Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Minggu, 21 Agustus 2022

AL ILMU YURISHUL AHWAL -

Semenjak Allah SWT menciptakan Alam semesta dan seluruh jagat tanda, Tidak ada manusia atau Mahluk diantara kita yang sempurna. Idealnya semua menjadi "Ibaddurrahman - Hamba-hamba yang penyayang. Sikapnya yang lembut, baik, Bijaksana dan Rendah hati. Tetapi, kadang kala diantara kita ada yang terperosok ke dalam keburukan. Seperti, Mata kadang salah tatap, bahkan ada yang melakukan dosa-dosa yang besar. 

Namun, Kita Selalu di berikan kesempatan oleh Allah untuk kembali. Maka, sebagaiaman yang tertuang dalam Q.S. Al Furqon ; 70, Allah menyatakan, " Illa man taba wa amana wa amila amalan sholihang Fa Ula Ika yubaddilullohu sayyi atihim hasanat wa kanallahu ghoforur rahiimaa - kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebajikan ; maka kejahatan mereka di ganti oleh Allah dengan Kebaikan. Allah maha pengampun dan Maha Penyayang". Artinya, orang-orang yang pernah salah itu bisa kembali menjadi sholeh. 

Lihatlah, bagaimana bahasa Al Qur'an itu sangat indah sekali. Sebab, kemuliaan manusia itu adalah hamba yang salah, terletak pada keinginan kuatnya untuk selalu berusaha menjadi sholeh. 

Itulah sebabnya, ada satu ayat dalam Al-Qur'an, yang menurut Imam Ibnu Abbas yang paling memberikan Harapan kepada Kita, "Qul yaa ibadhi yalladzina asy rafu ala anfusihim laa taknatu min rahmatillah innallahu yagfuru dzunuba jami'an - wahai hamba-hambaku, yang telah melampaui batas dalam kedurhakaan, jangan putus asa dari Rahmat Allah. Sebab, Allah mengampuni seluruh dosa-dosa". 

Allah Tahu, keinginan kita, yang Ingin sukses dan bahagia. Makanya, Ada orang yang sukses di pekerjaan. tetapi, nestapa di kehidupan rumah tangganya. Suksesnya ia dapatkan, Bahagaianya tidak. Ada orang yang bahagia di kehidupan rumah tangganya. Tetapi, pekerjaan tidak sukses-sukses. Kita mengharap keduanya, maka keduanya di sebut dengan Falah. 

Allah Maha Tahu, perihal keinginan kita untuk sukses dan bahagia. Sekalipun semua ukuran itu bisa relatif. Misalnya, Suksesnya Bilal dan suksesnya Utsman tidak sama. Sama dengan Suksenya Utsman dengan Ali tidak sama. Tetapi, semua merasakan kesuksesan dan kebahagiaan. 

Ustman bahagia dan sukses, sebagai seorang pebisnis. Ali sukses dan bahagia sebagai seorang cedekiawan. Keduanya sukses dan bahagia dengan segmen kehidupan yang berbeda-beda. Sayidina Ali barokahnya di ilmu dan bahagia kehidupan rumah tangganya. Bilal Bin Rabbah pun demikian, sukses dan bahagia. 

Bilal sepeninggal Nabi, di tawarkan menjadi Hakim agung. Tetapi, dia menolak. Bilal adalah seorang Muadzin. Dia menjadi seorang muadzin, karena melihat semua potensi yang tersedia telah di ambil. Mau jadi cendekiawan, ada Sayidina Ali. Mau jadi Hartawan, ada Ustman dan Abdurrahman bin auf. Mau Jadi Pejabat, ada Abu bakar dan Umar. Mau jadi seorang Diplomat, ada Amru Bin Ash dan Muawiyah. Yang tersisa Cuman satu, yaitu tenaga. Maka, dia memilih jalur sebagai seorang Muadzin. Hal inilah juga yang akan melahirkan Fiqih Marbot. 

Bilal adzan, Begitu selesai. Nabi Komen, " Aku mendengar terompah kaki Bilal di taman Surga". Bilal, saat mendegar hal itu, Lansung menyambut. Jika sudah dengan adzan, terompah kakiku terdengar di taman surga. Untuk apa lagi mencari Harta seperti Ustman. 

Di titik itulah, kita kerap kali salah dalam hidup. Padahal itulah Visi utama kita hidup. Sebagaimana bilal yang menolak di berikan jabatan, karena takut kehilangan potensi surga yang sudah ada jaminannya. Bukan tidak mau mengambil, tetapi ia sudah mengambil dengan Passion yang berbeda. 

Artinya, apapun profesi kita, kita mesti bangga. Sebab, tidak harus merasa rendah di bandingkan orang lain. Dunia ini hanya sebatas pandang kita saja. Yang membedakan status kita adalah kebiasaan kita saja. Sebab, di hadapan Allah itu yang di pandang, hanya Taqwanya. Artinya memilih taqwa itu bisa banyak menunya. 

Menjadi, Muadzin, Allahmadulillah. Menjadi, imam, Alhamdulillah. Menjadi Insinyur, alhamdulillah. Menjadi, politisi, Alhamdulillah. Toh, ketika pulang ke alam barzah, gelar semua sama, yaitu Almarhum. 

Kita kadang terjebak, bahwa melihat awan yang berlafadzkan Allah dan ranting pohon yang meliuk membentuk tulisan Allah adalah mukzijat yang nyata. Padahal awan dan ranting pohon yang biasa saja juga adalah mukzijat. 

Kita ini sedemikian angkuh, karena menghitung nikmat yang besar. 

Dulu, ada seorang wali datang ke rumah temannya yang telah menjadi raja. Wali tersebut datang, karena dia tidak memiliki uang dan hendak meminta uang pada temannya. Setelah wali tersebut datang di kediaman sang Raja, karena Raja tersebut adalah seorang yang sholeh. Si wali mendengar temanya yang raja tersebut sedang berdoa ; Ya, Allah saya minta ini dan itu. Mendegar hal itu, si wali tersebut lansung pulang, lalu ia di tanya mengapa engkau pulang?. Ternyata kawan saya yang raja itu sama juga dengan saya, masih minta-minta seperti saya. 

Tidak berselang waktu begitu lama. Raja tersebut bertemu dengan kawannya yang Wali tersebut. Raja bertanya, mengapa engkau menyepelakan saya, padahal saya ini adalah raja. punya apa saja, seperti kekayaan, keturanan Bangsawan, dsb. Tetapi, kata kawannya yang wali tersebut, "Kamu miskin sekali dengan kerajaan seluas ini". Mengapa bisa?, tanya sang raja. Lalu, Wali tersebut bertanya,  "Andaikkan kamu berada di padang pasir dan Kamu sedang Kehausan, jika kamu tidak minum segelas air saja, maka kamu akan mati. Apakah kamu akan membeli segelas air dengan semua kerajaan kamu?. Jawab sang Raja, "Oh iya jelas. Apapun akan saya lakukan untuk mendapatkan segelas air tersebut". 

Wali tersebut melanjutkan lagi penuturannya, "La taf roh bi mulkin la yu syawi syarbata ma'in - Kamu jangan bangga dengan kerajaan yang nilainya itu tidak sebanding dengan segalas air". 

Akhirnya, Raja tersebut berpikir, saya tidak jadi raja bisa hidup. Tetapi, kalau saya Tidak minum air, saya bisa mati. Artinya lebih penting satu gelas air, ketimbang Kerajaannya yang luas. Dari situ, lama kelamaan, Sang Raja menganggap kerajaannya itu biasa saja, karena ternyata tidak lebih penting dari segelas air. 

Artinya apa, bahwa orang menjadi raja itu biasa, menjadi presiden, menjadi Pengusaha itu biasa. Karena orang terbiasa berpikir Hakikatul izzah itu adalah ia yang benar-benar dekat dengan Allah -Taqarrub ilallahu. 

Kalau cerita diatas kita konversi pada kehidupan kita yang paling dekat (bisa di gunakan contoh lain) ; akankah kita lebih memilih punya Mobil atau memilih punya Celana, ataukah punya Mobil, tapi tidak punya Celana. Tentu, kita lebih memilih punya celana, ketimbang Punya Mobil. 

Ihwal itulah, sehingga Ulama-ulama dulu punya rumus yang sangat sederhana sekali dalam Hidup. Salah satunya adalah apakah " Al istigna hakikatul istigna?", yaitu Al istigna Anissya'i la bihi - apakah Pemenuhan kebutuhan yang sebenarnya adalah kita berusaha sebanyak mungkin untuk menghindari pemenuhan kebutuhan yang sekunder - sesuatu yang tidak penting. 

Faktanya kita tidak demikian. justru kita memenuhi semuanya yang kita inginkan, bukan yang kita butuhkan. Seperti, Kalau kita lapar. Kebutuhan kita adalah makan Makanan yang ada - Tersaji ataukah harus makan makanan yang enak?. Tentu jawabannya adalah makan makanan yang ada, asal Halal dan sehat. Tetapi, tidak sedikit dari kita, justru mengikuti keinginan - Nafsu kita. Sehingga, saat makan, yah harus Makan enak, teman makannya harus spesial, lalu makannya di warung yang favorit. Bukankah hal ini suatu kebodohan, sebab untuk makan saja, kita butuh defenisi - batasan yang terlalu banyak. Padahal, tidak sedikit dari semua itu kerap membuat kita kecewa : Bisa jadi saat kita berjalan ke warung yang di tuju, warungnya telah tutup atau kita ke warungnya dapat macet di jalan. Kan Ribet. Padahal, saat kita puasa dan tiba jam berbuka, semua makanan menjadi enak. Mengapa demikian?. Karena, kita lapar. 

Makanya, Abul Qosim Al Junaidi ketika ditanya, "ma idza mutho'am - Lauk makanan itu apa"?. Jawaban lucu, yaitu "al ju' - Lapar". Karena kalau kita lapar, semuanya enak. Hal ini sudah mulai hilang. Sebab, kita menyebut makan enak itu saat Makan Sate, makan Coto, makan konro, makan seafod, dsb. Akhirnya untuk menikmati nikmatnya Allah, kita menjadi orang yang ribet. 

Padahal, Hidup itu tidak usah di bikin sulit dan susah. Sepanjang tidak maksiat, bisa menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi banyak orang, serta tidak mengusik hidup orang lain. Itu sudah cukup. Tetapi, kadang kala kita memandang pilihan hidup orang yang melompat dari kebanyakan orang sebagai keanehan. Sebagaimana anekdot Nasiruddin Hodja. 

suatu ketika Nasiruddin Hodja datang ke Suatu Pesta dengan berjalan kaki, berpakaian dan celana yang lusuh. Compang campinglah istilahnya. Shohibul bait dan orang-orang tidak ada satupun yang menyapa dan hanya membiarkannya begitu saja. Akhirnya Nasiruddin Hodja Pulang ke rumahnya, mengganti pakaiannya dengan menggunakan Jas, kemeja, sepatu dan naik kendaraan mewah. Shohibul bait - Tuan rumah dan orang-orang yang tadi mengabaikannya, akhirnya memberi Hormat padanya dan mempersilahkannya masuk.

Begitu Nasiruddin di sodorkan minuman, ia mengambil dan memasukkan ke dalam saku Kemejanya, sambil berucap, "kemeja kamu harus minum yang banyak karena kamu yang di hormati, bukan saya". Makanan pun begitu, dia masukkan ke dalam saku celana, jas dan kendaraannya, "kamu harus makan yang banyak, karena mereka tidak melihat saya, mereka melihat kamu". Orang satu pesta yang melihat tindakan Nasiruddin Hodja Istighfar semua. Karena ternyata mereka salah. Akhirnya, Nashiruddin Hodja Berpidato, Saya Ini orang yang sama. Hanya karena berbeda pakaian, mendapat penghormatan yang berbeda. Maka dari itu, yang berhak dapat makanan adalah Jaz, Celanan, kemeja dan kendaraan saya. Bukan saya. 

Betapa naifnya kita sebagai manusia, ternyata penghormatan kita masih tertuju pada sesuatu yang sangat artifisial - Tampak. 

Di titik itulah, kita kerap dapati Para Pengampu jalan sunyi atau Sufi adalah orang yang biasa menertawakan dunia dan tidak sedikit yang menganggap mereka adalah orang gila. Sama seperti kita, yang kadang kala susah memilah dan membedakan mana kebutuhan sekunder dan mana kebutuhan primer. Kita malu kalau tidak punya Mobil atau motor, misalnya. Padahal, kita masih punya kaki. Apakah kita mau punya mobil atau motor, tapi tidak punya kaki. Tentu tidak. 

**


Prestasi tertinggi kita dalam hidup ini sebenarnya apa, sehingga membuat kita begitu ribet?. Karena, kita terlalu berlebihan dan mengingkan banyak hal, yang sebenarnya tidak di perlukan dan tidak terlalu penting. Sayyidina Umar Mengetengahkan hal ini dalam pidato pertamanya saat menjadi Khalifah, "Prestasi tertinggi saya, bukan saat menjadi Khalifah. Tapi, saat kecil, saya bisa makan. jika tidak, saya mati". 

Misalnya, jika kita mengikuti keinginan - Nafsu, mungkin kita ingin punya mobil mewah, istri cantik, rumah mewah dan fasilitas kemewahan apa saja. Tetapi, hal itu membuat kita tersiksa, karena kita harus menyediakan segala daya dan upaya untuk memenuhinya. Sementara, Hidup ini kata ulama dahulu, "untuk menjadi berkecukupan, usahakan banyak hal yang tidak kita butuhkan. Sebab, semakin banyak hal yang kita butuhkan, maka kita akan semakin tergantung pada sesuatu itu".

Ihwal itulah, Imam Syafi'i menuturkan dalam Maqolahnya, cerita ini sangat mahsyur, beliau berkata, " Fainnal ghina' anissya'i laa bihi - kalau kamu tidak ingin bergantung pada sesuatu, maka hindari sesuatu itu".  Artinya, kita Jangan memaksakan sesuatu untuk memenuhinya. Tetapi, sebisa mungkin untuk menghindarinya. Makanya, yang benar-benar Arif dan bijaksana sebagaimana yang saya utarakan diatas adalah "al istigna anissya'i "- sesuatu yang tidak mendesak, jangan di jadikan sebagai kebutuhan primer. 

Gagasan-gagasan tentang motif hidup para ulama kita dahulu ini sudah tercerabut, bahkan nyaris hilang bagi setiap kita yang kerap memukul diri sebagai Muslim sejati. Bayangkan, untuk menyebut kebahagian saja, semua fasilitas kemewahan niscaya di bentangkan di situ. Akhirnya, untuk mensyukuri Nikmat Allah yang ia hamparkan secara gratis, kita tidak punya cukup waktu. Padahal untuk menikmati nikmatnya Allah, sederhana sekali ; Bangun pagi, masih bisa menghirup Oksigen secara Gratis. Posisi lubang hidung kita masih menghadap ke bawah, pendengaran dan penglihatan masih normal, alat pencernaan kita masih berfungsi dengan baik, melihat saudara-saudara kita masih sehat dan Hidup, dsb merupakan sesuatu yang seharusnya membuat hati kita senang. Makanya, Imam yang mengarang Kitab Hikam, punya resep agar kita senang dalam hidup " li ya qillah ma taf rohu bihi - Usahakan sedikit sekali yang membuat kita senang. Maka, akan sedikit sekali yang membuat kita susah". 

Mengapa kita susah dan terlalu ribet dalam hidup?. Selain, karena kita berlebihan dan menginginkan banyak hal. tarif - Standar hidup kita terlalu ideal. Sehingga, Kita sulit membedakan mana kebutuhan primer dan mana kebutuhan sekunder. Akibatnya, jika sesuatu yang kita idealkan - Harapkan tidak terjadi, kita mudah sekali kecewa - menyesal dan Mengeluh. 

Kalau kita mau membandingkan, sebenarnya mana yang lebih pintar, apakah orang yang ribet atau orang yang tidak ribet?. Jelas lebih pintar yang tidak ribet. Nah, inilah kearifan-kearifan dari cara hidup ulama kita dahulu, yang mulai hilang hari ini. Kita gagal mendedah Pelajaran. Misalnya, diantara Gagasan Sayidina Ali yang paling terkenal, sehingga menjadikan beliau punya derajat yang luar biasa adalah, "kafani izzan anta kuna li robban wa kafani fahron an akuna laka abdhan - saya ini terhormat sekali, karena punya Tuhan, yaitu Engkau Ya Allah dan saya bangga sekali bisa menjadi hambamu". 

Rumus pertamanya adalah karena yang menjadi Tuhan adalah Allah. Tuhan yang abadi, Tuhan yang pertama, Tuhan yang absolut. Bayangkan, kalau punya Tuhan seperti Fir'aun. Tuhan, yang mati, jadi tontonan lagi. Kerennya dimana coba?. Atau punya Tuhan yang asal usulnya adalah manusia, apapun hebatnya manusia itu. Pasti dia akan lapar, Yang kalau tidak makan, mungkin pingsan. Makanya ketika Allah menyindir KeTuhanan selain Dirinya, dengan kalimat sederhana, "kana ya'qulan ni thoam - Yang kalian Tuhankan itu masih makan". Beda dengan Tuhan - Allah, Tuhan yang tidak butuh makan dan minum. Tuhan yang berdiri sendiri tanpa butuh yang lain ; Al qoyyum. Tuhan yang sudah ada sebelum langit dan bumi ada ; Al awwal - sebelum ada langit dan bumi, Allah sudah ada. 

Di titik itulah, saya kerap berusaha agar kita semua mendapatkan pikiran-pikirannya Imam Ghozali, imam Bukhari, Abul Qosim Al Junaidi, kejernihan-kejernihan pikiran Abu Yazid Al bustami. Kejernihan dan kecerlangan pikiran mereka, punya rumusan dan Gagasan yang spektakuler dalam menghadapi situasi yang semakin pelik dan ribet, yang jarang di dengungkan orang. 

Selain itu, Mengapa kita senang pada hal-hal yang biasa saja menurut kebanyakan kita?. Karena kita menggunakan Standar maksimal dalam hidup. Andaikkan, kita menggunakan standar yang minimal, maka pasti kita tidak mudah kecewa. Rosulullah SAW juga demikian. Misalnya, Jika pagi-pagi dia bertanya pada Aisyah, "Apakah ada sarapan duhai, Khumairoh?". Aisyah menjawab, Tidak ada, Ya Rosulullah. 

Apakah Rosulullah SAW menggunakan Standar Maksimal atau memaksakan keinginannya, agar Aisyah menghadirkan Sarapan untuk Rosulullah SAW. Tentu tidak, padahal hal itu sangat mungkin untuk dia lakukan. Justru, Jawaban Rosulullah sangat mengejutkan dan simpel, "Jika Tidak ada Sarapan, saya puasa saja". Bayangkan, Jawaban Rosulullah begitu rileks. Sedangkan kita, jika pagi-pagi tidak di buatkan kopi saja, akan marah-marah. Padahal mengaku mengikuti sunnah Rosul, sementara sedikit sekali kita mendekati sunnahnya.
 
Dalam islam, Senang saja adalah ibadah, "qul bi fadhilillah wa bi rohmati wa bi dzalika fal yaf rahu". Senang itu di perintahkan Allah. Contoh sederhananya, Kita di beri sesuatu secara Gratis, tapi masih menggerutu. Kita ini sudah memakai buminya Allah secara Gratis, Menggunakan airnya Gratis, dapat oksigen gratis. Tapi, masih menggerutu. Maka, hal itu termasuk kategori hamba yang tidak benar. Bayangkan saja, jika kita pakai oksigen harus di bayar, memakai bumi harus bayar dan memakai semua yang di ciptakan Allah dengan membayar. Sepertinya kita tidak mampu membayarnya, dan Allah hanya menyuruh kita untuk ikrar dan sujud.

Makanya, senang saja itu sudah ibadah, seperti yang di sampaikkan Imam Asy-Syuthi dalam Tafsir JalalainNya, bahwa "Ibadah yang membuat setan jengkel, sampai menaburi wajahnya dengan tanah adalah Senangnya Orang Mukmin". Karena, jika Orang Mukmin senang, maka dia tidak akan mengeluh dan menggugat Allah. Kalau dia tidak menggugat Allah, itulah ciri mukmin yang sejati. 

Semua itu, hanya menjadi Konstruksi perilaku dan Cara Berpikir, jika kita menyadari betul, bahwa Ilmu itu penting. Mengapa penting?. Karena ilmu itu "Al ilmu yurishil ahwal", Ilmu yang akan membentuk perilaku dan karakter kita. artinya, Jika cakrawala ilmu kita Luas dan Makroskopis. Maka, Rasa syukur kita pun terbentuk dengan baik. Makanya saya termasuk orang yang terus mendorong pentingnya Ilmu. Bahkan kata Sofyan Shauri, saking penting ilmu, ada kata "Fa' lam annahu lailahaillahu". Di mulai kata Fa' lam dan saking pentingnya ilmu itu, setiap Nabi, status permanennya, hanya satu yaitu mengajar, "Robbana wa baats fihim rosulan min inna su alaihim ayathik (membacakan ayat-ayat Allah) sampai wa yu allimu humul kitab wal hikmah - mengajarkan kitab dan hikmah". Bahkan Allah sendiri mensifati dirinya dengan, " wa Sofa dzatal aliyah bi annahu al muallim", Allah mengajarkan, Arrohmanu allamal Qur'an. 

Artinya, betapa hebatnya pengajar itu. Sebab, Allah sendiri mensifati dirinya sendiri dengan Ar-Rohmanu allamal qur'an (Allah itu Maha Rahman yang mengajarkan Qur'an). Di ayat yang lain juga Allah mensifati dirinya sebagai pengajar, "alladzi allama bil qolam". 

Dulu Sayidina Umar bin khottab, ketika membuka atau memenangkan Baitul Maqdis atau Baitul Muqoddas, lalu ia di ajak orang-orang untuk syukuran atas kemenangan itu. Beliau tidak mau. Ketika di tanya, mengapa engkau tudak mau. Alasannya lansung beliau membaca Al Qur'an, " innallahu ta'ala ayyaro qouman ahzab tun toyyibatikum fi khayatikumud duniya was ta'tum bi ha  - Allah itu mengkritik suatu komunitas, karena jatah nikmatnya telah di habiskan di dunia". Itulah sebabnya, Sayidina Umar menolak untuk berpesta-pesta atau syukuran. Karena takut jatah nikmatnya Habis. Kata Umar, "Astab qi Toyyibati - akan saya sisakan sisi-sisi kebaikan saya", agar tidak habis 

Artinya orang-orang dahulu dengan Al qur'an menyatu, apapun yang hendak di utarakan lansung Al-Qur'an rujukannya. 

Misalnya, Rosulullah pernah tidak makan 3 hari. Lalu, di tanya sama sahabat, kekuatan Rosul untuk bisa hidup dari mana jika tidak makan, beliau hanya menjawab saya makan kurma dan minum air. Begitu hari ketiga, Rosulullah di beri makan oleh sahabatnya, dengan di potongkan kambing. Rosulullah hanya makan tiga sendok nasi, kemudian ia berhenti. Padahal sahabat yang laparnya sama dengan Rosul, membayangkan Rosul akan makan sangat lahap. Ketika Rosul di tanya, ia menjawab, Hal seperti ini pun kelak akan ada hizabnya, "wa la tus alunna yauma idzin anin naim". Jadi acara makan-makan yang kerap kita bentangkan segala hal, kelak akan ada hizabnya. Nabi kemudian menangis, sehingga sahabat yang lainnya tidak meneruskan makan. 

Implikasi dari Ilmu ini sangat dahsyat. Jika kita berpikir tentang nasib kita di akhirat. Akhirnya, Kita tidak mudah menyalahkan orang lain, kita tidak akan berpesta pora, kita tidak akan menghakimi orang lain. Karena kita sibuk dengan diri sendiri, tapi tidak dengan makna egois. Tetapi dengan makna bahwa Orang baik itu adalah Orang yang sibuk dengan aib dirinya, dengan kekurangan yang ada pada dirinya. Saking sibuknya dengan diri sendiri, sehingga tidak ada waktu untuk mengoreksi orang lain. 

Selain itu, Ilmu itu tidak di mulai dari larangan, misalnya Tidak termasuk ahli surga orang yang suka mengadu domba atau tidak termasuk orang baik yang mencari kesalahan orang lain. Hal itu di sebut pelarangan. Sedangkan ilmu itu diatas pelarangan, yaitu kita punya kesadaran bahwa kita selamat dulu sebelum memikirkan orang lain. Itulah sebabnya ketika kita membaca Al Qur'an dan bertemu dengan ayat, "Robbana dzolamna wa in lam tagfirlana wa tarhamma lanakunanna minal khosirun". Lalu, kita lansung ingat, betapa hubungan kita dengan Allah harus di mulai dengan Ikrar terlebih dahulu. Harus merasa dzolim dan merasa salah terlebih dahulu. Jika semua orang merasa Salah di hadapan Allah, maka pasti kita tidak mudah menyalahkan orang lain. 

Ayat diatas di gunakan Nabi dan redaksinya di ganti dengan makna agar setiap kita, " inni dzolamtu nafsi dzulmang kabiron katsiron". Hal mendasar dari orang yang mengaku salah adalah sudah tidak punya waktu memikirkan salahnya orang lain dan kemudian menjadikan ia semakin tawadhu. Karena itulah Nabi adalah seorang penjelas terbaik dan Allah meredaksikannya, "Wa ma tuqoddimu li anfusikum min khoirihin tajidihu indallahu - apa saja kebaikan yang sudah engkau berikan kepada Allah, sampai akhirat, pasti kamu akan temukan di akhirat". 

Kesalahan paling Fatal manusia itu sebenarnya adalah aqidah, tetapi kadang-kadang kita menuntut kepada Para Ulama, utsadz dan penceramah untuk menyampaikkan ilmu yang tidak terlalu penting atau bukan aqidah. Dulu zaman sahabat juga demikian, jika ada pertanyaan yang salah. Maka Nabi membenarkan, hanya saja Nabi Terlalu Bijak, sehingga cara dia membenarkannya itu enak sekali. Kalau kita ini kan bukan Nabi, sehingga yah agak-agak Kasar lah. Karena yang wajib benar hanya Nabi, kita bukan Nabi. 

Misalnya, Nabi menceritakan tentang kedahsyatan dan kengerian kiamat. Tetiba, ada Orang Badui mensomasi Nabi di tengah-tengah Khutbahnya, "Ahh Nabi ini aneh, cerita tentang dahsyatnya kiamat. tapi tidak ada tanggalnya. Mestinya, ada tanggalnya, sehingga kita bisa punya persiapan". Orang badui itu menyatakan, "Ya Rosulullah Ma ta sa'a". Nabi tidak mendengarkannya. Sebagaimana Lazimnya orang badui, karena tidak di dengarkan Oleh Nabi, maka ia mengulangi pertanyaannya terus, "Ya Rosulullah Ma Ta sa'a". 

Ketika Nabi mengabaikan hal itu, ada dua kelompok sahabat yang berpendapat, yang satu menyatakan, "La Yas ma' (Nabi Tidak mendengarnya sehingga ia mengabaikannya)". Sementara kelompok sahabat yang lainnya menyatakannya, "sami'a wa kariha (Nabi sebenarnya mendengarnya, tapi dia tidak berkenaan pada pertanyaan tersebut)". Tetapi, karena dasar orang Badui, Dia kembali mengulanginya pertanyannya, " Ya Rosulullah Ma ta sa'a". Akhirnya Rosulullah menjawabnya, dengan balik bertanya, sebab cara berpikir orang ini badui adalah Ketika kiamat, harus jelas kapan waktunya, sehingga ia bisa punya Persiapan, Nabi menjawab dengan pertanyaan, "Ma a'ttalaha (kamu berani tanya kiamat, persiapan kamu apa)". Lalu, orang itu menjawab, saya sebenarnya tidak punya banyak persiapan ; Puasa dan sholat sedikit saja, ya Rosulullah. cuman saya mencintaiMu Ya Rosulullah. 

Hadist ini Mahsyur dan menjadi hadist paling legenda, "Al mar'u ma' man ahabba", sebahagian menyebutnya sebagai, "anta man ah babta". 

Kata semua sahabat yang berada di masjid tersebut, orang badui yang bertanya di tengah-tengah Khutbah itu menjadi orang yang paling di benci sahabat, karena menganggu Nabi yang sementara Khutbah. Sekalipun, akhirnya sahabat itu menjadi orang yang paling di cintai sahabat, karena berkah dari pertanyaanya adalah hadist itu keluar secara terbuka. Sehingga sebahagian sahabat-sahabat, "fa ma fari hu ba'dal islam farhahum bi yadhal hadist - mereka tidak pernah senang setelah masuk islam, sesenang hadist ini". Mengapa?. karena kita tidak perlu untuk terlalu sholeh (alim) sekali. Cukup mencintai orang sholeh (alim) saja sudah bisa diajak ke Surga Oleh Rosulullah SAW.  Makanya, saya sering bilang, kadang-kadang menjadi orang alim itu rugi. Ruginya itu, kita harus membaca dan menghafal Al Qur'an, belajar Hadist, belajar ihya Ulumuddin, Baca Buku dan kitab apa saja. Tetapi, ada orang yang tidak menempuh semua itu dan hanya bermodal cinta kepada orang Alim dan sholeh saja sudah bisa menyamai orang Sholeh dan alim. 

Suatu ketika Nabi Pernah memimpin Majelis Ilmu Di Masjid. Beberapa saat kemudian, ada tetangga lewat sambil membawa Cangkul, ia hendak pergi ke kebun. Lalu, semua sahabat menyela ; Ini sahabat tidak benar, Nabi sementara Ngaji, dia Lewat saja pergi kebun, tidak ikut mengaji?. Apa jawaban Nabi?. Justru itu bagus. Sebab, ia mengikuti Sunnah saya. Mengapa Ya Rosulullah?. Sebab, dia Pergi kerja, mencari Rezeky yang Halal. Dia kerja untuk menghidupi keluarganya dan itu juga ajaran saya. 

Maka, Yang mengaji adalah ajarannya Nabi dan Yang tidak mengaji karena pergi kerja untuk menghidupi keluarga juga ajarannya Nabi.


Makassar, 21/02/2023


*Pustaka hayat
*Rst
*Nalar Pinggiran


Kamis, 18 Agustus 2022

KESHOLEHAN YANG DISTORTIF - MENGABAIKAN KEJERNIHAN RASIONALITAS


Mari kita membicarakan tentang sesat, tidak usah kita rujuk pada makna arti teks dan sejenisnya. Kita lihat, bagaimana kata " sesat" itu gunakan dan di fungsikan sebagaimana teori Hermeneutika yang mengasumsikan: " jangan kamu cari arti kata teks atau kata tersebut di fungsikan dan di gunakan. 

Dalam perjalanan sejarah eropa, pada abad pertengahan. Defenisi sesat adalah orang yang berlawanan dengan otoritas gereja. Hanya Paus dan Turunannya yang berhak memberikan tafsiran. Bila berlawanan dengan tafsiran gereja maka mereka sesat dan menyesatkan. Galileo Galilei yang menganggap matahari sebagai pusat orbit Tata surya ini (Heliosentrum) pun berhadapan dengan otoritas gereja yang menganggap bumi sebagai pusat atau sumbu. Atas nama otoritas gereja, Galileo Galilei pun harus berhadapan dengan pilihan hidup atau mati.

Demikian juga dengan defenisi "Gila" pada abad pertengahan ini. Defenisi Gila adalah orang yang di kutuk Tuhan, tidak lebih tidak kurang. Hanya itu parameternya. Sementara itu, pengobatan yang menggunakan sesuatu yang bukan atas restu gereja di sebut sebagai praktek sihir. Sihir itu sesat, maka layak untuk di bunuh. Padahal pendekatan yang di gunakan berasal dari ikhtiar medis sebagai capaian-capaian ilmu pengetahuan, namun karena bertentangan dengan dogma gereja maka dianggap sebagai praktek sihir. Dan sihir itu sesat, layak untuk di bunuh. 

Dalam Filem sejarah Kristen abad Pertengahan "Season of the witch" yang di bintangi oleh " Richard Gere" bisa di jadikan salah satu Rujukan, termasuk "The Phyisian" ; Avesenna" Yang menggambarkan bagaimana capaian Ilmu pengetahuan medis juga dianggap sebagia sebuah "kutukan" dan " Sihir" yang harus di lenyapkan karena dianggap bertentangan dengan agama (Baca; penafsir Agama).

Dalam perjalanan sejaran Islam, defenisi sesat adalah orang yang tidak masuk dalam "mainstream" atau kelompok Mayoritas. Padahal, yang berhak menentukan benar dan salah adalah sang Maha Benar. Tidak selamannya mayoritas itu benar dan Tidak selamnnya seragam itu indah. Ajaran Islam bahkan mengatakan bahwa "Berbeda itu Hikmah". Hikmah itu indah dan penuh kebaikan. Karena itu, jangan menganggap bahwa perbedaan itu merusak tatanan keindahan. Sebab terkadang perbedaan justru melahirkan harmoni.

Lalu, ketika ada yang mengatakan suatu kelompok itu sesat dan menyesatkan, pantaskah kita masuk menjadi bagian dalam kelompok itu?. Tergantung kita. Namun yang pasti, ketika menganggap orang lain sesat dan bahkan wajib di bunuh dengan mengatasnamakan perintah Rosulullah SAW. Ini jelas sebuah Kata  atau pembenaran untuk memperkuat sebuah argumentasi, walaupun dalam konteks kaidah keilmuan, pembenaran itu sangat lemah dan pantas untuk di pertanyakan. Tapi, jika orang yang memiliki kadar kebencian yang sangat tinggi, hal tersebut bukanlah sesuatu yang sangat sulit. Ibarat mata dan penglihatan, ada mahkluk yang bisa melihat di siang hari, ada pula yang mampu melihat di malam hari. Tapi bagi orang yang memiliki kadar kebencian sangat tinggi, mereka tidak mampu melihat di siang hari dan malam hari. Apalagi sekedar mencari pembenaran. 


Prasangka tiba terlalu dini, mendahului kejernihan rasionalitas akal sehat yang di tawarkan matahari pagi. Ia tiba ketika hari masih gelap dan dalam kegelapan itu, jalan iman di telusuri sebagai adu kebenaran yang di rayakan dengan fanatisme yang berlimpah, penuh ketergesa-gesaan. 

Di titik itu, pelan-pelan tempurung pertahanan yang di bangun sekokoh dan setebal-tebalnya. Ia mencipta dunia dengan cara pandangnya sendiri, dunia yang tak memberi tempat pada mereka yang berbeda.

Di sana gelap melembaga. tak ada ruang bagi permenungan. Tak ada jendela atau ventilasi yang memungkinkah lahirnya percakapan dan ijitihad-ijitihad segar. Dalam kegelapan dan kepengapan tempurung itu, keyakinan di pegang erat dengan rasa yang murah. ujungnya muda sekali di tebak; rasa was-was plus keputusasaan memahami realitas. menjadi tombol yang mengaktivasi insting purba manusia, ialah permusuhan.

Di dalam tempurung itu, dalam kepungan ketakutan terhadap perbedaan yang makin kronis, tidak ada pilihan lain untuk survive. Orang-orang belajar menyesatkan. juga menipu dan mendzolimi. Tempurung itu bermahkota di kepalanya tepat.

Perihal Iman Ia Fluktuatif. Apakah Simbol-simbol keimanan menegasikan levelitas keimanan seseorang?. Harus di jawab, Tidak. Sebab, berapa banyak Ahli ibadah yang nista, Yang Dzolim, Yang Korup, Yang culas. Tidak semua memang, tapi tidak kurang. 

Penyakit kita kebanyakan ialah menuduh kebanyakan bahkan tragisnya menyesatkan tanpa dasar Epistemik (tidak dengan pengkajian yang sistemik). Mestinya, ada pelacakan pada konteks, biar kebenarannya vulgar, jika, perlu ditelanjangkan kebenarannya. Biar yang tidak tahu menjadi tahu. Sebab, Tuhan Memberikan Porsi lebih pada Pengetahuan, pada Akal.

Memang Yang pelik adalah memberikan penjelasan pada orang yang tidak mau tahu. Istilahnya "Pokoknya Tidak mau tahu" Sampai jungkir balik kita menjelaskan, Jawabannya tetap tidak akan berubah. Karena domain Nalarnya telah lama Taqlid buta, ruang dialektika di akalnya sudah terkunci rapat. 

Curiga itu berbeda dengan menuduh. rasa curiga itu melahirkan pertanyaan-pertanyaan dan pertanyaan-pertanyaan bukan di selesaikan dengan otot apalagi menggunakan perasaan menjawabnya, pasti ujungnya Baper (bawa perasaan). tapi, menggunakan kerja pikir untuk menjawab, bahwa Rasa curiga kita itu salah.

Di semua agama mengajarkan Belas kasih dan Cinta, sebab Tuhan Itu Sang Mahabbah, Maha Cinta. Jika ada kelompok atau golongan tertentu yang meniscayakan Pertumpahan darah, eksploitasi, Kedzoliman dan sejenisnya. maka, hampir dipastikan bahwa ada yang salah dari cara mereka beragama.

Fanatisme agamalah yang membuat semua menjadi demikian. Padahal, Otak kita tidak besar. Otak merupakan organ tubuh yang paling menakjubkan. Dalam bukunya yang luar biasa “Misteri Manusia”, ahli biologi sekaligus Filosof Humanis, pemenang 2 (Dua) kali hadiah Nobel , “Alexis Carrel” menjelaskan bagaimana otak manusia itu berkerja; Sekitar seratus Milyar Neuron saling bekerja sama. Terus menerus tanpa jeda. Tanpa istirahat, non stop 24 jam sehari semalam.

Otak kita telah bekerja saat kita berada dalam kandungan, dalam rahim sang bunda terkasih. Kerja otak akan berhenti saat kita mati Dan otak juga akan berhenti bekerja saat “kebencian” dan “Fanatisme” yang membuta tuli. 

Di setiap agama, Fanatisme atas nama agama selalu ada. Sejarah menukilkan kisahnya: “Karena sebahagian kecil kelompok Budha Fanatik di Myanmar (etnik Rohingya) menjadi terlunta-lunta tanpa negara”. Karena sebahagian kecil kelompok Hindu Fanatik, sejarah India sampai hari ini sangat intoleran. Bahkan munculnya negara Pakistan, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran kelompok-kelompok Hindu fanatik tersebut. Kini, sedang Berlangsung Lagi, pembantaian terhadap kelompok Muslim. Lalu, Suriah dan Irak. Cukuplah memberikan Fakta, bagaimana sebahagian kecil kelompok Fanatik atas nama agama Islam, meninggalkan cerita yang mengerikan. Kelompok kecil Fanatik atas nama agama juga terdapat dalam agama Kristen, tentang Kisah Pilu Kaum Bosnia-Herzegovina terus akan di kenang dalam sejarah peradaban ummat manusia.

Agama Yahudi?, Silahkan, di baca sejarah kelahiran Israel Theo State yang kental dengan Diksriminasi dan kisah sedih masyarakat Muslim dan kristen. 

“Fanatismelah yang membuat kehadiran agama begitu menakutkan bagi pemeluk yang satu ketika berhadapan dengan kelompok agama lain. Bukan karena agamannya, tetapi karena pemeluknya. Padahal, Tugas Azali Manusia adalah Pemakmur bumi (Khalifah). Pencipta peradaban untuk kemaslahatan ummat manusia diatas bumi ini. Dan begitulah yang saya pahami ketika membaca Riwayat hidup Nabi Muhammad, yang murah senyum dan berhati bening.

Saya teringat dengan seorang Fisikiawan “Carel Sagan” pernah menulis dalam Pale Blue : “Bumi adalah panggung yang teramat kecil ditengah luasanya Jagat Raya. Renungkanlah sungai darah yang ditumpahkan penguasa dan para Jendral sehingga dalam keagungan dan kemenangan mereka dapat menjadi penguasa yang fana disepotong kecil titik itu. Renungkanlah kekejaman tanpa akhir yang dilakukan orang-Orang disatu sudut titik ini terhadap orang-orang yang tak dikenal disatu sudut titik yang lain. Betapa sering mereka salah paham, betapa kejam mereka membunuh satu sama lain, betapa dalam Kebencian mereka. Sikap kita, keistimewaan yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting dialam semesta ini, tidak berarti apapun dihadapan cahaya redup ini. Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian dialam yang besar dan gelap. Dari sudut pandang kosmis semua orang itu berharga. Apabila seseorang tidak setuju terhadapmu, biarkan ia tetap hidup sebab di ratusan Milyar galaksi, anda tidak akan menemukan yang lain”. 

Saya Juga Ingat, Syair Rumi yang Maulana Itu : “Harusnya, DiBumi ini, Ditanah ini, Yang kami tanam bukanlah benci”.

Akhirnya, saya mulai menyadari dengan apa yang disampaikkan “George Bernard Shaw” bahwa Satu-Satunya orang yang perilakunya waras adalah tukang Jahit, sebab ia melakukan pengukuran yang baru setiap kali bertemu orang lain. Sementara orang lain mengukur dengan pengukuran yang lama dan berharap pengukuran itu sesuai dengan yang sekarang.

Perang bukanlah jalan cinta. Jalan cinta adalah jalan keselamatan. Sudah berapa abad, kita mewarisi perbedaan dan perpecahan sampai pada titik kulminasi. Mungkinkah akhir dari sebuah sejarah adalah perang dan perpecahan. Jalan cinta itu, tidaklah jatih dari dari langit. Melainkan di rebut. Pertarungan dan pergulatan total adalah jalan, bukan akhir. Biarkan manusia menemukan sendiri.

Andai kealiman tanpa ketakwaan adalah kemuliaan, maka makhluk yang paling mulia, tentu adalah Iblis. Iblis pernah berada disurga, dan tak pernah bisa masuk lagi, karena kesombongannya.

Dulu, sebelum bangsa Adam Di cipta, Ada satu Klan atau bangsa yang disebut dengan Klan Api, Namanya Banuljan. Kelompok Banuljan, sebagaimana yang di sebutkan di dalam "Al bidayah wan nihaya", Ibnu Katsir adalah kelompok yang melakukan kerusakan dimuka bumi. Akhirnya Allah mengkiamatkan mereka. kiamat pertama dengan menurunkan meteor. Bangsa api dihabisi dengan batu api. Cerita ini bukanlah dongeng ala Darwin, yang agak Cocoklogi. 

Saat Allah mengkiamatkan mereka, Allah berkalam kepada Sayidina Jibril, " Ya Jibril, ada Putranya Raja Jan. Ambillah dia, ajaklah dia mi'raj ke langit-langitku (alam malakut, alam jabarut, bahkan sampai ke surga). Hingga, Allah mengizinkan Putra Raja Jan mempelajari semua dzikir-dzikir malaikat-malaikat di langit. Maka tiada mahluk apapun di muka bumi, di langit, bahkan di surga, yang dzikirnya lebih banyak dari anak Raja Jan, yang bernama "Ahyas". Ahyas inilah yang kemudian di beri gelar malaikat, bernama "Malaikat Azazil". Sekalipun Ahyas ini bukankah seorang malaikat. tetapi, sepakangkat - Sederajat dengan Malaikat. 

Malaikat Azazil berkhlawat, bersuluk atau Melakukan pelatihan kerohanian, selama 18 ribu tahun, sebagaimana yang di sebutkan oleh Imam At-thobari. Tetapi, ujian mulai di berikan kepada Malaikat Azazil. Sebab, sebanyak apapun pemberian, sebanyak itu jugalah Ujian yang diberikan. Sekarang, Ahli dzikir di uji. Sekarang yang suka bertakbir di uji, sekarang Yang suka Bertahmid Di uji. Azazil namanya - Di perintahkan Azazil untuk sujud kepada Mahluk yang di cipta dari Tanah. Selama ini Azazil alias Ahyas, menginjak-injak tanah, maka dia harus sujud kepada Adam yang tercipta dari Tanah. Inilah ujian pertama bagi azazil, apa kata Azazil, "Aassjud liman kholaqta min thin". Apakah pantas bagiku untuk sujud, kepada Mahkluk yang dicipta dari Tanah, sedangkan aku dicipta dari api. Azazil mulai rasis. Azazil mulai membanding-bandingkan penciptaan. Azazil mulai mempermasalahkan suku ; saya suku api, saya lebih mulai dari Suku tanah. 

Hati-hati, kadang-kadang orang beragama, sudah sholeh, sudah lama baca kitab, sudah lama berdzikir. Seperti azazil yang melakukan Dzikir, berkhalawat dan Bersuluk selama 18 ribu tahun di alam malakut, alam jabarut bahkan surga. Tetapi, dia terjebak dan mengatakan aku lebih mulia dari seorang adam. Lebih baik dzikir dan Tasbihku, serta Lebih baik segala hal yang ku lakukan ketimbang Adam. 

Hal ini jarang di uraikan oleh ahli Tafsir, ketika Allah mengabarkan, "Inni Ja Ilun Fil ardhi Kholifah - aku akan menjadikan seorang Khalifah di muka bumi". Ternyata, ada dua kelompok malaikat yang berkomentar, dua kelompok malaikat tersebut di pisah dengan Lafahdz "Waw". Kelompok malaikat Yang Pertama berkata, "Qolu a taj alu fi ha May yufsidu fi ha wa yassfiqud dima - Ya, Robb. Apakah engkau hendak mencipta seorang yang akan membuat kerusakan dan membunuh diatas bumi". Itulah komentar malaikat-malaikat Cahaya. Lain dengan malaikat api, mereka berkata, "wa nahnu nu sabbihu bihamdika wa nu qoddisulak" - Kami senantiasa dzikir dan bertasbih kepadamu". Nah, itulah komentar Malaikat Azazil - Ahyas. dia menganggap dirinya lebih baik dari mahkluk lain. 

Barangkali inilah ujian ummat Islam di negeri ini. Sebab, tidak ada negeri dimana pun, yang Ummat Islamnya sebanyak dan sebesar indonesia. Maka, negeri indonesia pun paling sholeh, paling banyak baca Qur'an, paling banyak baca Tahlil. jika di uji dengam Kalam-kalam yang tidak berkenan, apakah nanti akan berkata dengan hal yang sama dengan Azazil katakatan. 

Singkat cerita, akhirnya Azazil di usir dari surga dan Allah mengatakan kepada Azazil, "apakah kamu bangsa yang sangat tinggi?". Maka, bergantilah nama Azazil dari nama yang mulia, sebagai "Khazihul jannah", menjadi IBLIS yang di jauhkan dari jalan kebenaran. 

Lain ceritanya dengan Nabiyuna Muhammad SAW, sebelum diperjalankan ke langit, dimasukkan ke surganya Allah. Allah membersihkan jantungnya dua kali. Hal itu tidak pernah terjadi dalam sejarah Azazil. Hanya terjadi kepada Nabiyuna Muhammad SAW, ketika Nabi Muhammad SAW berumur 7 tahun dan Allah membersihkan kembali Hati Nabi Muhammad SAW ketika hendak melakukan perjalanan Mi'raj, pada tanggal 27 Rajab. 

Di titik itulah perbedaan abadi, antara Mi'raj Rohaninya seorang IBLIS dan Mi'raj Rohaninya Nabiullah Muhammad SAW. Mengapa?. Karena saat Derajat Spiritual Azazil di naikkan. ternyata, Jiwanya belum bersih. Sedangkan Nabiullah Muhammad SAW, sebelum Nafsiyahnya di naikkan - Derajat Spiritualnya, Keegoaan, Hati dan Jiwanya di Bersihkan terlebih dahulu. Maka, bertambah pengalamannya, bertambah kekayaan rohaniannya dan Tidak bertambah kesombongannya. 

Makanya, jika hendak memajukan negeri ini. Menjadikan negeri ini sebagai negeri terdepan. Mulailah untuk membersihkan Jiwa kita dari Kebencian, dendam, dengki, hasut, takabbur, Congkak, pongah, sombong. Mengutip sabda Nabi, yang di riwayatkan oleh Imam Al hakim At-Thirmidzi, "Innalillahi mi 'ata wa sab ata asyar khulqon Ta khultun jannah - sesungguhnya Allah memiliki 117 akhlaq, ambillah satu saja. Maka engkau akan masuk surga". 



*Pustaka hayat
*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran


Rabu, 20 Juli 2022

SEPEDA DAN BERHALA MILINEUM

 

Ada Issu tentang, Sepeda akan di kenakan pajak. Yah, begitulah Jika Sesuatu tidak diperuntukkan bukan pada Nilai Gunannya?. 

Tradisi bersepeda di Indonesia, sebenarnya bukan hal baru, sudah berlansung lama, ditandai sejak zaman kolonial. Namun, saat itu hanya kalangan tertentu yang mampu membeli sepeda, sebab sepeda dianggap sebagai barang mewah dan menjadi simbol kekayaan seseorang dikala itu. 

Pasca Indonesia merdeka, semakin banyak orang yang menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi darat yang murah dan menyehatkan (olahraga).  Simpel saja, karena bersepeda mudah dan murah. Tanpa menentukan jenis sepeda yang dikenakan. Akhirnya Berbagai jenis sepeda pun muncul, seperti sepeda kumbang, sepeda jengki, sepeda unta dan sepeda ontel. 

Kini, tujuan bersepeda mulai bergeser, nilai gunannya di lacuri. Bersepeda tidak lagi sebagai sarana transportasi, tetapi sebagai style yang membentuk gaya hidup, terutama masyarakat kota. Dari gaya Hidup tersebut lahirlah berbagai komunitas-komunitas sepeda, yang membentuk kelas-Kelas sosial dimasyarakat.

Yah, Dulu sepeda asal jalan. Kini sepeda memberi tanda siapa yang berjalan. 

Hal itu mengingatkan kita pada diskusi yang telah Usang bahwa budaya Konsumerisme yang kian mengakar sampai di titik nadir masyarakat akar rumput, sungguh sangat memprihatinkan. Tugas kita hanya mengingatkan. 

Kira-kira Konsumerisme muncul sejak terjadinya revolusi industri di Inggris pada awal abad ke-19, Tolong Ingatkan saya jika Keliru.

Dalam revolusi industri digunakanlah teknologi baru sebagai proses produksi. Yang tadinya proses produksi memakan waktu lama, bisa lebih cepat dan menghasilkan produk dalam jumlah yang sangat banyak. Untuk menjual produk yang banyak, produsen memaksa masyarakat untuk membeli dengan menjadikan produk tersebut sebagai gaya hidup. 

Ketika menjadi sebuah gaya hidup maka produk akan cepat laku di pasar. Hal ini dikarenakan masyarakat kita membeli bukan lagi karena "butuh, tetapi karena ingin". 

Revolusi industri ini memunculkan apa yang disebut oleh Marx sebagai kapitalisme, yang membelah masyarkat menjadi dua kelas, yaitu kaum pemilik modal dan kaum buruh. Kapitalisme bertujuan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Oleh sebab itu, produsen sebisa mungkin memproduksi barang dalam jumlah banyak. Mereka tidak lagi menjual produk untuk sekadar memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi menjual produk untuk dijadikan lifestyle-Gaya Hidup. 

Namun "Baudrillard", seorang tokoh postmodern Prancis mengkritik pemikiran Marx yang bertutur bahwa suatu barang memiliki dua nilai, yaitu nilai guna dan nilai tukar. Ia menyatakan bahwa suatu barang juga mempunyai nilai simbolik. 

Kebanyakan kita mengkonsumsi suatu barang bukan karena nilai guna dari barang tersebut atau karena nilai tukarnya, tetapi untuk mendapatkan simbol. Maksudnya, barang menjadi simbol status sosial. Seseorang bisa mendapatkan prestise dari barang yang ia konsumsi. Mengutip Igauan Yasraf Amir Piliang bahwa "fenomena yang menonjol dalam masyarakat Indonesia dewasa ini yang menyertai kemajuan ekonomi adalah berkembangnya gaya hidup sebagai fungsi dari diferensiasi sosial yang tercipta dari relasi konsumsi". Misalnya, orang yang menggunakan merek sepeda Brompton akan merasa kedudukannya lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang menggunakan merek sepeda kumbang atau mustang. Itu fakta, jangan Bohong?. 

Kita lebih memilih untuk mengunyah simbol dibandingkan dengan kegunaan dari suatu barang, inilah yang disebut Baudrillard sebagai "masyarakat konsumer". 

Kita tidak hanya mengonsumsi objek, tetapi juga makna sosial yang ada di balik objek tersebut. Dalam masyarakat ini, simbol bisa mengubah suatu barang yang fungsinya sama menjadi berbeda. Simbol juga bisa membuat seseorang melakukan pengorbanan yang besar untuk sebuah konsumsi yang fungsinya tidak terlalu berarti. Hal ini terjadi karena logika konsumsi yang mereka lakukan bukan lagi karena kebutuhan, tetapi karena hasrat-Syahwat-Keinginan-Nafsu. 

Kawan, Saya hampir 9 Tahun bersepada, bahkan saat SMP punya Komunitas sepeda di landak Baru. Hampir setiap Malam mingu melipir disetiap lekuk kota Makassar dan Singgah dipelataran Jalan-Jalan Protokol, menonton Atraksi sepeda karib kerabat. Dulu Dirumah, saya tidak kewalahan Mencari sepeda karena hampir semua jenis sepeda ada, sekitar 7-8 sepeda, karena sepeda digunakan sebagai sarana Untuk mengantar Koran Harian Pedoman Rakyat (loper). 

Kini, sepeda-Sepeda itu sudah tidak ada, habis di timbang sebagai besi tua.

NB ; Di Publikasika Pada Tanggal 5 Agustus 2020 Di Akun Kompasiana RST


*Pustaka Hayat
*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran

Rabu, 13 Juli 2022

AKANKAH NASIB RU'YAT DAN HIZAB SERUPA DENGAN GEREJA KATOLIK - SAYA HANYA BERTANYA ; DIALEKTIKA


Hizab dan Ru'yat itu metode, bukan bagian dari paket ibadahnya. Masalahnya apa?. Tidak ada masalahnya. Hanya saja, kita niscaya mendalami betul maksud Hadist yang di jadikan dasar Hukum "inna ummatun ummiyyatun, la naktubu wa la nahsubu. Al-Syahru hakadza wa hakadza wa asyara biyadihi". Barulah kemudian Tsumu li Ru'yati. 

Nah, jika Ru'yat atau Hizab di pahami sebagai ibadah, maka Menjadi Ummi pun adalah Ibadah. Karena hadistnya satu kesatuan. Menjadi Ummi itu Mustahil, sebab di banyak hadist kita di arahkan menjadi Ummat yang pintar dengan menggunakan kemampuan Intelektualitas kita. 

Hal ini bukan juga sebuah sandaran Final untuk menolak Pijakan lainnya, tidaklah demikian cara kita memahaminya. Sebab, hal ini hanya perbedaan cara pandang saja. Maka saya secara pribadi melihat, bahwa yang paling ideal di era Nabi adalah praktek Ru'yat. Tetapi, dalam konteks sekarang, untuk memudahkan, seperti halnya Sholat. Maka, metode Hizab, akurasinya lebih tepat.

"Copernicus" tidak menghiraukan yang menolak gagasan barunya mengenai alam semesta. Yaitu bahwa Matahari adalah pusat alam semesta, sedang Bumi dan planet-planet lain beredar mengelilinginya. Gagasan Copernicus itu kemudian dibuktikan oleh Galileo Galilei.

Tahun 1609 tersiar kabar ada orang Belanda berhasil membuat teropong (teleskop). Pembesarannya baru sekitar dua atau tiga kali. Galileo tertarik dengan perkakas itu dan terus melakukan eksperimen. Pada akhir tahun itu, dia berhasil melakukan pembesaran hingga 20 kali. Dengan teropong itulah dia membuktikan teori geosentris (Bumi adalah pusat alam semesta) dari Aristoteles adalah keliru. Dia menyatakan bahwa Matahari adalah pusat semesta. Bumi, bulan dan planet lain beredar mengelilingi Matahari. Galileo diadili oleh Gereja. Dihukum dengan hukuman tahanan rumah, dilarang menyiarkan pikirannya yang bid'ah dan meninggal sebagai saintis dalam status tahanan rumah.

Menurut Stephen Hawking, Galileo adalah penyumbang terbesar bagi dunia sains modern. Dia menerobos gagasan geosentris (Bumi adalah pusat alam semesta) dari Aristoteles. Konfliknya dengan Gereja Katolik Roma adalah contoh awal konflik antara otoritas agama dengan kebebasan berpikir (terutama dalam sains) pada masyarakat Barat. Itulah pertama kali sekularisme terjadi. Agama dan sains berjalan di relnya masing-masing. Berpisah dan tidak saling berdialog.

Baru pada tahun 1992, setelah 350 tahun Galileo meninggal, Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman Galileo adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma merehabilitasi nama Galileo sebagai ilmuwan. Begitulah Gereja Katolik setelah abad-abad yang silam - menolak sains. 

Sekitar 1000 tahun setelah masa Aristoteles, atau 1000 tahun sebelum masa Galileo, di Arab Saudi, untuk keperluan menetapkan 1 Ramadan untuk berpuasa, Nabi Muhammad saw. membimbing kaum muslimin dengan sabdanya, "Berpuasalah kamu dengan melihat hilal dan berbukalah kamu dengan melihatnya juga. Tetapi bila ada awan yang menghalangi, maka genapkanlah hitungan dan janganlah menyambut bulan baru," (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim).

Sebagaimana yang saya sampaikkan diatas, bahwa Pada masa Nabi, beliau menggunakan rukyatul hilal, melihat penampakan bulan sabit dilakukan dengan mata telanjang, pada saat matahari terbenam (magrib). Sekarang mata telanjang dibantu dengan alat optik, teleskop dan peralatan yang canggih. misalnya, memperhitungkan sudut azimut dan elongasi benda-benda langit itu. Dikatakan pula bahwa jarak ideal mata telanjang bisa melihat hilal adalah tujuh derajat. Jika kurang dari itu, maka diperlukan alat bantu teleskop. Penggunaan alat ini pun batasnya pada sudut tiga derajat. Kurang dari itu, hilal tidak akan terlihat karena terlalu dekat dengan matahari. Itulah kelemahan Ru'yat.

Metode Hisab yang memakai ilmu matematis dan astronomis, tidak terganggu dengan kelemahan metode Ru'yat. Hisab lebih akurat, pasti, dan canggih untuk menetapkan penampakan hilal. Sesuai dengan sifat sains, yakni semakin akurat, pasti, dan canggih, saya yakin metode Ru'yat tidak akan pernah mengungguli metode Hisab. Ru'yat hanya bertahan karena rasa plong saja beragama kalau melihat dengan mata kepala, meskipun akan berakibat melahirkan lebaran kembar, seperti sekarang. Sehingga ada kelakar bahwa "kini waktu sungguh sangat cepat, kemarin kita lebaran, hari ini kita lebaran lagi".

Setelah berlalu 1400 tahun Ru'yat dengan mata telanjang berlalu, dan melewati abad-abad Ru'yat dibantu oleh sains seperti teleskop dan lain-lain, kenapa tidak sepenuhnya bergeser kepada sains untuk dipakai di dalam memudahkan agama dan ibadahnya dilakukan. Gereja Katolik butuh waktu 350 tahun untuk mengakui kekeliruannya terhadap Galileo sebagai wakil sains. Apakah Ru'yat masih butuh zaman yang lebih panjang lagi untuk tetap tertinggal oleh Hisab, karena enggan menerima kebenaran sains guna membantu agama? Saya hanya bertanya!

Makanya saya secara Pribadi, melaksanakan Idul Adha Tadi pagi 10 Dzulhijjah, besoknya Baru saya Lebaran. Sedangkan Ayah, ibu dan beberapa Adik-adik, insya Allah melaksanakan idul adha dan Lebaran Besok, yang juga sama-sama tanggal 10 Dzulhijjah. 

Artinya, indonesia mengalami dua kali 10 Dzulhijjah. Tidak jadi soal, Sebab Yang Esensial adalah Idul Adha. Sedangkan Lebaran boleh Kapan saja, bahkan boleh tidak berlebaran sama sekali. Sebab, Yang telah di tentukan waktunya adalah BerIdul Adha, yaitu 10 Dzulhijjah. Sama dengan Tidak semua Yang Berlebaran itu pasti berIdul Adha. Tetapi, yang Beridul Adha boleh berlebaran dan boleh tidak berlebaran. Seperti saya Hari Ini Idul Adha, besoknya Baru Makan Daging 😄.

Terakhir, Berhentilah menggiring opini publik bahwa Yang BerIdul adha tadi adalah Kelompok yang anti pemerintah - Tidak Taat Pada Amir - Pemimpin. Menurut saya, Ini narasi yang berbahaya sekali. Toh, penetapan 10 Dzulhijjah tadi pun berpijak pada dasar hukum yang sangat Santifik, kuat, tepat dan akurat. 

- Mohon Maaf Lahir dan Batin Ya Guys 😉🤭-

#Rst
#NalarPinggiran

POLITIK ITU SUNYI II ; CATATAN POLITIK IDENTITAS 

Sebelum kita Uraikkan, tentang sirkulasi politik di Indonesia. Mari kita bukan lembaran-lembaran perjalanan sejarah politik kita, tidak perlu jauh-jauh. Cukup 20 tahun terakhir. lalu, fokus pada beberapa orang tokoh.

Ada nama-nama : Amien Rais, Gusdur, Megawati, SBY, Prabowo, Yuzril Ihza Mahendra, Surya Paloh, Jokowi, Abu Rizal Bakri, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Habib Riziek Shihab, Ahok, Anies Baswedan dan seterusnya.

Lalu, lihat partai politik seperti Golkar dan Parpol-parpol yang di lahirkan oleh orang Golkar, seperti ; Hanura, Gerindra dan Nasdem. Lihat Pola PPP, PDI-P, PBB, DEMOKRAT, GERINDRA, dst.

Kemudian, lihatlah dalam berbagai Masa, kurun waktu 20 tahun terakhir. Mereka saling Bertukar posisi. saling "berkawan" lalu "lawan". Saling bersebrangan jalan. lalu, bertaut kelingking seperjuangan. membentuk koalisi, lalu bubar. Menyebrang ke koalisi lain yang awalnya tidak mau bergabung. Dulu pendukung fanatik, lalu lawan militer, kemudian berkawan lagi atas nama satu visi misi. Di tingkat Nasional berkawan sambil lantang berucap "ideologi kami sama", sedangkan di tingkat daerah, berlawanan sambil meneriakkan "ideologi kami tidak sama", membingungkan. blaa..blaa..blaa, dst.

"Tidak ada yang mustahil dalam politik. Segala sesuatu adalah permainan". Dalam politik itu biasa.

Di beberapa Tulisan saya yang menyoal soal-soal seperti ini, saya pernah mengulasnya dalam spektrum yang lebih luas. selepas berdiskusi dengan kawan-kawan dan setelah membaca Karya Khomeini dan Moh. Natsir. Perbincangan politik global yang melibatkan Tokok-Tokoh politik Islam.

Politik itu hanya diikat oleh satu kata yaitu kepentingan. Agama dan ideologi, hanya penguat dan perekatnya saja. Bila kepentingan dirasa sama. maka, semua ideologi terasa jadi karib. Beberapa kawan berkata ; " mana bisa komunisme satu biduk dengan agama atau utara dengan selatan satu biduk, bro"?.

Cukuplah eksperimen politik Soekarno menjawabnya, Nasakom, bro. Nasionalisme agama dan Komunisme disatu padukan menjadi satu paket dengan aura revolusi.

Hal itu juga bisa kita lihat, bagaimana mungkin Iran menyatu dengan Arab saudi dan AS?. Kalau sekarang, iya tidak menyatu. Tetapi Dulu, sebelum tahun 1979, Jimmy Carter, presiden AS pernah mengatakan bahwa ; "sahabat terbaik saya diTimur tengah adala Syah Reza Pahlevi (Kaisar Syahansyah Iran), Menachen Begin (PM Israel), Anwar sadat dan Arab Saudi". Bahkan kedatangan Raja Iran ke Saudi maupun AS, selalu disambut dengan "Karpet Merah".

Kepentingan yang menghadirkan semua itu. Lebih spesifiknya, bisnis. minyak, bro. Ketika keutungan tidak lagi saling menguntungkan, Iran bagi AS dan negara-negara sekutunya adalah menjadi salah satu negara "poros setan", istilah yang dikeluarkan oleh George W. Bush Jr.

Saddam Husein selama Hampir 10 tahun menjadi Harapan besar bagi AS dan sekutunya (Eropa dan Timur Tengah) untuk menghancurkan rezim Demokratis-teokratis Iran. Seluruh biaya dan sumber daya diberikan kepada Saddam Hussein. Pembunuhan Suku Kurdi dan warga syi'ah di irak dilakukan oleh Saddam Hussein, kala itu dianggap sebagai sesuatu yang wajar. karena Saddam putra Tikrit ini sedang menjalankan sebuah misi besar yaitu mengembalikan kejayaan kekaisaran persia yang direbut oleh Ayahtullah Ruhullah Khomeini. Tapi, Saddam gagal. Akhirnya Saddam di musuhi, dibunuh dan dianggap pemimpin jahat. Pembenarannya, disusun belakangan, pokoknya Saddam Harus tumbang. Apalagi ditambah Saddam mulai menaikkan "daya tawarnya" ketika mencaplok kuwait dengan alasan Historis.

Dari pangkalan militer AS di Arab Saudi, Saddam di gempur oleh Bush Senior. Jendral Norman Schwarzkofp memimpin operasi yang di namakan badai gurun itu. Kuwait bebas, Saddam terkucil dari politik dunia, khususnya pergaulan antar negara di timur tengah, Saddam di tinggalkan.

Setelah Bush tidak lagi menjadi Presiden, Clinton menjadi Presiden 2 periode. Saddam Masih eksis dengan keterkucilannya. Tapi, Saddam tidak memberikan konsesi eksplorasi ladang-ladang minyak kepada negara-negara barat. Tersebabkan ini pula, Bush Junior, anak dari Bush senior, yang kedua-duanya adalah Presiden AS, negara yang merupakan sahabat Karib Saddam Hussein tahun 80-an, bernafsu menguasai irak. Maka, pembenaran di cari dan dibentuk. " Saddam Diktator bin mengalomaniak dan pembunuh Rakyat". Demikian kata Bush Junior, anak dari Bush Senior.

Tentu saja ada akal sehat dan rasa keadilan yang bekerja disana, tapi juga kepentingan.

Pakem paling universal dalam politik itu terformulasi dalam kalimat " tidak ada lawan dan kawan yang abadi dalam politik, justru yang abadi adalah kepentingan". Politik kepentingan pada dasarnya mengalahkan ideologi, golongan bahkan partai itu sendiri (betapa banyak politisi yang pindah-pindah partai). Itulah sebabnya, jangan pernah membenci kawanmu karena berbeda pilihan politik. 

Bila berbeda sikap dengan kewajaran. Karena yang kita perdebatkan justru bisa berbeda-beda tempat, nantinya kita akan terkejut. Ternganga, marah, kecewa dan sedih. Sementara ada pihak lain yang lebih kecewa yaitu kawanmu yang kau hujat dan kau hina karena berbeda pilihan politik.

Kita marah-marahan, tidak berteman. Bahkan Mendikotomikan kawan-kawan ; ini waras, ini gila. Ini akal sehat, yang itu agak putus tali sarafnya dua setengah lembar. Kita bersitegang urat, berdebat kusir, carut marut keluar. isi dapur rumah orang tua, dikasih keluar semua. Orang-orang yang menjadi episentrum perdebatan kita itu, bisa gonta ganti posisi. Gonta ganti kawan sambil ketawa ketiwi.

Sementara kita?. Terlanjur memutuskan persahabatan.

Sirkulasi politik itu rutin. Kadang beberapa belas purnama, tidak pernah lebih dari 5 tahun. Mereka kembali beradaptasi. Sementara "luka" yang tertoreh pada diri kita dan kawan-kawan kita, justru akan bertahta dalam waktu yang demikian lama. Mereka dapat kekuasan, kita kehilangan kawan. Persahabatn yang kita bina demikian panjang, putus dan sobek oleh mereka yang naik "di tengah jalan di hatimu" serta " Say hello" dan hanya menyapa sambil berlalu.

Mengharapkan batu permata, batu kali ditangan kau lepaskan. Kan Dompala namanya itu.

**

-ISU-


Terkadang kita terkejut melihat realitas politik hari ini. Sebuah isu yang dulunya tidak muncul pada rezim sebelumnya, sekarang dimunculkan. Isu yang sekarang tidak ada, justru di rezim sebelumnya dijadikan perbincangan publik. Kadang-kadang yang menaikkan isu itu, justru kelompok yang sama.

Sebagai contoh : sekarang isu militerisme tidak begitu "seksi : sensual dan eksis", justru mendapat tempatnya pada rezim sebelumnya. HAM tidak lagi menjadi pembahasan serius, sebagaimana masa lalu. Contoh yang lain, cukup banyak untuk diketengahkan.

Kadang kita terbawa perasaan - baper istilah kami, anak muda. Terlampau fanatik terhadap sebuah isu politik, sehingga menghakimi pihak lain yang menganggap isu politik tersebut hanya sebagai dagangan politik semata dari sebuah praktek politik praktis. Sebuah praktek politik yang tak selamanya luhur. Sebuah praktek yang didalamnya ada transaksi. Sebuah praktek politik yang juga dibungkus dengan sandiwara politik. Fiksi.

Dalam kajian mengenai Indonesia, pernah ada analisis menarik dan cemerlang dari "Bennedict R.O.G. Anderson" tentang hal ini. Politik sebagai sebuah fiksi. Demikian pula dengan antropolog "Clifford Geertz" yang membicarakan negara sebagai sebuah teater dengan acuan empirik Bali pada abad ke-19. Bahkan "Earving Goffman" memperkenalkan istilah "panggung depan" dan "panggung belakang" (Dramaturgi) dalam melihat motivasi interaksi dalam dunia politik.

Pada hakikatnya, sudah cukup lama ranah politik tersebut dikiaskan sebagai sebuah panggung teater ataupun sandiwara. Bahkan bukan hanya ranah politik saja, seluruh entitas kehidupan masyarakat juga berlaku hal yang demikian.

Dalam dunia politik dan dunia teater atau sandiwara terdapat tokoh-tokoh dengan hasrat yang tidak terlalu dan tidak selalu sama. Ada pertentangan. Ada konflik. Disana juga ada dialog, peristiwa dan perilaku. Tentunya dan pasti ada alur cerita. Tawa dan tangis, suka dan duka cita silih berganti. Ada kepalsuan, kepahlawanan, pengkhiatan dan kejujuran. Bahkan ada penaklukan dan penguasaan. Ada kepatuhan dan perlawanan, dalam beragam derajat tentunya.

Tapi, sekali lagi, benarkah politik itu teater, panggung sandiwara, fiksi atau sinetron?.

Politik adalah medan adu kepentingan dan kekuasaan yang sangat praktis, who get what how and when, kata "Harold Laswell". Dan selalu ada panggung depan, ada panggung belakang. Arti kata, di depan "berdarah-darah", di panggung belakang ; eh "bertaut kelingking", sedangkan kita, Ya KITA. sudah terbawa perasaan. Menyapa pun tak mau.

"lalu anda ?".

Ya, santai aja.  Apa yang bisa menjelaskan Anies Baswedan 2017 dibandingkan Anies Baswedan 2014-2016 yang lalu Atau Risma di tahun 2017 di bandingkan Risma di tahun 2021. Kliping-kliping beraurakan "tenun kebangsaannya", hingga hari ini masih saya baca. Atau Ruhut Sitompul ketika Bapak SBY jadi Presiden dan Ruhut Sitompul dikala Bapak Jokowi memimpin negeri ini.

Bagi saya, sebuah isu yang dibungkus dengan nuansa politik, maka tak kecil kemungkinan, isu tersebut berada dipanggung depan, yang terus-terusan di Framming. Padahal, ada kompromi-kompromi di panggung belakang. Setidaknya demikian kata teks :). Perjalanan waktu, memberikan contoh-contoh. 
Benar tidaknya, terpulang pada kita semua. Karena itu bagi saya sederhana. Silaturrahmi di atas segala-galanya. Walapun kita berbeda pendapat. 

**

- ISU IJO DAN ISU PKI-

Mari kita, lacak untuk konteks Indonesia. Sependek pengetahuanku, Isu PKI tidak efektif mendiskreditkan PDI-P dari aspek politik. Khususnya, elektabilitas. kita lihat Dari 5 kali Pemilu, pasca Orde Baru, PDI-P adalah partai politik yang sering menjadi pemenang. Pemilu 1999, 2014 dan 2019. Selebihnya nomor 2. Buka saja arsip berita sejak 1999 diberbagai media massa, berkenaan dengan isu, hampir selalu sama.

Politik adalah ajang kontestasi. Tujuannya jelas, kekuasaan. Pasca Orde Baru, politik di Indonesia, kental dengan politik akomodatif. Ideologi yang menjadi basis masing-masing partai politik, biasanya akan menjadi "cocok" ketika kontestasi elektoral selesai, pembagian kekuasaan kemudian di bicarakan. Di negosiasi. Akhirul kalam, awalnya berbeda, ujungnya di paksa "sesuai", "seperjuangan". sevisi dan sejenisnya.

Kembali ke PDI-P. Partai yang dianggap dekat secara politik dengan nama besar Soekarno ini, tetap saja jadi nomor 1 atau 2, bila hanya isu ke isu itu saja yang di alamatkan padanya. Secara historis-sosiologis, isu ini akan mentah karena figur Soekarno yang di milikinya. Suka atau tidak suka demikian fakta historis genelogisnya. Ini yang tidak dimiliki partai lain. Partai ini memiliki pendukung fanatik. Secara demografis jumlahnya sangat banyak. Soliditasnya tinggi.

Nama besar Soekarno, itu kekuatannya. Perekatnya. Partai lain, tidak memiliki "nama besar". Perekat banyak di figuri pendiri. Redup pendiri, redup pulalah ia.

Oke, ada yang bilang PKI. Disisi lain, akan ada counter nama besar Soekarno yang memiliki jasa besar bagi republik ini. Apalagi, dalam konteks geopolitik maupun politik global, isu komunisme bukanlah isu seksi secara politik.

"Kedepan, para politisi-politisi kita niscaya menukar isu yang langsung menyentuh ekspektasi publik. Atau, bersatulah wahai partai politik berbasis Islam. Kalau bersatu, kans mengalahkan PDI-P, serta Golkar bisa besar.

"Tapi mungkinkah ?".

Entahlah. Sejak Pemilu 1955, keinginan seperti itu, ibarat mimpi. Entitas sosiologis historis ummat Islam Indonesia, beda dengan muslim Malaysia yang cenderung homogen. Kita sangat bervariasi - heterogen. Segmentasi sosilogid historisnya terasa kental.

"Lalu ?".

Cara lain, daripada biduk partai dan ormas "hijau" tidak pernah satu perahu. ya, ambil alih itu perahu-perahu besar. PDI-P maupun Golkar. Bila perlu "hijaukan !". Bukankah ketika di akhir kekuasaan Soeharto, melalui Habibie, Golkar dan senayan bisa "di ijo royo-royo kan?".

Selain filosofis, Platform itu penting. Dalam bisnis Barangkali, kalau dalam Politik: politik kita memakai "aji Mumpung". politiknya tergantung arah angin.

Manusia politik adalah manusia kepentingan sesaat. cara berpikirnya, Cara berpikir Lonte. Kebutuhan sesaat, kalau mau ngewek saja.

Hal ini pernyataan telanjang saya, jika politisi kita tidak menjadi bersih dan seorang yang negarawan. Kita buktikan bahwa banyak politikus saat ini yang belum menjadi negawarawan?.

kita lihat, nama pensiunan Tentara Seperti Prabawo, SBY, Wiranto dan HendroPriono, semua Jendral tetapi mengapa partainya Juga 4 : Gerindra, Demokrat, Hanura dan PKPI. Yang penguasannya adalah mantan petinggi tentara.

Lalu partai berbasis agama :PKS, PAN, PKB, PBB dan PPP. Sama agamannya. tetapi, kenapa partainya banyak. Karena, Tidak punya Platfrom yang samakah, Bukankah agamannya sama?. Juga partai para Pensiunan Tentara, yang buat partai, Sama-sama tentara, sama-sama Tamatan Tidar, sama-sama bersama -sama?. Kenapa mesti membuat partai yang berbeda. Berbeda Platfrom kah atau berbeda Egonya?.

Kemudian Partai Nasionalis seperti : PDIP, Nasdem, Golkar. Apa bedannya?. Golkar berkuasa, yah begitu juga arah kebijakannya. Ganti PDIP, begitu juga. Ganti Demokrat, Sama saja. Apa yang berbeda?. Kebijakannya sama. Jadi, memang partai-partai kita Tidak punya platform. Ikut-ikutan semua, sesuai kebutuhan dan kepentingan pada saat itu, bukan sesuatu untuk kebutuhan bangsa dan negara dalam jangka panjang.

Kita contoh Single partai Country. China punya Platform solid dan platformnya sekarang bergeser. Platformnya jelas, PKC (Partai komunis China), kalau kita mengatakan bahwa china itu komunis, kita salah. Kita termakan Hoax dan kebencian kampanye masa lalu. Kasihan itu otak. Pemahaman yang digeneralisir dan diulang-ulang terus menerus itu adalah propaganda. Dan propaganda pasti memiliki niat.

China itu adalah negara Sosialis kapitalis, ideologinya adalah One bealt One Road. Komunisme hanya salah satu "Tool", hanya salah satu sumber kendali mereka untuk masyarakat. Sementara Rakyatnya, mau bergama, mau agnostik, mau kapitalis, Mau proletarian, China tidak perduli itu.

Amerika Lain lagi, kalau partai Barack Obama, Demokrat berkuasa, kebijakan perangnya pakai "Proxy". Perangnya pinjam tangan orang, dalam Jurus Perang sun Tzu Dikenal dengan terma ; "meminjam belati lawan untuk membunuh Musuh". Kebijakannya Heavy on government, pajak tinggi. Kalau Republik berkuasa, partainya seperti Trump. Perangnya "Konfrontatif". Kebijakannya Direct War, Heavy on private, ukm pesta pora, pajak kecil. Dan UKM bisa menjadi konglomerat dengan cara Partai Republik.

Platform berpolitiknya jelas, mengelola negaranya jelas.

Kalau dindonesia, ganti presiden. tergantung pilihan orang sekitarnya. tergantung kepentingan dan kebutuhan saat itu dan tergantung maunya Oligarki, segelintir orang yang menang Pilpres. Akan sama antara partai apapun yang berkuasa. Karena, Partai dindonesia Platform partainnya tidak jangka panjang.

Platform partainya sederhana sekali yaitu bagaimana menguasai wilayah dengan menang pilkada, menguasai Legislatif. lalu, menaruh orangnya di senanyan dan DPRD. Bagaimana cara Menjadikan Presiden yang Ujungnya adalah menguasai anggaran.

Apa namanya kalau Bukan Otak Lonte?.



-- SANTRI DAN POLITIK IDENTITAS --


Ada seorang ilmuan. Antropolog terkenal. Teori yang di Kembangkan dalam tradisi ilmu sosial Indonesia, sangat berpengaruh hingga kini dalam menganalisis fakta sosial dan budaya politik di Indonesia. 

"Siapa dia?", adalah CLIFFORD GEERTZ (1926-2006)

Geertz memperkenalkan konsep teoritik trikotomi ; (1) Priyayi, (2) Santri dan (3) Abangan

Dalam setiap analisis fenomena sosial budaya dan politik di Indonesia, bila ingin menggunakan teori yang di bangun Geertz tersebut, maka ketiga-tiganya harus dibawa. Harus menjadi unit analisis. Tak boleh tertinggal. Tiga dalam satu. Satu dalam tiga. 

Sejak lama saya berseberangan pendapat dengan pandangan yang meletakkan politik-identitas hampir melulu di bawah sudut pandang minor. Pandangan minor terhadap wacana tentang politik-identitas ini, menurut saya, hampir serupa dengan pandangan minor para pengikut teori developmentalisme ketika mereka disodori wacana mengenai ethno-politics sebagai kritik terhadap pembangunan tiga atau empat dekade silam. Mengenai hal ini, saya kebetulan sedang membaca, serta menemukan sesuatu yang menarik di dalamnya. 

Kembali ke soal politik-identitas, menurut saya isu mengenai politik-identitas tidak bisa dibicarakan tanpa ‘background’ sama sekali, seolah isu itu bisa hadir per se begitu saja membawa dirinya sendiri. Ada dua alasannya. 

Pertama, semua hal yang terkait dengan politik sebenarnya selalu berkaitan dengan “identitas” - ras, kelas, agama, ideologi, dan lain-lain. Sehingga tentunya menjadi persoalan, kenapa satu isu tiba-tiba bisa disebut sebagai "politik identitas", sementara isu lainnya tidak dianggap sebagai berkaitan dengan "politik identitas"? 

Sebagai contoh, kenapa munculnya tokoh Santri dalam politik Indonesia selalu dianggap membawa politik identitas, sementara kemunculan tokoh Abangan tidak dianggap sebagai politik identitas?. Padahal, baik "Santri" maupun "Abangan", in term of politics, sebenarnya sama-sama diakui merupakan bagian dari aliran. 

Kedua, apa yang kini disebut sebagai "politik-identitas" biasanya menguat bukan karena persoalan politik atau identitas itu sendiri, melainkan karena persoalan ekonomi. Jika latar belakang ini dihapus, pemahaman kita mengenai gejala ini bisa pincang. 

Kalau kita baca buku Amy Chua, "Political Tribes", ada satu poin menarik di sana. Pasar bebas dan demokrasi, menurut Chua, selama ini hanya dikuasai oleh sekelompok kecil masyarakat dengan identitas tertentu. Chua menyebutnya sebagai minoritas - pendominasi - ekonomi (market-dominant-minority). 

Di Amerika, misalnya, market - dominant - minority-nya adalah “coastal elite - Elit pesisir”, yaitu elit kulit putih yang umumnya tinggal di wilayah pantai barat dan timur, berpendidikan universitas, berpandangan kosmopolitan, dan mayoritas berafiliasi ke Partai Demokrat. 

Namun identitas para aktor ini selama ini telah ditutupi oleh narasi-narasi ideologis seperti "kapitalisme", "komunisme", “otoritarianisme”, “liberal”, “konservatif”, dan sejenisnya. Label-label itu telah menutupi identitas para aktor yang terlibat di dalamnya. 

Sesudah Perang Dingin, ketika narasi mengenai konflik ideologi dianggap telah berakhir, kita kemudian jadi langsung berhadapan dengan identitas-identitas para aktor tadi secara lebih jelas. 

Dulu orang mempercayai Perang Vietnam sebagai pertarungan antara kapitalisme dengan komunisme. Padahal, menurut Chua, yang terjadi sebenarnya adalah pertarungan antara minoritas “kapitalis” keturunan Cina yang sangat dibenci, versus mayoritas rakyat Vietnam yang membencinya. Rakyat Vietnam secara umum sebenarnya tidak ingin melawan kapitalisme, ataupun menegakkan komunisme sebagaimana yang dituduhkan Barat, melainkan ingin membebaskan dirinya dari kelompok market-dominant-minority tadi. Model konflik serupa juga berlangsung di Afghanistan, Suriah, Irak, atau tempat-tempat lain. 

Di Afghanistan, kelompok minoritas Tajik yang kaya raya telah ditumbangkan oleh Taliban, organisasi militernya kaum Pashtun, yang merupakan kelompok mayoritas. Di Suriah, minoritas Sunni yang menguasai perekonomian telah dilawan oleh mayoritas Syiah yang miskin. 

Kesimpulan kecilnya adalah “tribalisme” memang bisa muncul karena perbedaan suku, atau agama, namun yang tidak bisa diabaikan, karena ini berlangsung di seluruh dunia, tribalisme terutama menguat karena perbedaan kekayaan. 

Ketimpangan ekonomi, tidak terdistribusinya kekayaan negeri, serta penguasaan kekayaan oleh sekelompok minoritas-dominan, telah melahirkan sentimen perlawanan kelompok mayoritas. Ini adalah background yang tidak boleh dihapus ketika mendiskusikan isu tentang “politik-identitas”.

Intinya, saya cuman mau bilang, bahwa Santri itu, apapun ragam defenisinya, tak bisa dilepaskan dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Bicara apapun tentang sejarah Indonesia, variabel santri menjadi variabel penting untuk dibahas. Begitu berartinya santri itu. 



***

SANTRI DAN ABANGAN DI PENTAS PEMILU 

Meskipun trikotomi Geertz mengenai Santri, Priyayi dan Abangan pernah dikritik karena kriterianya yang tidak konsisten, namun konsep "Santri" dengan "Abangan", menurut saya, sebenarnya relevan digunakan untuk memahami bagaimana perilaku politik di Indonesia. 

Dulu Wertheim pernah menyebut bahwa umat muslim Indonesia adalah mayoritas yang bermental minoritas. Berbeda dengan Wertheim yang melontarkan penilaian itu dengan nada negatif, saya justru menilai "mental minoritas" itu sepenuhnya bersifat obyektif. Artinya, jika umat muslim Indonesia merasa dirinya minoritas, hal itu memang didukung oleh kenyataan obyektif sebenarnya. 

Seandainya konsep "Santri" dan "Abangan"-nya Geertz itu kita pinjam lalu diproyeksikan pada data hasil Pemilu, misalnya, dengan "Abangan" sebagai kriteria atas aliran non-Santri dan non-muslim, nampak terlihat bahwa sejak Pemilu 1955 hingga Pemilu 2019 partai beraliran Santri memang tidak pernah menjadi pemenang dan mayoritas. Mereka selalu kalah dan menjadi minoritas di parlemen. 

Siapa yang mayoritas? Abangan! 

Mungkin akan segera ada yang menyanggah, bukankah kalangan Abangan itu sebagian besar adalah Santri (baca: muslim) juga?! 

Di atas kertas memang begitu. Namun, secara politik tidak pernah demikian. Jangankan jauh-jauh antara Santri dengan Abangan, di antara sesama Santri saja langgam politiknya bisa sangat jauh berseberangan. Bagaimana berjaraknya politik Partai Masyumi dengan Partai NU sebelum dan sesudah Pemilu 1955 bisa jadikan cerminnya. 

Jika argumen semacam ini dikemukakan oleh tokoh politik Santri, sulit dihindari kesan yang bersifat apologetik. Namun, menariknya, argumen ini dulu justru pertama kali dikemukakan oleh Nono Anwar Makarim, yang hingga kini sering dianggap tokoh sekuler. Dalam tulisannya, "Mayoritas dan Minoritas: Dari Soal Abangan Pendukung PKI-PNI sampai Santri Pendukung NU-Masyumi", Nono dengan tegas menulis bahwa "Islam tidak merupakan mayoritas di bidang politik!" 

Menurut Nono, kebanyakan orang Islam sebenarnya hanya mengaku beragama Islam sebanyak empat kali saja selama hidupnya, yaitu saat (1) lahir, ketika (2) dikhitan, saat (3) menikah, dan saat (4) meninggal. Artinya, meski secara statistik jumlahnya besar, di dalam politik tidak dengan sendirinya Islam menjadi mayoritas. Nono kemudian mencontohkan Ali Sastroamidjojo dan Surachman. Keduanya, tulis Nono, sama-sama muslim. Namun, dalam politik, kedua pemimpin PNI itu lebih memilih berporos dengan PKI.   

Ada satu lagi kutipan menarik dari Nono. Ia menulis : "Saudara Subhan Z.E. setelah Sidang Umum MPRS berbicara tentang 'minoritas' Islam yang dipojokkan oleh semua golongan. Kasarnya Islam dikeroyok. Secara sambil lalu memang demikian kelihatannya. Kalau diteliti lebih mendalam maka suatu hal yang komis akan terlihat. Sebab yang 'memojokkan' dan 'mengeroyok' sehingga Islam menjadi minoritas adalah serentetan minoritas-minoritas lain. Kalau toh mau berbicara tentang mayoritas politik, maka terpaksa harus dikatakan bahwa ABRI dan Partai Katolik-lah yang merupakan mayoritas".

Tulisan lama Nono itu dimuat dalam buku yang disunting Rum Aly, "Simptom Politik 1965" (2007). Tulisan itu sebenarnya adalah tulisan lama. Sidang Umum MPRS yang dimaksud, sepertinya adalah SU MPRS pada masa akhir Demokrasi Terpimpin hingga awal Orde Baru. Jelasnya, sebelum Pemilu 1971. Sayang, tulisan itu dimuat kembali tanpa menyebutkan sumber asli dan tanggal publikasi pertamanya. 

Posisi sebagai minoritas-politik inilah yang telah membuat golongan Santri tidak pernah bisa menjadi pemimpin nasional jika tidak menggandeng kalangan Abangan. Ini sudah dibuktikan oleh kontestasi Pilpres secara demokratis yang telah berlangsung sejak tahun 1999, baik melalui mekanisme demokrasi perwakilan di MPR, maupun melalui pemilihan langsung sejak tahun 2004. Naiknya duet Gus Dur-Megawati, misalnya, menunjukkan hal itu. 

Di sisi lain, meskipun sesudah Reformasi komposisi pemimpin nasional selalu berasal dari duet Santri-Abangan (atau Abangan-Santri), seperti tercermin dari duet Megawati-Hamzah Haz, SBY-Jusuf Kalla, Jokowi-Jusuf Kalla, lalu Jokowi-Ma'ruf Amin, namun pernah ada satu periode ketika pemimpin nasional kita sama-sama dijabat oleh Abangan, yaitu pasangan SBY-Boediono. Ini menurut saya kasus menarik. 

Naiknya SBY-Boediono ini telah mengukuhkan satu kesimpulan baru yang juga penting dicatat, bahwa tanpa harus berduet dengan Santri sekalipun, kalangan Abangan terbukti bisa memenangi kontestasi Pilpres. Ini yang tidak (atau belum?) bisa dilakukan oleh golongan Santri sejauh ini. 

Pada Pilpres 2009, kita tahu, SBY-Boediono bisa mengalahkan Megawati-Prabowo di Jawa Tengah, yang dikenal sebagai kandang banteng. Hingga sejauh ini, belum pernah ada yang bisa mengalahkan partai banteng di kandangnya sendiri, kecuali SBY. 

Racikan komposisional Abangan-Santri, atau Santri-Abangan ini, menurut saya, akan mempengaruhi pasangan-pasangan yang akan berlaga pada Pilpres 2024.


Makassar, 18/06/2022



***

AGAMA DAN POLITIK

Dalam kajian antropologi politik, peranan agama dan simbol-simbol supranatural di dalam politik memainkan arti penting. Agama pun bisa dijadikan landasan bagi struktur, landasan kepercayaan, atau sumber tradisi yang bisa dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan. Namun, pilihan paling lazim adalah menjadikan agama sebagai alat legitimasi oleh para elite yang berkuasa atau kekuatan yang mengejar kekuasaan (ini yang dikritisi para kalangan Marxian). Sejarah (berbagai agama) dan sejarah politik dari berbagai masa, menunjukkan fakta sosial ini.

”Pemakaian” ayat, dalil, atau ungkapan yang dinisbatkan pada agama tertentu sebenarnya identik dengan kemunculan kiai atau tokoh lain yang merepresentasikan agama. Kemunculan simbol-simbol tadi telah mengandung pesan, lebih dari makna yang terkandung dalam substansi yang sebenarnya. Tidak heran bila kosakata silaturahmi lebih sering digunakan ketimbang pertemuan politik.

Membebaskan panggung politik dari anasir-anasir agama tidak semudah yang dibayangkan kelompok yang menganut paham pemisahan agama dan politik. Bahkan, bagi sebagian kalangan, memisahkan agama dan wilayah politik bukan saja sulit, tapi dipandang tidak perlu. 

Fakta mengungkapkan, bagi sebagian pemilih di tanah air dikotomi tua – muda tidak begitu penting. Demikian juga dikotomi sipil - militer sudah melonggar. Namun dikotomi Islam - non-Islam masih dipandang sensitif dan penting dipertimbangkan sebagai variabel penting keputusan untuk memilih. Bagi sebagian kelompok, bila menerapkan sistem politik menurut kaidah agama dipandang belum mungkin, maka mengambil anasir-anasir agama untuk diformulasikan ke dalam kaidah hukum dan politik sudah dianggap cukup. Adaptasi ajaran politik pun terjadi di sepanjang garis keyakinan agama.

Pada akhirnya, keputusan untuk memilih melibatkan variabel yang kompleks. Diperlukan sentuhan personal untuk merebut dukungan. Lebih-lebih dalam situasi ekonomi yang mencekik, kandidat yang bisa memberi harapan bagi perbaikan yang dirasakanakan lebih diapresiasi.

Dunia politik makin lama makin rasional - untuk tidak menyebut - pragmatis :).

Sebagaimana seorang bapak atau ibu yang merupakan tokoh politik, mempersiapkan anak-anak mereka untuk mengikuti jejek mereka?. Bahkan mempersiapkan sedaya upaya untuk kekuasaan politik?.

Tidak salah, siapapun boleh melakukannya. Larangannya pun tak ada, demokrasi meniscayakan hal tersebut. tapi, berkenaan dengan itu saya ingat dengan "Ayahtullah Ruhullah Khomeini".

Ketika Ayahtullah Ruhullah Khomeini menjelang hari-hari terakhirnya, Ia di minta oleh elit politik Iran untuk membuat wasiat dan Testamen politik, agar sang Anak, Hojjatul Islam Ahmad Khomeini agar di plot menjadi presiden atau masuk dalam wilayah "vilayat ulul Faqih". 

Khomeini berkata yang membuat semua tercengang ; " Saya berjuang bukan untuk anak saya, Ahmad Khomeini tidak saya perkenankan masuk dalam lingkarang politik, setelah saya meninggal nantinya.

Padahal dalam konteks ilmu politik, Ahmad Khomeini memiliki sumber-sumber kekuasaan yang lengkap ; sumber genetik (Anak Khomeni), serta ulama dengan pengetahuan yang luas dan menjadi manusia yang terbuang bersama ayahandannya karena melawan rezim Syah Reza Pahlevi.

"IRAN BUKAN UNTUK ANAK SAYA", demikian kira-kira pesan yang di sampaikkan Khomeini

Berkelindannya kepentingan politik yang terjadi di beberapa daerah konflik seperti di Suriah, Irak, dan Yaman, mengingatkan saya akan sejarah masa lampau. Kehadiran kelompok-kelompok yang menganggap dirinya "mujahiddin" di daerah ini, poros negara kaya Teluk dan Iran serta kehadiran Amerika Serikat serta Rusia, (juga) mengingatkan saya kepada sejarah masa lalu. 

Dulu, ketika Syah Reza Pahlevi (yang istrinya luar biasa cantik itu ... Farah Diba :) ) masih memegang tampuk kekuasaan di Iran yang Syi'ah, ia dianggap sebagai kawan terbaik negara-negara Teluk. Pengaruhnya besar. Ia sahabat paling akrab Amerika di kawasan ini. Tak salah bila kemudian, Iran dipandang sebagai "perawan-cantik" di Timur Tengah. Lalu ketika Syah Reza Pahlevi dikudeta, ia dibuang, dilucuti pengaruh dan daya tawar politiknya, kekuasaan Amerika Serikat diusir hingga ke jejak-jejaknya dan digantikan oleh sistem teo-demokrasi. lihatlah, Iran (kemudian) berubah menjadi "nenek sihir yang ditakuti" oleh kawan-kawannya yang selama ini menganggapnya "perawan-cantik" Timur Tengah. Bahkan Bush (Jr) memberi gelar sebagai "poros setan" pada negara yang disayangi oleh seniornya dahulu - Jimmy Carter.  

(Lalu) ..... !

Bukankah (dulu) Khalifah Abbasiyah di masa Al-Makmum merupakan sekutu paling dekat Charlemagne - Raja Frank. Kedekatan Al-Makmum yang menganggap dirinya sebagai pemimpin politik ummat Islam seluruh dunia ini dengan Charlemagne adalah untuk mengisolasikan Kekhalifahan (Islam) Andalusia yang sedang "naik daun". Pada sisi lain, Raja Bizantium yang menganggap dirinya sebagai pemegang tafsiran Kristen paling orisinil merupakan sekutu imperium/kekhalifahan Andalusia. tujuannya untuk mengisolasi Charlemagne yang juga menganggap dirinya sebagai pemimpin politik Kristiani seluruh dunia. Saling berkelindan.


*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran