulai dengan satu Bab yang di beri judul, "Al Munhanan Nafsih - dukungan Jiwa".  Dari mana Umar Bin Abdul Azis mendapatkan sumber Energi untuk melakukan hal-hal besar dalam waktu 2,5 tahun. Setelah di telusuri, sumber kekuatan yang luar biasa dari Umar bin abdul Azis, ialah ketakutannya pada neraka.

Ihwal itu pula yang akan membuat kita ini tidak akan bercanda dengan peran dalam hidup kita. Kita tidak akan main-main dengan pilihan-pilihan yang akan kita putuskan untuk diri kita dan untuk orang lain, karena kita tahu akibat dari apa yang kita ambil. Kita tahu akibat dari keputusan yang kita bikin dengan makna dari ingatan kepada akhirat itu seluruhnya, akan melahirkan sumber kekuatan atau sumber energi, yang kita sebut dengan "Ruhul Mas'uliyah - semangat pertanggung jawaban".

Kita menyadari bahwa kita ini adalah pemikul beban. Bukan pencari kuasa. Bukan pemburu popularitas. Karena sebesar apa beban yang kita pikul, sebesar itu pula kelak tempat kita di akhirat, " wa ingtata wallaw yastabdhil qauman ghoirohum Tsumma la yaqunu amstalakum - kalau kalian berpaling, Allah akan mendatangkan kaum yang lain, yang akan memikul beban ini dan mereka tidak akan seperti kalian yang bermain-main dengan amalan".

Doa-doa yang lahir dari Ruhul mas'uliyah ini adalah "Allahummas taqdimna wala tastabdhillah". Karena Rosulullah Mengatakan, "innallahu idza ahabba abdhan ista'malahu - Allah Kalau mencintai Hambanya, Allah akan menggunakan hambanya untuk kepentingan agamanya".

Ruhul mas' uliyah - semangat pertanggung jawaban yang membuat kita punya energi dalam memikul beban. Hal itu kira-kira akan lahir dalam pernyatan- pernyataan pribadi sejenis ini.

Abu Bakar As Shiddiq adalah satu-satunya sahabat yang terus menerus ngotot untuk memerangi Kaum Riddah. Alasan Abu Bakar as shiddiq secara Syar'i, bahwa beliau akan memerangi semua orang yang akan memisahkan zakat dari sholat. Tetapi, juga ada alasan yang pribadi, bahwa ketika menyangkut resiko dan pertanggung jawaban besar seperti itu, dia mengambil alihnya secara personal. Karena itu Abu Bakar Menyatakan, "Ayamqutsul islamu wa ana haiy - apakah boleh Islam ini berkurang padahal saya masih hidup". Abu bakar mengambil alih secara personal dan tidak menganggapnya sebagai Fardhu Kifayah.

Semangat pertanggung jawaban seperti inilah yang di butuhkan Ummat kita saat ini. Kita ingin semangat ini hidup di dalam diri kita semua. Karena dengan pernyataan seperti ini, orang-orang akan menemukan Motif yang benar dari awal. Niat yang benar ketika melangkah, bahwa kita ini tidak di kumpulkan oleh kemarahan, kita tidak di kumpulkan oleh kekecewaan. Tetapi, di kumpulkan oleh semangat pertanggung jawaban : Pertanggung jawaban pribadi kita kepada Allah SWT dan pertanggung jawaban sejarah kita di hadapan ummat manusia. Sebab, cepat atau lambat, kita akan termasuk dengan apa yang di sebut oleh Allah SWT dalam al qur'an, "Tilka ummatun Qod kholad laha ma kasabat walahum ma kasabtum".

Semangat pertanggung jawaban ini akan membuat kita Merdeka, karena kita merasa sumber pertanggung jawaban kita yang pertama, yaitu kepada Allah SWT. Kita mempertanggung jawabkan kehidupan individu kita dan karena itu kita bertanggungbjawab sepenuhnya atas semua pilihan-pilihan sadar yang kita ambil. Apa yang mendorong kita mengambil satu keputusan tersebut, bukanlah kemarahan dan bukanlah kekecewaan. Tetapi di dorong oleh semangat, Ruhul mas uliyah dari jenis yang di katakan oleh Abu Bakar As shiddiq, "ayamqustul Islamu wa ana haiy".

Semua perkumpulan yang di mulai dengan kemarahan tidak akan bertahan lama. Semua perkumpulan yang di awali dengan kekecewaan juga tidak akan bertahan lama. Kalau kita ingin berkumpul dalam waktu yang lama dan melakukan hal-hal besar di dalam hidup, maka pastikan sejak awal bahwa niat kita adalah niat yang benar dan pastikan bahwa semua yang kita lakukan akan kita pertanggung jawaban kepada Allah SWT.

POINT KEDUA adalah cara kita memilih peran yang tepat bagi kita. Kalau kita salah memilih peran, kita tidak akan efektif di dalam hidup ini. Kita akan membuang banyak sumber daya, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Kita akan membuang banyak waktu, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Kita juga akan sering berkumpul, tetapi juga tidak menghasilkan apa-apa. Hanya, jika kita memilih peran yang tepat. Kita akan menjadi orang yang tepat. Lalu, cara kita memilih peran tersebut, dengan menggabungkan dua hal - memahami dengan baik apa yang terjadi di lingkungan kita, di zaman kita dan melihat kemampuan yang ada di dalam diri kita yang di berikan oleh Allah, yang bisa kita berikan bagi manusia dan alam semesta.

Poin yang pertama, mengingatkan kepada kita  apa yang di sebutkan oleh para Fuqaha sebagai, "Wa jibul Waqad - apa kewajiban zaman ini". Sesuatu yang merupakan tuntutan zaman. Inilah peran yang di harap di zaman ini. Lalu, poin yang kedua adalah membaca kemampuan kita sendiri untuk bisa berkontribusi dari total kebutuhan yang ada di lingkungan kita, "Wa kullun uyassarun lima kholiqolahu - setiap orang akan mudah melakukan peran yang untuknya dia di ciptakan". 

Artinya, Poin kedua ini meniscayakan kita membaca arah jalannya sejarah. Hanya ketika kita mampu membaca kemana sejarah ini sedang mengarah, kita bisa mendefenisikan fakta-faktanya, apa masalah yang sedang di hadapi oleh ummat kita dan apa masalah yang sedang di hadapi oleh manusia secara Umum, serta apa solusi yang bisa kita tawarkan.

Kita semua di takdirkan hidup di zaman yang keras dan saya percaya ini adalah karunia yang di berikan Allah kepada kita. Dari Usia kita memulai hidup, kira-kira era reformasi. Sekitar 20 tahun kemudian, kita berada di era yang bukan lagi kekacauan nasional yang terjadi, melainkan kekacauan global. menurut saya ada dua hal yang mendefenisikan jalannya perubahan Geopolitik secara global ; pertama, Trend penolakan pada sistem Global atau Global Order, dan kedua adalah munculnya leadership style yang baru dari negara-negara besar. Misalnya, Putin Di Rusia, Xi Jing Ping Di China, Erdogan Di turki. 

Secara Global Kita telah melampaui satu tahap dari penolakan tersebut, tahapnya yang kita sebut sebagai Global disorder. Sekarang kita memasuki tahap yang kedua, yaitu Global Chaos. Biasanya, tahap antara Chaos ke tahap selanjutanyaa, satu dari dua hal yang sering terjadi dalam sejarah adalah perang. Yang kedua, jika suatu bangsa di karuniai pemimpin-pemimpin yang berakal, bertangan dingin, maka ia bisa menemukam kesepakatan baru, untuk keluar dari masalah yang sedang di hadapi. Ihwal itulah, kelak kita akan melihat seperti apa masing-masing pemimpin ini mendefenisikan musuhnya, seperti itulah dia akan bertindak. Tetapi, dua elemen ini sangat menentukan. Masalahnya bagi kita dalam global sistem ini atau Global order, dunia Islam adalah Outsider dan dalam sistem politik di semua dunia islam - Harokah Islamiyah juga masih Outsider.

Apa kita tahu, ayat geopolitik pertama yang turun dalam sejarah Rosulullah SAW, yang turun di mekkah, yaitu  "ghulibati ruum", ayat dan surat ini bukanlah ayat madaniah, tetapi ayat makkiyah. Di turunkan di mekkah, Agar generasi baru yang tumbuh tahu, bahwa hal ini hanyalah masalah waktu dan akan bertemu dengan dua kekuatan besar. Tetapi, sejak awal kita mesti sadar.  Artinya, sejak awal ketika orang-orang arab atau ummat rosulullah tumbuh dan belum melakukan apa-apa, mereka sudah sadar tentang peta Geopolitik global. 

kalau kita perhatikan ayat tersebut sangat defenitif, "ghulibati ruum", aktornya dulu di sebutkan semuanya - ada persi dan romawi. Tempatnya, "fi adnal ardh". Lalu, Siklusnya, " wahum mim ba'di gholabihim sayaghlibun". Setelah itu Time Framenya, " fii bid'in siniin - dalam beberapa tahun". Kata bid'in, berarti antara 3 sampai 9 tahun. Dengan kesadaran geopolitik seperti itu, maka kaum muslimin di bawah kepemimpinan Rosulullah SAW mengerti, bagaimana mereka meretas jalan mereka. Mengerti, bagaimana cara mereka menemukan peta jalan bagi diri mereka sendiri.

Jika kita membaca sejarah Genghis Khan, kita akan tahu, bahwa beliau melewati 40 tahun umurnya sebagai buron, karena ayahnya sebagai kepala Kabilah di bunuh oleh lawannya dan seluruh keluarganya di bantai habis. Genghis Khan lari dan di buru kemana-mana. Tetapi karena dia menghadapi tekanan selama 40 tahun, maka berlaku teori fisika - Gaya berbanding lurus dengan tekanan. Maka, dalam waktu 20 tahun sesudah itu, beliau mengusai separuh dari hampir seluruh dunia.

Salah satu tipe dari orang-orang yang terlahir di masa Tekanan atau yang biasa di sebut oleh sejarawan "Strong Leader" adalah kemampuan mereka merubah tantangan menjadi peluang. Kemampuan mereka merubah ketakutan menjadi keberanian. Kemampuan mereka merubah kelemahan mereka menjadi kekuatan. Demikianlah cirinya. Hari ini, kalau kita melihat berdasarkan peran situasi Geopolitik ini, kita sudah harus mengisi peran sejarah yang akan kita lakukan, dengan menggabungkan kedua hal yang telah saya uraikan diatas, "kebutuhan zaman dan kemampuan yang kita miliki".

Saya ingin kita melihat beberapa contoh di dalam sejarah Islam, tentang bagaimana orang berpikir dengan cara ini. Kalau kita membaca 4 pemimpin mazhab, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad. Kita akan melihat bahwa ada satu hal yang sama dari mereka berempat, yaitu mereka menjauhi Politik dan hal itu dengan sadar mereka lakukan. Karena mereka tahu, bahwa hal itu bukanlah peran utama yang di tuntut oleh zamannya mereka. Mengapa bukan peran utama?. Karena masa itu, estabilished. Politik itu Estabilish, negara kuat dan masyarakat pada umumnya juga sejahtera. 

Tetapi, ada satu tantangan besar dalam sejarah islam, yaitu Ekspansi Islam yang sangat luas, baik secara Teritori yang terus bertumbuh dan maupun secara demografi. kemudian yang lebih penting adalah pertemuan kebudayaan - Multikultur. karena itu secara intelektual kalau kita ambil referensinya, orang akan mengulangi kesulitan dalam berinteraksi dengan teks-teks Al Qur'an dan As Sunnah untuk bisa memahaminya secara lebih ril. Sementara Teks Qur'an dan Sunnah di periode tersebut Sementara di kumpulkan. Sedangkan tidak semua orang memiliki kemampuan metodelogi untuk memahami Al Qur'an dan Sunnah agar di terapkan dalam hidupnya. Apalagi dengan begitu banyak budaya baru yang bergabung dalam horizon islam, sehingga peluang terjadi Multitafsir kepada teks-teks pun menjadi sangat besar. Karena alasan itulah, sehingga Mereka para imam mazhab bersepakat mewakafkan dirinya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut.

Misalnya, Coba kita lihat dari Kehidupan Abu Hanifah. Abu hanifah waktu muda, ia tidak memulai belajar dari kecil, beliau belajar di tengah jalan, karena beliau adalah seorang pedagang. Suatu waktu, ada Seorang ulama di zamannya ketemu Abu Hanifah, di tanyalah Abu Hanifah, mau kemana?. Mau ke pasar, jawab Abu Hanifah. Di tanya lagi sama Ulama Tersebut, kamu tidak ke majelis-majelis Ilmu yang sedang berlansung?". Jawab abu Hanifah, saya lebih sering ke pasar ketimbang bertemu ulama. Kata ulama tersebut, saya melihat engkau memiliki kecerdasan dan energi. Mengapa engkau tidak mengarahkannya untuk ilmu?. Imam Ahu Hanifah, kembali ke rumahnya dan memikirkan sepanjang malam, kalimat ulama tersebut. Sejak itulah, beliau merubah jalan hidupnya.

Kita tengok ke Imam Syafi'i. Imam Syafi'i itu lahir di gaza. Besar di Mekkah dan madinah setelah itu ia keliling di irak dan terakhir di mesir, sekaligus wafat di Mesir. Umur 7 tahun beliau hafal Qur'an, umur 10 tahun beliau menghafal muattan Imam Malik dan biasanya kita mendapatkan penjelasan dalam Tarikh tasrih in islamiyah bahwa imam abu Hanifah adalah imamnya para ahli Ro'an dan Imam Malik adalah imamnya para ahlul Hadist. Sedangkan Imam Syafi'i, belajar kepada Imam Malik dan juga bertemu dengan Murid - murid Imam Abu Hanifah. Tetapi, beliau keliling ke seluruh negara-negara yang menjadi rujukan utama ilmu yang ada di zaman itu, Di jazirah, di irak, di syam dan juga di mesir. Hasil dari semua itulah yang mengantarkan beliau menemukan bahwa di perlukan satu metodelogi  baru untuk memahami teks-teks ini. Kalau kita hendak menurunkan hukum dari teks - teks tersebut berdasarkan situasi yang ada di lapangan. Dari situlah kemudian lahirlah ilmu Ushul Fiqih.

Jika kita lihat, di luar dari Khulafaurrasyidin yang empat. Apakah ada Khulafa-khulafa atau raja-raja dari negara-negara islam yang lebih populer dari empat imam Mazhab ini?. Kita semua yang ada sekarang, cara kita beragama di defenisikan oleh ke empat Imam Mazhab ini. Di irak dan Hampir semua Negara Asia Tengah dan selatan, Secara Populasi mungkin itulah pengikut mazhab hanafi paling besar di dunia. Di negara - negara Teluk dan syam dan beberapa diantaranya adalah pengikut Hambali. Tetapi kalau kita menengok ke afrika utara, sebahagiannya di mesir dan boleh di katakan hampir semua negara Afrika itu Pengikut Maliki. Lalu, sebahagian Syam, mesir dan ke Asia Tenggara atau Asia Pada Umumnya itu adalah pengikut Imam Syafi'i.

Artinya, Cara kita beragama ini di defenisikan oleh Keempat Imam Mazhab tersebut. Mereka sejak awal, mengerti tentang peran sejarah yang harus mereka lakukan. Karena waktu itu politik well estabilihs dan kondisi ekonomi juga bagus. Makanya, mereka memilih perannya.

Kebalikannya, ketika Tartar mulai menyerbu seluruh dunia dan mulai masuk ke wilayah-wilayah islam. Ada satu orang yang kemudian mengalahkan pasukan Tartar. Ia berdoa, berniat dan terus memikirkan bagaimana caranya mengalahkan pasukan tartar. Ia Mewakafkan hidupnya untuk itu, bahwa suatu waktu ia akan mengalahkan Tartar tersebut. Karena setelah Tartar mengambil Irak, mengambil syam dan seluruhnya, wilayah yang tersisa bagi dunia islam, tinggal mesir dan di mesir itulah orang tersebut berada. tetapi, dia bukan orang mesir. Dia orang dari antara Afganistan dan Irak, dulu anak dari kerajaan Khawarizme yang di hancurkan oleh Pasukan Tartar. 

Dia adalah "Saifuddin al qutus atau Al malik al muzaffar sayaf addin al qutuz". Dia tahu bahwa inilah peran terbesar yang mungkin tidak bisa di lakukan oleh orang lain. dia sendiri punya Histori dengan Pasukan Tartar, dimana keluarganya Habis di bantai dan dia melarikan diri - selamat. Lalu, masuk menjadi budak, di perjual belikan di damaskus. Setelah itu ia di kirim ke mesir dan ia menjadi Tentara - Fi ahdil mamalik. Akhirnya di zamanya-lah ketika Pasukan Tartar akan datang yang di pimpin oleh Khulagu Khan, beliau berhadapan dengan itu. Dia berhasil mendefenisikan perannya secara tepat sesuai dengan Tuntutan zamannya.

Lalu, bagaimana kita mendefenisikan peran sejarah kita?. 

POINT KETIGA adalah Inovasi. Setiap generasi itu punya cara berpikirnya sendiri, punya cita rasanya sendiri. Karena itu punya bahasanya sendiri. Kita di niscayakan untuk bekerja dengan perangkat-perangkat intelektual yang ada di zaman kita sendiri.

Lingkungan atau zaman dimana kita hidup ini, penuh dengan tantangan-tantangan yang berat, yang tidak bisa kita hadapi dengan cara berpikir yang biasa saja. Di perlukan begitu banyak terobosan untuk menghadapi tantangan tersebut. Saya membaca beberapa buku inovasi, Tetapi, saya sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa Inovasi itu bukanlah produk kecerdasan. Inovasi belakangan ini adalah produk dari sebahagian Keberanian dan Sebahagian dari Rasa penasaran.

Hanya orang-orang yang penasaran yang dapat membuat Inovasi. Tetapi, inovasi akan membuat kita sendiri dan hanya orang-orang berani yang mau berdiri sendiri.

Khalid Bin Walid ketika menghadapi persi dan Romawi, Dia tahu betul bahwa dalam sejarah militer, yang pertama kali menerapkan sistem militer secara terstruktur dan sistematis adalah romawi. Ada sejak Tahun 300-an Sebelum masehi. Saat Khalid berhadapan dengan Romawi, di tahu betul bahwa dia sedang menghadapi bangsa yang memiliki pasukan militer regular, yang punya tata cara perang, yang punya aturan main sendiri. Khalid bin Walid juga hidup sendiri di tengah orang badui, yang juga punya tata cara perangnya sendiri.

Cara perang Orang badui, jika di gunakan untuk menghadapi tentara regular, pasti tidak akan kuat. Tetapi, asal kita ketahui, bahwa Jazirah - orang badui itu merupakan wilayah yang tidak pernah bisa di akses oleh persi dan romawi. Sekalipun, Orang badui ini tidak bisa berhadapan dengan Romawi dan Persi, faktanya adalah Jazirah adalah wilayah yang tidak pernah di jajah oleh mereka.

Oleh karena itu, secara Saintifik atau ilmu pengetahuan, dapat di katakan bahwa pola perang orang badui tidak di ketahui oleh orang persi dan romawi. Mereka buntu akan hal itu. Sedangkan, ahli-ahli strategi mengatakan, "jika anda ingin menang, maka berpikirlah dengan cara yang tidak di pikirkan oleh musuhmu". Makanya, Strategi Khalid Bin Walid kalau kita baca adalah Kombinasi antara Strategi Tentara Regular Romawi dan Persi, serta Teknik perang Orang-orang badui.

Mislanya, ketika Orang-orang badui berhadapan dengan Orang persi, saat perang Qudisiyah, yang di pimpin oleh Saad bin Abi Waqqos - kaum muslim tidak tidak pernah membayangkan kalau yang mereka hadapi adalah Gajah, sementara pasukan muslim menggunakan Kuda dan berjalan kaki, akhirnya di injak-injak lah oleh Gajah. Akibatnya, pasukan Muslim mundur dan melakukan musyawarah, untuk menemukan formulasi, bagaimanakah cara menghadapi Gajah?.

Ternyata kelemahan gajah terletak di matanya. Karena kelemahan gajah terletak di matanya, maka pasukan yang di butuhkan, buka pasukan kuda. Tetapi, pasukan pemanah. Begitu salah satu gajah di lepaskan, di panah tepat di matanya, akhirnya gajah tersebut berbalik. Sehingga gajah-gajah yang lainnya kocak kacir, berbalik merusak dan memporak-porandakan pasukan persi sendiri.

Begitu juga saat menghadapi pasukan Romawi dalam perang Yarmuk. 36 ribu pasukan muslimin menghadapi 240 ribu pasukan Romawi, secara jumlah tentu pasukan kaum Muslimin kalah telak. Lantas, Bagaimana cara Khalid Bin Walid menghadapi pasukan romawi?.

Khalid bin walid akhirnya menebar pasukannya -pasukan tengah, sayap kanan dan sayap kiri. Tetapi, khalid membolak balik setiap hari pasukannya, kadang yang di tengah, di tukar dengan yang ada di kiri dan yang kanan di tukar dengan pasukan yang berada di tengah. Setiap hari Khalid merotasi pasukannya. Nah, orang-orang Romawi yang melihat hal itu, berpikir sepertinya Setiap hari pasukan muslim bertambah - ada suplay pasukan terus, Jumlahnya berapa tidak bisa di defenisikan. Artinya khalid bin walid tahu cara berpikir lawannya. Tetapi, Lawannya tidak tahu cara berpikir khalid bin walid.

Lantas apa yang menyelesaikan masalah tersebut?. Itulah sebabnya diatas saya katakan, bahwa Inovasi bukanlah produk kecerdasan. 

Walaupun khalid bin Walid sudah melihat situasi tersebut, bahwa kaum muslimin ini juga memiliki rasa Gentar menghadapi pasukan romawi tersebut, karena bagaimana pun kaum muslimin tidak pernah menghadapi jumlah pasukannya yang begitu besar seperti yang di miliki pasukan romawi. Artinya, dua pasukan ini punya masalah psikologis yang sama, Pasukan kaum muslimin yang kecil melihat jumlah pasukan yang besar dan Pasukan besar - Romawi juga tahu, bahwa pasukan kecil ini tidak pernah punya sejarah kalah. Jadi, sama-sama dalam kondisi ragu. Karena itulah, beberapa bulan, kedua pasukan yang akan perperang ini saling menatap dan tidak saling serang.

Abu Bakar yang melihat hal itu, tahu bahwa sebenarnya ini persoalan Komandan lapangan dan yang bisa memutuskan semua ini adalah komandan lapangan. Makanya, Khalid bin Walid di tarik dari Irak menuju Yarmuk. Begitu Khalid Bin Walid melihat situasi tersebut, Ia berkesimpulan sama dengan kesimpulan Abu bakar. Makanya, di buatlah kompromi - bergantian menjadi komandan. Tetapi, serangan harus kita mulai. Begitu serangan di mulai, Beliau mengatakan, " Ya Ma'syirol muslimin hadza yaumun min ayyamillah fa aklisu fi jihadakum lillah - wahai kaum muslimin, ini satu hari dari sekian hari-hari Allah, maka Ikhlaskanlah jihad kalian di jalan Allah SWT. Dari pada kalian sibuk menghitung jumlah musuh kalian, lebih baik kalian sibuk memenggal leher mereka".

Karena itulah menjadi seorang inovator harus memiliki keberanian.

POIN KEEMPAT, adalah Taufiq Allah. Kita boleh menjadi inovator yang ulung. Tapi, pada akhirnya sukses itu pekerjaan Allah SWT dan kita mengenal satu kaidah bahwa jika Allah ingin memperlakukan takdirnya, maka dia menyiapkan sebab-sebabnya.

Taufiq Yang di maksud adalah titik dimana kehendak Allah bertemu dengan Kehendak kita. Kemauan kita dan kemauan Allah bertemu dalam suatu waktu dan tempat dalam suatu situasi. 

Gambaran paling visual dari pendapat Taufik ini adalah saat kita Istiqharoh sebelum memutuskan untuk menikah, saya sudah mau. Tetapi, apakah Allah sudah mentakdirkannya. Kita belum tahu. Di tengah ketidaktahuan itulah kita di dorong oleh rasa penasaran untuk terus berusaha - terus menerus ta'aruf, terus menerus berkomunikasi, terus menerus mempersiapkan. Tetapi, juga kita harus mempersiapkan kemungkinan, bahwa jangan sampai tidak terjadi.

Begitu kita menikah, sudah akad, baru kita tahu  bahwa hal ini memang terjadi. Waktu akadnya sudah terjadi, itulah takdir. Saat kita taaruf, itu adalah perjalanan menemukan takdir kita. Apa yang Allah takdirkan pada kita dalam hidup ini, sampai kita wafat, kita tidak tahu. Yang harus kita lakukan adalah terus menerus berjalan mencari takdir tersebut.

Oleh karena itulah, di awal saya menyebutkan, saat Umar Bin Abdul Azis mengatakan, " inni akhofun naar", dia tidak tahu bahwa ternyata umurnya tinggal 2,5 tahun lagi. Sesungguhnya dia sedang berjalan menemukan takdirnya dan hal itu juga yang harus kita lakukan. agar kita mengetahui, bagaimana cara kita menemukan takdir kita.

Berkenaan dengan itu, saya teringat dengan satu doa yang terus saya amalkan, " allahumma ja'al hammi hamman akhiroh - Ya Allah, jadikanlah seluruh keinginanku adalah akhirat. Jadikanlah seluruh kegelisahanku adalah akhirat.


Wallahu a'lam...


- Makassar, 03/07/2023 -


*Pustaka hayat

*Pejalan sunyi

*Rst

*Nalar pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar