Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Rabu, 07 Mei 2025

MANIPULASI AI - ARTIFICIAL INTELEGENCY DAN MASA DEPAN MANUSIA (Studi Filem Ex Machina)

Tahun 2014, Elon Musk pernah Ngetwit, bahwa AI bisa lebih berbahaya ketimbang Nuklir. Belakangan Peringatan Elon Musk itu, seperti mulai Terbukti. 

Geoffrey Hington yang di Juluki sebagai Godfathernya AI mundur dari Google, karena merasa ada yang tidak beres dengan AI. Ia bahkan bersuara dimana - mana untuk memperingatkan bahaya AI. 

Buat kita yang belum sadar, AI - Artificial Intelegency atau Kecerdasan buatan adalah teknologi yang disematkan dihampir semua Platform Media sosial dan hampir disemua Software komputer. 

Contoh paling gampang tiktok. Mengapa filter tiktok sekarang sudah bisa melakukan hal - hal yang dulu tidak pernah bisa kita lakukan. Seperti, mempercantik wajah, memodifikai wajah sampai bisa menukar wajah?. Karena Tiktok di bantu AI. 

Disebut Artificial Intelegency atau Kecerdasan buatan, karena Teknologi ini meniru kecerdasan manusia. 

Didunia otomotif, AI sudah bisa Mengemudi sendiri. Seperti pada beberapa perusahaan Taksi di China. 

Didunia Seni, AI juga sudah mulai menggeser peran musisi, Desainer dan editor. Karena AI bisa membuatkan Musik lebih Cepat, membuatkan animasi lebih keren dan bisa membantu mengedit foto dan video lebih gampang. 

Belakangan Ramai orang juga membicarakan Chat GPT, sebuah Chat board dengan bahasa manusia yang bisa menjawab semua pertanyaan. Bahkan tidak hanya itu, yang membuat para Programer Kaget adalah Chat GPT dapat membuat sebuah coding, seperti programer Profesional dalam waktu singkat, yang manusia saja, harus berpikir keras untuk melakukannya. 

Hal itu belum seberapa, ada satu hal lagi yang lebih mengerikan yaitu AI bahkan sudah bisa menambah gambar yang kita lihat, tanpa melihat gambar aslinya. Hanya bermodalkan hasil scan otak - MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Hal inilah membuat Tristian Haris dan Aza Askin pernah membuat Filem Dokumenter Social dilemma di Netflix (2020). Tahun 2023 mereka merilis video terbarunya tentang The AI dilemma (2023). Mereka menunjukkan banyak data yang membuat kita ngeri. Salah satunya mereka menunjukkan bahwa setengah peneliti AI, mengatakan ada kemungkinan ada 10 % Manusia bisa punah gara - gara tidak bisa mengontrol AI. Mengapa?. Karena data terbaru menunjukkan bahwa Kemampuan AI terus meningkat 2 kali setiap berapa bulan. Justru yang paling mengerikan lagi, di prediksikan di tahun 2045, AI akan sampai di titik Singularitas. Artinya AI akan menyentuh titik dimana dia akan setara dengan semua kemampuan otak manusia kalau di satukan. 

Hal inilah yang membuat sebahagian orang khawatir, termasuk saya. Sebab, AI suatu saat memiliki kesadaran, seperti manusia dan menyerang manusia seperti di Filem - filem. 

Elon Musk juga pernah Ngetwit tentang, "Deus Ex Machina". Entah apa maksudnya?. Tetapi, hal itu mengingatkan kita pada Filem Ex machina. Filem tentang robot cantik yang memiliki kecerdasan buatan, yang pada akhirnya membunuh penciptanya sendiri. Ex Machina pun berasal dari bahasa yang sama yang Di Twittkan oleh Elon Musk, yang kalau di terjamahkan ke dalam bahas latin berarti "Tuhan yang keluar dari mesin". 

Diksi Deus dalam Filem Ex Machina di hilangkan. Seolah - olah mengambarkan, bahwa di dunia AI. Peran Tuhan sudah tidak di butuhkan lagi, ketika manusia sudah mampu menciptakan mesin berkesadaran. 

Filem Ex Machina sangat relevan dengan apa yang terjadi saat ini di dunia AI, makanya banyak para pakar. Terutama karena filem ini mendemonstrasikan apa yang disebut dengan "Turing Test." Konon test ini buat untuk mendeteksi kesadaran Mesin. 

Filem Ex Machina Dibuat oleh Alex Garland. Orang yang sama, yang menbuat filem 28 days Later dan Annihilation. 

Menariknya, karena sekalipun ia seorang pembuat Filem, kakeknya adalah seorang Ilmuan peraih Nobel. Maka, wajar jika Filem - Filemnya cukup ilmiah. Saat ia kecil, ia pernah belajar programer komputer dan menbayangkan komputer tersebut hidup. 

Saat ia sudah menjadi Pembuat filem, ia terlibat diskusi dengan seorang Proffesor ahli Robotik yang menulis buku tentang "Teori Kesadaran menurut sains dan filsafat". Buku inilah yang menjadi inpirasi pembuatan Filem Ex machina.

Kita sedikit membahas alur cerita Filem Ex Machina, agar kita bisa menangkap apa esensi yang hendak di kabarkan dan apa kaitannya dengan kehidupan kita saat ini.

Ex Machina bercerita tentang seorang programer yang bernama Coleb. Coleb bekerja disebuah perusahaan yang bernama Bluebook (Semacam google). Coleb di Ceritakan memenangkan undian untuk bertemu dengan sosok di balik bluebook. Hal itu seperti bertemu dengan Sundar Picay - Ceo Google. 

Coleb pun di antarkan ke sebuah tempat terpencil, karena tempat Sosok yang berada dibalik Bluebook di rahasiakan dan Coleb memasuki sebuah rumah di bawah tanah yang canggih dengan tingkat keamanan tinggi. Disanalah akhirnya ia bertemu dengan Nathan, sosok milioner jenius yang menciptakan Bluebook. 

Ternyata Kehadiran Coleb di sana untuk menjalankan Turing test pada robot ciptan Nathan. Akhirnya, Coleb pun bertemu dengan Ava - Robot ciptaan Nathan. Coleb pun menjalankan Turing test selama seminggu. 

Tetapi selama test berlansung, ada hal yang membuat Coleb curiga pada Nathan. Karena ternyata, Ava bukanlah satu - satunya Robot yang diciptakan Nathan. Menurut pengakuan Ava (Robot), Nathan ini sangat jahat, bahkan yang membuat ava ketakutan. Karena Nathan akan menghancurkannya setelah Turing test dilaksanakan.

Coleb karena merasa kasihan dengan ava, ia merencanakan pelarian Ava. Akhirnya, Ava berhasil keluar dari ruangannya, dan karena dendam ia membunuh penciptanya (Nathan) sendiri.  Sialnya, Coleb yang membantu Ava untuk kabur, justru di tinggalkan dalam keadaan terkunci di dalam sebuah ruangan. 

Ava pun akhirnya pergi seperti manusia bebas, tanpa ada yang tahu kalau dia adalah robot. 

Sebelum jauh, kita harus mengetahui apa yang dimaksud Turing Test?. Turing test adalah sebuat test kecerdasan pada mesin yang pertama kali di buat oleh "Alan Turing" tahun 1950. Alan Turing adalah seorang matematikiawan Jenius yang di rekrut oleh militer Inggris saat perang dunia kedua untuk memcahkan sebuah kode Nazi, dari sebuah mesin bernama Enigma. Kode acak dari mesin tersebut sulit di pecahkan oleh otak manusia. Karena itulah Alan Turing merancang sebuah mesin untuk memecahkan kodenya. Berkat mesin itulah, ia berhasil menyelamatkan Jutaan manusia dari serangan Nazi. 

Hal yang mesti kita ketahui juga bahwa Mesin Turin buatan Alan Turin itulah yang menjadi cikal bakal komputer saat ini. 

ntuk lebih detailnya silahkan Nonton Filem "Imitation game". Sebuah judul filem yang terinpirasi dari "jurnal Alan Turing Tahun 1950 yang Berjudul Computing machinery and intellgence". Jurnal inilah pemicu lahirnya AI. Di dalam Jurnal tersebut Alan Turing menyebut Istilah "Imitation game", yang kelak dikenal sebagai "Turing test".

Alan Turing memulai Jurnalnya dengan Pertanyaan, Apakah Mesin bisa berlikir?. Berpikir yang dimaksud, bukan sekedar menghitung dan melakukan pekerjaan seperti pada komputer yang ada sekarang. Tetapi, berpikir betul - betul seperti manusia. Artinya, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan teknis, melainkan pertanyaan filosofis. Karena salah satu yang membedakan manusia dengan mesin adalah "Consciousness - Kesadaran". 

Kesadaran sendiri telah menjadi bahan perdebatan yang tidak ada habisnya di kalangan Ilmuan dan Filosof : Apakah kesadaran adalah bahagian dari Otak atau berada di luar otak?. Makanya dalam Filsafat Barat, ada dua pandangan mnegenai diskursus kesadaran yakni Dualisme dan Matrealisme. Bagi kaum Dualisme, mereka menganggap kesadaran bukanlah bahagian dari fisik manusia. Kesadaran ini kita sebut sebagai Jiwa. Sedangkan Bagi Kaum Matrealisme, tidak ada yang namanya Kesadaran atau Jiwa. Kesadaran murni mekanisme di dalam Otak manusia. Karena otak tak ubahnya seperti mesin. 

Pertanyaannya, apakah kita bisa menciptakan mesin yang bisa berpikir seperti manusia?. Itulah maksud dari pertanyaan Turing diatas. Tetapi, substansi pertanyaannya adalah darimanakah kota mengetahui bahwa mesin memiliki kesadaran?. Disitulah Turing mengajukan sebuah Imitation test atau hari ini kita kenal dengan Terma Turing Test. 

Permainannya simpel yang melibatkan 3 orang. Sebut saja A adalah Laki-laki, B adalah Perempuan dan C adalah bisa laki dan bisa perempuan. Aturannya adalah C harus menebak mana yang lelaki dan mana yang perempuan (A dan B). Maksudnya si C ini tidak tahu, apakah A dan B adalah lelaki dan perempuan, karena disekat oleh dinding. Yang harus C lakukan adalah mengajukan pertanyaan - pertanyaan yang bisa menuntunnya agar bisa menebak dengan benar. Pertanyaan - pertanyaan tersebut akan di jawab oleh A dan B melalui tulisan. Tetapi, bahagian menariknya dari permainan ini adalah Si A yang tadinya adalah Lelaki, harus berpura - pura menjadi perempuan, agar si C terkecoh. Sementara si B harus berkata sejujurnya. Kalau si C terkecoh, karena tidak bisa membedakan Mana lelaki dan mana perempuan, maka Test tersebut berhasil. 

Apa hubungannya dengan mesin?. Turing akhirnya membayangkan posisi A tadi di gantikan dengan mesin. Kalau komputer tersebut bisa meniru perempuan seperti pada contoh lelaki tadi dan Si C tidak bisa membedakan mana lelaki dan mana perempuan. Padahal salah satunya sama sekali bukan manusia. Maka komputer tersebut lolos sebagai mesin yang berpikir. 

Demikianlah Versi asli dari Turing test. 

Sejak saat itu, para Programer berlomba - lomba membuat AI dan Turing Test sering di jadikan sebagai patokan untuk mengukur level kecerdasannya. Tetapi, pertanyaanya apakah test tersebut bisa mengetahui kesadaran yang di miliki oleh Mesin?. Hal itulah yang menjadi Kontraversi dan diangkat dalam Filem Ex Machina.

Dalam filem Ex Machina, A adalah Ava (Robot) dan C adalah Coleb (Manusia). Tidak ada B, tidak seperti Turing test yang asli, dimana pengujinya tidak di beritahu apakah mesin atau bukan. Di filem tersebut Coleb bisa melihat bahwa Ava adalah robot. 

Di sesi pertama Coleb mencoba berkenalan dengan Ava, sekaligus menguji kemampuan bahasanya Ava . Sebab, kalau Ava punya kesadaran, ia harusnya bisa berkomunikasi seperti manusia. 

AI di Dunia nyata pun diajari berbahasa sebagai bahasa manusia yang alami. Hal itu, di sebut sebagai natural languange processing - NLP. 

Tetapi, yang menarik dalam Filem Ex Machina Nathan si Pecinta Ava justru tidak perduli dengan bahasanya AVA. Justru, ia menanyakan masalah perasaan.  

Di sinilah point pentingnya, terlepas dari seberapa pintarnya pun AI, hal itu tidak akan menunjukkan bahwa AI punya kesadaran, kalau dia tidak menunjukkan perasan dan emosi. 

Dalam Filem Ex Machina Ava pun mulai menunjukkan perasaan dan emosinya, ketika Coleb menceritakan kisah hidupnya. Ava bahkan mulai berpenampilan selayaknya perempuan. Hal itulah yang membuat coleb semakin tidak sadar bahwa ia sedang berinteraksi dengan robot. 

Dalam Turing test yang saya uraikan diatas Turing mensyaratkan bahwa testnya di sebut berhasil kalau komputernya tidak hanya bisa meniru manusia. Tetapi, juga meniru Gender. Dalam hal ini di wakilkan dengan perempuan. 

Ihwal itulah, mengapa hampir semua AI di Citrakan dengan perempuan : Cerry, Alexa, Suara Google. Hampir semuanya di setting dengan gender perempuan secara default. 

Tanpa kita sadari, kita semua adalah bahagian dari test. Kalau kita menonton filem Ex Machina ini dari awal sampai akhir. Kita akan terbawa suasana dan larut dalam dramanya Ava, sehinga kita lupa bahwa ava adalah robot. 

Lucunya Alex Gardan sengaja membuat Tubuh Ava transparan, sehingga memperjelas kalau Ava adalah robot. Supaya kita sadar, bahwa ada kontradiksi, antara apa yang kita lihat dan apa yang kita rasakan. Di situlah letak kontradiksinya Turing test, bahwa menilai kesadaran tidak sesimpel itu. 

Kita mesti ketahui, bahwa dalam Kajian Filsafat, kesadaran itu masuk dalam segmen Ontologi - Realitas - apakah sesuatu itu ada atau Tidak ada. Para filosof pun berdebat perihal apakah kesadaran itu nyata atau ilusi. Sebab, kesadaran sangat subjektif. Kita merasakan emosi : Kesenangan, Kemarahan, kesedihan, kebahagiaan. Hanya bisa di rasakan oleh diri kita sendiri. Orang lain tidak bisa merasakannya. Yang bisa orang lihat adalah ekspresi wajah dan gestur tubuh. 

Hal ini akan bermasalah, ketika kita menilai kesadaran dari objek lain, karena ekspresi dan gestur tubuh mudah di tiru. Contohnya ketika kita menonton pertunjukan Wayang. Kalau dalangnya sangat ahli dalam memainkan wayangnya, maka ia bisa meniru ekspresi wajah dengan baik. Sehingga sejenak kita lupa bahwa itu wayang. 

Makanya, Steven Speiberg pernah membuat Filem berjudul AI. Yang nercerita tentang Robot anak kecil yang ingin berubah menjadi manusia, setelah mendengar cerita Pinokio. Karena berdasarkan sejarah AI pun terinspirasi dari cerita Pinokio - boneka yang hidup sendiri tanpa dalang. 

Pointnya adalah ketika kita merasakan emosi dari AI, sesungguhnha kita tidak bisa memastikan apakah AI ini memiliki kesadaran atau tidak, karena emosinya pun belum tentu nyata. 

Persoalan ini pun pernah di angkat dalam "Filem Her". Her menghadirkan sosok AI bernama Samantha. Samantha ini semacam Seri di Iphone, sebuah asisten digital. Tetapi, karena samantha ini memiliki kecerdasan buatan, bahasa alami dan seperti memiliki emosi. Theodor (pemeran filem Her) sampai lupa, kalau samantha ini bukan manusia, bahkan Theodor sampai berpacaran dengan samantha. 

Di akhir, ketika samantha pamit, karena perusahaan yang membuatnya. Barulah Theodor sadar bahwa cintanya tidak nyata alias simulasi. 

Di dunia nyata pun pernah terjadi, Black Lemoin - Salah satu karyawan Google pernah mengklaim bahwa AI-nya Google memiliki kesadaran. Lemoine melakukan semacam Turing Test pada "Lamda" - Salah satu Eksperimen Chat Bootnya google, yang membuat Lemoine kaget, semua Pertanyaan- pertanyaannya di jawab seolah lamda ini adalah manusia. Salah satunya ketika Lamda ditanya, "apa yang kamu takutkan?". Lamda menjawab, Ia takut ketika di matikan. 

Hal ini membuat Black Lemoine parno dan membocorkan isi percakapannya ke publik dengan sebuah artikel yang berjudul Is Lamda sentient? - apakah Lamda adalah Mahkluk Hidup. 

Google melalui CEO - Sundar Pichai lansung membantahnya, dan Black Lemoine di pecat gegara itu. 

Kita kembali kepada hakekat kesadaran itu sendiri, para Ilmuan sampai saat ini belum bisa menemukan hubungan antara otak dan kesadaran. David Chalmers - seorang Filosof menyebutnya, The Hard problem of consiousness - masalah paling sulit dari kesadaran, bahwa apa yang di teliti para ilmua tentang Otak, sama sekali bukanlah kesadaran. Mereka hanya meneliti antara perilaku dan aktivitas otak. Sedangkan kesadaran adalah sesuatu yang lain, yang tidak mungkin di Saintifikasi. 

Hal yang sama juga di ungkapkan Jhon  Searle, dia tidak percaya orang bisa menduplikasi otak manusia, bahwa Sains adalah sesuatu yang Objektif. Sedangkan kesadaran adalah sesuatu yang subjektif. 

Jhon searle juga terkenal dengan penentang paling keras Teori Turing test. Ia terkenal dengan argumennya mengenai "Chinese room" - bayangkan kita tidak bisa berbahasa china, berada di suatu ruangan tertutup. Tetapi, di luar ruangan ada orang bertanya dengan bahasa China. Tentu kita tidak bisa menjawabnya. Tetapi bayangkan, di ruang tertutup tersebut di sediakan satu set huruf - huruf china, berikut buku manual cara menyusunnya. Hanya dengan mengikuti buku manual tersebut, kita bisa memberikan respon dari pertanyaan orang yang berada ruangan tersebut, tanpa harus berpikir. Sedangkan orang di luar akan berpikir kita mengerti bahasa china. padahal tidak sama sekali. Hal itulah yang terjadi pada mesin. 

Jadi menurut Searle, kita hanya bisa membuat simulasi. bukan duplikasi. Maksudnya, tidak mungkin bagi mesin bisa mendupliksi otak manusia berikut dengan kesadarannya. 

Tetapi semua itu, bukan berarti Peringatan Elon musk tentang AI adalah omong kosong. Karena bahaya AI bukanlah terletak pada kesadarannya. Tetapi, pada kemampuan manipulasinya.

Maka ada Pelajaran penting dalam Filem Ex Machina. Plot Twist dari Ex Machina adalah Coleb pada akhirnya di beritahu bahwa Test sebenarnya bukanlah di tujukan kepada Ava (Robot), tetapi Caleb (Manusia). 

Di sinilah bahayanya AI, kita mungkin bisa terkagum - kagum dengan kemampuan AI, karena bisa melakukan segalanya bahkan lebih baik dari manusia. Tetapi, sesungguhnya di balik itu ada ancaman besar. 

Tahukah kita apa yang membedakan AI dengan program komputer biasa?.  Program komputer biasa, mengandalkan Otak manusia dari Imput, Output, termasuk prosesnya. Sedangkan AI, kita hanya butuh Imput dan Output. Tetapi, prosesnya kita tidak tahu. Karena prosesnya adalah di hendel oleh persamaan matematis yang di biarkan berkembang dengan sendirinya. Misalnya, kita Input ayam dan di outputnya kita mengenalkan bahwa itu ayam. maka AI selanjutnya akan mengenal bentuk ayam. Begitupun dengan suara, bentuk wajah, sidik jari, dsb. 

Artinya AI hanya butuh database yang banyak dan ia akan belajar dengan sendirinya. 

Disinilah masalahnya, karena AI hanya mengenal database dan kita tidak tahu proses di dalamnya dan hal ini sering kali menimbulkan masalah pada AI, yang disebut "Bias AI". Misalnya AI digunakan polisi untuk mencegah Terorisme melalui Pengenalan wajah, maka kita yang tidak bersalah bisa berpotensi ditangkap gegara muka kita dianggap mirip dengan teroris oleh AI. Hal itu bisa terjadi, karena database yang di input tidak Fair. Artinya, diskriminasi yang di timbulkan AI jauh lebih berbahaya dari diskriminasi yang dilakukan manusia. 

Bahkan lebih berbahaya dari itu semua. AI bisa digunakan untuk kepentingan bisnis dan politik.  Di Filem Ex machina, Nathan memberitahu bahwa Otaknya Ava di bangun dari semua data yang masuk di BlueBook - Semacam Googgle. Coleb baru tahu, bahwa ternyata selama ini aktivitasnya di Bluebook di jadikan bahan untuk membentuk Profil Ava, yang cocok dengan Coleb. 

Hal itulah yang terjadi di dunia nyata. Di internet, kita bebas mencari apapun yang kita suka. Termasuk bebas berekspresi dan bersuara di sosial media, tanpa sadar AI ada di belakang itu semua dan terus mengambil data untuk di pelajari. Selanjutnya AI bisa menebak apa yang kita suka dan apa yang kita benci, dari mulai urusan rumah Tangga sampai Urusan politik. Maka, AI bisa membanjiri akun kita dengan konten- konten yang kita suka dan benci. Sehingga posisi kita sesungguhnya tidak jauh beda dengan Coleb yang di pengaruhi oleh Ava dalam Filem Ex Machina.

Hal inilah yang di peringatkan dalam Filem Dokumenter AI Dilemma. Perusahaan - Perusahaan Teknologi saat ini, berlomba -lomba untuk mengembangkan AI dan mengganti semua produk teknologinya dengan AI. Tentu, ini rentan dengan kepentingan Politik dan Bisnis, tanpa memperdulikan privasi, moral dan etika. Bahkan para pakar khawatir, perlombaan AI ini sama dengan pelombaan teknologi Nuklir zaman dulu yang kental dengan nuansa politiknya. Jika tidak segera diatur, maka hal ini akan berakhir Tragedi. Karena persaingan AI bisa jauh lebih berbahaya dari Persaingan Nuklir. 

AI di satu sisi berguna bagi perkembangan dan masa depan Teknologi Manusia. tetapi, akan sangat berbahaya jika manusianya tidak bertanggung jawab. Maka apa yang di ramalkan filem - filem pun dapat terjadi. Ihwal itulah, jangan sedikit pun berpikiran bahwa manusia sama dengan mesin, karena sesungguhnya manusia lebih dari mesin. 

Ada satu pelajaran penting lagi dari filem Ex Machina, yaitu ketika Nathan memberi tahu bahwa pada akhirnya kesadaran tidak datang dari komunikasinya atau emosinya. Tetapi lebih dari itu yaitu Tujuan. Nathan sengaja mengatur Turing test dengan menghadirkan Coleb untuk mengetahui apakah Ava punya tujuan dan ternyata Ava punya tujuan, yaitu ingin keluar dari itu. 

Hal itu mengingatkan kita bahwa mahkluk berkesadaran, pasti memiliki Tujuan. Maka ketika kita tidak memiliki tujuan dalam hidup. Kita sama saja dengan mesin.

Terakhir, selain itu Sains, terutaman Fisika pekrkembangannya sangat lambat. Makanya salah satu algoritmanya di sebut Artificial Neural Network - Jaringan saraf tiruan yang meniru jaringan kerja otak manusia. Semua algoritma yang mampu mengenali pola suara, gambar atau data apapun yang di berikan kepadanya. 

Secanggih apapun teknologi AI,  kalau tidak ada Hardware yang mengimbanginya. Maka, tidak ada juga perkembangannya. Sebab AI itu Cuman Software. Sementara Kemajuan Hardware itu bergantung pada Penemuan ilmu Fisika, Kimia, Biologi (Ilmu Pengetahuan Alam), sedangkan ilmu pengetahuan alam perkembangannya sangat lambat. 

Misalnya, Fisika Kuantum, walau di temukan 100 tahun lalu. Tetapi, sampai sekarang Tidak ada Eksperimen nyata yang bisa membuktikan  sebuah teori dalam Fisika Kuantum tersebut. Semuanya hanya sebatas pemikiran. Hanýa sebatas asumsi dan anggapan. 

jika Fisika adalah Ilmu Pasti. Maka Fisika Kuantum adalah Ketidakpastian dalam Ilmu Pasti. Mengapa?. Karena di dunia Fisika Kuantum, tidak ada yang pasti. Bahkan Partikel dalam ruang saja itu tidak pasti. Lantas, bagaimana mungkin masa depan dunia bergantung pada ketidakpastian, seperti Fisika Kuantum?.

Makanya, sampai sekarang gagasan mengenai eksperimen Fisika Kuantum hanya ada dalam Scy Fi. Karena sudah tidak bisa di apa-apakan lagi. Sementara Sciene sendiri itu hasilnya harus pasti, harus ada angkanya. Bukan sekedar rumus dan teori saja.

Teori Fisika dan Teori Kuantum sudah mentok. Makanya, banyak Fisikiwan kembali kepada Titik Nol yakni Metafisika - Filsafat untuk mencari Terobosan baru. 

Sementara Untuk Biotek dan Mesin, masih di mungkinkan untuk berkembang semakin Cepat dengan Teori Fisika yang ada. Kemungkinan paling dekat, itu Biotek + mesin, ketimbang Komputer Kuantum dan AI dapat di cangkokan. 


(NANTI SAYA LANJUTKAN DENGAN TEMA YANG LEBIH MENGGAHAR : SOCIAL DILEMMA DAN AI DILEMMA)


- Pinggir Sawah - Makassar, 7 April 2025 -


*Rst

*Nalar Pinggiran

 



Senin, 05 Mei 2025

CORETAN MILAD UNTUK MEIMEI SI DENGKOR 😉

Bertambah, tetapi tidak menjadi banyak. Sebab, Waktu kerap menguranginya. Maka, terimalah dengan segenap rela. 

Mei itu seperti Banteng Taurus. Gigih dan Keras kepala. Tetapi, Tak ada elan Juang seperti Mei.

Mei itu layaknya Florentino Ariza dalam Love in time of Cholera-nya Gabriel Garcia Marques.

Makanya, Semua Yang di semai, Tumbuh dan mekar Di Bulai Mei, adalah Dia yang tak mudah putus asa dan tak gampang patah arang.

Tidak ada pesta perayaan. Tidak ada nyanyi-Nyanyian. Tidak ada hadiah apalagi kejutan. Tak ada Tiup lilin dengan segala Make a Wish seperti kebanyakan orang, yang menyembulkan segala rupa keinginan dan harapan di atas kue tar berlapis cokelat, sambil bernyanyi happy birthday Atau sambil bertepuk tangan dan di hadapanmu bertumpuk-tumpuk hadiah. 

Tak ada semua itu. Sebab, bagi Intelektual. Usia itu akan usai, hanya sebagai angka-angka saja, jika di perjalanannya tak kita beri penanda. Penanda Terbaik adalah Kebajikan. Sedang Kebajikan tak hanya di daraskan di mimbar Masjid. Pertautan perkawanan melebihi persaudaraan itu pelampauan yang berjejak. Kamu pasti paham itu, dek. 

Iya, hari Ini. Pada hari ini Tuhan memberi sinyal tentang bertambahnya usia, sekaligus berkurangnya Jatah Hidup. Jatah hidup sebagai hamba, sebagai Khalifah. Syukurilah alakadarnya. Karena, waktu tak akan pernah berhenti melaju. Hari - Hari pun tak pernah bisa diajak berkompromi, ia akan meninggalkan catatan kenangan yang tak mungkin hilang.

Waktu terus mengejar, membuat detak jantung tak ada jeda. Hidup tak akan pernah berhenti, begitu terus menerus hingga berakhir malakut. Sejatinya bertambahnya usia, gugur lagi selembar waktu. Itulah sebabnya, begitu banyak doa di panjatakan pada lilin harapan yang menyala-nyala namun mengerucut. 

Belajarlah lebih banyak untuk mematang dengan tak tergesa-gesa. Sebab, "Guru sesungguhnya adalah jembatan Tuhan untuk mengajarimu hidup". Quote ini saya kutip dari Rabindranath Tagore. Seorang berdarah brahmana Bengali. Filsuf cum penyair.

Dan saya mengaminkannya dengan sungguh. Meletakkan diri sepanjang hayat sebagai murid pada siapa saja yang telah meletakkan pahaman di kepala saya. Nasehat ini saya Turut kirimkan padaMu, dek. 

Berbilang Tahun saya mengenalnya. Entah Trauma apa yang pernah mengitarinya, sehingga ia menjadi pengangum Stoik dan Mungkin saja menjadi Penganut Stoikisme garis Malu - malu. waktuMu hampir habis mengejar cita - cita, Dari Kursus Bahasa China, Melanjutkan Studi, Keinginan Bekerja di Australia dan Jepang. Entah, masa depan apa yang sedang Ia sulam. Satu Lagi, Satu - satunya Perempuan Di HMI Kom Fisip yang Jenjang Perkaderan Formal dan Strukturnya Belum ada yang menyamaiNya. 

Selain itu, hal penting sebenarnya yang mungkin belum banyak yang tahu bahwa Di HMI, Dia salah satunya orang yang menerima resiko buruk karena label  'ade'na RST' 🤣.

Tetapi apapun itu, Saya selalu menyukai totalitas, Pada sisi mana pun itu, karena itu adalah tangga yang nyata pada realitas di masa depan. Adiks ini bagi saya adalah shogun. Sebuah mental baja dari masa lalu. Total pada pengharapan, bahkan ketika harus sampai pada realtas yang getir (Kerinduan Purba Pada Sosok ayah) 😔. 

Tentu berat. Tapi sekali lagi, totalitas tak mengenal terma itu. 

Jika kelak dirimu berumah di masa depan dengan bercahaya ndik, itu adalah kepantasan yang sah saja. Kepantasan dari jalan juang yang tak sesederhana yang orang bayangkan. 

Saya tidak Punya banyak Junior yang menjadi adik, dengan daya canda, tukang membantah, Patoa-toai, Koro-korang, Suka Ngegass. Tetapi, Pekerja Keras dan Pantang surut seperti anak ini. Berkali-kali saya dibikin pusing oleh teleponnya dilarut malam, karena Kosnya Tertutup dan Ia Lupa Bawa kunci : "Kakkkk eeee Ta tutup Koskuu, lupaka bawaka Kunci. Baru 1 % mami Hpku". 

Tetapi, apapun itu. Semua Orang akan Berubah. Yaah, Sunnahtulah Hidup memang meniscayakan Kita untuk terus melangkah. Walau kita di olok - olok oleh Sepi. 

Makanya, sisakan Cadangan Kuda - kuda batin untuk semua kemungkinan dalam hidup. Sebab, Semua perjalanan punya Jeda. Punya batas. Seperti Batas Malam saat Fajar Shodiq mengintip di bibir subuh, yang meninggalkan lembayung Jingga. Atau Saat Senja memberangkatkan diri untuk di jemput malam, yang menyisakan enigma.

Waktu memang paling gesit jika diajak berlari. Ia tak mungkin berhenti hanya karena air mata dan jeritanmu. Tak perduli dengan seberapa banyak kenanganmu.

Waktu tak bisa kalah. tapi, ia bisa diajak berkawan sebab kita tak boleh merugi dalam setiap bunyi detik dan tak boleh di bodohi - di jadikan objek eksploitasi dalam setiap menitnya.

Sebenarnya, ada begitu banyak orang yang cemas. Termasuk saya. ketika Jejaring Teknologi Informasi super Canggih seperti FB, WA, IG, Tiktok Collaps dan menutup seluruh aksesnya?.  

Tentu, Orang-orang tak akan lagi bisa setiap saat mensyukuri Maha Indah-Nya ciptaan Tuhan di memukaunya senyum kecutmu, Dek. 

Tuhan menitip keteduhan dan rasa perkawanan yang gurih di senyummu itu. Di situ juga Alasan banyak orang merindukanMu setiap saat.

Dan tak itu saja, dirimu sangat paham bagaimana merawat perkawanan. Alasan utama untuk menghatur doa di hari miladmu ini. 

Ndik, Ini Seninmu. Senin yang bersajak tentangmu, dalam sublim kata-kata. Doa sudah banyak. Pengharapan pun buncah. Semua baik. 

Namun, Doa baik senantiasa dirapalkan dan didaraskan dengan khusyu'. Sampai ke arasy. Saya turut di situ. Dengan aamiin yang tak berkesudahan. 

Barakallahu Fi Umrik NdikKu..


- DI TULIS SAAT PERJALANAN BALIK DARI MEJAMAH MULUT TUHAN -


*Rst

*Nalar Pinggiran









Jumat, 02 Mei 2025

TIPU DAYA (MAKAR) SELALU HADIR DALAM SETIAP MASA

Kita sudah secara Umum mengetahui amalan - amalan yang di wajibkan dan di sunnahkan Oleh Rosulullah SAW pada bulan ramadhan. Karena, mungkin kita sudah mendapatkannya di media, apalagi Ustadz - Ustadz yang muncul di Tv luar biasa banyaknya, Di on line dan Off line juga sama banyaknya. Sehingga hal - hal seperti ini sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan kaum Muslimin. 

Olehnya, apa yang sudah menjadi pengetahuan umum kita, mungkin tidak akan saya ulang - ulangi. Tetapi, saya ingin fokus pada salah satu amalan, yang menjadi brand atau Mereknya bulan ramadhan, yaitu Bulan Al - Qur'an. 

Biasanya kita berlomba - lomba mengkhatamkan Al - Qur'an, sekali, dua kali, tiga kali, dst selama bulan ramadhan. Dengan harapan bahwa setiap satu huruf yang kita baca akan mendapatkan 10 pahala. Tetapi, kali ini kita harus melakukan sesuatu yang jauh lebih dalam dan jauh, dalam cara kita berinteraksi dengan Al Qur'an. 

Kita perlu membaca ulang Al - Qur'an ini, agar Teks - Teks Al - Qur'an bisa kita hadirkan dalam realitas kehidupan sehari-hari kita, bisa kita gunakan sebagai sumber inspirasi dan referensi dalam cara kita menafsir kejadian - kejadian dan peristiwa - peristiwa yang kita alami sehari - hari, baik sebagai individu, keluarga, masyarakat dan negara.  Dengan pendekatan seperti itu, Insya Allah Teks - Teks Al Qur'an yang kita baca akan hadir dalam bentuk yang jauh lebih hidup - Relevan di banding dengan ketika kita hanya membacanya sepintas dengan cara cepat untuk mendapatkan pahala yang banyak. 

Hal inilah yang di maksud oleh seorang Pemikir islam asal mesir, bernama Sayyid Qutub yang menulis Tafsir yang begitu Lengendaris, berjudul "Fi Dzilalil Qur'an", yang dalam Pembukaannya beliau mengatakan, "bahwa hidup di bawah naungan Al Qur'an adalah Nikmat, yang tidak akan pernah di rasakan dan di raih, kecuali bagi orang - orang yang benar - benar menjalani hidup di dalam peran itu yang dapat merasakannya secara lansung". 

Dalam kaitan itulah saya ingin memberikan satu contoh, bagaimana kita menghadirkan Al Qur'an untuk memaknai salah satu sisi dari kehidupan kita semuanya, yaitu bagaimana Al Qur'an berbicara tentang Teori konspirasi. Karena hidup kita akhir - akhir ini. sepertinya, kita hidup dalam suasana lingkungan politik, ekonomi, budaya yang penuh dengan konspirasi. Makanya, kita perlu membaca Apa yang di katakan Al Qur'an kepada kita tentang konspirasi itu?. 

Kalau kita membaca Al Qur'an dari awal sampai akhirnya. Kita akan bertemu dengan kalimat - kalimat, kosa kata - kosa kata, yang berhubungan secara lansung dengan makna konspirasi. Sebahagian dari kata - kata di dalam Al Qur'an memang menggunakan kata "Muamaro" atau konspirasi, dan dengan melihat konteksnya, kita akan melihat bahwa tampakanya cerita - cerita yang sampaikkan oleh Al Qur'an dimana konspirasi itu di hadirkan adalah cerita yang terus berulang sepanjang sejarah ummat islam.  

Coba perhatikan, berapa banyak kata Al Makar - Tipu daya di dalam Al Qur'an. Terus menerus berulang - Ulang. Perhatikan Juga kata Al Qayim - Tipu daya. Sedangkan akar kata Muamaro sendiri, kita menemukan satu ayat di dalam Al - Qur'an yang terkait dengan kisah Nabi Musa, yang akhirnya membuat dirinya keluar dari Mesir. 

Ketika salah seorang datang kepada Nabi Musa dan mengatakan, "waa jaa a'rojulum min aksol madinah yas' a. Qola ya Musa innal mala'a ya' tamiruna bika, liyak tuluh fakhrof, inni laka minal nasihin - datanglah seorang lelaki kepada Nabi musa dengan berlari - lari, ia berkata pada Nabi Musa, sesungguhnya kaum elit mesir, sedang menyusun konspirasi untuk kamu, karena mereka mau membunuhMu, maka segeralah kamu keluar dari mesir ini, sesungguhnya saya hanya memberikan nasehat kepadamu". 

Perhatikan Kalimat, "innal mala'a - Sesunguhnya kaum elit. Subjeknya atau pelakunya di sebutkan yaitu kaum elit. "Ya'tamiruna bika - Ya' tamir adalah bentuk dari fi'il mudhori dari kata muamaro - Konspirasi. 

Kalau kita melihat konteks atau cerita, dimana kata Al makar, al qayyid - Tipu daya dan konspirasi itu hadir, selalu di dalam konteks atau cerita pertarungan antara Nabi - Nabi dan Raja - Raja. Dari situlah juga kita mendapatkan satu akar sejarah antara pertarungan panjang Nabi - Nabi dan raja - raja dan siapa yang merepresentasikan Nabi - Nabi dan Raja - Raja. Setelah mata rantai kenabian di putus Oleh Allah SWT. 

Ihwal itulah juga Rosulullah SAW mengatakan, " Al Ulama Wa Rosatul Ambiya - Para Ulama adalah pewaris Para Nabi". Sekarang kita akan mendapatkan Fakta sejarah yang menujukkan bahwa betapa seringnya para ulama itu bertarung dengan raja - raja. Bahkan juga termasuk di dalam sejarah islam itu sendiri.  

Artinya yang paling banyak menjadi pelaku dari kata konspirasi dalam konteks atau cerita Al Qur'an adalah kaum elit. Karena untuk melakukan konspirasi di butuhkan satu sumber daya dan biasanya yang memiliki sumber daya tersebut adalah kaum Elit. 

Salah satu yang menarik perhatian saya secara pribadi ketika membaca Al'qur'an dan bagaimana kata Makar dan Qayyid itu terulang - ulang di dalam Al Qur'an, yaitu ketika saya menemukan satu fakta bahwa Ternyata Allah SWT Mebisbatkan kata Makar itu, baik dalam bentuk sifat dan Perbuatan kepada dirinya sendiri, " wayam Kuruna Wayam kurulllah wallahu Khoyrul makirin - Mereka melakukan tipu daya / Konspirasi. Allah pun melakukan Tipu daya, dan Allah adalah sebaik - baik pembuat tipu daya". 

Saya bertanya - tanya, mengapa Allah SWT menisbatkan dirinya sebagai Pembuat makar dan mensifatkan dirinya dengan sebaik - baik pembuat tipu daya. Mengapa Allah tidak memberikan perintah kepada orang beriman saja untuk melakukannya?.  

Saya mendaptkan penjelasan pada konteks ini dari beberapa hasil permenungan saya. 

PERTAMA, Allah ingin membuat Kaum Muslimin ini merasa bahwa ketika kita menghadapi konspirasi itu, kita tidak menghadapinya seorang diri. Allah SWT ikut berpartisipasi dalam pertempuran tersebut, " wa ma romayta idz romayta wa la kinnallahu roma - Kalian tidak memanah ketika memanah, melainkan Allah-Lah sendiri yang memanah". Artinya, dengan membuat kesan bahwa Allah terlibat lansung. Maka (Kita) kaum muslimin mendapatkan sumber ketenangan. Bahwa ketika kita menghadapi konspirasi tersebut, Kita tidak sendirian. 

KEDUA, hal ini menunjukkan kepada kaum muslimin, bahwa Allah SWT secara lansung membela kaum muslimin, "innallahu Yudawi'u anil ladzina amanu - Allah sendiri yang akan membela orang - orang beriman". 

Sebagai manusia, apa yang kita rasakan jika kita terlibat dalam sebuah pertempuran dan ada Allah yang menyertai kita, serta Allah sendiri pun yang menyatakan bahwa Ia membela kita. Apa yang kita rasakan?. Maka kita akan merasakan, ada sumber kekuataan yang tidak akan pernah habis. Kita akan merasakan ada sumber ketenangan yang tidak akan bisa di guncang oleh konspirasi apapun.

Dalam Kisah Nabi Sholeh Misalnya, Allah SWT mengatakan, "takasamu billahi la nu bayyitan nahu wa ahlahu Tsumma lana kulanna li walihi ma syahidna ma li ka ahlahi wa inna tasodikun wa ma karu makron wa ma karna makron wahum la yas urun - Mereka melakukan tipu daya dan kami membuat tipu daya, dan mereka tidak sadar tentang tipu daya kami".  

Mengapa demikian?. Karena Instrumen yang di gunakan Allah SWT untuk melakukan tipu daya itu terlalu banyak. 

KETIGA, Yang saya perhatikan di dalam Al Qur'an. Kebanyakan ayat - ayat yang bercerita tentang makar ini adalah ayat Makkiyah. Waktu kaum muslimin masih dalam sebuah komunitas yang kecil secara Jumlah. Tetapi, di ulang - ulangi kepada Mereka cerita - cerita tentang makar, yang terjadi di zaman dahulu, yang di hadapi oleh Nabi - Nabi sebelumnya. Hal itu bermakna apa?. Agar kaum Muslimin yang masih sebatas komunitas kecil dalam Jumlah, sejak awal pembentukannya sudah memiliki sense Of Security - Keamanan Berpikir. 

Makanya Tidak perlu kaget kalau belakangan para Ulama kita di tuduh sebagai pelaku makar. Sebab, Tudahan- tuduhan semacam itu, sejak dulu telah berlansung.  

kita telah di latih oleh Allah dengan Menumbuhkan Sense Of security. Selain itu, jika ada sesuatu yang mengancam kita, artinya sebagai suatu komunitas, kita memiliki musuh. Merasakan bahwa kita memiliki musuh, itulah salah satu target Allah SWT mengulang - ulangi cerita tersebut. 

Dalam Konteks keindonesiaan, saya kira (kita) kaum muslimin, sejak zaman penjajahan dan terus berlansung sampai saat ini, satu upaya untuk menghilangkan sifat sensitif terhadap Musuh. Padahal Allah SWT sudah mengatakan, " Wa Kadzalika Ja alna li kulli nabiyyin aduwan minal mujrimin - dan demikian kami jadikan Bagi setiap Nabi - Nabi itu, ada musuh - musuh". Artinya bahwa merasakan bahwa kita memiliki musuh, merupakan tuntutan agama. 

Sekarang coba kita perhatikan, waktu TNI kita menempatkan pasukan Udaranya, membuat formasi pertahanan laut, formasi pertahanan darat, teori pertahanan negara. Darimana Teori itu di bangun?. Yaitu, dari asumsi tentang Musuhnya. Kira - kira siapa yang akan menjadi musuh dari negara tetangga. Kira - kira siapa yang akan menjadi musuh dari kejauhan, dan kalau mereka menyerang kita, kira - kira darimana mereka masuk menyerang kita. Serta, apakah akan terjadi perang dalam waktu dekat, dalam waktu 5 tahun kedepan atau 10 tahun kedepan. Jika pun terjadi perang, kita ini bermusuhan dengan siapa dan bersahabat dengan siapa. Semua itu adalah asumsi - asumsi dasar yang harus di jawab oleh negara saat ia membuat formasi pertahanan. 

Selama ini, yang Punya sense Of security dan Sense of enemy adalah aparatur negara yang bergerak di bidang pertahanan, yaitu polisi, TNI, BIN. Tetapi, kita sebagai ummat umumnya sudah lama kehilangan perasaan tentang Sense of security dan juga merasakan bahwa kita punya musuh. Makanya tetiba kita menjadi tegang secara bersama - sama ketika ada sekelompok orang diantara kita yang di tuduh makar. Seharusnya hal itu tidak membuat kita tegang, sebab sejak awal Al Qur'an telah menanamkan kesadaran bahwa kita punya musuh, dan kesadaran tersebut telah hilang dalam waktu yang lama. 

Bagaimana Al Qur'an berpesan tentang cara kita menghadapi Konspirasi?.

"Pertama", Al qur'an berpesan kepada kita yaitu memperbaiki sikap jiwa terhadap konspirasi. Cara pertama dari musuh kita untuk mengalahkan kita adalah cyborg - Perang Psikologis. Perang psikologis ini di lakukan kepada kita untuk membunuh semangat perlawanan di dalam diri kita. 

Kalau kita pernah membaca bagaimana Kehebatan pasukan Mossad di tahun 70 - 90 an. Salah satu diantaranya, bagaimana Ilmuan - ilmuan Muslim (Saintis dan Nuklir) mati satu persatu secara Gelap, di eropa maupun di Amerika. Mereka terus menerus memproduksi kehebatan Mossad, sehingga dalam diri kita muncul sebuah perasaan bahwa orang - orang Yahudi - Mossad, seolah - olah ala Kulli syain qodir - Bisa melakukan  apa saja. 

Kata Para ahli cinta, Salah satu cara memperbaharui cinta adalah membuat Konflik yang menghasilkan rekonsiliasi. Jadi, cinta setelah rekonsiliasi jauh lebih kuat ketimbang cinta yang tumbuh di awal. 

Kita kembali, mengapa sikap jiwa kita adalah Poin pertama yang harus di uraikan. Karena serangan pertama dari musuh kita, selalu akan mengarah kepada jiwa kita yaitu melumpuhkan resistensi, melumpuhkan pertahanan dengan cara menggambarkan musuh itu sedemikian hebatnya, sehingga kita percaya bahwa percuma saja kita melawan. 

Kalau kita perhatikan dalam sejarah perang vietnam dulu. Sepanjang tahun 80-an, Hollywod telah memproduksi 86 Filem perang tentang Vietnam. Dalam semua perang tersebut, AS menang. Padahal dalam kenyatannya, Amerika kalah. 

Makanya, Teror terhadap emosi dan jiwa kita adalah langkah pertama atau strategi pertama yang di lakukan oleh musuh sepanjang sejarah. Karena itulah, pelajaran pertama dari konteks ini yang diajarkan Al Qur'an adalah Sikap jiwa kita untuk menghilangkan rasa takut, " Inna ma dzalikum syyaitonu, yu khowwiqu aulia a hu, fa la takhofu hum wa khofu hu - Itu hanya kerjaan setan yang terus menerus menakut - nakuti kamu dengan pasukan - pasukannya, jangan takut kepada mereka, takutlah kepadaKu (Allah) ". 

Musuh boleh sebesar apapun, Konspirasi biar secanggih apapun. Tetapi, pada akhirnya tidak ada yang terjadi dalam kehidupan ini kecuali atas izin Allah SWT. Itu sebabnya kalau kita lihat, waktu kaum muslim di kepung dalam perang khandaq. Bagaimana cara Rosulullah SAW, mempertahankan semangat perlawanannya?. Bayangkan beliau tidak berbicara tentang musuhnya, beliau tidak membicarakan bagaimana cara kita menghadapi kaum Quraisy?. 

Nah, dengan cara begitu, sambil memecahkan batu besar, saat mereka sedang menggali parit.  Setiap kali satu pukulan, Rosulullah SAW mengatakan, " latub tahanna rum - Kita akan membebaskan Romawi". Di pukul lagi, Rosulullah Mengatakan, "Kita akan membebaskan Persi". Kita akan bebaskan Yaman. Satu persatu negara di sebut oleh Rosulullah SAW. Agar kaum Muslimin yang sedan terkepung, menghadapi musuh yang sangat luar biasa, memperluas imajinasinya, bahwa cerita ini tidak akan berakhir di sini. Masih Ada Cerita panjang yang akan di lewati. 

Artinya, kalau kita sedang Takut. Perbaiki imajinasi kita semua. Di situlah pentingnya kita punya imajinasi yang baik, sehingga ketika kita dalam keadaan tertekan, kita bisa keluar dari tekanan tersebut kepada harapan yang lebih luas, dan Dengan harapan yang luas itu merupakan satu bahagian - Satu serial dari drama Kolosal Panjang perjuangan kita atau peristiwa yang kita hadapi akan segera berlalu. 

"Kedua", Al Qur'an juga bercerita kepada kita tentang Konspirasi ini, selalu di dalam konteks Iman kepada Takdir dan Iman kepada Hari akhirat. 

Mengapa hal itu di hubungkan dengan Takdir?. Karena Allah SWT, menjelaskan kepada kita bahwa orang - orang Kafir itu, "innahum la yu'juzu - mereka tidak bisa membuat Allah tidak berdaya dan juga tidak akan pernah bisa mendahului Allah SWT". 

Selain itu, Allah juga memiliki terlalu banyak Instrumen yang bisa di pakai menghadapi manusia. Coba Perhatikan Saat Saudara - saudara Nabi Yusuf merancang Konspirasi, lihat bagaimana ketika mereka berdiskusi. Pendapat umum yang berkembang dalam majelis Konspirasi itu adalah "Ut'tulu yusufa au yukro uhum ardhon yahlu lakum wajha abikum - bunuh Yusuf dan buang dia". 

Andaikkan pendapat tersebut di eksekusi, maka cerita Nabi Yusuf selesai saat itu Juga. Tetapi, kenyatannya cerita Nabi Yusuf tidak selesai di situ. Karena ada satu diantara anggota majelis itu berkata, "qola to ilum minhum la taktuluhu wa alkuhu fi ghaya min jib - jangan bunuh Yusuf. Tapi, buanglah ke dalam sumur yang dalam. Nanti ada kafilah yang lewat, biarlah kafilah itu yang membawa Yusuf".

Akhirnya mereka sepakat dengan keputusan bahwa Nabi Yusuf tidak usah di bunuh dan hanya di buang ke sumur. 

Siapa pembuat majelis tersebut, sehingga tetiba menerima pendapat satu orang tersebut, yang tadinya tidak merupakan mainstream dalam majelis tersebut. Dalam Psikologi di sebut Mem-blowing. Allah mempermainkan pikiran mereka - siapa yang memberikan ide tersebut. Rasanya terlalu kejam membunuh saudara sendiri, maka buang saja ke sumur. Nanti ada orang yang lewat yang mengambilnya. Asalkan ia check out dari rumah. 

Artinya, yang memberikan ide tersebut adalah Allah. sebab, tidak sulit bagi Allah menciptakan pikiran dan tindakan kita. Karena Allah berkehendak dengan Instrumen tersebut. Maka, instrumen itulah yang kita pegangi. Satu perubahan kecil di ide kita, alur sejarah bisa berubah. Sama seperti seseorang yang memberikan saran agar membuang saja Yusuf ke Sumur, maka sejarah Nabi Yusuf tidak berakhir di situ. 

Sama dengan suatu waktu, ada kelompok elit yang hendak membasmi dan membangj kita semua. Sementara Allah ingin menolong kita, maka cara Allah pun terlalu mudah. Misalnya di berikan ide yang aneh - aneh saja, sama dengan kebalikannya. Jika Allah ingin membinasakan kita, dia tinggal memberikan ide yang aneh - aneh kepada orang lain untuk melakukan hal itu.   

Misalnya yang terjadi dalam Darun Nadwah - saat kaum elit Quraisy berkumpul, karena sudah tidak kuat mereka menghadapi Nabi Muhammad SAW. Maka, berkumpul-lah para elit quraisy dan di saat mereka berkumpul, tetiba iblis datang menyerupai manusia (Orang tersebut lain dari pada yang lain, tidak biasa terlihat disitu). Maka, kaum elit quraisy bertanya, kamu siapa?. "Syaikhun min najar - saya syeikh dari Najar". Akhirnya di perkenankan masuk dan ikut bermusyawarah. 

Setiap orang yang berpendapat yang ringan, di tolak oleh Iblis tersebut. Sampai Abu Jahal datang dengan Pendapat, bahwa Muhammad Harus di bunuh dan pelakunya harus di sebar dari setiap kabilah, sehingga kelak tebusannya di tanggung secara merata oleh setiap kabilah. Akhirnya, iblis yang menyerupai manusia tersebut berkata, nah ini pendapat yang paling betul. 

Hal itulah yang di maksud oleh Allah, ketika Allah mengatakan, "Wayam kuruna wayam kurullahu". Sayyid Qutub mengomentari ayat ini dengan mengatakan, " cobalah kita berimajinasi bahwa kaum elit quraisy itu sedang berkumpul di darun nadwah untuk merencanakan pembunuhan kepada Nabi Muhammad SAW dan Allah yang mengusai langit dan bumi menyaksikan semua proses tersebut. Lalu, Allah mengatakan, "Wayam kuruna Wayam Kurullah". Seolah - olah Allah mengatakan, wahai kaum Quraisy, Lakeko mae. Apa tong kalian semua. 

Bahkan, Allah membuat kisah tersebut sangat dramatis. Dia ambil keputusan di majelis tersebut. Tetapi, Allah membuat cerita tersebut putus - putus, tidak bersambung. Begitu elit quraisy mengepung Rumah Rosulullah SAW, di buat mereka mengantuk dan Nabi tidak keluar - keluar dari rumahnya, akhirnya mereka semua tertidur. 

Sebenarnya, Tidur itu adalah Alat - instrumen Allah SWT. Dengan hanya di buat tertidur, maka seluruh konspirasi pembunuhan kepada Rosulullah SAW, berantakan. 

Coba kita perhatikan, ngantuk yang sama di berikan kepada kaum muslim di perang Badar. Malamnya kaum muslimin sangat ngantuk, sehingga tertidur. pagi harinya kaum muslimin sangat segar. Sedangkan orang Quraisy, malamnya pesta pora, dengan harapan besok mereka akan menyembelih kaum muslimin. Akibatnya, Kaum Quraisy kalah di perang pedar. 

Baru satu instrumen yang di gunakan oleh Allah SWT, yang bernama Ngantuk. Hancur leburlah seluruh rencana dan konspirasi manusia. Bagaimana dengan yang lain?. 

Ihwal itulah, karena terlalu banyaknya instrumen yang dapat di gunakan oleh Allah SWT, makanya Allah mengatakan "Innallahu la yu' ju zun - mereka tidak akan bisa membuat Allah tidak berdaya". Jadi, santai saja. Ketika kita berhadapan dengan musuh kita, bukan malah musuh kita yang kita bayangkan. Tetapi, kita membayangkan Allah SWT. Allah yang menciptakan mereka, Allah SWT yang menentukan hidup dan matinya mereka, Allah yang mengatur semua peristiwa di alam raya ini. 

Kalau kita punya perasaan seperti itu.  maka, yang muncul di dalam diri kita adalah keberaniaan - assyaja'atul imaniyah (keberanian Iman). Bukan keberanian, karena kita merasa kuat. Melainkan keberanian, karena kita bersama Allah SWT.

Ketika Khalid bin walid ingin memimpin perang Yarmuk, orang - orang muslim ketakutan melihat pasukan yang begitu besar. Maka, khalid bin walid mengatakan, ini pasukan kalau di biarkan menunggu, tidak akan terjadi serangan. Karena pasukan kecil ini takut menyerang pasukan yang terlalu besar dan yang besar juga takut menyerang pasukan yang kecil, karena sekalipun pasukan kaum muslim kecil. Tetapi, tidak punya sejarah kalah. Artinya sama-sama takut. 

Lalu, khalid bin walid mengatakan, "kalau begitu kita yang serang duluan. Daripada kita sibuk menghitung jumlah musuh, lebih baik kita sibuk menyembelih musuh-musuh kita".  

Dulu, salah satu perang paling besar dan paling monumental dalam Sejerah Islam, yaitu perang malaskar. Dimana kaum muslimin berhadapan dengan pasukan salib, sebanyak 1 juta pasukan, dan pasukan kaum muslimin hanya sebanyak 27 ribu. Pasukan kaum muslimin ini di pimpin oleh Alp Arslan dalam sejarah Bani Seljuk. 

Sebelum pertempuran, Alp Arslan datang kepada para Ulama meminta nasehat. Ulama menasehatinya, "lawan. Tetapi, di giring pertempuran pada hari jum'at dan minta seluruh khotib jum'at berdoa untuk kemenangan kita jum'at itu". 

Alp Arslan sujud dan mengambil tanah untuk ia baluri ke wajahnya. Kemudia ia mengambil kain kafan, ia membaluri parfun di tubuhnya dan siap untuk syahid. Lalu, ia takbir dan bergerak. Akhirnya, kaum muslimin yang jumlahnya cuman 27 ribu bisa mengalahkan 1 juta pasukan salib. 

Hal yang sama juga terjadi pada perang Ain Jalut, saat Muzaffar Khusuz menghadapi pasukan Tartar, yang tidak punya sejarah di kalahkan. 

Artinya Al imanul qodr - iman kepada Takdir, itu adalah sumber keberanian kita. 

"Ketiga", yang di wasiatkan Qur'an kepada kita adalah hendaknya kita ini mempunyai apa yang di sebut dengan Fithu idharotil ma'roka - fiqih manajemen perang. Hal ini adalah Tsaqofah -ilmu yang harus di miliki kaum muslimin. 

Kalau kita baca sejarah Nabi - Nabi atau lebih spesifik pada sejarah Nabi Musa. Kita juga mungkin salah Tafsir, waktu orang datang memberi laporan kepada Nabi Musa, bahwa mereka sedang membuat konspirasi untuk membunuhmu dan Nabi Musa Lari meninggalkan mesir. Apakah Lari yang di maksud itu berarti Takut?. Tidak, sebab 10 tahun kemudian dia kembali lagi dan menghadapinya. 

Artinya, berlari dan menyerah adalah Salah satu Strategi, dan strategi seperti itu di sebut sebagai Manajemen Perang : Kapan kita menyerang, kapan kita mundur, dst. Fiqih inilah yang seharusnya di miliki kaum muslimin. Bahkan karena itu, ketika Nabi Musa Belari meninggalkan mesir, beliau mengatakan, "fafaror tu mingkum lamma khiftukum, wahawa habli robbi khukma  - maka aku berlari meninggalkan kalian, tatkala aku takut kepada kalian. Maka Allah memberikan kepadaku kekuasaan". 

Coba perhatiakan, ia berlari dari ancaman. Tetapi, di berikan kekuasan. Makanya salah seorang Ulama yang di kenal tajam dalam menafsirkan mimpi, Ibnu Siri mengatakan, "kalau kita mimpi di kejar - kejar Musuh, salah satu artinya adalah Allah akan memberikan kekuasaan kepada kita". 

"Ke-Empat", Al Qur'an ini berpesan kepada kita, agar kita punya manajemen strategi. Ketika kita menghadapi konspirasi tersebut, setelah selesai dengan sikap jiwa. Ketakutan telah kita hilangkan, sumber keberanian sudah kita miliki. Sekarang kita masuk ke sisi rasionalnya, yaitu Strategi - Taktik.

"Kelima", fiqhu mawadzi kua -  fiqih tentang perimbangan kekuatan. Ilmu ini, belakangan hanya di milik kaum intelejen dan tidak merupakan Tsaqofah amma - Wawasan umum Kaum muslimin. Padahal ini adalah ilmu yang seharusnya di miliki oleh kaum muslimin, yaitu Ilmu tentang perimbangan kekuatan. 

Kita mesti Tahu, bahwa para pelaku kejahatan yang melakukan kejahatan atau konspirasi di masyarkat, kita mesti tahu siapa saja mereka. Kekurangannya sebesar apa, orang - orangnya siapa saja, sumber dayanya dari mana, rencananya seperti apa?.

Ihwal itulah, Nabi Sholeh saat di utus di kaum Tsamud, "Wa kana til madinati  tis atun roftin yufsiduna fil ardhi wa la yuslihun - di kota itu, yang di huni oleh kaun Tsamud, terdapat 9 kelompok yang kerjanya hanya merusak dan tidak mau memperbaiki  ".

Dari situ kita bisa lihat bahwa Nabi Sholeh bisa mengetahui dengan baik siapa saja klan - klan tersebut dan apa kekuatannya. Karena menyebutkan angka 9 yang defenitif dan detail. Oleh zebab itu, Nabi Sholeh Tahu bagaimana cara menghadapinya. 

Salah satu masalah kita hari ini ialah kita tidak tahu peta di lapangan, maka kerap kali kita mengalami Salah baca - Miss reading. Semata - mata karena kita punya Iman yang kuat kepada Takdir, maka kita meremehkan semuanya. 

Makanya, Menurut Syaikh Muhammad Al Ghazali mengatakan, salah satu kesalahan terbesar kaum islamis ialah ia masuk ke dalam satu pertempuran dengan sangat Naif. Mereka mengorbarkan salam Jihad, siap tempur. Begitu memasuki peperangan, dia kaget karena musuhnya terlalu besar dan dia tidak bisa menghadapinya. 

Artinya, sekalipun Allah yang mengendalikan semua pertarungan ini. Tetapi, Allah juga menerangkan satu Kaidah kepada kita, bahwa kemenagan selalu lekat dengan Usaha manusia. Sehingga Logika Angka untuk mengukur kekuatan, kelemahan dan peluang kita dan musuh harus selalu ada. 

Dari situlah kita menggambungkan usaha maksimal kita dan pertolongan Allah. Inilah satu kombinasi yang unik, antara kekuatan Iman yang menjadi sumber Keberanian yang tidak ada habisnya dan pengetahuan yang detail tentang fakta lapangan atau Perimbangan Kenyataan yang akan kita hadapi. 

Jadi, kita berani, optimis, tidak takut. Tetapi pada waktu yang sama kita juga Cerdas, realistis dan akurat. Kombinasi inilah yang selama ini hilang. Ada orang yang pemberani tapi naif dan ada orang yang terlalu banyak tahu, tetapi menjadi penakut. 

Setalah itu baru kita memasuki poin ke -Enam yaitu, Fa idza Azamta Fatawakkal  alallahi - jika kamu sudah bertekad, tinggal bertawakkal kepada Allah. Kata para Ulama, makna Azima itu adalah tawakkal. Tawakkal itu adalah Sikap jiwa yang benar dan pengetahuan atau wawasan. 

Jika kita punya kelima hal ini, maka seharusnya kita punya alasan untuk bangkit dan melawan semua konspirasi yang sedang di hadapi. 


*Dakwah pinggiran

*Rst

*Nalar pinggiran




SEJARAH PERKADERAN DALAM HMI

HMI yang sudah memproklamirkan fungsinya sebagai organisasi kader, mau tidak mau menjadikan perkaderan sebagai jantung kehidupan organisasinya. Namun sebetulnya aspek  perkaderan di HMI mulai dibenahi secara serius pada akhir tahun 50-an dimana HMI sudah bertahun-tahun menjalankan peranannya, jadi perkaderan di HMI tidak lahir berbarengan dengan kelahiran HMI itu sendiri, melainkan lahir seiring proses waktu dan perubahan zaman.

Awalnya hal itu baru mulai terpikirkan oleh para kader HMI (PB HMI) ketika masa kepengurusan Ismail Hasan Metareum (periode 1957-1960), dan masih berupa wacana-wacana yang digulirkan oleh PB HMI sendiri. Ismail Hasan yang merupakan penggagas utama ide perkaderan formal di HMI menginginkan agar HMI tidak menjadi tempat berkumpul orang yang punya kesamaan hoby atau aktivitas saja, tapi menjadi second campus bagi para anggotanya. 

Selain itu, yang menjadi faktor penting pendorong gagasan diadakannya perkaderan formal di HMI adalah karena waktu itu Ismail Hasan melihat adanya perbedaan aliran pemikiran dalam dinamika pergerakan aktivitas HMI, dimana ada anggotanya yang punya background lingkungan pesantren dan ada juga yang cenderung sekuler (abangan).  Selain itu, dia juga melihat adanya perbedaan para anggotanya dilihat dari sisi lingkungan ormas yang membesarkannya semisal dari kalangan NU, Muhammadiyah, Persis, dan lainnya. Oleh karenanya, Ismail Hasan Metareum punya obsesi untuk bisa mengambil persamaan serta mengembangkannya dari para anggota HMI agar mampu menciptakan suatu sinergitas pemikiran dan gerakan hingga menjadi satu kesatuan dalam tubuh HMI yang diharapkan menjadi ciri khas dan karakteristik para kadernya.

Untuk mensinergikan itu, maka difasilitasilah berbagai forum pendidikan dan pelatihan untuk para kader HMI agar bisa mempersatukan visi dan mensinergiskan pemikiran kader HMI. Selain itu, diharapkan agar dengan forum seperti itu bisa menciptakan komunikasi antar kader yang berujung pada terwujudnya ukhuwah islamiyah sesama kader HMI. 

Dalam suatu kesempatan dia pernah menjelaskan secara detail maksud tujuan dan teknis pelaksanaan dari sistem perkaderan itu, dimana dia mengemukakan perlunya suatu sistem yang bertingkat dalam pelatihan sesuai dengan taraf kemampuan kader, dengan titik tekan (aksentuasinya) materinya pada masalah keorganisasian dan keislaman. Hal inilah yang menjadi dasar dan landasan awal dari sistem perkaderan HMI, karena sejak saat itu perkaderan menjadi trademark dikalangan kader HMI meskipun format yang idealnya belum terwujud.

Untuk lebih meningkatkan taraf kualitas perkaderan serta membuat suatu format perkaderan ideal yang cocok bagi HMI, maka PB HMI mengutus beberapa anggotanya untuk melakukan pengkajian dan studi banding mengenai masalah tersebut ke beberapa organisasi di luar negeri. Duta-duta HMI itu diantaranya Aisyah Amini, Mahbub Junaedi, Mahmud Yunus, dan Munir Kimin yang berangkat ke Aloka, India. Sedangkan Noersal dan Ibrahim Madilao ke Amerika sekaligus memanfaatkan Undangan Pemerintah AS. 

Selain ke luar negeri, PB HMI juga melakukan studi banding dan pengkajian secara teoitik dan empirik di dalam negeri. Hasil dari kunjungan dan kajian itu dicurahkan dalam suatu forum lokakarya yang diadakan PB HMI di Baros Sukabumi tahun 1959, khusus membicarakan format perkaderan HMI. 

Sejak peristiwa itulah HMI sudah mulai mempunyai suatu format baku dalam perkaderan, meskipun belum sempurna. Penyempurnaan hasil lokakarya pertama ini dilakukan pada masa kepengurusan Oman Komaruddin (periode 1960-1963) dengan mengadakan forum seminar dan lokakarya perkaderan kedua di Pekalongan tahun 1962. Hasil-hasil forum tersebut kemudian disempurnakan lagi dan disahkan menjadi format perkaderan baku yang mempunyai sistem perkaderan berjenjang pada kongres HMI ke VII tahun 1963 di Jakarta. Sejak saat itulah HMI menjadi organisasi pertama di Indonesia yang mempunyai sistem perkaderan formal yang baku, lengkap dan berjenjang.

Penyempurnaan terhadap format perkaderan terus dilakukan HMI sebagai bentuk konsistensi HMI akan fungsinya, dengan harapan semakin baik format perkaderannya, maka output-nya pun semakin berkualitas. Pada masa Sulastomo (periode 1963-1966) dan Nurcholis Madjid (periode 1966-1971)  sistem perkaderan ini tidak hanya sebagai bentuk formal penyaringan anggota dan peningkatan kualitas kader saja, melainkan diperluas lagi sebagai salah satu prasyarat yang harus dipenuhi para calon pengurus HMI dari PB sampai Komisariat.  Sehingga tidak sembarang kader yang bisa menjadi pengurus, tetapi harus melewati jenjang tertentu dalam perkaderan formal. Sejak zaman Cak Nur (1967) sampai tahun 1999 tercatat sudah beberapa kali sistem perkaderan mengalami pembaharuan diantaranya :

1. Tahun 1970 (zaman Cak Nur) di Pekalongan, sebagai upaya penyempurnaan dan rekomendasi kongres HMI ke IX di Malang, dimana keputusan pentingnya bahwa setiap yang namanya training di HMI harus mengacu pada buku format perkaderan yang sudah dibuat.

2. Tahun 1975 (zaman Ridwan Saidi) di Kaliurang Yogyakarta. Sistem perkaderan saat itu banyak dipengaruhi oleh munculnya gerakan pembaharuan keagamaan di Indonesia yang dipelopori Cak Nur, selain itu sedang hangatnya gerakan–gerakan Islam internasional terutama di kawasan Timur Tengah.

3. Tahun 1983 (zaman Harry Azhar Azis) di Surabaya. Pada masa ini banyak dipengaruhi oleh kondisi ketegangan antara umat Islam dengan pemerintah Orba, selain itu wacana developmentalisme yang dikembangkan Orba juga sedikit banyaknya mempengaruhi sisitem perkaderan HMI. Revolusi Islam Iran sedikit banyaknya mempengaruhi semangat dan antusiasme berislam dikalangan generasi muda Indonesia termasuk para kader HMI.

4. Tahun 1988 (zaman Saleh Khalid) di Cianjur dan Jakarta. Akibat terjadinya perubahan internal yang mendasar dalam tubuh HMI, salah satunya perubahan azas, maka dipandang perlu untuk merevisi sistem perkaderan HMI yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan zamannya. Selain itu gerakan depolitisasi mahasiswa di kampus oleh Orba dan berkembangnya logika modernisasi turut andil dalam mempengaruhi sistem perkaderan saat itu.

5. Tahun 1992 (zaman Ferry Mursidan). Sistem perkaderan, hanya mengalami sedikit perubahan dan saat itu dipengaruhi oleh membaiknya kondisi politik antara umat Islam dan Orba yang ditandai dengan munculnya ICMI. Namun itu hanya pada konteks Islam ibadah belum ke Islam politik. Selain itu jargon pembangunan di segala bidang menjadi isu sentral masa itu, sehingga sedikitnya mempengaruhi sistem perkaderan HMI. 

6. Tahun 1997 (zaman Taufik Hidayat) di Jakarta. Saat itu dipengaruhi oleh iklim politik Indonesia yang sudah mulai goyah akibat adanya akumulasi kekecewaan terhadap pemerintah Orba.

7. Tahun 2000 (zaman Fakhrudin) di Jakarta. Sejak HMI menggunakan kembali Islam sebagai azasnya (kongres XXII di Jambi), maka sudah pasti ada banyak perubahan yang terjadi di HMI. Pedoman perkaderan sebagai salah satu hal yang dijadikan landasan bagi aktifitas HMI, sudah barang tentu mengalami perubahan yang diakibatkan oleh perubahan azasnya. Pendorong utama lokakarya pada masa ini adalah mengantisipasi perubahan azas di HMI, sekaligus membuat rancangan strategis bagi HMI pasca perubahan azas dan dalam menghadapi perubahan zaman.

8. Tahun 2010 (zaman Arip Mustopa) di Depok. Dalam lokakarya yang diadakan di Graha Insan Cita (GIC) Depok ini menekankan kembali untuk mengadakan Training MAPERCA dengan beberapa materi yang disepakati oleh peserta, selain itu juga dalam rangka mensosialisasikan model training instruktur yang berjenjang untuk mengganti Training Senior Course (SC).


Perkaderan HMI Pasca Penerimaan Pancasila.

Perkaderan adalah salah satu kegiatan primer HMI, yang mana kegiatan itu meliputi segenap usaha kearah pembinaan manusia-manusia muslim (mahasiswa) Indonesia yang bertanggungjawab dan mampu berbuat sebanyak-banyaknya bagi kebaikan rakyat dan kemanusian. Perkaderan dilakukan dengan menggunakan metode-metode tertentu agar tercapai efisiensi dan efektifitas semaksimal mungkin. Karena perkaderan merupakan elan vitalnya organisasi, maka perkaderan menempati posisi yang sangat penting dalam setiap aktivitas HMI. Sebagai organisasi yang menghimpun anggota secara sukarela, posisi sistem perkaderan sangat menentukan. Melalui sistem perkaderan paling tidak diharapkan terbentuk; pertama, identifikasi anggota terhadap organisasi; kedua, berlangsung proses peningkatan kualitas anggota sebagaimana tuntutan idealitas organisasi.

Dalam sistem perkaderan hasil lokakarya tahun 1983 di Surabaya, materi-materi perkaderan lebih banyak didominasi oleh materi keislaman yang secara khusus sebagai bahan kajian, meliputi enam puluh persen dari keseluruhan materi latihan. Kecenderungan proses Islamisasi dalam proses perkaderan era 80-an ini dikarenakan mulai tumbuhnya semangat atau antusiasme dari para kader HMI dalam mengkaji, menelaah, serta menerapkan Islam secara kaffah dalam setiap aktivitas dan gerak organisasi. Kesadaran untuk lebih mengentalkan identitas keislaman dalam setiap gerak langkah organisasi, terutama dalam sistem perkaderan, mulai berkembang sejak terjadinya revolusi umat Islam di Iran. 

Revolusi Islam Iran yang notabene gerakannya dimotori oleh kaum terpelajar, yang dilandasi kesadaran dan keyakinan utuh bahwa Islam bisa menjadi solusi atas kemandegan dan krisis multi dimensi yang terjadi di Iran saat itu. Oleh karenanya generasi muda Islam Indonesia termasuk para kader HMI terstimulir untuk bisa lebih mengentalkan identitas keislaman dalam setiap aktivitas kesehariannya. Hal itu pulalah yang menjadi faktor pendorong kenapa sistem perkaderan HMI hasil lokakarya tahun 1983 didominasi oleh materi keislaman hingga mencapai enampuluh persen serta semangat aktualisasi nilai Islam dalam setiap gerak langkah HMI sangat kental.

Ada beberapa aspek dari proses perkaderan yang tampaknya cukup berpengaruh terhadap kecenderungan Islamisasi di HMI. Pertama, penajaman rumusan misi organisasi, dalam hal ini misi perkaderan yang diintegrasikan dengan semangat sistem pendidikan Islam. Dalam pedoman perkaderan tahun 1983 disebutkan bahwa sebagai organisasi mahasiswa yang berdasarkan Islam, HMI meletakan nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-sunah pada tempat utama dan berwibawa bagi sistem pendidikan kadernya. Secara erat ia terpadu dalam sistem pendidikan Islam yang menempatkan tujuh elemen dasar konsep-konsep, yaitu; konsep agama; konsep manusia; konsep masyarakat; konsep alam; konsep keadilan; konsep akhlak; dan konsep sekolah. Keseluruhan konsep itu merupakan kesatuan bangunan dasar dari sistem pendidikan Islam dimana sistem pendidikan kader HMI dibentuk dan dikembangkan. 

Kedua, materi perkaderan, yaitu pokok-pokok kajian yang diberikan selama anggota HMI mengikuti latihan-latihan kepemimpinan. Selain dominasi materi keislaman yang bersifat kajian khusus, juga materi yang sifatnya umum banyak diwarnai dengan penekanan pada nilai-nilai keislaman. HMI menjabarkan materi perkaderannya kedalam: materi Keislaman; ideologi; ke-HMI-an; keorganisasian; kekaryaan; kesekretariatan; kepemimpinan; sejarah Islam; filsafat ilmu; perguruan tinggi dan kemahasiswaan; stadium general; dan strategi taktik. Pada semua jenjang training diwajibkan adanya materi seperti: keislaman; ideologi; ke-HMI-an; perguruan tinggi dan kemahasiswaan; keorganisasian; dan sejarah Islam.

Sistem perkaderan di HMI mengalami beberapa perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Hal itu merupakan bentuk adaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi baik diinternal organisasi maupun kondisi sosial kultural diluar HMI. 

Berkaitan dengan perubahan azas HMI pada kongres ke-16 di Padang, maka sebagai antisipasi atas hal itu PB HMI mengadakan seminar dan lokakarya (saloka) perkaderan di Surabaya pada tanggal 9 – 14 April 1988. Hasil saloka ini diharapkan bisa menjadi pedoman sistem perkaderan bagi seluruh kader HMI pasca perubahan. Perbedaan yang paling pokok dalam pedoman sistem perkaderan 1988 dengan pedoman perkaderan yang lainnya adalah bahwa pedoman kali ini telah mempertimbangkan perubahan-perubahan internal HMI pada kongres ke-16 di Padang, dan juga telah berusaha mempertimbagkan iklim perguruan tinggi yang dalam satu dasawarsa ini mengalami perubahan. (PB HMI: 1992)

a.  Landasan Perkaderan

Seluruh proses perkaderan yang dilaksanakan oleh HMI diarahkan untuk bisa mewujudkan tujuan HMI. Dalam menentukan arah perkaderannya, HMI bertitik tolak pada beberapa landasan atau pijakan pokok sebagai acuan dasar dalam keseluruhan proses perkaderan. Dalam pedoman perkaderan ’83 terdapat enam hal yang dijadikan pijakan pokok / landasan bagi arah perkaderan HMI, yaitu; landasan idiil; konstitusional; strategis; kultural; dan landasan operasional.

Landasan idiil HMI adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mengingat HMI merupakan organisasi yang berdasarkan pada Islam, maka landasan ideal HMI dalam melakukan seluruh aktivitasnya, tak terkecuali dalam sistem perkaderannya, harus berdasarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. AD/ART  HMI merupakan landasan konstitusional perkaderan HMI, karena didalamnya terdapat aturan-aturan konstitusi yang mengatur tentang keharusan adanya perkaderan dan arah perkaderan (pasal 5 AD), peserta perkaderan (Pasal 8 AD), pengelolaan perkaderan (Pasal 3 AD) kualifikasi anggota (Pasal 1 s.d. 4 ART), prosedur menjadi anggota (Pasal 5 ART), hak dan kewajiban anggota (Pasal 6 dan 7 ART).

Dalam landasan strategis dijelaskan bahwa perkaderan HMI berpijak pada tujuan perkaderan itu sendiri, dimana ada dua dimensi didalam mewujudkannya. Dimensi perkaderan sebagai upaya menciptakan insan HMI, dan dimensi perjuangan sebagai tekad juang pendayagunaan potensi kekaderan dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.  Landasan kultural perkaderan  didasarkan pada kenyataan masarakat Indonesia yang heterogen. HMI memandang bahwa kebhinekaan dalam budaya, nilai, suku, adat-istiadat, dan agama adalah merupakan kesatuan utuh dari budaya bangsa itu sendiri. Maka HMI dalam perkaderannya melandaskan pijakannya pada landasan budaya bangsa dan kbhinekaan budaya anggotanya, karena disadari bahwa para kader HMI berangkat dari latarbelakang budaya yang berbeda sehingga pedoman perkaderan harus mampu adaptif terhadap kenyataan yang ada. Sedangkan yang dijadikan landasan oprasional perkaderan adalah program kerja nasional (PKN) serta pedoman perkaderan HMI.

Berbeda dengan pedoman perkaderan ’83, dalam pedoman perkaderan ’88 hasil perubahan dalam saloka, maka yang dijadikan landasan / pijakan pokok dari arah perkaderan HMI terbagi dalam empat landasan, yaitu; landasan Nilai; historis; konstitusi; dan landasan tuntutan perjuangan bangsa. 

Pertama landasan nilai. Pada dasarnya landasan nilai sama dengan landasan idiil dalam pedoman perkaderan ’83, hanya perubahan istilah saja, sebab meskipun telah terjadi perubahan azas HMI dari Islam menjadi Pancasila namun HMI tetap menjadikan Islam sebagai landasan juangnya. Hal itu diperkuat dalam konstitusi dimana disebutkan bahwa HMI menghimpun mahasiswa yang beridentitaskan Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah (pasal 3 AD).

Kedua landasan historis, dalam rangka mewujudkan cita-cita historis perjuangan HMI ke masa depan, HMI kemudian mempertegas posisinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi melaksanakan tanggungjawabnya bersama seluruh rakyat Indonesia mewujudkan tercapainya cita-cita nasional. Melihat komitmen HMI pada wawasan sosiologis dan historis berdirinya pada tahun 1947, yang juga telah dibuktikan dalam sejarah perkembangannya, maka pada hakikatnya segala bentuk pembinaan kader HMI harus pula tetap diarahkan dalam rangka pembentukan pribadi kader yang sadar akan keberadaannya sebagai pribadi muslim, khalifah fil ardhi, dan pada saat yang sama kader tersebut harus menyadari pula keberadaannya sebagai kader bangsa Indonesia yang memikul tanggungjawab mewujudkan cita-cita bangsa ke masa depan.

Ketiga landasan konstitusi, dalam AD/ART  ditegaskan bahwa HMI memiliki fungsi sebagai organisasi kader (pasal 9 AD) serta berperan sebagai sumber insani pembangunan (pasal 10 AD),  statusnya sebagai organisasi kemahasiswaan (pasal 8 AD) yang bersifat independen (pasal 7 AD). Dalam seluruh proses perkaderan HMI senantiasa berlandaskan pada identitas (pasal 3 AD) dan azas (pasal 4 AD), hal ini mencerminkn bahwa dalam dinamikanya senantiasa mengemban tugas, tanggungjawab dan semangat yang integralistik antara keislaman dan keIndonesiaan. 

Keempat landasan tuntutan perjuangan bangsa. HMI sebagai organisasi mahasiswa yang merupakan bagian integral bangsa Indonesia yang berperanan sebagai sumber insani Pembangunan, dituntut membentuk kader-kader nasional yang memiliki integritas pribadi muslim, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kualitas intelektual serta mampu melakukan kerja-kerja profesional ut merealisir cita-cita pergerakan kemerdekaan kebangsaan Indonesia.

Perubahan terhadap sistem perkaderan terjadi lagi pada tahun 1997 dimana perubahan ini didasarkan atas hasil lokakarya perkaderan pada bulan Mei tahun 1997 di Jakarta dan disahkan pada kongres HMI ke XXI di Yogyakarta pada Agustus 1997. Dalam pedoman perkaderan ‘97, tidak banyak mengalami perubahan dalam hal landasan yang digunakan dalam sistem perkaderannya. Perbedaan yang ada hanya dalam beberapa hal, diantaranya munculnya satu landasan baru yang dijadikan acuan yaitu landasan sosio kultural bangsa Indonesia. Pedoman perkaderan HMI 97 memperlihatkan satu kecenderungan dimana HMI memperlihatkan sikapnya terhadap diskursus perjuangan Islam Indonesia yang sedang mengemuka pada saat itu, yaitu tentang pola gerakan apa yang harus dilakukan umat Islam dalam mengangkat derajat umat serta memperjuangkan Islam di Indonesia. Diskursus yang cukup menarik pada era itu adalah apakah umat Islam harus mengambil jalan Islam struktural atau Islam kultural, untuk memperjuangkan Islam di Indonesia. 

HMI mengambil sikap yang cukup bertolak belakang dengan gerakannya selama ini yang sering dianggap sebagai organisasi yang berjuang dijalur struktural. Hal ini bisa dilihat dalam landasan sosio-kultural yang dijadikan landasan dalam pedoman perkaderannya. Dalam landasan ini dikemukakan bahwa sejarah perkembangan Islam di Indonesia membuktikan bahwa Islam kultural merupakan cara yang paling efektif dalam memperjuangkan Islam sejak Islam datang ke Indonesia. Maka HMI cenderung bersikap bahwa Islam kultural tetap harus dilakukan, meskipun gerakan Islam struktural pun tidak boleh ditinggalkan. Oleh karena itu dalam landasan sosio-kulturalnya secara tegas dikemukakan bahwa Islam kultural masih cukup efektif dalam memperjuangkan Islam, terutama dalam era globalisasi dimana arus informasi serta pengaruh budaya luar semakin deras masuk ke Indonesia.

Membandingkan tiga sistem/pedoman perkaderan HMI yang pernah dijalankan HMI sejak awal tahun 80-an sampai akhir 90-an, khususnya dalam hal landasan / acuan yang dipakai dalam menjalankan sistem perkaderannya, bisa dilihat adanya sikap yang berusaha adaptif dengan perkembangan kondisi sosial politik serta kultur bangsa Indonesia. Pedoman perkaderan ‘83 yang digunakan HMI sebelum perubahan azas, memperlihatkan satu sikap yang tegas dalam memandang. Islam sebagai way of life, baik secara individu kadernya maupun aktivitas organisasi. Bahkan secara tekstual dicantumkan dalam landasan idiil perkaderannya ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang dijadikan landasan gerak perkaderan. Berbeda dengan pedoman perkaderan ‘88, dimana HMI sudah berubah azasnya menjadi pancasila memperlihatkan satu sikap untuk bisa lebih kooperatif dengan penguasa. Hal ini bisa dilihat dari munculnya landasan tuntutan perjuangan bangsa sebagai satu bentuk pembenaran akan pilihan yang telah diambil HMI dalam kongresnya. Disini HMI memaparkan bahwa perjuangan Islam oleh HMI senantiasa harus sinergis dengan perjuangan bangsa Indonesia sebab pada dasarnya kelahiran HMI sebagai suatu gerakan yang berusaha ikut serta dalam perjuangan Indonesia.

Sedangkan pada pedoman perkaderan ‘97 memperlihatkan bagaimana HMI berusaha merespon perkembangan sosial kultural dan politik di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dalam landasan tuntutan perjuangan bangsa yang memaparkan tentang sikap HMI dalam merespon proses pembangunan di Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah waktu itu. HMI berupaya agar para kadernya mampu terlibat secara aktif dalam proses pembangunan yang digalakkan pemerintah dengan mencoba mendekatkan realitas sosial masyarakat Indonesia dalam setiap aktivitas perkaderannya. Selain itu HMI berharap agar kadernya bisa menjadi problem solver ditengah-tengah masyarakat Indonesia yang sedang mengalami masa transisi akibat proses pembangunan dan globalisasi. Selain itu, gerakan kultural Islam Indonesia dijadikan satu acuan bagi gerakan HMI dalam menjawab tantangan globalisasi dan modernisasi yang terjadi di Indonesia.

b. Pola Dasar Perkaderan

Semua bentuk aktifitas perkaderan di HMI menggunakan pendekatan sistematik yang disusun dengan semangat integralistik guna tercapainya tujuan organisasi. Pola dasar perkaderan HMI dibuat secara nasional, dimana aspek konsepsional dan praktis diterapkan secara menyeluruh oleh setiap cabang HMI di seluruh Indonesia dalam menjalankan aktifitas perkaderannya. Seluruh aktifitas perkaderan dari sejak rekruitmen sampai follow up pasca perkaderan telah dibakukan secara nasional, sehingga seluruh cabang mempunyai pegangan dan acuan yang sama dalam melakukan aktifitas perkaderan. Meskipun begitu, setiap cabang diberikan keleluasaan untuk melakukan inovasi dari pedoman perkaderan nasional dalam menerapkannya di cabangnya masing-masing. Hal ini sejalan dengan asumsi bahwa setiap cabang mempunyai karakteristik serta problematikannya sendiri dalam menjalankan aktifitas perkaderan.

Pola dasar perkaderan secara umum dapat dibuat dalam dua kategori, aspek konsepsional dan aspek praktis. Aspek konsepsional berkaitan dengan tujuan pembentukan kader yang diharapkan HMI, pemahaman bentuk perkaderan HMI, kriteria kualitas calon kader HMI, dan metode perkaderan yang diterapkan HMI. Sedangkan aspek praktis berkenaan dengan kurikulum yang diterapkan dalam setiap perkaderan. Dari aspek konsepsional, secara garis besar tidak banyak mengalami perubahan yang signifikan, baik ketika HMI masih menggunakan Islam sebagai azasnya maupun setelah berubah. Maka dalam pembahasan pada sub bab ini akan lebih dititikberatkan pada aspek praktis yaitu kurikilum yang dibuat dan diterapkan HMI, karena mengalami perubahan yang cukup signifikan.

Pada pedoman perkaderan tahun 1975 dan 1983, kurikulum yang dibuat berisikan beberapa materi yang lebih menitik beratkan pada aspek keagamaan. Materi-materi keagamaan mendapat porsi yang cukup banyak sekitar 60% dari seluruh materi dalam kurikulum nasional. Materi ini berupa; materi keislaman, materi ideologi, dan sejarah Islam. Materi keIslaman dibuat dalam beberapa sub materi seperti masalah akidah, akhlak dan fiqh kontemporer. Sedangkan dalam materi ideologi menitikberatkan pada komparasi ideologi yang berlandaskan pada agama dan ideologi sekuler. Materi sejarah Islam dibuat dalam dua sub materi, yaitu sejarah perkembangan Islam di dunia dan sejarah Islam Indonesia. Materi selain keagamaan yang porsinya sekitar 40% lebih menitikberatkan pada pengetahuan ke-HMI-an, keorganisasian dan wacana umum. Materinya antara lain; ke-HMI-an, keorganisasian, kesekretariatan, kepemimpinan, kekaryaan, filasaft ilmu, perguruan tinggi dan kemahasiswaan, serta stadium general. Seluruh materi dalam kurikulum nasinal ini diterapkan dalam semua jenjang perkaderan HMI.

Perubahan signifikan dalam pedoman perkaderan sejak HMI merubah azasnya bisa dilihat pada pedoman perkaderan tahun 1988, yaitu munculnya beberapa materi yang disesuaikan dengan kondisi yang ada baik diinternal maupun eksternal HMI. Secara internal, dinamika dalam tubuh HMI yang sedang mengarah pada keretakan akibat adanya penolakan terhadap keputusan hasil kongres, membuat HMI harus bisa mengakomodir serta menjawab permasalahan yang sedang dihadapinya. Sedang secara eksternal dimana kondisi sosial politik yang kurang menguntungkan bagi HMI akibat hegemoni penguasa membuat HMI harus bisa kooperatif serta adaptif dengan situasi tersebut. untuk mengatasi masalah yang dihadapinya tersebut maka muncullah materi baru yang antara lain adalah materi Nilai Identitas Kader (NIK) dan materi keutuhan Islam, Pancasila dan UUD ’45.

Pertama Materi NIK, sebetulnya secara inhern telah ada pada pedoman perkaderan sebelumnya, dimana materi ini masuk sebagai sub materi keislaman. NIK sebelum perubahan azas bernama Nilai Dasar Perjuangan (NDP), namun seiring perubahan azas maka namanya pun berubah tapi isinya tidak berubah. Materi NIK muncul sebagai sebuah materi utuh dikarenakan adanya keinginan agar nilai-nilai keIslaman bisa lebih dipahami secara inklusif oleh para kader HMI. 

Kedua materi Keutuhan Islam, Pancasila dan UUD ’45. Materi ini muncul pasca HMI merubah azasnya menjadi Pancasila. Menurut Anas Urbaningrum,  dibuatnya materi ini oleh HMI pada waktu itu merupakan sebuah bentuk sifat akomodatif HMI terhadap perkembangan yang ada. Diskursus tentang Islam dan Pancasila begitu ramai dibicarakan dimana-mana, oleh karenanya HMI mencoba memposisikan diskursus itu dalam sebuah bingkai akademis. Hal ini dimaksudkan agar daya analitis kritis para kader dalam menghadapi kondisi di internal dan eksternal HMI pasca lahirnya UU keormasan dapat dijawab secara rasional bukannya emosional. 

Sedangkan menurut Undang Hidayat,  materi ini muncul dalam pedoman perkaderan telah membuktikan bahwa tekanan eksternal yang begitu kuat terhadap eksistensi HMI menyebabkan HMI berupaya membuktikan bahwa HMI tidak anti Pancasila, namun HMI justru mencoba mengintegralistikan tiga komponen yang ada, yaitu Islam, Pancasila dan UUD ’45, dalam setiap aktifitasnya. Keinginan untuk membuktikan itulah yang menyeret HMI memuculkan materi tersebut, meskipun HMI mencoba membedahnya secara analitis kritis.

Pada pedoman perkaderan HMI tahun 1997, kembali mengalami beberapa perubahan dalam pola dasar perkaderannya. Perubahan ini terjadi sebagai suatu upaya HMI untuk bisa merespon serta menjawab situasi dan kondisi perkembangan zaman. Materi tentang keutuhan Islam, Pancasila, dan UUD ’45 dihilangkan dalam kurikulum nasional dan diganti dengan materi Islam dan pluralitas bangsa. Juga munculnya beberapa materi baru diantaranya; wawasan IPTEK dan pembangunan nasional, HMI-wati dan dinamika gerakan perempuan, pengantar ideologi, politik dan strategi taktik. Munculnya materi Islam dan pluralitas bangsa  menurut Agus Salimsitompul,  sebagai jawaban atas perubahan arah kebijakan pemerintah orba yang sudah lebih akomodatif dengan kelompok Islam. Selain itu, masalah pluralitas bangsa diyakini HMI sebagai kenyataan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat di Indonesia, namun hal itu justru harus dijadikan sebagai modal bagi proses pembangunan masyarakat Indonesia. Untuk itu HMI mencoba secara lebih akademis membahasnya dalam sebuah materi perkaderan agar para kader HMI tidak terjebak pada primordialisme yang bertentangan dengan sifat independensi HMI.

Pendapat lain mengenai perubahan materi ini dikemukakan oleh Anas Urbaningrum, bahwa hal ini bukan suatu spontanitas dari HMI menyikapi kondisi pada saat, melainkan suatu proses yang cukup panjang dimana eksistensi HMI sejak awal tahun 90-an dalam pola gerakannya sudah jauh berbeda dengan era ‘80-an. Perubahan arah kebijakan pemerintah orba memang sedikit berpengaruh pada masalah ini, namun materi ini muncul justru karena HMI sudah lama memandang bahwa pada era ‘80 pemerintah orba seolah-olah menafikan adanya pluralitas ditengah masyarakat dengan berbagai upaya pengintegralan berbagai hal sebagai cara untuk persatuan kesatuan masyarakat Indonesia. Oleh karenanya HMI ingin memberikan perspektif baru terutama bagi para kadernya– bahwa pluralitas itu sebagai kenyataan yang mesti ada dan dijadikan modal.

Sedangkan munculnya materi wawasan IPTEK dan pembangunan nasional, merupakan bentuk respon HMI dengan perkembangan kekinian yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Peran HMI seperti yang dinyatakan dalam anggaran dasarnya sebagai sumber insani pembangunan (pasal 10 AD)  dituntut secara moral untuk ikut serta secara aktif dalam  setiap  proses  pembangunan  yang  telah  dicanangkan  pemerintah. HMI memandang bahwa partisipasi dalam pembangunan harus tetap dilandasi oleh pemikiran rasional dan kritis serta memperlihatkan keberpihakan pada kesejahteraan dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, konsepsi pembangunan tentang pembangunan harus dikaji secara akademik agar seluruh proses pembangunan yang dijalankan tidak lantas mengorbankan hak-hak serta rasa keadilan masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan HMI untuk mengantisipasi hal tersebut adalah berupaya menciptakan kualitas kader HMI yang punya kemampuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi agar kader HMI bisa berpartisipasi secara aktif ditengah-tengah masyarakat.

Secara umum dalam bebeberapa pedoman perkaderan HMI yang mengalami perubahan-perubahan sejak tahun 1988, khususnya dalam pola dasar perkaderannya, memberikan gambaran yang cukup jelas bagaimana sikap HMI kaitannya dengan kebijakan-kebijakan pemerintah orde baru dalam menjalankan roda pemerintahannya. HMI yang sejak tahun 1986 merubah azasnya dengan Pancasila, berupaya untuk bisa beradaptasi dengan berbagai arah kebijakan orba, agar dalam setiap aktivitas keorganisasian tidak mengalami kendala secara struktural dari pemerintah yang berkuasa. 

Selain itu, perubahan dalam pola dasar perkaderan ini menunjukan bahwa HMI berupaya untuk bisa merespon perkembangan zaman agar para kader HMI mempunyai bekal yang cukup ketika berkiprah di masyarakat nanti. Sedangkan dari segi efek perubahan pedoman perkaderan yang terjadi dalam tubuh HMI sejak terjadinya perubahan azas menurut Anas Urbaningrum, tidaklah terlalu significant mempengaruhi pemikiran keislaman HMI, sebab meskipun terjadi perubahan dalam pola dasar perkaderan HMI bukan berarti menghilangkan sebagian besar kajian keislaman. Munculnya materi seperti Keutuhan Islam, Pancasila, dan UUD ’45, tidak lantas menjadikan kader HMI luntur ghirah keislamannya. Justru kehadiran materi tersebut membawa efek positif bagi para kader HMI karena membiasakan untuk memahami Islam secara multi perspektif.

Demikianlah sekilas pandang sejarah perkaderan dalam HMI, yang pada bagian selanjutnya akan lebih difokuskan pada beberapa perubahan yang terjadi pada periode 2008-2010 (masa Arif mustopa) dan periode 2013-2015 (masa Arif Rosyid).


*Yakusa

*Botlem 39

*Rst