Dalam banyak hal, kearifan inilah yang membuat saya seringkali menunda. Persis seperti kita menanam sebuah pohon : Kalau yang kita tanam adalah pohon jagung. maka, insya Allah 4 bulan kedepan kita sudah bisa menuai hasilnya. Tetapi, kalau yang kita tanam adalah Pohon Jati. Kira-kira berapa tahun baru kita bisa menuai hasilnya?.
Menunda keinginan subjektif kita, melawan ketergesa-gesaan, Terutama karena nasihat orang-orang. menerima hal yang tidak kita sukai dalam jangka pendek untuk kesenangan jangka panjang adalah puncak dari Hikmah. Tetapi, puncak tersebut tidaklah mudah untuk di raih oleh setiap orang. Artinya, menjadi bijak tidak melulu soal ilmu pengetahuan. Ada persoalan karakter di situ.
Lantas Selama apa kita bisa menunda keinginan subjektif?.
Di dalam cerita Qorun, yang terdapat dalam Al Qur'an, ujung salah satu ayatnya berbunyi begini, "waa ma yulaqqo illas shobirun - dan tidak ada yang di berikan tentang kebijakan seperti ini, kecuali orang - orang yang Sabar". Sedangkan, ayat terakhir dalam penjelasan tentang Qorun ini adalah, "tilka darul akhirotu naj aluha lilladzina la yuridhu uluan fil ardhi wala fasadah wal akibatu lil muttaqin - itulah negeri akhirat, yang hanya kami berikan bagi orang-orang yang tidak menginginkan kejayaan pribadi di dunia dan juga tidak menginginkan kerusakan. Sesungguhnya kemenangan terakhir itu adalah milik orang-orang yang bertaqwa".
Artinya menunda kesenangan subjektif. Tentu memerlukan kesabaran. Itulah sebabnya, kata sabar di dalam Al -qur'an adalah kata sifat yang paling banyak terulang, diantara semua akhlak-akhlak yang lainnya.
Selain itu, mengapa sabar di hubungkan dengan kepemimpinan, bahwa untuk menjadi pemimpin, kita mesti bersabar.
Acap kali waktu yang di perlukan untuk mencapai misi yang begitu besar, sangat panjang dan karena itu, hanya sedikit saja orang yang bisa bersabar dalam menempuh waktu yang panjang tersebut. Kita lihat misalnya, sejak Nabi Yusuf As bermimpi dan tafsirnya di uraikan oleh ayahnya, yaitu Nabi Yaqub, bahwa suatu waktu ia akan menjadi seorang pemimpin.
Coba kita lihat, berapa jarak antara mimpi tersebut dan saat Nabi Yusuf akhirnya menjadi pemimpin di Mesir?.
Di dalam Riwayat di sebutkan ada 2 perspektif. Riwayat pertama menyebutkan, jaraknya 40 tahun dan riwayat kedua 80 tahun. Terlepas dari mana yang benar diantara kedua Riwayat ini, substansinya kedua riwayat ini mengabarkan jarak waktu yang sangat lama.
Selain itu, Drama kehidupan yang harus Di lalui Nabi Yusuf untuk sampai ke istana dan menjadi seorang pemimpin, bahkan saat beliau menjadi pemimpin, kondisi mesir dalam keadaan krisis. Sudah perjalannya menuju mesir luar biasa tragisnya. beliau harus masuk penjara di mesir dan lalu menjadi seorang pemimpin, sekaligus menyelesaikan semua krisis adalah waktu yang sangat lama.
Karena waktu yang begitu lama, biasanya hanya sedikit orang yang benar-benar bisa sampai di akhir.
Dalam benturan yang begitu besar atau Krisis yang melanda, biasanya hanya sedikit orang saja yang mampu untuk tetap tegar. Pemimpin yang tidak tegar, tentu akan mengalami syok yang besar, apalagi di tengah perjuangan, tetiba banyak dari pasukannya berguguran. Bukan karena mati. Tetapi, karena meninggalkan medan pertempuran.
Misalnya, dalam cerita tentang pasukan Tholut yang akhirnya mundur sebelum berhadapan dengan Jalut. Dari 80.000 pasukan, 76.000 pasukan yang mundur. Tersisa Hanya 4.000 yang bertahan, bahkan di dalam riwayat lain, hanya tersisa 313 saja, sebagaimana jumlah pasukan Kaum Muslimin di medan badar, "fa lamma kutiba alaihim kitalu tawallau illa qolil minhum - dan taatkala perang akhirnya di wajibkan kepada mereka. Mereka semua berpaling, kecuali hanya sedikit orang".
Artinya, Hanya dengan kesabaranlah seorang pemimpin bisa mengelola jiwanya sendiri, mengatur ritme suasana hatinya sendiri. Ketika menyaksikan dalam benturan atau krisis tersebut, pasukannya kocar kacir meninggalkan medan pertempuran.
Kalau kita menelisik uraian diatas, berkenaan dengan waktu yang sangat lama. kita mendapatkan satu istilah, "fasobrun jamil - maka bersabarlah dengan kesabaran yang indah". Sebab, waktunya lama. Begitu juga ketika benturan terjadi dan tetiba seorang pemimpin menyaksikan dirinya sendiri di kelilingi pasukan yang kecil, menghadapi pasukan yang besar. Karena sebahagian besar pasukannya telah kocar kacir meninggalkannya.
Di titik itulah, kesabaran menjadi kata kunci seorang pemimpin.
Jika terjadi perselisihan dan perpecahan di dalam pasukan atau dalam Tim ataukah dalam organisasi. Maka resolusi konfliknya, biasanya di selesaikan di luar dari persoalan prosedur yang telah di tetapkan. Sebab, ada hal yang jauh lebih fundamental, di luar prosedur penyelesaian masalah, yaitu kesabaran seorang pemimpin dalam menyelesaikan masalah secara tekun.
Makanya, kalau kita lihat di dalam Q.S. al Anfal ; 46. Allah SWT berfirman, "wa ati'ullAllah wa rosulahu wa la tanazaa'uu fa tafsyaluu wa taz habariihukum wassbiru innallahu ma asshobirin - dan taatilah Allah dan Rosulnya, dan janganlah kalian berselisih - berpecah belah (bertengkar). Yang menyebabkan kalian gentar (Gagal) dan kekuatan kalian akan pergi (hilang) dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar".
Artinya, kesabaran seorang pemimpin, jauh lebih penting dari semua prosedur atau SOP resolusi konflik yang di sediakan oleh sistem di dalam satu organisasi atau komunitas. Karena kesabaran seorang pemimpin tersebut, yang akan memastikan bahwa semua orang merasa nyaman walaupun di tengah situasi konflik dan setelah itu barulah prosedur benar-benar akan di ikuti secara baik.
Di luar dari semua segmen diatas, bahwa kita juga akan menemukan satu fakta, sebahagian besar manusia pada dasarnya tidak akan memahami risalah yang di bawa oleh seorang pemimpin secara benar, apalagi memahami misi besarnya dan ikut berjuang, serta sabar dalam perjuangannya sampai akhir.
Oleh sebab itu, tantangan terbesar seorang pemimpin, pada dasarnya adalah KESEPIAN. dalam banyak situasi, dia akan berdiri sendirian, tanpa orang lain. Drama yang tragis inilah yang di ceritakan oleh Allah SWT kepada kita di dalam Al Qur'an, tentang Kisah Nabi Nuh, setelah dakwahnya yang begitu panjang, hampir seribu tahun lamanya. Dakwah tersebut di tutup dengan satu kalimat oleh Allah SWT, "wa ma amana ma'ahu illa qolila - dan tidaklah beriman kepada Nuh, kecuali hanya sedikit orang".
Di dalam riwayat di sebutkan. Misalnya, yang di nukil oleh Ibnu Katsir, bahwa jumlahnya ada yang mengatakan hanya 80 orang dan yang lainnya mengatakan hanya ada 72 orang. Apapun yang benar dari riwayat tersebut, saya cuman mau bilang jumlah itu terlalu sedikit untuk ukuran masa dakwah Nabi Nuh yang sangat panjang.
Artinya, KESEPIAN adalah musuh terbesar seorang pemimpin dan hanya dengan KESABARAN, seorang pemimpin bisa mempertahankan keyakinannya, bahwa dia telah menunaikan tugasnya, apapun hasilnya.
- Silahkan di Konversi -
- Semoga bermanfaat -
*Pustaka Hayat
*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar