Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Senin, 03 Mei 2021

--KAPAN SAJA LAYLATUL QODR--




Berdasarkan Asbabun Nuzul Q. S. al-Qodr, pada Soal lailatul Qord. Saya kemukakan sedikit, sependek pengetahuanku. 

Suatu ketika Nabi bercerita tentang orang yang ibadahnya banyak sekali, kurang lebih 83 tahun. ia melakukan ibadah dan tidak pernah melakukan kemaksiatan walaupun sekedip mata " laa yaksunallahu kafarata alaihim". Malamnya qiyamul lail, siangnya jihad fi sabilillah.

Mendengar cerita itu, maka sahabat Nabi pun bersedih, karena selain umur ummat Nabi, banyak yang tidak sampai 83 tahun untuk beribadah.  Selain karena terlalu banyak aktivitas lainnya. mereka juga memeluk  Islam di kisaran usia 30 sampai 40 tahun. 

sedangkan kisah ini di sebutkan dalam muqoddimah Q.S. Al-Qodr, Tafsir Ibnu Katsir : Maka, turunlah mailakat jibril membawakan surat tersebut, dan salah satu ayatnya menjelaskan tentang kemuliaaan 1000 bulan. Persis seperti yang disedihkan sahabat Nabi Muhammad SAW, bahwa amalan kami tidak cukup, sementara usia kami pendek-pendek. Makanya, Allah memberikan reward. Jika orang Mukmin beribadah pada malam tersebut, niscaya pahalanya sama dengan pahala 1000 bulan. 

Sekarang kita coba kembangkan, sebab menurutku, ada yang salah dari cara berpikir kita, perihal Lailatul Qodr. Setiap tahun, kita menantikan Kemuliaan malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Bayangkan 14 abad Islam Hidup, kita masih menunggu lailatul qodr?.

Menurutku, beginilah akibatnya, jika Islam tidak di pahami sebagai sastra. Islam hanya di pahami sebagai matematika. Padahal tidak ada berita atau informasi yang menunjukkan, bahwa "ada Lailatul qodr turun".  Al-Qur'an hanya memberikan informasi, bahwa Yang di turunkan pada lailatul qodr adalah Al-Qur'an. 

Baca ayatnya, "Innal andzalna hu fi hi lailatul qodr (sesungguhnya aku telah mendatangkan-Nya pada lailatul qodr). "Nya" yang di maksud pada ayat tersebut adalah "Al-Qur'an". Pertanyaannya adalah Bukankah Al-Qur'an Telah turun. Lantas, yang kita tunggu dan nantikan Turun di 10 Ramadhan yang akhir ini apa?. 

Padahal, jika saja kita mau menggunakan Loncatan berpikir secara sastrawi, sebagaimana Qur'an yang Isinya penuh dengan majas-majas yang sangat sastrawi, sederhana menelaah Maksud lailatul qodr, pada Q. S. Al-qodr: 

sependek pengetahuanku, kapan saja kita memetik Puisi dalam Al-qur'an dan memasukannya kedalam hati kita, lantas membuat kita takjub pada Allah dan Semua ciptannya, serta nikmat dan rahmatnya. Maka, kita berada pada Lailatul qodr. Hanya saja, cara berpikir kita masih terlalu matrealistik bin kapitalistik.

Misalnya, ketika kita membicarakan surga atau neraka, yang kita bayangkan adalah fisik, Jazad dan materialnya. Sama dengan ketika kita bicara Pahala, yang kita bayangkan adalah Tambahan Cuan, tambahan emas. Bahkan ketika kita bershodaqoh, yang kita pikirkan adalah akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Ini corak berpikir matrelistik bin kapitalistik. Mau mengajak Allah, hitungan-hitungan, kasarnya. 

Persis seperti, ketika kita bicara Lailatul qodr di 10 malam Terakhir Ramadhan, yang kita bayangkan adalah keutungan pahala berlipat-lipat, sebagaimana ibadahnya seorang Bani isroil selama 83 tahun, tanpa pernah berbuat dosa. Tidak apa-apa juga sebenarnya, jika kita berpikir Matrealistik bin kapitalistik. Tetapi, menurutku, kita akan rugi. 

Kita kerucutkan, lailatul Qodr ; Lail berarti malam, sedangkan Qodr berarti sempit. Secara sederhana kita bisa mengartikan bahwa lailatul Qodr adalah Malam yang sempit. Bisa juga di artikan sebagai "Lailatul Qoram,  Malam yang mulia. Lailatul qodr adalah malam yang di sempitkan waktunya, sebagaimana Di sebutkan "Wa mang qudiro alaihi rizzkuhu", kata qudiro berarti di sempitkan.

Ulama kita mengartikan lailatul qodr ini sebagai malam yang telah di tentukan. Malam yang sudah di Kadarkan. "Kadar" ini sudah menjadi bahasa kita, bahwa kadar adalah Ukuran. Kadar Juga satu makna dengan Takdir. Maka, gabungan dari semua makna ini, dapat kita artikan bahwa Lailatul Qodr adalah malam yang kemuliaannya sangat sempit dan malamnya telah di tentukan.

Dalam Hadist Imam Bukhori, Bab Fadhlul Lailatul qodr, disebutkan bahwa yang dapat mengakses Lailatul qodr itu tidak hanya sosok Nabi. Tetapi, juga pewaris-pewaris beliau, para Kekasih-kekasih Allah, " Anna Rijalan min ashabin Nabi uru lailatul Qodr fi sab'il awa hir (ada sekelompok lelaki yang spesial, yang di perlihatkan mengenai Lailatul qodr pada 7 hari terakhir)".

Lalu, Nabi kemudian membenarkan hal itu, bahwa Yang kalian lihat itu sama dengan apa yang aku Lihat. Maka di hadist lain, nabi kemudian mengatakan, " il tamisu ha Fi sab'hi awa hir atau Assyril awa hir (carilah lailatul qodr itu di 7 hari terakhir atau 10 hafi terakhir)".

Ketika Allah memberikan Pertanyaan, " Wa ma adroka kama lailatul qodr" (apakah engkau sudah sampai kepada pengertian, apakah lailatul Qodr). Lalu, Allah menjawab, " lailatul qodri khoirum min alf fi syahrin ( malam Qodr - Mulia- sempit - terukur itu lebih baik dari 1000 bulan)".

Pertanyaannya adalah apakah 1000 bulan dalam ukuran Dunia atau Akhirat?. Maka, Imam Ibnul Qoyyim Al Jausyiah menjawab, 1000 bulan yang di maksud adalah 1000 bulan di dunia. Maka, Jika di kalkulasi sekitar 80 an tahun.

Salah satu pencirian dari Malam Lailatul qodr dan Malam yang lainnya adalah " Tanazzalul Malaikatu wa ruh", yaitu Turun para malaikat dan Ruh. Allah membedakan antara malaikat dan Ruh. Jika meminjam Pandangan Imam Ibnul Qoyyim Al jausyiah, Beliau mengartikan Ar Ruh pada konteks ayat tersebut sebagai Malaikat Jibril. Tetapi, sebahagian ulama, secara Khusus Ulama  Qolbu, mengartikan makna Ar Ruh di konteks ayat tersebut bukan Malaikat Jibril. Sebab, malaikat Jibril sudah termasuk dalam Kata Al malaika.

Al malaika itu adalah bentuk jama' dari Al Malaq, yang berarti Malaikat. Nah, karena kita di indonesia kekurangan Kosa kata, sehingga kita mengambil Kata Malaikat secara jama' tetapi di artikan satu. Kalau Qur'an menyebut Malaikatu itu berarti banyak Malaikat. Kalau cuman satu malaikat di sebut Malaq. Sama seperti ketika kita mengartikan orang Alim dengan sebutan Ulama. Padahal, ulama itu adalah banyak orang Alim. Sama dengan kita menyebut malaikat jibril, padahal harusnya Malaku Jibril. Tetapi, begitulah Tranformasi atau Serapan bahasa.

Imam Ibnu Hajar Al Asqolani, ketika menjelaskan Hadist Lailatul Qodr, beliau menyebutkan dengan menuturkan riwayat dari Imam Baihaqi, imam Ahmad, Imam ibnul Mubarok, ia menyebutkan ada satu riwayat yang menyebutkan bahwa di saat malam lailatul qodr turun malaikat dalam jumlah yang banyak melebihi butiran-butiran debu, pasir dan tanah. Jadi, di saat malam itu Dunia ini sesak oleh Malaikat dan mereka mengucapkan salam kepada orang-orang yang qiyamul lail. Tetapi, karena malaikat adalah Mahkluk yang berdimensi lebih tinggi dari Manusia, sehingga tak Tampak secara Jazad. Ia hanya terasa Syahdu dan Indahnya di dalam rohani kita.

Mengapa Kata "Wa Ruh" itu bukanlah Malaikat Jibril, karena Malaikat Jibril di Qur'an penyebutannya Berbeda-beda, ada Ruhul amin, ada juga ruhul qudus, dsb.

Para ulama kita dahulu mencirikan turunnya malam Lailatul qodr dengan Ilmu Hizab, seperti Imama Al Ghozali, Imam As Sadzili, Imam Al buni. Hizab itu kemampuan membaca gejala Alam. Hizab itu tidak mempengaruhi kapan malam lailatul qodr, sebab bisa jadi malamnya mundur atau maju. Hal itu biasanya dilakukan oleh mereka yang Ahli ruhani.

Nah, saya tertarik dengan H.R imam Bukhori dan Imam Muslim, ada dua riwayat yang di sebutkan. Imam Bukhori di dapat dari Gurunya, yaitu Muhammad Bin Yusuf Al madani adalah Murid Terakhir dari Imam Malik, seperguruan dengan Imam Syafi'i. Tetapi adik kelas Imam Syafi'i. Imam Bukhori, mendapatkan riwayat tersebut dari Imam Malik. Imam malik dari Imam Naviq dan Imam Naviq dari Ibnu Umar. Sedangkan Imam Muslim, juga dapat Riwayat tersebut dari Sahabatnya Muhammad Bin Yusuf tersebut, sanad keatasnya sama.

Ibnu Umar Bercerita, "an nasan bi ashabi rosulillah ru'u lailatul qodr fil manam (sekolompok orang di kalangan sahabat / tidak semua, mereka di perlihatkan lailatul qodr pada waktu tidurnya)".

Kalau kita belajar Epistemologi atau Filsafat Ilmu, cara mengetahui sesuatu, ada yang melalui empirik (gejala alam) itu seperti Matahari mendung, Hujan atau Cerah, dsb. Selain itu ada metode lain, yaitu Rasional (Perhitungan - Hizab). Ada juga Gejala Ruhani atau eksperimen Ruhani (Intuisi).

Hadist ini jarang di kemukan. Hadist tentang ciri lailatul qodr dengan Metode Intuisi. Intuisi itu sumbernya dari Qolbu. Qolbu itu sumbernya dari Roh.

Kita kembali, Kenapa Di sebut Lailatul qodr?. karena " Tanazalul mala ikatu waa ruhu fiha biidzni  robbihim ming kulli amri. Salamun hiya hatta math lail fajr". karena, pada malam itu malaikat Jibril turun untuk mengatur semua urusan. Pertanyaannya, apakah Tugas malaikat Jibril?. Bukankah tugas Malaikat Jibril adalah menyampaikkan Wahyu (Al-Qur'an) kepada Nabi Muhammad SAW. 

Di dalam riwayat di nukilkan, perjumpaan pertama  Malaikat Jibril dengan Nabi Muhammad SAW, ialah ia Datang dalam bentuk mahkluk yang memeluk Nabi dalam Gua Hira saat membawa turun ayat pertama dari Qur'an. (baca: Tulisan Saya Tentang Rosulullah Menagkap Risalah pertama). 

Kedua, saat Nabi Muhammad SAW menunggu Wahyu kedua Turun. Tetapi, tidak turun-turun. Sehingga beliau memutuskan pulang dari Gua Hira. Di tengah perjalanan, ada yang memanggil-manggil Nabi Muhammad SAW. Setelah Rosulullah menoleh kekiri, kanan, belakang Tetapi, tidak ada seorang pun di sana. Ia mulai ketakutan, begitu Rosulullah mendongakkan pandangannya ketas, ternyata Malaikat Jibril duduk serupa manusia yang Kursinya tergantung diantara langit dan bumi. (Baca : Asbabun nuzul Wahyu kedua). 

Ketiga, ketika jibril datang menanyakan tentang islam, iman dan ihsan dalam rupa manusia, rambutnya sangat hitam, bajunya sangat putih. tetapi, tidak ada yang dapat mengenalinya sama sekali dan wajahnya seperti sahabat Nabi yang bernama Ihya Al- Qolbi.

Ke empat, " laqod ra au nass latan uhro inda sidhratul munthaha" (Nabi Muhammad SAW melihat jibril dalam bentuk yang asli, waktu mi'raj). 

Kenapa Nabi Muhammad SAW, bisa melihat Jibril dalam bentuk yang asli. Karena, dimensi Rosulullah SAW di naikkan melebihi dimensi Para malaikat. Sebagaimana kita ketahui, bahwa malaikat Jibril mengantar Rosulullah SAW saat mi'raj, hanya sampai di langit ke tujuh. Malaikat Sudah tidak mampu Naik ke Level Sidharatul Muntaha.  

Sekarang kita kembali, Apa sebenarnya Yang kita nantikan saat lailatul Qodr?. Bukankah Kemuliaan Ramadhan itu, karena Al-Qur'an di turunkan sebagai petunjuk, penjelasan atas petunjuk-petunjuk tersebut dan pembeda antara yang Hak dan bathil. Bukankah Al-Qur'an telah Turun dan menjadi pendoman hidup, kabar gembira, dan pelipur lara bagi kita. Lantas, kita masih meminta kepada Allah untuk menurunkan apa, melalui Malaikat Jibril?. 

Jika isyarat, dalam Q. S. Al-qodr, bahwa turunnya malaikat jibril untuk mengatur semua urusan manusia. Bukankah, Semua urusan telah diatur Di dalam Al-Qur'an, dari urusan tidur, sampai tidur kembali, telah di atur. Bahkan, urusan-urusan paling prinsipil menurut ukuran manusia, Allah sudah atur di dalam Al-Qur'an. Atau, jika Allah tidak mengurusi aliran darah di tubuh kita, sudah lama berhenti terpompa jantung kita. 

Lalu, kita masih meminta Allah mengaturnya Lagi. Yaassalam. 

Qodr itu kata benda, sedangkan Takdir itu Masdarnya atau Ejektifnya. Jadi, takdir adalah pengqodaran. "Qoddaru yuqodiruna Takdiran", artinya Takdir itu Fleksibel. Mau Kaya, yah kerja. Kita ini memang, suka membuat Allah tersinggung, sudah di berikan Al-Qur'an, masih saja tidak percaya. Misalnya begini, ada tipikal sebahagian kita, yang ketika berdoa sampai setengah jam, bahkan berjam-jam. Allah seolah-olah di bacakan Makalah. Lalu, kata Allah : "Panjang sekali doa hambaku Ini. Padahal, Aku ini Maha tahu dan Kurang apa nikmat dan rahmat yang Aku berikan kepada kalian (hambaku). Sehingga, Kerja Hambaku ini, hanya meminta terus. 

Lalu, kita berkesimpulan untuk tidak berdoa, sambil berguman, "Ya, terserah Engkau Saja ya Allah". Sampai 3 hari kita tidak berdoa, Allah kemudian menjawab lagi : Wah, hambaku mulai sombong. 

Jadi, mana yang benar, "berdoa atau tidak berdoa?" . Kalau berdoa, kita akan di perhadapkan pada pernyataan : kita ini tidak tahu berterima kasih, masih kurangkah Nikmat yang Aku berikan. Andaikkan Aku tidak mengatur detak jantung Hambaku, barangkali sudah lama berhenti berdetak. Kalian, Hambaku itu tidak bisa berkuasa atas detak jantungmu sendiri. Tetapi, kalau tidak meminta Doa : Allah akan bilang, Tumben hambaku tidak meminta Doa. padahal "Ud uni asta jiblakum" (berdoalah Niscaya aku kabulkan)  dan  " la yaruddu qoda illa doa (tidak ada yang bisa merubah takdir kecuali doa). 

Hal itu di sebut dengan dosis atau Takaran. Kapan kita meminta?, wajarkah permintaan kita?, dan ukuran permintaan kita seperti apa?. Bukankah hal demikian, kita yang Tahu?. 

Untuk meneguhkan rasa penasaran kita. Saya uraikkan sedikit lagi. Sebenarnya yang kita cari ini adalah dunia atau akhirat?. Dalam Terma agama, ada yang di sebut wasilah (jalan atau caranya) dan ghoyah (tujuannya). Nah, sebenarnya Tujuannya kita menantikan lailatul Qodr dan menghidupkan 10 malam terakhir Ramadhan itu tujuannya untuk dunia atau akhirat?. Dengan jujur, kita harus menjawab untuk dunia. Sebab, kita berharap semoga keberuntungan - keberuntungan matematis akan menghampiri kita di 11 bulan yang akan datang, adapun jika orientasi adalah akhirat, kita berharap agar Laba pahala ini menyamai Level ibadah Si Bani Isroil yang di ceritakan Nabi diatas. Jelas kan, Tujuannya saja sudah salah. 

Misalnya, ada ayat di dalam Al-Qur'an yang berbunyi begini , "Innallaha la yu ghoyyiru ma bii kaumin hatta yu ghoyyiru ma bi anfusihim (sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu yang merubah dirinya sendiri)". Pertanyaan saya sederhana ; Sebenarnya pelaku perubahan yang paling primer itu kita (manusia) atau Allah. Jawabannya bervariasi, ada yang menjawab Allah dan ada yang menjawab manusia. 

Manusia itu pasti bisa menanam jagung. Tetapi, siapa yang membuat jagung itu tumbuh dan berbuah?. Nah, Kira-kira berapa persen perannya Allah dalam tumbuh dan berbuahnya jagung dan berapa persen peran manusia?. Oke, tarulah kita ambil 80 persen peran Allah, 20 persen peran Manusia atau 70-30. Tidak masalah. Mana yang lebih banyak, perannya Allah atau perannya manusia pada analogi tersebut?. Dengan jujur, kita harus menjawab Allah. 

Jadi, manusia apalagi saya ini. Tidak bisa merubah diriku sendiri tanpa petunjuk Dari Allah.

Maka, sependek pengetahuanku, Lailatul qodr itu " any Time" (kapan saja). Sebagaimana Puasa adalah aktivitas sepanjang hidup. Sebab, siang dan malam itu tidak hanya berdasarkan variabel matahari. Tetapi, di Hati kita itu siang di malam hari dan Seringkali malam di siang hari. 

#Rst
#Pembelajar
#Tadabbur
#Hasil Membaca
#Laylatulqodr
#nalarpinggiran

Minggu, 02 Mei 2021

HAKIKAT PUASA ADALAH MENGAPAI DERAJAT TAQWA (JALAN SUNYI) - Bagian Pertama-



Alkisah, ada seorang Kiyai yang memiliki empat santri dengan Tabiat dan karakter yang berbeda-beda. Pak Kiyai pun memberi penilaiaan yang berbeda-beda.

Suatu hari, ketiga dari empat santri tersebut menghadap Pak Kiyai untuk mengutarakan keluh kesahnya. Kata salah satu dari ketiga Santri tersebut, "Pak kiyai, sebelumnya kami mohon maaf, kami mau bicara. Begini Kiyai, kami bertiga merasa di bedakan oleh Kiyai dengan Si Fulan (Santri yang satunya). Bukankah, kita sama-sama santri. Tetapi, mengapa Pak Kiyai lebih perhatian dan lebih dekat dengan Si Fulan?".

Dengan wajah lembut dan sinar mata redup, yang menambah kewibawaan, Pak Kiyai berkata, "aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Tetapi, tolong sembelilah burung merpati ini, kapan saja dan dimana saja, asal tidak ada yang tahu".

Akhirnya keempat santri tersebut masing-masing mendapat satu ekor burung merpati. Santri A, ia masuk hutan dan memastikan, bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya. Maka, di sembelilah burung merpati itu. Santri B, ia turun ke dasar jurang sambil menengok ke kiri dan kanan dan merasa tidak ada yang melihat, di sembelihlah merpati tersebut. Santri C, ia naik ke atas gunung dan merasa aman, serta tidak ada yang melihatnya, maka Di sembelilahlah burung merpati tersebut.

Anehnya, Santri D (Yang di Prioritaskan oleh Kiyai), tampak kebingungan. Ia menapaki gunung, keluar masuk Hutan dan menuruni dasar jurang. Tetapi, burung merpati yang di bawahnya masih tetap hidup. Si santri tersebut, akhirnya duduk termenung dengan merasakan beban yang berat, mungkin merasa kecewa dan sedih, karena tidak bisa melaksanakan perintah sang Kiyai.

Kemudian, keempat santri tadi kembali menghadap sang Kiyai. Ketiga santri tersebut menghadap Kiyai dengan wajah ceria dan gembira, barangkali karena telah melaksanakan perintah sang Kiyai dengan baik. Sedangkan, santri yang satunya hanya diam dengan perasaan bersedih.

Tanya Kiyai, " bagaimana, sudahkah kalian menyembelih burung merpati tersebut?".

Jawab ketiga Santri : "Sudah, kiyai". "Apakah ada yang melihat kalian?", tanya kiyai Lagi. "Alhamdulillah, Insya Allah tidak ada, Kiyai. Sebab, kami sudah menapaki Gunung, turun lembah, serta masuk hutan dan semak belukar", pungkas ketiga santri.

Tiba giliran Kiyai bertanya pada Santri yang tetap membawa burung merpati dalam keadaan Hidup : "mengapa burung merpati itu tidak kamu sembelih?".

"maaf, kiyai. Saya sebenarnya sudah naik turun jurang, menapaki gunung, masuk hutan dan semak belukar. Serta sudah ku pastikan bahwa tidak ada seorang pun disana. Tetapi, dimanapun saya berada, dimanapun saya sembunyi : Allah SWT pasti melihat Saya".

Dengan senyum sumringah yang sejuk, akhirnya Kiyai berkata dan memberi Nasihat kepada semua santrinya, "itulah yang membedakan diantara kalian".

Berdasarkan Kisah imajiner diatas, sebenarnya ada dua kategori kepatuhan manusia :

1. kepatuhan Primitif, artinya manusia takut berbuat dosa dan kedzoliman, bukan karena Allah SWT melihatnya. Tetapi, mereka takut hanya karena di lihat oleh manusia, sehingga ketika tidak ada manusia yang melihatnya, pasti timbul Niat jahat.

Menurut 'Habib Abdullah Haddad' dalam Kitabnya 'Risalatul Mudzakaraah', bahwa orang yang hidupnya penuh kepura-puraaan adalah orang yang terperdaya, sehingga ketakutannya bukan karena Allah. Tetapi, karena Manusia.

2. Kepatuhan Objektif, artinya manusia takut berbuat dosa dan kedzoliman, serta patuh menjalankan tuntunan agama atas dasar kesadarannya yang tumbuh dari keimanan dan ketaqwaannya. Sehingga akhlaknya selalu terjaga, baik di lihat maupun tidak di lihat. Perilakunya selalu terkontrol oleh keyakinannya, karena Tujuan hidupnya semata-mata mencari ridho Allah dan penuh kehati-hatian.

Haji Agus Salim, dalam bukunya, 'Filsafat Tauhid (Takdir dan Tawaqqal)', menerangkan bahwa Taqwa lebih tepatnya di intepretasi dengan kata "ingat", dengan makna "awas atau hati-hati".

Imam Al-Ghazali, dalam Hujjahnya berkata : "Tujuan puasa ialah supaya orang Berakhlaq dengan Allah dan dapat meniru Malaikat dalam hal menguasai Syahwatnya semampu mungkin. Sebab, manusia derajatnya lebih diatas dari hewan, karena sinar Akalnya, sehingga Ia mampu menguasai Syahwatnya. Tetapi, manusia juga di bawah malaikat, karena syahwatnya itu menguasai dirinya" (Ihya Ulumuddin).

Dari gambaran diatas, tampak jelas bahwa menjadi orang yang Bertaqwa itu syaratnya adalah Iman dan membutuhkan proses pematangan jiwa. Apalagi, di zaman sekarang yang hampir semua Fasilitas atau Inter-relasi kemaksiatan ada dimana-mana. 

Tetapi, bagi Hamba yang bersungguh-sungguh dalam menempuh Jalan sunyi, insya Allah di berikan jalan keluar, sebagaimana Firman Allah, "barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya dia akan membukakan Jalan keluar baginya", (Q. S. Ath-Thalaq :2).

Untuk meneguhkan persepsi kita, Coba kita uraikan akar Kata Taqwa itu, dengan mengeluarkan ayat dalam Q. S. Al-Baqarah : 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Pada Q. S. Al- Baqorah ayat 183 tersebut Allah memanggil orang-orang yang beriman untuk di beritahukan bahwa Puasa itu wajib. Lantas timbul pertanyaan mendasar, Mengapa Allah tidak memanggil dengan seruan: " Yaa Ayyuhal muslimun (Wahai orang-orang muslim). Mengapa, justru Allah menggunakan seruan Wahai Orang-orang beriman. Apakah seruan Wahai Orang-orang Muslim telah menegasikan bahwa ia Beriman atau belum tentu seseorang Yang menyatakan dirinya " Islam" adalah berimana?. 

Sependek pengetahuanku, dalam Hirarki Teologis, level keimanan (Mukmin) lebih diatas ketimbang seorang Muslim. Begitupun dengan Level Muttaqin, lebih diatas ketimbang Seorang Mukmin. 

Dalam Al-Qur'an Surat Al Hujurat ; 14, Allah menceritakan, Tentang beberapa Sahabat yang datang menemui Rosulullah SAW dan menyatakan diri mereka beriman, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قَا لَتِ الْاَ عْرَا بُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰـكِنْ قُوْلُوْۤا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِ يْمَا نُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۚ وَاِ نْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَا لِكُمْ شَيْئًــا ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"Orang-orang Arab Badui berkata, "Kami telah beriman." Katakanlah (kepada mereka), "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah "Kami telah tunduk (Islam)," karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Secara sederhana, Maksud Ayat diatas, Seseorang yang beriman berarti telah selamat dari keraguan dan dapat mentransformasi manusia menjadi insan yang menyatukan ilmu dan amal. Iman mentransformasi kesadaran Ilahianya sebagai subjek yang menyaksikan dan pada tingkatan yang lebih tinggi, telah melebur (fana) dengan-Nya dan di saat yang sama merasakan hakikat-hakikat dari kebenaran mutlak yang termanifestasi dalam setiap Perintah-Nya. iman adalah elixir yang mentransformasi manusia dari lumpur badani menjadi gemerlap dan benderang cahaya Ilahi di semesta raya.

Demikianlah iman yang paripurna, bukan iman yang keluar-masuk dan bukan iman yang masih memungkinkan mengalami degradasi. Sebagaimana pernyataan iman yang ditolak oleh Allah seperti yang diisyaratkan dalam QS. 49:14 diatas.

Iman bukan hanya dalam pikiran atau perkataan saja. Melainkan menyebar di seluruh kesadaran sebagai ilmu dan menyatu dengan amal melalui perbuatan. Disebut ilmu karena berada pada lokus jiwa dan disebut amal karena menjadi tindakan jiwa yang spontan (malakah). 

Menurut "Mulla Shadra", iman adalah rangkaian dari ilmu yang tertinggi. Iman membutuhkan waktu dan proses. Iman bukanlah keyakinan yang dapat dibentuk atau terbentuk secara instan. Iman membutuhkan metode spesial yang ketat. Metode itu menjadi bagian integral dalam membentuk iman yang niscaya, tanpa hal tersebut, iman hanyalah konsep absurd dan lemah. Metode meraih iman yang sempurna bukan dengan doktrinasi, pengajaran konseptual dan taklid. Tetapi, melalui pencerahan pemikiran dan penyucian jiwa.

Iman sejatinya berkelindan dengan capaian ilmu yang mentransformasi kesadaran untuk tunduk, pasrah dan berserah diri (Islam). aspek kesadaran batinnya adalah senantiasa membersamai Tuhan (ihsan). Menurut "Fritjouf Schoun", ihsan inilah merupakan esensi dari esoterisme Islam, karena prinsipnya adalah senantiasa melihat Tuhan atau setidaknya dalam kesadaran bahwa Tuhan senantiasa melihat dirinya.

Iman, Islam dan Ihsan menurut "Cak Nur" adalah trilogi yang tak terpisahkan, karena satu dan lainnya menjadi bagian yang integral dan organik.  

Pada titik itulah, orang Mukmin, sudah pasti seorang Muslim dan Orang Muslim belum tentu seorang Mukmin. Itulah sebabnya Ibadah Puasa hanya di khususkan untuk orang Yang beriman. Makanya, iman adalah intan paling Mahal, mutiara paling berharga. jika bukan karena Nilai Iman. Maka, mustahil kita gembira menyambut datangnya ramadhan. Kita menyingsingkan lengan baju, kita menghamparkan Sajadah. Kita melakukan pendekatan intensif kepada Allah. Kenapa?, karena kita mengerti nilai Ramadhan.

Misalnya, di tangan kanan kita ada Berlian. Di tangan kiri kita ada rumput. Jika di taru di depannya kambing, kira-kira mana yang di pilih kambing?. Pasti Rumput. Kenapa?. Karena, kambing tidak mengerti nilai berlian. Andaikan, kambing mau sedikit pakai Akal. Dia bisa memilih berlian, lalu dia jual Berlian tersebut dengan Harga 30 juta. Setelah itu, dia beli rumput. Maka, kambing bisa dapat rumput se-Provinsi.

Tetapi, kambing tidak tahu nilai berlian. Yang kambing ketahui, cuman rumput. Kenapa?, karena hidup kambing cuman melayani perut. Itulah sebabnya, kata Sayidina Ali, "Orang Yang hidupnya hanya untuk melayani perut saja, maka dia Kambing".

Maka, jaga iman baik-baik. Lalu, wariskan pada generasi kita. Sebab, merekalah harapan kita semua. Merekalah harapan indonesia. Akan jadi apa republik ini, bahkan akan jadi apa Islam di republik ini, 20 sampai 40 tahun kedepannya, generasi kitalah jawabannya. Persilahkan generasi kita mau menjadi apa, asalkan Iman landasan hidupnya. Generasi kita Boleh jadi Jendral, asal jendral yang beriman. Boleh menjadi pejabat, asal pejabat yang beriman. Boleh menjadi pengusaha, asal pengusaha yang beriman. Sebab, kalau Iman landasannya, pasti aman.

Apakah dengan Melafazdkan dan Menyakini Rukun Imam yang ada 6 itu, sehingga seseorang Dikatakan beriman atau belum tentu dengan hanya sekedar Menyakini Rukun Iman tersebut.

Suatu ketika, Al- Hasan ditanya oleh seorang lelaki "(Al-Mu'mu'minun anta (apakah engkau seorang mu'min)". Orang ini menjawab ; jika yang di maksud mu'min itu yang beriman kepada Allah, beriman Malaikat-Malaikatnya, beriman Nabi-Nabinya, beriman Kitab-Kitabnya, beriman kepada Takdir baik dan buruknya dan hari akhir. Yah, saya mu'min. Tetapi kalau Mu'min yang di maksud Allah dalam Q.S.Al-Anfal ayat 2-3: "saya belum tahu apakah saya Mu'min atau bukan?". Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal," (Q.S.Al-Anfal :2).

الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

"(yaitu) orang-orang yang melaksanakan sholat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (QS. Al-Anfal:3).

Maka dari itu, kita tidak memiliki Standar yang cukup untuk memberikan Legitimasi Bahwa Kita adalah Orang yang Beriman. Sebab, Otoritas yang bisa memastikan bahwa Kita Beriman adalah Allah, dengan beberapa variabel yang di kemukakan Q.S. An -Nahl diatas. 

Setelah kita mengetahui, bahwa Syarat Puasa adalah Keimanan. Maka, kita coba mengukur kedudukan puasa. Sekurang-kurangnya ada tiga Diksi yang menunjukkan diksi "wajib" dalam Al-Qur'an. Pertama, Fardhu. Kedua, Wajabah Dan ketiga Kutiba.

Pada perintah Puasa, Allah justru menggunakan Diksi "Kutiba" untuk menunjukkan kewajiban berpuasa. Padahal, bisa saja Allah menggunakan Diksi "Fardhu" atau "Wajabah" untuk menunjukkan perintah puasa. Tetapi, mengapa Allah tidak menggunakannya. Ini barangkali Asumsi, dari Hadist Qudsi, yang berbunyi, " PuasaMu untukku dan aku sendiri yang mengganjar balasannya", yang sekaligus membedakannya dengan Ibadah Esoteris lainnya, seperti Syahadat, Sholat, Zakat dan Haji. 

Kita coba sederhanakan, tentang mengapa Allah justru menggunakan kata Kutiba pada perintah Puasa, bukan Fardhu atau Wajabah. Perbedaan ini, tidak sedang menunjukkan, bahwa "Fardhu" tidak lebih utama ketimbang "kutiba". Tidaklah demikian maksudnya. Misalnya, perempuan yang sedang Haid (Tidak suci), tidak di wajibkan baginya untuk sholat dan tidak ada perintah untuk mengganti sholatnya, jika sudah suci kembali. Lain soalnya dengan puasa, bagi Perempuan yang sedang Haid, tidak ada juga kewajiban baginya untuk berpuasa. Tetapi, ada perintah untuk mengganti atau Mengqoda Puasanya di waktu yang lain.

Dari hal itu, kita bisa mengetahui, bahwa kedudukan puasa itu tinggi.

Dalam tradisi Islam, puasa itu disebut sebagai tradisi purbakala, "kama kutiba alalladzina min qoblikum". Artinya puasa adalah Aktivitas yang juga di lakukan oleh umat manusia sebelum kita. Puasa ini merupakan Tradisi purbakala atau di semua entitas masyarakat Tradisi Puasa ini telah ada, bahkan di semua agama, Puasa itu ada. Sebagaimana, sebelum Puasa di perintahkan kepada Nabi Muhammad SAW.  Nabi-Nabi sebelum Rosulullah SAW pun berpuasa, seperti yang kita tahu ada Puasa Daud, Ada Puasa Nabi zakariah, ada Puasa Ibunda Maryam.

Di Amerika, khususnya pada suku Indian, mereka berpuasa selama 12 hari Atau Suku Eskimo, mereka berpuasa Selama 15 Hari. Tetapi, tradisi ini belakangan sudah tidak di lakukan lagi, apalagi kalau sudah memasuki musim semi-dingin. Artinya, puasa ini bukanlah Peristiwa yang baru. Melainkan, aktivitas purbakala. 

Puasa adalah metode Untuk meningkatkan kualitas ketaatan dan diri untuk mencapai " la' allakum tattakun" (Derajat Taqwa). Diatas telah saya paparkan sedikit tentang Makna Taqwa, bahkan saya telah mengangkat Kisah imajiner untuk menyederhanakan Maksud Taqwa itu. Sekalipun, Sebenarnya " La Allaqum Tattaqun", selama ini keliru Di pahami. Kita menganggap dengan metode Puasa, mudahan-mudahan kita akan bertaqwa (Tattaqun). Menurutku Pemaknaannya tidaklah demikian. Sebab, Kita di suruh berpuasa, karena kita sudah bertaqwa. Bukan Berpuasa supaya Bertaqwa.

Bukankah, sebelum perintah puasa dalam Rukun Islam, ada perintah Sholat, yang juga merupakan sebuah sarana untuk mencapai derajat ketaqwaan Atau jika kita hendak memperluas pemaknaannya, bukankah kita telah Shodaqoh, infaq dan berbuat baik. Apakah itu tidak cukup untuk mencapai Kualitas ketaqwaan. Sehingga, kita perlu menunggu Ramadhan, supaya kita bertaqwa lagi?. Jika demikian, cara kita memaknai Taqwa itu. maka benarlah bahwa "laa allaqum tattaqun", selama ini tidak membuat kita maju dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. karena, kita menerjemahkan "laa allaqum tattaqun" - nya salah. Padahal, "Laa Allaqum tattaqun" itu bukan "supaya" atau "akan" . Tetapi, "telah".

Kita tidak bisa menandaskan persepsi kita, bahwa Derajat Taqwa atau jalan sunyi itu berat, sehingga kita perlu menunggu Ramadhan datang untuk membuat kita menjadi Bertaqwa. Sehingga boleh tidak bertaqwa setelah Ramadhan usai. Beginilah, akibatnya Jika kita menerjemahkan Taqwa itu salah. Akibatnya, kita berusaha mencapai taqwa pada ruang dan waktu yang sempit (hanya di Bulan Ramadhan). Nanti selesai ramadhan boleh tidak bertaqwa lagi, karena nanti akan ada ramadhan berikutnya lagi. Begitu seterusnya.

Bila kita menggunakan pemahaman Umum atau kebanyakan orang, bahwa Tujuan puasa adalah mencapai derajat Taqwa. Nah, sekarang kita lacak Taqwa dalam kaidah Bahasa Arab?. Menurut defenisi paling umum dari para Fuqaha, taqwa adalah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Artinya Puasa menjadi metode untuk membuat kita melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah. 

Sekarang kita bertanya, adakah diantara kita (manusia) di dunia ini atau khususnya di indonesia, selain Rosulullah SAW, yang telah benar-benar melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah?. Dengan jujur, kita harus menjawab, Tidak ada. Jika tidak ada, mengapa persepsi kita terkungkung bahwa Tujuan puasa agar kita melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. 

Akibatnya dari persepsi yang salah, sehingga Kongklusi dan apalikasi kita pasti salah. Kenapa?. karena tradisi kita, terlalu terbiasa mengunyah makanan jadi, jarang mengolah dan meramunya sendiri, Atau mencopy paste pikiran orang lain. Padahal masing-masing kita telah di beri metode untuk mentadabburi Teks. 

"laa allaqum tattaqun" itu berasal dari kosa kata : "Waqo - yaqi - wiqoyatan", maknanya adalah Berhati-hati atau waspada. Sebagaimana yang saya sampaikkan diatas. Dalam peribahasa Arab di sebut, "Al wiqoyatun khoirum minal ilaj". Maksudnya prenventif atau pencegahan itu lebih baik daripada Kuratif atau mengobati. Secara sederhana kita bisa menelaah, bahwa Taqwa itu adalah meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian. Bukan melaksakan perintah dan meninggalkan larangannya. 

Mengapa?. Karena "Waqo yaqi" itu adalah 'lafif mahluq'. 'Fa fi'il' dan 'an fi'ilnya' di pisah dengan 'ainul Fi'li'. 'Waqo yaqi' di ikutkan dengan 'Idzan if ta'al' menjadi 'Iw taqo'. Jadi, Tattaqum itu adalah Waspada. 

Misalnya kita sederhanakan lagi, saat kita keluar dari rumah, lalu tetiba hujan rintik-rintik. Kita kembali ke rumah mengambil payung Ataukah kita menprediksi hari akan hujan, lalu kita mempersiapkan payung atau mantel sebelum kita keluar rumah. Artinya, Taqwa itu preventif (pencegahan), "barangkali akan hujan". 

Adapun ketika kita telah berjalan, lalu membuka payung, ternyata payungnya sobek.  Hal itu di sebut kelalaian atau Alfa, bukan dosa. Karena, Allah menyatakan, " la junaha alaikum fi ma akhto ta' tu (tidak ada dosa bagi kamu, jika kamu melakukan kekeliruan seperti itu). Yang dosa itu :" wa la kima tad ma qulubukum" (ketika ada kesengajaan untuk melawan).


***

Puasa, siapa yang berpausa?, apa yang berpuasa?”, “menahanlah, siapa yang menahan?, apa yang ditahan?.

Sepintas pertanyaannya tersebut terlihat sederhana. tetapi, inilah ultimate question yang menukik pada radixnya ritual yang kita kenal dengan puasa dan aktivitas yang kita sebut sebagai menahan.

“Siapa yang berpuasa?, apa yang berpuasa?. Ini bukan sekadar pertanyaan retoris atau normatif. Secara normatif menurut hukum syariat bahwa yang diperintahkan berpuasa adalah orang yang beriman dan yang dipuasakan adalah aktivitas makan, minum dan seksual, serta aktivitas tercela lainnya. 

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa manusia secara Natural, menurut "Prof. DR. Yusuf Qardhawi, "tercipta dari dua hirarki yang saling berdialektika dan berhimpitan, yakni Potensi Nasut (Tanah) dan Potensi Lahut (Ruh)".

Ketika potensi Nasut menjadi gaya hidup dalam kehidupan, Menurut "Sayyed Hossein Nasser" itu akan menjadi " Petaka yang harus diratapi". Namun Jika Pontensi Lahut yang aktual. maka itu adalah simbol kemenangan dan Differensiasi kita terhadap Mahkluk-Mahkluk lainnya. Karena, Mahkluk-Mahkluk lain, selain Manusia tidak dibebani hukum Tanggung jawab sehingga ia selalu berada dalam kenasutannya. 

Jika Dikembangkan lebih Jauh, maka puasa merupakan sarana untuk menekan Metafora empat ekor unggas atau empat anasir kesemestaan (Tanah, air, angin dan api) yang senantiasa mengaktual dalam diri kita (Manusia) yang acap kali merusak potensi uluhiyahnya, Agar senantiasa memiliki kesadaran untuk selalu berproses menjadi "Human Being" Atau menurut Ali Syari'ati, "mengaktivasi nilai-nilai hanif kita yang kerap terpasung oleh keinginan-keinginan nasut" . 

Segenap jasmani (Nasut) dan rohani (Lahut) sejatinya melakoni aktivitas puasa dan niscaya dipuasakan. Puasa jasmani adalah menahan Hasrat instingtif pada makan, minum dan naluri seksual. Kenapa jasmani harus dipuasakan?, karena sebagai proses pembebasan atas rohani dari penjara jasmaniah yang cenderungan pada kesenangan material-duniawi.

Bila jasmani di puasakan dari hal-hal yang sebenarnya mubah (boleh) dan di puasakan pun hanya sementara waktu. Maka, hakikat puasa bagi rohani adalah memantangkan dari segala yang berkaitan dengan "fujur", agar perjalanan kita menggapai derajat takwa Mulus. Bila jasmani di puasakan hanya sepanjang hari dalam sebulan, maka rohani sejatinya di puasakan sepanjang tahun. Rohani dipuasakan dari kefujuran, agar manusia selamat dari kehancuran spiritual dan moralitas, yang menyebabkan manusia mengalami kejatuhan eksistensial (asfala safilin).

Manusia adalah makhluk dua dimensi, penggabungan antara jasmani dan rohani. Jika ditanya, manakah yang lebih sejati, diantara kedua potensi tersebut, tentulah potensi rohani lebih hakiki. Sebagaimana yang digambarkan oleh "Ali Syari'ati" bahwa manusia adalah lumpur + Roh Ilahi. Lumpur yang rendah merepresentasikan jasmani dan Roh Ilahi yang tinggi adalah penggambaran keagungan manusia sebagai “Citra Diri” dari Sang Khalik dalam representasi makhluk terbaik-Nya.

Jika manusia dipandang sebagai jasmani an sich, maka manusia tidak lebih berharga dari seonggok materi, bahkan lumpur yang rendah. Apa yang membuat manusia bernilai, bahkan menjadi tak ternilai adalah rohaninya yang melangit meski jasmaninya membumi. Jasmani dapat menjadi penjara bagi rohani yang menahannya untuk meraih kebebasan untuk berkelana pada alam-alam suci hingga menghampiri Sang Khalik, Sang Asal dari semua muasal. 

Jasmani yang diperturutkan membuat rohani terbenam dalam kubangan kehinaan. Namun, jasmani bukanlah musuh bagi rohani, sebaliknya jasmani adalah medan kreatif yang harus dikendalikan, agar rohani bisa melesat tinggi menghampiri Sang Ilah Yang Maha Tinggi.

Demi membebaskan rohani yang terpenjara itulah, Ramadhan dihadirkan oleh Allah kepada manusia sebagai implementasi Kasih Sayang-Nya. Ramadhan adalah bulan pendidikan yang mendidik rohani agar mampu mengendalikan jasmani, melatih rohani agar dapat menjadi tuan bagi jasmaninya. 

Manusia diciptakan oleh Allah dengan sebaik-baik bentuk, namun sebagian dikembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya, sebagaimana yang tertuang di Dalam QS. 7:179,  Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَـقَدْ ذَرَأْنَا لِجَـهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَا لْاِ نْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اٰذَا نٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا ۗ اُولٰٓئِكَ كَا لْاَ نْعَا مِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

"Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah."

Pada ayat diatas, Allah menyamakan manusia yang terhina laksana binatang ternak, bahkan lebih buruk lagi. 

Demi menyelamatkan manusia dari kejatuhan eksistensialnya. Ramadhan dihadirkan sebagai madrasah rohani, untuk menjalani riyadhah (pelatihan), agar menggeser perhatian berlebih pada ego manusia untuk di alihkan pada Sang Maha Ego. Sebagaimana firman Allah Dalam QS. 4:100, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُّهَا جِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَ رْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗ وَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَا جِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

"Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di Bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Allah memberikan isyarat orang yang meninggalkan rumahnya untuk berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Itulah hijrah sesungguhnya, yaitu keberanjakan substansial ( _harakah jauhariyah_ ) meninggalkan rumah kita yang sempit (ego) demi menuju Allah dan Rasul-Nya, “rumah semesta raya” yang merupakan rumah sejati bagi rohani kita. 

Kesempitan ego telah terbukti menyita perhatian kita pada keluasan Sang Maha Ego. Maka, Ramadhan dihadirkan sebagai bulan pendidikan untuk memberi pencerahan ilmu, iman dan amal pada Rohani yang rindu “menuhan”. Ketiganyalah bekal terbaik untuk  menanggalkan egosentrisme dan mengafirmasi Sang Maha Ego sebagai sentrum (teosentrisme). Implikasinya adalah altruisme, sebuah karakter di mana kita sangat peduli dan begitu memperhatikan kemaslahatan sesama. seperti ungkapan yang disampaikan oleh guru saya, “belajar melangit untuk membumi”.

Rohani yang tidak dewasa membuat kita terlena pada kenikmatan material dan tertahan akan kebutuhan yang lebih abstrak, yaitu iman, ilmu dan amal. Itulah rohani infantil (kekanak-kanakan) yang terkurung pada jasmani yang dewasa, sehingga merasa kebutuhan spiritual (Iman), intelektual (ilmu) dan moral (amal) tidaklah penting, karena yang dianggap berharga hanyalah kenikmatan untuk memperturutkan keinginan hawa nafsu. 

Ramadhan dihadirkan untuk mendidik rohani dan membebaskannya dari fiksasi masa kanak-kanak, menuju fase pendewasaan rohani atau "al-takamul al-ruhani". Secara rohaniah, semakin dewasa seseorang, maka semakin abstrak kebutuhannya, sehingga merasa penting pada pemenuhan kebutuhan rohani (Iman, Ilmu dan amal), karena itulah kebutuhan manusia yang sesungguhnya.

Menurut "Murtadha Muthahhari", sebagaimana yang saya kutip dari Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, "tahapan awal dari kewalian adalah ketika mampu mengendalikan hawa nafsu. Jiwanya tenang, emosinya stabil, keinginannya terkendali, hatinya lapang penuh ketulusan dan pemaaf". 

Perintah menahan bagi kita yang bukan kalangan khusus adalah pendidikan rohani yang menuntun kita menghampiri tahapan pertama _maqam_ kewalian. Melalui perintah menahan, kita dididik untuk menjadi wali-wali Allah pada tingkatan yang paling elementer.

Selain itu, Dua dimensi manusia, jasmani (material) dan rohani (spiritual) menghadirkan dua potensi, yaitu "fujur dan taqwa". Kecenderungan pada dimensi jasmani menggelincirkan manusia pada fujur, yang secara normatif adalah melakukan perbuatan yang menyalahi syariat Allah. Sebaliknya taqwa adalah kecenderungan pada dimensi rohani yang memantik ketaatan pada ketentuan-Nya. 

Fujur adalah buah dari kebiasaan yang memperturutkan hawa nafsu jasmaniah, sebaliknya taqwa adalah capaian dari nafsu yang dikendalikan akal hingga taat pada hukum-hukum syariat.

Potensi fujur dan taqwa ini, Allah isyaratkan dalam QS. 91:8, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا 

"maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,"

Fujur adalah gerak menurun sedangkan taqwa adalah gerak menaik. Kenapa kata fujur lebih dahulu disebutkan daripada taqwa (fujura ha wa taqwa bukan taqwa wa fujur) dalam ayat tersebut?. Karena lebih mudah untuk turun ketimbang naik, untuk naik energi yang dibutuhkan jauh lebih besar di bandingkan turun. untuk jatuh, syaratnya mudah, bersikaplah ceroboh, jangan berhati-hati. Sebaliknya untuk menanjak butuh energi yang besar, mensyaratkan kesabaran, kehati-hatian dan perjuangan. 

Taqwa mensyaratkan ketaatan dan ketundukan, kesabaran dan konsistensi, sedangkan fujur hanya mensyaratkan pengingkaran atau sikap tak peduli atas perintah Tuhan. Itu sebabnya, manusia jauh lebih mudah terperosok dalam kefujuran ketimbang menanjak meraih predikat ketaqwaan.

Masih dalam QS. 91 pada ayat 9-10, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰٮهَا 

"sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),"

وَقَدْ خَا بَ مَنْ دَسّٰٮهَا 

"dan sungguh rugi orang yang mengotorinya."

Pada sambungan ayat Q.S. 91, Allah menyatakan beruntunglah orang yang menyucikan jiwa dan merugilah orang yang mengotorinya. Lebih mengutamakan kecenderungan jasmaniah, berarti mengotori jiwa dengan lumpur badani. Akibatnya terjadilah kejatuhan eksistensi, karena secara hakiki turun derajat, menjadi bukan lagi sebagai manusia, melainkan dibenamkan di tempat yang serendah-rendahnya (asfala safilin) (QS. 95:5). Sebaliknya orang-orang yang menyucikan jiwa adalah orang yang beruntung karena ia kembali sebagai manusia dengan sebaik-baik bentuk penciptaannya (fitrah).

Masih berkenaan dengan fujur dan takwa, ada dua golongan manusia menurut Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, yaitu orang-orang yang lebih mendahulukan keinginannya di atas keinginan Allah dan golongan kedua adalah orang-orang yang lebih mendahulukan keinginan Allah di atas keinginannya. Setiap harinya kita diperhadapkan pada dua pilihan ini, apakah memenuhi keinginan Allah ataukah memenuhi keinginan kita sendiri. 

Misalnya, Allah berkeinginan kita bangun di waktu Subuh untuk menunaikan kewajiban shalat, namun keinginan kita tak mau beranjak dari pembaringan. Allah berkeinginan agar kita tak berbuat mubzair, namun keinginan kita menggunakan harta untuk memuaskan hasrat konsumtif kita.

Itulah sebabnya, Orang yang masih mendahulukan keinginannya di atas keinginan Allah, berarti belum menyadari benar akan keabsolutan Kehendak Allah sebagai kreasi yang paripurna untuk manusia. Golongan ini disebut orang yang zalim, dalam pengertian generik zâlim berarti gelap, kata zhulm menjadi lawan dari nûr atau cahaya yang juga berarti terang. 

Gelap berarti ketiadaan cahaya, sebagaimana fujur berarti ketiadaan cahaya iman. Menurut Prof. Nurcholish Madjid, Pengertian yang demikian itu, sesungguhnya, erat kaitannya dengan sumber kezaliman itu sendiri, yakni hati yang tidak lagi memiliki nurani atau hati yang gelap. Dikatakan hati yang gelap, karena hati tersebut jauh dari pencerahan, karenanya tak mampu lagi membedakan antara baik dan buruk atau benar dan salah.

Golongan yang mendahulukan keinginan Allah atas keinginannya adalah orang yang keyakinannya akan keabsolutan Allah bukan sekedar pepesan kosong. Terang baginya antara yang benar dan salah, nyata untuknya antara baik dan buruk, jelas baginya mana yang hak dan mana yang batil. Kesadaran penuh akan kemutlakan Allah dan kerelatifan dirinya. Karena itulah mendahulukan keinginan Allah di atas keinginan sendiri berarti menanggalkan egosentrisme dan mengafirmasi teosentriesme, Bukankah kebebasan sejati adalah freedom from desire atau bebas dari rasa ingin, karena keinginannya telah menyatu dengan keinginan Allah, keinginannya telah lenyap, karena yang diikuti hanya keinginan Allah.

Ramadhan dihadirkan Allah sebagai bulan pendidikan, puasa yang disyariatkan dalam bulan Ramadhan adalah pendidikan bagi jiwa untuk membiasakan diri tunduk pada keinginan Allah. Dengan berpuasa kita menempatkan keinginan Allah di atas keinginan kita. Ketika siang hari  kita berkeinginan untuk makan dan minum, tapi kita mengikuti keinginan Allah agar kita tidak makan dan minum. Orang lapar biasanya emosinya sensitif, sehingga mudah tersinggung. Namun, dalam lapar (Puasa), kita dididik untuk menstabilkan emosi dan menahan amarahnya.


Coret _ By. Rst (Da'i Pinggiran)



Sabtu, 01 Mei 2021

MERAMU MISTERI LAILATUL QODR




Secara Normatif, Lailatul Qodr adalah malam kemuliaan. Apa yang mulia dari malam ini?. Apakah malam yang menjanjikan kemenangan faktual atau sekedar malam yang memiliki sugesti moral dan motivasi spiritual yang berada dialam ide atau mungkin sebuah malam yang mengandung sebuah fakta empirik yang dibumbui harapan-harapan agar manusia mencapai maqom yang ideal dan objektif dengan selumbung misteri yang tak mampu ditakar dengan nalar subjektifitas manusia.

Lailatul qodr adalah sebuah peristiwa yang sarat dengan idom-idom spiritual, sehingga ketika  manusia mampu mengembarai dan merengkuhnya akan diberi reward yang fantastis dengan meraih " delalapan puluh tiga tahun kebaikan".

Reward yang fantastis ini nampaknya membenarkan igauan Abraham Harold Maslow yang mengatakan bahwa tidak ada makan siang yang gratis atau apapun motif dari tindakan manusia, selalu bermuara pada pencapain hasil yang kuantitatif sembari menafikan aspek Kualitatif yang menjadi tujuan hakiki dari sebuah tindakan. Asumsi ini mengibrahkan sebuah bahwa berbuat dan bertindak diwilayah material, maka parameter materiallah akan menjadi indikator untuk meraih kesenangan dan kemenangan yang sesungguhnya. Proposisi semacan ini seakan membenarkan sebuah adagium bahwa ketika engkau menghajatkan sebuah kesenangan dan kemenangan duniawi, maka akan tersedia jalan untuk menggapainnya.

Pandangan diatas kelihatan memberikan zona demarkasi yang cukup riskan jika dikorelasikan dengan esensi " Lailatul Qodr". Keriskanan Zona demarkasi lailatul qodr ini melahirkan dua sisi yang diametral, yakni disatu sisi lailatul qodr adalah sebuah aktivitas dan rutinitas jasmani, apakah cukup mungkin dihargai dengan reward yang bersifat kualitatif. Hal ini menjadi dilema yang ambigiutas yang perlu didiskusikan agar tidak menjadi absrud pada dimensi ontologisnya.

Akan tetapi, disisi lain " Lailatul qodr" juga mengandung sebuah nilai, bahwa sekalipun ia termasuk rutinitas jasmaniah, namun sesungguhnya ia merupakan manifestasi dari relaksasi ruhani dalam perspektif aksiologisnya.

Analisis perspektif diatas menyisahkan sebuah gugatan Epistemologis. Apakah mungkin reward kualitatif dari relaksasi ruhani " Lailatul Qodr" menjadi niscaya untuk digapai semua manusia yang sedang menanti dan dicarinya?. Apakah setiap manusia yang etos ibadahnya sangat Khusyu' dibulan ramadhan dapat mencapai kemuliaanya?, sementara ketika diluar ramadhan dia ketahui sebagai penenung dosa dan penikmat kemaksiatan. Kalau kondisi psikologis ini menjadi mainstream yang harus dibenarkan, maka Ramadhan bisa di maknai sebagai bulan Manipulatif atau Sydrom of Deacy atas perilaku manusia yang melacuri eksistensinya dengan perilaku yang tidak jujur dengan dirinya sendiri.

Fenomena diatas harus diinisiasi melalui restorasi personal (reciver spiritual) agar dapat merengkuh sejuta malam kemuliaan. Receiver spiritual dapat ditempuh dengan jalan menjaga kebersihan jiwa, ketajaman fikr dan dzikir, kesyahduan iman, kepasrahan yang total kepada Sang Qodi Rabbul jalil.

Oleh karena itu: 

Ingatlah ketika lampu tak bersumbu dan tak berminyak, jangan bayangkan api Maghfirah.

Jika gelas kita retak, jangan bermimpi menuangkan minuman. Jika mental kita rapuh, jangan rindukan cahaya ilahi menghampiri kita.

Jika kaca jiwa kita masih kumuh dan bernoktah, jangan khayalkan rahmat ilahi menyapa kita.

Bertakhalillah dengan shaum kita, Bersemedilah dengan Tahalli dzikir kita, Bersenggamalah dengan tajalli ibadah kita. Semoga kebahagian tiada tara menghampiri kita.

Saudaraku, jika rindu kita ingin terpaut dalam arsy-Nya, maka beningkanlah dengan I'tikaf kita dengan intensif.

Jika obsesi kita mendamba kearifanNya, maka tenunilah jiwa, agar jauh dari kefanaan dunia, agar kita mampu mendekap dan mendekat dalam resonansi ke alam spiritualitas.

Jika etape-etape relaksasi Iman ini menjadi Kidung tahajjud malam,  itu pertanda shaum kita mampu mengeliminasi beban kotoran duniawi, mempreteli nafsu-nafsu lawwahma  menjadi jiwa-jiwa yang Muthmainnah, agar damai dan beningnya surga dapat kita kembarai dalam ketulusan imam yang tak termaknai. Inilah pengalaman sufistik yang mengantar kita untuk menggapai kualitas malam seribu malam.

AAMIIN YA ROBB...


#Rst 
#nalarpinggiran 

Senin, 05 April 2021

IDEOPOLSTRATAK

Ketika orang membicarakan ideologi, tentunya yang dibicarakan adalah Ide atau gagasan. Nah, gagasan atau pikiran adalah sesuatu yang masih abstrak, belum empirik. Sehingga ihwal inilah kemudian memungkinkan untuk direalisasikan atau diaplikasikan didalam suatu komunitas atau masyarakat, berdasarkan kebutuhan.

Secara maknawi, pertama, Ideologi merupakan seperangkat gagasan. Artinya gagasan tersebut tidak tunggal. Tetapi, dia menjadi bagian dari satu hal ke hal yang lain atau kompherensif. Kedua, Ideologi harus konsisten. Menurut 'Kuncoro ningrat', ideologi adalah cita-cita atau mimpi yang hendak diwujudkan oleh suatu masyarakat dalam satu komunitas.

Ideologi sendiri memang berasal dari bahasa latin. Namun, pertama kali dikemukakan oleh Seorang Filsuf asal Prancis, yaitu 'DesTut De Tracy,. Bahwa Ideologi adalah ide, cita-cita, melihat atau memandang. Sedangkan Logika adalah Rasio. Secara harfiah, ideologi adalah seperangkat ide yang membentuk paham atau keyakinan untuk mewujudkan Cita-cita manusia.

Minimal, menurut 'Austin Readiy', ada 4 ciri-ciri ideologi yang perlu diperhatikan. pertama, Ideologi harus komperhensif. Maksudnya ialah ideologi itu harus menyeluruh, meliputi semua aspek kehidupan, dari tidur sampai tidur kembali. Kedua, ideologi itu harus Profesif. Maksudnya ideologi itu membentuk keyakinan, karena itulah ia berkesinambungan dan berlansung lama. Ketiga, ideologi itu harus ekstensif. Maksudnya ia melibatkan banyak orang. Keempat, ideologi itu harus Intensif. Maksudnya komitmen untuk tetap merealisasikan ideologi terus menerus.

Sementara fungsi ideologi ialah : Pertama, etika. Fungsi ideologi itu meniscayakan adanya nilai-nilai yang menjadi pandauan dari tindakan atau perilaku bagi suatu masyarakat dalam suatu komunitas. Sehingga tatanan masyarakat bisa berjalan sebagaimana mestinya. Kedua, justifikasi. Maksudnya adalah landasan atau dasar dalam membuat keputusan atau kebijakan. Ketiga, integrasi. Bahwa ideologi itu fungsinya mempersatukan semua persepsi dalam suatu masyarakat. Keempat, simbol komunikasi. Kelima, guindance atau panduan sikap dan tindakan politik seseorang atau kelompok.

Fungsi lainnya misalnya, bahwa Fungsi ideologi itu adalah Perspektif atau cara pandang dari suatu tindakan politik, yang diusahakan untuk diinterpretasikan. Maksudnya ideologi politik itu bagaimana membantu pola perilaku dari suatu sistem politik.

Jika kita menelisik lebih jauh, ada banyak sekali ideologi didunia ini. Namun ada beberapa saja, pada kesempatan ini coba kita ulas secara umum.

Pertama adalah Liberalisme. gagasan utama liberalisme adalah kebebasan individu dan sangat menjunjung tinggi kesetaraan didalam suatu negara. Hak-hak individu niscaya dilindungi oleh negara. dalam liberalisme Klasik, peran negara harus dibatasi,  agar tidak mengekang individu-individu.Sistem ekonominya disebut Kapitalisme. 

Kapitalisme adalah kebebasan individu dalam mengakumulasi kapital secara individual. Dalam ideologi ini, negara tidak diperbolehkan ikut campur dalam memperkaya diri seseorang. Nah, Kapitalisme pertama kali didengungkan oleh Adam Smith. Kapitalisme memiliki 3 prinsip, yang pertama adalah kemerdekaan pribadi. Kedua, pasar bebas. Ketiga,  tidak boleh ada kepemilikan negara.

Kedua adalah Sosialisme, gagasan utama ideologi ini isinya adalah kesetaraan sosial, bahwa setiap individu memiliki hak yang sama dan negara memiliki kewajiban untuk mengatur kepemilikannya. Sosialisme merupakan antitesa dari liberalisme klasik. Dimana pemerintah atau negara memiliki peran penting atas Individu-individu untuk mengatur kesetaraan, bahwa tidak ada kepemilikan pribadi. Prinsip dasar didalam sosialisme adalah kolektivitas. Maka,  negara sangat punya peran penting dalam menyelaraskan warga negaranya. 

Ketiga konservatisme adalah dimana kondisi seseorang atau sebuah komunitas yang sudah mapan. tetapi, paranoid terhadap perubahan-perubahan di struktur masyarakat. Karena, mereka menganggap bahwa perubahan itu akan merugikan mereka. Oleh karena itu, konservatisme biasanya di dukung oleh elit yang telah mapan secara politik dan ekonomi.

Keempat, anarkisme. Falsafah politik mereka, bahwa masyarakat itu eksis tanpa aturan. Jadi, aturan tidak perlu di buat, sebab dengan sendirinya akan tercipta. Prinsip mereka adalah kebebasan individu yang tidak memerlukan aturan. negara merupakan sumber ketidakteraturan. Makanya, masyarakat anarki tidak membutuhkan negara, mereka bahkan anti negara. 

Kelima,  Fasisme. Fasisme merupakan reaksi atas kesenjangan,  ketakutan,  penderitaan atau ketiadaan harapan tentang masa depan yang baik. Ideologi Fasisme lahir dalam kondisi masyarakat yang sangat mapan secara ekonomi,  sosial dan politik. Fasisme berkembang saat masyarakat sudah menuju modern,  hanya saja Demokrasi terbonsai. Fasisme ini adalah gerakan yang di gerakkan oleh militer.

Keenam, adalah Marxisme, ideologi ini berangkat dari gagasan Karl Marx yang tentuang dari suatu sistem ekonomi, politik dan sosial. Marxisme merupakan antitesa dari ideologi Liberalisme dan sosialisme.  

Secara sederhana, komunisme menginginkan Masyarakat Tanpa kelas. Sehingga pandangan ini relatif sama dengan pandangan Anarkisme. Liberalisme atau kapitalisme dan Sosialisme. Menurut Marx,  kedua idoleologi diatas tidak memberikan perubahan sosial diMasyarakat. Yang kaya tetap kaya dan Miskin tetap miskin. Akhirnya kita kenal terma Kelas proletart dan kelas Borjuasi. Kelas pemilik modal dan Kelas pekerja. Untuk bisa menguasai aset tersebut. Harus di lakukan revolusi. Negara harus membentuk suatu partai,  dimana partai inilah yang menampung para buruh-buruh untuk merebut kekuasaan. Maka,  muncullah teori yang disebut Komunisme. 

Nah, komunisme berkembang di Prancis, Inggris, karena saat itu eropa sedang mengalami revolusi industri pertama diPabrik-pabrik tekstil. Marx dibantu oleh sahabatnya, yaitu tidak lain adalah seorang anak pemilik Perusahaan terbesar di Inggris untuk mengembangkan manifesto komunisme partai. Hebatnya Marx adalah buku-bukunya tersebar di eropa, sehingga gagasannya menjadi pemantik untuk beberapa revolusi di eropa. Gagasan Marx di adopsi oleh Lenin, yang dirangkaikan dengan Militer,  bahwa harus negara yang mengatur semua itu, dengan satu partai dan militer.

Komunisme berkembang sampai ke cina, di adopsi oleh Mao Ze Dong. Mao melihat,  revolusi bisa terjadi atau dilakukan oleh kelompok pekerja atau buruh. Hanya saja Di China tidak ada pabrik. Maka, Mao merekonstruksi gagasannya Marxime menjadi Maoisme. Maoisme merubah platform penggerak revolusi itu bukan pada buruh lagi, tetapi pada petani.

Ketujuh adalah Nasionalisme, gagasan utamanya adalah kesadaran tinggi, cinta tanah air dan bangsa dari individu dan masyarakat yang tinggi, di tunjukkan melalui sikap. Namun perlu di bedakan antara Nasionalisme dan Chauvinisme. Chauvinisme adalah ideologi fanatisme yang berlebihan, menganggap dirinya besar dan benar dan orang lain kecil dan salah. Prinsip Nasionalisme ialah menolak imprealisme dan ekspansi luar dan melindungi pribumi. Karena di dalam konsepsi nasionalisme, bahwa bangsa berhak menentukan nasib dirinya sendiri. Negara harus melindungi bangsanya dari semua intervensi asing.

Kedelapan, neoliberlisme. Neolib sebenarnya Bagus, sebagai sebuah gagasan. Karena ia lahir sebagai antitesa atas Liberalisme Klasik. Neolib lebih menekankan Konsep Humanistik ketimbang Pasar bebas. Cuman prakteknya Negara di jadikan babu, jongos bin budak oleh pemodal?.

Jika kita menggunakan spektrum linear dalam memetakan ideologi. maka,  kita mengenal Istilah kiri (Revolusioner) dan kanan (Status qou). Misalnya, paling kiri (komunisme), agak ke tengah (sosialisme), di tengah (liberalisme), agak ke kanan (konservatisme), kanan full (Fasisme). Jika spektrum linear di gunakan, maka Fasisme dan Komunisme sangat menganga jurang pemisahnya,  yang satu menginginkan perubahan,  yang satu mempertahankan kekuasaan. Tetapi, spektrum Linear sudah tidak kontekstual. sebab,  baik komunisme dan Fasisme, sama-sama Otoriter.

Selain spektrum itu linear, berkembang spektrum lain dalam memetakan ideologi, disebut sebagai Spektrum tapal kuda, di susun mengikuti tapal kuda. tetapi di atasnya ada konvergensi. Konvergensinya ialah tetap Fasisme dan Komunisme bertemu, bahwa kedua ideologi tersebut, sama-sama Otoriter, tetapi satunya menginginkan perubahan, yang satunya tidak. 

Namun,  terdapat pembaharuan lagi dalam spektrum ideologi, yaitu dua dimensi : tetapi, tetap menggunakan diksi kiri dan kanan, namun ada garis vertikal yang menunjukkan Otoritarian dan Libertarian (demokrasi). 

Tentu yang menjadi pertanyaan adalah fungsi ideologi itu apa?. Suatu Ideologi dapat di pelajari dan di formulasikan dalam tataran abstrak pikiran dan jiwa manusia Atau ideologi akan menjadi landasan berpikir, cara pandang dalam menafsirkan dunia.

Secara umum,  ideologi itu bertujuan : pertama, untuk memberikan motifasi dalam menggapai mimpi dalam hidup. Kedua, menjadi sumber inspirasi, norma dan nilai sosial. Ketiga, menjadi panduan dalam menemukan identitas diri. Keempat, menjadi navigasi individu bagi tindakan sosial di masyarakat. 

Sedangkan politik berasal dari bahasa Inggris, yaitu polite, eving or sowing good atau menunjukkan kelakuan yang baik. Lalu, ia berkembang menjadi Sensibel atau Wise. Jika dilihat dari akar kata politik yaitu polite, dapat disimpulkan bahwa aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang politikus adalah adanya moral yang baik, sebagai suatu upaya untuk membangun citra serta dapat menjadi uswah atau Tauladan bagi yang dipimpinnya. Makanya, doktrin politik yang berseliweran bahwa politik di identikkan dengan sesuatu yang buruk itu keliru. 

Secara umum politik itu adalah kita ingin apa, bagaimana mencapainya. Misalnya, jika politik berkaitan dengan pemimpin. Maka, kita harus tahu dulu, pemimpin atau learder itu apa?. Leader berasal dari bahasa belanda "Leaden is Legend" yang artinya pemimpin adalah pelayan. Maka, jika ada pemimpin yang minta di layani,  itu berbanding terbalik dengan defenisi pemimpin yang sesungguhnya.

Politik secara sederhana dapat kita artikan sebagai suatu media untuk mencapai maksud atau tujuan. Politik merupakan pengetahuan terapan, di mana dengan pengetahuan politik, maksud serta tujuan yang akan dicapai dapat diperjuangkan melalui perjuangan politik dengan menggunakan ilmu pengetahuan politik. Tentu saja di dalam politik tersebut masih membutuhkan banyak pengetahuan terapan yang lain, yaitu strategi dan taktik.

Secara singkat politik adalah untuk kekuasaan, sebab hanya dengan kekuasanlah tujuan dapat terwujud. Namun dengan kekuasan yang telah didapatkan nantinya, kekuasan tersebut tetap harus dijalankan berdasarkan atas ideologi yang sudah dipilihnya.

Dalam kaitanya dengan ini, politik tidak terlepas dari 4 hal; pertama Order (susunan, pembagian atau perintah). Kedua, vitue (kebajikan). Ketiga, Freedom (kebebasan atau kemerdekaan). Keempat, happiness atau welfare (kebahagiaan dan kesejahteraan). 

Kekuasaan yang diperoleh melalui politik haruslah dapat mewujudkan empat hal tersebut di atas, jika tidak maka kekuasaan yang ada bertentangan dengan fithrah dan tujuan kekuasaan yang murni, tentu saja jalan yang dilalui oleh perjuangan politik adalah tidak benar, sebab akibatnya pun tak selaras dengan tujuan idealnya.

Strategi dan Taktik. Jika ada terma Strategi dan taktik, seolah-olah kita di lekatkan pada sebuah pertempuran dan peperangan. Strategi itu adalah memanfaatkan pertempuran untuk mengakhiri peperangan, sedangkan taktik adalah cara menggunakan kekuatan untuk memenangkan pertempuran. Atau menghadapi peristiwa politik tertentu.

Nah, taktik dan Strategi ini punya relevansi dalam praktiknya. ada Strategi yang Jamak atau umum di gunakan dalam setiap perhelatan apapun : (1). Jika semua taktik berhasil,  maka semua strateginya berhasil. (2). jika semua taktik gagal,  maka semua strategi gagal. (3). jika salah satu taktik gagal, maka strategi bisa berhasil. jika taktik yang lain berhasil dan bersifat strategis. (4). Jika sebahagian taktik berhasil dan sebahagian taktik lain tidak berhasil, maka strategi gagal. Taktik adalah kegiatan dari strategi. 

Karenanya Taktik harus tunduk dan mengabdi kepada strategi. Rencana perjuangan (strategi) meliputi perjuangan secara menyeluruh baik dalam hubungan nasional, internasional dan daerah atau lokal, maupun mengenai semua segi penghidupan dan kehidupan masyarakat atau negara, ekonomi, hankam, pendidikan, dan lain-lain.

Mula-mula kita berideologi yang merupakan tujuan perjuangan. Lalu, kekuatan disusun dalam organisasi.  organisasi bergerak dalam arena politik, karenanya harus selalu diikuti perkembangan politik. Karena politik mempunyai hukum-hukum sendiri, maka cara berpikir harus politis, tidak normatif dan tidak yuridis formal. Setelah secara berpikir politis kita menanggapi setiap persoalan politik, maka disusunlah garis strategis untuk jangka waktu tertentu dan di tentukanlah langkah-langkah taktis untuk setiap persoalan politik tertentu pada saat tertentu.

Taktik adalah bahagian dari strategi,  maka Taktik harus tunduk dan mengerti pada Strategi. Makanya,  ada idiom dalam terma pergerakan, menyebutkan bahwa "Berpolitik tanpa organisasi adalah oportunisme dan berorganisasi tanpa berpolitik itu avonturisme. sedangkan berpolitik tanpa stratak adakah nekat". Sebagaimana kita ketahui,  bahwa Opurtunisme,  avonturisme dan nekat adalah penyakit bagi perjuangan.

Jadi dalam menyusun strategi,  kita harus tahu beberapa catatan penting untuk mencapai tujuan: (1). Kita harus tahu atau menetapkan sasaran organisasi dalam jangka waktu tertentu. Sasaran di sesuaikan dengan kemampuan oraganisasi. (2). Jangka waktu di tentukan, dengan dua hal : jangka waktu panjang dan pendek (Sekarang). Nah, hal ini yang kerap kali diabaikan hampir semua organisasi, karena tidak ada program jangka panjang dan jangka pendek organisasi, kalau dulu dalam negara, program jangka panjangnya disebut GBHN. Akibatnya banyak kita temukan ketidaksinambungan kepemimpinan. (3).  Harus ada strategi cadangan atau Plan B. (4). Harus tetap memperkuat kekuatan dan memperkuat posisi. (5). Harus mampu membuat opini publik.

Sedangkan, dasar-dasar untuk membuat sebuah Taktik adalah (1). Kita harus punya Fleksibilitas, yaitu suatu sikap atau langkah yang dapat berubah sesuai dengan kondisi yang terjadi. (2). kita harus evaluatif, orientatif dam estimatif Atau kerap di sebut, plan do actions. Nah, kebanyakan kita hanya sampai di Plan do, actionnya nol. (3). perjuangan politik tidak mampu melihat hasil atau keberhasilan yang di capai. Nah, ini yang di sebut analisis. sebab,  belum terjadi. Namun untuk menentukan langkah, atau menghitung-hitung, serta mengevaluasi kemungkinan yang akan terjadi. (4). Kerahasiaan. Strategi haruslah berisfat rahasia, biarlah lawan yang meraba-raba, apa langkah yang kita gunakan untuk mencapai tujuan. (5). Gerak tipu atau mengelabui. Nah, ini kerap di salah gunakan, padahal sejatinya harus positif. (6). 5 S (Sasaran,  sarana, Sandaran, sistem dan saat).

Strategi Taktik itu memiliki hukum-hukum: (1). Kuantitas, jumlah yang besar akan mengalahlan jumlah yang kecil. Pihak yang berjumlah kecil tidak boleh menyerang musuh dengan jumlah yang besar. Jika pihak yang berjumlah besar menyerang pihak yang berjumlah kecil, hendaknya menyingkir. Musuh yang berjumlah besar, tidak dapat dihancurkan sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit secara terus menerus. (2). Perpaduan antara kuantitas dan kualitas. Kurang dalam kuantitas, harus di imbangi dengan kualitas. Ataupun sebaliknya. (3). Posisi yang baik adalah separuh kekuatan, posisi yang tidak baik akan menyerap 2 kali kekuatan. (4). Candangan. Dia yang telah mundur dan kalah, tetapi masih punya cadangan, akan maju kembali. Jika musuh telah mundur, maka sebaiknya di kejar, sebelum dia mengumpulkan cadangan untuk kembali menyerang. Artinya,  jika berjuang secara total, jangan sisakan apapun. (5). kawan, lawan dan sekutu. Secara Ideologis, kawan adalah orang yang seideologi dengan kita. Secara Strategis, Sekutu harus diperbanyak dan lawan harus diminimalisir.

Musuh terbesar adalah dorongan ideologi yang membahayakan kehidupan ideologi diri sendiri atau diri sendiri. Sekutu dan musuh nomor satu adalah lawan. Lawan dan sekutu nomor satu adalah musuh. Antara sekutu dan musuh, terdapat golongan-golongan yang bukan musuh dan dan bukan sekutu. Golongan ini pada suatu saat dapat menjadi musuh dan pada saat yang lain bisa menjadi sekutu, Dan saat yang lain bisa menjadi sekutu dan musuh sekaligus.

(6). Devide at impera (politik adu domba). (7). Menyerang. Menyerang adalah pertahanan terbaik. Yang menang adalah yang selalu memegang inisiatif. Biarkan lawan menyerang dengan menggunakan inisiatif kita,  pada saat dan tempat yang kita pilih. Biarkan lawan bereaksi dengan isu-isu yang kita sebar. 

Berikut saya sertakan beberapa Stratak sun Tzu : Strategi peramg Sun Tzu, Seorang jendral perang harus memperhatikan atau cara memanfaatkan musim, cuaca, temperatur dan waktu. 

Dalam sejarah, misalnya, Kekalahan Napolen Bonaparte, karena Badai Salju. Itulah hebatnya Jendral Rusia, yang memancing Jerman menyerang, di waktu yang badai Salju akan datang. Atau zhauge Liang, yang memiliki pasukan kecil, tidak imbang dengan Pasukan Cao-Cao. tetapi bisa menang, karena memanfaatkan Angin dan memanfaatkan psikologi orang, padahal pasukannya tidak memiliki senjata sama sekali. 

Ada 36 strategi Sun Tzu dalam Perang :

1. Perdaya Langit untuk melewati Samuder. Artinya,  kalau berat jangan terang-terangan, agak sembunyi-sembunyi,  karena gerak terang-terangan, agak mengkhawatirkan dan responnya gampang. Maksud lainnya ialah Supaya Langit salah lihat, geraknya dibikin samar-samar. Hal ini penting dalam perjuangan, sebab orang yang membongkar semuanya,  geraknya lebih mudah di kalahkan. 

2. Kepung Wei untuk menyelematkan Zhao. Artinya jika tidak bisa mengalahkan A,  tetapi kita bisa mengalahkan B,  sementara B dekat dengan A. Padahal target kita adalah A,  maka taklukam saja B. Nanti A pusing sendiri dan lebih mudah di kalahkan. Maksudnya,  ialah Preteli kekuatan A,  lewat B. 

3. Pinjam tangan untuk membunuh. Artinya, kalau kita sendiri tidak bisa mengalahkan,  maka pakai tangan teman kita untuk mengalahkan. 

4. Membuat musuh kelelahan untuk menghemat energi. Nah,  strategi ini kerap di gunakan barat pada timur. Misalnya,  barat menebar Isu Islamisasi,  kita ribut lagi,  diskusi lagi. Belum selesai,  muncul lagi isu Civil Society,  diskusi lagi. Muncul lagi,  Islam Kosmopolitanisme,  ribut lagi. Padahal Hal itu belum tentu relevan dengan realitas sosial kita sehari-hari,  kan capek itu. 

5. Gunakan kesempatan untuk merampok saat terjadi kebakaran di tempat yang lain. Ini kedengarannya agak jahat,  tetapi maksudnya kalau ada kekacauan, kita masuk untuk mengambil keuntungan. Kalau tidak ada kekacauan,  bikin kekecauan. Tidak perlu perang, kita kacaukan saja ekonominya, kalau sudah kacau. Kita masuk tawarkan Utang. Jika sudah berutang,  maka bergantunglah mereka pada kita. 

6. Berpura-pura menyerang dari timur,  tapi seranglah dari barat. Artinya jebakan

Strategi berhadapan dengan Musuh

7. Buatlah sesuatu untuk hal yang kosong. Artinya adakalanya kita harus melakukan sesuatu yang tidak ada. Saat orang-orang sudah tidak menganggap kita,  maka masuklah dengan sesuatu yang ada. Tujuannya untuk mengacaukan kalkulasi musuh. 

8. Secara rahasia, pergunakanlah Cheng zang. Artinya carilah jalur alternatif,  yang orang tidak mengira kita akan masuk lewat jalur itu. 

9. Pantau api yang terbakar di sepanjang sungai. Artinya waspada dan ambil keuntungan sebanyak-banyaknya. 

10. Pisau bersarung didalam senyum atau menyembunyikam belati dibalik senyuman.

11. Pohon prom berkorban untuk pohon bresik. Artinya adakalanya kita harus berkorban untuk mendapatkan sesuatu yang lain,  yang lebih besar. 

12. Mencuri kambing sepanjang perjalanan. Artinya mengurangi kekuatan musuh. Bisa dengan menjadikan itu sebagai kawan atau tidak menjadikannya sebagai musuh. 

Strategi penyerangan :

13. Kagetkan ular dengan memukul rumput di sekitarnya. Artinya Palingkan perhatiannya,  agar tidak menyasar ke kita. Sehingga dia tidak waspada dan kita bisa menaklukkannya dengan mudah. 

14. Pinjam mayat orang lain untuk menghidupkan Jiwanya. Artinya jika ada musuh yang di buang atau di sisihkan, jika ia bermanfaat, ambil dan gunakan untuk melawan musuhmu. Atau musuhnya musuhmu adalah temanmu. 

15. Giring macam untuk meninggalkan sarangnya. Artinya, jika ada orang hebat yang susah di kalahkan di medannya. Maka giringlah dia agar keluar dari kandangnya.

16. Pada saat menangkap lepaslah satu. Artinya ketika kita menawan pasukan musuh,  lepaslah satu. Sebab,  itu akan berguna untuk membocorkan apa yang terjadi di sini. Tergantung kita memberikan atau menujukkan apa padanya sehingga ia memberikan informasi apa ke teman-temannya. 

18. Kalahkan musuh dengan menangkap pemimpinnya. 

Kongklusinya ialah Tujuan membenarkan setiap cara,  sepanjang tidak bertentangan dengan ideologi dan tidak berakibat merugikan diri sendiri. Hal di kenal dengan manajemen Konflik. Jadi,  sengaja memunculkan konflik, lalu di mainkan alurnya,  entah dengan hal negatif atau positif, yang bertujuan positif. Namun,  ingat manajemen konflik membutuhkan jam terbang yang tinggi, jika kita salah dalam planning dan pelaksanaan. maka akan merugikan diri kita sendiri. 


*Pustak hayat

*Pejalan sunyi

*Rst

*Nalar pinggiran

















Rabu, 31 Maret 2021

KAMI TAK PERNAH MENJELMA MINYAK, SEKALIPUN ENGKAU DATANG DENGAN API ; ANTARA MENYANYANGIMU ATAU MELAWAN ISLAMOPHOBIA




Ciptaan Allah Yang paling awal adalah Nur Muhammad (cahaya yang terpuji). Ihwal ciptaan itulah, membuat Allah berminat menciptakan jagat raya. salah satu episode tugasnya adalah berlaku menjadi Muhammad bin Abdullah. Bertugas Di Mekkah selama 63 tahun, berpangkat Nabi dan menjabat sebagai Rosul terakhir; salah satu “profesi” utamanya adalah dihina, dicaci,  dijustifikasi, disudutkan dan dituduh. 

Tidak ada perdebatan, mengapa hanya Usia Biologisnya, hanya 63 tahun saja. sementara pendahulunya. misalnya, Adam atau Nuh, ditugasi menjadi pelakon utama, antara 900 sd 1300 tahun. Barangkali Allah mengambil keputusan tersebut : Hai, Muhammad,  engkau sebentar saja. tetapi, saya berikan buku panduan lengkap, Al-Qur’an. tinggal disampaikan, terserah manusia mau memakainya atau tidak. Sebab, Para pendahulu dikasih ratusan tahun. tapi ternyata, tidak cukup untuk meneliti dan menemukan jati diri. Maka, engkau yang Terakhir sekaligus yang awal, 63 tahun saja, dengan “buku manual” yang terjaga kemurniannya secara absolut. “Inna nahnu nazzalnadz-dzikro wa inna lahu lahafidhun”, Allah kasih buku bimbingan, dan Ia berjanji menjaganya.

63 tahun dengan pencapaian sejarah yang membuat Michael Hart,  dkk, meletakkannya sebagai tokoh nomor satu yang paling mempengaruhi sejarah Dunia, terlalu revolusioner dan ekstra-fenomenal, sehingga sangat potensial untuk melahirkan rasa cemburu dan kedengkian diseluruh muka bumi. Mungkin karena itulah, sehingga “software” manusia yang Bernama Ahmad dengan Gelar "Min" juga niscaya disiapkan oleh Allah untuk memiliki ekstra-resistensi terhadap berbagai jenis pelecehan yang amat merendahkannya.

Sejak Muhammad mensosialisasikan "Tauhid" dikomunitas sekitar Ka’bah-Mekkah. siang malam ia diejek, dihalangi, dirancang untuk dibunuh, atau dilempari batu seperti ketika ia berimigrasi ke Ethiopia. Tidak hanya teologinya yang ditolak dan dianggap anarkis. "Hak paten" Muhammad atas sumber air Zamzam pun, karena ia adalah cucu penemunya, yakni Kakeknya Abdul Muthalib: merupakan ancaman terhadap dominasi konglomerat Abu Jahal atas perekonomian Mekkah. Selama ini kita terlalu berpikir polos, menyangka bahwa yang diberangus dari Muhammad hanya "tauhid", bahwa yang dihancurkan hanya Islam saja. padahal faktor air zamzam dan tambang minyak, sebenarnya mungkin lebih primer.

Melihat wataknya, soal Agama tak penting-penting sekali bagi Abu Jahal. Tapi, para anak buahnya terperdaya ; mereka pikir "Muhammad" dan "Islam" nya yang menjadi sasaran utama. Sehingga fokus mereka adalah memukuli Muhammad, membuat karikatur untuk memperolok-olokkannya, membikin film yang memperhinakannya, bikin macam-macam games diinternet untuk menyebarkan virus kebencian kepada Muhammad.

Belakangan ini, entah kapan bermulanya,  setiap teror bom dan ledakan Bom Bunuh Diri. Maka, interpretasi orang cepat-cepat mengalamatkan Pada "ISLAM". Bahkan negara dan media-media asuhannya, tanpa Filter mensubsidi informasi, dikunyah oleh rakyat gagal paham. Akibatnya, Islam menjadi tertuduh. Selalu begitu alurnya. Entah,  Islam model seperti apa yang dipahami, sehingga melekatkan dengan pembantaian. 

Ada perasaan bersedih sebenarnya, sambil bertanya membatin ; "Kira-kira kalau Rasulullah SAW melihat tayangan, informasi dan justifikasi ini, akan naik pitam kah atau tersenyum kah, Beliau ?"

"Apakah yang kira-kira diucapkan oleh beliau?" Ataukah, Justru beliau menDoakannya, sebagaimana Waktu DiThoif : "Ya Allah ampunilah mereka, karena mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan". Batin saya merenung lebih lanjut, kita akan ikut tersenyum dan berdoa seperti itu, ataukah mengamuk, membikin Counter informasi, atau bagaimana?".

Mengamukpun bisa dipahami, tersenyum juga oke. Mengcounter informasi juga wajar, diam dalam kesabaran juga tidak aneh. Yang mungkin perlu kita disepakati adalah jangan melakukan apapun yang memang dikehendaki oleh mereka yang memasang ranjau melalui penghinaan, justifikasi dan tuduhan-tuduhan ini.

Para penghina Nabi Muhammad SAW itu berjasa besar kepada Ummat Islam, karena tidak perlu repot-repot menciptakan momentum, konteks dan nuansa kekhusyukan agar kita semua lebih rajin menyatakan cinta dan kesetiaan kita kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW.

Bentuk pernyataan cinta itu bisa batiniah saja, bisa dengan pekikan-pekikan dalam demo, bisa counter-informasi, atau apapun. Yang penting tidak perlu "GR" seolah-olah Nabi Muhammad SAW butuh pembelaan kita, karena beliau kita anggap lemah dan kita yang kuat. Jadi, pembelaan kita atas Nabi Muhammad SAW Sasaran utamanya adalah integritas kita sendiri di hadapan beliau dan Allah. Apalagi semarah-marah kita terhadap penghinaan itu, masih jauh lebih murka Allah, sebab cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW tidak ada sebutir debu dibanding cinta Allah kepada kekasih-Nya itu.

Kaum Muslimin juga diam-diam berterima kasih kepada para penghina Nabi Muhammad SAW, karena kekejaman mereka adalah peluang sangat indah untuk memaafkan mereka, sehingga derajat kita meningkat di mata Allah. Penghinaan adalah rejeki kemuliaan bagi yang dihina. Ayo, hinalah daku, kau kusayang.

Sebab,  bagaimana mungkin agama yang menjadi alat pemersatu antara Kau Auz dan Khazraj di madinah, menjadi Tertuduh?. Padahal kaum Auz dan Khazraj saling bermusuhan berabad-abad. Bagaimana mungkin ajaran yang mempersatukan kaum anshor dan Muhajirin,  kerap dilabeli kejam?. Padahal,  belum ada sejarahnya hingga datang Manusia Agung bernama Rosulullah Muhammad SAW.

Piagam Madinah adalah Legal stunding, regulasi formal yang lahir dari tangan Rosulullah, agar saling melindungi sesama ummat manusia. Bukan hanya ummat beragama.

Itulah sebabnya, pastikan setiap pembunuhan dan percobaan pembunuhan. Bukan ORANG BERAGAMA, APALAGI BAHAGIAN DARI AJARAN AGAMA. 


**

Entah mengapa, saat bom terjadi : Argumentasi yang kerap berkelindan, bahkan telah membentuk streotipe di hampir semua lapisan masyarakat,  bahwa Bom bunuh diri adalah Terorisme. Terorisme adalah radikalisme. Radikalisme adalah Paham, ujungnya adalah agama?. Entah,  sejak kapan Terma Radikalisme di paksa lekatkan pada paham, agama tertentu.

Padahal, Radikalisme adalah infiltrasi semiotik, dari politik konspirasi untuk memberangus revivalisme Islam.

Tentu, kita terluka atas peristiwa Bom bunuh diri,  di Bumi "TAU" (MANUSIA) - Makassar. Entah, kenapa harus gereja, yang menjadi sasarannya?. hampir semua motif pengeboman di Indonesia, selalu berafiliasi dengan geraja. Sehingga menjadi wajar, bila Sudut pandang pengetahuan masyarakat kita, bahwa Ini rantai radikalisme agama.

Padahal, sosiologi di ciptakan sebagai bidang Ilmu, untuk menyelesaikan konflik dan keragaaman Dan kita sudah selesai dengan ihwal-ihwal demikian. Meminjam tutur Gus Mus, bahwa "agama adalah kereta kencana yang di sediakan Tuhan untuk kita berangkat menuju hadiratnya. Jangan terpukau pada keindahannya saja, apalagi sama saudara sendiri bertikai,  karena berebut tempat paling depan. Kereta kencana cukup luas untuk semua hamba yang Rindu Tuhan. Berangkatlah,  sejak lama Ia menunggu".

Sependek pengetahuanku, puzle-puzle peristiwa ini, bukanlah radikalisme paham agama tertentu. Ia hanya di paksa lekatkan saja. Ada motif besar yang merayap di belakang semua ini. Jadi, tolong. Berhentilah sejenak menggiring opini publik untuk memaksa lekatkan peristiwa bom bunuh diri dengan radikalisme agama tertentu. Sebab, semakin sering kita ucapkan, maka kita telah menciptakan kejahatan baru. Kejahatan semiotik namanya. Ujung dari kejahatan yang di maksud adalah kegagalan nalar menghormati perbedaan.

Mestinya hal ini menjadi, bahan permenungan, bahwa dalam satu atau dua tahun ini ‘teror orang gila,” mengisi relung-relung kehidupan kita. Hingga kini, belum satupun riset, yang mengungkap, kenapa orang gila begitu gregetnya pada masjid, ustad, kyai atau ulama. Korbannya tidak sedikit. 

Sebaliknya, pelaku yang sama (Orgil) dengan tindakan serupa tidak terjadi pada rumah ibadah dan tokoh agama lain. Alangkah terfokusnya peristiwa demi peristiwa tersebut. Ini juga yang membuat kita heran, sedikit tercengang.

Di WAG dan jejaringa medsos lainnya beredar video onggokan daging yang tercecer di tanah, bergumul debu, bagikan daging yang disuwir-suwir. Tergeletak tak karuan. Katanya itu jasad pelaku bom bunuh diri depan gereja Katedral Makassar. Bahkan Foto pelakunya, sebelum meledakkan dirinya telah beredar.

Inisial dan jaringan pelaku secepat kilat terdeteksi aparat. Bukan main cepatnya. Namun terbersitlah pertanyaan, kenapa peristiwa itu tidak terdeteksi dini oleh BIN?, Dengan infrastruktur yang mumpuni, BIN semestinya bekerja lebih cepat, mendeteksi dini peristiwa dimaksud. Apa kerja BIN?

Apapun itu, perilaku bom bunuh diri depan gereja katedral Makasar adalah nista. Siapapun pelakunya dan apapun motifnya. Perkara pelakunya kelompok mana dan apa motif, tentu itu urusan aparat. Merekalah yang punya infrastruktur untuk mendeteksi. Yang jelas, kedengarannya, pelaku bukan ORANG GILA !

tulisan ini tak menuding siapapun. Sebatas sebuah observasi dan konstruksi pengetahuan. Bahwa setiap peristiwa sosial, tentu memiliki unsur-unsur knowledge yang sekiranya penting di transfer ke publik. Yang jelas, tidak mudah mengungkap jejaring teror ini. Bisa dilakukan siapa saja. Siapapun bisa menjadi aktor dan mastermind.

Ketika ada isu besar yang menyangkut hajat hidup orang banyak. maka, dagangan isu primordial mulai di frame. Seumpama Terma politik balanda "Devide at impera". Hal ini sejalan dengan Gagasan Michael faucoult bahwa "kekuasaan mengontrol pengetahuan warga negara melalui subsidi informasi kepada setiap warga negara untuk melanggengkan kekuasaan oligarki".


**


Hinaan di balas hinaan, Cacian di balas cacian. Apakah menghina dan mencaci adalah nilai yang terintegrasi dalam Islam?. Ini pertanyaan serius dan saya tidak sedang menguji. Sebab, Sependek pengetahuanku ; Islam, sebagai sebuah sistem Nilai hidup dan cara pandang, serta ajaran. Hanya akan di temukan saripatinya. jika kita membongkar, mengurai Tokoh utamanya dan menemukan bahwa Pribadi seorang Rosulullah SAW, merupakan lakon Paradigmatik dalam segala hal. Ia meneguhkan konsistensi Ide dan realitas dalam hidup untuk kehidupan yang lebih baik. Itulah sebabnya, Rosulullah adalah pribadi, yang satunya kata dan perbuatan. Tidak dualitas atau mendua. Apa yang dia ucapkan, itu yang dilakukan.

Muncul pertanyaan, Rosulullah adalah seorang Nabi, manusia pilihan sehingga Niscaya paripurna Akhlaknya. Sehingga tidak ada dualitas dalam perilaku hidupnya, apa yang Ia Ucapkan, itu juga yang dilakukannya?.

Dengan dalil seperti itu, apakah ummatnya boleh mencaci maki, asal Sholat sampai Nangis-nangis. Boleh korupsi asal sedekah. Boleh berzina asal berderma. Pertanyaan yang demikian, merupakan Bias pengetahuan yang lahir dari ketidak-utuhan membaca Rosulullah sebagai Guindance. Padahal kita sendiri sadar, bahwa Output dari pengakuan atas KeRosulan Muhammad SAW dalam Syahadat, bukan hanya sebatas pengakuan. begitu kita mempersaksikan KeRosulan Muhammad. maka, setiap hal yang bersumber darinya ; entah itu akhlaqnya atau ibadahnya adalah keniscayaan untuk di teladani. Karena menurut saya, menjalankan sunnah juga bagian dari kewajiban. 

Di titik itu, Tidak ada pengecualian ; Mau dia Ningrat, Kiai, Ulama, Ustadz, pemulung, pendosa, bahkan Habaib sekalipun. Apalagi, jika dia adalah seorang Ulama, konsekuensinya lebih berat. Sebab, Rosulullah SAW sudah menekankan sedari awal, bahwa mereka (ulama) adalah pewarisku. Makanya, defenisi Ulama menurutku tidak mudah, harus terverifikasi secara utuh dan menyeluruh. Ia harus bisa, menjadi menara api untuk menerangi kegelapan ummat dan menjdi menara air untuk menghapus dahaga ummat. (Nanti saya tulis Khusus Soal ini).

Kita kembali ke soal pertanyaannya, Rosulullah SAW Kan Nabi, manusia Pilihan?. Siapa yang menyangkal hal itu, tetapi ingat juga bahwa Rosulullah SAW adalah Uswah - Tauladan - Contoh. Sebagaimana firman Allah SWT, " Laqod kana lakum fi rosulillahi uswatun hasanah -Rosulullah SAW merupakan Uswah (Tauladan)". begitu Al Qur'an menyebutkan, Bahwa Rosulullah SAW adalah Suri Tauladan. Maka, segala apapun yang bersumber darinya adalah standar hidup yang niscaya di ikuti. 

Saya belum temukan satu ayat pun, yang menyebutkan, ketika Rosulullah SAW diutus sebagai tauladan. di sisi lain juga ada pengecualian untuk mengikutinya dalam hal-hal tertentu dan ada hal-hal yang Hanya Rosulullah SAW saja Boleh melakukannya. Sedangkan pengikutnya, bagaimanapun teguhnya mereka melakukannya, tidak akan mungkin sama.

Sebagaimana yang saya kemukan diatas Tidaklah demikian cara membacanya. Perintah meneladani Rosulullah SAW, bukanlah perintah untuk menyamakan setiap hal yang Beliau Lakukan. Perintah meneladani, yang Oleh Allah berikan kepada kita adalah peta Hidup, jaring pengaman, dan sistem filter. bahwa apapun yang hendak kita lakukan, perbuat dan katakan. Maka, Al-Qur'an dan Rosulullah SAW adalah sumber primernya, Standarnya, rujukannya, protype dan Guindancenya. Jangan keluar dari itu, karena akan berimplikasi pada pengakuan atas KeRosulan Muhammad SAW.

Jika pertanyaan itu di arahkan dalam rangka, menyamakan skala dan intensitasnya ibadah dan ahklaq Rosulullah SAW sebagai seorang Nabi. Jelas tidak bisa, karena mustahil seorang Uswah, terdapat cacat cela. Ia harus Paripurna, makanya Ia di jadikan Prototype manusia.

Selain itu, Saya menduga pertanyaan itu adalah pledoi, untuk sengaja membenarkan sesuatu yang jelas di larang oleh Rosulullah SAW. sebab, Kita telah mahfum, bahwa Skala dan intensitas apapun yang di lakukan Oleh Rosulullah SAW, tidak akan bisa disamai oleh Ummatnya, itu dalam hal apapun. sudah pasti Nomor Wahid, beliau. Hanya saja, saya hendak meng-underline satu hal, yang tengah riuh dan merebak, sampai lintas dunia : nyata dan maya. apakah menghina dan mencaci itu adalah ajaran dari akhlaq Rosulullah SAW?. 

Menghina apapun jenis dan bentuknya dan siapapun orangnya, merupakan perbuatan yang di cela Allah dan dilarang oleh Rosulullah SAW. Allah Bahkan mewarning Istri-Istri Rosulullah SAW dalam Qur'an Al-Ahzab ; 30-31, Istri-istri Nabi, jika berbuat baik, pahalanya berlipat. Ketika berbuat dosa, dosanyapun berlipat. Berkenaan dengan itu juga, Rosulullah pun mengandaikkan sikap cintanya pada keadilan, sekalipun itu anaknya ; "Jika Fatimah, anakku mencuri, maka, aku yang akan memotong tangannya". (Hadist).

Dari dua dasar diatas jelas, silahkan di uraikkan lagi. Apakah itu sikap kecintaan atau sikap kebencian?. 

Ihwal itulah, Penting kiranya kita renungkan wasiat para walisongo dalam berdakwah atau menyampaikkan khazanah kepada ummat, "pancing ikannya jangan sampai keruh airnya". Jika sebaliknya yang terjadi, saya sudah tidak bisa membayangkan, betapa krisis metedologisnya kita dalam menyampaikkan kebaikan. Begitulah adab yang seharusnya, mereka para guru-guru, dan pemuka agama terapkan Dan kita juga harus ingat, bahwa ustadz, kyai, ulama, tokoh agama. Semua itu hanya supir, jika sampai terlena sedikit memegang kemudi. maka, kebinasaan penumpang tidak mungkin terelakkan.

Berkenaan dengan itu, saya teringat dengan untaian kalimat Indah dari, Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri yang bertutur, " Ketika aku mendengar orang bicara atas nama Islam dengan bahasa yang kasar dan caci maki, aku bersyukur kepada Allah tidak memahami Islam lewat lisan mereka". Sebagaimana Diwannya Imam Asy-Syafi'i, "orang pandir mencercaku, aku tak ingin menjawabnya. Dia bertambah pandir, aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang di bakar, malah bertambah wangi". 


***

Muslim itu seperti Matahari, jika ia terbenam disuatu tempat. Maka, dia akan terbit ditempat lain - Mohammad Iqbal-

Para buzzer itu,  dioperasikan oleh tangan gelap, membawa narasi Islamphobia ke etalase negara kita. Seolah mendesak agar negara mengakui isu-isu, yang secara jelas merugikan ummat Islam, bahkan ingin mengajari lagi ajaran yang begitu damai sebagaimana adanya. Ini proyek internasional yang dilakukan secara terstruktur. Sayangnya, masih banyak yang belum percaya. 

Teori propaganda yang di populerkan Paul Joseph Goebbels di Era Nazi, yaitu "Kebohongan yang terus menerus di kabar beritakan akan menjadi sebuah kebenaran". Tehknik inilah yang di gunakan hari ini, Islam terus menerus di fitnah telah melahirkan Teroris. Parahnya, banyak yang percaya, bahkan ummat Islam sendiri. apa yang terjadi Di India adalah contoh kecil dari sekian kasus yang menyandera Islam.

Dulu, media yang di gunakan Goebbels dalam melancarkan propagandanya, hanya lewat radio dan pertunjukan. Sekarang, hampir semua sarana media telah di gunakan. Tidak ada lagi ruang yang tersisa, yang tidak terjangkau. Ihwal itulah, menjadi wajar, jika tidak sedikit yang tidak percaya. 

Coba kita bayangkan, Buzer - sampah ini mengendalikan public discourse di sosmed. Perbincangan publik justru menjadi kumuh dan liar. Mereka seperti underground influencer, Merusak dan mengeroposi bangunan civil society.

Pos-pos checks and balance yang gagal dilakukan oleh institusi resmi negara, mahasiswa, media masa dan civil society lainnya, membuat peran sampah-sampah ini kian tak tertahan dengan aneka cuitan-cuitan yang disokong akun-akun fake.

Saya meyakini, jangan-jangan, ada gurita besar di belakangnya?. Mereka bekerja kolaboratif, terkendali dengan biaya besar. Mereka membikin perbincangan publik menjadi kumuh dan liar. 

Padahal, menurut penelitian Yang Berbasis Ilmiah yang pernah saya baca, di Prancis menemukan bahwa sejak Kuran waktu 1979 - 2019, Korban Aksi terorisme 91,2 % adalah Ummat Islam. 81, 1 % aksi terorisme di lakukan di negara Mayoritas Muslim.

Jika pelaku Teror adalah muslim, maka media terus menerus Memblow Up berita tersebut. tetapi, jika pelakunya Non Muslim, maka media akan bosan dan mencari berita lain. Inilah fakta yang banyak di kritik, termasuk di Amerika serikat itu sendiri dan hal ini juga menjadi Fakta di Media Kita. 

Negara ini memang kapasitasnya rendah. tetapi, saban hari, me-make up dirinya seolah-olah sukses. Salah satu gagalnya negara adalah gagal menghadapi narasi yang memberangus Revivalisme Islam dan kekerabatan ummat berbangsa. Saya tidak mengerti, siapa juru bicara negara saat ini. Ada begitu banyak kebingungan yang ada dan mereka tidak mengerti dari kemerdekaan rakyat itu Dan mereka tidak punya juru bicara.

Di Amerika sana, mereka punya press secretary, yang melayani media 24 jam. Bicara setiap hari. Ada issu yang berkembang, dia jawab, Dia tenangkan rakyatnya. Kalau ada hoax yang berkembang ditengah masyarakat, dia jawab saat itu juga. Sehingga, Hoax itu tidak harus dihukum.

Sekarang, orang cuman bilang idiot, masuk bui. Ditambah lagi, kita akan dihadang dengan kriminalisasi dan terorisme. Sehingga, kemerdekaan berpikir ini, akan dihambat. Tidak boleh bicara ini, tidak boleh bicara itu. 

Naas betul ummat islam ini, Jika kita tenang membaca semua ini. Ummat islam memang dirugikan dari semua sisi. Misalnya, Ketika Gereja Ortodoks di rusia mengatakan, pembunuhan sipil oleh Tentara di Rusia adalah "Perang suci", tidak ada yang mengatakan Gereja Ortodoks di rusia melahirkan teroris, sebagaimana yang terus di tuduhkan kepada Islam. Atau Ketika Perilaku 19 teroris yang membajak pesawat dan menghancurkan gedung putih di Amerika sana, harus ditanggung 1,6 milyar Muslim hingga hari ini. Amerika yang menghancurkan satu negara, bahkan seisinya, tidak pernah disebut Teroris. Padahal saat itu Josh Bush berpidato bahwa pertempuran ini adalah "Perang salib" yang harus dimenangkan. Siapa yang Peduli terhadap Agama Josh Bush Laknatullah Itu? 

Saat para Biksu Di Myanmar mengajak masyarakat membantai ummat muslim,  sebahagian terusir hingga kini. Tidak ada yang mengatakan agama Budha melahirkan para teroris dan ajarannya harus dikoreksi. Kenapa Hanya Islam?. 


KENAPA HANYA ISLAM? 

Hingga kini, Palestina DiHujani Bom, kapanpun Israel Mau. Anak-anak, perempuan hingga orang-orang Uzur ditangkap, bahkan dibunuh sesuai dengan selera Israel. Media internasional dan nasional tidak heboh memberitakan bahwa ada teroris beragama Yahudi. Kenapa sikap Dunia berbeda ketika berhadapan dengan Islam?. 

Jika kita mengurai semua ketidakadilan, terhadap Islam, khususnya Media yang secara telanjang mengabarkan hal itu. Yah, Dunia memang hanya menghargai mereka yang kuat Dan kita Ummat Islam, sebagaimana Sabda Rosulullah, Seperti Buih Diatas Lautan? 

Cara mereka menghancurkan kekerabatan beragama kita, seumpama "Genghis khan", kaisar mongolia. Yang dulunya disegani oleh bangsa-bangsa lainnya, karena sangat agresif itu. Suatu saat Genghis khan bersama pasukannya begitu sulit menaklukkan kota Bukhara. Akhirnya Genghis Menulis surat kepada penduduk Bukhara. Genghis dalam suratnya tersebut menuturkan ; "siapa diantara kalian yang membelot bersama barisan kami, maka akan aman" . 

Sebagaimana mental penjajah pada umumnya, setelah membaca surat tersebut, penduduk bukhara terbelah kedalam dua kelompok. Pertama membelot, kedua menolak. Kemudian Genghis khan mengatakan kepada mereka yang membelot ; siapa dari kalian yang bersedia berperang merebut kota Bukhara bersama kami. Maka, akan kami angkat sebagai pemimpin. 

Setelah bukhara jatuh ke tangan Genghis khan, akibat retaknya soliditas penduduknya. Genghis khan kembali berguman kepada pasukannya ; "jika mereka (rakyat yang membelot) bisa dipercaya, maka mereka tidak akan mengkhianati saudara sebangsanya, demi kita orang asing ini. Bunuh dan kubur mereka, yang setia juga yang berkhianat"!. Pengkhianatan tidak datang dari musuh. Itulah sebabnya, jangan pernah takut mendengar suara tembakan. Karena, suara tembakan yang mebunuh biasanya tidak terdengar. 

Misal, Ketika bangsa Cina sedang tenang, mereka membangun tembok cina yang sangat besar. Mereka berkeyakinan bahwa tidak ada yang sanggup menerobosnya karena sangat tinggi sekali. Setelah 100 tahun tembok itu usai dibangun, Cina terlibat 3 kali peperangan besar. setiap kali peperangan berkecamuk, pasukan musuh tidak menghancurkan atau memanjat tembok tersebut, melainkan menyogok penjaga gerbang tembok.

Cina di zaman itu terlalu sibuk membangun tembok (Infrastruktur). tapi abai pada menciptakan Sumber daya manusia. Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun.


**


Kembali ke topik, kita punya catatan soliditas yang kuat. Misalnya, saat Sultan Sulaiman Al-Qonuni menjadi Raja Di Ottoman. saat spanyol hendak menyerbu Belanda. Raja belanda meminta bantuan kepada sultan Sulaiman Al-Qonuni. Sultan mengirim 40 seragam Pasukan Ottoman, agar dipakai Pasukan belanda. Melihat pasukan Ottoman berdiri dibarisan Belanda, 30 tahun spanyol tidak berani menyerang, - ahmet akunduz. 

Itulah salah satu nikmatnya bersatu. Sebab, dunia hanya menghargai mereka yang kuat. 

Terbelahnya Ummat islam Di Bangsa ini secara Khusus dan secara Umum Ummat islam di dunia, pasca Bom meledak seumpama Ruang-ruang Konflik Sunni - Syiah, kerap kali dimanfaatkan banyak pihak untuk menghantam kekerabatan dunia Islam. Coba perhatikan dengan tenang, apa yang terjadi didunia Islam saat ini. Disamping faktor-faktor Eksternal, ada masalah internal yang besar dan faktor internal tersebutlah peluang eksternal masuk mengobrak abrik kekerabatan ummat, yaitu tidak mau menerima pendapat, masukan dan kebenaran dari orang diluar Mazhabnya. Padahal, itu adalah perilaku Jahiliyah yang di perangi Rosulullah SAW, saat pertama kali diutus.

Mestinya ulama-ulama ahlu sunnah berikan alternatif, sebab kita punya opsi, seperti yang dilalui Ulama-Ulama Asyariyah. Alternatif-alternatif seperti inilah yang mestinya ditempuh agar menjadi jalan atas solusi dunia Islam, yang seolah terbelah menjadi Dua bagian besar. Apalagi setelah peristiwa Bom Bunuh diri, kerap dialamatkan pada islam. 

Jika dunia Islam tidak mengambil jalan alternatif lain atau mendayung diantara dua Kutub besar diatas. Maka, solusinya ada pada keterbukaan. sebagaimana Islam Inklusifnya Cak Nur, Cak Nun, GusDur, dll. Jadi, jika kita perhatikan sejarah Islam dengan runut. maka, kita akan menemukan bahwa pemikiran terbukalah yang justru membawa peradaban islam itu berada pada era kegemilangan, sedangkan, pemikiran tertutup dan Jumud, alias Penganut Status Quo, ada pada era Kemunduran dan perang.

Kalau kita baca sejarah, secara garis besar, kemajuan dimanapun disebabkan oleh Pertemuan beberapa ide dari beragam konsep yang berbeda-beda. Itu motivasinya, agar kita bangkit.

Dalam Kekhilafaan Islam, keterbukaan ini pernah diterapkan dengan Baik. Misal, An-Nasir, Khalifah Dinasti Abbasiyah, dikenal sebagai penganut syiah, walau Abbasiyah adalah kekhilafaan Sunni. Beliau punya hubungan Kuat dengan Kalangan Sunni saat Itu. Hal ini Hampir, tidak kita dapati pada dunia-dunia Islam hari ini. yang ada, Justru saling mengkafirkan, menuding, dan membunuh satu sama lain Dan tanpa Kita tidak sadari, bahwa hal ini membuat peradaban kita semakin tertinggal ribuan kilo mil langkah. Serta menjadi peluang untuk dimanfaatkan oleh faktor ekternal yang menghancurkan soliditas ummat. 

Salah satu prinsip ahlu Sunnah adalah Persatuan. maka, konflik-konflik yang kerap menuding atas nama Agama Ini akan sangat Mudah selesai. Cuman masalahnya, percaturan ini sengaja dirawat, sehingga ummat Islam sibuk mengurusi perbedaan. padahal, dengan Persatuan kita akan Kuat.

Salah satu dendam kesumat atas nama trah genitik dan mazhab, ketika Ash-shaffah berkuasa menjadi Khalifah pertama era dinasti abbasiyah, semua kuburan para petinggi Bani Umayyah menjadi sasaran kemarahan. Kuburan yang tidak bersalah, di gali dari kuburan ke kuburan yang lain, meski hanya menemukan tulang belulang dan mayat yang tidak utuh lagi. Termasuk Muawiyah. 

Semua potongan jenazah itu dibakar, lalu abunya ditabur ke udara terbawa angin. Semua keturunan bani Umayyah yang tersisa di buru, di persekusi dan dibunuh. Kecuali wanita dan anak-anak. Sebahagian lolos kabur ke eropa. 

Di tahun 132 H Dinasti Umayyah Runtuh, di gantikan oleh Khilafah Abbasyiah. Ada satu orang pangeran dari Dinasti Umayyah yang berhasil melarikan diri, karena seluruh anggota kerajaan di sembelih semuanya oleh Dinasti Abbasyiah. Dia berhasil lari dari Damaskus, lewat Mesir sampai Ke spanyol. Jarak itu di tempuh dengan berjalan kaki, selama 6 Tahun. Lalu, Ia berhasil mendirikan kembali Dinasti Umayyah di Andalusia. 

Politik dan kekuasaan yunani, arab dan eropa abad pertengahan, hingga politik moderen diberbagai belahan dunia. Kerap Merawat dendam politik, melahirkan keangkuhan dan mengajari manusia untuk mengumbar kemarahan. 

Meski di beberapa kepemimpinan, ada yang alim dan bijak, seperti Umar Bin Abdul azis, juga Harun Al-Rasyid. Tetapi, syahwat berkuasa serta dendam antar suku yang dulu di hapus Nabi Muhammad SAW, tidak juga hilang sepenuhnya hingga runtuhnya dinasti Ustmani. 

Sebut saja Abu Hanifah yang alim itu, dia beberapa kali di penjara oleh penguasa Daulah Umayyah dan Abbasiyah, karena menolak jabatan yang ditawarkan kepadanya. 

Dari catatan-catatan yang demikian itu. Kita dapat belajar bahwa sejak dahulu di dunia islam, beberapa orang juga komunitas tertentu mempertaruhkan harkat dan martabat manusia demi syahwat berkuasa. Meski bukan berawal dari sana. Sebab, penikaman Umar adalah catatan pertama, betapa dendam antar suku itu sama sekali tidak terhapus oleh dakwah Rosulullah SAW selama 22 tahun lebih. Bahkan Dari 4 khulafaur rasyidin, hanya Abu bakar yang wafat secara wajar. 

Kita jangan warisi itu. Sebab, Bilal yang badui dan Salman dari Persi itu diperlakukan Istimewa oleh Rosulullah SAW, meski hidup di komunitas Quraisy. 


***

Dunia Islam kehilangan wibawa, lenyap marwahnya sebagai kekuatan ke dua pasca runtuhnya Soviet. 

Secara internal ada patologi yang kian hari semakin terawat. OKI yang mestinya menjadi lembaga merepresentasikan suara dunia islam justru tumpul dan mandul menghadapi tekanan luar.

Palestina, Afganistan, khasmir, suriyah, sudan, yaman, Xinjiang, Patani, Moro tak kunjung damai sampai hari ini. menunjukan betapa rapuhnya kesolidan itu dibangun.

Kita hanya melakukan siklus ini berulang-ulang. ada pembunuhan, genosida, penembakan, penangkapan dalam skala yang besar. Maka, semua dunia Islam pasti melakukan demo untuk mengecam. Protes ini berakhir dengan membakar bendera, atau foto presiden zionis - Israel dan Amerika, dsb. 

Hanya sampai disitu, tidak ada ikhtiar lebih dalam mendorong satu tindakan yang lebih kongkrit. Paling kencang ada di sidang darurat DK PBB atas usulan beberapa negara islam, tapi ujung dari pertemuan itu pasti diveto Amerika.

Turki dibawah Erdogan ingin menunjukkan superioritasnya atas dunia Islam. Tapi ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap keputusan-keputusan barat. Dia justru Takut. 

Kini kita harus berani jujur, Indonesia adalah masa depan kekuatan dunia Islam. Bangsa ini harus di kemas menjadi episentrum peradaban dimasa yang akan datang, menjadi lokomotif dalam mengembalikan peradaban dunia islam yang telah lama hilang Dan Anak-anak muda hari ini, di 10-15 tahun yang akan datang harus mengambil peran itu. Memproyeksikan masa depan bangsa ini beserta dunia islam menjadi lebih kuat dan berwibawa di mata dunia internasional. 

" Musuh islam yang paling jahat adalah seorang muslim yang bodoh tentang agamanya, tetapi tetap fanatik dengan kebodohannya". 


**

Sampai Kiamat, radikalisme itu akan tetap ada. Sebab, ia adalah langgam keagamaan. Setiap agama menuntut kedalaman dan ketercelupan penganutnya pada Fundamental values.

Sebab, semakin sholeh seseorang secara Individu, meniscayakan semakin sholeh secara sosial dan bernegara.

Hanya saja, Radikalisme terlalu sering di lekatkan pada Teroris, sehingga Streotipe tersebut menjadi Horor. Padahal, tidak semua Terorisme bersumbu pada Radikalisme keagaamaan.

Makanya, menjadi wajar jika Pelabelan radikalisme pada langgam agama adalah upaya pemberangusan Revivalisme agama.

Padahal, Corak berpikir Radikalisme, bisa di bantah dengan ide Kritisisme. Atau di reduksi secara alamiah oleh watak Ingklusifisme sosial kulutur Indonesia yang lekat dengan Langgam agama.

Oleh sebab itu, kita mesti beyound the Mainstream, bahwa Bisa jadi satu dari sekian akar Terorisme adalah ketimpangan Ekonomi, sosial ataukah distribusi kekuasaan.

Sebab, sudah banyak fakta yang menunjukkan : semakin Dewasa/makmur Suatu negara, semakin berkurang tindak kekerasan. 


***

Partai Demokrat Di amerika merekomendasikan, agar ada semacam Lembaga Khusus yang mengurusi ISLAMPHOBIA. sontak Amerika Menjadi Riuh.

Selain senat Amerika menyetujui RUU yang berkaitan dengan anti Islamphobia. Tidak berselang lama, Senat Amerika juga menyepakati, sekalipun hanya partisan (Demokrat dan Republik), seorang Muslim bernama Rasyed Husain sebagai seorang Ambasador kebebasan beragama di Amerika. Nah, saya kira ini menarik, karena posisi ini tidak pernah diduduki oleh seorang muslim?.

Pasalnya, Dalam dua dekade terakhir, seluruh dunia memang menganggap ISLAMPHOBIA merupakan proyek politik global, yang sudah tidak laku jika di Jual dan tidak berguna lagi. Semua itu, karena perubahan Cara Pandang dan cara berpikir dunia dalam melihat, "apa itu TERORISME". Jauh sebelum rekomendasi Partai Demokrat di bikin, Amerika telah memberi tanda yang sangat kuat, setelah Amerika keluar dari Afganistan, "yang dianggap" sebagai pusat Radikalisme.

Dititik itulah, kita bisa memahami perbedaan,  antara Partai demokrat dan Partai Republik di Amerika. Partai Demokrat kerap memelihara Ide Solidaritas Kemanusiaan, sedangkan Partai Republik acap menjadikan Isu Agama sebagai komoditas politiknya.

Mestinyal hal itu juga menjadi jendala buat Pemerintah Indonesia, agar mengakhiri ISLAMPHOBIA. tetapi, dasar sebahagian Manusia peliharaaan ini, otaknya memang otak Udang. Mereka tidak bisa membaca perubahan politik dunia. tetapi, terus memproduksi Islamphobia. Akhirnya kita tau bahwa kemampuan berpikir Mereka yang terus mengeksploitasi Islamphobia di indonesia, memang Nyaris Nol. 

Mengapa Nyaris Nol?. Karena, Nanti mereka yang Memberi Nol atas dirinya sendiri. 

Kita sebetulnya sedang di uji, bahwa Islamphobia adalah Diskriminasi yang di buat untuk kepentingan politik pengendalian. Selain itu, mestinya kita mengapresiasi, bahwa Partai Demokrat di Amerika memang dalam tradisi politiknya, menjadikan Solidaritas Kemanusiaan sebagai Lem Perekatnya. 

Kita Tau Obama juga dulu mengkahiri Proyek Islmaphobia, karena Politik Luar negerinya, lebih memandang ke timur tengah, menjalin Perdamaian dengan Fraksi-Fraksi negara Islam di Timur tengah. 

Joe Biden tinggal meneruskan saja proyek Obama tersebut. 

Suatu cara Pandang dunia baru sedang di hasilkan. Sedangkan kita di indonesia, masih suka mengutak atik soal agama. Padahal, Dengan Amerika menempatkan sebuah lembaga yang mengurusi Islamphobia, di kementerian luar negerinya adalah sebuah pesan kepada kita, bahwa ini adalah agenda Global. Amerika akan mengekspor perdamaiaan dan akan menjadikan Perdamaian sebagai SOP (Standar Operasional Prosedur) kepada seluruh entitas Pemerintahannya. tentu, hal ini akan Mengubah dan atau mengalihkan Energi Islamphobia Ke negeri Tirai Bambu (China).

Mesti kita tau juga, bahwa dunia ini di kendalikan oleh kemampuan Amerika untuk mengubah-ubah Isu dan hal itu sesungguhnya adalah momentum untuk Indonesia, agar mengakhiri juga Islamphobia. Karena kita sepakat untuk menghasilkan perdamaian dunia dan menciptakan kesetaraan warga negara indonesia untuk mengucapkan apa saja.

Artinya, kemerdekaan kita tidak boleh di halangi oleh (semacam) desain politik rezim yang hendak mengontrol masyarakat sipil dengan menghembuskan terus menerus phobia terhadap politik islam di dalam negeri, karena hal itu merupakan kekonyolan yang sangat luar biasa dan sifat kenak-kanakan.

Hembusan nafas phobia terhadap islam politik inilah, akhirnya Mayoritas Ummat Islam akan mengungkit-ngungkit share mereka terhadap pendirian republik indonesia. Padahal, Sebahagian Problem Indonesia, bisa selesai, jika menyelesaikan Problem mayoritas ummat islam.

Misalnya, kalau kita mau melacak lebih jauh.  sejak awal yang Memerdekan republik ini adalah gerakan Islam. karena, yang di jajah pertama kali oleh belanda adalah kesultanan-kesultanan Islam, sebelum NKRI ada. Hanya ada kepulauan Indonesia yang di huni oleh Kesultanan-kesultanan Islam dan mereka yang pertama kali melawan penjajahan belanda. Share inilah yang mestinya di pahami oleh Buzzer, oleh Pemerintah Indonesia dan sebahagian manusia Kerdil Bin konyol tersebut, juga seharusnya di hasilkan oleh parpol-parpol yang tidak paham sejarah republik ini.

Sesungguhnya itu suatu kehendak sejarah, yang Kita harus tau bahwa jejak untuk menghasilkan kesetaraan dan keadilan di mulai dari gerakan sultan-sultan Nusantara yang basisnya adalah Islam, untuk mengusir kolonial.

Kita ini sudah merdeka dan kemajemukan merupakan dasar kehidupan kita bersama. Jangan terus menerus menggiring isu untuk menyatukan lempengan keadilan dan kesejateraan, yaitu Isu tentang bahayanya jika Kadrun memerintah. Apalagi, jika presidensial Thershold di bikin nol. maka, HRS akan jadi presiden. terus terang Isu ini, berbahaya bagi negeri kita. Kekonyolan inilah yang sedang di tertawakan dunia.

Hentikan sudah kekonyolan ini, karena kita ingin basis kita adalah konstitusi, yang perintahnya adalah setiap parpol peserta pemilu berhak mencalonkan presiden. Artinya presidensial thershold, Harus NOL.

Para buzzer Otak udang dan Manusia-Manusia yang Cari Makan di sekitaran Istana ini tidak paham bahwa Orientasi Joe biden telah berubah sekaligus dalam upaya memperlihatkan kembali, bahwa Amerika adalah negara yang hendak mengeskpor dunia bebas dan mau bekerja sama dengan dunia luar. 

Tentu, Joe biden tau bahwa potensi politik indonesia kedepan tidak mungkin tanpa Variabrl Islam. Karena pengertian itulah Joe Biden Tau betul, Untuk mengcounter China, hanya Indonesia yang paling dekat dengan China (proxy ekonomi). Tetapi, sebetulnya indonesia lebih punya kemampuan untuk mencounter china secara ideologi, karena islam dan Komunis pasti diametral pertentangannya (sekalipun hal ini Deabetable).

Dari beberapa hal yang kita baca, Amerika sesungguhnya negara yang tidak ada asal usulnya. Amerika adalah Negara seluruh bangsa, tidak seperti kita di indonesia, yang memerdekakan diri. punya asal usul etnisitas. Amerika itu adalah benua semua orang. Jadi, di Amerika tidak ada keunggulan satu pihak kepada pihak lain. Karena itulah, Amerika terus mengupayakan Politik Multikulturalisme, bisa menjadi jendela untuk dunia dalam membaca Amerika.

Dalam dua dekade ini Amerika menganggap bahwa soal agama adalah bahagian dari politik luar negerinya (Komoditas Politik), yang kini telah tereduksi pengertiannya. Karena, dianggap bahwa ancaman-ancaman agama sesungguhnya sudah berakhir. Di tambah banyaknya negara Arab yang akhirnya berdamai dengan Isrsel, sekalipun motifnya adalah mendapat lampu hijau, agar bisa membeli senjata di Amerika. Apalagi dalam persepektif partai Demokrat, selalu ada yang disebut sebagai Soft Power, yang diuraikan dua dekade lalu oleh seorang profesor, bahwa "Sebaiknya Amerika mengekspor demokrasi ketimbang mengekspor Senjata".

Penunjukkan seorang Muslim sebagai duta besar kemajemukan atau kebebasan beragama di Amerika, adalah sebuah upaya yang di tunjukkan bahwa Amerika, terutama dalam versi partai Demokrat, sangat peduli dengan kebebasan manusia dan Hak Asasi Manusia.

Kita di indonesia, sesungguhnya terikat secara ideologis dengan Ide tersebut. Sebab, kita merupakan Masyarakat yang Multikultural. Jadi, membaca Amerika, sesungguhnya bahagian dari kepentingan kita membaca indonesia. Sebab, jangan sampai Amerika, justru lebih bisa mengajarkan kita tentang kemajemukan. Padahal kita terus memproduksi bahwa kita adalah masyarakat yang majemuk dan heterogen.

Penting sekali bagi kita, anak muda untuk terus memantau politik luar negeri. Selain kita tidak hidup di ruang hampa sejarah, kita juga terikat dengan sebuah pakta kemanusiaan dan kita tau setiap perubahan politik diIndonesia, tidak mungkin tanpa variabel global, apalagi Amerika. Begitu juga dengan China, karena kita sudah dianggap condong ke poros beijing.


***

Dalam relasi sosial, tidak ada paksaan memakai pakaian atau lambang agama mayoritas kepada minoritas. Islam justru menjaga kebebasan minoritas. Di indonesia konstitusi kita juga melakukan hal yang sama. Artinya, secara agama dan negara, indonesia sudah selesai dengan hal ini. Makanya, Indonesia mestinya mengecam dan mengusir dubes India, sebagai protes atas diskriminasi manusia di sana.

Indonesia sudah terlanjur di buat sebagai rumah yang aman bagi semua entitas agama. Tapi, yang kerap kita lupa dalam bernegara, Tidak hanya minoritas yang memiliki hak. Mayoritas juga memiliki Hak yang harus dijaga. Bukan atas nama menjaga minoritas, lalu melupakan hak mayoritas. Hal ini biasa terjadi di negara mayoritas Muslim. 

Padahal, belum pernah ada Hak mayoritas yang terganggu oleh umat islam di negara mayoritas Kristen, Hindu, Budha. Lihat saja, di eropa, India, Mynamar,  contohnya. 

Salah satu Hak Mayoritas adalah menjadikan agama mayoritas sebagai agama resmi negara, tanpa mengecilkan keyakinan minoritas. Negara-negara demokrasi besar, telah lama menjadikan agama mayoritas sebagai agama resmi negara dan di tulis dengan jelas dalam konstitusi mereka. Sedangkan, Kita Di Indonesia Justru PHOBIA. 

Misalnya, Argentina dan Meksiko menjadikan Katolik sebagai Agama resmi negara dan di tulis dalam Konstitusi mereka atau Konstitusi negara Panama, sangat jelas tertulis bahwa Negara harus mengajarkan Agama Katolik di kelas-kelas dan tidak mengajarkan agama minoritas atau Yang paling dekat dengan kita, Fhilipina yang katolik. Konstitusi Yunani dan Bulgaria, begitu juga Georgia menyebut Kristen Ortodoks, sebagai agama Resmi negara. Konstitusi Denmark dan Norwegia menyebut Gereja Lutheran harus di bantu dan dijaga oleh negara tanpa menyebut agama minoritas.  

Lantas, Mengapa Kita justru "Pemerintahan Islam", dianggap aneh oleh negara dan sebahagian Intelektual?. Artinya, biarlah itu menjadi diskursus yang melahirkan banyak Khasanah Keilmuan, Sebagaimana dulu di lakukan Intelektual Islam. Toh, islam juga tidak harus di konversi menjadi negara. 

Kesalahan fatal beberapa kawan Minoritas di negara Mayoritas muslim adalah menganggap semua yang berbau Islam sebagai Musuh, Harus di perangi. Baik dalam konteks politik, maupun Sosial. Padahal, negeri Muslim adalah Surga bagi Minoritas. India hari ini adalah contoh Kongkret. 


* Rst
* Nalar Pinggiran