Senin, 09 Oktober 2023
ERDOGAN DAN SIKAP POLITIKNYA PADA ISRAEL
Kamis, 07 September 2023
KITA BUTUH PEMIMPIN, BUKAN PEMIMPI
Ada Hadist Nabi yang menarik untuk kita uraikkan untuk menemukan suatu pelajaran penting, yaitu "Qola Rosulullah SAW, Sab atun yagfirlu humullahu yaumal qiyamati fi tdzillin yauma la dzilla illa dzillu - Ada Tujuh golongan yang akan di payungi Allah di Hari Kiamat saat semua manusia ketakutan menunggu waktu untuk di hizab".
ketika itu, Keringat sudah naik mendekati leher, panas terasa terik membakar, semua mencari Syafaat. Sampai akhirnya manusia mendatangi Rosulullah SAW meminta syafaat. Tetapi, ada tujuh golongan yang santai saja dan tidak khawatir. Siapa dia?. Pertama, Al imamul adil - pemimpin yang adil. Ternyata Golongan pertama yang akan di naungi payung di yaumil Mahsyar kelak adalah para pemimpin yang adil. Tetapi, apakah para pemimpin kita termasuk di dalamnya.
Saking pentingnya Hadist ini, Dua ulama besar di bidang Hadist, Al Imam Al Bukhari dan Al Imam muslim memasukkan hadist ini ke dalam dua kitab Shohih mereka. Imam Bukhari menyantumkan ke dalam Hadist No. 6806 dan Imam Muslim menyantumkan ke dalam kitab Hadistnya No. 1301, sanadnya tersambung kepada sahabat Abu Hurairah, nama Aslinya Abdurrahman bin sahar. Nama sebelum ia memeluk Islam adalah Abdus Syams.
Abu Hurairah adalah sahabat Muallaf, ia masuk Islam 3 tahun sebelum Nabi meninggal. Hikmahnya Kelak, Abu Hurairah merupakan Role Model bagi Fiqih Muallaf. Serius mendalami Islam, di rentang 3 tahun tersebut menjadi sahabat yang paling banyak hafalan Hadistnya. Di doakan Nabi, sehingga ia memiliki Hafalan tidak mudah untuk lupa dan lansung ingat.
ihwal itulah, sehingga Ulama membagi Ingatan ke dalam 5 bagian : pertama, ada yang cepat ingat, lambat lupa. Kedua, cepat ingat, cepat lupa. Ketiga, Lambat ingat, lambat lupa. Keempat, lambat ingat, cepat lupa. Dan kelima, cepat ingat, sulit lupa.
Kembali ke topik, bahwa Keadilan adalah potensi Manusia. Makanya, Politik diselenggarakan untuk itu. pemilu itu bukan sekedar urusan memilih presiden, Gubernur, Walikota dan Bupati. Lebih utama adalah memperbaharui visi keakraban warga negara, keluasan pikiran dan keadilan sosial dan ekonomi. Dengan itu politik seharusnya di tuntun.
Sumbatan Keakraban dan gejolak warga negara adalah Masalah mendasar yaitu adil dan beradab. Hal itu, Tak bisa sekedar diatasi dengan slogan-slogan nasionalistik.
Di dalam Islam pemimpin di Istilahkan cuman dengan sebutan "Rois" - Rois daulah (presiden), Rois Muhafadzah (Gubernur), kadang di sebut Hakim. Rois baladiyah (bupati). Tapi, pemimpin dalam istilah islam, jika di tarik ke dalam Al Qur'an dan Hadist. Maka di ganti Dari Rois menjadi Imam. Apa itu Imam?. Imam dalam Bahasa Arab, bukan hanya sekedar pemimpin. Melainkan pemimpin yang mampu mendekatkan dan mengenalkan ma'mumnya kepada Allah SWT.
Kelak yang di tanya di Yaumul Hizab oleh Allah bagi para Pemimpin, bukan berapa banyak Infrastruktur yang sudah di bangun, bukan berapa banyak kemewahan yang sudah di hadirkan. Bukan Berapa ketertiban yang sudah di ciptakan?. Hal itu bagus sebagai bekal jariyah. Tetapi pertanyaan pertama bagi para pemimpin adalah dari seluruh Ummat, berapa banyak yang sudah mengenal Allah?.
Tidak hanya sekedar Imam. Ada sifat keduanya, yaitu Adil. Kapan Imam bisa menjadi adil?.
Ihwal itulah yang di contohkan oleh Rosulullah SAW. sebelum semua orang menjadi pemimpin, Al Qur'an memberikan Tuntunan, sebelum memimpin di perintahkan untuk mengecek Sholatnya.
Suatu ketika, Ada sahabat yang hendak berjuang. Maka turun ayat untuk menyeru mereka memperbaiki sholatnya. Ternyata, hikmahnya di perintahkan untuk memeriksa Sholatnya, karena di dalam Sholat yang memimpin kita, di sebut dengan Imam dan Jama'ahnya di sebut Ma'mum. Hubungan Imam dan Ma'mum sangat demokratis ; "Imam baca Ghoiril Magdu bi alaihim walad dhoolin". Ma'mun menjawab Aamiin. Bahkan nada dan notasinya sama dengan nada dan notasi Imam.
Bukan hanya di situ, Saat sholat hendak di mulai, calon pemimpin yang hebat, jika sholatnya benar. Maka ia akan mengambil hikmah sholat untuk di terapkan dalam memimpin masyarakat, bangsa dan negara. Misalnya, Sebelum imam mengangkat Takbir, Nabi Mengajarkan untuk balik ke hadapan Jama'ah terlebih dahulu. Balik ke hadapan jama'ah bukan hanya sekedar formalitas belaka, ada ketentuannya. Sebab, saya perhatikan Imam-imam kalau memimpin sholat, Melihat jama'ah di belakanganya hanya sekedar Formalitas saja. Nabi itu kalau melihat ke belakang sebelum mengangkat takbir, bukan sekedar mengatakan, "Isstau, isstakimu". Kalimat itu tidak harus menggunakan bahasa arab, bisa bahasa Lokal. Isstau itu di ambil dari Bahasa Hadist, "Tssau tsufufakum".
Bapak dan Ibu, Tolong rapatkan shaafnya. Tenangkan hatinya dan rasakan. Mungkin inilah sholat terkahir yang kita tunaikan. Barangkali kita wafat dalam keadaan sujud. Setelah itu baru katakan, Isstau wa ja alu sholatakum mawaddah. Tetapi poin yang hendak saya utarakan adalah Nabi melihat siapa yang sholat. Nabi memandang wajahnya. Di pojok kanan ada seorang sepuh yang tidak bisa berdiri terlalu lama, di tengah ada anak muda yang barangkali punya urusan. Di kiri pojok ada orang yang Darah tinggi, sehingga tidak bisa sujud terlalu lama. Di sana ada anak - anak yang lari-lari. Karena Nabi Tahu kondisinya jama'ahnya - Ma'mum, maka di bacakan ayat yang pendek saat sholat.
Nabi itu Hafal 30 Juz, Tertanam di dalam Jiwanya. Tetapi ketika memimpin sholat, dia melihat kondisinya ma'mumnya, baru membacakan Surat sesuai dengan Kondisi ma'mumnya. Lain soal, ketika ma'mumnya adalah Sayidina Ali, Abu bakar, Ustman, Umar, Abdur rahman bin auf, Muadz bin jabal, Ubay bin ka'ab dan sahabat sahabat yang mulia lainnya, apalagi sahabat-sahabat periwayat Qiro'a setelah itu. Tidak main-main Rosul membacakan ayat, Al Baqorah Rakaat pertama.
Adik-adik kita ini kadang-kadang memimpin Jama'ah untuk sholat, baru hafal 30 Juz, Baca surat panjang sekali. Bukannya Khusyu, justru ma'mun mengeluh.
Muadz Bin jabal suatu ketika menjadi Imam Sholat isya. Dia baca Surat Al Baqorah, panjang sekali. Begitu selesai salam, menengok ke belakang, Jama'ah pulang semua. Lansung Muadz Komen, "munafik semua ma'mum". Mengapa?. Karena diantara ciri orang munafik itu adalah malas sholat isya.
Ma'mum yang di sebut Munafik, protes dan melaporkan ke Nabi, "Ya rosulullah tidak terima kami, Muadz menyebut Kami Munafik". Di panggillah Muadz oleh Rosulullah. Rosulullah SAW Tidak menghukumi lansung, hanya di tanya oleh Rosulullah. Di sinilah juga letak keindahan Nabi, beliau tidak pernah menjatuhkan Stafnya di hadapan Rakyatnya dan tidak pernah merendahkan Rakyatnya di hadapan para Stafnya.
Kenapa Muadz ini?. Orang-orang yang melapor, menjawab, Muadz ini tidak kira-kira yang Rosulullah. Dia memimpin sholat Isya Bacanya surat Al Baqorah rakaat pertama. Bagaimana kami tahan. Sebab, kami baru pulang menanam Kurma, pulang dari ladang dan kebun. Capek, belum istirahat, sholat isya rakaat pertama baca Al Baqorah.
Muadz di tanya, Mengapa Ente Baca Al Baqorah?. Saya mengikutimu Ya Rosulullah. Saya pernah berma'mum di belakangmu Duhai Rosulullah. Betul, Saya pernah baca Al Baqorah Rakaat pertama. Tetapi jama'ahnya - Ma'mumnya adalah kamu Muadz. Tetapi, kamu Imam, ma'mumnya mereka. Tidak akan kuat meraka.
Pasca peristiwa itu, Nabi memberikan keluangan. Makanya, ada sahabat yang ketika Mengimami jama'ah untuk sholat, bacanya Hanya Qul Hu. Inilah dalil, Yang melegitimasi imam ketika hanya membaca Qul Hu saja, boleh. Di laporkan lagi ke Rosulullah, ada imam hanya baca Qul hu terus?. Nabi tanya mengapa engkau hanya membaca Qul Hu saja terus?. Jawab orang tersebut, saya mencintai Allah dan sifat-sifatnya Ya Rosululah. Maka turun ayat dari langit untuk menyampaikan salam kepada orang tersebut, karena dia mencintai Allah. Maka Allah pun mencintainya.
Di konversi kepada kepemimpinan bangsa, instansi, insitusi. Maka pemimpin yang baik, dia akan melihat kepada rakyat seluruhnya. Berapa Provinsi, Kabupaten, kecamatan, kelurahan, RT dan Rw tidak sama karakternya. Kebutuhannya berbeda. Kota A mungkin butuh Infrastruktur jalan, Kota B mungkin butuh Sembako, kota C mungkin butuh lapangan pekerjaan, kota D mungkin butuh kesehatan, dsb.
Ketika pemimpin paham tentang Rakyatnya, maka pemimpin mudah mengkonsepkan, memprogram langkah-langkah untuk kemashlahatan rakyatnya.
Teori ini di Praktekkan oleh Sayidina Umar, maka kita kenal hari ini sebagai Blusukan. Umar Blusukan tidak membawa kamera, karena memang dulu tidak ada kamera. Sekarang boleh bawa kamera, tetapi bukan dalam rangka Pencitraan. Umar Blusukan suatu malam, melewati sebuah Gubuk reot, seorang Ibu sedang Mengadu atau membuat sebuah syi'ir. Ternyata, seorang ibu tersebut sedang fakir dan punya beberapa anak, yang menangis karena kelaparan. Di Dapurnya tidak mengepul, yang ada cuman batu. Maka, pura-puralah dia memasak batu dan Pasir sambil membuat syi'irnya, kira-kira begini, "duhai Khalifah, Amirul mu'minin senang-senang engkau di Istana, Rakyatmu kini tak bisa makan. Engkau yang akan di hizab di hari kiamat".
Umar mendengar pengadauan tersebut, lansung pulang dan mengambil gandum di Gudang persediaan. Di masukkan ke dalam karung, di pikul gandum tersebut. Di lihat oleh Staffnya, Ya Amirul Mu'minin, biar saya saja yang mengangkatnya". Umar Jawab, Bukan engkau yang akan Hizab di Yaumil kiamah. Tapi, saya. biar saya yang mengangkat". Di bawah gandum ke hadapan Ibu yang faqir, di masakkan gandum tersebut. Tanpa menyebutkan bahwa dialah Amirul Mu'minin. Sang Ibu sambil menunggu di masakkan, tetap melantunkan Syi'irnya kepada Khalifah umar, " dasar Khalifah santai-santai di istana, orang lain yang datang memasakkan kami".
Umar menyuapinya. Lalu pulang, tanpa mengatakan bahwa dialah Amirul Mu'minin. Sang Khalifah yang ia dendangkan.
Teori pertama yang Umar Terapkan dari Teori Rosulullah dalam Memimpin adalah Ilmu pengembala kambing dari Rosulullah. Itulah sebabnya, dari semua Nabi sampai Nabi Muhammad, semuanya mengembala kambing. Kata Nabi, tidak Pernah di utus seorang Nabi, kecuali di latih oleh Allah untuk mengembala kambing.
Mengapa para pemimpin di minta belajar dari pengembalaan kambing?. Karena, tidak semua Rakyat sama aspirasinya. Menghadirkan pemimpin yang siap melayani aspirasi kita, tidak hanya dengan berharap, kita harus membantunya. Jangan banyak Menuntut, Subhnallahu dalam sholat itu boleh. Tetapi ada waktunya. Orang belum takbir, di belakang sudah demo.
Jika menginginkan pemimpin seperti itu, terdapat dalam H.R. Imam Muslim, No. 1855, perawinya bernama Auf bin Malik Al Azja'i, "khiyaru a'immatikum alladzina tuhibbunahum wa yuhibbunakum wa tu shollana alaihim tusholluna alaikum - pemimpin terbaik yang paling ideal adalah pemimpin yang kalian cintai dan mereka pun mencintaimu". Bagaimana menanamkan Mahabbah, kata Nabi. Kalian mendoakan mereka, sehingga mereka di bimbing oleh Allah agar mereka menjadi adil dan mendoakan kalian.
Imam Menengok ke belakang, Kata Imam Rapatkan dan luruskan Shaff. Bagaimana menyusun Shaffnya?. Mengapa di sebut Jama'ah, karena dari kata Al Jam'u, sifatnya di sebut Jama'ah dan keadannya di sebut jum'ah. Pertanyaannya adalah apa itu jama'ah dan apa itu jum'ah?.
Di sebut dengan Jama'ah, dari kata Al jam'u maknanya tiga - pertama, datang dan berkumpul. Kedua, perhatikan dan mengenal siapa yang datang. Bukan sekedar datang, duduk sholat, dengar Khutbah, kadang ngantuk, bahkan ada yang tertidur, sholat dua rakaat dan pulang. Hal itu tidak di sebut jama'ah dan jum'ah. Datang dan berkumpul, lalu mengenali siapa yang ada di kiri, kanan, belakang dan depan. Ketiga, saling mengisi dengan siapa yang datang.
Ihwal itulah, Jama'ah di masa Nabi, Masjid menjadi Solusi dalam meretas Problem Ummat. Bayangkan, Tidak ada orang yang datang berjama'ah ke masjid, kecuali kenal siapa yang datang ke masjid dan semua yang datang memberikan, serta mendapatkan solusi ; Datang yang Haus, begitu pulang hilang dahaganya. Datang yang lapar, begitu pulang sudah kenyang. Dokter datang, di sampingnya ada Pasien yang tidak memiliki biaya ke rumah sakit. Karena dia kenal dengan Dokter, Ia Konsultasi kepada dokter, di berika resep obat, bahkan kadang di rekomendasikan berobat Gratis. Datang lagi anak muda yang belum bekerja, ada pengusaha yang Sholat di sampingnya. Karena kenal, di berikan solusi tentang pekerjaan.
Jika kita mempraktekkan Dasar dan kerangka Utama Makna Jama'ah, maka tidak perlu kita menggantungkan kepada Pemimpin. Di situlah letak keberhasilan Nabi Muhammad saw Mempersaudarakan semua jama'ahnya, "akha bainal Muhajirina wal anshor bainal auz wal khazraj bainal Muslimin hatta ghoiril muslimin". Yang di lakukan Oleh Nabi ketika pertama kali datang ke Yastrib Adalah mempersaudarakan semua wilayahnya.
Sekarang ada yang datang berjama'ah ke masjid, saling mengenal kah atau tidak?. Andaikan semua jama'ah masjid di himpun dan memiliki data base. lalu, di bikinkan aplikasi - berapa RT, RW, berapa kelurahan, berapa kecamatan, kabupaten dan kota. Ustadz-Ustadz berapa, pakarnya berapa, Dosen berapa, Insinyurnya berapa, Pengusahanya berapa, penjual berasnya berapa, penjual baju dan celana berapa, penjual sayur dan ikan berapa, yang ojol berapa. Begitu membutuhkan. tinggal, klik datang. Di berikan bimbingan dan binaan. Perekonomian berputar. Kalau sudah terpenuhi semua baru kita ekspor ke luar daerah.
Skema Zakat di gunakan sebagai metode. Bagaimana prosesnya, kata Nabi, "Tu'khozu min agniiyaa ihin wa turaddu ala fuqoro'i - Kalau ada yang susah, yang kaya-kaya mensubsidi lewat zakat". Tetapi jangan lansung di lempar atau di berikan ke luar daerah. Fokus pada daerah dan lingkungan kita terlebih dahulu. Jika lebih, baru di berikan ke level yang lebih tinggi untuk di salurkan lagi.
Muadz Bin Jabal menggunakan meotde seperti itu, hanya butuh satu tahun, ia mampu menyelesaikan problem kemiskinan di yaman. Tiga tahun berikutnya, tidak ada satupun yang miskin di yaman.
Diantara jumlah manusia di Kecamatan ini, masa tidak ada yang bisa membuat aplikasi seperti itu?. Jika tidak ada, sekolahkan dia. Jadikan dia programer. Bikin aplikasi Ansor muhajirin - persaudaran masyarakat. Begitu ada yang butuh Sesuatu, tinggal Up load. Masa diantara Jutaan manusia tidak ada yang membantu. Tidak harus menunggu APBD.
Apakah di wilayah kita semuanya Muslim?. Tidak. Apakah di madinah muslim semua?. Tidak. Ada non muslim. Di zaman Nabi ada Yahudi, Nasrani. Di titik itulah indahnya Islam. Pemimpin muslim sekalipun, Hak-hak kaum muslim dan non muslim sama rata. Tidak ada perbedaan urusan publiknya, Nabi menyamakan semuanya.
Jika kita tidak percaya, silahkan cek dan bandingkan semua kitab yang di sucikan Allah. Tidak ada satu pun Kitab yang seindah Al Qur'an dan Hadist Nabi Muhammad SAW. Misalnya, kita pernah dengar Hadist Nabi tentang, "jika kita memasak makanan dan baunya sampai ke Tetangga maka berbagilah pada tetangga, sekalipun hanya Kuahnya". Nabi tidak spesifik menyatakan pada Hadist tersebut, bahwa rasa berbagi tidak hanya kepada sesama Muslim. Nabi menyampaikkan secara Umum, jika masak dan baunya sampai ke rumah tetangga, maka bagi sekalipun hanya kuahnya.
Artinya siapapun tetangga kita, wajib bagi kita untuk saling berbagi. Demikianlah islam menuntun kita dalam hidup.
**
Bisakah agama kristen di pisahkan dari negara?.
Ada seorang tokoh Partai Kristen di indonesia, namanay Dr. Notohamijoyo - Ketua Parkindo tahun 50 an. Dia menulis buku, Judulnya Iman Kristen dan Politik. Dalam bukunya, ia bertanya " bisakah agama Kristen di pisahkan dari Politik?". Jawabannya Tidak mungkin. Gereja dapat di pisahkan dari politik. Tetapi, agama Kristen tidak bisa di pisahkan dari politik. Sebab, iman orang - Orang Kristen bekerja dalam otak dan hati orang-orang Kristen.
Orang-orang kristen terlibat dalam politik, maka agama mempengaruhi pikiran dan hati mereka. Serta aka mempengaruhi kebijakan dan perilaku politiknya.
Ketika di tanya kepada kelompok islam, Bisakah islam di pisahkan dengan Politik?. Maka menjawablah Alm. Prof Zainal abidin Ahmad, dalam bukunya membentuk negara Islam, beliau mengatakan, "barang siapa bisa memishakan Gula dari manisnya, maka bisalah dia memisahkan Islam dan Politik. Biasalah dia memisahkan Islam dan negara.
Artinya tidak akan bisa di pisahkan agama dan negara. Sekalipun dulu, presiden kita mengajurkan agar agama dan politik di pisahkan. Padahal dalam Filsafat politik, tidak akan mungkin bisa di pisahkan.
Faktanya, ketika negara kesulitan keuangan negara, menteri keuangan mengatakan agar zakat di kelola oleh negara, bahkan di departemen keuangan ada dirjen zakat di samping dirjen keuangan. Katanya, agama di pisahkan dengan negara. Tetapi, ketika bicara soal uang, agama di satukan lagi dengan negara. Kan lucu.
Dalil ekonomi Islam menyebutkan, "di dalam Kekayaan seseorang ada Hak orang lain. Maka, kita wajib mengeluarkan hak tersebut, karena hal itu bukan milikmu". Baca Q.S. Adz - Zariat ; 19. Pelaksanaan teknisnya seperti dalam bentuk Zakat Mal, zakat Harta, sedekah, infaq dsb. Artinya, di dalam ayat tersebut ada perintah sosial dan telah saya uraikkan diatas.
Kita bandingkan dengan keadaan sekarang. tiga orang terkaya indonesia menguasai 50 % kekayaan penduduk indonesia. Jika kita tagih zakatnya, Orang akan mengatakan kepada kita, kita mau menegakkan Syariat Islam?. Padahal zakat adalah parameter keadilan ekonomi dan sosial.
Seorang Pemikir liberal Inggris padah tahun 1700-an mengatakan, "anda boleh mengeksploitasi materi. Tetapi, anda juga harus meninggalkan materi dengan sejumlah yang sama untuk di eksploitasi oleh orang lain".
Hal itu di ucapakan oleh Jhon Locke pada tahun 1700 an, setelah 1100 tahun dalil tentang zakat di ucapkan di dalam ekonomi Islam.
Kita lihat, Ummat islam di indonesia adalah mayoritas, dengan Jumlah Kuantitas 237,5 Juta orang atau 86,7 % dari total penduduk. Indonesia di kenal sebagai penduduk Muslim terbesar di dunia. Menurut Badan amil Zakat (Baznas) potensi zakat dari kaum muslim di negeri ini pertahun dapat mencapai RP. 327 T, jangankan untuk membangun sesuatu. Meretas ketimpangan ekonomi pun mudah. Tidak hanya itu, Jika ummat islam bersatu, kita bahkan bisa menentukan siapa Presiden dan wakil Presiden indonesia tanpa harus stengah mati menggantungkan kepada pihak lain.
Namun kenyatannya, Kualitas berbeda jauh dengan Kuantitas. Ummat Islam belum menjadi Tuan di negerinya sendiri. Masih bergantung dalam banyak hal, bahkan tak jarang kita masih menjadi objek penderitaan dalam semua aspek kehidupan.
Di Indonesia, satu ayat saja dari Al Qur'an di plesetkan dan di otak atik, oleh orang yang tidak memahami al Qur'an. Maka, bergelombang Gerakan Hastag untuk mengutuk pelaku, bahkan di bikinkan demo berjilid-jilid.
Tetapi, tidak pernah kita dengar ada Gerakan Hastag dan Demo berjilid-jilid pada jurang Kekayaan dan Kemiskinan, Pada Kemalangan, Pada Nestapa, pada orang pinggiran, pada anak terlantar, pada fakir dan miskin, pada Jelata di bangsa ini?.
Padahal, Hal itu jauh lebih menghina Al-Qur'an dan Rosulullah. Mengapa?. Karena, kita mengakui bahwa Al Qur'an adalah pedoman Hidup, Rosulullah SAW adalah Tauladan paripurna dan Menjadikan KETUHANAN YANG MAHA ESA Sebagai sandaran pikir dan sikap kita. Tetapi, untuk menyelesaikan Problem Kesenjangan ekonomi dan Sosial saja sangat susah. Lalu, Bagaimana mungkin, kita begitu berani menyatakan diri sebagai seorang Mukmin.
Mustahil ada Negara Muslim yang melarat. Sebab, secara Teoritis, Islam punya solusinya. Rosulullah SAW bahkan telah memberikan Contoh terbaik. Tapi, memang kita tidak pernah benar-benar mencintai Rosulullah SAW dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman terbaik hidup dan kehidupan.
Saya kerap kali merasa lucu dan tertawa sendiri. Mengapa?, karena seharusnya Negara Mayoritas Muslim Terbesar, seperti Indonesia lah yang memberikan contoh Terbaik hidup dan kehidupan. Faktanya New Zealand, Canada, denmark dan Finladia, justru lebih bisa memberikan contoh dan sangat Islami ketimbang Negara Muslim. Mereka mampu membumikan nilai Al Qur'an dalam meretas kesenjangan ekonomi, Sosial, budaya pendidikan dan menjadi Negara dengan tingkat kebahagian tertinggi di dunia. Padahal, mereka bukan negara mayoritas ISLAM. Justru, Negara mereka seringkali di labeli oleh orang islam, sebagai negara sekuler.
Mengubah nasib sendiri tentu membutuhkan kerja sama, kolaborasi dan relasai yang luas dengan berbagai pihak, tidak dengan mengisolasi diri. Semua langkah tidak bisa instan, perlu perencanaan strategis.
Ummat islam penting mengagendakan usaha-usaha kemajuan yang bersifat strategis di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, politik yang terencana dan jangka panjang. Sembari menyelesaikan masalah-masalah rutin yang temporer, seperti membangun rumah ibadah, penyantunan kaum dhua'fah, penanganan bencana, dsb.
Semangat ibadah mahdhah semestinya adalah jembatan kita membangun kesholehan sosial dan Urusan-urusan Muamalah keduniaan yang unggul dan berkemajuan.
Membangun kekuatan ekonomi pnting menjadi prioritas utama, agar Ummat Islam naik kelas menjadi golongan yang "tangan diatas, bukan golongan "tangan di bawah". Mengembangkan usaha mikro kecil menengah lebih kuat, sehingga menjadi gerakan ekonomi ummat yang berskala besar dan tangguh. Mengembangkan konglomerasi baik secara personal melalui perluasan saudagar manapun dalam bentuk Insitusi dan Korporasi.
Orientasi pembangunan ekonomi yang serba syariah dan rigiq sudah harus di ubah ke gerak Fleksibilitas, sebagaimana hukum dasar muamalah yang bersifah "ibahah" - banyak kebolehannya. Jika ingin maju secara ekonomi, maka lakukan langkah-langkah praksis dan strategis yang progresif.
Ummat islam indonesia juga harus merebut kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar mampu bersaing serta bekerjasama.
Dalam sejarah Islam, ketika negara menuju kehancuran. Misalnya di abad ke 4 H, Dinasti Abbasyiah sedang menuju kehancuran. Muncullah kerajaan-kerajaan kecil, salah satunya adalah Bani Seljuk di Asia Tengah. Tetapi, pada waktu yang bersamaan mereka menghadapi tantangan yang luar biasa, serangan mongol mulai berdatangan secara bertahap, Perang salib juga sudah mulai berlansung, sementara dunia Islam mengalami kekacauan - Negaranya tidak terintegrasi dengan baik, pemerintahannya tidak terkelola dengan baik.
Di periode seperti itu, ada seorang Perdana menteri Bani Seljuk, bernama Nidzomul Mulk mendirikan sekola Nidzomiyah, disanalah lahir ulama Besar, seperti Al Ghazali dan Gurunya Imam Al Juwaini. Tetapi, pada periode itu, mulai terjadi penyatuan antara agama dan negara.
Ulama-ulama besar yang hadir di tengah krisis tersebut, selalu ada di pusaran politik. Memang tidak seperti sekarang yang menggunakan sistem partai, tetapi ulama hadir di pusaran politik, selalu ada.
Pendidikan kita hari ini, yang kita pelajari di ruang kelas. sebahagian besar tidak relevan dengan Society kita hari ini. Makanya, begitu kita selesai kuliah dan masuk ke dunia nyata, kita mulai merasa bahwa, terlalu banyak hal yang seharusnya kita pelajari. Tapi, tidak kitabpelajari dan terlalu banyak hal yang seharusnya tidak perlu kita pelajari, tapi kita pelajari.
Realitas hari ini dengan perkembangan Teknologi, terutama di era 4.0 membuat sekolah dengan dinding-dindingnya bisa kehilangan relevansinya. Sebab, akses terhadap ilmu pengetahuan, sudah tidak bisa di batasi oleh dinding-dinding atau sudah terbuka. Apa yang tidak bisa di dapatkan oleh Internet hari ini?.
Ihwal itulah, ada pertanyaan yang fundamental yang harus kita jawab Mengapa orang mesti pergi ke sekolah, kalau kita bisa mempelajari semuanya secara lansung?. Artinya, semua ini harusnya membongkar paradigma kita tentang pendidikan.
Kita melihat juga, antara pendidikan yang di integrasikan dalam sistem ekonomi, sistem pertahanan, dsb. Mengubah secara keseluruhan performa suatu negara.
Dalam suatu perlombaan negara-negara adidaya, kombinasi antara perkembangan teknologi, sistem ekonomi, sistem pertahanan dan sistem budayanya selalu satu paket. Tidak pernah bisa di pisah. Misalnya, bagaimanapun CIA selalu mendorong banyak sekali produksi filem di Holywood. Seperti dia mendorong banyak sekali temuan teknologi, sebahagian besar teknologi, terutama internet, awalnya di support oleh kebutuhan keamanan komunitas di Amerika dan hari ini kita mengetahui bahwa semua itu suatu kebutuhan yang terintegrasi dengan baik.
Dari situ kita belajar, memang sudah harus kita bongkar paradigma pendidikan kita. Salah satu misi yang harus kta tagihkan kepada calon pemimpin kita adala sesuatu yang paling basic dari pendidikan, yaitu Harga - Sekolah Gratis dari SD sampai SMA. Tetapi kenyatannya, masyarakat masih belum merasakannya. Nah, harus terus di dorong untuk menggratiskan, minimal sampai S1. Selain itu, yang harus di dorong adalah Kualitas Guru. Sebab, guru ini adalah profesi yang tidak di inginkan orang, karena gajinya di kebiri terus. Makanya, berimplikasi pada kualitasnya.
Mengapa Timur tengah itu gagal menjadi negara. Sebab, orang Islam itu susah diajak bernegara. Orang Islam itu Paling gampang diajak memberontak. Al qur'an itu adalah Imamnya orang Islam, begitu baca Al Qur'an, seperti mendapat perintah lansung dan tidak mau ada negara yang menjembataninya.
"Wa qotiluhum hatta latukan Fitnah - dan perangilah orang itu sampai tidak ada fitnah". Maka pasti orang islam akan perang. Saking beratnya orang islam diajak bernegara.
Suatu kesyukuran kita di indonesia, dari era kesultanan sampai era Republik tidak pernah ada disentegrasi untuk mendirikan khilafah. Tidak ada Yang Mau menciptakan negara Khilafah. Khilafah itu Konsep dan benih yang terdapat di dalam Al Qur'an. Mau jadi Kerajaan, oke. Mau jadi kesultanan, oke. Mau jadi Republik, oke. Mau jadi Federasi, oke. Sebab, Tidak ada bentuk negara dalam Islam.
Khilafah itu artinya Tanggung jawab. Pertanggung jawaban manusia kepada Allah kelak, bahwa ia Telah berhasil mengurusi manusia dan Alam semesta. Lucunya begitu benih ini sampai di Indonesia, ada yang Phobia dan terus memproduksi bahwa konsepsi-konsepsi dasar agama sebagai ancaman kepada Repubulik.
Di titik itulah, Sejak awal saya percaya bahwa agama dan politik tidak bisa di pisahkan. Karena agama pada dasarnya adalah sistem kehidupan. agama itu baru akan terasa, jika ajarannya kita terapkan.
Kalau kita melihat agama secara sederhana, sebenarnya tanpa negara sekalipun agama ini akan tumbuh. Tetapi, kalau kita melihat agama secara makroskopis seperti Keadilan sosial dan ekonomi. Misalnya, bagaimana kita meredistribusi kekayaan dari orang kaya ke orang miskin?. Sangat bisa di lakukan oleh individu. Tetapi, skalanya kecil. Berbeda dengan negara yang melakukannya, skalanya pasti besar.
Ajaran islam sebahagian besarnya, baru bisa di terapkan dengan Instrumen negara - Organisasi yang besar, apalagi menyangkut kehidupan kolektif kita. Maka dari itulah, Kita butuh pemimpin yang berkhidmat pada ummat, bukan yang bertangan besi dan anti kritik.
Jumat, 25 Agustus 2023
PETUNJUK AL QUR'AN DALAM MENGELOLA NEGARA MENUJU DEMOKRATISASI
Kata para ahli nahwu, "al ma'rifatu la tu arruf - yang sudah di kenal jangan di perkenalkan kembali". saya tidak akan mengulangi, apa yang sudah sering kita dengarkan dan sudah kita baca. Tetapi, saya ingin mengajak kita untuk mencoba memperbaiki cara kita mentadabburi Al Qur'an dan cara kita bermuamalah dengan Al Qur'an.
Sesungguhnya kekuatan dari interaksi dengan Al Qur'an terletak dari kemampuan kita mengambil ilham dari Al Qur'an untuk kita turunkan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai individu, sebagai keluarga, sebagai masyarakat dan juga sebagai negara. Mengapa?. Karena Al Qur'an senantiasa relevan sepanjang waktu dan tempat. Maka, konteks yang terus berubah-ubah yang di hadapi oleh manusia, sebenarnya memerlukan pencerahan dari Al Qur'an, agar hidup kita dari waktu ke waktu menjadi lebih baik. Di situlah makna hakiki dari interaksi kita terhadap Al Qur'an.
Saya selalu tertarik mempelajari Sejarah dari Perspektif Al Qur'an dan mengambil ilham dari kisah-kisah yang terdapat di dalamnya. Karena cara Al Qur'an memperkenalkan sejarah kepada kita, tidak bertumpu pada detail-detail peristiwanya. Kita harus berani mengkonversi narasi sejarah tersebut dalam pemaknaan yang lebih kontekstual. Makanya ketika kita mendapatkan satu kisah di dalam Al Qur'an, kita tidak akan mendapatkan terlalu banyak detail-detail peristiwanya. Justru, kita diajak untuk mendapatkan Ilham dari Cara Al Qur'an memaknai seluruh peristiwa di dalam sejarah.
Kita ambil cerita pertama dari kisah Nabi Sulaiman As.
Kisah Nabi Sulaiman ini banyak tertebar di dalam Al Qur'an. Tetapi, yang agak sedikit utuh, terdapat di surat An Naml. Kisah yang hendak saya nukil di mulai dengan ayat, "walaqod ataina dauda wa Sulaimana ilma waqolal hamdulillahiladzi fadholana ala Katsirin min ibadhil mu'minin - Dan kami telah memberikan kepada Daud dan sulaiman Ilmu, Segala puji bagi Allah yang telah memberikan keutamaan kepada kami atas hamba-hambanya yang beriman".
Kalau kita baca cerita tentang Nabi Sulaiman yang di kabarkan Al Qur'an ini, bagaimana Nubuwah - Kenabian dan kerajaan itu menyatu. Nabi Daud dan Nabi Sulaiman adalah ayah dan Anak. Dua-duanya adalah Nabi dan Dua-duanya juga adalah Raja - An nabiyul malik.
Saat Al Qur'an mengungkap sejarah mereka, Al Qur'an memulainya dengan kalimat, "Walaqod ataina Dauda wa Sulaimana Ilma - kami telah memberikan kepada Daud dan Sulaiman Ilmu". Apa yang bisa kita pahami dari situ?. Dari cerita Nabi Sulaiman dan Nabi Daud, kita mengambil Ilham bahwa ada Hubungan antara Ilmu pengetahuan dan Kekuasaan. Ihwal Itulah juga, sehingga Umar Bin Khottab berwasiat kepada kita, "Ta' allamu qoblal anta sulu - belajarlah kalian sebelum kalian memimpin". Karena pada dasarnya mengelola pemerintahan itu adalah pekerjaan yang saintifik - ada ilmunya.
Ketika kita melihat orang yang memiliki persoalan dengan Pengetahuan, sekalipun dia berkuasa, dia akan tertatih - tatih dalam memimpin. Sebab, soal pengetahuan ini sangat krusial, Jika tidak ada pengetahuan, seseorang akan mengalami blunder-blunder dalam mengelola pemerintahan. Karena basis pengetahuannya tidak cukup untuk mengelola pemerintahan. Apalagi di era sekarang - Demokrasi, ketika semua orang punya peluang untuk menjadi penguasa.
Persoalannya kita hari ini, bukan saja bagaimana cara kita sampai pada kekuasaan. Tetapi, apa yang akan kita lakukan ketika kita sampai pada kekuasaan tersebut, bagaimana cara kita mengelola pemerintahan?. Di titik itulah, kita membutuhkan ilmu pengetahuan.
Apa yang terjadi pada orang ketika dia mengalami kekurangan dalam ilmu pengetahuan saat dia berkuasa?. Maka, dia akan cenderung menggunakan kekuasaannya lebih banyak, ketimbang ilmu pengetahuannya.
Coba kita perhatikan pengetahuan pada kisah Nabi Sulaiman, "wa warisa sulaimaanu daawuuda wa qoola yaaa ayyuhan-naasu 'ullimnaa mangthiqoth-thoiri wa uutiinaa ming kulli syaii, inna haazaa lahuwal-fadhlul-mubiin - Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia (Sulaiman) berkata, "Wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh, (semua) ini benar-benar karunia yang nyata".
"wa husyiro lisulaimaana junuuduhuu minal-jinni wal-ingsi wath-thoiri fa hum yuuza'uun - Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib".
"hattaaa izaaa atau 'alaa waadin-namli qoolat namlatuy yaaa ayyuhan-namludkhuluu masaakinakum, laa yahthimannakum sulaimaanu wa junuuduhuu wa hum laa yasy'uruun - Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, "Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari".
Perhatikan Power yang di miliki Oleh Nabi Sulaiman, Komposisi pasukannya ; ada manusia, ada jin, Ada Hewan. Saya pikir, kita semua bisa cari tahu sendiri bagaimana dialog antara Nabi Sulaiman dengan semut.
Kita persingkat ceritanya, saat Nabi Sulaiman mengumpulkan seluruh pasukannya, tetapi burung Hud-hud tidak ada, hal itu tertuang di dalam QS. An-Naml : 20 - 26, "wa tafaqqodath-thoiro fa qoola maa liya laaa arol-hudhuda am kaana minal-ghooo-ibiin - Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, "Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, apakah ia termasuk yang tidak hadir?".
"la-u'azzibannahuu 'azaabang syadiidan au la-azbahannahuuu au laya-tiyannii bisulthoonim mubiin - Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas (informasi tambahan kekuasaan baru)".
Ternyata Burung Hud-hud ada di sekitar istana dan ia membawa berita tentang kerajaan Balqis, "fa makasa ghoiro ba'iiding fa qoola ahathtu bimaa lam tuhith bihii wa ji-tuka ming saba-im binaba-iy yaqiin - Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, "Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba' membawa suatu berita yang meyakinkan".
"innii wajattumro-atang tamlikuhum wa uutiyat ming kulli syai-iu wa lahaa 'arsyun 'azhiim - Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar".
"wajattuhaa wa qoumahaa yasjuduuna lisy-syamsi ming duunillaahi wa zayyana lahumusy-syaithoonu a'maalahum fa shoddahum 'anis-sabiili fa hum laa yahtaduun - Aku (burung Hud-hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah; dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk".
"allaa yasjuduu lillaahillazii yukhrijul-khob-a fis-samaawaati wal-ardhi wa ya'lamu maa tukhfuuna wa maa tu'linuun - mereka (juga) tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan".
"allohu laaa ilaaha illaa huwa robbul-'arsyil-'azhiim - Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai 'Arsy yang agung".
Setelah Hud-hud bercerita kepada Nabi Sulaiman, Maka Nabi Sulaiman mengatakan, "qoola sanangzhuru a shodaqta am kungta minal-kaazibiin - Dia (Sulaiman) berkata, "Akan kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta". (QS. An-Naml 27: 27).
"iz-hab bikitaabii haazaa fa alqih ilaihim summa tawalla 'an-hum fangzhur maazaa yarji'uun - Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan". (QS. An-Naml 27: 28).
Di bawalah surat tersebut kepada Ratu Balqis. Begitu surat tersebut sampai kepada Ratu Balqis. Ia pun segera mengumpulkan para Elit dan tentara-tentaranya. Balqis Lalu berkata, " qoolat yaaa ayyuhal-mala-u inniii ulqiya ilayya kitaabung kariim - Dia (Balqis) berkata, "Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia". (QS. An-Naml 27: 29)
"innahuu ming sulaimaana wa innahuu bismillaahir-rohmaanir-rohiim - Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang". (QS. An-Naml 27: 30)
"allaa ta'luu 'alayya wa-tuunii muslimiin - janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri". (QS. An-Naml 27: 31)
Seperti itulah Informasi atau Pesan yang di sampaikkan oleh seorang Nabi sekaligus Raja. Tetapi, yang bisa membuat kata-kata seperti itu, mesti ada sesuatu di belakangnya. Bukan asal gertak.
Sementara dari sisi Balqis, "qoolat yaaa ayyuhal-mala-u aftuunii fiii amrii, maa kungtu qoothi'atan amron hattaa tasy-haduun - Dia (Balqis) berkata, "Wahai para elitku - pembesarku!. Coba Berikan aku Fatwa - pendapat - pertimbangan tentang perkaraku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelis(ku) - Bersaksi - menyampaikkan pendapat". (QS. An-Naml 27: 32).
Apa jawaban dari para Elit Kerajaan Saba, "qooluu nahnu uluu quwwatiw wa uluu ba-sing syadiidiw wal-amru ilaiki fangzhurii maazaa ta-muriin - "Kita ini negara yang Powerfull, memiliki kekuatan, keberanian dan gagah perkasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu; maka silahkan ambil keputusan apa saja". (QS. An-Naml 27: 33).
Ratu Balqis ini pintar. Dia bisa merasakan sesuatu di balik surat tersebut, bahwa orang yang mengirim surat ini, tidak akan mengirim surat dengan bahasa seperti ini, kecuali kalau dia punya sesuatu. Balqis pun memberitahu kepada para elitnya, "qoolat innal-muluuka izaa dakholuu qoryatan afsaduuhaa wa ja'aluuu a'izzata ahlihaaa azillah, wa kazaalika yaf'aluun - Dia (Balqis) berkata, "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki - menaklukkan suatu negeri, mereka tentu memporak-porandakan - membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina dina, dan demikian yang akan mereka perbuat - Tradisi". (QS. An-Naml 27: 34).
"wa innii mursilatun ilaihim bihadiyyating fa naazhirotum bima yarji'ul-mursaluun - Dan sungguh, aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu". (QS. An-Naml 27: 35)
Artinya Ratu Balqis tidak menggunakan Hard Power yang di milikinya. Karena Ia bisa membaca sesuatu di balik surat tersebut yang tidak bisa di baca oleh para elit militernya. Ratu Balqis tahu, jika ia salah bersikap dan memilih jalan perang, kita hancur dan yang terhormat hari ini. Besok akan menjadi Hina dina. Ihwal itulah, sehingga ratu Balqis menggunakan pendekatan persuasif.
Akhirnya, Ratu balqis mengirimkan Hadiah (Gratifikasi) kepada Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman menganggap, kalau saya menerima hadiah ini, hal itu sama saja dengan meruntuhkan Nubuwah saya, "fa lammaa jaaa-a sulaimaana qoola a tumidduunani bimaaling fa maaa aataaniyallohu khoirum mimmaaa aataakum, bal angtum bihadiyyatikum tafrohuun - Maka ketika para (utusan itu) sampai kepada Sulaiman, dia (Sulaiman) berkata, "Apakah kamu akan memberi harta kepadaku? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu". (QS. An-Naml 27: 36)
Di ayat ke 36 dari Q.S An Naml ini kita bisa melihat perbedaan antara Nabi Dan Raja. Lalu di ayat ke 37 nya berbunyi, "irji' ilaihim falana-tiyannahum bijunuudil laa qibala lahum bihaa wa lanukhrijannahum min-haaa azillataw wa hum shooghiruun - Kembalilah kepada mereka! Sungguh, Kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya, dan akan kami keluarkan - usir mereka dari negeri itu (Saba') secara terhina dan mereka akan menjadi (tawanan) yang hina dina". (QS. An-Naml 27: 37).
Nabi Sulaiman bukan hanya sekedar Menggertak. Setelah itu dia mulai actions, melakukan performa, "qoola yaaa ayyuhal-mala-u ayyukum ya-tiinii bi'arsyihaa qobla ay ya-tuunii muslimiin - Dia (Sulaiman) berkata, "Wahai para pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgasana balqis kepadaku sebelum mereka datang kepadaku menyerahkan diri?". (QS. An-Naml 27: 38).
Hal inilah Barangkali yang di maksud dengan Tender. Peserta Tender pertama adalah Ifrit, " qoola 'ifriitum minal-jinni ana aatiika bihii qobla ang taquuma mim maqoomik, wa innii 'alaihi laqowiyyun amiin - Ifrit dari golongan jin berkata, "Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya". (QS. An-Naml 27: 39).
"qoolallazii 'ingdahuu 'ilmum minal-kitaabi ana aatiika bihii qobla ay yartadda ilaika thorfuk, fa lammaa ro-aahu mustaqirron 'ingdahuu qoola haazaa ming fadhli robbii, liyabluwaniii a asykuru am akfur, wa mang syakaro fa innamaa yasykuru linafsih, wa mang kafaro fa inna robbii ghoniyyung kariim - Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, Maha Mulia". (QS. An-Naml 27:40)
"qoola nakkiruu lahaa 'arsyahaa nangzhur a tahtadiii am takuunu minallaziina laa yahtaduun - Dia (Sulaiman) berkata, "Ubahlah untuknya singgasananya; kita akan melihat apakah dia (Balqis) mengenal; atau tidak mengenalnya lagi".(QS. An-Naml 27: 41).
Walaupun Nabi Sulaimana berjanji akan mengirimkan pasukan. Kenyataannya Nabi Sulaimana tidak mengirimkan pasukan. Justru Nabi Sulaiman membuat suatu show - Dia mengambil dulu singasananya Balqis, lalu Balqisnya di undang. Artinya Nabi Sulaiman juga menggunakan Cara Persuasif dan tidak menggunakan Hard powernya. Balqis mengirim Hadiah, Nabi Sulaiman Membuat show. Sisi penolakan Hadiah dari Balqis adalah Sulaiman sebagai Nabi dan sisi Shownya adalah sisi Sulaiman sebagai Raja.
"fa lammaa jaaa-at qiila a haakazaa 'arsyuk, qoolat ka-annahuu huw, wa uutiinal-'ilma ming qoblihaa wa kunnaa muslimiin - Maka ketika dia (Balqis) datang, ditanyakanlah (kepadanya), "Serupa inikah singgasanamu?" Dia (Balqis) menjawab, "Seakan-akan itulah dia." (Dan dia Balqis berkata), "Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. An-Naml 27:42)
"qiila lahadkhulish-shor-h, fa lammaa ro-at-hu hasibat-hu lujjataw wa kasyafat 'ang saaqoihaa, qoola innahuu shor-hum mumarrodum ming qowaariir, qoolat robbi innii zholamtu nafsii wa aslamtu ma'a sulaimaana lillaahi robbil-'aalamiin - Dikatakan kepadanya (Balqis), "Masuklah ke dalam istana." Maka ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya (penutup) kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, "Sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca." Dia (Balqis) berkata, "Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam". (QS. An-Naml 27:44)
Demikianlah Cara pengetahuan bekerja. Penaklukkan kerajaan yang di lakukan tanpa peperangan. Tidak hanya kerjaan saba' yang takluk, Nabi Sulaiman Juga Menaklukkan Hati ratu balqis, membawa Dia ke dalam agama dan cinta sekaligus. Berkenaan dengan itu saya teringat dengan pernyataan ahli strategi perang China bernama Shun zu yang mengatakan, " kemenangan yang paling besar dalam sebuah pertempuran, bukanlah membuat musuh kita hancur se hancur - hancurnya. Tetapi, kita bisa menang tanpa berbenturan".
Jadi, Pengetahuan dan kekuasaan bertemu. Hal itu bermakna, Pada kondisi dan sitausi apa, Kita melakukan apa. Tetapi, kalau kita tidak memiliki pengetahuan, kita akan melakukan apa saja pada kondisi dan situasi yang seharusnya tidak kita lakukan. Padahal, itulah sumber kesalahan.
Selain itu, salah satu Nabi yang diceritakan di dalam Al Qur'an yang berhubungan dengan pengelolaan negara adalah Nabi Yusuf. Cerita tentang Nabi Yusuf, hampir Utuh pada QS.yusuf. tetapi, saya ingin menggaris bawahi beberapa hal yang penting saja.
Nabi Yusuf menjadi Fenomenal dalam sejarah Nabi-Nabi yang lainnya, karena Ia tidak lahir seperti Nabi Sulaiman. Nabi Yusuf Bukanlah keluarga Kerajaan. Tetapi, jalan hidupnya menuju Istana, bukanlah jalan hidup yang bisa di rencanakan. Justru, jalan hidupnya di mulai dari Buangan, dan lalu masuk ke dalam Istana. Keluar dari istana dan masuk penjara. Lalu, masuk ke istana yang kedua kalinya. Tetapi, yang ingin saya garis bawahi ialah masuknya Nabi Yusuf ke istana yang kedua kalinya.
Masuknya Nabi Yusuf ke istana yang kedua kalinya karena adanya krisis ekonomi yang akan menimpa negaranya dan Nabi Yusuf menjadi Solusi. Darimana Krisis ekonomi tersebut di ketahui?. Ternyata sang Raja di buat bermimpi oleh Allah dan yang bisa menafsir mimpi sang raja adalah Nabi Yusuf. Tidak hanya menafsir Mimpi sang raja, Kemampuan Nabi Yusuf juga mampu mewujudkan apa yang di tafsirkan dari Mimpi sang raja.
Pelajaran yang paling penting yang bisa kita ambil dari Nabi Yusuf ini, jika kita kokoh di dalam kekuasaan, maka terus meneruslah memberi solusi atas semua masalah. kita harus menjadi solusi, atas masalah bersama yang di hadapi orang ; Harus ada kemampuan dalam diri kita untuk membuat pemetaan lapangan tentang masalah-masalah bersama yang di hadapi oleh masyarakat di sekitar kita dan tentunya kemampuan memberikan solusi atas masalah-masalah bersama yang di hadapi masyarakat. Makanya, Al Qur'an menginformasikan kepada kita dua kali peristiwa Nabi Yusuf Masuk Istana, "Wa kadzalika makanna Yusuf - dan demikianlah kami kokohkan posisi nabi yusuf". Tetapi, pengokohan ini berhubungan dengan Kemampuan dia memberikan solusi.
Jika kita mengelola pemerintahan, pertanyaan pertamanya, apakah kita adalah problem atau solusi?. Begitu Rakyat mendefenisikan kita sebagai solusi, maka kita akan memiliki kedudukan yang kokoh di hati mereka. Tetapi begitu orang mendefenisikan kita sebagai masalah, maka orang akan mencari jalan untuk membuat kita pergi.
Kadang-kadang orang mendatangkan solusi. Tetapi, solusinya juga mendatangkan masalah. Mix Feeling - Perasaan yang tercampur aduk. sama seperti yang sering di katakan, dia sudah baik kepada kita. Tetapi, kadang-kadang dia jahat juga. Artinya, jika kita mendatangkan solusi, maka pastikan bahwa solusi ini tidak di sertai masalah.
Begitu Nabi Yusuf di mintai komentar tentang negeri tersebut. Bahkan orang-orang di penjara, justru merekomendasikan Nabi Yusuf?. Karena semua orang di dalam penjara, bersaksi bahwa Nabi Yusuf adalah orang baik. Tidak hanya itu, diatas kebaikannya, dia punya kemampuan yang lain. Artinya menjadi baik saja tidak cukup, tetapi kita harus menjadi solusi dan sebaliknya Menjadi solusi saja, tanpa menjadi orang baik, juga masalah.
Acap kali ada solusi, yang sepenuhnya bersandar pada kekuatan karakter. Bukan pada solusi teknis. Salah satu contoh, ketika Rosulullah SAW melihat para sahabat - sahabat memprotes seorang arab badui yang datang ke masjid dan kencing di dalam masjid. Sebenarnya sahabat yang marah kepada si badui, punya alasan untuk marah. Karena Masjid adalah tempat yang suci, si badui datang kencing di tempat yang suci tersebut. Tetapi, si Badui juga punya alasan, mengapa dia melakukan hal itu. Karena dia tidak tahu bahwa tempat untuk kencing adalah WC atau Toilet. Orang badui dulu kalau mau kencing, dia hanya pergi ke tempat yang jauh dari orang-orang untuk kencing.
Artinya, dari cerita diatas bisa kita petakan bahwa hal ini masalah pengetahuan. Si badui melakukan hal itu, bukan karena dia mau melakukannya. Akhirnya terjadi perdebatan diantara sahabat. Rosulullah datang dengan solusi yang sederhana, perdebatan kalian tidak menyelesaikan masalah. Siram kencing tersebut, masalah selesai. Saking gembiranya si badui yang di selamatkan oleh Rosulullah SAW, akhirnya dia berdoa, "Allahumag firli wa muhammada wa la tagfir ghoiron ahada - Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad dan janganlah ampuni orang lain selain kami saja".
Coba kita lihat lagi, dalam salah satu pertempuran, Ummat Muslimin menghadapi persoalan pembahagian harta rampasan. Rosulullah SAW memberikan Harta rampasan tersebut kepada kaum quraisy. Lalu, tersinggunglah orang-orang Anshor, "Wadduh, kita dulu menolong dia waktu susah, kita berkorban semuanya, sekarang begitu dia kembali kepada kaumnya, harta rampasan dia berikan kepada kaumnya. Ohh, begitu caranya".
Rosulullah SAW sudah mengambil keputusan, tapi bagaimana cara menyelesaikan Rumor kecemburuam orang Anshar?. Di sinilah hikmah bagaimana seorang pemimpin mendistribusikan harta rampasan ini, cuman kecemburuan kaum anshor juga sangat beralasan dan tidak bisa di abaikan begitu saja. Tapi, bagaiamankah cara Nabi untuk menyelesaikan masalah tersebut?. Beliau mempertaruhkan dirinya sendirinya, seraya berkata, "Wahai saudara-saudaraku, saya sudah mendengarkan cerita kalian semuanya tentang harta rampasan ini. Apakah kalian tidak ridho kalau bahagian kalian bukan harta rampasan ini, melainkan Muhammad yang pulang bersama kalian dan hidup bersama diantara kalian, serta tidak pulang lagi ke negerinya".
Apa maknanya? Rosulullah melakukan personal Garansi - Jaminan dirinya sebagai sebuah solusi. Kalian ambil saya dan harta rampasan berikan saja kepada Kaum Quraisy. Mendengar hal itu semua orang menangis. Artinya, ada waktu di mana solusi teknis itu tidak ada gunanya, tidak efektif. Tetapi solusi yang menunjukkan karakter kita sendiri.
Menggabungkan antara kedua unsur diatas adalah pekerjaan yang paling rumit. Bila suatu waktu, ketika menjadi seorang pemimpin, paling tidak kita memberikan personal garansi. Sebab, di situlah kita melihat makna kedudukan kita dalam hati orang. Bukan karena kita menguasai mereka, tetapi karena mereka tergantung pada pikiran dan perasaan kita. Itulah yang membuat kita kokoh di hati mereka.
Pelajaran yang ketiga yang bisa kita ambil adalah, apa yang sekarang ini kita perlukan dalam sistem demokrasi, yaitu "jangan pernah menggunakan kekuasaan terlalu banyak". Karena menggunakan kekuasaan terlalu banyak, akan membuat kita tidak efektif.
Kita hidup dalam satu sistem demokrasi. Lebih dari sekedar persoalan demokrasi, kita juga punya masalah baru, yang di ciptakan oleh banyak Hal. Tetapi, faktor utama yang paling berpengaruh adalah bukan hanya nilai-nilai kebebasan, tetapi tambahan teknologi informasi pada kebebasam tersebut. Terutama sejak munculnya Medsos. Apa filosofi dari sosial media?. Filosofi utamanya, bahwa Individu mendapatkan kekuasaan lebih besar daripada sebelumnya. Dulu, ketika kita ingin menyampaikan pikiran kita ke publik, kita membutuhkan media (Koran, Tv, Radio). Sekarang, ketika kita ingin menyampaikkan pikiran kita ke publik, sudah tidak ada tembok-tembol seperti dulu lagi dan sangat real Time (kita adalah Narasumber, Editor, redaktur). Bahkan satu orang di sosial media, bisa membuat satu negara atau satu dunia menjadi bergolak.
Pilkada DKI memberikan pelajaran ini kepada kita, ketika pemimpinnya menggunakan terlalu banyak power. Akibatnya dia kehilangan kendali.
Mengapa saya perlu menggaris bawahi persoalan ini. Karena, dalam sejarah yang di tampilkan Oleh Tuhan, permusuhan antara Islam dan negara, akarnya bisa kita temukan dalam konflik raja-raja dan Nabi-Nabi. Salah satu persoalan yang mengemuka, mengapa orang menolak agama?. Berdasarkan Informasi Al Qur'an ialah Al Qibriya'i - Keangkuhan. Keangkuhan itu terjadi pada manusia, ketika seluruh apa yang di sebut dengan kekuatan (Power) ; Harta, kekuasan dan Ilmu menyatu. Ihwal itulah, muncul apa yang di sebut dengan Atugyan - Kecenderungan untuk melampaui batas. "Kalla innal insana la yatgho arroa'u hustagna - dia mulai merasa tidak butuh pada Tuhan". Dia merasa tidak membutuhkan lagi agama. Karena dia merasa, dia bisa mengatur hidupnya sendiri dan secara perlahan-lahan dia mulai memusuhi orang-orang yang membawa agama.
Di titik inilah akar persoalan yang terjadi di kelompok elit. Makanya ketika kita membaca Al Qur'an, sejarah konflik antara Nabi dan Raja, di mulai oleh keangkuhan para raja.
Kalau kita lihat dalam sejarah Fir'aun, bagaimana Allah SWT mempermainkan keangkuhan dengan isu ini sangat luar biasa. keangkuhan Fir'aun pertama kali di runtuhkan dengan (mimpi), bahwa akan ada bayi yang lahir, yang meruntuhkan Kekuasannya. Mimpi buruk ini membuat Fir'aun tidak pernah merasa tenang sepanjang hidupnya. Sejarah kerajaannya berubah, sejak mimpi itu terjadi, berdasarkan salah satu Riwayat menyebutkan, Fir'aun telah membunuh kurang lebih 600 ribu bayi. Kalau riwayat yang Mahsyur menyebutkan 180 Ribu bayi. Saya juga tidak bisa memastikan apakah jumlah bayi tersebut benar atau tidak. Tetapi, mungkin saja benar.
Mimpi buruk yang di alami fir'aun adalah satu Instrumen kecil yang di gunakan Allah untuk mempermainkan Keangkuhan Fir'aun.
Dalam keadaan Cemas, akan kenyataan Mimpi seorang bayi yang kelak menumbangkan kekuasannya. Justru, bayi yang di cari Fir'aun, datang ke istana. "wa auhainaaa ilaaa ummi muusaaa an ardhi'iih, fa izaa khifti 'alaihi fa alqiihi fil-yammi wa laa takhoofii wa laa tahzanii, innaa rooodduuhu ilaiki wa jaa'iluuhu minal-mursaliin - Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, "Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang Rasul". (QS. Al-Qasas 28:7)
Pertanyannya, berapa lama rentan waktu yang berlansung, sejak Isu kelahiran Nabi Musa sampai dia kembali kepada ibunya?. Selain itu, mengapa Fir'aun yang telah membunuh ratusan ribu Bayi, tetapi memperkecualikan Nabi Musa?. Instrumen apa yang digunakan Allah untuk memperkecualikan Nabi Musa?.
"faltaqothohuuu aalu fir'auna liyakuuna lahum 'aduwwaw wa hazanaa, inna fir'auna wa haamaana wa junuudahumaa kaanuu khoothi-iin - Maka dia dipungut oleh keluarga Fir'aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir'aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah". (QS. Al-Qasas 28: 8)
"wa qoolatimro-atu fir'auna qurrotu 'ainil lii wa lak, laa taqtuluuhu 'asaaa ay yangfa'anaaa au nattakhizahuu waladaw wa hum laa yasy'uruun - Dan istri Fir'aun berkata, "(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak," sedang mereka tidak menyadari". (QS. Al-Qasas 28: 9).
Pertama Allah hanya mempermainkan Instrumen kecil di pikiran (membrief) Fir'aun dengan Mimpi tentang seorang yang lahir dan akan menumbangkan kekuasannya. Akibat, informasi tersebut Fir'aun menjadi paranoid sepanjang hidupnya, menjadi tidak tenang. Kedua, Musa (bayi) masuk ke istana setelah di hanyutkan Ibunya. Fir'aun hendak membunuh Musa Juga, tetapi takluk dengan satu Instrumen yang sangat halus yang bernama Emosi perempuan (Istrinya). Maka, berhati-hatilah dengan Emosi perempuan. Sebab, ia bisa mengubah jalannya sejarah. Dan ketiga, instrumen Biologis - begitu bayi (musa) mau di susui tidak ada satu pun susu yang cocok di seluruh Istana, "wa harromnaa 'alaihil-maroodhi'a ming qoblu fa qoolat hal adullukum 'alaaa ahli baitiy yakfuluunahuu lakum wa hum lahuu naashihuun - dan Kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah dia (saudaranya Musa), "Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?. (QS. Al-Qasas 28: 12)
Bayangkan, Cara Allah mendidik kita dari Cerita Fir'aun di dalam Al Qur'an ini. Musa Di lahirkan, lalu di buang ke sungai, masuk ke istana, terjadi perdebatan di dalam Istana dan Ternyata kembali juga ke ibunya. Lalu, Nabi Musa menjadi Bahagian dari Istana dalam waktu yabg sangat lama, yaitu 40 tahun.
Dari Kisah - Kisah diatas, mengajarkan kepada kita, bahwa jangan menggunakan Power terlalu banyak, apalagi dalam sistem Demokrasi. Selain itu juga, kita belajar satu hal, dari sejak pertarungan Nabi-Nabi dan raja-raja, mengapa agama di identifikasi menjadi Musuh negara?. Karena, Raja-Raja yang memusuhi Nabi-Nabi hendak mengambil alih otoritas agama, "wa qoola fir'aunu yaaa ayyuhal-mala-u maa 'alimtu lakum min ilaahin ghoirii, fa auqid lii yaa haamaanu 'alath-thiini faj'al lii shorhal la'alliii aththoli'u ilaaa ilaahi muusaa wa innii la-azhunnuhuu minal-kaazibiin - Dan Fir'aun berkata, "Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarkanlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa dia termasuk pendusta". (QS. Al-Qasas 28: 38).
"wastakbaro huwa wa junuuduhuu fil-ardhi bighoiril-haqqi wa zhonnuuu annahum ilainaa laa yurja'uun - Dan dia (Fir'aun) dan bala tentaranya berlaku sombong di bumi tanpa alasan yang benar, dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami". (QS. Al-Qasas 28: 39)
Artinya, ketika Raja memusuhi Nabi, ia kemudian mengindentifikasi, bahwa otoritas agama pun ingin di ambil oleh raja. Karena itu, ia memusuhi agama. Kita semua yang mewarisi hal itu, harus tahu betul, bahwa Konflik agama dan Negara berakar pada cerita yang saya Nukil diatas. Mengapa?. Karena akan muncul sebab kedua. kenapa orang menjadi tidak beragama?. Kalau para elit atau Raja tidak beragama, akibat keangkuhan yang dia miliki ; Harta, Kekuasaan dan Ilmu. Maka, kepada orang awam - rakyat Jelata. Sebab, mereka tidak beragama, karena ketakutan. Ketakutan yang ciptakan oleh para elit atau Raja.
Di titik itulah kita butuh demokrasi. Demokrasi bukan membuat kita mengislamkan atau memaksa orang untuk menjadi muslim. Tetapi, kita ingin menghilangkan kendala orang beragama, yang bernama ketakutan. Makanya, dalam syariat Jihad, begitu salah satu negara di bebaskan, orang tidak di paksa masuk Islam. Justru, di biarkan. Orang akan marah dan memusuhi, karena mereka menjadi kendala bagi orang untuk beragama.
Coba lihat di negara kita, sejak kapan Fenomena Jilbab ini merata?. Dulu, tidak ada perempuan indonesia yang memakai Jilbab. Sekarang, hampir rata orang-orang mengenakan Jilbab. Karena dulu pernah ada negara yang mempersepsi agama sebagai Musuhnya dan orang menjadi takut. Akibat takut, fitrahnya menjadi tertekan.
Jika negara memiliki ideologi, tetapi tidak mampu mentolerir orang dengan ideologinya, biasanya dia cenderung menggunakan powernya lebih banyak. Begitu dia menggunakan powernya lebih banyak, artinya dia kehilangan kendali.
Kita membutuhkan satu cara baru, terutama dalam sistem demokrasi. Karena fakta terpenting dalam demokrasi adalah Perbedaan dan semakin kita tidak kuat menghadapi perbedaan, maka kita cenderung menggunakan kekuasaan. Begitu kita mulai lebih banyak menggunakan Kekuasaan. Maka, kita mulai kehilanga kendali ; Kita sudah mulai tidak rasional, tidak tahu cara mengontrol situasi.
Mengelola negara itu pada akhirnya adalah Manajemen Life dan hal itu menandakan bahwa yang Kita kelola adalah Manusia - Manajemen people. Jika kita menyadari sedang mengelola Manusia, yang pertama harus di kelola adalah Manajemen Ide - Pikiran. Baru yang kedua, manajemen interest - mengelola kepentingan.
Kalau tiga pelajaran ini bisa kita ambil ; Pertama, Pengetahuan dan Kekuatan. Kedua, membawa solusi, agar kita Kokoh. Ketiga, Jangan Pernah menggnaakan Kekuatan terlalu banyak. Maka, kita akan menjadi Bangsa yang benar-benar majemuk dan berkeadaban.
*Rst
*Pejalan sunyi
*Pustaka hayat
*Nalar pinggiran
Rabu, 02 Agustus 2023
KEKUASAAN YANG DEFISIT AKAL SEHAT
Beberapa waktu lalu, merebak Isu People power. hal itu, dianggap makar. People power itu mimbarnya adalah jalanan. sedangkan, Kudeta arenanya adalah Kerahasiaan, kebusukan dan kelicikan. Lihat saja liciknya " Azisi" mengkudeta "Moorsi" yang dipilih secara demokratis oleh rakyat Mesir.
Jika kita tenang dalam membaca sejarah, justru kejadian people power banyak mengagalkan kudeta. seperti, yang terjadi di Turki tahun 2016.

.jpeg)


.jpeg)