Minggu, 21 Agustus 2022
AL ILMU YURISHUL AHWAL -
Kamis, 18 Agustus 2022
KESHOLEHAN YANG DISTORTIF - MENGABAIKAN KEJERNIHAN RASIONALITAS
Mari kita membicarakan tentang sesat, tidak usah kita rujuk pada makna arti teks dan sejenisnya. Kita lihat, bagaimana kata " sesat" itu gunakan dan di fungsikan sebagaimana teori Hermeneutika yang mengasumsikan: " jangan kamu cari arti kata teks atau kata tersebut di fungsikan dan di gunakan.
Dalam perjalanan sejarah eropa, pada abad pertengahan. Defenisi sesat adalah orang yang berlawanan dengan otoritas gereja. Hanya Paus dan Turunannya yang berhak memberikan tafsiran. Bila berlawanan dengan tafsiran gereja maka mereka sesat dan menyesatkan. Galileo Galilei yang menganggap matahari sebagai pusat orbit Tata surya ini (Heliosentrum) pun berhadapan dengan otoritas gereja yang menganggap bumi sebagai pusat atau sumbu. Atas nama otoritas gereja, Galileo Galilei pun harus berhadapan dengan pilihan hidup atau mati.
Demikian juga dengan defenisi "Gila" pada abad pertengahan ini. Defenisi Gila adalah orang yang di kutuk Tuhan, tidak lebih tidak kurang. Hanya itu parameternya. Sementara itu, pengobatan yang menggunakan sesuatu yang bukan atas restu gereja di sebut sebagai praktek sihir. Sihir itu sesat, maka layak untuk di bunuh. Padahal pendekatan yang di gunakan berasal dari ikhtiar medis sebagai capaian-capaian ilmu pengetahuan, namun karena bertentangan dengan dogma gereja maka dianggap sebagai praktek sihir. Dan sihir itu sesat, layak untuk di bunuh.
Dalam Filem sejarah Kristen abad Pertengahan "Season of the witch" yang di bintangi oleh " Richard Gere" bisa di jadikan salah satu Rujukan, termasuk "The Phyisian" ; Avesenna" Yang menggambarkan bagaimana capaian Ilmu pengetahuan medis juga dianggap sebagia sebuah "kutukan" dan " Sihir" yang harus di lenyapkan karena dianggap bertentangan dengan agama (Baca; penafsir Agama).
Dalam perjalanan sejaran Islam, defenisi sesat adalah orang yang tidak masuk dalam "mainstream" atau kelompok Mayoritas. Padahal, yang berhak menentukan benar dan salah adalah sang Maha Benar. Tidak selamannya mayoritas itu benar dan Tidak selamnnya seragam itu indah. Ajaran Islam bahkan mengatakan bahwa "Berbeda itu Hikmah". Hikmah itu indah dan penuh kebaikan. Karena itu, jangan menganggap bahwa perbedaan itu merusak tatanan keindahan. Sebab terkadang perbedaan justru melahirkan harmoni.
Lalu, ketika ada yang mengatakan suatu kelompok itu sesat dan menyesatkan, pantaskah kita masuk menjadi bagian dalam kelompok itu?. Tergantung kita. Namun yang pasti, ketika menganggap orang lain sesat dan bahkan wajib di bunuh dengan mengatasnamakan perintah Rosulullah SAW. Ini jelas sebuah Kata atau pembenaran untuk memperkuat sebuah argumentasi, walaupun dalam konteks kaidah keilmuan, pembenaran itu sangat lemah dan pantas untuk di pertanyakan. Tapi, jika orang yang memiliki kadar kebencian yang sangat tinggi, hal tersebut bukanlah sesuatu yang sangat sulit. Ibarat mata dan penglihatan, ada mahkluk yang bisa melihat di siang hari, ada pula yang mampu melihat di malam hari. Tapi bagi orang yang memiliki kadar kebencian sangat tinggi, mereka tidak mampu melihat di siang hari dan malam hari. Apalagi sekedar mencari pembenaran.
Andai kealiman tanpa ketakwaan adalah kemuliaan, maka makhluk yang paling mulia, tentu adalah Iblis. Iblis pernah berada disurga, dan tak pernah bisa masuk lagi, karena kesombongannya.
Rabu, 20 Juli 2022
SEPEDA DAN BERHALA MILINEUM
Rabu, 13 Juli 2022
AKANKAH NASIB RU'YAT DAN HIZAB SERUPA DENGAN GEREJA KATOLIK - SAYA HANYA BERTANYA ; DIALEKTIKA
POLITIK ITU SUNYI II ; CATATAN POLITIK IDENTITAS
Ada nama-nama : Amien Rais, Gusdur, Megawati, SBY, Prabowo, Yuzril Ihza Mahendra, Surya Paloh, Jokowi, Abu Rizal Bakri, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Habib Riziek Shihab, Ahok, Anies Baswedan dan seterusnya.
Lalu, lihat partai politik seperti Golkar dan Parpol-parpol yang di lahirkan oleh orang Golkar, seperti ; Hanura, Gerindra dan Nasdem. Lihat Pola PPP, PDI-P, PBB, DEMOKRAT, GERINDRA, dst.
Kemudian, lihatlah dalam berbagai Masa, kurun waktu 20 tahun terakhir. Mereka saling Bertukar posisi. saling "berkawan" lalu "lawan". Saling bersebrangan jalan. lalu, bertaut kelingking seperjuangan. membentuk koalisi, lalu bubar. Menyebrang ke koalisi lain yang awalnya tidak mau bergabung. Dulu pendukung fanatik, lalu lawan militer, kemudian berkawan lagi atas nama satu visi misi. Di tingkat Nasional berkawan sambil lantang berucap "ideologi kami sama", sedangkan di tingkat daerah, berlawanan sambil meneriakkan "ideologi kami tidak sama", membingungkan. blaa..blaa..blaa, dst.
"Tidak ada yang mustahil dalam politik. Segala sesuatu adalah permainan". Dalam politik itu biasa.
Di beberapa Tulisan saya yang menyoal soal-soal seperti ini, saya pernah mengulasnya dalam spektrum yang lebih luas. selepas berdiskusi dengan kawan-kawan dan setelah membaca Karya Khomeini dan Moh. Natsir. Perbincangan politik global yang melibatkan Tokok-Tokoh politik Islam.
Politik itu hanya diikat oleh satu kata yaitu kepentingan. Agama dan ideologi, hanya penguat dan perekatnya saja. Bila kepentingan dirasa sama. maka, semua ideologi terasa jadi karib. Beberapa kawan berkata ; " mana bisa komunisme satu biduk dengan agama atau utara dengan selatan satu biduk, bro"?.
Cukuplah eksperimen politik Soekarno menjawabnya, Nasakom, bro. Nasionalisme agama dan Komunisme disatu padukan menjadi satu paket dengan aura revolusi.
Hal itu juga bisa kita lihat, bagaimana mungkin Iran menyatu dengan Arab saudi dan AS?. Kalau sekarang, iya tidak menyatu. Tetapi Dulu, sebelum tahun 1979, Jimmy Carter, presiden AS pernah mengatakan bahwa ; "sahabat terbaik saya diTimur tengah adala Syah Reza Pahlevi (Kaisar Syahansyah Iran), Menachen Begin (PM Israel), Anwar sadat dan Arab Saudi". Bahkan kedatangan Raja Iran ke Saudi maupun AS, selalu disambut dengan "Karpet Merah".
Kepentingan yang menghadirkan semua itu. Lebih spesifiknya, bisnis. minyak, bro. Ketika keutungan tidak lagi saling menguntungkan, Iran bagi AS dan negara-negara sekutunya adalah menjadi salah satu negara "poros setan", istilah yang dikeluarkan oleh George W. Bush Jr.
Saddam Husein selama Hampir 10 tahun menjadi Harapan besar bagi AS dan sekutunya (Eropa dan Timur Tengah) untuk menghancurkan rezim Demokratis-teokratis Iran. Seluruh biaya dan sumber daya diberikan kepada Saddam Hussein. Pembunuhan Suku Kurdi dan warga syi'ah di irak dilakukan oleh Saddam Hussein, kala itu dianggap sebagai sesuatu yang wajar. karena Saddam putra Tikrit ini sedang menjalankan sebuah misi besar yaitu mengembalikan kejayaan kekaisaran persia yang direbut oleh Ayahtullah Ruhullah Khomeini. Tapi, Saddam gagal. Akhirnya Saddam di musuhi, dibunuh dan dianggap pemimpin jahat. Pembenarannya, disusun belakangan, pokoknya Saddam Harus tumbang. Apalagi ditambah Saddam mulai menaikkan "daya tawarnya" ketika mencaplok kuwait dengan alasan Historis.
Dari pangkalan militer AS di Arab Saudi, Saddam di gempur oleh Bush Senior. Jendral Norman Schwarzkofp memimpin operasi yang di namakan badai gurun itu. Kuwait bebas, Saddam terkucil dari politik dunia, khususnya pergaulan antar negara di timur tengah, Saddam di tinggalkan.
Setelah Bush tidak lagi menjadi Presiden, Clinton menjadi Presiden 2 periode. Saddam Masih eksis dengan keterkucilannya. Tapi, Saddam tidak memberikan konsesi eksplorasi ladang-ladang minyak kepada negara-negara barat. Tersebabkan ini pula, Bush Junior, anak dari Bush senior, yang kedua-duanya adalah Presiden AS, negara yang merupakan sahabat Karib Saddam Hussein tahun 80-an, bernafsu menguasai irak. Maka, pembenaran di cari dan dibentuk. " Saddam Diktator bin mengalomaniak dan pembunuh Rakyat". Demikian kata Bush Junior, anak dari Bush Senior.
Tentu saja ada akal sehat dan rasa keadilan yang bekerja disana, tapi juga kepentingan.
Pakem paling universal dalam politik itu terformulasi dalam kalimat " tidak ada lawan dan kawan yang abadi dalam politik, justru yang abadi adalah kepentingan". Politik kepentingan pada dasarnya mengalahkan ideologi, golongan bahkan partai itu sendiri (betapa banyak politisi yang pindah-pindah partai). Itulah sebabnya, jangan pernah membenci kawanmu karena berbeda pilihan politik.
Bila berbeda sikap dengan kewajaran. Karena yang kita perdebatkan justru bisa berbeda-beda tempat, nantinya kita akan terkejut. Ternganga, marah, kecewa dan sedih. Sementara ada pihak lain yang lebih kecewa yaitu kawanmu yang kau hujat dan kau hina karena berbeda pilihan politik.
Kita marah-marahan, tidak berteman. Bahkan Mendikotomikan kawan-kawan ; ini waras, ini gila. Ini akal sehat, yang itu agak putus tali sarafnya dua setengah lembar. Kita bersitegang urat, berdebat kusir, carut marut keluar. isi dapur rumah orang tua, dikasih keluar semua. Orang-orang yang menjadi episentrum perdebatan kita itu, bisa gonta ganti posisi. Gonta ganti kawan sambil ketawa ketiwi.
Sementara kita?. Terlanjur memutuskan persahabatan.
Sirkulasi politik itu rutin. Kadang beberapa belas purnama, tidak pernah lebih dari 5 tahun. Mereka kembali beradaptasi. Sementara "luka" yang tertoreh pada diri kita dan kawan-kawan kita, justru akan bertahta dalam waktu yang demikian lama. Mereka dapat kekuasan, kita kehilangan kawan. Persahabatn yang kita bina demikian panjang, putus dan sobek oleh mereka yang naik "di tengah jalan di hatimu" serta " Say hello" dan hanya menyapa sambil berlalu.
Mengharapkan batu permata, batu kali ditangan kau lepaskan. Kan Dompala namanya itu.
Terkadang kita terkejut melihat realitas politik hari ini. Sebuah isu yang dulunya tidak muncul pada rezim sebelumnya, sekarang dimunculkan. Isu yang sekarang tidak ada, justru di rezim sebelumnya dijadikan perbincangan publik. Kadang-kadang yang menaikkan isu itu, justru kelompok yang sama.
Sebagai contoh : sekarang isu militerisme tidak begitu "seksi : sensual dan eksis", justru mendapat tempatnya pada rezim sebelumnya. HAM tidak lagi menjadi pembahasan serius, sebagaimana masa lalu. Contoh yang lain, cukup banyak untuk diketengahkan.
Kadang kita terbawa perasaan - baper istilah kami, anak muda. Terlampau fanatik terhadap sebuah isu politik, sehingga menghakimi pihak lain yang menganggap isu politik tersebut hanya sebagai dagangan politik semata dari sebuah praktek politik praktis. Sebuah praktek politik yang tak selamanya luhur. Sebuah praktek yang didalamnya ada transaksi. Sebuah praktek politik yang juga dibungkus dengan sandiwara politik. Fiksi.
Dalam kajian mengenai Indonesia, pernah ada analisis menarik dan cemerlang dari "Bennedict R.O.G. Anderson" tentang hal ini. Politik sebagai sebuah fiksi. Demikian pula dengan antropolog "Clifford Geertz" yang membicarakan negara sebagai sebuah teater dengan acuan empirik Bali pada abad ke-19. Bahkan "Earving Goffman" memperkenalkan istilah "panggung depan" dan "panggung belakang" (Dramaturgi) dalam melihat motivasi interaksi dalam dunia politik.
Pada hakikatnya, sudah cukup lama ranah politik tersebut dikiaskan sebagai sebuah panggung teater ataupun sandiwara. Bahkan bukan hanya ranah politik saja, seluruh entitas kehidupan masyarakat juga berlaku hal yang demikian.
Dalam dunia politik dan dunia teater atau sandiwara terdapat tokoh-tokoh dengan hasrat yang tidak terlalu dan tidak selalu sama. Ada pertentangan. Ada konflik. Disana juga ada dialog, peristiwa dan perilaku. Tentunya dan pasti ada alur cerita. Tawa dan tangis, suka dan duka cita silih berganti. Ada kepalsuan, kepahlawanan, pengkhiatan dan kejujuran. Bahkan ada penaklukan dan penguasaan. Ada kepatuhan dan perlawanan, dalam beragam derajat tentunya.
Tapi, sekali lagi, benarkah politik itu teater, panggung sandiwara, fiksi atau sinetron?.
Politik adalah medan adu kepentingan dan kekuasaan yang sangat praktis, who get what how and when, kata "Harold Laswell". Dan selalu ada panggung depan, ada panggung belakang. Arti kata, di depan "berdarah-darah", di panggung belakang ; eh "bertaut kelingking", sedangkan kita, Ya KITA. sudah terbawa perasaan. Menyapa pun tak mau.
"lalu anda ?".
Ya, santai aja. Apa yang bisa menjelaskan Anies Baswedan 2017 dibandingkan Anies Baswedan 2014-2016 yang lalu Atau Risma di tahun 2017 di bandingkan Risma di tahun 2021. Kliping-kliping beraurakan "tenun kebangsaannya", hingga hari ini masih saya baca. Atau Ruhut Sitompul ketika Bapak SBY jadi Presiden dan Ruhut Sitompul dikala Bapak Jokowi memimpin negeri ini.
Bagi saya, sebuah isu yang dibungkus dengan nuansa politik, maka tak kecil kemungkinan, isu tersebut berada dipanggung depan, yang terus-terusan di Framming. Padahal, ada kompromi-kompromi di panggung belakang. Setidaknya demikian kata teks :). Perjalanan waktu, memberikan contoh-contoh. Benar tidaknya, terpulang pada kita semua. Karena itu bagi saya sederhana. Silaturrahmi di atas segala-galanya. Walapun kita berbeda pendapat.





