Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Sabtu, 27 November 2021

-ASSIKALABINENG -


Sebelum kita mengulas tentang Kitab Kama sutra Bugis atau Assikalabineng. Kita menjawab terlebih dahulu tentang persepsi bahwa Pembicaraan sex adalah sesuatu yang tidak tabu di masyarakat kita. 

Membicarakan sex, boleh dalam suasana santai, bisa juga serius, akan tetapi dalam banyak hal, sex itu membahagiakan. Sehingga, Jika ada yang menyatakan Sex itu jorok?. Tentu kita akan bertanya, joroknya dimana. Sebab, kita akan mendalami sex sebagai sebuah kearifan atau sebuah kebutuhan atas kebahagian. 

Jika dulu orang membicarakan sex dianggap tabu, sehingga membuat orang jauh dari pengetahuan sex itu sendiri. Itulah kenapa banyak rumah tangga bermasalah karena sexsualitas. Tetapi, di sisi lain jika ada yang memahaminya dengan baik, justru menjadi cermin rumah tangga yang baik. 

Makanya sex secara personal adalah sebuah kebahagian, sehingga kebudayaan kita mengaturanya sebagai sebuah kearifan. 

Bagaimana Sexsualitas dalam tinjauan kultur Nusantara?

Sebenarnya sexsualitas itu memiliki kearifannya sendiri. Misalnya, di Kultur Bugis punya kearifan tersendiri, sama seperti ketika kita membaca kama sutra di India. Ternyata di Bugis juga memiliki kitab Kama sutranya, yaitu Assikalabineng, Sama juga seperti di Jawa Di sebut dengan Terma Asmoro Gomo.  kama sutra bugis, bisa sadur dari manuskrip leluhur-leluhur kita dulu. 

Sebenarnya kita tidak perlu berguru terlalu jauh ke India, ke Arab atau kemanapun untuk mengetahui bagaimana sebenarnya skema kama sutra itu dalam konteks mencari kenikmatan dan kebahagian.

Dulu, Jika bicara sex, ulama kita menyebutkan, "ada proses menindih dan menghimpit". Ada superioritas dan Inferioritas. Padahal sex itu tidak sesederhana itu. Sex itu juga harus di lihat sebagai sebuah keseimbangan. Misalnya, saya laki-laki mendatangi pasangannya saya yang perempuan dengan nafsu yang 80%, maka perempuannya cukup menerima dengan 20% saja.  Agar tercipta keseimbangan. Nah, jika sama-sama 100%, maka hal itu bisa berlebihan. 

Tetapi dalam tuntunan masyarakat, sebenarnya. sex itu penyatuan 4 unsur, " tubuh dengan tubuh", jika kita bicara senggama, di sebut skin to skin  (saya menyentuh dirinya dan dia menerima sentuhan saya dengan manja). "Nyawa dengan nyawa", "nafas dengan Nafas" dan "Rahasia dengan Rahasia". 4 unsur inilah yang disebutkan oleh Masyarakat Bugis dengan terma "sulappa appa". 

Jika kita mengikuti Pembahasan ini, sebenarnya sudah ada Penelitian tentang hal ini, yang di lakukan oleh seorang Peneliti asal Unhas yang menuliskan tentang manuskrip Assikalabineng. 

"Sebenarnya apa makna assikalabeneng sebagai kearifan Bugis Makassar?".

Sexsualitas itu adalah keseimbangan. Ketika kita menganggap sex itu sebagai sebuah kesenangan, maka hal itu adalah tingkatan terendah dari sex itu sendiri. Misalnya hanya untuk melampiaskan hawa nafsu dalam konteks lahiria saja, maka hal itu bagian paling rendah dari sexsualitas. Sebab, sexsualitas itu tidak di bangun dari ketertarikan bodynya saja, dsb. Melainkan, ada hal yang di bangun sebelumnya. 

Misalnya, dalam kitab Asmoro Gomo (kama sutra Jawa), ada 6 tingkatan ;

pertama, asmara Lana. Lelaki dan perempuan saling memahami dalam konteks kepedulian. Seperti, ketika ada seorang lelaki memiliki ketertarikan khusus pada perempuan, dan lelaki tersebut memberikan kepedulian tertentu atau yang kerap disebut sebagai "Kasmaran". 

Kedua, asmara Tura ini berisi pujian-pujian yang baik. Pujian itu butuhkan untuk memasuki tahap selanjutnya. Pujiannya lebih kepada rayuan pada fisik, belum kepada nilai-niali yang puitis. Nanti pada tahap berikutnya.

Ketiga, asmara Turida, disinilah ketika seorang lelaki tertarik pada perempuan, dari cara dia ketawa, dari kerlingan matanya, bahkan dalam tahap yang lebih tinggi, ada desahan yang manja sampai di hati kita. Hal itu yang disebut dengan penyatuan nyawa dengan nyawa. 

Keempat, asmara dana. Ketika tawanya perempuan sudah menyentuh hati kita. Maka, kita bisa membalasnya dengan syair-syair puisi yang indah. Pujian yang di maksud, sudah bukan lagi pujian erotic (fisik). Jika hal ini sudah dilakukan dan perempuan, merasa sampai juga di hatinya. Maka peluang untuk memasuki tahap berikutnya besar, seperti menyentuh tangan, dia akan merasa terangsang sedikit dan dari situ dia bisa memberikan kita ruang untuk menyentuh bagian tubuhnya yang lain. 

Nah, dalam konteks sexsualitas, dari tahap inilah potensi ciuman bermula. Karena setelah kita bisa menyentuh tubuhnya dan menyesuiakan diri, hal itu disebut foreplay (pemanasan). Jadi tahapnya demikian, jika hendak mencapai kenikmatan yang sesungguhnya. makanya, sex bukan hanya sekedar kebahagian jasmani. Tetapi, kebahagian rohani. 

Dalam terminologi manuskrip, sex itu di ibaratkan sebagai Mantra yang di sampaikan. Orang tua kita dulu, punya potensi mengirimkan ransangan melalui doa atau mengirimkan pengaruh melalui mimpi ( na'pa nimpiwi makkun rainna ; perempuan itu akan bermimpi sedang melakukan persetubuhan dengan kita), tetapi dalam kontes pasangan yang sah. 

Dalam perkembangannya, kita harus melihat secara kontekstual bahwa perilaku sexsual tidak hanya cara kita mencapai kenikmatan. Sebab, tahap tertinggi dari sexsualitas, selain keseimbangan, bahwa di dalam sexsualitas terdapat kasih sayang Tuahn. Selalu ada ingatan yang sangat tegas, dalam kajian manuskrip terhadap sexsualitas, kita selalu diarahkan untuk mengingat ; " arri ngerrako takkakupammu (di saat kita lupa, hal ini biasanya jika dalam konteks hawa nafsu yang mengebu-gebu, kita bisa lupa seluruhnya. Di situ kita di ingatkan, Perlu kita me-rem hawa nafsu itu sedemikian rupa). Sebab, jika kita datang dengan energi yang terlalu besar. Bisanya, tidak berpretensi untuk membuat pasangan kita bahagia (egois). Jadi, kalau kita datang dengan nafsu yang membuncah, tanpa memperhatikan situasi pasangan kita. Maka kadang kala kita over lap. Disitulah sex dalam konteks kesenangan hanya akan berhenti di situ. Padahal sesungguhnya, setelah kesenangan, ada kenikmatan. Setelah kenikmatan, ada kebahagian dan di setiap kebahagian selalu ada kasih sayang Tuhan (Rahma). 

Itulah sebabnya, di setiap permulaan nelakukan senggama, selalu di sebutkan untuk memberi salam kepada pemilik pintu Rahma (Assalamualaikum Ya Babur Rahma).

Jadi susungguhnya sex dalam konteks kearifan Bugis Makassar, bukanlah sesuatu yang jorok. Melainkan sesuatu yang sangat religius. Karena selain mengendalikan diri, di situ juga terdapat doa ; " Yahruju min baini Sulbi wa ttara'ib". Dari konteks inilah, sehingga ada tafsir yang berkembangan dalam masyarakat Bugis, bahwa sexsualitas tidak hanya sekedar alal lahmun Ilal lahmun (memasukkan daging kedalam daging). Tetapi, lebih kepada bagaimana kita memperlakukan pasangan kita dengan bijaksana.

makanya, kenapa sering sekali diulang-ulangi dala manuskrip, bahwa jika kamu mendatangi pasanganmu, pastikan bahwa dia juga ikut berbahagia. Bukan hanya 1, 2, 3 Hore. Tetapi, dalam banyak hal kita perlu memasukkan unsur-unsur keseimbangan disitu. 

"Apakah teks Assikalabineang membahas sampai soal-soal teknis?".

Justru kitab tersebut sangat teknis. Jika diatas saya menyebutkan, tentang foreplay, dalam kitab tersebut kita dituntun, apa yang di sentuh pada malam pertama terbitnya bulan. Misalnya, 1 Syawal atau 1 sya'ban, dsb itu dianggap sebagai malam pertama terbitnya bulan. Nah, saat malam pertama terbitnya bulan, titik rangsangan perempuan itu berada pada telapak kaki kanannya. Hal itu yang terus di eksplore dan hanya sampai 15 hari dalam sebulan, karena perputaran bulan, hanya sampai di purnama. 

Jika saya baca dari variasi titik ransang, semuanya berada di sebelah kanan (dari bawah ke atas) : hari pertama, di telapak kaki sebelah kanannya. Hari kedua, di betis sebelah kanannya. Hari ketiga, paha kanannya. Hari ke empat, dada kanannya. Dan seterusnya, dengan perlakukan yang berbeda. 

Tetapi, yang penting adalah ada sentuhan-sentuhan tertentu yang harus kita lakukan, yang kalau kita sentuh tidak membuat bulu kuduk perempuan itu tidak layu. (Hal ini biasanya harus berguru dulu) 

"Apakah Assikalabineng dalam kultur bugis, masih eksis?".

Sebenarnya, posisi pewarisanya dalam kultur masyarakat Bugis, ada pada saat  (seharusnya), sebelum menikah, sering kita di pingit. Pingitan tersebut "ancaman" untuk calon pengantin tidak boleh kemana-mana (sinrapo-raponna : jika keluar sebelum pesta, biasanya kita di beritahu bahwa kamu akan celaka). Padahal sebenarnya, dalam histori pingitan, di saat-saat itulah, ilmu kama sutra di turunkan. 

Jika kita tau terma " indo botting", anehnya sekarang indo botting lebih banyak mengurusi soal make up, dekorasi, pelaminan, atau hal yang terlalu artifisal, dsb. Padahal indo botting itu, dialah yang seharusnya menurunkan ilmu assikalabineng kepada calon pengantin dan memastikan kepada calon pengantin tersebut, siap mengarungi bahtera rumah tangga (dalam terma Bugis makassar, kita disuruh kelilingi dapur 7 kali). Karena saat orang di pingit, orang sesungguhnya diajari ilmu assikalabineng. 

Hakikat sesungguhnya Indo botting itu tidak terlalu mengurusi hal teknis pernikahan. Tetapi mengurusi hal prinsipil pernikahan, yaitu Indo botting harus memastikan, bahwa calon pengantin dapat mencapai kebahagian melalui proses-proses kesenangan, kenikmatan, sentuhan, dst. Hal itu di wariskan sebegitu rupa. Bahkan, hanya antara calon pengantin lelaki dan indo bottingnya. Perempuan seharusnya juga memiliki indo bottingnya sendiri, Karena titik rangsang lelaki juga ada. 

Di manuskrip assikalabineng pun di bahas. misal, bagaimana caranya menghidupkan kayu yang sudah luyu. Jadi, bahasanya sangat sastrawi. Padahal hal itu di asosiasikan pada alat kelamin lelaki dan perempuan. Sebab, disitu posisinya adalah hasrat, bukan dengan obat-obatan, seperti yang di maksud Dr. Boyke, Di situlah di ambil alih sakralitas dan religiusitas ilmu tersebut, di serahkan kepada seksolog. Sementara kita melihatnya, tidak hitam putih. Sebab, di situ ada perlakuan atau sistem penerimaan. 

Bahkan dalam ilmu ini disebutkan, bahwa ilmu ini adalah Mala'bi ; karena peristiwa ini sesuatu yang luar biasa, maka sudah seharusnya di perlakukan dengan sesuatu yang lebih luar biasa pula. 

Hal itu berkelindan dengan prosesnya, sedangkan banyak diantara kita mengartikan assikalabineng itu hanya peristiwa diatas ranjang. Padahal sesungguhnya sex itu bisa di mulai dimana saja. Ada sebuah buku, yang berjudul " Sex di mulai dari dapur" : di situ dijelaskan posisi lelaki dan perempuan sangat seimbang (bukan Bersenggama didapur). Tetapi, seorang lelaki, juga bisa mengambil peran domestik seorang perempuan, tanpa merusak maskulinitasnya. Jika seorang lelaki bisa melakukan hal ini, sesungguhnya dia seksi Dimata istrinya. 

Jadi, jika hal ini terus lakukan, saya pikir anjuran-anjuran untuk saling memuliakan bisa di gaungkan. Karena ada tujuan dari assikalabineng ini. Orang-orang yang mengetahui, memahami dan mempraktekkan dengan benar, di sebut " ata man rapi" (orang-orang yang memiliki pengetahuan tinggi) atau orang yang sudah selesai dengan dirinya atau orang yang sudah bisa memanusiakan pasangannya. 

Ada literatur Arab atau kama sutra Arab, menjelaskan bahwa Fatimah pernah protes kepada Ali, karena dia dianggap tidak di kirimi apa yang Allah titipkan kepada Nabi Muhammad, yang Ali tidak bisa menerapkannya diatas ranjang . Tetapi, cara Fatimah menegur Ali, itu dengan elegan, tidak vulgar ; "Baginda, Anda belum menyampaikan apa yang dititipkan Tuhan kepada suaminya untuk istrinya". Artinya, boleh jadi Fatimah pada konteks itu, tidak mendapatkan kepuasan seksual. Karena pada akhirnya, Fatimah mengajak Ali, untuk berguru kepada Nabi Muhammad. Karena porsi itulah yang ingin di sampaikan. Sehingga Ali kemudian berguru kepada Nabi dalam konteks keberpasangan atau seksulitas. 

Terakhir, di hubungan seksualitas, biasanya ada doa-doa yang dihaturkan. Biasanya di manuskrip, pasangan yang memiliki idealitas atau di jadikan Patron, bisa kita pelajari dari kehidupan rumah tangga Fatimah dan Ali. 

Manusia itu bukan hanya mahkluk sosial. Tetapi, dia juga mahkluk seksual. 



***


Pada bagian atas, sudah saya uraikkan sedikit, tentang sex yang di mulai di dapur, dalam artian mengapa tidak lelaki (suami) melakukan pekerjaan domestik (dapur), tanpa harus mengurangi maskulinitasnya. Tentu hal ini, sangat menarik, apalagi jika kita relasikan dalam perspektif gender atau bagaimana relasi gender (suami dan Istri) dalam Assikalabineng?

Relasi antara lelaki dan perempuan, pada ulasan pertama. Sebenarnya tidak sedang mendudukkan lelaki dan perempuan dalam bias gender. Sex di mulai dari dapur, hanya sebuah terma yang menghendaki antara laki-laki dan perempuan yang memiliki kecenderungan peran yang seimbang. Jadi, apapun namanya. Baik itu dalam hubungan ranjang (seksesual), maupun di domestik (di dapur). Kita tidak mengatakan bahwa peran terbaik di dapur adalah perempuan. Sebab, lelaki juga bisa melakukan hal tersebut. Bukan soal maskulinitas dan feminitas semata. Tetapi, dia adalah cara terbaik untuk memulai aktivitas sex, dalam konteks menindih dan menghimpit. 

Kalau sudah ada Keserasian di dapur. Bisa mengerjakan semuanya bersama-sama dan tidak terdapat relasi kuasa. Artinya, ketika di bawah ke ranjang, maka relasi kuasa pun tidak berlaku. Jadi, posisinya sama-sama subjek. Objeknya adalah kenikmatan yang hendak di raih bersama (dalam koridor kasih sayang Tuhan). 

Diatas ranjang, tidak ada objek dan subjek. Maka, relasinya adalah setara. Keseteraaan yang di maksud, sebagaimana yang di ulas pada bagian sebelumnya ; " ketika lelaki atau perempuan mendatanginya dengan energi atau hasrat yang membuncah, 80 atau 60 %. maka pasangan kita juga harus memiliki keinginan atau antusias yang menyesuaikannya.

Tetapi, hal ini bukanlah sebuah beban. Sebab, aktivitas seksual tidak melulu soal konektivitas kelamin lelaki dan perempuan. Sebab di situ ada pikiran yang bermain. Ketika ada aktivitas seksual ; alal lahmu Ilal lahmun (masuknya daging kedalam daging). Sementara pikiran kita tidak terfokus atau tidak berada dalam romatisme tersebut. Maka, sama saja kita melakukan kedzoliman terhadap pasangan kita. Sebenarnya hal ini, bahagian dari etika, karena itu potensi kita untuk berfantasi terhadap sesuatu dalam aktivitas seksual itu ada.

Misalnya, kita punya pengalaman Dengan video-video viral yang beberapa detik itu. Lalu, dalam aktivitas seksual tetiba dalam sekejap terngiang-ngiang, maka potensi kita untuk berfantasi ada. Nah, kenapa kontrol pikiran di butuhkan, karena kita harus fokus satu sama lain. Itulah yang disebutkan, bahwa kita sama- sama subjek. Jadi, jika kita sudah mengkondisikan diri, bahwa ada pujian di sampaikan kepada pasangan kita, ada cara dia menerima dengan baik, ada doa yang kita panjatkan sama-sama, ada keinginan untuk saling memberi dan menerima. Di situlah esensi pikiran dan perbuatan dan gerakan tangan harus saling bersinergi. 

Di kitab Assikalabineng, mengatur yang sifatnya aturan teknis sampai pada doa-doa sebelum memulai. semua itu adalah bahagia dari kontrol pikiran. selain itu, di Kitab Assikalabineng selalu memberi batasan, bahwa sesuatu yang di buka dengan baik, di lakukan dengan baik maka ditutup dengan baik pula. Jadi aktivitas tersebut, harus satu garis lurus. 

Saya kerap berdiskusi dengan kawan-kawan soal ini, bahwa potensi seksual kadang berhenti, pada saat ejakulasi, pada saat pasangan kita sudah orgasme. Padahal seksual tidak berhenti di titik kunci orgasme. Karena tidak semua perempuan bisa organsme. Tetapi, ada hal yang dapat dilakukan, untuk bisa membuat dia merasakan kenikmatan dan kebahagian atau dalam konteks Assikalabineng di sebut " minyyak na bunganna si bollo e ", di situlah sesungguhnya puncak kenikmatan sebagai manifestasi dari proses seksual. 

" Minyyak na si Bollo e" adalah orgasme. Jika orang orgasme itu, lelaki biasanya keluar sperma dan perempuan itu ada gestur menggeliat yang begitu nikmat rasanya. Kerap kali, jika kita lihat lebih jauh, disitulah ada rintihan atau erangan yang sangat dahsyat keluar. Tetapi, tidak hanya sampai disitu sebenarnya, ketika lelaki sudah ejakulasi dan perempuan sudah orgasme ataupun kita sudah saling merasakan puncak kenikmatan, lalu kita saling memunggungi. 

Misalnya, bagaimana nikmat merokok, setelah makan. Disebutkan dalam kitab Assikalabineng, bahwa setelah kamu melakukannya, kamu jangan buru-buru berhenti saling menyanyangi (na rekko pura ko aja mu Tappa si Boko i : jika sudah melakukannya, jangan saling memunggungi)". Biasanya kan demikian, sebab banyak energi yang keluar, bahkan dalam tingkat insentitas tertentu kita sama-sama berkeringat. Akhirnya kita sudah selesai, sudah. 

Padahal sebenarnya, kenikmatan sesungguhnya adalah kenikmatan after sex, ada istilah sigared after sex, ini semacam analogi bagaimana kita tetap berada dalam suasan saling menyanyangi meskipun sudah ejakulasi dan orgasme. 

Banyak diantara kita, karena mungkin sudah terlalu capek, sehingga  potensi untuk melakukan aktivitas lain tidak pernah di lakukan. Padahal puncak kenikmatannya pasca orgasme, jika dapat diolah dengan baik, disitulah kasih sayang satu sama lain bisa di eksplore dengan baik. Bisa mengembalikan energi yang kembali lagi. Seperti seorang yang sudah makan, lalu merokok. Bahkan ada kenikmatan yang jauh dari nikmat makan itu sendiri. 

Kalau kita bisa merangkul dan saling menyanyangi, bahkan meminjamkan bahu kita dan bercerita tentang banyak hal atau saling mengeksplore kekuatan dan kelebihannya. Bisa juga sesekali di tanya, " Yang kamu suka itu pada posisi mana". Di situlah adalah bagian kita menginternalisasi pasangan kita lewat sex. Supaya nanti, the second round, ketika itu di lakukan.  Biasanya, banyak orang hanya selesai di ronde pertama, lalu tiduran atau bersih-bersih atau sama-sama sibuk dengan urusannya sendiri. 

Padahal jika kita melakukan aktivitas di awal, ketika foreplay dan segala macam. Pasca sex, kita boleh saling bertukar pikiran, saling refleksi satu sama lain. Refleksi tidak harus soal gaya dan posisi sex. Tetapi, refleksi soal kehidupan rumah tangga dan itulah suasana paling romatis menurut saya. Karena, jika kita mampu mengontrol kondisi kita, yang sudah sedemikian capek dan lelah, energi di tingkatan pusaran saraf kita sudah banyak di keluarkan. Tetapi, kita masih tetap bisa mengambil kepala pasangan kita dan menyandarkan di bahu. Lalu, di elus-elus rambutnya dan bercerita tentang banyak hal. Saya membayangkan romantisme yang sangat hebat, seperti ketika kita sedang bermesraan di bawah langit yang banyak sekali bintangnya atau melihat bulan yang sedang purnama. 

" Kata kunci seksual menurut Assikalabineng adalah Keseimbangan. Mulai dari pra sampai Pasca. Nah, di tengahnya adalah prosesnya. Bagaimanakah Assikalabineng mewujudkan keseimbangan tersebut?"

Keseimbangan dalam wujud praktis Atau teknis di lapangan. Di dalam naskah, sebenarnya di sebutkan secara runut. 

" Na rekko mua jelloken ni kallanmu , bau ni riolo ingetna makkun Rai na, mu pa siduppa i ingetna na ingetmu, timunna na timummu". Artinya ; "ketika kamu sudah menghunus pedangmu, pertama-tama kamu harus mencium hidungnya Perempuanmu, mulutmu dengan mulutnya".

jangan lansung membayangkan hal itu adalah peristiwa ciuman yang sangat dahsyat. Sebab, pada konteks tersebut yang di maksud adalah penyatuan, sebagaimana yang telah di sampaikan di bagian awal, bahwa ada proses penyatuan nafas dengan nafas, tubuh dengan tubuh, jiwa dengan jiwa dan rahasia dan rahasia. Sehingga posisi itulah yang di lakukan.

Bolehkah kita bermain-main antara hidung kita dan hidung pasangan kita?. Boleh, saling mengeleng-gelengkan hidung, karena hal itu bahagian dari kemanjaan. Tetapi, tetap di lakukan dengan pelan-pelan dan bijaksana. Sebab, terkadang kita kalau sudah membuncah hasrat, kerap kita lupa diri. Kenapa kita selalu di ingatkan jangan lupa diri, sebagaimana pada bahasan sebelumnya. Karena di situ ada upaya untuk pengendalian diri ; " Mu tajenggi essu na nyawana mu Iso i nyawana (tunggu sampai keluar nafasnya, engkau satukan dengan nafasmu)".

Titik ini harus di perhatikan dengan sangat teknis, menurut beberapa orang tua kita di Bone, Prof Syarifuddin, beliau menghendaki penyatuan nafas dalam hal, ada irama yang sama dalam tarikan nafas yang satu dan pasangan kita. Itu yang bisa membuat kita tahan lama. Sebab, jika nafas tidak beraturan (ngos-ngosan), artinya tidak seritme. Maka, posisinya tidak seimbang atau sejalan. 

Lalu, masuk ke tahap ; " Mu pangganga i timunna na timmum mu , mu pasi lepe i ujung liLa mu na ujung lilamu - bukalah mulutnya dan mulutmu bersamaan perlahan-lahan, ujung lidahmu dan ujung lidahnya saling menerjang satu sama lain". 

Vulgar tapi perlu di identifikasi posisi ini dimana. Ketika hidung tadi sudah bersentuhan, nafas sudah saling menyatu, mulut kita dan mulut sudah seirama, dalam konteks ciuman. Tidak harus selalu di lakukan dengan energi yang besar atau tergesa-gesa. Pelan-pelan, kadang lebih di sukai, disitulah pentingnya komunikasi. 

Lalu,  " majeppu mappe neddi ni ritu na Saba pammasena puang Alla ta'ala (diperoleh kenikmatan itu atas izin dari Tuhan melalui Rahmatnya)". Di sinilah posisi yang di maksud kasih sayang Tuhan. Rahmat Tuhan selalu di gulirkan, bahkan dalam wilayah seksual sekalipun.

Berkenaan dengan ini, saya teringat dengan Tafsir seksual atas Q.S.Al Kautsar. Kerap kali di arahkan pada ayat tentang kurban. Tetapi, pada prinsipnya, ada tafsir lokal yang di munculkan masyarakat Bugis, yang selalu di identikkan dengan proses penyatuan appa sulapa, dalam konteks seksualitas, " Inna a'thoinna kal Kautsar (sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak)". Nikmat dalam tafsir lokal tersebut, di maksud sebagai kenikmatan seksual. Ada banyak kenikmatan, yang salah satunya adalah seksual, yang merupakan pemberian Tuhan. 

" Fa sholli Li robbika wan har Inna saya Nia akahu wal abthar (maka dirikanlah sholat karena Tuhan dan berkurbanlah)". Kurban dalam tafsir biasanya adalah berkurban sebagaimana biasanya. Tetapi, berkurban dalam konteks seksualitas adalah mengendalikan diri dan sesungguhnya orang yang membenci kamu adalah dia yang terputus dari Rahmat Tuhan)". 

Coba kita telaah beberapa pembahasan sebelumnya, tentang  " ari ngerrako ni wattu takkalupammu (senantiasa kita mengendalikan pikiran pada saat kamu sedang lupa)". Sebab, kenikmatan adalah sumber kelupaan dan kadang membuat kita terlena. Tapi, di situlah kita selalu di arahkan untuk berkurban. 

Mengapa kehidupan rumah tangga, ada yang gagal karena persoalan ranjang?. Karena ada nikmat yang terputus yang tidak di sampaikan kepada pasangannya. Kita tidak memberikan kepuasan tersebut dengan bijaksana. Kita hanya memikirkan diri kita sendiri, seperti kalau kita sudah ejakulasi. Maka, tidak ada urusan dengan pasangan kita. Padahal sebenarnya kita harus menjalin komunikasi dan kesimbangan, di situlah yang di maksud, " Inna sya' ni ni aqakahu wal abthar.

Sebab, dalam konteks yang lain, sumur kal Kautsar yang terdapat di surga adalah sesuatu yang harus kita antarkan kepada pasangan kita dalam aktivitas seksual. Di dalam naskah di sebutkan bahwa " na rekko Mappi ne dinni ma kunrai mu engka ni Messu wae na bungge kal kautsar fasholli lili robbika wan har Inna sya' ni akahu wal Abh ta, apa majeppu ia na matti RI akhirat riaseng minyyak na bunganna na si Bollo e (apabila perempuan sudah terangsang dan berada dalam kenikmatan tertentu, akan keluar air sumur Al-Kautsar)". 

Ada istilah squit atau lubrikasi, semacam cairan. Menjadi pertanda, bahwa perempuan sedang dalam kondisi nikmat-nikmatnya dan siap. Artinya ada kepasrahan, siap memberi kasih sayang dan siap menerima kasih sayang. Itulah yang di maksud dengan "minyyak si bollo e", di dalam naskah di sebutkan sebagai, " padacengi wi rampena ini nawamu tajengi riolo pammasena puang Alla ta'ala apa engka ni Matu RI Lala cule Messu i rasa rahing asenna (Dalam permainanmu atau penetrasi yang kita lakukan, itulah yang disebut kasih sayang Tuhan. Ketika kita berhasil menyatukan pikiranmu dengan pikirannya, kelaminmu dengan kelaminnya. satu garis lurus keseimbangan dan satu nafas)". 

Terkesan sangat teoritik, tetapi perlu di pikirkan. artikulasinya bagaimana, sebab di naskah di arahkan dengan sangat teknis. Karena ketika perempuan sudah terangsang, sebab kita telah berhasil mengirimkan kasih sayang Tuhan. Maka, di situlah keberkahan itj muncul.  Keberkahan ini, kerap kali di lekatkan dengan Sayidina Ali dan Fatimah. Di sebutkam di dalam Naskah, " Makune tu cule-cule ma ali fatimah ma rajai barakkana na senga ula na fatimah ri lakkai'na". Na Senga itu, Dia akan merindukan sentuhan pasangannya. Artinya secara Teori perkawinan ketika kita berhasil memberi kebahagian utuh. Maka, kita akan di rindukan, walau berpisah beberapa saat saja. 

Sebenarnya, sex bukan hanya pelajaran teknis berhubungan sex. Tetapi, lebih dari itu adalah kita diajarkan untuk mengendalikan pikiran, pengendalian diri. Sehingga wajar, seseorang dalam mencapainnya, disebut "Ata manrapi". Karena secara Teoritis, kita bisa melakukannya. Tetapi, praktiknya (sedang berhadapan dengan yang di mata), kadang kala kita lupa diri.

Jadi, sesungguhnya Pelajaran moral dari Assikalabineng itu tidak hanya memposisikan seksualitas itu sebagai hubungan intercouse (mempertemukan dua kelamin). Tetapi, lebih dari itu merupakan gambaran keseluruhan hidup dan gambaran bagaimana menjadi manusia seutuhnya. Karena, ada pengendalian pikiran dan diri di moment tersebut. 

Seks dalam Terminologi Bugis, disebut "Gaukkeng Mala'bbi" ; Perbuatan Yang Akhlaqi. Atau Perbuatan yang niscaya di dudukkan di singasana yang terhormat. Karena, kehidupan Sosial dan Kehidupan Ranjang kita, sangat berkesinambungan. Hal itu juga yang membedakan, seks di dalam pernikahan dan Di luar pernikahan. Sebab, seks di dalam pernikahan, ada tuntunan moral yang hendak di bangun. 

Seks di dalam Assikalabineng, hanya ada Dua pasal ; Seks ada di dalam pernikahan dan Seks hanya ada di dalam pernikahan. 

Pada ulasan Assikalabineng yang pertama, Sempat di uraikkan beberapa hal tentang titik Rangsangan saat Malam pertama memasuki Bulan. 

Di beberapa Naskah di jelaskan, bahwa titik Rangsangan kerap kali di kontekskan pada terbitnya Bulan. Bulan yang di maksud adalah kalender Bulan Bugis, yang mengacu pada Kalender Hijriyah. Sekalipun belum di temukan korelasinya secara Ilmiah atau korelasi sainyifiknya. Tetapi, orang tua kita dulu, tentu membaca kita kama sutra yang lainnya. 

Misalnya di Kitab Kama Sutra Bugis (Assikalabineng). Pada Malam pertama Terbitnya bulan, Titik Rangsang Pasangan (perempuan), terletak di Telapak Kaki Kanannya. Malam kedua, titik Rangsangannya, di betis Kanannya. Malam ketiga, Terletak di lutut kanannnya. Malam ke empat, Terletak di paha Kanannnya. Malam ke lima, Terletak di Lengan kanannya. Malam ke enam, Terletak di Ketiak kanannya. Malam ke tujuh, terletak di payudara Kanannya. Malam ke delapan, terletak di payudara kirinya. Malam kesembilan, terletak di leher tengahnya di bawah Jakunnya kalau pada Lelaki. Malam kesepuluh, terletak di bibirnya. Malam kesebelas, terletak mata kanannya. Malam keduabelas, terletak diantara Matanya. Malam, ketigabelas di dahinya (keningnya). Malam keempat belas, terletak di Ulu hatinya (diantara dada dan pusar). Malam ke limabelas, terletak di seluruh tububnya. 

Sedangkan malam ke enambelas, kembali ke malam pertama dan seterusnya. 

Tetapi, perlakuan tersebut tidak tunggal. Seperti malam pertama misalnya, titik rangsangannya terletak di telapak kaki kanannya. Perintahnya adalah "gele-gele temaserrui itu", (gelitik-gelitik manja). Posisinya adalah kita bisa bermain di situ untuk membuka hasratnya saja. Tidak melulu disitu saja yang diserang. Artinya ada hal yang niscaya kita perhatikan dengan baik.di posisi mana, ketika kita menyentuh perempuan dan dia nyaman, begitupun sebaliknya. 

Sebagaimana di bahasan sebelumnya, ada masa dimana lelaki tidak bergairah. Maka, perempuanlah yang membangkitkan gairah tersebut dan memang ada juga titik rangsangan lelaki. Hanya saja secara Teknis tidak seperti perempuan. Titik rangsangan lelaki, lebih kepada Komunikasi. Agar tidak hanya lelaki saja yang di tuntut untuk mengeksplore tubuh perempuan. Tetapi, perempuan juga harus tau, di titik mana lelakinya itu merasa terangsang, merasa dia tidak tahan itu niscaya di eksplorasi. Itulah sebabnya antara Pikiran dan badan, harus seiring sejalan. 

Secara eksplisit, titik rangsang Lelaki yang di sentuh perempuan, di naskah Kama sutra Bugus, di jelaskan sangat singkat. Pada baguan mana dari kelamin lelakinyang harus di sentuh ; terletak di bagian bawah, bekas sunnat pada batang penis. Dengan cara " temma serroe (elus-elus manja)". 

Sekalipun sebenanrnya, yang paling tah dimana titik rangsangnya adalah yang bersangkutan. Misalnya, saya lelaki, saya tau diposisi mana saya terangsang jika di sentuh, di posisi mana jika di sentuh, saya menggelinjang. Begitu juga dengan perempuan, dia harua bisa mengeksplore dirinya. 

Saya bukan orang yang mengajurkan untuk melakukan hal-hal self seks. Tetapi kita perlu mengksplorasi diri kita, di titik mana kita meras nyaman dan itu perlu kita komunukasikan dengan pasangan kita. Kenapa itu penting?. Sebab, ketika hasrat tidak dalam kondisi puncak. Semua itu bisa di bangun dengan mengatur dengan baik. Makanya komunikasi adalah titik kunci menjadi faktor keseimbangan sesungguhnya. 

Tetapi, yang perku di garis bawahi, bahwa komunikasi di lakukan di luar aktifitas ranjang, sebelum dan sesudah. Jangan sesekali melakukan komunikasi, pada saat sedang melakukan penetrasi. Contoh, yang paling sering menggagalkan orgasme adalah "Bagaimana sayang. Sudah sampaikah kamu atau belum?". Percakapan seperti ini, kerap kali membuyarkan pikiran pasangan kita. Sebab, barangkali pasangan kita sedang Lupa diri. Tetapi, kita tetiba bertanya hal yang tidak penting semacam itu. Maka, kita harus memulai dari Nol lagi. Sementara tingkat kita untuk melakukan penetrasi berbeda antara satu dan yang lain.  

Kita tidak tau pasti, secara seksolog apakah hal itu di jelaskan atau tidak. Tetapi, di dalam Naskah Assikalabineng ada hal yang selalu menjadi panduan. Dimana kita, memperbanyak gerakan, dalam konteks senggama dan memperbanyak doa serta Tidak usah banyak berkata-kata. 

Vocal pointnya adalah relasi seksual, tidak melulu soal relasi kepuasaan birahi antar pasangan. Tetapi, bagaimana kita tetap menjadi Hamba, karena ada ubtaian doa yabg di haturkan dan tetap menjadi manusia dengan memperlakukan pasangan kita sebagai manusia, memuliakan dan Memnghormatinya.


-Coretan Pena Nalar Pinggiran, Rst-

-IBADAH HAJI  SEBAGAI  MEDIUM  MENUJU MANUSIA SEJATI-

Memperbincang agama sebagai instrument penting dalam kehidupan manusia selalu menarik untuk dicermati. Dengan seperangkat kredo dan sistem ajarannya, agama dinilai memiliki peran signifikan mengantarkan umat manusia, yang dalam terminilogi 'Cak Nur' bertemu dengan sang dumadi dan sangka paran-nya. Sebab, Agama merupakan kelanjutan natur dan manifestasi keimanan manusia  kepada Khaliq-Nya. Menafikan keberadaan agama sebagai sistem nilai akan mengantarkan seseorang kepada kehancuran peradaban vis a vis  meminjam istilah 'Louis Lehay', manusia akan mengalami aleanasi diri yang sangat akut sehingga berpotensi melahirkan splite personality dalam kehidupan sehari-hari. 

Dalam konteks ini, agama dalam pandangan 'A. S. Hikam' dinilai sebagai fakta dan sejarah yang memiliki dimensi simbolis atau mitis dan sosiologis. Dimensi simbolis atau mitis mengandung arti bahwa agama merupakan struktur sebuah makna (meaning structure) yang berada pada ranah abstrak, terlepas dari ruang dan waktu. Melalui struktur makna seperti ini, maka mode pemahaman (mode of self-understanding) selanjutnya digagas dan diciptakan yang oleh 'Mircea Eliade' melalui berbagai  kegiatan penafsiran (hermeneutics) atas ajaran agama. 

Dalam kegiatan ini, penciptaan dan penafsiran atas simbol-simbol dan metafor yang ada kemudian dirumuskan serta diterapkan dalam tindakan aktual. Salah satu tindakan aktual dari pesan normatif ajaran agama adalah ritual ibadah haji.

Secara normatif ritual ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima. Ia  merupakan kelanjutan natur manusia untuk mengikuti kegiatan napak tilas  yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim As bersama keluarganya mengunjungi ka’bah di tanah suci dengan berbagai syarat dan rukun yang harus dipenuhi agar memperoleh predikat al-hajj al-mabrur dengan mengharapkan ridho Allah SWT. Rutinitas yang bersifat spiritual ini, dalam pandangan 'Mahmud Syaltut' adalah salah satu bentuk penyembahan manusia sejak zaman purba, sebelum datangnya Islam. Ia berarti sebuah proses ziarah ke tempat-tempat tertentu sebagai suatu penyembahan dan pensucian pada Tuhannya. Begitulah praktek-praktek dari berbagai bangsa purba.

Keadaan ini berlanggsung terus menerus sampai Allah SWT mengutus Nabi Ibrahim dan memerintahkan membangun ka’bah untuk suatu tujuan penyatuan sistem haji manusia, di mana padanya dilakukan thawaf dan berzikir kepada Allah SWT. Melakukan ibadah haji ke tanah suci Mekkah bukanlah perjalanan untuk mencari penghidupan, bukan pula perjalanan untuk melakukan kesenangan. Perjalanan ibadah haji hanya ditujukan semata-mata karena Allah, untuk memenuhi kewajiban yang diperintah oleh-Nya. 

Salah satu bukti yang jelas tentang keterkaitan ibadah haji dengan nilai-nilai kemanusian adalah isi khutbah Nabi Muhammad SAW pada saat haji Wada’ (haji perpisahan) yang intinya menekankan: (1) persamaan, (2) keharusan memelihara jiwa, harta, dan kehormatan orang lain, (3) larangan melakukan penindasan atau pemerasan terhadap kaum lemah baik di bidang ekonomi maupun bidang-bidang yang lain. 

Tentu saja makna kemanusian dan pengamalan nilai-nilainya tidak hanya terbatas pada persamaan nilai kemanusian. Ia mencakup seperangkat nilai-nilai luhur yang seharusnya menghiasi jiwa pemiliknya. Ia bermula dari kesadaran akan fitrah (jati diri)nya serta keharusan menyesuaiakan diri dengan tujuan kehadiran di muka bumi. 

Dengan demikian, nilai-nilai kemanusian yang terdapat dalam ritual haji seakan-akan mengantarkan seluruh anak keturunan Adam untuk menyadari akan arah yang dituju serta perjuangan untuk mencapainya. Dalam konteks ini, dimensi kemanusian akan menjadikan manusia memiliki moral serta kemampuan memimpin makhluk-makhluk lain dalam mencapai tujuan penciptaan. Kemanusian mengantarkannya untuk menyadari bahwa dia adalah makhluk dwi dimensi yang harus melanjutkan evolusinya hingga mencapai titik akhir. 

Nilai kemanusian menurut 'Ibn Khaldun' mengantarkannya untuk sadar bahwa ia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian dan harus bertenggang rasa dalam berinteraksi. Makna-makna di atas dipraktekkan dalam pelaksanaan ibadah haji, baik dalam acara ritual atau dalam tuntunan non-ritualnya, dalam bentuk kewajiban dan larangan, dan dalam bentuk nyata atau pun yang bersifat simbolik. Kesemuanya ini akan mengantarkan para jamaah haji hidup dengan pengalaman dan pengamalan kemanusian universal.

Nilai-nilai kemanusian universal dalam pelaksaan ibadah haji, dapatlah dipahami dan dihayati rangkaian-rangkaian praktek ritual ibadah haji, di mana aktivitas ini dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram.

Tidak dapat disangkal bahwa pakaian menurut kenyataannya dan menurut Al-Quran berfungsi antara lain, sebagai pembeda antara seseorang atau sekelompok dengan lainnya. Pembedaan tersebut dapat membawa antara lain, kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikolgis kepada pemakainya. Di miqat makani, tempat ritual ibadah haji dimulai, di mana perbedaan dan pembedaan tersebut harus ditanggalkan, sehingga semua jamaah haji harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis yang negatif dari pakaian pun harus ditanggalkan sehingga semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan.  

Di Miqat ini, apa pun rasa dan suku harus ditanggalkan. Menurut 'Ali Syari’ati',  lepaskan semua pakaian yang engkau kenakan sehari-hari baik (a) serigala yang melambangkan kekejaman dan penindasan, (b) tikus yang melambangkan kelicikan, (c)  anjing yang melambangkan tipu daya, atau (d) domba yang melambangkan penghambaan. Tinggalkan semua itu di Miqat dan berperanlah sebagai manusia yang sesungguhnya.  

Mengutip ungkapan 'Jalaluddin Rakhmat', bahwa ibadah haji adalah perjalanan manusia untuk kembali kepada fitrah kemanusian. Kehidupan telah melemparkan kita dari kemanusian kita. Kita telah jatuh menjadi makhluk yang lebih rendah. Bukankah kita menjadi khalifah Allah SWT, kita justru telah menjadi monyet, babi dan serigala. Dengan mengutip bahasa 'Jalaluddin Rumi', bahwa kita adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Ketika suara keluar, yang terdengar adalah jeritan pilu dari pecahan bambu yang ingin kembali ke rumpunnya semula. Kita hanya akan hidup sebagai bambu sejati bila kita kembali ke tempat awal kita. Kita akan menjadi manusia lagi bila kita kembali kepada Allah SWT (QS. 2: 156).  

Para jamaah haji adalah kafilah seruling yang ingin kembali ke rumpun abadinya. Inilah rombongan binatang yang ingin kembali menjadi manusia. Ketika sampai di miqat, mereka harus meninggalkan segala sifat kebinatangannya. Seperti ular, mereka harus mencampakkan kulit lama agar menjalani kehidupan baru. Baju-baju kebesaran yang sering digunakan untuk mempertontonkan kepongahan, harus ditanggalkan. Lambang-lambang status yang sering dipakai untuk memperoleh perlakuan istimewa, harus dikuburkan dalam bumi. Sebagai gantinya, mereka memakai kain kafan, pakaian seragam yang akan dibawanya nanti ketika kembali ke kampung halaman yakni alam kubur. 

Dengan dikenakannya pakaian ihram, maka sejumlah larangan harus diindahkan oleh pelaku haji. Jangan sakiti binatang, jangan membunuh, jangan menumpahkan darah, jangan mencabut pepohonan. Karena manusia berfungsi memelihara makhluk-makhluk Tuhan serta memberinya kesempatan seluas mungkin untuk mencapai tujuan penciptaannya. Di larang juga menggunakan wangi-wangian, bercumbu atau kawin dan berhias supaya setiap peserta haji menyadari bahwa manusia bukan materi semata-mata, bukan pula birahi, dan  bahwa hiasan yang dinilai Tuhan adalah hiasan ruhani.

Ritual lain yang menjadi esensi ibadah haji adalah mengunjungi Ka’bah, yang dinilai sebagai sentrum dan pusat orbit kehidupan manusia sejagat.  Di sana, misalnya ada Hijr Ismail yang arti harfiahnya “pangkuan Ismail”. Di sanalah Ismail putra Ibrahim, pembangun ka’bah pernah berada dalam pangkuan ibunya yang bernama Hajar, seorang wanita hitam, miskin bahkan budak yang konon kuburannya pun berada di tempat itu. Namun demikian, budak wanita ini ditempatkan Tuhan untuk menjadi pelajaran bahwa Allah SWT memberikan kedudukan untuk seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, tetapi karena kedekatan kepada Allah SWT dan usahanya untuk hajar (berhijrah) dari kejahatan menuju kebaikan, dari keterbelakangan menuju peradaban.

Setelah selesai melakukan thawaf yang menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama manusia-manusia yang lain serta memberi kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni berada dalam lingkungan Allah SWT, dilakukanlah sa’i. di sini muncul lagi Hajar, budak wanita bersahaja yang diperistrikan Nabi Ibrahim.

Diperagakan pengalamannya mencari air untuk putranya. Keyakinan wanita ini akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah sedemikian kokoh yang terbukti jauh sebelum peristiwa pencarian air tersebut. Ketika ia bersedia ditinggal bersama anaknya di suatu lembah yang tandus. Keyakinannya yang begitu dalam tidak menjadikannya berpangku tangan dengan hanya menunggu turunnya hujan dari langit, tetapi ia berusaha mondar-mandir sebanyak 7 kali demi mencari kehidupan. Berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah dikenal dalam tradisi Islam yang disebut Sai. Menurut 'Jawad Amuli', Sai bermakna berlarilahnya manusia dari maksiat menuju ketaatan, dari pelanggaran menuju kepatuhan. 

Berlari-lari antara Shafa dan Marwah bermakna antara takut dan harapan. Aku tidak takut hanya tanpa harapan, atau tidak hanya berharap tanpa rasa takut. Demikian pergumulan batin yang dialami Siti Hajar ketika berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah.

Ketika  mendatangi Shafa, Siti Hajar berusaha membersihkan hatinya. Dan ketika ia sampai di Marwah, ia berupaya mencari kemulian. Marwah berarti mencari kemulian atau harga diri. Sementara Shafa bermakna mencari pembersihan dan kesucian jiwa. Rahasia kegiatan Sai adalah bahwa seseorang akan mencapai kesucian hati (Shafa) dan kewibawaan (Marwah). Laki-laki yang berwibawa dan pemberani tidak akan pernah tunduk di bawah kekuasaan para penguasa yang zalim. Sebagaimana yang diucapkan 'Imam Husain bin Ali' sebelum menemui ajalnya di peristiwa Padang Karbala “Aku tidak akan menyerah seperti orang yang hina dan tidak akan melarikan diri bagaikan budak”.  

Puncak dari perjalanan ibadah haji di padang Arafah, sebuah padang yang luas lagi gersang, seluruh jamaah haji wuquf sampai terbenamnya matahari. Di sanalah mereka seharusnya menemukan ma’arifah pengetahuan sejati tentang dirinya, akhir perjalanan hidupnya, serta di sana pula ia menyadari langkah-langkahnya selama ini. Di sana pula seharusnya ia menyadari betapa besar dan agungnya Tuhan dan kepada-Nya bersembah seluruh makhluk, sebagaimana diperagakan secara miniatur di padang Arafah tersebut. Kesadaran-kesadaran itulah yang mengantarkannya di padang Arafah untuk menjadi arif (sadar) dan mengetahui kebesaran dan keagungan Tuhan. 

Menurut 'Ibnu Sina',  apabila kearifan telah menghiasi diri seseorang, maka anda akan menemukan orang itu “selalu bergembira”, banyak senyum karena hatinya telah gembira sejak ia mengenal-Nya. Di mana-mana ia melihat satu saja, melihat yang Maha Suci itu. Semua makhkluk dipandangnya sama (karena memang semua sama, sama membutuhkan-Nya). Ia tidak akan mengintip-ngintip kelemahan atau mencari-cari kesalahan orang lain. Ia tidak akan cepat tersinggung walau melihat yang mungkar sekalipun. Karena jiwanya telah diliputi oleh rahmat dan kasih sayang. 

Tulisan ini berpretensi untuk memberikan kado berharga bagi para jamaah haji yang akan melaksanakan rukun Islam yang kelima. Dan ketika kembali ke tanah air mereka mampu menyebarkan berkah keberkahan kepada manusia lain di sekitarnya. Ketulusan hati mereka menusuk jantung orang-orang munafik. Air zam-zam yang mereka bawa menjadi tetes-tetes mu’jizat yang mengubah tikus yang licik menjadi manusia yang jujur. Air mata mereka keluar membersihkan anjing-anjing yang serakah menjadi manusia yang dermawan. Akhirnya, kerendahan hati mereka mampu meruntuhkan para tiran pemuja kekuasaan. Cahaya wajah yang telah disinari Ka’bah mampu mematahkan leher serigala yang pongah dan mengubahnya menjadi manusia yang penuh kearifan dan kasih sayang. 

Doa kami menyertai kalian, semoga mampu meraih predikat haji mabrur, الحج المبرور ليس له جزاء الا الجنة . 

Aamiin Ya Rabb al-‘Alaamin.


--Coretan Pena Nalar Pinggiran, Rst--


MEKKAH DAN MADINAH PADAMU

"Musuh utama pelaku Agama bukanlah Iblis, Setan, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj atau siapapun, melebihi ancaman-ancaman permusuhan dan penghancuran yang berasal dari dalam diri mereka sendiri".

Musuh utama manusia bukan makhluk-makhluk lain yang bukan manusia. Alam, tanah, lautan, gunung, hutan, angin, hewan adalah sahabat-sahabat manusia, yang tunduk kepada kemauan manusia. Manusia sendirilah yang membuat alam bermanfaat baginya atau menjadi bencana bagi kehidupannya.

Musuh utama manusia adalah dirinya sendiri. Keserakahan mentalnya, kebebalan rohaninya serta kesempitan akalnya.

Musuh utama kaum beragama bukan pemeluk Agama yang lain. Sudah jelas mereka memang selalu saling bermusuhan satu sama lain, saling menipu, saling menyesatkan, menjebak, menjaring muslihat, menjegal dan menghancurkan, menteror-terorkan satu sama lain, secara terang-terangan maupun diam-diam.

Tetapi, yang utama menjadi penghancur kaum beragama adalah kesempitan akalnya sendiri di dalam memperlakukan Agama. Kesempitan berpikir itu berjodoh pula dengan keserakahan terhadap kehidupan.

Musuh utama pelaku Agama bukanlah Iblis, Setan, Dajjal, Ya’juj Ma’juj atau siapapun, melebihi ancaman-ancaman permusuhan dan penghancuran yang berasal dari dalam diri mereka sendiri. Semua yang di luar dirinya tentu saja sangat potensial dan nyata sebagai musuh. Tetapi, bukan musuh utama selain dirinya sendiri.

Para pelaku Agama dikuasai iman. Di dalam darah mereka mengalir iman. Seluruh jiwa dan raga mereka bergelimang iman. Hari-hari dan malam-malam mereka dipenuhi iman. Tidak ada satu lubang pori-pori hidup mereka yang tak dihuni oleh iman.

Tidak ada peluang bagi Setan untuk menyentuh mereka. Tidak ada kemungkinan bagi Iblis untuk merasuki mereka. Kalau Ya’juj Ma’juj menyerbu mereka, tinggal mereka tumbuhkan dan bangkitkan dua tanduk Dzulqornain.

Jika Dajjal bisa menggilas seluruh dunia tapi tidak kuat menyentuh Mekah dan Madinah, setiap pelaku iman tinggal mendirikan Mekah dan membangun Madinah di dalam jiwa mereka, di rumah mereka, dalam keluarga mereka, masyarakat, bangsa dan Negara mereka.

Secara dunia, materi dan teritorial, Mekah danMadinah terletak nun jauh diseberang benua. Tetapi secara akhirat, rohani dan nilai, Mekah dan Madinah tersedia di bangun di dalam diri kita.

Madinah dan Mekah adalah tajalli, penjelmaan simbolik nilai Sang Maha Rahman dan Sang Maha Rahim, yang menggerakkan kaki, tangan dan seluruh jasad kita. Memberi kita informasi dari mana kira berasal-usul dan ke mana satu-satunya tujuan yang tidak bisa Dan tidak harus kita tempuh dalam perjalanan kita.

Rahman dan Rahim membangun konstruksi kesehatan raga kita. Kematangan ilmu kita. Keluasan pengetahuan kita, yang sejauh apapun kita menjangkaunya, takkan pernah bisa kita injakkan kaki pikiran maupun imajinasi kreatif di cakrawala Kita.

Rahman dan Rahim menyusun ketenteraman keluarga kita, keamanan masyarakat kita, keseimbangan organisasi kemakmuran Negeri kita. Rahman dan Rahim dengan beribu-ribu berjuta-juta berjenis-jenis asisten-Nya, staf-Nya atau pesuruh-Nya, mengawal kita di seluruh garis, lipatan atau lingkaran waktu. Di seantero bentangan ruang, yang kita jejaki dengan kaki atau kita gagas dengan pikiran kita, serta kita tembus dengan perangkat lunak rohani kita.

Iblis yang bertugas menguji kita, yang merambahi seluruh sisi ruang dan merasuki setiap butir debu, yang berlalu lalang di langit bumi dan bumi langit serta mengendap di sel-sel darah kita - tidak mencemaskan kita - karena diri kita adalah semesta ahsanu taqwim yang bermuatan Mekah dan Madinah.

Setan tidak pernah kita temukan di luar diri kita, tidak pernah kita kasih ruang untuk lahir dari kedalaman jiwa kepemimpinan kita, dari kecurangan pikiran kita, dari keserakahan mental kita, atau dari kebebalan rohani kesaksian kita. Dajjal silakan menaklukkan Bangsa kita dan semua Bangsa-bangsa yang lain di seantero Bumi. Tetapi kita tidak gelisah, takut atau apalagi panik. Sebab ia bukan tandingan kita.

Dan kita tidak diamanati oleh Tuhan pencipta Dajjal untuk melawan makhluk mengerikan itu, kecuali hanya dalam lingkup diri kita sendiri beserta keluarga kita. Apabila sebagai manusia, sebagai bagian dari suatu Bangsa atau warga dari suatu Negara: kita dikehendaki oleh Tuhan untuk disapu, digilas dan dibunuh oleh Dajjal - itu bukan kekalahan, bukan penderitaan.

Itu adalah kemuliaan di hadapan Tuhan. Sebab Mekah dan Madinah di dalam jiwa dan aliran darah kehidupan keluarga kita, tidak bisa disapu, digilas, dikalahkan atau dibunuh atau dimusnahkan oleh siapapun selain Tuhan sendiri. Sebab, di dalam Mekah dan Madinah-Nya pada jiwa kita: mati itu tidak ada.

--Coretan Pena Nalar Pinggiran, RST--

Jumat, 01 Oktober 2021

HISTORIA MAGISTRA VITAE



Kisah beberapa waktu yang lalu. Cerita sederhana. Sesuai dengan musim, teringat untuk menuliskannya kembali, agar tak terlupakan.

Suatu malam, sambil menyeruput kopi dipinggir jalan, saya bersua dengan kawan sewaktu Sekolah dahulu. Kawan saya dan beberapa kawannya juga menghampiri, menanyakan kabar dan sebagainya. Entah mengapa terjadi dialog tentang komunisme. Antara saya dengan beberapa kawan yang setelah Lulus SMP (Tsanawiyah) dan melaniutkan SMK, lalu masuk perguruan tinggi, baru berjumpa kembali. 

Si doi, yang Awalnya Mengajak keluar untuk menghilangkan sejenak Stresnya, akibat Tugas-Tugas Kampus yang menumpuk, sepertinya mulai Jengkel. Dalam pikirannya barangkali terbayang ; "Adduhh, Na Pancing lagi Ais Diskusi. Orang mau santai-santai. Kalau ku tau begini, tadi saya keluar sama Teman-temanku saja".

"Bro, katanya ideologi komunis sedang bangkit di Indonesia. Kita harus waspada", kata Kawan saya sambil "menyesap kopi" yang sedang hangat-hangatnya. Saya hanya tertawa kecil. Kawanku terus bicara tentang dominasi etnik tertentu dalam bidang ekonomi, hingga keberhasilan Bashar Al-Assad di Suriah dari gempuran banyak pihak dengan bantuan Putin, yang katanya komunis 24 karat. Akhirnya diskusi, mengalir.

Dari diskusi kami itu, point-pointnya mengingatkan saya dengan Ragam bacan dan diskusi saya dan beberapa kawan lainnya beberapa Waktu sebelumnya dengan fokus pertanyaan : "Benarkah komunisme sedang bangkit ?".

Saya tidak tahu, komunisme itu sedang bangkit atau tidak. Karena, isu ini sudah berulang-ulang dihembuskan. Kalau terpuruk, itu sudah pasti. Di tempat lahirnya pun, ideologi ini tidak diminati lagi. Memang masih menjadi haluan negara mereka, tetapi hanya bungkusan saja. Bahkan lawan dari ideologi ini, kapitalisme-liberalisme justru sedang dipraktekkan secara telanjang. Silahkan, lihatlah bagaimana praktek ekonomi Cina dan Rusia.

Artinya, ideologi ini sudah masuk dalam keranjang sampah sejarah. Kalau ada orang yang masih merindukan ideologi ini, berarti seleranya rendah.

Sejak saya mahasiswa semester 6 atau 7, cukup banyak (bukan berarti banyak sekali) saya membaca buku-buku Marxisme dengan segala "cabangnya" seperti Lenininsme, Trotskysme, Maoisme dan seterusnya. Bahkan buku-buku Tan Malaka, Nyoto, Aidit dan biografi-biografi para Stalinis di Amerika Latin, cukup banyak saya koleksi-baca. Termasuk improvisasi Marxisme a-la Timur Tengah (Baathisme). Semakin saya baca, justru semakin terlihat ketidakmungkinan (bahasa kerennya : utopis / utopia) ideologi ini akan eksis ditengah-tengah ummat manusia. Sejarah telah membuktikan itu.

Kalau kita baca sejarah lahirnya ideologi ini, kita akan tahu kondisi-kondisi apa saja yang membuat ideologi ini dirindukan. Kalau kita pahami konteks hadirnya ideologi, pada suatu era tertentu oleh suatu komunitas tertentu, kita akan semakin tahu mengapa ideologi ini diminati.

Ideologi ini hadir kembali atau dirindukan kembali ketika ketidakadilan, diskriminasi, kebodohan, ketimpangan ekonomi, rakyat kecil banyak kelaparan, kebencian ditumbuhkan disana sini, pejabat banyak yang korupsi, janji-janji elit yang tidak dipenuhi, kebohongan elit dipertontonkan. Kondisi-kondisi ini yang menginspirasi Karl Marx menyusun "kitab suci" kaum Marxian, yang dikenal dengan 'Das Kapital' dan 'Manifesto Komunisme'.

"Bukankah beberapa elit politik kita memberikan sinyalemen agar kita harus mengkhawatirkan hadirnya ideologi tersebut, sebagaimana kita ketahui bahwa pembunuhan simpatisan PKI secara Massal Pasca 1965 itu terbilang hampir menyamai peristiwa Holocaust yang dilakukan oleh Hitler dengan Nazinya. Bisa jadi karena dendam sejarah ini, agaknya ada Arah kebangkitan Komunisme dibangsa ini, sekalipun Peristiwa G 30 S PKI merupakan rantai dari peristiwa-peristiwa politik sebelumnya. Hanya saja korban dari pergulatan politik ini, terlalu banyak?".

Pertama, Dalam konteks ilmu komunikasi politik dan psikologi politik, sebuah pesan atau sinyal politik, tidak pernah "kosong". Ada muatan politik untuk mempengaruhi psikologi publik. Pertanyaan sederhananya satu saja, "dengan dihembuskannya isu tersebut, pihak mana secara politik diuntungkan dan pihak mana secara politik dirugikan?". Hubungkan puzzle-puzzlenya dan kemudian silahkan kita analisis.

Kedua, Masih banyak yang tidak mau berusaha menelaah Komunis dan Marxisisme sebagai sebuah Ideologi dan analisis Ilmiah. Sebab, yang mendesak adalah menghakimi. Padahal dalam Konteks kekinian, Mempelajari Marxisme itu, tidak Sama dengan menjadi Komunisme, apalagi menjadi PKI?.

Di awal saya telah sampaikan, saya sedikit banyak pernah baca tentang Marx, Lenin, Mao, dsb. Apakah saya adalah Komunis?. Tega sekali kalian..hehehe. Begini saja, silahkan teman-teman sebutkan, Negara mana saja yang benar-benar menjalankan Gagasan Marxisme secara Total ataukah negara mana yang pernah benar-benar menjalankan Syariat Islam secara Total. 

Sependek pengetahuanku, Tidak ada. Misalnya, dua negara yang menjadi Haluan Komunisme di dunia, sekalipun awalnya Uni Soviet-lah Kiblat Komunisme yaitu Rusia dan China. Ideologinya Komunis, tetapi prakteknya Kapitalistik. Cek saja sendiri. Hal itu hampir Sama dengan beberapa negara Arab, yang mengidentikkan negerinya sebagai Daulah Islamiyah. Padahal praktek negerinya, Jahiliyah. Lihat saja Saudi dan UEA.

Sebelum, Saya Masuk pada Fokus Pertanyaan teman-teman tentang Komunisme dan Segala Kejadian dan Peristiwa Yang Melibatkan PKI dibangsa ini. Saya sampaikan dulu Kerangka Epistemik Komunisme itu apa dan Bagaimana. Agar Kita tidak celaka memahami Marxisme.

Komunisme itu Utopis, sedangkan Marxisme itu adalah Filsafat Kritis, yang tertuang dalam suatu sistem ekonomi, politik dan Sosial. sekaligus menjadi antitesa dari liberalisme dan sosialisme. Secara sederhana, konsepsi Komunisme menginginkan Masyarakat Tanpa kelas, Pandangan Ini relatif sama dengan pandangan Anarkisme.

Marx menuturkan, Liberalisme atau kapitalisme dan Sosialisme. tidak memberikan perubahan sosial diMasyarakat. Sebab, Yang kaya tetap kaya dan yang Miskin tetap miskin. Dari Ihwal itu, kita mengenal terma Kelas proletart (Pekerja) dan kelas Borjuasi (Pemilik Modal).

Nah, Untuk bisa menguasai aset dari kelas pemilik modal, Harus dilakukan revolusi. Maka, Negara harus membentuk suatu partai, dimana partai itulah yang menampung para buruh-buruh untuk merebut kekuasaan. Maka, Muncullah Gagasan yang disebut Komunisme. Sebagian pemikir menyebutkan, bahwa komunisme itu merupakan alat perjuangan dari marxisme. Makanya, kenapa saya secara pribadi menolak, jika mempelajari Marx, di paksa samakan dengan Menjadi Komunis, apalagi PKI.

Dulu, komunisme bisa berkembang secara pesat di Prancis dan Inggris, karena saat itu eropa sedang mengalami revolusi industri pertama diPabrik-pabrik tekstil. Marx dibantu oleh sahabatnya, tidak lain adalah seorang anak pemilik Perusahaan terbesar di Inggris untuk mengembangkan manifesto komunisme. Hebatnya Marx adalah buku-bukunya tersebar di eropa, sehingga gagasannya menjadi pemantik untuk beberapa perubahan struktur berpikir di eropa dan terjadi Revolusi.

Nah, Gagasan Marx di adopsi oleh Lenin. Lalu, Ia merangkaikannya dengan Militer, bahwa negara harus mengatur semua hal, dengan satu partai dan militer. Makanya dikenal-lah Gagasan leninisme. Begitu seterusnya, sampai Stalin membantah Lenin dan Nikita Kruchev membantah Stalin. Artinya di Rusia sendiri, sebagai pusat atau kiblat Komunisme, tidak ada Blok tunggal Komunisme. Mereka saling berbantahan Gagasan dan Praktek sosial, ekonomi dan Politik.

Tidak hanya di Rusia Marxisme berkembang. Marxisme berkembang sampai ke cina, di adopsi oleh Mao Ze Dong. Mao melihat, revolusi bisa terjadi atau dilakukan oleh kelompok pekerja atau buruh. Hanya saja Di China tidak ada pabrik saat itu. Makanya, Mao Ze Dong merubah platform penggerak revolusi itu bukan pada buruh. tetapi, pada petani. Makanya, kita kenal juga Gagasan Maoisme.

Satu hal lagi, sebelum saya Masuk pada Fokus pertanyaan tadi. Keunggulan marxisme adalah kemampuannya yang terus berkembang sebagai pembanding kapitalisme. Hanya saja, Tesis Francis Fukuyama menuturkan ; The end of history and the last men. Akhir sejarah adalah kemenangan kapitalisme. Setelah runtuhnya Uni Soviet, maka Tak ada lagi lawan tanding Kapitalisme. Tetapi, Sebagai muslim, kita patut bangga. sebab, didalam Tesis Fukuyama tersebut, Ia menggambarkan bahwa Masa Depan Dunia kelak dan yang bisa menandingi kemenangan Kapitalisme adalah ISLAM.

"Iya, soal-soal diatas pernah sempat baca sepintas lalu. lantas, Bagaimana Dengan Gerakan PKI diIndonesia, bro?".

Bangsa kita ini mewarisi banyak dendam sejarah. Menurutku, Seringkali kita memilih sikap tidak mengungkap cerita sejarah yang dibungkam, demi untuk menjaga keutuhan bangsa. Padahal cara itu tidak selamanya benar. Jangankan kita sebenarnya, negara yang sudah dianggap "maju" seperti Jerman saja, masih belum mampu menerima perjalanan pahit sejarah mereka. Misalnya, Di Jerman dan Austria, masih banyak generasi yang lahir tahun 1940-an ke-atas, yang tidak mau percaya, adanya "tragedi" kamar gas. Bahkan, masih banyak yang percaya, Hitler sebenarnya adalah penyelamat.

Padahal, Bagaimanapun pahitnya, fakta-fakta sejarah adalah pelajaran sangat penting untuk generasi berikutnya. seperti kata Goenawan Muhammad, "hanya mereka yang mengenal trauma, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima keterbatasan yang bernama manusia !". Historia vitae Magistra, masa lalu itu memberi kita kearifan. Kearifan tidak selamanya bermula dari sisi baik. Kelam pekatpun, kita bisa belajar darinya.

Terhadap peristiwa 30 September. Pertama, banyak dari kita, termasuk sejarawan, masih terperangkap pada siapa salah dan siapa benar, bukan pada peristiwa itu sebagai "seperti adanya". celakanya lagi ada sekelompok tertentu yang memainkannya untuk kepentingan sesaat. Jadi, disaat orang sudah pergi ke pasar sentral untuk memilih baju dengan beragam corak dan harga yang terjangkau, kita masih sibuk mengurai benang kusut masa itu untuk ditenun jadi kain.

Nah, Kongklusi Sementara Perihal diskusi ini. Mengingatkan saya pada beberapa Untaian Kalimat; pertama, Saya ingat Catatan Pinggirnya Goenawan Muhammad, yang menuturkan bahwa " kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim terakhir. diujung sana, Tuhan Maha Tahu". Kedua, Saya Ingat Tutur 'Syahrunizam Abu Thalib', dalam 'Membaca Dirimu': "Catat Masa lalu, bukan untuk diwarisi. Tetapi untuk dipelajari".

"Bagaimana menurut'T soal Filem G 30 S PKI, yang sejak dulu kita disuguhkan setiap mau memasuki Tanggal 30 September, apakah filem tersebut menggambarkan kondisi Ril peristiwa itu atau Sebagaimana lazimnya Filem, yang nuansa dramatisasinya pasti ada?".

Tentang filem G 30 S PKI, Arifin C Noer, sang Sutradara Filem tersebut juga mengakui bahwa banyak dramatisasi didalam filem tersebut. Ihwal itulah menurut beberapa sejarawan menuturkan, filem G 30 S PKI cacat sejarah. Tersebab, banyak kebohongan didalamnya.

Pada masa Presiden RI ketiga- BJ Habibie, film G 30 S PKI tidak lagi diputar. Menteri Penerangan masa itu, menyatakan, film yang bernuansa pengkultusan tokoh seperti G 30 S PKI, Janur Kuning, dan Serangan Fajar tidak lagi sesuai dengan dinamika reformasi. Tahun 2000, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengusulkan pencabutan Tap MPRS XXV/1966 tentang pelarangan penyebaran ajaran Marxisme dan Leninisme. Tidak hanya itu, Gus Dur juga membuka ruang bila ada pihak yang ingin mengusut adanya dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di dalamnya. Sebab, Pasca-peristiwa 1965, banyak terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang diduga terkait atau memiliki afiliasi dengan PKI.

Tetiba Si doi menyambar Pembicaraan, "Kakk, Ayo mi pulang atau antar ma dulu pulang baru datangki lanjut diskusi'T", ia mulai cemberut (lagi). Oh ya, lupa saya padanya. "Saya pamit, bro. Terima kasih diskusinya. Nanti kita Lanjutkan", kata saya.

"saya yang terima kasih, karena sudah dikasih nutrisi segar. Biar saya yang bayar kopi'Ta".

"Haaa, Seriuskii ?", kata saya. "Iya, Bro. Biar saya yang bayar !".

"Alhamdulillah, rezeki anak sholeh", guman saya dalam hati sambil memandang Si doi yang menyunggingkan senyuman Terpaksa. Tetapi matanya penuh Bara api".



***







Jika Sapardi Djoko Damono Mengasosiasikan Kerinduannya dengan Hujan Bulan Juni, sebagai puncak Kerinduannya. Maka, sebahagian Kalangan menganggap September adalah bulan paling bersejarah dalam cerita Indonesia modern, akibat Peristiwa G 30 S PKI, yang juga sekaligus sebagai penanda Lahirnya Rezim kawat tulang besi (Orde baru).

Setelah sebelumnya dibagian pertama, saya menuliskan Hasil diskusi dengan kawan saya tentang Komunisme. Tentu, pada bagian kedua ini, saya akan uraikkan beberapa hasil bacaan dan diskusi dalam memahami peristiwa G 30 S 1965.

G 30 S PKI merupakan tragedi kemanusiaan terbesar kedua setelah Holocaus dalam rentang skala, waktu, dan jumlah korban yang ditimbulkannya. Tapi mengherankan, sebab Tidak banyak studi yang dilakukan dalam masa-masa paling gelap itu. jika dibandingkan dengan studi tentang Holocaus Nazisme - Hitler terhadap bangsa Yahudi di Jerman pada masa Perang Dunia II.

Misalnya, Salah satu dari sedikit sarjana yang mendedikasikan dirinya dalam upaya mengungkap Peristiwa G30S tersebut adalah sejarahwan 'John Roosa', yang saat ini menjadi profesor di University of British Columbia (UBC), Kanada. Bukunya, yang diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia, yang Berjudul "Dalih Pembunuhan Massal : Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto" (Jakarta: ISSI dan Hasta Mitra, 2007), menggambarkan, bahwa ; " G 30 S itu operasi rahasia. Badan-badan partai, seperti Central Committee (CC) dan CDB (Comite Daerah Besar) di tingkat propinsi, tidak pernah membicarakan G 30 S, apalagi mengambil keputusan". Maksudnya ialah banyak dari orang yang dianggap sebagai Simpatisan atau pendukung PKI, tidak tahu menahu soal G 30 S PKI. Sedangkan Rezim Soeharto menangkap lebih dari satu juta orang atas nama ’penumpasan G 30 S. Jelas penangkapan semasif itu sebenarnya tidak perlu sebagai reaksi terhadap aksi kecil.

Menurut 'Jhon Rossa', Ada dua hal mengapa pengangkapan massal, penahanan massal dan pembunuhan terhadap gerakan itu tejadi. Kalau penagkapan, penahanan dan pembunuhan tujuan utamanya menghancurkan kekuatan petani, yang sedang mendukung proses land reform, dan kekuatan buruh, yang sedang mengambil alih banyak perusahaan milik modal asing. sebenarnya bisa dilakukan tanpa pembunuhan. Sebab, Waktu itu PKI tidak melawan.

Menagapa kelompok Soeharto di dalam Angkatan Darat (AD) memilih membunuh orang yang sudah ditahan?. Ada beberapa kemungkinan, tapi satu poin yang cukup penting: kelompok Soeharto mau membuktikan kesetiaannya kepada kampanye anti komunis kepada Amerika Serikat (AS).

Memang sebelum G 30 S PKI, terjadi ketegangan antara PKI dan organisasi anti-komunis. misalnya, antara PKI dan PNI di Bali, atau PKI dan NU di Jawa Timur. Namun, hal itu tidak bisa menjelaskan pembunuhan massal. Orang sipil yang ikut milisi, seperti Tameng di Bali dan Ansor di Jawa Timur, tidak mampu membunuh sebegitu banyak orang sendirian. Paling-paling mereka bisa mengorganisir tawuran-tawuran. Dalam tawuran-tawuran seperti itu, orang PKI berani melawan dan tidak akan banyak orang yang gugur.

Pembunuhan massal terjadi sesudah banyak orang PKI rela masuk kamp-kamp penahanan. Kemudian tugas milisi menjadi algojo saja. Kalau tidak ada backing dari tentara, orang sipil di milisi-milisi itu tidak bisa berbuat banyak. Sekejam apapun orang PKI sebelum G 30 S (dan kekejaman itu juga terlalu sering dibesar-besarkan), tetap tidak bisa membenarkan tindakan Extra Judicial Killing yang dilakukan milisi maupun tentara.


***


Diatas merupakan satu pesepsi yang menjelaskan bahwa pembunuhan Pasca Getapu adalah Pelanggaran HAM terberat didunia, setelah Holocaust yang dilakukan oleh rezim Nazi di Jerman.

Saya coba berikan pengandaian, untuk meraba Asumsi, mengapa terjadi arus balik serangan setelah peristiwa Gestapu. Sekalipun Secara pribadi, saya memang tidak merasakan langsung, peristiwa-peristiwa tersebut. Sepintas lalu, hanya mendengarkan penuturan ayah saya dan membaca berbagai sudut pandang literatur tentang hal itu. Sehingga, saya punya bahan untuk menjelaskan hal itu.

Misalnya ada kampung A dan Kampung B, bersebelahan. Ada orang kampung A di serang oleh orang kampung B dan yang meninggal Akibat serangan tersebut, satu orang. Nah, orang kampung B berpikir, jika kami tidak menyerang, maka boleh jadi kita lagi yang akan diserang. oleh karena itu, Orang Kampung A bersama-sama Menyerang kampung A dan yang Meninggal akibat serangan balik tersebut, sebanyak 30 orang.

Secara hukum, yang salah Siapa?. Secara Hukum, Semua salah, baik Kampung A, maupun Kampung B. Tetapi, secara Moral siapa yang salah?. Dibawah saya akan uraikkan, sependek pengetahuanku siapa yang meyerang terlebih dahulu. Karena dalam kondisi satu orang dibunuh, maka semua orang akan berpikir kalau saya tidak membunuh maka saya yang terbunuh.

"Mengapa Komunisme ini menjadi begitu menakutkan, apakah karena Peristiwa G 30 S PKI ataukah karena Indoktrinasi selama orba?".

Sebenarnya tidak juga, memang dalam perjalanan sejarah bangsa kita. PKI ini pernah terlibat berbagai Hal. Salah satu problem kita adalah banyak dari kita yang tidak paham sejarah atau Malas menganalisis sejarah, sehingga kerap salah kaprah memahami sejarah. Misalnya, sebelum kita Masuk pada Peristiwa G 30 S PKI. Kita kembali kebelakang Pada Tahun 1926, pemberontakan yang dilakukan PKI di Silungkang, Jakarta dan Banten.

Pemberontakan PKI tersebut, kalah dan berhasil ditumpas oleh Belanda dan Tokoh-tokohnya dibuang ke Boven Digoel (Papua). Bung Karno melihat, kegagalan pemberontakan tersebut. Akibat, tidak adanya persatuan warga negara melawan imprealisme (pejajahan). karena, hanya PKI saja yang melakukan pemberontakan terhadap penjajahan Belanda. Ihwal itulah yang membuat Bung Karno mendengungkan Gagasan 'Nasionalisme Islamisme dan Marxisme'. (baca buku 'Dibawah bendera Revolusi').

Saat itu, selain Keterterimaan Rakyat Indonesia pada Gagasan NASAKOM adalah Persatuan Warga Negara Indonesia dalam melawan Imprealisme dan juga Komunisme Belum menjadi ancaman yang berbahaya bagi Bangsa Indonesia. Itulah sebabnya, adalah salah jika sebahagian kita menganggap, bahwa Gagasan NASAKOM didengungkan Bung Karno setelah Indonesia Merdeka.

Pada tahun 1948, 3 tahun setelah di proklamirkan kemerdekaan Indonesia. PKI Menusuk Ummat Islam dari belakang, melakukan pemberontakan ketika Ummat sedang bersiap-siap menghadapi agresi militer Belanda yang kedua. Tentu dimulai dengan kerusahan-kerusahan di Solo, Jogya, bahkan mereka mendeklarasikan Soviet Madiun. Setelah sebelumnya di awali oleh pidato Muso.

Nah, Korban paling banyak atas kerusahan tersebut adalah Ummat Islam. Seperti, di Ponorogo, di Gontor, Sabilil Muttaqin, terkhusus Para Kiyai, Tokoh birokrasi dan Perwira-perwira TNI, dan beberapa tokoh-tokoh Ummat Muslim lainnya. Sejak saat itu, cara pandang Ummat Islam dan sebahagian Rakyat Indonesia melihat PKI sebagai ancaman.

Karena Usaha pengkudetaan PKI ditahun 1948 gagal, serta usaha penumpasan Terhadap PKI tidak sepenuhnya dilakukan. Maka, PKI berusaha merehabilitas eksistensinya, setelah peristiwa Madiun, yaitu pada tahun 1952. Padahal Pasca peristiwa Madiun, Komunis itu menjadi organisasi dan komunitas yang terlarang. Tetapi, Bung Karno pada Tahun 1952 menerima, tokoh-tokoh yang merepresentasikan PKI, seperti Aidit, Lukman dan Tang Din Ji.

Dalam perjalanan kemudian, PKI mendapatkan ruang gerak lebih luas, karena Bung Karno terus mendengungkan eksperimen ideologisnya, yang bernama Nasakom. Maka, Pada Tahun 1954, kongres PKI melahirkan tiga bentuk metode kombinasi perjuangan, yaitu untuk perang gerilya didesa, melawan 3 setan Kota dan Infiltrasi kepada kalangan Bersenjata (TNI). Akibatnya, PKI berhasil tampil lagi di pemilu tahun 1955. Bahkan menjadi salah satu parpol yang mendapatkan suara terbanyak ke 4, sekitar 6 %.

Menjelang GESTAPU atau G 30 S PKI, Bung Karno tetap mempertahankan eksperimen ideologisnya, yaitu NASAKOM (Nasionalis Agamais Komunis). Maka, pecahlah Peristiwa Gestapu atau G 30 S PKI, dimana sejumlah Jenderal-jendral dibunuh dan dimasukkan kedalam lubang Buaya.

Andaikan Bung Karno mengkontekstualisasikan Gagasan 'Nasakom'Nya sejak 1926 dan masa Demokrasi terpimpinnya. maka, hampir bisa dipastikan sejarah kelam pembunuhan yang pernah terjadi dibangsa ini, bisa diminimalisir dan bung Karno Bisa Turun sebagai Presiden dengan Elegan. Tetapi, Bung Karno tetap memilih mempertahnkan Gagasan Nasakomnya, yang berakibat Pertumpahan Darah anak Bangsa.

Mengapa pentingnya Bung Karno, mengkontekstualisasikan Gagasan NASAKOM-nya. Selain, ditahun 1926, Gagasan Nasakom masih menjadi Gagasan Murni untuk mempersatukan Anak Bangsa dan masih bisa diterima dan sebahagian pemikir bangsa ini menganggap, bahwa Gagasan Nasakomnya Bung Karno adalah hal yang tidak mungkin. Sebab bagaimana mungkin, Islam dan Marxisme bisa bersatu (yang satu bertuhan dan yang satu tidak BerTuhan), Ini punya Uraian Tersendiri.

pertama, Ketika Bung Karno berapi-api menyampaikan gagasan Nasakomnya antara tahun 1959 sampai 1965, peta Dunia telah berubah. Banyak Faktor eksternal yang dapat Menggerogoti keutuhan bangsa dan tidak ada satupun negara yang tidak terpengaruh dengan peta Dunia pasca Perang dunia ke II berlansung.

Kedua, Pada tahun 1920-1930 an, Komunisme Internasional belum ada. Perang dingin (pasca Perang dunia II) belum terjadi, percaturan antara Amerika serikat dan Uni Soviet belum terjadi. Dunia belum terbelah menjadi dua kutub: ada timur dan barat. Ada NATO. Ada pakta Warsawa. Karena itu, kita harus melihat G 30 S PKI didalam peristiwa Global, bukan hanya sekedar persaingan Militer dan Komunis atau Percaturan antara Kelompok Islam dan PKI.

Sebagaimana yang kita ketahui, akibat yang ditimbulkan pasca Gestapu adalah hampir satu juta manusia di Indonesia dibunuh, karena dianggap sebagai simpatisan PKI. Padahal hampir semua Orang yang dianggap PKI, tidak tahu menahu tentang PKI itu adalah Partai Komunisme Indonesia. Misalnya, pengakuan Prof Salim Said saat mewawancarai seorang Bapak yang menggunakan Songkok Haji, ditengah-tengah lapangan saat Acara PKI berlansung. Didatangi oleh Prof Salim Said ; "Bapak haji Yah?". Jawab, bapak itu, Iya. "Loh, bapak kok PKI. Katanya bapak itu, PKI itu partai KJ Indonesia, kan. Jadi, memang hampir sebagian besar korban pembantaian manusia Indonesia pasca Gestapu adalah orang-orang yang tidak tahu menahu tentang PKI, hanya karena mereka teragitasi dengan Propaganda PKI.

Itulah sebabnya, Bagi sebagian kalangan, jelas PKI mau melakukan Kudeta di tahun 1948 dan tahun 1965 Dan PKI tidak bisa menghindari diri dari keterlibatannya secara penuh pada Gestapu, sebab didalam Koran Harian Rakyat, tanggal 2 oktober. Sebagaimana kita ketahui, bahwa koran Harian rakyat adalah koran PKI, dibawah pimpinan Nyoto (Sekjen PKI), yang Editorialnya menuliskan Gerakan 30 September dan jelas tertuang didalam koran tersebut : " Rakyat yang sadar akan politik dan tugas-tugas revolusioner Menyakini akan benarnya tindakan gerakan yang dilakukan pada gerakan 30 September, untuk menyelamatkan Rakyat dan Revolusi".

"Lalu, mengapa sangat susah menyelesaikan konflik dan labelisasi PKI di bangsa ini?".

Jika kita mau tahu situasi G 30 S PKI, maka jangan hanya melihat pada Tahun 1965. Kita harus kembali menengok ke beberapa peristiwa-peristiwa sebelumnya tahun 1962, 1963 dan 1964. Sebab, dalam periode tersebut banyak sekali kejadian, yang melahirkan berbagai sikap terhadap PKI. Misalnya, pemuda Rakyat menyerang Tempat Kaderisasi PII (pemuda Islam Indonesia), menyerbu Masjid, dan berbagai penyerangan terhadap santri dan kiyai. serta berbagai serangan lainnya. (baca Buku 'Banjir darah' saya lupa pengarangannya). Contoh kasus lainnya, misalnya, seperti Aidit pernah melakukan penelitian ke desa-desa dan ia menemukan, apa yang menjadi Idiom dalam PKI yaitu hancurkan 7 setan Desa dan 3 Setan Kota. Nah, para Kiai itu termasuk dalam 7 setan desa.

Sebenarnya Soekarno sadar betul tentang kewajiban pejabat lama akan berakhir dan ia juga sudah mengetahui bahwa dia akan turun dari presiden. Maka, dia menguraikan apa-apa saja yang telah dia lakukan dan belum dia lakukan. Misalnya, tentang Irian Barat, tentang KMB, dsb.  Sekalipun waktu itu, Soeharto tidak menyatakan dirinya akan jadi presiden dan Soekarno tidak menyatakan dirinya akan mundur sebagai presiden. 

"Makanya, Suatu ketika Soeharto bertanya pada Soekarno, Bung Bagaimana dengan PKI, apakah kita bubarkan atau tidak?". Jawaban Soekarno, "Saya ini membicarakan tentang NASAKOM tidak hanya berskala nasional. Tetapi, sudah mendunia. Sehingga saya menjadi sulit berhadapan dengan Masyarakat dunia". Artinya secara tidak langsung Bung Karno menolak untuk membubarkan PKI. Mengingat jawaban Bung Karno demikian, Soeharto kemudian kembali menyatakan : " tidak perlu takut, Bung. Biar saya saja yang menjadi Bumper atas hal itu". Maka, keluarlah surat Perintahkan 11 Maret (Supersemar) tahun 1966. Sejak saat itu, Nama Soeharto mulai Harum dibangsa ini, karena berani membubarkan PKI. 

Selain itu pula, Dulu bung Karno setelah Penculikan Rengasdengklok, kembali Ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan Kemerdekaan RI, tidak langsung tinggal di Istana Negara. Tetapi, tinggal digedung Proklamasi sampai Tahun 1952. Meskipun, Pasca Kemerdekaan Gedung Proklamasi sejatinya Bukan lagi Rumah Jabatan Presiden. 

Gedung Reformasi adalah salah satu bahagian dari artefak penting perjalanan bangsa, sekalipun Bung Karno sendiri yang mengalih fungsikan gedung tersebut dengan Menjadikan gedung tersebut sebagai Gedung Dewan Perancang Nasional (DPN). Banyak kalangan yang Khawatir, terkhusus Kelompok Islam, bahwa Bung Karno sengaja mengalih fungsikan gendung tersebut sebagai Gedung DPN, untuk menghapus peran PAN Islamisme bagi perjalanan bangsa kita. Sebab, Arah politik Bung Karno yang berbeda haluan. 

"Bukankah Soeharto itu Diktator?".

Hal itu tidak sepenuhnya benar. Sebab, Dalam beberapa literatur, Soeharto disebutkan tidaklah Apriori. Misalnya, pada Tokoh Masyumi, Muh. Natsir didatangi oleh Ali Murtopo yang membawa Pesan Soeharto, bahwa Indonesia membutuhkan dana Timur tengah dan meminta kepada Muh Natsir untuk meloby. Karena, ini urusan negara, Sebagai seorang Tokoh Masyumi yang oposisi. Maka, Muh Natsir melakukan hal itu. 


***


Jika kita salah dalam membaca sejarah, maka kita akan salah dalam melangkah. salah satu pembacaan sejarah yang baik, dengan gagasan Kontekstual ialah Misalanya, di tahun 1920 - 1940 an, melalui Prof Snouck Hurgronje yang mengkampanyekan agar Orang-orang Islam dibikin sekuler, dengan diberikan fasilitas dan disekolahkan ke Belanda. Karena orang Islam Indonesia, waktu tidak memiliki apa-apa. Sehingga menerima hal itu. Maka, Berkembanglah gagasan Uzlah. Uzlah itu artinya Jauhi sekolah-sekolah kafir (Belanda).

Setelah kita merdeka, kesalahan itu dikoreksi atau diluruskan. Karena hal itu disadari akan berbahaya bagi ummat Islam, hal itu dilakukan oleh K.H. Wahid Hasyim, putra Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari atau Ayah dari Gus Dur, yang merupakan salah satu dari Kabinet RIS tahun 1949 .

Jika disebutkan bahwa, bukankah Di Indonesia juga terdapat ekstrimis kanan, seperti PRRI?.

Memang benar, bawah terdapat ekstrimis kanan. Tetapi, berbeda. sebab, PRRI tidak pernah melakukan kudeta sebagaimana PKI. Apalagi peristiwa DII/TII. Kedua Kelompok tersebut sejarahnya dan Gelombangnya berbeda, karena hal itu terjadi di tahun 1949. Hal itu bukan kudeta namanya, sebab Indonesia belum masuk dalam pengakuan kedaulatan. Begitu juga dengan PRRI. Sebab, kelompok-kelompok tersebut, merupakan koreksi terhadap pemerintahan Pusat yang terlalu dekat dengan Komunisme dan juga mengabaikan daerah-daerah di Indonesia. Bahkan isunya saat itu adalah Jawa dan Luar Jawa. Dan yang terpenting sebenarnya, tidak ada UUD atau TAP MPRS tentang PRRI dan DII/TII, justru mereka mendapatkan Amnesty.

Walaupun dibelakang hari, bukan. karena PRRI. Banyak tokoh-tokohnya yang ditangkap, tanpa melalui proses peradilan, sebagaimana yang saya sampaikan diatas, seperti Muh Natsir, Syafrudin Prawiranegara, Muh Roem, Buya Hamka, Kasman singodimedjo, Sutan Sjahrir, dsb. Bahkan seorang Jurnalis hebat seperti Muchtar Lubis dipenjara selama 10 Tahun.

Jadi, memang komunisme itu kejam. Sebab, tercatat dalam The Black Book Of Comunism, diseluruh dunia dibawah rezim Komunisme, tercatat ; ada 95 Juta orang yang meninggal. Seperti yang kita tau, bahwa Rusia menduduki peringkat pertama dizaman Stalin, disamping China dalam revolusi Kebudayaannya.

Mengutip seorang Bolsevik yang Pertama ditahun 1876 'Pioter Karchov', didalam Bukunya "Revolusi dan Negara", yang menyebutkan ; " revolusi harus terjadi sebelum transformasi masyarakat. Karena itu, kaum revolusioner harus merebut kekuasaan sebelum mereka melaksanakan program. Revolusi merupakan Konspirasi, yang dilakukan oleh kelompok kecil atas nama massa. Begitu kekuasaan sudah ada ditangan, batu pemerintah melaksanakan revolusi dari atas, dengan menggunakan kekuatan terorganisir dari negara". Makanya, belakangan kita mengenal terma Komunisme disebut sebagai diktator Proletariat.

Ihwal ini merupakan mata pelajaran pengantar Ilmu politik, jika ada teman-teman dekat dengan literatur ilmu politik, maka teman-teman akan tahu ini. Disinilah juga pentingnya sejarah, agar argumentasi kita tidak terbolak balik. Misalnya, kita lihat argumentasi yang terbolak balik akibat Epistemologi yang terbolak balik, teman-teman kiri dulu kerap menganggap bahwa Produk UU PMA (penanam modal Asing) adalah Orde Baru. Ini salah, sebab yang menanda tangani UU No 1 tentang Penanaman Modal Asing adalah Bung Karno, tahun 1967. Ini merupakan informasi Elementer, silahkan cek sendiri. 



***

"Apakah ada kemungkinan PKI akan hadir kembali?".

Pengalaman sebelum Getapu, PKI berlindung dibawah ketiak Bung Karno untuk menindas dan memenjarakan Ummat Islam, seperti yang kita ketahui Sejumlah Tokoh-Tokoh Masyumi dan Ulama Yang sangat Ku kagumi Buya Hamka juga ikut dipenjarakan. Juga seperti Muchtar Lubis, Moh Roem, Sutan Sjharir, Syafruddin Prawiranegara, dsb di penjara Dan Mereka Baru dibebaskan setelah peristiwa Gestapu berlansung. 

Ketakutan itu semakin memuncak ketika RUU HIP bergulir, Jangan sampai PKI menelusup kedalam Pemerintahan dan Menpersekusi Ummat Islam. Sebab, jangan salah Ada Seorang Anak PKI yang bernama Ribka Ciptaning, Yang Dengan bangganya menulis buku " Bangga menjadi anak PKI" dan Ia adalah salah satu anggota DPR RI dari Fraksi PDIP. Bahkan ia menyebutkan di dalam partai PDIP tersbut, ada sekitar 20 Anak PKI.

Sebab, Tidak ada ideologi yang benar-benar mati. organisasinya boleh saja bubar. Tetapi, siapa yang berani menggaransikan bahwa orang tidak lagi berpikir demikian. Lalu, Apakah dia akan mendirikan PKI. Tidak mungkin. Tetapi, menjadi mungkin jika ia meminjam tangan Pemerintah untuk mempersekusi Ummat Islam. 

"Terakhir, Mengapa peristiwa G 30 S PKI selalu di peringati dan seolah-olah kita membangkitkan hantu?".

Sejarah Indonesia akhirnya mentok di G 30 S PKI, karena hal itu sekaligus menggambarkan sejarah dunia. Pada setiap hari menjelang 1 Oktober, tanggal 30 September. Bangsa indonesia ini dipojokkan lagi, didalam soal yang seharusnya sudah diselesaikan oleh pemimpin-pemimpin negara. Sebab, perintah reformasi adalah menyelesaikan persoalan masa lalu, seperti Hak Asasi manusia, salah Satunya ada G 30 S PKI dan berbagai soal lainnya. 

Saya menganggap fasilitas untuk menyelesaikan itu sudah tersedia. Seperti, kemampuan kita membaca sejarah secara lengkap, justru setelah peristiwa itu berjarak waktu. Bahkan, 60-70 % dokumen-dokumen CIA sudah bisa di akses dan secara nyata ada keterlibatan CIA dalam peristiwa G 30 S PKI. 

Tetapi, dalam konteks hari ini orang kembali mengangkat elemen dendamnya akan peristiwa tersebut dan tentu berkaitan dengan keadaan hari ini. Dimana ada semacam ketakutan yang ril, Karena pemerintah tidak mampu menjamin adanya kesetaraan perlakuan terhadap warga negara, terutama ummat Islam. 

Jadi, saya menganggap peristiwa ini adalah cermin dari ketidakmampuan pemerintah dalam menghasilkan demokrasi dan kesetaraan warga negara. Misalnya, kita telaah analisis dari seorang peneliti yang berasal dari Australia, yang menulis dengan tajam bahwa "pemerintah Indonesia, memang mempersekusi ummat Islam diIndonesia".

Iya, Jika kita menyeksamai memang Islam selalu bereaksi setelah peristiwa itu terjadi. Maka, reaksi baliknya adalah soal komunisme. Karena komunismelah yang dianggap memusuhi agama. 

Nah, ketakutan-ketakutan akan persekusi terhadap warga negara, khususnya ummat Islam itu bukanlah sesuatu yang di ada-adakan. Karena dulu, jargon Komunis dibangsa ini adalah hancurkan 7 setan desa dan 3 setan kota. Salah satu yang dimaksud  dari 7 setan desa adalah Para Kiyai. Sehingga memori orang tentang Awal-awal komunisme itu terulang kembali. Akhirnya memori itu tersambung dengan sejarah masa lalu dengan berbagai kejadian-kejadian hari ini. Misalnya, soal persekusi ulama, Persekusi ustadz, Radikalisme, dsb. 

Ketidakmampuan pemerintah menjelaskan keadaan ini, sehingga orang pergi kepada kecurigaan-kecurigaan masa lalu. Misalnya, orang boleh menulis tentang komunisme tetapi ummat Islam bicara khilafah, tidak boleh. Sementara, dulu jika Islam politik di jauhkan dari panggung politik bangsa ini, merupakan kerja-kerja PKI. 

Padahal, baik komunisme dan Khilafah adalah soal diskursus ilmiah. Hukum baru bisa bertindak, jika ada tindakan. Bahkan hukum, tidak boleh menguji pikiran. Apalagi menghukumi pikiran. 

Saya secara pribadi tidak melarang orang menonton film G 30 S PKI atau bahkan setuju menontonnya. Bukan itu pointnya, yang kami tunggu, sejak reformasi bergulir adalah imparsialitas negara dalam merawat kesetaraan warga negara dan tidak diskriminatif terhadap politik Islam. 

Sebab, Hal yang Di putuskan saat reformasi, salah satunya adalah menyelesaikan problem G 30 S PKI. Makanya, sudah pernah di buatkan rekonsiliasi antara Korban dan Pelaku. Tetapi, gagal terus. Karena pemerintah tidak mampu membangkitkan imajinasi demokrasi, sehingga orang lega untuk membicarakan peristiwa masa lalu. 

Didalam model-model rekonsiliasi, memang susah jika dua pihak harus saling mengakui, seperti siapa yang paling banyak membunuh, siapa yang paling banyak dibunuh atau siapa yang banyak bersalah dan siapa yang banyak benarnya. 

Soal rekonsiliasi sebenarnya, mestinya diatasi dengan menghadirkan pihak ketiga. Sama seperti peristiwa apartheid, yang juga diselesaikan, Karena ada pihak ketiga yang dengan besar hati menjadi penengah, yaitu Nelson Mandela. Di Nikaragua misalnya, ada Carter Foundation yang menjadi pihak ketiga untuk menyelesaikan problem hak asasi manusia, yang melibatkan Rezim kiri, antara Sandiniza  vs Militer. 

Akhirnya saya ingin sampaikkan bahwa Memperingati itu bukan mengungkapkan dendam. Bahwa peristiwa itu melibatkan dua kekuatan yang memang bersaing secara politik, karena disponsori oleh perang dingin saat itu. Sehingga militer dengan sendirinya akan khawatir jika pemerintahan jatuh ke tangan komunisme. Komunisme juga menganggap hal yang sama. Jadi, hal itu sebenarnya pertandingan politik dengan korban yang banyak. 

Bagi saya, sebenarnya yang ingin di perbaiki adalah apa yang terjadi saat itu. Oke, ada konflik politik. Tetapi, ada bagian-bagian yang diseret kedalam konflik itu, tanpa dia tahu. Seperti yang saya utarakan diatas, ada petani yang dikasih pacul, lalu dianggap PKI, begitu. Padahal dia cuman dapat pacul. Nah, kesalahan PKI juga adalah mengklaim 30 juta pengikut dan ada 3 juta yang aktif. Lalu, kalau sampai 30 juta pengikutnya, kenapa kalah?. 

Kemampuan kita untuk bertahan sebagai bangsa, ditentukan oleh kelegaan kita untuk menghasilkan kesetaraan pikiran. 

Jangan ada persekusi. Jangan ada Manipulasi. Jangan ada diskriminasi. Karena tanpa disadari, ada Trauma yang membekas pada kelompok Islam dan TNI, yang paling banyak dibunuh oleh PKI. Makanya, jika kita membaca dengan tenang, kelompok yang paling menentang dan menolak terhadap RUU HIP adalah Kelompok Islam dan Pensiunan TNI. Sebab, ada kemungkinan Nasakom akan kembali digaungkan. 


#RST

#Coretan Berserak

#Nalar Pinggiran


Kamis, 30 September 2021

MUHASABAH



Jika ada yang menghinamu, tak perlu meratap. Setiap hinaan orang adalah klaim sepihak. Marah pada hinaan, justru menyiratkan persetujuan. Sebagaimana, kata Sayidina Ali, "ucapan itu seperti obat, jika dosisnya kecil, bisa menyembuhkan. Tetapi, jika berlebihan bisa membunuh".

Hinaan itu hadir akibat merasa paling mulia. Ia tumbuh dalam pikiran yang kerdil, dioperasi oleh manusia picik. Dia mengendap dalam benak mereka yang serakah.

Hinaan bisa berimplikasi Rasialisme. Sedangkan, Rasialisme merupakan bahagian dari puing-puing perang dunia kedua atau jangan-jangan Terma Bhineka Gagal Ika, Cak Nun itu Benar.

Ada cerita yang menurut beta Lucu dan unik, yang tertuang di dalam Kitab Ihya Ulumuddin, Karya Monumental Imam Al Ghazali, kitab yang di anggap sakral di Kelompok ahlu sunnah Wa jama'ah. Suatu Ketika Nabi Musa AS meminta Nasehat kepada Allah. Karena Nabi Musa sebagai Nabi Bani Israil ini sering di gugat olen Orang Bani Israil. Sementara salah satu ciri Orang Bani Israil itu kerap berdebat. Nabi Musa Minta Nasehat pada Allah, agar orang tidak bisa berkata Buruk kepadanya. Biar Semua orang memujinya saja?. Jawabannya Allah unik, "Ya Musa Hadza Syai'un lam asna' khuli nafsi fakaifa nafsahu bika - Ya Musa, saya Yang Allah saja sering di salah pahami manusia, apalagi kamu".

Makanya, kalau ada orang yang menghina atau Membuly, dalam Terma Sekarang dan berbeda paham dengan mu itu biasa saja. Sebab, Allah saja, tidak melakukan hal itu atas dirinya. Secara sederhana kita bisa memahami Cerita diatas, seolah-olah Allah berkata pada Nabi Musa, " Wahai, Musa, saya ini Tuhan, yang menganggap saya Bakhil, banyak. Yang menganggap saya enggan memberi Nikmat, tidak sedikit. Bahkan yang menuduh saya Marah dan Murka, banyak sekali. Kalau saya Mau, saya bungkam semuanya. Tapi, saya tidak melakukannya. Apalagi kamu, cuman Nabi".

Berkenaan dengan itulah, ketika Imamuna Syafi'i di tanya oleh muridnya "Wahai Imam, orang yang kerap mencium tangan dan Hormat kepadamu di depanmu, Biasanya di belakangMu, dia membuly dan menjelek-jelekanMu. Imam Syafi'i Menjawabnya sederhana saja, bahkan sambil tersenyum, "baguslah. Berarti saya berwibawa. Sebab, di depan saya dia tidak berani menjelek-jelekkan saya".

Lanjut, muridnya, "Tapi, banyak orang yang membenciMu, karena FiqihMu Duhai, Imam". Jawaban Imam Syafi'i masih santai, " baguslah, jika mereka tidak senang dengan saya. Artinya mereka tidak akan meminta bantuan dan pertolangan saya".

Secara Natural, pasti kita malu meminta tolong pada seseorang yang kita benci. Berbeda saat kita senang dengan seseorang, pasti kita mudah meminta pertolongannya. Artinya, untung mana, kita di benci orang atau di senangi orang secara Matematis?. 😉🤭

Makanya Imam Syafi'i menghadapi dunia ini sederhana sekali, sebagaimana Ungkapannya " wa man asa'a ilaika faqod ath laqoka - orang yang berbuat buruk sama kamu, berarti membebaskan kamu". Demikianlah Ciri khas ulama-ulama dahulu, "Aridho anillah - melihat apa saja itu sudah ridho". Dan ekspresi paling gampang dari ridho adalah ceria dan senang dalam Kondisi apapun.

Misalnya, saat kita berburuk sangka pada Allah, bayangkan saja, Jika Allah tersinggung dengan hal itu dan menyatakan pada kita, " fal ya'tub robban siwa'i wal yahruj min tahtil ardhi wa ssama'i - Silahkan cari Tuhan selain saya dan keluarlah dari langit dan bumi saya". Mau kemana kita kira-kira?.

Makanya, Mustahil kita bisa melihat cahaya lilin, jika kita menganggap diri sebagai Matahari. Ukurlah diri. Sebab, makan berlebihan bisa muntah dan memikul beban berlebihan akan patah.

Misalnya, sudah mahfum kita tentang Harta kekayaan AbdurRahman Bin Auf itu seperti apa. Dalam Ensiklokpedia ekonomi Islam, harta kekayaannya sangat Fantastis dan luar biasanya adalah yang beliau korbankan di jalan Allah, tidak bisa di kalkulator. suatu Ketika, Abdurrahman Bin Auf di tanya, apa kunci kesuksesan dalam berbisnis. Ia menjawab, "saya selalu ridho dengan keuntungan yang sedikit".

Ihwal itulah sebabnya, salah satu Ciri Khas Ulama, RausyanFikr dan Cendekiawan islam kenamaan dahulu adalah "Melihat dan memandang apa saja, Ia Ridho". Makanya, Nikmat mengucap syukur dan ridho pada segala hal itu Mustahil di lakukan bagi mereka gemar mengeluh dan Mendapatkan sesuatu dari Jalur Gelap.

Selain itu, Secara biologis, menurut pemenang 2 (dua) kali Hadiah Nobel (biologi dan kemanusiaan), 'Alexis Carrel' mengatakan bahwa Betapapun berbedannya manusia, 90 % DNAnya Tetap sama.

Perbedaan warna kulit, Rambut, bentuk mata, warna mata, hidung dst. Hanyalah perbedaan beberapa puluh Gen, diantara kurang lebih milyaran pasangan gen ditubuh manusia.

Artinya, tidak ada satu kelompok yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Apalagi kalau sekedar Fisik dan Tubuh adalah ukurannya.

Bahkan Dalam Teori Fisika Quantum menuturkan, partikel eksistensi kita disatukan dengan partikel yang bahkan berjarak jutaan tahun cahaya dan hal itu saling mempengaruhi. karena itulah, penaifan terhadap keragaman dan perbedaan tidak didukung oleh fisika maupun metafisika.

Selain itu juga, Mayoritas Fakta sejarah menukilkan bahwa ketika persaudaraan diutamakan. maka, hasilnya adalah kejayaan dan gilang gemilang peradaban.

Misalnya, Suatu ketika, Si Fulan berdiri disudut jalan, ia tertawa seperti orang kehilangan akal (gila).

Apa yang kau tertawakan?, Tanya seorang yang lewat.

Apakah kamu melihat batu ditengah jalan itu?. ia Aku lihat, jawab orang tersebut.

Sejak pagi tadi, aku disini. Sudah sepuluh orang tersandung batu itu dan memakinya. Tapi, tidak seorang pun dari mereka yang mengambil batu itu dan membuangnya sehingga orang lain tidak tersandung.

Lihatlah, saat mereka memaki. mereka tidak punya pikiran untuk menolong orang lain. makin sering mereka memaki, makin jauh mereka pada kepekaan akan sesama.

Yah, begitulah Mereka yang akalnya melemah. Kebanggaan dirinya menguat. Sebah, Akal itu Seperti Panci ; panci kosong, cepat panas, sedangkan Panci penuh lambat Panas.

--MUHASABAH I ; MERIDHOI APA SAJA--

(Makassar, 28 September 2021)

***



Dipuji juga demikian, tak perlu melangit. Sebab, berbuat baik adalah perintah moral yang abadi. Sebagaimana Tutur 'Umar Bin Abdul Azis', "Jika kebaikan bisa diraih dengan mengeraskan suara. Maka, sudah lama keledai dan anjing memperolehnya". 

Jika kita tak pernah tau apa yang menghinggapi hati orang lain. Maka, bersikap baiklah : Dan Itu cukup. Meskipun orang tak mengucapkan terima kasih atas perbuatan baik kita, tidaklah mengecilkan arti kebaikan yang kita buat. Biarkanlah kebaikan mengalir dari tangan kita dan biarkan benak kita terbebas dari perasaan berjasa.

Sekalipun secara alamiah, Sebagaimana Nasehat Ibnu Atha'illah Iskandaria bahwa "setiap karunia itu datangnya Dari Allah SWT, tetapi syari'at mengharuskan kita berterima kasih pada sesama". Artinya, Kita tidak harus terbebani dengan penilaian orang lain terhadap diri kita. Karena, kita lebih mengenal diri kita. Perkara orang lain memandang diri kita seperti apa, itu terserah mereka. 

Sebagaimana Gumam 'Syaikh Ath-Thantawi' (Syaikh Al-Azhar) ; "Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tak mengenal kita. Kita adalah orang yang menarik dimata orang yang mengenal kita. Kita adalah orang yang istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita. Kita adalah pribadi yang menjengkelkan, bagi orang yang penuh kedengkian. Kita adalah orang yang jahat, dalam tatapan orang iri".

Yah, Pada akhirnya. setiap orang memiliki pandangannya masing-masing terhadap kita. Maka, tidak usah berleha-leha, agar tampak baik dimata orang lain. 

'Syekh Mutawalli Asy-Sya'rawi', menututkan "jika Manusia melupakan kebaikan kita dimasa lalu, itu adalah balasan atas keburukan kita dimasa sekarang. Sedangkan, Allah menghapus keburukan masa lalu kita, sebagai ganjaran atas taubat kita. Maka, siapakah yang paling layak untuk dimintai ridho?".

Cukuplah dengan Ridho Allah, bagi kita. Sungguh mencari ridho manusia adalah tujuan yang tak akan mungkin tergapai. Sedangkan, Ridho Allah adalah destinasi yang pasti sampai. Maka, tinggalkan segala upaya mencari ridho manusia dan fokus saja pada ridho Allah, (Q.S. 2:207).

--MUHASABAH II--

(Makassar, 28 September 2021)


***



Pada akhirnya, tiada yang benar-benar menetap dalam hidup kita. Satu persatu, Semua akan pergi. Entah, melangkah perlahan atau berlari dengan kencang. Itulah sebabnya, Tak perlu terlalu setengah mati mengejar sesuatu yang hasilnya tidak bisa disantap di alam kubur dan barzah. 

Kelak, Kita tidak akan membawa tanda mata apa-apa. Kelak diperistirahatan yang sempit itu, hanya bisa diisi 3 Mahkluk : Jasad kita, mungkar nakir dengan Daftar pertanyaan dan palu digenggaman tangannya. Maka, persiapkan diri dan ciptakanlah sosok yang tak akan meninggalkan kita, hingga hari perhitungan tiba. Siapa itu?. Ialah amal Sholeh. 

Andaikan, Harta yang haram, hanya menjadi Makanan saja. lalu menjadi tai. mungkin tidak terlalu berbahaya. sekalipun dosanya berbahaya. 

Tetapi, harta yang haram akan menjadi darah, Danging, Tulang, otak, akal, jantung dan berpontensi membentuk Jiwa. lalu, saripatinya akan bertumbuh didalam Rahim dan sperma yang akan membentuk anak dan cucu kita. Tidaklah hal itu merupakan bentuk kedzoliman yang nyata. 

Itulah sebabnya, Dalam Terma fiqih, Kehalalan pendapatan (Harta), niscaya terverifikasi dari prosesnya. Jika prosesnya Mungkar. Maka, di buat apapun, sifat hartanya tetap haram. 

Silahkan identifikasi semua makanan yang masuk lewat tenggoran kita. Apapun Profesi kita, kita semua berPotensi mengunyah harta lewat jalur gelap. 

Bagi sebahagian orang, hal diatas hanyalah permainan dan menjadi komoditas bisnis yang serius. Bahkan, Dianggap lampiran hidup yang tidak Penting diurus, yang penting hasilnya banyak untuk di nikmati. Padahal, menguyah harta lewat jalur gelap adalah ciri peradaban terendah.

Kita berpikir hal itu akan selesai di sini saja. jangan salah. Sapi mati, unta mati, kambing mati dan mereka tidak akan pernah ditanya tentang apa yang ia lakukan selama hidup. Tetapi, manusia tidak. Segala Mark up, kebohongan, tipu daya, sogok. Segala keculasan, kecurangan, kelicikan dan kedzoliman. Berapa kali kita lakukan, akan di minta pertanggung jawaban di hadapan Allah. 

"Wamay yaglul ya'ti bima gollah yaumal kiamah (siapa yg curang, kelak kau akan datang membawa kecuranganmu di hari kiamat)"

Hiduplah sesuka hati kita, sekalipun dengan cara apa kita merengkuhnya, silahkan. tapi, ingatlah kita akan jadi mayat. "I'mal ma si'ta Faa innaka ala Mayyit" :  lakukan apa yang engkau suka. Tapi ingat, Kita akan jadi mayat. 

Silahkan, kita berpura-pura tidak tau pada kebenaran. Sebab, Sampai masanya, dimana Hari itu " Al yauma na'timu ala afwa hihim" ; hari itu mulut terkunci. "Wa tu kalli muna aidihim" ; tangan akan bicara, "waa tasyhadu ala arjulum hum": ; kaki akan bersaksi. Apa yang akan di bicarakan tangan dan kaki ; "limang kana yaksibun". Apa yg kita dipertanggung jawabkan, saat itu : "Faa maya'mal mitsqola dzarratin khoiron yaroh" (sekecil biji sawi kesalahan yang engkau lakukan, akan di perlihatkan kelak).

Hari ini, kita masih dibantu oleh bapak dan ibu, di tolong oleh anak, istri, sahabat, sejawat, keluarga dan tetangga. Tetapi pada masanya kelak, yauma yafirrul yaumqn abhi wa ummihi, wa shohibathi wa banihi ; saudara kandung, Ibu kandung, ayah kandung, sahabat, keluarga, buah hati belaian jantung dan Tetangga tidak bisa membantu.

Kita hanya bisa menyelamatkan diri masing-masing. Sebab, cinta hanya sampai dipelupuk mata, kasih dan sayang, hanya sampai ketika nyawa di tenggorokan dan rindu, hanya sampai ketika malakul maut tiba. 

Dalam realitas hidup ini, ada hal yang mendua. Ambigu istilah lainnya ; disuruh tapi di larang. Bersinarlah, tapi jangan terlampau terang. sebab, akan membuat mata orang silau, pandangan orang terganggu. karena itu pandai-pandailah menempatkan diri.

Silahkan Rawat angkara. Silahkan pongah, Jumawa bahkan membusungkan dada. Dulu, Fir'aun dan Namrud juga demikian. Namun, Ingat saja. disaat kejatuhanmu telah tiba. kamu akan terpinggirkan oleh perubahan waktu. Sebab, Semua yang dilakukan pasti meninggalkan jejak. Tidak lebih dari itu.

Orang tidak selamanya kaya. Lihatlah, Qorun yang hancur. bahkan, ditimbun oleh keserakahannya sendiri. Orang tidak selamanya bertahta. Lihatlah, Fir'aun ditenggelamkan, akibat ulah anak angkatnya sendiri. Semua punya masa, termasuk saya, kamu dan mereka.

Dahulu, setelah Soviet bubar. Gorbachev pensiun dari politik. Hilang kekuasaan dan digdaya personal. Ia dianggap pecundang oleh rakyatnya. Suatu waktu Gorbachev jalan-jalan disebuah kampung, kepalanya diludahi oleh seorang Ibu dari balik jendela. Gorbachev dianggap momok oleh warganya. Ingatlah, jangan sampai anda pensiun, kepalamu diludahi rakyat. 

Dahulu, dimasa jahiliyah Abu jahal dan konco-konconya dianggap paling berpengaruh ; kedudukan, kehormatan dan klan di kapitalisasi untuk mendapatkan kekayaan harta benda. dsb. Apa yang terjadi, saat Rosulullah Muhammad SAW datang, dan diutus menjadi Nabi. semuanya tercerabut dari kemapanannya. hancur tidak karu-karuan pasca Fathu makkah.

Tidak ada yang menyangka, 'Abdullah Bin Mas'ud' dahulu adalah Pengembala kambing, milik 'Abu Jahal'. Akhirnya, memenggal kepala majikannya (Abu Jahal), saat perang badar berkecamuk. 

Siapa yang akan mengira, Sayyidah Aisyiah tetap bertahan memilih jalan Tauhid, walau dibawa kekuasaan Thoghut terbesar sepanjang sejarah ummat manusia, yaitu Fir'aun. Ataukah pilihan Qan'an, Anak Nuh, menjadi kafir, walau ia adalah darah daging seorang Nabi. 

Keputusan ada ditangan kita, jangan menyalahkan keadaan. 

Semuanya akan berakhir, perlahan. serupa bias keindahan senjakala yang pergi meninggalkan enigma, sebelum malam memeluknya.

--Muhasabah III--

 Gowa, 13/10/2021


***


Seorang sahabat datang kepada Nabi Muhammad saw dan mengadu : " ya Rosulullah aku telah berbuat dosa dan maksiat?. Rosulullah Saw menjawab kepadanya, " minta ampunlah kepada Allah swt".

Sahabat itu kembali berkata, "aku telah meminta ampun kepada Allah tapi aku mengulangi kembali dosa itu  Ya Rosulullah".  Rosulullah saw berkata lagi, " minta ampunlah kembali kepada Allah ".

Sahabat itu seperti orang bingung dan berkata lagi, " aku telah meminta ampun lagi kepada Allah dan aku kembali melakukan dosa ya Rosulullah". Rosulullah saw berkata lagi ," teruslah kau meminta ampun kepada Allah swt, hingga iblis yang putus asa, bukan kau yang putus asa terhadap ampunan Allah ". Sumber sunan Ibnu majah, kitab azzuhud pada bab attaubah hadis ke 3427, kasful astar hadis ke 3249 - Konon dosa orang tersebut sudah sangat-sangat memalukan, plus menjijikkan. tapi Rasulullah saw terus memerintahkan orang tersebut untuk tidak berputus asa akan Rahmat Allah swt

'Syaikh Mutawalli Asy Sya'rawi', ditanya : "beritahukan aku tentang kedermawanan Allah". Jawabnya, "Dia melihatmu melanggar PerintahNya. Tetapi, Ia letakkan Rasa sesal di hatimu, kemudian Dia mendorongMu untuk beristighfar. Maka Dia mengampuni dosamu".

Kalau sekiranya kalian mempunyai dosa atau kesalahan sampai memenuhi langit kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian. (HR. Ibnu Majah).

Kata seorang Sufi Bernama Al-Hallaj ; "Aku tidak heran terhadap cintaku kepadamu. Sebab, aku hanyalah hamba yang hina dina. Yang membuat aku heran, cintamu kepadaku. Sebab, engkau Maha cinta yang berkuasa".

Berilah harapan pada orang. Bukan justru menakuti-nakutinya. Sebab, Allah maha pemberi melebihi apa yang kita minta dan mengampuni segala dosa. Harapan itu seperti Setiap malam kita tidur, tanpa memiliki jaminan apakah akan bangun pagi atau tidak akan bangun Sama sekali. Namun, kita masih saja mengatur alaram untuk bangun. 

Hidup kita ini adalah rangkaian doa demi doa. Bukan tentang dikabulkan sekarang. Tetapi, tentang indahnya Merayu Tuhan. Seumpama Siti Maryam, Ibunda Nabiyullah Isa A.s, yang bermuajat, bahwa  "Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu Tuhan". Olehnya, Jangan berburuk sangka pada Allah. Sebab, Allah punya otoritas untuk membalikkan keadaan dengan cara-cara yang paling sederhana.

Tidak ada yang menyangka, jika air yang mengantarkan Musa, ke istana Fir'aun, padahal Musa Mungil sedang dalam masa terlemahnya. adalah air yang sama, yang menghancurkan pasukan Fir'aun. Padahal Fir'aun sedang dalam masa terkuatnya. 

Kemana Kita pergi?. Pergilah kepada Allah, sampai tak ada lagi yang kita temukan Selain ketenangan. Sebab, Telah lama kita meninggalkan diri kita, yang ditinggali oleh bayang-bayang hidup orang lain.

Bagaimana kita hendak bersujud pasrah, sedang Wajah kita yang bersih sumringah. Kening kita yang mulia dan indah begitu pongah, Meminta sajadah agar tak menyentuh tanah.

Apakah kita melihatnya seperti iblis saat menolak menyembah Datuk kita, dengan congkak : Tanah hanya patut diinjak, tempat kencing dan berak, serta membuang ludah dan dahak atau paling jauh hanya lahan pemanjaan nafsu serakah dan tamak.

Apakah kita lupa bahwa tanah adalah bapak dari mana ibu kita dilahirkan. Tanah adalah ibu yang menyusui dan memberi kita makan. Tanah adalah kawan yang memeluk kita dalam kesendirian, dalam perjalanan panjang menuju keabadian.

Singkirkan saja sajadah mahal kita, Ratakan kening kita, Ratakan kening kita. Tanahkan wajah kita, Pasrahkan jiwa kita.  Biarlah rahmat agung Allah membelai kita dan terbanglah kekasih. 

Tuhan Kekasih ; Sungguh tidak ada kepantasan sedikitpun padaku, untuk engkau gabungkan bersama para ahli-ahli surgamu. Namun, Sungguh aku tidak akan kuat, untuk engkau campakkan kedalam dahsyatnya api nerakaMu.

Maka, tumbuhkanlah. Kesadaran untuk bertaubat. Kemudian, ampunilah dosa-dosaku. Karena, hanya engkau Maha Pengampun segala dosa yang besar. Dosaku bertumpuk, seperti hamparan pasir di pantai.

Anugerahilah aku, Taubat wahai yang Maha Perkasa. Sebab, Umurku berkurang setiap hari, setiap malam. Sedangkan dosaku bertumpuk-tumpuk. Semakin bertambah, sampai aku tak tahu lagi bagaimana membersihkannya.

Kekasih, hambamu yang penuh maksiat ini, datang mengetuk pintu rumahmu. Bersimpuh, bersujud mengakui segala dosa dengan hati yang memanggil-manggil ampunan-Mu.

Kekasih, apabila engkau mengampuniku. Maka, memang hanya engkau-lah Maha Pengampun. 

Tetapi kalau engkau usir aku. Tetapi kalau engkau tolak dan campakkan aku. Kiranya kepada siapa lagi. Kami, aku dan mereka. Akan bisa berharap.

" ilaahi lastu Lil firdausi ahlaan - wa laa aqwaa 'alaa Nasril jahiimi (Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka jahim)".

" Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdambil 'adzhiimii (maka berilah aku Taubat /ampunan dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar)"

" Dzunuubii mitslu a'daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljaali (dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku Taubat wahai Tuhanku yang memiliki keangungan)"

" Wa 'umrii naaqishun fi Kullu yaumi-wa dzanbii zaa-idun kaifah timaali (umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya)".

" Ilaahi 'abdukal 'aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qod da'aaka (wahai, Tuhanku! Hambamu yang berbuat dosa telah datang kepadamu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepadaMu)".

" Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun fa in tathrud faman narjuu siwaaka (maka jika engkau mengampuni, maka engkaulah Yang berhak mengampuni)".

Ya Tuhan, Kekasih. selamatkan kami dari bodoh Maha Dahsyat dan rakus yang membawa mampus dan Berilah kami kemampuan, agar tidak puas dengan amal-amal kecil. Meski dosa adalah peristiwa manusiawi dijari waktu.

Ya Robb, Apapun hukuman yang engkau timpakan kepada aku. Maka aku akan terima. sebab aku tidak Mempunyai hak untuk Mengintervensi-MU. Namun, pintaku : jangan engkau hukum aku dengan memasang tabir pemisah antara engkau dan aku.

Ya Tuhan, kekasih. Kadang aku lupa menyapaMu. Kadang pula aku abaikan panggilanmu. Bukan karena aku Jumawa, apalagi membusungkan dada di hadapMu. Tetapi, tabiatku yang memang resah dan gelisah, dengan Fatamorgana yang menipu Ini. 

Padahal, sahabat kekasihmu Umar Bin Khottab berpesan "saya tidak pernah memohon kepada Allah agar meringankan beban. Tetapi saya Memohon kepada Allah agar diberikan punggung yang kuat untuk memikul beban".

--Muhasabah IV--

Makassar, 18 November 2021


***

Bila semua terselesaikan oleh tangan yang di tengadahkan, kita tidak akan pernah merasa bahwa Tuhan mengambil lebih banyak dari pada memberi. 

Demikinlah doa adalah rumah dari segala ingin ; Jalan pintas menuju pelukannya.

Ikhtiar hanyalah jalan, sedangkan rezeky adalah kehendak Allah, dia memberi Se-KehendakNya. Antara Shafa dan Marwah, Siti Hajar mencari air. Di ulangnya, bolak balik 7x. Tetapi, zam-zam justru muncul dari Kaki Ismail. Itulah sebabnya, sempurnakan saja Ikhtiar kita. Rezeky kita, biarlah menjadi kejutanNya. 

Namun, rezeky tidak hanya soal materi. Berapa banyak orang sakit, yang ingin hidup seperti kita. Tidak sedikit narapidana, yang merindukan suasana di luar, pergi kemana saja yang dia mau. Di kolong jembatan, ada orang-orang yang bermimpi tentang ukuran tempat tidur kita Dan di kuburan, ada orang yang menginginkan kesempatan kedua untuk hidup lagi seperti kita.

Kita yang sedang tidak mengayuh sepeda. Kita yang tidak sedang menebar jala. Kita yang tidak sedang mendorong gerobak. Kita yang tidak sedang bergelut dengan cuaca Ekstrem. Kita yang tidak sedang memanjat tebing-tebing tinggi dan bergelantungan dari satu dahan ke dahan yang lain, demi sesuap nasi. Bersyukurlah.

Hidup ini, tidak seburuk yang kita bayangkan. Jika di bandingkan dengan kondisi dan keinginan orang lain. Sekali lagi, Bersyukurlah untuk semua itu. Ibnu Hibban berkata, "seandainya engkau berlari dari Rezekymu, sebagaimana engkau berlari dari Kematian, niscaya rezeky itu akan sampai kepadamu, sebagaimana kematian akan sampai kepadamu. Sesungguhnya rezeky akan mengejar seorang hamba, seperti ajal mengejarnya". 

Bila rezeki kita berlimpah. maka, panjangkanlah meja makan kita. bukan, justru meninggikan pagar rumah. Harta kita adalah baju yang kita pakai, nanti akan Rusak. Yang kita Makan, berakhir di WC, " Wa hal laka min maalika illa ma akalta faafnaita wa labista faablaita Wa tashaddaqta faabqoita - Yang Kamu sedekahkan itulah yang abadi sampai di akhirat. Kamu jangan bilang yang kamu sedekahkan itu yang habis". 

Sebenarnya saya mau mengajari pengusaha dan konglomerat soal Hadits Ini. Karena Nabi mengajari kita soal shodaqoh itu adalah pengabadian Uang. Sedangkan kita Menganggap bahwa Shodaqoh itu menguras Uang. Padahal itu, pikirannya setan. Bukan pikirannya orang Islam yang beriman .

Tetapi, Jika Ikhlas tak pernah mengiringi Qolbu, berapa pun kebajikan itu. Akan luruh berjatuhan amal Ibadah kita. Sebagaimana, Seorang yang mengalami kebutaan keluar dari rumahnya menuju Masjid untuk menunaikkan Sholat subuh. Ditangannya ada lampu yang menerangi langkahnya.

"Anda membawa pelita. Nyalanya tidak memberikan Manfaat sama sekali", ejek Kawannya. Jawab Orang Buta, " saya Membawa lampu, agar orang-orang melihat saya dan tidak menabrak saya". 

Niatkan kebaikan untuk kebaikan. Biarlah kebaikan menjadi rahasia kita, sebagaimana engkau merahasiakan dosa-dosa kita. 

Salah satu protype dari Rosulullah adalah filantropisme. Filantropis adalah kebaikan yang di lakukan, tidak dengan memamerkannya di ruang publik, karena itu menyangkut kejujuran untuk membantu manusia. 

misalnya, jika membantu si Miskin. Datangi secara diam-diam. Jika perlu, jangan sampai Si miskin tahu, siapa yang memberikannya sedekah. Itu yang disebut kegiatan filantrophis. 

Filo artinya sayang. Atrophia artinya manusia, secara harfiah disebut mencintai manusia. Lain ceritanya dengan caritas. Caritas itu saat melakukan sesuatu, ada motifnya, mengumpulkan orang. Membentangkan sensasi, mata kamera di gelar di setiap sudut. Ada wawancara disitu. Sebagaimana yang Populer dilakukan itu.

Demi apa kebaikan seperti itu pamerkan?. Makanya Berbuat baik dalam Persepsi agama dan Politik itu berbeda. Dalam politik kebaikan butuh Mata lensa, sedangkan dalam agama Bila perlu orang yang kita bantu, jangan sampai tau bahwa kitalah yang membantunya. Sebagaimana Apa yang di sampaikkan Umar Bin Abdul Azis, " Jika kebaikan bisa diraih dengan pengeras suara. Maka sudah lama anjing dan Keledai, memperolehnya". 

Jika seluruh kebaikan adalah Investasi untuk surga.  Lalu, kemana perginya Ketulusan?.  Memang, Ibnu mas’ud Mendaku, bahwa Ibnu Al-jazari. pernah di Tanya oleh muridnya; guru kenapa engkau tidak banyak berpuasa?. Ibnu Mas’ud menjawab; jika aku banyak berpuasa, maka badanku akan lemah dan aku tidak kuat membaca al-Qur’an. sementara membaca Al qur’an lebih aku sukai ketimbang memperbanyak puasa.

Kebaikan dan berbuat baik itu banyak jenisnya. Tapi, skala prioritas yang tiap orang bisa jadi tidak semua sama. Maka, sejatinya Kebaikan itu disemai diam-diam dalam gelap, lalu tumbuh senyap tak berisik. agar, Yang terang terasa hanyalah manfaatnya.

Demikianlah, semestinya tugas utama kita sekarang, yakni membuktikan bahwa kondisi apapun, tidak akan meretakkan solidaritas sosial kita. Sebab, empati dan kebaikan itu menular jauh lebih cepat daripada virus.

Jika kita terhalang dalam menyemai kebaikan, Kata Ibnul Al-Qoyyim Al-Jausyiah ; jika punggungMu terlalu berat menahan Dosa-Dosa, maka akan terhalang dari perjalanan menuju Allah dan Anggota tubuh terhalang beramal dalam ketataan kepadannya. 

- MUHASABAH V ; BERSYUKUR DAN IKHLAS  -

Makassar, 15/07/2021  - Pukul : 05.05


***


Ketika Nabi Musa As dan Bani Israil berkumpul untuk melaksanakan shalat istisqo' (sholat yang dilaksanakan untuk meminta hujan ketika paceklik). Ketika mereka mereka shalat, Keanehan pun terjadi. Tidak ada setetespun hujan yang turun. Lalu, Nabi Musa menanyakan hal itu kepada Allah.

Allah berfirman, "Wahai Musa aku tidak akan mengabulkan do'amu dan do'a orang-prang yang bersamamu. Karena di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat padaku selama 40 tahun dan akupun mencegah turunnya hujan pada kalian".

Nabi Musa pun bertanya, "Lalu Ya Robb apa yang harus kami lakukan?". Allah pun berfirman: "Keluarkan (usir) orang tersebut dari kalian!"

Mendengar hal itu, Nabi Musa pun berpidato pada Bani Israil, "Wahai Bani Israil! di antara kita ada seseorang yang bermaksiat pada Allah selama 40 tahun, hujan Tak akan pernah turun sampai orang tersebut keluar dan pergi!". Maka sadarlah hamba itu akan dirinya dan dia pun berkata dalam hatinya : "Yaa Robb hari ini aku berada di kalangan orang banyak, jika aku keluar maka aku akan merasa malu, dan tiada pilihan untukku hari ini kecuali bertaubat pada-Mu, ampunilah aku dan tutuplah aib aibku"

Tidak berselang lama hujan pun turun, lalu Nabi Musa berkata, "Ya Robb, hujan telah turun dan tak ada satupun orang yang di maksud, yang keluar di antara kita?"

Allah pun berfirman : "Wahai Musa, hujan aku turunkan sebab rasa senangku terhadap seorang hamba yang telah bertaubat setelah bermaksiat padaku selama 40 tahun.

Nabi Musa pun berkata : "Siapa dia Yaa Robb? Tunjukkanlah padaku agar aku bisa bergembira untuknya.

Allah pun menjawab: "Wahai Musa, dia bermaksiat pada-KU selama 40 tahun aku tutupi, dan hari ini dia bertaubat padaku lalu aku akan mempermalukan dia?. 

- MUSAHABAH VI -


*Pustaka Hayat
*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran