Kelas politisi dan kelas jenderal Indonesia, "tidak ada negarawan". hanya kelas komprador pragmatis. malang nian bangsa kita jenderal.
Maafkan saya. Saya mau bilang "SBY EGOIS". Dia Mengorbankan AHY demi tetap memiliki demokrat. Bukan SBY tidak punya jasa. (mungkin) SBY mengambil terlalu banyak, sampe men-daku PD sebagai miliknya. Atau (Mungkin) lebih buruk dari sekadar mendaku pak SBY "mengorbankan" AHY demi fantasi politiknya.
Akibatnya Buah yang masih mentah di petik. Sayang sekali. Seandainya dibiarkan saja AHY berkarir di TNI, mungkin Sudah dapat bintang. Kadang- kadang ayah suka begitu, Dan parahnya anak menurut.
Lihat saja, AHY seperti kikuk di dunia politik. SBY turun gunung bisa dibaca AHY lemah Dan itu sudah di duga. Hal Ini lebih seru dari sekadar pendekatan dramaturgi, kalau melihatnya jadi semacam "godfather syndrom" dengan pelbagai penyesuaian.
Sejatinya politikus kita mewarisi jiwa-jiwa Ken Arok. cuman, masih "soft", tak bermula dari "paha putih" Ken Dedes...akakakak
Selama daya ingat rakyat sebatas paket indomie dan minta maaf lebih baik daripada minta izin. Dunia tidak akan berubah. Tapi, itu lumrah, sebagaimana Relasi kekausaannya "Michael Foucault", bahwa kekuasaan ada dimana-mana, menyebar dimana-mana. Karena bagi Foucault, Kekuasaan bukanlah milik subyek tertentu melainkan ada dalam diri setiap orang sebagai strategi.
Foucault menolak konsep dan praktek kekuasaan seperti yang dimaksud "Thomas Hobbes" tentang harus menjadi serigala bagi yang lain atau "Machiavelli" tentang kekerasan sebagai jalur kekuasaan untuk menaklukkan, ataukah maksud "Marx" tentang kekuasaan mendominasi dari kelas kaum borjuis terhadap kaum buruh.
dimana ada kuasa, selalu ada resistensi. Namun, resistensi ini tidak pernah ada dalam posisi eksterior dalam hubungan dengan kuasa. Disinilah pengaruhnya Nietzsche tampak pada Foucault. Menurut Nietzsche, kuasa seperti ini sangat lekat dengan dominasi atau represi dan karena itulah kuasa seperti ini selalu menuntut korban atau target.
Siapa Korbannya?.
Tentu AHY. Karena Dominasi figuritas Ayahnya. parahnya SBY tidak membaca bahwa Kekuasaan ada dalam diri setiap orang. Tidak di dominasi oleh subyek tertentu. Itulah indonesia, ketika orang membicarakan PDIP, maka orang bicara Megawati. Ketika bicara Gerindra, bicara Prabowo. Bicara demokrat, bicara SBY. Bicara PKB, maka itu NU. Bicara PAN, itu Muhammadiyah. Dst. Maka tak jarang kita saksikan terjadi resistensi kekuasaan.
Pasti AHY kikuk bukan kepalang, setelah Moeldoko Mereduksi figur historis Demokrat yaitu ayahnya (SBY). Ada yang berguman, wah ini keCulasan, dan sangat licik?.
Ihhh... Bukankah Adagium lama kerap membersamai kita, bahwa Apa yang di tanam, itu yang di tuai. Menanam angin, berarti menuai badai. "Belum jelas?". Mas Anas urbaningrum itu terpilih secara legal di kongres PD. Dan Di KLB-kan di Bali. Bahkan di peta konflikkan sampai menjadi tersngka, yang sampai saat ini masih mendekan dalam BUI. Vonis 8 tahun penjaranya tidak di dasarkan pada fakta hukum persidangan. Sudah lupakah anda pada itu, Inilah hukuk semesta ; Hukuk tabur tuai?.
Selain itu, memang Demokrat dan PKS tetap kekeuh di oposisi. pks pecah karena sempalan-sempalannya mendirikan partai gelora, kemudian demokrat juga begitu, tidak mau koalisi tetapi mereka berlindung pada orang istana. terus terang kita harus prihatin dengan iklim demokrasi bangsa kita saat ini..!
Politik adalah ajang kontestasi. Tujuannya jelas, kekuasaan. Pasca Orde Baru, politik diIndonesia, kental dengan politik akomodatif. Ideologi yang menjadi basis masing-masing partai politik, biasanya akan menjadi "cocok" ketika kontestasi elektoral selesai, pembagian kekuasaan kemudian dibicarakan. Di negosiasi. Akhirul kalam, awalnya berbeda, ujungnya dipaksa "sesuai", "seperjuangan". sevisi dan sejenisnya.
Tetapi, AHY tidak akan pernah dewasa jika tidak di gonjang ganjing Partai yang oleh ayahnya di dirikan sebagai buah reformasi.
Terakhir, politik hanya sampai di leher. Jangan sampai di dada. Nanti baper. Akibatnya buat lagu ; Terpesonaaa....akuu terpesonaaa...
Dulu, sering saya utarakan, bahkan di platform media Pesbuk dan IG. Sering sekali, bahwa Dalam Politik, jangan terlalu membenci. sampai memaki-maki atas Keberpihakan Metro TV dan Surya Paloh-Nya Pada Kekuasaan. Sekarang, kalian malu-malu, saat Nasdem dan Surya Paloh Mendeklarasikan Anis Baswedan Sebagai Capres 😀.
Kalau mau Nonton Tipi. Yah, Nonton Tipi saja. Niatkan untuk menambah Informasi - Ilmu pengetahuan. Jangan Selipkan Orientasi Politik. Sebab, Orientasi politik akan berubah seiring waktu, Coi. Di dalam Politik, Benci dan cinta itu tergantung waktu - Dulu, benci. Sekarang Suka, nanti suka lagi. Contohnya, Metro TV dan Surya Paloh.
SURYA PALOH itu politisi. Jam terbangnya tinggi. Beberapa waktu lalu, Partai NasDem mengusung nama Anis Baswedan sebagai Capres 2024. Bukan mengusung dari figur milik parpol koalisi. Surya Paloh cerdas membaca "keuntungan politik". Dia menyadari, partainya butuh tokoh dengan elektabilitas tinggi.
Konsistensi elektabilitas belakangan ini, berada di tiga figur, yaitu Ganjar, Prabowo dan Anis. Ganjar yang juga menjadi salah satu nominasi calon dalam konvensi Partai Nasdem beberapa waktu yang lalu, selain Anis dan Jenderal Andika Perkasa, tentunya bukan figur yang "bebas". Sebab, mereka milik PDIP.
Surya Paloh butuh momentum politik untuk menjaga eksistensi partainya ke depan. Anis Baswedan-lah yang "bebas", tentu menjadi peluang. Walau belum terverifikasi melalui survey, tapi bisa kita katakan Anis lebih sering diasosiasikan oleh publik sebagai orang yang lebih dekat dengan PKS. Walau beliau bukan anggota PKS. Surya Paloh, mengambil secara cepat "posisi" ini dan ingin mengatakan pada publik, bahwa Nasdem yang berani secara nyata mencalonkan Anis, bukan partai lain. Kalau ingin mendukung Anis ke depan, ayo bergabung. Mungkin demikian kira-kira, ujar Paloh Si Brewok.
Selain itu, Ada satu penggal pidato Surya Paloh yang menarik bagi saya, "semoga nanti orang yang tak suka dengan Nasdem, menjadi suka dengan Anis. Kalau anggota Nasdem, sudah pasti suka". Sederhananya, Surya Paloh ingin mengatakan bahwa yang selama ini membenci pada Nasdem, mulailah mendekat.
Begitulah Permainan yang teramat cantik. Puzzle masih sedang disusun. Bisa jadi, nanti, Nasdem berjalan sendirian. Kesepakatan tak tercapai. Kawannya yang kemarin pun pergi. Bisa juga banyak yang datang menghampiri. Semua Serba mungkin. Demikianlah politik, coi.
"Karena itu, dari dulu ku katakan - Jangan mudah membenci pada Surya Paloh dan Metro TV. Politik itu cair. Mana tahu, nanti PKS berkoalisi dengan PDIP, dan lalu meninggalkan Nasdem !".
"Tidak mungkin. Tidak mungkin. Surya Paloh tak seperti itu?", katamu.
"Kah kah kah 😅🤣😂, kamu sudah mulai memuji Surya Paloh yah?".
Politisi yang berjalan Menuju 2024 Sedang beradaptasi. Saling menyesuaikan. Puzzle-puzzle pun dihubungkan. Seperti berpelukan. Bisa jadi, beberapa bulan ke depan, mereka saling hantam, mecaci dan memaki. Padahal, Dulu mereka berkawan akrab. Berjalan bersisian. Saling memuji. Bersebrangan dan saling hantam. Kelak, bertaut kelingking. Begitu politik.
Persis Ketika kita menonton sebuah acara debat di TV. Ingatan kita "terbang" beberapa tahun yang lalu. Dimana tokoh politik yang satu duduk bersisian dengan tokoh politik yang satunya lagi. Membela pendapat yang sama. Kini, mereka duduk berseberangan dan saling adu, bahkan tak jarang mau baku hajar 😂.
" so, Bagaimana dengan calon-calon yang lain. Kenapa adem ayem saja ?".
Kata Nagabonar, "NICA masih jauh. Mari kita main catur dahulu, !".
**
Selain politik itu cair. Dalam politik itu hanya diikat oleh satu kata saja, "KEPENTINGAN". Agama dan ideologi, hanyalah penguat dan perekatnya saja. Bila kepentingan dirasa sama, maka semua ideologi terasa jadi sohib. Dulu, kawan saya berkata, "bagaimana bisa komunisme satu biduk dengan agama atau utara-selatan?". Terbaca bahwa kawan saya itu, tidak membaca. padahal, Cukuplah eksperimen politik Soekarno yang menjawabnya, yaitu Nasakom - Nasionalis agama komunis yang disatu padukan menjadi satu paket dengan aura revolusi.
Lalu lihatlah, bagaimana mungkin Iran bisa menyatu dengan Arab Saudi dan Amerika Serikat ?. Kalau sekarang, Iya Tidak. Ibarat air dan minyak. Tetapi, realitas sebelum tahun 1979, justru kita akan terkejut. Jimmy Carter, Presiden Amerika Serikat masa itu, pernah mengatakan, "sahabat terbaik yang saya miliki di Timur Tengah adalah Syah Reza Pahlevi - Kaisar Syahansyah Iran, Menachen Begin - PM Israel, Anwar Sadat - Mesir dan Arab Saudi".
Bahkan, kedatangan Raja Iran ke Arab Saudi maupun ke Amerika Serikat selalu disambut dengan "karpet merah". Apa yang membuat mereka menyatu?. Tidak lain Adalah Kepentingan. Lebih spesifiknya, bisnis Minyak. Ketika kepentingan tidak lagi saling menguntungkan, Iran bagi Amerika Serikat dan negera-negara sekutunya adalah menjadi salah satu negara "poros setan", istilah yang dikeluarkan oleh George W. Bush jr.
Hal ini saya ulangi lagi, Pernahkah kita menonton film BOURNE - tiga serial itu. Sering diputar berkali-kali di TV swasta nasional. Film yang dibintangi Matt Damon tersebut memang luar biasa. Kalau belum, nontonlah.
Dari film itu kita akan tahu, makna politik yang dihubungkan dengan kepentingan. Bagaimana Bourne yang ditugasi untuk memuluskan suatu proyek rahasia. Bourne yang menjadi kesayangan dan sangat diandalkan pimpinannya itu, ternyata gagal untuk memuluskan rencana rahasia tersebut.
Apa harga yang harus dibayar Bourne? . Bourne dikejar-diburu dengan satu target, "Lenyapkan". Seluruh data dan opini "disesuaikan" agar Bourne layak untuk dilenyapkan.
So, Siapa yang berusaha melenyapkan Bourne?. bos-nya - pimpinannya yang Dahulu mengandalkan bourne untuk menjalankan sebuah misi rahasia. namun ketika misi tidak lagi efektif, maka pantas untuk dilenyapkan. Kepentingan yang merubah "sudut pandang". Data dan opini, hanya bumbu yang bisa dibentuk kemudian hari. Di titik inilah, saya teringat adagium Klise dalam terma politik, "Musuh dari kawanmu adalah kawanmu".
Contoh lain misalnya, Ronald Reagan - Mantan presiden Amrik dengan Mujahiddin Afghanistan (termasuk Osama bin Laden), dulunya adalah kawan - sohib. Kemudian, ketika misi sukses dan kepentingan sudah tidak ada lagi, maka berubah menjadi lawan. Opini dan data, dimunculkan belakangan.
Saddam Hussein, selama hampir 10 tahun menjadi harapan besar Amerika Serikat - American boy dan sekutunya - Eropa dan Timur Tengah, untuk mengahncurkan Rezim demokrasi - teokratis Iran.
Seluruh biaya dan sumber daya diberikan kepada Saddam Hussein. Terjadilah Pembunuhan terhadap suku Kurdi dan warga Syi'ah di Irak oleh Saddam Husain. kala itu dianggap sesuatu yang wajar, karena Saddam putra Tikrit sedang menjalankan misi besar, yaitu mengembalikan kejayaan Kekaisaran Persia yang direbut oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini.
Tapi Saddam gagal. Kemudian Saddam dimusuhi, dibunuh dan dianggap pemimpin Jahat. Pembenarannya, disusun belakangan, pokoknya Saddam harus tumbang. Apalagi ditambah ketika Saddam mulai meningkatkan “daya tawarnya” ketika mencaplok Kuwait dengan alasan historis. Dari pangkalan militer Amerika Serikat di Arab Saudi, Saddam di gempur oleh Bush senior. Jenderal Norman Schwarzkopf memimpin operasi yang dinamakan Badai Gurun. Kuwait bebas, Saddam terkucil dari politik dunia, khususnya pergaulan antar negara di Timur Tengah. Saddam ditinggalkan.
Setelah Bush senior tidak lagi menjadi Presiden, Bill Clinton naik 2 periode. Saddam masih eksis dengan keterkucilannya. Tapi, Saddam tidak memberikan konsensi eksplorasi ladang-ladang minyak kepada negara-negara Barat. Ihwal itulah, Bush junior, anak dari Bush senior, yang kedua-duanya adalah Presiden Amerika Serikat – negara yang merupakan sahabat kental Saddam Hussein tahun 1980-an, bernafsu menguasai Irak. Maka, pembenaran dicari dan dibentuk atau di konsturksikan - “Saddam diktator, megalomaniak dan pembunuh rakyat”, demikian kata AMRIK.
Senjata pemusnah massal, pembunuhan suku Kurdi dan Syi’ah dijadikan alasan untuk menghabisi Saddam. Akhirnya, sejarah mencatat, Saddam berakhir di tiang gantung. Senjata pemusnah massal tidak terbukti. Justru, para pialang minyak berebut - menguasai limpahan ladang-ladang minyak di Irak. Duka lara rakyat Irak, hingga hari ini terus berlanjut. Dollar tetap mengalir dari minyak bagi negara-negara barat.
Lalu, bisa kita lihat Khaddafi. Siapa yang tidak kenal moammar Khaddafi. Seorang pemimpin negara Islam yang dianggap “gila” oleh banyak pihak. Membincangkan Khaddafi, sungguh teramat menarik. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, Khaddafi pernah mengatakan, “tak perlu menghiba - mengharap pada AS dan Uni Sovyet (Rusia), karena pada dasarnya kedua-duanya sama, yang satu imperialis dan satunya lagi adalah atheis”. Khaddafi selalu melakukan hal “gila” untuk memperlihatkan solidaritas (sesama muslim)nya. Khaddafi dikenal memiliki solidaritas diantara kaum muslimin internasional yang sangat tinggi.
Pada tahun 1972, Presiden Uganda yang fenomenal, "Idi Amin" gagal mendapatkan bantuan keuangan dari Israel yang telah lama membantu negara "benua hitam". Sewaktu ia mau pulang ke negaranya, Idi Amin menceritakan kegagalannya memperoleh bantuan keuangan dari Israel. Oleh Khaddafi kemudian, Idi Amin diberikan bantuan dua kali lipat dari permintaan Idi Amin pada Israel. Syaratnya tidak banyak - putuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Itu saja Dan uang dianggap lunas, tidak perlu dikembalikan.
Ketika tentara Israel menghantam pesawat-pesawat terbang Uganda karena Uganda dianggap terlibat kasus penyanderaan orang Yahudi dalam penerbangan Air France dari Athena tahun 1975 (?), Khaddafi dengan amat cepat mengganti pesawat-pesawat Uganda ini dengan pesawat-pesawat tempur Mirage buatan Perancis. Perancis-pun marah, karena merasa dibohongi oleh Khaddafi yang mengatakan bahwa pesawat-pesawat Mirage yang dibelinya itu untuk kebutuhan dalam negeri. Khaddafi tidak ambil pusing. Bagi Khaddafi, Perancis hanya “ngambek”, nanti bila dikasih (tambahan) konsensi minyak, pasti tersenyum lagi.
Di Afrika, Khaddafi tidak hanya membantu Uganda saja. Banyak negara-negara lain di "benua hitam" menerima uang pemberian Khaddafi. Bantuan "gratis" dengan syarat mudah - negara-negara penerima bantuan Khaddafi harus memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel.
Nasserianisme-nya teramat kental. Namun seiring dengan perjalanan waktu, Khaddafi "meluaskan" wilayah hasrat politik internasionalnya. Ia memberikan bantuan tidak lagi dengan syarat pemutusan hubungan diplomatik dengan negara Israel saja. Khaddafi justru membantu elemen-elemen masyarakat yang memberontak terhadap negara mereka masing-masing. "Seandainya Afrika Selatan dekat dengan negara kita secara teritorial, tentu saya akan memberikan bantuan keungan dan persenjataan pada mereka untuk melawan rezim Apartheid", kata Khaddafi. Perlawanan IRA (pembebasan Irlandia Utara) terhadap Inggris juga (konon) turut di back-up secara finansial oleh Khaddafi.
Demikian juga dengan pergolakan penduduk Islam di Moro di Filiphina Selatan. Bahkan Presiden Filiphina pada masa itu, Ferdinand Marcos, sering dikutuk dan dicaci maki oleh Khaddafi. Sambil mengutuki Marcos, bantuan keuangan dan senjata terus mengalir ke Filiphina Selatan, lewat Tripoli. Bahkan disinyalir, Khaddafi juga terlibat dalam perjuangan masyarakat muslim Thailand Selatan (Yala, Narathiwat dan Pattani).
Di kawasan bergolak yang tadinya merupakan milik Sultan-Sultan Melayu tersebut, pergolakan tidak seseru Filiphina Selatan, tapi campur tangan Khaddafi cukup diperhitungkan. Khaddafi – terlepas dari kontroversialnya – adalah sahabat TTM (teman tapi mesra) dari Pemimpin Perancis (Nicholas Sarkozy), termasuk sahabat baik Obama (AS), Silvio “playboy” Berlusconi dan Tony Blair (PM. Inggris). Bahkan Qaddafi menjadi donatur utama pembiayaan kampanye Sarkozy.
Tapi lihatlah, ketika kepentingan tidak lagi menyatukan mereka. justru, Sarkozy, Tony Blair dan Obama yang menghabisi Khaddafi. Atas nama menciptakan dan menjaga demokrasi, Sarkozy turut andil dalam menghabisi sahabat yang juga menjadi donatur utama kegiatan politiknya.
Artinya, Jangan terlalu heran kita dalam politik. Suatu saat, pada masa cucu kita, bisa jadi Amerika Serikat bersahabat erat dengan Korea Utara - negara yang “menuhankan” keturanan KIM (KIM il sung - KIM jong il - KIM jong un) kelak, mungkin ada pula KIM yang lain. Bisa juga, negara-negara barat tidak akan lagi mengacuhkan negara-negara kaya teluk di Timur Tengah, apabila cadangan minyak mulai menipis.
Hal Itu menjadi biasa Soekarno pernah mengatakan, “revolusi saja biasa memakan anak kandungnya”, apatah lagi hanya sekedar untuk mengalihkan opini politik. Jadi jangan heran, bila hari ini ideologi A dipuji-puji, sementara B diburuk-burukkan, bisa jadi nanti mereka bergandengan tangan ataupun menjadi sebaliknya, A yang burukkan sedangkan B adalah yang paling baik.
Sekian saja dulu. Teruslah membaca dan membaca, serta menelaah dengan penuh arif. Jangan MEMENGGAL sebuah peristiwa hanya pada bahagian yang terlihat atau yang terjadi sekarang. Sebuah peristiwa itu terbentuk dari perjalanan historis yang panjang. Peristiwa itu tidak hadir dengan sendirinya, sebagiamana tidak ada seorang tokoh yang datang dari “negeri antah barantah”. Maka pelajari itu, lalu silahkan berpendapat, walaupun pendapat kita berbeda, tidak masalah.
Berbeda itu biasa, seperti saya yang suka kopi yang engkau seduh serta kau brikan bersama senyummu, sementara kamu sendiri ingin muntah meminumnya. Justru dari perbedaan itu romantisme terbentuk 😊😉 Prikitiew.
Mari berfikir pintar. Karena pintar itu, tak perlu minum TOLAK ANGIN.
***
Anies dan Prabowo itu pasar pemilihnya sama. persaingan antara keduanya cukup sengit. Sementara, Pak Ganjar hanya rebutan suara dengan Puan. Inilah yang membuat Ganjar selalu lebih bersinar ketimbang Puan dalam berbagai survei.
Anies dan Ganjar, jika jalannya mulus untuk maju ke pentas nasional, sebenarnya cukup mirip dengan jalan dua presiden terakhir.
Naiknya Anies itu mirip dengan SBY. Popularitasnya sangat tinggi, sehingga kemudian dicemburui oleh atasannya. Penyingkirannya dari kabinet tidak membuatnya redup.
Sementara, naiknya Ganjar itu mirip pak Jokowi. Popularitasnya lebih tinggi daripada pemimpin, sekaligus pemilik darah biru di partainya. Karena popularitasnya itulah, ia dicemburui oleh para petinggi partainya.
Bedanya, dulu SBY gesit membangun partai sendiri. Sebab, tanpa partai sendiri, ia mungkin hanya akan jadi kendaraannya Golkar untuk kembali berkuasa. Sekarang, meskipun popularitasnya sangat tinggi, masa depan Anies sangat tergantung kepada proses pencalonan yang berlangsung di tubuh partai, seperti Nasdem, PKS, atau PAN.
Pada akhirnya, meskipun populer, karena tak punya kendaraan politik sendiri. maka, ia harus membangun banyak sekali posisi tawar sejak sangat dini. Itu tidak menguntungkan karakter kepemimpinannya.
Membangun relawan sebagai basis kendaraan politik juga bukan pilihan menarik. Belajar dari pengalaman Pak Jokowi, sesudah berkuasa organisasi relawan ternyata bisa lebih "ganas" daripada partai.
Sementara Ganjar, sama seperti halnya Pak Jokowi, dia cukup hanya menjadi orang Jawa untuk mendapatkan tiket dari partainya. Dia tidak boleh dan tidak perlu berkonfrontasi dengan Teuku Umar. Jangan lupa, pada 2014 silam, yang berniat maju adalah Bu Mega sendiri. Toh ia kemudian merelakan tiket itu untuk pak Jokowi. Sebuah tiket calon presiden tentunya lebih baik dari sebuah tiket calon wakil presiden. Saya kira game ini juga akan berulang pada 2024.
Posisi Ganjar juga lebih kuat dari posisi pak Jokowi dulu. Kalau pak Jokowi hanyalah prajurit di partainya, Ganjar adalah panglima perang, yang punya pasukan di partainya.
Tantangan serius yang akan dihadapi Ganjar adalah sikap megalomaniak PDIP. Dua kali menang Pemilu, serta bisa menguasai parlemen dan eksekutif secara bersamaan, bisa membuat PDIP terjebak pada sikap megalomaniak sebagaimana halnya pada tahun 1999. Karena merasa besar dan menang, yang membuat elite mereka tidak low profile, PDIP akhirnya ditinggalkan oleh partai-partai lainnya dan terjungkal di hadapan Poros Tengah.
***
Belum lama saya berdiskusi dengan senior, Masih basah ingatan soal ini, kira-kira tahun 2019 yang lalu. tentang Raja Abdullah, Raja Jordania. Putera dari Raja Hussein.
Saya teringat kembali, saat kawan mengirimkan sebuah video Seorang penceramah kondang yang memberikan arahan kepada para jama'ahnya. Biasa, arahan untuk pilpres 2019, yang telah berlalu. Video dengan durasi yang tidak begitu panjang, penceramah tersebut berkata, kira-kira begini:
"Kedepan, kita butuh pemimpin yang mengubah arah poros hubungan diplomatik. Tidak bergantung pada China. Tidak juga pada barat. Tapi pada arab, dan yang mampu melakukan itu adalah Prabowo. Sebab prabowo adalah sahabat karib dari Raja Abdullah. Raja Jordania, keturunan Rasulullah SAW. Raja Abdullah adalah raja yang sangat berpenaguruh di Timur Tengah. Jordania adalah negara yang sangat makmur, Dst".
Bagaimana menurutmu tentang ini?. "Bukankah hal ini yang sangat luar biasa, sebab meruntuhkan mitos bahwa poros yang ada selama ini hanya poros barat dan poros china", tanyanya seusai mengirimkan video".
Bagi saya, setiap orang berhak berpendapat. Pendapat yang di butuhkan untuk membenarkan atau mendukung pilihannya. Kita biasa melakukan itu dalam tiap kesempatan. Tapi, janganlah memberikan pendapat yang hampir sulit (bukan berarti tidak mungkin) untuk dilakukan. Seperti tidak mau menggunakan Dollar sebagai alat tukar perdagangan dunia atau mencetak uang Rupiah sebanyak-banyaknya, agar orang indonesia kaya-kaya.
"Mengapa tidak mungkin?".
Pertama, Politik luar negeri kita, bebas dan aktif. Dengan negara manapun kita berhak bekerjasama. Bahkan membuat poros-porosan. Tetapi yang harus dipahami adalah apakah Raja Abdullah itu tokoh yang berpengaruh di Timur tengah?. Kalau sahabat prabowo, memang iya. Kalau kita baca di majalah tempo doloe tentang Forum keadilan (lupa judul majalahnya apa), kita akan menemukan tulisan-tulisan tentang persahabatan Prabowo dengan Raja Abdullah tersebut.
Tetapi Raja Abdullah bukanlah Tokoh yang selama ini menjadi penentu arah Geo-politik Timur tengah. Beda dengan ayahnya, Raja Hussein yang di tahun 80-an menjadi Tokoh sentral di kawasan ini. Bersama khomeini, Anwar Sadat, Hafez al-assad dan Yasser Arafat serta pemimpin-pemimpin negara Israel.
Minimal "daya tawarnya" cukup signifikan berkaitan dengan ritme sosial politik di kawasan itu. Tapi Raja Abdullah tidak, Jordania di bawah raja ini bukanlah negara yang memiliki daya tawar tinggi. Juga negaranya tidak kaya amat. Bisa dikatakan biasa-biasa saja, bila di bandingkan dengan negara-negara tetangganya. (Begitu kata senior saya, waktu itu).
Dari itulah saya berpikir, "pengaruh ekonomi-politik apa yang di berikan pada negara kita jika membangun hubungan dengan Jordania?. Kalau sekedar membuka romantisme pertemanan atas nama masa lalu, yah boleh-boleh saja. Tapi jaganlah lansung dianggap itu solusi hebat yang akan merubah arah sejarah bangsa kita. Hal Itu seperti menganggap seseorang yang punya potensi sebagai pedagang, namun di paksa menjadi ulama".
Kedua, hal Ini yang lucu, Negara-negara di Timur tengah sana saja belum bisa membangun persatuan yang kuat antar negara. Mereka acap berkonflik antar sesama mereka sendiri. Perang-perangan, bom-boman, ranjau-ranjauan. Sejarah menukilkan kalam bahwa Dulu ada ikhtiar untuk menyatukannya, tapi selalu gagal.
Eksperimen Pan-Arabisme yang dilakukan oleh Gamal Abdel Nasser, dulunya, gagal. Nasser bahkan sempat gundah gulana, "mengapa kita tidak satu rumpun dan tidak bisa bersatu?". Di coba lagi oleh Qaddafi, tapi hilang dalam slogan. Justru Qaddafi mati di tangan Rakyatnya. Negara-negara di kawasan itu lebih suka menjadi bahagian dari poros-poros kuat yang telah ada.
Dulu, zaman old, perang dingin terjadi. Negara-negara di kawasan itu terbagi-terbagi menjadi entitas politik poros Nato (AS, cs). Berlanjut hingga hari ini, walau USSR berganti nama menjadi Rusia setelah di landa "Tsunami politik" Glassnost perezstronikanya Michael Gorbachev. Akibatnya, AS semakin kuat. Anggota-anggotanya semakin bertambah, sedangkan Rusia tertatih-tertatih menjaga pengaruhnya. Rusia di bawah komando Kamared Alexander Putin, kembali menata dominasi kekuasaannya di kawasan Timur tengah, berhadapan dengan (plus Hegemoni) AS.
Pertanyaannya mengapa kita bercita-cita membangun poros dengan negara-negara yang justru nyaman menjadi bagian dari negara tertentu (AS atau Rusia), sementara kita menolak poros negara tersebut. Apa tidak lucu itu?.
Ketiga, Belakangan China menanamkan pengaruhnya di kawasan ini. Bahkan di hampir seluruh penjuru bumi yang bulat ini. Dalam konteks ekonomi politik, poros yang terbangun saat ini hanya dua: AS vis a vis China. Rusia sudah tidak di rekeng lagi. Prkatis ekonomi global di utak atik oleh dua negara ini.
Mereka beperang seperti perumpamaan presiden Jokowi dengan "Game of thorenes" dalam pidato pembukaan annual meeting plenary IMF dan World bank di Nusa dua bali, waktu itu. Terlepas dari impac perang dagang dua negara tersebut, negara china sedang melejit. Bahkan negara-negara Timur tengah melakukan kerjasama antar negara. Investor china menanamkan investasi besar di kawasan itu, dan sebaliknya. Tidak percaya, silahkan baca info-info ekonomi di media-media mainstream dalam negeri maupun luar.
Berkaitan dengan itu, Presiden Edrogan yang di citra dirikan sebagai "figur mandiri", pada awalnya justru begitu Fleksibel menempatkan," siapa kawan terbaiknya?". Awalnya AS, lalu berpindah ke arah Rusia. Kini bergantung pada kondisi ekonomi politik china. Salahkah?, tidak. Sama sekali tidak salah. Seperti kata Deng Xiao ping, "jangan perdebatkan warna kucing. jika ia pandai mengkap tikus, Pakai dan pelihara".
China sedang melejit, tentunya sangat logis bila bekerjasama dengan negara tersebut.
Umpamannya, Presiden Prabowo menang kemarin. Yakinkah kita, bila beliau bekerjasama dengan china?. Kalau saya, sangat yakin. Sebab Hakikat politisi itu adalah pedagang, peniaga. Dimana ada gula disitu pasti ada semut. Kecuali dalam tubuh orang yang menderita diabetes. Paling kencingnya saja yang di kerumuni semut.
Bahkan bisa jadi lebih intens kerjasama mereka. Dan sebagaimana lazimnya orang kerjasama, jelas tidak ada orang mau rugi. Minimal sama-sama menguntungkan. Kalau anti asing dan aseng acap di ucapkan, itu sebatas jargon. Seorang politisi itu pandai menyesuaikan, adaptasi. Bahkan mencari pembenaran, dan terkadang banyak cocologinya.
Termasuk ketika Sandiaga Uno (si ganteng buruan emak-emak itu) di pilih jadi Cawapresnya?. Kemudian muncul beberapa argumen adaptif untuk melakukan pembenaran. Padahal awalnya yang di gadang-gadangkan menjadi cawapresnya adalah kalangan agamawan.
Kita masuk di topik berikutnya, Kembali pada Hakikat Prabowo sebagai seorang politis, saya kutip ungkapan : "who get what, how and when", kata Teoritis Politik (Harold Lasswell), pernah ku tulis soal ini. "Saya dukung anda, saya mendapatkan apa, kapan di dapatkan dan bagaimana caranya".
Politik adalah dunia kalkulasi. Hitung-hitungannya jelas. Ketika Sandiaga Uno, belakangan muncul sebagai Cawapres, saya menduga Prabowo sedang mempersiapkan Opsi ke 2. Opsi 1, bila menang jadi presiden, persoalan jadi aman. Bila kalah, maka opsi ke 2 menyangkut keberlanjutan Partai Gerindra. Karena jika ia mengambil orang di luar Gerindra, Prabowo menganggap dirinya akan membesarkan kelompok lain. Dalam politik itu, kita sudah mafhum bahwasanya pertemanan itu hanya di ikat oleh kepentingan. Beliau menyadari, bagaimana KMP di tahun 2015, lalu redup di tahun-tahun berikutnya.
Dengan menjadikan Sandiaga Uno sebagai Cawapresnya, Prabowo tengah mempersiapkan "Putera Mahkota" yang akan memimpin biduk gerindra kedepan. Prabowo tidak lagi muda. Tentunya ia tidak ingin melihat Gerindra layu di masa-masa mendatang. Karena ia kalah dalam pilpres 2019, itulah ia mengiklankan Sandiaga Salahuddin Uno.
"Kader Gerindra Banyak, kenapa harus khawatir?".
Benar sekali, tapi yang sebanding atau minimal di bawah prabowo, tidak ada. Itulah celakannya bila sebuah biduk di besarkan oleh satu orang. Hingga sulit membedakan "siapa di besarkan, siapa yang membesarkan". Akhirnya, bergantung pada figur. Bila figur itu redup maka partai yang di dirikannya berpotensi untuk redup. Karena itu, momentum akan membuat kader di kondisikan. Momentum pilpreslah yang di baca oleh Prabowo.
Dalam teori ilmu politik, secara sederhana parpol itu tidak bergantung pada figur. Karena parpol dapat di klasifikasikan menjadi tiga : partai Historis, partai Ideologis dan Partai massa. Biasanya partai yang masuk dalam tiga kelas ini tidak akan terpengaruh secara signifikan apabila Figur pendirinya tidak aktif lagi di dunia politik. Katakanlah sudah meninggal. PPP, Golkar dan PDIP, bisa di kategorikan sebagai partai Historis. "Nilai-nilai kepartaiannya telah terinternalisasi sejak dulu". Orang memilih partai itu tidak bgtu tergantung degan siapa ketua partainya.
PDIP, PKS, PAN dan PKB bisa di kategorikan sebagai partai Ideologis, tentunya ideologi atau nilai yang jadi ukuran, lebih di tonjolkan ketimbang siapa ketua umumnya. Lalu PDIP, PAN, PKS dan PKB bisa di kategorikan sebagai partai yang memiliki entitas Massa pemilih yang jelas dan loyal.
Terus Gerindra?. Yah, seperti Nasdem dan Demokrat. Ketika SBY sedang naik daun, elektabilitas partai yang berlambang bintang Mercy ini juga naik. Lalu, kedekatan Surya Paloh dengan pemerintah sekarang, membuat elektabilitasnya naik pula. Begitupula dengan Gerindra yang dalam dua pemilu yang lalu dan pada pemilu kemarin masuk menjadi 3 partai besar. Demokrat karena Figur SBY, Nasdem karena Surya Paloh dan Gerindra karena Prabowonya.
Partai demokrat sudah tidak di minati, jika di bandingkan dengan pemilu 2009 dan 2014 yang lalu. Setidaknya demikian yang di sampaikkan hasil survey. SBY di rasa perlu mempersiapkan Putera Mahkotanya, sebab dalam politik berlaku juga "Trah-Genetik" sebagai salah satu daya tawar politik, maka SBY memperlihatkan kesan yang kuat, beliau mempersiapkan anaknya - AHY sebagai penerus ketua umum partai Demokrat. Keberlanjutan partai demokrat menjadi pertimbangan paling utama bagi SBY. Demikian pula dengan Nasdem, tidak mungkin diatas terus. Siapa yang tahu suatu saat partai ini berada di luar pemerintahan. Umur surya Paloh juga sudah tidak muda. Terlihat secara jelas, di berbagai kesempatan, Nasdem memanfaatkan momentum untuk menaikkan anak lelaki Surya Paloh - Prananda Surya Paloh. Surya paloh merasa berkepentingan menjaga keberlanjutan dan eksistensi Nasdem kedepan. Karena demokrat dan Nasdem bukan partai Historis dan ideologis. Entitas riil massa pendukungnya pun tidak terkategorisasi secara demografis. Tidak ada jalan lain, figur baru harus di persiapkan.
Nah, Gerindra tidak mungkin mempersiapkan pelanjut serupa SBY dan Surya Paloh. Anak Prabowo hanya satu, nampaknya tidak minat dalam dunia politik. Maka mau tidak mau, Sandiaga Uno mulai di persiapkan, mungkin begitu. Artinnya bila di lihat dinamika Capres dan Cawapres tahun lalu, dari sisi Prabowo, di samping beliau mencalonkan sebagai Presiden, juga memikirkan masa depan partai yang didirikannya. Persoalan koalisi-koalisi dengan pihak lain, semuannya bisa di adaptasi. Hasil ketetapan bisa di ubah. Rapat 1 menghasilkan bakwang, tapi yang di pilih adalah pisang Goreng. Maka lahirlah rapat ke 2 yang menghasilkan keputusan untuk mendukung pisang goreng. Sekalipun pada dasarnya mereka sama, sama-sama di goreng. Walaupun terkadang politik praktis itu ribet, tapi pada dasarnya serderhana.
Bukankah Prabowo punya anak lelaki, mengapa bukan itu yang di Sokong seperti SBY dan surya Paloh?.
Namanya Didit, Cucu Pak Harto. Sependek pengetahuanku, ia tidak minat dalam dunia politik. Orang tidak minat, jangan di paksa. Talenta akan terasa bila ada minat. Justru Didit lebih bertalenta di dunia disainer, di negara sana Yves Sant Laurent.
Disainer?.
Memangnya kenapa, kalau disainer. Setiap orang berhak memiliki prestasi di bidang mereka masing-masing. Jadi politisi, mereka jadi politisi. Jadi seniman, mereka jadi seniman. Jadi pedagang, mereka jadi pedagang. Dst.
Anak Prabawo menjadi disainer. Semoga beliau berprestasi di bidang itu. Menjadi disainer hebat, kita doakan saja. Jadi bangga indonesia kelak.
NB ; Coretan lama, Di tulis 2 bulan setelah Pilpres 2019 dan Di Publikasikan pada tanggal 16 Agustus 2020, Di Akun Kompasiana RST
***
*Coretan Alumni Fisip
*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran










