Mengenai Saya

Selasa, 11 Juli 2023

KEYAKINAN PEJUANG DAN PERTOLONGAN ALLAH SWT ; PERMENUNGAN

Dalam sebuah perjuangan yang panjang. Kita selalu membutuhkan sumber kekuatan. Sumber utama kekuatan kita adalah keyakinan. Keyakinan bahwa tujuan dari perjuangan kita adalah mulia. Keyakinan, bahwa jika tekad dan rencana kita yang terbaik dan di padukan dengan rencana Allah. Maka, Insya Allah kita akan sampai ke tujuan.

Acap kali kita menghadapi momen yang membuat kita seperti kehilangan keyakinan. di tengah momen seperti itulah kita perlu mengembalikan kembali sumber energi kita. sekali lagi sumber energi itu datangnya dari keyakinan kita. Sebab, Keyakinan-lah yang akan menjadi sebab, turunnya pertolongan Allah SWT, di momen-momen ketika seluruh usaha kita telah selesai.

Di titik itulah, saya teringat dengan satu Kaidah dalam Islam, bahwa "pertolongan Allah akan Turun, di batas paling ujung dari kemampuan manusiawi kita".

Belajar dari proses Hijrah Rosulullah SAW, paling tidak ada tiga momen yang Allah mengintervensi lansung perjalanan Rosulullah SAW.

PERTAMA, Pada malam ketika Rosulullah SAW memutuskan untuk berhijrah. Sebagaimana kita ketahui pada momen tersebut, para sahabat telah berhijrah terlebih dahulu secara sembunyi-sembunyi, malamnya Rosulullah SAW menyusul para sahabatnya.

Siangnya Orang - orang Quraisy memutuskan bahwa tidak ada jalan untuk memusnahkan Agama Baru (Islam), kecuali dengan membunuh Nabi yang membawa Agama ini. 

Pola seperti ini akhirnya menjadi pola umum dalam semua perjuangan. Potong kepala dari suatu struktur kekuatan ideologi, agar ideologi tersebut hilang. Begitu juga yang di lakukan oleh orang-orang Quraisy. Tetapi, sayang usaha mereka gagal. Persis setelah mereka mengambil keputusan di darun nadwa untuk membunuh Rosulullah SAW, pada saat itulah Jibril datang kepada Rosulullah SAW menyampaikan Rencana Orang Quraisy dan memerintahkan kepada Rosulullah SAW, agar segera melakukan Hijrah.

Tetapi, Kita menyaksikan Drama. Pada malam ketika Rosulullah telah memutuskan untuk Hijrah. Rumahnya telah di kepung. Rosulullah Tahu betul bahwa Rumahnya telah terkepung dan yang mengepung rumahnya adalah para pemimpin dari seluruh kabilah-kabilah Quraisy, sehingga ketika Rosulullah berhasil di bunuh, maka Bani Hasyim tidak akan balas dendam. Karena resiko akan di tanggung oleh seluruh kabilah-kabilah.

Lihat bagaimana situasi tersebut di intervensi lansung Oleh Allah SWT, mengapa mereka tidak lansung masuk ke rumah Rosulullah dan membunuhnya. Justru mereka menunggu Rosulullah keluar rumah. Padahal di dalam rumah tersebut, hanya ada Sayidina Ali dan Rosulullah SAW.

Dalam penenantian itulah, Allah hanya membuat satu pekerjaan kecil yang membuat orang-orang yang mengepung rumah Rosulullah menjadi terlena, tertidur. Lalu, Rosulullah SAW keluar dan menaburi Tanah diatas kepala mereka semua, sambil membaca beberapa ayat dari Surat Yasin, "Waa jaa alna mim baini aidihim saddan wa min kholfihin saddan fa agsayanahum fa hum la yubsirun".

Nabi akhirnya berhasil keluar Rumah dan mereka para pembunuh tersebut tidak mengetahuinya.

KEDUA, ketika Rosulullah SAW berada di goa Tsur. Orang-orang Quraisy sudah sangat marah, akibat kegagalannya membunuh di malam pada momen pertama. Sehingga mereka memutuskan untuk terus melakukan pengejaran dan kenyatannya, mereka persis ada di tempat dimana Rosulullah SAW bersembunyi. Sekali lagi, Allah mengintervensi situasinya dan mereka tidak tahu, bahwa Mulut Goa yang mereka datangi sudah benar. Rosulullah berada di dalam goa bersama Abu Bakar. Tetapi, mereka tidak sampai masuk, Abu bakar bahkan melihat kaki mereka. Abu bakar sangat ketakutan dalam situasi tersebut, apalagi saat  ia melihat kaki orang-orang musyrikin Quraisy telah berada di luar Goa Tsur. 

Padahal, Jarak antara penemuan tersebut sangat tipis, tetapi Allah membuatnya tidak terjadi, dengan caranya sendiri. Coba perhatikan Rosulullah SAW berkata kepada Abu Bakar yang gelagatnya ketakutan setelah melihat kaki orang-orang Qurasiy, "Ya Abu bakar, ma dzonnuka mistnaini Allahu tsalitsuhu - apa duguanmu tentang dua orang (yang berada di dalam Goa ini). Allah adalah yang ketiga diantara mereka yang berdua itu".

Artinya Allah bersama mereka. Bahkan Hanya dengan intervensi kecil dari Allah, Situasi pun berubah.

KETIGA, ketika Rosulullah sementara perjalanan menuju Madinah bersama Abu Bakar, perburuan kepada mereka belum usai. Salah satu diantara yang melakukan perburuan adalah "Suraka bin Malik".

Pada situasi ini, Terlihat jelas Mukjizat Rosulullah, sebab setiap kali Kuda Suraka mendekati Rosulullah, Kudanya terus terpeleset, sehingga membuatnya tidak bisa menyentuh Nabi.

Ketiga Momen ini, kita menyaksikan bahwa suatu perencanaan yang detail dalam sebuah perjuangan, di sertai dengan keyakinan dan tekad yang kuat, bertemu dengan pertolongan Allah - bertemu dengan Kehadiran Allah SWT - Bertemu dengan Intervensi Allah SWT. Seketika arah sejarah berubah, karena momen-momen yang kritis Tersebut di Lewati oleh Rosulullah SAW.

Jika kita merenungi kembali peristiwa Tersebut, hal ini menunjukkan bahwa agama hadir sebagai satu penafsir yang benar. Sebab, ini bukan cerita tentang Heroisme, bahwa saking hebatnya Rosulullah SAW dan sahabatnya, mereka Bisa lolos dari pengejaran orang-orang Quraisy. Inilah yang saya maksud - pertemuan antara keyakinan seorang pejuang dan pertolongan dari Allah SWT.

Namun, ada Hakikat atau makna yang jauh lebih dalam, yaitu darimana sumber keyakinan Rosulullah SAW?.

Pada tahun ke 11 H, sekitar beberapa bulan setelah melewati 3 tahun masa isolasi di mekkah. Rosulullah SAW mengalami dua peristiwa yang benar-benar memukul hatinya. Pertama, Wafatnya Paman beliau - Abu Thalib, orang yang menjadi sumber proteksi keamanan dan politik beliau dalam proses dakwahnya selama 13 tahun di mekkah. Kedua, Wafatnya Khadijah, getar Kerinduan beliau, orang yang menjadi sumber kekuatan Emosional dan sekaligus menjadi sumber kekuatan Finansialnya.

Ketika Dua orang ini Wafat, menjadi pertemuan sumber kesedihan pada waktu yang sama dan karena itulah tahun ini sering di sebut sebagai tahun kesedihan dan hal itu menciptakan pukulan batin yang sangat dahsyat bagi Rosulullah SAW.

Beberapa bulan setelah itu, persis ketika Rosulullah memulai rancangan dakwahnya kepada kabilah-kabilah Quraisy, terjadilah peristiwa Isro dan Mi'raj. Perjalanan satu malam, dari Mekkah ke Baitul Maqdis, lalu perjalanan ke Sidhratul Muntaha.

Coba bayangkan, semua perjalanan tersebut terjadi dalam satu malam. Di setiap perjalanan Mi'rajnya, ia bertemu dengan seluruh Nabi-Nabi di setiap langit sampai berjumpa dengan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Rosulullah SAW diajak untuk melihat akar sejarah dari perjalanan hidupnya, bahwa beliau adalah satu bahagian dari Kafilah kenabian yang panjang.

Namun yang lebih dalam dari perjalanan tersebut adalah bagaimana Bumi ini bisa terlihat dari Langit yang tinggi, apakah kita bisa melihat bumi, Tidak. Seketika bumi itu tidak ada dan hal itulah yang meyakinkan Beliau, ternyata semua masalah yang terjadi di bumi, tidak ada nilainya sama sekali, apalagi sekedar sebuah peristiwa yang ada di jazirah Arab dan Mekkah. Semuanya menjadi kecil.

Dalam sebuah pemandangan yang sangat besar, semua drama di bumi ini menjadi sebuah drama yang sangat sederhana, tidak ada apa-apanya. Di titik itulah juga, mengapa perintah sholat di turunkan pada peristiwa Isro dan Mi'raj, sebagai satu kesatuan keagungan dan kebesaran Allah. Makanya, lafadz yang paling besar saat kita sholat adalah Allahu Akbar - Allah Maha Besar.

Berangkat dari keyakinan bahwa Bumi dan seisinya hanyalah setitik tanda dari Semesta yang Maha dahsyat. Beliau menjalani seluruh proses perjuangannya, tampak kecil. Selain itu, dengan keyakinan itu juga beliau memiliki kemampuan untuk melewati seluruh tantangan yang mereka hadapi. Sebab, keyakinan Rosulullah lebih besar dari semua tantangan yang di hadapi.  Makanya, ketika Abu Bakar melihat kaki orang Quraisy di depan Mulut Goa Tsur, Ia ketakutan. Rosulullah meyakinkannya, apa masalahnya. Bukankah diantara kita, Allah adalah yang ketiga.

Di situlah kita melihat Perjumpaan antara Keyakinan Sang Pejuang - Sang Nabi dengan Pertolongan Allah SWT.

Dalam permenungan yang lain, tentang bagaimana kita memaknai Takdir dalam perjuangan tersebut. Takdir ini bisa terjadi dalam tiga rangkaian. Pertama, intervensi lansung Allah, yang seketika merubah arah sejarah. Kedua, ada Proses yang natural yang di ciptakan oleh Allah, melalui sebuah Hukum - Causalitas (sebab akibat). Kita menyebutnya sebagai Hukum Sejarah - Sunnatullahi fil kaum. Misalnya, tempat dimana mereka akan berhijrah - madinah, secara Geografis sebenarnya lebih bagus, untuk melakukan penyebaran dakwah ke wilayah-wilayah yang lebih luas.

Selain itu, karakter masyarakat Yastrib yang di takdirkan hidup pada waktu yang sama, ketika Rosulullah SAW kelak akan berhijrah kesana dan bertemu dengan masyarakat baru yang akan membantu perjuangan beliau.

Hal-hal seperti ini terdapat dalam aturan - Hukum besar yang di ciptakan oleh Allah SWT dan di pertemukan dalam rangkaian waktu yang juga di atur juga oleh Allah, tetapi tampak seperti proses yang Natural dan terjadi dalam sebuah Hukum sebab Akibat. Karena beliau di usir dari mekkah, sehingga beliau ke madinah - respon terhadap suatu tantangan. Tetapi, beliau hijrah ke madinah, di sana ada sambutan yang sangat bagus. Hal seperti itu adalah bahagian dari desain besar Allah SWT dalam takdir keseluruhan yang di turunkan melalaui proses yang natural.

Ada yang ketiga, yaitu Takdir yang di berlakukan oleh Allah melalui situasi Kemerdakaan atau kebebasan manusia dalam mengambil keputusan. Apa yang kita anggap sebagai kemerdekaan pribadi dalam bertindak, kenyatannya akan bertemu dengan takdir besar Allah SWT.

Oleh sebab itu, keyakinan kita terhadap Takdir Allah SWT inilah yang akan menjadi sebab-sebab turunnya pertolongan Allah SWT dan saat itulah kita akan menyaksikan bahwa kemenangan, pada akhirnya hanya bisa di tafsirkan dengan satu Tafsir, yaitu Takdir Allah SWT.

**

Tidak semua hal yang kita ketahui akan menghibur hati kita. Beberapa hal, akan lebih indah, jika kita tidak mengetahuinya. Allah pasti akan mengulurkan tanganNya. Entah, dalam kondisi sesulit apapun, yang menurut logika (tidak akan mungkin). Asal syarat datangnya dipenuhi.

Misalnya, dalam Medan badar. Selain kejelian dalam meletakkan strategi, faktor lain yang cukup penting dalam memenangkan suatu pertempuran, ada dalam diri internal pasukan. Jauhnya personil dari pesan-pesan Allah, akan berdampak besar bagi menang tidaknya pertempuran. Medan badar dengan kuantitas pasukan yang jauh dari pasukan Quraisy, dapat dimenangkan oleh Rosulullah SAW. 

Mengapa?. Karena, faktor paling penting adalah keseluruhan pasukan ialah tunduk pada pesan Allah dan Rosulullah SAW.

Coba bandingkan dengan Perang Uhud, ada beberapa sahabat yang terlena dengan Ghonimah (Harta), akhirnya berakibat fatal. pesan Rosulullah SAW, "Jangan biarkan mereka menyerang kami dari belakang ketika kami menang atau sedang terdesak. Tetaplah di tempat dan jangan sampai kami diserang dari arahmu!”. jangan meninggalkan bukit uhud, diabaikkan pasukan Panah. Apa yang terjadi?, 50 orang pasukan panah dari 700-an pasukan muslim yang dipimpin langsung Rosul tergiur dengan Harta rampasan perang. Akibatnya, pasukan musyrik yang tadinya sudah hampir mengalami kekalahan berbalik arah menyerang jantung pertahanan kaum Muslim.

700 pasukan Islam, 70 lebih meninggal dipertempuran Uhud, dan hampir semua sisa pasukannya mengalami luka-luka, termasuk Rosulullah SAW. Hamzah Gugur dan pelipis Rosulullah terluka. Dalam riwayat yang Masyhur kita baca, setiap pasukan islam yang selamat dalam pertempuran Uhud, mengalami 2 luka akibat sabetan pedang musuh.

Dibawah pimpinan Rosulullah SAW, Pasukan Islam pulang dengan Luka dan sekaligus pelajaran berharga. Meskipun, tidak pernah keluar Dari Mulut Rosulullah SAW, memarahi pasukan Panah yang abai pada instruksi Rosulullah SAW.

Demikinlah, ketaatan pada perintah Rosulullah SAW, merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar.

Di madinah, ketika pasukan Islam mengobati luka-lukanya, Wahyu datang kepada Rosulullah SAW, untuk memerintahkan pasukan islam kembali bergegas mengejar tentara quraisy. Tanpa membantah, semua pasukan uhud bangkit dan kembali mengejar pasukan quraisy dengan luka-lukanya. Di Hamro'ul asad mereka tidur selama tiga hari, sehingga mereka semuanya aman pulang ke madinah.

Kesuksesan Rosulullah SAW, dalam mendidik sahabatnya, tidak ada yang lebih mereka cintai, selain Allah dan Rosulnya. Bahkan ada satu kisah haru, tentang dua orang kakak beradik yang baru pulang dengan badan penuh luka di uhud, saling membopong untuk mengejar tentara Quraisy.

Taat pada perintah Allah, selain Wajib, juga Sunnah Rosulullah SAW. Memang harus dipaksakan, sesakit apapun itu?.

Kata Allah, "Iyyanshurkumullahu fala gholibalakum wa iyyakhdzulkum famandzalladzi ‘alallahi falyatawakkalil mu’minun - jika Allah menolong kamu. maka, tidak ada orang yang dapat mengalahkanmu. jika Allah membiarkan kamu. maka, siapakah yang dapat menolong kamu sesudah itu?. karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawaqqal".

Dari kedua cerita diatas, kita dapat menarik satu hal, bahwa Ukuran pertolongan Allah, letaknya pada ketaqwaan dan sikap Tawaqqal pasukan.

Di suatu kesempatan, saat perang terjadi, pasukan dikirim untuk membantu. Umar Bin Khottab menyuruh balik satu pasukan yang dianggap telah durhaka pada kedua orang tuannya. Kata Umar ; " ingat, kalian dimenangkan oleh Allah, bukan karena jumlah kalian dan bukan karena persiapan kalian. kalian dimenangkan oleh Allah karena ketaqwaan. tapi, kalau kemaksiatan kalian sama dengan kemaksiatan musuh maka kalian kalah.

Mau menang?. maka, dekatkanlah diri kita pada Allah. sebab, ujung dari segala ikhtiar, akhir dari semua perjuangan dan pertempuran. Allah punya hak menentukkan, itu yang disebut taqdir. 

Kemenangan itu ada syaratnya. Kekalahan itu ada sebab-sebabnya. Aneh, jika kita berjuang hanya untuk mendapatkan harta dunia. maka, jangan berharap kemenangan ada di pihak kita. Kemenangan memang mempunyai syarat yang berat, namun kekalahan pun punya resiko yang tidak ringan. Olehnya, kita harus mempersiapkan kekalahan jauh hari sebelum pertarungan dimulai. Sebab, kemenangan selalu lebih dekat dengan suka cita. 

Berperang mesti mempersiapkan segalanya, strateginya harus diatur dengan rapih dan terukur. Satu amunisi bisa untuk membunuh 10 bahkan 100 orang lebih musuh, tapi satu amunisi juga bisa membunuh satu kawan bahkan lebih. Menghabiskan amunisi sebelum peperangan yang sesungguhnya terjadi, itu langkah awal kekalahan pasukan. Tergiur dengan "ghonimah" diujung peperangan, juga bahagian dari melemahkan bahkan menghilangkan ruh dari perjuangan.

Pejuang adalah orang yang selalu melawan tanpa tendensi kecuali ridhoNya, sepanjang musuh belum terkalahkan dia akan selalu menyusun strategi-strategi cadangan. Selama berjuang dia tak pernah pamrih kecuali pekikan kemenangan diujung perjuangannya.

Naik kuda, unta atau jalan kaki menuju gelanggang pertempuran itu bukan soal, yang menjadi soal adalah pulangnya dalam keadaan kalah tetapi membawa lebih banyak kuda dan unta, bahkan tidak ada yang berjalan kaki.

Lakukan dengan terukur, persiapkan senjata cadangan yang hampir sama tanjamnya. Sehingga kemenangan bisa direbut.

Demikianlah Petarung, ia harus berani memanggil keputusannya Pulang. Ia bawakan kepastian akan ada apa esok hari?. Pilihannya, bahagia diantara sepi atau tertawa ditengah-tengah sunyi. Banyak dari kita yang berhenti karena menyerah, bukan akibat kalah. Padahal orang yang menyerah tidak akan pernah menjadi pemenang. Kekalahan telah mencicipiku manisnya kemenangan dari sebuah perang besar yang paling monumental ; Menaklukan diri sendiri". 

Biarlah saya kalah dengan gagah. Berdiri diteriknya harapan yang menyala-nyala, menggambar birunya langit yang tersenyum mengancam.

Nabi yusuf, misalnya, setelah kedengkian 10 saudaranya. Konspirasi pembunuhan pun direncanakan, Yusuf lalu di buang ke dalam sumur secara hidup-hidup. 40 tahun kemudian mereka datang dengan menghamba pada Yusuf untuk meminta makan di negeri Mesir.

Nabi Yusuf sudah jadi raja atas tanah itu. mereka para pembunuh itu datang dengan muka papah. mengiba pada raja agar diberi bantuan makan. mereka sama sekali tidak mengenalinya, bahwa yang ada dihadapannya adalah adik kandung yang dulu ingin dibunuh, akibat dengki.

Nabi Yusuf, dua kali masuk istana dengan sebab yang berbeda ; pertama, saat menjadi budak, lalu diperjual belikan. dan kedua, menjual kemampuan mena'wil mimpinya pada raja. Al-Qur'an menyebutkan, raja mengumpulkan pembesar-pembesar istana (Al-Mala'), lalu Raja menyampaikkan mimpinya. Ternyata, tidak ada satupun yang mampu menerjemahkan mimpi Raja. Kecuali, ada seorang anak muda yang dipenjara, Nabi Yusuf dipanggil, memecah semua pertanyaan yang tidak mampu dijawab elit.

Yusuf akhirnya menjadi jawaban atas masa depan mesir. Diangkat menjadi raja, atas solusinya yang relevan dengan masa depan mesir kala itu.

Ada juga cerita, tentang Bang Indra Jaya Piliang. Beliau adalah seorang Kolomnis dan pendekar pena. Ia barangkali, adalah satu-satunya orang yang membukukan kekalahannya di Pileg 2009. bayangkan, selama setahun ia menulis tentang kekalahannya. buku itu baru dilaunching 11 april 2010. semua isi buku itu tentang kekalahannya dipileg 2009 berikutnya, gagal menang sebagai bupati pariaman 2013.

Memang pilihan bang Indra masuk belantara politik, Golkar. bikin geger seantero aktivis dari level kecobong sampai level kakap. semuanya nyinyir.

Kenapa bang Indra ke politik. secara, ia seorang analis di centre for strategic and international studies (CSIS) yang punya nama. bang Indra datang ke politik saat banyak orang menganggap politik itu seperti peternakan dan kakus.

Bang Indra adalah seorang pendekar pena, artikelnya juga acap mengisi kolom media massa. Dari Kompas, tempo, republika hingga media massa kelas menengah ke bawah. Ia artikelis yang punya pamor. Bahkan saya menganggap kata-katanya dalam artikel itu seperti orang. Ia hidup, bisa bicara, kadang cerewet, luwes dan menari-nari dalam satu helaan makna.

Kalau kata-kata bang Indra itu di andaikkan Mahkluk hidup, saya membayangkan "Minios" tokoh kartun dalam filem "despiacble me", makhluk kecil lucu mirip kapsul, punya kaki tangan, berwarna kuning, lentur dan suka ngoceh. pada intinya, pilihan diksi Bang indra hidup, mengalir seperti orang bicara, tapi agak ngoceh.

Saya kadang bertanya, apakah pilihan migrasinya bang Indra dari Jurnalisme ke politik, hanya menginginkan ending cerita begini?. Yakni, menulis judul buku "kekalahan" setebal 500 lembar. apapun itu, buku bang Indra seperti menampar politisi agar cepat-cepat sadar dari fantasi kemenangan yang agak radikalistik.

Artinya, Hidup itu di pertukarkan. di banyak kesempatan kita menang dalam pertarungan, tetapi kekalahan juga bahagian dari resiko yang harus ditanggung bersama dengan keinginan untuk menang. Allah pasti punya jalan untuk memenangkanmu dipertarungan berikutnya. Kita harus bisa menafsirkan mimpi kita sendiri, mengambil sikap kolektif yang relevan dengan kebutuhan ummat dan bangsa. Dengan begitu, kita akan menjadi pemilik istana.

Soal lain, jika dibaca dengan mata telanjang, kita akan dapati poin-point dari perjanjian Hudaibiyah yang merugikan ummat islam, banyak sahabat yang protes. 6 tahun lamanya mereka menahan rindu atas tanah lahirnya. Tetapi, harus pulang ditengah jalan. Umroh tidak jadi dilakukan. hewan kurban disembelih ditengah perjalanan. rambut dibotaki, lalu rombongan Rosulullah SAW pulang ke madinah.

Apa yang terjadi berikutnya?. Pada tahun berikutnya terjadi penaklukkan Mekkah oleh Rosululah SAW dengan damai.

Demikinlah kemenangan yang sesungguhnya; harus terlihat seperti orang kalah, sebelum mendapatkan kemengan besar. Belajarlah menjadi pemanah; semakin kencang tali busur itu ditarik ke belakang. maka, semakin kencang anak panah itu jika dilepas.

Bersabarlah, Nasehat Itu terngiang di pohon telingaku. sebab, semua kita ini adalah pemenang setelah berhasil di lahirkan Ibu kita ke dunia.

Suatu ketika Nabi Yusuf kedatangan Malaikat Jibril. Nabi Yusuf Bertanya Pada Jibril : "Ya Jibril, Mengapa Allah belum Juga Membebaskan aku dari penjara, bukankah aku tidak bersalah?". 

Jawab Jibril : Dulu, Engkau berdoa, Penjara Lebih aku Sukai ketimbang Berzina dengan Zulaikha. Itulah sebabnya Allah belum Juga MembebaskanMu. Jika dahulu permintaanmu adalah keselamatan, maka Niscaya Engkau tidak akan berlama-Lama di dalam Penjara seperti sekarang.

Allah selalu Mengikuti Prasangka Hambanya. Apa yang kita Pikirkan tentangnya, itulah yang kita dapatkan. Begitu Tuturnya pada Qolam KesunyianNya : "Aku berada Dalam Sangkaan Hambaku". Jika kita tidak pernah Bersyukur atas terkabulnya doa-doa yang pernah dilepas oleh lisan dan Hati kita. Apakah pantas kita mengeluh pada Allah, saat doa-doa yang Belum DiIjabah, saat hidup kita sempit dan menyedihkan?.


Tambak perahu telah di lepas dari Dermaga. Layar niscaya di rentangkan dan Perahu pasti di kemudikan. 
Jika Ombak dan badai besar datang menghadsng. 

Ingatlah, petuah orang tua kita, " la tahof, la tahzan Allahu ma'na - jangan takut, jangan ragu-ragu. kita harus Yakin bahwa Allah senantiasa membersamai perjuangan ini". 



- MAKASSAR, 12/07/2023 -


*Rst
*Pustaka hayat
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar