Secara Normatif, Lailatul Qodr adalah malam kemuliaan. Apa yang mulia dari malam ini?. Apakah malam yang menjanjikan kemenangan faktual atau sekedar malam yang memiliki sugesti moral dan motivasi spiritual yang berada dialam ide atau mungkin sebuah malam yang mengandung sebuah fakta empirik yang dibumbui harapan-harapan agar manusia mencapai maqom yang ideal dan objektif dengan selumbung misteri yang tak mampu ditakar dengan nalar subjektifitas manusia.
Lailatul qodr adalah sebuah peristiwa yang sarat dengan idom-idom spiritual, sehingga ketika manusia mampu mengembarai dan merengkuhnya akan diberi reward yang fantastis dengan meraih " delalapan puluh tiga tahun kebaikan".
Reward yang fantastis ini nampaknya membenarkan igauan Abraham Harold Maslow yang mengatakan bahwa tidak ada makan siang yang gratis atau apapun motif dari tindakan manusia, selalu bermuara pada pencapain hasil yang kuantitatif sembari menafikan aspek Kualitatif yang menjadi tujuan hakiki dari sebuah tindakan. Asumsi ini mengibrahkan sebuah bahwa berbuat dan bertindak diwilayah material, maka parameter materiallah akan menjadi indikator untuk meraih kesenangan dan kemenangan yang sesungguhnya. Proposisi semacan ini seakan membenarkan sebuah adagium bahwa ketika engkau menghajatkan sebuah kesenangan dan kemenangan duniawi, maka akan tersedia jalan untuk menggapainnya.
Pandangan diatas kelihatan memberikan zona demarkasi yang cukup riskan jika dikorelasikan dengan esensi " Lailatul Qodr". Keriskanan Zona demarkasi lailatul qodr ini melahirkan dua sisi yang diametral, yakni disatu sisi lailatul qodr adalah sebuah aktivitas dan rutinitas jasmani, apakah cukup mungkin dihargai dengan reward yang bersifat kualitatif. Hal ini menjadi dilema yang ambigiutas yang perlu didiskusikan agar tidak menjadi absrud pada dimensi ontologisnya.
Akan tetapi, disisi lain " Lailatul qodr" juga mengandung sebuah nilai, bahwa sekalipun ia termasuk rutinitas jasmaniah, namun sesungguhnya ia merupakan manifestasi dari relaksasi ruhani dalam perspektif aksiologisnya.
Analisis perspektif diatas menyisahkan sebuah gugatan Epistemologis. Apakah mungkin reward kualitatif dari relaksasi ruhani " Lailatul Qodr" menjadi niscaya untuk digapai semua manusia yang sedang menanti dan dicarinya?. Apakah setiap manusia yang etos ibadahnya sangat Khusyu' dibulan ramadhan dapat mencapai kemuliaanya?, sementara ketika diluar ramadhan dia ketahui sebagai penenung dosa dan penikmat kemaksiatan. Kalau kondisi psikologis ini menjadi mainstream yang harus dibenarkan, maka Ramadhan bisa di maknai sebagai bulan Manipulatif atau Sydrom of Deacy atas perilaku manusia yang melacuri eksistensinya dengan perilaku yang tidak jujur dengan dirinya sendiri.
Fenomena diatas harus diinisiasi melalui restorasi personal (reciver spiritual) agar dapat merengkuh sejuta malam kemuliaan. Receiver spiritual dapat ditempuh dengan jalan menjaga kebersihan jiwa, ketajaman fikr dan dzikir, kesyahduan iman, kepasrahan yang total kepada Sang Qodi Rabbul jalil.
Oleh karena itu:
Ingatlah ketika lampu tak bersumbu dan tak berminyak, jangan bayangkan api Maghfirah.
Jika gelas kita retak, jangan bermimpi menuangkan minuman. Jika mental kita rapuh, jangan rindukan cahaya ilahi menghampiri kita.
Jika kaca jiwa kita masih kumuh dan bernoktah, jangan khayalkan rahmat ilahi menyapa kita.
Bertakhalillah dengan shaum kita, Bersemedilah dengan Tahalli dzikir kita, Bersenggamalah dengan tajalli ibadah kita. Semoga kebahagian tiada tara menghampiri kita.
Saudaraku, jika rindu kita ingin terpaut dalam arsy-Nya, maka beningkanlah dengan I'tikaf kita dengan intensif.
Jika obsesi kita mendamba kearifanNya, maka tenunilah jiwa, agar jauh dari kefanaan dunia, agar kita mampu mendekap dan mendekat dalam resonansi ke alam spiritualitas.
Jika etape-etape relaksasi Iman ini menjadi Kidung tahajjud malam, itu pertanda shaum kita mampu mengeliminasi beban kotoran duniawi, mempreteli nafsu-nafsu lawwahma menjadi jiwa-jiwa yang Muthmainnah, agar damai dan beningnya surga dapat kita kembarai dalam ketulusan imam yang tak termaknai. Inilah pengalaman sufistik yang mengantar kita untuk menggapai kualitas malam seribu malam.
AAMIIN YA ROBB...
#Rst
#nalarpinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar