Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Rabu, 05 Oktober 2022

POLITIK ITU SUNYI 1 ; CATATAN KONTESTASI DEMOKRASI


POROS - POROS MENUJU 2024


Dua dari tiga ketua yang sudah mengumumkan poros baru sedang dibidik kasusnya, sementara satunya lagi konon akan digusur melalui kudeta internal. Sayangnya, jikapun status hukum kedua ketua itu meningkat jadi lebih serius dalam waktu dekat ini, itu semua jauh dari motif penegakkan hukum yang normal, melainkan lebih banyak dilakukan guna menekan perahu mereka agar mau memberikan tiket kepada pendekar berambut perak. 

Upaya menghidupkan kasus dua ketua itu sekali lagi membuktikan jika poros yang mereka bentuk memang bukan dilakukan atas titah istana, melainkan lebih merupakan upaya dari tiga ketua tadi untuk memproteksi dirinya dan perahu mereka dari ancaman genderuwo istana. Menarik untuk dilihat, dalam gesek-gesekan ini, mana yang ilmunya paling sakti. 

Golkar, PAN dan PPP sudah mengambil langkah maju dengan komitmen membangun poros politik dalam Pilpres 2024. Meski tidak memiliki tokoh internal yang kuat dan populer, namun gabungan tiga partai politik ini telah memenuhi syarat untuk mengajukan pasangan calon presiden dan wakil presiden sendiri. 

Seturut Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, pasangan calon diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25 persen dari suara sah secara nasional pada pemilu anggota DPR sebelumnya. Kita tahu, gabungan kursi Golkar, PAN dan PPP di parlemen mencapai 25,7 persen, alias lebih dari cukup. 

Berbeda dengan sejumlah pengamat yang menyatakan jika munculnya poros Golkar, PAN dan PPP ini sebagai lahir atas intervensi Istana, saya melihat di tengah isu adanya intervensi Istana untuk mendongkel Airlangga Hartarto dari kursi Ketua Umum Partai Golkar, munculnya poros ini justru merupakan langkah sebaliknya. Sesudah menjadi obyek perundungan politik selama berbulan-bulan gara-gara lontaran ketua umumnya mengenai perpanjangan masa jabatan presiden, Golkar dan PAN sangatlah berkepentingan untuk segera memperbaiki citranya sekaligus menyelamatkan peluang mereka pada kontestasi Pemilu 2024. 

Bagi PAN dan PPP, beban kedua partai ini bahkan lebih berat lagi dari yang dihadapi Golkar. Sebab, jika tak pandai bermanuver menyenangkan hati publik, kedua partai ini bisa terdegradasi dari kursi parlemen sebagaimana halnya Hanura pada Pemilu 2019 silam. Jadi, manuver yang dibuat oleh Golkar, PAN dan PPP ini, menurut saya merupakan “deklarasi selamat tinggal” kepada Presiden Joko Widodo. 

“Pak Presiden, mulai sekarang kita hanya akan menghabiskan waktu saja. Sebab, kami terutama akan bekerja untuk menyelamatkan partai di 2024,” kurang lebih mungkin begitu pernyataan tersiratnya. 

Di luar poros yang sudah dibentuk oleh Golkar, PAN dan PPP, dengan komposisi parlemen yang ada sekarang, di atas kertas Pilpres 2024 sebenarnya bisa saja diikuti hingga 4 pasangan calon. PDIP, misalnya, yang menguasai 22 persen kursi parlemen, bisa mengajukan pasangan calon presiden/wakil presiden mereka sendiri, tanpa perlu dukungan dari partai lain manapun. 

Nasdem, yang sejauh ini merupakan partai yang berasosiasi kuat dengan nama Anies Baswedan, hanya tinggal merangkul PKB (Nasdem + PKB, 20%), atau Demokrat dan PKS (Nasdem + Demokrat + PKS, 28%), sudah bisa mengajukan calon mereka sendiri. 

Sementara Gerindra, yang hampir dipastikan akan kembali mengusung ketua umumnya sebagai calon presiden, hanya cukup merangkul satu partai lagi, apakah PKS (Gerindra + PKS, 23%), Demokrat (Gerindra + Demokrat, 23%), atau PKB (Gerindra + PKB, 24%), mereka bisa melenggang ke bursa Pilpres 2024. 

Namun, ini catatan pentingnya, terbentuknya poros-poros politik untuk kontestasi Pilpres memang bukan semata-mata soal persentase kursi di parlemen. Seperti yang sudah disebutkan, meskipun Golkar, PAN dan PPP sudah membentuk poros yang memadai untuk mengusung pasangan calon, namun poros ini belum memiliki calon yang bisa diusung. Jadi, ini baru semacam deklarasi ‘wedding organizer’, namun calon pengantinnya belum ada sama sekali. 

Anies Baswedan sebenarnya bisa juga menjadi calon dari poros yang dibentuk oleh Golkar, PAN dan PPP ini. Apalagi, PAN dan PPP juga banyak mengasosiasikan dirinya dengan Anies. 

Relasi antara Anies dengan Nasdem, PAN, dan PPP, ini memang menarik, meskipun ada perbedaan yang mencolok. Terkait relasi Anies dengan Nasdem, ada yang menyebut bentuk relasinya adalah: Anies sangat ingin didukung oleh Nasdem. Sepertinya hal ini tidaklah berlebihan. Bagaimanapun Nasdem adalah partai yang performanya paling mencolok pada Pileg 2019 silam. Jumlah lonjakan kursinya jauh melampaui PDIP dan Gerindra. Di sisi lain, Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasdem, juga dikenal sebagai seorang ‘king maker’ bertangan dingin. Sangat pantas jika Anies ingin didukung oleh Nasdem. 

Sementara itu, terkait relasi Anies dengan PAN dan PPP, bentuk relasinya adalah berkebalikannya: PAN dan PPP-lah yang sangat ingin didukung oleh Anies. Untuk menyelamatkan diri agar tidak terdegradasi dari kursi parlemen, PAN dan PPP memang harus ekstra bekerja keras. Sebagai catatan, dua partai ini menempati posisi juru kunci pada Pemilu 2019. Itu sebabnya, untuk mempertahankan posisinya di parlemen, kedua partai ini memang sangat berharap terhadap “efek ekor jas” (coattail effect) dari figur-figur populer seperti Anies. 

PDIP, seperti sudah disebut, ... See more.

Sebagai Catatan awal atas reshuffle kabinet beberapa waktu lalu. Pertama, Pak Jokowi sudah bisa mengamankan tiket untuk "Ganjar". Kedua, dengan tersingkirnya orang Jusuf Kalla, berarti salah satu infrastruktur pendukung Anies Baswedan sudah ikut dilemahkan. Ketiga, sesudah ini, blok besarnya hanya tinggal Blok Jokowi versus Blok Mega. Kalau Surya Paloh bisa di jinakan untuk tidak mengajukan jagoan sendiri, maka bisa dipastikan skenario "all Abangan final" sudah berjalan.



**

-PDIP SEDANG MENG-TEST ON THE WATER DAN RISMA SEDANG MENIKMATI PLAYING VICTIMS-


PUAN (sedang) mengganjal GANJAR atau PUAN (sedang) mendongkrak GANJAR ?. Ahh, kata kawan saya : "Tidak mungkin Puan mendongkrak. Sebab, yang punya dongkrak itu Ganjar, Bro".

Dalam politik, ada Terma yang Niscaya kita endapkan. Terma ini teramat penting, selain karena di semua level kontestasi sering di gunakan untuk melihat riak, untuk mengukur intensitas. Ini Masuk dalam kategori Stratak, tidak pernah di bentangkan di panggung depan. Biasanya hanya di panggung belakang di perkatakan. Makanya, saya bilang informasi ini mahal. 

Dulu, Stratak ini sering juga saya gunakan untuk mengukur dan melihat intensitas perasaannya dan cemburunya Si ANU. Itulah sebabnya, Dulu saat kuliah, saya pantang "menyet" sama seseorang, bukan sombong atau sok Pede. bukan. karena kualitas perasaan dan intensitas cemburunya seseorang sudah terbaca saat Stratak ini di gunakan (baca : Psikologi Komunikasi). Mangkanyaa, saya tau persis siapa-siapa orang-orang itu 😂. 

Hal itu terjadi dulu, kalau sekarang. Selain karena Saya hanya mau bermanfaat untuk orang lain. Stratak tersebut sudah tidak kompatibel dengan zaman. Sekarang eranya, seberapa bermanfaat kita untuk orang lain. Jika pun ada yang singgah di pematang hati, lansung saja mengetuk pintu rumah orang tuanya.

Demi kepentingan Edukasi dan Mashlahat, sekalipun ini informasi mahal, harus di kuliahi baru bisa di ketahui. Saya beritahukan saja di sini, Stratak itu di dikenal dengan terma," Test on the water", mencoba ombak, apakah Kencang menderum atau tidak.

PDI-P, tepatnya, Megawati Soekarnoputri sedang melakukan "tes publik". Mencoba ombak. Respon yang dihadirkan, apakah massif atau biasa-baisa saja. Dalam ilmu politik, ini bukan untuk menutup peluang, bisa jadi, menaikkan elektabilitas. Karena itulah, ada teoritisi ilmu politik, mendefinisikan politik itu sebagai Seni. Seni untuk meraih dan mengkapitalisasi suara. Ujungnya, kekuasaan. Waktu tinggal 3 tahun, lebih kurang. Kelihaian memainkan suasana batin publik, merupakan sebuah keniscayaan dalam politik.

Realitas politik menunjukkan bahwa Puan ini banyak mendapat penolakan dari publik atau masyarakat. Dia bicara apa saja, selalu dinilai negatif. ibaratnya kartu mati. 

misalnya Prabowo dengan elektabilatas tinggi. terus, disandinkan dengan Puan. maka elektabilitas Prabowo bisa jatuh. Tapi, memang ia anak ketum, penguasa tunggal dalam keputusan partai. Justru, imbas dari penolakan banyak masyarakat, terutama Konsituen Jokowi berpihak ke Ganjar. 

Sebenarnya dua-duanya punya panggung politik. panggung Ganjar sebagai kepala daerah dan panggung Puan sebagau Ketua DPR. 

Ada panggung depan, terlihat dan terbaca oleh kita. Tapi kita tidak tahu, ada strategi di panggung belakang. Kadang seperti cubitan. Dicubit pagi, justru perihnya terasa pada malam hari. panggung depan masih abu-abu. Apalagi panggung belakang. 

coba kita melipir pada Risma (Mensos). Jika di bandingkan dengan Ganjar, Populisme dan Elektabilitas Risma kalah jauh dibawah Elektabilitas Ganjar. Selalipun keduanya adalah Kader PDIP. 

Risma, kita sudah Mahfum, seusai menjabat sebagai walikota Surabaya, ia di plot mengisi kekosongan Kabinet sebagai mensos, karena menteri sebelumnya tersandung kasus korupsi. Nama Risma, di sebut-sebut sebagai figur yang akan memeriahkan Perhelatan Akbar 2024, dan atau ia persiapkan Megawati untuk bertarung di pilkada Jakarta. 

Tidak akan mungkin mengawati membiarkan Risma hadap-hadapan dengan Anis Baswedan, yang kondisi elektabilitas dan populismenya sangat meroket. Megawati paham betul peta tersebut, bahkan jika hendak mengukur elektabilitas Ganjar dan Anis. Maka, anis masih unggul. Sekalipun keduanya memiliki pagggung sebagai kepala Daerah.

Sebagai Alumni Fisip, Saya menduga Video AJ (Bupati Alor), yang memaki Risma adalah rangkaian dari Test on the water, mereka sedang menguji ombak. Sejauh mana intensitas publik membicarakan Risma, sekalipun dengan menghadirkan suasana psikologi publik yang tergenjet. Ujungnya adalah kapitalisasi suara. Kekuasaan. Sebab, Ketua DPRD yang membagikan sembako Bansos dan AJ yang berkeberatan atas hal tersebut, juga sama-sama dari biduk yang sama. 

Dalam ulsan senior saya, "KK MS", beliau menghitung engagement ratio pak Amon di sosmed rasionya sudah 3,74%. Untuk suatu endorsement di sosmed, dengan ER 3,74% itu sudah lumayan untuk mendongkrak popularitas.
Di dunia linimasa, hanya ada tiga hal yang penting. Pertama, conversation, kedua, amplification dan applause. Video pak Amon berdurasi sekian-sekian menit itu sudah mengantongi ketiga-tiganya tanpa ongkos berarti. Namun posisi AJ dalam video itu kurang beruntung. Sementara Risma ditempatkan sebagai “playing victims.” Seakan-akan menteri Risma sebagai tokoh protagonis.

Terkait video pak Amon itu, ada satu komentar yang cukup bagus. Ibu Risma dibilang menikmati “playing victims.” Korban kekerasan verbal (verbal violence) AJ. Kalau polemik video AJ ini berlanjut, maka bu Risma dapat mengantongi benefit popularity yang lumayan secara cuma-cuma. Tidak perlu pakai buzzer sebagaimana mesti. 
 
Apalagi belakangan, pasca polemik bu Risma terkait tuna wisma di Jalan Sudirman-Jakarta, kini nama Risma tenggelam tiada kabar. Ditambah polemik Ganjar dan Puan yang juga sungguh-sungguh menenggelamkan nama Risma dalam pusaran perbincangan politik 2024.
Maka sikap tegas DPP PDIP dengan menarik dukungan terhadap pemerintahan AJ, makin mendongkrak isu ini ke publik. Makin panas, makin menyeret interaksi publik ke dalam pusaran polemik. Di Sosmed, Risma mendapat ketiga-tiganya; conversation, amplification dan applause.
 
Dari luar, saya melihat ini berujung sebagai popularity games yang menarik. Dalam transformasi digital marketing politics, yang dibutuhkan untuk meng-create popularity cuma satu hal, yakni momentum. Momentum harus dikapitalisasi sebaik-baiknya. Perkara popularity itu negatif bukan soal, yang penting nyampah saja dulu. 


**

PDI-P DAN GERINDRA 

Beberapa hari yang lalu, ada dua pernyataan dari dua Sekretaris Jenderal dua partai besar. Pertama, pernyataan Ahmad Muzani. Sekjen Partai Gerindra. Secara umum ia mengatakan dan menyampaikan "pesan politik" yang jelas bahwa Partai Gerindra bekerjasama dan "satu visi" dengan PDI-P, pada Pilpres 2024 yang akan datang. Lalu, Sekjen PDI-P, Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa PDI-P membuka peluang berkoalisi dengan seluruh partai, kecuali dua : PKS dan Partai Demokrat. Alasannya, tak seideologi. Intinya, tak sevisi. 

Pernyataan Sekjen Gerindra, itu biasa. Prabowo pasti ingin mengulang kontestasi 2009, 2014 dan 2019 yang lalu. Walau terus menerus kalah, Prabowo memang layak untuk terus memupuk asa. Popularitasnya tinggi. Elektabilitasnya, menjanjikan. Dan, Prabowo mendirikan Partai Gerindra, hijrah menjadi politisi (murni), tentu memiliki cita-cita tinggi lagi (mulia), menjadi pemimpin negeri ini. Tak salah. Siapapun yang masuk dan menjadi elit partai politik, tentu akan memiliki cita-cita demikian. Baik tingkat pusat maupun daerah.

Lalu, pasangan Prabowo, siapa ?. Saya yakin, sebagaimana yang dijelaskan Ahmad Muzani secara "tersirat", berserah diri pada sang Ketum PDI-P, Megawati Soekarnoputri. 

"Menurutmu ?", tanya seorang kawan. Bisa Jokowi - Prabowo. 

Pasti muncul bantahan, tidak mungkin 3 kali. Megawati juga mengungkapkan hal demikian. Tapi ingat, dalam politik, tak ada yang tak mungkin. Pernyataan Ahmad Muzani tersebut, bisa jadi bentuk komitmen Partai Gerindra untuk "bersama-sama" dengan PDI-P. Bisa jadi, nantinya, berujung pada amandemen.

"Demam kamu. Mengigau. Tidak mungkin mempertaruhkan kepercayaan atas apa yang telah diucapkan. Tidak mungkin. !"

Masuknya Prabowo ke dalam kabinet, cukup memperjelas, tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia politik. Tapi bisa jadi kemungkinan ke-2. Bila resistensi akan membesar. Pasangan Ganjar- Prabowo, adalah alternatif yang menjanjikan. Elektabilitas kedua tokoh ini, tinggi. 

"Tidak mungkin. Ganjar lagi, konflik dengan Puan!".

Kita tak tahu, apakah itu konflik atau tidak. Politik itu seni. Ada seni "memainkan ombak" terlihat dari apa yang terjadi. Melihat respon publik. Dan harap kamu ketahui, dengan kesan konflik yang ada itu, justru wilayah popularitas Ganjar tidak lagi di Jawa. Sudah merebak ke daerah lain. Menjadi lebih banyak yang kenal. Tentunya, menjadi lebih "dikasihani". Dalam politik itu, dikasihani, bisa jadi poin tersendiri untuk dikapitalisasi. Disamping rasionalitas, emosionalitas - rasa juga bekerja. Puan bisa jadi sedang diurus Megawati, untuk menjadi "jenderal lapangan". 

"Lalu ?". 

Storia me absolvera, kata Castro. Perjalanan waktu yang akan menentukan. Bisa trend nya bagus, lempanglah jalan Ganjar. Bila tidak dan terbawa arus emosional eksternal PDI-P. maka pudurlah dia. 

"Oke, bagaimana kalau Prabowo - Puan ?". 

Yakin kamu, Mega dan PDI-P mau jadi nomor dua?". Itu ibarat, PDI-P, memberikan karpet merah kepada partai lain untuk besar. Bisa jadi, "membesarkan anak harimau !". Yakin saya, Mega tidak akan mau. 

"Kalau Puan - Prabowo ?". 

Sudah lama Puan berkiprah dalam dunia politik. Elektabilitasnya tak pernah berkisar dari 1 - 3 %. Bahkan, nol koma sekian persen. Toh, memegang pucuk tertinggi lembaga legislatif, menurut saya, Puan jauh lebih (dianggap) mampu. 

"Lalu pernyataan Hasto Kristiyanto tersebut, bagaimana ?". 

PDI-P (mungkin termasuk Partai Gerindra) ingin memberikan pesan, menjelang Pilpres 204 yang akan datang, silahkan SBY berkoalisi dengan PKS dan mencari "teman" untuk memperkuat koalisi mereka.

Bagaimana Jika Puan itu adalah Risma..?.

"Aiiiss ..... siram bunga !", teriak si Mama (16.35 WIB). 

"Siyaaap !". Bayangkan, kuatnya pengaruh Megawati itu. Eh .... Si Mama, maksud saya. 


NB ; Coretan tahun Desember 2021



***
GONJANG GANJING POLITIK 1


Kelas politisi dan kelas jenderal Indonesia, "tidak ada negarawan". hanya kelas komprador pragmatis. malang nian bangsa kita jenderal.

Maafkan saya. Saya mau bilang "SBY EGOIS". Dia  Mengorbankan AHY demi tetap memiliki demokrat. Bukan SBY tidak punya jasa. (mungkin) SBY mengambil terlalu banyak, sampe men-daku PD sebagai miliknya. Atau (Mungkin) lebih buruk dari sekadar mendaku pak SBY "mengorbankan" AHY demi fantasi politiknya.

Akibatnya Buah yang masih mentah di petik.  Sayang sekali. Seandainya dibiarkan saja AHY berkarir di TNI, mungkin Sudah dapat bintang. Kadang- kadang ayah suka begitu, Dan parahnya anak menurut.

Lihat saja, AHY seperti kikuk di dunia politik. SBY turun gunung bisa dibaca AHY lemah Dan itu sudah di duga. Hal Ini lebih seru dari sekadar pendekatan dramaturgi, kalau melihatnya jadi semacam "godfather syndrom" dengan pelbagai penyesuaian.

Sejatinya politikus kita mewarisi jiwa-jiwa Ken Arok. cuman, masih "soft", tak bermula dari "paha putih" Ken Dedes...akakakak

Selama daya ingat rakyat sebatas paket indomie dan minta maaf lebih baik daripada minta izin. Dunia tidak akan berubah. Tapi, itu lumrah, sebagaimana Relasi kekausaannya "Michael Foucault", bahwa kekuasaan ada dimana-mana, menyebar dimana-mana.  Karena bagi Foucault,  Kekuasaan bukanlah milik subyek tertentu melainkan ada dalam diri setiap orang sebagai strategi.

Foucault menolak konsep dan praktek kekuasaan seperti yang dimaksud "Thomas Hobbes" tentang harus menjadi serigala bagi yang lain atau "Machiavelli" tentang kekerasan sebagai jalur kekuasaan untuk menaklukkan, ataukah maksud "Marx" tentang kekuasaan mendominasi dari kelas kaum borjuis terhadap kaum buruh.

dimana ada kuasa, selalu ada resistensi. Namun, resistensi ini tidak pernah ada dalam posisi eksterior dalam hubungan dengan kuasa. Disinilah pengaruhnya Nietzsche tampak pada Foucault. Menurut Nietzsche, kuasa seperti ini sangat lekat dengan dominasi atau represi dan karena itulah kuasa seperti ini selalu menuntut korban atau target.

Siapa Korbannya?.

Tentu AHY. Karena Dominasi figuritas Ayahnya. parahnya SBY tidak membaca bahwa Kekuasaan ada dalam diri setiap orang. Tidak di dominasi oleh subyek tertentu. Itulah indonesia, ketika orang membicarakan PDIP, maka orang bicara Megawati. Ketika bicara Gerindra, bicara Prabowo. Bicara demokrat, bicara SBY. Bicara PKB, maka itu NU. Bicara PAN, itu Muhammadiyah. Dst. Maka tak jarang kita saksikan terjadi resistensi kekuasaan.

Pasti AHY kikuk bukan kepalang, setelah Moeldoko Mereduksi figur historis Demokrat yaitu ayahnya (SBY). Ada yang berguman, wah ini keCulasan, dan sangat licik?.

Ihhh... Bukankah Adagium lama kerap membersamai kita, bahwa Apa yang di tanam, itu yang di tuai. Menanam angin, berarti menuai badai. "Belum jelas?". Mas Anas urbaningrum itu terpilih secara legal di kongres PD. Dan Di KLB-kan di Bali. Bahkan di peta konflikkan sampai menjadi tersngka, yang sampai saat ini masih mendekan dalam BUI. Vonis 8 tahun penjaranya tidak di dasarkan pada fakta hukum persidangan. Sudah lupakah anda pada itu, Inilah hukuk semesta ; Hukuk tabur tuai?.

Selain itu, memang Demokrat dan PKS tetap kekeuh di oposisi. pks pecah karena sempalan-sempalannya mendirikan partai gelora, kemudian demokrat juga begitu, tidak mau koalisi tetapi mereka berlindung pada orang istana. terus terang kita harus prihatin dengan iklim demokrasi bangsa kita saat ini..!

Politik adalah ajang kontestasi. Tujuannya jelas, kekuasaan. Pasca Orde Baru, politik diIndonesia, kental dengan politik akomodatif. Ideologi yang menjadi basis masing-masing partai politik, biasanya akan menjadi "cocok" ketika kontestasi elektoral selesai, pembagian kekuasaan kemudian dibicarakan. Di negosiasi. Akhirul kalam, awalnya berbeda, ujungnya dipaksa "sesuai", "seperjuangan". sevisi dan sejenisnya.

Tetapi, AHY tidak akan pernah dewasa jika tidak di gonjang ganjing Partai yang oleh ayahnya di dirikan sebagai buah reformasi.

Terakhir, politik hanya sampai di leher. Jangan sampai di dada. Nanti baper. Akibatnya buat lagu ; Terpesonaaa....akuu terpesonaaa...


**

-GONJANG GANJING POLITIK PARTAI DEMOKRAT 2-


"Manggadangkan Anak Harimau .. !". (Mungkin) itu ungkapan hati Megawati pada SBY, dulu SBY pada Moeldoko, kini.

Adu Kuat dalam Partai Demokrat". Dua kubu, dihadap-hadapkan. Saya menikmati adu argumentasi mereka. Dalam konteks teori dramaturgi, saya harus memilah pernyataan masing-masing pihak. Pernyataan "panggung depan" dan pernyataan "panggung belakang". Yang "sebenarnya", dan yang "basa basi politik verbal dan gestur".

Kristalisasi perdebatan di Partai Demokrat, pada figur AHY bin SBY. Anak dan Ayah. Johny Allen dan Max seperti "mereduksi" posisi historis SBY terhadap Demokrat. Sungguh kasihan. Jadi ingat pepatah lama, "keberhasilan membuat orang punya banyak ayah, kegagalan menjadikan seseorang yatim piatu". Dulu mereka puja SBY. Sekarang, mereka sudutkan. 

Demikianlah. Lalu, AHY .... ? Ia anak SBY. Itu salahnya. 

"Apakah jadi anak mantan Presiden tidak boleh ?" . Saya membuka kembali koleksi Tulisan yang berserakan di pesbuk, yang seingatku setelah membaca beberapa kliping majalah, Jurnal dan artikel tahun 80-an dan 90-an. Melihat catatan-catatan yang dikabarberitakan Tentang anak Presiden Republik ini. Tentang “si Pendiam” Megawati hingga “si Pendiam” Gibran Rakabumi. Tentang si ganteng Tommi hingga si gagah AHY. Tentang jilbab Mbak Tutut yang tersohor era 90-an. Tentang Yenni Wahid. Lelaki pintar yang bernama Ilham Habibie dan seterusnya. Hingga tentang Kaesang yang ingin “memisangkan” Indonesia.

Bagaimanapun juga, mereka orang yang beruntung. Dari perjalanan hidup mereka tersebut, kita bisa mengambil pelajaran tentang refleksi zaman.   Dalam ilmu politik, terutama berkaitan dengan yang namanya pengaruh, maka diskusi yang paling menarik, dirumuskan dalam pertanyaan “dari mana pengaruh itu berasal ?”.

Pengaruh dimaknai sebagai kondisi dimana seseorang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar sesuai dengan pendapat atau keinginannya. Orang atau sekelompok orang akan berpotensi dipengaruhi oleh seseorang apabila seseorang tersebut memiliki kelebihan. Maka, pengaruh berhubungan erat dengan kelebihan (nilai lebih). Pertanyaan sederhananya, “nilai lebih seseorang tersebut bersumber dari mana sehingga bisa mempengaruhi orang lain ?”. 

Secara sederhana, pengaruh yang akan membuat seseorang tersebut memiliki nilai lebih, berasal dari beberapa sumber. Diantaranya : bersumber dari kharisma yang dimiliki. Biasanya bersifat inheren, “hadir” dan bersemayam pada diri seseorang sejak ia lahir. Namun dalam perjalanan hidup seseorang, kharisma ini bisa bersifat fluktuatif. Dinamis. Status berpotensi besar memberikan nilai lebih pada kharisma seseorang. Lalu, ada yang bersumber dari ekonomi. Kemampuan finansial. Tak perlu dijelaskan panjang lebar tentang hal ini. “Hepeng” mampu mengkondisikan pengaruh seseorang terhadap orang atau sekelompok orang. 

Kontestasi dalam pemilihan umum memperlihat secara gamblang nilai lebih yang bersumber dari ekonomi tersebut. Selanjutnya, pengaruh juga bersumber dari legal-rasional. Artinya, jabatan atau posisi yang melekat secara legal membuat seseorang memiliki pengaruh. Jokowi “bukan apa-apa”, tanpa jabatan Presiden sekarang ini, jabatan gubernur atau jabatan Walikota pada masa lalu. Pengaruh Jokowi akan ‘hilang” bila jabatan tersebut lepas dari genggamannya. Jabatan rektor di Walikota, jabatan Gubernur, Camat Lurah dan RW atau sejenisnya, merupakan bentuk lain jenis sumber pengaruh ini. Hilang jabatan, hilang pengaruh. seseorang tergantung pada jabatannya. Dan seterusnya. Selanjutnya, ada sumber pengaruh seseorang berasal dari “trah-genetik”. Keturunan. “Anak siapa dia ?”. “Dari keluarga besar mana ia berasal ?”.

Dalam konteks sosiologi, cara orang memperoleh status sosial tersebut diklasifikasikan atas dua cara, “Achievement” dan “Ascribed”. Dari prestasi, kristalisasi keringat, ikhtiar. Ini yang dinamakan “achievement’. Lalu, ada status sosial yang sudah ada karena melekat secara otomatis pada diri seseorang “Ascribed”. Umumnya karena melekat pada orang terdekatnya. Bisa ayah, bisa ibu, bisa istri, bisa suami, bisa pula anak. Berkaitan dengan sumber pengaruh di atas, maka “trah-genetik” adalah contoh terbaik dari jenis ini. 

Ketika seseorang menjadi pemimpin negeri ini yang bisa jadi diperolehnya, karena prestasinya (achievement), maka orang-orang terdekatnya mendapatkan imbas (pengaruh). Dan yang selalu menraik untuk dibahas, selain pasangan hidup mereka, biasanya berkaitan dengan anak-anak pemimpin negeri ini. Perjalanan panjang sejarah negara Indonesia yang sudah berumur 75 tahun ini, selalu memperbincangkan anak-anak Presiden. 

Mari kita mulai dengan anak-anak Soekarno !

Soekarno memiliki beberapa orang anak. Saya tidak tahu persis berapa orang jumlahnya. Maklum, istri beliau banyak. Don Juan. Nama-nama anak Soekarno umumnya menggunakan diksi yang berhubungan dengan gejala alam. Ada Guntur, Taufan, Mega, dan Guruh. Ada pula Sukma, Rahma dan Kartika. Anak-anak Soekarno ini menjalankan “takdir” mereka sebagai orang-orang yang sejak lahir telah memiliki “nilai lebih”. Nama Soekarnoputra ataupun Soekarnoputri di belakang nama-nama mereka, membuat mereka sejak mereka lahir hingga kini, menjadi “buah bibir”. Pusat perhatian. Tindak tanduk, aktifitas dan interaksi mereka selalu dihubungkan dengan nama besar ayah mereka, Soekarno. 

Nama Soekarno menjadi “modal besar” bagi mereka untuk menjalani hidup mereka. Dan perjalanan sejarah mengabarkan kepada kita, bagaimana anak-anak Soekarno menjadi magnet tersendiri dalam pentas politik Indonesia. Sebuah pentas “uji nyali” tentang kualitas dan kuantitas dari yang namanya pengaruh. Diantara anak-anak Soekarno, mungkin Megawati-lah yang dianggap mampu memaksimalkan potensi trah-genetik tersebut. Setelah mengalami “masa-masa pahit” pasca jatuhnya rezim Soekarno, Megawati mulai menapak takdir politiknya di era 90-an awal. Sebuah era dimana Soeharto (sedang/masih) berada di puncak. 

Kerinduan pada sosok Soekarno, terejawantahkan pada figur istri Taufik Kiemas tersebut. Saya membaca bagaimana anak-anak muda di era 90-an awal hingga pertengahan 90-an tersebut, begitu berbinar memandang kehadiran Megawati. Ketidaksukaan terhadap Soeharto terejawanthakan pada figur seorang Megawati. dan seterusnya.

Saya jadi ingat dengan AHY, yang hari ini, "digugat" karena bin SBY. SBY jadi yatim piatu
AHY terbawa serta.


**

Sudah lebih satu Minggu. Para politisi Partai Demokrat, saling beradu "mulut". Suara mereka seperti orang emosional. Meninggi. Saling buka "aib". Dan sejenisnya. Puncaknya, dua hari belakangan. Bosan ... !.

Tapi, begitulah. Politik itu memang identik dengan konflik. Heboh. Dengan konflik dan kehebohan itu akan muncul sebuah keniscayaan dalam politik itu sendiri "kompromi". Saya yakin, kelak mereka akan "menghitung tawaran". Who get what how and when. Setelah, tentunya, membuat publik heran, tertawa, bingung, bosan. entahlah. 

Namun yang kita sesalkan adalah, setidaknya yang terlihat dari perdebatan (tepatnya : saling serang, saling buka aib), mengapa para elit politik ini begitu gamblang mempertontonkan sesuatu yang tak elok pada publik. Membiarkan orang-orang dekat mereka saling serang, saling klarifikasi. serang lagi. Begitu seterusnya.

Harusnya mereka yang (seperti) marah-marahan itu, harus mempertontonkan kepada masyarakat bahwa mereka adalah pemimpin yang mencintai persatuan. membenci permusuhan. Apalagi dendam-dendaman. Termasuk meredam hantam menghantam di antara orang terdekat mereka. 

Jangan harapkan masyarakat akan menjalankan pesan-pesan persatuan, sementara para elit politiknya mempertontoonkan saling dendam-dendaman itu. "Perilaku masyarakat adalah representasi dari perilaku elit politiknya !", kata Vaclac Havel, santrawan, mantan Presiden Ceko. 

Rakyat itu murid. Elit politik itu guru. Bila guru kencing berdiri, rakyat akan kencing berlari. Bila guru kencing berlari. yakinlah, rakyat akan kencing salto jungkir balik. Tiga kali, bahkan. Bayangkan, air kencing akan berserakan.

"Kuturunkan pangkat kau, dari Mayor ke Sersan Mayor". Bah, jauhnya !. 'Yang penting, ada Mayornya" -[ Nagabonar ]

Mayor (lagi) jadi buah bibir.



***

-ANIES BASWEDAN CALON PRESIDEN 2024-


“Anies Baswedan akan menjadi Calon Presiden 2024 !”, demikian yang sering kita dengar di berbagai diskusi publik, kita baca di berbagai media massa dan sosial media.

Pertanyaan kritis yang harus dimunculkan berkaitan dengan hal ini adalah : pertama, Apakah mungkin Anies Baswedan yang tidak memiliki atau tidak berasal dari partai politik jadi Calon Presiden 2024 ?. kedua, Partai apa yang memungkinkan mengusung Anies jadi Calon Presiden 2024 ?.

Untuk pertanyaan pertama, ada beberapa hal logis yang perlu diperhatikan.

Pertama, secara praktis-teoritis politik dipahami sebagai seni kemungkinan, diantara banyak pemahaman-pemahaman yang lain, maka tidak ada yang tidak mungkin dalam politik praktis.  Itulah sebabnya, deteksi dan perkiraan awal sering tak sesuai dengan apa yang berlaku di menit-menit terakhir. Kadang mengejutkan. Tak jarang membuat heboh, lucu dan seterusnya. Itulah sebabnya, politik praktis begitu dinamis.

Siapa yang bisa bayangkan Prabowo “gabung” dalam gerbong Jokowi. Jika Melihat panasnya kontestasi Pilpres 2019 yang lalu, seperti tak mungkin mereka mau “bersatu” dan “saling menerima”. Wacana Jokowi duet dengan Prabowo yang menguat di awal tahun 2018, dengan tegas ditolak oleh pendukung Prabowo. Pertimbangan menghidupkan nilai-nilai demokrasi lebih mengemuka dibandingkan pertimbangan menjaga persatuan nasional sebagai pertimbangan yang mendasari wacana duet Jokowi vs Prabowo tersebut. 

Kalau Jokowi berpasangan dengan Prabowo, maka untuk apa Pilpres dilakukan. semuanya sudah selesai !, adalah kalimat yang sering kita baca dan dengar dalam menyikapi wacana duet tersebut. Kompetisi kemudian berlangsung. Mengharu biru. Surga dan neraka di seret-seret. Malaikat dan setan ikut terbawa. Pandawa dan Kurawa disebut dan dibilang. Cebong dan Kampret mengkristal. Media TV berlomba-lomba menayangkan kompetisi tersebut. Berbagai istilah politik menjadi akrab dalam ranah publik. Politik praktis dengan seluruh hal yang melekat padanya,  kemudian bermetamorfosis menjadi industri. Tontonan. Hiburan. Dengan tingkat intensitas psikologis massa yang bergantung pada isu yang diangkat serta momentum yang digunakan. Tak salah bila seorang musisi rock tempo dulu, Frank Zappa,  pernah berkata “politics is the entertainment branch of industry” (politik adalah cabang hiburan industri).

panasnya kompetisi, terbayang ketika itu, seandainya kontestasi selesai, nampaknya sulit menyatukan Jokowi dan Prabowo. Namun yang terjadi adalah, setelah Jokowi  - Ma’ruf Amin menang dan kemudian dilantik, Prabowo menjadi Menteri Pertahanan. Naskah bisa ditulis sebagai pedoman awal, tapi di lapangan, seringkali improvisasi dan kompromi terjadi. Seorang kawan kemudian berkata, “ambyaaar hatiku. pecah berdentang berderai rasa ini. kenapa bisa begitu, bro ?”. 

“Kenapa bisa begitu ?”.

Mungkin Donald Trump bisa menjawabnya. Ayah Ivanka Trump ini, pernah berkata, “Saya telah berurusan dengan dunia politik dan para politisi sepanjang hidup saya. Berurusan dengan mereka, sangatlah mudah !”. Karena itu, tak ada yang tak mungkin. Meminjam istilah Trump diatas, berurusan dengan politik itu mudah. Bila kepentingan sama, secara alamiah, “chemistry” akan tercipta. Bila “musuh bersama” lahir, rasa senasib sepenanggungan hadir. maka, ia akan menyatu dengan mudah. Dalam konteks ini, Anies Baswedan memungkinkan untuk menjadi Capres 2024, bila ia mampu atau melalui sosok dirinya mampu menghadirkan suasana bathin adanya musuh bersama dan rasa senasib sepenanggungan diantara berbagai entitas maupun segmen masyarakat di Indonesia.

Pertanyaannya, “mampukah Anies menghadirkan itu ?”.

Berbagai kebijakan pro-pada beberapa entitas segmen masyarakat dalam beberapa tahun belakangan menunjukkan indikasi Anies sedang menghadirkan suasana bathin tersebut. Minimal terhadap yang ia anggap sebagai “pendukungnya”. Efektif tidak efektifnya, perjalanan waktu yang teramat singkat ke depan akan menjawabnya. Bila ia mampu menghadirkan itu, maka hal logis kedua yang harus kita pertimbangkan.

Kedua, Kontestasi Pilpres 2024 yang akan datang diperkirakan sebagai kontestasi diantara figur-figur muda yang secara politis, eksis hari ini. Pengertian eksis merujuk pada kiprah yang mereka lakukan di posisi-posisi jabatan politis. Jabatan-jabatan politis tersebut menjadi panggung serta ikhtiar untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas politik mereka. Investasi dan daya tawar jelang 2024.

Figur-figur tersebut, selain Anies Baswedan, diantaranya Tri Rismaharini, Ganjar Pranowo, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Puan Maharani, Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Erick Thohir, Muhaimin Iskandar. untuk menyebut beberapa nama diantaranya.  Figur-figur tersebut secara sederhana dikelompokkan menjadi dua, politisi partai politik dan non-partai politik.  Tri Rismaharini, Puan Maharani dan Ganjar Pranowo merupakan politisi PDI-P. Sandiaga Uno dari Partai Gerindra, Muhaimin Iskandar dari PKB  serta AHY yang dianggap sebagai “putra mahkota”  partai Demokrat. Sementara Ridwan Kamil, walau tidak dikategorikan sebagai politisi dari partai politik. tapi, untuk tahun-tahun terakhir ini, ia dianggap sebagai representasi partai Nasdem.

“Partai Golkar, bagaimana ?”.

Dalam beberapa periode terakhir, setidaknya setelah Orde Baru, partai Golkar memiliki kecenderungan sebagai “bamper”. Kemanapun mereka bisa masuk. Disamping dikenal sebagai partai politik yang dihuni para politisi “piawai”, partai Golkar tidak memiliki figur dengan daya jual tinggi. Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo bukanlah figur yang memiliki popularitas tinggi, apatah lagi elektabilitas mereka. Dengan kondisi ini, Golkar ke depan, dianggap memiliki peran signifikan dalam menentukan arah bandul politik negeri ini.

“PDI – P ?”.

Setelah Jokowi, Megawati memiliki beberapa figur terbaik. Bila dikerucutkan, maka telunjuk akan mengarah pada 2 figur, Tri Rismaharini dan Ganjar Pranowo. Kedua figur ini, sebagaimana halnya Jokowi, merupakan binaan sang “God Mother”, Megawati Soekarnoputri. Risma dan Ganjar memiliki “panggung” politik yang menjadi lahan gratis untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas mereka. Risma sebagai Walikota Surabaya 2 periode. Ganjar sebagai Gubernur Jawa Tengah 2 periode. Di posisi mereka masing-masing, Risma dan Ganjar dianggap berhasil. Khusus Ganjar, apabila beliau mampu menjaga momentumnya dengan baik sebagai Gubernur Jawa Tengah hingga berakhirnya periode ke-2 jabatannya tersebut (tahun 2023), maka diasumsikan Ganjar berpotensi besar dibandingkan Risma yang jabatanya berakhir tahun 2020 lalu. Kini, ia menjadi Mensos. Namun, bila Risma memiliki “panggung” lain, katakanlah menjadi Gubernur DKI Jakarta tahun 2022 nanti, misalnya, maka bisa jadi Walikota dengan segudang penghargaan ini, justru lebih menjanjikan dibandingkan Ganjar. Artinya, Megawati memiliki keleluasaan dalam memilih “amunisi” untuk menjaga keberlanjutan dominasi PDI-P. Diantara ketua partai politik di Indonesia saat ini, Megawati dianggap sebagai Ketua partai politik yang mampu melahirkan figur-figur berkualitas (popularitas dan elektabilitas) dari rahim partainya sendiri.

“Puan Maharani, bagaimana ?”.

Walau dianggap sebagai peraih suara tertinggi dalam Pemilihan Legislatif April 2019 yang lalu, untuk eksekutif, Puan jauh kalah dibandingkan nilai jual yang dimiliki oleh Ganjar dan Risma.

“Bukankah Megawati rugi dengan tidak mengorbitkan anaknya jadi Capres, kelak ?”.

Megawati ingin menjaga keberlanjutan dominasi PDI-P. Karena itu, tahun 2014 yang lalu, ia lebih memunculkan nama Jokowi (kala itu menjabat Gubernur DKI Jakarta) dibandingkan namanya sendiri. Padahal, pada tahun tersebut, Megawati memiliki kans besar untuk mencalonkan dirinya sendiri. Tapi tak dilakukannya. Tentunya, untuk tahun 2024, ia tak ingin memaksakan kehendak untuk mencalonkan anaknya. Kecuali terdapat trend positif popularitas dan elektabilitas Puan. Tapi rasanya, tak mungkin. Jabatan sebagai Menko pada periode Jokowi – JK kemaren, Puan dianggap biasa-biasa saja, untuk tidak mengatakan, tak memuaskan. Jabatannya sebagai Ketua DPR-RI kini, (mungkin) bagi Megawati merupakan posisi tertinggi dan yang diidam-idamkan selama ini. Keluarga Megawati telah memiliki rekam jejak jabatan-jabatan strategis di negeri ini. Ayah Puan, almarhum Taufik Kiemas, pernah menjadi Ketua MPR-RI periode Presiden SBY. Megawati jadi Presiden RI. Kini, anak mereka berdua, Puan, jadi Ketua DPR-RI.

Praktis Risma dan Ganjar yang memiliki potensi besar untuk jadi calon  Presiden 2024 yang akan datang, dengan catatan : menjaga momentum politik yang mereka miliki di jabatan politik mereka masing-masing dan yang paling utama, direstui oleh Megawati Soekarnoputri.

Atas nama strategi politik, PKB  akan tetap menaikkan calon dari internal mereka sendiri. Catatan historis manuver-manuver Muhaimin Iskandar selama ini, menjadi bukti otentik. Apa yang dilakukan PKB, sudah selayak dan sepantasnya. Strategi efek ekor jas menjadi pertimbangan utama. Calon internal juga diasumsikan menjadi perekat soliditas dalam tubuh PKB maupun partai-prati lainnya. Pada titik tertentu, terjadi koalisi, itu adalah hal lain. Sesuatu yang lumrah untuk dilakukan dalam politik praktis.

"Partai Demokrat ?".

Indikasi AHY adalah “harga mati”, sulit untuk dibantah.

“Sandiaga Uno, bagaimana ?”.

Tergantung Prabowo. Kalau Prabowo tak mencalonkan diri tahun 2024 yang akan datang, kans Sandiaga Uno bisa dianggap besar. Disamping telah memiliki modal elektabilitas dan popularitas, Sandi termasuk salah satu elit dalam tubuh partai Gerindra. Sandi  juga punya uang. “Politik itu mahal, bahkan untuk kalahpun, kita harus mengeluarkan banyak uang !”, kata aktor Amerika Serikat, Will Rogers.

Tapi saya yakin, tahun 2024 yang akan datang, Prabowo mencalonkan dirinya kembali. Bila kita buka catatan-catatan tahun 2000 - 2002 di beberapa media massa berkaitan dengan “kegetiran” yang dialami Prabowo, maka bisa kita simpulkan bahwa Gerindra didirikan oleh Prabowo untuk dirinya, bukan untuk orang lain. Bergabungnya Prabowo ke kabinet Jokowi, bisa diasumsikan Prabowo sedang menajaga momentum untuk dirinya. 

“Nasdem ?”.

Surya Paloh kemarin ngambek. Pada dasarnya, ia marah mengapa ada orang yang tak berkeringat bisa mendapat jatah kursi di kabinet. Lalu, ia main mata dengan pihak lain. Pihak tersebut merasa senang. Namun dalam perjalannya, Surya Paloh justru dianggap “bermain jelek”. Kini, Surya Paloh aman-aman saja setelah beramah mesra dengan Megawati yang dianggapnya sebagai  mbaknya. Artinya, pada masa yang akan datang, Surya Paloh bisa ngambek lagi bila kondisi seperti ia ngambek beberapa bulan lalu hadir kembali dan bisa mesra bila ketawa-ketawa dengan “mbak”nya  lagi.

“Erick Thohir ?”.

Bisa jadi, ke depan, ia akan menjadi rising star. Dengan catatan, kinerjanya bagus. Popularitasnya diasumsikan akan meningkat. Dan ia akan dilirik, walaupun bukan berasal dari partai politik. Disamping popularitasnya tinggi bila ia mampu menjaga momentum yang dimilikinya, ia memiliki kelebihan lain yaitu uang. Kontestasi butuh biaya banyak. Posisi “orang nomor 2” adalah kans terbesar Erick.

“Lalu, Anies, bagaimana ?”.

Ia harus memelihara panggungnya. Panggung tempat ia mengiklankan dirinya. Karena figur-figur muda seperti Ganjar, Risma, Ridwan Kamil, AHY, Cak Imin dan yang lainnya, berpotensi besar menjaga momentum mereka masing-masing hingga jelang 2024. Kecuali Risma, bila beliau tak jadi Gubernur DKI Jakarta (sebagaimana indikasi politik yang “terbaca” belakangan ini). Kalau tak jadi Gubernur, Risma mniliki kans besar menjadi Menteri di Kabinet Jokowi setelah masa jabatannya sebagai Walikota habis dan tidak mencalonkan atau kalah dalam kontestasi jabatan Gubernur. Dan hal itu terbukti, ia masuk dalam kabinet Jokowi (reshuffle ). Sebab, Megawati berkepentingan besar menjaga “kans” dan “panggung” Risma.

Ke depan, ia tidak menghadapi Jokowi. Karena itu, mereduksi dan menyudutkan Jokowi kini dan masa yang akan datang, tidak berpengaruh. Tidak menambah secara signifikan tingkat elektabilitasnya. Bisa jadi kontraproduktif.

Bila ia ditakdirkan jadi Capres atau Cawapres 2024, Anies justru  menghadapi figur-figur baru dan “seusia” dengannya, seperti yang disebut di atas. Karena itu, Anies punya kans menjaga elektabilitasnya hingga bisa memiliki daya tawar jadi Capres atau Cawapres tahun 2024 yang akan datang, bila ia mampu menjaga “panggung”nya. Bahasa lainnya, menjaga jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta periode ke-2 nanti. Bila ia tak mampu menjaga periode ke-2 jabatannya tersebut, diasumsikan, ia akan “meredup”. Apatah lagi, ia tak punya panggung yang bernama partai politik.  Pun, dianggap tak kaya seumpama Sandiaga Uno dan Erick Thohir. Apalagi tak menjabat di periode ke-2 nanti.

Lalu .... !

Katakanlah Anies Baswedan bisa melanjutkan jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta tahun 2022 yang akan datang, maka pertanyaan logis yang muncul adalah “partai apa yang memungkinkan mengusung Anies jadi Calon Presiden 2024 ?” .

Maka yang perlu dipertimbangkan adalah faktor regulasi politik. Menurut akademisi dari Universitas Andalas Padang, Feri Amsari (2019), ada varian politik yang harus diperhatikan.  Varian tersebut adalah Electoral Threshold, Parliamentary Threshold, dan Presidential Threshold. Secara sederhana, ambang batas atau threshold dipahami sebagai batas minimal dukungan atau suara yang mesti dimiliki untuk memperoleh hak tertentu dalam pemilu. Dari segi fungsi dan kegunaanya, penerapan threshold adalah untuk mengurangi jumlah peserta pemilu; jumlah parpol yang duduk di lembaga perwakilan; dan jumlah parpol/kelompok parpol dalam pencalonan presiden dan wakil presiden. Presidential Threshold sebagai ambang batas perolehan suara yang harus diperoleh oleh partai politik dalam suatu pemilu untuk dapat mengajukan calon presiden. Misalnya dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009, pasangan calon presiden dan wakil presiden diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang memiliki sekurang-kurangnya 25% kursi di DPR atau 20% suara sah nasional dalam Pemilu Legislatif.

Apabila diasumsikan aturan ini masih digunakan untuk Pilpres 2024 yang akan datang, maka partai mana yang mungkin “menyokong Anies ?”.

Hasil perolehan suara partai politik dalam  pemilu 2019 yang lalu, PDI-P memperoleh  sekitar 19,5 %, lalu Partai Gerindra sekitar 12,5 %, disusul kemudian Partai Golkar dengan perolehan suara 12  %. Sementara itu, partai politik lainnya seperti PKB  (9,5 %), Partai Nasdem (9 %), PKS (8 %), PPP (4,5 %), Partai Demokrat (7,7 %) dan PAN (6,8 %). Sementara itu, perolehan suara untuk partai-partai lainnya seperti Hanura, Garuda, Perindo, PKPI, PBB dan PSI tidak mencapai ambang batas electoral threshold. Artinya, untuk tingkat nasional, suaranya “amblasss”, berbilang tapi tak terbilang.

Anies bukan “pemilik” partai politik. Bukan pula anggota partai politik. Bukan pula pengusaha yang memiliki uang trilyunan. Politik butuh dana. Dalam sebuah kontestasi, partai politik membutuhkan dana untuk menggerakkan mesin politik. Sebuah keniscayaan. Lumrah.

“Mungkinkah ia dicalonkan oleh partai politik ?”.

Sebagaimana yang dijelaskan diatas, kecenderungan partai politik, baik secara teoritik maupun historis, pada awalnya partai politik selalu mencalonkan kader-kader mereka. Tak mungkin mencalonkan kader dari eksternal. Ini persoalan hakikat partai politik dan “harga diri”. Koalisi yang terjadi selalu di akhir yang umumnya dikomandani oleh partai-partai yang memperoleh suara signifikan.

“Mungkinkah Anies dicalonkan PDI-P ?”. (Halllo mbak Mega !)

“Mungkinkah Anies dicalonkan Gerindra ?”. (Berhadapan dulu dengan Prabowo).

“Mungkinkah Anies dicalonkan Golkar ?”. Akan muncul suara, banyak kader Golkar yang terbaik).

“Mungkinkah Anies dicalonkan Nasdem ?”. (Tanya Pak Paloh dan Mbak Mega).

“Mungkinkah Anies dicalonkan PKB dan PPP ?”. (Cak Imin PKB, bagaimana ?. Tanggapan warga Nahdliyin sebagai konstituen utama PKB dan PPP,  hayooooo !).

“Mungkinkah Anies dicalonkan Demokrat ?”. (AHY .... nya ?).

“Bagaimana dengan PKS dan PAN ?”. (Jumlah ambang batasnya .... bagaimana ?).

Kalaupun bisa menyatukan tiga partai, yakin ketiga partai tersebut sepakat tentang defenisi “paket” Capres-Cawapres ?. Pasti masing-masing partai akan mengajukan calon dari partai mereka masing-masing. Naiknya Sandiaga Uno sebagai Cawapres Prabowo, menjadi fakta yang tak terbantahkan bagaimana sulitnya mengajukan calon yang sama-sama disepakati oleh seluruh partai pendukung, kecuali partai utamanya memperoleh suara tertinggi seperti PDI-P.

Kalaupun bisa menyatukan tiga partai, yakin tak butuh dana besar. Sanggupkan Anies menghadirkan dana yang sangat besar tersebut ?. Pertanyaan runtut akan banyak bermunculan yang ditujukan pada posisi Anies sebagai calon Presiden pada 2024 yang akan datang.

“Lalu, menurutMu, bagaimana, bro ?”.

Paling mudah bagi Anies adalah Pertama, menjaga panggung politik yang dimilikinya. Jabatan Gubernur periode ke-2 harus dipegangnya. Mungkin ia akan menghadapi lawan yang berat di kontestasi periode ke-2 nanti. Tri Rismaharini menjadi calon yang dimunculkan banyak pihak belakangan ini. Dan, Anies harus menang. Kalau kalah, ia kehilangan momentum menjaga elektabilitasnya. Pertanyaannya, “untuk Calon Gubernur DKI Jakarta periode ke-2 nanti, yakin Gerindra, PKB, PPP dan partai lainnya mendukung Anies Baswedan kembali, padahal Anies butuh dukungan politik dari 2 atau tiga partai ?”.

Kemudian yang kedua, kalau Anies tetap jadi Gubernur di periode ke-2, saya justru terpikir ke  yang lain untuk 2024. Bagusnya Anies dicalonkan sebagai Cawapres oleh PDI-P....😂😂. Berpasangan dengan Ganjar atau Risma sebagai Capres-nya. PDI-P punya kans besar bisa mencalonkan sendiri. Paling tambahan satu partai (perolehan suara kecil). Seperti SBY (Demokrat) tahun 2009 yang bisa mencalonkan Boediono sebagai Cawapres partai lain, terpana, karena Demokrat punya peluang besar mencalonkan satu paket sendiri.

“Artinya apa ?”, tanya seorang kawan.

Kita -kita yang mendukung dan Mencintai Anies. jangan begitu benci sama PDI-P dan Megawati. Sebab, jangan spai seperti kasus Prabowo jadi, yang jadi “anak buah” Jokowi.  “amblasss  hatimu, jadinya !”. Olehnya, mari kita endapkan sejenak ungkapan Gibran Kahlil Gibran (1883-1931) : "Tahukah engkau siapakah orang yang akan mendatangkan bencana bagi bangsamu?. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menyebar benih, tidak pernah menyusun bata, serta tidak pernah menenun kain, tetapi menjadikan politik sebagai mata pencaharian”.

Kita bisa sabar menunggu daging jadi rendang, tapi ketika sudah masak, kadang kita tak mampu membedakan antara daging dengan lengkuas.


NB ; Coretan Desember tahun 2021



***

ORANG PINTAR TIDAK PERLU MINUM TOLAK ANGIN 

Dulu, sering saya utarakan, bahkan di platform media Pesbuk dan IG. Sering sekali, bahwa Dalam Politik, jangan terlalu membenci. sampai memaki-maki atas Keberpihakan Metro TV dan Surya Paloh-Nya Pada Kekuasaan. Sekarang, kalian malu-malu, saat Nasdem dan Surya Paloh Mendeklarasikan Anis Baswedan Sebagai Capres 😀.

Kalau mau Nonton Tipi. Yah, Nonton Tipi saja. Niatkan untuk menambah Informasi - Ilmu pengetahuan. Jangan Selipkan Orientasi Politik. Sebab, Orientasi politik akan berubah seiring waktu, Coi. Di dalam Politik, Benci dan cinta itu tergantung waktu - Dulu, benci. Sekarang Suka, nanti suka lagi. Contohnya, Metro TV dan Surya Paloh. 

SURYA PALOH itu politisi. Jam terbangnya tinggi. Beberapa waktu lalu, Partai NasDem mengusung nama Anis Baswedan sebagai Capres 2024. Bukan mengusung dari figur milik parpol koalisi. Surya Paloh cerdas membaca "keuntungan politik". Dia menyadari, partainya butuh tokoh dengan elektabilitas tinggi. 

Konsistensi elektabilitas belakangan ini, berada di tiga figur, yaitu Ganjar, Prabowo dan Anis. Ganjar yang juga menjadi salah satu nominasi calon dalam konvensi Partai Nasdem beberapa waktu yang lalu, selain Anis dan Jenderal Andika Perkasa, tentunya bukan figur yang "bebas". Sebab, mereka milik PDIP. 

Surya Paloh butuh momentum politik untuk menjaga eksistensi partainya ke depan. Anis Baswedan-lah yang "bebas", tentu menjadi peluang. Walau belum terverifikasi melalui survey, tapi bisa kita katakan Anis lebih sering diasosiasikan oleh publik sebagai orang yang lebih dekat dengan PKS. Walau beliau bukan anggota PKS. Surya Paloh, mengambil secara cepat "posisi" ini dan ingin mengatakan pada publik, bahwa Nasdem yang berani secara nyata mencalonkan Anis, bukan partai lain. Kalau ingin mendukung Anis ke depan, ayo bergabung. Mungkin demikian kira-kira, ujar Paloh Si Brewok. 

Selain itu, Ada satu penggal pidato Surya Paloh yang menarik bagi saya, "semoga nanti orang yang tak suka dengan Nasdem, menjadi suka dengan Anis. Kalau anggota Nasdem, sudah pasti suka". Sederhananya, Surya Paloh ingin mengatakan bahwa yang selama ini membenci pada Nasdem, mulailah mendekat. 

Begitulah Permainan yang teramat cantik. Puzzle masih sedang disusun. Bisa jadi, nanti, Nasdem berjalan sendirian. Kesepakatan tak tercapai. Kawannya yang kemarin pun pergi. Bisa juga banyak yang datang menghampiri. Semua Serba mungkin. Demikianlah politik, coi. 

"Karena itu, dari dulu ku katakan - Jangan mudah membenci pada Surya Paloh dan Metro TV. Politik itu cair. Mana tahu, nanti PKS berkoalisi dengan PDIP, dan lalu meninggalkan Nasdem !". 

"Tidak mungkin. Tidak mungkin. Surya Paloh tak seperti itu?", katamu.

"Kah kah kah 😅🤣😂, kamu sudah mulai memuji Surya Paloh yah?".

Politisi yang berjalan Menuju 2024 Sedang beradaptasi. Saling menyesuaikan. Puzzle-puzzle pun dihubungkan. Seperti berpelukan. Bisa jadi, beberapa bulan ke depan, mereka saling hantam, mecaci dan memaki. Padahal, Dulu mereka berkawan akrab. Berjalan bersisian. Saling memuji. Bersebrangan dan saling hantam. Kelak, bertaut kelingking. Begitu politik. 

Persis Ketika kita menonton sebuah acara debat di TV. Ingatan kita "terbang" beberapa tahun yang lalu. Dimana tokoh politik yang satu duduk bersisian dengan tokoh politik yang satunya lagi. Membela pendapat yang sama. Kini, mereka duduk berseberangan dan saling adu, bahkan tak jarang mau baku hajar 😂. 

" so, Bagaimana dengan calon-calon yang lain. Kenapa adem ayem saja ?". 

Kata Nagabonar, "NICA masih jauh. Mari kita main catur dahulu, !".


**

Selain politik itu cair. Dalam politik itu hanya diikat oleh satu kata saja, "KEPENTINGAN". Agama dan ideologi, hanyalah penguat dan perekatnya saja. Bila kepentingan dirasa sama, maka semua ideologi terasa jadi sohib. Dulu, kawan saya berkata, "bagaimana bisa komunisme satu biduk dengan agama atau utara-selatan?". Terbaca bahwa kawan saya itu, tidak membaca. padahal, Cukuplah eksperimen politik Soekarno yang menjawabnya, yaitu Nasakom - Nasionalis agama komunis yang disatu padukan menjadi satu paket dengan aura revolusi. 

Lalu lihatlah, bagaimana mungkin Iran bisa menyatu dengan Arab Saudi dan Amerika Serikat ?. Kalau sekarang, Iya Tidak. Ibarat air dan minyak. Tetapi, realitas sebelum tahun 1979, justru kita akan terkejut. Jimmy Carter, Presiden Amerika Serikat masa itu, pernah mengatakan, "sahabat terbaik yang saya miliki di Timur Tengah adalah Syah Reza Pahlevi - Kaisar Syahansyah Iran, Menachen Begin - PM Israel, Anwar Sadat - Mesir dan Arab Saudi". 

Bahkan, kedatangan Raja Iran ke Arab Saudi maupun ke Amerika Serikat selalu disambut dengan "karpet merah". Apa yang membuat mereka menyatu?. Tidak lain Adalah Kepentingan. Lebih spesifiknya, bisnis Minyak. Ketika kepentingan tidak lagi saling menguntungkan, Iran bagi Amerika Serikat dan negera-negara sekutunya adalah menjadi salah satu negara "poros setan", istilah yang dikeluarkan oleh George W. Bush jr. 

Hal ini saya ulangi lagi, Pernahkah kita menonton film BOURNE - tiga serial itu. Sering diputar berkali-kali di TV swasta nasional. Film yang dibintangi Matt Damon tersebut memang luar biasa. Kalau belum, nontonlah. 

Dari film itu kita akan tahu, makna politik yang dihubungkan dengan kepentingan. Bagaimana Bourne yang ditugasi untuk memuluskan suatu proyek rahasia. Bourne yang menjadi kesayangan dan sangat diandalkan pimpinannya itu, ternyata gagal untuk memuluskan rencana rahasia tersebut. 

Apa harga yang harus dibayar Bourne? . Bourne dikejar-diburu dengan satu target, "Lenyapkan". Seluruh data dan opini "disesuaikan" agar Bourne layak untuk dilenyapkan. 

So, Siapa yang berusaha melenyapkan Bourne?. bos-nya - pimpinannya yang Dahulu mengandalkan bourne untuk menjalankan sebuah misi rahasia. namun ketika misi tidak lagi efektif, maka pantas untuk dilenyapkan. Kepentingan yang merubah "sudut pandang". Data dan opini, hanya bumbu yang bisa dibentuk kemudian hari. Di titik inilah, saya teringat adagium Klise dalam terma politik, "Musuh dari kawanmu adalah kawanmu". 

Contoh lain misalnya, Ronald Reagan - Mantan presiden Amrik dengan Mujahiddin Afghanistan (termasuk Osama bin Laden), dulunya adalah kawan - sohib. Kemudian, ketika misi sukses dan kepentingan sudah tidak ada lagi, maka berubah menjadi lawan. Opini dan data, dimunculkan belakangan. 

Saddam Hussein, selama hampir 10 tahun menjadi harapan besar Amerika Serikat - American boy dan sekutunya - Eropa dan Timur Tengah, untuk mengahncurkan Rezim demokrasi - teokratis Iran. 

Seluruh biaya dan sumber daya diberikan kepada Saddam Hussein. Terjadilah Pembunuhan terhadap suku Kurdi dan warga Syi'ah di Irak oleh Saddam Husain. kala itu dianggap sesuatu yang wajar, karena Saddam putra Tikrit sedang menjalankan misi besar, yaitu mengembalikan kejayaan Kekaisaran Persia yang direbut oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini. 

Tapi Saddam gagal. Kemudian Saddam dimusuhi, dibunuh dan dianggap pemimpin Jahat. Pembenarannya, disusun belakangan, pokoknya Saddam harus tumbang. Apalagi ditambah ketika Saddam mulai meningkatkan “daya tawarnya” ketika mencaplok Kuwait dengan alasan historis. Dari pangkalan militer Amerika Serikat di Arab Saudi, Saddam di gempur oleh Bush senior. Jenderal Norman Schwarzkopf memimpin operasi yang dinamakan Badai Gurun. Kuwait bebas, Saddam terkucil dari politik dunia, khususnya pergaulan antar negara di Timur Tengah. Saddam ditinggalkan. 

Setelah Bush senior tidak lagi menjadi Presiden, Bill Clinton naik 2 periode. Saddam masih eksis dengan keterkucilannya. Tapi, Saddam tidak memberikan konsensi eksplorasi ladang-ladang minyak kepada negara-negara Barat. Ihwal itulah, Bush junior, anak dari Bush senior, yang kedua-duanya adalah Presiden Amerika Serikat – negara yang merupakan sahabat kental Saddam Hussein tahun 1980-an, bernafsu menguasai Irak. Maka, pembenaran dicari dan dibentuk atau di konsturksikan - “Saddam diktator, megalomaniak dan pembunuh rakyat”, demikian kata AMRIK.

Senjata pemusnah massal, pembunuhan suku Kurdi dan Syi’ah dijadikan alasan untuk menghabisi Saddam. Akhirnya, sejarah mencatat, Saddam berakhir di tiang gantung. Senjata pemusnah massal tidak terbukti. Justru, para pialang minyak berebut - menguasai limpahan ladang-ladang minyak di Irak. Duka lara rakyat Irak, hingga hari ini terus berlanjut. Dollar tetap mengalir dari minyak bagi negara-negara barat. 

Lalu, bisa kita lihat Khaddafi. Siapa yang tidak kenal moammar Khaddafi. Seorang pemimpin negara Islam yang dianggap “gila” oleh banyak pihak. Membincangkan Khaddafi, sungguh teramat menarik. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, Khaddafi pernah mengatakan, “tak perlu menghiba - mengharap pada AS dan Uni Sovyet (Rusia), karena pada dasarnya kedua-duanya sama, yang satu imperialis dan satunya lagi adalah atheis”. Khaddafi selalu melakukan hal “gila” untuk memperlihatkan solidaritas (sesama muslim)nya. Khaddafi dikenal memiliki solidaritas diantara kaum muslimin internasional yang sangat tinggi. 

Pada tahun 1972, Presiden Uganda yang fenomenal, "Idi Amin" gagal mendapatkan bantuan keuangan dari Israel yang telah lama membantu negara "benua hitam". Sewaktu ia mau pulang ke negaranya, Idi Amin menceritakan kegagalannya memperoleh bantuan keuangan dari Israel. Oleh Khaddafi kemudian, Idi Amin diberikan bantuan dua kali lipat dari permintaan Idi Amin pada Israel. Syaratnya tidak banyak - putuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Itu saja Dan uang dianggap lunas, tidak perlu dikembalikan. 

Ketika tentara Israel menghantam pesawat-pesawat terbang Uganda karena Uganda dianggap terlibat kasus penyanderaan orang Yahudi dalam penerbangan Air France dari Athena tahun 1975 (?), Khaddafi dengan amat cepat mengganti pesawat-pesawat Uganda ini dengan pesawat-pesawat tempur Mirage buatan Perancis. Perancis-pun marah, karena merasa dibohongi oleh Khaddafi yang mengatakan bahwa pesawat-pesawat Mirage yang dibelinya itu untuk kebutuhan dalam negeri. Khaddafi tidak ambil pusing. Bagi Khaddafi, Perancis hanya “ngambek”, nanti bila dikasih (tambahan) konsensi minyak, pasti tersenyum lagi. 

Di Afrika, Khaddafi tidak hanya membantu Uganda saja. Banyak negara-negara lain di "benua hitam" menerima uang pemberian Khaddafi. Bantuan "gratis" dengan syarat mudah - negara-negara penerima bantuan Khaddafi harus memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. 

Nasserianisme-nya teramat kental. Namun seiring dengan perjalanan waktu, Khaddafi "meluaskan" wilayah hasrat politik internasionalnya. Ia memberikan bantuan tidak lagi dengan syarat pemutusan hubungan diplomatik dengan negara Israel saja. Khaddafi justru membantu elemen-elemen masyarakat yang memberontak terhadap negara mereka masing-masing. "Seandainya Afrika Selatan dekat dengan negara kita secara teritorial, tentu saya akan memberikan bantuan keungan dan persenjataan pada mereka untuk melawan rezim Apartheid", kata Khaddafi. Perlawanan IRA (pembebasan Irlandia Utara) terhadap Inggris juga (konon) turut di back-up secara finansial oleh Khaddafi. 

Demikian juga dengan pergolakan penduduk Islam di Moro di Filiphina Selatan. Bahkan Presiden Filiphina pada masa itu, Ferdinand Marcos, sering dikutuk dan dicaci maki oleh Khaddafi. Sambil mengutuki Marcos, bantuan keuangan dan senjata terus mengalir ke Filiphina Selatan, lewat Tripoli. Bahkan disinyalir, Khaddafi juga terlibat dalam perjuangan masyarakat muslim Thailand Selatan (Yala, Narathiwat dan Pattani). 

Di kawasan bergolak yang tadinya merupakan milik Sultan-Sultan Melayu tersebut, pergolakan tidak seseru Filiphina Selatan, tapi campur tangan Khaddafi cukup diperhitungkan. Khaddafi – terlepas dari kontroversialnya – adalah sahabat TTM (teman tapi mesra) dari Pemimpin Perancis (Nicholas Sarkozy), termasuk sahabat baik Obama (AS), Silvio “playboy” Berlusconi dan Tony Blair (PM. Inggris). Bahkan Qaddafi menjadi donatur utama pembiayaan kampanye Sarkozy. 

Tapi lihatlah, ketika kepentingan tidak lagi menyatukan mereka. justru, Sarkozy, Tony Blair dan Obama yang menghabisi Khaddafi. Atas nama menciptakan dan menjaga demokrasi, Sarkozy turut andil dalam menghabisi sahabat yang juga menjadi donatur utama kegiatan politiknya. 

Artinya, Jangan terlalu heran kita dalam politik. Suatu saat, pada masa cucu kita, bisa jadi Amerika Serikat bersahabat erat dengan Korea Utara - negara yang “menuhankan” keturanan KIM (KIM il sung - KIM jong il - KIM jong un) kelak, mungkin ada pula KIM yang lain. Bisa juga, negara-negara barat tidak akan lagi mengacuhkan negara-negara kaya teluk di Timur Tengah, apabila cadangan minyak mulai menipis. 

Hal Itu menjadi biasa Soekarno pernah mengatakan, “revolusi saja biasa memakan anak kandungnya”, apatah lagi hanya sekedar untuk mengalihkan opini politik. Jadi jangan heran, bila hari ini ideologi A dipuji-puji, sementara B diburuk-burukkan, bisa jadi nanti mereka bergandengan tangan ataupun menjadi sebaliknya, A yang burukkan sedangkan B adalah yang paling baik. 

Sekian saja dulu. Teruslah membaca dan membaca, serta menelaah dengan penuh arif. Jangan MEMENGGAL sebuah peristiwa hanya pada bahagian yang terlihat atau yang terjadi sekarang. Sebuah peristiwa itu terbentuk dari perjalanan historis yang panjang. Peristiwa itu tidak hadir dengan sendirinya, sebagiamana tidak ada seorang tokoh yang datang dari “negeri antah barantah”. Maka pelajari itu, lalu silahkan berpendapat, walaupun pendapat kita berbeda, tidak masalah.

Berbeda itu biasa, seperti saya yang suka kopi yang engkau seduh serta kau brikan bersama senyummu, sementara kamu sendiri ingin muntah meminumnya. Justru dari perbedaan itu romantisme terbentuk 😊😉 Prikitiew. 

Mari berfikir pintar. Karena pintar itu, tak perlu minum TOLAK ANGIN.


***

Anies dan Prabowo itu pasar pemilihnya sama. persaingan antara keduanya cukup sengit. Sementara, Pak Ganjar hanya rebutan suara dengan Puan. Inilah yang membuat Ganjar selalu lebih bersinar ketimbang Puan dalam berbagai survei.

Anies dan Ganjar, jika jalannya mulus untuk maju ke pentas nasional, sebenarnya cukup mirip dengan jalan dua presiden terakhir.

Naiknya Anies itu mirip dengan SBY. Popularitasnya sangat tinggi, sehingga kemudian dicemburui oleh atasannya. Penyingkirannya dari kabinet tidak membuatnya redup.

Sementara, naiknya Ganjar itu mirip pak Jokowi. Popularitasnya lebih tinggi daripada pemimpin, sekaligus pemilik darah biru di partainya. Karena popularitasnya itulah, ia dicemburui oleh para petinggi partainya.

Bedanya, dulu SBY gesit membangun partai sendiri. Sebab, tanpa partai sendiri, ia mungkin hanya akan jadi kendaraannya Golkar untuk kembali berkuasa. Sekarang, meskipun popularitasnya sangat tinggi, masa depan Anies sangat tergantung kepada proses pencalonan yang berlangsung di tubuh partai, seperti Nasdem, PKS, atau PAN.

Pada akhirnya, meskipun populer, karena tak punya kendaraan politik sendiri. maka, ia harus membangun banyak sekali posisi tawar sejak sangat dini. Itu tidak menguntungkan karakter kepemimpinannya.

Membangun relawan sebagai basis kendaraan politik juga bukan pilihan menarik. Belajar dari pengalaman Pak Jokowi, sesudah berkuasa organisasi relawan ternyata bisa lebih "ganas" daripada partai.

Sementara Ganjar, sama seperti halnya Pak Jokowi, dia cukup hanya menjadi orang Jawa untuk mendapatkan tiket dari partainya. Dia tidak boleh dan tidak perlu berkonfrontasi dengan Teuku Umar. Jangan lupa, pada 2014 silam, yang berniat maju adalah Bu Mega sendiri. Toh ia kemudian merelakan tiket itu untuk pak Jokowi. Sebuah tiket calon presiden tentunya lebih baik dari sebuah tiket calon wakil presiden. Saya kira game ini juga akan berulang pada 2024.

Posisi Ganjar juga lebih kuat dari posisi pak Jokowi dulu. Kalau pak Jokowi hanyalah prajurit di partainya, Ganjar adalah panglima perang, yang punya pasukan di partainya.

Tantangan serius yang akan dihadapi Ganjar adalah sikap megalomaniak PDIP. Dua kali menang Pemilu, serta bisa menguasai parlemen dan eksekutif secara bersamaan, bisa membuat PDIP terjebak pada sikap megalomaniak sebagaimana halnya pada tahun 1999. Karena merasa besar dan menang, yang membuat elite mereka tidak low profile, PDIP akhirnya ditinggalkan oleh partai-partai lainnya dan terjungkal di hadapan Poros Tengah.


***


PRABOWO DAN PUTRA MAHKOTA

Belum lama saya berdiskusi dengan senior, Masih basah ingatan soal ini, kira-kira tahun 2019 yang lalu. tentang Raja Abdullah, Raja Jordania. Putera dari Raja Hussein.

Saya teringat kembali, saat kawan mengirimkan sebuah video Seorang penceramah kondang yang memberikan arahan kepada para jama'ahnya. Biasa, arahan untuk pilpres 2019, yang telah berlalu. Video dengan durasi yang tidak begitu panjang, penceramah tersebut berkata, kira-kira begini:

"Kedepan, kita butuh pemimpin yang mengubah arah poros hubungan diplomatik. Tidak bergantung pada China. Tidak juga pada barat. Tapi pada arab, dan yang mampu melakukan itu adalah Prabowo. Sebab prabowo adalah sahabat karib dari Raja Abdullah. Raja Jordania, keturunan Rasulullah SAW. Raja Abdullah adalah raja yang sangat berpenaguruh di Timur Tengah. Jordania adalah negara yang sangat makmur, Dst".

Bagaimana menurutmu tentang ini?. "Bukankah hal ini yang sangat luar biasa, sebab meruntuhkan mitos bahwa poros yang ada selama ini hanya poros barat dan poros china", tanyanya seusai mengirimkan video".

Bagi saya, setiap orang berhak berpendapat. Pendapat yang di butuhkan untuk membenarkan atau mendukung pilihannya. Kita biasa melakukan itu dalam tiap kesempatan. Tapi, janganlah memberikan pendapat yang hampir sulit (bukan berarti tidak mungkin) untuk dilakukan. Seperti tidak mau menggunakan Dollar sebagai alat tukar perdagangan dunia atau mencetak uang Rupiah sebanyak-banyaknya, agar orang indonesia kaya-kaya.

"Mengapa tidak mungkin?".

Pertama, Politik luar negeri kita, bebas dan aktif. Dengan negara manapun kita berhak bekerjasama. Bahkan membuat poros-porosan. Tetapi yang harus dipahami adalah apakah Raja Abdullah itu tokoh yang berpengaruh di Timur tengah?. Kalau sahabat prabowo, memang iya. Kalau kita baca di majalah tempo doloe tentang Forum keadilan (lupa judul majalahnya apa), kita akan menemukan tulisan-tulisan tentang persahabatan Prabowo dengan Raja Abdullah tersebut. 

Tetapi Raja Abdullah bukanlah Tokoh yang selama ini menjadi penentu arah Geo-politik Timur tengah. Beda dengan ayahnya, Raja Hussein yang di tahun 80-an menjadi Tokoh sentral di kawasan ini. Bersama khomeini, Anwar Sadat, Hafez al-assad dan Yasser Arafat serta pemimpin-pemimpin negara Israel. 

Minimal "daya tawarnya" cukup signifikan berkaitan dengan ritme sosial politik di kawasan itu. Tapi Raja Abdullah tidak, Jordania di bawah raja ini bukanlah negara yang memiliki daya tawar tinggi. Juga negaranya tidak kaya amat. Bisa dikatakan biasa-biasa saja, bila di bandingkan dengan negara-negara tetangganya. (Begitu kata senior saya, waktu itu).

Dari itulah saya berpikir, "pengaruh ekonomi-politik apa yang di berikan pada negara kita jika membangun hubungan dengan Jordania?. Kalau sekedar membuka romantisme pertemanan atas nama masa lalu, yah boleh-boleh saja. Tapi jaganlah lansung dianggap itu solusi hebat yang akan merubah arah sejarah bangsa kita. Hal Itu seperti menganggap seseorang yang punya potensi sebagai pedagang, namun di paksa menjadi ulama".

Kedua, hal Ini yang lucu, Negara-negara di Timur tengah sana saja belum bisa membangun persatuan yang kuat antar negara. Mereka acap berkonflik antar sesama mereka sendiri. Perang-perangan, bom-boman, ranjau-ranjauan. Sejarah menukilkan kalam bahwa Dulu ada ikhtiar untuk menyatukannya, tapi selalu gagal. 

Eksperimen Pan-Arabisme yang dilakukan oleh Gamal Abdel Nasser, dulunya, gagal. Nasser bahkan sempat gundah gulana, "mengapa kita tidak satu rumpun dan tidak bisa bersatu?". Di coba lagi oleh Qaddafi, tapi hilang dalam slogan. Justru Qaddafi mati di tangan Rakyatnya. Negara-negara di kawasan itu lebih suka menjadi bahagian dari poros-poros kuat yang telah ada.

Dulu, zaman old, perang dingin terjadi. Negara-negara di kawasan itu terbagi-terbagi menjadi entitas politik poros Nato (AS, cs). Berlanjut hingga hari ini, walau USSR berganti nama menjadi Rusia setelah di landa "Tsunami politik" Glassnost perezstronikanya Michael Gorbachev. Akibatnya, AS semakin kuat. Anggota-anggotanya semakin bertambah, sedangkan Rusia tertatih-tertatih menjaga pengaruhnya. Rusia di bawah komando Kamared Alexander Putin, kembali menata dominasi kekuasaannya di kawasan Timur tengah, berhadapan dengan (plus Hegemoni) AS.

Pertanyaannya mengapa kita bercita-cita membangun poros dengan negara-negara yang justru nyaman menjadi bagian dari negara tertentu (AS atau Rusia), sementara kita menolak poros negara tersebut. Apa tidak lucu itu?.

Ketiga, Belakangan China menanamkan pengaruhnya di kawasan ini. Bahkan di hampir seluruh penjuru bumi yang bulat ini. Dalam konteks ekonomi politik, poros yang terbangun saat ini hanya dua: AS vis a vis China. Rusia sudah tidak di rekeng lagi. Prkatis ekonomi global di utak atik oleh dua negara ini. 

Mereka beperang seperti perumpamaan presiden Jokowi dengan "Game of thorenes" dalam pidato pembukaan annual meeting plenary IMF dan World bank di Nusa dua bali, waktu itu. Terlepas dari impac perang dagang dua negara tersebut, negara china sedang melejit. Bahkan negara-negara Timur tengah melakukan kerjasama antar negara. Investor china menanamkan investasi besar di kawasan itu, dan sebaliknya. Tidak percaya, silahkan baca info-info ekonomi di media-media mainstream dalam negeri maupun luar.

Berkaitan dengan itu, Presiden Edrogan yang di citra dirikan sebagai "figur mandiri", pada awalnya justru begitu Fleksibel menempatkan," siapa kawan terbaiknya?". Awalnya AS, lalu berpindah ke arah Rusia. Kini bergantung pada kondisi ekonomi politik china. Salahkah?, tidak. Sama sekali tidak salah. Seperti kata Deng Xiao ping, "jangan perdebatkan warna kucing. jika ia pandai mengkap tikus, Pakai dan pelihara".

China sedang melejit, tentunya sangat logis bila bekerjasama dengan negara tersebut.

Umpamannya, Presiden Prabowo menang kemarin. Yakinkah kita, bila beliau bekerjasama dengan china?. Kalau saya, sangat yakin. Sebab Hakikat politisi itu adalah pedagang, peniaga. Dimana ada gula disitu pasti ada semut. Kecuali dalam tubuh orang yang menderita diabetes. Paling kencingnya saja yang di kerumuni semut. 

Bahkan bisa jadi lebih intens kerjasama mereka. Dan sebagaimana lazimnya orang kerjasama, jelas tidak ada orang mau rugi. Minimal sama-sama menguntungkan. Kalau anti asing dan aseng acap di ucapkan, itu sebatas jargon. Seorang politisi itu pandai menyesuaikan, adaptasi. Bahkan mencari pembenaran, dan terkadang banyak cocologinya.

Termasuk ketika Sandiaga Uno (si ganteng buruan emak-emak itu) di pilih jadi Cawapresnya?. Kemudian muncul beberapa argumen adaptif untuk melakukan pembenaran. Padahal awalnya yang di gadang-gadangkan menjadi cawapresnya adalah kalangan agamawan.

Kita masuk di topik berikutnya, Kembali pada Hakikat Prabowo sebagai seorang politis, saya kutip ungkapan : "who get what, how and when", kata Teoritis Politik (Harold Lasswell), pernah ku tulis soal ini. "Saya dukung anda, saya mendapatkan apa, kapan di dapatkan dan bagaimana caranya".

Politik adalah dunia kalkulasi. Hitung-hitungannya jelas. Ketika Sandiaga Uno, belakangan muncul sebagai Cawapres, saya menduga Prabowo sedang mempersiapkan Opsi ke 2. Opsi 1, bila menang jadi presiden, persoalan jadi aman. Bila kalah, maka opsi ke 2 menyangkut keberlanjutan Partai Gerindra. Karena jika ia mengambil orang di luar Gerindra, Prabowo menganggap dirinya akan membesarkan kelompok lain. Dalam politik itu, kita sudah mafhum bahwasanya pertemanan itu hanya di ikat oleh kepentingan. Beliau menyadari, bagaimana KMP di tahun 2015, lalu redup di tahun-tahun berikutnya.

Dengan menjadikan Sandiaga Uno sebagai Cawapresnya, Prabowo tengah mempersiapkan "Putera Mahkota" yang akan memimpin biduk gerindra kedepan. Prabowo tidak lagi muda. Tentunya ia tidak ingin melihat Gerindra layu di masa-masa mendatang. Karena ia kalah dalam pilpres 2019, itulah ia mengiklankan Sandiaga Salahuddin Uno.

"Kader Gerindra Banyak, kenapa harus khawatir?".

Benar sekali, tapi yang sebanding atau minimal di bawah prabowo, tidak ada. Itulah celakannya bila sebuah biduk di besarkan oleh satu orang. Hingga sulit membedakan "siapa di besarkan, siapa yang membesarkan". Akhirnya, bergantung pada figur. Bila figur itu redup maka partai yang di dirikannya berpotensi untuk redup. Karena itu, momentum akan membuat kader di kondisikan. Momentum pilpreslah yang di baca oleh Prabowo.

Dalam teori ilmu politik, secara sederhana parpol itu tidak bergantung pada figur. Karena parpol dapat di klasifikasikan menjadi tiga : partai Historis, partai Ideologis dan Partai massa. Biasanya partai yang masuk dalam tiga kelas ini tidak akan terpengaruh secara signifikan apabila Figur pendirinya tidak aktif lagi di dunia politik. Katakanlah sudah meninggal. PPP, Golkar dan PDIP, bisa di kategorikan sebagai partai Historis. "Nilai-nilai kepartaiannya telah terinternalisasi sejak dulu". Orang memilih partai itu tidak bgtu tergantung degan siapa ketua partainya.

PDIP, PKS, PAN dan PKB bisa di kategorikan sebagai partai Ideologis, tentunya ideologi atau nilai yang jadi ukuran, lebih di tonjolkan ketimbang siapa ketua umumnya. Lalu PDIP, PAN, PKS dan PKB bisa di kategorikan sebagai partai yang memiliki entitas Massa pemilih yang jelas dan loyal.

Terus Gerindra?. Yah, seperti Nasdem dan Demokrat. Ketika SBY sedang naik daun, elektabilitas partai yang berlambang bintang Mercy ini juga naik. Lalu, kedekatan Surya Paloh dengan pemerintah sekarang, membuat elektabilitasnya naik pula. Begitupula dengan Gerindra yang dalam dua pemilu yang lalu dan pada pemilu kemarin masuk menjadi 3 partai besar. Demokrat karena Figur SBY, Nasdem karena Surya Paloh dan Gerindra karena Prabowonya.

Partai demokrat sudah tidak di minati, jika di bandingkan dengan pemilu 2009 dan 2014 yang lalu. Setidaknya demikian yang di sampaikkan hasil survey. SBY di rasa perlu mempersiapkan Putera Mahkotanya, sebab dalam politik berlaku juga "Trah-Genetik" sebagai salah satu daya tawar politik, maka SBY memperlihatkan kesan yang kuat, beliau mempersiapkan anaknya - AHY sebagai penerus ketua umum partai Demokrat. Keberlanjutan partai demokrat menjadi pertimbangan paling utama bagi SBY. Demikian pula dengan Nasdem, tidak mungkin diatas terus. Siapa yang tahu suatu saat partai ini berada di luar pemerintahan. Umur surya Paloh juga sudah tidak muda. Terlihat secara jelas, di berbagai kesempatan, Nasdem memanfaatkan momentum untuk menaikkan anak lelaki Surya Paloh - Prananda Surya Paloh. Surya paloh merasa berkepentingan menjaga keberlanjutan dan eksistensi Nasdem kedepan. Karena demokrat dan Nasdem bukan partai Historis dan ideologis. Entitas riil massa pendukungnya pun tidak terkategorisasi secara demografis. Tidak ada jalan lain, figur baru harus di persiapkan.

Nah, Gerindra tidak mungkin mempersiapkan pelanjut serupa SBY dan Surya Paloh. Anak Prabowo hanya satu, nampaknya tidak minat dalam dunia politik. Maka mau tidak mau, Sandiaga Uno mulai di persiapkan, mungkin begitu. Artinnya bila di lihat dinamika Capres dan Cawapres tahun lalu, dari sisi Prabowo, di samping beliau mencalonkan sebagai Presiden, juga memikirkan masa depan partai yang didirikannya. Persoalan koalisi-koalisi dengan pihak lain, semuannya bisa di adaptasi. Hasil ketetapan bisa di ubah. Rapat 1 menghasilkan bakwang, tapi yang di pilih adalah pisang Goreng. Maka lahirlah rapat ke 2 yang menghasilkan keputusan untuk mendukung pisang goreng. Sekalipun pada dasarnya mereka sama, sama-sama di goreng. Walaupun terkadang politik praktis itu ribet, tapi pada dasarnya serderhana.

Bukankah Prabowo punya anak lelaki, mengapa bukan itu yang di Sokong seperti SBY dan surya Paloh?.

Namanya Didit, Cucu Pak Harto. Sependek pengetahuanku, ia tidak minat dalam dunia politik. Orang tidak minat, jangan di paksa. Talenta akan terasa bila ada minat. Justru Didit lebih bertalenta di dunia disainer, di negara sana Yves Sant Laurent.

Disainer?. 

Memangnya kenapa, kalau disainer. Setiap orang berhak memiliki prestasi di bidang mereka masing-masing. Jadi politisi, mereka jadi politisi. Jadi seniman, mereka jadi seniman. Jadi pedagang, mereka jadi pedagang. Dst.

Anak Prabawo menjadi disainer. Semoga beliau berprestasi di bidang itu. Menjadi disainer hebat, kita doakan saja. Jadi bangga indonesia kelak.

NB ; Coretan lama, Di tulis 2 bulan setelah Pilpres 2019 dan Di Publikasikan pada tanggal 16 Agustus 2020, Di Akun Kompasiana RST


***

REFLEKSI RIUH KONTESTASI 2019 


Begitu Sederhannya Politik Itu, Kata Harold Lasswel, "Who Get What, How and When".

Kita bisa bacakan Dalil tentang menyerang. Kita bisa bacakan dalil tentang bertahan. Kita bisa bacakan dalil tentang berseru. Kita bisa bacakan dalil tentang diam. Begitu Tutur "Ammar Abdillah". Lalu, dalil apa yang kita gunakan untuk membaca zaman?.

Dulu, Ketika Calon presiden : Prabowo acap bertutur, anti Asing?. Terlihat Gagah, Garang, mencecar dan melontari bahwa Anti Aseng. Seolah esok Untaian Zamrud Khatulistiwa ini terbelah, terpecah menjadi Puing.

Lalu, saat Jokowi menjadikannya sebagai Menteri Pertahanan (Menhan), ia seperti kaleng-Kaleng bahkan bertutur "China adalah Sahabat Kita". Padahal Natuna tidak sekedar diklaim China, tetapi kapal-Kapal mereka beroperasi bebas- berkeliaran di daerah Teritorial NKRI.

Berarti kita dulu tertipu?. 

Saya teringat dengan Igauan, "Jendral Cebol Napoleon Bonaparte" yang berkata, bahwa : "seorang pemimpin yang potensial adalah penjual dan pembeli harapan".

Dari dulu, kenapa mau ditipu. Itu namanya, lebih prabowo daripada Prabowo. Harusnya kita Mafhum bahwa mereka sedang menjalankan tugas sebagai politisi. Sedang melaksanakan kapitalisasi suara dan isu. Bisa berubah ketika kompromi terjadi.

Apakah Benar Prabawo telah menjadi Kaleng-kaleng?.

Prabowo itu politisi. Namanya juga kontestasi. Jika Jokowi jualan Tempe, masa Prabowo juga jualan Tempe, mesti bedalah. Sebagaimana yang saya sampaikkan diatas, Kontestasi Politik itu Rutinitas. Selain itu, Dalam Politik, Naskah dapat ditulis, nanum segala sesuatu dapat berubah di lapangan.

Artinya, Kita lebih sering menyalahkan variabel permukaan (Aksiden) ketimbang Variabel Substansialnya. Kata Al Pacino, dalam Filem The god Father, "Tak ada hal yang bisa di putuskan sepihak, kompromi senantiasa terjadi. Aku memberikan X kepadamu, kamu memberikan Y kepadaku". Tentu saja ada akal sehat dan rasa keadilan yang bekerja disana, tapi juga kepentingan.

Akhirnya kita terlena, terbawa amarah, kadang gigi gemeretak. Juga air mata bercucuran, jantung berdetak-berdegub kencang dan menangis. Bahkan kadang membuka lembaran-lembaran suci untuk merepresentasikan rasa hati. Mengutip khazanah lama, acap juga menghubung-hubungkan dengan tanda-tanda alam empirik, pun tidak jarang mentamzilkan dengan mimpi semalam.

Manusia selalu berubah, maka tempatkan mereka pada posisi sepantasnya-Semestinya. Seumpama "penjual obat". beli obatnya seluruh penyakit yang bersemayam di batin dan Raga kita akan sembuh. Jika dokter, yang umumnya tidak banyak bicara : menyarankan beberapa obat untuk satu penyakit. Justru penjual obat Politik yang sering kita nikmati kampanyenya : menyarankan satu obat untuk seluruh penyakit. Semua orang terhipnotis. Bahkan orang yang terkagum-Kagum mengelilinginya. Dengan sukarela dompetpun dibuka dan obatpun dibelinya, uang berpindah. Resep tidak ada, petunjuk pun sederhana. Yakinlah, tidak ada yang bertanya : memangnya Si penjual Obat dulu sekolahnya dimana?.

Lalu, soal Tutur Prabowo bahwa China adalah sahabat kita, itu kontra dengan Isi Kampanyenya yang berapi-api itu.?.

Negara-negara kaya di Timur tengah sana sedang berusaha mendekati China atau Tiongkok. Berusaha menjadi sahabat terbaik dan belajar pada Negeri tirai Bambu. Tapi, China menghadirkan ketegangan diplomatik?. Ketegangan diplomatik, diselesaikan dengan Diplomasi. Sebab apa yang kita dapat dari otot dan senjata?. Memangnya kita mampu menang melawan tiongkok dalam perang?.

Nasionalisme, Kamu Kurang?. 

Siapa yang meragukan Nasionalisme Soekarno, Hatta, H. Agus Salim, Sjafruddin Prawiranegara dan Tokoh-Tokoh besar Republik ini, mereka tidak pernah berperang. Apakah Nasionalisme itu identik dengan Mesiu, senjata dan perang?.

Untuk itu saya Teringat Tutur Seorang Penyair "Mohammad Darwis : sementara Kau sibuk berperang, pikirkanlah orang-orang selainmu. Jangan lupakan mereka yang menginginkan kedamaian.  

Mari kita sejenak Bertamasya Historis, pada Poetra Fajar (Soekarno) yang menjadi Magnet bagi kawan dan lawannya di dunia internasional. Memang banyak referensi yang menyebutkan bahwa Soekarno adalah Presiden Ultra Flamboyan, Fashionable, Bentuk lain dari pencitraan. 

Tetapi Harga diri dan kemandirian adalah kata kunci dari perjuangannya. Ia merasakan derita dan mengeluarkan peluh keringat untuk sebuah bangsa yang bernama indonesia. Ia dan bangsanya tidak ingin jadi sampah "sejarah", ia ingin jadi "ingatan" orang banyak, menjadi magnet bagi pemimpin dunia lainnya Dan indonesia berawal dari harga diri yang tercabik dan terhina oleh Kolonialisme, anak Haram dari Kapitalisme yang bertumpu pada Imprealisme. Maka itulah "muka tengadah", arah kedepan sambil tertunduk melihat " masa lalu" menjadi ikon pemikiran Si Bung yang menggelorakan optimisme.


NB ; Tulisan setelag prabowo masuk kabinet Jokowi




*Coretan Alumni Fisip

*Rst

*Pejalan Sunyi

*Nalar Pinggiran

Kamis, 22 September 2022

UMAR BIN ABDUL AZIS, SANG KHALIFAH YANG ZUHUD

Saat Umar Bin Abdul Azis Menjadi Khalifah, Ia di belikan baju seharga 6 dirham. Setelah di belikan, Umar memegang baju tersebut dan menyatakan, "aku senang baju ini, hanya saja baju ini terlalu bagus, Kembalikan". 

Orang yang di suruh membelikan pakaiannya pun menangis. Umar bertanya, "mengapa engkau menangis?". Ya, Amirul Mukminin, Sebelum engkau menjadi Khalifah - Engkau adalah orang yang sangat Stylish, Glamor dan penuh kemewahan. Engkau, setiap hari mengganti pakaian lebih dari satu kali. Engkau juga memiliki emas dan perak, pembantu dan istana, makanan dan minuman serta segalanya. Engkau juga adalah anak dan keponakan Seorang khalifah. Saat engkau minta di belikan baju. Kami membelikanMu baju seharga 600 dirham. Engkau menolak dan mengembalikannya, karena terlalu kasar dan Kurang sempurna. Begitu engkau menjadi Amirul mukminin. Kami membelikanMu baju seharga 6 Dirham, engkau pun mengembalikannya, karena terlalu bagus dan mahal. Ihwal itulah yang membuatku menangis, Wahai Amirul Mukminin.

Apa yang di lakukan Umar Bin Abdul Azis, seumpama seseorang yang saat menjadi Gubernur,  Belanjanya di Mall. Begitu menjadi seorang presiden belanja di pasar Tradisional. 

Umar Bin Abdul azis di kenal sebagai orang yang sangat ambisius. Semua yang ia inginkan harus tercapai, sebagaimana saat dia menginginkan untuk Menikahi Istrinya, Fatimah Bin Abdul Malik. Sekarang, ambisinya untuk masuk surga, maka ia melakukan cara hidup zuduh yang ekstrem, yaitu meninggalkan semua fasilitas dunia. Makanya saat dia menjadi Khalifah, dalam waktu berasamaan, ia juga sudah menjadi seorang Sufi.

Suatu saat, Fatimah, Istrinya heran dan tidak percaya mendengar bahwa Suaminya Meninggalakn cara Hidup Glamor, Matrealistik, karena ia sangat mengenal siapa suaminya. Sosok yang sangat identik dengan kemewahan hidup. mengapa secara tetiba ia hendak berpaling dari kemewahan, padahal tampuk kekuasaan kaum muslimin baru saja di anugerahkan kepadanya?.

Keterkejutannya semakin bertambah tatkala melihat suaminya pulang dari kota Damaskus, tempat ia dilantik sebagai khalifah. Suaminya terlihat lebih tua tiga tahun dibandingkan tiga hari yang lalu  tatkala ia berangkat ke kota Damaskus. Wajahnya terlihat sangat letih, tubuhnya gemetar dan layu, seperti menanggung beban yang teramat berat.

lirih suara Umar bin Abdul Aziz berkata dengan lembut dan penuh kasih-sayang kepada sang isteri tercinta, "Fatimah, isteriku.! Bukankah engkau telah tahu apa yang menimpaku saat ini?. Beban yang teramat berat dipikulkan kepundakku, menjadi nakhoda bahtera yang dipenuhi dan ditumpangi oleh umat Muhammad SAW. Tugas ini benar-benar menyita waktuku, hingga hakku terhadapmu akan terabaikan. Aku khawatir kelak engkau akan meninggalkanku, apabila aku akan menjalani hidupku yang baru, padahal aku tidak ingin berpisah denganmu hingga ajal menjemputku." 

"Lalu, apa yang akan engkau lakukan sekarang?", tanya Fatimah.

"Fatimah.!, engkau tahu bukan, bahwa semua harta, fasilitas yang ada ditangan kita berasal dari ummat Islam, aku ingin mengembalikan harta tersebut ke baitul mal, tanpa tersisa sedikitpun, kecuali sebidang tanah yang kubeli dari hasil gajiku sebagai pegawai, di sebidang tanah itu kelak akan kita bangun tempat berteduh kita dan kita hidup dari sebidang tanah tersebut. jika engkau tidak sanggup dan tidak sabar terhadap rencana perjalanan hidupku yang penuh kekurangan dan penderitaan. Berterus teranglah, dan sebaiknya engkau kembali ke orang tuamu!", jawab Umar bin Abdul Aziz. 

Fatimah kembali bertanya, ”Ya suamiku, apa yang sebenarnya membuat engkau berubah sedemikian rupa?” 

Fatimah memang merupakan wanita yang terbiasa hidup mewah, dengan semua fasilitas yang disediakan dan pelayanan yang super maksimal, tidak kecewa mendengar keputusan suaminya. Ia tidak menunjukan kekesalan dan keputus asaan. Justru dengan suara yang tegar dan mantap, ia menegaskan, " Wahai Suamiku.! Lakukanlah yang menjadi keinginanmu dan aku akan setia disisimu baik dikala susah atau senang hinga maut memisahkan kita.”

Berkenaan dengan Pilihan Hidup Fatimah, saya teringat dengan Tun Abdul Najib - Mantan Perdana Menteri Malaysia. Kalau kita membaca dengan tenang. Sebab, kehancuran Tun Abdul Najib adalah Rosmah, Istrinya yang glamor. Berbeda dengan Anwar Ibrahim - Mantan Perdana Menteri Malaysia Lainnya, bisa sedemikian kuat, karena Istrinya - Wan Azizah Islami yang sabar, walau suaminya dua kali dituduh zodom, didua periode. Ihwal itulah, kita mesti Berhati-hati dengan emosi perempuan. Bahkan seorang Fir’aun saja, pada akhirnya kalah, karena tunduk pada kemauan istrinya. 

Kita kembali, Fatimah merupakan satu-satunya anak perempuan dari lima bersaudara khalifah daulah Abbasyiah yang bernama Abdul Malik bin Marwan. Layaknya putri raja, fatimah mendapatkan kehormatan dan segala fasilitas yang mewah, hidup dengan penuh kasih sayang dan sangat dimanja oleh kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya. 

Kebahagiannya menjadi sempurna saat dipersunting oleh seorang lelaki terbaik pada zamannya, dari keluarga terhormat yang bernama Umar bin Abdul Aziz, hidup penuh dengan keglamoran dan kemewahan. meskipun demikian ia merupakan sosok yang religius dan sangat amanah.  

Fatimah yang agung itu menjadi pendukung pertama gerakan perubahan yang akan dilakukan oleh suaminya, yakni gerakan kesederhanan para pemimpin dalam hidup, demi bakti dan keridhoan sang suami yang tercinta. Ia rela meninggalkan kemewahan hidup yang selama ini dinikmatinya, semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran, keikhlasan atas pondasi keimanan yang kuat. 

Di rumahnya yang baru, Fatimah hidup dengan penuh kesederhanaan. Pakaian yang dikenakan, makanan yang disantap tanpa ada kemewahan dan kelezatan, semuanya tidak jauh dengan rakyat biasa. padahal status yang mereka sandang adalah raja dan ratu seluruh umat Islam masa itu. 

Begitu sederhananya konsep kehidupan yang mereka terapkan, orang yang belum mengenal tidak menyangka bahwa mereka adalah pasangan penguasa ummat islam kala itu. 

Diceritakan, suatu hari datanglah wanita Mesir untuk menemui khalifah di rumahnya. Sesampai di rumah yang ditunjukkan, ia melihat seorang wanita yang cantik dengan pakaian yang sederhana sedang memperhatikan seseorang yang sedang memperbaiki pagar rumah yang dalam kondisi rusak. Setelah berkenalan si wanita Mesir baru sadar bahwa wanita tersebut adalah Fatimah, isteri sang Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Tamu itu pun menanyakan sesuatu hal, "Ya Sayyidati, mengapa engkau tidak menutup auratmu dari orang yang sedang memperbaiki pagar rumah engkau?", Seraya tersenyum Fatimah menjawab, "Dia adalah suamiku, amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz yang sedang engkau cari.

Kalau kita membaca sejarah Umar Bin Abdul Azis, kita akan mendapati Salah satu inovasi Umar Bin Abdul Azis àdalah menengahi Sengketa politik di dalam Tubuh Ummat Islam. Umar Bin Abdul Azis melakukan Inovasi dengan melarang melakukan Khutbah atau Mimbar Jum'at sebagai tempat caci maki sesama Ummat Islam. Oleh karena itu, Di akhir Khutbah jum'at selalu di baca Khotib, "Innallahu ya'muru bil adli wal ihsan wa ita idil qubra wa yanha anil fahsya iwal mungkar iwal bagyi". Jadi, orang yang Mencaci Ali harus berhenti dan sebaliknya orang mencaci Muawiyah harus berhenti. Artinya mimbar jum'at, bukanlah area untuk menyampaikkan agitasi politik. 

Berkenaan dengan itu, pilihan hidup zuhud dari Umar Bin Abdul Azis, sangat berdasar dengan praktek hidup Rosulullah. Suatu hari Nabi tidur di sebuah tikar jerami. Kemudian beliau bangun dengan bekas tikar yang menempel di tubuhnya. Ibnu Mas'ud berkata, "Ya Rasulullah! Maukah kami membentangkan permadani yang lembut untukmu?. Beliau menjawab, “Mengapa aku harus peduli dengan dunia?. Dunia bagiku seperti naungan pohon, tempat musafir beristirahat sementara di hari yang panas. Kemudian dia pergi dan melanjutkan perjalanannya.

Demikianlah analogi tentang kesementaraan hidup. Dunia dalam pandangan pejalan Sunyi ibarat ular. Ketika kita menyentuhnya kulitnya sangat lembut, tetapi di dalamnya terdapat racun yang mematikan. Ihwal itulah, orang bijak sangat menjaga jarak dari dunia, tetapi seorang yang naif akan berlari ke arahnya.


--BERSAMBUNG--

#Pustaka Hayat
#Rst
#Pejalan Sunyi
#Nalar Pinggiran


Minggu, 11 September 2022

- BASHAR AL ASSAD -


Sejak zaman Ayahnya BASHAR , yakni  HAFEZZ AL ASSAD dikenal sebagai tokoh paling konsisten melawan Israel sebagai sebuah negara (bukan membenci Yahudi sebagai entitas agama. Tetapi Israel sebagai entitas  institusi politik).  Sebuah konsistensi yang diperlihatkannya hingga akhir hayat.

Dibawah kepemimpinannya, Suriah menjadi "rumah kedua" rakyat Palestina yang terusir. Ketika hidup, Hafezz al-Assad sangat dihormati dan diperhitungkan. "Tak ada damai tanpa Suriah, tak ada perang tanpa Mesir", adalah ungkapannya yang populer era tahun 70-an dan 80-an.

Saya pernah membaca arsip berita Timur Tengah di beberapa majalah mainstream sejak era 80-an hingga kini, seperti Tempo dan Panji Masyarakat, dll  yang mengatakan Hafezz Al-Assad .... sesat. Tidak ada.... !.

Lalu, BASHAR AL-ASSAD melanjutkan pamor sang ayah. Kiprah sang ayah. Garis politik sang ayah. Langgam politik sang ayah.

Tetap menganggap Zionisme Israel sebagai musuh kemanusiaan. Tetap menjadikan negaranya sebagai "Rumah Kedua" rakyat Palestina. Belakangan, semua itu dilakoninya dengan "tertatih-tatih". Dan saya sering mencari suguhan begitu banyak link sambil terselip kalimat, "Bashar anak Hafezz Al-Assad itu ..... sesat lho !"? .

Seumpama negara Syahreza Pahlevi saja. Ketika Syah berkuasa, Iran sahabat setia. Kala Syah suami Farah Diba ini "ambruk", Iran menjadi "menakutkan".  Bagian dari "poros setan", seperti kata Bush junior.

Cepat sekali berubah. Padahal merdunya suara penyanyi legendaris Mesir Ummi Kaltsum, masih menggema hingga hari ini.

Heran saja !.

Walaupun beberapa waktu lalu, di era Trump tomahowk membombardir Suriah. Sebelumnya, di era Obama ISIS menjadikan negaranya sebagai eksperimen "mimpi" teo-politik mereka. Luluh lantak. Pilu. Tragik.  Tapi, hingga hari ini, Assad masih tetap tegak berdiri. Bahkan, beberapa hari lalu, Suriah melaksanakan Pemilu. Assad lagi-lagi menang 95,1 %.

"Ah, sama dengan Kim Jong-Un. Hampir 100 % ia menang !".

Tidak usah kita perpanjang. Perdebatan dari berbagai perspektif, bisa dimunculkan. Namun kemenangan tersebut, kembali membuktikan, bahwasanya, rakyat Suriah kembali memberikan pesan kepada pihak luar, "entah siapa itu", jangan ganggu negara kami.

Dulu, ada yang menganggu Bashar Al Assad. Dari berbagai penjuru mata angin. Tapi, Assad tetap bertahan, karena rakyat Suriah (banyak) berada dibelakangnya, dan dukungan Rusia serta Iran, tentunya. Biasa, "bargaining position". Perimbangan kekuatan politik kawasan.

Salam damai untuk dunia.


* Pustaka Hayat
* Rst
* Pejalan Suinyi
* Nalar Pinggiran

Sabtu, 03 September 2022

NIKAH SEBAGAI JALAN TERBAIK YANG MUDAH



Ada sejumlah tujuan yang hendak dicapai dari pernikahan ini. Pertama, sebagai cara manusia menyalurkan hasrat libidonya untuk memperoleh kenikmatan atau kepuasan seksual. Kedua, merupakan ikhtiar manusia untuk melestarikan kehidupan manusia di bumi. Pernikahan dalam arti ini mengandung fungsi prokreasi sekaligus reproduksi. Ketiga, menjadi wahana manusia menemukan tempat ketenangan dan keindahannya. Melalui perkawinan, kegelisahan dan kesusahan hati manusia mendapatkan salurannya.

Menurut Imam Ghazali menikah memiliki beberapa tujuan yaitu; pertama, memperoleh dan melangsungkan keturunan agar bumi tidak kosong dari manusia, kedua, menyalurkan dorongan seksual. Ketiga, memenuhi panggilan untuk memelihara dari kejahatan dan kerusakan. Keempat, memupuk rasa tanggung jawab dalam mengendalikan umah tangga dan membangkitkan semangat mencari rezeki halal. Dan Kelima, menciptakan masyarakat yang tentram atas dasar kasih sayang.

Artinya, menikah adalah Jalan yang di tawarkan agama untuk mencegah manusia melakukan Kemaksiatan yang bisa terjadi. Selain, menikah, Agama mengajurkan kita untuk berPuasa. Puasa di sini bermakna sebagai jalan kedua setelah menikah, Jika seseorang masih merasa belum mampu untuk menikah, maka berpuasalah sebagai amalan yang dianjurkan. Rasulullah bersabda, “Wahai para pemuda, apabila siapa di antara kalian yang telah memiliki ba’ah (kemampuan) maka menikahlah, karena menikah itu sebagai pelindung.” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Tetapi, Perlu juga di ingat bahwa puasa hanya mengendalikan Hasrat seksulitas bukan untuk memusnahkan atau menghilangkan Hasrat Seksual manusia. Sebab, Hasrat seksual manusia adalah fitrah. Sehingga jalan kedua setelah menikah adalah puasa. Sedangkan, Puasa yang disarankan, seperti puasa senin - kamis, puasa daud Dan puasa sunnah lainnya.

Secara Garis besar, agama menawarkan 3 jalan dalam menyalurkan Hasrat seks manusia, yaitu Nikah, poligami, Puasa dan Beberapa Ulama menyepakati Jalan Onani-masturbasi, sekalipun punya resiko yang berbahaya. 

Mengapa agama memberi solusi?. Karena, agama melihat ada potensi kemasiatan yang bisa terjadi di situ, yaitu Zina. Zina adalah tindakan yang menyimpang dari ajaran agama dan termasuk perbuatan yang haram. Oleh karena itu, sehingga Allah mewarning Kita dalam Q.S. Al-Isra : 32, Walaa Taqrabu zinaa innahuu kaana faahisyatan wasaaaa a sabiila - "Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk".

Zina sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan. Adapun kategori Zina, terdiri dari dua kategori, Zina Muhsan dan zina Ghairu Muhsan.

Zina Muhsan adalah zina yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Seperti seseorang yang berselingkuh, hingga berujung pada hubungan intim. Sementara, Zina Ghairu Muhsan adalah zina yang dilakukan oleh mereka yang belum menikah.

Seseorang yang balig, maka Potensi seksnya adalah Fitrah - kebutuhan dasar Manusia. Sekalipun, Terdapat ragam pendapat ulama mazhab tentang usia seseorang untuk disebut sudah balig. 

Mazhab Syafii dan Hambali secara umum menyebutkan, usia balig untuk laki-laki dan perempuan adalah 15 tahun. Mazhab Hanafi menerapkan batas minimal dan maksimal usia balig. Batas minimal seseorang disebut sudah balig adalah 12 tahun untuk laki-laki dan 9 tahun untuk perempuan. Sedangkan batas maksimalnya, yaitu 18 tahun untuk laki-laki dan 17 tahun untuk perempuan. Mazhab Maliki memberikan batasan usia balig adalah genap 17 tahun memasuki 18 tahun, atau genap 18 tahun. Dalam hal ini, mazhab tersebut tidak membedakan batas usia balig untuk laki-laki atau perempuan.

Berkenaan dengan Balig, Allah berfirman dalam Q.S an-Nur : 59, "Dan apabila anak-anakmu telah sampai ihtilam (umur balig), maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang sebelum mereka meminta izin".

Diriwayatkan juga dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, "Terangkatlah pertanggungjawaban dari tiga golongan, yaitu orang tidur hingga ia bangun, anak-anak hingga ia ihtilam (bermimpi basah dan mengeluarkan mani), dan orang gila hingga ia sembuh (kembali berakal)".

Berdasarkan ayat dan riwayat tersebut, dipahami seseorang disebut sudah balig ketika ia sudah mengeluarkan mani, baik dalam keadaan sadar atau tidur (mimpi basah). Ketika seseorang sudah sampai tahap itu, maka ia bertanggungjawab untuk menjalankan syariat sebagai muslim yang seutuhnya.

Jalan pernikahan adalah salah satu solusi penyaluran Hasrat seks. Tapi, mungkin pernikahan adalah Jalan penyaluran hasrat seks, Jika pernikahan, justru di pagari oleh Ritus kebudayaan - Kondisi Sosio Antropologis Masyarakat setempat, bukan Rukun dan Syarat yang di anjurkan Agama. 

Kita menyakini bahwa Nikah adalah Jalan terbaik penyaluran Libido Seks Manusia. Namun, beranikah kita menabrak atau keluar dari sterotipe Nikah dewasa ini, dengan hanya memenuhi Syarat dan Rukun yang di Kemukakan agama?. 

Faktanya, Hampir bisa di Pastikan tidak ada Yang berani mendobrak kejumudan kita pada Stereotipe pernikahan dengan Pagar-pagar Tradisi yang hampir mutlak dan wajib. Seperti, Nikah di sebut Nikah, Jika ada pesta dengan Aksesoris kemewahan di gelar. Jika ada sejubel Busana mentereng di tampilkan. Jika ada makan berkelas di sajikan. Jika ada hiburan papan atas di pertontonkan. 

Orang tua yang mempersulit pernikahan bagi anak-anak mereka harus bertanggung jawab kepada Allah, ketika putra dan putri mereka menempuh hubungan yang di luar tuntunan agama. Jika tidak mempermudah yang halal, secara tidak langsung telah memfasilitasi yang haram. Nabi pernah ditanya: 'Di mana Allah?.' Nabi menjawab: 'Allah bersama orang-orang yang patah hati.'

Hal semacam ini, seperti Seseorang melarang anaknya untuk berzina, tetapi dalam waktu bersamaan memberatkan anaknya untuk menikah sebagai salah satu Jalan untuk menyalurkan Libido Seksnya. Makanya Tak jarang Kita dapati Problem sosial Kawin Lari - Silariang atau Hamil di Luar Nikah - Zina.

Berkenaan dengan Nikah sebagai Jalan terbaik, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَاَ نْكِحُوا الْاَ يَا مٰى مِنْكُمْ وَا لصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَا دِكُمْ وَاِ مَآئِكُمْ ۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahu". (QS. An-Nur 24: Ayat 32)

Diksi ayaama adalah bujang ; orang yang tidak memiliki pasangan (sah). Baik dia adalah perawan atau perjaka, maupun janda atau duda dan hal ini berlaku bagi pria atau wanita yang merdeka (bukan budak). 

"Nikahkanlah juga orang-orang yang layak". Di ayat ini, Allah menyatakan anjuran bagi orang-orang Islam yang kaya atau penguasa, untuk menikahkan orang-orang yang belum menikah. Makanya, Ketika Umar Bin Abdul Azis masih menjabat sebagai Khalifah, ia mengeluarkan aturan, "boleh mengambil uang dari baitul mal untuk membiayai perjaka-perjaka yang belum kawin". Artinya, negara berkewajiban, menikahkan seseorang yang belum mampu menikah, karena faktor biaya. Biaya nikah dalam artian, Biaya akad. Bukan resepsi - Pesta. 

"Dan (nikahkan) juga orang-orang sholeh (muslim) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan".  Di ayat ini, Kata ibad adalah bentuk plural dari kata singular : abdhi. 

"Jika mereka miskin, maka Allah akan memberi kemampuan kepada mereka". Inilah dalil bagi orang-orang yang sudah menikah, pasti di beri kecukupan oleh Allah. Sekalipun, tidak sedikit yang setelah menikah, tambah melarat. Maksudnya ayat ini adalah jika orang sudah siap menikah, dia pasti di beri kecukupan. Kecukupan dalam arti Tasawuf - berbesar hati atau apalah pemaknaan yang lainnya. Sebab, jika kecukupan dalam arti ekonomi, ya tidak sedikit yang justru melarat setelah menikah, karena ukuran kecukupannya adalah faktor ekonomi. 

"Dengan menikah, Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunianNya". Jika sudah menikah, pasti lebih kecukupannya. Sebab, tidak ada ceritanya orang yang menikah tidak lebih kaya daripada perjaka .

Nah, Di ayat yang lain, Allah menyatakan, "Dan kepada orang-orang belum mampu menikah, hendaklah menahan diri. sampai Allah memberi kemampuan untuk menikah ". Belum mampu yang di maksud adalah belum mampu meghadirkan Mahar dan Nafkah. Sedangkan menahan yang di maksud adalah menahan diri dari zina. Mau tidak laku bagaimana pun, jagalah dirimu dari zina. 

Nikah itu mudah, Yang membuat nikah itu susah adalah nafsu kita. Seperti berharap, dapat istri cantik, Ekonominya bagus, nasabnya baik. Padahal, kriteria yang seperti itu pun memiliki kriteria yang sepadan, dan ternyata bukan kita. Andaikkan kriterianya yang penting perempuan, maka tentu nikah itu mudah. 

Berkenaan dengan itu saya teringat dengan Mullah Nasruddin. Suatu ketika Seorang bertanya pada Mulla Nasruddin. "Yaa Syeikh, apakah engkau tidak pernah berpikir untuk menikah?".

Syeikh Nashiruddin menjawab, "dulu aku ingin menikah dengan seorang wanita sempurna, untuk itu aku melewati lembah dan gurun, hingga aku tiba di damaskus. Di sana aku menemukan seorang wanita cantik nan mempesona. tapi, sayang wanita itu tiada kabar akan dunia.

Akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke lebanon. di sana aku menemui seorang wanita yang memiliki pengetahuan akan langit yang luar biasa. namun, sayang ia tidaklah cantik dan akhirnya aku lanjut ke mesir. Di sana saya menemui seorang wanita cantik, berpendidikan, kaya raya dan hampir saja saya menikahinya".

"Lantas mengapa Engkau tak menikahinnya", Tanyanya Kembali.

Syeikh Nashiruddin kembali menjawab, "Wahai kawan, sayangnya wanita itu pun mencari pria yang sempurna dan itu bukanlah aku".

Terkadang dalam kehidupan kita mengejar kesempurnaan yang di miliki orang, sehingga kita lupa memperbaiki diri dan memantaskan diri. Padahal, Hanya Allah lah yang Mutlak sempurna. selainNya, hanya kesempurnaan yang Nisbi.

"Dalam singasan cinta datanglah padaKu dan Engkau akan menyempurna".

Tetapi, soal diatas, hanya satu dari sekian contoh kasus. Justru, yang lebih laten terjadi adalah wujud keseriusan seorang lelaki, ketika ia akan melamar seorang perempuan. Di ukur dari besaran Uang belanja Resepsi yang di berikan. Nah, Uang belanja Resepsi yang harus dibayarkan oleh calon mempelai lelaki bergantung pada kelas mempelai perempuan, sesuai dengan strata dari calon istri. Strata tersebut dipatok dari kecantikan, pendidikan, keturunan bangsawan hingga pekerjaan sang perempuan.

Artinya, yang membuat nikah menjadi ribet dan susah, karena Cara Kita beragama tidak pernah benar-benar Totalitas. Kita masih mengagungkan Tradisi, ketimbang Seruan agama. Agama itu mudah, yang membuat agama ini menjadi ribet adalah nafsu kita - Identitas Matrealistik di patok sebagai Standar. 

Berkaitan dengan beberapa Tradisi dalam prosesi pernikahan, Pernah Ulama-ulama melakukan Bahtsul masa'il di Rembang (sarang), membicarakan apa hukum prosesi atau tradisi dalam sebuah pernikahan yang mencuci kaki lelaki (suami)?. Hampir 90% Kiai dan ulama memperbolehkan tradisi tersebut. Sebab, hal itu adalah adat yang tidak bertentangan dengan Syari'at. Tapi, 10% dari kiai dan ulama itu berpendapat tidak memperbolehkan. Dengan alasan, Tidak proposional dan terkesan Setia di muka umum saja (Riya) ; jika pun mau, kaki Lelaki di cuci dengan benar, mestinya di cuci setelah suami pulang dari sawah atau ladang, sebagai wujud kesetiaan. karena pasti kaki suami yang pulang dari ladang atau sawah, kotor. Kalau kakinya sudah bersih, untuk apa di cuci lagi. Kan aneh. 

Selain itu, Problem kita sekarang ialah banyak mufassir yang mengartikan Qur'an, hanya dari terjemahan saja. Hal itu berbahaya sekali. Sehingga ada orang yang menikah secara mut'ah, padahal menikah secara Mut'ah itu mirip transaksi zina. (Di bawah saya Uraikkan Nikah Mut'ah). mereka berdalil, " fa masta' ta tum bi hunna fa adhul hunna ujurahum - perempuan yang sudah kamu nikmati, yang penting engkau bayar". 

Terjemahan seperti ini berbahaya sekali. Padahal asbabun Nuzul ayat tersebut, "wal muhsonatum minan nisa, Khurrimat alaikum ummahatukum wa banatukum wa ahwatukum wa ammatukum wa kholatukum wa banatul akhi wa banatul ukhti - ada beberapa kategori perempuan yang haram di nikahi ;

Pertama, Perempuan yang haram di nikahi karena Nazab. Seperti, Ibu, anak (putri), saudara anak (putri), saudara perempuan bapak, saudara perempuan Ibu, keponakan dari saudara lelaki, keponakan dari saudara perempuan". 

Kedua, perempuan yang di haramkan untuk kita nikahi, ialah haram karena Rodho - Dalam hukum islam, sama dengam nazab, "wa ummahatikum lathi ardto nakum wa akhawatikum minar rodho"  - ibu yang pernah menyusui kita, akan menjadi Ibu kita dan saudara sepersusuan menjadi saudara kita juga". 

Tiga, perempuan yang haram di nikahi, karena Musyaharoh - Besanan ; "Wa Ummaha nisa'ikum - Ibu dari Istri-istrimu". Misal, si Aco menikah dengan Becce, maka Mama becce adalah mertua Aco. Secara otomatis, mama becce haram untuk di nikahi oleh Aco. 

Keempat, perempuan tersebut haram, bukan karena sebab seorang perempuan. Tetapi, karena perempuan tersebut adalah Istri orang. Hal ini di sebut dengan, "Wal Muhsonatum minan nisa". Maksudnya adalah haram menikahi perempuan yang masih milik orang lain. Lelaki yang menikahi perempuan tersebut, di istilahkan oleh Allah adalah "muhsinina Ghoiro musa fifin". 

Nikah yang sah dalam Hukum fiqih islam. Misal, saya Nikah dengan Si A. Kalau hanya akad, berarti saya hanya wajib membayar mahar separuh ; Kalau saya Janji Membayar Mahar 30 juta , berarti saya hanya bayar 15 juta. Itu yang wajib bil aqdhi. Nanti wajib membayar sepenuhnya, ketika telah bil jima' - berhubungan intim. 

Makanya tidak sedikit kita dapati, mahar hanya di sebutkan seperangkat alat sholat. Sebagai Mahar yang wajib, karena akad. Nanti, bawaannya setelahnya hubungan Intim. Hal itu berdasarkan Hukum Qur'an, bukan hukum saya, " wa in tholaqtumu hunna ming qobli anta mastu hunna fa nis fu hu tarktum - hanya wajib bayar setengah". 

Sedangkan perempuan yang telah diajak berhubungan initm, atau telah bergaul. Kata Allah, "Fa atu hunna ujurahum - maka wajib kamu membayar sepenuhnya". 

Jadi ayat diatas adalah ayat tentang perempuan yang telah di nikahi, kita harus bayar berapa?. Bayar setengah jika belum berhubungan intim dan bayar sepenuhnya jika telah berhubungan intim. 

Hal ini penting saya utarakan. sebab, Problem kita sebagai orang indonesia dan juga problem semua Kiai, ulama dan Ustad. Mahar di indonesia terlalu Kecil - kadang Hanya seperangkat Alat Sholat, sementara Uang Hantarannya Ratusan juta, bahkan milyaran. Ini kekacauaan beragama. 

Bayangannya Al Qur'an itu seperti ini, " jika kamu menikahi seorang perempuan, maka mahar yang kamu berikan, jangan ambil kembali". Di arab itu maharnya mahal, tinggi dan kadang tak ternilai, sehingga setelah seseorang menceraikannya istrinya, dia terbayang untuk mengambil kembali mahar yang telah di berikan. Kalau mahar di indonesia kan, cuman seperangkat alat sholat, sehingga seseorang yang menceraikan istrinya, tidak membayangkan akan mengambil kembali maharnya, sebagaimana kalimat, "fa la ta' khuzu min hu syai'a - Jangan ambil kembali". Terbayang untuk mengambil saja tidak, apalagi kalau nikahnya sudah 4-5 tahun, maharnya ; seperangkat alat sholatnya pasti sudah lusuh. 

Sayyidina Umar R.a pernah menyatakan, wahai para perempuan, maharmu jangan mahal-mahal. Sebab, kasihan para lelaki". Mendengar hal itu, seorang perempuan alimah, lansung menyelisih, "laisa dzalika laka, ya amirul mukminin. Fa qod qola ta'ala wa atay tu ih dahunna kintoron - kamu hanya Amirul mukminin, tidak berhak membuat aturan terhadap pembatasan mahar. Allah saja tidak membatasi, mengapa engkau membatasi".


***

--NIKAH ITU MUDAH--

Imam syafi'i itu adalah Imam yang paling teliti masalah Nikah. Sehingga dia mengatakan, Nikah itu harus ada walinya dan walinya harus adil. Walinya di tentukan - harus bapaknya. Jika bapaknya telah wafat, maka kakeknya. Jika kakeknya juga sudah tidak ada, maka harus akhun saki. Selain itu, harus ada dua saksinya : dua saksinya itu harus adil. Pokoknya detail sekali Imam Syafi'i pada Bab Nikah. 

Berbanding terbalik dengan Abu Hanifah saat membicarakan Nikah. Nikah itu, kalau perempuannya bersedia, selesai perkara. Walinya yang penting mengizinkan, selesai. Jika walinya tidak datang, asalkan memenuhi syarat, sudah bisa nikah. Bahkan, Saksinya orang fasik, juga tidak apa-apa.

Penggemar Imam Syafi'i, tentu membela imamNya. Sebab, nikah itu urusan Keturunan dan urusan tidur bersama, maka harus ihtiyat (hati-hati). Imam Syafi'i di bab Muamalah, memang tidak teliti. Tetapi, di bab Nikah, beliau sangat teliti.

Tetapi, apa sebabnya sehingga Penggemar Abu Hanifah atau pengarang kitab yang berjudul "Man Ussif An-nikah wa man Ussifah - Nikah Versus Sifah (Zina)"

Diantara Pujian orang-orang pintar terhadap keluarganya Nabi, disebut, " tarokuss sifaha fa lam yussif hum aruhu min adamin wa ila biw - diantara kelebihan keluarga Nabi sebelum ada Islam pun, sudah memiliki tradisi meninggalkan sifah (Zina)". Bahkan Abu Lahab, Abu Jahal, dan lain sebagainnya pun tidak suka terhadap sifah. Apalagi Kakek-kakeknya Nabi.

Cara berpikir orang-orang Hanafiah itu begini, jika syarat nikah itu susah, ribet dan kebanyakan, sementara orang tersebut sudah mau sekali menikah. Maka, pilihan terburuknya bisa jadi zina. Demi, Menghindari zina, dalam Kaidah Ushul Fiqih di sebut Tsaddu syariah (Pencegahan). Maka, cara berpikir orang-orang bermazhab Hanafiah adalah meringankan sesuatu yang Halal yaitu Nikah 

Sama hal dengan sholat, kalau saya di tanya, sholat menggunakan sorban dan tidak menggunakan sorban, lebih baik mana?. Tentu jawaban saya, baik memakai sorban. Sholat menggunakan minyak wangi, dan tidak menggunakan minyak wangi, lebih baik mana?. Jawabannya, lebih baik pakai minyak wangi. Menggunakan siwak dan tidak sebelum sholat, lebih bagus mana?. Yah, lebih bagus menggunakan siwak.

Semua itu standar ideal. Bayangkan kalau semua ulama, mau sholat harus bersorban dulu, rida'an dulu. Tidak ada yang tidak. Maka, yang berat melaksanakan semua itu adalah Ummat. Karena Karnet Bis, satpam, pemulung, Tukang bakso, ojol, dsb, akan repot mencari sorban sebelum sholat.

Makanya Jabir Bin Abdullah termasuk sahabat Tuanya Nabi. Beliau pernah sholat di masjid, pokoknya di depan orang banyak, beliau itu punya sorban yang di letakkan di pundaknya. Tetapi, dia tidak menggunakannya, beliau hanya menggunakan sarung yang di lilitkan di lehernya.

Tidak jauh dari situ ada seorang Tabi'in, yang sholat dengan menggunakan paket komplit, sebagaimana yang saya sebutkan diatas. Setelah sholat dia tanya, wahai sahabat Rosulullah mengapa engkau sholat pakaiannya hanya seperti itu?. Kalau di bilang membawa sorban, beliau membawa sorban. Tetapi hanya di kalungkan di lehernya. Lalu, jabir berkata, "Aku melakukan ini, agar orang seperti kamu itu Tahu, bahwa syarat sah sholat itu tidak harus menggunakan aksesoris ini dan itu, seperti ini pun sudah sah".

Ihwal itulah, sehingga ulama-ulama kita memodifikasi. Agar, tukang becak, tukang bakso, ojol, polisi, tentara juga bisa Sholat, anak Punk juga bisa sholat. Akhirnya, kadang kita sholat melihat gambar Slank di baju jama'ah. Tidak apa-apa, asal sholat. Tidak perlu mencari celana cingkrang dan sorban terlebih dahulu.

Kalau kita membayangkan sholat ideal itu bagus sekali. Tetapi, kalau hal ini kita lakukan secara massal, pasti di kira ini syarat sah sholat dan kalau sudah di kira syarat sah, pasti akan berat di lakukan oleh ummat. Karena ummat itu, ada yang Satpam, ada yang karnet, ada yang ojol, ada yang ASN, dan macam-macam profesi lainnya.

Bayangkan, Seperti apa susahnya sholat itu jika semua akasesorisnya harus terpenuhi dulu. akhirnya, karung yang biasanya di isi barang-barang bekas oleh pemulung. Di isi sorban dan jubah 😂. Untuk berjaga-jaga, siapa tahu di tengah perjalanan waktu sholat masuk. Kan repot.

Nabi itu kerap membatalkan sesuatu yang penting, karena takut " Ma syaqqoh". Misalnya, Nabi bersabda siwak itu penting sebelum sholat. Tetapi, kalau di haruskan, akan menjadi berat.  Maksudnya, Nabi itu berkali-kali ingin mewajibkannya. Tapi, kalau sudah menyangkut "Masyaqqoh-Nya" ummat. Maka, keinginan mewajibkan, di batalkan.

Pikiran saya sederhana, kalau sudah tidak bisa mengikuti sunnah Rosul yang ideal, jangan di tinggalkan sama sekali. Sebagaimana Kaidah Fiqih, " ma la yudroku kullu la yudro ku kullu".

Jadi, Trendnya Ulama- ulama Dari Mazhab Hanafiah membicarakan Nikah itu adalah mempermudah yang halal - Nikah, agar Yang haram - Zina tersingkirkan. Atau seperti Imam Syafi'i, masalah anak Hasil zina, masalah senggama - Hubungan intim itu repot. Di pastikan kehalalannya itu sampai 100 %, makanya cara pandang Imam Syafi'i soal nikah itu sangat ketat ; sampai walinya saja, yang jelas-jelas adalah bapaknya, tapi harus di teliti adil atau tidak. 

Tetapi, Ada satu Hal Yang Di Ulas Imam Syafi'i yang menurutku Sangat Luar biasa dan sangat Jenius. Misalnya, bolehkah lelaki yang telah melawati Fase kembang Hasrat seksualnya atau tidak menikah?. "Fa qod qola Rosulullahi saw annikahu sunnati fa man roghibati sunnah fa laisa Minni - Imam Syafi'i mengetengahkan Hadist tersebut, bahwa jika seseorang tidak menikah karena membenci sunnah Nabi, maka hal itu buruk. Tetapi, jika seseorang tidak menikah karena takdirnya tidak suka nikah atau karena tidak laku. Maka, hal itu tidak jadi soal.

Lalu, imam Syafi'i di tanya, apa dalilnya?. Jawaban Imam syafi'i santai saja, " innalahu ta'ala dzakaro abdbudhan sholihan wa washofa bi annahu hasyur wa sayyidah wa hasyuraw wa nabiyan minassholihin - Allah itu menyebut sekian hamba yang sholeh dan diantara hambanya yang sholeh itu ada yang berstatus Hasyur (orang yang tidak menikah).

Artinya tidak menikah itu tidak menganggu kesholehan. Dengan catatan dia tidak menikah bukan karena dia membenci Sunnah Nabi. Maka, uzuba itu halal. Semudah itu orang memahami Qur'an. tetapi sekarang orang susah memahaminya. Apakah yang salah adalah gurunya atau muridnya?. 

Berkenaan dengan itu, saya teringat dengan Sebuah kisah yang menurut saya, tidak kalah menarik. Tentang Rabi'ah Al-Adawiyah, namanya Harum di mata banyak orang. kealimannya, kerendahan dan hidup zuhudnya, seperti memunculkan magnet yang menarik di banyak kalangan, untuk mengaguminya sebagai Sufi perempuan yang tak biasa. tidak hanya masyarakat awan, ternyata kekaguman itu juga di miliki oleh para Ulama besar se-zamannya. 

Tak ayal, jika ulama perempuan yang berstatus janda, lantaran sang suami wafat. Sehingga banyak ulama yang hendak melamarnya untuk menjadi pendamping hidupnya. Para ulama yang terpikat hatinya, antara lain, Hasan Al-basri, Malik Bin Dinar dan Tsabit Al-banani. 

Suatu hari para ulama tersebut datang ke kediaman Rabi'ah dan mengutarakan maksud tulus untuk melamarnya, dari balik Hijab Rabi'ah berujar, "aku ingin tahu, siapa diantara kalian yang paling A'lam (alim). maka, aku akan bersedia menjadi istrinya".

"Dialah Hasan Al-basri, sahut Malik Bin Dinar dan Tsabit Al-banani". suasana persaingan merebut hati Rabi'ah, ternyata tidak menghalangi mereka untuk tetap bersikap rendah hati (tawadhu) satu sama lain. 

Rabi'ah pun mengajukan persyaratan kepada Hasan Al-basri, sebagaimana orang ketika melamar, "Jika Tuan mampu menjawab 4 persyaratan saya. maka, aku bersedia menjadi istrimu".

Silahkan wahai Rabi'ah. semoga Allah memberi petunjuk dalam memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyanMu, Balas Hasan Al basri. 

Rabi'ah, "menurut Tuan. Ketika aku meninggal dunia, apakah kematianku dengan membawa ketetapan Iman atau tidak?".

Hasan Al Basri, "Maaf, hal ini termasuk ghaib dan tiada yang tahu pasti kecuali Allah SWT",

Rabi'ah Al adawiyah, "ketika aku bersemayam dalam kubur. lalu malaikat mungkar dan nakir bertanya mampukah aku menjawabnya?".

Hasan Al Basri, "maaf, itu juga termasuk perkara ghaib". 

Rabi'ah al adawiyah, "Ketika manusia di himpun di hari kiamat kelak, aku termasuk orang yang menerima kitab amal dengan tangan kiri atau kanan?".

Hasan al basri, "masih mengutarakan jawaban yang sama, yang menurutnya perkara ghaib". 

Rabi'ah al adawiyah, "ketika manusia di panggil. aku termasuk golongan yang masuk ke surga atau neraka?".

Hasan Al basri , " masih dengan Jawaban Yang sama. Semua itu adalah perkara Ghaib Wahai Rabiah".

Setelah 4 pertanyaan yang di ajukan Rabi'ah. Hasan Al -basri meminta maaf dan mengembalikan kepastian pertanyaan itu kepada Allah. Hasan tahu bahwa Rabi'ah adalah seorang tokoh dengan ketaatan dan prestasi kerohaniaan yang luar biasa. Tapi, untuk urusan sesuatu yang terjadi kelak, Hasan Al-basri tidak mau memberi penilaiaan yang menjadi Hak periogatif Allah. 

"Bagi orang yang di landa kekalutan memikirkan ke empat masalah yang ku sampaikan padamu, Duhai Hasan. mana ada kesempatan untuk berumah tangga", Tutur Rabi'ah.

Akhirnya, ketiga Ulama itu keluar dari mukim rabi'ah dengan meneteskan air mata. 

Pelajaran yang bisa kita konversi dari Cerita ini, bisa beragam. Ia tergantung pada sudut pandang apa kita memandang. Menurutku, yang menarik adalah Di tengah gempuran akut yang menghempas relung paling inti dari kesadaran manusia, kisah seorang sufi perempuan ini memberikan sedikit titik terang bahwa begitu mulai dan mahalnya sebuah mahligai cinta yang di himpun dalam tali pernikahan, hingga materi dan nama besar pun tak mampu meluluhkan rabi'ah.

Lebih jauh dari sekedar menyempurnakan sebahagian Agama. ia harus berpangkal dari kualitas diri Seorang hamba. sebab itulah, Hasan keluar dari mukim Rabi'ah dengan meneteskan Air mata. Di titik itulah, Kerap ku sampaikkan di waktu-waktu yang lalu bahwa cinta itu Sejatinya menjadi piranti spritual dan jalan hakiki menuju pembebasan kemanusiaan dari belenggu nestapa sosial.


***

Dalam nikah itu ada Ijab Qabul, yaitu wali nikah menyatakan "saya nikahkan kamu dengan Fulan binti Fulan, dst. Dan kita menjawab, saya terima nikah dan Kawinnya fulan binti fulan, dengan Mahar bla..bla.". Secara Fiqih, hal itu Halal (Sah). Karena sudah ada Ijab qobul dan perempuan tersebut juga bukan Mahrom kita atau saudara sepersusuan kita sebagaimana yang saya jelaskan diatas tentang perempuan yang haram untuk di Nikahi. Tetapi, ada kemungkinan bisa menjadi Haram. 

Bahagian ini, yang Sebenarnya jarang di kemukakan dalam Fiqih, yaitu "salah sangka". Seperti, awalnya kita di kira kaya, tapi ternyata bukan. Pernikahan itu bisa menjadi Haram, karena wali perempuannya setuju, karena tertipu (penampilan). Makanya, Tebar pesona dan casing yang menipu itu haram. Sebab, nabi pernah menikahkan seseorang yang di kira muda, ternyata Tua. Lantas pernikahan tersebut, di batalkan. 

Ihwal itulah, jika ingin menikah. Yakinkan calon istri kita, bahwa kita adalah orang yang paling tidak punya prospek di dunia ini. Tetapi, yang Mau menikah dengan orang yang tidak punya Prospek di dunia, hanya 1 diantara 100.

Sebenarnya, Perempuan itu mahal. Tetapi, Nabi justru menekankan, jika ada seorang wanita yang menaruh dengan mahar yang paling murah, itulah yang terbaik. Murah, tetapi bukan murahan. Bahkan Allah memberikan Klu terhadap lelaki, agar mencari perempuan yang maharnya termurah. 

Ada satu kisah sahabat Nabi, saya lupa siapa namanya. seorang marbot Ka'bah. Jika di identifikasi Postur sahabat tersebut, ia Berbadan bungkuk, hitam, rambutnya sedikit karena memiliki penyakit dan giginya tidak rapi. Jika seorang sahabat tidur di pinggiran ka'bah, pasti miskinnya luar biasa. 

Nabi setelah selesai sholat subuh, melihat sahabat tersebut sedang duduk di pinggiran Ka'bah, di hampiri dan di tanyalah oleh Nabi, " wahai sahabatku, umurmu berapa?". Jawab sahabat tersebut, 41 tahun, Duhai Rosulullah. "Apakah engkau telah menikah?". Belum, Ya Rosulullah. "menikahlah, segera wahai sahabatku". 

Saat Sahabat itu diajak nikah oleh Rosulullah dan di tanya adakah wanita yang engkau sukai. Jawab sahabat tersebut, "ada Ya Rosulullah". Kata Rosul, Siapa?. Namanya Maryam, Duhai Rosulullah. 

Maryam adalah seorang kembang desa, cantiknya luar biasa dan anak seorang Saudagar kaya. Artinya sahabat Nabi tersebut, Normal. Sebab, Syahwat lelaki itu di matanya. Jika melihat perempuan cantik, pasti istiqomah 😂

Akhirnya Nabi mengajak sahabat tersebut ke rumah Maryam. Sahabat Nabi itu sudah Gusar Hatinya, takut tidak di terima. Sebab, ia miskin dan keadannya memilukan. Sangat tidak mungkin untuk di terima. Kata Nabi, sudah kamu diam, kita kerumah maryam sekarang. 

Tiba di depan rumah maryam, di ketuklah rumahnya oleh Nabi ; Assalamu alaik Ya Ahlul Bait. Jawab seseorang dari dalam rumah, " Alaikkassalam, Man (siapa)?. Jawab Nabi, Ana Muhammad Ibni Abdillah. Dengan segera Tuan rumah membuka pintu rumahnya, sebab yang datang adalah Rosulullah. 

Ya Rosulullah, apa gerangan sehingga engkau datang ke rumahku?. Nabi menjawab, aku ingin melamar putrimu. Sontak, bapaknya maryam senangnya bukan main. Sebab, yang melamar adalah Rosulullah. Bapaknya Maryam ini sangar, postur tubuhnya tinggi besar. Jika Nabi berperang sering berada di belakang Nabi. 

Setelah mendengar maksud kedatangan Rosulullah, ayah Maryam menjawab, Iya Rosulullah saya terima lamaran Engkau, Rasulullah. Nabi kemudian menjawab lagi, Bukan untukku lamaran tersebut. Ayahnya maryam bertanya, untuk siapa lamaran tersebut?. Di panggillah sahabat Nabi untuk bertemu ayah Maryam, kata Nabi Cium tangan ayah Maryam. 

Tetapi, ayah Maryam sudah mulai menarik tangannya. Karena dia tahu, bahwa sahabat Nabi tersebut adalah seorang marbot Ka'bah, yang miskin, sambil berujar, Jika dia yang engkau lamarkan, sepertinya berat untuk saya terima, Ya Rosulullah. 

Sudah dengar engkau wahai sahabatku, Perempuan yang engkau minta. Ayahnya Tidak menerimamu, ayo kita pulang. Baru tiga langkah, hendak pulang. Tetiba, Maryam dari dalam rumah bertanya ; "Ayah, siapa yang datang?". Jawab Ayahnya, Rosulullah. "Ada keperluan apa?". Mau melamarmu. "Untuk siapa?". Untuk sahabatnya. Kata maryam, "Demi Allah Aku Terima, Ayah". Kenapa di terima?. "Karena yang meminangku adalah Rosulullah SAW". 

Bagaimana kalau kita di datangi seorang Alim yang melamar anak kita untuk seseorang. Maka, insya Allah yang di bawa adalah orang baik. Kita jangan lihat orangnya tidak punya prospek dia dunia ini, miskin dan melarat. Olehnya, kita jangan lihat siapa orang yang akan menikahinya. Tetapi, lihat keberkahan yang akan lahir dari pernikahan kedua anak tersebut. 

Bayangkan, Hasil keturunan Maryam dan Sahabat Nabi itu siapa sekarang?. Adalah marbot, Imam dan Muadzin Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. 


***

--DI SUNNAHKAN MENIKAHI ORANG YANG JAUH--

Nikah itu di sunnahkan dengan orang lain (orang yang jauh). Misalnya, menikah dengan sepupu dianggap Makru atau "Khilaful aula". Pentingnya menikahi orang yang jauh (Nazabnya Jauh), agar kita menciptakan komunitas yang kuat.

Dulu, Kisah yang Mahsyur, ketika Rosulullah SAW menikahi Juwairiyah. Juwairiyah ini adalah Perempuan dari Bani Mustahliq. Setelah Nabi menikahi Juwairiyah, satu kawasan Bani Mustaliq, yang dulu memusuhi Nabi, lansung mencintai Nabi. Karena mereka besan dan Tidak pantas juga bertengkar dengan besan. Makanya, orang-orang Bani Mustaliq memaklumatkan Rosulullah sebagai Besan mereka. 

Ihwal itulah, sehingga Seluruh sahabat yang menjadi tawanan Bani Mustaliq dan Juga sebaliknya, sahabat yang menawan Orang-orang Bani Mustaliq, saat perang bersama-sama melepaskan tawanan mereka. Karena, Nabi Menikahi Juwairiyah. Agak lucu juga, jika Paman Istrinya Nabi di Tawan atau Saudara Ipar Nabi di Tawan. Akhirnya semua tawanan di lepas, karena Rosulullah adalah besan Orang Bani Mustaliq.

Abu Sufyan itu memusuhi Nabi, seumur hidupnya selalu menjadikan Nabi sebagai Musuh. Anaknya Abu Sufyan, bernama Mukmina ikut hijrah ke habasyah, kebetulan saat tinggal di Habasyah, suaminya meninggal. Karena suaminya Meninggal, maka raja Habasyah menikahkan anak Abu Sufyan dengan Nabi. Menggunakan wali Hakim. Abu sufyan mendengar hal itu, bahwa Nabi adalah anak Mantunya. Akhirnya Abu Sufyan Taslim (tunduk) pads Nabi.

Berdasarkan Kisah diatas bahwa Menjadi besan atau Menantu adalah cara yang manjur untuk menyelesaikan Konflik. 

Di indonesia Misalnya, ada sebahagian Kiai NU tidak cocok atau setuju dengan  Muhammadiyah. Lalu, akhirnya mereka berdamai, bukan karena beradu visi. Tetapi, karena anak Kiai NU menikah dengan orang Muhammadiyah, akhirnya mereka berdamai. Jadi, kalau sudah besanan atau menantu, selesailah urusan. Karena mereka telah menjadi keluarga. Makanya di sebut, "Faja alahu nasaban wasir".

Di titik itulah pentingnya menikahi orang yang nazabnya jauh, agar menciptakan komunitas yang lebih kuat. Artinya, kesunnahan nikah itu bukan menikahi keluarga sendiri. Tetapi, kalau tidak memungkinan atau terpaksa, silahkan menikahi keluarga.

Misalnya, kondisi Yang dianggap Terpaksa, ketika tidak ada pilihan, seperti di zaman Nabi, bahwa Fatimah menikahi Pamannya, yaitu Sayidina Ali. Tetapi, Sayidina Ali dan Fatimah itu bukan Sepupuan. Sebab, Kadang ada Yang protes, jika menikahi keluarganya. 

Fatimah itu anak dari Rosulullah. Rosulullah, anak dari abdullah dan abdullah anak dari Abdul Muthalib. Sedangkan Sayidina Ali anak dari Abu Tholib, Abu Tholib adalah anak dari Abdul Muthalib. Artinya sayidina Ali dan Fatimah itu bukan sepupuan. Tetapi, berstatus paman dan Keponakan. Karena Sayidinan Ali dan Nabi, yang sepupuan.

Di titik itulah, di sunnahkan kita menikah dengan orang yang jauh. 

Selain hal itu, ada satu hal yang penting untuk saya utarakan. Sekali lagi ini sangat penting. Dalam catatan sejarah (Qurtubi, XVI: 37), dikisahkan pada suatu ketika, Salman al-Farisi, seorang sahabat Rasulullah SAW, yang merupakan mantan budak dari Persia, melamar putri Abu Bakar. Lamarannya itu diterima. 

Abu Bakar menganggap apa yang dilakukannya itu, pada dasarnya mengangkangi pakem tradisi yang selama ini berjalan dan terimplementasi secara kaku. Tapi ia percaya dengan sahabatnya. Abu Bakar percaya dengan ajaran Islam dan kebaikan dari sahabatnya, Nabi Muhammad SAW. 

Kemudian sahabat Rasulullah SAW  yang lain, Bilal bin Rabah. mantan budak, berkulit hitam, keluarga Umayyah, meminang putri Al-Bukair. Tapi, keluarga besar Al-Bukair, menolak dengan tegas. Bahkan melakukan penghinaan verbal yang menyakitkan bagi Bilal. Latar keturunan, diperkatakan. 

Bilal mengadu kepada Rasulullah SAW. Ayah Fatimah Az-Zahra ini, kemudian marah. Kemarahan Rasulullah tersebut, terdengar oleh keluarga besar Al-Bukair. Akhirnya, keluarga besar al bukair menerima Bilal. Apatah lagi, anak gadis mereka yang "ditembak" mantan budak asal Habsyi ini, membuka hati bagi Bilal dengan mengatakan kepada keluarga besarnya, "urusanku di tangan Rasulullah". Akhirnya, Bilal bin Rabah, jadi juga menikahi anak gadis keluarga Al-Bukair. 

Kisah di atas, mencerminkan bagaimana ajaran kesetaraan manusia menjadi perhatian serius bagi Rasulullah SAW. Perlakuan diskriminatif tidak melulu, Soal lelaki pada perempuan (Patriarki). Tetapi, perlakuan perempuan pada lelaki juga. 

Dalam konteks zaman sekarang, bagaimana?. Justru, perlakuan diskriminatif semakin "Halus". sebab, mereka bersembunyi di balik kultus Budaya Mainstream dan Populer. Feminisme adalah alat pemukulnya. 

Padahal, Rasulullah SAW mempraktekkan Gagasan Keseteraan manusia, bahkan dengan PAKSAAN. Sebagaimana yang terlihat saat Rasulullah begitu marah, ketika keluarga Al-Bukair menolak bahkan menghina Bilal bin Rabah. 

Dua lelaki, sahabat Rasulullah SAW tersebut (Salman dan Bilal), pada hakikatnya menunjukkan bagaimana Islam begitu maju (sekali) dalam meletakkan kesetaraan tersebut. Dua laki-laki yang melamar itu, bukan hanya berlainan ras (Salman dari Persia, Bilal orang Habsyi) dengan gadis-gadis yang dilamar. Tapi lebih dari itu semua, mereka berdua adalah mantan budak. 

"Di antara tanda-tandaNYA adalah penciptaan segala langit dan bumi dan keanekaragaman bahasa kamu dan warna kulitmu. Dalam hal itu, terdapat tanda-tanda bagi kalangan orang yang berilmu" - [ QS. 30: 22].


***

 --KAWIN MISYAR--


Pada uraian saya yang lain. telah cukup untuk mendudukkan perkara Hasrat seks dan Nikah Normal sebagai solusi. Tetapi, Kita di perhadapkan dengan Aturan Tambahan yang justru tidak terdapat dalam agama. Ihwal itulah, ada solusi yang agak ekstrem di tawarkan bagi kita, di samping kesibukan dengan beragam kegiatan dan aktivitas. Tetapi, kita Juga dibuntuti oleh kebutuhan seksual yang Niscaya untuk di salurkan. 

Selain masturbasi, Puasa, Poligami dan pernikahan normal yang terikat dengan tanggung jawab, terdapat solusi lain yang lebih praktis bagi para laki-laki maupun perempuan yang hendak menyalurkan kebutuhan seksualnya, yaitu melalui kawin Misyar.

"Dr. Ir. Muhammad Syahrur" secara eksplisit menawarkan solusi ini sebagai ganti hubungan seksual non marital, Syahrur melihat bahwa syarat-syarat sahnya perkawinan misyar adalah bukan seperti syarat-syarat perkawinan resmi pada umumnya, karena tujuannya bukanlah menjalin hubungan kekeluargaan, meneruskan keturunan dan membina keluarga. tetapi murni seksual, dan ia tidak termasuk kategori perkawinan resmi meskipun pada saat yang sama ia tidak haram. (Lihat: Muhammad Syahrur, Nahw Ushul Jadidah li al-Fiqh al-Islami, Fiqh al-Mar'ah, al-Ahali, Damaskus, 2000, cet: I, hlm. 308).

Dalam pandangan Syahrur, kawin Misyar boleh jadi menjadi solusi yang paling efektif bagi laki-laki maupun perempuan yang hendak menyalurkan hasrat seksualnya di bandingkan dengan pernikahan normal.

Dalam kawin Misyar, suami tidak dituntut untuk memberikan nafkah lahir kepada istrinya, tapi hanya diwajibkan untuk menunaikan kewajibannya dalam memberikan nafkah batin (seksual), sebagaimana perkataan Syahrur di atas, bahwa visi dari perkawinan ini adalah semata-mata hubungan seksual dengan kesukarelaan antara satu dengan yang lain, tapi dengan memenuhi semua rukun sebagaimana rukun dalam pernikahan normal yaitu: akad, ijin wali, dua orang saksi, dan mahar.

Kawin Misyar, bukanlah sesuatu yang baru, tapi merupakan fenomena yang sudah populer di kalangan masyarakat sejak dahulu. Biasanya kawin semacam ini terjadi pada istri kedua dan laki-laki yang melaksanakan kawin semacam ini sudah mempunyai istri yang lebih dulu tinggal bersama di rumahnya.

Tujuan kawin semacam ini adalah agar suami dapat bebas dari kewajiban terhadap istri keduanya untuk memberikan tempat tinggal, memberikan nafkah, memberikan hak yang sama dibanding istri yang lain (istri pertama). "Diskon" ini hanya diperoleh oleh seorang laki-laki dari seorang wanita yang sangat membutuhkan peran seorang suami dalam mengayomi dan melindunginya (meskipun dalam bidang materi sang suami tidak dapat diharapkan).

Rukun dalam perkawinan ini biasanya harus memenuhi rukun dalam pernikahan normal yaitu, ijab-kabul (akad) yang dilakukan oleh orang yang mempunyai hak untuk melaksanakannya. Di samping itu, ijab dan kabul diharapkan dapat diketahui oleh khalayak ramai agar dapat dibedakan antara kawin yang dilaksanakan secara sah dan zina atau hubungan gelap.

Dalam hal pemberitahuan kepada khalayak ramai, Agama telah memberikan batasan minimum, yaitu adanya dua orang saksi dan wali (menurut pendapat imam Malik, imam Syafi'i, dan imam Ahmad). Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah masa perkawinan tidak boleh dibatasi dengan waktu serta kedua mempelai harus mempunyai niat untuk melanggengkan pernikahan mereka.

Kemudian seorang lelaki harus membayar maskawin, baik dalam jumlah yang banyak maupun sedikit, meskipun setelah maskawin tersebut diserahkan kepada calon istrinya, boleh si istri menyerahkan kembali (tanazul) sebagian dari maskawin itu atau bahkan keseluruhannya, sesuai dengan firman Allah swt, "Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi), sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya." (QS. an-Nisa' [4]: 4).

Adapun ketika dilaksanakannya akad nikah, seorang wanita memberikan keringanan, yaitu dengan tidak meminta hak-haknya kecuali hak bersenggama, syarat seperti ini menurut sebahagian ulama tidak diperbolehkan ketika akad berlangsung; karena dapat menghilangkan tujuan dilaksanakannya nikah dan pernikahannya pun batal. Tapi sebagian ulama seperti Ibnu Taimiyyah menilai akad tersebut sah.

Bahkan syekh Taqiyuddin atau populer disebut Ibnu Taimiyyah- mempunyai pendapat tentang sahnya syarat untuk tidak memberi nafkah lahir. Ia berkata, "Seumpama seorang suami kesulitan ekonomi dan sang istri menerima hal itu, maka si istri tidak mempunyai hak untuk diberi nafkah." (Lihat: Yusuf al-Qardhawi, Fatawa Mu'ashirah, Dar al-Qalam, Kuwait, 2017, jilid. 3, hlm. 409-410).
Justifikasi Hukum Kawin Misyar

Sebelum membahas mengenai hukum kawin misyar saya ingin mendudukkan suatu permasalahan yang sangat penting. Terkadang ditemukan perkawinan menurut pandangan syariat, tetapi tidak diterima oleh masyarakat seperti kawin misyar ini.

Contoh lain, seorang perempuan kawin dengan supirnya atau pembantunya. Menurut pandangan masyarakat, perkawinan ini adalah tidak etis dan kurang layak untuk dilakukan. Mereka tidak menerima kejadian semacam ini, karena menurutnya hal semacam ini dapat menyebabkan turunnya kredibilitas dan harga diri wanita tersebut, sedangkan menurut syariat, nikah semacam ini hukumnya tetap sah dan tidak ada larangan.

Sama halnya ketika seorang laki-laki yang sudah berumur 60 tahun kawin dengan seorang wanita yang baru berusia 17 tahun atau nenek-nenek yang sudah berusia lebih dari 70 tahun kawin dengan laki-laki yang berusia 20 tahun, masyarakat kurang menerima baik perkawinan seperti ini, bahkan menolak perkawinan mereka. Akan tetap, menurut pandangan syariat, perkawinan mereka adalah sah selama syarat dan rukunnya terpenuhi.

Ada 3 Pendapat Para Ulama Menyangkut Hukum Kawin Misyar, 

Muhammad Syahrur berpendapat bahwasannya Islam membolehkan seorang laki-laki menyalurkan hasrat seksualnya kepada dua tipe perempuan sebagaimana firman-Nya: "Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau ma malakat aiman merek; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Mu'minun [23]: 5-7).

Ayat di atas menjelaskan bahwa tipe perempuan yang boleh untuk disetubuhi ada dua: pertama adalah istri yang dinikahi melalui perkawinan normal, dan yang kedua adalah milk al-yamin, dan salah satu bentuk dari milk al-yamin adalah kawin misyar. (Lihat: Muhammad Syahrur, Nahw Ushul Jadidah li al-Fiqh al-Islami, Fiqh al-Mar'ah, al-Ahali, Damaskus, 2000, cet: I, hlm. 308).

Adapun mengenai pendapat para ulama, seperti yang telah diketahui di dalam literasi hukum mereka dalam menghadapi berbagai permasalahan baru selalu berbeda pendapat, akan tetapi Dr. Yusuf al-Qardhawi lebih condong untuk memperbolehkan model perkawinan ini (misyar).

Di akhir bulan Dzulhijjah tahun 1418 H atau akhir April tahun 1998 M, diadakan seminar seputar permasalahan zakat kontemporer. Di situ hadir lebih dari dua puluh pakar fikih dari seluruh penjuru dunia. Di sela-sela seminar, mereka berbincang-bincang mengenai persoalan kawin misyar. Sebahagian besar dari mereka mendukung dilaksanakannya kawin misyar. Namun hanya ada dua atau tiga yang menentang, meskipun tidak sampai mengharamkan nikah ini.

Ketidaksetujuan mereka terhadap dilaksanakannya praktik kawin misyar merupakan bentuk dari kekhawatiran. Menurut mereka boleh jadi kawin semacam ini akan menyebabkan kehancuran dalam masyarakat. Maka sebelum terjadi hal-lah yang tidak diinginkan, meniadakannya adalah lebih baik (afdhal).

Dapat diambil kesimpulan bahwa pada hukum kawin ini (misyar) adalah boleh (mubah), tetapi sesuatu yang mubah kalau dikhawatirkan akan menyebabkan kesusahan dan kerusakan, maka mencegahnya bisa berubah menjadi perkara yang wajib atau minimal sunnah. Dan hukumnya disesuaikan dengan kadar kesusahannya yang ditimbulkan. (Lihat: Yusuf al-Qardhawi, Fatawa Mu'ashirah, Dar al-Qalam, Kuwait, 2017, jilid. 3, hlm. 411-412).

Orang yang menentang kawin ini mengatakan: "Apabila dihalalkan kawin ini hanya sebagai solusi bagi orang-orang kaya yang terlambat melaksanakan kawin, bagaimana dengan orang-orang miskin yang tidak mampu melangsungkan pernikahan?"

Al-Qadhawi pun menjawab, "Ketidakmampuan kita dalam menangani suatu persoalan, tidak mengharuskan kita untuk tidak berbuat sama sekali, serta tidak berusaha mencari solusi berikutnya".

Kemudian ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa kenapa kita tidak mencari solusi, langsung ke akarnya saja, yaitu dengan cara mempermudah dilaksanakannya perkawinan biasa/normal yang sesuai dengan syariat Islam. Dengan cara ini alasan tidak dilaksanakannya kawin karena terhalang dengan mahalnya mahar dapat diminimalisir, atau kita menetapkan keringanan pemberian mahar (pemberian dari seorang calon suami kepada calon isterinya), serta melonggarkan syarat-syarat yang telah ditetapkan Allah swt. dalam memilih pasangan hidup (dari segi Agamanya, akhlaknya dan lain sebagainya).

Al-Qardhawi juga menanggapi pendapat di atas dengan ujaran, "Apa yang telah saya lakukan adalah tanggung jawab kita bersama. Saya telah berusaha lebih dari 30 tahun memahamkan masyarakat tentang permasalahan ini lewat mimbar-mimbar, makalah-makalah, masjid, televisi, dan radio. Akan tetapi, taklid yang telah tertancap pada pemahaman mereka, tidak dapat hilang begitu saja. Meskipun, misalnya, saya dapat berhasil mendapatkan jalan keluar bagi orang-orang yang sulit mendapatkan jodoh, namun masih banyak kita jumpai janda-janda (baik yang ditinggal mati suaminya ataupun yang ditalak.

Ketika mereka (wanita-wanita yang tidak bersuami) mendapati model kawin misyar adalah salah satu solusi (tentunya dengan memilih laki-laki yang betul-betul baik budi pekertinya dan mereka sudah sama-sama rela), lantas kenapa kita malah menghalangi jalan yang dihalalkan oleh syariat (dengan mengharamkannya). Padahal zaman sekarang adalah zaman di mana pintu perbuatan haram terbuka lebar-lebar?". (Lihat: Yusuf al-Qardhawi, Fatawa Mu'ashirah, Dar al-Qalam, Kuwait, 2017, jilid. 3, hlm. 413).

***

Pada dasarnya, pernikahan dalam Islam adalah sesuatu yang halal dan bahkan disunahkan. Namun, pernikahan itu sendiri memiliki syarat sah dan rukun nikah agar tidak terjerumus dalam kekeliruan dan kedzaliman dalam pernikahan.

Dalam buku berjudul "Mistik, Seks, dan Ibadah", cendekiawan yang juga pakar tafsir Alquran Prof Quraish Shihab menjelaskan, bahwa mut'ah dalam pengertian bahasa adalah kenikmatan, kesenangan dan kelezatan. Sementara nikah mut'ah didefinisikan sebagai pernikahan dengan menetapkan batas waktu tertentu, hari atau bulan yang disepakati calon suami istri. Jika batas waktu itu berakhir, maka secara otomatis perceraian terjadi.

Lantas, bagaimana pandangan Islam terkait Nikah Mut'ah ini?. Dalam sejarahnya, nikah mut'ah pernah diperbolehkan pada masa awal Islam karena situasi darurat. "DR. Ahmad Nahrawi Abdus Salam dalam buku berjudul "Ensiklopedia Imam Syafi'i" menyebutkan, bahwa nikah mu'tah kemudian dilarang dan larangan itu sudah menjadi ijma' ulama.

Dikutip dari buku berjudul "Serial Hadits Nikah 2 Cinta Terlarang" oleh Firman Arifandi, Lc., MA, Imam An Nawawi menjelaskan dalam Al Minhaj, bahwa nikah mut'ah pernah diperbolehkan dan kemudian dilarang hingga hari akhir. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Salamah bin Al Akwa' berkata, "Rasulullah saw memberi keringanan pada kami dalam masalah mut'ah wanita-wanita pada tahun Authos selama tiga hari, kemudian beliau melarangnya."

Dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmizy, Abdullah bin Abbas ra mengatakan bahwa nikah mut'ah pernah dibolehkan di awal-awal pensyariatan. Saat itu, seseorang yang mengembara di suatu negeri tanpa memiliki pengetahuan berapa lama akan tinggal, lalu dia menikah dengan seorang wanita sekadar masa bermukim di negeri itu, istrinya itu memelihara hartanya dan mengurusinya, hingga turunnya ayat yang berbunyi: orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali kepada istrinya dan budaknya.

Nikah mut'ah pernah diperbolehkan karena masyarakat Islam saat itu masih dalam masa transisi dari zaman jahiliyah kepada Islam. Akan tetapi, Rasulullah saw kemudian melarang praktik nikah mut'ah. Hal ini juga ditegaskan dalam Fathul Bari, Ibnu hajar Al Asqalani menjelaskan, bahwa pernikahan mut'ah praktiknya seperti nikah kontrak, yang mana hukum kebolehannya sudah termansukh atau terhapus.

Dari Ar-Rabi' bin Sabrah Al-Juhani berkata, bahwa ayahnya berkata kepadanya bahwa Rasulullah saw bersabda, "Wahai manusia, dahulu aku mengizinkan kamu nikah mut'ah. Ketahuilah bahwa Allah swt telah mengharamkannya sampai hari kiamat." (HR. Muslim).

Karena itulah, para ulama dari seluruh mazhab pun sepakat bahwa nikah mut'ah hukumnya haram dan memasukannya dalam jenis pernikahan yang bathil. Bahkan, pelaku nikah disamakan dengan pezina. Sahabat Nabi saw, Umar bin Khattab, menganggap nikah mut'ah sebagai sebuah kemungkaran. Selain itu, pelakunya diancam dengan hukum rajam, karena tidak ada bedanya dengan zina.

Di zaman sekarang, nikah mut'ah semakin jelas akan keharamannya. Sebab, jika ditinjau dari perspektif rukunnya, nikah mut'ah dipandang bathil karena ketiadaan saksi, wali, dan pembatasan masa nikah yang menjadikan nikah tidak sah. Kalau pun ada saksi dan wali, tidak jarang para pelakunya adalah palsu. Quraish Shihab juga mengatakan, bahwa nikah mut'ah tidak sejalan dengan tujuan perkawinan yang diharapkan Alquran. Dalam hal ini, suatu pernikahan tentunya diharapkan langgeng, sehidup dan semati, bahkan sampai hari kiamat.

Kendati demikian, ia menyebut bahwa terdapat perbedaan pandangan antara ulama Sunni dan Syiah terkait nikah mut'ah ini. Dalih bahwa Umar bin Khattab lah yang melarang nikah mut'ah dijadikan pegangan oleh ulama Syiah untuk membolehkan nikah mut'ah. Sementara ulama Sunni melarang nikah mut'ah, namun tetap membedakannya dengan perzinahan. Akan tetapi, Quraish Shihab juga menyebut tidak sedikit ulama Syiah  yang tidak menganjurkan mut'ah, karena dapat merugikan kaum wanita.

Di Indonesia, Dewan Pimpinan MUI sudah mengeluarkan fatwa terkait kawin kontrak Sejak 25 Oktober 1997 silam. Dalam fatwanya, MUI memutuskan bahwa nikah kontrak atau mut'ah hukumnya haram.

***

Terakhir, mengutip penuturan " Cak Nur", Dalam (Masyarakat religius)"; Maa wahdah itu cenderung mengikuti Hawa Nafsu, sedang Waa rohmaa itu Adalah cinta Ilahia. Cinta Ilahia yang di maksud adalah cinta Universal.

Di dalam Al-Qur'an Sakinah itu merupakan kata benda. Kata kerjanya adalah Litaskunu. Nah, di qur'an, diksi litaskunu fi dan listakunu ilaiha, itu berbeda. 

Misal, Allah memberi siang dan memberi Malam. Supaya Kamu Listakunu fil lail ( supaya kamu masuk ke dalam malam). hal ini sesuatu yang pasif. Sedangkan pernikahan itu, bukan litaskunu fi. Tetapi litaskunu ilaiha. 

Jadi, Sakinah itu Tujuannya, bukan keadannya. Mestinya sakinah itu Mudah-mudahan atau ia berisi kalimat Harapan. Sedangkan, mawahdah dan warohma, merupakan keharusan. Karena, ia meruoakan keadaan yang pasti. 

Hal itulah yang menunjukkan pada saya, bahwa diksi yang kerap di sebutkan : mudah-mudahan Sakinahmawahdah dan warohmah,itu salah. Karena, mawahdah dan warohmah adalah alat yang di pakai untuk mencapai sakinah, dan ia harus pasti. Tidak mungkin menggunakan diksi kemungkinan pada posisi mawahdah dan warohmah. 

Jadi, adalah salah, jika kita bertutur Mudah-mudahan menjadi keluarga sakinah, mawahdah dan warohmah. Sebab, hal itu bisa membuat Allah, tersinggung.

Mawahdah itu adalah magnet atau kecenderungan atau dorongan yang ingin terus menyatu, yang terdapat didalam hati seorang lelaki dan perempuan. Sedangkan rahmat itu, seluruh alam semesta ini, ia universal (cinta). Mawahdah dan warohmah adalah bekal yang kita miliki untuk mencapai sakinah. 

Sakinah itu apa?. Pada bagian ini, memang ada Kajiannya tersendiri, insya Allah lain waktu kita Tulis.


(3)


*Pustaka Hayat
*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran