Bertambah, tetapi tidak menjadi banyak. Sebab, Waktu kerap menguranginya. Maka, terimalah dengan segenap rela.
Mei itu seperti Banteng Taurus. Gigih dan Keras kepala. Tetapi, Tak ada elan Juang seperti Mei.
Mei itu layaknya Florentino Ariza dalam Love in time of Cholera-nya Gabriel Garcia Marques.
Makanya, Semua Yang di semai, Tumbuh dan mekar Di Bulai Mei, adalah Dia yang tak mudah putus asa dan tak gampang patah arang.
Tidak ada pesta perayaan. Tidak ada nyanyi-Nyanyian. Tidak ada hadiah apalagi kejutan. Tak ada Tiup lilin dengan segala Make a Wish seperti kebanyakan orang, yang menyembulkan segala rupa keinginan dan harapan di atas kue tar berlapis cokelat, sambil bernyanyi happy birthday Atau sambil bertepuk tangan dan di hadapanmu bertumpuk-tumpuk hadiah.
Tak ada semua itu. Sebab, bagi Intelektual. Usia itu akan usai, hanya sebagai angka-angka saja, jika di perjalanannya tak kita beri penanda. Penanda Terbaik adalah Kebajikan. Sedang Kebajikan tak hanya di daraskan di mimbar Masjid. Pertautan perkawanan melebihi persaudaraan itu pelampauan yang berjejak. Kamu pasti paham itu, dek.
Iya, hari Ini. Pada hari ini Tuhan memberi sinyal tentang bertambahnya usia, sekaligus berkurangnya Jatah Hidup. Jatah hidup sebagai hamba, sebagai Khalifah. Syukurilah alakadarnya. Karena, waktu tak akan pernah berhenti melaju. Hari - Hari pun tak pernah bisa diajak berkompromi, ia akan meninggalkan catatan kenangan yang tak mungkin hilang.
Waktu terus mengejar, membuat detak jantung tak ada jeda. Hidup tak akan pernah berhenti, begitu terus menerus hingga berakhir malakut. Sejatinya bertambahnya usia, gugur lagi selembar waktu. Itulah sebabnya, begitu banyak doa di panjatakan pada lilin harapan yang menyala-nyala namun mengerucut.
Belajarlah lebih banyak untuk mematang dengan tak tergesa-gesa. Sebab, "Guru sesungguhnya adalah jembatan Tuhan untuk mengajarimu hidup". Quote ini saya kutip dari Rabindranath Tagore. Seorang berdarah brahmana Bengali. Filsuf cum penyair.
Dan saya mengaminkannya dengan sungguh. Meletakkan diri sepanjang hayat sebagai murid pada siapa saja yang telah meletakkan pahaman di kepala saya. Nasehat ini saya Turut kirimkan padaMu, dek.
Berbilang Tahun saya mengenalnya. Entah Trauma apa yang pernah mengitarinya, sehingga ia menjadi pengangum Stoik dan Mungkin saja menjadi Penganut Stoikisme garis Malu - malu. waktuMu hampir habis mengejar cita - cita, Dari Kursus Bahasa China, Melanjutkan Studi, Keinginan Bekerja di Australia dan Jepang. Entah, masa depan apa yang sedang Ia sulam. Satu Lagi, Satu - satunya Perempuan Di HMI Kom Fisip yang Jenjang Perkaderan Formal dan Strukturnya Belum ada yang menyamaiNya.
Selain itu, hal penting sebenarnya yang mungkin belum banyak yang tahu bahwa Di HMI, Dia salah satunya orang yang menerima resiko buruk karena label 'ade'na RST' 🤣.
Tetapi apapun itu, Saya selalu menyukai totalitas, Pada sisi mana pun itu, karena itu adalah tangga yang nyata pada realitas di masa depan. Adiks ini bagi saya adalah shogun. Sebuah mental baja dari masa lalu. Total pada pengharapan, bahkan ketika harus sampai pada realtas yang getir (Kerinduan Purba Pada Sosok ayah) 😔.
Tentu berat. Tapi sekali lagi, totalitas tak mengenal terma itu.
Jika kelak dirimu berumah di masa depan dengan bercahaya ndik, itu adalah kepantasan yang sah saja. Kepantasan dari jalan juang yang tak sesederhana yang orang bayangkan.
Saya tidak Punya banyak Junior yang menjadi adik, dengan daya canda, tukang membantah, Patoa-toai, Koro-korang, Suka Ngegass. Tetapi, Pekerja Keras dan Pantang surut seperti anak ini. Berkali-kali saya dibikin pusing oleh teleponnya dilarut malam, karena Kosnya Tertutup dan Ia Lupa Bawa kunci : "Kakkkk eeee Ta tutup Koskuu, lupaka bawaka Kunci. Baru 1 % mami Hpku".
Tetapi, apapun itu. Semua Orang akan Berubah. Yaah, Sunnahtulah Hidup memang meniscayakan Kita untuk terus melangkah. Walau kita di olok - olok oleh Sepi.
Makanya, sisakan Cadangan Kuda - kuda batin untuk semua kemungkinan dalam hidup. Sebab, Semua perjalanan punya Jeda. Punya batas. Seperti Batas Malam saat Fajar Shodiq mengintip di bibir subuh, yang meninggalkan lembayung Jingga. Atau Saat Senja memberangkatkan diri untuk di jemput malam, yang menyisakan enigma.
Waktu memang paling gesit jika diajak berlari. Ia tak mungkin berhenti hanya karena air mata dan jeritanmu. Tak perduli dengan seberapa banyak kenanganmu.
Waktu tak bisa kalah. tapi, ia bisa diajak berkawan sebab kita tak boleh merugi dalam setiap bunyi detik dan tak boleh di bodohi - di jadikan objek eksploitasi dalam setiap menitnya.
Sebenarnya, ada begitu banyak orang yang cemas. Termasuk saya. ketika Jejaring Teknologi Informasi super Canggih seperti FB, WA, IG, Tiktok Collaps dan menutup seluruh aksesnya?.
Tentu, Orang-orang tak akan lagi bisa setiap saat mensyukuri Maha Indah-Nya ciptaan Tuhan di memukaunya senyum kecutmu, Dek.
Tuhan menitip keteduhan dan rasa perkawanan yang gurih di senyummu itu. Di situ juga Alasan banyak orang merindukanMu setiap saat.
Dan tak itu saja, dirimu sangat paham bagaimana merawat perkawanan. Alasan utama untuk menghatur doa di hari miladmu ini.
Ndik, Ini Seninmu. Senin yang bersajak tentangmu, dalam sublim kata-kata. Doa sudah banyak. Pengharapan pun buncah. Semua baik.
Namun, Doa baik senantiasa dirapalkan dan didaraskan dengan khusyu'. Sampai ke arasy. Saya turut di situ. Dengan aamiin yang tak berkesudahan.
Barakallahu Fi Umrik NdikKu..
- DI TULIS SAAT PERJALANAN BALIK DARI MEJAMAH MULUT TUHAN -
*Rst
*Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar